Artikelilmiahs

Menampilkan 15.621-15.640 dari 49.883 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1562118929A1M013060PENGARUH LAMA BLANCHING, LAMA INKUBASI DAN KONSENTRASI STARMOF TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK DAN KIMIA TEPUNG AMPAS KELAPA TERMODIFIKASIMetode pembuatan Tepung Ampas Kelapa (TAK) dapat dimodifikasi melalui lama blanching, lama inkubasi dan konsentrasi starter yang tepat, sehingga diperoleh kualitas TAK yang lebih baik. Penentuan lama blanching, lama inkubasi dan konsentrasi Starmof ini dilakukan dengan menguji pengaruh faktor dengan karakteristik tepung. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh masing-masing lama blancing, lama inkubasi dan konsentrasi starter Mocaf serta pengaruh interaksi ketiga faktor terhadap karakteristik fisik dan kimia tepung ampas kelapa yang dihasilkan. Lama blanching sebagai petak utama terdiri dari 15 menit (A1) dan 30 menit (A2); lama inkubasi sebagai anak petak yang dari 12 jam (B1), 18 jam (B2), dan 24 jam (B3); serta fermentasi menggunakan starter Mocaf “Starmof” sebagai anak-anak petak yang meliputi perendaman dengan air (C1), perendaman dengan Starmof 0,1% (C2), perendaman dengan Starmof 0,5% (C3), dan perendaman dengan Starmof 1% (C4). Karakteristik yang diukur meliputi derajat putih, densitas kamba, rendemen, kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar serat kasar, kadar protein, dan kadar karbohidrat. Rancangan percobaan dan analisis menggunakan split-split plot. Hasil selanjutnya dianalisis dengan indeks efektivitas berdasarkan urutan prioritas pembobotan berupa derajat putih, rendemen, kadar air, kadar lemak, dan kadar serat kasar yang kemudian diambil 5 sampel dengan nilai tertinggi. Lama blanching, lama inkubasi, dan konsentrasi Starmof memberikan pengaruh yang nyata terhadap tepung ampas kelapa yang dihasilkan. Berdasarkan 5 sampel terpilih pada tiap-tiap variabel; kadar air dan kadar abu terbaik diperoleh pada A1B1C1 dengan nilai berturut-turut sebesar 3,21% dan 0,36%; densitas kamba terbaik diperoleh pada sampel A1B1C1 dan A2B2C2 dengan nilai sebesar 0,286; derajat putih, rendemen, kadar serat kasar, kadar protein, dan kadar karbohidrat terbaik diperoleh pada sampel A2B2C2 dengan nilai berturut-turut sebesar 73,50%, 11,96%, 46,58%, 5,75%, dan 47,36%; kadar lemak terbaik diperoleh pada A1B1C3 dengan nilai sebesar 41,87%%.The method of making coconut pulp flour can be modified through the right blanching time, incubation time and starter concentration, so will get better quality of coconut pulp flour. The determination of blanching time, incubation time and concentration of Starmof was done by testing the effect of these factors on characteristic of physical and chemical of coconut pulp flour. The objective of this study was to determine the effect of blanching time, incubation time and concentration of Starmof; and the interaction of these factors to the physical and chemical characteristic of coconut pulp flour. Blanching time as main plot was divided into 2 levels, 15 minutes and 30 minutes; incubation time as sub plot was divided into 3 levels, 12 hours, 18 hours and 24 hours; concentration of Starmof was divided into 4 levels, soaking with water (C1), 0,1% Starmof (C1), 0,5% Starmof (C3) and 1% Starmof (C4). Characteristics observed consist of whiteness, bulk density, yield, moisture content, ash content, lipid content, crude fiber content, protein content, and carbohydrate content. The observed data were analyzed with split-split plot design. The results also analyzed with effectiveness index which based on priority of whiteness, yield, moisture content, lipid content and crude fiber content to choose 5 samples with best score. Blanching time, incubation time and concentration of Starmof gave real influence to the coconut pulp flour. Based on 5 choosen samples; the best moisture content and ash content were obtained from A1B1C1with score of each characteristic 3,21% and 0,36%; the best bulk density was obtained from A1B1C1 and A2B2C2 with score 0,286; whiteness, yield, crude fiber content, protein content and carbohydrate content were obtained from A2B2C2 with score of each characteristic 73,50%,11,96%, 46,58%, 5,75%, and 47,36%; the best lipid content was obtained from A1B1C3 with score 41,87%.
1562218932A1M013018KARAKTERISTIK FUNGSIONAL TEPUNG AMPAS KELAPA TERMODIFIKASI MELALUI FERMENTASI MENGGUNAKAN STARTER MERK STARMOF Ampas kelapa merupakan limbah dari pengolahan pangan berbasis santan yang biasanya digunakan sebagai bahan pakan ternak. Untuk mendapatkan nilai mutu yang lebih tinggi, ampas kelapa dapat diolah menjadi tepung. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan kandungan gizi tepung ampas kelapa, salah satunya melalui metode fermentasi. Fermentasi akan menghasilkan produk dengan rasa, aroma dan tekstur yang lebih disukai serta meningkatkan nilai fungsional tepung ampas kelapa sehingga dapat digunakan sebagai bahan pangan fungsional dan diaplikasikan pada pembuatan produk pangan berbahan dasar tepung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak-Petak Terbagi (RPPT/Split-Split Plot). Petak utama/main plot adalah lama blanching (A) yang terdiri dari 15 menit (A1), 30 menit (A2); anak petak/sub plot adalah lama fermentasi (B) yang terdiri dari 12 jam (B1), 18 jam (B2), 24 jam (B3); serta anak-anak petak/sub-sub plot adalah metode fermentasi (C) yang terdiri dari fermentasi alami dengan air = C1, fermentasi starter merk Starmof dengan taraf 0,1 % = C2, taraf 0,5 % = C3, taraf 1 % = C4. Setiap perlakuan diulang sebanyak 2 kali sehingga didapatkan 48 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu sifat fungsional meliputi viskositas, kapasitas penyerapan air dan minyak, kapasitas emulsi, swelling volume dan kelarutan dalam air. Hasil penelitian menunjukkan sifat fungsional tepung ampas kelapa yang dihasilkan dipengaruhi oleh lama fermentasi dan metode fermentasi, namun tidak dipengaruhi oleh lama blanching. Secara keseluruhan sifat fungsional tepung ampas kelapa yang dihasilkan dipengaruhi oleh interaksi ketiga faktor tersebut, dimana terjadi peningkatan kapasitas penyerapan air, swelling volume dan kelarutan dalam air serta mampu menurunkan kapasitas penyerapan minyak dan kapasitas emulsi. Akan tetapi, menurunkan nilai viskositas tepung ampas kelapa yang dihasilkan. Coconut-pulp is resulted from coconut milk based on food processing, usually used as animal food. In order to get a higher quality value, coconut-pulp can be processed into flour. Various efforts have been made to increase the nutrients content of coconut-pulp flour, such as through fermentation process. Fermentation will produce a product with preferred flavor, aroma and texture as well as increasing the functional value of coconut-pulp flour, therefore can be used as functional foods which can be applied to the making of flour-based products. The experimental design used was Split-Split Plot (SSP). The main plot is the blanching time (A), consists of; 15 minutes (A1), 30 minutes (A2); sub plot is a fermentation time (B), consists of; 12 hours (B1), 18 hours (B2), 24 hours (B3), and sub-sub plot is fermentation method (C), consists of; natural fermentation with water (C1), fermentation starter Starmof brand at 0,1% (C2), 0,5% (C3), 1% ( C4), repeated twice therefore of 48 treatment unit. The functional properties, observed were viscosity, water and oil absorption capacities, emulsion capacity, swelling volume and solubility in water. Result of the study showed that fermentation time and fermentation method, as well as the interaction of the three factors gave significant effects on the functional properties of coconut-pulp produced. This treatment which increasing on water absorption capacity, swelling volume, and water solubility also decreasing emulsion capacity, oil absorption capacity and viscocity of the coconut-pulp flour produced.
1562318925F1B010027EVALUASI KEBERHASILAN PROGRAM KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) JENIS MIKRO DI KECAMATAN PURWOKERTO BARAT KABUPATEN BANYUMASTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan Program Kredit Usaha Rakyat di Kecamatan Purwokerto barat. Penelitian dilakukan menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan survei. Penelitian dilakukan menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan survei. Variabel yang digunakan yaitu Evaluasi keberhasilan Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) jenis mikro dengan melihat enam indikator, yaitu: efektivitas, efisiensi, kecukupan, perataan, responsivitas, dan ketepatan. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik multistage random sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi, dan dokumentasi. Pengujian validitas data menggunakan korelasi Product Moment, dan reliabilitas data menggunakan teknik Alpha Cronbach. Teknik analisis data menggunakan distribusi frekuensi dan interpretasi data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) masih belum berhasil dilihat dari indikator-indikator yang termasuk dalam kategori kurang (indikator efektivitas, efisiensi), serta termasuk dalam kategori cukup (indikator kecukupan, ketepatan, dan perataan), hanya indikator responsivitas yang termasuk dalam kategori baik,.
Implikasi yang dapat disampaikan yaitu pelaksana Program KUR perlu mengadakan pengawasan terhadap dana KUR yang sudah diberikan kepada para penerima KUR agar tindakan penyalahgunaan dapat diminimalisir dan tujuan KUR dapat dicapai lebih optimal lagi serta agar tidak terjadinya keterlambatan pengembalian KUR yang disebabkan oleh tidak ingatnya debitur KUR, sebaiknya pihak bank pelaksana berusaha mengingatkan kepada para debitur KUR pada hari jatuhnya tempo pengembalian yang telah disepakati melalui telepon maupun sms.
Purpose of this research is to study about evaluation of the successfullness of micro type of kredit usaha rakyat (KUR) program in west purwokerto district banyumas regency. The research was conducted using descriptive quantitative method with survey approach. Variable used is Evaluation of success of Business Credit Program (KUR) for Micro bussiness with six indicators, namely: effectiveness, efficiency, adequacy, equity, responsiveness, and accuracy. The sampling technique was using multistage random sampling technique. Methods of data collection was using questionnaires, observation, and documentation. Data validity was examined using Product Moment correlation, and data reliability was examined by Alpha Croanbach technique. Data then analyzed with frequency distribution and data interpretation.
The results showed that KUR has yet to be called successful, seen from several indicators that fell into low category of successfulness (efficiency, and effectiveness), some fell into average category (adequacy, accuracy, and equity). Responsiveness is the only indicator which could be called as successful.
Implication that could be delivered are: KUR program implementers need to supervise KUR funds that have been given to the recipients of KUR so abuse actions of the funds could be minimized and the objectives of KUR would able to be achieved more optimally. In order to omit the delay of KUR reimbursement, the executing bank need to make attempts reminding the debitors of KUR on the due date of the reimbursement period agreed upon by telephone or text messaging.
1562418926F1B112043KINERJA ORGANISASI PUBLIK PADA BADAN PENANAMAN MODAL DAN PERIZINAN TERPADU (BPMPT) KABUPATEN KEBUMENSorotan tajam tentang kinerja birokrasi dalam menyelenggarakan pelayanan publik menjadi wacana yang aktual dalam studi administrasi negara akhir-akhir ini. Pelayanan publik cenderung terlihat dipersulit, prosedur yang berbelit-belit, biaya yang mahal serta rendahnya ketidakpastian waktu pelayanan. Walaupun sudah ada upaya perbaikan melalui kebijakan-kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan kepentingan publik, namun pandangan tentang pelayanan yang buruk terhadap kepentingan masyarakat masih berlangsung. Penyelenggaraan pelayanan publik di Kabupaten Kebumen, sampai saat ini belum memenuhi harapan dan tuntutan masyarakat akan pelayanan yang berkualitas. Walaupun upaya perbaikan terhadap penyelenggaraan pelayanan publik terus dilakukan, namun hasilnya belum maksimal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja pelayanan di Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Kabupaten Kebumen di tinjau dari aspek efisiensi, efektivitas, keadilan, dan daya tanggap. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Teknik pengambilan informan menggunakan purposive sampling dan accidental sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Proses validitas data dengan mnggunakan triangulasi.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kinerja BPMPT Kabupaten Kebumen masih belum optimal. dilihat dari aspek efisiensi jumlah anggaran dan sumber daya manusianya masih kurang. Dari aspek efektivitas pelayanannya juga masih belum optimal. Walaupun dengan survey SKM yang dilakukan sudah menunjukan hasil yang baik, namun BPMPT Kabupaten Kebumen masih belum bisa mencapai standar pelayanan. Sedangkan, kinerja BPMPT Kabupaten Kebumen dari aspek daya tanggap sudah baik, karena akses pelayanan dan prosedur pelayanan yang diberikan bagi masyarakat dilakukan tanpa memandang status sosial dan gender. Dalam hal biaya, BPMPT Kabupaten Kebumen sudah menetapkan standar biaya perizinan. Dari aspek daya tanggap sudah baik dengan disediakannya sarana pengaduan dan untuk menindaklanjutinya, dilakukan berdasarkan sumber pengaduan yang masuk. Respon masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan BPMPT Kabupaten Kebumen hasilnya positif.
The sharp spotlight on the performance of the bureaucracy in administering public services becomes an actual discourse in the study of state administration in recent years. Public services tend to look complicated, complicated procedures, expensive fees and low uncertainty of service time. Although there have been improvements through government policies related to public interest, the views of poor service to the interests of society are still ongoing. The provision of public services in Kabupaten Kebumen has not yet fulfilled the public's expectation and demand for quality services. Although efforts to improve the implementation of public services continue to be done, but the results have not been maximized.
This study aims to determine the performance of services at Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Kabupaten Kebumen Kebumen in review of aspects of efficiency, effectiveness, fairness, and responsiveness. This research uses qualitative research method. Technique of taking informant use purposive sampling and accidental sampling. Data collection techniques use in-depth interviews, observation, and documentation. The process of data validity by using triangulation.
The results of this study show that the performance of BPMPT Kebumen is still not optimal. It can be seen from the aspect of efficiency that has not yet optimal because the amount of budget and human resources are still lacking. From the aspect of the effectiveness of its service is also not optimal. Although the SKM survey conducted has shown good results, but BPMPT Kebumen still can not reach the standard of service. Meanwhile, the performance of BPMPT Kabupaten Kebumen from the responsiveness aspect has been good, because the service access and service procedure given to the community is done regardless of social status and gender. In terms of costs, the BPMPT Kabupaten Kebumen has set the licensing fee standard. From the aspect of responsiveness is good with the provision of complaints facilities and to follow up, conducted based on the source of incoming complaints. Public response to services provided by BPMPT Kabupaten Kebumen was positive
1562518927C1F015001ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMUNGKINAN TERJADINYA FINANCIAL DISTRESS PADA PEMERINTAH KABUPATEN DAN KOTA DI INDONESIAPenelitian ini berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemungkinan Terjadinya Financial Distress pada Pemerintah Kabupaten dan Kota di Indonesia”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh rasio kemandirian, rasio derajat desentralisasi, rasio efektivitas, rasio hutang dan kompleksitas pemerintah terhadap financial distress baik secara simultan ataupun secara parsial.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel 250 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) seluruh Indonesia selama tahun 2015 dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik yang digunakan untuk menganalisis pengaruh antara variabel independen dan variabel dependennya adalah teknik analisis regresi logistik biner karena variabel dependentnya merupakan variabel dikotomi (dummy) dengan bantuan software statistic SPSS for windows versi 23. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder di mana data rasio kemandirian, rasio desentralisasi fiskal, rasio efektivitas, dan rasio hutang diperoleh dari LKPD yang telah di publikasi di situs resmi BPK RI, dan data kompleksitas pemerintah diperoleh dari situs resmi BPS.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) rasio kemandirian, rasio desentralisasi fiskal, rasio efektivitas, rasio hutang dan kompleksitas pemerintah secara simultan berpengaruh secara signifikan terhadap terjadinya financial distress; (2) rasio kemandirian berpengaruh positif signifikan terhadap terjadinya financial distress (3) rasio desentralisasi fiskal berpengaruh negatif signifikan terhadap terjadinya financial distress; (4) rasio efektivitas berpengaruh positif tidak signifikan terhadap terjadinya financial distress; (5) rasio hutang berpengaruh positif tidak signifikan terhadap terjadinya financial distress; dan (6) kompleksitas pemerintah berpengaruh negatif signifikan terhadap terjadinya financial distress;
Implikasi hasil penelitian ini, untuk memaksimalkan tingkat belanja modal pada pemerintah daerah dan memperhatikan rasio keuangan daerah guna menghindari terjadinya financial distress. Selain itu, pemerintah daerah yang telah menerapkan sistem otonomi daerah harus lebih efisien dan efektif dalam mengelola APBD guna kepentingan kemajuan daerahnya dan ketersediannya fasilitas bagi masyarakat umum yang memadai.
The research entitled " Analysis of Factors Affecting the Likelihood of Financial Distress Occurrence at Regency and City Government in Indonesia". The purpose of this research is to analyze the influence of self-reliance ratio, the degree of decentralization, effectiveness ratio, debt to revenue ratio and government complexity to financial distress either simultaneously or partially.
The research was conducted using a sample of 250 series of Local Government Financial Report (LKPD) throughout Indonesia during 2015 by using purposive sampling technique, the techniques used to analyze the effect between the independent variable and the dependent variable is binary logistic regression analysis technique because the dependent variable is dichotomy variable (dummy) with the help of statistical software SPSS for windows version 23. The data used in this research is secondary data where data Independence ratios, fiscal decentralization ratios, effectiveness ratios, and debt ratios were obtained from LKPD published in the official BPK RI website, and government complexity data was obtained from the official BPS website.
The results of the research indicate that: (1) independence ratio, fiscal decentralization ratio, effectiveness ratio, debt to revenue ratio and government complexity simultaneously significantly influence the occurrence of financial distress; (2) the independence ratio has a significant positive effect on the occurrence of financial distress (3) fiscal decentralization ratio has a significant negative effect on the occurrence of financial distress; (4) the effectiveness ratio has no significant effect on the occurrence of financial distress; (5) the debt ratio has no significant positive effect on the occurrence of financial distress; and (6) the complexity of the government had a significant negative effect on the occurrence of financial distress;
The implication of this research is to maximize the level of capital spending on local governments and pay attention to the regional financial ratios in order to avoid the occurrence of financial distress. In addition, local governments that have implemented regional autonomy systems should be more efficient and effective in managing APBD for the sake of regional progress and availability of facilities for the general public..
1562618931C1A013056Analisis Ekonomi dan Strategi Pengembangan KUB Pringmas Kecamatan Banyumas Kabupaten BanyumasPenelitian ini berjudul “Analisis Ekonomi dan Strategi Pengembangan KUB Pringmas Desa Papringan Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas”. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis titik impas, efisiensi ekonomis, pada batik tulis di KUB Pringmas, dan menyusun strategi yang diperlukan bagi pengembangan KUB Pringmas.
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini yakni R/C ratio, BEP, dan analisis internal eksternal. Penghitungan R/C ratio menunjukkan bahwa secara umum usaha batik tulis di KUB Pringmas telah efisien. Hal ini dibuktikan dengan perolehan nilai R/C ratio > 1 dengan nilai R/C ratio 2,067. Sedangkan analisis penghitungan BEP menunjukkan bahwa usaha batik tulis di KUB Pringmas telah melebihi titik impas atas dasar harga dan unit dengan nilai atas dasar harga sebesar Rp 237.758,00 dan atas dasar unit sebanyak 1,420. Hasil analisis internal eksternal menunjukkan bahwa pengembangan usaha Batik pada KUB Pringmas berada pada sel 1 dengan perolehan skor matriks IFE sebesar 3,604 dan matriks skor EFE sebesar 3,748. Hal ini menunjukkan bahwa strategi terbaik yang dapat diterapkan ialah strategi pertumbuhan dan pengembangan dari sel tersebut. Implementasi strategi yang dapat dilakukan yakni strategi intensif dan strategi integratif.
Implikasi dari penelitian ini ialah bahwa usaha batik tulis di KUB Pringmas Desa Papringan Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas dapat dilanjutkan dengan meningkatkan kualitas produknya dan juga dalam produksinya. Mengikuti pelatihan-pelatihan membatik yang diadakan oleh Bank Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Banyumas, serta melakukan strategi intensif dan integratif yang telah dirumuskan.
This research entitled "Economic Analysis and Strategy Development KUB Pringmas Papringan Village Banyumas District Banyumas Regency". The purpose of this study is to analyze the break even point, economic efficiency, in batik in KUB Pringmas, and analyze the strategies needed for the development of KUB Pringmas.
Analyzer used in this research that is R/C ratio, BEP, and external internal analysis. R/C ratio calculation shows that in general batik business in KUB Pringmas has been efficient. This is evidenced by the acquisition value of R/C ratio> 1 with the R/C ratio of 2.067. While the calculation analysis of BEP shows that batik business in KUB Pringmas has exceeded the breakeven point on the basis of price and unit with value at the price of Rp 237,758.00 and on the basis of the unit as much as 1.420. The result of external internal analysis shows that Batik business development in KUB Pringmas is in cell 1 with IFE matrix score score 3,604 and EFE score matrix 3,748. This suggests that the best strategy that can be applied is the growth and development strategy of the cell. Implementation of strategies that can be done that is intensive strategy and integrative strategy.
The implication of this research is that batik business at KUB Pringmas Desa Papringan Banyumas Subdistrict of Banyumas Regency can be continued by improving the quality of its products and also in its production. Attended batik training held by Bank Indonesia and the Government of Banyumas Regency, and conducted intensive and integrative strategies that have been formulated
1562718905H1H013001KARAKTERISASI ISOLAT Aeromonas hydrophila DARI BUDIDAYA LELE DUMBO (Clarias gariepinus) DI BANYUMAS BERDASARKAN GEN VIRULENSIBakteri Aeromonas hydrophila merupakan salah satu kendala dalam budidaya lele dumbo (Clarias gariepinus) yang menyebabkan penyakit Motile Aeromonas Septicemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi isolat A. hydrophila yang ditemukan pada budidaya lele dumbo di Banyumas berdasarkan gen virulensi yang meliputi gen aerolysin (aer), cytotonic enterotoxin (alt), cytotoxic enterotoxin (act), temperature-sensitive protease (eprCAI) dan serine protease (ahp). Bakteri diisolasi dari sirip, hati dan usus lele dumbo yang menunjukkan gejala klinis infeksi A. hydrophila. Isolat bakteri digunakan untuk isolasi DNA dan identifikasi molekuler dengan mengamplifikasi lima gen virulensi menggunakan metode PCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lima dari sembilan isolat diidentifikasi sebagai A. hydrophila dengan metode PCR. Berdasarkan gen virulensi, kelima isolat A. hydrophila terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok satu yang terdiri dari isolat H2, U3, LH, dan LS. Kelompok dua terdiri dari isolat LK3. Kelompok satu memiliki gen aer, alt, act, dan ahp, namun tidak memiliki gen eprCAI. Kelompok dua memiliki gen aer, alt, act, dan eprCAI, namun tidak memiliki gen ahp.
Aeromonas hydrophila is one of the problems in catfish (Clarias gariepinus) culture causing Motile Aeromonas Septicemia disease. The aim of this study was to characterize A. hydrophila isolates which found in catfish culture in Banyumas based on five virulence genes, included aerolysin (aer), cytotonic enterotoxin (alt), cytotoxic enterotoxin (act), temperature-sensitive protease (eprCAI) and serine protease (ahp). Bacteria was isolated from fin, liver and intestine of catfish which showed clinical symptoms of A. hydrophila infection. Bacteria isolates were used for DNA isolation and molecular identification with amplifying five virulence genes by PCR method.The results showed that five of nine isolates were identified as A. hydrophila by PCR method. Based on virulence genes, five isolates of A. hydrophila are divided into two groups : first group consisted of H2, U3, LH, and LS isolates. The second group consisted of LK3 isolate. Group one has aer, alt, act, and ahp genes, but does not have eprCAI gene. Group two has aer, alt, act, and eprCAI genes, but does not have ahp gene.
1562818934H1C013029RANCANG BANGUN SISTEM MONITORING DEBIT AIR PADA SALURAN TERBUKA BERBASIS WEB MENGGUNAKAN ARDUINO UNO DAN SIM900 GSM/GPRS SHIELD DENGAN SENSOR ULTRASONIK DAN ROTARY ENCODERPengukuran debit aliran sangat diperlukan untuk mengetahui potensi sumberdaya air disuatu daerah aliran sungai. Saat ini pengukuran debit air sungai masih menggunakan metode manual dengan cara merawas, pengukuran dari jembatan atau menggunakan perahu. Cara tersebut memiliki kelemahan yaitu tidak dapat dilakukan secara terus menerus dan sifat perubahan debit aliran relatif singkat waktunya sehingga akan sulit untuk memperkirakan kejadiannya. Oleh karena itu pada penelitian ini dirancanglah sebuah sistem monitoring debit air secara real time pada saluran terbuka dengan komunikasi nirkabel. Sensor ultrasonik digunakan untuk mengukur ketinggian air dan rotary encoder yang dikopel dengan baling-baling sebagai pendeteksi kecepatan aliran air. Sistem menggunakan mikrokontroler Arduino Uno sebagai pengolah data masukan dari kedua sensor untuk menghasilkan sebuah output yaitu debit air. Masing-masing variabel ditampilkan pada LCD dan dapat dilihat melalui web thingspeak.com. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini pada sensor ultrasonik telah bekerja dengan baik, dengan nilai rata-rata error sebesar 0.42% dan rotary encoder yang dikopel dengan baling-baling telah bekerja dengan baik dengan nilai rata-rata error sebesar 8.33%. Pengukuran debit aliran dilakukan pada saluran irigasi di Desa Sidakangen, Kec. Kalimanah, Kab. Purbalingga, dan dihasilkan nilai rata-rata error sebesar 1.12%. Dari hasil tersebut maka dapat dikatakan bahwa alat yang telah dirancang dapat bekerja dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan.Measurement of flow discharge is necessary to know the potential of water resources in a watershed. Currently the measurement of river water discharge is still using manual method by way down the river, measuring from bridge or using boat. The way it has a weakness that can't be done continuously and changes in water flow discharge character is relatively short in time so it will be difficult to estimate the incident. Therefore, in this research, a real time water discharge monitoring system on open channel with wireless communication is designed. Ultrasonic sensors are used to measure the water level and rotary encoder coupled with the propeller as a water velocity detector. The system uses Arduino Uno microcontroller as the input data processor of both sensors to produce an output that is water discharge. Each variable is displayed on the LCD and can be viewed through web thingspeak.com. The results obtained from this study on the ultrasonic sensors have worked well, with an average error rate of 0.42% and the rotary encoder coupled with the propeller has worked well with an average error rate of 6.66%. Measurement of flow discharge is done on irrigation channel in Sidakangen Village, Kalimanah, Purbalingga, and the resulting average error rate of 1.12%. From these results it can be said that the system has been designed, can work properly and in accordance with the expected.
1562918935G1G012042PERBEDAAN KARAKTERISTIK MIKROSTRUKTUR DAN KEKERASAN NANOKOMPOSIT CALCIUM-PARTIALLY STABILIZED ZIRCONIA, SILIKA, METAKAOLIN 60:20:20, 50:20:30, 40:20:40 SEBAGAI MATERIAL GIGI ARTIFISIAL PEMBELAJARAN
ENDODONTIK

Gigi artifisial pembelajaran merupakan gigi tiruan untuk melatih keterampilan teknik preparasi perawatan saluran akar. Gigi artifisial yang tersedia di pasaran belum setara dengan nilai standar dentin gigi sehingga mudah rapuh, oleh karena itu diperlukan adanya pemilihan material yang tepat untuk menghasilkan gigi artifisial yang memiliki kekerasan menyerupai dentin gigi. Bahan keramik berupa Ca-PSZ, silika dan metakaolin digunakan karena ketiga bahan tersebut memiliki sifat mekanis yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan karakteristik mikrostruktur dan kekerasan nonokomposit Ca-PSZ, silika dan metakaolin perbandingan 60:20:20, 50:20:30, dan 40:20:40. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratories dengan rancangan post test only group design. Sampel penelitian terdiri dari 4 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 8 sampel. Kelompok I nanokomposit Ca-PSZ, silika, metakaolin perbandingan 60:20:20. Kelompok II nanokomposit Ca-PSZ, silika, metakaolin perbandingan 50:20:30. Kelompok III nanokomposit Ca-PSZ, silika, metakaolin perbandingan 40:20:40. Kelompok IV gigi artifisial resin. Hasil penelitian menunjukkan adanya gambaran struktur geopolimer dengan jumlah yang bervariasi pada mikrostruktur sampel nanokomposit serta perbedaan nilai kekerasan microvickers antar kelompok. Nilai kekerasan yang didapat pada kelompok I sebesar 77,12 VHN, kelompok II sebesar 69,62 VHN, kelompok III sebesar 63,42 VHN, dan kelompok IV sebesar 22,52 VHN. Nilai rerata kelompok I paling tinggi dan telah mencapai standar dentin yaitu 60-80 VHN. Gambaran SEM pada mikrostruktur penampang nanokomposit menunjukkan adanya struktur geopolimer yang terdistribusi merata dan homogen pada kelompok I dan kelompok II. Nilai kekerasan kelompok I dengan perbandingan 60:20:20 paling tinggi dan telah mencapai standar dentin yaitu 60-80 VHN.
Kata kunci : Calcium-partially stabilized zirconia, silika, metakaolin, gigi artifisial pembelajaran, kekerasan microvickers
Kepustakaan : 23 (2002-2016)
Artificial teeth for learning are artificial teeth for training skills on preparation techniques of root canal treatment. These artificial teeth in the market are not equal yet to the standard dentin values of the teeth so they are fragile, therefore selecting proper materials is needed to artificial teeth which have similar properties of hardness to dentin. The type of materials that could be used for this are ceramics. Ca-PSZ-based ceramics, silica and metakaolin were used because they have good mechanical properties. This study aims to examine the differences in microstructural and hardness characteristics of nanocomposite Ca-PSZ, silica and metakaolin with ratio of 60:20:20, 50:20:30, and 40:20:40. The type of this study was experimental laboratories with post test only group design. The study sample consisted of four groups, each group consisted of 8 samples. Group I is Ca-PSZ nanocomposite, silica, metakaolin with ratio 60:20:20. Group II is Ca-PSZ nanocomposite, silica, metakaolin with ratio 50:20:30. Group III is Ca-PSZ nanocomposite, silica, metakaolin with ratio 40:20:40. Group IV is artificial teeth made of resin. The results of the microstructural test showed the geopolymer structure with varying amounts and there were differences in the microstructural morphology of nanocomposite samples as well as differences in the value of microvickers hardness between groups. Hardness values obtained in group I is 77,12 VHN, group II is 69,62 VHN, group III is 63,42 VHN, and group IV is 22,52 VHN. The SEM description of the nanocomposite cross-sectional microstructure shows the existence of a uniformly distributed and homogeneous geopolymer structure in group I and group II. The value of group I violence with the highest 60:20:20 ratio and has reached the dentin standard is 60-80 VHN.

Keywords : Calcium-partially stabilized zirconia, silica, metacaolin, artificial- teeth-for-learning, hardness
Bibliography : 23 (2002-2016)
1563018917C1L013009The Influence of Financial Performance, Reputation of Public Accounting Firms, and Audit Opinion Towards Timeliness of Financial Statement PublicationPada umumnya perusahaan yang telah go public akan menerbitkan laporan keuangan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Namun, masih terdapat beberapa perusahaan yang mengalami keterlambatan dalam menerbitkan laporan keuangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kinerja keuangan, reputasi KAP, dan opini audit terhadap Ketepatan Waktu Publikasi Laporan Keuangan di Bursa Efek Indonesia. Kinerja keuangan tersebut diukur dengan rasio Economic Value Added (EVA). Sampel sebanyak 77 laporan keuangan dipilih dari populasi seluruh perusahaan property dan real estate, dengan menggunakan metode purposive sampling. Teknik analisis menggunakan regresi linear berganda, setelah sebelumnya semua data memenuhi berbagai persyaratan outlier dan uji kesesuaian model. Hasil tes menunjukkan bahwa kinerja keuangan, reputasi KAP, dan opini audit berpengaruh simultan terhadap ketepatan waktu publikasi laporan keuangan dan opini audit berpengaruh paling dominan terhadap ketepatan waktu publikasi laporan keuangan.Companies that have gone public in general will issue financial statements in accordance with a predetermined time. However, there are still some companies that experienced a delay in issuing the financial statements. Delay in issuing financial statements that have been audited by independent auditors is one indication that the company experienced a problem. The purpose of this study was to determine the effect of financial performance, reputation of KAP, and audit opinion on the Timeliness of Publication of Financial Statements in Indonesia Stock Exchange. The financial performance is measured by the ratio of Economic Value Added (EVA). The number of saple are 77 financial statements was selected from the population of all property and real estate companies, using purposive sampling method. The analytical technique used multiple linear regression, after previously all the data meet the various outlier test and classical assumption test. The test results indicate that the financial performance, accounting firms reputation, and audit opinion simultaneously affect the timeliness of financial statements publication and audit opinion has the most dominant effect on the timeliness of the publication of financial statements.
1563118936G1G012046PENGARUH PEMBERIAN LARUTAN ASAM HIALURONAT 1% DAN MEMBRAN POLIELEKTROLIT KALSIUM ALGINAT- KITOSAN TERHADAP KEKUATAN TARIK KULIT, KETEBALAN SERABUT KOLAGEN, DAN EPITELISASI PADA PROSES PENYEMBUHAN LUKA
Luka dapat digambarkan sebagai gangguan dalam kontinuitas sel-sel yang kemudian diikuti dengan penyembuhan luka. Proses penyembuhan luka dapat dibantu dengan pemberian pembalut luka. Salah satu jenis pembalut luka yang dapat digunakan untuk membantu proses penyembuhan luka adalah membran polielektrolit kalsium alginat-kitosan. Gabungan alginat dan kitosan membentuk kompleks membran polielektrolit yang dapat mempercepat penyembuhan luka. Kitosan dan alginat merupakan polikation dan polianionik yang paling banyak digunakan. Selain alginat polianionik yang dapat dan banyak digunakan adalah heparin, asam hilauronat, pektat dan beberapa turunan selulosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian larutan asam hialuronat 1% dan membran polielektrolit kalsium alginat-kitosan terhadap kekuatan tarik kulit, ketebalan serabut kolagen dan epitelisasi pada proses penyembuhan luka. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental laboratoris dengan metode Rancangan Acak Kelompok menggunakan 36 ekor tikus putih galur Wistar yang terdiri atas 4 kelompok. Kelompok I diberikan larutan asam hialuronat 1% dan membran polielektrolit kalsium alginat-kitosan, kelompok II diberikan membran polielektrolit kalsium alginat-kitosan, kelompok III diberikan larutan asam hialuronat 1%, dan kelompok IV adalah kelompok kontrol yang diberikan NaCl fisiologis. Setelah diberi perlakuan, tikus didekapitasi kemudian selanjutnya di uji kekuatan tarik kulit dan dibuat preparat untuk melihat kolagen dan epitel dengan metode Masson’s trichrom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok I memiliki nilai kekuatan tarik lebih baik dibandingkan kelompok II, III, dan IV. Sementara itu, uji statistik pada uji kolagen dan epitelisasi menunjukkan bahwa kelompok I, II, III, dan IV memiliki perbedaan bermakna. The wound can be described as a disturbance in the continuity of the cells which is then followed by wound healing. The process of wound healing can be assisted by the provision of wound dressing. One type of wound dressing that can be used to assist the wound healing process is a calcium alginate-chitosan polyelectrolyte membrane. The combined alginate and chitosan form a complex of polyelectrolyte membrane that can accelerate wound healing. Chitosan and alginate are the most widely used polycation and polyanionic. In addition to polyanionic alginates which can be and widely used are heparin, hyaluronic acid, pectate and some cellulose derivatives. This study aims to determine the effect of 1% aqueous solution of hyaluronic acid and calcium alginate-chitosan calcium chelate membrane to skin tensile strength, collagen fiber thickness and epithelialization on wound healing process. This research was conducted by experimental laboratory with Randomized Block Design method using 36 Wistar rats consisting of 4 groups. Group I was given 1% hyaluronic acid solution and a polyelectrolyte calcium alginate-chitosan membrane, group II was given a polyelectrolyte calcium alginate-chitosan membrane, group III was a group given 1% hyaluronic acid solution, and group IV was a control group which is given physiological NaCl. After treatment, the mouse was decapitated and then tested for skin tensile strength and made preparations to see collagen and epithelium with Masson's trichrom method. The results showed that group I had better tensile strength value than group II, III, and IV. Meanwhile, statistical tests on collagen and epithelial tests showed that groups I, II, III, and IV had significant differences.
1563218937G1G013034EFEK TERAPI KOMBINASI DOXYCYCLINE HYCLATE DAN GLUTATHIONE
TERHADAP KADAR Matrix Metalloproteinase-13 (MMP-13) PADA TIKUS Rattus Norvegicus MODEL PERIODONTITIS KRONIS
Periodontitis merupakan penyakit inflamasi kronik pada jaringan periodontal ditandai dengan adanya kehilangan perlekatan dan kehilangan tulang alveolar. Matriks Metaloproteinase-13 (MMP-13) merupakan kolagenase yang disintesis oleh fibroblas berperan dalam mendegradasi matriks ekstraseluler dan mempercepat proses kehilangan tulang. Doxycycline hyclate merupakan antibiotik yang digunakan pada dosis pemeliharaan untuk meningkatkan Tissue Inhibitor Matrix Metalloproteinase (TIMP) pada kondisi periodontitis. Glutathione (GSH) mampu menghambat sintesis MMP-13 oleh fibroblas. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efek terapi kombinasi doxycycline hyclate dan GSH terhadap kadar MMP-13 pada tikus model periodontitis kronis. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian posttest only control group design. Penelitian ini menggunakan 35 ekor tikus Sprague Dawley yang dibagi menjadi 5 kelompok: K1 (periodontitis dengan pemberian kombinasi doxycycline hyclate dan GSH), K2 (periodontitis dengan pemberian doxycycline hyclate), K3 (periodontitis dengan pemberian GSH), K4 (kontrol negatif) dan K5 (kontrol sehat). Kadar MMP-13 tikus diperiksa menggunakan uji ELISA didapatkan hasil rerata kadar MMP-13 pada K1 (7,365 ng/ml), K2 (8,495 ng/ml), K3 (9,911 ng/ml), K4 (10,350 ng/ml), K5 (6,504 ng/ml). Hasil penelitian dianalisis menggunakan One Way ANOVA diketahui terdapat perbedaan antar kelompok (p=0,000) dan dilanjutkan dengan post hoc LSD. Hasil uji Pos Hoc diketahui antar kelompok perlakuan (K1, K2, dan K3) dan antara kelompok K4 dan K5 terdapat perbedaan signifikan. Hasil juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara kelompok K1 dengan K5, dan antara kelompok K3 dengan K4. Hal ini berarti terapi kombinasi Doxycycline hyclate dan GSH memiliki pengaruh positif dalam menurunkan kadar MMP-13 pada perawatan periodontitis kronis.Periodontitis is a chronic inflammatory disease in periodontal tissue characterized by attachment loss and alveolar bone loss, which can lead to tooth loss in later stages. Matrix Metaloproteinase-13 (MMP-13) is a collagenase synthesized by fibroblasts that play a role in degrading the extracellular matrix and accelerating the bone loss process. Doxycycline hyclate is an antibiotic that at maintenance doses is used to increase Tissue Inhibitor Matrix Metalloproteinase (TIMP) in periodontitis conditions. Glutathione (GSH) capable of inhibiting MMP-13 synthesis by fibroblasts. The aim of this research was to determine the effect of combination therapy of doxycycline hyclate and GSH on MMP-13 level in chronic periodontitis model of rat. This type of research was experimental laboratory with posttest only control group design. This study used 35 Sprague Dawley rats divided into 5 groups: K1 (periodontitis with combination of doxycycline hyclate and GSH), K2 (periodontitis with doxycycline hyclate), K3 (periodontitis with GSH), K4 (negative control) and K5 (Healthy control). Levels of MMP-13 in rats were examined using ELISA assays showed that the mean of MMP-13 levels on K1 (7,365 ng/ml), K2 (8.495 ng/ml), K3 (9,911 ng/ml), K4 (10,350 ng/ml), and K5 (6,504 ng/ml). The results were analyzed using One Way ANOVA, which known there were differences between groups (p = 0,000) and followed by post hoc LSD. The result of Pos Hoc test was known between treatment group (K1, K2, and K3) and between K4 and K5, there was significant difference with p <0,05. The results also showed no difference between treatment group K1 and K5, and between treatment group K3 and K4, was shown with p> 0,05. This means that combination therapy of Doxycycline hyclate and GSH had positive effect on decreasing MMP-13 in the treatment of chronic periodontitis
1563318938G1G012059PENGARUH PEMBERIAN KOMPOSIT KOLAGEN-HIDROKSIAPATIT KADAR 20 : 80 SEBAGAI BONE GRAFT TERHADAP JUMLAH OSTEOBLAS PADA TIKUS (Rattus norvegicus) GALUR WISTARPenyembuhan tulang yang mengalami kerusakan dapat terjadi secara alami atau dengan pemberian bone graft untuk mempercepat proses perbaikan jaringannya. Bone graft telah banyak digunakan pada aplikasi klinis, salah satunya demineralized bone matrix. Material lain yang seringkali digunakan yaitu hidroksiapatit yang merupakan komponen anorganik tulang, namun bahan tersebut memiliki sifat kelenturan yang kurang baik sehingga penambahan material lain dibutuhkan untuk memperbaiki kekurangannya yaitu kolagen yang merupakan komponen organik tulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian komposit kolagen-hidroksiapatit kadar 20 : 80 terhadap jumlah osteoblas pada tulang mandibula tikus galur wistar jantan yang telah dibuat defek. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian post test only control group design. Sampel penelitian terdiri dari 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 7 ekor tikus yang dilakukan pengeboran pada tulang mandibula. Kelompok I merupakan kelompok perlakuan yang diaplikasikan komposit kolagen-hidroksiapatit. Kelompok II merupakan kelompok kontrol positif yang diaplikasikan demineralized bone matrix. Kelompok III merupakan kelompok kontrol negatif yang tidak diaplikasikan bone graft pasca pembuatan defek. Kelompok IV merupakan kelompok kontrol sehat. Tikus diobservasi kemudian didekapitasi pada hari ke-10 paska perlakuan, selanjutnya dilakukan pembuatan sediaan histologi dengan pewarnaan hematoksilin eosin. Hasil uji ANOVA satu arah menunjukkan adanya perbedaan jumlah osteoblas secara keseluruhan dengan nilai signifikansi p < 0,05 yaitu p-value 0,00. Data dilakukan uji LSD dengan hasil menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna pada tiap kelompok, kecuali pada kelompok (1) dengan kelompok (2) nilai signifikansi p > 0,05. Simpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh pemberian komposit kolagen-hidroksiapatit kadar 20 : 80 terhadap jumlah osteoblas pada tikus galur wistar pasca dilakukannya pembuatan defek pada tulang mandibula.The damaged bones healing process can occur naturally or with the addition of bone graft to make the tissue repairing process faster. Bone graft has been widely used in clinical applications, such as demineralized bone matrix. Alternative materials that often used is hydroxyapatite which is an inorganic component of bone. Yet, this material has a low characteristic of flexibility so that the addition of other materials is needed to improve the characteristic of collagen which is the organic component of bone. The aim of this study is to determine the effect of addition of 20 : 80 collagen-hydroxyapatite composite to the amount of osteoblasts in mandibular bone of male wistar strain. The research method used was experimental laboratory with post test only control group design. The study is consisted of 4 groups, each group contained 7 rats that had been drilling on the mandibular bone. Group I was a group that treated with the application of collagen-hydroxyapatite composite. Group II was a positive control group that applied with demineralized bone matrix. Group III is a negative control group that is not applied with any bone graft. Group IV is a healthy control group. The rats were observed and then decapitated on the 10th day after the treatment, then made histologic preparations with hematoxylin eosin staining. One way ANOVA test result showed the difference of osteoblast with significance value of p <0,05 (p-value 0,00). The data then tested using LSD test and the result showed that there was a significant difference in each group except in group (1) and group (2) significance value p> 0,05. The conclusion of this study is that there is an effect of addition of 20 : 80 collagen-hydroxyapatite composite on osteoblasts in wistar rats that had been defect on the mandibular bone.
1563418939G1G013040PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KUNYIT (Curcuma domestica) TERHADAP KADAR TNF-α PASCAPENCABUTAN GIGI TIKUS MODEL DIABETES MELITUS TIPE-2
Diabetes melitus merupakan kondisi sistemik yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan penyembuhan luka pascapencabutan gigi, hal ini berhubungan dengan banyaknya produksi sitokin, seperti TNF-α. Kunyit merupakan tanaman herbal yang banyak dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan. Kurkumin, salah satu senyawa aktif pada kunyit memiliki potensi sebagai anti-inflamasi, antikarsinogenik, dan aktivitas antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kunyit (Curcuma domestica) terhadap kadar TNF-α pascapencabutan gigi tikus diabetes. Jenis penelitian ini eksperimental laboratoris in vivo dengan 30 tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok 1 (kontrol negatif), kelompok 2 (kontrol sehat), P1 (tikus model diabetes melitus tipe-2 dan diberikan ekstrak kunyit 135 mg/kgBB), P2 (tikus model diabetes melitus tipe-2 dan diberikan ekstrak kunyit 270 mg/kgBB), P3 (tikus model diabetes melitus tipe-2 dan diberikan ekstrak kunyit 540 mg/kgBB). Hasil uji ELISA menunjukkan peningkatan dosis ekstrak kunyit semakin menurunkan kadar TNF-α. Kadar TNF-α mendekati kadar normal pada kelompok P1. Data hasil penelitian dianalisis secara statistik dengan uji one way ANOVA dan post hoc LSD. Uji statistik menunjukkan perbedaan bermakna antar semua kelompok, kecuali pada kelompok P2 dan P3 serta P1 dan K2. Simpulan pada penelitian ini yaitu pemberian ekstrak kunyit dapat menurunkan kadar TNF-α pada tikus model diabetes melitus tipe-2 setelah pencabutan gigi dan kadar TNF-α mendekati normal pada dosis 135 mg/kgBBDiabetes mellitus is a systemic problem which cause impaired wound healing after tooth extraction, this condition relate to elevation of cytokine production, one of them is TNF-α. Turmeric is herbal that often used as alternatif medicine. Curcumin, one of active substance in turmeric have potential effects as antiinflammation, anticarcinogenic, and antioxidant. The purpose of this research to find out the effect of turmeric extract (Curcuma domestica) on TNF-α level after tooth extraction in type 2 diabetic rat model. The level of TNF-α This is experiment laboratoris in vivo research with 30 male wistar rats which divided to 5 groups, K1 (negative control), K2 (normoglicemic control), P1 (type 2 diabetic model given 135 mg/kgBB turmeric extract), P2 (type 2 diabetic model given 270 mg/kgBB turmeric extract), P3 (type 2 diabetic model given 540 mg/kgBB turmeric extract). ELISA test showed the decreasing level of TNF-α as the dose increased. TNF-α level in P1 group was approaching normal level. The research data was staticticaly analyzed by one way ANOVA and post hoc LSD. Statistic test showed significant differences between all groups except between P2 and P3, P1 and K2. Conclusion of this research is administration of turmeric extract can decrease TNF-α level after tooth extraction in type 2 diabetic rat model and TNF-α level approaching normal level at dose 135 mg/kgBB.
1563518941H1H013027TINGKAT INFEKSI DAN IDENTIFIKASI MOLEKULER NEMATODA ANGUILLICOLA PADA SIDAT (Anguilla sp.) DARI KABUPATEN PANGANDARANAnguillicola merupakan nematoda parasitik yang spesifik menginfeksi gelembung renang sidat (Anguilla sp.). Anguillicola pertama kali ditemukan menginfeksi sidat di Jepang (Anguilla japonica). Informasi mengenai keberadaan dan jenis Anguillicola yang menginfeksi sidat (Anguilla sp.) di Indonesia belum banyak dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat infeksi dan spesies Anguillicola pada sidat (Anguilla sp.) dari Kabupaten Pangandaran. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah eksploratif dengan melakukan pengamatan tingkat infeksi dan identifikasi molekuler Anguillicola berdasarkan sekuen gen nSSU (nuclear small subunit ribosomal RNA).Pengambilan sampel sidat dilakukan pada bulan November 2016, Maret, April dan Juni 2017 dari hasil tangkapan di Sungai Cikidang, Desa Babakan, Kabupaten Pangandaran. Sidat yang diamati sebanyak 424 ekor dengan berat 27,01 ± 16,00 g dan panjang 25,9 ± 4,60 cm. Berdasarkan hasil pengamatan tingkat infeksi Anguillicola menunjukkan bahwa nilai prevalensi Anguillicola berkisar 5,81-18,98% dan intensitas 1-5 individu Anguillicola/sidat terinfeksi. Berdasarkan hasil identifikasi molekuler ditemukan bahwa spesies Anguillicola yang menginfeksi sidat (Anguilla sp.) dari Kabupaten Pangandaran adalah Anguillicola crassus dengan kemiripan sebesar 100%.Anguillicola is a nematode parasitizing swim bladder of eels. At first, it was reported to infect Japanese eel (Anguilla japonica). Information about the existence and species of Anguillicola in Indonesia has been rarely reported. The aim of the research was to determine infection rate and species of Anguillicola in eels (Anguilla sp.) from Pangandaran Regency. This research used an explorative method by conducting the examination of infection rate and molecular identification of Anguillicola based on the sequence of nSSU (nuclear small subunit ribosomal RNA) gene. The sample was taken in November 2016, March, April and June 2017 from the caught in Cikidang River, Babakan Village, Pangandaran Regency. A total of 424 eels was examined with weight 27,01 g ± 16,00 and length 25,9 cm ± 4,60. The prevalence of infected eels ranged from 5,81% to 18,98% and intensity ranged from 1 to 5 Anguillicola per infected eel. Based on the result of molecular identification, of Anguillicola in eel (Anguilla sp.) from Pangandaran Regency is Anguillicola crassus with 100% of similarity.
1563618942H1H013054PENGARUH PEMBERIAN DOSIS LISIN YANG BERBEDA TERHADAP TINGKAT EKSPRESI GEN EARLY GROWTH RESPONSE-2 IKAN BANDENG (Chanos chanos F.).Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan mikrokapsul dengan inklusi bahan dasar Nannochloropsis oculata dan lisin terhadap tingkat ekspresi gen early growth respon (EGR-2) nener bandeng (Chanos chanos forskal). Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Pakan mikrokapsul diberikan pada nener bandeng sebanyak 2 kali sehari untuk nener (2-3 cm) sebanyak 1200 ekor selama 56 hari. Dosis lisin yang digunakan pada masing-masing perlakuan sebesar 1% (P1), 1,5% (P2), 2% (P3) dan tanpa lisin (kontrol). Pada hari ke 56 nener diambil sebanyak 2 gram untuk dilihat ekspresi gen early growth respon (EGR 2). Hasil analisis menggunakan elektroforesis menunjukkan ekspresi gen EGR-2 belum terdeteksi, yang ditunjukkan tidak terbentuknya produk amplifikasi dengan panjang 438 bp dan diindikasikan terjadinya gen lain yang terdeteksi pada saat proses PCR. This research was conducted to determine the effect of microcapsule diet of Nannochloropsis oculatabase diet and lysine supplementation to the expression of early growth response gene (EGR 2) of Chanos chanos forskal. The research method used was experimental method using completely randomized design with 4 tratments and 3 replications. A Microcapsule diet was given on juvenil milkfish for twice a day to juvenil (2-3 cm) of 1200 headsalong 56 days. The lysine dosage used in each treatment was 1% (P1), 1.5% (P2), 2% (P3) and without lysine (control). On day 56 juvenil was taken as much as 2 gram to see expression of early growth response gene (EGR 2). The results of the analysis using electrophoresis showed that expression EGR-2 gene has not been detected, indicating the absence of an amplification product with a length of 438 bp and indicated the occurrence of other genes detected during the PCR process.
1563718948G1G012022PERBEDAAN PENGARUH METODE PENGALIHAN PERHATIAN MENGGUNAKAN VIRTUAL REALITY ANTARA FITUR GAMES DAN OCULUS CINEMA TERHADAP TINGKAT KECEMASAN DAN NYERI SELAMA SERTA SETELAH PERAWATAN GIGI PADA ANAK (STUDI PADA SISWA SMP DI PURWOKERTO)Rasa takut merupakan suatu respon emosional, timbulnya rasa takut berbeda-beda pada tiap individu hal ini terutama disebabkan oleh faktor usia dimana anak-anak lebih mudah merasakan takut. Ketakutan anak terkadang disertai oleh kecemasan sehingga bedampak pada meningkatnya persepsi nyeri pada saat perawatan gigi. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan pengaruh pemberian metode pengalihan perhatian menggunakan Virtual Reality terhadap penurunan tingkat kecemasan dan nyeri selama serta setelah perawatan gigi pada anak. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental randomized controlled clinical trial. Sampel pada penelitian ini menggunakan siswa smp berjumlah 30 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu: kelompok kontrol dengan menggunakan oculus cinema (virtual reality pasif), dan kelompok perlakuan menggunakan games (virtual reality aktif). Pada semua kelompok diminta mengisi kuesioner STAI-T pada saat sebelum dilakukan perawatan dan kuesioner STAI-S setelah dilakukan perawatan untuk mengukur tingkat kecemasan, dan mengisi Wong Baker Faces Pain Rating Scale setelah perawatan untuk mengukur nyeri. Hasil dari uji independent t-test (p<0,05) menunjukkan bahwa kelompok perlakuan memiliki tingkat kecemasan dan nyeri yang lebih rendah dibanding kelompok kontrol. Simpulan dari hasil penelitian ini bahwa terdapat pengaruh pemberian metode pengalihan perhatiang menggunakan Virtual Reality terhadap penurunan tingkat kecemasan dan nyeri selama serta setelah perawatan gigi pada anak. Penggunaan metode pengalihan perhatian Virtual Reality fitur games lebih baik dibandingkan penggunaan fitur oculus cinema selama perawatan gigi pada anak.Fear is an emotional responses, there is a difference in experiencing fear at each individuals mainly because of age factor which is children are more affected by fear. Child’s fear may be associated with anxiety which can affect pain perception during dental treatment. The aim of this study is to prove effect of distraction methods using virtual reality on reducing anxiety and pain during dental treatment in children. These research was an experimental randomized controlled clinical trial. Sample in this research using 30 junior high school students were divided into 2 groups: control group using oculus cinema (passive virtual reality), and treated group using games (active virtual reality). All group were administered to fill the STAI-T questionnaire before the dental procedure dan STAI-S questionnaire after finishing the dental procedure for anxiety, and fill the Wong Baker Faces Pain Rating Scale for pain. The result from independent t-test (p<0,05) showed that the treated group has a fewer anxiety level and pain than control group. Conclusion from this research that there is effect of distraction methods using virtual reality on reducing anxiety and pain during dental treatment in children. Distraction methods using virtual reality feature games are more effective than using feature oculus cinema during dental treatment in child.
1563818950H1D013015PENGARUH PENGGUNAAN SERBUK KACA SEBAGAI FILLER PADA CAMPURAN ASPHALT CONCRETE-WEARING COURSE (AC-WC) TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALLAsphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) merupakan lapisan permukaan konstruksi jalan raya yang berhubungan langsung dengan roda kendaraan. Lapisan ini menerima beban paling besar sehingga kualitas campuran harus baik agar tidak mudah rusak. Berkaitan dengan lapis perkerasan, secara fisik serbuk kaca dapat digunakan sebagai alternatif filler pada campuran AC-WC karena memiliki kadar silika yang tinggi sehingga mampu mengikat agregat dan aspal. Penelitian ini bertujuan untuk mencari kadar aspal optimum (KAO), nilai karakteristik Marshall dengan filler serbuk kaca, dan kadar serbuk kaca optimum. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen laboratorium. Variasi kadar aspal yang digunakan 4,5%, 5%, 5,5%, 6%, dan 6,5% terhadap total berat campuran dan diperoleh nilai KAO sebesar 5,9%. Setelah diperoleh nilai KAO, dibuat benda uji dengan variasi filler serbuk kaca 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100% terhadap berat filler total (agregat yang lolos saringan no. 200). Kemudian dilakukan pengujian terhadap benda uji tersebut dengan metode uji Marshall. Hasil analisis nilai karakteristik Marshall menunjukkan bahwa benda uji dengan filler serbuk kaca menghasilkan nilai stabilitas MQ, VFA, dan density semakin tinggi, sedangkan nilai flow, VMA, dan VIM semakin rendah. Semakin banyak kadar filler serbuk kaca yang diberikan untuk campuran, maka lapisan perkerasan cenderung kaku dan getas. Untuk itu kadar serbuk kaca optimum yang digunakan untuk campuran adalah ≤45% dari filler total.Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) is a surface layer of highway construction which has dirrect realtion with vehicle wheels and therefore receives biggest load. Hence quality of the mixture should be good so that it will not be easily damaged. With regards to the pavement, glass powder can be used as an alternative filler for AC-WC mixture because it has high levels of silica. Therefore glass powder is able to bind the aggregate and asphalt. The aims of this research are to find the value of optimum asphalt content (KAO), Marshall characteristic value with glass powder filler, and value of optimum glass powder. This research uses laboratory experiment method. Five level variations of bitumen are used: 4,5%, 5%, 5,5%, 6%, and 6,5% of total weight of the mixture, so the value of KAO is 5,9%. Once the KAO value is obtained, the specimen will be set with filler variations of glass powder 0%, 25%, 50%, 75%, and 100% of total filler weight (aggregate which passing filter number 200). The specimen will be then tested by Marshall test method regarding Marshall characteristics. Resulting of the test using glass powder showed that in AC-WC mixture the value of stability, MQ, VFA, and density are increased, whilst the value of flow, VMA, and VIM are decreased. If the level of the glass powder filler increases, the pavement layer becomes rigid and brittle. Therefore, optimum glass powder content used for the mixture is ≤ 45% of the total filler.
1563918944F1I013002PERAN ASEAN PARLIAMENTARIANS FOR HUMAN RIGHTS (APHR) DALAM UPAYA PENYELESAIAN PERMASALAHAN DISKRIMINASI TERHADAP ROHINGYARohingya pada dasarnya merupakan orang-orang yang telah lama mendiami wilayah Myanmar. Namun pemerintah Myanmar melihat mereka sebagai imigran ilegal yang berasal dari Bangladesh. Anggapan tersebut membuat orang-orang Rohingya mengalami diskriminasi di Myanmar. Diskriminasi tersebut dimulai ketika dikeluarkannya Undang-Undang Kewarganegaraan 1982. Setelah dikeluarkannya Undang-Undang tersebut, diskriminasi terhadap Rohingya semakin sering terjadi dan menyebabkan mereka terpaksa meninggalkan wilayah Myanmar ke negara-negara Asia Tenggara. Untuk semakin menekan tingkat migrasi orang Rohingya sekaligus menyelesaikan permasalahan diskriminasi yang mereka alami, APHR mencoba untuk berupaya melakukan peran yang diharapkan akan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut. Namun peran yang diperankan oleh APHR bukan peran utama, melainkan mendorong entitas lain untuk turut berperan.Rohingya is basically a people who have long inhabited the region of Myanmar. But the Myanmar government sees them as illegal immigrants from Bangladesh. This assumption makes the Rohingya suffer discrimination in Myanmar. The discrimination began when the 1982 Citizenship Act was issued. Following the enactment of the law, discrimination against Rohingyas became more frequent and caused them to leave the territory of Myanmar to Southeast Asian countries. To further reduce the migration rate of Rohingyas as well as to solve their discrimination problems, APHR tries to do the role that is expected to be able to solve the problem. But the role played by APHR is not the main role, but rather encourages other entities to play a role.
1564018945H1E012053ANALISA SEBARAN DAN POTENSI SUMBER DAYA BATUAN ANDESIT MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK TAHANAN JENIS DI DESA WIROKO KECAMATAN TIRTOMOYO KABUPATEN WONOGIRI
Penelitian menggunakan metode geolistrik telah dilakukan untuk mengetahui model lapisan batuan bawah permukaan dan potensi sumber daya batuan andesit di Desa Wiroko, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri. Konfigurasi yang digunakan pada metode ini adalah konfigurasi Wenner sebanyak 2 lintasan dengan panjang lintasan 200 m dan 120 m. Konfigurasi Schlumberger sebanyak 1 lintasan dengan panjang 160 m. Hasil inverse pada penampang 2D konfigurasi Wenner terdapat empat lapisan pada setiap penampang yang terdiri dari tanah penutup (top soil) dengan nilai resistivitas 17,60-32,00 ohm.m, batupasir dengan nilai resistivitas 17,70-84,00 ohm.m, breksi dengan nilai resistivitas 41,10-111,0 ohm.m dan andesit dengan nilai resistivitas 51,20-135 ohm.m. Hasil korelasi antar titik Wenner pada pemodelan 3D di Desa Wiroko Kabupaten Wonogiri menunjukkan bahwa terdapat batuan andesit yang menerobos disebelah selatan daerah penelitian dengan ketebalan berkisar 30 meter pada kedalaman 1,25-30 meter dan mempunyai potensi sumber daya batuan andesit sebesar 28.200 m³.
This research was conducted by using geoelectric method to find out the model of subsurface rock layers and the potential resources of andesite in Wiroko village, Tirtomoyo Subdistrict, Wonogiri Regency. In this method, Wenner configuration was used with 2 lines with the length of 200 m and 120 m and Schlumberger configuration as much as 1 lines with a length of 160 m. the result of inverse on 2D section of Wenner configuration shows there are four layers on each sections which consist of top soil with resistivity from17,60 to 32,00 ohm.m, sandstone with resistivity from 17.70 to 84.00 ohm.m, breccia with resistivity from 41.10 to 111.0 ohm.m and andesite with resistivity from 51.20 to 135 ohm.m. The correlation result between Wenner point in 3D modeling in Wiroko village, Wonogiri Regency shows that there is andesite which break through the South of research area with the thickness of 30 meters approximately at depth of 1,25 to 30 meters, and has a potential resource of 28,200 m³ andesite.