Artikelilmiahs
Menampilkan 41-60 dari 48.725 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 41 | 5995 | A1L009077 | SELEKSI PADI GOGO BERDAYA HASIL TINGGI DAN BERPROTEIN TINGGI DARI PERSILANGAN G39 × MENTIK WANGI DAN SILUGONGGO × G39 PADA POPULASI F6 | Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui penampilan komponen hasil galur padi persilangan G39 × Mentik Wangi dan Silugonggo × G39 pada populasi F6, 2) mendapatkan genotip yang berpotensi memiliki hasil tinggi dari keturunan persilangan G39 × Mentik Wangi dan Silugonggo × G39 pada populasi F6, 3) mendapatkan genotip yang berpotensi hasil dan kandungan protein tinggi dari keturunan persilangan G39 × Mentik Wangi dan Silugonggo × G39 pada populasi F6. Penelitian dilakukan di Dusun Sokawera, Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas dari bulan Nopember 2012 sampai dengan bulan April 2013. Penelitian menggunakan rancangan lapangan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dan rancangan perlakuan Augmented Design. Materi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi padi galur G39, varietas Inpago Unsoed 1, Situ Patenggang dan Limboto sebagai varietas cek. Genotip F6 persilangan G39 × Mentik Wangi (G71-3, G36-3, G75-2, G71-10, G71-4, G71-1, G75-1, G122-3) dan persilangan Silugonggo × G39 (G45-4, G45-17, G45-2, G45-13, G45-15, G45-8, G45-14, G45-3). Variabel pengamatan meliputi tinggi tanaman (cm), umur berbunga (hst), umur panen (hst), jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, presentase gabah isi (%), bobot gabah per rumpun (g), bobot gabah per petak, dan kandungan protein (%). Data dari varietas cek dianalisis hasilnya menggunakan uji F pada tingkat kepercayaan 95%, dilanjutkan uji LSI untuk melihat perbedaan genotip yang dicoba dengan varietas cek. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman komponen hasil padi populasi F6 keturunan persilangan G39 × Mentik Wangi dan Silugonggo × G39 antar genotip. Diperoleh lima genotip yang berpotensi hasil tinggi yaitu G45-13, G71-4, G71-1, G45-3, dan G71-3 (3,90 t ha-1; 4,17 t ha-1; 3,62 t ha-1; 3,65 t ha-1; 4,11 t ha-1). Dari lima genotip tersebut, empat genotip berpotensi hasil tinggi dengan kandungan protein sedang yaitu G71-4, G71-1, G45-3, dan G71-3 (10,01%; 10, 88%; 9,65%; 8,69%) dan satu genotip yang berpotensi hasil tinggi dengan kandungan protein rendah yaitu G45-13 (6,77%). | The research aimed 1) determine the yield component performance of the genotypes from crossing of G39 × Mentik Wangi and Silugonggo × G39 in F6 population, 2) determine the high yielding genotypes from crossing of G39 × Mentik Wangi and Silugonggo × G39 in F6 population, 3) determine both high yielding and high protein content genotypes from crossing of G39 × Mentik Wangi and Silugonggo × G39 in F6 population. The research was conducted in Sokawera, Rempoah Village, Baturraden district, Banyumas regency on from November 2012 to April 2013, and it was designed by using the RCBD (Randomized Complete Blocks Design) and Augmented Design. The material used in study includes rice genotypes G39, varieties of Inpago Unsoed 1, Situ Patenggang and Limboto as check varieties. F6 genotypes derived from crossing between G39 and Mentik Wangi ( G71-3, G36-3, G75-2, G71-10, G71-4, G71-1, G75-1, G122-3) and crossing between Silugonggo and G39 (G45-4, G45-17, G45-2, G45-13, G45-15, G45-8, G45-14, G45-3). The variables of observation were plant height (cm), flowering age (day after planting), harvesting age (day after planting), sum tiller number, number of productive tiller per hill, percentage of filled grain per panicle (percentage), grain weight per hill (g), grain weight per plots and protein contains (percentage). The data were analyzed using F test at 95% of accurate level then it tested using LSI to observe the differences between genotypes tested with check variety. The result of the research shows the variation of grain components performance in F6 population from crossing between G39 and Mentik Wangi and crossing between Silugonggo and G39 each genotype. The research obtained of five high yielding genotype namely G45-13, G71-4, G71-1, G45-3, and G71-3 (3,90 t ha-1; 4,17 t ha-1; 3,62 t ha-1; 3,65 t ha-1; 4,11 t ha-1). From those, there are four high yielding genotypes with medium protein content namely G71-4, G71-1, G45-3, and G71-3 (10,01%; 10, 88%; 9,65%; 8,69%) and one high yielding genotypes with medium protein content namely G45-13 (6,77%). | |
| 42 | 5983 | E1A009191 | ANALISIS MATERI MUATAN PERATURAN BUPATI BREBES NOMOR 018 TAHUN 2011 TENTANG WAKTU MEMATIKAN DAN MENGHIDUPKAN SIARAN RADIO DAN TAYANGAN TV | Sistem penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia berdasarkan pendekatan kesisteman, yang terdiri dari sistem pemerintahan pusat dan sistem pemerintahan daerah. Oleh karena itu, berdasar Pasal 18 ayat (6) UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang menyatakan bahwa Pemerintah Daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan, Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes membuat Peraturan Bupati Nomor 018 Tahun 2011 tentang Waktu Mematikan Dan Menghidupkan Siaran Radio Dan Tayangan Pesawat TV. Lalu bagaimanakah materi muatan dan hambatan normatifnya dalam Peraturan Bupati Brebes Nomor 18 Tahun 2011 tentang Waktu Mematikan dan Menghidupkan Siaran Radio dan Tayangan Pesawat TV tersebut? Tipe dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan metode pendekatan kasus. Dalam penelitian ini materi muatan Peraturan Bupati Brebes Nomor 018 Tahun 2011 dilihat dari sudut pandang kewenangan Pemerintah Daerah dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 Tetang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Kemudian dalam peraturan Bupati Brebes Nomor 18 Tahun 2011, terdapat beberapa hambatan normatif yang mengakibatkan peraturan tersebut tidak efektif. Oleh karena itu, sebaiknya peraturan tersebut dibuat sistematis dan dilengkapi dengan aturan mengenai hak dan kewajiban antara masyarakat dengan pemerintah serta mekanisme-mekanismenya. Kata Kunci: Materi Muatan, Peraturan Bupati, Pemerintahan Daerah. | The government system of Indonesia based on approach system, consisting a Central Government System and Local Government System. Therefore, based on Article 18 paragraph (6) of UUD of the Republic of Indonesia in 1945, which Local Government has a right to establish the local regulations and other regulations to implement the autonomy and assistancy, Regional governments of Brebes Regency made the Rule of Regent Number 018 in 2011 about the time of turn off and turn on the Radio And TV show. Then, how is the charge material and barriers normative Regent of Brebes in rule number 18 in 2011 about the time of turn off and turn on the Radio and the TV show? The type in this research is the juridical normative with case approach as the method. In this research the material charge of regulation regent of Brebes Number 018 in 2011 is seen from the local government authority and rule Number 12 in 2011 about the formation of legislation. Then the rule of Regent of Brebes number 18 in 2011, there are some normative barriers that cause the result in that regulation is not effective. Therefore, we recommend to that legislation to create systematically and complete it with rules concerning the rights and obligations between the community and the government as well as the mechanisms. Keyword: Materials Charge, Rules of Regent, Region Government. | |
| 43 | 5999 | E1A008054 | KUASA MENJUAL TANAH DAN BANGUNAN (Analisis Yuridis Terhadap Penetapan Pengadilan Nomor 843/Pdt.p/Pn.Clp.) | Abstrak Penelitian ini dilakukan terhadap Penetapan Pengadilan Nomor 843/Pdt.p/Pn.Clp. Untuk mengetahui alasan-alasan dan dasar hukum Hakim dalam memberikan putusannya. Metodologi penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif, spesifikasi penelitian deskriptif dan analisis kualitatif. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa dalam memberikan putusannya, Hakim hanya mendasarkan pada masalah perwalian padahal fakta hukumnya mengenai pembagian warisan. Selain itu hakim telah salah dalam penerapan hukumya seharusnya hakim menggunakan Pasal 50 Undang-Undang Perkawinan dan bukannya pasal 47 Undang-Undang Perkawinan. Kata kunci: kuasa, perwalian, perwalian. | Abstract This research was carried out on Court Decision No.843/Pdt.p/Pn.Clp. To know about the reason and legal basis for Judge in giving its decision. The research methodology used is normative, descriptive research spesification and qualitative analysis. Based on the result of analysis show that in giving its decision. The judge only based on custody issues when the facts of the case law inhertance. In addition the judge was wrong in law enforcement judges shuld use article 50 of the Law of Marriage and not article of 47 of the Marriage act. Keywords: power of attorney, guardianship, inhertance. | |
| 44 | 5998 | E1A008336 | TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERJANJIAN KERJASAMA | Penelitian ini dilakukan terhadap perjanjian kerjasama grosir pulsa dengan tujuan menemukan konstruksi hubungan hukumnya apakah termasuk perjanjian bernama ataukah perjanjian tak bernama. Metode pendekatan yang di pakai adalah yuridis normatif, spesifikasi penelitian deskriptif dan analisis kualitatif. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa perjanjian kerjasama ini dapat dikualifikasikan sebagai perjanjian persekutuan, sehingga masuk ke dalam kelompok perjanjian bernama. Oleh karena itu tunduk pada ketentuan dalam bab VIII buku III KUH Perdata tentang persekutuan. Kata kunci : perjanjian kerjasama, perjanjian persekutuan | This research was conducted on a cooperation agreement with the aim of finding wholesale pulses construction legal relations whether named or agreements including agreements nameless. Method approach in use is normative, descriptive research specifications and qualitative analysis. Based on the analysis it can be concluded that this agreement can be qualified as a treaty of alliance, so get into a group called the agreement. Therefore subject to the provisions of Chapter VIII of the Civil Code book III fellowship. Keywords: agreement, partnership agreement | |
| 45 | 6001 | A1H008005 | PENDUGAAN EMISI METANA (CH4) PADA SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION) DALAM PETAK MENGGUNAKAN MODEL JARINGAN SARAF TIRUAN | Sistem pertanian konvensional menggunakan pupuk kimia yang diterapkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia telah menyumbang dalam peningkatan emisi gas metana (CH4). Perubahan sistem pertanian dari konvensional ke SRI dan dari pupuk kimia menjadi pupuk organik disertai dengan larutan mikroorganisme lokal (MOL) diharapkan dapat menekan produksi emisi gas metana dari sawah. Tujuan penelitian ini adalah: (1) membuat model Jaringan Saraf Tiruan untuk memprediksi emisi gas metana, (2) memprediksi emisi gas metana selama 1 musim tanam padi dengan beberapa perlakuan yang dicobakan. Dalam penelitian ini diterapkan 4 perlakuan yaitu SRI tanpa menggunakan MOL, SRI dengan MOL keong mas, SRI dengan MOL rebung, dan konvensional. Emisi gas metana diprediksi menggunakan jaringan saraf tiruan berdasarkan pengaruh iklim saat masa tanam (120 hari) dengan 7 masukan yaitu suhu tanah pada kedalaman 10 cm, suhu permukaan tanah, jam pengambilan sampel gas, hari pengambilan sampel gas, radiasi matahari, pH tanah, dan kadar c-organik tanah. Arsitektur jaringan saraf tiruan berupa masukan – layar tersembunyi – keluaran. Berdasarkan empat perlakuan kondisi iklim didapatkan model jaringan saraf tiruan berturut-turut adalah 7 – 14 – 1, 7 – 10 – 1, 7 - 15 – 1, dan 7 – 12 – 1. Hasil prediksi emisi gas metana berdasarkan model tersebut adalah 72 kg/ha/musim pada perlakuan SRI tanpa menggunakan MOL, 16.848 kg/ha/musim pada perlakuan SRI dengan MOL keong mas, 331.2 kg/ha/musim pada perlakuan SRI dengan MOL rebung, dan 851.4 kg/ha/musim pada perlakuan konvensional. Berdasarkan hasil tersebut maka metode tanam padi rendah emisi gas metana adalah metode SRI dengan MOL keong mas. | Conventional agriculture using chemical fertilizer that applied by most of farmers in Indonesia contributes to the increasing of methane emissions. Changing the conventional agricultural system to SRI (System of Rice Intensification) method and chemical fertilizer to local microorganism is hoped can reduce the emission of methane from paddy field. The aims of this research are: (1) to create Artificial Neural Networks (ANN) to predict methane gas emission, and (2) to predict methane emission in one crop season. This research used 4 treatments which were SRI without local microorganism, SRI with snails local microorganism, SRI with bamboo shoots local microorganism, and the conventional one. The methane emission was predicted using artificial neural network based on climate condition during plantation time (120 days) with 7 inputs which were which were soil temperature in 10 cm depth, surface soil temperature, time sampling, day sampling, sun radiation, soil pH, and soil c-organic content. Architechture of artificial neural network consist of input – hidden layer – output. Based on 4 treatments and climate condition, the best models found for every treatment were 7 – 14 – 1, 7 – 10 – 1, 7 – 15 – 1, and 7 – 12 – 1. The prediction result of methane gass based the model were 72 kg/ha/season for SRI without local microorganism, 16.85 kg/ha/season for SRI with snails local microorganism, 331.2 kg/ha/season for SRI with bamboo shoots local microorganism, and 851.4 kg/ha/season for the conventional one. Based on these results, the best method which least methane emission was SRI with snails local microorganism. | |
| 46 | 6002 | A1C007004 | Pemanfaatan Sarana Produksi Usahatani Padi Sawah Sistem PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) Serta Pengaruhnya Terhadap Produksi Di Kecamatan Sindang Kabupaten Indramayu | Padi memiliki arti strategis dalam ketahanan pangan, karena itu peningkatan produksi padi harus menjadi prioritas utama dibanding dengan peningkatan produksi pangan lainnya namun upaya peningkatan produksi padi saat ini terkendala oleh berbagai faktor, seperti banyak areal sawah yang menjadi pemukiman penduduk, penyimpangan iklim, keterbatasan sarana produksi dan kurangnya sumberdaya manusia yang berkualitas mengakibatkan penurunan produktivitas padi. Penerapan sistem PTT di Kecamatan Sindang Kabupaten Indramayu diharapkan dapat meningkatkan produksi dan pendapatan petani sehingga kesejahteraan petani meningkat. Penelitian dilaksanakan di empat desa, yaitu Desa Panyindangan Wetan, Sindang, Wanantara dan Terusan di Kecamatan Sindang Kabupaten Indramayu pada bulan Juli-Agustus 2012, dengan tujuan untuk menganalisis: (1) mengetahui perbedaan pendapatan bersih dan hasil produksi usahatani padi sawah sistem PTT dan usahatani yang tidak menerapkan sistem PTT, (2) mengidentifikasi pengaruh penggunaan faktor produksi pada usahatani padi sawah sistem PTT terhadap produksi. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling. Jumlah petani yang menjadi responden dalam penelitian adalah 36 petani sistem PTT dan 38 petani non PTT. Data dianalisis menggunakkan analisis biaya dan pendapatan, dan fungsi produksi cobb-douglas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Perbedaan pendapatan rata-rata usahatani yang menerapkan sistem PTT lebih besar dari rata-rata pendapatan usahatani yang tidak menerapkan sistem PTT, hal ini membuktikan bahwa budidaya padi sistem PTT lebih menguntungkan dibandingkan yang tidak menerapkan sistem PTT. 2) Penggunaan faktor produksi luas lahan, benih, pupuk anorganik, pupuk organik, pestisida dan tenaga kerja secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi, namun secara parsial hanya luas lahan, benih dan tenaga kerja yang berpengaruh terhadap produksi. Kata Kunci : Sistem PTT, Padi, Faktor Produksi, Hasil Produksi, Pendapatan | Rice has a strategic significance in food security, therefore increasing rice production should be a priority compared with other food production increasing, but efforts to increase rice production is currently constrained by various factors, such as a lot of the rice acreage residential population, climatic aberrations, limited production facilities and lack of qualified human resources lead to lower productivity of rice. PTT system implementation in Sub Sindang Indramayu district is expected to increase the production and income of farmers so that the welfare of farmers increased. The experiment was conducted in four villages, the Village Panyindangan Wetan, Sindang, Wanantara and Terusan in District Sindang Indramayu district in July-August 2012, with the aim to analyze: (1) identify and analyze the differences in net income and paddy farming production systems PTT and farming systems that do not implement PTT, (2) identify the effect of the use of factors of production in paddy rice production systems to PTT. The method used was a survey with a simple random sampling technique of sampling. The number of farmers who were respondents in the study were 36 farmers PTT system and 38 farmers non PTT system. Data were analyzed use of cost and revenue analysis, and a cobb-douglas production function. The results showed that 1) Differences in the average income of farm implement PTT system is larger than the average farm income is not applying PTT system, it is proved that the system of rice cultivation is more profitable than the PTT does not apply PTT system. 2) Use of production factors land, seeds, inorganic fertilizers, organic fertilizers, pesticides and labor jointly affect production, but only partial area of land, seeds and labor that affect production. Key word: PTT System, Rice, Production Factors, Production, Income | |
| 47 | 6004 | A1L109011 | KAJIAN KOMPOSISI MACAM MEDIA DAN LAMA PERENDAMAN STEK MELATI (Jasminum sambac (L.) Aiton) PADA ZAT PENGATUR TUMBUH IAA | Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi media tanam antara pasir, tanah dan pupuk kandang terhadap pertumbuhan stek melati, mengetahui pengaruh lama perendaman stek melati pada zat pengatur tumbuh IAA, dan mengetahui interaksi antara komposisi media tanam dengan lama perendaman stek melati pada zat pengatur tumbuh IAA. Penelitian dilaksanakan di lahan pekarangan di Desa Karangsari, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan dengan ketinggian tempat ± 70 meter di atas permukaan laut (m dpl). Pelaksanaan penelitian dimulai pada bulan Juli 2012 sampai Oktober 2012. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri atas 9 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan. Percobaan terdiri dari 2 faktor, yaitu komposisi media dan lama perendaman zat pengatur tumbuh IAA dengan konsentrasi 1.000 ppm. Variabel yang diamati adalah persentase daya tumbuh, jumlah tunas, jumlah daun, luas daun, jumlah akar, bobot akar basah dan kering, dan panjang akar terpanjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi media tidak mempengaruhi semua variabel dan lama perendaman IAA hanya meningkatkan variabel jumlah daun dengan hasil terbaik adalah lama perendaman stek selama 30 menit dengan hasil 19,78, sedangkan komposisi media dan lama perendaman tidak terjadi interaksi. | The research aimed to determine the effect of growing media composition between sand, soil and manure on the growth of jasmine cuttings, cuttings determine the effect of immersion time on the jasmine plant growth regulators and IAA, and the interaction between the composition of the growth media with dipping time jasmine cuttings on growth regulator IAA . Research carried out in their yards in the Village Karangsari, Karanganyar district, Pekalongan regency with ± 70 m altitude above sea level. The experiment began in July 2012 to October 2012. The study was conducted using a randomized complete block design complete (RAKL) consisting of 9 treatment combinations and three replications. The experiment consisted of two factors, namely the composition of the medium and long immersion growth regulator IAA with concentrations of 1,000 ppm. The variables measured were the percentage of power grows, the number of shoots, number of leaves, leaf area, number of roots, wet and dry root weight, and root length of the longest. The results showed that the composition of the medium does not affect all variables and long soaking IAA only increase the variable number of leaves with the best results is a long soaking cuttings for 30 minutes (L3) with results of 19.78, while the composition of the medium and long soaking no interaction. | |
| 48 | 6003 | F1A009001 | My Name is Khan (Analisis Semiotika tentang Prasangka Sosial Masyarakat Amerika terhadap Nama sebagai Identitas Muslim dalam Film ”My Name is Khan”) | Prasangka antarkelompok merupakan pemicu konflik dan diskriminasi pada masyarakat. Hal tersebut menjadi tema menarik film My Name is Khan karya Shibani Bathija. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tanda dalam film My Name is Khan, khususnya yang berkaitan dengan prasangka masyarakat Amerika terhadap nama “Khan” sebagai identitas Muslim. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan analisis semiotik. Hasil dari penelitian ini menujukkan, terdapat perubahan prasangka masyarakat Amerika terhadap Khan sebagai identitas Muslim antara sebelum dan setelah tragedi 11/9. Sebelum tragedi, Khan sebagai representasi Muslim diterima dengan baik oleh masyarakat Amerika yang nonmuslim. Hal ini direpresentasikan melalui pernikahannya dengan Mandira yang nonmuslim, berwarga negara Amerika, juga digambarkan melalui hubungan yang harmonis antara keluarga Khan dengan keluarga Mark yang merepresentasikan masyarakat Amerika. Gambaran selanjutnya bahwa terdapat prasangka negatif masyarakat Amerika setelah terjadi tragedi 11/9. Dalam penelitian ini gambaran perubahan prasangka terhadap Khan, antara lain: muncul prasangka terhadap atribut Muslim (kopiah, baju koko, doa dalam bahasa Arab), mengaitkan nama Khan dengan Islam radikal (teroris), konflik soial yang berujung pada diksriminasi seperti, penghindaran diri, pengucilan, pelecehan, boikot salon, kekerasan dan pembunuhan. Prasangka sosial yang muncul dimasyarakat cenderung berujung pada tindakan dikriminasi dan menimbulkan konflik, oleh karena itu perlu adanya sikap toleransi yang tinggi antarwarga masyarakat agar tidak terjadi kesalahpahaman (prasangka) dan tidak terjadi diskriminasi. semua warga masyarakat juga hendaknya tidak mengeneralisasi sikap negatif satu atau dua orang sebagai prasangka yang menghakimi suatu kelompok atau etnis | Intergroup prejudice and discrimination is the cause of conflict in society. This is a interesting theme of the movie My Name is Khan works of Shibani Bathija. The purpose of this study was to analyze the marks in the movie My Name is Khan, especially with regard to the American public prejudice against the name "Khan" as a Muslim identity after the events of 9/11. The method used in this study was qualitative using semiotic analysis. The results of this study shows, there are changes in American society prejudice against Khan as a Muslim identity between before and after the tragedy of 9/11. Before the tragedy, Khan as the Muslim representation well received by a non-Muslim American community. It is represented by a marriage to non-Muslim Mandira, American citizens, are also illustrated through a harmonious relationship between the Khan family representing family of Mark which American society. Further illustrate that there are prejudices of American society after the tragedy of 9/11. In this study the change description prejudice against Khan, such as: emerging prejudice against Muslims attribute (skullcap, koko, prayer in Arabic), associate with the name of radical Islam Khan (terrorists), which led to the soial conflict discrimination like, avoidance, ostracism, harassment, salon boycotts, violence and murder. Social prejudices that arise in the community tend to lead to discriminatory actions and lead to conflict. Therefore, the need to enhance interactions resulting in mutual understanding. Also necessary any a high tolerance between the various groups in order to avoid misunderstandings (prejudice) and there is no discrimination. All members of the community also should not generalize negative attitude of one or two people as judging prejudice of a group or ethnic. | |
| 49 | 6005 | G1G008050 | PERBEDAAN PANJANG LENGKUNG ALVEOLAR ANTARA PENDERITA KARIES RAMPAN DENGAN INDIVIDU NORMAL | Karies rampan merupakan suatu jenis karies yang proses terjadinya tiba- tiba, meluas sangat cepat, melibatkan banyak gigi serta cenderung mengenai gigi yang tahan terhadap karies. Tujuan penelitian ini ialah melakukan kajian perbedaan panjang lengkung alveolar antara penderita karies rampan dengan individu normal. Responden pada penelitian ini sebanyak 40 terdiri dari 20 penderita karies rampan dengan usia rata-rata 5,6 ± 0,4 tahun dan 20 individu normal dengan usia rata-rata 5,7 ± 0,3 tahun, dan masing-masing kelompok terdiri dari 10 laki-laki dan 10 perempuan. Model studi, brass wire, dan penggaris digunakan untuk membantu pengukuran panjang lengkung alveolar, sedangkan Independent T-test digunakan sebagai metode analisisnya. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan secara bermakna panjang lengkung alveolar rahang atas (nilai p=0,048) dan rahang bawah (nilai p=0,044) antara penderita karies rampan dengan individu normal, yaitu lengkung alveolar rahang atas dan rahang bawah penderita karies rampan kurang berkembang jika dibandingkan dengan individu normal. Saran dari penelitian ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai karakteristik gigi-geligi permanen anak yang pernah menderita karies rampan pada periode gigi-geligi susunya. | Rampant caries was a kind of caries suddenly occured, quickly spreaded, involved a lot of tooth, and tend in the teeth caries resistant. The aim of this research was to study a difference of alveolar arch length between rampant caries patients with normal individuals. The respondent of these research were 40 consisted of 20 rampant caries patients with average age was 5.6 ± 0.4 years and 20 normal individuals with average age was 5.7 ± 0.3 years, and each group consisted of 10 males and 10 females. Dental casts, brass wire, and ruler were used to help measurement of alveolar arch length, whereas Independent T-test was used as analysis methods. The results showed significant difference in alveolar arch length of maxilla (p-value=0.048) and mandible (p-value=0.044) between rampant caries patients with normal individuals, were alveolar arch of maxilla and mandible in rampant caries patients were less developing compared to normal individuals. The suggestion need to be done further research about characteristics of permanent teeth in children with history of rampant caries on their deciduous teeth. | |
| 50 | 6006 | F1C009066 | HAMBATAN, ADAPTASI, DAN STRATEGI KOMUNIKASI DALAM MENGHADAPI PERBEDAAN ANTARBUDAYA ( Studi Kasus Pada Dosen Universitas Jenderal Soedirman Yang Telah Mengikuti Program Pascasarjana di Jerman ) | Program pascasarjana yang diikuti oleh dosen Universitas Jenderal Soedirman di Jerman merupakan salah satu wujud nyata dari dampak positif globalisasi yang membuat permasalahan ruang dan waktu menjadi tidak berarti. Program pascasarjana ini menyebabkan persaingan antarpelaku pendidikan yang semakin ketat, selain memang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi bidang studi yang dipelajari. Dalam proses tersebut, para dosen harus berhadapan dengan budaya-budaya baru yang sangat berbeda dengan budaya asal, dalam hal ini adalah Indonesia. Perbedaan budaya tersebut harus disikapi dan dihadapi dengan baik agar cita-cita pendidikan serta kehidupan sosial yang baik dengan masyarakat asing di Jerman dapat tercapai. Berdasarkan fenomena tersebut maka perlu dipelajari tentang apa saja sebenarnya hambatan-hambatan budaya yang dialami mereka, bagaimana cara mereka beradaptasi dengan lingkungan belajar atau kampus dan lingkungan tempat tinggal, serta bagaimana mereka menggunakan strategi komunikasi tertentu untuk mendukung proses penyesuaian diri di Jerman. Penelitian yang berjudul Hambatan, Adaptasi, dan Strategi Komunikasi Dalam Menghadapi Perbedaan Antarbudaya (Studi Kasus Pada Dosen Universitas Jenderal Soedirman Yang Telah Mengikuti Program Pascasarjana di Jerman) ini bertujuan untuk mengetahui hambatan-hambatan perbedaan antarbudaya, adaptasi budaya, serta mengetahui strategi komunikasi yang dilakukan oleh para dosen Universitas Jenderal Soedirman di lingkungan tempat belajar dan di tempat tinggal mereka selama di Jerman. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan jenis penelitian berupa studi kasus, serta menggunakan teknik purposive sampling dalam pemilihan informannya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan interview mendalam (depth interview) dengan para informan yaitu para dosen dari beberapa Fakultas di Universitas Jenderal Soedirman di antaranya Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Peternakan, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Sains dan Teknik. Mereka telah mengikuti program pascasarjana di beberapa universitas yang berbeda-beda di Jerman. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hambatan-hambatan yang terjadi diantaranya dalam hal pola hidup sehari-hari seperti cara makan, interaksi sosial, dan fasilitas umum, seni budaya dan tradisi, serta culture shock atau gegar budaya. Adaptasi yang telah dilakukan oleh para dosen antara lain toleransi sosial, komitmen, dan empati. Dalam hal berkomunikasi, mereka telah berpartisipasi dengan bergabung sebagai anggota aktif dalam Perkumpulan Pelajar Indonesia (PPI) Jerman, Pengajian Masyarakat Muslim Jerman, dan lain sebagainya. Selain itu mereka juga berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan budaya seperti Integration Kultur Fest, Indonesien Leinderabend, Soprtfest, dan lain sebagianya. Kegiatan-kegiatan tersebut telah banyak membantu proses interaksi antara para dosen dengan masyarakat asing di Jerman. | Master degree program followed by lecturers’ of Universitas Jenderal Soedirman in Germany is one of real positive impacts of globalization, which show time and space not become a big deal. This program makes the competitiveness among actors of educations become tighter, besides the main objective to increase the competence of the particular subject being studied. Within that process, Lecturers have to face new cultures that are significantly different with the original one, in this case, Indonesian cultures. Those differences have to be handled wisely in order to achieve the educational purpose and to socialy live well in Germany. Based on that fact, it is important to know the cultural obstacles they face, how they adapt with the environment they study and socialize, and how they use strategy of particular communication to support their adaptation in Germany. This research with the title Cultural Obstacle, Adaptation, and Communication Strategy in Facing The Differences of Intercultural (Study Case of Lecturers’ of Universitas Jenderal Soedirman Who Have Been Followed Master Degree Program in Germany) aim for identifying obstacles that has been faced, cultural adaptation, and communication strategy used by lecturers’ of Universitas Jenderal Soedirman in colleague area and also living area in Germany. Methodology uses in this research is qualitative methodological research, specifically in study cases and uses purposive sampling as the method to choose the informant. The collective data technique uses depth interview with the informants from Economic Faculty, Agriculture Faculty, Social and Political Science Faculty, Husbandry Faculty and Science and Engineering Faculty. They have followed master degree in several Universities in Germany. The results of the research show that obstacles happen on the daily life basis like in tabble manners, social interaction, public facilities, culture and tradition and cultural shock. Adaptations that have been done are social tolerance, commitment and empathy. In the terms of communications, they have participated by joining as an active member of Indonesian Students Group, Recitation of the Qur’an and any others. Besides that, They also participated in cultural activities like Integration Kultur Fest, Indonesien Leinderabend, Soprtfest and any others. Those activities have helped a lot the interaction process between the lecturers and Society in Germany. | |
| 51 | 6007 | A1C009006 | PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK PEMBUATAN CARICA IN SYRUP PADA UD PODANG MAS, KECAMATAN MOJOTENGAH, KABUPATEN WONOSOBO | Buah carica dapat diolah menjadi produk akhir berupa carica in syrup/koktil, sirup, selai, jus, manisan, keripik, dan lain-lain. Di antara produk akhir tersebut carica in syrup adalah yang paling digemari konsumen. UD Podang Mas adalah perusahaan perintis yang berada di urutan terbesar ke dua penghasil carica in syrup di Kabupaten Wonosobo. Pada umumnya para pengusaha tidak dapat menghitung harga pokok produksi dan harga pokok penjualan secara terperinci. Harga pokok produksi merupakan dasar perhitungan harga pokok penjualan yang selanjutnya digunakan sebagai dasar perhitungan Break Even Point (BEP). Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menghitung harga pokok produksi pada unit usaha carica in syrup, 2) Menghitung harga pokok penjualan pada unit usaha carica in syrup, dan 3) Menghitung perencanaan laba pada unit usaha carica in syrup. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus. Alat analisis yang digunakan adalah perhitungan harga pokok produksi dan harga pokok penjualan dengan pendekatan variable costing, analisis perencanaan laba dengan menggunakan perhitungan Break Even Point (BEP), Margin of Safety (MOS), dan Marginal Income Ratio (MIR), serta analisis sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan telah mencapai keuntungan baik pada carica in syrup kemasan botol besar maupun botol kecil, di mana harga yang berlaku saat itu jauh lebih tinggi dari hasil peritungan harga pokok produksi dan harga pokok penjualan. Carica in syrup kemasan botol besar memberikan keuntungan yang jauh lebih besar daripada carica in syrup kemasan botol kecil. | Carica fruit can be processed into the final product in the form of carica in syrup / cocktail, syrup, jam, juice, candy, chips, and others. Among the final product carica in syrup is the most favored customers. UD Podang Mas is a pioneering company that ranks the second largest producer in carica in syrup in Wonosobo regency. Generally, employers are not able to calculate the cost of production and cost of sales in detail. The cost of production is used to calculate the cost of goods sold that will be used as the base to calculate Break Even Point. Therefore this study aimed to: 1) Calculate the cost of production of carica in syrup business units, 2) Calculate the cost of goods sold of carica in syrup business unit and 3) Calculate the profit planning carica syrup business unit. The method used is the case study method. Analysis tool used is the calculation of cost of goods manufactured and cost of goods sold with variable costing approach, profit planning analysis using calculation Break Even Point (BEP), Margin of Safety (MOS), and Marginal Income Ratio (MIR), and sensitivity analysis. The results showed that the company has achieved good profits of carica in syrup in large bottles or small bottles, in which the current price is much higher than the counting results cost of production and cost of sales. Carica in syrup in large bottles provide benefits that far outweigh carica in syrup in small bottles. | |
| 52 | 6008 | A1L009200 | PENGARUH LOKASI TANAM TERHADAP MUTU GABAH, MUTU BERAS DAN KANDUNGAN PROTEIN LIMA GENOTIP PADI TOLERAN SALIN | Beberapa genotip padi seringkali memiliki kemampuan produksi yang berbeda-beda serta kualitas hasil yang tidak menentu pada kondisi lingkungan yang bervariasi. Hal tersebut dikarenakan adanya pengaruh genotip, lokasi serta interaksi antar genotip dengan lingkungan tersebut. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh genotip, lokasi tanam serta interaksi genotip dengan lokasi tanam terhadap mutu gabah, mutu beras dan kandungan protein lima genotip padi toleran salin. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Waktu penelitian dimulai dari bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 2012. Materi percobaan diperoleh dari hasil panen di tiga lokasi. Rancangan Acak Kelompok (RAK) digunakan sebagai rancangan percobaan di tiap lokasinya dengan tiga ulangan. Faktor yang dicoba adalah varietas/galur-galur toleran salin yang terdiri dari Unsoed-8, Unsoed-9, Atomita-2, Dendang dan Siak Raya. Variabel pengamatannya adalah bobot 1000 butir, densitas gabah, rendemen giling, beras kepala, butir mengapur dan kandungan protein. Analisis yang digunakan adalah Analisis Varians Gabungan dengan program SAS versi 9. Apabila menunjukkan pengaruh nyata, maka dilakukan uji lanjut BNT 5% dengan taraf kesalahan 5%. Hasil Penelitian menunjukkan mutu gabah, mutu beras dan kandungan protein padi yang beragam antar genotip dan lokasi tanam. Hal tersebut menunjukkan adanya pengaruh genotip, lokasi tanam serta interakasi antara keduanya. Genotip yang menghasilkan mutu gabah, mutu beras dan kandungan protein tertinggi di daerah Purworejo adalah Atomita-2, daerah Cilacap adalah Unsoed-9 dan daerah Pemalang adalah Dendang. Lokasi tanam yang paling mendukung mutu gabah, mutu beras dan kandungan protein lima genotip padi toleran salin tersebut adalah Purworejo. | Some of the rice genotypes often have varying yield potential and quality that are not stable in the varied environmental conditions. It’s caused by influence of genotype, locations and interaction between genotype and location. The objectives of this study are determine the influence of genotype, locations and interaction of genotype x location on grain quality, rice quality and protein content of five tolerant salinity rice genotypes. The study was conducted in the Laboratory of Plant Breeding and Biotechnology Faculty of Agriculture Jendral Soedirman Purwokerto. The experiment was started from October 2012 until December 2012. Experiment materials were obtained from yields in three locations. Randomized block design was used as experimental design in each locations with three replications. The factors were tested, tolerant salinity rice varieties and lines of rice consisting of Unsoed-8, Unsoed-9, Atomita-2, Dendang and Siak Raya. Variable their observations were weight of 1000 grains, density of grain, milling degree, head rice, chalkiness and protein content. Data were analyzed by analyses of variance with 5 % error level used SAS Program version 9, significantly different when tested further with LSD (Least Significant Difference). The result showed that grain quality, rice quality and protein content of the tested varied between genotype and locations. It was showed the influence of genotypes, location also interaction of genotype x locations. Genotype that produce highest quality of grain quality, rice quality and protein content of rice in Purworejo was Atomita-2, Cilacap was Unsoed-9 and Pemalang was Dendang. The location that give best supports of grain quality, rice quality and protein content of five tolerant salinity rice genotypes was Purworejo. | |
| 53 | 6019 | G1A009022 | HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PADA PENGGUNAAN CT Scan SEBAGAI PEMERIKSAAN PENUNJANG PADA PASIEN DI BAGIAN RADIOLOGI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | Latar Belakang: Penggunaan CT Scan dewasa ini tidak hanya digunakan sebagai alat diagnostik penyakit, tetapi juga sebagai skrining. Potensi radiasi CT Scan dapat membahayakan bagi pasien. Namun, pasien tidak menyadari sepenuhnya indikasi medic penggunaan CT Scan sehingga mereka cenderung pasrah dan menerima semua rekomendasi penggunaan CT Scan. Tujuan: Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan pada penggunaan CT Scan sebagai pemeriksaan penunjang pada pasien di RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode: Penelitian menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian adalah semua pasien yang akan menjalani pemeriksaan CT Scan pada instalasi Radiologi RSMS Purwokerto. Subjek diambil menggunakan teknik consecutive sampling. Sebanyak 31 pasien memenuhi kriteria inklusi. Data diperoleh dari hasil pengukuran tingkat kecemasan menggunakan Kuesioner Beck Anxiety Inventory (BAI). Analisis statistik yang digunakan adalah uji Spearman. Hasil: hasil analisis uji korelasi Spearman mendapatkan nilai p < 0.05 dengan nilai r = -0.411 Kesimpulan: terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan tingkat kecemasan pada pasien yang akan menjalani CT Scan di instalasi Radiologi RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo Purwokerto. Semakin tinggi tingkat pengetahuan, semakin rendah tingkat kecemasan. | Background: The use of CT Scan today is not only as a diagnostic tool for illness, but it is also used in screening. The potential of CT Scan radiation can be harmful to patients. However, patients are not fully aware of the medical indications of the use of CT Scan, so they tend to accept all the recommendations for the use of CT Scan. Objective: To determine the relationship between knowledge level and the anxiety level in the use of CT Scan as investigations on patients in the Department of Radiology Prof. DR. Margono Soekarjo Hospital Purwokerto. Methods: The study used observational analytic design with cross-sectional approach. Subjects were all patients who will undergo a CT Scan examination in the department of Radiology RSMS Purwokerto. Subjects was taken by using consecutive sampling technique. A total of 31 patients met the inclusion criteria. Data was collected from the questionnaires measuring anxiety levels using the Beck Anxiety Inventory (BAI). Statistical analysis used was Spearman's test. Results: Spearman correlation analysis showed the value of P <0.05 with r = -0411 Conclusion: There was a significant relationship between level of knowledge and level of anxiety of the patients who would be examined with will CT Scan in Prof. DR. Margono Soekarjo Hospital Purwokerto. The higher the level of knowledge, the lower the level of anxiety. | |
| 54 | 6013 | G1A006164 | THE PARTY HEGEMONY IN GEORGE ORWELL’S NINETEEN EIGHTY-FOUR | Penelitian ini berjudul The Party Hegemony In George Orwell’s Nineteen Eighty Four, yang menganalisis tentang hegemoni yang digambarkan dalam novel oleh The Party. Penelitian ini membahas bentuk-bentuk hegemony yang digunakan oleh The Party untuk mendominasi outer party dan masyarakat sebagai kelas bawah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menganalisa fenomena hegemoni yang digunakan oleh kelas penguasa atau dalam hal ini adalah The Party. Data primer diproleh dari novel George Orwell, Nineteen Eighty Four. sedangkan data sekunder diambil dari sumber lain yang berkaitan dengan teori hegemoni. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada dua macam bentuk hegemoni yang digunakan oleh Partai. Bentuk pertama adalah hegemoni persuasif, Hegemoni ini adalah hegemoni dalam bentuk konsensus yang diperluas dengan menggunakan gerakan yang sangat implisit, propaganda, dan semua alat dengan tujuan untuk mengembangkan pengaruh paksaan pemahaman ideologis sesuai dengan kelas penguasa pemerintah dalam hal ini dilakukan oleh The Party. Hegemoni Persuasif menjadi salah satu cara dalam menguasai dan mempertahankan kekuasaan politik dalam rezim Big Brother. Prosesi, pamflet, spanduk, lagu dan slogan adalah beberapa contoh media yang dipakai untuk menanamkan suatu ide dengan intens terhadap pikiran seseorang dan menjadi kesadaran yang berubah menjadi pola perilaku, pikiran dan keyakinan. Efektivitas hegemoni persuasif yang diperintah oleh rezim Big Brother dipahami dengan jelas karena memiliki pengaruh tidak langsung kepada masyarakat umum Oceania. Dalam konteks strategi, hegemoni persuasif menjadi lebih efisien daripada bentuk kekuatan revolusioner dan langsung mengena sasaran meskipun diperlukan tahapan untuk mewujudkannya dan bukan merukan sesuatu yang langsung berhasil. Bentuk kedua dari Hegemoni yang Peneliti ditemukan di Nineteen Eighty Four adalah hegemoni dengan cara pemaksaan, cara ini adalah hegemoni dimana penerapan sanksi tegas yang menimbulkan kekejaman fisik berat seperti: Membatasi, memenjarakan, penculikan, kerja paksa, penyiksaan dan pembunuhan. Tujuan dari hegemoni dengan cara pemaksaan bukanlah hukuman itu sendiri tetapi untuk membujuk seseorang mengaku atau mengakui kesalahan sesuatu telah dilakukan sebelumnya. Hal yang lebih penting dari tujuan tersebut adalah untuk mengaku dan menyesal terhadap segala sesuatu yang dipikirkan dan dilakukan sebelumnya kemudian untuk melupakan segala hal tersebut dengan penuh penyesalan dan akhirnya mengganti semua perilaku ortodoks dengan kesadaran ideology baru yang sesuai dengan The Party sebagai ketaatan lengkap untuk Big Brother. | This research is entitled The Party Hegemony In George Orwell’s Nineteen Eighty Four, which analyzes about hegemony of The Party depicted in the novel by The Party. This research studies about in what form the party use the hegemony to dominate outer party and the paroles as the lower class. The method of this research is descriptive qualitative that describes the phenomenon of hegemony used by ruler class or in this case is the party. The primary data are taken from a George Orwell novel, nineteen eighty four, whereas the secondary data is taken from external resources relates to the theory of hegemony. The result of this research shows that there are two kinds of hegemony form used by The party. The first form is persuasive hegemony, it is hegemony in the form of consensus which is frequently broadened from a very implicit movement, propaganda, and any tools with the purpose of developing a coercive influence in an ideological understanding according to the ruling class of government in this case the term of government is equal to the party. Persuasive hegemony becomes one of the equipment in holding and maintaining the power of politics in Big Brother regime. Processions, pamphlets, banners, songs and slogans are the various ways to implant intensely somebody’s mind and consciousness as behavior patterns, thought and belief. The effectiveness of persuasive hegemony that is ruled by Big Brother regime is clearly understood since it has an indirect influence to the common society of Oceania. With this kind of strategy, persuasive hegemony becomes more efficient rather than any revolutionary and direct force even though it is needed a gradual stage not an instant outcome. The second form of hegemony that is found in Nineteen Eighty Four is forceful hegemony. It is hegemony that applying a strict punishment that inflicts of severe physical cruelty such as: confining, imprisoning, kidnapping, forced labor, torture and killing. The purpose of forceful hegemony is not the punishment itself but persuade somebody to confess or recant something had been done before. The thing that has more important is to confess and regret than forgot it as something never been thought and done before and finally replacing all those orthodox manners with a new consciousness of ideology as a complete obedience to the Big Brother. | |
| 55 | 6015 | A1L009139 | EVALUASI KEMAMPUAN LAHAN KECAMATAN SUSUKAN UNTUK MENDUKUNG ARAHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN | Penelitian mengkaji tentang evaluasi kemampuan lahan di wilayah Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara untuk arahan pertanian berkelanjutan. Penelitian merupakan survei lapang yang dilaksanakan di bulan November 2012 sampai bulan Januari 2013. Penelitian ini menggunakan daerah peta dasar kerja yaitu peta SLH (Satuan Lahan Homogen) yang diperoleh dari overlay peta administrasi, peta penggunaan lahan, peta lereng, dan peta jenis tanah. Metode penentuan kelas ditentukan menurut Arsyad, 1989. Berdasarkan tata cara tersebut diperoleh 10 SLH dan 6 Kelas Kemampuan Lahan dengan faktor penghambat erosi (e), batuan permukaan (b), kedalaman efektif (k), drainase (d), dan lereng (l). Hasil penelitian terdapat beberapa SLH atau wilayah yang sudah terjadi penyimpangan yaitu di SLH B1a, B3a, H2a , dan H3a. | The research examines about the evaluation of land capability in the area of Susukan District to support the direction of sustainability agriculture. The research is a field survey which is held in Susukan District, Banjarnegara Regency from November 2012 until January 2013. The research used a working basic map area, that is SLH (Satuan Lahan Homogen) map which is gotten from administration map overlay, land using map, slope map, and land type map. The method of class determination was determined, in Sintanala Arsyad, 1989. According to the procedure obtained 10 SLH and 6 The Class of Land Capability with inhibiting factor erosion (e), surface rock (b), effective depth (k), drainage (d), and slope (l). The result of research are some SLH or area that have occurred over use in SLH B1a, B3a, H2a, and H3a. | |
| 56 | 6016 | G1A006150 | ANNE BOLEYN’S OBSESSION ON PROSPERITY AS THE IMPACT OF BRITISH MATERIALISM ERA REFLECTED IN PHILIPPA GREGORY’S THE OTHER BOLEYN GIRL | Penelitian ini membahas faktor dan dampak dari obsesi Anne Boleyn terhadap kemakmuran. Pendekatan psikologi-sosial digunakan untuk menganalisa faktor obsesi dalam karakter Anne Boleyn. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yaitu memaparkan fenomena obsesi dalam kehidupan Anne Boleyn. Data primer diperoleh dari novel The Other Boleyn Girl karya Philippa Gregory, sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber eksternal yang berkautan dengan teori obsesi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada tiga faktor utama obsesi pada karakter Anne Boleyn yang dikategorikan dengan teori Triangular Fraud. Unsur pertama adalah kesempatan yang terwujud dalam ambisi keluarga Boleyn untuk menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Unsur kedua adalah motivasi yang terwujud dalam kecemburuan Anne Boleyn terhadap saudara perempuannya yang terpilih untuk menjadi selir raja. Unsur ketiga adalah rasionalisasi yang terwujud dalam obsesi pribadi Anne Boleyn untuk menjadi Ratu Inggris. Disamping itu, obsesi Anne Boleyn juga memberikan dampak personal terhadap dirinya dan dampak sosial bagi Kerajaan Inggris. Dampak personal terlihat dalam karakter egois Anne Boleyn, ketika ia hanya memikirkan rencana untuk menjadi Ratu Inggris, bahkan dengan menyingkirkan saudara perempuannya sendiri. Selanjutnya, ia meminta raja untuk menceraikan ratunya dan menikah dengannya, yang juga menyebabkan Inggris terpisah dengan Katolik Roma karena menceraikan Ratu dan menikah lagi. Hal ini menunjukkan dampak yang sangat besar bagi kerajaan Inggris ketika Raja memutuskan memberikan hukuman mati kepada Anne Boleyn karena ia telah menyadari bahwa Anne Boleyn tidak mencintainya melainkan hanya terobsesi pada kemakmuran raja. | This research studies about the factors and the impact of Anne Boleyn’s obsession on prosperity. The psycho-sociology approach is applied in analyzing the factor of obsession in the character of Anne Boleyn. The method of this research is descriptive qualitative that describes the phenomenon of Anne Boleyn’s obsession in her life. The primary data is taken from Philippa Gregory’s The Other Boleyn Girl, whereas the secondary data is taken from external resources relates to the theory of obsession. The result of this research shows that there are three main factors of Anne Boleyn’s obsession which is categorized by the Triangular of Fraud theory. The first is opportunity point which is represented in the Boleyn family ambition to be the family of the King. Boleyn family send their daughter to be the King mistress. The second is motivation point which is represented in Anne jealousy to her sister which is chosen by the family to be the King’s mistress. The third is rasionalization which is represented in the personal obsession of Anne Boleyn to be the Queen of England. Besides, Anne Boleyn’s obsession also give the personal impact to her self and social impact to England Kingdom. The personal impact is shown in Anne Boleyn’s selfish characteristic, while she only think about her plan to be the Queen of England. Moreover, she also asks the King to devorce the Queen and marry her, even it makes England is separated to Roman Catholic. It becomes the great impact to England Kingdom while the King gives a death punishment to QueenAnne Boleyn. | |
| 57 | 6017 | A1L008152 | PENGARUH PUPUK HAYATI BERBASIS Bacillus subtilis B1 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PADI (Oryza sativa L.) PADA DATARAN MEDIUM | Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas tanaman pangan yang penting di Indonesia. Pengusahaan tanaman padi sawah di dataran medium dan tinggi memiliki permasalahan dimana produktivitasnya yang lebih rendah dibandingkan dengan dataran rendah. Rendahnya produktivitas padi di dataran tinggi, mungkin diakibatkan oleh kesuburan tanah yang kurang dan serangan hama dan penyakit. Kesuburan tanah yang kurang atau menurun disebabkan oleh semakin ditinggalkannya penggunaan pupuk organik di lahan sawah. Salah satu cara untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah menggunakan pupuk hayati. Pupuk hayati merupakan suatu bahan amandemen yang mengandung mikroorganisme bermanfaat yang dapat ditujukan untuk meningkatkan kesuburan tanah atau pengendalian hama dan penyakit baik melalui aktivitas biologi di media tumbuh atau langsung ke bagian tanaman. Pupuk hayati dapat berisi bakteri pemacu (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). Salah satu bakteri yang banyak digunakan dalam pupuk hayati adalah Bacillus subtilis. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) mengetahui pengaruh pemberian agensia hayati Bacillus subtilis BI terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi, 2) mengetahui waktu aplikasi yang tepat dalam menggunakan agensia hayati berbasis Bacillus subtilis BI terhadap pertumbuhan dan hasil pada tanaman padi. Penelitian dilakukan di Desa Karangsalam, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas dengan ketinggian 580 m dpl. Metode penelitian yang di gunakan adalah eksperimen dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Faktor perlakuan yang dicoba adalah A : Kombinasi formula pupuk hayati berbasis Bacillus subtillis B1 bentuk cair dan padat yang diberikan 10 hari setelah tanam, B : Kombinasi formula pupuk hayati berbasis Bacillus .subtillis B1 bentuk cair dan padat yang diberikan 20 hari setelah tanam, C : Kombinasi formula pupuk hayati berbasis Bacillus subtillis B1 bentuk cair dan padat yang diberikan 30 hari setelah tanam, dan K : Perlakuan kontrol tanpa pemberian Bacillus subtillis B1 bentuk padat dan cair. Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji F dan dilanjutkan dengan BNT pada taraf kesalahan 5% jika berbeda nyata. Variabel yang diamati tinggi tanaman, panjang malai, bobot kering tanaman, jumlah anakan produktif, bobot 1000 biji, bobot per petak efektif. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk hayati berbasis Bacillus subtillis B1 formula padat dan cair tidak memberikan pengaruh terhadap komponen tinggi tanaman, panjang malai, bobot kering tanaman, jumlah anakan produktif, bobot 1000 biji, bobot per petak efektif. Namun pemberian pupuk hayati berbasis Bacillus subtilllis memiliki kecenderungan menaikan tinggi tanaman dan bobot kering tanaman pada perlakuan pemberian Bacillus subtillis B1 pada 20 hst, hal tersebut diduga umur 20 hst yang merupakan awal dari fase vegetatif tanaman padi. | Paddy (Oryza sativa L.) is an important food crop in Indonesia. Rice cultivation in the medium and high lands have problems where productivity is lower than that of the lowlands. The low productivity of upland rice, probably due to lack of soil fertility and pest and disease attack. Soil fertility decline caused by the lack or the abandonment of the use of organic fertilizers in paddy fields. One way to improve the soil fertility is to use biological fertilizers. Biofertilizer amendment is a material containing beneficial microorganisms that can be addressed to improve soil fertility or pest and disease control either through biological activity in growing media or directly to the plant. Bio-fertilizers may contain bacteria boosters (Plant Growth Promoting Rhizobacteria). One of the bacteria that is widely used in biological fertilizer is Bacillus subtilis. This study aims to: 1) determine the effect of application of biological agents Bacillus subtilis BI on the growth and yield of rice plants, 2) know the exact time in the application using biological agents Bacillus subtilis BI based, on the growth and yield in rice. Research done in the village Karangsalam, District Baturraden, Banyumas with altitude 580 m asl. The research method used was an experiment using a randomized complete block design with 4 treatments and 6 replications. Factors tested were A: The combination of biological fertilizer formula-based Bacillus subtilis B1 liquid and solid form given 10 days after planting, B : The combination of biological fertilizer formula-based Bacillus subtilis B1 liquid and solid form given 20 days after planting, C : The combination of biological fertilizer formula-based Bacillus subtilis B1 liquid and solid form given 30 days after planting, and K: Treatment controls without giving Bacillus subtilis B1 form of solid and liquid. The datawere analyzed by F test and followed by LSD at 5% error level when significant. The variables measured were plant height, panicle length, plant dry weight, number of productive tillers, 1000 grain weight, weight per plot effectively. The results showed Bacillus-based biological fertilizer formula B1 subtillis solid and liquid does not give effect to the components of plant height, panicle length, plant dry weight, number of productive tillers, 1000 grain weight, weight per plot effectively. However Bacillus-based biological fertilizer subtilllis have a tendency to raise the plant height and plant dry weight in treatment provision subtillis Bacillus B1 at 20 dap, it is suspected that a hst age 20 beginning of the vegetative phase of rice plants. | |
| 58 | 6117 | G1G009052 | PERBANDINGAN KARAKTERISTIK MORFOLOGI DAN KEKERASAN SILIKA-ZIRKONIA DENGAN MATRIKS PMMA KONSENTRASI 50:50 DAN 70:30 UNTUK APLIKASI MATERIAL CROWN AND BRIDGE | Crown and bridge adalah salah satu jenis perawatan untuk menggantikan satu atau lebih gigi yang hilang dan dilekatkan ke satu atau lebih gigi asli sebagai penyangga. Salah satu pemanfaatan kekayaan alam Indonesia yang potensial untuk dikembangkan sebagai material crown and bridge adalah zirkonia dan silika. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya perbedaan karateristik morfologi dan kekerasan silika-zirkonia dengan matriks PMMA konsentrasi 50:50 (sampel A) dan konsentrasi 70:30 (sampel B). Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik morfologi sampel A tidak terdapat penggumpalan dan tidak ada celah antara filler dan matriks. Hal ini menunjukkan bahwa matriks dan filler sudah dapat menyatu dengan baik dan bahan pengisi yaitu silika-zirkonia terdistribusi secara merata. Pada sampel B partikel tidak tersebar secara homogen sehingga menghasilkan aglomerasi atau penggumpalan serta terdapat celah. Sampel A memiliki nilai kekerasan rata-rata 15,02 VHN, sedangkan sampel B 11,20 VHN. Simpulan penelitian ini adalah ada perbedaan karakteristik morfologi dan kekerasan silika-zirkonia dengan matriks PMMA konsentrasi 50:50 dan 70:30. Nilai rata-rata kedua sampel masih kurang mendekati nilai kekerasan dentin, artinya hasil sintesis dengan nilai kekerasan tersebut belum dapat diaplikasikan sebagai material crown and bridge, sehingga diperlukan penelitian selanjutnya untuk mendapatkan nilai kekerasan yang diinginkan, yaitu kekerasan yang mendekati dentin. | Crown and bridge is one type of treatment to replace one or more missing teeth and is attached to one or more teeth as a abutment. Zirconia and silica is a potentially material from Indonesia’s natural resources that can be developed as a crown and bridge. Consequently, the purpose of this research was to proved the difference in morphological characteristics and hardness of silica-zirconia materials with PMMA matrix concentration of 50:50 (sample A) and the concentration of 70:30 (sample B). The type of research was laboratory experimental. The results showed morphological characteristics sample A was not agglomeration and gap between the filler and matrix. This showed that the matrix and filler were able to fused well and the filler were silica-zirconia evenly distributed. On sample B, particles were not dispersed homogeneously so produce agglomeration. Sample A has an average hardness value of 15,02 VHN, while sample B has an average hardness value of 11,20 VHN. Accordingly, the conclusion of this research is that there were difference in morphological characteristics and hardness of silica-zirconia with PMMA matrix concentration of 50:50 and 70:30. The average value of the two samples were less close dentin hardness value, that means the results of the synthesis with the hardness value could not be applied as a crown and bridge material, so further research is needed to obtain the desired hardness value, that is the hardness approached dentin. | |
| 59 | 7603 | E1A010184 | KEWENANGAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH BERDASARKAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945 SETELAH AMANDEMEN. | Pembentukan Dewan Perwakilan Daerah dimaksudkan agar mekanisme check and balance dapat berjalan relatif seimbang, terutama yang berkaitan dengan kebijakan di pusat dan kebijakan di daerah. Kehadiran Dewan Perwakilan Daerah juga dapat dipahami sebagai upaya melibatkan daerah dalam proses pengambilan keputusan politik terutama pada bidang ekonomi dan pengembangan wilayah. Maka hadirnya Dewan Perwakilan Daerah dalam parlemen Indonesia diharapkan dapat benar-benar mewakili aspirasi daerah. Gagasan dasar pembentukan Dewan Perwakilan Daerah adalah keinginan untuk lebih mengakomodasi aspirasi daerah, memperkuat peranan parlemen di Indonesia, mempunyai fungsi pengawasan terhadap lembaga lain terutama lembaga eksekutif dan sekaligus memberi peran yang lebih besar kepada daerah dalam proses pengambilan keputusan politik untuk hal-hal terutama yang berkaitan langsung dengan kepentingan daerah. Kewenangan Dewan Perwakilan Daerah berdasarkan hubungan kewenangan dengan MPR diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Dasar 1945 setelah amandemen. Anggota Dewan Perwakilan Daerah sebagai anggota MPR. Dengan demikian secara langsung Dewan Perwakilan Daerah ikut andil terhadap kewenangan MPR yang diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Dasar 1945 setelah amandemen. Dasar normatif pengaturan kewenangan konstitusional Dewan Perwakilan Daerah diatur dalam Pasal 22D ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 setelah amandemen. Kewenangan Dewan Perwakilan Daerah yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945 setelah amandemen merupakan kewenangan yang diperoleh secara atribusi yaitu bersifat asli yang berasal dari peraturan perundang-undangan. Dengan kata lain, Dewan Perwakilan Daerah memperoleh kewenangan secara langsung dari redaksi pasal tertentu dalam suatu peraturan perundang-undangan. | The formation of DPD is intended to check and balance mechanism can be going relatively balanced, especially with regard to policy center and policy in the region. The presence of DPD can also be understood as an effort to involve the region in local political decision making process, especially in the field of economy and regional development. So the presence of the DPD in Indonesian parliament is expected to truly represent the aspirations of the region. The idea of establishing the DPD is the desire to better accommodate regional aspirations, strengthen the role of parliament in Indonesia, has a supervisory function to other agencies, especially the executive and at the same time giving a bigger role to the regions in the political decision making process for matters mainly related directly with regional interests. DPD authority by virtue of Relationships with MPR settings to Section of 3 1945 Constitution after the amendment. DPD members as members of the MPR. DPD thus directly contribute to the authority of the MPR to Section of 3 1945 Constitution after the amendment. Basic normative constitutional authority DPD settings to Section 22D Article (1), Article (2), and Article (3) 1945 Constitution after the amendment. DPD authority contained in the 1945 Constitution after the amendment is the authority that obtained the original attribution that is derived from legislation. In other words, DPD derive authority directly from a particular chapter in an editorial legislation. | |
| 60 | 6020 | G1A006156 | BRIONY TALLIS’ MENTAL ANGUISH AS REFLECTED IN IAN MCEWAN’S ATONEMENT | Penelitian ini menganalisis tentang tekanan batin pada Briony Tallis. Penelitian ini mengkaji tentang faktor dan dampak dari tekanan batin pada kehidupan Briony dan sifat Briony yang menyebabkan faktor dan dampak tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologis dengan menganalisis tekanan batin pada karakter Briony Tallis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang menganalisa fenomena tentang tekanan batin dalam kehidupan Briony. Data primer diperoleh dari novel Ian McEwan, Attonement, sementara data sekunder diperoleh dari sumber lain yang berkaitan dengan teori tekanan batin. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada dua faktor personal tekanan batin yang dialami Briony Tallis. Faktor pertama adalah perasaan bersalah karena salah sangka terhadap Robbie setelah menyaksikan kejadian antara Cecilia dan Robbie ketika sedang bercinta di ruang perpustakaan. Briony menuduh Robbie Turner sebagai pemerkosa karena sifat imaginatif yang tinggi.Sifat imajinatif yang tinggi ini menciptakan anggapan terhadap Robbie setelah membaca surat Robbie dan menyaksikan kejadian antara Cecilia dan Robbie. Faktor kedua adalah perasaan tertekan karena perasaan bersalahnya. Briony merasa tertekan karena dia tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dia dengan meminta maaf kepada Robbie dan Cecilia. Sedangkan dampak personal tekanan batin pada Briony terbagi menjadi dua, yaitu dampak psikologis dan dampak fisik. Dampak psikologis dari tekanan batin pada Briony terwujud dalam perasaan hilang semangat. Perasaan hilang semangat ini terjadi karena dia menyadari dan pasrah bahwa dia tidak akan pernah punya kesempatan untuk meminta maaf kepada Robbie dan Cecilia. Kemudian, dampak fisik dari tekanan batin pada Briony adalah menderita penyakit vascular dementia. Penyakit ini mengakibatkan kehilangan sebagian ingatan, perasaan mudah berubah, dan kesulitan dalam pengambilan keputusan dan alasan, yang terjadi karena usaha dia sebagai seorang penulis dalam mengurangi perasaan bersalahnya dengan mengubah cerita hidupnya dalam sebuah novel. | This research studies about factors and impacts of mental anguish in Briony Tallis’ life and the characteristics of Briony Tallis that cause the factors and the impacts. The psychological approach is applied in analyzing the mental anguish in the character of Briony Tallis. The method of this research is descriptive qualitative that describes the phenomenon of Briony Tallis’ mental anguish in her life. The primary data is taken from Ian McEwan’s novel, Atonement, whereas the secondary data are taken from external resources relates to the theory of Mental Anguish. The result of this research shows that there are two personal factors of Briony Tallis’ mental anguish. The first factor is feeling guilty of her wrong perception to Robbie, after she witnesses the incident between Cecilia and Robbie while making love in the library. Briony accuses Robbie Turner as the rapist of Cecilia because of her great imagination characteristic. The second factor is her depressed feeling because of her guilty feeling. Briony feels depressed because she does not have a chance to make amend for her false accusation by apologizing to Robbie and Cecilia. Whereas, the personal impacts of Briony Tallis’ mental anguish are divided into two impacts, psychological impact and physical impact. The psychological impact of Briony Tallis’ mental anguish is presented by her dejected feeling. This dejected feeling happens because she has realized and dispirited that she will never have a chance to say his apology to Robbie and Cecilia. Then, the physical impact of Briony Tallis’ mental anguish is presented in her illness, vascular dementia, because of her effort as a writer to reduce her guilty feeling by changing the story of her life in a novel. |