Artikelilmiahs
Menampilkan 49.301-49.320 dari 49.495 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 49301 | 52087 | C1C022010 | Pengaruh Integritas, Kompetensi Aparatur Desa, Sistem Pengendalian Internal, dan Transparansi terhadap Pencegahan Fraud dalam Pengelolaan Dana Desa di Kabupaten Banyumas | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh integritas, kompetensi aparatur desa, sistem pengendalian internal, dan transparansi terhadap pencegahan fraud dalam pengelolaan dana desa di Kabupaten Banyumas. Dana desa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara memiliki peran penting dalam mendukung penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat desa. Namun, dalam praktiknya, pengelolaan dana desa masih menghadapi risiko fraud seperti penyalahgunaan anggaran, kegiatan fiktif, penggelembungan biaya, dan penyimpangan laporan. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya upaya pencegahan fraud yang efektif melalui penguatan faktor-faktor internal dalam pemerintah desa seperti integritas, kompetensi aparatur desa, sistem pengendalian internal, dan transparansi yang diyakini mampu mencegah fraud. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada aparatur desa yang terlibat dalam proses pengelolaan dana desa. Sampel penelitian terdiri dari perwakilan Pelaksana Pengelolaan Keuangan Desa (PPKD) yang meliputi kepala desa, sekretaris desa, kepala urusan dan kepala seksi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda untuk menguji pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pengendalian internal dan transparansi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pencegahan fraud. Artinya, semakin baik sistem pengendalian internal dan semakin tinggi tingkat transparansi, maka upaya pencegahan fraud akan semakin efektif. Sistem pengendalian internal yang berjalan dengan baik mampu mempersempit peluang terjadinya fraud melalui mekanisme pengawasan dan pemisahan tugas yang jelas. Transparansi mendorong keterbukaan informasi sehingga masyarakat dapat ikut mengawasi pengelolaan dana desa. Sementara itu, integritas dan kompetensi aparatur desa tidak berpengaruh terhadap pencegahan fraud. Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan nilai moral dan kemampuan individu belum cukup memberikan dampak nyata terhadap upaya pencegahan fraud apabila tidak didukung oleh mekanisme pengendalian yang kuat dan keterbukaan informasi yang memadai. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya pemerintah desa dan pemerintah daerah untuk lebih memprioritaskan penguatan sistem pengendalian internal serta meningkatkan transparansi pengelolaan dana desa melalui penyampaian informasi yang mudah diakses oleh masyarakat. Dengan pengawasan yang sistematis dan keterbukaan informasi yang konsisten, pengelolaan dana desa diharapkan dapat berjalan lebih akuntabel, transparan, dan mampu meminimalkan risiko terjadinya fraud. | This study aims to examine the effect of integrity, village officials’ competence, internal control systems, and transparency on fraud prevention in the management of village funds in Banyumas Regency. Village funds, which are sourced from the State Budget, play a significant role in supporting local governance, development, and community empowerment at the village level. However, in practice, the management of village funds remains vulnerable to fraud risks, such as budget misappropriation, fictitious activities, cost inflation, and reporting irregularities. These conditions highlight the importance of implementing effective fraud prevention strategies by strengthening internal factors within village governments, including integrity, competence, internal control systems, and transparency. The research employed a quantitative method using a survey approach. Data were collected through questionnaires distributed to village officials involved in village fund management. The sample consisted of representatives of the Pelaksana Pengelolaan Keuangan Desa (PPKD), including village head, village secretaries, head of affairs, and section heads. The data were analyzed using multiple linear regression to examine the effect of each independent variable on fraud prevention as the dependent variable. The results indicate that internal control systems and transparency have a positive and significant effect on fraud prevention. This finding suggests that stronger internal control systems and higher levels of transparency contribute to more effective fraud prevention. An effective internal control system reduces opportunities for fraud through proper supervision and clear segregation of duties. Transparency enhances information disclosure, enabling the community to participate in monitoring village fund management. In contrast, integrity and the competence of village officials do not have a significant effect on fraud prevention. These findings suggest that moral values and individual capabilities alone are insufficient to significantly influence fraud prevention efforts without the support of strong control mechanisms and adequate transparency. The implications of this study emphasize the need for village and local governments to prioritize strengthening internal control systems and improving transparency in village fund management by ensuring that relevant information is easily accessible to the public. Through systematic oversight and consistent information disclosure, village fund management is expected to become more accountable, transparent, and capable of minimizing the risk of fraud. | |
| 49302 | 52088 | C1B022058 | Pengaruh Esg Disclosure, Profitability, Dan Asset tangibility Terhadap Leverage Dengan Financial health Sebagai Moderasi Pada Hubungan Esg Disclosure | Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bertujuan menganalisis pengaruh ESG disclosure, profitability, dan asset tangibility terhadap leverage dengan financial health sebagai moderasi pada hubungan ESG disclosure dan leverage. Populasi pada penelitian ini adalah perusahaan sektor energy dan consumer non-cyclical yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2020–2024. Sampel ditentukan menggunakan metode purposive sampling dengan data sekunder yang diperoleh dari laporan tahunan dan laporan keberlanjutan perusahaan. Analisis data dilakukan menggunakan regresi data panel yang diolah menggunakan Eviews 13. Hasil penelitian pada perusahaan energy menunjukkan bahwa (1) ESG disclosure berpengaruh positif signifikan terhadap leverage, (2) profitability tidak berpengaruh signifikan terhadap leverage, (3) asset tangibility tidak berpengaruh signifikan terhadap leverage, (4) financial health terbukti memperlemah pengaruh positif ESG disclosure terhadap leverage. Sementara itu, pada perusahaan consumer non-cyclical menunjukkan bahwa (1) ESG disclosure tidak berpengaruh signifikan terhadap leverage, (2) profitability berpengaruh negatif signifikan terhadap leverage, (3) asset tangibility berpengaruh negatif signifikan terhadap leverage (4) financial health tidak memoderasi hubungan antara ESG disclosure terhadap leverage. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa determinan leverage berbeda pada setiap sektor industri. Pada sektor energy, pengungkapan ESG dapat menjadi sinyal positif untuk meningkatkan akses pendanaan berbasis utang, sedangkan pada sektor consumer non-cyclical keputusan leverage lebih dipengaruhi oleh faktor internal perusahaan. | This study is a quantitative research aimed at analyzing the effect of ESG disclosure, profitability, and asset tangibility on leverage, with financial health serving as a moderating variable in the relationship between ESG disclosure and leverage. The research populations are energy and consumer non-cyclical sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the 2020–2024 period. The sample was determined using purposive sampling, with secondary data obtained from annual reports and sustainability reports. Data analysis was conducted using panel data regression processed with Eviews 13. The results for energy sector companies indicate that (1) ESG disclosure has a significant positive effect on leverage, (2) profitability have no significant effect on leverage, (3) asset tangibility have no significant effect on leverage and (4) financial health weakens the positive effect of ESG disclosure on leverage. Meanwhile, the results for consumer non-cyclical companies show that (1) ESG disclosure has no significant effect on leverage, (2) profitability have a significant negative effect on leverage, (3) asset tangibility have a significant negative effect on leverage and (4) financial health does not moderate the relationship between ESG disclosure and leverage. The study concludes that the determinants of corporate leverage differ across industry sectors. In the energy sector, ESG disclosure can serve as a positive signal to improve access to debt financing, while in the consumer non-cyclical sector, leverage decisions are more influenced by internal company factors. | |
| 49303 | 52142 | B1A022040 | DETEKSI CEMARAN Listeria monocytogenes DALAM DAGING AYAM MENTAH DARI DUA PASAR TRADISIONAL BOGOR: STUDI KOMPARASI METODE qPCR DAN CULTURE-BASED | Daging ayam memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan gizi manusia. Daging tidak hanya kaya akan protein, daging ayam juga kaya akan asam amino esensial yang seimbang. Kandungan air yang tinggi, nitrogen, mineral, dan pH ideal membuat daging ayam dapat menjadi medium pertumbuhan yang cocok bagi mikroorganisme karena. Listeria monocytogenes merupakan salah satu penyebab listeriosis yang beresiko tinggi bagi kelompok rentan. Kontaminasi silang, penerapan zona hygiene atau sanitasi yang lemah serta kelembaban yang tinggi, dilaporkan menjadi faktor utama dalam penyebaran L. monocytogenes. Metode deteksi patogen ini umumnya menggunakan metode kultur mikrobiologi, namun metode ini memerlukan waktu yang cukup lama. Metode alternatif berupa qPCR memiliki kemampuan deteksi yang cepat, sensitif, dan akurat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi cemaran L. monocytogenes pada daging ayam mentah yang dipasarkan di wilayah Bogor serta membandingkan sensitivitas metode dalam deteksi L. monocytogenes dengan qPCR dan culture-based method dalam daging ayam mentah. Metode pengambilan sampel yang digunakan yakni metode purposive sampling. Sampel yang digunakan dalam pegujian sensitivitas metode deteksi diperoleh dari pasar swalayan di Kota Bogor sedangkan sampel surveillance berasal dari 10 titik berbeda di dua pasar tradisional Bogor. Penelitian studi komparasi sensitivitas metode dialawai dengan homogenisasi sampel dengan medium enrichment dan dispiking 0,1 ml suspensi yang mengandung <10 CFU/ml L. monocytogenes. Enrichment dilakukan dengan waktu 2, 7, dan 12 jam dengan 5 kali pengulangan dan 1 kontrol negatif. Masing masing waktu enrichment dianalisis dengan metode qPCR dan culture-based. Variabel bebas meliputi lama waktu enrichment dan metode deteksi. Variabel terikat berupa hasil positif deteksi. Parameter yang diamati yakni nilai Ct pada metode qPCR dan pertumbuhan koloni pada culture-based. Data dianalisis dengan analisis Cohen Kappa yang merupakan ukuran statistik utntuk mengevaluasi hasil antara dua metode atau instrument pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu enrichment minimum untuk mendeteksi L. monocytogenes adalah 12 jam dengan metode yang paling sensitif adalah qPCR. Waktu enrichment ini seluruh sampel menunjukkan hasil positif yang ditandai dengan kenaikan kurva amplifikasi dibawah <40 siklus. Analisis kesesuaian metode menggunakan uji Cohen Kappa menghasilkan nilai k yang tidak dapat dihitung sehingga interpretasi didasarkan pada observed agreemnet yang berilai 1. Secara statistik nilai tersebut menunjukkan kesepakatan sempurna (Perfect agreement). Nilai tersebut mengindikasikan bahwa kedua metode dapat saling menggantikan dalam deteksi L. monocytogenes sesuai dengan kebutuhan analisis. Penerapan kedua metode terhadap sampel daging ayam yang diperoleh dari 10 titik berbeda di dua pasar tradisional di wilayah Bogor menunjukkan bahwa sampel daging ayam tidak terdapat cemaran L. monocytogenes. | Chicken meat plays an important role in fulfilling human nutritional needs. It is not only rich in protein but also contains a balanced composition of essential amino acids. However, meat can serve as an excellent medium for microbial growth due to its high waters content, nitrogen, minerals, and pH that supports the proliferation of various microorganisms. Listeria monocytogenes is one of the pathogenic bacteria responsible for listeriosis, which poses a high risk to vulnerable populations. Cross-contamination, inadequate hygiene and sanitation practices, and high humidity have been reported as the main factors contributing to the spread of L. monocytogenes. The detection of this pathogen is commonly performed using culture-based microbiological methods; however, these methods require a relatively long time. As an alternative, quantitative Polymerase Chain Reaction (qPCR) offers advantages in terms of speed, sensitivity, and accuracy. This study aimed to detect the presence of L. monocytogenes contamination in raw chicken meat marketed in the Bogor area and to compare the sensitivity of qPCR and culture-based methods in detecting this pathogen. The sampling method employed in this study was purposive sampling. Samples used for sensitivity testing were obtained from a supermarket in Bogor City, while surveillance samples were collected from 10 different points across two traditional markets in the Bogor area. The comparative sensitivity study was initiated by homogenizing the samples in an enrichment medium, followed by spiking with 0.1 mL of a suspension containing <10 CFU/mL of L. monocytogenes. The enrichment process was conducted for 2, 7, and 12 hours, with five replicates and one negative control. Each enrichment time was analyzed using both qPCR and culture-based methods. The independent variables included enrichment time and detection method, while the dependent variable was the detection result (positive or negative). The observed parameters were Ct values in qPCR and colony growth in the culture-based method. Data were analyzed using Cohen’s kappa analysis as a statistical measure to evaluate the agreement between the two methods. The results showed that the minimum enrichment time required to detect L. monocytogenes was 12 hours, with qPCR identified as the most sensitive method. At this enrichment time, all samples tested positive, indicated by the appearance of amplification curves below 40 cycles. The agreement analysis using Cohen’s kappa resulted in an undefined κ value; therefore, interpretation was based on the observed agreement value of 1, indicating perfect agreement. This result suggests that both methods produced fully consistent outcomes in detecting L. monocytogenes. The application of both methods to raw chicken meat samples collected from two traditional markets in Bogor revealed that no contamination of L. monocytogenes was detected in any of the samples. | |
| 49304 | 52090 | C1H022030 | THE INFLUENCE OF CAREER PATH AND SOCIAL SUPPORT ON EMPLOYEE PERFORMANCE WITH PSYCHOLOGICAL EMPOWERMENT AS A MEDIATING VARIABLE | Penelitian ini mengkaji pengaruh career path dan social support terhadap employee performance dengan psychological empowerment sebagai variabel mediasi dalam konteks karyawan perusahaan. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan teknik survei. Data dikumpulkan dari 58 karyawan Gudang Kosmetik Purwokerto (GKP) yang berlokasi di Purwokerto. Data dianalisis menggunakan analisis regresi dan uji mediasi untuk menguji hubungan langsung maupun tidak langsung antarvariabel. Temuan penelitian menunjukkan bahwa career path dan social support memiliki pengaruh terhadap psychological empowerment, yang selanjutnya berperan dalam meningkatkan employee performance. Selain itu, psychological empowerment terbukti berfungsi sebagai variabel mediasi dalam hubungan antara career path dan employee performance, serta antara social support dan employee performance. Hasil ini menegaskan bahwa kejelasan jalur karier dan dukungan sosial di tempat kerja dapat memperkuat rasa berdaya secara psikologis pada karyawan, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kinerja mereka. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa organisasi perlu memperhatikan pengembangan jalur karier yang terstruktur dan menciptakan lingkungan kerja yang suportif guna mengoptimalkan pemberdayaan psikologis dan kinerja karyawan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan membuktikan bahwa (1) Jenjang Karir berpengaruh positif terhadap Kinerja Karyawan, (2) Dukungan Sosial berpengaruh positif terhadap Kinerja Karyawan, (3) Jenjang Karir berpengaruh positif terhadap Pemberdayaan Psikologis (4) Dukungan Sosial berpengaruh positif terhadap Pemberdayaan Psikologis (5) Pemberdayaan Psikologis memediasi Jenjang Karir dan Dukungan Sosial pada karyawan Gudang Kosmetik Purwokerto, Implikasi dari penelitian ini menunjukan bahwa penelitian ini mendukung Teori Pertukaran Sosial, yang menjelaskan bahwa hubungan timbal balik antara organisasi dan karyawan terbentuk melalui dukungan yang diberikan oleh organisasi. Dukungan ini meningkatkan respons psikologis karyawan dalam bentuk pemberdayaan psikologis, yang kemudian memperkuat peningkatan kinerja. Temuan ini juga menunjukkan bahwa pengaruh pemberdayaan psikologis terhadap kinerja bersifat kontekstual, sehingga tidak selalu memiliki pengaruh langsung pada setiap organisasi, terutama dalam pekerjaan operasional dan terstruktur. | This study examines the effect of career path and social support on employee performance with psychological empowerment as a mediating variable in the context of company employees. The study uses a quantitative design with a survey technique. Data were collected from 58 employees of Gudang Kosmetik Purwokerto (GKP) located in Purwokerto. The data were analyzed using regression analysis and mediation tests to examine the direct and indirect relationships between variables. The findings show that career paths and social support have an influence on psychological empowerment, which in turn plays a role in improving employee performance. In addition, psychological empowerment was found to function as a mediating variable in the relationship between career paths and employee performance, as well as between social support and employee performance. These results confirm that clarity of career paths and social support in the workplace can strengthen employees' psychological empowerment, which ultimately impacts their performance. This study implies that organizations need to pay attention to developing structured career paths and creating a supportive work environment to optimize psychological empowerment and employee performance. The results of this study demonstrate that (1) Career Path has a positive effect on Employee Performance, (2) Social Support has a positive effect on Employee Performance, (3) Career Path has a positive effect on Psychological Empowerment, and (4) Social Support has a positive effect on Psychological Empowerment (5) Psychological Empowerment mediates the relationship between Career Path and Social Support among employees at the Gudang Kosmetik Purwokerto. The implications of this study indicate that it supports Social Exchange Theory, which explains that the reciprocal relationship between the organization and employees is formed through the support provided by the organization. This support enhances employees’ psychological responses in the form of psychological empowerment, which in turn strengthens performance improvement. These findings also indicate that the influence of psychological empowerment on performance is contextual, meaning it does not always have a direct impact on every organization, particularly in operational and structured work settings. | |
| 49305 | 52067 | B1A022187 | Pengaruh Interaksi antara BAP dan IAA pada Perkembangan Tunas Mikro Pisang Kepok Kuning dalam Kultur In Vitro | Pisang kepok kuning (Musa acuminata × balbisiana, ABB Group) merupakan salah satu varietas pisang unggulan Indonesia karena pemanfaatannya yang luas dalam industri pengolahan pangan, seperti produksi keripik pisang, pisang salai, serta tepung pisang. Namun demikian, produksinya masih menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan ketersediaan bibit yang sehat serta serangan beberapa penyakit penting. Penyakit tersebut antara lain penyakit Panama yang disebabkan oleh jamur Fusarium, penyakit darah akibat infeksi bakteri Ralstonia syzygii subsp. celebesensis, serta penyakit Moko yang tergolong sebagai bacterial wilt. Perbanyakan pisang secara konvensional relatif lama dan menghasilkan bibit yang tidak seragam serta rentan menyebarkan penyakit. Permasalahan keterbatasan bibit dapat diatasi melalui pemanfaatan teknik kultur tanaman secara in vitro dengan pemberian zat pengatur tumbuh, khususnya sitokinin dan auksin. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi interaksi antara 6-Benzylaminopurine (BAP) dan Indole-3-acetic acid (IAA) terhadap perkembangan tunas mikro pisang kepok kuning pada sistem kultur in vitro, sekaligus menentukan kombinasi konsentrasi kedua ZPT tersebut yang paling optimal dalam mendukung pertumbuhan tunas mikro. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun dalam pola perlakuan faktorial dua faktor. Faktor pertama berupa konsentrasi BAP yang terdiri atas empat taraf, yaitu 0, 4, 13, dan 27 µM, sedangkan faktor kedua adalah konsentrasi IAA dengan empat taraf, yaitu 0, 3, 6, dan 11 µM. Setiap kombinasi kedua faktor diulang tiga kali sehingga total unit percobaan menjadi 48. Dalam penelitian ini, BAP dan IAA ditetapkan sebagai variabel bebas, sedangkan variabel terikat yang diamati adalah perkembangan tunas mikro pisang kepok kuning pada kultur in vitro. Pengamatan dilakukan melalui beberapa parameter, yaitu jumlah tunas, panjang tunas, jumlah daun, serta jumlah akar. Data hasil pengamatan dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf 5% dan 1%. Jika menunjukkan perbedaan nyata, analisis dilanjutkan dengan uji Duncan (DMRT) taraf 5% serta regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara BAP dan IAA memberikan pengaruh terhadap pemanjangan tunas mikro pisang kepok kuning dalam kultur in vitro. Kombinasi perlakuan yang memberikan hasil terbaik terhadap peningkatan panjang tunas mikro diperoleh pada konsentrasi BAP 13 µM yang dikombinasikan dengan IAA 11 µM. | Kepok Kuning banana (Musa acuminata × balbisiana, ABB Group) is one of the important banana cultivars in Indonesia due to its extensive utilization in the food processing industry, particularly for products such as banana chips, smoked bananas, and banana flour. However, its production still faces several constraints, especially the limited availability of healthy planting materials and the occurrence of several major diseases. These include Panama disease caused by Fusarium fungi, blood disease resulting from infection by the bacterium Ralstonia syzygii subsp. celebesensis, and Moko disease, which is classified as a bacterial wilt. Conventional propagation methods require a relatively long time and often produce non-uniform planting materials that may also contribute to disease spread. One alternative to overcome the limitation of planting materials is the application of plant tissue culture techniques through in vitro culture with the addition of plant growth regulators, particularly cytokinins and auxins. Therefore, this study aimed to evaluate the interaction between 6-Benzylaminopurine (BAP) and Indole-3-acetic acid (IAA) on the development of yellow kepok banana microshoots under in vitro culture conditions and to determine the most effective combination of these plant growth regulators in promoting microshoot growth. This study was conducted using an experimental method with a Completely Randomized Design (CRD) arranged in a two-factor factorial treatment. The first factor was BAP concentration with four levels: 0, 4, 13, and 27 µM, while the second factor was IAA concentration with four levels: 0, 3, 6, and 11 µM. Each combination of the two factors was replicated three times, resulting in a total of 48 experimental units. In this study, BAP and IAA served as independent variables, while the dependent variable observed was the development of yellow kepok banana microshoots in in vitro culture. Observations were conducted using several parameters, including number of shoots, shoot length, number of leaves, and number of roots. Observation data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at the 5% and 1% significance levels. If significant differences were found, Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at the 5% level and regression analysis were performed. The interaction of BAP and IAA was found to affect the elongation of yellow kepok banana microshoots cultured in vitro. The best treatment combination for increasing microshoot length was obtained at 13 µM BAP combined with 11 µM IAA. | |
| 49306 | 52144 | C1C022051 | Pengaruh Leverage dan Profitabilitas terhadap Audit Delay dengan Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderasi pada Perusahaan Properti yang Terdaftar di BEI | Penelitian ini berjudul “Pengaruh Leverage dan Profitabilitas terhadap Audit Delay dengan Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderasi pada Perusahaan Properti yang Terdaftar di BEI”. Penelitian dilatarbelakangi oleh adanya fenomena keterlambatan penyampaian laporan keuangan oleh emiten di Bursa Efek Indonesia berdasarkan surat pengumuman BEI. Sektor properti menjadi salah satu sektor yang terjadi banyak keterlambatan. Audit delay menjadi isu penting demi menjaga ketepatwaktuan penyampaian laporan keuangan, relevansi informasi, dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Masalah penelitian difokuskan pada faktor-faktor penyebab panjang pendeknya audit delay, yaitu leverage dan profitabilitas, serta ukuran perusahaan yang berperan sebagai pemoderasi hubungannya. Penelitian terdahulu menunjukkan ketidakkonsistenan hasil, sehingga penelitian ini dilakukan untuk memberikan bukti empiris terbaru di sektor properti setelah penerapan PSAK 72 di 2020 yang berkaitan erat dengan pendapatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh leverage dan profitabilitas terhadap audit delay, serta menguji apakah ukuran perusahaan mampu memoderasi hubungan tersebut. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoritis pada literatur akuntansi dan audit. Selain itu, penelitian juga diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis bagi auditor untuk mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi jangka waktu audit, bagi manajemen perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan keterbukaan keuangan, serta bagi regulator dalam mengembangkan regulasi yang lebih komprehensif. Penelitian ini dilandasi dengan 2 teori, yaitu compliance theory yang membahas mengenai kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku dan signaling theory yang menjelaskan bahwa kondisi baik perusahaan mendorong perusahaan untuk segera memberikan sinyal positif ke pasar melalui laporan keuangan tepat waktu. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan data sekunder berupa laporan keuangan dan laporan auditor independen perusahaan properti dan real estat yang terdaftar di BEI. Periode penelitian 3 tahun dari 2022 hingga 2024. Populasi penelitian sebesar 92 perusahaan dengan sampel 77 perusahaan yang ditentukan dengan menggunakan purposive sampling dengan kriteria kelengkapan laporan keuangan selama tiga tahun berturut-turut. Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi linear berganda dan uji regresi moderasi yang dilakukan menggunakan SPSS 27. Analisis dilengkapi dengan uji asumsi klasik dan juga uji sensitivitas sample splitting berdasarkan ukuran perusahaan. Berdasarkan analisis dan uji yang dilakukan, hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Leverage tidak berpengaruh positif terhadap audit delay, (2) Profitabilitas berpengaruh negatif terhadap audit delay, (3) Ukuran perusahaan mampu memoderasi pengaruh leverage terhadap audit delay, (4) Ukuran perusahaan mampu memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap audit delay. Implikasi ini adalah Hasil ini menunjukkan bahwa profitabilitas mampu mempercepat audit delay dan ukuran perusahaan mampu memperkuat hubungan variabel. Implikasi penelitian secara teoritis berkontribusi menambah literatur bidang akuntansi dan audit yang terkait dengan audit delay. Secara praktis, perusahaan besar dengan profitabilitas tinggi dapat memanfaatkan kapasitas organisasinya demi kelancaran proses audit. Mengingat kompleksitas perusahaan besar, efisiensi dalam pelaporan keuangan dapat membantu auditor dalam waktu proses audit. Auditor perlu memberi perhatian lebih pada perusahaan kecil dengan profitabilitas rendah karena dapat meningkatkan risiko audit delay. Perusahaan dengan profitabilitas rendah perlu meningkatkan efisiensi pelaporan supaya tidak menimbulkan perspektif negatif terhadap pasar. Regulator dapat menggunakan temuan dalam penelitian ini untuk mengidentifikasi perusahaan yang berisiko mengalami audit delay yang panjang, khususnya pada perusahaan dengan karakteristik tertentu, seperti tinggi atau rendahnya aset serta profitabilitas. Kebijakan dan pengawasan dapat diarahkan pada faktor-faktor yang terbukti signifikan. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menambahkan variabel lain dan menggunakan model yang lebih komprehensif untuk dapat memperluas pemahaman atas audit delay pada sektor properti dan real estat. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi literatur yang menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi audit delay di sektor properti dan real estat. Temuan yang menyatakan bahwa leverage tidak berpengaruh pada audit delay, profitabilitas berpengaruh negatif pada audit delay, dan ukuran perusahaan mampu memoderasi hubungan leverage dan profitabilitas pada audit delay memperkaya literatur bidang akuntansi dan audit, memberikan masukan praktis bagi auditor, manajemen perusahaan, serta regulator dalam meningkatkan ketepatwaktuan penyampaian laporan keuangan yang diaudit. Penelitian ini menambah literatur atas audit delay setelah diterapkannya PSAK 72 di tahun 2020. Kata Kunci: Audit Delay, Leverage, Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Sektor Properti | This study, entitled "The Effect of Leverage and Profitability on Audit Delay with Company Size as a Moderating Variable in Property Companies Listed on the Indonesia Stock Exchange," is motivated by the phenomenon of late submission of financial reports by issuers on the Indonesia Stock Exchange based on the IDX announcement letter. The property sector is one of the sectors experiencing frequent delays. Audit delay is a crucial issue to maintain the timeliness of financial report submission, information relevance, and compliance with applicable regulations. The research problem focuses on the factors causing the length of audit delay, namely leverage and profitability, as well as company size, which plays a moderating role in the relationship. Previous research has shown inconsistencies in results, so this study was conducted to provide the latest empirical evidence in the property sector following the implementation of PSAK 72 in 2020, which is closely related to revenue. The purpose of this study is to examine the effect of leverage and profitability on audit delay, and to examine whether company size can moderate this relationship. This study is expected to provide theoretical contributions to the accounting and auditing literature. Furthermore, the study is also expected to provide practical contributions for auditors in considering factors that influence audit duration, for company management in improving efficiency and financial transparency, and for regulators in developing more comprehensive regulations. This study is based on two theories: compliance theory, which discusses compliance with applicable regulations, and signaling theory, which explains that a company's good condition encourages companies to immediately provide positive signals to the market through timely financial reports. The research method used is a quantitative approach with secondary data in the form of financial reports and independent auditor reports of property and real estate companies listed on the Indonesia Stock Exchange. The research period is 3 years, from 2022 to 2024. The population of this research is 92 companies, with a sample of 77 companies determined using purposive sampling with the criterion of completeness of financial reports for three consecutive years. Data analysis was performed using multiple linear regression and moderated regression analysis conducted using SPSS 27. The analysis is complemented by classical assumption tests and sample splitting sensitivity tests based on company size. Based on the analysis and tests conducted, the results of the study indicate that: (1) Leverage does not have a positive effect on audit delay, (2) Profitability has a negative effect on audit delay, (3) Company size is able to moderate the effect of leverage on audit delay, (4) Company size is able to moderate the effect of profitability on audit delay. The implication is that these results indicate that profitability is able to accelerate audit delay and company size is able to strengthen the relationship between variables. The theoretical implications of this research contribute to the growing literature in accounting and auditing related to audit delay. Practically, large companies with high profitability can leverage their organizational capacity to facilitate a smooth audit process. Given the complexity of large companies, efficiency in financial reporting can help auditors reduce audit time. Auditors should pay closer attention to small companies with low profitability, as this can increase the risk of audit delay. Companies with low profitability need to improve reporting efficiency to avoid creating a negative perception in the market. Regulators can use the findings of this study to identify companies at risk of experiencing long audit delays, particularly those with certain characteristics, such as high or low assets and profitability. Policy and supervision can be directed at factors that prove significant. Further research can be conducted by adding other variables and using more comprehensive models to broaden the understanding of audit delay in the property and real estate sector. Overall, this study contributes to the literature explaining the factors influencing audit delay in the property and real estate sector. The findings, which indicate that leverage has no effect on audit delay, profitability has a negative effect on audit delay, and company size moderates the relationship between leverage and profitability on audit delay, enrich the accounting and auditing literature and provide practical input for auditors, company management, and regulators in improving the timeliness of audited financial statements. This study adds to the literature on audit delay following the implementation of PSAK 72 in 2020. Keywords: Audit Delay, Leverage, Profitability, Company Size, Property Sector | |
| 49307 | 51575 | H1B021094 | EVALUASI DIGITAL ELEVATION MODEL MENGGUNAKAN PENGUKURAN LANGSUNG DI DESA BANJARSARI, KALITAPEN. DAN KALIWANGI, KECAMATAN AJIBARANG, KABUPATEN BANYUMAS | Digital Elevation Model (DEM) merupakan representasi digital permukaan bumi yang berperan penting dalam analisis geospasial, seperti pemetaan topografi, perencanaan wilayah, dan mitigasi bencana. Akurasi data DEM sangat menentukan kualitas hasil analisis spasial, sehingga evaluasi terhadap tingkat ketelitiannya menjadi hal yang penting. Penelitian ini dilakukan di Desa Banjarsari, Kalitapen, dan Kaliwangi, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, dengan tujuan mengevaluasi akurasi beberapa produk DEM dalam merepresentasikan elevasi permukaan bumi serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan elevasi pada wilayah dengan variasi topografi. Metode penelitian dilakukan dengan membandingkan nilai elevasi dari tiga sumber data DEM, yaitu DEMNAS, SRTM, dan ALOS PALSAR, terhadap hasil pengukuran langsung menggunakan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS). Pengambilan data lapangan dilakukan pada titik-titik pengamatan tertentu, kemudian nilai elevasi dari masing-masing DEM diekstraksi menggunakan perangkat lunak ArcGIS. Analisis statistik dilakukan dengan menghitung Root Mean Square Error (RMSE), Mean Absolute Error (MAE), Mean Bias Error (MBE), serta koefisien korelasi (r dan r²) untuk menilai tingkat akurasi masing-masing model DEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DEMNAS memiliki tingkat akurasi paling tinggi dengan nilai RMSE sebesar 0,325 meter dan tingkat kesalahan 2,63%, diikuti oleh SRTM dengan RMSE sebesar 0,537 meter dan kesalahan 7,86%, sementara ALOS PALSAR memiliki penyimpangan terbesar dengan RMSE mencapai 1,072 meter dan kesalahan 38%. Secara umum, DEMNAS dinilai paling representatif untuk digunakan sebagai sumber data elevasi di wilayah dengan variasi topografi seperti Desa Banjarsari dan sekitarnya. Hasil ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengguna data geospasial dalam memilih sumber DEM yang sesuai untuk analisis topografi di wilayah lain dengan karakteristik serupa. | The Digital Elevation Model (DEM) is a digital representation of the Earth’s surface that plays an important role in geospatial analysis, including topographic mapping, regional planning, and disaster mitigation. The accuracy of DEM data greatly influences the quality of spatial analysis results; therefore, evaluating its precision is essential. This study was conducted in Banjarsari, Kalitapen, and Kaliwangi Villages, Ajibarang District, Banyumas Regency, to assess the accuracy of several DEM products in representing surface elevation and to analyze the factors that cause elevation differences in areas with varied topography. The research method involved comparing elevation values from three DEM datasets—DEMNAS, SRTM, and ALOS PALSAR—with field measurements obtained using the Global Navigation Satellite System (GNSS). Field data were collected from specific observation points, and elevation values from each DEM were extracted using ArcGIS software. Statistical analysis was performed by calculating Root Mean Square Error (RMSE), Mean Absolute Error (MAE), Mean Bias Error (MBE), and correlation coefficients (r and r²) to evaluate the accuracy of each DEM model. The results showed that DEMNAS achieved the highest accuracy, with an RMSE of 0.325 meters and an error rate of 2.63%, followed by SRTM with an RMSE of 0.537 meters and an error rate of 7.86%. Meanwhile, ALOS PALSAR had the lowest accuracy with an RMSE of 1.072 meters and an error rate of 38%. Overall, DEMNAS is considered the most reliable and representative dataset for elevation analysis in areas with diverse topographic characteristics, such as the Banjarsari region. These findings are expected to serve as a reference for selecting suitable DEM data sources for topographic and geospatial analyses in similar regions. | |
| 49308 | 52066 | C1C022065 | Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kualitas Audit Studi Empiris pada Perusahaan Sektor Healthcare yang Terdaftar di BEI Tahun 2021-2024 | Penelitian ini mengkaji terkait faktor-faktor yang memengaruhi kualitas audit yaitu client importance, spesialisasi industri auditor, biaya audit, dan pendidikan ketua komite audit pada perusahaan sektor healthcare yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2021-2024. Metode analisis yang digunakan adalah regresi logistik dengan sampel 25 perusahaan yang menghasilkan 100 titik observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan ketua komite audit berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit, sedangkan client importance, spesialisasi industri auditor, biaya audit tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Temuan ini mengindikasi bahwa perusahaan perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia ketua komite audit dengan fokus pada pendidikan dan kompetensi yang relevan untuk meningkatkan kualitas audit. | This study examines the factors influencing audit quality, namely client importance, auditor industry specialization, audit fee, and audit committee chairman’s education in healthcare sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange from 2021-2024. The research utilizes logistic regression analysis to test hypotheses on a sample of 25 companies, resulting in 100 observation points. The findings reveal that audit committee chairman’s education significantly influence audit quality, while client importance, auditor industry specialization, audit fee shows no significant effect. These results suggest that regulatory companies need to enhance the quality of human resources serving as chair of the audit committee by focusing on relevant education and competencies to increase audit quality. | |
| 49309 | 52092 | L1A022022 | Strategi Pengembangan Ekowisata Mangrove Dengan Analisis IFAS dan EFAS di Taman Edukasi Mangrove (TEM), Desa Gedangan Purwodadi, Purworejo | Penelitian ini berjudul Strategi Pengembangan Ekowisata Mangrove dengan Analisis IFAS dan EFAS di Taman Edukasi Mangrove (TEM), Desa Gedangan Purwodadi, Purworejo. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kondisi ekologis hutan mangrove dengan melihat kerapatan mangrove dan kualitas air serta merumuskan strategi pengembangan ekowisata yang tepat melalui pendekatan matriks IFAS (Internal Factor Analysis Summary) dan EFAS (External Factor Analysis Summary). Metode penelitian menggunakan survei lapangan untuk pengambilan data kerapatan vegetasi serta wawancara dan kuesioner untuk analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi ekologis hutan mangrove tergolong dalam kategori sangat baik dengan kerapatan vegetasi berkisar antara 3.466–4.366 ind/ha dan kualitas air yang sesuai dengan baku mutu. Berdasarkan analisis strategis, posisi pengembangan TEM Demang Gedi berada pada Kuadran I (Growth Oriented Strategy). Posisi ini mengindikasikan bahwa kawasan tersebut memiliki kekuatan internal yang kuat untuk memanfaatkan peluang eksternal yang ada. Strategi prioritas yang direkomendasikan adalah strategi progresif, yaitu dengan memaksimalkan potensi alam dan dukungan pemerintah untuk mengembangkan wisata edukasi berbasis konservasi secara berkelanjutan. | This research is titled Mangrove Ecotourism Development Strategy using IFAS and EFAS Analysis at the Mangrove Education Park (TEM), Gedangan Village, Purwodadi, Purworejo. The objective of this study is to analyze the ecological condition of the mangrove forest by assessing vegetation density and water quality, and to formulate appropriate ecotourism development strategies using the Internal Factor Analysis Summary (IFAS) and External Factor Analysis Summary (EFAS) matrix approaches. The research methodology employed field surveys to collect vegetation density data, alongside interviews and questionnaires for SWOT analysis. The results indicate that the ecological condition of the mangrove forest is classified as very good, with vegetation density ranging from 3.466-4.366 ind/ha, and water quality complying with established quality standards. Based on the strategic analysis, the development position of TEM Demang Gedi falls into Quadrant I (Growth-Oriented Strategy). This position indicates that the area possesses strong internal strengths to capitalize on existing external opportunities. The recommended priority strategy is a progressive strategy, specifically maximizing natural potential and government support to develop sustainable conservation-based educational tourism. | |
| 49310 | 52115 | J1C022057 | Anxiety and Uncertainty Management: Adaptasi Komunikasi Mahasiswa Sastra Jepang selama Internship di Jepang | Jepang menjadi salah satu destinasi utama bagi mahasiswa Indonesia yang memberikan kesempatan mendapatkan pengalaman melalui program internship namun, perbedaan budaya yang signifikan sering kali menjadi tantangan dalam proses adaptasi komunikasi. Kondisi ini dapat meningkatkan kecemasan dan ketidakpastian dalam komunikasi antarbudaya. Perbedaan budaya, nilai, norma, gaya komunikasi, serta ekspektasi sosial dalam lingkungan kerja Jepang dapat menimbulkan hambatan dalam proses adaptasi komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi masalah komunikasi apa saja dan bagaimana proses adaptasi komunikasi mahasiswa internship asal Indonesia di Jepang dalam menghadapi kecemasan dan ketidakpastian karena perbedaan budaya, serta menganalisis peran keberhasilan adaptasi komunikasi berdasarkan Teori Anxiety/Uncertainty Management (AUM) yang dirumuskan oleh William B. Gudykunst. Fokus utama penelitian adalah menganalisis apa saja hambatan komunikasi yang dialami oleh mahasiswa intenship serta bagaimana strategi adaptasi yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan komunikasi antar budaya. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode wawancara, di mana data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman yang tengah atau telah mengikuti program magang di Jepang selama 1 tahun. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa mahasiswa internship sastra jepang mengalami hambatan komunikasi. Dan penelitian ini juga menjawab strategi apa saja yang dipilih agar adaptasi komunikasi antar budaya dapat berjalan efektif. | Japan has become one of the primary destinations for Indonesian university students seeking experiential learning through internship programs. However, significant cultural differences often pose challenges in the process of communication adaptation. These conditions may heighten anxiety and uncertainty in intercultural communication. Variations in cultural values, norms, communication styles, and social expectations within Japanese workplaces can create barriers to effective adaptation. This study aims to investigate the types of communication challenges encountered and the adaptation processes undertaken by Indonesian internship students in Japan in managing anxiety and uncertainty arising from cultural differences. It also analyzes the role of successful communication adaptation based on the Anxiety/Uncertainty Management (AUM) Theory proposed by William B. Gudykunst. The main focus of this research is to examine the specific communication barriers faced by internship students and the adaptive strategies employed to support effective intercultural communication. A qualitative approach was adopted, utilizing in-depth interviews with students from Jenderal Soedirman University who are currently participating or have completed a one year internship program in Japan. The findings reveal that Japanese literature internship students experience various communication barriers. Furthermore, the study identifies the strategies they employ to facilitate effective intercultural communication adaptation. | |
| 49311 | 52097 | K1B022113 | PENDEKATAN SEM-PLS DALAM MENILAI PENGARUH FAKTOR EKONOMI, PENDIDIKAN, DAN KESEHATAN TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI INDONESIA | Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator yang mencerminkan kualitas pembangunan manusia melalui dimensi pendidikan, kesehatan, dan standar hidup yang layak. Meskipun IPM Indonesia mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, analisis lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi capaian tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor ekonomi, pendidikan, dan kesehatan terhadap IPM di Indonesia dengan menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). Data yang digunakan merupakan data sekunder tahun 2024 yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik, dengan unit analisis sebanyak 38 provinsi. Evaluasi model dilakukan melalui pengujian outer model dan inner model. Outer model diuji menggunakan validitas dan reliabilitas, sedangkan inner model dievaluasi menggunakan koefisien determinasi dan predictive relevance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model memenuhi kriteria valid dan reliabel serta memiliki kemampuan prediksi yang baik. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa faktor ekonomi berpengaruh signifikan terhadap IPM, sedangkan faktor pendidikan dan kesehatan tidak berpengaruh signifikan. | The Human Development Index (HDI) is an indicator that reflects the quality of human development through the dimensions of education, health, and a decent standard of living. Although Indonesia’s HDI has increased in recent years, further analysis is needed to identify the factors influencing its achievement. This study aims to analyze the effects of economic, educational, and health factors on HDI in Indonesia using the Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) method. The study uses secondary data from 2024 obtained from Statistics Indonesia, with 38 provinces as the units of analysis. Model evaluation was conducted through outer and inner model assessments. The outer model was evaluated using validity and reliability tests, while the inner model was assessed using the coefficient of determination and predictive relevance. The results indicate that the model meets validity and reliability criteria and has good predictive ability. The findings also show that economic factors significantly influence HDI, while educational and health factors are not statistically significant. | |
| 49312 | 52098 | C1A022031 | PENGARUH PERTUMBUHAN UMKM TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA | UMKM memiliki peran strategis dalam perekonomian karena mampu mendorong aktivitas produksi, memperluas kesempatan kerja, serta meningkatkan pendapatan masyarakat. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah UMKM terbesar di dunia, sehingga keberadaan sektor ini menjadi salah satu pilar utama dalam menopang stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional. Jenis penelitian ini yaitu penelitian dengan pendekatan kuantitatif dengan menguji data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS). Pengambilan data dari tahun 1995-2024 di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah Autoregressive Distributed Lag (ARDL). Hasil analisis menghasilkan temuan (1) jumlah UMKM dalam jangka pendek berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi pada tahun berjalan, serta berpengaruh negatif signifikan pada periode satu dan dua tahun sebelumnya (2) jumlah UMKM dalam jangka panjang berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (3) tenaga kerja UMKM dalam jangka pendek berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi pada tahun berjalan dan satu tahun sebelumnya (4) tenaga kerja UMKM dalam jangka panjang berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (5) kontribusi PDB UMKM dalam jangka pendek berpengaruh tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (6) kontribusi PDB UMKM dalam jangka panjang berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Implikasi dari penelitian yaitu dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah diharapkan dapat memperkuat sektor UMKM melalui kebijakan yang berorientasi pada peningkatan jumlah usaha dan penyerapan tenaga kerja dalam jangka pendek, serta peningkatan produktivitas dan kontribusi PDB UMKM dalam jangka panjang. Kebijakan tersebut dapat dilakukan melalui pemberian insentif modal awal, pelatihan kewirausahaan dan tenaga kerja, pendampingan usaha, serta dukungan modernisasi produksi dan akses pembiayaan investasi guna meningkatkan kapasitas, daya saing, serta keberlanjutan UMKM dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. | MSMEs play a strategic role in the economy because they can drive production activities, expand employment opportunities, and increase public income. Indonesia has one of the largest numbers of MSMEs in the world, making this sector a key pillar in supporting national economic stability and growth. This research uses a quantitative approach, examining secondary data sourced from the Central Statistics Agency (BPS). Data collection spans the period 1995-2024 in Indonesia. The research method used is the Autoregressive Distributed Lag (ARDL). The analysis found that (1) the number of MSMEs in the short term has a positive and significant effect on economic growth in the current year, and a significant negative effect in the previous one and two years (2) the number of MSMEs in the long term has a positive and significant effect on economic growth (3) the MSME workforce in the short term has a positive and significant effect on economic growth in the current year and the previous year (4) the MSME workforce in the long term has an insignificant effect on economic growth (5) the MSME GDP contribution in the short term has an insignificant effect on economic growth (6) the MSME GDP contribution in the long term has a positive and significant effect on economic growth. The implications of this research are that in an effort to encourage economic growth, the government is expected to strengthen the MSME sector through policies oriented towards increasing the number of businesses and employment in the short term, as well as increasing the productivity and GDP contribution of MSMEs in the long term. This policy can be implemented through the provision of initial capital incentives, entrepreneurship and workforce training, business mentoring, and support for production modernization and access to investment financing to increase the capacity, competitiveness, and sustainability of MSMEs in supporting economic growth. | |
| 49313 | 52100 | D1A022091 | Kombinasi Jenis Olahan Jerami Padi Dan Penambahan Tepung Daun Waru Serta Bambu Dalam Konsentrat Terhadap Kecernaan Serat Kasar Dan Protein Kasar Sapi Bali | Penelitian bertujuan untuk mengkaji dan memperoleh informasi mengenai pengaruh pemberian jenis pengolahan jerami padi dan jenis konsentrat terhadap kecernaan serat kasar dan protein kasar pada sapi Bali. Penelitian ini dilaksanakan selama 4 bulan di UD Amanah Bata Farm, Desa Datar, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Sapi Bali jantan berusia 20-24 bulan yang ditempatkan pada kandang individu dan diacak secara sempurna sesuai Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 2x2. Faktor pertama adalah jenis olahan jerami dan faktor kedua yaitu konsentrat dengan dan tanpa penambahan feed additive tepung daun Waru dan daun Bambu. Konsentrat diberikan sebanyak 2% dari bobot badan dan jerami padi amoniasi secara ad libitum terkontrol. Peubah yang diukur adalah kecernaan serat kasar dan protein kasar dengan empat perlakuan yaitu: P1 (jerami padi + konsentrat tanpa penambahan feed additive); P2 (jerami padi + konsentrat dengan penambahan daun Waru 75% dan Bambu 25%); P3 (jerami padi amoniasi + konsentrat tanpa penambahan feed additive); P4 (jerami padi + konsentrat dengan penambahan daun Waru 75% dan Bambu 25%) dan menggunakan blok berupa bobot badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi (P>0,05) antara jenis olahan jerami padi dan jenis konsentrat terhadap kecernaan serat kasar dan protein kasar. Namun, penambahan dosis tepung daun Waru 75% (1,8 gram) dan daun Bambu 25% (0,32 gram) dalam konsentrat dapat meningkatkan kecernaan serat kasar dan protein kasar pada kedua jenis olahan jerami yang digunakan. | This study aimed to evaluate and obtain information on the effects of different rice straw processing methods and types of concentrate on crude fiber and crude protein digestibility in Bali cattle. The research was conducted for four months at UD Amanah Bata Farm, Datar Village, Sumbang District, Banyumas Regency, Central Java Province. Male Bali cattle aged 20–24 months were housed in individual pens and randomly assigned according to a Randomized Block Design (RBD) with a 2×2 factorial arrangement. The first factor was the type of rice straw processing, and the second factor was the type of concentrate with or without the addition of feed additives in the form of Waru leaf and bamboo leaf meal. Concentrate was provided at 2% of body weight, while ammoniated rice straw was offered ad libitum under controlled conditions. The variables measured were crude fiber and crude protein digestibility, with four treatments: P1 (rice straw + concentrate without feed additive); P2 (rice straw + concentrate with 75% Waru leaf and 25% bamboo leaf supplementation); P3 (ammoniated rice straw + concentrate without feed additive); and P4 (rice straw + concentrate with 75% Waru leaf and 25% bamboo leaf supplementation). Body weight was used as the blocking factor. The results showed that there was no interaction (P > 0.05) between rice straw processing type and concentrate type on crude fiber and crude protein digestibility. However, supplementation of Waru leaf meal at 75% (1.8 g) and bamboo leaf meal at 25% (0.32 g) in the concentrate improved crude fiber and crude protein digestibility in both types of rice straw processing used. | |
| 49314 | 52099 | D1A022136 | Performa Ayam Broiler Fase Starter dan Fase Finisher dengan Kondisi Lantai yang Berbeda pada Sistem Kandang Closed House | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan performa ayam broiler pada fase starter dan finisher yang dipelihara pada ketinggian lantai kandang berbeda dengan sistem closed house dengan populasi 16.000 ekor ayam per kandang strain Ross CP-707. Parameter yang diamati meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian (PBBH), Feed Conversion Ratio (FCR), deplesi, serta Indeks Performa (IP). Data diperoleh melalui observasi langsung selama satu periode pemeliharaan di kandang A CV Dian Pratama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pakan pada lantai 1 cenderung lebih tinggi dibandingkan lantai 2, namun hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata (P>0,05). Nilai PBBH pada kedua lantai relatif sama pada fase starter maupun finisher. Nilai FCR pada lantai 2 cenderung lebih rendah yang menunjukkan efisiensi pakan lebih baik, tetapi secara statistik tidak berbeda nyata (P>0,05). Persentase deplesi pada kedua lantai berada dalam kisaran normal. Nilai Indeks Performa pada lantai 2 sebesar 352 lebih tinggi dibandingkan lantai 1 sebesar 338. Secara keseluruhan, perbedaan lantai kandang dalam sistem closed house tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap performa produksi broiler. | This study aimed to determine the differences in broiler performance during the starter and finisher phases raised at different floor levels in a closed house system with a population of 16,000 birds per house of Ross CP-707 strain. The observed parameters included feed consumption, average daily gain (ADG), feed conversion ratio (FCR), depletion, and performance index (PI). The data were obtained through direct observation during one production cycle in house A of CV Dian Pratama. The results showed that feed consumption on the first floor tended to be higher than that on the second floor; however, statistical analysis indicated no significant difference (P>0.05). The ADG values on both floors were relatively similar during both the starter and finisher phases. The FCR value on the second floor tended to be lower, indicating better feed efficiency, but statistically it was not significantly different (P>0.05). The depletion percentage on both floors was within the normal range. The performance index value on the second floor was 352, which was higher than that on the first floor (338). Overall, differences in floor levels in the closed house system did not have a significant effect on broiler production performance. | |
| 49315 | 52102 | I1E022048 | HUBUNGAN SLEEP QUALITY INDEX, STATUS GIZI, AKTIVITAS FISIK, POLA HIDUP, DAN KESEHATAN MENTAL TERHADAP TINGKAT KEBUGARAN JASMANI SISWA MAN 1 BANYUMAS | Pengembangan potensi setiap siswa dari kelas regular, prestasi dan KKO, menjadikan kesibukan dan aktivitas fisik yang berbeda-beda dengan tingkat kebugaran jasmani yang beragam. Presentase rata-rata nilai tingkat kebugaran jasmani siswa MAN 1 Banyumas, yaitu kelas 10 sebesar 23%, kelas 11 sebesar 43%, dan kelas 12 sebesar 34%. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan sleep quality index, status gizi, aktivitas fisik, pola hidup, dan kesehatan mental terhadap tingkat kebugaran jasmani siswa MAN 1 Banyumas. Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan korelasional dengan desain crossectional. Analisis data penelitian ini menggunakan uji pearson corellation dan uji korelasi ganda. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara sleep quality indeks dengan tingkat kebugaran jasmani dengan p-value 0,277. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan tingkat kebugaran jasmani dengan p-value 0,161. Terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan tingkat kebugaran jasmani dengan p-value 0,001. Terdapat hubungan yang signifikan antara pola hidup dengan tingkat kebugaran jasmani dengan p-value 0,004 Terdapat hubungan yang signifikan antara kesehatan mental depresi dengan tingkat kebugaran jasmani dengan p-value 0,011. Terdapat hubungan yang signifikan antara kesehatan mental kecemasan dengan tingkat kebugaran jasmani dengan p-value 0,013. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kesehatan mental stres dengan tingkat kebugaran jasmani dengan p-value 0,349. Terdapat hubungan yang signifikan antara sleep quality indeks, status gizi, aktivitas fisik dan kesehatan terhadap tingkat kebugaran siswa MAN 1 Banyumas dengan p-value 0,001. | The development of each student’s potential from regular, achievement, and KKO classes results in varying levels of busyness and physical activity, which in turn lead to different levels of physical fitness. The average percentage distribution of students’ physical fitness levels at state islamic senior secondary school 1 Banyumas is 23% for Grade 10, 43% for Grade 11, and 34% for Grade 12. Therefore, this study aimed to analyze the relationship between sleep quality index, nutritional status, physical activity, lifestyle, and mental health with the level of physical fitness of students at state islamic senior secondary school 1 Banyumas. This quantitative study employed a correlational approach with a cross-sectional design. Data analysis was conducted using the Pearson correlation test and multiple correlation analysis. There was no significant relationship between sleep quality index and physical fitness level p-value = 0.277. There was no significant relationship between nutritional status and physical fitness level p-value = 0.161. There was a significant relationship between physical activity and physical fitness level p-value = 0.001. There was a significant relationship between lifestyle and physical fitness level p-value = 0.004. There was a significant relationship between mental health (depression) and physical fitness level p-value = 0.011. There was a significant relationship between mental health (anxiety) and physical fitness level p-value = 0.013. There was no significant relationship between mental health (stress) and physical fitness level p-value = 0.349. There was a significant relationship between sleep quality index, nutritional status, physical activity, and mental health with the physical fitness level of students at state islamic senior secondary school 1 Banyumas (p-value = 0.001). | |
| 49316 | 52103 | D1A022092 | PENGARUH JENIS OLAHAN JERAMI PADI DAN SUPLEMENTASI TEPUNG DAUN WARU SERTA BAMBU TERHADAP KECEPATAN MAKAN KONSENTRAT DAN LAMA RUMINASI PAKAN PADA SAPI BALI | Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh jenis olahan jerami padi dan suplementasi tepung daun Waru serta Bambu dalam konsentrat terhadap kecepatan makan konsentrat dan lama ruminasi pakan pada sapi Bali. Penelitian ini dilaksanakan di UD Amanah Bata Farm, Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Unit percobaan menggunakan 16 ekor sapi Bali jantan berumur 20–24 bulan dengan bobot awal berdasarkan kelompok 211-218 kg, 222-234 kg, 252-269 kg, dan 271-319 kg dengan koefisien keragaman sebesar 12,41%. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial 2 × 2, dengan faktor pertama jenis olahan jerami padi (jerami padi dan jerami padi amoniasi) dan faktor kedua suplementasi tepung daun Waru dan Bambu dalam konsentrat (konsentrat tanpa suplementasi dan konsentrat tersuplementasi 75% tepung daun Waru dan 25% daun Bambu). Pemberian konsentrat sebanyak 2% dari bobot badan, sedangkan jerami diberikan secara adlibitum terkontrol. Peubah yang diamati meliputi kecepatan makan konsentrat pagi dan sore (kg BK/jam) dan lama ruminasi pakan (menit/hari). Data dianalisis menggunakan analisis variansi (ANAVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) apabila terdapat perbedaan nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis olahan jerami padi, suplementasi tepung daun Waru dan Bambu dalam konsentrat, serta interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) terhadap kecepatan makan konsentrat baik pagi atau sore serta lama ruminasi pakan pada sapi Bali. Disimpulkan bahwa penggunaan jenis olahan jerami padi dan faktor suplementasi tepung daun Waru dan Bambu dalam konsentrat belum mampu meningkatkan kecepatan makan konsentrat dan lama ruminasi pakan pada sapi Bali, serta kombinasi pakan antara jenis olahan jerami padi dengan konsentrat dasar atau konsentrat tersuplementasi tepung daun Waru dan Bambu belum mampu meningkatkan kecepatan makan konsentrat dan lama ruminasi pakan pada sapi Bali. | This study aimed to evaluate the effects of rice straw processing methods and supplementation of hibiscus leaf meal and bamboo leaf meal in the concentrate on concentrate eating rate and rumination time in Bali cattle. The research was conducted at UD Amanah Bata Farm, Karanggintung Village, Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency, Central Java Province. The experimental units consisted of 16 Bali bulls aged 20–24 months with initial body weights grouped into 211–218 kg, 222–234 kg, 252–269 kg, and 271–319 kg, with a coefficient of variation of 12.41%. The experimental design used was a factorial randomized block design (RBD) with a 2 × 2 arrangement. The first factor was the type of rice straw processing (untreated rice straw and ammoniated rice straw), and the second factor was supplementation of hibiscus leaf meal and bamboo leaf meal in the concentrate (unsupplemented concentrate and concentrate supplemented with 75% hibiscus leaf meal and 25% bamboo leaf meal). Concentrate was provided at 2% of body weight, while rice straw was offered ad libitum under controlled conditions. The observed variables included concentrate eating rate in the morning and afternoon (kg DM/hour) and rumination time (minutes/day). Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), followed by Duncan’s multiple range test when significant differences were detected. The results showed that the rice straw processing method, concentrate type, and their interaction had no significant effects (P>0.05) on the concentrate eating rate in both morning and afternoon feeding periods, as well as on rumination time in Bali cattle. It was concluded that the use of different rice straw processing methods and supplementation of hibiscus leaf meal and bamboo leaf meal in the concentrate was unable to improve concentrate eating rate or rumination time in Bali cattle, and that combinations of rice straw processing methods with either basal or supplemented concentrate was unable to improve concentrate eating rate and rumination time in Bali cattle. | |
| 49317 | 52104 | D1A022187 | PERBANDINGAN KUALITAS SEMEN BEKU DOMBA SAKUB UNSEXING DAN SEXING MENGGUNAKAN MEDIUM BSA | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pada semen beku domba Sakub unsexing dan sexing menggunakan medium BSA terhadap kualitas spermatozoa. Materi penelitian yang digunakan dari dua ekor domba Sakub berumur 2 tahun. Penelitian ini dirancang eksperimental yang terdiri dari dua kelompok perlakuan dengan 10 kali ulangan. Kelompok pertama (P0) merupakan kelompok semen beku unsexing dan kelompok kedua (P1) merupakan kelompok perlakuan semen beku sexing menggunakan medium BSA dengan konsentrasi 5:10 serta lama waktu inkubasi 45 menit. Variabel yang diamati yaitu motilitas dan abnormalitas pada tahap pasca ekuilibrasi dan pasca thawing. Analisis data dilakukan menggunakan uji-t tidak berpasangan (unequal). Hasil analisis statistik menyatakan motilitas dan abnormalitas semen beku unsexing dan sexing menggunakan medium BSA pasca thawing tidak terdapat perbedaan nyata (P>0,05), namun pada motilitas semen unsexing (P0) pasca ekuilibrasi terdapat perbedaan nyata (P<0,05) lebih tinggi daripada semen sexing (P1) masing-masing sebesar 61,5 ± 7,09 dan 54 ± 5,83. Disimpulkan bahwa semen beku domba Sakub unsexing dan sexing menggunakan medium BSA tidak terdapat perbedaan pada motilitas dan abnormalitas, dengan kualitas yang sama penggunaan semen sexing lebih dianjurkan untuk peningkatan populasi domba jantan. | This study aimed to determine whether differences exist in the spermatozoa quality of unsexed and sexed frozen semen of Sakub sheep processed using a BSA medium. The research material consisted of semen collected from two 2-year-old Sakub rams. The study was designed experimentally with two treatment groups and 10 replications. The first group (P0) consisted of unsexed frozen semen, while the second group (P1) consisted of sexed frozen semen processed with BSA medium at a concentration of 5:10 and an incubation time of 45 minutes. The observed variables included motility and abnormality at the post-equilibration and post-thawing stages. Data were analyzed using an unpaired t-test (unequal variance). Statistical analysis showed that post-thawing motility and abnormality of unsexed and sexed frozen semen did not differ significantly (P>0.05). However, post-equilibration motility of the unsexed semen (P0) was significantly higher (P<0.05) than that of the sexed semen (P1), with values of 61.5 ± 7.09 and 54 ± 5.83, respectively. It is concluded that no significant differences were observed in motility and abnormality between unsexed and sexed frozen semen of Sakub sheep processed with BSA medium. Given the comparable quality, the use of sexed semen is recommended to support the increase in male Sakub sheep population. | |
| 49318 | 52105 | C1A022087 | ANALISIS PENGARUH TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA, RATA-RATA LAMA SEKOLAH, KELUARGA PENERIMA MANFAAT BANTUAN SOSIAL, DAN HARGA PANGAN TERHADAP PREVALENSI KETIDAKCUKUPAN KONSUMSI PANGAN DI PROVINSI JAWA TIMUR | Prevalensi ketidakcukupan konsumsi yang diukur menggunakan indikator PoU menggambarkan proporsi penduduk dengan asupan energi berada di bawah kebutuhan minimum. Selama enam tahun, angka PoU Jawa Timur menunjukan adanya tren yang fluktuatif cenderung naik dan berada di atas rata-rata nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengaruh dari tingkat pengangguran terbuka, rata-rata lama sekolah, keluarga penerima manfaat bantuan sosial serta harga pangan terhadap prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan di Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi data panel dan dengan model terbaik yang terpilih yaitu Fixed Effect Model (FEM), serta pendekatan kuantitatif dengan analisis data sekunder yang bersumber dari publikasi lembaga atau instansi yang berkaitan dengan penelitian serta studi pustaka jurnal literatur. Penelitian ini dilakukan di 38 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur dari tahun 2019 – 2024. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat pengangguran terbuka dan keluarga penerima manfaat bantuan sosial berpengaruh positif signifikan terhadap prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan di Provinsi Jawa Timur. Kemudian rata-rata lama sekolah dan harga pangan tidak berpengaruh signifikan terhadap prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan di Provinsi Jawa Timur. Selain itu, hasil olah data menunjukan bahwa tingkat pengangguran terbuka, rata-rata lama sekolah, keluarga penerima manfaat bantuan sosial serta harga pangan secara bersama-sama mampu menjelaskan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan sebesar 82,72%. Implikasi kebijakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan adalah melalui peningkatan pendapatan rumah tangga serta perbaikan pola kebiasaan hidup masyarakat. Hal tersebut dilakukan dengan maksimalisasi investasi padat karya melalui pelatihan gratis bagi tenaga kerja lokal, serta link and match antar instansi. Selain itu, sinergi antar instansi juga diperlukan untuk memperkuat ketepatan sasaran bantuan sosial serta penguatan UMKM dalam mendukung kemandirian ekonomi bagi masyarakat di setiap wilayah terkait. | The prevalence of inadequate food consumption, as measured using the PoU indicator, reflects the proportion of the population whose energy intake falls below the minimum requirement. Over the past six years, East Java's PoU figures have shown a fluctuating and upward trend and more higher than the national average. This study aims to analyze the influence of the open unemployment rate, average years of schooling, families receiving social assistance benefits, and food prices on the prevalence of inadequate food consumption in East Java Province. This study uses panel data regression analysis, with the best model selected, the Fixed Effect Model (FEM), It also uses a quantitative approach with secondary data analysis sourced from publications from institutions or agencies related to the research, as well as journal literature reviews. The study was conducted in 38 districts/cities in East Java Province from 2019 to 2024. The results of this study showed that, the open unemployment rate and the families receiving social assistance benefits have a significant positive effect on the prevalence of inadequate food consumption in East Java Province. Then, the average years of schooling and food prices do not significantly affect on the prevalence of inadequate food consumption in East Java Province. Furthermore, data processing results indicate that the open unemployment rate, the average years of schooling, families receiving social assistance benefits, and food prices collectively explain 82.72% of the prevalence of inadequate food consumption. Policy implications that can be implemented to reduce the prevalence of inadequate food consumption include increasing household income and improving community lifestyle patterns, This can be done by maximizing investment in labor-intensive work through free training for local workers, as well as linking and matching between agencies. Furthermore, synergy between agencies is also needed to strengthen the accuracy of social assistance targeting and empower UMKMs in supporting economic independence for communities in each relevant region is crucial. | |
| 49319 | 52106 | J1C019040 | IDENTIFIKASI PENCAPAIAN GAMAN DALAM ANIME JUJUTSU KAISEN KARYA GEGE AKUTAMI | Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi untuk mengidentifikasi permasalahan penelitian yang dikaitkan dengan representasi pencapaian gaman dalam anime Jujutsu Kaisen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak karakter dalam Jujutsu Kaisen, seperti Yuji Itadori, menampilkan pencapaian gaman melalui pengembangan keterampilan bertarung, pengendalian emosi, dan solidaritas dengan rekan-rekan mereka. Temuan ini mengindikasikan bahwa anime Jujutsu Kaisen tidak hanya menyajikan aksi dan hiburan, tetapi juga menyampaikan beberapa point yang mengandung konsep Gaman seperti contohnya ada Todo Aoi yang menasehati Itadori Yuuji saat sedang terbawa emosi dan menyuruhnya untuk tenang dan berpikir dingin. Dengan demikian penelitian ini berkontribusi pada pemahaman konsep Gaman yang terdapat di Anime Jujutsu Kaisen telah terpenuhi. | This study employs a qualitative approach using content analysis to identify research problems related to the representation of gaman achievement in the anime Jujutsu Kaisen. The findings indicate that many characters in Jujutsu Kaisen, such as Yuji Itadori, demonstrate the attainment of gaman through the development of combat skills, emotional control, and solidarity with their comrades. These findings suggest that Jujutsu Kaisen not only presents action and entertainment but also conveys several elements that reflect the concept of gaman. For example, Todo Aoi advises Yuji Itadori when he is overwhelmed by emotion, encouraging him to remain calm and think clearly. Therefore, this study contributes to a deeper understanding of the concept of gaman as represented in the anime Jujutsu Kaisen | |
| 49320 | 52107 | C1C022049 | Pengaruh Financial Distress, Institutional Ownership, Audit Delay, dan Audit Tenure terhadap Auditor Switching (Studi pada Perusahaan Sektor Keuangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2022–2024) | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh financial distress, institutional ownership, audit delay, dan audit tenure terhadap auditor switching. Subjek penelitian ini adalah perusahaan sektor keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2022–2024. Periode penelitian 2022–2024 didasarkan pada kondisi pasca-pandemi Covid-19. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori atribusi dan teori agensi. Teori atribusi menjelaskan bahwa keputusan perusahaan dalam melakukan auditor switching dapat dipengaruhi oleh faktor internal, seperti financial distress dan institutional ownership, maupun faktor eksternal, seperti audit delay dan audit tenure. Teori agensi menjelaskan hubungan antara prinsipal dan agen yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan sehingga dibutuhkan auditor independen sebagai mekanisme pengawasan. Variabel financial distress diproksikan menggunakan Grover Score, institutional ownership diukur berdasarkan persentase kepemilikan saham institusi, audit delay diukur dari selisih waktu antara tanggal LAI dengan batas akhir penyampaian laporan keuangan (31 Maret), serta audit tenure diukur berdasarkan jumlah masa perikatan auditor. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Kriteria sampel yang digunakan meliputi: (1) perusahaan sektor keuangan yang terdaftar di BEI periode 2022–2024, (2) perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit secara lengkap dan berturut-turut selama periode penelitian, serta (3) perusahaan yang memiliki data lengkap terkait seluruh variabel penelitian. Berdasarkan kriteria tersebut, diperoleh 198 sampel yang digunakan dalam analisis penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu statistik deskriptif, uji multikolinearitas, dan analisis regresi logistik yang meliputi uji overall model fit, uji koefisien determinasi (Nagelkerke R Square), uji kelayakan model regresi logistik, matriks klasifikasi, dan uji hipotesis parsial. Hasil pengujian menunjukkan bahwa (1) financial distress berpengaruh negatif signifikan terhadap auditor switching, yang mengindikasikan bahwa perusahaan yang mengalami tekanan keuangan cenderung tidak mengganti auditor. (2) Institutional ownership, audit delay, serta audit tenure tidak berpengaruh positif signifikan terhadap auditor switching, yang mengindikasikan bahwa ketiga faktor tersebut tidak menjadi pertimbangan utama perusahaan dalam mengambil keputusan untuk mengganti auditor pada perusahaan sektor keuangan periode 2022–2024. | This research aims to analyze the effect of financial distress, institutional ownership, audit delay, and audit tenure on auditor switching. The research subjects are financial sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the 2022–2024 period. The 2022–2024 research period was selected to reflect post–COVID-19 pandemic conditions. This study applies attribution theory and agency theory. Attribution theory explains how a company’s decision to engage in auditor switching can be influenced by internal factors, such as financial distress and institutional ownership, as well as external factors, such as audit delay and audit tenure. Meanwhile, agency theory explains the relationship between principals and agents, which may give rise to conflicts of interest; therefore, an independent auditor is required as a monitoring mechanism. Financial distress is proxied by the Grover Score, institutional ownership is measured by the percentage of institutional share ownership, audit delay is measured by the time difference between the date of the Independent Auditor’s Report and the reporting deadline of March 31, and audit tenure is measured by the length of the auditor–client engagement period. This research employs a quantitative approach using purposive sampling. The sample selection criteria include: (1) financial sector companies listed on the IDX during the 2022–2024 period, (2) companies that published complete and consecutively audited annual financial statements throughout the research period, and (3) companies with complete data for all research variables. Based on these criteria, a total of 198 firm-year observations were obtained and used in the analysis. The data analysis techniques applied in this study include descriptive statistics, multicollinearity testing, and logistic regression analysis, which consists of the overall model fit test, coefficient of determination test (Nagelkerke’s R Square), logistic regression model feasibility test, classification matrix, and partial hypothesis testing. The results indicate that (1) financial distress has a significant negative effect on auditor switching, suggesting that companies experiencing financial difficulties tend not to change their auditors. (2) Institutional ownership, audit delay, and audit tenure do not have a significant positive effect on auditor switching, indicating that these factors are not the primary considerations for companies in deciding to change auditors in financial sector companies during the 2022–2024 period. |