Artikelilmiahs

Menampilkan 30.101-30.120 dari 50.081 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
3010133452G1A015028FENOMENA PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI PONDOK PESANTREN, STUDI DI PESANTREN MAHASISWA AN-NAJAH BATURRADEN KABUPATEN BANYUMASLatar Belakang: Komunitas santri di pesantren merupakan komunitas yang unik. Santri memiliki latar belakang sosial dan budaya yang berbeda-beda sehingga menghasilkan kebiasaan serta pola hidup yang khas. Kepadatan populasi di pondok pesantren juga sangat tinggi, hal tersebut merupakan salah satu faktor resiko penularan penyakit. Sebagaimana dengan komunitas lainnya, para santri juga memiliki hak yang sama akan pelayanan kesehatan serta berhak untuk sehat.
Tujuan: Untuk mengeksplorasi budaya perilaku hidup bersih dan sehat di pondok pesantren mulai dari pengetahuan, perilaku, serta pemahaman para santri akan konsep sehat dan konsep sakit.
Metode: Rancangan penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode fenomenologi. Pengambilan data pada penelitian ini dilakukan denan cara wawancara mendalam/in-depth intrerview, studi fenomenologi, dan Focus Group Discussion (FGD). Informan atau responden pada penelitian ini adalah para santri yang tinggal di pesantren mahasiswa An-Najah. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik sampling Non-Probabilitas sampling dengan jenis purposive sampling.
Hasil: Penelitian ini menemukan berbagai fenomena perilaku hidup bersih dan sehat santri di Pesantren Mahasiswa An-najah, mulai dari pengetahuan, perspektif akan sehat dan sakit, serta perilaku terkait hidup bersih dan sehat.
Kesimpulan: Pengetahuan santri terkait perilaku hidup bersih dan sehat cukup bagus. Untuk perilaku sehat terkait kesehatan pribadi cukup bagus, sangat berlawanan dengan perilaku sehat terkait lingkungan. Perspektif sehat serta sakit menurut para santri juga sangat subjektif.
Background: The santri community in pesantren is a unique community. Santri have different social and cultural backgrounds, its result typical habits and lifestyles. The population density in Islamic boarding schools is also very high, it is one of the risk factors for disease transmission. The santri community also have the same right to access health services and to be healthy like any other communities.
Objective: To explore the behaviour of clean and healthy living culture in Islamic boarding schools including the knowledge, behavior, and understanding of the santri about the concept of health and the concept of illness.
Methods: The design of the study was a qualitative research using phenomenological methods. Data collection in this study was carried out by means of in-depth interviews, phenomenological studies, and Focus Group Discussions (FGD). Informants or respondents in this study were the santri who have lived in the An-Najah student boarding school. Sampling in this study used a non-probability sampling technique with purposive sampling.
Results: This study obtained various phenomena of clean and healthy behavior of the santri at the An-Najah Islamic Boarding School, including from knowledge, perspectives on health and illness, and behaviors related to clean and healthy living.
Conclusion: The knowledge of the santri regarding clean and healthy living behavior was quite good. Especially healthy behavior related to personal health was quite good, it was opposite with healthy behavior related to the environment. The perspective of health and illness according to the santri were also very subjective.
3010233454I1B017049HUBUNGAN SELF-EFFICACY DENGAN PERILAKU MEMATUHI PROTOKOL KESEHATAN COVID-19 PADA LANSIA DI RW 03 DESA CILONGOK, KECAMATAN CILONGOK, BANYUMAS Latar Belakang: Lansia merupakan kelompok rentan terinfeksi COVID-19. Namun, mereka kurang mematuhi protokol kesehatan. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku adalah self-efficacy. Hasil studi pendahuluan menunjukkan, lansia dengan perilaku kurang patuh menunjukkan self-efficacy yang beragam. Peneliti bertujuan untuk mengetahui hubungan self-efficacy dengan perilaku mematuhi protokol kesehatan COVID-19.
Metodologi: Penelitian ini merupakan analisis korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan data menggunakan kuesioner data demografi, self-efficacy, dan perilaku mematuhi protokol kesehatan COVID-19. Analisis univariat digunakan untuk menganalisis karakteristik responden seperti jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan, status perkawinan, teman serumah, riwayat penyakit kronis, self-efficacy (variabel independent), dan perilaku mematuhi protokol kesehatan COVID-19 (variabel dependent). Analisis hubungan antara karakteristik responden dan variabel dependent menggunakan uji lambda, sedangkan variabel independent dan dependent mengunakan uji Somers’d.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan responden memiliki tingkat self-efficacy sedang (54,9%), memiliki perilaku kurang patuh (48,8%) dan patuh (51,2%). Hasil uji Somers’d menunjukkan terdapat hubungan positif yang signifikan antara self-efficacy dengan perilaku mematuhi protokol kesehatan COVID-19 (p<0,001; r=0,637).
Kesimpulan: Semakin tinggi self-efficacy maka semakin tinggi perilaku mematuhi protokol kesehatan COVID-19.
Background: Elderly are particularly vulnerable to infected COVID-19. However, they are less complying with health protocols. One of the factors that influence behavior is self-efficacy. Results of preliminary studies showed that elderly with less submissive behavior show diverse self-efficacy. The researcher aims to determine the relationship between self-efficacy and behavior compliance health protocols COVID-19.
Method: This research was a correlative analysis with a cross-sectional approach. Collecting data using a questionnaire on demographic data, self-efficacy, and behavior compliance health protocols COVID-19. Univariate analysis was used to analyze characteristics of respondents such as gender, last education, occupation, marital status, housemates, history of chronic illness, self-efficacy (independent variable), and behavior compliance health protocols COVID-19 (dependent variable). Analysis of the relationship between characteristics of respondents and the dependent variable used lambda test, while independent and dependent variable using Somers'd test.
Result: The results showed respondents had a moderate level of self-efficacy (54.9%), had less compliant behavior (48,8%), and submissive (51.2%). The Somers'd test shows had a significant positive relationship between self-efficacy and behavior compliance health protocols COVID-19 (p<0.001; r=0.637).
Conclusion: The higher of self-efficacy, the higher of behavior to comply with the COVID-19 health protocol.
3010333458I1D017002ANALISIS FAKTOR- FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP
KEJADIAN GIZI KURANG PADA BALITA DI DESA KARANGLEWAS
Latar Belakang: Balita merupakan kelompok rawan kekurangan gizi. Gizi
kurang adalah faktor risiko kesakitan dan kematian. Karanglewas merupakan
salah satu desa di Kabupaten Banyumas dengan angka kejadian gizi kurang pada
balita yang cukup tinggi (28,8%). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis
hubungan berat badan lahir, ASI eksklusif, usia pemberian MP-ASI, status ibu
bekerja, dan paritas terhadap kejadian gizi kurang pada balita di Desa
Karanglewas.
Metodologi: Penelitian dilaksanakan pada Februari-Juni 2021, dengan populasi
balita usia 6-59 bulan yang berdomisili di Desa Karanglewas. Metode penelitian
case-control study, dengan teknik pengambilan sampel total sampling untuk
kelompok kasus (balita gizi kurang) sebanyak 33 balita. Jumlah kelompok kontrol
(balita gizi baik) menyesuaikan kelompok kasus dengan kriteria matching usia
dan alamat tempat tinggal. Data status gizi, berat badan lahir, ASI eksklusif, usia
pemberian MP-ASI, status ibu bekerja, dan paritas dikumpulkan menggunakan
kuesioner dan dianalisis uji Chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%.
Hasil: Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan antara kejadian status gizi
kurang dengan usia pemberian MP-ASI (p=0,032; OR=0,302), serta tidak ada
hubungan antara kejadian gizi kurang dengan berat badan lahir (p=0,566), ASI
eksklusif (p=1,000), status ibu bekerja (p=0,032), dan paritas (p=0,592).
Kesimpulan: Usia pemberian MP-ASI meningkatkan resiko terhadap kejadian
gizi kurang sebesar 0,302. Berat badan lahir, ASI eksklusif, status ibu bekerja, dan
paritas bukan faktor risiko kejadian gizi kurang di Desa Karanglewas
Background: Toddlers are prone to malnutrition. Malnutrition is a risk factor for morbidity and mortality. Karanglewas is one of the villages in Banyumas Regency with a fairly high incidence of malnutrition in toddlers, which is 28.8%. The purpose of this study was to analyze the correlation of birth weight, exclusive breastfeeding, complementary feeding, mothers' employment status, and parity to the incidence of malnutrition in children under five in Karanglewas Village.
Methodology: The study was conducted in February-June 2021, with population of children aged 6-59 months who lived in Karanglewas Village. Total sampling technique were used for the case group (toddlers with malnutrition status) as many as 33 toddlers. The number of control group (toddlers with non-malnutrition status) adjusts to the case group according to age matching criteria and residential address. Data of nutritional status, birth weight, exclusive breastfeeding, age of complementary feeding, mothers' employment status, and parity were collected using a questionnaire and analyzed by Chi-square test with 95% confidence level.
Results: The results of study showed that there was a correlation between malnutrition and age of complementary feeding (p=0,032; OR=0,302), and there was no correlation between the incidence of malnutrition and birth weight (p=0,566), exclusive breastfeeding (p=1,000), mothers' employment status (p=0,592), and parity (p=0,592).
Conclusion: The age of giving complementary feeding increased the risk of malnutrition by 0.302. Birth weight, exclusive breastfeeding, mothers'
employment status, and parity are not risk factors for malnutrition in Karanglewas
Village.
3010433447F1B015068KEPUASAN MASYARAKAT PADA PELAYANAN PEMBUATAN KARTU TANDA PENDUDUK ELEKTRIK (E-KTP)
DI KECAMATAN DAYEUHLUHUR KABUPATEN CILACAP
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk menguji perbedaan tingkat kepuasan masyarakat pada pelayanan E-KTP di Kec. Dayeuhluhur Cilacap. Penelitian ini menggunakan teknik convenience sampling dari masyarakat di 14 Desa yang ada di Kecamatan Dayeuhluhur yang telah melakukan perekaman pembuatan e-KTP sebanyak 38.057 populasi dengan sampel 382 sampel orang. Teknik pengumpulan data menggunakan survei dengan menyebarkan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda dengan SPSS 22.
Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan kepuasan ditinjau dari jenis kelamin, sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat kepuasan masyarakat laki-laki dan perempuan di Kec. Dayeuhluhur Cilacap ada dasarnya berbeda. Tidak terdapat perbedaan kepuasan ditinjau dari umur, sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat kepuasan masyarakat usia muda dan dewasa di Kec. Dayeuhluhur Cilacap pada dasarnya sama. Terdapat perbedaan kepuasan ditinjau dari pendidikan, sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat kepuasan masyarakat dengan pendidikan Sarjana atau selain Sarjana di Kec. Dayeuhluhur Cilacap ada dasarnya berbeda. Tidak terdapat perbedaan kepuasan ditinjau dari pekerjaan, sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat kepuasan masyarakat PNS maupun Non PNS di Kec. Dayeuhluhur Cilacap ada dasarnya sama.
Kata kunci: Kepuasan Masyarakat, Pelayanan E-KTP, Uji Beda, Independen Sample T-Test
This research is a quantitative descriptive study that aims to examine differences in the level of community satisfaction with E-KTP services in the district. Dayeuhluhur Cilacap. This study used a convenience sampling technique from the community in 14 villages in Dayeuhluhur District who recorded 38,057 populations of e-KTPs with a sample of 382 people. The data collection technique used a survey by distributing questionnaires as a research instrument. The data analysis technique in this study used multiple linear regression analysis with SPSS 22.
The results showed that there are differences in satisfaction in terms of gender, so it can be said that the level of satisfaction of men and women in the district. Dayeuhluhur Cilacap has a different basis. There is no difference in satisfaction in terms of age, so it can be said that the level of satisfaction of the young and adult people in the district Dayeuhluhur Cilacap is basically the same. There are differences in satisfaction in terms of education, so it can be said that the level of community satisfaction with undergraduate or non-graduate education in the district Dayeuhluhur Cilacap has a different basis. There is no difference in satisfaction in terms of work, so it can be said that the level of satisfaction of the civil servants and non civil servants in the district Dayeuhluhur Cilacap has the same basis.
Keywords: Community Satisfaction, E-KTP Service, Difference Test, Independent Sample T-Test
3010533455I1A016111Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di Sekolah Menengah Atas Pramita Kota Tangerang Latar Belakang: Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/ atau mempromosikan produk tembakau. Upaya sekolah untuk mengimplementasikan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di sekolah belum optimal dijalankan secara baik, dimana berdasarkan observasi masih diketemukan puntung rokok di lingkungan sekolah khususnya di toilet sekolah dan juga tempat parkir. Terkait dengan penerapan kawasan tanpa rokok, sekolah juga belum membentuk tim monitoring penerapan kawasan tanpa rokok, sehingga penegakan Peraturan Daerah masih berupa peringatan lisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Implementasi Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di SMA Pramita Kota Tangerang.
Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan Studi Kasus. Informan utama dalam penelitian ini adalah Kepala SMA Pramita Kota Tangerang, Siswa, dan Guru BK, serta Informan Pendukung pada Penelitian ini adalah Guru dan Staff TU dengan menggunakan teknik Purposive sampling yaitu dengan pengambilan data dengan pertimbangan tertentu. Data penelitian didapat melalui wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi. Data dianalisis dengan menggunakan teknik Content Analysis dimana agar tercapainya sebuah tujuan pada suatu kebijakan.
Hasil Penelitian: SMA Pramita Kota Tangerang belum maksimal melakukan sosialisasi terkait implementasi Peraturan Daerah Kota Tangerang No. 5 tahun 2010 tentang Kawasan Tanpa Rokok di SMA Pramita Kota Tangerang. Selain itu, pihak sekolah juga tidak memiliki sumber daya khusus, tidak membuat disposisi khusus untuk penerapan Kawasan tanpa rokok dan sanksi pelanggaran, serta belum membentuk komite atau kelompok kerja pelaksana KTR di sekolah.

Simpulan: Secara keseluruhan komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur organisasi tentang Peraturan Daerah Kota Tangerang No. 5 tahun 2010 tentang Kawasan Tanpa Rokok di SMA Pramita Kota Tangerang belum dilaksanakan dengan baik. Sehingga Sekolah SMA Pramita harus lebih meningkatkan penerapan Kawasan Tanpa Rokok di sekolah seperti menambah sarana dan prasarana yang mendukung dan menetapkan sanksi yang tega terhadap pelanggar peraturan agar penerapan KTR tersebut berjalan efektif.
Background: No smoking areas are rooms or areas that are declared prohibited from smoking or activities that produce, sell, advertise, and / or promote tobacco products. School efforts to implement No Smoking Areas (KTR) in schools have not been optimally implemented, where Based on observations, cigarette butts are still found in the school environment, especially in school toilets and parking lots. Regarding the application of smoke-free areas, schools have also not formed a monitoring team for the application of smoke-free areas, so enforcement of the Perda is still in the form of verbal warnings. This study aims to determine the implementation of the No Smoking Area (KTR) Policy in SMA Pramita, Tangerang City.
Methods: This study uses qualitative research with a case study approach. The main informants in this study were the Principal of SMA Pramita Tangerang City, Students, and Counseling Teachers, as well as Supporting Informants in this study were Teachers and Administrative Staff using purposive sampling technique, namely by taking data with certain considerations. Research data obtained through in-depth interview, document review and observation. Data were analyzed using Content Analysis technique in order to achieve a goal in a policy.
Results: SMA Pramita Kota Tangerang City has not maximally conducted socialization related to the implementation of Tangerang City Regional Regulation No. 5 of 2010 concerning the No Smoking Area in SMA Pramita, Tangerang City. In addition, the school also does not have special resources, does not make a special disposition for the latest application of smoke-free areas and sanctions for violations, and has not formed a committee or working group for implementing KTR in schools.
Conclusion: Overall communication, resources, disposition and organizational structure regarding Tangerang City Regional Regulation No. 5 of 2010 concerning No-Smoking Area in Pramita High School, Tangerang City, has not been implemented properly. Therefore the Pramita High School must Further improve the application of the No Smoking Area in schools such as adding supporting facilities and infrastructure and setting strong sanctions against violators of the rules therefore the implementation of the KTR is effective
3010633285J0A017014Menerjemahkan E-book Berjudul Positive Thinking For Beginners Karya Lisa Edwards Laporan tugas akhir ini yaitu menerjemahkan E-book berjudul “Positive Thinking For Beginners” karya Lisa Edwards dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia . Tujuan dipilihnya E-book tersebut untuk mengingat akan pentingnya berpikir positif yang berpengaruh pada kesehatan mental. Hal tersebut dilandasi oleh Data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2018), prevalensi gangguan jiwa yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 6.1% dari jumlah penduduk Indonesia.
Metode penelitian ini yaitu menggunakan studi pustaka yang diperoleh dengan browsing di internet, membaca berbagai literatur, hasil kajian dari peneliti terdahulu, catatan perkuliahan, serta sumber-sumber lain yang relevan, dan metode praktik langsung yaitu menerapkan beberapa teknik penerjemahan seperti Adaptasi, Deskripsi, Padanan Lazim, Peminjaman yang dinaturalisasi, Peminjaman Murni dan Penerjemahan Harfiah. Secara keseluruhan teks pada E-book menggunakan kalimat sehari-hari sehingga mudah untuk dipelajari oleh semua kalangan sekaligus ajakkan bagi siapapun agar senantiasa berpikir positif.
This final report is translating an E-book entitled "Positive Thinking For Beginners" by Lisa Edwards from English to Indonesian. The purpose of choosing the E-book is to remember the importance of positive thinking which affects mental health. This is based on the Basic Health Research Data (Riskedas) from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia (2018), the prevalence of mental disorders as indicated by symptoms of depression and anxiety for ages 15 years and over reaches around 6.1% of the total population of Indonesia.
This research method is using a literature study obtained by browsing the internet, reading various literatures, the results of studies from previous researchers, lecture notes, and other relevant sources, and direct practice methods, namely applying several translation techniques such as Adaptation, Description, Establish equivalence, Pure naturalized, Pure Borrowing and Literal Translation. Overall the text in the E-book uses everyday sentences so that it is easy to learn by all groups as well as invites anyone to always think positively.
3010733456E1A017382PERLINDUNGAN HUKUM TENAGA MEDIS
DALAM PELAYANAN TELEMEDICINE

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sinkronisasi pengaturan dan bentuk perlindungan hukum tenaga medis dalam pelayanan telemedicine. Metode penelitian yang digunakan adalah metode yuridis normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan (Statute Approach), pendekatan analitis (Analitical Aproach), dan pendekatan konseptual (Conseptual Approach). Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah inventarisasi hukum positif, sinkronisasi hukum dan penemuan hukum in concreto. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan mengenai perlindungan hukum tenaga medis dalam pelayanan telemedicine telah menunjukkan adanya sinkronisasi. Artinya, peraturan yang memiliki derajat yang lebih rendah tidak saling bertentangan dengan peraturan yang memiliki derajat yang lebih tinggi. Bentuk perlindungan hukum tenaga medis dalam pelayanan telemedicine meliputi: jaminan pengaturan memperoleh imbalan jasa; jaminan pengaturan tenaga medis pemberi konsultasi menerima informasi medis dengan menggunakan transmisi elektronik untuk menjawab konsultasi dan/atau memberi Expertise; jaminan pengaturan tenaga medis peminta konsultasi memperoleh jawaban konsultasi dan/atau menerima Expertise sesuai standar; jaminan pengaturan tenaga medis peminta konsultasi menerima informasi yang benar, jelas, dapat dipertanggungjawabkan, dan jujur mengenai hasil konsultasi dan/atau Expertise; jaminan pengaturan memperoleh perlindungan hukum; jaminan pengaturan memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional; jaminan pengaturan memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; jaminan pengaturan memperoleh rasa aman, keadilan dan kepastian hukum; jaminan pengaturan memperoleh hak sebagai penyelenggara informasi elektronik.This research aims to find out the synchronization of regulations and forms of legal protection of medical personnel in telemedicineservices. The research methods used are normative juridical methods withstatuteapproach methods, analytical approaches(analitical aproach),and conceptual approaches (conseptual approach). The research specifications used are positive legal inventory, legal synchronization and legal discovery in concreto. The type of data used in this study is secondary data obtained from literature studies. The results showed that regulations regarding the legal protection of medical personnel in telemedicine services have shown synchronization. That is, rules that have lower degrees do not conflict with rules that have higher degrees. Forms of legal protection of medical personnel in telemedicine services include: guarantee of arrangements to obtain service rewards; guarantees of arrangements for medical personnel consulting providers to receive medical information using electronic transmissions to answer consultations and/or provide expertise; assurance of the arrangement of medical personnel consulting requesters obtain consultation answers and / or receive Expertise in accordance with standards; guarantees of arrangements of medical personnel consulting requesters receive correct, clear, accountable, and honest information about the results of consultations and / or Expertise; guarantees of arrangementsto obtain legal protection; guarantees of arrangements providing medical services according to professional standards and standards of operational procedures; guarantees of arrangements to obtain complete and honest information from patients or their families; guarantees of arrangements to obtain a sense of security, fairness and legal certainty; guarantees of arrangements to obtain rights as electronic information organizers.
3010833105I1B017056Hubungan antara Konsep Diri dengan Kepatuhan Berobat pada Lansia Hipertensi di Puskesmas Wanadadi 2 BanjarnegaraLatar Belakang : Menjadi lansia merupakan proses yang alami akibat dari penuaan. Perubahan fisik yang terjadi pada lansia akan menyebabkan konsep dirinya terganggu. Apabila konsep diri terganggu, maka akan menyebabkan faktor-faktor lainnya juga terganggu seperti gangguan perawatan diri yang mempengaruhi kepatuhannya dalam berobat secara rutin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan kepatuhan berobat pada lansia hipertensi.
Metode : Penelitian kuantitatif dengan jumlah sampel 56 lansia hipertensi di Puskesmas Wanadadi 2 menggunakan teknik consecutive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dengan analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Fisher Exact.
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memiliki rentang usia 60-82 tahun yang lebih banyak diderita oleh responden perempuan. Sebagian besar responden bersekolah sampai tingkat SD dan bekerja sebagai wirausaha dan ibu rumah tangga. Mayoritas responden memiliki riwayat penyakit hipertensi selama ≤ 5 tahun. Hasil analisis bivariat menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang berarti terdapat hubungan bermakna antara konsep diri dengan kepatuhan berobat pada lansia hipertensi.
Kesimpulan : Terdapat hubungan yang bermakna antara konsep diri dengan kepatuhan berobat pada lansia hipertensi di Puskesmas Wanadadi 2.
Background : Being old is a natural ageing process. Physical changes occur and may disturb elderly self-concept. Disruption of the self-concept can influence other factors, such as self-care ability that may affect medical check-up compliance. This study aims to determine the relationship between self-concept and medical check-up compliance among elderly with hypertension.
Methods : A Quantitative research invited 56 elderlies with hypertension at Puskesmas Wanadadi 2 as samples. A consecutive sampling technique was applied. A set of questionnaires used during data collection. Hypothesis was tested on the Fisher Exact test.
Results : The results showed that the respondents had an age range of 60-82 years, which mostly suffered by female respondents. Most of the respondents attend school up to elementary school and work as entrepreneurs and housewives. The majority of respondents had a history of hypertension for ≤ 5 years. The results from the bivariate analysis shows a significance value is 0,000 which means there is a relationship between self-concept and medical check-up compliance in the elderly with hypertension.
Conclusion : There is a relationship between self-concept and medical check-up compliance among elderlies with hypertension at Puskesmas Wanadadi 2.
3010933459I1A017101ANALISIS HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN TUBERKULOSIS DENGAN KEPATUHAN BEROBAT PASIEN TUBERKULOSIS DI WILAYAH PEDESAAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2019
(Studi Kasus di Puskesmas Kawasan Pedesaan Kabupaten Banyumas)
Latar belakang:
Tingginya angka kasus Tuberkulosis (TB), khususnya di wilayah pedesaan masih belum bisa teratasi sepenuhnya. Hal ini dapat dilihat dari besarnya angka keberhasilan pengobatan di wilayah pedesaan (95,26%) yang lebih rendah dibandingkan wilayah perkotaan Kabupaten Banyumas tahun 2019 yang sudah mencapai angka 100%. Angka keberhasilan pengobatan dapat dipengaruhi oleh kepatuhan berobat pasien. Salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan berobat adalah kualitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui hubungan kualitas pelayanan kesehatan terhadap kepatuhan berobat pasien TB, khususnya di wilayah pedesaan.

Metode : Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional dan teknik pengambilan sampel proportional random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara kepada responden yaitu penderita TB yang berobat pada tahun 2019 di Puskesmas Cilongok I, Puskesmas Cilongok II, Puskesmas Pekuncen, Puskesmas Gumelar, Puskesmas Lumbir, Puskesmas Jatilawang, Puskesmas Purwojati, Puskesmas Rawalo, dan Puskesmas Kebasen sebanyak 188 responden. Variabel penelitian yaitu kualitas pelayanan tuberkulosis, ketersediaan layanan TB, komunikasi dan informasi, interaksi dan konseling, informasi hubungan TB-HIV, infrastruktur puskesmas, kompetensi professional, kemampuan finansial, bantuan penunjang pengobatan, stigma, dan kepatuhan berobat. Analisis data yang dilakukan adalah univariat dan bivariat.

Hasil penelitian: Hasil bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara kualitas pelayanan TB (p-value 0,000), ketersediaan layanan TB (p-value 0,000), komunikasi dan informasi (p-value 0,000), interaksi dan konseling (p-value 0,018), infrastruktur (p-value 0,000), kompetensi profesional (p-value 0,007), dan stigma (p-value 0,001) dengan kepatuhan berobat pasien TB

Kesimpulan: Terdapat hubungan antara kualitas pelayanan TB, ketersediaan layanan TB, komunikasi dan informasi, interaksi dan konseling, infrastruktur, kompetensi profesional, dan stigma dengan kepatuhan berobat pasien TB

Kata kunci: Tuberkulosis, Kualitas Pelayanan, Kepatuhan Berobat, Pedesaan
Background: High number of tuberculosis case, especially in rural area, still became health issue that have not found the solution yet. This can be seen from the large Success Rate in rural areas (95.26%) which is lower than the urban areas of Banyumas Regency in 2019 which has reached 100%. The success rate of treatment can be determined by the patient's medication adherence. One of the factors that influence medication adherence is the quality of health services. This research is important to evaluate the improvement of the quality of health services and adherence to treatment for TB patients, especially in rural areas.

Methods: This type of research is quantitative with a Cross Sectional approach and proportional random sampling sampling technique. Where the data were collected using interviews with questionnaires to the respondents of this study were tuberculosis patients who were treated in 2019 at Puskesmas Cilongok I, Puskesmas Cilongok II, Puskesmas Pekuncen, Puskesmas Gumelar, Puskesmas Lumbir, Puskesmas Jatilawang, Puskesmas Puskesmas Purwojati, Puskesmas Rawalo, and Puskesmas Kebasen with total respondent is 188. The research variables were tuberculosis service quality, tuberculosis service availability, communication and information, interaction and counseling, infrastructure, profesional competence, affordability, treatment support, and stigma Data analysis performed was univariate and bivariate.

Research results: Bivariate data analysis result shown that tuberculosis service quality (p-value 0.000), tuberculosis service availability (p-value 0.000), communication and information (p-value 0.000), interaction and counseling (p-value 0.018), TB-HIV Relationship, infrastructure (p-value 0.000), profesional competence (p-value 0.007) and stigma (p-value 0.001) have significant effect to tuberculosis patient obedience.

Conclusion: It has been observed that tuberculosis service quality, tuberculosis service availability, communication and information, interaction and counseling, infrastructure, profesional competence and stigma have significant effect to tuberculosis patient obedience.

Keywords: Tuberculosis, Service Quality, Patient Obedience, Rural Area
3011033461I1A017099PENGARUH FAKTOR INTERNAL TERHADAP PRODUKTIVITAS PEKERJA WANITA BAGIAN GUNTING DI PT. HYUPSUNG PURBALINGGALatar Belakang: Produktivitas menjadi salah satu indikator penting penentu keberhasilan perusahaan. Faktor internal yang mempengaruhi produktivitas diantaranya tingkat pendidikan, motivasi kerja, keterampilan, disiplin kerja dan status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor internal terhadap produktivitas pekerja wanita bagian gunting di PT. Hyupsung.

Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan studi cross sectional. Populasi dalam penelitian sebanyak 185 pekerja wanita bagian gunting dengan jumlah sampel sebanyak 70 pekerja. Variabel yang diteliti adalah tingkat pendidikan, motivasi kerja, keterampilan dan status gizi. Analisis dalam penelitian ini meliputi analisis univariat, bivariat dan multivariat.

Hasil Penelitian: Motivasi kerja, keterampilan dan status gizi memiliki pengaruh terhadap produktivitas pekerja wanita bagian gunting di PT. Hyupsung dengan nilai Odd ratio masing-masing 6,076; 18,814 dan 21,524. Status gizi (p-value 0,001; OR=21,524) menjadi variabel yang paling berpengaruh terhadap produktivitas pekerja wanita bagian guting di PT. Hyupsung.

Kesimpulan: Faktor internal yang paling berpengaruh terhadap produktivitas pekerja wanita bagian gunting PT. Hyupsung adalah status gizi.

Saran: Pekerja dapat lebih memperhatikan status gizi tubuh dengan memperbanyak berolahraga dan meningkatkan pengetahuan diri akan pentingnya gizi bagi tubuh.
Background: The productivity was one of important indicator determining for the success of the company. Internal factors that can affected productivity such as level of education, work motivation, skill, work discipline and nutritional status. The reaserch aims to determine the affect of internal factors on women workers productivity in scissors section at PT. Hyupsung.

Methods: This research is quantitative researchers and uses cross sectional metode. The Population on this research was 185 women workers in scissors section with involve 70 workers for the sampel. The variables for this research are level of education, work motivation, skill and nutritional status. Analysis for this research including univariate, bivariate and multivariate.

Results: Work motivation, skill and nutritional status have affected for the productivity of women workers in scissors section at PT. Hyupsung with odd ration each of 6,076; 18,814 and 21,524. Nutritional status (p-value 0,001; OR=21,524) has tobe the most affected variabel for the productivity of women workers in scissors section at PT. Hyupsung.

Conclusion: The most affected variabel on women workers productivity at PT. Hyusung was nutritional status.

Suggestion: The workers can pay more attention for their nutritional status including by increrasing exercising and can enhance knowledge how importation nutrition for the body.

Keywords: Productivity, Nutritional Status, Skills, Motivation.
3011133462I1A017034FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KELUHAN SUBJEKTIF KELELAHAN MATA PADA PEKERJA BAGIAN GUNTING UNIT CEMPAKA DI PT. ROYAL KORINDAHLatar Belakang: Kelelahan mata merupakan gangguan pengelihatan yang disebabkan oleh penggunaan mata untuk melihat jarak dekat dalam waktu yang lama. Proses gunting bulu mata berisiko menyebabkan kelelahan mata karena mata selalu berakomodasi kuat dan fokus terhadap objek. Tujuan penelitian adalah untuk meneliti faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keluhan subjektif kelelahan mata pada pekerja bagian gunting unit cempaka di PT. Royal Korindah.
Metode: Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan pendeketan cross sectional. Populasi dan sampel adalah seluruh karyawan bagian gunting bulu mata PT. Royal Korindah unit cempaka sebanyak 67 orang (total sampling). Pengumpulan data menggunakan wawancara dengan kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi square dan uji regresi logistik.
Hasil Penelitian: Variabel yang berhubungan adalah kelainan refraksi (0,007), jarak mata ke objek (0,000) dan pencahayaan (0,000). Variabel yang tidak berhubungan adalah usia (0,789), riwayat penyakit (0,956) dan masa kerja (0,684). Variabel yang berpengaruh adalah pencahayaan (OR = 8,451) dan jarak mata ke objek (OR = 7,599).
Simpulan: Variabel yang paling berpengaruh adalah pencahayaan dengan (OR = 8,451).
Saran: Bekerja dengan jarak mata ke objek > 30 cm, menambah daya dan jumlah lampu agar intensitas pencahayaan di bagian gunting bulu mata sesuai standar pencahayaan (minimal 300 lux).
Backgrounds: Eye fatigue is a visual impairment caused by using the eyes to see close distances for a long time. The eyelash cutting process causes eye fatigue because the eye tries to always accommodate strongly and focus on the object. The purpose of this study was to determine the factors that influence subjective complaints of eye fatigue among workers in the cutting section cempaka unit at PT. Royal Korindah.
Methods: This research was observational analytic using cross sectional approach. Population and sample in this research are 67 workers on eyelash cutting section cempaka unit PT. Royal Korindah (with total sampling techniques). Research instrument was interview with questionnaire. Data analysis using chi square test and regression binary logistic test
Result: Variables that have correlation are refraction disorders (0,007), eye distance to object (0,000) and lighting (0,000). Variables that not have correlation are age (0,059), temperature (0,164), and lighting (0,289). Variable that influence are lighting (OR = 8,451) eye distance to object (OR = 7,599).
Conclusion: The most influence variable is lighting (OR = 8,451).
Suggestion: Working with eye to object distance > 30 cm, increase the lighting intensity in the eyelash cutting section is up to standard lighting (minimum 300 lux).
3011233480I1C017069FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN NANOEMULSI EKSTRAK ETANOL DAUN NAGASARI (Mesua ferrea L.)TERHADAP Pseudomonas aeruginosaNagasari (Mesua ferrea L.) merupakan tanaman yang memiliki senyawa metabolit sekunder flavonoid, tanin, dan terpenoid yang kurang baik ketika diabsorbsi sehingga dibuat dalam sediaan nanoemulsi. Daun nagasari memiliki potensial antibakteri P. aeruginosa. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi ko-surfaktan PEG 400 terhadap sifat fisik dan stabilitas fisik sediaan nanoemulsi dan aktivitas antibakteri nanoemulsi ekstrak etanol daun nagasari terhadap P. aeruginosa.
Pembuatan nanoemulsi menggunakan metode emulsifikasi dengan sonikator. Nanoemulsi diformulasikan menjadi 3 formula dengan variasi kadar PEG 400 1%, 3%, 5%. Selanjutnya diuji sifat fisik dan stabilitas yaitu organoleptis, pH, kelarutan, tipe emulsi, persen transmitan, ukuran partikel, zeta potensial dan daya sebar. Formula terpilih (FI) diuji aktivitas antibakteri dengan metode difusi sumuran. Data yang diperoleh dianalisis dengan statistika ANOVA dan LSD.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar PEG 400 menurunkan pH. Formula I diuji antibakteri karena zeta potensial yang mendekati pada rentang yang dipersyaratkan dengan daya hambat bakteri sebesar 18,35 mm . Variasi konsentrasi ko-surfaktan PEG 400 tidak mempengaruhi stabilitas tetapi mempengaruhi sifat fisik pH nanoemulsi. Formula I memiliki kriteria daya hambat antibakteri Psedomonas aeroginosa termasuk kuat

Nagasari (Mesua ferrea L.) is a plant which has not well absorbed secondary metabolite compounds flavonoid, tanin, and terpenoid so it is made in nanoemulsion preparations. Nagasari leaves have antibacterial potential of P. aeruginosa. The purpose of this study was to determine the effect of variations in the concentration of co-surfactant PEG 400 on the physical properties of nanoemulsion preparations and the antibacterial activity of the ethanol extract of Nagasari leaves against P. aeruginosa. Preparation of nanoemulsion using emulsification method with sonicator. The nanoemulsion was formulated into 3 formulas with varying levels of PEG 400 (1%, 3%, 5%). Furthermore, the physical and solution properties were tested, namely organoleptic, pH, type of emulsion, percent transmittance, particle size, zeta potential and dispersion. Selected formula (FI) was tested for antibacterial activity by well diffusion method. The data obtained were analyzed by ANOVA and LSD.The results showed that increasing levels of PEG 400 increased the zeta potential and decreased pH. Formula I was tested for antibacterial because the zeta potential was close to the required range, with a bacterial inhibition of 18.35 mm. Variations in the concentration of co-surfactant PEG 400 did not affect the physical properties increased the zeta potential and decreased pH. Formula I has criteria for antibacterial inhibition of Psedomonas aeroginosa including strong
3011333500E2A019011Efektivitas Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga Nomor 2 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Anak di Kabupaten PurbalinggaABSTRAK
Pemerintah memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk menyelenggarakan perlindungan korban kekerasan berbasis gender dan anak sebagaimana diatur dalam Pasal 9 dan Lampiran Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam rangka untuk melaksanakan kewenangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Purbalingga membentuk Peraturan Daerah Kabupaten Purbalingga Nomr 2 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Anak di Kabupaten Purbalingga. Peraturan Daerah ini mengatur penyelenggaraan Perlindungan Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Anak melalui upaya pencegahan dan perlindungan yaitu pelayanan pengaduan, pelayanan bantuan hukum, pelayanan medis, pelayanan pemulangan dan reintegrasi sosial, rehabilitasi sosial serta partisipasi masyarakat yang dilaksanakan oleh pusat pelayanan terpadu dan unit pusat pelayanan teradu tingkat kecamatan. Pusat pelayanan terpadu dan unit pusat pelayanan terpadu kecamatan mentaati untuk melaksanakan tugas sebagaimana diatur dalam Pasal 9 dan Pasal 19 Daerah Kabupaten Purbalingga Nomor 2 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Korban Kekerasan Berbasis Gender dan Anak meski tidak secara secara optimal karena belum didukung anggaran dan sarana prasarana yang memadai, penegak hukum yang belum berprespektif gender, masih kurangnya sosialisasi kepada masyarakat terkait perda tersebut, serta budaya patriarki yang mengakar kuat dalam masyarakat.
Kata kunci: Kewenangan, Penyelenggaraan Perlindungan Korban Kekerasan
ABSTRACT
Government bestows authority to regional governments to provide protection for victims of gender-based violence and children as regulated in Article 9 and Attachment of Law Number 23 of 2014 concerning Regional Government. In order to carry out this authority, the Purbalingga Regency Government established Purbalingga Regency Regional Regulation No. 2 of 2017 concerning Protection of Victims of Gender-Based Violence and Children in Purbalingga Regency. This Regional Regulation regulates the implementation of Gender-based Violence Victims Protection and child protection through prevention and protection efforts, namely complaint services, legal aid services, repatriation and social integration services, social rehabilitation and community participation established by service centers and integrated service center units at the sub-district level. The integrated service center and the sub-district integrated service center unit obey to carry out the tasks as stipulated in Article 9 and Article 19 of the Purbalingga Regency Number 2 of 2017 concerning the implementation of the Protection of Gender-Based Violence and Children, although not optimally because it has not been supported by sufficient budget and infrastructure, law enforcers who do not have a gender perspective, there is still a lack of socialization to the community regarding the regulation. On the other hand,patriarchal culture is deeply rooted in society.
Keywords: Authority, Implementation of Protection for Victims of Violence
3011433463I1B017068Pengaruh Peer Counselor Terhadap Sikap Berpacaran Remaja Kelas XI di SMK Kesatrian PurwokertoLatar Belakang : Masa remaja merupakan masa peralihan individu dari tahap sebelumnya yaitu tahap anak-anak menuju tahap selanjutnya yaitu tahap dewasa. Remaja sekarang banyak yang menyalahgunakan pertemanan dengan ikatan khusus (pacaran). Hal tersebut dimungkinkan dapat terjadinya penyimpangan seksual. Pengaruh yang diduga menjadi pengaruh terbesar terhadap perilaku berpacaran remaja adalah pengaruh dari budaya yang ada di lingkungan seperti teman sebaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh peer counselor terhadap sikap berpacaran remaja kelas XI di SMK Kesatrian Purwokerto.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain pre-experimen, one group pre test-post test. Responden penelitian ini berjumlah 32 remaja kelas XI yang bersekolah di SMK Kesatrian Purwokerto. Penelitian ini menggunakan kuisioner berskala Linkert. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon.
Hasil : Hasil analisa bivariat menggunakan Wilcoxon menunjukkan bahwa ada pengaruh peer counselor terhadap sikap berpacaran remaja kelas XI di SMK Kesatrian Purwokerto yaitu, p value = 0,000 < α = 0,05.
Kesimpulan : Ada pengaruh peer counselor terhadap sikap berpacaran remaja kelas XI di SMK Kesatrian Purwokerto.
Background : Adolescence is a period of individual transition from the previous stage, namely the childhood stage, to the next stage, namely the adult stage. Many teenagers today abuse friendship with a special bond (dating). It is possible for sexual deviation to occur. The influence that is thought to be the biggest influence on adolescent dating behavior is the influence of the culture in the environment such as peers. This study aims to determine the effect of peer counselors on the dating attitudes of class XI teenagers at SMK Kesatrian Purwokerto.
Methods : This research is a quantitative study with a pre-experimental design, one group pre-test-post test. The respondents of this study were 32 teenagers of class XI who attended SMK Kesatrian Purwokerto. This study used a Linkert scale questionnaire. Data analysis using Wilcoxon test.
Result : The results of the bivariate analysis using Wilcoxon showed that there was an influence of peer counselor on the dating attitude of class XI teenagers at SMK Kesatrian Purwokerto, namely, p value = 0,000 < α = 0,05.
Conclusion : There is an influence of peer counselor on the dating attitude of class XI teenagers at SMK Kesatrian Purwokerto.
3011533464I1A017035HUBUNGAN FAKTOR INDIVIDU DAN LINGKUNGAN FISIK DENGAN
KEJADIAN SICK BUILDING SYNDROME (SBS) PADA KARYAWAN
BAGIAN PACKING PT. HYUP SUNG INDONESIA
Latar Belakang: Sick Building Syndrome (SBS) adalah peristiwa munculnya sindrom
karena seseorang berada terlalu lama di dalam bangunan dengan gejala yang tidak
spesifik. Karyawan yang bekerja dalam ruangan ber AC berisiko mengalami SBS.
Gedung PT. Hyup Sung Indonesia bagian packing merupakan model gedung tertutup
yang menggunakan pendingin ruangan (AC) sehingga berpotensi untuk menimbulkan
SBS. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan faktor individu dan faktor
lingkungan fisik terhadap kejadian SBS pada karyawan bagian packing PT. Hup Sung
Indonesia.
Metode: Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan pendeketan cross
sectional. Populasi penelitian adalah 47 karyawan bagian packing, sampel penelitian
adalah 47 orang (total sampling). Analisis data yang digunakan yaitu uji Chi Square.
Hasil Penelitian: Variabel yang berhubungan adalah jenis kelamin (0,000), psikososial
(0,038), masa kerja (0,001), dan kelembaban (0,023). Variabel yang tidak berhubungan
adalah usia (0,059), suhu (0,164), dan pencahayaan (0,289).
Simpulan: Variabel yang berhubungan adalah jenis kelamin, psikososial, masa kerja,
dan kelembaban.
Saran: Pekerja melakukan peregangan di sela-sela ketika bekerja maupun pada saat
jam istirahat agar tubuh tidak terlalu lelah sehingga mudah mengalami SBS. Pengelola
PT. Hyupsung sebaiknya menciptakan kondisi yang menyenangkan pada saat bekerja,
membuat kebijakan rotasi karyawan terutama bagi yang masa kerja nya ≥10 tahun, dan
memeriksa kelembaban ruang packing secara berkala.
Kata Kunci: Sick Building Syndrome, Faktor Individu, Faktor Lingkungan Fisik
Backgrounds: Sick Building Syndrome (SBS) is a syndrome caused by someone is
too long inside the building with symptoms that are not specific. Employees who work
in air-conditioned rooms are more risk of experiencing SBS. PT. Hyup Sung Indonesia
at packing section have closed building model that uses air conditioning (AC) so that
it has the potential to cause SBS. The purpose of this study was to determine the
relationship between individual factors and physical environmental factors on the
occurrence of SBS in employees of the packing division PT. Hup Sung Indonesia.
Methods: This research was observational analytic using cross sectional approach. The
population of this research are 47 employees of the packing section ada the sample of
this research are 47 people (total sampling). This research used the Chi Square test.
Result: Variables that have correlation are gender (0,000), psychosocial (0,038), work
period (0,001), and humidity (0,023). Variables that not have correlation are age
(0,059), temperature (0,164), and lighting (0,289).
Conclusion: Variables that have correlation to SBS on packing section employees of
PT Hyup Sung Indonesia are gender, psychosocial, work period, and humidity.
Suggestion: Workers should stretch their body when working or during breaks so their
body not too tired which van make workers easy to experience SBS. The HRD should
create pleasant conditions at work, make employee rotation policies especially for
those whose working period is 10 years, and check the humidity of packing room
regularly.
Keywords: Sick Building Syndrome, Individual Characteristic, Physical Environment.
3011633465I1A017024HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN KERJA DENGAN KECELAKAAN KERJA PADA PEKERJA MEKANIK BENGKEL MOTOR DI PURWOKERTO UTARALatar Belakang: Kecelakaan kerja merupakan kejadian yang tidak terduga pada waktu melaksanakan pekerjaan dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor lingkungan yang meliputi suhu, kelembaban, pencahayaan, kebisingan, kondisi lantai, psikososial, dan housekeeping. Pekerja yang sering mengalami kecelakaan kerja adalah pekerja mekanik bengkel motor. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan lingkungan kerja dengan kecelakaan kerja pada pekerja mekanik bengkel di Purwokerto Utara.

Metode: Penelitian ini merupakan observasional analitik pendekatan cross sectional, dengan populasi pada pekerja mekanik bengkel motor dan jumlah sampel 45 orang menggunakan teknik Total Sampling. Pengumpulan data menggunakan pengukuran, wawancara, dan observasi. Data dianalisis dengan menggunakan chi-square.

Hasil Penelitian: Variabel yang berhubungan yaitu pencahayaan (0,022), kondisi lantai(0,006), Housekeeping(0,022), dan psikososial(0,022), sedangkan variabel tidak berhubungan yaitu suhu(0,583), kelembaban(0,651) dan kebisingan(0,497).

Simpulan: Variabel pencahayaan, kondisi lantai, psikososial dan Housekeeping adalah variabel yang berhubungan dengan kecelakaan kerja.

Saran: Pekerja dapat menjaga kebersihan dan kerapihan pada bengkel motor untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja.

Kata Kunci: Kecelakaan Kerja, Pekerja Bengkel, Lingkungan Kerja.
Background: Work accidents is unforeseen events while carrying out work and affected by many factors, one of them is enviromental factors include temperature, humidity, lighting, noise, floor conditions, psychosocial, and housekeeping. Workers accidents are often experienced by motorcycle mechanics. This research to find out the correlation between work enviromental factors with work accident on motorcycle mechanics in North Purwokerto.

Methods: This research is analitik observational with cross sectional approach with total sample of 45 motorcycle mechanic workers using the total sampling technique.The instruments are measurement, interview, and observation. Its were analyzed by chi-square.

Results: The related variable were lighting(0,022), floor condition(0,006), ergonomic environment(0,022), dan psychosocial(0,022), while variable not related were temperature(0,583), humidity(0,651) and noise(0,497).

Conclusion: The variable of lighting, floor condition, psychosocial and ergonomic environment are variable related to work accidents.

Suggestion: Workers can maintain cleanliness and tidiness in the motorcycle mechanic shop to minimize work accidents.

Keywords: Work Accident, Motorcycle Mechanics, Enviromental Work.
3011733466I1A017018FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELELAHAN KERJA PADA PERAWAT INSTALASI RAWAT INAP BANGSAL DEWASA DI RSUD GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGALatar Belakang: Kelelahan kerja merupakan masalah penting manajemen rumah sakit terkait dengan sumber daya manusia. Perawat rentan teradap kelelahan karena beberapa faktor seperti beban kerja, shift kerja, tanggung jawab, psikologis dan organisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kelelahan kerja pada perawat instalasi rawat inap bangsal dewasa di RSUD Geteng Taroenadibrata Purbalingga.
Metodologi: Desain penelitian ini adalah kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah 67 perawat instalasi rawat inap bangsal dewasa dengan sampel berjumlah 62 perawat yang diambil dengan teknik purposive sampling. Analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat, dan analisis bivariat dengan uji Chi Square.
Hasil Penelitian: Variabel yang berhubungan dengan kelelahan kerja yaitu status gizi (p=0,029), shift kerja (p=0,038), dan beban kerja (p=0,000). Variabel yang tidak berhubungan dengan kelelahan kerja yaitu usia (p=0,129), jenis kelamin (p=0,515), masa kerja (p=1,000) dan lama kerja (p=0,132).
Simpulan: Ada hubungan antara status gizi, shift kerja, dan beban kerja perawat di RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga dengan kelelahan kerja.
Saran: Perawat diharapkan dapat menjaga pola makan, memanfaatkan waktu senggang untuk istirahat, dan mengupayakan adanya peregangan otot.
Background: Work fatigue is an important issue of hospital management related to human resources. Nurses are vulrenable to fatigue due to some factors such as workload, work shifts, their responbility, psychological and organizational. The purpose of this reseach is to determine the factors related to work fatigue on nurses in the adult ward inpatient unit at RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
Methods: The design pf this research os quantitative analytic with cross-sectional approach. The population in this research is 67 nurses in the adult ward inpatient with sample of 62 using purposive sampling technique. Data analysis that used on research are univariate analysis and bivariate analysis with chi square test.
Results: Variables that associated with fatigue are nutritional status (p=0,029), work shift (p=0,038) and workload (p=0,000). Variable that not associated with fatigue are age (p=0,129), gender (p=0,515), work period (p=1,000), and length of work (p=0,132).
Conclusion: There is a relationship between nutritional status, workload, and work shift of nurse in dr. R. Goeteng Taroenadibrata hospital with work fatigue.
Suggestion: Nurses are expected to be able to maintain their diet, take advantage off free time to rest and striving for muscle stretching.
3011833501I1C017035NARRATIVE REVIEW : TATALAKSANA DISPEPSIA DI APOTEKAbstrak
Kejadian dispepsia di Indonesia yang tinggi, memungkinkan terjadinya ketidaksesuaian pengobatan yang dapat mempengaruhi biaya perawatan hingga keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk membuat review mengenai tatalaksana dispepsia yang aman efektif, dan acceptable dengan mempertimbangkan manfaat serta resiko pasien. Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain narrative review dengan memasukkan kata kunci “management, evaluation, monitoring, adverse drug reaction, dyspepsia” pada database Pubmed, Cochrane, Google Schoolar, Garuda, dan Neliti. Artikel diseleksi berdasarkan kriteria inklusi yang sesuai dengan tujuan penelitian. Artikel yang tersedia, kemudian ditarik suatu kesimpulan berdasarkan persamaan dari keseluruhan artikel yang digunakan. Hasil telaah literatur menunjukkan bahwa terdapat 76 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian ini membuktikan bahwa terapi dispepsia yang dapat digunakan pada apotek di Indonesia adalah seluruh golongan antasida, omeprazol, famotidin dan ranitidin. Pasien harus dirujuk ke rumah sakit apabila terdapat alarm symptom serta tidak mengalami perbaikan gejala 2 minggu setelah konsumsi obat.
The high incidence of dyspepsia in Indonesia allows for medication mismatches that can affect treatment costs and patient safety. This study aims to review the safe, effective and acceptable management of dyspepsia by considering the benefits and risks of the patient. This research is a research with a narrative review design by entering the keywords "management, evaluation, monitoring, adverse drug reaction, dyspepsia" in the Pubmed, Cochrane, Google Schoolar, Garuda, and Neliti databases. Articles were selected based on inclusion criteria in accordance with the research objectives. The available articles, then a conclusion is drawn based on the similarities of all the articles used. The results of the literature review showed that there were 76 articles that met the inclusion criteria. This study proves that dyspepsia therapy that can be used in pharmacies in Indonesia is all groups of antacids, omeprazole, famotidine and ranitidine. Patients should be referred to the hospital if there are alarm symptoms and no improvement in symptoms 2 weeks after taking the drug.
3011933467I1A017103Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Carpal Tunnel Syndrome (CTS) pada Pekerja Pembuat Batu Bata di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas
Latar Belakang: Carpal Tunnel Syndrome adalah timbulnya rasa nyeri, kesemutan dan mati rasa pada daerah pergelangan tangan. Faktor yang mempengaruhi timbulnya CTS meliputi jenis kelamin, umur, lama kerja, masa kerja, gerak berulang dan sikap kerja. Pembuat batu bata berisiko mengalami CTS karena banyak melakukan gerak berulang dan sikap kerja yang kurang baik dalam waktu lama. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap kejadian CTS pada pembuat batu bata di Kecamatan Sokaraja kabupaten Banyumas.

Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasi analitik dengan metode pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah pembuat batu bata di Kecamatan Sokaraja Kabupaten Banyumas, jumlah sampel yang memenuhi kriteria sebnayak 76 pekerja dengan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara dengan kuesioner. Data dianalisis dengan uji regresi logistik dengan derajat kepercayaan 95%.

Hasil Penelitian: Variabel yang berpengaruh adalah sikap kerja (0,000). Variabel yang tidak berpengaruh adalah Umur (0,111), gerak beruang (0,205), jenis kelamin (0,847), lama kerja (0,550), masa kerja (0,692).
Background: Carpal Tunnel Syndrome is the onset of pain, tingling and numbness in the wrist area. Factors that influence the incidence of CTS include gender, age, length of work, years of service, repetitive motion and work attitude. Brick makers are at risk of experiencing CTS due to a lot of repetitive motion and poor working attitude for a long time. The purpose of this study was to determine what factors influence the incidence of CTS in brick makers in Sokaraja District, Banyumas Regency.

Methods: This research uses analytic observation method with cross sectional approach. The population of this study were brick makers in Sokaraja District, Banyumas Regency, the number of samples that met the criteria were 76 workers with purposive sampling. Collecting data using interviews with questionnaires. Data were analyzed by logistic regression test with 95% confidence degree.

Research Results: The influential variable is work attitude (0.000). Variables that have no effect are age (0.111), bear movement (0.205), gender (0.847), length of service (0.550), years of service (0.692).
3012033468F1A017052Pemberdayaan Purna Pekerja Migran Indonesia Melalui Pengolahan Kopi Oleh Kelompok Tenega Kerja Mandiri Wajadda Di Desa Cilangkap, Kabupaten BanyumasPersoalan Purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) terlihat pada ketidakmampuan memanfaatkan hasil kerjanya di daerah asal untuk kegiatan produksi, sehingga mendorong mereka kembali bekerja ke luar negeri. Upaya Kementerian Ketenagakerjaan RI dalam mengatasi hal tersebut adalah penerapan usaha produktif melalui Program Desa Migran Produktif (Desmigratif), salah satunya diterapkan di Desa Cilangkap, Kabupaten Banyumas yang dilakukan dengan memberdayakan Purna PMI untuk membangun usaha pengolahan kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, mengidentifikasi, dan menjelaskan strategi pemberdayaan, Faktor penghambat dan pendukungnya serta dampaknya bagi sasaran pemberdayaan. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian dengan subjeknya anggota dan pendamping kelompok Tenaga Kerja Mandiri Wajadda. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Temuan penelitian menunjukan strategi pemberdayaan dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan. Pelatihan dilaksanakan guna mempersiapkan bekal pengetahuan dan keterampilan dalam membangun usaha pengolahan kopi. Pendampingan dilakukan oleh Tenaga Kerja Sukarela (TKS) dan petugas Desmigratif. Faktor penghambat dan pendukungnya terdapat pada aspek tenaga kerja, produksi hingga pemasaran. Dampak pemberdayaan nampak pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja, namun dampak secara ekonomi masih belum mencapai target pemberdayaan karena pengelolaan dan hasil usaha yang terbatas.The problem of Pekerja Migran Indonesia (PMI) is seen in the inability to utilize their work in their home regions for production activities, thus encouraging them to return to work abroad. The efforts of the Indonesian Ministry of Manpower in overcoming this are the implementation of productive businesses through Desa Migran Produktif (Desmigratif) Program, one of which is applied in Cilangkap Village, Banyumas Regency which is done by empowering ex PMI to build a coffee processing business. This study aims to describe, identify, and explain empowerment strategies, inhibitory factors and their supporters and their impact on empowerment goals. Qualitative approaches are used in research with its subjects members and companion of the Wajadda Independent Labor group. Data collection is done with observation techniques, interviews and documentation. The study findings show that empowerment strategies are carried out through training and mentoring. Training is carried out to prepare the provision of knowledge and skills in building a coffee processing business. Assistance is carried out by Tenaga Kerja Sukarela (TKS) and Desmigratif officers. The inhibiting and supporting factors are in the aspect of labor, production to marketing. The impact of empowerment appears to be on improving the knowledge and skills of the workforce, but the economic impact still has not reached the empowerment target due to limited management and business results.