Artikelilmiahs

Menampilkan 28.101-28.120 dari 50.165 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2810131446B1A016056Pertumbuhan Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) pada Berbagai Ketinggian TempatKetinggian tempat secara tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan serta produktivitas tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan kecipir terhadap penanaman pada berbagai ketinggian tempat yang berbeda serta mengetahui ketinggian tempat yang paling cocok untuk dilakukan budidaya kecipir. Penelitian dilaksanakan pada enam lokasi ketinggian yaitu 50 m dpl, 200 m dpl, 400 m dpl, 600 m dpl, 800 m dpl, dan 1100 m dpl. Parameter yang diukur antara lain pertumbuhan tanaman dan faktor lingkungan. Parameter pertumbuhan tanaman yang diamati antara lain tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bunga dan jumlah buah. Faktor lingkungan yang diamati antara lain intensitas cahaya, kelembaban udara relatif dan suhu udara. Ketinggian tempat berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan kecipir. Berdasarkan data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji BNJ 5% pertumbuhan kecipir dengan tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah buah dengan hasil optimum berada pada ketinggian 200 m dpl. Sedangkan pertumbuhan jumlah bunga dengan hasil optimum berada pada ketinggian 400 m dpl. Berdasarkan hasil analisis regresi ketinggian tempat memiliki hubungan dengan pertumbuhan kecipir. Ketinggian tempat memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan kecipir sebesar 41-91%. Kecipir memberikan respon pertumbuhan pada vase vegetatif maupun generatif. Perbedaan ketinggian tempat memberikan respon pada pertumbuhan kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) yang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bunga dan jumlah buah. Pertumbuhan kecipir paling optimum berada pada ketinggian 200 m dpl.Altitude indirectly affects plant growth and productivity. This study aims to determine the response of winged bean growth to planting at different altitudes as well as to determine the most suitable altitude for winged bean cultivation. The research was conducted at six altitude locations, namely 50 m asl, 200 m asl, 400 m asl, 600 m asl, 800 m asl, and 1100 m asl. The parameters measured include plant growth and environmental factors. Plant growth parameters observed included plant height, number of leaves, number of flowers and number of fruits. Environmental factors that were observed included light intensity, relative humidity and air temperature. Altitude has a significant effect on winged bean growth. Based on the data obtained then analyzed using the HSD 5% test for winged bean growth with plant height, number of leaves and number of fruit with optimum results at an altitude of 200 m above sea level. Meanwhile, the growth in the number of flowers with optimum results is at an altitude of 400 m above sea level. Based on the results of regression analysis, altitude has a relationship with winged bean growth. Altitude has an influence on the growth of winged bean by 41-91%. Winged beans respond to growth in both vegetative and generative vases. The difference in altitude gave a response to the growth of winged bean (Psophocarpus tetragonolobus L.) which included plant height, number of leaves, number of flowers and number of fruit. The optimum growth of winged bean is at an altitude of 200 m above sea level.
2810231297A1C013038ANALISIS FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IMPOR BERAS DI INDONESIAIndonesia merupakan negara agraris. Hal ini di dukung dengan luasnya lahan pertanian di Indonesia. Pangan merupakan komoditas yang penting dan strategis, karena merupakan kebutuhan pokok manusia yang hakiki yang setiap saat harus dapat dipenuhi. Beras adalah salah satu komoditas penting bagi Indonesia. Hal ini mengingat hampir seluruh masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras sebagai makanan pokoknya Namun hasil produksi beras selama ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, hal ini yang menyebabkan pemerintah menetapkan kebijakan impor beras. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menganalisis pengaruh variabel produksi, konsumsi, harga beras lokal, dan harga beras impor terhadap variabel impor beras di Indonesia, dan 2) Menganalisis trend impor beras di Indonesia. Analisis data menggunakan analisis regresi berganda dan analisis trend. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Hasil penelitian dapat diketahui bahwa produksi padi, konsumsi beras, harga beras lokal dan harga beras internasional berpengaruh terhadap impor beras nasional. 2) Trend impor beras Indonesia menuju ketahanan pangan Indonesia berkelanjutan menuju 2024 masih positif.Indonesia is an agricultural country. This is supported by the extent of agricultural land in Indonesia. Food is an important and strategic commodity, because it is a basic human need which must be fulfilled at any time. Rice is one of the important commodities for Indonesia. This is because almost all Indonesian people consume rice as their staple food. However, the results of rice production so far have not been sufficient to meet national food needs, this has led the government to establish a rice import policy. This study aims to: 1) Analyze the influence of production, consumption, local rice prices and the rupiah exchange rate on rice import variables in Indonesia, and 2) To analyze the trend of rice imports in Indonesia. Data analysis used multiple regression analysis and trend analysis. The results showed that: 1) The results showed that rice production, rice consumption, local rice prices and imports rice prices an effect on national rice imports. 2) The trend of Indonesian rice imports towards sustainable Indonesian food security towards 2025 is still positive.
2810331448F2A017020Pengaruh Kompetensi,Kompensasi dan Disiplin terhadap Kinerja Pegawai di Subbag Keuangan dan Kepegawaian UnsoedDalam menghadapi tantangan dan mengantisipasi perubahan saat ini Perguruan Tinggi dituntut untuk dapat bersaing dengan Perguruan Tinggi baik dalam maupun Luar Negeri. Untuk Perguruan Tinggi dalam negeri tentunya harus mampu bersaing dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), sehingga dipandang perlunya mengelola sumber daya manusia untuk dapat meningkatkan kinerja suatu organisasi dalam hal ini Perguruan Tinggi. Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja pegawai diantaranya kompetensi, kompensasi dan disiplin kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kompetensi, kompensasi dan disiplin pegawai terhadap kinerja pegawai di Sub-bag Keuangan dan Kepegawaian yang ada di seluruh Fakultas baik secara bivariate maupun multivariate. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 79 Pegawai yang ada di Sub-bag Keuangan dan Kepegawaian Fakultas. Teknik Analisis data yang digunakan adalah korelasi kendall Tau, koefisien konkordasi kendall W dan Regresi Ordinal. Hasil penelitian menunjukan bahwa kompetensi, kompensasi dan disiplin kerja mempengaruhi kinerja pegawai sebesar 62,7 persen dan sisanya 37,3 persen dipengaruhi oleh variabel lainnya di luar penelitian ini. Hasil penelitian juga membuktikan variabel kompetensi, kompensasi dan disiplinkerja memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai di Sub-bag Keuangan dan Kepegawaian Fakultas di UNSOED baik secara bivariate maupun multivariate. Oleh karena itu semakin baikkompetensi, kompensasi dan disiplin kerja akan meningkatkan kinerja pegawai. Dengan demikian maka hipotesis yang diajukan dalampenelitian ini diterima.In facing challenges and anticipating changes, universities are currently required to be able to compete with universities both at home and abroad. For domestic universities, of course, they must be able to compete with State Universities (PTN) and Private Universities (PTS), so that it is deemed necessary to manage human resources to be able to improve the performance of an organization in this case universities. There are many factors that can affect employee performance including competence, compensation and work discipline. The purpose of this study was to determine how much influence the competence, compensation and employee discipline have on employee performance in the Finance and Personnel Subdivision in all Faculties both bivariate and multivariate. The research method used is quantitative research methods with the number of respondents as many as 79 employees in the Subdivision of Finance and Faculty Personnel. The data analysis techniques used were Tau Kendall correlation, Kendall concordance coefficient and Ordinal regression. The results showed that competence, compensation and work discipline affect employee performance by 62,7 percent and the remaining 37,3 percent are influenced by other variables outside of this study. The results also prove that the variables of competence, compensation and work discipline have a positive and significant relationship to the performance of employees in the Faculty of Finance and Staffing Subdivision at UNSOED both bivariate and multivariate. Therefore, the better the competence, compensation and work discipline will improve employee performance. Thus, the hypothesis proposed in this study is accepted.
2810431472H1E016011PENYELESAIAN PERMASALAHAN INVENTORY ROUTING PROBLEM DENGAN CROW SEARCH ALGORITHMPersaingan bisnis yang semakin ketat membuat perusahaan harus berusaha mempertahankan kepuasan pelanggan agar pelanggan tidak berpaling, dengan cara menekan biaya pada semua bagian tanpa mengurangi kualitas suatu produk atau jasa. Pengendalian persediaan sangat penting untuk diperhatikan karena jumlah persediaan yang seimbang dapat berdampak pada biaya yang minimum, hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan suatu perencanaan dalam supply chain management yaitu inventory routing problem (IRP) yang merupakan gabungan dari inventory management dan vehicle routing. Pemecahan permasalahan IRP dilakukan dengan menggunakan metode crow search algoritma (CSA) yang mengikuti kebiasaan burung gagak dalam mencari dan menyembunyikan makanan untuk mendapatkan jadwal distribusi yang optimal serta menghasilkan biaya persediaan dan biaya kirim yang minimum. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa database yang berisi data dan hasil solusi, solusi yang tersedia digunakan sebagai pembanding dari hasil penelitian yang dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya yang dihasilkan dengan metode CSA lebih kecil dari hasil database dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil simulasi menggunakan CSA dan database sehingga metode CSA dapat digunakan untuk permasalahan IRP.Increasingly fierce business competition makes companies must try to maintain customer satisfaction so that customers do not turn away, by reducing costs on all parts without reducing the quality of a product or service. Inventory control is very important to note because a balanced amount of inventory can have an impact on minimum costs, this can be done using a plan in supply chain management, namely inventory routing problem (IRP) which is a combination of inventory management and vehicle routing. IRP problem solving is done by using the crow search algorithm (CSA) method which follows the habits of crows in finding and hiding food in order to obtain an optimal distribution schedule and to produce minimum inventory and transportation costs. This study uses secondary data in the form of a database containing data and solutions, the available solutions are used as a comparison of the results of the research conducted. The results showed that the total cost generated by the CSA method was smaller than the database results and there was no significant difference between the simulation results using the CSA and the database so that the CSA method could be used for IRP problems.
2810531452C1A013083IDENTIFIKASI PUSAT PERTUMBUHAN DAN ANALISIS INTERAKSI SPASIAL PEREKONOMIAN DI PROVINSI JAWA TIMURProvinsi Jawa Timur merupakan satu diantara wilayah terluas dan memiliki PDRB tertinggi kedua di Pulau Jawa. Namun, berdasarkan indeks Williamson tingkat distribusi pendapatan antar wilayah kabupaten/kota dalam provinsi tersebut masih rendah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pusat-pusat pertumbuhan dan interaksi spasial wilayah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur tahun 2009 dan 2018. Metode penlitian menggunakan analisis model gravitasi dan analisis skalogram. Hasil analisis skalogram dan indeks sentralitas menunjukkan tahun 2009 terdapat 3 kabupaten/kota yag termasuk dalam Hirarki I, 5 kabupaten/kota pada Hirarki II, 6 kabupaten/kota pada Hirarki III, 9 kabupaten/kota pada Hirarki IV, 12 kabupaten/kota pada Hirarki V dan 3 kabupaten/kota VI. Pada tahun 2018 terdapat 8 kabupaten/kota pada Hirarki I, 10 kabupaten/kota pada Hirarki II, 11 kabupaten/kota pada Hirarki III, 4 kabupaten/kota pada Hirarki IV, 3 kabupaten/kota pada Hirarki V dan 2 kabupaten/kota pada Hirarki VI. Pusat pertumbuhan dengan daerah hinterlandnya pada tahun 2009 ke 2018 mengalami kenaikan. Dari tahun 2009 ke tahun 2018 daerah hinterland yang berinteraksi kuat dengan Kota Surabaya seperti Kabupaten Sidoarjo, Gresik dan Bangkalan. Implikasi kebijakan perlunya peningkatan kerja sama antar wilayah baik dalam bidang ekonomi maupun sosial antara wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan dengan wilayah hinterlandnya.East Java Province is one of the largest regions and has the second highest GDP on Java Island. However, based on the Williamson index the level of income distribution within regions districts/cities is still low. This study intent to analyze areas that become growth pole and spatial economic interactions in East Java Province in 2009 and 2018. The analyses used in this research are gravity model analysis and scalogram analysis. The results of scalogram analysis and centrality showed that in 2009 there were 3 districts/cities included in Hierarchy I, 5 districts/cities in Hierarchy II, 6 districts/cities in Hierarchy III, 9 districts/cities in Hierarchy IV, 12 districts/cities in Hierarchy V and 3 districts/cities VI. While in 2018 there were 8 districts/cities in Hierarchy I, 10 districts/cities in Hierarchy II, 11 districts/cities in Hierarchy III, 4 districts/cities in Hierarchy IV, 3 districts/cities in Hierarchy V and 2 districts/cities in Hierarchy VI. Growth pole areas within hinterland areas in 2009 to 2018 increased. From 2009 to 2018 hinterland areas that interact strongly with the city of Surabaya such as Sidoarjo Regency, Gresik Regency and Bangkalan Regency. The results imply the necessity to increase interaction or cooperation both in the economic and social between the regions which are the center of growth and the hinterland region such as in the economic sector.
2810631453L1B016019KARAKTERISTIK FENOTIP IKAN NILEM (Osteochilus hasseltii) STRAIN MANGUT YANG DIBUDIDAYAKAN DARI WILAYAH BERBEDA SEBAGAI ACUAN DALAM PEMIJAHAN SELEKTIF
Penelitian ini berjudul Karakteristik Fenotip Ikan Nilem (Osteochilus hasseltii) Strain Mangut Yang Dibudidayakan Dari Wilayah Berbeda Sebagai Acuan Dalam Pemijahan Selektif, tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan karakteristik fenotip kuantitatif dengan morfometrik meristik ikan Nilem (Osteochilus hasseltii) strain Mangut yang dibudidayakan di wilayah berbeda. Mengetahui pola pertumbuhan ikan Nilem strain Mangut yang dibudidayakan di wilayah berbeda berdasarkan hubungan panjang dan berat. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey aktif di lapangan dan laboratorium. Ikan diambil secara acak sebanyak 90 ekor dari 3 lokasi yang berbeda yaitu Banyumas, Purbalingga dan Tasikmalaya, sampel diambil 30 ekor/lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien keragaman morfometrik Ikan Nilem Mangut berkisar antara 4,93-17,99% (Banyumas), 10,35-21,41% (Purbalingga) dan 9,11-24,12% (Tasikmalaya) sedangkan koefisien keragaman meristik berkisar antara 7,01-13,25% (Banyumas), 6,16-9,48% (Purbalingga) dan 4,48-11,70% (Tasikmalaya). Hasil tersebut termasuk dalam kisaran nilai yang baik pada ikan untuk dibudidayakan. Karakter morfometrik dan meristik Ikan Nilem Mangut dari beberapa lokasi memiliki korelasi positif (memiliki hubungan yang searah antar karakter) dan negatif (memiliki hubungan yang berlawanan antar karakter). Berdasarkan hubungan panjang dan berat, ikan Nilem Mangut di Banyumas, Purbalingga dan Tasikmalaya memiliki nilai b berturut-turut yaitu 6,0222, 5,419 dan 3,3886 menunjukkan pola pertumbuhan Allometrik positif (Pertambahan berat lebih dominan dibandingkan pertambahan panjang). Faktor Kondisi pada ikan nilem mangut memiliki nilai kisaran 1,321-1,339. Berdasarkan hasil kuisoner, Tasikmalaya memiliki pola budidaya ikan yang paling baikThis study entitled Phenotypic Characteristics of Tilapia (Osteochilus hasseltii) Mangut Strains Cultivated from Different Regions as a Reference in Selective Spawning, the aim of this study was to compare the quantitative phenotypic characteristics with the meristic morphometric of Nilem Fish (Osteochilus hasseltii) Mangut strains cultivated in different regions. Knowing the growth patterns of mangut strain Nilem fish cultivated in different areas based on the length and weight relationship. This research was conducted using active survey methods in the field and laboratory. 90 fish were taken randomly from 3 different locations, namely Banyumas, Purbalingga and Tasikmalaya, samples were taken 30 fish/location. The results showed that the morphometric diversity coefficient of mangut nilem ranged from 4.93-17.99% (Banyumas), 10.35-21.41% (Purbalingga) and 9,11-24.12% (Tasikmalaya) while the coefficient of diversity The meristik ranged from 7.01-13.25% (Banyumas), 6.16-9.48% (Purbalingga) and 4.48-11.70% (Tasikmalaya). These results fall within the range of values that are good for fish to be cultivated. Morphometric and meristic characters of Mangut Nilem Fish from several locations have positive correlation (have unidirectional relationships between characters) and negative (have opposite relationships between characters). Based on the relationship between length and weight, Mangut Nilem Fish in Banyumas, Purbalingga and Tasikmalaya had a b value respectively, namely 6,0222, 5,419 and 3,3886 showing a positive Allometric growth pattern (weight gain is more dominant than length gain). The condition factor for mangut nilem fish has a value range of 1.321-1.339. Based on the results of the questionnaire, Tasikmalaya has the best fish farming pattern.
2810731436A1D116008EVALUASI KETAHANAN KULTIVAR PADI LOKAL (Oryza sativa L.) TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN BERDASARKAN KARAKTER AGRONOMIKCekaman kekeringan dapat menyebabkan penurunan produksi padi. Keberadaan kultivar padi lokal toleran cekaman kekeringan dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengantisipasi dampak kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keragaan kultivar padi lokal berdasarkan karakter agronomik pada kondisi cekaman kekeringan, mengetahui ketahanan kultivar padi lokal terhadap cekaman kekeringan serta mengetahui keeratan hubungan antara karakter agronomik dengan ketahanan kekeringan.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2020 sampai September 2020 di screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Kelurahan karawangkal, Kecamatan Purwokerto Utara, pada ketinggian tempat
110 mdpl. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama yaitu pemberian air (P) yang terdiri dari 2 taraf, yaitu P1= kondisi optimum dan P2= kondisi tercekam kekeringan. Faktor kedua yaitu kultivar padi lokal (V) yang terdiri dari 10 taraf yaitu V1= Duyung, V2= Inpago Unsoed-1, V3= IR-64, V4= Kalimutu, V5= Mentik Wangi, V6= Pandan Putri, V7= Poso, V8= Salumpikit, V9= Srijaya, dan V10= Towuti. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, umur berbunga, umur panen, jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, bobot gabah per malai, bobot gabah per rumpun, bobot kering akar dan panjang akar. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis menggunakan Uji F. Apabila terdapat keragaman dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Evaluasi ketahanan terhadap cekaman kekeringan didasarkan pada Standard Evaluation System (SES) dari International Rice Research Institute (IRRI) dan didukung Indeks Sensitifitas Kekeringan (ISK), sedangkan keeratan hubungan antara karakter agronomik dengan ketahanan dianalisis menggunakan korelasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua kultivar padi lokal mengalami perubahan karakter agronomik pada kondisi tercekam kekeringan. Kultivar Duyung dan Inpago Unsoed-1 memiliki kemampuan adaptasi paling baik pada kondisi cekaman kekeringan berdasarkan pengamatan skoring SES pada saat fase pertumbuhan dan didukung oleh nilai rata-rata Indeks Sensitifitas Kekeringan (ISK), sedangkan yang memiliki kemampuan peka terhadap kondisi cekaman kekeringan adalah Kultivar IR-64 dan salumpikit. Panjang daun, jumlah gabah per malai, bobot gabah per malai, dan bobot gabah per rumpun secara konsisten menunjukkan keeratan hubungan dengan ketahanan terhadap cekaman kekeringan.
Drought stress can cause a decrease in rice production. The existence of local rice cultivars that are tolerant of drought stress can be an alternative to anticipate the impact of drought. This study aims to determine differences in the performance of local rice cultivars based on agronomic characters in drought stress conditions, to determine the resistance of local rice cultivars to drought stress and to determine the closeness of the relationship between agronomic characters and drought resistance.
This research was conducted from March 2020 to September 2020 at the screen house of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Karawangkal Village, North Purwokerto District, at an altitude of ± 110 masl. The research design used was a randomized block design (RBD) with two factors. The first factor is the provision of water (P) which consists of 2 levels, P1 = optimum conditions and P2 = drought-stressed conditions. The second factor is the local rice cultivar (V) which consists of 10 levels, V1 = Duyung, V2 = Inpago Unsoed-1, V3 = IR-64, V4 = Kalimutu, V5 = Mentik Wangi, V6 = Pandan Putri, V7 = Poso, V8 = Salumpikit, V9 = Srijaya, and V10 = Towuti. The variables observed were plant height, leaf length, leaf width, flowering age, harvest age, number of productive tillers, panicle length, number of grain per panicle, grain weight per panicle, grain weight per hill, root dry weight and root length. The data obtained from the observations were analyzed using the F test. If there is diversity, it is followed by the Duncan Multiple Range Test (DMRT) at the 5% level. The evaluation of resistance to drought stress was based on the Standard Evaluation System (SES) from the International Rice Research Institute (IRRI), while the closeness of the relationship between agronomic characters and resistance was analyzed using correlation.
The results showed that all local rice cultivars experienced changes in their agronomic characters under drought-stressed conditions. Duyung and Inpago Unsoed-1 cultivars have the best adaptability to drought stress conditions based on the observation of SES scoring during the growth phase and supported by the average UTI value, while those that have the ability to be sensitive to drought stress conditions are Cultivar IR-64 and Salumpikit. Leaf length, total grain per panicle, grain weight per panicle, grain weight per hill consistently showed a close relationship with drought resistance resistance.
2810831454A1D016209SAMBUNG MIKRO JERUK KEPROK (Citrus nobilis) SECARA IN VITRO DENGAN APLIKASI BENZYL AMINO PURIN (BAP) DAN POLIVINIL PIROLIDON (PVP)Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui tingkat keberhasilan sambung mikro pada tanaman jeruk keprok sebagai batang atas dan JC sebagai batang bawah, 2) Mengetahui pengaruh penambahan PVP dengan konsentrasi 0 g/L; 2 g/L; 3 g/L, 3) Mengetahui pengaruh penambahan BAP dengan konsentrasi 0 mg/L; 200 mg/L; 400 mg/L, dan 4) Mengetahui interaksi antara BAP dan PVP pada sambung mikro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi pada bulan Januari sampai September 2020. Penelitian ini dilakukan dengan menyambung jeruk keprok sebagai batang atas dan JC sebagai batang bawah secara in vitro. Variabel yang diamati meliputi persentase keberhasilan sambung mikro, persentase perkembangan batang atas, penambahan tinggi batang atas, penambahan tinggi batang bawah, persentase pencoklatan, dan warna batang atas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan sambung mikro dengan penambahan BAP dan PVP sebesar 14,81%. Adanya interaksi antara BAP dan PVP pada sambung mikro memberikan peningkatan terhadap pertumbuhan batang atas dan batang bawah. Interaksi yang memberikan peningkatan terhadap pertumbuhan adalah BAP 4 mg/L dan PVP 3 g/L (B2P2).The purpose of this research is to determine the success rate of micro-grafting of citrus plants with BAP and PVP applications, to obtain information on the effect of PVP application on tissue culture media, with the concentrations of 0 mg / L, 2 g / L and 3 g / L for citrus plants, to obtain information on the effect of BAP application on tissue culture media, with concentrations of 0 mg / L, 2 mg / L and 4 mg / L for citrus plants and to determine the interaction between BAP and PVP on tissue culture media on STG in vitro of tangerine plants as the top stem and JC as the rootstock. This research was conducted from January to September 2020 at the Plant Breeding and Biotechnology Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The observed variables were included the percentage of successful micro-grafting, the addition of height of the scion, the addition of height of the rootstock, the percentage of browning, and the color of the scion. The result of this study showed that micrografting success rate was 14,81% which quite low. The increased in browning occurred on the 14th day after micrografted. The interaction between BAP and PVP on micro-graft gave an increase in the growth of scion and rootstock. The interactions that increase growth are BAP 4 mg / L and PVP 3 g / L (B2P2).
2810931455A1F016006Pengaruh Konsentrasi Natrium Bikarbonat dan Rasio Kacang Tanah dengan Air Terhadap Sifat Fisikokimia Susu Kacang TanahKacang tanah mengandung gizi yang cukup tinggi terutama protein dan lemak, namun adanya enzim lipoksigenase dan senyawa antigizi menjadi masalah dalam pemanfaatan kacang-kacangan sebagai sumber protein nabati. Perendaman dalam larutan natrium bikarbonat (NaHCO3) dan penambahan air saat ekstraksi dapat mengurangi senyawa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi natrium bikarbonat dan rasio kacang tanah dengan air terhadap sifat fisikokimia susu kacang tanah. Faktor yang dicoba yaitu konsentrasi natrium bikarbonat 0,5%; 1,75%; dan 3%, dan rasio kacang tanah dengan air 1:8; 1:10; dan 1:12. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan terbaik yaitu pada konsentrasi natrium bikarbonat 0,5% dan rasio kacang tanah dengan air 1:8 dengan karakteristik fisikokimia sebagai berikut: viskositas 5,55 mPa.s, pH 7,9, total padatan terlarut 9,3oBrix, intensitas kecerahan (L) 38,8, parameter warna a -13,1, parameter warna b 13,2, kestabilan emulsi 83,33-89,17%, kadar air 83,22%bb, kadar abu 0,47%, kadar protein terlarut 0,81%, kadar lemak 2,65%, kadar serat kasar 1,57%, total fenol 3,31 mgGAE/ml, dan IC50 1129 ppm.Peanuts contain high nutrients, especially protein and fat; but the presence of lipoxygenase enzymes and anti-nutritional compounds is a limitation in utilizing peanuts as a source of vegetable protein. Soaking in a sodium bicarbonate (NaHCO3) solution and adding water during extraction can reduce it. This study aimed to determine effect of sodium bicarbonate concentration and peanut to water ratio on the physicochemical properties of peanut milk. The factors tested were, sodium bicarbonate concentration, of 0.5%; 1.75%; and 3%, and peanuts to water ratio, of 1:8; 1:10; and 1:12. Results of the studies showed that combination of treatment with the best results obtained at treatments of 0.5% sodium bicarbonate with peanuts to water ratio of 1:8. The physicochemical of the product obtained are: viscosity of 5.55 mPa.s, pH of 7.9, total dissolved solids of 9.3oBrix, intensity (L) of 38.8, color parameter a of -13.1, color parameter b of 13.2, emulsion stability of 83.33-89.17%, moisture-content of 83.22%wb, ash-content of 0.47 %, dissolved-protein content of 0.81%, fat-content of 2.65%, crude-fiber content of 1.57%, total phenol of 3.31 mgGAE/ml, and IC50 of 1129 ppm.
2811031461H1C016011ANALISIS GROUND MOTION DI SELATAN GUNUNGAPI UNGARAN BERDASARKAN MIKROZONASI METODE HORIZONTAL TO VERTICAL SPECTRAL RATIO (HVSR)Gempabumi tektonik adalah gempabumi yang disebabkan oleh aktifitas sesar karena perlipatan kerak bumi, pembentukan pegunungan dan sebagainya, seperti Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang rawan gempa, namun juga daerah di sekitar Yogyakarta seperti Daerah Bandungan di Kabupaten Semarang dapat berpotensi mengalami pergerakan tanah akibat gempa tersebut. Salah satu cara mitigasi bencana yang dapat dilakukan adalah dengan mengidentifikasi daerah yang berpotensi mengalami potensi pergerakan tanah, salah satu metode identifikasi yang dapat digunakan adalah analisis mikrotremor dengan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) yang menghasilkan parameter frekuensi dominan (f0) dan amplifikasi (A0). Kemudian, kedua data tersebut digunakan untuk mencari nilai indeks kerentanan seismik, ketebalan lapisan sedimen, dan peak ground acceleration yang dijadikan sebagai parameter untuk dianalisis dalam mengidentifikasi daerah yang berpotensi mengalami pergerakan tanah. Pada daerah penelitian nilai indeks kerentanan seismik terendah 0,15 s2/cm dan tertinggi 33,74 s2/cm, ketebalan sedimen paling tipis pada Vs 175 m/s adalah 3,24 meter dan ketebalan lapisan sedimen paling tebal adalah 33,71 meter, sedangkan pada Vs 350 m/s ketebalan paling tipis adalah 6,48 meter dan ketebalan sedimen paling tebal adalah 67,43 meter, serta nilai peak ground acceleration paling tinggi adalah 48,48 gal dan paling rendah adalah adalah 14,91 gal. Menurut hasil pada daerah penelitian, daerah yang berpotensi tinggi mengalami pergerakan tanah adalah daerah dengan nilai indeks kerentanan tinggi, ketebalan sedimen tebal, dan nilai peak ground acceleration rendah.Tectonic earthquakes are earthquakes that are caused by fault activity due to folds of the earth's crust, the formation of mountains and so on, such as Yogyakarta is one of the provinces in Indonesia that is prone to earthquakes, but also areas around Yogyakarta such as the Bandungan area in Semarang Regency can potentially experience ground movement due to earthquakes. the. One way to mitigate disasters that can be done is to identify areas that have the potential to experience ground movement potential, one of the identification methods that can be used is microtremor analysis with the Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) method which produces dominant frequency parameters (f0) and amplification (A0). Then, the two data are used to find the value of the seismic vulnerability index, the thickness of the sediment layer, and the peak ground acceleration which are used as parameters to be analyzed in identifying areas that have the potential to experience ground movement. In the research area the lowest seismic susceptibility index value was 0.15 s2/cm and the highest was 33.74 s2/cm, the thickness of the thinnest sediment at Vs 175 m/s was 3.24 meters and the thickness of the thickest sediment layer was 33.71 meters. whereas at Vs 350 m/s the thinnest thickness is 6.48 meters and the thickest sediment thickness is 67.43 meters, and the highest peak ground acceleration value is 48.48 gal and the lowest is 14, 91 gal. According to the results in the study area, areas that have high potential for ground movement are areas with high vulnerability index values, thick sediment thickness, and low peak ground acceleration values.
2811131462G1A017031Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Tenaga Kesehatan Dalam Menghadapi COVID-19 di Rumah Sakit Kabupaten Banyumas Latar Belakang: COVID-19 merupakan salah satu kondisi kegawatdaruratan di dalam masalah kesehatan yang dapat menular melalui kontak erat dengan penderita, salah satunya tenaga kesehatan. Faktor yang mempengaruhi praktik tenaga kesehatan yaitu pengetahuan dan sikap dalam menghadapi COVID-19.

Tujuan: Penelitian ini untuk mengetahui adakah hubungan pengetahuan dengan sikap tenaga kesehatan, serta mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan praktik tenaga kesehatan dalam menghadapi COVID-19 di Rumah Sakit Kabupaten Banyumas

Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Teknik sampling menggunakan non probability sampling dengan consecutive sampling. Sampel penelitian ini berjumlah 401 tenaga kesehatan yang diukur menggunakan kuesioner. Uji Chi-square untuk mencari hubungan antar variabel, sedangkan analisis regresi logistik untuk mencari hubungan antar banyak variabel bebas dengan variabel terikat.

Hasil: Uji Chi-Square (N=401) hubungan antara pengetahuan dengan sikap tenaga kesehatan dalam menghadapi COVID-19 (p-value = 0,000), hubungan antara pengetahuan dengan praktik tenaga kesehatan dalam menghadapi COVID-19 (p-value = 0,000), hubungan antara sikap dengan praktik dalam menghadapi COVID-19 (p-value = 0,000). Hasil analisis regresi logistik pengetahuan, sikap, dan praktik tenaga kesehatan dalam menghadapi COVID-19 di Rumah Sakit Kabupaten Banyumas terdapat hubungan yang signifikan secara statistik (p<0,05).

Kesimpulan: Dapat disimpulkan terdapat hubungan antara pengetahuan dengan sikap tenaga kesehatan, serta terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan praktik tenaga kesehatan dalam menghadapi COVID-19 di Rumah Sakit Kabupaten Banyumas
Background: COVID-19 is one of the emergency conditions in health problems that can be transmitted through close contact with patients. Healthcare workers are one of the groups at risk contracted the disease. Several factors influence the practice of health workers in dealing with COVID-19, which are knowledge and attitudes.

Aim: This study aims to assess the relationship between knowledge and attitudes of healthcare workers, and find out the relationship between knowledge and attitudes with healthcare workers practices in dealing with COVID-19 at Banyumas District Hospital.

Method: This study used an observational analytic research method with cross sectional design. Non-probability sampling with consecutive sampling was used as the sampling technique. A total of 401 healthcare workers participated in this study and were measured using a questionnaire. Chi-square test was used to find the relationship between the variables, while logistic regression analysis was used to find the relationship between independent variables and dependent variables.

Result: The Chi-Square test (N = 401) showed the relationship between knowledge and attitudes, knowledge and practices, and attitudes and practices of healthcare workers in dealing with COVID-19 with all p-value = 0.000. The logistic regression analysis of the knowledge, attitudes, and practices of health workers in dealing with COVID-19 at the Banyumas District Hospital had a statistically significant relationship (p < 0.05).

Conclusion: It can be concluded that there was a relationship between knowledge and attitudes of healthcare worker. There was also a relationship between knowledge and attitudes with health workers’ practice in dealing with COVID-19 at Banyumas District Hospital.
2811231463G1A017072Hubungan Pengetahuan, Kecemasan dengan Persepsi Kebutuhan Perawatan Kesehatan Mental Pada Masyarakat di Kabupaten Banyumas Selama Pandemi COVID-19Latar Belakang: Menghadapi COVID-19 tidak dapat terlepas dari komunikasi risiko dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran individu dan mendorong perilaku protektif. Kemunculan dan penyebaran COVID-19 dapat menyebabkan tekanan kognitif, kecemasan dan ketakutan di masyarakat. Oleh karena itu, Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) sangat penting diperhatikan selama pandemi COVID-19.

Tujuan: Mengetahui hubungan atau perbedaan antara pengetahuan dengan persepsi kebutuhan perawatan kesehatan mental; mengetahui hubungan atau perbedaan antara kecemasan dengan persepsi kebutuhan perawatan kesehatan mental; dan mengetahui hubungan antara pengetahuan, kecemasan dengan persepsi kebutuhan perawatan kesehatan mental pada masyarakat di Kabupaten Banyumas selama pandemi COVID-19.

Metode: Penelitian cross sectional dan diikuti oleh 454 responden dari masyarakat di Kabupaten Banyumas selama pandemi COVID-19 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang terdiri dari 18 pertanyaan. Kuesioner disebarkan dalam bentuk google form (soft file) ke media sosial dan bentuk kertas (hard copy) dengan perantara Lembaga Kemasyarakatan. Penelitian ini dilaksanakan dari 28 Oktober - 28 November 2020.

Hasil: Masyarakat Kabupaten Banyumas sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan tinggi sebanyak 328 orang (72,25%), tidak memiliki gangguan cemas sebanyak 445 orang (98,02%), dan tingkat persepsi kebutuhan perawatan kesehatan mental tinggi sebanyak 414 orang (91,19%).

Kesimpulan: Terdapat perbedaan persepsi kebutuhan perawatan kesehatan mental pada masyarakat Kabupaten Banyumas dengan tingkat pengetahuan terhadap COVID-19 rendah dan sedang, serta rendah dan tinggi; tidak terdapat hubungan atau perbedaan antara kecemasan dengan persepsi kebutuhan perawatan kesehatan mental; dan analisis multivariat tidak dapat dilakukan karena hanya variabel pengetahuan terhadap persepsi kebutuhan perawatan kesehatan mental yang memenuhi syarat p<0,25
Background: Dealing with COVID-19 could not be separated from Risk Communication and Community Empowerment, aiming to increase individual awareness and encourage protective behaviour. The emergence and spread of COVID-19 could cause cognitive distress, anxiety, and fear in society. Therefore, it was essential to pay attention to Mental and Psychosocial Health Support (DKJPS) during the COVID-19 pandemic.

Objectives: To determine the relationship between knowledge and perceived mental health care needs; knowing the relationship between anxiety and perceived mental health care needs; and understanding the relationship between knowledge, anxiety, and perceived mental health care needs in the community in Banyumas Regency during the COVID-19 pandemic.

Methods: This study was cross-sectional and followed by 454 respondents from the community in Banyumas Regency during the COVID-19 pandemic who met the inclusion and exclusion criteria. This study used a questionnaire consisting of 18 questions. The questionnaire was distributed in google form (soft file) to social media and in paper form (hard copy) with the intermediary of social institutions. This research was conducted from 28 October - 28 November 2020.

Results: Most of the people of Banyumas Regency had a high level of knowledge as many as 328 people (72.25%), did not have anxiety disorders as many as 445 people (98.02%), and the level of perceived needs high mental health care as many as 414 people (91.19%).

Conclusion: Among the people of Banyumas Regency, there were discrepancies in the perceived need for mental health care with low and moderate levels of COVID-19 knowledge and low and high; there was no association or discrepancy between anxiety and perceived needs for mental health care; multivariate analysis could not be conducted because only the variable of knowledge on the perceived needs of mental health services meets the criteria of p<0.25
2811331464I1B017033Hubungan Persepsi terhadap Perilaku Kepatuhan Pengobatan Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas 1 Sumbang pada Era Pandemi Covid-19Latar Belakang: Kepatuhan pengobatan menjadi unsur penting dalam mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat hipertensi. Persepsi merupakan penilaian individu terhadap suatu perilaku kesehatan, termasuk perilaku kepatuhan pengobatan penderita hipertensi pada era pandemi Covid-19 ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara persepsi terhadap perilaku kepatuhan pengobatan penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas 1 Sumbang pada era pandemi Covid-19.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional non-eksperimental (observasional) dengan analitik korelasi, pengambilan sampel menggunakan teknik probability sampling dengan simple random sampling yang berjumlah 87 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner MMAS-8 dan persepsi yang merupakan modifikasi dari penelitian serupa. Analisis data menggunakan uji Somers’d.
Hasil: Hasil penelitian didapatkan hubungan yang signifikan antara persepsi keseriusan (p=0,000), persepsi hambatan (p=0,033) dan persepsi efikasi diri (p=0,000) terhadap perilaku kepatuhan pengobatan hipertensi. Sementara itu, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi kerentanan (p=0,477) dan persepsi manfaat (p=0,155) terhadap perilaku kepatuhan pengobatan.
Kesimpulan: Persepsi keseriusan, persepsi hambatan, dan persepsi efikasi diri berpengaruh terhadap perilaku kepatuhan pengobatan penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas 1 Sumbang pada era pandemi Covid-19.
Kata kunci: Covid-19, Hipertensi, Kepatuhan Pengobatan, Persepsi
Background: Treatment compliance is an important element in reducing the number of pain and death from hypertension. Perception is an individual judgment for a health behavior, including the treatment compliance behavior of hypertension patient in the Covid-19 pandemi era. This study aims to analyze the relationship between perceptions and treatment compliance behavior of hypertension patient in the working area of Puskesmas 1 Sumbang in the Covid-19 pandemic era.
Metodh: This study was using a observasional cross sectional design with correlation analytic, subject was selected by using probability sampling technique with a simple random sampling of 87 respondents. MMAS-8 and perceptions instrument was used in this study and has been modified with similar research. Data was analyzed with Somers’d test.
Results: The results found that there is significant relation between perceived seriousness (p=0.000), perceived barriers (p=0.033), and perceived self efficacy (p=0.000) with treatment compliance behavior. Meanwhile, there is no significant relation between perceived susceptibility (p=0.477) and perceived benefits (p=0.155) with treatment compliance behavior.
Conclusion: There is significant relation between perceived seriousness, perceived barriers, and perceived self-efficacy with treatment compliance behavior of hypertension patient.
Keywords: Covid-19, Hypertension, Treatment Compliance, Perception
2811431465F1A017065Hubungan Status Sosial Ekonomi dengan Modal Sosial Siswa SMA di PurwokertoArtikel ini menjelaskan hubungan status sosial ekonomi orang tua dengan modal sosial siswa. Penelitian ini dilakukan di salah satu SMA negeri di Kota Purwokerto dengan metode survei. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi tau kendall. Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari angket yang telah diberikan kepada siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara status sosial ekonomi orang tua dengan modal sosial siswa dengan nilai τ sebesar -0.123. Nilai φ value sebesar 0.298 menunjukkan bahwa hubungan kedua variabel tersebut tidak signifikan (karena φ value >0.05). Adapun kekuatan hubungan antarvariabel adalah lemah. Artinya terdapat faktor-faktor lain yang lebih mempengaruhi modal sosial daripada status sosial ekonomi orang tua. Faktor-faktor tersebut antara lain: pola asuh orang tua dan dorongan dari diri individu.This article describes the relationship between parents 'socioeconomic status and students' social capital. This research was conducted in a public high school in the city of Purwokerto using a survey method. Methods of data analysis in this study using the Tau Kendall correlation test. Primary data in this study were obtained from a questionnaire that had been given to students. The results showed that there was a negative relationship between the socioeconomic status of parents and the students' social capital with a value of τ of -0.123. The φ value of 0.298 indicates that the relationship between the two variables is not significant (because φ value> 0.05). The strength of the relationship between variables is weak. This means that there are other factors that influence social capital more than the socioeconomic status of parents. These factors include: parenting styles and encouragement from individuals.
2811541016H1D016044RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI UMKM DENGAN MEMANFAATKAN LAYANAN GOOGLE MAPS BERBASIS WEB MOBILE STUDI KASUS DESA KETITANGKIDULUMKM adalah unit usaha produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha disemua sektor ekonomi. Bagi pelaku UMKM, intensitas transaksi yang kecil atau low income sudah tidak asing lagi apalagi untuk UMKM yang masih dilingkup desa, salah satu yang dibutuhkan pelaku UMKM tersebut adalah promosi. Bagaimana cara lebih mengenalkan lagi apa yang mereka (pelaku UMKM) tawarkan. Tujuan utama dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat membantu pelaku UMKM Desa Ketitangkidul menaikkan jumlah income mereka. Perancangan sistem informasi ini menggunakan metode waterfall. Sistem informasi ini dibuat dengan menambahkan pemanfaatan layanan Google Maps, berbasiskan web mobile dengan menggunakan bahasa pemrograman PHP dan markup language HTML, dipadukan dengan framework codeigniter berbasis data MySQL. Sistem informasi ini mampu membantu masyarakat pelaku UMKM melakukan pemasaran yang lebih lagi, dan kemudahan dalam bertransaksi, sehingga dapat menaikkan income pelaku UMKM Desa Ketitangkidul.SMEs are independent productive business units carried out by individuals or corporate entities in all economic sectors. For SME owners, low transaction intensity or low income is not uncommon, especially for those operating in rural areas. One of the essential needs for SME owners is promotion, finding ways to further introduce what they offer. The main objective of this research is to assist SME owners in Ketitangkidul Village in increasing their income. The waterfall method is employed in designing this information system. The system is developed by incorporating the use of Google Maps services, based on a mobile web platform, utilizing PHP programming language, HTML markup language, and CodeIgniter framework with a MySQL database. This information system assists SME owners in marketing their products more effectively and facilitates transactional convenience, thereby increasing the income of SME owners in Ketitangkidul Village.
2811631466G1A017021NARRATIVE REVIEW: HUBUNGAN ANTARA KECACINGAN DENGAN STATUS GIZI PADA SISWA SEKOLAH DASAR Latar Belakang: Kecacingan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit berupa cacing yang salah satu penularannya melalui tanah. Kecacingan lebih sering terjadi pada anak usia sekolah dasar. Kecacingan dapat menjadi salah satu penyebab defisiensi zat gizi pada anak. Asupan gizi yang tidak memadai secara kronik dapat menjadi penyebab stunting. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kecacingan dengan status gizi pada siswa sekolah dasar. Metode: Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dengan cara mengkaji 20 artikel yang telah terpilih sesuai kriteria yang ditentukan. Pencarian artikel dilakukan pada mesin pencari elektronik Google Scholar, Portal Garuda dan Directory of Open Access Journal menggunakan kata kunci, yaitu: kecacingan, infeksi cacing, status gizi, siswa sekolah dasar. Hasil: Prevalensi kecacingan pada siswa sekolah dasar ditemukan bervariasi antara 2,6%-79,7%. Pada pemeriksaan status gizi didapatkan lebih banyak respondennya dikategorikan normal atau baik. Terdapat hubungan bermakna antara kecacingan dengan status gizi siswa sekolah dasar pada beberapa jurnal. Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara kecacingan dengan status gizi siswa SD menurut IMT/U pada 4 penelitian, BB/U pada 1 penelitian, dan TB/U pada 2 penelitian.Background: Worm infection is a disease caused by parasites in the form of worms, one of which is transmitted through soil. Worm infection is more common in children of elementary school age. Worm infection can be one of the causes of nutritional deficiency in children. Chronic inadequate nutritional intake can be a cause of stunting. Aim: To determine the relation between worm infection and nutritional status in elementary school students. Methods: This study used a descriptive analysis with quantitave approach by collecting 20 research according to predetermined criteria. A searched of the database Google Scholar, Portal Garuda and Directory of Open Access Journal was undertaken using the keywords “worm infection, soil transmitted helminth infection, intestinal parasitic infection, nutritional status, elementary students, children”. Results: Various prevalence of STH infection was found between 2,6%-79,7%%, Most of the studies found that nutritional status were normal or good. There are relationship between worm infection and nutritional status of elementary students in several journals. Conclusions: There is a relationship between worm infection and nutritional status of elementary students according to BMI/Age in 4 studies, Weight/Age in 1 study, and Height/Age in 2 studies.
2811731467J1C016058Filosofi Wabi-Sabi pada Chashitsu Tai-an Kuil Myokian
(Analisis Semiotika John Fiske)
Penelitian ini berjudul “Filosofi Wabi-Sabi pada Chashitsu Tai-an Kuil Myokian (Analisis Semiotika John Fiske)”. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan makna wabi-sabi yang terkandung pada ruang minum teh Tai-an di Kuil Myokian, Prefektur Kyoto, Jepang. Data yang digunakan berupa video dari program televisi produksi stasiun televisi NHK berdurasi lima menit berjudul Hyouge Mono: Meihin Meiseki episode 7 yang membahas ruang teh Tai-an. Program tersebut menampilkan tiga bagian dari ruang teh yaitu nijiriguchi, chashitsu dan tokonoma. Penelitian ini menggunakan teori semiotika televisi John Fiske yang terdiri dari tiga tahap yaitu tahap realitas, tahap representasi dan tahap ideologi untuk menemukan kode-kode yang terlihat pada ketiga bagian tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Analisis tahap realitas dan representasi menghasilkan tahap ideologi berupa filosofi wabi-sabi yang diwakilkan oleh estetika zen Shinichi Hisamatsu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa di dalam ruang teh Tai-an terdapat beberapa karakteristik zen yaitu kanso, datsuzoku, fukinsei dan yūgen. Karakteristik tersebut mewakilkan kesederhanan, pasrah, rendah hati dan ketenangan dalam wabi-sabi.Abstract
The research title is "The philosophy of Wabi-Sabi on Chashitsu Tai-an Myokian Shrine (John Fiske's Semiotic Analysis)." The purpose of this study is to describe the meaning of wabi-sabi that contained in the Tai-an tea room at Myokian Shrine, Kyoto Prefecture, Japan. The data is a video from the television program produced by NHK television station with a duration of five minutes named Hyouge Mono: Meihin Meiseki episode 7. The program features three sections of the tea room, there are nijiriguchi, chashitsu and tokonoma. This research used John Fiske's television semiotics theory which consists of three levels, the reality level, the representation level and the ideology level to find the codes that seen in the three sections. The method used is a qualitative descriptive method. The analysis of the reality and representation levels produces an ideology level in the form of a wabi-sabi philosophy represented by the zen aesthetic by Shinichi Hisamatsu. The results of this study indicate that in the Tai-an tea room contain several zen characteristics, there are kanso, datsuzoku, fukinsei and yūgen. These characteristics represent simplicity, resignation, humility and tranquility in wabi-sabi.
2811831468B1J013057Variasi Morfologi Nangka (Artocarpus Heterophyllus Lam.) di Kecamatan Sumbang Kabupaten BanyumasNangka (Artocarpus heterophyllus Lam.) merupakan tanaman yang berasal dari India. Tanaman tropis ini banyak tumbuh di Indonesia. Kultivar nangka di Indonesia terdapat 30 kultivar dan 20 kultivar diantaranya berada di pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan hubungan kemiripan kultivar nangka di Kecamatan Sumbang, Banyumas, Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah metode survai eksploratif dengan teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Parameter yang digunakan adalah karakter morfologi yang meliputi batang, daun, bunga, buah, dan biji. Data karakter dan sifat morfologi dari tanaman nangka dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui keanekaragamannya, sedangkan untuk mengetahui hubungan kemiripan dianalisis dengan metode UPGMA mengunakan software Mega -6. Berdasarkan hasil pengamatan terdapat empat kultivar nangka yang tersebar di Kecamatan Sumbang, Banyumas. Keempat kultivar tersebut adalah A. heterophyllus ‘Lonjong’, A. heterophyllus ‘Dulang’, A. heterophyllus ‘Salak’, dan A. heterophyllus ‘Mini’. Hasil fenogram hubungan kemiripan menunjukan keempat kultivar tersebut membentuk dua grup. Grup pertama yaitu A. heterophyllus ‘Lonjong’ dan A. heterophyllus ‘Dulang’. Sedangkan grup kedua yaitu A. heterophyllus ‘Salak’ dan A. heterophyllus ‘Mini’. Kultivar yang memiliki hubungan kemiripan tertinggi adalah A. heterophyllus ‘Lonjong’ dan A. heterophyllus ‘Dulang’ dengan indeks disimilaritas 0,444. Kultivar yang memiliki hubungan kemiripan terjauh adalah kultivar A. heterophyllus ‘Lonjong’ dan A. heterophyllus ‘Salak’ dengan indeks disimilaritas 1,194.Jackfruit (Artocarpus heterophyllus Lam.) is a plant originating from India. This tropical plant grows a lot in Indonesia. There are 30 cultivars of jackfruit in Indonesia and 20 of them are in Java. The aim of this study is to determine the diversity and similarity of jackfruit cultivars in Sumbang, Banyumas, Central Java. The method used is the exploratory survey method with the sampling technique carried out by purposive sampling. The parameters used were morphological characters including stems, leaves, flowers, fruit and seeds. Character data and morphological traits of jackfruit were analyzed descriptively to determine their diversity, while to determine the similarity relationships were analyzed using the UPGMA method using the Mega-6 software. Based on observations there are four jackfruit cultivars scattered in Sumbang District, Banyumas. The four cultivars are A. heterophyllus ‘Lonjong’, A. heterophyllus ‘Dulang’, A. heterophyllus ‘Salak’ and A. heterophyllus ‘Mini’. The results of the similarity relationship phenogram showed that the four cultivars formed two groups. The first group is A. heterophyllus ‘Lonjong’ and A. heterophyllus ‘Dulang’. Meanwhile, the second group is A. heterophyllus ‘Salak’ and A. heterophyllus ‘Mini’. The cultivars that had the highest similarity were A. heterophyllus ‘Lonjong’ and A. heterophyllus ‘Dulang’ with a disimilarity index of 0.444. The cultivars that had the most similarity were cultivars A. heterophyllus ‘Lonjong’ and A. heterophyllus ‘Salak’ with a disimilarity index of 1.194.
2811931470A1L014076PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KUBIS BUNGA (Brassica oleracea var. botrytis L.) PADA PEMBERIAN PUPUK HAYATI MIKORIZA-TRICHODERMA DAN PENGURANGAN DOSIS PUPUK N-P-K
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendapatkan dosis optimum pupuk mikoriza-trichoderma yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga 2) mendapatkan dosis yang tepat dari pupuk N-P-K yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga, dan 3) mengetahui peningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga melalui pemberian pupuk mikoriza-trichoderma dan pengurangan dosis pupuk N-P-K. Penelitian berupa percobaan lapang yang dilaksanakan di lahan petani Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian UNSOED, Purwokerto pada bulan Maret – Juni 2018. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap Faktorial 3 x 3 yang diulang 3 kali. Faktor pertama adalah dosis pupuk hayati mikoriza-trichoderma teridiri atas: tanpa pemberian pupuk hayati mikoriza-trichoderma), pupuk hayati mikoriza-trichoderma 10g-10g dan 20g-20g). Faktor kedua adalah pengurangan dosis pupuk N-P-K yaitu tanpa pengurangan pupuk N-P-K), pengurangan 25% dan 50% pupuk N-P-K dari anjuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) pertumbuhan tajuk tanaman kubis bunga yang terbaik diperoleh pada pemberian pupuk hayati mikoriza-trichoderma 20g – 20g dan pengurangan dosis pupuk N-P-K 50%, pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun tidak dipengaruhi oleh pupuk hayati mikoriza-trichoderma dan N-P-K. 2) pertumbuhan perakaran tanaman kubis bunga yang terbaik adalah tanpa pemberian pupuk hayati mikoriza-trichoderma dengan pengurangan dosis pupuk N-P-K 50%, dan 3) hasil tanaman kubis bunga yang berupa bobot bunga (curd) terbaik adalah pada tanpa pemberian pupuk hayati mikoriza-trichoderma dan tanpa pengurangan dosis pupuk N-P-K atau sesuai dosis anjuran.

Kata kunci : Kubis bunga, mikoriza, trichoderma, pupuk N-P-K.
ABSTRACK


This research was aimed to 1) getting the optimum dose of mycorrhiza-trichoderma fertilizer for increase the growth and yield of cauliflower 2) obtaining the dosage of N-P-K fertilizer to increases the growth and yield of cauliflower and 3) effect of mycorrhizal trichoderma and reduce the dose of N-P-K fertilizer on the growth and yield of cauliflower. The methode of research conducted on field in Kaliori village, Kalibagor subdistrict Banyumas and Agronomy and Horticulture Laboratory of Agriculture Faculty UNSOED, Purwokerto form March – Juny 2018. The experiment was a factorial experiment of two factors, with tree replications and arranged in Randomized Completely Block Design. The first factor was dosage of mycorrhiza-trichoderma bio-fertilizers : without mycorrhiza-trichoderma, 10g-10g and 20g-20g mycorrhiza-trichoderma biofertilizers. The second factor was reduce the dose of N-P-K fertilizer : without reduce the dose of N-P-K fertilizer, reduce 25% and 50% the dose of N-P-K fertilizer. The results showed that: 1) the best shoot growth of cauliflower was obtained 20g - 20g of mycorrhiza-trichoderma biofertilizer and 50% reduction in the dose of N-P-K fertilizer. But no effect to growth of plant and number of leaves. 2) The best root growth of cauliflower is without the application of mycorrhizal-trichoderma biofertilizers with a 50% reduction in the dose of N-P-K fertilizer. 3) While the best curd without the application of mycorrhiza-trichoderma biofertilizers and reduction in the dose of N-P-K fertilizer.

Key word : cauliflower, mychorriza, trichoderma, N-P-K fertilizer.
2812031471A1A115024FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTENSITAS PEMANFAATAN KARTU TANI OLEH PETANI DI KECAMATAN KARANGANYARPetani mempunyai ketergantungan terhadap pupuk untuk mendapatkan hasil produksi yang optimal, dengan harga pupuk yang cenderung tinggi maka dibutuhkan peran pemangku kebijakan untuk mengatasi persoalan tingginya harga pupuk, agar kebutuhan pupuk petani dapat terpenuhi. Salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengeluarkan kebijakan subsidi pupuk melalui program kartu tani. Maka penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui intensitas pemanfaatan kartu tani oleh petani di Karanganyar Kabupaten Purbalingga, 2) Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas pemanfaatan kartu tani di Kecamatan Karanganyar Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini dilaksanakan di desa Buara, desa Ponjen, dan desa Kebunderan Kecamatan Karanganyar. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survey dan pengambilan sampel ditentukan dengan menggunakan simple random sampling Jumlah responden sebanyak 45 petani yang terdiri dari desa Buara 12 petani, desa Ponjen 27 petani dan desa Kebunderan 10 petani. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas pemanfaatan kartu tani di Kecamatan Karanganyar Kabupaten Purbalingga memiliki gambaran statistik yang menunjukkan kategori selalu menggunakan sebanyak 57.8 persen. Kecenderungan petani selalu memanfaatkan kartu tani disebabkan alokasi pupuk bersubsidi melalui kartu tani menguntungkan petani kecil karena lebih tepat sasaran, jenis pupuk yang cocok dengan kondisi lahan petani, penyediaan pupuk yang tepat pada waktu tanam, petani dapat membeli pupuk dengan harga murah sehingga kebutuhan pupuk dapat terpenuhi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi petani, luas lahan, lingkungan sosial petani dan kegiatan penyuluhan berpengaruh signifikan terhadap intensitas pemanfaatan kartu tani. Sedangkan usia dan kedudukan petani dalam kelompok tani berpengaruh tidak nyata terhadap intensitas pemanfaatan kartu tani.Farmers have a dependence on fertilizers to get optimal production results, with fertilizer prices that tend to be high, the role of policy makers is needed to overcome the problem of high fertilizer prices, so that farmers' fertilizer needs can be met. One of the government's efforts to overcome this problem is by issuing a fertilizer subsidy policy through the farmer card program. So this study aims to 1) Know the intensity of utilization of farming cards by farmers in Karanganyar, Purbalingga Regency, 2) Know the factors that influence the intensity of utilization of farm cards in Karanganyar District, Purbalingga Regency. This research was conducted in Buara Village, Ponjen Village, and Kebunderan Village, Karanganyar District. This research was conducted using a survey method and the sampling was determined using a simple random sample. The number of respondents was 45 farmers consisting of 12 farmers from Buara village, 27 farmers in ponjen village and 10 kebunderan villages. Data analysis was performed using descriptive analysis and multiple linear regression analysis. The results showed that the intensity of the utilization of farming cards in Karanganyar District, Purbalingga Regency was in a fairly good category. This is evidenced by descriptive statistics which show categories always use as much as 57.8 percent. The tendency of farmers to always use farmer cards is due to the allocation of subsidized fertilizers through farmer cards that benefit small farmers because they are more targeted, types of fertilizers are suitable for farmers' land conditions, provide the right fertilizer at planting time, farmers can buy fertilizers at low prices so that fertilizer needs can be met . The results showed that farmer participation, land area, farmer's social environment and extension activities had a significant effect on the intensity of using farmer cards. Meanwhile, the age and position of the farmers in the farmer group had no significant effect on the intensity of using the farmer cards.