Artikelilmiahs

Menampilkan 25.721-25.740 dari 50.268 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2572129082A1D015207KAJIAN KADAR UNSUR HARA SULFUR DAN C-ORGANIK PADA BUDIDAYA TANAMAN PADI SAWAH DI KECAMATAN RAWALO KABUPATEN BANYUMASPenelitian bertujuan untuk: 1) Mengetahui distribusi unsur hara sulfur dan C-organik di lahan sawah di Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, 2) Mengetahui hubungan antara unsur hara C-organik tanah dan unsur hara sulfut dengan hasil tanaman padi sawah di Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, 3) Menentukan takaran pupuk S dan pupuk organik yang optimal di lahan sawah Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas. Penelitian dilakukan di Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas pada bulan Juli 2019 sampai bulan Oktober 2019. Penelitian dilakukan dengan metode grid yang dimodifikasi. Penentuan titik sampel berdasarkan Peta Satuan Lahan Homogen (SLH) yang dibuat melalui overlay Peta Penggunaan Lahan, Peta Jenis Tanah, dan Peta Kelas Kelerengan dengan masing-masing peta berskala 1:50.000. Variabel yang digunakan yaitu pH KCl, pH H2O, DHL, potensial redoks dan C-organik tanah serta hasil tanaman. Hasil penelitian di Kecamatan Rawalo Status unsur hara sulfur di lokasi penelitian berkisar 91-197 ppm artinya berharkat sedang sampai tinggi. C-organik tanah tergolong pada kriteria nilai sangat rendah sampai sedang dengan kisaran nilai 1,3561% sampai 3,8372%. Rekomendasi pemupukan untuk meningkatkan unsur hara sulfur pada SLH 1 sebesar 905,03 kg phonska/ha atau setara dengan 1616,13 kg SO4/ha dan SLH 2 sebesar 1267,14 kg phonska/ha atau setara dengan 2252,76 kg SO4/ha. Rekomendasi pemupukan untuk meningkatkan kandungan C-organik dengan pupuk kandang pada SLH 1 sebesar 38,20 kg/ha atau setara dengan 0,03 kg C-organik/ha dan SLH 2 sebesar 10,77 kg/ha atau setara dengan 0,01 kg C-organik/ha.


The research aims to: 1) Determine the distribution of sulfur and C-organic nutrients in paddy fields in Rawalo District, Banyumas Regency, 2) Determine the relationship between C-organic soil nutrients and sulfut nutrients with the yield of lowland rice in Rawalo District, Regency Banyumas, 3) Determine the optimal dose of S fertilizer and organic fertilizer in the paddy fields of Rawalo District, Banyumas Regency. The study was conducted in Rawalo Subdistrict, Banyumas Regency in July 2019 until October 2019. The research was conducted using a modified grid method. Determination of sample points based on the Homogeneous Land Unit Map (SLH) made through overlaying the Land Use Map, Land Type Map, and Slope Class Map with each 1: 50,000 scale map. The variables used are pH KCl, pH H2O, DHL, redox potential and C-organic soil and crop yields. The results of the study in Rawalo Subdistrict The status of sulfur nutrient status in the study location ranged from 91-197 ppm which means moderate to high rank. C-organic soil is classified as very low to moderate value criteria with a range of values from 1.3561% to 3.8372%. Fertilization recommendation to increase nutrient sulfur in SLH 1 is 905.03 kg phonska / ha or equivalent to 1616.13 kg SO4 / ha and SLH 2 is 1267.14 kg phonska / ha or equivalent to 2252.76 kg SO4 / ha. Fertilizing recommendations to increase the content of C-organic with manure in SLH 1 by 38.20 kg / ha or equivalent to 0.03 kg C-organic / ha and SLH 2 by 10.77 kg / ha or equivalent to 0.01 kg C-organic / ha.
2572229069K1C016046STUDI PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM BERDASARKAN
RUMUSAN ATENUASI DAN DATA AKSELEROGRAF
WILAYAH PROVINSI JAWA TENGAH
Percepatan gerakan tanah merupakan salah satu parameter yang memberikan gambaran tingkat kerusakan dan bahaya wilayah tertentu akibat terjadi gempa bumi. Kuantitas accelerograph yang masih terbatas di Indonesia dan belum adanya rumusan empiris yang dikembangkan khusus untuk wilayah Provinsi Jawa Tengah, mendorong untuk mengkaji percepatan tanah maksimum berdasarkan fungsi atenuasi. Pada penelitian ini, dilakukan penentuan rumusan empiris PGA menggunakan rumusan Lin dan Wu (2010) sebagai rujukan. Data yang digunakan yaitu data accelerograph dan data gempa bumi dengan jumlah data yang digunakan adalah 90 data dari 26 events pada tahun 2017-2018. Berdasarkan analisis regresi maka diperoleh koefisien hiposenter b1 adalah -1,53086, koefisien magnitudo b2 adalah 0,939858, dan konstanta c adalah -1,39601. Pengujian rumusan yang diperoleh dilakukan menggunakan 65 data dari 14 events pada tahun 2019 dan korelasi antara nilai PGA model dan hasil pembacaan akselerograf berkorelasi sedang dengan nilai korelasi sebesar 0,58529. Nilai PGA yang diperoleh diimplementasikan dalam bentuk peta daerah berpotensi gempa bumi di wilayah Provinsi Jawa Tengah.Peak ground acceleration (PGA) is one of the parameters that described the level of damage and danger of a particular area due to an earthquake. The quantity of accelerograph is still limited in Indonesia and the absence of an empirical formula developed specifically for Central Java Province region, that encourages researcher to develop a peak ground acceleration’s formula based on attenuation functions. In this research, the PGA empirical formula was determined using the Lin and Wu’s formula (2010) as reference. The data that used are accelerograph and earthquake data, the total data used is 90 data from 26 events in 2017-2018. Based on regression analysis, the hypocenter coefficient b1 is -1,53086, the magnitude coefficient b2 adalah 0,939858, and the constant c is -1,39601. The formulation test obtained was carried out using 65 data from 14 events in 2019, and the correlation between PGA value of the model and the results of the accelerograph were moderately correlated with the correlation value was 0,58529. The PGA value that obtained implemented in the earthquake potential map in the Central Java Province region.
2572328903K1C016028RANCANG BANGUN PROTOTYPE PEMANTAU JARAK JAUH DAN OTOMATISASI PINTU KANAL AIR SISTEM IRIGASI BERBASIS SENSOR pH DAN SENSOR ULTRASONIKRancang bangun sistem irigasi memiliki sistem pemantau, peringatan, dan otomatisasi yang difungsikan untuk mempertahankan kondisi ideal di sawah sesuai dengan kebutuhan. Sensor ultrasonik digunakan untuk membaca ketinggian atau jarak dengan memanfaatkan waktu tempuh gelombang ultrasonik. Sensor telah di karakterisasi dengan menunjukkan akurasi paling rendah pada ketinggian air 2 - 4 cm yaitu dalam rentang 72,8% - 87,3%, namun saat ketinggian 5 - 20 cm, sensor memberikan akurasi yang baik di mana akurasi rata-rata dari sensor adalah 93,8%. Sensor pH digunakan untuk membaca tingkat keasaman air dengan memanfaatkan perubahan potensial akibat konsentrasi H+. Sensor pH telah di karakterisasi dengan menunjukkan akurasi paling rendah pada pH 3, namun secara keseluruhan akurasi rata-rata sensor pH sebesar 97,2%. Dari hasil karakterisasi, kedua sensor layak digunakan sebagai sistem irigasi. Data yang telah diperoleh oleh sensor kemudian dibaca oleh mikrokontroler, mikrokontroler akan mencacah informasi untuk mengaktifkan aktuator sistem pemantau, peringatan, dan otomatisasi. Data yang diolah mikrokontroler akan mengontrol LED, buzzer, dan motor DC. Data akan dikirim menuju ponsel jika pengguna memberikan pesan “STATUS” pada chip SIM pada sistem. Pada pengujian akhir, dilakukan uji ketinggian air pada sistem terhadap waktu pengujian ketika kedua sensor terpasang, pengujian ini membuktikan sistem yang diuji sesuai dengan diagram blok sistem kontrol tertutup. Hasil pengujian menunjukkan semua komponen bekerja sesuai perintah sebagai sistem pemantau, peringatan, dan otomatisasi. Dari hasil pengujian kinerja sistem didapatkan Mean Squared Error (MSE) kinerja sistem total untuk pH sebesar 0,08 satuan pH dan ketinggian air sebesar 0,03 cm.The design of the irrigation system has monitoring, warning, and automation system that is enabled to maintain ideal conditions in the fields according to the needs. An ultrasonic sensor is used to read heights or distances by utilizing the ultrasonic wave travel time. The sensor has been characterized by showing a low accuracy at the water level of 2 – 4 cm, which is in the range of 72,8% - 87,3%, but when the height is 5 - 20 cm, the sensor provides good accuracy where the average accuracy of the sensor is 93,8%. The pH sensor is used to read the acidity of the water by utilizing potential changes due to H+ concentration. The pH sensor has been characterized by showing the lowest accuracy at pH 3, but overall the average accuracy of the pH sensor is 97,2%. From the results of the characterization, both sensors are suitable for use as irrigation systems. The data that has been obtained by the sensor is then read by the microcontroller. The microcontroller will count information to activate the monitoring, warning, and automation system actuators. Data processed by the microcontroller will control the LED, buzzer, and DC motor. Data will be sent to the cellphone if the user gives a “STATUS” message on the SIM chip on the system. In the final test, a water level test is performed on the system against the time of testing when both sensors are installed, this test proves that the system being tested is in accordance with a closed control system block diagram. The test result shows all components work according to orders as monitoring, warning, and automation system. From the results of testing the system performance, the total system performance Mean Squared Error (MSE) was obtained for a pH of 0,08 pH unit and a water level of 0,03 cm.
2572429071K1A016002HUBUNGAN KUANTITATIF STRUKTUR-AKTIVITAS SENYAWA TURUNAN 1,3,4-THIADIAZOLE SEBAGAI OBAT ANTI-INFLAMASI DENGAN METODE PARAMETERIZED MODEL 3Senyawa turunan 1,3,4-thiadiazole memiliki aktivitas anti-inflamasi yang cukup baik dan berpotensi digunakan sebagai obat anti-inflamasi. Kajian Hubungan Kuantitatif Struktur dan Aktivitas (HKSA) dilakukan terhadap senyawa turunan 1,3,4 thiadiazole untuk memperoleh persamaan yang dapat memprediksi nilai aktivitas anti-inflamasi dari senyawa turunan 1,3,4-thiadiazole lainnya yang lebih potensial. Bahan penelitian ini adalah data eksperimen aktivitas biologis dari 28 senyawa turunan 1,3,4 thiadiazole yang terbagi menjadi 25 senyawa fitting dan 3 senyawa uji. Analisis HKSA dilakukan berdasarkan perhitungan regresi multilinear terhadap senyawa turunan 1,3,4 thiadiazole dengan memplotkan log BA sebagai variabel terikat dan variabel bebasnya adalah deskriptor berupa muatan bersih atom karbon dan nitrogen yang terikat pada gugus ganti (qC1, qC15, qN), momen dwikutub (µ), energi HOMO, energi LUMO, log P, polarisabilitas(α), berat molekul (BM), volume van der waals (Vvdw) dan energi hidrasi. Nilai deskriptor diperoleh dari perhitungan menggunakan metode mekanika kuantum semiempiris parameterized model 3 (PM3). Persamaan HKSA yang dihasilkan adalah:
Log BA= 63,638 – 7,296(qC1) + 14,483(qC15) + 1,203(Log P) – 0,315(µ) – 0,184(α) – 0,506(EHidrasi) + 7,288(EHOMO) – 1,219(ELUMO)
n= 28, r= 0,861, SE=0,16099, FHitung/FTabel=2,7399, PRESS=0,5103
1,3,4-Thiadiazole derivative compounds have good anti-inflammatory activity and potentially used as anti-inflammatory drugs. Quantitative Relationship Structure and Activity Relationship (QSAR) studies have been conducted on the anti-inflammatory activity of a series of 1,3,4-thiadiazole derivatives which aim to obtain an equation to predict the value of the anti-inflammatory activity. As research material was experimental biological activity data of 28 1,3,4-thiadiazole derivatives which were divided into 25 fitting compounds and 3 test compounds. QSAR analysis was carried out based on multiple linear regression (MLR) calculations of 1.3.4 thiadiazole derivatives by plotting log BA as the dependent variable and the independent variable was a descriptor was the net charge of carbon and nitrogen atoms bound to the dressing group (qC1, qC15, qN), dipole moment (µ), HOMO energy, LUMO energy, log P, polarisability (α), molecular weight (BM), van der waals volume (Vvdw) and hydration energy. Descriptors were obtained from calculations using the quantum mechanics semi-empirical parameterized model 3 (PM3) method. The result QSAR equation was:
Log BA= 63.638 – 7.296(qC1) + 14.483(qC15) + 1.203(Log P) – 0.315(µ) – 0.184(α) – 0.506(EHydration) + 7.288(EHOMO) – 1.219(ELUMO)
n = 28, r = 0.861, SE = 0.16099, Fcalculate / Ftable = 2.7399, PRESS = 0.5103
2572529072F1A013040Stereotype Masyarakat Terhadap Muslimah Salafi Bercadar di Desa Larangan Kecamatan Pengadegan Kabupaten PurbalinggaArtikel ini bertujuan untuk mengungkapkan stereotype masyarakat terhadap muslimah salafi bercadar. Penelitian ini dilaksanakan di desa Larangan, kecamatan Pengadegan, kabupaten Purbalingga. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Sasaran penelitian berjumlah tujuh orang yang ditentukan dengan menggunakan purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi serta data sekunder yaitu data dari buku, literatur, jurnal penelitian, dan skripsi yang berkaitan dengan tema penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa stereotype masyarakat terhadap muslimah salafi bercadar di Desa Larangan meliputi berlebihan dalam berjilbab (baik dari segi model, bahan, dan harga), cadar dianggap kurang layak dipakai di Indonesia, cadar ke arab-arab an, perempuan salafi eksklusif keluar jika ada perlu saja, Islam kuno yg mengelompok dan kajiannya sendiri, dianggap anti dengan kelompok lain (pkk dan posbindu tidak ikut) dianggap "merasa paling benar, paling suci, suka membid'ahkan", kurang berorganisasi dengan masyarakat dan memecah belah masyarakat. Stereotype masyarakat terhadap muslimah salafi bercadar terjadi di Desa Larangan karena Perempuan salafi sangat tertutup untuk pergaulan ke luar, silaturahmi terhadap kelompok NU dan Muhammadiyah kurang, cenderung menyendiri tidak mau ngerumpi, dalam kehidupan sehari-hari tidak mau main, melakukan kegiatan sosial hanya sekedarnya, lebih intens hanya dengan kelompoknya.This studi is to reveal the stereotypes of society towards veiled Salafi Muslim women. This research was carried out in Larangan Village, Pengadegan District, Purbalingga Regency. The method used is descriptive qualitative. The target of the study were seven people who were determined by using purposive sampling. Data obtained through interviews, observation and documentation as well as secondary data that is data from books, literature, research journals, and theses relating to the research theme. The results of this study indicate that community stereotypes of veiled Salafi Muslim women in the village of Larangan include excessive veiling (both in terms of models, materials, and prices), the veil is considered inappropriate for use in Indonesia, veil to the Arabs, exclusive salafi women. out if there is a need, ancient Islam, group and study themselves, are considered anti with other groups, pkk and posbindu do not participate, are considered "feel the most right, most sacred, like to blame", lack of organization with the community, divide the community. Community stereotypes of veiled Salafi Muslim women occur in Larangan Village because Salafi women are very closed to outreach, friendship between NU and Muhammadiyah groups is less, tends to be solitary, they don't want to huddle, in daily life they don't want to play, they do social activities only modestly, more intense only with his group.
2572629073L1C016049IDENTIFIKASI SPEKTRAL SPESIES MANGROVE
MENGGUNAKAN SISTEM PHOTO UDARA DRONE DI SEGARA
ANAKAN, CILACAP
Penelitian ini berjudul “Identifikasi Spektral Spesies Mangrove Menggunakan
Sistem Photo Udara Drone di Segara Anakan, Cilacap”. Mangrove adalah
tanaman yang dapat dijumpai pada daerah berair dan dengan subtrat berlumpur
yang ditemukan pada daerah tropis maupun subtropis. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui karakteristik dan spektral yang baik untuk identifikasi spesies
mangrove. Metode yang digunakan adalah metode purposive dan random
sampling dengan menggunakan drone sebagai media. Foto yang diambil oleh
drone dengan ketinggian tertentu akan di olah menggunakan software ImageJ,
termasuk proses cropping daun dan mengetahui nilai spektral pada setiap daun
mangrove. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa setiap jenis mangrove
memiliki karakteristik spektral yang berbeda namun tidak jauh berbeda. Warna
hijau memiliki nilai yang baik untuk menentukan jenis mangrove karena
mangrove memiliki klorofil yang akan memantulkan warna hijau dibandingkan
warna lain.
This study entitled “Spectral Identification of Mangrove Species Using Aerial
Photo Drone System in Segara Anakan, Cilacap". Mangroves are a muddy coastal
wetland found in tropical and subtropical regions. This study aims to determine
the characteristic and good spectral for the identification of mangrove species.
The methods used are purposive and random sampling methods using drones
as a medium. Photos taken by drones with a certain height will be used using the
ImageJ software, including the process of cropping the leaves and knowing the
spectral value of each mangrove leaf. The results of this study show that each
type of mangrove has different spectral characteristics but not significant. Green
color has a good value to determine the type of mangrove because the mangrove
has chlorophyll which will reflect the green color compared to other colors.
2572729075C1B014107Pengaruh Keadilan Kompensasi, Motivasi Kerja, dan Lingkungan Kerja Terhadap Retensi Karyawan Dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel MediasiTujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh keadilan kompensasi, motivasi kerja, dan lingkungan kerja terhadap retensi karyawan dengan kepuasan kerja sebagai variabel mediasi. Penelitian ini dilakukan di PT Surya Indah Purbalingga. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode survei. Teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel probabilitas dengan proportional random sampling. Dalam menentukan jumlah sampel digunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan sebesar 5% atau 0.05, diperoleh ukuran sampel dalam penelitian ini adalah 117 karyawan. Analisis data yang digunakan yaitu (1) analisis regresi berganda; (2) uji kelayakan model menggunakan R Square (R2) dan uji F; (3) uji hipotesis menggunaka n analisis Regresi Variabel Mediasi dengan Metode Kausal Step dan Uji VAF.


The purpose of this study was to determine the effect of fairness compensation, work motivation, and work environment on employee retention with job satisfaction as a mediating variable. This research was conducted at PT Surya Indah Purbalingga. This research is a quantitative research with survey method. Data collection techniques using questionnaires. The sampling method in this study uses a probability sampling technique with proportional random sampling. In determining the number of samples Slovin formula is used with an error rate of 5% or 0.05, the sample size obtained in this study was 117 employees. Analysis of the data used are (1) multiple regression analysis; (2) the feasibility test of the model using R Square (R2) and F test; (3) hypothesis testing using the analysis of Mediation Variable Regression with the Causal Step Method and VAF Test.

2572829095H1C015033Geologi dan Kontrol Struktur Geologi terhadap Alterasi dan Mineralisasi pada Endapan Epitermal Sulfidasi Rendah Daerah “BFV” Provinsi Sulawesi UtaraIndonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada jalur cincin api (ring of fire), oleh karena itu, terdapat zona subduksi antar lempeng yang menyebabkan aktivitas magmatisme dan vulkanisme. Proses tersebut menjadi dasar terbentuknya sistem hidrotermal yang dapat menghasilkan mineralisasi bijih khususnya emas di suatu daerah. Emas merupakan salah satu unsur logam yang memiliki nilai ekonomis tinggi, sehingga proses eksplorasi menjadi tahap penting untuk menemukan sumberdaya dan cadangan baru agar produksi emas tetap optimal. Daerah penelitian ini berlokasi di Daerah “BFV”, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, merupakan lapangan daerah eksplorasi milik PT. J Resources. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi geologi, mengetahui persebaran alterasi dan mineralisasi, serta mengetahui kontrol struktur geologi terhadap persebaran alterasi dan mineralisasi daerah penelitian. Metode dalam penelitian ini yaitu melakukan pemetaan detail berupa pemetaan geologi dan pemetaan alterasi mineralisasi serta melakukan analisis laboratorium berupa analisis petrografi dan analisis mineragrafi.

Seluruh data dan analisis menghasilkan kesimpulan bahwa daerah penelitian memiliki satuan geomorfologi terdiri dari satuan perbukitan kaldera purba dan satuan punggungan piroklastik. Urutan stratigrafi dari tertua hingga termuda dengan umur Miosen Awal hingga Miosen Akhir yaitu satuan lava andesit, satuan breksi piroklastik, satuan tuf kristal, dan satuan tuf ash. Stuktur geologi terdiri dari sesar mendatar kanan yang mengontrol daerah penelitian dan memotong sesar turun yang terbentuk akibat adanya collapse gunungapi. Zona alterasi terdiri dari zona silica, silica-argilic, argillic, dan propylitic. Sistem endapan mineral yang berkembang melihat dari tipe alterasi dan tipe urat yang terbentuk pada daerah penelitian, berupa sistem endapan epitermal sulfidasi rendah dengan mineral ekonomis berupa emas dan perak. Tekstur urat yang terbentuk antara lain crustiform/colloform, lattice, breccia, crystalline quartz, massive quartz, dan massive carbonate.

Dari hasil pengamatan lapangan mengetahui bahwa sistem bukaan cebakan pada daerah penelitian membentuk sistem bukaan urat berupa tension fracture, yaitu sistem yang terbentuk sebagai bukaan di batuan induk yang terletak di antara sesar strike-slip dan umumnya mempunyai orientasi yang tergantung dengan gaya (stress) utama. Kontrol struktur daerah penelitian terjadi satu fase pola yang terjadi yaitu sesar mendatar kanan yang mengontrol terbentuknya urat-urat. Sesar tersebut terbentuk pada fase pre-syn mineralization sebagai bukaan awal sehingga fluida hidrotermal naik ke permukaan. Pola urat pada daerah penelitian mengalami rotasi searah jarum jam dalam fase tersebut mengikuti pergerakan sesarnya sehingga membentuk urat yang saling berpotongan, terlihat pada data persebaran orientasi tekstur urat daerah penelitian dan juga melihat adanya kesamaan dari assemblage mineralnya.
Indonesia is an archipelago state located in the ring of fire, therefore, there is a subduction zone between plates which causes magmatism and volcanism. The process is the basis for the formation of a hydrothermal system that can produce ore mineralization, especially gold in an area. Gold is one of metal elements that have a high economic value, so that the exploration process becomes an important stage to find new resources and reserves for optimally gold production. The research area is located in the “BFV” area, Bolaang Mongondow Regency, North Sulawesi Province, which is an exploration area owned by PT. J Resources. The purpose of this research was to determine the geological conditions, determine the distribution of alterations and mineralization, and determine the control of geological structure on the alteration distribution and mineralization of research area. The method in this research is to do detailed mapping in the form of geological mapping and mineralization alteration mapping and laboratory analysis in the form of petrography analysis and mineragraphy analysis.

All data and analysis conclude that the research area has a geomorphological unit consists of paleo caldera hill unit and pyroclastic ridge unit. The stratigraphic sequence from the oldest to the youngest with the age of the Early Miocene to the Late Miocene are andesite lava units, pyroclastic breccia units, crystal tuff units, and ash tuff units. The geological structure consists of a right slip fault that controls the study area and cuts normal faults that were formed due to volcanic collapse. The alteration zone consists of silica, silica-argilic, argillic, and propylitic zones. The mineral deposit system that developed look at the alteration type and the type of veins formed in the research area, which is low sulphidation epithermal deposition systems with economic minerals are gold and silver. The texture of the veins formed includes crustiform/colloform, lattice, breccia, crystalline quartz, massive quartz, and massive carbonate.

From the results of field observations, it is known that the trap opening system in the research area forms a vein opening system in the form of tension fracture, a system formed as an opening in the source rock which is located between the strike-slip fault and generally has an orientation that depends on the main stress. Control of the structure of the research area occurs in one phase of the pattern that occurs is the right slip fault that controls the formation of veins. The fault is formed in the pre-syn mineralization phase as the initial opening that hydrothermal fluid rises to the surface. The vein pattern in the research area experiences clockwise rotation in that phase following the movement of the fault to form intersecting veins, it can be seen in the distribution of vein texture orientation of the research area and also see the similarity of the mineral assemblage.
2572930278D1A016105Pengaruh Tipe Persilangan Itik Tegal dan Itik Magelang terhadap Kualitas TelurTujuan untuk mengetahui rataan dan simpang baku serta pengaruh tipe persilangan itik Tegal dan itik Magelang terhadap kualitas telur. Penelitian dilaksanakan di kelompok peternak itik Unggas Sari, Desa Banjarsari Kulon RT 02/ RW 03, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Materi yang digunakan terdiri dari itik Tegal dan itik Magelang sebanyak 80 ekor yang terbagi menjadi 20 ekor itik dalam 4 tipe persilangan yaitu P1 : itik Magelang dengan itik Magelang; P2 : itik Magelang dengan itik Tegal; P3 : itik Tegal dengan itik Magelang; dan P4 : itik Tegal dengan itik Tegal, dengan masing-masing perlakuan dilakukan ulangan 5 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variansi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rataan dan simpang baku pada indeks putih telur, indeks kuning telur, warna kuning telur dan haugh unit P1 (9,00+1,54; 42,30+2,00; 9,13+0,38; dan 78,76+7,50), P2 (9,20+0,97; 41,80+3,62; 9,13+0,38 dan 81,33+4,44), P3 (12,06+1,59; 46,56+2,59; 9,20+0,90; dan 89,50+6,25), P4 (7,96+0,77; 45,07+1,13; 9,73+0,28; dan 73,04+3,92). Hasil analisis variansi pada tipe persilangan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap IPT dan HU, berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap IKT dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap WKT. The objective was to determine the mean and standard intersection and the effect of the type of cross between Tegal and Magelang ducks on egg quality. The research was conducted in the Poultry Sari duck breeders group, Banjarsari Kulon Village RT 02 / RW 03, Sumbang District, Banyumas Regency. The materials used consisted of 80 ducks from Tegal and Magelang ducks which were divided into 20 ducks in 4 types of crosses, namely P1: Magelang ducks with Magelang ducks; P2: Magelang ducks with Tegal ducks; P3: Tegal ducks with Magelang ducks; and P4 : Tegal ducks with Tegal ducks, with each treatment being repeated 5 times. Each type of cross consists of 5 replications and each replication unit consists of 1 male duck and 3 female ducks. The data obtained were analyzed by analysis of variance. Based on the results of the study, it was obtained that the mean and standard deviations on the egg white index, egg yolk index, egg yolk color and haugh unit P1 (9.00 + 1.54; 42.30 + 2.00; 9.13 + 0.38; and 78.76 + 7.50), P2 (9.20 + 0.97; 41.80 + 3.62; 9.13 + 0.38 and 81.33 + 4.44), P3 (12.06+ 1.59; 46.56 + 2.59; 9.20 + 0.90; and 89.50 + 6.25), P4 41.80 + 3.62; 9.13 + 0.38 and 81.33 + 4.44), P3 (12.06 + 1.59; 46.56 + 2.59; 9.20 + 0.90; and 89.50 + 6, 25), P4 41.80 + 3.62; 9.13 + 0.38 and 81.33 + 4.44), P3 (12.06 + 1.59; 46.56 + 2.59; 9.20 + 0.90; and 89.50 + 6, 25), P4 (7.96 + 0.77; 45.07 + 1.13; 9.73 + 0.28; and 73.04 + 3.92). The results of the analysis of variance on the type of cross had a very significant effect (P <0.01) on IPT and HU, significantly (P <0.05) on IKT and had no significant effect (P> 0.05) on WKT. Based on this analysis, it can be concluded that the type of cross has an effect on IPT, IKT and HU and produces good egg quality, namely P3, because the higher the value of egg quality, the better the egg produced.
2573029077K1C016030INTERPRETASI STRUKTUR BATUAN BAWAH PERMUKAAN
MENGGUNAKAN METODE MAGNETIK DENGAN VARIASI
UPWARD CONTINUATION DI KAWASAN PROSPEK
PASIR BESI PESISIR BINANGUN BAGIAN UTARA
Penelitian survei magnetik telah dilakukan di daerah prospek pasir besi Desa Pagubugan dan Desa Pagubugan Kulon, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap dengan posisi geografis membentang dari 109,270043° BT hingga -109,299094° BT dan -7,670453°LS hingga -7,687223°LS. Akuisisi data dilakukan pada bulan November 2019 menggunakan Proton Precession Magnetometer (PPM) tipe GSM-19T. Pengolahan data meliputi koreksi harian, koreksi IGRF, reduksi bidang datar, upward continuation. Pemodelan dilakukan dengan software Geosoft Oasis Montaj. Proses upward continuation dilakukan variasi sebanyak delapan model variasi. Variasi upward continuation yang optimal terdapat pada model upward 2800 yang menunjukan grafik dan kontur yang paling halus dengan interval kontur 0,02 nT yang diolah untuk mendapatkan data anomali medan magnet lokal yang kemudian dimodelkan. Hasil pemodelan menunjukan adanya pasir besi yang berselingan dengan lempung, lanau, pasir, kerikil, dan kerakal dari formasi aluvium yang mendominasi pada kedalaman 72,13 m dengan nilai suseptibilitas 0,0097 cgs. Model benda dengan nilai suseptibilitas 0,006 cgs diinterpretasikan sebagai endapan aluvium terdiri dari pasir, lanau, tanah liat, dan kerikil yang mendominasi pada kedalaman 41,52 m. Model benda dengan nilai suseptibilitas 0,003 cgs diinterpretasikan sebagai perselingan batu pasir, batu lempung, napal, dan tuf dengan sisipan breksi dari formasi halang yang mendominasi pada kedalaman 8,69 m. Model benda dengan nilai suseptibilitas 0,0013 cgs diinterpretasikan sebagai lempung, lanau, pasir, kerikil, dan kerakal dari formasi aluvium yang mendominasi pada kedalaman 127,79 m.Magnetic survey research has been carried out in the area of prospects for iron sand in Pagubugan Village and Pagubugan Kulon Village, Binangun District, Cilacap Regency with geographical position stretching from 109.2270043 ° East to -109.299094 ° East and -7.670453 ° South to -7, 687223 ° LS. Data acquisition was carried out in November 2019 using the GSM-19T Proton Precession Magnetometer (PPM) type. Data processing includes diurnal correction, IGRF correction, reduction to horizontal surface, upward continuation. Modeling is done by Geosoft Oasis Montaj software. The upward continuation process is carried out by a variation of eight variation models. An optimal upward continuation variations are found in the upward 2800 model which shows the most delicate graphs and contours with 0.02 nT contour intervals which are processed to obtain local anomaly magnetic field data which is then modeled. Modeling results show the presence of iron sand interspersed with clay, silt, sand, gravel, and crust from the aluvium formation which dominates at a depth of 72,13 m with a susceptibility. Other object models are interpreted to have alluvium deposits consisting of sand, silt, clay, and gravel that dominate at a depth of 41,52 m with a susceptibility value of 0,006 cgs. The object model with a susceptibility value of 0,003 cgs is interpreted as alternating sandstone, clay stone, marl, and tuff with breccias inserts from the halang formation that dominate at a depth of 8,69 m. Then there are clay, silt, sand, gravel, and crust from the alluvium formation that dominates at a depth of 127,79 m with a susceptibility value of 0,0013 cgs.
2573129079D1A016129PENGARUH PERBEDAAN FISIK AZOLLA (Azolla microphylla) DALAM PAKAN TERHADAP KADAR LEMAK DAN KOLESTEROL DAGING PUYUH JANTAN (Coturnix coturnix japonica)ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suplementasi Azolla microphylla dengan perbedaan perlakuan fisik terhadap kadar lemak dan kolesterol daging puyuh jantan. Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu puyuh jantan umur 30 hari yang berjumlah 100 ekor. Pakan yang diberikan yaitu pakan komersial Bravo 11 KM dan Azolla microphylla dengan perbedaan perlakuan fisik. Percobaan dilakukan secara eksperimen dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Rancangan terdiri dari 4 perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali, setiap ulangan terdiri dari 5 ekor puyuh. Perlakuan terdiri dari R0 (pakan dengan penambahan Azolla microphylla 0%), R1 (pakan dengan penambahan Azolla microphylla segar 3%), R2 (pakan dengan penambahan Azolla microphylla dengan perebusan 3%) dan R3 (pakan dengan penambahan tepung Azolla microphylla 3%). Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa suplementasi Azolla microphylla dengan perbedaan perlakuan fisik dalam pakan terhadap kadar lemak berpengaruh nyata (P<0,05) dan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar kolesterol daging. Uji lanjut Beda Nyata Jujur menghasilkan superskrip yang berbeda yaitu pada kadar lemak R0: 2,91±0,13b%; R1: 2,64±0,27a%; R2: 2,80±0,26b% dan R3: 2,51±0,07a% sementara kadar kolesterol R0: 80,99±3,55d mg/100 g; R1: 73,80±1,96c mg/100 g; R2: 68,11±2,99b mg/100 g dan R3: 62,41±,61a mg/100 g. Dapat disimpulkan bahwa suplementasi Azolla microphylla dengan perbedaan fisik pemberian pada level 3% dalam pakan komplit mampu menurunkan kadar lemak daging dengan hasil terbaik pada perlakuan R3 sebesar 2,51±0,07a% dan R1 sebesar 2,64±0,27a%. Suplementasi Azolla microphylla dengan perbedaan fisik pemberian pada level 3% dalam pakan komplit mampu menurunkan kadar kolesterol daging dengan hasil terbaik pada perlakuan R3 sebesar 62,41±,61a mg/100 g.
ABSTRACT
This study aims to examine the effect of Azolla microphylla supplementation with differences in physical treatment of fat and cholesterol levels in male quail meat. The material used in this study is 30 day old male quail, amounting to 100 individuals. The feed provided is commercial Bravo 11 KM and Azolla microphylla with different physical treatments. The experiments were carried out experimentally and used a completely randomized design (CRD). The design consisted of 4 treatments and each treatment was repeated 5 times, each repetition consisted of 5 quails. The treatments consisted of R0 (feed with addition of Azolla microphylla 0%), R1 (feed with addition of fresh Azolla microphylla 3%), R2 (feed with addition of Azolla microphylla with boiling 3%) and R3 (feed with addition of Azolla microphylla flour 3%). The results of the analysis of variance showed that supplementation of Azolla microphylla with different physical treatments in feed on fat content had a significant effect (P < 0,05) and very significant effect (P < 0,01) on meat cholesterol level. Further tests of Honest Significant Difference produced different superscripts at the R0: 2.91 ± 0.13b % fat content; R1: 2.64 ± 0.27a %; R2: 2.80 ± 0.26b % and R3: 2.51 ± 0.07a % while cholesterol levels are R0: 80.99 ± 3.55d mg / 100 g; R1: 73.80 ± 1.96c mg / 100 g; R2: 68.11 ± 2.99b mg / 100 g and R3: 62.41 ±, 61a mg / 100 g. It can be concluded that supplementation of Azolla microphylla with physical differences in the level of 3% in complete feed can reduce levels of meat fat with the best results in treatment R3 by 2.51 ± 0.07%a and R1 by 2,64±0,27%a. Azolla microphylla supplementation with physical differences in the level of 3% in complete feed can reduce meat cholesterol levels with the best results in treatment R3 of 62.41 ±, 61a mg / 100 g.
2573229078K1A015056FORMULASI DAN KARAKTERISASI SEDIAAN GEL HAND SANITIZER EKSTRAK METANOL DAUN MANGGA BACANG (Mangifera foetida L.) DENGAN MATRIKS ALGINAT DAN UJI AKTIVITASNYA TERHADAP Escherichia coliEscherichia coli adalah salah satu bakteri patogen penyebab infeksi pencernaan seperti diare. Salah satu bagian dari tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri adalah ekstrak daun mangga bacang (Mangifera feotida L). Aktivitas antibakteri suatu ekstrak dapat ditingkatkan dengan memodifikasi ukuran partikel menjadi lebih kecil. Pembuatan material dengan ukuran yang lebih kecil membutuhkan matriks untuk membentuk partikel yang kuat dan stabil. Matriks yang digunakan dalam penelitian ini yaitu alginat. Ekstrak metanol daun mangga bacang dengan matriks alginat dibuat dengan tiga variasi formula yaitu Formula A alginat 0,05 % dan CaCl2 0,01 %, Formula B alginat 0,1 % dan CaCl2 0,01 %, dan Formula C alginat 0,2 % dan CaCl2 0,01 %. Ketiga formula tersebut kemudian diuji aktivitas antibakterinya terhadap E.coli. Formula B memperoleh hasil zona hambat terbesar yaitu sebesar 8,47 mm dibandingkan dengan formula A dan C. Formula B kemudian dianalisis menggunakan SEM dan digunakan dalam formulasi sediaan hand sanitizer. Formulasi sediaan hand sanitizer dibuat dengan empat variasi yaitu F1 sebagai kontrol negatif, F2 sebagai ekstrak metanol daun mangga bacang, F3 sebagai ekstrak metanol daun mangga bacang dengan matriks alginat, dan F4 sebagai kontrol positif. Sediaan tersebut disimpan selama 16 hari dan dilakukan uji karakterisasi. Karakterisasi sediaan hand sanitizer meliputi uji daya sebar, uji pH, uji konsistensi, uji homogenitas, uji organoleptik dan uji aktivitas antibakteri. Hasil karakteristik daya sebar menghasilkan nilai sebesar 5,00 cm - 5,83 cm. Uji pH memperoleh hasil sebesar 5,60-6. Sediaan memiliki konsistensi dalam bentuk gel yang homogen. Sediaan gel hand sanitizer mampu menghambat pertumbuhan E. coli degan aktivitas antibakteri sebesar 12,5 mm untuk F2, 14,03 mm untuk F3 dan 15,67 mm untuk F4. Uji organoleptik memperoleh nilai terbesar pada parameter warna dengan nilai 4,4.Escherichia coli is one of the pathogenic bacteria that cause digestive infections such as diarrhea. One of the part from plants that have the potential as an antibacterial is the extract of the leaves of bacang mango (Mangifera feotida L). The antibacterial activity of an extract can be increased by modifying the particle size to be smaller. Making materials with smaller sizes requires a matrix to form strong and stable particles. The matrix used in this study is alginate. The methanol extract of bacang mango leaves with alginate matrix was made with three variations of the formula namely Formula A with 0,05 % of alginate and 0,01 % of CaCl2, Formula with B 0,1 % of alginate and 0,01 % of CaCl2, and Formula C with 0,2 % of alginate and 0,01 % of CaCl2. The three formulas were then tested for their antibacterial activity against E. coli. Formula B obtained the largest inhibitory zone yield of 8.47 mm compared to formulas A and C. Formula B was then analyzed using SEM and used in the hand sanitizer preparation formulation. The hand sanitizer formulation was made with four variations, F1 as negative control, F2 as methanol extract of bacang mango leaves, F3 as methanol extract of bacang mango leaves with alginate matrix, and F4 as positive control. The preparations were stored for 16 days and characterization tests were carried out. Characterization of hand sanitizer preparations include spreadability test, pH test, consistency test, homogeneity test, organoleptic test and antibacterial activity test. The results of the scatter power characteristics produce a value of 5.00 cm - 5.83 cm. The pH test obtained results of 5.60-6. The preparation has consistency in the form of homogeneous gel. The hand sanitizer gel was able to inhibit the growth of E. coli with antibacterial activity of 12.5 mm for F2, 14.03 mm for F3 and 15.67 mm for F4. Organoleptic test obtained the greatest value in color parameters with a value of 4.4.
2573329111I1A015016Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan IUD (Intra Uterine Device) pada Wanita PUS di Wilayah Kerja Puskesmas Tambak I Kabupaten BanyumasLatar Belakang : IUD merupakan kontrasepsi jangka panjang yang efektif dan efisien. Pengguna IUD di Kecamatan Tambak mengalami penurunan dan empat tahun berturut-turut menduduki urutan terendah se-Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan IUD.
Metodologi : Jenis penelitian ini adalah kuantitatif menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian yaitu wanita PUS yang aktif ber-KB. Sampel yang diambil menggunakan cluster random sampling sebanyak 97 wanita PUS. Variabel penelitian meliputi umur, pendidikan, paritas, status pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, sikap, dukungan suami, dukungan tenaga kesehatan dan akses ke pelayanan kesehatan. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat.
Hasil Penelitian : Responden sebagian besar berumur ≥ 36 tahun, berpendidikan menengah, berparitas > 2 anak dan sedikit yang bekerja, berpendapatan rendah, berpengetahuan baik, bersikap menerima IUD, memiliki dukungan suami dan tenaga kesehatan dan akses ke pelayanan yang terjangkau. Variabel yang mempengaruhi penggunaan IUD yaitu pendidikan dan status pekerjaan.
Kesimpulan : Faktor yang mempengaruhi penggunaan IUD adalah pendidikan dan status pekerjaan responden. Edukasi mengenai penggunaan IUD secara detail diperlukan untuk meningkatkan cakupan pelayanan KB IUD.
Background: An IUD is an effective and efficient long-term contraceptive. IUD users in Tambak sub-district experienced a decline and four years in a row to rank the lowest in Banyumas districts. This study aims to determine the factors that influence the use of IUD.
Method : This quantitative research with cross sectional approach had cluster random sampling of 97 EFA women who were active in family planning fot its population. Research variables included age, education, parity, employment status, income, knowledge, attitude, husband's support, support of health workers and access to health services. Data analysis was performed univariate, bivariate and multivariate.
Result : Respondents were mostly ≥ 36 years old and had high education, had a parity of > 2 children and few work, had low income, were well-informed, were accepting an IUD, had the support of their husband and health workers and access to affordable health services. Variables that influence the use of IUDs are education and employment status.
Conclusion : The factors that influence the use of IUD are the education and employment status of the respondents. Detailed education regarding the use of an IUD is needed to increase the scope of IUD family planning services.
2573429177K1A016054PENGARUH VARIASI KONSENTRASI EKSTRAK DAUN BIDARA DAN EKSTRAK DAUN KELOR TERHADAP KARAKTERISTIK DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SABUN MANDI CAIR MINYAK BIJI NYAMPLUNG (Calophyllum inopphyllum)Pembuatan sabun dari bahan alam telah banyak dikembangkan untuk mendapatkan jenis sabun terbaik dan aman bagi kesehatan. Minyak biji nyamplung merupakan bahan alam yang berpotensi digunakan sebagai bahan utama dalam pembuatan sabun. Penelitian sebelumnya telah melakukan formulasi sabun dari minyak biji nyamplung dengan penambahan aditif sintetis, sehingga perlu dikaji dan dikembangkan lebih lanjut penggunaan aditif dari bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi sabun dari minyak biji nyamplung dengan karakteristik terbaik dan aktivitas antioksidannya dengan penambahan aditif dari bahan alam yaitu ekstrak metanol daun kelor dan ekstrak etil asetat daun bidara yang sesuai syarat mutu SNI 06-4085-1996. Sabun formulasi dikarakterisasi dengan hasil karakterisasi terbaik diuji aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan sabun dengan karakteristik terbaik yang sesuai SNI 06-4085-1996 adalah sabun SFA3B5 dengan penambahan ekstrak metanol daun kelor 0,5% dan ekstrak etil asetat daun bidara 0,9%. Karakteristik sabun terbaik menunjukkan jumlah asam lemak 31,198%, asam lemak bebas 1,870%, jumlah lemak netral 2,495%, bobot jenis 1,034 g/mL, nilai pH 10,583, dan stabilitas busa 93,470%. Hasil uji aktivitas antioksidan pada sabun karakterisasi terbaik diperoleh nilai IC50 44,73 ppm, yang berarti sabun memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat.Soap making from natural ingredients has been developed to get the best kind of soap and safe for health. Nyamplung seed oil is natural ingredient has to potential as the main ingredient to be used in making soap. The research has been done founded a soap formulation from nyamplung seed oil by using synthetic additives, so it needs to be studied and developed by use of natural ingredients as additional additives. This research aims to determine the soap formulation of nyamplung seed oil with the best characteristic and its antioxidant activity which according to SNI 06-4085-1996 quality requirements.The formulated soap with the best characteristics was tested for its antioxidant activity by DPPH method. The results showed that the soap with the best characteristic soap according to SNI 06-4085-1996 was soap SFA3B5 with the addition of 0.5% moringa leaf methanol extract and bidara leaf ethyl acetate extract 0.9%. The best soap characteristic showed total fatty acid 31,198%, free fatty acid 1.870%, neutral fat 2.495%, weight of type 1.034 g/mL, pH 10.583, dan foam stability 93.470%. The result of antioxidant activity test of the best characterization soap showed the IC50 values of 44.73 ppm, which means that soap has a very strong antioxidant activity.
2573529270D1A016202PENGGUNAAN ACIDIFIER SEBAGAI FEED ADDITIVE DALAM PAKAN YANG MENGANDUNG PROBIOTIK TERHADAP JUMLAH LEUKOSIT DAN TOTAL PROTEIN PLASMA AYAM BROILERPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian acidifier sebagai feed Additive dalam pakan yang mengandung probiotik terhadap jumlah leukosit dan total protein plasma ayam broiler. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimen secara in-vivo sebanyak 200 ekor day old chick (doc) dipelihara secara intensif selama 35 hari dan dengan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan dan setiap perlakuan terdiri atas 10 ekor. Perlakuan yang berpengaruh nyata akan diuji lanjut dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Perlakuan yang diberikan kepada ternak adalaha R0 = pakan basal, R1= pakan basal + asam laktat, R2= pakan basal; + asam sitrat, R3= pakan basal + asam formiat. Hasil penelitian menujukan penggunaan acidifier sebagai feed additive dalam pakan yang mengandung probiotik terhadap jumlah leukosit dan total protein plasma adalah berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap leukosit, tetapi berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap total protein plasma (TPP). Rataan jumlah leukosit yaitu antara 7,92 ± 1,68 (x103/mm3) sampai dengan 11,03 ± 2,10 (x103/mm3), sedangkan rataan total protein plasma (TPP) 2,12 ± 0,22 (g/dl) sampai 2,68 ± 0,42 (g/dl). Disimpulkan bahwa penambahan acidifier dalam air minum mampu mempengaruhi total protein plasma dan tidak mempengaruhi jumlah leukosit dalam ayam broiler.

This study aimed to determine the effect of giving acidifier as a feed additive in feed containing probiotics on the number of leucocytes and protein plasma total of broiler chickens. The study was conducted using an in-vivo experimental method of 200 day old chick (doc) which were kept intensively for 35 days and with a completely randomized design method with 4 treatments and 5 replications and each treatment consisting of 10 chicks. Will be further tested with the Tukey’s HSD test (Tukey’s Honestly Difference Test). The treatment given to livestock is R0 = basal feed, R1 = basal ration + lactic acid, R2 = basal ration + citric acid, R3 = basal ration + formic acid. The result of this study showed the use of acidifier as a feed additive in feed containing probiotics on the number of leukocytes and total plasma protein has no significant effect (P>0.05) on leukocytes, but the protein plasma total very significant effect (P<0.01) on protein plasma total. The mean number of leukocytes was between 7,92 ± 1,68 (x103/mm3) to 11,03 ± 2,10 (x103/mm3), while the mean total plasma protein was 2.12 ± 0.22 (g/dl) to 2,68 ± 0,42 (g/dl). It was concluded that the addition of ocidifier in drinking water could affect total plasma protein and not affect the number of leukocytes in broiler chicken.

2573629210A1D115028PENGARUH PEMBERIAN PUPUK P TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL EMPAT GENOTIP TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill)Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji pertumbuhan dan hasil empat genotip kedelai, (2) mengkaji pengaruh pemberian variasi dosis pupuk P, dan (3) mengkaji interaksi variasi pemberian pupuk P dengan empat genotipe tanaman kedelai. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Universitas Jenderal Soedirman. Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan dari bulan April sampai Juli 2019. Rancangan Petak Terbagi (Split Plot) yang terdiri dari petak utama (main plot) dan anak petak (sub plot) dengan ulangan sebanyak tiga kali. Faktor yang dicoba terdiri dari dua faktor yaitu: Dosis pemberian P (main plot) P0 = kontrol (tidak diberi P), P1 = 100 kg fosfor/ha (0,04 kg fosfor/petak), P2 = 150 kg fosfor/ha (0,06 kg fosfor/petak). Genotipe (sub plot) G1 = Genotipe no 2 , G2 = Genotipe no 33, G3 = Genotipe no 71, G4 = Varietas Slamet. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah buku, diameter batang, jumlah daun, jumlah polong bernas, jumlah biji pertanaman, bobot 100 biji, bobot biji total pertanaman , bobot biji petak efektif. Data diperoleh berdasarkan pengamatan di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penampilan empat genotip kedelai yang digunakan menunjukkan adanya keragaman karakter pertumbuhan dan hasil kedelai, yaitu pada variabel tinggi tanaman, jumlah buku, bobot petak efektif, dan jumlah biji per tanaman Pengaruh pemberian pupuk P tidak memberikan pengaruh terhadap semua variabel pengamatan. Tidak terdapat interaksi antara genotipe dan variasi pemberian pupuk P terhadap semua variabel pengamatan.The purpose of this research to: (1) examine the growth and yield of four soybean genotypes, (2) examine the effect of varying the dose of P fertilizer, and (3) examine the interaction of the variation of P fertilizer application with four

soybean plant genotypes. This research was carried out on the grounds of Jenderal Soedirman University. This research lasted for 3 months from April to July 2019. The Split Plot design consisted of main plots and sub plots with three replications. The tried factor consisted of two factors: P dose (main plot) P0 = control (not given P), P1 = 100 kg phosphorus / ha (0.04 kg phosphorus / plot), P2 = 150 kg phosphorus / ha ( 0.06 kg phosphorus / plot). Genotype (sub plot) G1
= Genotype no 2, G2 = Genotype no 33, G3 = Genotype no 71, G4 = Variety of Slamet. Variables observed were plant height, number of nodes, stem diameter, total crop weight, number of leaves, number of pods, number of seeds, 100 seeds weight, total plant weight of seeds, weight of effective plot seeds. The results showed that the appearance of the four soybean genotypes used showed a diversity of characters on the growth and yield of soybeans, namely on plant height, number of books, effective plot weights, and number of seeds per plant. There was no interaction between genotypes and variations in the administration of P fertilizer to all observed variables
2573729080H1B015016INVESTIGASI TINGKAT KRITIS DAERAH ALIRAN SUNGAI SERAYU BERDASARKAN BASEFLOW INDEKS DENGAN METODE VIC (VARIABLE INFILTRATION CAPACITY) MODELDaerah Aliran Sungai Serayu adalah salah satu DAS Prioritas Indonesia yang sudah tergolong kritis dipulau Jawa. Karakteristik DAS kritis perlu diketahui untuk melakukan tindakan yang tepat dalam menjaga keseimbangan ekosistem air dan tanah. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakter baseflow pada DAS Serayu. Untuk estimasi nilai BFI (Baseflow Index) digunakan data debit bulanan periode 2000-2014. Pada penelitian ini perhitungan BFI dilakukan dengan metode VIC (Variable Infiltration Capacity), dengan membandingkan data debit bulanan dilapangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin mendekati kriteria nilai error dari metode NSE, R, R2, RMSE dan PBIAS, maka keberhasilan simulasi BFI semakin besar (NSE>0,3; 0,3<R<1,0; 0,3<R2<1,0; RMSE<50%; dan PBIAS<25%). Metode NSE kalibrasi sebesar 0,341 dan validasi sebesar 0,214. Metode R kalibrasi sebesar 0,562 validasi sebesar 0,487, metode R2 kalibrasi sebesar 0,315 validasi sebesar 0,237, metode RMSE kalibrasi sebesar 7,710 m3/det validasi sebesar 5,639 m3/det, dan metode PBIAS kalibrasi sebesar 28,637% validasi sebesar 29,617%, serta baseflow Index memiliki hubungan dengan perubahan tutupan lahan. Nilai ini menunjukan bahwa kalibrasi memenuhi kriteria dari kelima metode dan validasi metode NSE tidak memenuhi kriteria. Hal ini menyebabkan model VIC pada proses validasi memberikan nilai ketelitian yang kurang. Tren BFI cenderung konstan tetapi terjadi fluktuasi tahunan secara perlahan. Fluktuasi BFI turun diantara tahun 2000-2014 berbanding lurus dengan penurunan lahan hijau 2000-2010, maka tren BFI dapat dijadikan prediksi perubahan tata guna lahan hijau. The Serayu River Basin is one of the Priority Watersheds of Indonesia that has been classified as critical on the island of Java. The characteristics of critical watersheds need to be known to take appropriate actions in maintaining the balance of the water and soil ecosystem. This study aims to determine the character of baseflow in the Serayu watershed. For estimation of BFI (Baseflow Index) value, monthly debit data for 2000 to 2014 period is used. In this study, the calculation of BFI is done by the VIC (Variable Infiltration Capacity) method, by comparing monthly field discharge data. The results showed that the closer the criteria of error values from the NSE, R, R2, RMSE and PBIAS methods, the greater the success of BFI simulation (NSE> 0.3; 0.3 <R <1.0; 0.3 <R2 < 1.0, RMSE <50%, and PBIAS <25%). The NSE calibration method is 0.341 and validation is 0.214. R calibration method of 0.562 validation of 0.487, R2 calibration method of 0.315 validation of 0.237, RMSE calibration method of 7,710 m3 / s validation of 5,639 m3 / s, and PBIAS calibration method of 28,637% validation of 29,617%, and baseflow Index have a relationship with changes in land cover. This value indicates that the calibration meets the criteria of the five methods and the validation of the NSE method does not meet the criteria. This causes the VIC model in the validation process to provide a value of accuracy that is lacking. BFI trends tend to be constant but annual fluctuations occur slowly. BFI fluctuation decreased between the years 2000 to 2014 is directly proportional to the decrease in green land from 2000 to 2010, then the trend of BFI can be used as a prediction of changes in green land use.
2573829083J0B017011PERANAN PRAMUWISATA BAHASA MANDARIN DI OBYEK WISATA CAMP AREA UMBUL BENGKOK (CAUB) DESA WISATA KARANGSALAM, KECAMATAN BATURRADEN, KABUPATEN BANYUMASLaporan Praktik Kerja ini berjudul "Peranan Pramuwisata Bahasa Mandarin di Obyek Wisata Camp Area Umbul Bengkok (CAUB) Desa Wisata Karangsalam, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas". Kegiatan praktik kerja ini dilaksanakan di Obyek Wisata Camp Area Umbul Bengkok (CAUB) Karangsalam, pada tanggal 1 November 2019 hingga 31 Desember 2019. Tujuan dilaksanakannya praktik kerja adalah melakukan kegiatan pemanduan kepada wisatawan lokal dan mancanegara khususnya wisatawan Tiongkok. Selain itu, penulis juga melakukan kegiatan penerjemahan papan penunjuk arah dan profil CAUB di obyek wisata CAUB ke dalam bahasa Mandarin. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode observasi, metode dokumentasi, metode wawancara, dan metode jelajah internet. Pada kegiatan praktik kerja ini, penulis melakukan dua kegiatan penerjemahan, yaitu penerjemahan lisan dan dokumen. Penulis melakukan penerjemahan lisan dengan menggunakan metode sight translation dan on-site interpreting saat menjadi pramuwisata bahasa Mandarin. Lalu penulis menggunakan teknik penerjemahan reduksi untuk menyampaikan materi kepada wisatawan Tiongkok. Kemudian penulis juga melakukan penerjemahan dokumen. Penulis menggunakan metode harfiah untuk menerjemahkan papan penunjuk arah yang ada di CAUB dan metode komunikatif untuk menerjemahkan profil CAUB. Penulis berhasil menjadi seorang pramuwisata untuk wisatawan lokal dan wisatawan Tiongkok. Lalu penulis juga berhasil menerjemahkan papan penunjuk arah yang ada di CAUB serta menerjemahkan profil CAUB ke dalam bahasa Mandarin.
这篇实习报告的题目是 "Peranan Pramuwisata Bahasa Mandarin di Obyek Wisata Camp Area Umbul Bengkok (CAUB) Desa Wisata Karangsalam, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas". 这个实习的活动在Karangsalam,Camp Area Umbul Bengkok (CAUB) 旅游地方举行,于2019年11月1日- 2019年12 月31 日。这个实习目的是为本地和外国游客,特别是中国游客进行指导活动。除了当导游以外,作者也把路标翻译成中文和把CAUB的剖面翻译成中文。所使用的数据收集方法是观察方法,文档记录方法,采访方法和浏览互联网方法。在这个实习,作者使用两种翻译活动即使用口语翻译和文件翻译的活动。成为中文的引导时,作者使用视觉翻译和现场口译的翻译进行了口语翻译。做口语翻译的时, 作者使用简化翻译的技术将指南材料传达给中国游客。然后作者还用文件翻译的方法。作者用直译方法为把CAUB的路标翻译成中文和用交际方法为把CAUB的剖面翻译成中文。对本地的游客和中国的游客作者已经成功了当导游。然后,作者也成功了把在CAUB的路标翻译成中文和把CAUB的剖面翻译成中文。
2573929084C1A016003Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Aglomerasi Industri Pengolahan Besar dan Sedang di Provinsi Jawa BaratPenelitian ini merupakan penelitian dengan metode kuantitatif dan bertujuan untuk menganalisis terjadi atau tidaknya aglomerasi industri pengolahan di Provinsi Jawa Barat dan menganalisis faktor - faktor yang mempengaruhi terjadinya aglomerasi industri pengolahan besar dan sedang yang ada di Provinsi Jawa Barat. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), indeks persaingan (consentration index) dan biaya tenaga kerja. Metode analisis yang digunakan yaitu Hoover Balassa Index dan model regresi data panel dengan data periode waktu 5 tahun (2014-2018) serta 27 kabupaten/kota sebagai data cross section. Berdasarkan analisis yang dilakukan dengan aplikasi E-views dan perhitungan menggunakan Hoover Balassa Index maka hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Tidak terjadi aglomerasi industri pengolahan besar dan sedang, (2) PDRB memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap aglomerasi industri pengolahan besar dan sedang, (3) consentration index tidak berpengaruh terhadap aglomerasi industri pengolahan besar dan sedang, (4) biaya tenaga kerja memiliki pengaruh positif signifikan terhadap aglomerasi industri pengolahan besar dan sedang.The aims of this research is to analyze whether or not the manufacture industrial agglomeration in West Java Province and to analyze the factors that can affect the agglomeration especially manufacture industrial agglomeration in West Java Province. The variables which are used in this research are gross regional domestic product, consentration index and minimum wage for each regency/city. This research using Hoover Balassa Index and panel data regression with time period data 5 years (2014-2018) and 27 regencies/cities as cross section data. Based on the analysis using E-views and the calculation of Hoover Balassa Index, then the results of this research are : (1) there is no manufacture industrial agglomeration in West Java Province, (2) gross regional domestic product has a positive significant effect on manufacture industrial agglomeration, (3) consentration index has no effect on manufacture industrial agglomeration, (4) minimum wage has a positive significant effect on manufacture industrial agglomeration
2574029085D1A016114Hubungan Bobot Potong dengan Lebar Karkas, Panjang Karkas dan Indeks Konformasi Karkas Sapi Peranakan Ongole yang Dipotong di RPH Banjarsari CiamisTujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara bobot potong (BP) dengan lebar karkas (LK), panjang karkas (PK) dan indeks konformasi karkas (IKK) sapi Peranakan Ongole (PO). Materi penelitian yaitu sapi PO jantan sebanyak 25 ekor umur 24-36 bulan. Sapi PO sebelum dipotong dilakukan penimbangan dengan menggunakan timbangan sapi merek Sonic kapasitas 2000 kilogram dengan ketelitian 0,01 kilogram, kemudian dilakukan pengukuran lebar dan panjang karkas dengan menggunakan pita ukur. Metode penelitian yang dilakukan dengan metode survey. Variabel yang diukur adalah BP, LK, PK dan IKK sapi PO. Sumber data berasal dari penimbangan BP, pengukuran LK, PK dan perhitungan IKK sapi PO. Hasil rataan BP, LK, PK dan IKK masing-masing 400,48 ± 49,22 kg, 70,6 ± 6,6 cm, 155,8 ± 17,26 cm dan 0,46 ± 0,06. Hasil analisis variansi sederhana menunjukan hubungan antara BP dengan LK signifikan (P<0,05) mengikuti persamaan LK= 49,145 + 0,054 BP dengan nilai korelasi (r = 0,40 ) dan koefisien determinasi (r2= 0,16). BP dengan PK berhubungan signifikan (P<0,05) dengan mengikuti persamaan PK= 42,866 + 0,282 BP dengan nilai korelasi (r = 0,804 ) dan koefisien determinasi (r2= 0,647). BP dengan IKK berhubungan signifikan (P<0,05) dengan mengikuti persamaan IKK= 0,651 + 0,000 BP dengan nilai korelasi (r = 0,419) dan koefisien determinasi (r2= 0,176). LK, PK dan IKK sapi PO yang dipotong di RPH Banjarsari Ciamis dapat diduga menggunakan BP.The purpose of this study was to determine the relationship between slaughter weight (SW) and carcass width (CK), carcass length (CL) and carcass conformation index (CCI) of Peranakan Ongole cattle (PO). The research material is 25 male PO cattle 24-36 months old. PO cattle before slaughtering are weighed using a scale of Sonic brand cattle with a capacity of 2000 kilograms with an accuracy of 0,01 kilograms, then measuring the width and length of the carcass using a measuring tape. Research methods conducted by survey methods. The measured variables are BP, LK, PK and IKK PO cattle. Data sources are derived from BP weighing, LK measurement, PK and IKK cattle PO calculation. The average results of BP, LK, PK and IKK were 400.48 ± 49.22 kg, 70.6 ± 6.6 cm, 155.8 ± 17.26 cm and 0.46 ± 0.06, respectively. The results of a simple analysis of variance showed a significant relationship between BP and LK (P <0.05) following the equation LK = 49.145 + 0.054 BP with a correlation value (r = 0.40) and determination (r2 = 0.16). BP and PK were significantly related (P <0.05) by following the equation PK = 42.866 + 0.282 BP with correlation values (r = 0.804) and determination (r2 = 0.647). BP and IKK were significantly related (P <0.05) by following the IKK equation = 0.651 + 0,000 BP with correlation values (r = 0.419) and determination (r2 = 0.176). LK, PK and IKK PO cows that are slaughtered in the Banjarsari Ciamis RPH can be suspected using BP.