Artikelilmiahs
Menampilkan 20.521-20.540 dari 50.108 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 20521 | 23517 | A1L014105 | KERAGAMAN MORFOFISIOLOGI GENOTIPE KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill) DAN KARAKTERISASI GALUR-GALUR HASIL PERSILANGAN DAN INTRODUKSI DI KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui keragaman genetik antargenotipe kedelai berdasarkan karakter morfofisiologi, 2) menyeleksi beberapa genotipe kedelai dibandingkan dengan varietas unggul, dan 3) melakukan karakterisasi beberapa genotipe kedelai terseleksi. Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, mulai akhir bulan Maret hingga Juli 2018. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. Faktor yang diuji adalah 14 genotipe kedelai. Variabel yang diamati meliputi: tinggi tanaman, jumlah buku batang utama, jumlah cabang, jumlah buku total, warna trikhoma, umur berbunga, warna bunga, umur awal pengisian polong, umur masak fisiologis, periode pengisian polong, umur panen, tipe pertumbuhan, warna polong, jumlah polong isi, jumlah polong total, bobot biji total, bobot 100 biji, warna biji, warna hilum, bobot brangkasan, dan indeks panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) terdapat keragaman yang luas terhadap sebagian besar karakter, kecuali bobot biji total dan bobot brangkasan. 2) Genotipe-genotipe kedelai yang terpilih adalah: P71, A403, A303, A234, dan Indo253. 3) Berdasarkan karakter morfofisiologi, genotipe kedelai yang diuji dapat dikategorikan sebagai berikut: tipe pertumbuhan (indeterminit dan semi determinit), umur masak (genjah, sedang, dan dalam), bentuk daun (lancip, oval meruncing, oval membulat, dan segitiga), warna bunga (ungu dan putih), warna trikhoma (abu-abu dan coklat), warna polong (coklat muda, coklat, dan coklat tua), warna biji (kuning, coklat dan hitam), ukuran biji (kecil, medium, dan besar), warna hilum (coklat muda, coklat tua, dan hitam). | The study was conducted 1) to determine the genetic variability among soybean genotypes based on their morphophysiological characters, 2) selecting several soybean genotypes compared to superior varieties, and 3) characterizing the selected soybean genotypes. This study was conducted at the experimental field of Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, from the end of March to July 2018. This study was analyzed using a Randomized Block Design (RBD) with 3 replications. The tested factors in this experiment are 14 soybean genotypes. The observed variables are plant height, number of main stem nodes, number of branches, total number of nodes, trikhoma color, flowering dates, flower color, initial age of pods filling, physiological maturity of pods, pods filling period, harvest age, growth type, pod color, number of pods, total seed weight, 100 seeds weight, seed color, hilum color, biomass weight, and harvest index. The results of this study showed that 1) there was a wide variability of almost all characteristics, except for total seed weight and biomass weight. 2) Selected soybean genotypes are: P71, A403, A303, A234, and Indo253. 3) Based on morphophysiological characteristics, soybean genotypes can be categorised as follows: growth type (indeterminate and semi determinate), maturing age (early mature, medium, and deep), leaf shape (lanceolate, pointed ovate, rounded ovate, and triangular), flower color (purple and white), trikhoma color (gray and brown), pod color (light brown and dark brown), seed color (yellow, brown and black), seed size (small, medium and large), hilum color (brown young, dark brown, and black). | |
| 20522 | 23474 | A1L014162 | EVALUASI STATUS UNSUR HARA KALIUM PADA LAHAN SAWAH DI KECAMATAN SOKARAJA, KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui status unsur hara kalium dan agihannya pada lahan sawah, 2) mengetahui hubungan antara K-tersedia tanah dengan hasil padi sawah, dan 3) menentukan rekomendasi pemberian pupuk kalium untuk tanaman padi di Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas dan Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto dari bulan Maret sampai Juli 2018. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive random sampling secara komposit pada 11 titik sampel yang ditentukan berdasarkan Satuan Lahan Homogen (SLH). Variabel yang diamati meliputi pH H2O, pH KCl, Daya Hantar Listrik (DHL), redoks dan K-tersedia tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan K-tersedia tanah tergolong rendah sampai sangat tinggi (0,32 – 1,04 cmol(+)kg-1). Persamaan fungsi y = -17,49x2 + 24,388x + 2,0312 menunjukkan hubungan K-tersedia tanah dan hasil tanaman padi sawah, dengan nilai K-tersedia optimum sebesar 0,69 cmol(+)kg-1 dan hasil tanaman sebesar 6,58 ton/ha. Rekomendasi pemupukan untuk tanaman padi sawah di lokasi penelitian diberikan pada kandungan K-tersedia tanah rendah dengan pemberian pupuk sebesar 14,07 – 120,88 kg KCl/ha; 56,27 – 483,53 kg phonska/ha atau 0,42 – 3,63 ton pupuk kandang/ha. | The research aimed to 1) determine the nutrient status of potassium and its distribution on paddy field, 2) determine the relation between k-avalability of soil and yield of paddy, and 3) determine the recommendation of potassium fertilizer on paddy of Sokaraja District, Banyumas Regency. The research was conducted in paddy field of Sokaraja District, Banyumas Regency and Soil Science Laboratory of Agriculture Faculty, Jenderal Soedirman University, Purwokerto from March until July 2018. The sampling used purposive random sampling method and composite at 11 sample point based Homogenous Land Unit (HLU). The observed variables were soil pH H2O, pH KCl, electrical conductivity (EC), redox potential, and K-availability. The result showed that soil K-availability can be classified as low until very high status (0,32 – 1,04 cmol(+)kg-1). The quadratic y = -17,49x2 + 24,388x + 2,0312 showed the relation between K-availability and paddy yield, with 0,69 cmol(+)kg-1 of K-availability can produce 6,58 ton/ha of dry mill rice. Recommendation of potassium fertilizer at paddy field in the research location area were given to the low status of K-availability with fertilizer application as much as 14,07 – 120,88 kg KCl/ha; 56,27 – 483,53 kg phonska/ha or 0,42 – 3,63 ton animal manure/ha. | |
| 20523 | 23518 | A1M013013 | PENGARUH JENIS KEMASAN DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP KARAKTERISTIK SENSORIS EGG ROLL JAGUNG | Egg roll jagung merupakan salah satu kue kering yang banyak dikonsumsi masyarakat luas. Tingginya kandungan lemak yang ada pada egg roll jagung membuatnya rentan mengalami kerusakan sehingga menurunkan mutu produk. Oleh karena itu, diperlukan jenis kemasan yang tepat untuk mencegah terjadinya kerusakan produk. Selain itu, faktor kondisi penyimpanan seperti suhu penyimpanan juga dapat mempengaruhi mutu produk selama penyimpanan. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengetahui jenis kemasan yang tepat untuk mempertahankan karakteristik sensoris egg roll jagung selama penyimpanan; 2) Mengetahui suhu penyimpanan yang tepat untuk mempertahankan karakteristik sensoris egg roll jagung selama penyimpanan; 3) Menentukan kombinasi perlakuan jenis kemasan dan suhu penyimpanan terbaik pada lama penyimpanan egg roll jagung. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Split Plot Design dengan rancangan dasarnya adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial dengan 16 kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak dua kali sehingga diperoleh 32 unit percobaan. Faktor yang diteliti adalah masa simpan (S) sebagai main plot, terdiri atas; 1 bulan (S1), 2 bulan (S2), 3 bulan (S3) dan 4 bulan (S4) dan jenis kemasan (K) sebagai sub plot, terdiri atas; kemasan standing pouch aluminium foil (K1) dan kemasan standing pouch plastik nilon (K2) serta suhu penyimpanan sebagai sub plot (T) terdiri atas; 27o – 30oC (T1) dan 38o – 40oC (T2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kemasan standing pouch aluminium foil merupakan kemasan yang lebih baik dibandingkan dengan jenis kemasan standing pouch plastik nilon dalam menjaga karakteristik sensoris egg roll jagung selama penyimpanan. Variabel yang diamati berupa variabel sensoris yang meliputi warna, bau tengik, tekstur, flavor dan kesukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan terbaik adalah kemasan standing pouch alumunium foil dengan suhu penyimpanan 27o – 30oC pada lama penyimpanan 1 bulan (S1K1T1). Karakteristik sensoris egg roll jagung yaitu warna kuning kecokelatan (4,25); aroma sedikit tengik (5,05); tekstur renyah (5,70); flavor enak (5,33); dan tingkat kesukaan suka (5,43). | Corn egg roll is a popular traditional maize snack widely consumed among society. The high content of fat present in corn egg roll and it hygroscopic nature makes it susceptible to quality degradation during storage period. Therefore, this product requires the right type of packaging and storage temperature to prevent product from quality degradation. The aims of this research are: 1) knowing the right type of packaging on sensory characteristic of corn egg roll during storage period; 2) knowing the right type of storage temperature on sensory characteristic of corn egg roll during storage period; 3) Determine the best treatment combination of packaging and storage temperature during storage period. The method used in this research was a split plot design with complete randomized design (CRD) as its basic design that arranged in a factorial with the 16 combinations of treatment and repeated 2 times to obtain 32 units experiment. Factors tested in this research were storage period (S) as main plot, consists of 1 month (S1), 2 month (S2), 3 month (S3) and 4 month (S4), types of packaging (K) as sub plot, consists of standing pouch aluminium foil (K1) and standing pouch nylon plastic (K2) also storage temperature as sub plot (T) consists of 27o-30oC (T1) and 38o-40oC (T2). Sensory characteristics tested on corn egg roll were color, odor, texture, flavor and preference. The results showed that standing pouch aluminium foil packaging is better packaging material compared with standing pouch nylon plastic packaging to preserve chemical and sensory quality of corn egg roll. Corn egg roll stored at temperature 27o-30oC had better sensory quality compared with corn egg roll that stored at temperature 38o-40oC. The best treatment combination in this research is corn egg roll using standing pouch aluminium foil packaging and stored at temperature 27o-30oC on 1 month storage period (S1K1T1) with sensory characteristics of corn egg roll are tawny color (4.25); rancid smell slightly (5.05); crispy texture (5.70); tasty flavor (5.33); and like (5.43). | |
| 20524 | 23519 | E1A014044 | PELAKSANAAN KEBIJAKAN DAUR ULANG SAMPAH BERDASARKAN PASAL 18 PERDA NOMOR 29 TAHUN 2012 DI KABUPATEN PURBALINGGA | Sampah merupakan masalah bagi lingkungan hidup yang seharusnya dapat ditanggulangi oleh pemerintah. Kabupaten Purbalingga memiliki permasalahan banyaknya sampah yang berserakan tidak tidak terangkut dan terkelola. Fenomena menarik untuk dikaji adalah bagaimana pelaksanaan kebijakan daur ulang sampah di purbalingga berdasarkan Pasal 18 Perda Nomor 29 tahun 2012 di Kabupaten Purbalingga dan faktor apa yang menjadi penghambat kebijakan daur ulang tersebut. Metode Penelitian yang digunakan adalah yuridis normative, data-data sekunder yang telah terkumpul diolah, disajikan dalam bentuk teks naratif dan dianalisis dengan metode kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian,Pelaksanaan kebijakan daur ulang sampah di purbalingga berdasarkan pasal 18 Perda Nomor 29 Tahun 2012 masih belum optimal pelaksanaannya, Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya membuang sampah dengan baik di tempatnya serta mengelola sampah dari sumbernya menjadi salah satu penyebab utama sulitnya menyelesaikan permasalahan sampah di purbalingga. Karena belum dibentuk peraturan bupati sebagai petunjuk pelaksanaan daur ulang sampah , sehingga pelaksanaan daur ulang sampah di purbalingga masih mengacu pada Peraturan Menteri nomor 13 tahun 2012. Upaya yang dilakukan oleh beberapa masyarakat peduli lingkungan dengan mendaur ulang sampah plastik menjadi barang yang bernilai guna tinggi merupakan bagian kesadaran lingkungan untuk mengurangi sampah di Purbalingga, namun hal tersebut bukan sebagai perintah dari Pasal 18 Perda Nomor 29 Tahun 2012.Faktor yang menjadi penghambat kebijakan daur ulang sampah di purbalingga adalah dari segi normative belum dibentuk peraturan bupati, dari segi sosiologis yaitu budaya masyarakat membuang sampah sembarangan dan dari segi teknis sarana prasarana penudukung kebijakan tersebut masih sangat minim. | Trash / Waste is a problem for the environment that should be solved by the government. Purbalingga Regency has a problem that there is a lot of scattered waste that is managed well so there is a necessity for recycling. Actually there is a local regulation about waste management, that is PERDA number 29 of 2012, but the regent's regulation as a technical guide to waste recycling has not yet been formed. An interesting phenomenon to be studied is how the implementation of waste recycling regulation in Purbalingga based on article number 18 of PERDA number 29 of 2012 in Purbalingga Regency and what factors are the inhibitors of the recycling regulation. The research method used is normative juridical, secondary data that has been collected is processed, presented in the form of narrative texts and analyzed by qualitative methods. Based on the results of the study, the implementation of the waste recycling regulation in Purbalingga based on Article Number 18 of Perda Number 29 of 2012 is still not optimal in its implementation. The lack of public comprehension about the importance of disposing waste properly in the right place and managing waste from its sources is one of the main causes of difficulties in resolving waste problems in purbalingga. Because the regent's regulation has not yet been established as a guide to the implementation of waste recycling, so that the recycling of waste in Purbalingga is still referring to Ministerial Regulation number 13 of 2012. Some attempts made by some communities to care for the environment by recycling plastic waste into high-value goods are the part of environmental awareness to reduce waste in Purbalingga, but this is not an order from Article Number 18 of Perda Number 29 of 2012. Some factors that become a barrier to waste recycling regulation in Purbalingga are, in therms of normative, the regulation that has not been established by regents, in terms of sociology, the habit of disposing waste carelessly, and from a technical point of view, the supporting infrastructure for the regulation is still very minimal. | |
| 20525 | 23520 | C1J014033 | Factors Affecting Income of Small-scale fishers in Juntinyuat Subdistrict Indramayu Regency | Perikanan skala kecil memiliki pengaruh besar dalam menyediakan bahan makanan dan lapangan pekerjaan bagi jutaan penduduk dunia. Perikanan skala kecil berkontribusi lebih dari 90 persen terhadap hasil tangkapan global. Sayangnya, nelayan skala kecil masih hidup dalam kondisi kemiskinan dan lebih dari 95 persen perikanan skala kecil ditemukan di negara – negara berpenghasilan rendah. Rata – rata produktifitas yang belum efisien, tingkat pendidikan rendah, kurangnya kesempatan dalam mengakses modal serta kurangnya jaminan dan keterbatasan dalam memperoleh hak – hak sosial, ekonomi dan politik yang mengakibatkan kerentanan nelayan dalam segala aspek. Upaya pemberian jaminan terhadap hak – hak sosial, ekonomi serta subsidi bagi nelayan sangat penting. Dalam penelitian ini diamati faktor – faktor yang berpengaruh terhadap pendapatan nelayan seperti alat tangkap, jumlah trip, hasil tangkapan terutama asuransi yang merupakan program subsidi pemerintah untuk nelayan sebagai bentuk jaminan nelayan selama kegiatan usaha penangkapan ikan di kecamatan Juntinyut Kabupaten Indramayu. Pemberian asuransi merupakan bentuk usaha dalam menghadapi ketidak pastian (musim, stok ikan) dan pemberian modal dalam jangka panjang, sehingga terjadi peningkatakan secara signifikan bagi nelayan yang berasuransi dibandingkan dengan yang tidak berasuransi. Hasil penelitian dari pengolahan data menggunakan analisis regresi liniar berganda menunjukan variabel alat tangkap, jumlah trip dan hasil tangkapan berpengaruh positif dan signifikan sedangkan untuk variabel skill dan asuransi berpengaruh positif tetapi tidak signifikan. Penelitian ini merekomendasikan agar pemerintah daerah lebih memperhatikan dan mengawasi nelayan skala kecil dalam penggunaan alat tangkap, jumlah trip yang dilakukan oleh nelayan serta jumlah tangkapan nelayan karena ketiga faktor tersebut menentukan pendapatan nelayan. | Small-scale fisheries have a major influence in providing food and employment for millions of the world's population. Small-scale fisheries contribute more than 90 percent to global catches. Unfortunately, small-scale fisher still live in conditions of poverty and more than 95 percent of small-scale fisheries are found in low-income countries. Average inefficient productivity, low education level, lack of opportunity to access capital and lack of guarantees and limitations in obtaining social, economic and political rights that result in vulnerability of fisher in all aspects. Efforts to provide guarantees for social, economic rights and subsidies for fisher are very important. This research observed factors that influence the income of fisher such as fishing gear, number of trips, catches, especially insurance which is a government subsidy program for fisher as a form of fisher's guarantee during fishing activities in Juntinyuat subdistrict, Indramayu Regency. The provision of insurance is a form of business in facing uncertainty (season, fish stocks) and the provision of capital in the long term, so that there is a significant increase for insured fishermen compared to uninsured ones. The results of the data processing using multiple linear regression analysis showed fishing gear variables, the number of trips and catches had a positive and significant effect while the skill and insurance variables had a positive but insignificant effect. This study recommends that local governments to pay more attention and supervise small-scale fisher in the use of fishing gear, the number of trips carried out and the number of fisher catches because these three factors determine fishermen's income. | |
| 20526 | 25765 | H1D015040 | RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PEMESANAN JASA HIBURAN DAN KESENIAN BERBASIS WEB (STUDI KASUS KABUPATEN PURWOREJO) | Sistem Informasi Pemesanan Jasa Hiburan dan Kesenian merupakan sistem informasi berbasis web yang digunakan oleh penyedia jasa hiburan maupun kesenian untuk menawarkan atau mempromosikan jasanya. Sebagaimana yang kita ketahui dalam melakukan pemesanan jasa hiburan atau kesenian biasanya orang akan bertanya terlebih dahulu tentang detail penawaran. Pemesanan biasanya terjadi ketika sudah ada kesepakatan antara pengguna dan penyedia jasa tersebut. Selain itu dalam sisi penyedia jasa, bagi yang belum memiliki relasi pastinya akan sulit menerima pesanan karena hanya mengandalkan pemasaran yang kurang luas. Dengan adanya sistem ini diharapkan dapat mempermudah pengguna dalam mencari informasi jasa yang dibutuhkan dan dapat melakukan pemesanan jasa dengan mendaftar terlebih dahulu serta juga dapat menghimpun penyedia jasa hiburan dan kesenian yang tidak atau belum begitu terkenal di masyarakat. Penulis menganalisa dan merancang sistem yang dibangun menggunakan metode waterfall dengan lima tahapan yaitu analisis, desain, pengkodean, percobaan/verifikasi dan pemeliharaan serta jenis pengujian yang bernama Black Box. Tahapan analisis yaitu dengan cara melakukan observasi dan wawancara langsung dengan mendatangi salah satu penyedia jasa dan serta studi literatur dari penelitian sejenis. Dari penelitian ini menghasilkan Sistem Informasi Pemesanan Jasa Hiburan dan Kesenian Berbaisis Web (Studi Kasus Kabupaten Purworejo) dengan diperloleh berbagai kemudahan bagi penyedia jasa untuk mempromosikan jasanya serta memudahkan pelanggan dalam memperoleh informasi dari jasa yang sesuai di butuhkan. | — Information System of Reservation Services of Entertainment and Art is a web based information system used by entertainment and art services provider to offer or promote its services. As we know in ordering entertainment or art services, people will usually ask in advance about the details of the offer. Bookings usually occur when there is an agreement between the user and the services provider. In addition, in terms of services provider, those who do not have a relationship will certainly find it difficult to accept orders because they only rely on less extensive marketing. With this system, it is expected to facilitate users in finding services information needed and can order services by registering in advance and can also collect entertainment and art services provider who are not or not so well known in the community. The author analyzes and designs systems that are built using the waterfall method with five stages, namely analysis, design, coding, experiment / verification and maintenance and the type of testing called Black Box. The stages of analysis are by conducting observations and direct interviews by visiting one of the service providers and literature studies from similar studies. From this study resulted web based Information System of Reservation of Entertainment and Art Services (Case Study of Purworejo Regency) with various facilities for services provider to promote their services and facilitate customers in obtaining information from the appropriate of services needed. | |
| 20527 | 23522 | D1E014110 | PENGARUH LAMA PERENDAMAN DAGING ITIK PETELUR AFKIR DENGAN EKSTRAK KULIT BUAH CARICA (Carica candamarcensis) TERHADAP DAYA IKAT AIR DAN pH DAGING | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama perendaman daging itik petelur afkir bagian dada pada ekstrak kulit buah carica terhadap daya ikat air dan pH daging. Materi yang digunakan adalah 20 potong daging bagian dada itik petelur afkir dan kulit buah carica sebanyak 4 kg. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu daging itik petelur afkir tanpa perendaman (P0), direndam ekstrak kulit buah carica dengan lama perendaman 30 menit (P1), 60 menit (P2), 90 menit (P3) dan setiap perlakuan diulang 5 kali. Variabel yang diukur adalah daya ikat air dan pH daging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman menggunakan ekstrak kulit buah carica berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pH daging dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap daya ikat air daging itik petelur afkir bagian dada. Rataan pH daging dada itik petelur afkir masing-masing adalah; P0: 6.15, P1: 5.95, P2: 5.82, P3: 5.47. Daya Ikat Air (DIA) P0: 42.04%, P1: 31.24%, P2: 28.36%, P3: 28.01%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa semakin lama waktu perendaman dalam ekstrak kulit buah carica sampai dengan 90 menit menghasilkan nilai pH dan daya ikat air daging itik petelur afkir bagian dada yang semakin menurun. | he purpose of this research was to study the effect of soaking time of spent duck meat in carica peel juice on water holding capacity and pH of meats. The materials were 20 spent duck breasts and 4 kg carica peel. The method was experimental method using Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments, i.e. spent duck meat without soaking (P0), spent duck soaked in carica peel juice for 30 minutes (P1), 60 minutes (P2), 90 minutes (P3) and every treatment was repeated 5 times. Variables measured were water holding capacity and pH of meats. . The research result showed that soaking in carica peel juice had a very significant effect (P<0.01) on meat pH and a significant effect (P<0.05) on water holding capacity of spent duck breast. The average pH of spent duck breasts were P0: 6.15, P1: 5.95, P2: 5.82, P3: 5.47. The Water Holding Capacity (WHC) P0: 42.04%, P1: 31.24%, P2: 28.36%, P3: 28.01%. The conclusion was that the longer spent duck breast was soaked in carica peel juice to up to 90 minute, the lower the water holding capacity and pH of the spent duck breasts. | |
| 20528 | 23525 | H1F014032 | GEOLOGI DAN SISTEM PANAS BUMI BERDASARKAN STUDI ALTERASI HIDROTERMAL PADA LAPANGAN PANAS BUMI RANTAU DEDAP, KECAMATAN SEMENDO DARAT ULU, KABUPATEN MUARA ENIM, SUMATRA SELATAN | Daerah penelitian berada di Lapangan Panas Bumi Rantau Dedap dan sekitarnya, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Daerah penelitian memiliki potensi panas bumi yang cukup besar dan sedang dalam tahap eksplorasi pengeboran. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi geologi dan kondisi alterasi bawah permukaan dengan menggunakan data hasil pengeboran berupa serbuk dan conto inti pengeboran, serta untuk mengetahui sistem panas bumi dari daerah penelitian. Metode yang digunakan adalah analisis vulkanostratigrafi, analisis mud log, analisis petrografi, analisis MEB, analisis XRD, dan analisis geotermometer mineral. Geomorfologi daerah penelitian adalah satuan perbukitan vulkanik berelief kuat. Litologi batuan dari tua ke muda adalah Breksi Vulkanik, Tuf Gelas 1, Tuf Karbonat, Tuf Riolitik, Lava Andesit 1, Tuf Gelas 2, dan Lava Andesit 2. Struktur yang berkembang pada daerah penelitian adalah sesar geser kiri dan sesar normal. Alterasi pada daerah penelitian terbagi menjadi 3 zona yaitu zona argilik yang diasumsikan sebagai claycap, zona propilitik yang diasumsikan sebagai reservoir, dan zona filik. Zona argilik ditandai oleh kehadiran mineral smektit, zona propilitik ditandai oleh mineral epidot, dan zona filik ditandai oleh kehadiran mineral serisit. Claycap berada pada elevasi kisaran 1100-2200 mdpl sedangkan reservoir dimulai pada elevasi kisaran 1100-1300 mdpl. Berdasarkan sumber panasnya, sistem panas bumi pada daerah ini termasuk kedalam klasifikasi Vulcanogenic System dan berdasarkan temperatur reservoir termasuk kedalam sistem panas bumi bertemperatur sedang-tinggi. Kata kunci : Rantau Dedap, Alterasi, Argilik, Propilitik, Panas Bumi Claycap, Reservoir. | The research area is in the Rantau Dedap and surrounding Geothermal Field, Muara Enim District, South Sumatra Province. The research area has considerable geothermal potential and is in the drilling exploration phase. This research was conducted to determine the geological conditions and subsurface alteration conditions using drilling data in the form of powder and core drilling samples, and to determine the geothermal system from the study area. The method used is vulcanostratigraphy analysis, mud log analysis, petrographic analysis, MEB analysis, XRD analysis, and mineral geothermometer analysis. Geomorphology of the research area is a strong, volcanic hilly unit. Lithology of rocks from old to young are Volcanic Breccia, Glass Tuff 1, Tuff Carbonate, Riolytic Tuff, Andesite Lava 1, Glass Tuff 2, and Andesite Lava 2. The structure that develops in the study area is left sliding fault and normal fault. Alteration in the study area is divided into 3 zones,which is assumed to be argilicclaycapzone, propylitic zone which is assumed to be a reservoir, and a phylic zone. Argillic zone is characterized by the presence of smectite minerals, the propylitic zone is characterized by epidote minerals, and the phylic zone is characterized by the presence of sericite minerals. Claycap is at an elevation of 1100-2200 meters above sea level while the reservoir starts at an elevation range of 1100-1300 meters above sea level. Based on the heat source, the geothermal system in this area belongs to the classification Vulcanogenic System and based on the reservoir temperature belongs to the classification the medium-high temperature geothermal system. Keyword : Rantau Dedap, Alteration, Argilic, Prophylitic, Geothermal, Claycap, Reservoir. | |
| 20529 | 23524 | H1K014026 | KARAKTERISTIK SUHU PERMUKAAN LAUT PADA FASE SIKLON TROPIS CEMPAKA-DAHLIA DAN FASE NORMAL DI PERAIRAN SAMUDERA HINDIA SELATAN JAWA | Perbedaan penyinaran matahari menyebabkan naiknya suhu permukaan laut sehingga membentuk pusat tekanan rendah dan dapat membangkitkan siklon tropis Cempaka-Dahlia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kecepatan dan arah angin, suhu permukaan laut pada fase Siklon Tropis Cempaka-Dahlia dan fase normal serta pengaruh siklon tropis terhadap SPL di perairan Samudera Hindia Selatan Jawa. Metode penelitian ini adalah observasi data dari NCEP NOAA dan ECMWF tahun 2015-2017. Hasil yang di peroleh menunjukan kecepatan angin rata-rata pada fase siklon 6.3 m/s dengan kecepatan maksimal siklon tropis Cempaka 15.6 m/s dan Dahlia 16.9 m/s dengan arah angin menuju pusat siklon. Sedangkan Fase normal kecepatan angin kurang dari 2.2 m/s yang mengarah ke barat. Suhu Permukaan Laut saat terjadi fase siklon 27.5 oC. Pada fase normal besaran SPL adalah 28.5 oC-29oC. Siklon tropis Cempaka-Dahlia mengakibatkan penurunan SPL, ada perbedaan nyata kecepatan angin dan suhu permukaan laut pada saat fase siklon tropis dan fase normal. | The difference in Sun exposure causes rising sea surface temperatures to form a low pressure center and generate Cempaka-Dahlia tropical cyclones. This study was aimed to determine the wind speed and direction, sea surface temperature Cempaka-Dahlia tropical cyclone phase and the normal phase also relationship during tropical cyclones for SPL in the South Indian Ocean of Java. The method was observation data obtained from NCEP NOAA and ECMWF in 2015-2017. The average wind speed in the cyclone phase was 6.3 m/s with a maximum speed of Cempaka tropical cyclones 15.6 m/s and Dahlia 16.9 m/s with wind direction towards the cyclone center. While the normal phase of wind speed was less than 2.2 m/s which leads to the west. Sea Surface Temperature during cyclone phase 27oC. In the normal phase the amount of SPL was 28.5 oC-29oC. Cempaka-Dahlia tropical cyclone were decreased SPL, were significant differences in wind speed and direction in sea surface temperature on tropical cyclone phase and normal phase. | |
| 20530 | 25960 | A1C015027 | STRATEGI PENGEMBANGAN PANGAN LOKAL DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY | Pangan lokal adalah pangan segar yang belum diolah yang dihasilkan dan dijual di lingkungan sekitar desa atau di lingkungan kabupaten atau provinsi. Pangan lokal dapat mengurangi ketergantungan terhadap beras. Namun, diperlukan strategi oleh pemerintah yang mengacu pada kondisi dan permasalahan pangan lokal serta kebijakan pemerintah untuk meningkatkan konsumsi pangan lokal. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah 1) mencari faktor dan aktor yang mempengaruhi pengembangan pangan lokal, 2) menyusun strategi pengembangan pangan lokal berdasarkan eigen vector dengan metode AHP. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret sampai Juli 2019 di Daerah Kabupaten Banyumas. Data diperoleh menggunakan kuesioner dengan 2 tahapan. Tahap pertama untuk mencari 3 alternatif strategi hirarki induk dengan eigen vector tertinggi. Tahap kedua untuk mencari alternatif strategi sub hirarki I,II, dan III. Jumlah responden setiap tahapan adalah 150 orang yang berasal dari pejabat pemerintah, staf universitas, pengusaha olahan lokal, distributor produk pertanian, petani, dan konsumen. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Metode analisis yang digunakan adalah Analytical Hierarchy Process (AHP) dan hasil akhir AHP berupa urutan prioritas faktor, aktor, dan alternatif. Hasil penelitian menunjukan faktor yang mempengaruhi pengembangan pangan lokal yaitu: 1) teknologi (0,25), 2) pemasaran (0,21), 3) sumber daya manusia (0,18), 4) sarana & prasarana (0,14), 5) kebijakan pemerintah (0,10), 6) iklim & cuaca, dan 7) geografis (0,05). Aktor yang berperan dalam pengembangan pangan lokal yaitu: 1) pemerintah (0,34), 2) universitas (0,19), 3) pengusaha olahan lokal (0,17), 4) konsumen (0,11), 5) distributor produk pertanian (0,10), dan 6) petani (0,09). Pengembangan yang dilakukan berfokus pada peningkatan produksi (0,31). Urutan prioritas alternatif dalam peningkatan produksi yaitu: 1) inovasi teknologi budi daya pra/pasca panen (0,28), 2) ekstensifikasi lahan (0,27), 3) intensifikasi lahan (0,25), dan 4) optimalisasi lahan (0,21). Peningkatan diversifikasi produk (0,19) menjadi alternatif kedua dalam pengembangan pangan lokal. Urutan prioritas alternatifnya yaitu: 1) peningkatan usaha tani terpadu (0,27), 2) bersinergi dengan perguruan tinggi (0,26), 3) peningkatan nilai tambah produk (0,25), dan 4) industri untuk hilirasi produk (0,22). Memperkuat kebijakan pemerintah (0,16) menjadi alternatif ketiga tertinggi pada pengembangan pangan lokal. Urutan prioritas alternatifnya yaitu: 1) pemberdayaan perempuan (0,24), 2) membentuk dewan pengembangan pangan lokal (0,23), 3) pemetaan dan perencanaan pengembangan wilayah (0,19), 4) penguatan pemodalan asuransi (0,18), dan 4) kebijakan mendorong percepatan diversifikasi (0,17). | Local food is fresh, unprocessed food produced and sold in the environment around the village or in the district or province. Local food can reduce dependence on rice. However, a strategy is needed by the government that refers to local food conditions and problems and government policies to increase local food consumption. Therefore, the purpose of this study is 1) to look for factors and actors that influence local food development, 2) develop a strategy for developing local food based on eigen vectors using the AHP method. The research was conducted from March to July 2019 in the Banyumas District. The data was obtained using 2-steps of research. The first step is to look for 3 alternative main hierarchical strategies with the highest eigen vector. The second stage is to find alternative strategies for sub hierarchies I, II, and III. The number of respondents in each stage is 150 people that consisted of government officials, university staff, local processed entrepreneurs, distributors of agricultural products, farmers, and consumers. The sampling technique used was purposive sampling. The analytical method used is the Analytical Hierarchy Process (AHP) and AHP final results in the form of a sequence of priority factors, actors, and alternatives. The results of the research showed that factors affecting local food development were: 1) technology (0.25), 2) marketing (0.21), 3) human resources (0.18), 4) facilities & infrastructure (0.14), 5) government policy (0.10), 6) climate & weather, and 7) geographical condition (0.05). Actors who play a role in local food development are: 1) government (0.34), 2) universities (0.19), 3) local processed entrepreneurs (0.17), 4) consumers (0.11), 5) distributors agricultural products (0.10), and 6) farmers (0.09). The development focused on increasing production (0.31). The order of alternative priorities in increasing production is: 1) technological innovation in pre / post-harvest cultivation (0.28), 2) extensification of land (0.27), 3) intensification of land (0.25), and 4) land optimization (0.21). Increased product diversification (0.19) became the second alternative in local food development. The alternative priority sequences are: 1) improvement of integrated farming (0.27), 2) synergy with universities (0.26), 3) increase in product value added (0.25), and 4) industries for product downstreaming (0,22). Strengthening government policy (0.16) becomes the third highest alternative to local food development. Alternative priority sequences are: 1) women's empowerment (0.24), 2) forming a local food development council (0.23), 3) mapping and regional development planning (0.19), 4) strengthening of insurance capital (0.18), and 4) policies to encourage diversification acceleration (0.17). | |
| 20531 | 23523 | H1E013006 | PENGARUH KONSENTRASI Nd3+ TERHADAP STRUKTUR, SIFAT MAGNET, DAN SERAPAN GELOMBANG MIKRO PADA MATERIAL STRONSIUM FERIT YANG DIBUAT DENGAN METODE MODIFIED SOLID STATE REACTION | Abstrak Stronsium Ferit yang di doping Nd3+ variasi konsentrasi 0; 0,1; 0,2; 0,3 mol % dengan suhu sintering 1.100⁰C selama 5 jam dibuat menggunakan metode modified solid state reaction. Sampel dianalisis fasa kristal, ukuran kristal, sifat magnetik dan penyerapan gelombang mikronya. Metode modified solid state reaction merupakan perpaduan antara metode sol-gel dan solid state reaction, yang meliputi pembuatan larutan prekursor awal, sol-gel, pemadatan, pre- sintering dan sintering. Sampel yang telah dibuat selanjutnya dikarakterisasi dengan alat X-Ray Diffraction (XRD), Vibrating Sample Magnetometer (VSM) dan Vector Network Analyzer (VNA). Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa terbentuk fasa kristal yang terbentuk adalah NdSrFeO4 dengan struktur tetragonal. Fasa NdSrFeO4 pada NSF2 (0,1 mol%) terbentuk satu puncak fasa tunggal, pada NSF3 (0,2 mol%) terbentuk intensitas tertinggi, pada NSF4 (0,3 mol%) terbentuk dua puncak fasa tunggal. Ukuran kristal SrNdFeO4 terkecil pada konsentrasi 0,2 mol%. Kurva histerisis menunjukkan bahwa sifat magnet yang terbentuk adalah soft magnetic dari Hc yang ramping serta nilai Hc terkecil pada NSF3 sehingga sifatnya semakin soft magnetic. Serapan gelombang mikro rata-rata yang terbentuk adalah diatas -10 dB. Serapan terbaik pada sampel NSF3 yang memiliki jangkauan frekuensi serap terlebar. Pengaruh variasi konsentrasi doping Nd3+ fasa, sifat magnetik dan reflection loss: Bertambahnya konsentrasi doping menyebabkan ukuran kristal serta jumlah fasa NdSrFeO4 semakin meningkat; Bertambahnya konsentrasi doping menyebabkan Ms, Mr, dan Hc fluktuatif dan Hc terkecil pada NSF3; Bertambahnya konsentrasi doping menyebabkan nilai reflection loss kecil atau penyerapan semakin banyak serta absorbsi semakin banyak. | Abstract Doping strontium ferrite Nd3+ concentration variation 0; 0,1; 0.2; 0.3 mol% with 1.100⁰C sintering temperature for 5 hours was made using the modified solid state reaction method. Samples were analyzed for the crystal phase, crystal size, magnetic properties and absorption of microwaves. The modified solid state reaction method is a combination of sol-gel method and solid state reaction, which includes the manufacture of initial precursor solutions, sol-gel, compaction, pre-sintering and sintering. Samples that have been made are then characterized by X-Ray Diffraction (XRD), Vibrating Sample Magnetometer (VSM) and Vector Network Analyzer (VNA) devices. The characterization results show that the formed crystal phase formed is NdSrFeO4 with a tetragonal structure. The phase of NdSrFeO4 in NSF2 (0.1 mol%) formed a single phase peak, in NSF3 (0.2 mol%) the highest intensity was formed, in NSF4 (0.3 mol%) two single peaks were formed. The smallest size of SrNdFeO4 crystals at a concentration of 0.2 mol%. The hysteresis curve shows that the magnetic properties formed are soft magnetic from the slim Hc and the smallest Hc value at NSF3 so that the properties are more soft magnetic. The average microwave uptake formed is above -10 dB. The best absorption in NSF3 samples which has the widest absorption frequency range. Effect of variations in Nd3 doping concentration + phase, magnetic properties and reflection loss: Increased doping concentration causes the size of the crystal and the number of phases of NdSrFeO4 to increase; Increased doping concentration causes Ms, Mr, and fluctuating Hc and the smallest Hc at NSF3; Increased doping concentration causes a smaller reflection loss value or more absorption and more absorption. Keywords: Neodymium, Microwaves, Strontium Ferrite, Modified Solid State Reaction. | |
| 20532 | 26070 | E1A115048 | TINJAUAN HUKUM INTERNASIONAL MENGENAI PERLINDUNGAN DI LUAR GEDUNG PERWAKILAN ASING (Studi tentang Kasus Unjuk Rasa di Depan Gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra Australia tahun 1992) | Gedung yang dipakai oleh suatu perwakilan diplomatik, baik gedung itu milik negara pengirim, maupun disewa dari perseorangan dianggap tidak dapat diganggu gugat oleh para penguasa negara penerima, dan dibebaskan dari perpajakan, kecuali bagi pajak-pajak dalam bentuk biaya pelayanan khusus seperti tarif air. Kaitannya dengan gangguan yang terjadi di luar gedung perwakilan asing pada tahun 1992 terjadi unjuk rasa di depan gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia dan di Konsul Jenderal Republik Indonesia di Canberra, Australia. Suatu kelompok orang Timor Timur yang sudah lama bermukim di Australia berjumlah sekitar seratus orang telah mengadakan unjuk rasa sebagai rentetan reaksi atas terjadinya insiden Dili 12 November 1991yang menimbulkan kerusakan dan kerugian pada mobil para diplomat, serta mengganggu pekerjaan Duta Besar dan Konsul Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlindungan kantor perwakilan dan lingkup sekitar perwakilan di Negara penerima menurut hukum internasional serta mengetahui tanggung jawab Australia atas kasus unjuk rasa di depan Kedutaan Besar RI di Canberra, Australia tahun 1992. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Semua data dalam penelitian ini berasal dari data sekunder yang disusun secara sistematis dan dianalisis dengan metode normatif kualitatif. Hasil penelitian penulisan ini yaitu pengaturan mengenai kekebalan dan hak istimewa terkait perlindungan kantor perwakilan dan lingkungan sekitar perwakilan di negara penerima dapat ditemukan dalam Pasal 22 ayat 2 Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik, Pasal 27, 41, 43 Konvensi Wina 1963 tentang Hubungan Konsuler dan peraturan lain seperti hukum kebiasaan internasional dan prinsip-prinsipnya. Berdasarkan karakteristik tanggung jawab negara menurut M.N.Shaw maka Australia memenuhi karakteristik untuk bertanggungjawab atas kerusakan dan kerugian yang terjadi dalam insiden tersebut, yaitu karena melanggar Pasal 22 Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik. Kata kunci : kekebalan diplomatik, perlindungan gedung perwakilan asing, tanggung jawab negara. | The building used by a diplomatic representative, whether the building belongs to the sending state, or rented from an individual is deemed inviolable by the authorities of the receiving state, and exempt from taxation, except for taxes in the form of special service fees such as water tariffs . One of the case happened during demonstration that caused disruption outside the diplomatic building in 1992 took place in front of the Indonesian Embassy and consulate in Canberra, Australia. A group of East Timorese about a hundred people who had lived in Australia held a demonstration as a series of reactions to the Dili 12 November 1991 incident which caused damage and damage to the cars of diplomats, and also disrupted the work of the Indonesian Ambassador and Consul. This study aims to find out the protection given to diplomatic building and its surrounding in the receiving state according to international law and Australia's responsibility for demonstration in front of the Indonesian Embassy in Canberra, Australia in 1992. The method used in this research is normative juridical with legislative approach and case approach. All data in this study come from secondary data which are arranged systematically and analyzed by qualitative normative methods. The research shows that the regulation of immunities and privileges related to the protection of diplomatic buildings and its surrounding in the receiving state regulated in Article 22 paragraph 2 of the 1961 Vienna Convention on Diplomatic Relations and in Articles 27, 41, 43 of Vienna Convention on Consular Relations and other regulations such as international customary law and principles. Based on the characteristics of state responsibility according to M.N.Shaw, Australia is responsible for the damage and losses incurred in the inciden for violating article 22 of the 1961 Vienna Convention on Diplomatic Relations. Key Words: diplomatic immunity, protection of diplomatic buildings, state responsibility. | |
| 20533 | 23527 | A1L113035 | KAJIAN KANDUNGAN TIMBAL PADA TANAMAN PADI YANG TERPAPAR ASAP KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN RAYA PAGUYANGAN DESA PAGUYANGAN KABUPATEN BREBES | Tingginya aktivitas kendaraan bermotor di jalan raya dapat menyebabkan pencemaran timbal (Pb) yang akan berdampak terhadap akumulasi Pb yang kemungkinan akan terjerap oleh tanaman padi yang dibudidayakan di sisi jalan raya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh posisi tanjakan jalan dan jarak antara ruas jalan dengan tanaman terhadap kandungan timbal dalam beras dan tanah sawah di sekitar Jalan Raya Paguyangan Desa Paguyangan Kabupaten Brebes. Penelitian ini dilaksanakan di areal persawahan Jalan Raya Paguyangan Desa Paguyangan, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes pada bulan Januari - Maret 2018. Penelitian menggunakan metode survei yaitu purposive random sampling dengan dua faktor. Faktor pertama adalah posisi tanjakan yang ditentukan berdasarkan tingkat kemiringan lereng dan dibagi 3 taraf yaitu awal tanjakan (T1) dengan ketinggian 300 mdpl dan kemiringan 3,49%, tengah tanjakan (T2) dengan ketinggian 315 mdpl dan kemiringan 15,84%, dan akhir tanjakan (T3) dengan ketinggian 330 mdpl dan kemiringan 8,75%.. Faktor kedua yaitu jarak titik sampling dari ruas jalan yang digunakan yaitu, 15 m (J1), 35 m (J2) dan 55 m (J3). Variabel yang diamati meliputi kandungan timbal dalam beras, kandungan timbal dalam tanah, kerapatan stomata, kadar klorofil, luas daun, jumlah malai, jumlah gabah per malai, bobot 1000 gabah, bobot gabah basah dan bobot gabah kering per rumpun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan posisi tanjakan dan jarak antara ruas jalan dengan tanaman tidak berpengaruh nyata terhadap kandungan timbal dalam beras dan tanah sawah di sekitar Jalan Raya Paguyangan Desa Paguyangan Kabupaten Brebes, tetapi kandungan tersebut berada di atas ambang batas yang ditentukan. | The high activity of motorized vehicles on the highway can cause lead pollution (Pb) which will have a negative impact on Pb which will be absorbed by cultivated rice plants on the side of the highway. This research was conducted to find out the effect of the road incline position and the distance between roads and plants toward the lead content in rice and paddy fields around the Paguyangan Highway in Paguyangan Village, Brebes Regency. This research was carried out in paddy fields on Paguyangan Highway in Paguyangan Village, Paguyangan District, Brebes Regency in January - March 2018. The study used a survey method namely purposive random sampling with two factors. The first factor is the incline position which determined based on the slope level and divided by 3 levels, that is the incline (T1) with a height of 300 masl and slope of 3,49%, middle of the incline (T2) with a height of 315 masl and 15,84%, and end incline (T3) with an altitude of 330 masl and a slope of 8,75%. The second factor is the distance of sampling points from roads used, ie, 15 m (J1), 35 m (J2) and 55 m (J3). The observed variables include the lead content in rice, the lead content in the soil, the density of stomata, chlorophyll content, leaf area, number of panicles, number of grains per panicle, 1000 grain weight, wet grain weight and dry grain weight per clump. The results showed that the difference in incline position and distance between roads toward plants did not significantly affect lead content in rice and paddy fields around Paguyangan Highway, Paguyangan Village, Brebes Regency, but the lead content was above the specified threshold | |
| 20534 | 23528 | E1A014201 | Kekuatan Pembuktian Alat Bukti Saksi Ahli Dalam Kasus Perederan Obat Keras Daftar (G) Di Daerah Langensari Kota Banjar Patroman. (Studi Kasus Putusan Pengadilan No: 235/Pid.Sus/2016/PN.Cms ) | Pembuktian merupakan masalah yang memegang peranan dalam proses pemeriksaan di sidang pengadilan. Melalui pembuktian di tentukan nasib terdakwa. Apabila hasil pembuktian dengan alat-alat bukti yang di tentukan undang-undang “tidak cukup” membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa, terdakwa “dibebaskan” dari hukuman. Kepadanya akan dijatuhkan hukuman. Keterangan ahli merupakan alat bukti yang sah yang telah disebutkan dalam Pasal 184 KUHAP. Alat bukti keterangan ahli ditempatkan dalam urutan kedua sebagaimana yang disistematisasikan dalam Pasal 184 KUHAP. Ini menunjukan bahwa alat bukti tersebut berpengaruh penting dalam pembuktian. Metode pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa putusan pengadilan, lalu teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka dari beberapa literatur dan peraturan perundang-undangan. Metode analisis bahan hukum adalah dengan menggunakan merode analisis kualitatif. Keterangan saksi ahli Erik Gerfianto Ssi. Apt dalam memberikan keteranganya di dalam persidangan di dalam Nomor perakara 235/ Pid.Sus/2016/PN.Cms memiliki nilai pembuktian karena telah terpenuhinya sesuai dengan Pasal 179 KUHAP yaitu syarat formil yaitu ahli telah disumpah menurut agama Islam dan syarat materil yaitu ahli menerangkan menurut pengetahuan, pengalaman, fakta yang ahli tau sendiri. Pihak apotek khusus nya asisten apoteker bisa dipertanggungjawabkan secara hukum atas perbuatan yang mengakibatkan terdakwa mengadarkan obat keras | Criminal proofing is a major matter that holds proccess of investigation at court. Through this proofing, defendant’s fate will be determined. When the result of investigation with evidences set by law are not enough proofing the mistake that was indicted, the defendant will be sentenced to be free. Expert’s information is a legal evidence which mentioned ar Article 184 Criminal Law Procedure. Expert’s information is an evidence which systematically set at the second place in Article 184 Criminal Law Procedure. It shows that this evidence is actively influencing in criminal proofing. This research used juridist-normative as approachment method. The used of data is seondary data that is court decision, then this research used literature study and legislation as the technique of data submission. The method of analysis data was using the qualitative analysis method. The information from expert, Erik Gerfianto Ssi. Apt by stating his statement at a court in Court Decision Number 235/Pid.Sus/2016/PN.Cms valued for a proofing since formil conditions had been fulfilled as well as written in Article 179 Criminal Law Procedure, those were The expert had been sworn in Muslim Syariat Procedure and materiil condition that was the expert had explained according to his knowledge, experience, and facts. Assistant pharmacist from pharmacist party can be legally accounted for acts that resulted in the defendant circulating drugs. | |
| 20535 | 26128 | C1C015105 | IMPLEMENTASI PROGRAM APLIKASI SISTEM KEUANGAN DESA (SISKEUDES) DI KECAMATAN KEMRANJEN KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Implementasi Program Aplikasi Sistem Keuangan Desa (SISKEUDES) di Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas dengan menggunakan model Implementasi dari George C. Edward yang meliputi 4 (empat) komponen yaitu komunikasi, sumber daya, sikap pelaksana, dan struktur birokrasi. Penelitian dilakukan di Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas yaitu pada 5 (lima) desa yang terpilih sebagai subyek penelitian. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif untuk mengeksplorasi dan memahami lebih dalam mengenai implementasi Aplikasi Siskeudes, mengidentifikasi hambatan-hambatan dan memberikan solusi dengan data yang diperoleh dari para informan yang telah dipilih oleh peneliti. Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa komunikasi, sumber daya, sikap pelaksana dan struktur birokrasi mendukung jalannya implementa si Aplikasi Siskeudes. Pada komponen komunikasi terbukti bahwa kemampuan para Operator Aplikasi Siskeudes akan semakin meningkat apabila para operator diberikan pelatihan dan pendampingan secara rutin. Sumber daya meliputi staf yang cukup (jumlah dan mutu), informasi yang relevan dan cukup untuk mengimplementasikan kebijakan, adanya kewenangan yang menjamin program, serta adanya fasilitas - fasilitas pendukung program. Para pelaku implementasi menunjukan sikap yang positif sehingga implementasi dapat berjalan dengan lancar. Struktur Birokrasi meliputi SOP (Standar Operasional Prosedur) dan Fragmentasi Organisasi yang merupakan penyebaran tanggung jawab pelaksanaan tugas. Baik SOP maupun Fragmentasi Organisasi sudah dijalankan dalam proses implementasi Aplikasi Siskeudes. Dalam implementasi yang dijalankan masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh para pelaku kebijakan baik dari Pemerintah Pusat, Daerah, Kecamatan serta Desa khususnya Pendamping Desa maupun Operator Aplikasi Siskeudes. Oleh karena itu solusi dan juga implikasi yang dibutuhkan berupa kesinergian evaluasi dan perbaikan antar pemerintah pusat, daerah, kecamatan dan desa demi lancarnya implementasi program Aplikasi Siskeudes yang dijalankan. | This research aims to determine how the implementation of the Village Financial System (SISKEUDES) Application Program in Kemranjen, Banyumas by using the implementation model from George C. Edward that includes 4 (four) components, namely communication, resource, implementing attitude, and bureaucratic structure. The research was conducted at five selected villages as research subject in Kemranjen, Banyumas. By using qualitative method, this research deeply explores and understands the implementation of SISKEUDES application, identifies constraints, and provides solutions according to the data obtained from informa nts selected by the researcher. The results show that communication, resource, implementing attitude, and bureaucratic structure support the implementation of SISKEUDES application. In communication, it is proven that the ability of SISKEUDES Application Operator will increase if the operator is given regular training an d assistance. In resource, it covers sufficient staff (number and quality), relevant and sufficient information to implement the policy, the existence of authority that guarantees the program, and program support facilities. In addition, the implementers show a positive attitude, therefore, the implementation is held smoothly. Bureaucratic structure consists of Standard Operational Procedure and Organization Fragmentation which constitutes the deployment of responsibilities for carrying out task. Both of S tandard Operational Procedure and Organization Fragmentation have been run in implementation process of SISKEUDES application. In its implementation, there are still several obstacles faced by policy makers (Central Government, Region, District and Village) especially the village companion and SISKEUDES application operator. Therefore, the solution and implication needed is in form of a synergy of evaluation and improvement between central, regional, sub - district and village governments for the smooth implementation of SISKEUDES. | |
| 20536 | 23529 | E1A014077 | PROSEDUR OPERASIONAL BAKU DALAM PELAKSANAAN MUTASI JABATAN ADMINISTRASI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENEMPATAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KABUPATEN PURBALINGGA | ABSTRAK PROSEDUR OPERASIONAL BAKU DALAM PELAKSANAAN MUTASI JABATAN ADMINISTRASI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENEMPATAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI KABUPATEN PURBALINGGA Oleh : DIEN ILAYA NONITA SALAMI E1A014077 Salah satu bagian dari Manajemen Pegawai Negeri Sipil adalah pengisian jabatan melalui promosi, mutasi dan demosi. Mutasi adalah suatu perubahan posisi/jabatan/tempat/pekerjaan yang dilakukan baik secara horizontal maupun vertikal di dalam suatu organisasi. Permasalahan yang akan dibahas adalah bagaimana prosedur operasional baku dalam pelaksanaan mutasi jabatan administrasi dan implikasinya terhadap penempatan Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Purbalingga.Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan analisis. Data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa prosedur pelaksanaan mutasi di Kabupaten Purbalingga masih menggunakan Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Nomor 13 Tahun 2003 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil. Implikasi hukum yang timbul karena adanya mutasi dalam jabatan administrasi berhubungan dengan status, perolehan hak serta pelaksanaan kewajiban. Implikasi lain apabila terjadi kesalahan mutasi pada saat penempatan Pegawai Negeri Sipil maka akan berdampak pada kinerja yang menurun sehingga memerlukan adanya pendidikan dan pelatihan (Diklat) guna memperbaiki kinerjanya. Kata Kunci : Manajemen, Mutasi, Penempatan, Pegawai Negeri Sipil | ABSTRACT STANDARD OPERATIONAL PROCEDURE IN THE IMPLEMENTATION OF MUTATION ADMINISTRATION AND IMPLICATION POSITION ON PLACEMENT OF CIVIL SERVANTS IN PURBALINGGA DISTRICT By: DIEN ILAYA NONITA SALAMI E1A014077 One part of Civil Service Management is filling in positions through promotion, transfer and demotion. Mutation is a change in position / occupation / place / work done both horizontally and vertically within an organization. The problems to be discussed how are the standard operational procedures in the implementation of mutation administration and implication position on placement of Civil Servant in Purbalingga District. The approach method in this research is normative juridical approach to legislation and analysis approach. The data used are secondary data and primary data. The results of this study indicate that the procedure for implementation of mutations in Purbalingga Regency still uses the Decree of the Head of the State Personnel Agency (BKN) Number 13 of 2003 concerning the Technical Guidelines for Implementing Government Regulation Number 9 of 2003 concerning the Authority to Appoint, Transfer and Dismiss Civil Servants. Legal implications arising from mutations in administrative positions related to status, acquisition of rights and implementation of obligations. Another implication if there is a mutation error at the time of placement of Civil Servants will have an impact on declining performance so that it requires the existence of education and training (Diklat) in order to improve its performance. Keywords: Management, Mutations, Placement, Civil Servants | |
| 20537 | 23530 | G1H013041 | PENGEMBANGAN KOPI INSTAN DENGAN PEMANIS GULA KELAPA DIPERKAYA MINYAK SAWIT MERAH (MSM) SEBAGAI MINUMAN ALTERNATIF SUMBER ANTIOKSIDAN BAGI PEROKOK | Latar Belakang: Konsumsi kopi di Indonesia mencapai 1.371 kg per kapita per tahun. Konsumen kopi di Indonesia sebagian besar adalah perokok. Merokok adalah salah satu faktor terjadinya penyakit degeneratif. Penyakit tersebut berkaitan dengan meningkatnya stres oksidatif dan berkurangnya antioksidan endogen akibat tembakau yang dihisap oleh perokok. Tujuan Penelitian: Mengetahui jumlah penambahan minyak sawit merah (MSM) dan bubuk kopi yang tepat dalam pembuatan kopi instan dan pengaruhnya terhadap karakteristik sensori dan kimia pada produk. Metodologi: Penelitian experimental, dengan menggunakan metode rancangan acak kelompok (RAK), penelitian terdiri dari dua faktor yaitu 1). Penambahan MSM sebanyak 3 ppm (M1), 4 ppm (M2), 5 ppm (M3) dan 2). Penambahan bubuk kopi terdiri dari 6% (K1), 8% (K2), 10% (K3). Penelitian dilakukan 3 kali pengulangan, sehingga terdapat 27 unit percobaan. Uji sensori dilakukan oleh 25 panelis semi terlatih, panelis dipilih melalui tahap seleksi. Uji kimia dilakukan di Laboratorium Teknologi Pertanian. Hasil Penelitian: Perlakuan terbaik adalah kopi instan M3K1 dengan penambahan minyak sawit merah (MSM) sebanyak 5 ppm dan bubuk kopi 6%. Kandungan tokoferol 0,85213 g/100g; nilai rata-rata kadar air 4,49%bb, pada mutu hedonik aroma kopi 3,1 (sedikit kuat), rasa manis 4,8 (agak manis), flavor 3 (sedikit enak) dan hedonik Aroma kopi 3 (sedikit suka), rasa manis 3,3 (sedikit suka), flavor 3,3 (sedikit suka). Kesimpulan:. Jumlah penambahan minyak sawit merah (MSM) dan persentase bubuk kopi pada perlakuan terbaik masing- masing sebanyak 5 ppm dan 6%. | Background: Consumption level of coffee in Indonesia reached 1,371 Kg per capital every year. Most of the coffee consumers in Indonesia are smokers. Smoking is one of the factor of degenerative disease occurance. Which is disease is related with oxidative stress increasing, and decreasing of endogen antioxidant caused by tobacco that sucked by smokers. Research Purpose: To Finded the amount of red oil palm and coffee powder addition on instant coffee production and its effect on the product’s sensory and chemical charasteristic. Methodology: These research used experimental methode with Randomized Block Design. Research consists of two factors 1) Addition of red oil palm which are 3 ppm (M1), 4 ppm (M2), 5 ppm (M3), and 2) Addition of coffee powder which are 6% (K1), 8% (K2), 10% (K3). Research done with three replication, with 27 units of experiments reached. Sensory test done by 25 of semi-exercised panelist, and choosen panelist through selection. Chemical test done in the Agricultural Technology Laboratory. Result: The best treatment was instant coffee M3K1 with addition of 5 ppm red oil palm and 6% coffee powder. Content of tocoferol of 0.85213 ppm; average value of moisture content of 4.49%bb, with aromatic hedonic value of 3.1 (rather strong), sweet flavor of 4.8 (rather sweet), flavor of 3 (rather delicious), and coffee aromatic hedonic of 3 (rather likes), sweet flavor of 3.3 (rather likes), flavor of 3.3 (rather likes). Conclusion: Amount of red oil palm addition and coffee powder persentation on the best treatment are each 5 ppm and 6%. | |
| 20538 | 23531 | H1A014034 | MODIFIKASI MULTI SOIL LAYERING (MSL) DENGAN FILTER AEROB UNTUK MENURUNKAN KADAR AMONIA, NITRIT, DAN NITRAT PADA LIMBAH CAIR TAPIOKA | Limbah cair tapioka merupakan salah satu jenis limbah yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak diolah dengan tepat. Karakteristik limbah tapioka yang tinggi akan kandungan bahan organik terutama protein menyebabkan limbah ini menghasilkan amonia, nitrit, dan nitrat yang dapat mengganggu kehidupan biota air. Berdasarkan karakteristik dari limbah cair tapioka tersebut, maka metode pengolahan limbah yang cocok dan mempunyai efisiensi tinggi adalah pengolahan secara biologis dengan metode MSL (Multi Soil Layering). Multi Soil Layering adalah suatu metode untuk meningkatkan fungsi tanah dalam pengolahan limbah cair yang mengandung bahan organik dengan melibatkan aktivitas berbagai jenis mikroorganisme dalam tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi amonia, nitrit, dan nitrat limbah cair industri tapioka sebelum dan sesudah dilakukan pengolahan dengan metode MSL serta menentukan kecepatan optimum air limbah ke dalam sistem MSL untuk selanjutnya ditentukan efisiensi dari sistem MSL dalam menurunkan kadar amonia, nitrit, dan nitrat limbah cair tapioka. Kecepatan optimum yang diperoleh untuk menurunkan kadar amonia, nitrit, dan nitrat limbah cair industri tapioka dengan metode MSL adalah pada kecepatan 320 L.m-2 hari-1. Efisiensi sistem MSL dalam menurunkan kadar amonia, nitrit dan nitrat limbah cair industri tapioka berturut-turut adalah 90,38%; 80,88%; dan 82,74%. Hal ini menunjukkan bahwa metode MSL dapat digunakan sebagai metode alternatif yang efektif dalam pengolahan limbah cair industri tapioka. | Tapioca liquid waste is one of type of waste that has potential to pollute the environment if it is not trated properly. The tapioca waste’s characteristics has high organic content especially protein could generate ammonia, nitrite, and nitrate would irritating water biota. Based on the tapioca liquid waste characteristics, MSL (Multi Soil Layering) is compatible method for processing the tapioca liquid waste because its high efficiency. MSL is one of method for increasing the function of soil due to the microorganism in soil is included toward the processing of waste. The purpose of this study to determine concentration of ammonia, nitrite, and nitrate of the tapioca waste with parameter before and after MSL processing, also determine the optimum speed and then MSL efficiency. The optimum speed obtained for decreasing content of ammonia, nitrite, and nitrate is 320 L.m-2 day-1. Efficiency of MSL system to decrease ammonia, nitrite, and nitrate were 90,38%; 80,88%; and 82,74%. This data showed that the MSL method could be implemented as alternative method to treath the tapioca liquid waste. | |
| 20539 | 23532 | H1D013073 | PENGARUH PENGGUNAAN LIMBAH SERAT KAYU DAN SERBUK GERGAJIAN TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN FISIKA CAMPURAN MORTAR SEMEN KOMPOSIT | Abstrak Dalam penelitan ini peneliti melakukan studi eksperimental untuk membandingkan pengaruh jenis limbah kayu sebagai bahan campuran mortar komposit terhadap sifat mekanik dan sifat fisika. Limbah yang digunakan adalah limbah gergajian dan limbah serat kayu. Peneletian menggunakan benda uji berbentuk kubus dan pembuatan bahan menggunakan perbandingan volume dengan dengan variasi perbandingan semen dan perbandingan persentase bahan yang terdisi dari pasir dan campuran limbah. Perbandingan semen bahan yang digunakan sebesar 1:4, 1:6, dan 1:8. Untuk perbandingan semen bahan 1:4 persentase bahan (pasir dan bahan limbah) untuk perbandingan ini sebesar 25%:75%, 50%:50%, dan 75%50%. Untuk perbandingan semen bahan 1:6, persentase perbandingan bahan yang digunakan sebesar 0%:100%, 25%:75%, 50%:50% dan 75%:25%. Untuk perbandingan semen bahan 1:8 perbandingan persentase bahan yang digunakan sebesar 25%:75%, 50%:50% dan 75%:25%. Selain itu pembuatan benda uji dalam peneletian ini menggunakan bahan tambah berupa katalis CaCl2 (Kalsium Klorida). Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa perbandingan bahan yang memiliki nilai kuat tekan paling maksimum untuk kedua variasi bahan adalah perbandingan semen bahan 1:4 dengan perbandingan persentase bahan 75% pasir 25% serat kayu dengan nilai kuat tekan 5.90 Mpa dan nilai beban maksimum 134.67 kN . Untuk nilai kerapatan dipengaruhi besar gradasi campuran, dalam hal ini gradasi serbuk gergajian yang memiliki ukuran gradasi lebih kecil dibanding dengan serat kayu memiiliki nilai kerapatan paling maksimum. Persentase perbandingan bahan juga berpengaruh pada nilai kerapatan. Semakin sedikit persentase limbah yang digunakan maka nilai kerapatannya semakin besar. Kata kunci: beton, mortar semen komposit, limbah kayu, serat kayu,serbuk gergajian, kuat tekan, beban maksimum, kerapatan, penyusutan. | Abstract The Utilize of woodwaste as a additional material for construction purpose has been made often in this recent times. In this research writter did an experimental research to compare the effect of woodwaste (skaring woodwaste and sawdust woodwaste) as a additional composite cement mortar compound towards the mechanical and physical charateristic. This research use cube test material and made by using volume proportion with cement agregat comparation and precentage proportion of agregat whic comprehended of sand and woodwaste material. The proportion of cement and agregat materials used is 1:4, 1:6, and 1:8. For 1:4 proportion, precentage of a material used is 25%:75%, 50%:50%, and 75%:25. For 1:6 proportion, precentage of a material used is 0%:100% 25%:75%, 50%:50%, 75%:25, and 100%:0% and fo1:6 proportion, precentage of a material used is 25%:75%, 50%:50%. In additioan of making test materials in this research is using catalyst as additive material. From the result above, it can be concluded that woodwaste material that make better value on force strong and maximum focre is skaring woodwaste with 1:4 cement agregat proportion with 5.90 Mpa force strong value and 134.67 kN masximum force value. The density value is affected by the size of the gradation of agregat it self. The bigger gradation the matterial have, the bigger value of the density will gained and the smaller the depretiation will gained. Keyword : Concrete, composite mortar cement, woodwaste, skaring, sawdust. Strong force, maximum force, density, depretiation. | |
| 20540 | 23533 | C1C014032 | Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Pengetahuan Pajak, Sanksi Perpajakan, dan Akuntabilitas Pelayanan Publik Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor di Kabupaten Cilacap | Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh dari variabel kesadaran wajib pajak, pengetahuan pajak, sanksi perpajakan, dan akuntabilitas pelayanan publik berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak kendaraan bermotor di Kabupaten Cilacap. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat Kabupaten Cilacap yang memiliki kendaraan bermotor dan terdaftar sebagai wajib pajak tahun 2017. Teknik penentuan sample digunakan yaitu random sampling. Sample penelitian ini sejumlah 100 orang wajib pajak kendaraan bermotor Kabupaten Cilacap tahun 2017. Teknik analisis data yang digunakan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil Penelitian ini menunjukan beberapa poin kesimpulan. Pertama, terdapat pengaruh positif dan signifikan antara kesadaran wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak. Kedua, terdapat pengaruh positif dan signifikan antara pengetahuan perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak. Ketiga, terdapat pengaruh positif dan signifikan antara sanksi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak. Keempat, terdapat pengaruh positif dan signifikan antara akuntabilitas pelayanan publik terhadap kepatuhan wajib pajak kendaraan bermotor Kabupaten Cilacap | This study aims to examine the effect of tax awareness, knowledge of taxes, tax sanctions, and accountability of public services influencing vehicle taxp compliance in Cilacap Regency. The population in this study were all Cilacap District residents who owned vehicles and were registered as 2017 taxpayers. The technique of determining the sample was used that is random sampling. The sample of this study was 100 vehicle taxpayers in Cilacap Regency in 2017. Data analysis techniques used were multiple linear regression analysis. The results of this study show some conclusion points. First, there is a positive and significant influence between the awareness of taxpayers on taxpayer compliance. Second, there is a positive and significant influence between tax knowledge on tax compliance. Third, there is a positive and significant influence between tax sanctions on taxpayer compliance. Fourth, there is a positive and significant influence between the accountability of public services for motor vehicle taxpayer compliance in Cilacap Regency |