Artikelilmiahs
Menampilkan 16.741-16.760 dari 49.979 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 16741 | 21575 | A1L014124 | PERTUMBUHAN DAN HASIL KUBIS BUNGA PADA BERBAGAI FREKUENSI PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR (POC) DAN DOSIS NITROGEN DI LAHAN PASIR PANTAI | Kubis bunga merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan frekuensi pemberian pupuk organik cair yang paling baik terhadap pertumbuhan dan hasil kubis bunga di lahan pasir pantai, (2) menentukan dosis nitrogen yang paling baik terhadap pertumbuhan dan hasil kubis bunga di lahan pasir pantai, (3) menentukan interaksi frekuensi pemberian pupuk organik cair dan dosis nitrogen yang paling baik terhadap pertumbuhan dan hasil kubis bunga di lahan pasir pantai. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai November 2017, di lahan pasir pantai Jetis, Nusawungu, Cilacap. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial yang terdiri dari dua faktor dan tiga kali ulangan. Faktor pertama yaitu frekuensi pemberian pupuk organik cair yang terdiri dari I1 = 4 hari sekali, I2 = 9 hari sekali, I3 = 14 hari sekali. Faktor kedua yaitu dosis nitrogen yang terdiri dari N1 = 100% (270 kg N/ha), N2 = 60% (162 kg N/ha), N3 = 20% (54 kg N/ha). Data dianalisis menggunakan uji F, apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) frekuensi pemberian pupuk organik cair 14 hari sekali merupakan perlakuan terbaik pada variabel hasil kubis bunga, (2) dosis nitrogen memberikan pengaruh yang sama pada varibel hasil kubis bunga, (3) pemberian pupuk organik cair dan dosis nitrogen tidak memberikan interaksi terhadap hasil kubis bunga. | Cauliflower is one of vegetable commodities consumed by many people of Indonesia. This researched aimed to (1) determinate the best frequency of liquid organic fertilizers for growth and yield of cauliflowers in coastal sandy land (2) determinate the best dosage of nitrogen fertilizers for growth and yield of cauliflowers in coastal sandy land (3) determinate interaction of liquid organic fertilizers and dosage of nitrogen for growth and yield of cauliflowers in coastal sandy land. The research was conducted in August until November 2017, at Jetis coastal sandy land, Nusawungu, Cilacap. The research was used Randomized Complete Block Design (RCBD) with two factors and three replications. The first factor was frequency of liquid organic fertilizers repairers with three types namely I1 = every 4 days, I2 = every 9 days, I3 = every 14 days. The second factor was dosage of nitrogen which consist of three levels are N1 = 100% (270 kg N/ha), N2 = 60% (162 kg N/ha), N3 = 20% (54 kg N/ha). Data were analyzed by F test, tested further by DMRT 5% if significiantly different. The results showed that (1) frequency of liquid organic fertilizers every 14 days was the best treatment for yield variabels of cauliflowers, (2) dosage of nitrogen fertilizers has the same effect for yield variables of cauliflowers (3) frequency of liquid organic fertilizers and dosage of nitrogen fertilizers have no relations for yield of cauliflowers. | |
| 16742 | 19971 | A1L013086 | EFEKTIVITAS BERBAGAI INTERVAL PEMUPUKAN, FREKUENSI PEMBERIAN DAN JENIS PEMBENAH TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KUBIS BUNGA (BRASSICA OLERACEA) DI LAHAN PASIR PANTAI | Lahan pasir pantai merupakan lahan marginal yang potensial untuk dimanfaatkan menjadi lahan budidaya tanaman hortikultura. Penanaman kubis bunga dapat memanfaatkan lahan pasir pantai, tentunya menggunakan varietas kubis bunga yang sesuai untuk dataran rendah. Tujuan penelitian ini adalah menentukan interval pemupukan yang paling baik, menentukan frekuensi pemberian pembenah tanah yang paling baik, menentukan jenis pembenah tanah yang paling baik, dan menentukan kombinasi interval, frekuensi dan jenis pembenah tanah yang paling baik. Penelitian dilaksanakan di lahan pasir pantai Jetis, Kecamatan Nusawungu, Cilacap pada bulan April 2017 hingga September 2017. Benih kubis bunga yang ditanam yaitu varietas PM126F1. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Split Plot dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Penelitian terdiri atas 3 faktor yaitu interval pemupukan, frekuensi pemberian dan jenis pembenah tanah. Variabel pengamatan yang diukur meliputi: tanaman (tinggi, bobot basah dan bobot kering), daun (jumlah, luas, panjang, kadar kehijauan, bobot basah dan bobot kering), akar (panjang, volume, bobot basah dan bobot kering), batang (bobot basah dan bobot kering), bunga (hasil, diameter, bobot basah dan bobot kering). Hasil penelitian menunjukkan frekuensi pemberian bahan pembenah tanah setiap periode tanam berpengaruh pada jumlah daun, luas daun, bobot daun segar dan kering, bobot tanaman segar dan kering, bobot bunga segar. Jenis pembenah tanah campuran vertisol dan pupuk kandang ayam+sapi berpengaruh pada panjang daun dan campuran pupuk kandang ayam+sapi yaitu bobot bunga segar dan kering. Terdapat interaksi antara frekuensi pemberian bahan pembenah setiap periode tanam dan interval pemupukan 14 hari terhadap bobot bunga segar. | Coastal sand land is a potential marginal land to be utilized to be a cultivation of horticultural crops. Flower cabbage planting can take advantage of the coastal sand land, certainly use varieties of flower cabbage suitable for the lowlands. The objectives of this study were to determine the best fertility interval, to determine the best soil enrichment frequency, to determine the best type of soil enhancer, and to determine the best combination of interval, frequency and type of soil enhancer. This research was conducted in Jetis beach sand, Nusawungu sub-district, Cilacap in April 2017 until September 2017. The seeds of the planted are PM126F1 varieties. The experimental design used was Split Plot in a Completely Randomized Block Design (CRBD). The research consists of 3 factors, fertilization interval, frequency of soil enhancer and soil type. Observational variables measured include: plant height, number, width, length and greenishness of leaves, length and volume of root, fresh and dry plant weight, fresh and dry root weight, fresh and dry stem weight, fresh and dry leaf weight, flower diameter, fresh and dry flower weight, yield of fresh flower. The results showed that the frequency of soil enhancers each season has an effect on the number of leaves, leaf area, fresh and dry leaf weight, fresh and dry plant weight, fresh flower weight. Type of soil mixer vertisol and chicken / cow manure have an effect on leaf length and mixture of chicken and cow manure are fresh and dried flower weight. There is an interaction between the frequency of provision of each regimen and the 14-day fertilization interval of fresh flower weight. | |
| 16743 | 19941 | F1F012066 | Women's Speech Features Used by Female Characters in Annie Hall Movie | ABSTRAK Rasmani. 2017. Women’s Speech Features Used by Female Characters in Annie Hall Movie. Pembimbing I: Dr. Chusni Hadiati, S.S., M.Hum. Pembimbing II: Indriyati Hadiningrum, S.S., M.Pd. Penguji: Tuti Purwati, S.S., M.Pd. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Universitas Jenderal Soedirman. Fakultas Ilmu Budaya. Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Purwokerto. Penelitian yang berjudul “Women’s Speech Features Used by Female Characters in Annie Hall Movie” bertujuan untuk menganalisis fitur-fitur ujaran perempuan dan fungsinya yang digunakan oleh tokoh-tokoh perempuan dalam film tersebut. Penelitian ini adalah penelitian qualitatif yang menggunakan teknik sampel purposif dalam penganalisisan data. Data dianalisis menggunakan teori fitur-fitur ujaran perempuan oleh Robin Lakoff yang meliputi lexical hedges atau fillers, tag questions, rising intonation on declaratives, empty adjectives, precise color terms,intensifiers, hypercorrect grammar, super polite forms, avoidance of strong swear words, dan emphatic stress. Hasil dari penelitian ini menunjukkan ada 81 data yang diujarkan oleh tokoh-tokoh perempuan dalam film tersebut yang meliputi: lexical hedges atau fillers (34 ujaran), tag questions (3 ujaran), rising intonation on declaratives (4 ujaran), empty adjectives (1 ujaran), precise color terms (0 ujaran), intensifiers (12 ujaran), hypercorrect grammar (0 ujaran), super polite forms (7 ujaran), avoidance of strong swear words (4 ujaran), dan emphatic stress (16 ujaran) Selanjutnya, fungsi dari fitur-fitur ujaran tersebut adalah untuk menunjukkan ketidakpastian dan keraguan, untuk mencegah perkataan sesuatu yang langsung, untuk menarik perhatian yang serius dari lawan bicara, untuk menunjukkan sikap yang kurang tegas, untuk memulai penjelasan/percakapan, untuk menunjukkan rasa kurang percaya diri, sebagai strategi kesopanan, untuk melembutkan ujaran, untuk mengonfirmasi lawan bicara, untuk mengekspresikan perasaan kagum, untuk menguatkan makna ujaran/untuk menekankan ujaran, untuk mencari kata yang tepat, dan untuk menunjukkan perasaan yang kuat. | ABSTRACT Rasmani. 2017. Women’s Speech Features Used by Female Characters in Annie Hall Movie. Thesis. Supervisor I: Dr. Chusni Hadiati, S.S., M.Hum. Supervisor II: Indriyati Hadiningrum, S.S., M.Pd. External Examiner: Tuti Purwati, S.S., M.Pd. Ministry of Research, Technology and Higher Education, Jenderal Soedirman University, Faculty of Humanities, English Department, English Literature Study Program, Purwokerto. The research which entitled “Women’s Speech Features Used by Female Characters in Annie Hall Movie” focuses on analysis of women’s speech features and its function used by female characters in this movie. The research used qualitative research and applied purposive sampling technique in analyzing the data. The data were analyzed using women’s speech features theory by Robin Lakoff which include lexical hedges or fillers, tag questions, rising intonation on declaratives, empty adjectives, precise color terms, intensifiers, hypercorrect grammar, super polite forms, avoidance of strong swear words, and emphatic stress. The result of the research shows there are 81 data produced by female characters in this movie; lexical hedges or fillers (34 utterances), tag question (3 utterances), rising intonation on declaratives (4 utterances), empty adjectives (1 utterance), precise color term ( 0 utterance), intensifiers ( 12 utterances), hypercorrect grammar (0 utterance), super polite forms ( 7 utterances), avoidance of strong swear words ( 4 utterances), and emphatic stress ( 16 utterances). In addition, the functions of those speech features are to show uncertainty and hesitancy, to avoid saying something definite, to take serious attention from the addressee, to show non assertive behavior, to start explanation/conversation, to show feeling lack of confidence, to make politeness strategy, to loosen/soften utterance, to seek for confirmation to the addressee, to express the admiration feeling, to strengthen the meaning of the utterance/to emphasize the utterance, to search the right word, and to show strong feeling. | |
| 16744 | 19972 | H1E013001 | Interpretasi Kedalaman Pasir Besi di Pesisir Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap berdasarkan Data Resistivitas Batuan Bawah Permukaan | Telah dilakukan penelitian indentifikasi kedalaman dan ketebalan pasir besi di daerah pesisir Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap dengan menggunakan metode Geolistrik tahanan jenis konfigurasi Schlumberger. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lokasi, posisi, dan struktur bawah permukaan berdasarkan nilai resistivitas serta dapat mengetahui kedalaman pasir besi di daerah tersebut. Penelitian ini dilatarbelakangi karena adanya ketergantunganan Indonesia terhadap impor bahan industri magnetik yang hampir mencapai 80%. Bahan magnet yang banyak digunakan salah satunya adalah pasir besi. Hasil pengukuran diproses menggunakan Software Progress Version 3.0 dan menghasilkan log resistivitas, kemudian diinterpretasi untuk memperkirakan keberadaan pasir besi dengan menggambarkan struktur lapisan tanah daerah pesisir. Hasil analisa menunjukan bahwa pasir besi memiliki nilai resistivitas sebesar 13,04 – 34,45 Ωm dengan kedalaman pasir besi berada pada 0 – 40 meter. Ketebalan rata-rata pasir besi 2 - 25 meter. Struktur lapisan daerah ini terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan tanah yang mengandung lanau, pasir besi, serta intrusi air laut. | The research had been done to identify the depth and thickness of Iron Sand in the coastal area of Binangun District, Cilacap Regency using resistivity Geolistrik method of Schlumberger configuration. This study aims to determine the location, position, and subsurface structure based on resistivity value and the depth of Iron Sand in the area. This research is motivated by the dependence of Indonesia on the import of magnetic industrial materials which reach 80%. Magnet materials are widely used, one of them is the Iron Sand. The measurement results are processed using Software Progress Version 3.0 to obtain resistivity log, it is then interpreted to make an estimatation of Iron Sand by describing the coastal soil structure. The analysis results show that Iron Sand has a resistivity value of 13,04 – 34,45 Ωm with iron sand depth is at 0 - 40 meters. The average thickness of iron sand is 2 meters to 25 meters. The layer structure of this area consists of three layers, namely the soil layer containing lanau, iron sand, and sea water Intrusion. | |
| 16745 | 21407 | A1L013157 | RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL SAWI HIJAU (Brassica juncea L.) TERHADAP PENAMBAHAN NITROGEN PADA AB-MIX SECARA HIDROPONIK RAKIT APUNG | Sayuran merupakan salah satu komoditas hortikultura yang diusahakan oleh banyak masyarakat sebagai sumber penghasilan dan pemenuh kebutuhan seharihari untuk dikonsumsi, salah satunya adalah sawi hijau. Sawi hijau yang dibudidayakan akan menunjukkan respon pertumbuhan yang baik apabila nutrisi yang diberikan dalam jumlah yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengkaji pengaruh penambahan nitrogen pada AB-mix terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi hijau pada hidroponik rakit apung, 2) Mendapatkan varietas sawi hijau yang cocok dibudidayakan secara hidroponik, 3) Mengetahui pengaruh interaksi antara jenis nutrisi dengan varietas terhadap pertumbuhan dan hasil sawi hijau pada hidroponik rakit apung. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2017 sampai bulan Juli 2017 di screen house Pondok Pesantren Darussalam, Dukuh Waluh, Purwokerto dengan ketinggian tempat 100 meter di atas permukaan laut. Percobaan ini menggunakan dua faktor dan tiga ulangan dengan Rancangan Petak Terbagi. Faktor pertama adalah penambahan nitrogen pada AB-mix dengan 3 taraf yaitu AB-mix tanpa penambahan nitrogen, AB-mix + 100 ppm N, AB-mix + 200 ppm N dan faktor kedua adalah 3 varietas sawi hijau yaitu Shinta, Tosakan, Sawindo. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, jumlah kandungan klorofil, volume akar, panjang akar, bobot tajuk segar, dan bobot akar segar. Hasil penelitian menunjukan bahwa AB-mix tanpa penambahan nitrogen menunjukan hasil tertinggi pada tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang akar, volume akar dan bobot tajuk segar. Varietas Tosakan menunjukan pertumbuhan dan hasil tertinggi pada variabel luas daun, panjang akar, bobot tajuk segar, dan bobot akar segar. Tidak ada interaksi antara penambahan nitrogen pada AB-mix dengan varietas sawi hijau. | Vegetables is one of the horticulture commodities that are cultivated by many people as a source of income and fulfill daily needs for consumption, one of which is a green mustard. Cultivated vegetables will show a good growth response if the nutrients are given in the right amount. This study aimed to 1) evaluate the effects of nitrogen enrichtment to AB-mix on the growth and yield of green mustard cultivatid in a floating hidroponic system, 2) obtain the most suitable green mustard variety planted in the floating hydroponics system, and 3) evaluate the interaction effect of nitrogen enrichment and green mustard variety. The research was conducted from May 2017 to July 2017 in the screen house at Darussalam boarding school, Dukuh Waluh, Purwokerto. The experiment site is located in the altitude of 100 meters above sea level. This factorial trial employed i.e nitrogen enrichment and green mustard and three replications with Split Plot Design. The first factor is nitrogen adding on AB-mix with three levels which are AB-mix, AB-mix + 100 ppm N, AB-mix + 200 ppm N and the second factor is three varieties of green mustard which are Shinta, Tosakan, Sawindo. The observed variables consisted of plant height, number of leafs, leaf area, number of chlorophyll, root volume, root leght, short fresh weight, and roots fresh weight. The results showed that AB-mix resulted in the highest value for plant height, number of leaf, leaf area, root length, root volume, and short fresh weight. Tosakan variety performed the best growth and the highest yield, especially on leaf area, root length, short fresh weight, and root fresh weight. There was no interaction effects amount nitrogen adding on AB-mix with green mustard varieties | |
| 16746 | 19970 | F1A010006 | Analisis Berita Kasus Bunuh Diri Pada Harian Kompas Edisi Januari-Desember 2016 | Bunuh diri merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji. Bunuh diri merupakan fenomena yang sampai saat ini, belum bisa ditentukan akar permasalahannya. Bunuh diri seringkali mewarnai pemberitaan di media khususnya media cetak. Berdasarkan hal ini, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui usia, jenis pekerjaan, jenis kelamin, motivasi bunuh diri, dan cara bunuh diri yang paling banyak pada pelaku bunuh diri di harian Kompas edisi Januari 2016-Desember 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dilihat dari variabel usia pelaku bunuh diri, kasus bunuh diri paling banyak dilakukan pada usia dewasa sejumlah 15 kasus. Dilihat dari variabel jenis pekerjaan, kasus bunuh diri paling banyak dilakukan pegawai swasta sebanyak 8 kasus. Dilihat dari jenis kelamin, kasus bunuh diri paling banyak dilakukan laki-laki sebanyak 22 kasus. Dilihat dari variabel motivasi, kasus bunuh diri paling banyak dilatarbelakangi oleh masalah ekonomi (8 kasus). Terakhir, dilihat dari variabel cara bunuh diri, kasus bunuh diri paling banyak dilakukan dengan cara gantung diri sebanyak 12 kasus. Berdasarkan hasil kesimpulan, maka saran yang diharapkan adalah bunuh diri pada dasarnya muncul karena adanya sikap depresi dan putus asa terhadap masalah yang dihadapi. Namun demikian, peneliti menyarankan untuk masing-masing individu mampu meningkatkan kualitas spiritual mereka sehingga mampu memberikan perasaan optimis dan positif dalam meilihat kehidupan. Berikutnya, keluarga dan lingkungan seharusnya mampu lebih sensitif terhadap individu-individu yang rawan mengalami depresi. Hal ini sangat penting untuk mengantisipasi individu yang depresi tersebut bertindak desktruktif seperti bunuh diri. | Suicide is an interesting phenomenon to study. Suicide is a phenomenon that until now, can not be determined the root of the problem. Suicide often coloring the news in the media, especially print media. Based on this, this study aims to determine the age, type of work, gender, suicidal motivation, and suicide suits most of the suicide in the daily Kompas January 2016-December 2016 edition. The results showed that Judging from the age variable suicide, suicide cases are mostly committed in the adult age of 15 cases. Judging from the variables of the type of work, most suicide cases are done by private employees in 8 cases. Judging from sex, the most common suicide cases were 22 males. Judging from the variables of motivation, suicide cases are mostly motivated by economic problems (8 cases). Finally, judging from the variables of suicide, suicide cases are mostly done by hanging themselves as many as 12 cases. Based on the conclusion, then the expected advice is suicide basically arise because of the attitude of depression and despair of the problems encountered. Nevertheless, the researcher recommends that each individual be able to improve their spiritual qualities so as to provide an optimistic and positive feeling in seeing life. Next, families and the environment should be able to be more sensitive to individuals prone to depression. It is very important to anticipate that depressed individuals act destructively like suicide. | |
| 16747 | 19973 | E1A012188 | PERKAWINAN ANAK DI BAWAH UMUR (Studi Terhadap Faktor Penyebab Perkawinan di Bawah Umur di Kampung Benda Kerep Kelurahan Argasunya Kota Cirebon) | Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa. Untuk memenuhi kebutuhan kodrati manusia dengan pencapaian dari suatu perkawinan tersebut, maka Undang-Undang Perkawinan telah menetapkan dasar dan syarat yang harus dipenuhi dalam perkawinan. Salah satunya yaitu dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan yang berbunyi : “Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita mencapai umur 16 (enam belas) tahun.” Penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode pendekatan yuridis sosiologis dengan pendekatan empiris untuk mengetahui faktor-faktor penyebab tidak dapat diterapkannya Pasal 7 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan di Kampung Benda Kerep Kelurahan Argasunya Kota Cirebon. Hasil penelitian yang didapat oleh penulis yaitu, bahwa perkawinan di Kampung Benda Kerep menggunakan sistem perkawinan adat yang sudah berlangsung turun temurun, di sana rata-rata usia kawin berkisar pada usia 15 tahun. Orang tua mereka mengawinkan anaknya pada usia yang masih dini karena menghindari perbuatan zina. Hal tersebut tentu bertentangan dengan ketentuan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan mengenai batasan usia perkawinan. | Marriage is the inner birth bond between a man and a woman as husband and wife in order to form a happy and eternal family (household) based on the One God. To fulfill the natural needs of man with the attainment of a marriage, the Marriage Law has established the basis and conditions to be fulfilled in marriage. One is in Article 7 paragraph (1) Constitution Number 1 Year 1974 concerning Marriage which reads: "Marriage is only permitted if the man has reached the age of 19 (nineteen) years and the woman reaches the age of 16 (sixteen) years. " This essay, the authors use sociological juridical approach with empirical approach to determine the factors that cause can not be applied Article 7 Constitution Number 1 Year 1974 About Marriage in Benda Kerep Village of Argasunya Cirebon City. The results obtained by the authors that the marriage in Benda Kerep Village using traditional marriage system that has lasted for generations, there the average age of marriage ranged at the age of 15 years. Their parents marry their children at an early age for avoiding adultery. This is certainly contrary to the provisions of Article 7 of Law Number 1 Year 1974 concerning Marriage concerning the age limit of marriage. | |
| 16748 | 21557 | E1A014125 | STANDAR DAN KRITERIA PENETAPAN KOMPETENSI MANAJERIAL SERTA IMPLIKASINYA DALAM PENGISIAN JABATAN PIMPINAN TINGGI PRATAMA DI PEMERINTAH KOTA BEKASI | ABSTRAK Bagian dari reformasi birokrasi salah satunya adalah untuk mewujudkan penerapan sistem merit, yang didalamnya terdapat pengisian jabatan pimpinan tinggi dilakukan melalui seleksi terbuka. Permasalahan yang akan dibahas adalah standar dan kriteria kompetensi manajerial pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 dan implikasi hukum yang timbul dengan diterapkannya standar dan kriteria kompetensi manajerial dalam pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama di pemerintah kota bekasi. Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif dengan pendekatan perundangan-undangan dan pendekatan analisis. Data yang digunakan adalah data sekunder yang dilengkapi data primer. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa standar dan kriteria kompetensi manajerial masih mempergunakan Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Nomor 07 Tahun 2013 yang didalamnya terdapat 5 (lima) standar kompetensi manajerial dan 33 (Tiga Puluh Tiga) kriteria kompetensi manajerial. Implikasi hukum standar dan kriteria kompetensi manajerial dalam pengisian jabatan pimpinan tinggi di lingkungan pemerintah kota Bekasi didasarkan kepada kewenangan, prosedur, dan substansi. Berdasarkan pelaksanaan seleksi terbuka pada tahun 2017 terdapat adanya ketidaksesuaian mengenai prosedur pengisian jabatan pimpinan tinggi yaitu tidak dilaksanakannya tes tertulis kompetensi (assessment) oleh panitia seleksi, bahwa pelaksanaan seleksi terbuka jabatan pimpinan tinggi tersebut dapat dibatalkan. | ABSTRACT One of the parts of bureaucratic reform is to realize the application of merit system, which includes the selection of leader in the top position by using open selection. Furthermore, the issues that will be discussed are the standard and criteria of managerial competence of the selection based on Law Number 5 Year 2014 and the implications that arise after the application of standard and criteria of managerial competence in pratama city government. During this research, the method used is normative juridical with approach of law approach and law analysis. The data used is secondary data which has completed by primary data. The results of this study indicate that the standard and criteria of managerial competence still based on the Regulation of the Head of Personnel Agency No. 07 of 2013 in which there are 5 (five) standards of managerial competence and 33 (Thirty Three) criterias of managerial competence. Implication of law standard and criteria of managerial competence in the selectuon in Bekasi government are based on authority, procedure, and substance. Based on the implementation of open selection in 2017 there is a discrepancy regarding the procedure, that there was no implementation of a written test of competence (assessment) by thecommittee, that the execution of open selection of high leadership position can be canceled. | |
| 16749 | 21408 | A1L113063 | APLIKASI PUPUK ORGANIK HAYATI, KIMIA DAN METODE KONSERVASI TANAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL KENTANG (Solanum tuberosum L.) PADA ANDISOL DI BREBES | Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui pengaruh pupuk organik hayati, kimia dan metode konservasi tanah terhadap hasil kentang di andisol (2) Mengetahui hubungan hasil kentang dan serapan P dengan perlakuan pupuk organik hayati, kimia dan metode konservasi di andisol. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Desember 2017 di Desa Pandansari, Paguyangan, Brebes dan Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAK faktorial dengan tiga faktor. Faktor pertama yaitu pupuk organik (P) dengan 6 taraf terdiri dari P1 (kontrol), P2 (POH 20 ton/ha), P3 (POH 15 ton/ha), P4 (POH 10 ton/ha), P5 (POH 5 ton/ha) dan P6 (POH 2,5 ton/ha). Faktor kedua yaitu pupuk kimia (K) dengan 4 taraf yang terdiri dari K1 (kontrol), K2 (dosis anjuran yakni urea 300 kg/ha, SP-36 500 kg/ha, 300 kg KCl dan 200 kg kapur), K3 (1/2 dosis anjuran dan 200kg kapur) dan K4 (1/4 dosis anjuran dan 200kg kapur). Faktor ketiga yaitu lereng dengan 3 taraf yang terdiri dari L1 (kontrol), L2 (bedengan sejajar kontur miring 10%) dan L3 (bedengan sejajar kontur). Variabel yang diamati yaitu tinggi, jumlah daun, hasil kentang, pH H2O, dan serapan P. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik hayati dan kimia dengan metode konservasi tanah berpengaruh terhadap hasil kentang di andisol dan terdapat hubungan korelasi antara hasil kentang dan serapan P. | This research were aims to (1) Determined the effect of biological organic, chemical fertilizer and soil method conservation in increasing potato yield in andisol (2) Determined the relation between P absorption and potato yield with biological organic, chemical fertilizers and soil method conservation in andisol. This research was conducted from March 2017 to December 2017 in Pandansari Village, Paguyangan, Brebes and Soil Science Laboratory, Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto. The experiment design used was Randomised Block Design with three factors. The first factor was biological organic fertilizer (P) with 6 levels consisting of P1 (control), P2 (POH 20 ton / ha), P3 (POH 15 ton/ha), P4 (POH 10 ton/ha), P5 (POH 5 ton /ha) and P6 (POH 2.5 ton/ha). The second factor is chemical fertilizer (K) with 4 levels consisting of K1 (control), K2 (recommended dosage urea 300 kg/ha, SP-36 500 kg/ha, 300 kg KCl and 200 kg lime) K3 (1/2 recommended dosage and 200kg lime) and K4 (1/4 recommended dosage and 200 kg lime). The third factor is the slope with 3 levels consisting of L1 (control), L2 (bedside parallel contour with 10% slope) and L3 (bedside parallel contour). Observed variables are height, number of leaves, potato yield, pH H2O, and P absorption. The results showed that biological organic and chemical fertilizers with soil method conservation have an effect on potato yield in andisol and there is a correlation relationship between potato yield and P absorption. | |
| 16750 | 19828 | C1A013109 | Analisis Permintaan Daging Sapi Di Kota Purwokerto | Penelitian ini berjudul “Analisis Permintaan Daging Sapi Di Kota Purwokerto”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh harga daging sapi, harga ayam negeri, harga ikan lele, harga telur ayam negeri, jumlah anggota keluarga, dan pendapatan rumah tangga terhadap permintaan daging sapi di Kota Purwokerto serta mengidentifikasi variabel yang paling berpengaruh terhadap permintaan daging sapi di Kota Purwokerto. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dan data primer dengan metode kuisioner dan wawancara dalam kurun waktu dua bulan (Juni-Juli 2017). Teknik analisis data menggunakan regresi linier berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Hasil analisis menunjukkan bahwa harga daging sapi, harga ayam negeri, harga ikan lele, harga telur ayam negeri, jumlah anggota keluarga, dan pendapatan rumah tangga secara bersama-sama (simultan) mempunyai pengaruh signifikan terhadap permintaan daging sapi di Kota Purwokerto. Sedangkan secara parsial menunjukkan ada dua variabel yang berpengaruh positif dan signifikan yaitu jumlah anggota keluarga dan pendapatan rumah tangga mempunyai pengaruh terhadap permintaan daging sapi di Kota Purwokerto. Variabel yang paling berpengaruh terhadap permintaan daging sapi adalah Pendapatan Rumah Tangga. Implikasi dari kesimpulan penelitian ini yang pertama adalah daging sapi merupakan bahan pangan sumber protein hewani sehingga perlu upaya dari pemerintah atau dinas-dinas terkait untuk menjaga kestabilan harga dan distribusinya agar masyarakat dapat mengkonsumsinya. Kedua perlu adanya peningkatan kualitas SDM guna meningkatkan pengetahuan akan gizi yang baik. Ketiga perluasan lapangan pekerjaan agar meningkatkan pendapatan guna memenuhi kebutuhan gizi yang cukup. | The title of this research is “The Demand Analysis of Beef in Purwokerto”. This research aims to analyze the effect of beef’s price, domestic chicken’s price, catfish’s price, domestic chicken egg’s price, the amount of family member, and household income towards the demand of beef in Purwokerto. This research also aims to identify the most affecting variable towards the demand of beef in Purwokerto. This research is a quantitative research that used primary data with the method of questionnaire and interview in two months (June-July 2017). The data analysis technique used in this research is multiple linear regression with Ordinary Least Square (OLS) method. The result of this analysis shows that beef’s price, domestic chicken’s price, catfish’s price, domestic chicken egg’s price, the amount of family member, and household income simultaneously have a significant effect towards the demand of beef in Purwokerto. On the other hand, there are two variables that partially affect the demand of beef in Purwokerto and have positive and significant effect, which are the amount of family member and household income. The most affecting variable towards the demand of beef is household income. The conclusion and implication of this research are: (1) beef is a basic need so it is necessary for government and related institutions to maintain price stability and distribution so people can consume it evenly, (2) It is necessary to increase the quality of human resources to improve the knowledge regarding good nutrition. (3) the expands of jobs and improve income to fulfill the needs of enough nutrition. | |
| 16751 | 19968 | A1H013066 | DINAMIKA UNSUR HARA PADA BUDIDAYA PADI METODE SRI (SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION) DENGAN PERLAKUAN PUPUK DAN PEMBENAH TANAH PADA TANAH SAWAH KONVENSIONAL | Budidaya SRI merupakan salah satu metode untuk meningkatkan produktivitas padi beririgasi yang meliputi perubahan pengelolaan penanaman, tanah, air, dan nutrisi bila dibandingkan dengan cara konvensional. Metode SRI mendekati sistem pertanian organik dimana segala input yang diberikan adalah menggunakan bahan-bahan organik, meskipun tidak harus selalu demikian. Tujuan dari penelitian ini adalah; 1) Mengidentifikasi dinamika hara dalam tanah, 2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika hara tersebut, serta 3) Mengetahui tingkat kesuburan tanah dan hasil produktivitas padi. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan yaitu; SRI-Organik (SO), SRI-Organik Arang (SOA), SRI-Organik Kimia (SOK) dan SRI-Kimia (SK). Variabel yang diamati meliputi pertumbuhan tanaman, iklim, hara tanah (tersedia N, P, K), C-Organik, dan hasil panen. Hasil penelitian ini menunjukkan dinamika unsur hara (N, P, K tersedia) selama masa penanaman padi. Kandungan hara menunjukkan kadar yang berbeda tiap masa pertumbuhan. Kadar ini dipengaruhi oleh faktor-faktor, seperti ; suhu, kadar air, pH tanah, dan kebutuhan tanaman terhadap unsur hara. Kesuburan tanah dapat ditentukan dengan melihat kadar C-Organik dalam tanah. C-organik terbaik ada pada perlakuan dimana bahan pembenah tanah dikombinasikan dengan pupuk organik dan anorganik (SOA dan SOK) dibandingkan dengan hanya menggunakan organik atau anaorganik tanpa kombinasi (SO dan SK). Produktivitas tanaman padi metode SRI pada penelitian ini perlakuan paling baik pada SK yaitu 1,4 ton/ha dibandingkan dengan SOK, SOA dan SO dengan hasil masing-masing adalah 1,37 ton/ha, 1,21 ton/ha dan 1,04 ton/ha. | SRI cultivation is one of the methods to increase irrigated rice productivity which includes changes in cultivation, soil, water and nutrition management when compared to conventional methods. SRI method is very close to organic farming system, where all input given is using organic materials, eventhough that is not always the case. The purpose of this research is ; 1. To identify the dynamics of nutrients in soil, 2. To identify the factors that influence the nutrien dynamics, and 3. To know the soil fertility level and the yield of rice productivity. This study used 4 treatments those are; SRI-Organic (SO), SRI-Organic using charcoal as soil amandement (SOA), SRI-Organic with application of chemical fertilizer (SOK) and Inorganic-SRI with application of chemical fertilizer only (SK). The variables observed included plant growth, climate, soil nutrient (available N, P, K ), Organic-C, and yields. The results this research indicates the dynamics of nutrient ( available N , P , K ) during the paddy cultivation. Nutrient content level is influenced by factors, such as; temperature, moisture content, soil pH, and crop requirement on nutrients. Soil fertility can be determined by looking at the levels of Organic-C in the soil. The highest Organic-C is lies on treatmens which soil amandement (biochar) combined with organic fertilizer (SOA and SOK) and inorganic fertilizers. Organic fertilizer only or anaorganic fertilizer only without combinations with soil amandement (SO and SK) shows lower Organic-C content. Rice productivity of SRI method in this research is the best on treatment of SK that is 1.4 ton/ha compared to treatments of SOK , SOA and SO with result are 1.37 ton/ha, 1.21 ton/ha and 1.04 ton/ha respectively. | |
| 16752 | 21667 | B1J014054 | Cadangan Karbon pada Tegakan Hutan Rakyat Berbasis Cengkeh di Desa Jagara Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan | Tegakan cengkeh banyak dikembangkan pada hutan rakyat di Pulau Jawa. Tegakan cengkeh memiliki nilai ekonomi, sosial, dan ekologi yang cukup penting bagi manusia. Salah satu fungsi ekologi dari tegakan cengkeh yakni penyimpan karbon. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah cadangan karbon pada berbagai umur tegakan cengkeh serta untuk mengetahui hubungan antara umur tegakan cengkeh dengan cadangan karbon. Penelitian menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara cluster sampling. Variabel yang diamati terdiri atas variabel bebas dan variabel tegantung. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu umur tegakan cengkeh dan variabel tergantung yaitu cadangan karbon tegakan cengkeh. Parameter yang diamati yaitu diameter batang setinggi dada, kerapatan tegakan cengkeh, pH tanah, suhu udara, kelembaban udara dan ketinggian tempat di atas permukaan laut. Pendugaan biomasa menggunakan metode non-destruktif yaitu dengan mengukur diameter batang tegakan dengan menggunakan persamaan allometrik dan kemudian hasilnya dikonversikan sebanyak 46% untuk menghitung jumlah cadangan karbon. Hasil perhitungan cadangan karbon pada umur 1 – 5 tahun yaitu sebesar 0,43 ton.ha-1, umur >5 – 10 tahun sebesar 26,32 ton.ha-1, umur >10 – 15 tahun sebesar 89,56 ton.ha-1, umur >15 – 20 tahun sebesar 252,72 ton.ha-1, dan umur >20 – 25 tahun sebesar 628,74 ton.ha-1. Jumlah cadangan karbon semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur tegakan, cadangan karbon tertinggi terdapat di kelompok umur >20 – 25 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan erat antara umur dengan cadangan karbon yaitu sebesar 82,5% dan dipengaruhi oleh faktor lain sebesar 17,5%. | Zysygium aromaticum has been developed on private forests in Java. Zysygium aromaticum has economic, social, and ecological function that important for human life. Zysygium aromaticum is able to store a carbon stock and that is one of its ecological function. The aim of this research is to find out the amount of carbon stock at Zysygium aromaticum different age and also to find out the correlation between the age and carbon stock on Zysygium aromaticum. Survey method is used on this research with cluster sampling techniques. Variable that observed on this research are independent variable and dependent variable. The independent variable in this research is the age of Zysygium aromaticum, while the dependent variable is the carbon stock. The parameter that observed were diameter at breast height, tree density, soil pH, air temperature, air humidity and the altitude. Biomass presumtion using non-destructive methods with the allometrik presumtion and then the result will be converted as much as 46%. The results of calculations of carbon stock at age 1-5 years that was equal to 0.43 tons.ha-1, age > 5 – 10 years of 26.32 tons.ha-1, age > 10 – 15 years of 89.56 tons.ha-1, age > 15 – 20 years of 252.72 tons.ha-1, and age > 20 – 25 years of 628.74 tons.ha-1. The amount of carbon stock increases along with increase of Zysygium aromaticum age, the highest amount of carbon stock as found in the > 20 – 25 years group. The result of this research showed that there is a correlation between the age with carbon reserves i.e. amounting to 82,5% and influenced by another factor of 17,5%. | |
| 16753 | 21409 | F1B012077 | PENGARUH PROFESIONALISME DAN KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA PEGAWAI PENGADILAN AGAMA BANYUMAS | Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh profesionalisme dan kepemimpinan terhadap kinerja pegawai pengadilan agama banyumas, Dijaman yang modern ini kemampuan Pegawai Negeri Sipil dalam pekerjaan sangatlah diperhitungkan, ketika sebagai Pegawai Negeri Sipil tidak memiliki kinerja yang baik akan sangat berdampak kepada pelayanan yang ada di organisasinya atau instansi pemerintah, Kinerja sendiri merupakan sebuah prestasi kerja yang diukur secara kualitas dan kuantitas dari hasil kerja para karyawan atau pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Tidak adanya pengaruh signifikan profesionalisme terhadap kinerja pegawai pengadilan agama banyumas, begitupun dengan pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja pegawai pengadilan agama banyumas.itu di karenakan ada faktor yang membuat variabel profesionalisme dan kepemimpinan jika di lihat pengaruhnya satu persatu tidak ada pengaruhnya. Tetapi jika kedua variabel antara profesionalisme dan kepemimpinan di satukan untuk mengetahui pengaruh terhadap kinerja pegawai di pengadilan agama banyumas, maka pengaruhnya akan terlihat secara signifikan . Namun Pengadilan Agama Banyumas harus bisa meningkatkan lagi kinerja para pegawainya. Dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusa, memperhatikan kinerja pegawai, memberikan motivasi kepada pegawai, pengawasan kerja yang di tingkatkan. Dan memperbaiki komunikasi dan hubungan antara pemimpin dan pegawai atau pejabat bawah dengan baik. | The purpose of this research is to know the influence of professionalism and leadership against the performance of an employee the Court religion of banyumas, So the ability of civil servants in work is very calculated, when as Civil servants do not have good performance will greatly impact to existing services in the organization or Government agency, the performance itself was an accomplishment of work measured in the quality and quantity of the work of the employee or employees in carrying out its duties in accordance with the responsibilities given. The research results showed that the absence of significant influence on performance clerk of court professionalism religion banyumas, likewise with the influence of leadership on performance clerk of court religion of banyumas. it in karenakan factors that makes the professionalism and leadership variables if in view its effects one by one do not matter. But if both variables between professionalism and leadership in a snap to figure out the effect on the performance of a religious court clerk in banyumas, then his influence will look significantly However, the Court should be able to improve the Banyumas Religious again the performance of its officers. By improving the quality of resources subjects, paying attention to the performance of the employee, provide the motivation to employees, supervision of the work in advance. And improve communication and relations between the leader and the employee or official of the bottom of the well. | |
| 16754 | 21411 | C1B014087 | ANALISIS PENGARUH SHIFT KERJA, WORK-TO-FAMILY CONFLICT DAN FAMILY-TO-WORK CONFLICT TERHADAP KEPUASAN KERJA DENGAN STRES KERJA SEBAGAI VARIABEL MEDIASI (Studi pada Rumah Sakit Umum Nirmala Purbalingga) | Perawat bekerja di bawah sistem shift kerja dan mereka harus bekerja dan memikul tanggung jawab keluarga pada saat yang bersamaan. Dengan waktu dan upaya yang terbatas, pertanyaan yang menjadi perhatian adalah apakah mereka memiliki work-to-family conflict dan family-to-work conflict dengan adanya sistem shift kerja . Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh shift kerja , work-to-family conflict dan family-to-work conflict pada kepuasan kerja perawat dengan peran mediasi dari stres kerja. Metode survei dengan kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data dari perawat dengan 54 responden berpartisipasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerja shift memiliki pengaruh positif terhadap kepuasan kerja dan pengaruh negatif pada stres kerja, work-to-family conflict memiliki pengaruh negatif pada kepuasan kerja dan pengaruh positif pada stres kerja, dan work-to-family conflict tidak memiliki pengaruh negatif pada kepuasan kerja dan tidak memiliki pengaruh positif pada stres kerja. Sementara stres kerja memediasi pengaruh shift kerja pada kepuasan kerja dan work-to-family conflict pada kepuasan kerja, tetapi tidak memediasi pengaruh family-to-work conflict pada kepuasan kerja. Akhirnya, studi ini membahas implikasi manajerial dan keterbatasan penelitian sebagai saran untuk penelitian masa depan. | Nurses work under the shift work system and they have to work and bear family responsibility at the same time. With limited time and effort, a question of concern is whether they have work-to-family conflict and family-to-work conflict with the shift work system. Therefore, this study aims to explore the influence of shift work, work-to-family and family-to-work conflict on nurses’ job satisfaction with mediating role of job stress. A survey method using questionnaire was utilized to collect data from nurses, and 54 respondent were participated. The study results indicate that shift work has positive influence on job satisfaction and negative influence on job stress, work-to-family conflict has negative influence on job satisfaction and positive influence on job stress, and work-to-family conflict does not have negative influence on job satisfaction and does not have positive influence on job stress. While job stress mediates the effect of shift work on job satisfaction and work-to-family conflict on job satisfaction, but it does not mediate the effect of family-to-work conflict on job satisfaction. Finally, this study discuss managerial implication and research limitation as the suggestion for the future research. | |
| 16755 | 19976 | G1B012014 | PERSEPSI STAKEHOLDERS TERHADAP RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERTEMBAKAUAN DALAM PERSPEKTIF KESEHATAN | Latar Belakang : Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sedang membuat Rancangan Undang-Undang Pertembakauan yang mendapat pertentangan dari sisi kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi stakeholders terhadap RUUP dalam perspektif kesehatan. Metodologi : Kualitatif dengan desain naratif menggunakan penentuan informan metode purposive sampling. Hasil Penelitian : Stakeholders yang terlibat dalam RUUP diidentifikasikan menjadi stakeholders resmi yaitu anggota DPR RI. Sedangkan, pakar, TCSC IAKMI dan Komisi Nasional Pengendalian Tembakau termasuk dalam stakeholders tidak resmi. Persepsi stakeholders mengenai landasan filosofis RUU Pertembakauan dalam perspektif kesehatan bahwa RUUP diharapkan mampu memuat hak kesehatan masyarakat, RUUP tidak sesuai dengan hak atas perlindungan lingkungan yang baik dan sehat, RUUP hanya melindungi masyarakat tertentu yang akhirnya merugikan kesehatan masyarakat. Persepsi stakeholders berdasarkan landasan sosiologis menyebutkan bahwa RUUP harus mencakup kepentingan industri, pertanian, ekonomi, dan kesehatan. Kenaikan produksi rokok tentu akan diiringi dengan kenaikan konsumsinya, serta tujuan dalam pembuatan undang-undang yang saling bertolak belakang tidak mungkin dapat disatukan dalam sebuah UU. Persepsi stakeholder mengenai RUUP berdasarkan landasan yuridis dalam perspektif kesehatan adalah harus adanya sinkronisasi antar UU, kenyataan bahwa RUUP yang berkontradiksi dengan UU Kesehatan, adanya kemungkinan hilangnya PP 109 No 12, dan RUUP bertentangan dengan 14 UU lain. Kesimpulan : Adanya persepsi negatif mengenai RUU Pertembakauan dari sisi kesehatan. | Background : The House of Representative of Republic of Indonesia is currently creating the draft regulations for tobacco issue which contradicts with the health perspective. The aim of this study is to know the perspective of the stakeholders towards the tobacco draft regulation within health’s perspective. Methodology : Qualitative with narrative types of study, using purposive sampling method. Result: Stakeholders who are involved in the tobacco draft regulation are identified as the formal stakeholders which are the member of the house of representative of republic of indonesia. Besides that, The Experts, TCSC IAKMI, and The National Commision on Tobacco Control as the non formal stakeholders. The perceptions of stakeholders regarding the philosophical basis of tobacco draft regulation are that the tobacco draft regulation is expected to claim the rights for the public health, the tobacco draft regulation is not suitable for the enviromental protection, also tobacco draft regulation only protect certain communities, which leads to harming public health. The result of this study based on the sosiological basis of the tobacco draft regulation within the stakeholders are the tobacco draft regulation must include the interest of the industry, agriculture, economics, and the public health itself. The increasing of cigarette production sure will be followed by the increasing of consumption of cigarette, and the aim of creating the regulation which contradicts can not be united. The result of the tobacco regulation draft based on juridical basis within health perspective are, there must be synchronization between the regulations, the fact that tobacco draft regulation contradicts with the health regulation, PP 109 No.12 removal, and the tobacco draft regulation which contradicts with other regulations. Conclusion : The negative perception of the Tobacco draft regulations among the health’s perspective of the Stakeholders. | |
| 16756 | 19977 | F1B013006 | STRATEGI DINAS PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN DALAM PENCAPAIAN TARGET PENDAPATAN ASLI DAERAH PADA SEKTOR RETRIBUSI PASAR (Studi di Pasar Sarimulyo Kabupaten Banyumas) | Strategi untuk meningkatkan pendapatan asli daerah pada sektor retribusi pasar di pasar Sarimulyo Kabupaten Banyumas sudah dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banyumas dimana strategi tersebut sudah cukup berhasil dijalankan tetapi masih ada beberapa aspek yang belum berjalan dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pelaksanaan strategi intensifikasi dan ekstensifikasi yang dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banyumas. Dan juga untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan dan faktor-faktor yang menghambat jalannya strategi tersebut. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian yaitu dilakukan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan juga di pasar Sarimulyo Kabupaten Banyumas. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling dan accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi intensifikasi yang dilakukan adalah dengan memperluas basis penerimaan melalui identifikasi pedagang dan meningkatkan kesadaran WR/ wajib retribusi. Meningkatkan pengawasan dengan memperbaiki proses pengawasan dan memberikan sanksi bagi penunggak retribusi. Memperkuat proses pemungutan dengan melakukan sosiali Perda tentang reribusi dan intensitas pemungutan retribusi. Upaya lainnya adalah meningkatkan efisiensi administrasi dan juga meningkatkan kapasitas pendapatan dengan bekerjasama dengan instansi yang terkait. Adapun strategi ekstensifikasi dilaksanakan melalui penggalian objek-objek retribusi baru. Namun hal tersebut belum bisa dilaksanakan karena keadaan pasar yang baru di bangun ulang. | A strategy to improve local revenue on the market levy in the market Sarimulyo Banyumas district has been carried out by office industry and trade banyumas district where the strategy is enough was successfully run but there is still some aspects which have not going well. The purpose of this research is described implementation of the extension intensification and done by the agency trade and industry banyumas district. And also to know the efforts being conducted and the factors that hinder the course of the strategy. The methodology used the descriptive qualitative. Research sites that is done in office industry and trade and also in the market Sarimulyo Banyumas district. The selection of the sampling method of using a technique purposive informants and the sampling method of accidental .The research results show that strategy the intensification of what can be done is by expanding the base by identifying revenue traders and raise awareness w. r. / levies .Improve the supervision by improving the process of supervision and give sanction for retribution at the same time asking . Strengthen the levy process by conducting a local regulation on reribusi sosiali and intensity of their collection of levies . Other efforts improve the efficiency of administration and also increasing its capacity income by cooperating with the related agencies . As for adding to the number of strategy implemented through an excavation new levies objects . But it has not yet been implemented because of the ensuing emerging markets in repeated wake up | |
| 16757 | 21971 | F1A011036 | KONFLIK KELAS PADA KAPITALISME DALAM FILM IN TIME (ANALISIS SEMIOTIK KELAS SOSIAL DALAM FILM IN TIME) | ABSTRAK Film In Time merupakan film fiksi ilmiah yang menceritakan tentang fenomena perkotaan di masa depan. Film ini diproduksi pada tahun 2011 dan merupakan refleksi pembuat film atas fenomena occupy wallstreet. Film ini menceritakan tentang kehancuran tatanan sosial di perkotaan masa depan akibat jurang ketimpangan ekonomi yang begitu besar di antara masyarakatnya. Kemiskinan yang akut dan monopoli sumber daya pada segelintir orang menyebabkan lahirnya bibit-bibit pemberontakan yang ingin mengubah sistem. Film ini dianalisis menggunakan semiotika Charles Sanders Pierce. Adapun semiotik Charles Sanders Pierce mengurai makna menjadi tiga, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Terdapat 7 Scenes yang menjadi scenes pilihan untuk dianalisis supaya dapat menjawab pertanyaan penelitian secara komprehensif. Semiotika Charles Sanders Pierce dipilih karena terdapat indeks sebagai unit analisis untuk membedah hubungan kausal dalam sebuah tanda. Hal tersebut tidak terdapat pada semiologi Ferdinand De Saussure Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat distribusi kelas, eksploitasi kelas, dan konflik kelas dalam film In Time. Distribusi kelas berupa kelas borjuis dan kelas proletar. Eksploitasi kelas dilakukan oleh kelas borjuis terhadap kelas proletar melalui penghisapan nilai lebih kerja. Konflik kelas terjadi karena munculnya kesadaran kelas proletariat untuk mengubah nasibnya. Secara umum film In Time berisi kritik atas kapitalisme yang menyimpan bom waktu kesenjangan ekonomi yang semakin tinggi dan berpotensi menimbulkan krisis. Sebagai implikasi, penelitian ini memberikan jalan bagi peneliti lain untuk memaknai film yang sama dalam konteks kritik kapitalisme maupun film lain dalam konteks yang sama. Hal tersebut diperlukan mengingat kapitalisme sudah menjadi sestem yang langgeng dan mempengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari dan dapat direpresentasikan dalam bentuk film. Analisis terhadap film akan memperkaya pengetahuan atas kapitalisme. | ABSTRACT The In Time movie is a science fiction movie that tells about future urban phenomena. This movie was produced in 2011 and is a reflection of filmmakers over the phenomenon of occupy wallstreet. It tells us about the destruction of social order in the future urban areas due to the huge economic inequality among the people. Acute poverty and resource monopoly in a handful of people lead to the birth of seeds of revolt that want to change the system. This movie was analyzed using Charles Sanders Pierce's semiotics. The semiotic of Charles Sanders Pierce unravels the meaning into three, namely icon, index, and symbol. There are 7 Scenes which are the preferred scenes to be analyzed in order to answer the research questions comprehensively. Semiotics Charles Sanders Pierce was chosen because there is an index as an analytical unit to dissect causal relationships in a sign. It does not exist in the semiology of Ferdinand De Saussure. The results revealed that there were class distributions, class exploits, and class conflicts in the In Time movie. Class distribution of bourgeois class and proletarian class. Class exploitation is done by the bourgeoisie against the proletarian class through the exploitation of the value of labor. Class conflict occurs because of the emergence of the class consciousness of the proletariat to change its destiny. This movie generally contains criticisms of capitalism that hold the time bombs of increasing economic gap and potentially cause crisis. As an implication, this study provides a way for other researchers to interpret the same film in the context of criticism of capitalism or other films in the same context. This is necessary given that capitalism has become a lasting system and affects the daily lives of people and can be represented in movie. The analysis of this movie will enrich the knowledge of capitalism. | |
| 16758 | 19978 | C1A013037 | ANALISIS PENGARUH INFLASI, NILAI TUKAR, UPAH MINIMUM REGIONAL, DAN SUKU BUNGA INTERNASIONAL TERHADAP INVESTASI ASING DI PROVINSI JAWA BARAT | Penelitian ini berjudul “Analisis Pengaruh Inflasi, Nilai Tukar, Upah Minimum Regional, dan Suku Bunga Internasional Terhadap Investasi Asing di Provinsi Jawa Barat”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh inflasi, nilai tukar, upah minimum regional, dan suku bunga internasional terhadap investasi asing di Provinsi Jawa Barat dan mengetahui variabel yang paling memengaruhi investasi asing di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan di wilayah Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa data time series dengan periode pengamatan tahun 2001-2016. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear berganda metode Ordinary Least Square (OLS) dan analisis elastisitas. Hasil penelitian ini menunjukkan Secara bersama-sama variabel inflasi, nilai tukar, upah minimum regional, dan suku bunga internasional berpengaruh signifikan terhadap investasi asing di Provinsi Jawa Barat. Secara parsial, variabel inflasi dan upah minimum regional berpengaruh positif dan signifikan terhadap investasi asing, variabel nilai tukar berpengaruh postif namun tidak signifikan, sedangkan suku bunga berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap investasi asing di Provinsi Jawa Barat. Faktor yang paling besar perngaruhnya terhadap investasi asing Provinsi Jawa Barat adalah upah minimum regional. Implikasi untuk penelitian ini yaitu pemerintah pusat harus tetap menjaga iklim investasi dengan kondusif sehingga dapat menjaga kepercayaan para investor asing dalam menanamkan modalnya. Oleh karena itu pemerintah pusat harus memberi kemudahan dalam memberikan perizinan kepada para calon investor sehingga mereka dapat tertarik untuk berinvestasi serta menjaga kestabilan perekonomian. Serta pemberian tingkat upah yang sesuai standar hidup layak dan mampu memenuhi kebutuhan pokok pekerja merupakan salah satu faktor penentu meningkatnya produktivitas yang bertujuan untuk peningkatan penanaman modal asing. Dengan begitu pemerintah daerah juga perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan pendirian lembaga pelatihan untuk meningkatkan keterampilan bagi para calon pekerja swasta. Sehingga upah yang diberikan sebanding dengan output yang dhasilkannya. | This study entitled "Influence Analysis of Inflation, Exchange Rate, Regional Minimum Wage, and International Interest Rate on Foreign Investment in West Java Province". The purpose of this research is to know the influence of inflation, exchange rate, regional minimum wage, and international interest rate to foreign investment in West Java Province and to know the variables that most influence foreign investment in West Java Province. This research was conducted in West Java Province. This study uses secondary data in the form of time series data with observation period of 2001-2016. Analyzer used in this research is multiple linear regression method Ordinary Least Square (OLS) and elasticity analysis. The results of this study indicate Together the variables of inflation, exchange rate, regional minimum wage, and international interest rates have a significant effect on foreign investment in West Java Province. Partially, inflation variable and regional minimum wage have positive and significant influence to foreign investment, exchange rate variable has positive but not significant influence, while interest rate has negative and insignificant effect to foreign investment in West Java Province. The biggest factor affecting foreign investment in West Java Province is the regional minimum wage. The implication for this research is that the central government must keep the investment climate conducive so as to maintain the confidence of foreign investors in investing their capital. Therefore, the central government should provide easiness in providing permits to potential investors so they can be interested to invest as well as maintain the stability of the economy. And the provision of appropriate wage levels of decent living standards and able to meet the basic needs of workers is one of the determinants of increased productivity that aims to increase foreign investment. Thus the local government also needs to improve the quality of human resources with the establishment of training institutions to improve the skills for potential private workers. So that the given wage is proportional to the output that it produces. | |
| 16759 | 19979 | F1B113052 | DAMPAK PELAKSANAAN PROGRAM PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DAN KEUNGGULAN KOMPETITIF USAHA KECIL DAN MENENGAH TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DI KECAMATAN PURWOKERTO SELATAN KABUPATEN BANYUMAS | Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan suatu jenis kegiatan usaha yang dilakukan oleh pelaku – pelaku dengan skala usaha mikro, kecil dan menengah. UMKM ini merupakan suatu alternatif yang digunakan oleh pemerintah Indonesia sebagai bentuk dari pengentasan permasalahan kemiskinan dan pengangguran. Namun, pada kenyataan UMKM yang digadang dapat meningkatkan kesejahteraan memiliki berbagai kendala salah satunya yang paling populer ialah daya saing. Daya saing menjadi kajian yang perlu untuk dipelajari khususnya bagi pelaku UMKM karena daya saing sangat berpengaruh terhadap tingkat penjualan dan juga produktivitas. Pemerintah sangat penting untuk tidak hanya menggalakan UMKM di setiap daerah namun juga didampingi dengan pemberdayaan UMKM yang menyoroti pada bagaimana pelaku UMKM dapat bersaing dengan pelaku usaha lokal maupun internasional untuk dapat bersaing, mempertahankan eksistensi dan meningkatkan penjualan. Untuk memotivasi dan juga mendukung adanya usaha kecil dan menengah, pemerintah kabupaten Banyumas melalui Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah memiliki sebuah program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif usaha kecil dan menengah (PK3UKM). Program ini telah berjalan sejak tahun 2013 yang tersebar di hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Banyumas, oleh karena itu perlu adanya evaluasi terhadap dampak yang ditimbulkan , apakah sudah sesuai dengan yang diinginkan atau belum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak program PK3UKM terhadap kesejahteraan di Kabupaten Banyumas. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Kebijakan Publik dengan mengkaji pada evaluasi dampak. Pendekatan evaluasi dalam penelitian ini adalah comparative after only dengan menggunakan metode kuantitatif. Teknik pengambilan sampelnya menggunakan random sampling dengan jumlah sampel untuk masing-masing kelompok treatment dan kelompok control adalah 59 orang. Teknik analisis data menggunakan distribusi frekuensi dan mannwhitney u-test. Hasil penelitian diketahui terdapat perbedaan antara kondisi kelompok treatment dengan kelompok control setelah dilakukannya program PK3UKM. Kondisi setelah program PK3UKM pada kelompok treatment lebih baik daripada kelompok control dan dampak program PK3UKM lebih dapat dirasakan oleh kelompok treatmentdaripada kelompok control. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa program PK3UKM memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Purwokerto Selatan Kabupaten Banyumas. | Micro, small and medium enterprises (SMEs) is a kind of business activities conducted by actors with scale of micro, small and medium enterprises. This SMEs is an alternative that is used by the Indonesian government as a form of poverty alleviation and unemployment. However, the fact that SMEs are staying up can improve the welfare has many obstacles one of the most popular is the competitiveness. Competitiveness becomes a study that needs to be learned, especially for the perpetrators of SMEs because competitiveness is very influential on the level of sales and productivity. The government is very important to not only encourage SMEs in each region but also accompanied by the empowerment of SMEs which highlights on how SMEs actors can compete with local and international business actors to compete, maintain existence and increase sales. To motivate and also support the existence of small and medium enterprises, Banyumas district government through the Office of Manpower, Cooperatives and Small and Medium Enterprises has an entrepreneurship development program and competitive advantage of small and medium enterprises (PK3UKM). This program has been running since 2013 that spread in almost all districts in Banyumas Regency, therefore it is necessary to evaluate the impacts caused, whether it is in accordance with the desired or not. This study aims to determine the impact of PK3UKM program on welfare in Banyumas regency. The theory used in this research is the theory of Public Policy by reviewing the impact evaluation. The evaluation approach in this research is comparative after only by using quantitative method. The sampling technique using random sampling with the number of samples for each treatment group and control group is 59 people. Data analysis techniques use frequency distribution and mannwhitney u-test. The result showed that there was a difference between treatment group condition and control group after PK3UKM program. The condition after PK3UKM program in treatment group was better than control group and PK3UKM program impact was more felt by treatment group than control group. Therefore it can be concluded that the PK3UKM program has a positive impact on the welfare of the community in South Purwokerto District, Banyumas Regency. | |
| 16760 | 19980 | F1B013032 | ANALISIS APLIKASI TEORI THE SERVICE TRIANGLE PADA MANAJEMEN PELAYANAN ADMINISTRASI TERPADU TINGKAT DESA DI DESA KEMUTUG LOR KECAMATAN BATURRADEN KABUPATEN BANYUMAS | Upaya memperbaiki kualitas pelayanan publik telah dilakukan oleh pemerintah Desa Kemutug Lor Kecamatan Baturraden Kabupaten Banyumas dengan adanya Pelayanan Administrasi Terpadu Tingkat Desa atau PANTES. Pelaksanaan PANTES di Desa Kemutug Lor cukup berhasil dan sudah memberikan kepuasan bagi masyarakat. Hal tersebut tidak terlepas dari manajemen yang dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan analisis aplikasi teori The Service Triangle pada manajemen Pelayanan Administrasi Terpadu Tingkat Desa di Desa Kemutug Lor. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian di Desa Kemutug Lor dengan sasaran penelitian yaitu pemerintah Desa Kemutug Lor dan masyarakat Desa Kemutug Lor. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling, snowball sampling, dan accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum penerapan teori The Service Triangle pada manajemen PANTES di Desa Kemutug Lor sudah berjalan cukup baik. Sistem pelayanan sudah dapat mendukung pemberian pelayanan yang berkualitas. Strategi pelayanan yang dilakukan sudah memberikan perubahan positif bagi kompetensi petugas pelayanan maupun bagi perilaku masyarakat. SDM pemberi layanan sudah memadai dan memiliki kemampuan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun terdapat beberapa kekurangan diantaranya kurangnya sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan prosedur pelayanan. Pemerintah Desa Kemutug Lor juga tidak memiliki standar pelayanan minimal untuk pelaksanaan PANTES sesuai dengan amanat peraturan perundang-undangan. | Efforts to improve the quality of public services have been done by the government of Kemutug Lor Village, Baturraden District, Banyumas Regency, with the existence of Integrated Village Level Administration Service or PANTES. The implementation of PANTES in Kemutug Lor is quite successful and has given satisfaction to the community. It can’t be separated from the management carried out. This study aims to analyze application of The Triangle Theory on the management of Integrated Village Level Administration Service in Kemutug Lor. The research method is descriptive qualitative. Research location in Kemutug Lor with the target is Kemutug Lor’s government and Kemutug Lor’s community. Selection of informants is used purposive sampling, snowball sampling, and accidental sampling. The results showed that the application of The Service Triangle theory of PANTES management in Desa Kemutug Lor is quite well. The service system can support the provision of quality services. The service strategy has made a positive change for the competence of service officers and for the behavior of the community. The service providers are adequate and have sufficient ability to meet the needs of the community. But there are some shortcomings such as lack of socialization to the public related to service procedures. Kemutug Lor’s government also doesn’t have a minimum service standard for the implementation of PANTES in accordance with the mandate of legislation. |