Artikelilmiahs

Menampilkan 14.541-14.560 dari 49.718 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1454117851I1F015067ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB GANGGUAN JIWA PSIKOTIK PADA ANAK DAN REMAJA DI INSTALASI PELAYANAN KESEHATAN JIWA TERPADU
RSUD BANYUMAS
ABSTRAK
Latar belakang: Gangguan jiwa merupakan suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial. Secara garis besar penyebab gangguan jiwa dibagi menjadi tiga faktor yaitu faktor somatik, faktor psikologik, dan faktor sosio-budaya.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan gangguan jiwa psikotik pada anak dan remaja di Instalasi Pelayanan Kesehatan Jiwa Terpadu RSUD Banyumas
Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional, dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 53 pasien. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Analisis data bivariat yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji non parametrik yaitu Lambda.
Hasil: Terdapat hubungan faktor somatik (p value 0,002), faktor psikologik (p value 0,003), faktor sosio-budaya (p value 0,014) dengan gangguan jiwa psikotik pada anak dan remaja di RSUD Banyumas.
Kesimpulan: Terdapat hubungan faktor somatik, faktor psikologik, faktor sosi-budaya dengan gangguan jiwa psikotik pada anak dan remaja di Instalasi Pelayanan Kesehatan Jiwa Terpadu RSUD Banyumas.
ABSTRACT
Background: Mental disorders is a change in mental function that causes a disturbance in mental function, causing suffering to individuals and or obstacles in implementing social role. Broadly speaking, the causes of mental disorders are divided into three factors: somatic factors, psychological factors, and socio-cultural factors.
Objective: This research aimed to analysis the factors that cause psychotic mental disorders in children and adolescents in the installation of Integrated Mental Health Services Banyumas Hospital.
Methods: The study was observational with cross sectional approach. The number of samples in the study of 53 patients. The sampling technique used in this study using purposive sampling method. Bivariate data analysis used in this study is a non-parametric test of Lambda.
Results: There is a relationship of somatic factor (p value 0,002), psychological factors (p value 0,003), and socio-culture factor (p value 0,014) with psychotic mental disorders in children and adolescents.
Conclusion: There is a correlation between somatic factors, psychological factors, socio-culture factors with psychotic mental disorders in children and adolescents.
1454217854I1F015001GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PENURUNAN SUHU TUBUH DENGAN PENATALAKSANAAN NON FARMAKOLOGIS DI RUANG ASTER RSUD MARGONO SOEKARJO PURWOKERTOGAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PENURUNAN SUHU TUBUH DENGAN PENATALAKSANAAN NON FARMAKOLOGIS DI RUANG ASTER, RSUD MARGONO SOEKARJO, PURWOKERTO

Eike Irliana Wahyuni1 Dian Susmarini2 Unang Wirastri2
1. Mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman
2. Departemen Keperawatan Medikal Anak Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

ABSTRAK
Latar belakang: Demam pada anak merupakan salah satu alasan yang paling sering dari orangtua untuk mencari perhatian medis. Penanganan demam terbagi dalam 2 penatalaksanaan yaitu penatalaksanaan farmakologis dan non farmakologis,
Tujuan: Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang penurunan suhu tubuh dengan penatalaksanaan non farmakologis di Ruang Aster, RSUD Margono Soekarjo, Purwokerto.
Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan yang bersifat cross sectional. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan cara concecutive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini hanya analisis univariat.
Hasil: Responden berumur dewasa awal sebanyak 56,7 %, berpendidikan rendah sebanyak 46,7% dan sudah berpengalaman sebanyak 80,0%. Responden sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 76,0%, 16,0% berpengetahuan cukup dan responden dengan tingkat pengetahuan kurang sebanyak 8,0%.
Kesimpulan: Ibu sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan yang baik.

Kata Kunci: demam, pengetahuan, penanganan non farmakologis
DESCRIPTION OF LEVEL OF KNOWLEDGE ABOUT MOTHER WITH DECREASED BODY TEMPERATURE MANAGEMENT IN THE NON PHARMACOLOGICAL ASTER HOSPITALS MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

Eike Irliana Wahyuni1 Dian Susmarini2 Unang Wirastri2
1. Student of Nursing Departement, Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University
2. Children's Department of Medical Nursing Department of Nursing Faculty of Health Sciences Unsoed

ABSTRACT

Background: Fever in children is one of the reasons most often from parents to seek medical attention. Handling fever is divided into two management are pharmacological and non-pharmacological management,
Objective: To determine the mother's knowledge level overview of the drop in body temperature with non-pharmacological management in Space Aster, Margono Soekarjo Hospital, Purwokerto.
Methods: This study is a descriptive study using cross sectional approach. Sample was done by concecutive sampling with a sample size of 30 respondents. Analysis of the data used in this study only the univariate analysis.
Results: Respondents aged early adulthood as much as 56.7%, less educated as much as 46.7% and has experienced as much as 80.0%. Most of the respondents have a good level of knowledge that is as much as 76.0%, 16.0% are knowledgeable enough and respondents with less knowledge level as much as 8.0%.
Conclusion: Mother most have a good level of knowledge.

Keywords: fever, knowledge, non-pharmacological treatment
1454317855I1F015017FACTORS AFFECTING OF NURSES READINESS IN GIVING PALLIATIVE CARE AT PROF DR MARGONO SOEKARJO
REGIONAL PUBLIC HOSPITAL
Abstrak

Pendahuluan : Perawatan paliatif merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kanker. Saat ini perawatan paliatif baru tersedia di beberapa kota besar. Rumah Sakit Margono Soekarjo adalah salah satu rumah sakit yang merawat pasien kanker. Jumlah kunjungan terus meningkat namun belum tersedia perawatan paliatif yang terstruktur. Sebelum memberikan perawatan paliatif, perawat harus dalam kondisi siap.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kesiapan perawat dalam memberikan perawatan paliatif.
Metodologi : Metode penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh perawat di unit onkologi. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sample diperoleh 39 responden. Pengetahuan diukur dengan the Palliative Care Quiz of Nursing (PCQN), sikap diukur dengan Frommelt Attitude Toward Care of the Dying (FATCOD) serta motivasi dan kesiapan diukur dengan kuesioner yang disusun oleh peneliti. Analisa data dengan uji chi square dan fisher exact sebagai uji alternatif
Hasil penelitian : Ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan (p=0,005), pengetahuan (p=0,005) dan sikap (p=0,011) dengan kesiapan perawat dalam memberikan perawatan paliatif. Tidak ada hubungan yang bermakna antara lama bekerja, status kepegawaian dan motivasi
Kesimpulan : Kesiapan perawat dalam memberikan perawatan paliatif dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, pengetahuan, dan sikap perawat terhadap perawatan paliatif.
Kata kunci : Kesiapan, motivasi, pendidikan, perawatan paliatif, sikap
Abstract

Introduction: Palliative care is one of treatments to improve life quality of patient with cancer. At this moment, it is only available in a few major cities. Margono Soekarjo Regional Public Hospital is one of hospitals which providing care for patient with cancer. Even though, The number of visit of patients with cancer is getting increase, but there has not been an organized palliative care yet. Before giving palliative care, nurses must be ready.
Objective: the study aims to investigate factors affecting the readiness of nurses in providing palliative care.
Methodology: This is an analytical survey with cross sectional approach. A total of 39 nurses at oncology unit was participated in this study. Knowledge was measured using PCQN, attitude was measured using FATCOD, and motivation and readiness were measured using questioner designed by the researcher. Data was analyzed using chi-square test or fisher exact test.
Findings: There is a significant correlation between educational level (p=0,005), knowledge (p=0,005), and attitude (p=0,011) and the readiness of nurses in giving palliative care. There is no significant correlation between the length of working, employee status and motivation.
Conclusion: Nurse’s readiness in giving palliative care was affected by educational level, nurse’s knowledge and nurse’s attitude.
1454417856I1F015060FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN BURNOUT PADA PERAWAT ICU DI RSUD WILAYAH KABUPATEN BANYUMASABSTRAK
Latar Belakang: Burnout merupakan kelelahan fisik, emosional, dan mental yang disebabkan keterlibatan jangka panjang dalam situasi yang penuh dengan tuntutan emosional. Salah satu petugas kesehatan yang berisiko mengalami burnout adalah perawat yang bekerja di ruang Intensive Care Unit (ICU).
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan burnout pada perawat ICU di RSUD wilayah Kabupaten Banyumas.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi korelasi dengan desain Cross Sectional. Sampel sebanyak 40 perawat ICU diambil menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Analisis bivariat menggunakan Spearman-rho.
Hasil: Sebagian besar responden mengalami burnout, work overload, lack of work control, rewarded for work dan dealing with conflict values tingkat sedang. Hasil uji Spearman-rho menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara burnout dengan work overload (p value= 0,338), dan juga burnout dengan dealing with conflict values (p value= 0,641). Terdapat hubungan antara burnout dengan lack of work control (p value 0,049) dan juga burnout dengan rewarded for work (p value= 0,000).
Kesimpulan: Lack of work control dan reward berhubungan dengan burnout pada perawat ICU di RSUD wilayah Kabupaten Banyumas.
ABSTRACT
Background: Burnout is physical, emotional, and mental fatigue due to long-term involvement in situations full of emotional demands. One of the health workers who are at risk of burnout are nurses working in the Intensive Care Unit (ICU).
Objective: This research aimed to determine the factors associated with burnout among ICU nurses in the regional public hospital in Banyumas regency.
Method: This research used correlational study with Cross Sectional design. A sample of 40 ICU nurses were taken using total sampling technique. Collecting data using questionnaires. The bivariate analysis using the Spearman-rho.
Result: Most respondents experiencing burnout, work overload, lack of work control, rewarded for work and dealing with conflict values at moderate level. Spearman-rho test result showed that there was no correlation between burnout with work overload (p-value 0.338) and also burnout with dealing with conflict values (p-value 0.641). There was a relationship between burnout with lack of work control (p-value 0.049) and also burnout with rewarded for work (p-value 0.000).
Conclusion: Lack of work control and rewards associated with burnout in ICU nurses in the regional public hospital in Banyumas regency.
1454517811H1K010029KERAGAMAN DAN KELIMPAHAN ZOOPLANKTON PADA EKOSISTEM TERUMBU KARANG TRANSPLAN DI PERAIRAN PANTAI TIMUR PANGANDARAN KABUPATEN PANGANDARANFungsi ekologis terumbu karang salah satunya sebagai penyedia nutrient (primer feeding ground), terutama bagi zooplankton sebagai konsumer primer. Secara ekologis zooplankton berperan sebagai sumber pakan konsumer sekunder pada tingkat juvenile. Pengetahuan mengenai distribusi zooplankton secara vertikal maupun horizontal sangat dibutuhkan untuk mengetahui perannya bagi tropic level diatasnya sehingga perlu dideterminasikan secara kuantitatif dengan mengetahui metode pengambilan sampel yang efektif. Adanya kerusakan terumbu karang sejauh ini dapat teratasi dengan adanya karang transplant. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman, kelimpahan dan pengaruh faktor fisika kimia perairan pada tiap lokasi pengambilan sampel yang berbeda usia terumbu karang transplan yakni: (A) 4 tahun, (B) 7 tahun, (C) 8 tahun dan sebagai kontrol (D) terumbu karang alami. Metode pengambilan sampel menggunakan planktonet, baik secara vertikal dan horizontal, yang dilakukan sebanyak 2 kali berdasarkam ulangan waktu. Hasil menunjukan, bahwa kelimpahan kelimpahan tertinggi terdapat pada kategori (A) sebesar : 1.968 dan 2.403 ind/L. Keragaman tertinggi pada kategori (B) sebanyak 20 genus. Disimpulkan bahwa metode pengambilan sampel secara vertikal lebih efektif bila dibandingkan dengan horizontal dengan diperoleh nilai kelimpahan sebesar 5.896 dan 7.162 ind/L. Faktor fisika kimia perairan disekitar ekosistem terumbu karang pada lokasi penelitian dapat ditoleransi bagi kehidupan zooplankton.

Kata Kunci : Zooplankton, Terumbu karang transplan, metode vertikal dan horizontal
One ecological function of coral reef is a power of nutrients (primer feeding ground) espectally for zooplankton as the primary consumer. Ecologically zooplankton act as food resources for secondary consumer in juvenil levels. Coral reef ecosystem is one of suitable ecosystem for zooplankton habitat. The knowledge of the distribution of zooplankton by vertically and horizontally method is needed to result of quantitative determination by knowing a method of the most effective whan sampling. The existence of coral reefs so far can be resolved with the existence of the coral reef. This research aims to know the diversity of abundance and the influence of the chemical physics factors on each of the waters of different sampling location age of coral reefs transplan namely: (A) 4 years, (B) 7 years, (C) 8 years and as control (D) natural reef. Sampling method using planktonet, both in the horizontal and vertical, done as much as 2 times based on Deuteronomy time. The result of research showed the bigest totality of abundance as 1.968 and 1.2403 ind/L of zooplankton contained in coral transplant age 4 years old and the bigest diversity of zooplankton contained in coral transplant age 7 years old which were found 20 genera. The most efective method for sampling of zooplankton is vertical method with values obtained 5896 and 7162 ind / L. Result of measuring the quality ofphysic chemistery factors waters is normaland suport the survival zoopankton.

Keywords: Zooplankton, coral reefs, Vertical and horizontal method.
1454617881E1A113008KONTRAK BISNIS ANTARA PERUSAHAAN NASIONAL DENGAN PERUSAHAAN ASING (STUDI TENTANG KLAUSUL CONFIDENTIALITY)Perjanjian internasional dijadikan salah satu instrumen utama sumber hukum internasional dan menjadi dasar bagi pihak yang menyetujui untuk mematuhi klausul yang disepakatinya, berdasarkan Mahkamah Internasional Pasal 38. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi dan globalisasi merupakan faktor dalam pertumbuhan kerja sama internasional. Bertambahnya aktivitas tersebut merupakan pengaruh dari kemajuan kerjasama ekonomi internasional dan kebutuhan akan hukum mengenai kontrak menjadi semakin nyata.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui klausul confidentiality pada kontrak bisnis dalam hukum perjanjian internasional dan menganalisa klausul confidentiality dalam kontrak bisnis antara perusahan nasional dengan perusahaan asing. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif, dengan cara penelusuran terhadap peraturan dan literatur yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
Hasil penelitian, bahwa klausul confidentiality pada kontrak bisnis internasional berbeda dengan perjanjian internasional. Hal ini dikarenakan unsur-unsur di dalamnya dan faktor lainnya yang tidak sejalan dengan ketentuan dan pengaturan dari perjanjian internasional. Klausul confidentiality selalu termuat dalam setiap kontrak antara perusahaan nasional dalam menjalankan kontrak dengan pihak asing. Confidentiality agreement ini merupakan hal wajib dilakukan kedua pihak yang bertujuan menjaga confidentiality masing-masing informasi yang dianggap penting oleh keduanya.
The international agreement as one of the main instruments of international law sources and became the basis for the parties agree to abide by the agreement clause, based on the International Court of Justice article 38. The development of science, technology, communication and globalization is a factor in the growth of international cooperation. The activity increasing the influence of the advancement of international economic cooperation and the need for a law on contracts is becoming increasingly apparent.
The purpose of this study to know about confidentiality clause in business contract on international law and analysis confidentiality clause in business contract between national corporation and foreign corporation. The approach method used in this research was normative juridical, with the statue approach and literature realting to the problems examined.
The result of the study, that the confidentiality clauses in international business contracts differ with international agreements. This is because the elements in it and other factors that are inconsistent with the provisions of international agreements and arragements. Confidentiality clause is always contained in any contract between the national companies in the running contracts with foreign parties. The confidentiality agreement is required by the two sides aimed to maintain the confidentiality of each information deemed important by both.
1454717859I1F015003PERBEDAAN EFEKTIVITAS KOMBINASI CHLORHEXIDINE 4%, ALKOHOL 70%, POVIDONE IODINE 10% DIBANDING KOMBINASI ALKOHOL 70%, POVIDONE IODINE 10% SEBAGAI ANTISEPSIS PRE OPERASI TERHADAP TERJADINYA INFEKSI LUKA POST OPERASI

Catur Priyo Saputro1 Arif Setyo Upoyo2 Atyanti Isworo2
Abstrak

Latar Belakang: Infeksi luka operasi sangat merugikan pasien karena peningkatan waktu rawat inap dan meningkatkan biaya perawatan. Penggunaan antiseptik pada pra operasi akan mendukung penyembuhan luka dan mencegah infeksi. Kombinasi antiseptik dapat meningkatkan aktivitas dan mengatasi resistensi mikroba tertentu terhadap cairan antiseptik
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perbedaan efektivitas kombinasi antiseptik klorheksidin 4%, alkohol 70%, povidone iodine 10% dan alkohol 70%, povidone iodine 10% terhadap terjadinya infeksi luka post operasi.
Metode: Penelitian quasi eksperimental ini menggunakan post test two group desain. Kelompok eksperimen diberi perlakuan kombinasi antiseptik klorheksidin 4%, alkohol 70% dan povidone-iodine 10% (CAP). Kelompok kontrol diberi kombinasi antiseptik alkohol 70% dan povidone-iodine 10% (AP). Penelitian ini menggunakan accidental sampling dengan 17 sampel pada masing-masing kelompok. Luka post operasi responden pada kedua kelompok diobservasi pada hari ketujuh setelah operasi, untuk memantau ada atau tidak adanya tanda-tanda infeksi luka operasi.Kriteria infeksi luka operasi diukur menggunakan kriteria infeksi luka operasi dari Centers for Disease and Prevention (CDC)
Hasil: Analisa data menggunakan exact fisher dan didapatkan nilai p = 0,227, (p>0,05) menunjukan bahwa tidak ada perbedaan efektifitas yang signifikan antara kombinasi CAP antiseptik dan AP terhadap terjadinya infeksi luka pasca operasi.
Kesimpulan: Kombinasi antiseptik CAP lebih baik dalam mengurangi tingkat infeksi luka operasi, tapi secara statistik tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
Abstract
Background : surgical site infections are very detrimental to the patient because of increased hospitalization and expense. the use of antiseptics on pre operation will support wound healing and prevent infection. antiseptic combination can increase the activity specific microbial resistance against a liquid antiseptic.
Objective : objective of this study is to Identify the difference in effectiveness between the combination of chlorhexidine 4%, alchohol 70%, povidone iodine 10% (CAP) and alchohol 70%, povidone iodine 10% (AP) antiseptic solution to the occurrence of surgical site infection
Methods: This quasi-experimental is using post-test only two group design. The experimental group was given a combination treatment of the antiseptic chlorhexidine 4%, alcohol 70% and povidone-iodine 10% (CAP). The control group was given a combination of antiseptic alcohol 70% and 10% povidone-iodine (AP). This research uses accidental sampling with 17 samples in each group. Postoperative wound respondents in both groups was observed on the seventh day after surgery, to monitor the presence or absence of signs of wound infection operation. Kriteria wound infection was measured using the criteria of wound infections to the Centers for Disease and Prevention (CDC).
Results: Data were analyzed using Fisher exact and p value = 0.227, (p> 0.05) showed there was no significant difference between the effectiveness of a combination of CAP antiseptic and AP to the occurrence of surgical site infection.
Conclusion: The combination of CAP antiseptic better in reducing the rate of surgical site infection, but are not statistically significant differences.
Keywords: Antiseptic, ILO, CAP, AP
1454817860I1F015014PENGARUH MODEL PEMBERDAYAAN KELUARGA TERHADAP KEJADIAN BENDUNGAN ASI PADA IBU POST SEKSIO SESAREA DI RSUD AJIBARANGLatar Belakang: Bendungan ASI adalah salah satu masalah yang sering dihadapi oleh ibu postpartum. Resiko terjadinya bendungan ASI lebih tinggi pada ibu post seksio sesarea dibandingkan pada ibu dengan persalinan pervaginam. Pencegahan bendungan ASI dapat dilakukan dengan memberikan dukungan menyusui bagi ibu. Pemberdayaan keluarga dapat dilakukan oleh perawat agar dapat memberikan dukungan menyusui kepada ibu setelah melahirkan.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pemberdayaan keluarga terhadap kejadian bendungan ASI pada ibu post seksio sesarea di RSUD Ajibarang.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan model non randomize postest only with control group design. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling sejumlah 20 responden kelompok intervensi dan 20 responden kelompok kontrol yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah six point engorgement scale (SPES). Analisa data menggunakan uji statistik Chi square.
Hasil: Hasil Chi square test menunjukkan bahwa model pemberdayaan keluarga berpengaruh terhadap kejadian bendungan ASI pada ibu post seksio sesarea (p<0,05).
Kesimpulan: Model pemberdayaan keluarga dapat mencegah kejadian bendungan ASI pada ibu post seksio sesarea. Perawat dapat melakukan pemberdayaan keluarga sebagai salah satu upaya untuk mencegah kejadian bendungan ASI pada ibu post seksio sesarea.
Background: Breast engorgement is one of the most common problems during postpartum period. A post section cesarean mother has higher risk of breast engorgement comparing to a vaginal delivery mother. Family support may prevent breast engorgement among post section caesarian mothers. Nurse can empower family to support a post section caesarian mother in order to prevent breast engorgement.
Objective: This study aimed to determine the effect of family empowerment model on the breast engorgement after section cesarean in Ajibarang general hospital.
Methods: This study was a quasi experimental non randomize posttest only with control group design. This study used a consecutive sampling method and recruited 20 respondents in each intervention and control group whom met inclusion and exclusion criteria. This study used the Breast Engorgement Six Point Scale. The data were analyzed using Chi square test.
Results: The Chi-square test result showed that the family empowerment model effective to prevent the breast engorgement among section cesarean mothers (p<0.05).
Conclusion: Family empowerment model may prevent the breast engorgement among section cesarean mothers. Nurses may empower family to prevent the breast engorgement after section cesarean.
1454917862D1E012033PENGARUH EKSTRAK BAWANG PUTIH TERHADAP BOBOT BADAN DAN KONVERSI PAKAN KELINCI YANG TERINFEKSI KOKSIDIOSIS WINDA JULIYANTI. Penelitian yang berjudul ”Pengaruh Ekstrak Bawang Putih Terhadap Bobot Badan dan Konversi Pakan Kelinci yang Terinfeksi Koksidiosis”. Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 25 November 2016 sampai 25 Desember 2016, di Eksperimental Farm, dan Laboratorium Kesehatan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh ekstrak bawang putih terhadap bobot badan dan konversi pakan kelinci yang terinfeksi koksidiosis. Materi penelitian menggunakan 25 ekor kelinci peranakan Rex, ekstrak bawang putih, dan seperangkat alat untuk perhitungan bobot badan dan konversi pakan kelinci. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Data dianalisis menggunakan analisis variansi apabila berbeda nyata dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Perlakuan yang diuji coba yaitu D0 (0 mg/kg BB ekstrak bawang putih dalam aquades dan Na CMC), D1 (10 mg/kg BB ekstrak bawang putih dalam aquades dan Na CMC), D2 (20 mg/kg BB ekstrak bawang putih dalam aquades dan Na CMC), D3 (40 mg/kg BB ekstrak bawang putih dalam aquades dan Na CMC) dan D4 (80 mg/kg BB ekstrak bawang putih dalam aquades dan Na CMC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan bobot badan yang mendapat perlakuan berkisar antara 25,3766 g/ekor sampai 26,9695 g/ekor, dan rataan konversi pakan yang mendapat perlakuan berkisar antara 1,9620 g/ekor sampai 2,1468 g/ekor. Hasil analisis menunjukan tidak berpengaruh terhadap Bobot Badan dan Konversi Pakan kelinci yang terkena koksidiosis (P>0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan ekstrak bawang putih tidak mempengaruhi terhadap bobot badan dan konversi pakan kelinci yang terinfeksi koksidiosis. WINDA JULIYANTI. This research, entitled “The Effect of Garlic (Allium sativum) Extract of Infected Rabbit Coccidiosis on Weight and Feed Conversion”. The reasearch was conducted on 25th November until 25th Desember 2016 at the Eksperimental Farm, and Animal health laboratory, Faculty of Animal Husbandry, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto. The purpose of study was know the effect of garlic (Allium sativum) extract for weight and feed conversion that effects the infected Rabbit Coccidiosis. The research materials used were 25 Rabbit (Rax), extract of garlic (Allium sativum), and devices to measure the weight and feed conversion. The research method used was experimentally using Completetely Randomize Dezign (CRD) with 5 treatments consisting of D0 (0 mg/kg weight garlic extract on aquadest and Na CMC), D1 (10mg/kg weight garlic extract on aquadest and Na CMC), D2 (20mg/kg weight garlic extract on aquadest and Na CMC), D3 (40mg/kg weight garlic extract on aquadest and Na CMC), and D4 (80mg/kg weight garlic extract on aquadest and Na CMC). The result showed that the average weight range between 23,9622 g/rabbit, the average feed conversion range from 1,9620 to 2,1468 g/rabbit. The analysis showed that garlic extract in different dosages did not significantly affect weight and feed conversion (P>0,05). The conclusion of study is the extract of garlic not significantly affect weight and feed conversion of infected rabbit coccidiosis.
1455017868G1F012034Efek Kombinasi Ekstrak Etanol Sambiloto, Brotowali, Meniran, dan Kayumanis Terhadap Gambaran Histopatologi Gaster Tikus Wistar Hiperglikemik Spesies tanaman sambiloto (Andrographis paniculata), brotowali (Tinospora crispa), meniran (Phyllanthus niruri), dan kayumanis (Cinnamomum burmanii) telah terbukti secara efektif mampu menurunkan glukosa darah, namun penggunaan kombinasi keempat tanaman tersebut belum diketahui keamanannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek kombinasi ekstrak keempat tanaman tersebut terhadap gambaran histopatologi gaster tikus Wistar hiperglikemi.
Sebanyak 20 ekor tikus Wistar dibagi dalam empat kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol normal (kontrol sehat), kelompok negatif (kontrol hiperglikemi), kelompok perlakuan kombinasi ekstrak dosis terrendah (sambiloto 100 mg/kg BB, brotowali 100 mg/kg BB, meniran 200 mg/kg BB, dan kayumanis 300 mg/kg BB), dan kelompok perlakuan kombinasi ekstrak dosis tertinggi (sambiloto 400 mg/kg BB, brotowali 500 mg/kg BB, meniran 400 mg/kg BB, dan kayumanis 600 mg/kg BB). Pemberian kombinasi ekstrak dilakukan secara per oral, 30 menit setelah induksi glukosa dosis 2 g/kg BB. 24 jam kemudian dilakukan terminasi pada hewan uji dan diambil organ gaster untuk pemeriksaan histopatologi dengan metode Barthel Manja Score. Hasil data skoring dianalisis menggunakan uji one way-ANOVA dan Kruskal Wallis untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari kombinasi ekstrak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi ekstrak tidak memberikan pengaruh yang bermakna terhadap gambaran histopatologi gaster berupa edema submukosa, infiltrasi sel PMN di lamina propia, dan integritas epitel mukosa dengan p-value berturut-turut adalah 0,942; 0,107; dan 0,201.
Species of plants sambiloto (Andrographis paniculata), brotowali (Tinospora crispa), meniran (Phyllanthus niruri), and kayumanis (Cinnamomum burmanii) have been shown to effectively capable of lowering blood glucose, but the safety of the use of combination of four plants is still unknown. This research aims to determine the effect of the combination of four extracts of these plants to the change of histopathological image of hyperglycemic Wistar rat gaster.
A total of 20 Wistar rats were divided into four groups of normal control group (healthy control), negative group (hyperglycemic control), treatment group with the lowest dose of combined extract (sambiloto 100 mg/kgW, brotowali 100 mg/kgW, meniran 200 mg/kgW, and kayumanis 300 mg/kgW), and the treatment group with the highest dose combined extract (sambiloto 400 mg/kgW, brotowali 500 mg/kgW, meniran 400 mg/kgW, and kayumanis 600 mg/kgW). The combination of the extract administered orally, 30 minutes after induction of glucose dose of 2 g/kgW. 24 hours later performed a termination in animals test and organ gaster were taken for histopathological examination with Manja Barthel Score method. Data results are analyzed using one way-ANOVA and Kruskal Wallis test to determine if there are any influence of combination extract.
The results showed that the combination of the extract did not provide significant effect on gastric histopathologic image in the form of submucosal edema, infiltration of PMN cells in the lamina propria, and the integrity of the mucosal epithelium with p-values are respectively 0.942; 0.107; and 0,201.
1455117863G1D012034Pengaruh aromaterapi lemon terhadap memori jangka pendek pada lansia di kelurahan kebon baru, TebetABSTRAK
LatarBelakang: Jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia terus mengalami peningkatan yang signifikan. Gangguan memori jangka pendek merupakan salah satu gangguan yang terjadi pada lanjut usia, untuk itu dibutuhkan terapi untuk mengatasinya. Salah satu terapi yang dapat meningkatkan memori jangka pendek yaitu dengan non-farmakologi.
Tujuan: Mengetahui pengaruh aromaterapi lemon terhadap memori jangka pendek di Kelurahan Kebon Baru, Tebet.
Metode:Metode dalam penelitian adalah quasi eksperimental dengan rancangan non-randomized pretest-posttest with control group design, metode purposive sampling dengan jumlah 30 orang. Instrumen menggunakan MMSE dan uji analisis menggunakan t berpasangan dan t tidak berpasangan.
Hasil:Rerata skor memori jangka pendek pada kelompok intervensisebelum menghirup minyak lemon yaitu 18,73 dan sesudah menghirup minyak lemon yaitu sebesar 22,40 dengan p<0,00. Rerata skor memori jangka pendek pada kelompok kontrol sebelum diobservasi adalah 18,43 dan sesudah menghirup minyak lemon yaitu sebesar 18,93 dengan p<0,089. Hasil uji t tidak berpasangan diketahui nilai p = 0,00.
Kesimpulan: Ada pengaruh bermakna aromaterapi lemon terhadap memori jangka pendek di Kelurahan Kebon Baru, Tebet.
ABSTRACT

Background: The number of elderly people in Indonesia continues to increase significantly. Short-term memory impairment is a disorder that occurs in the elderly, therefore needed therapy to overcome.One of therapy can improve short-term memory is non-pharmacological.
Objective: To determine the effect of lemon aromatherapy on short-term memory at Kelurahan KebonBaru, Tebet.
Method: The method used in this research was quasi experimental method with non-randomized pretest-posttest with control group design, this research used purposive sampling method with the sample size of 30 people. The instrument of this research used MMSE and the analytical test used paired-t test and unpaired-t test.
Result: The average score of short-term memory in intervetiongroupbefore aromatherapy was 18,73 andafter aromatherapy become 22,40 with p value < 0,00. The average score of short-term memory incontrol group before obsevation was 18,43gand after observation become 18,93 with p value <0,089. The result of unpaired-t test determined p value = 0,00.
Conclusion:There was a significant effect of lemon aromatheraphy on short-term memory at Kelurahan Kebon Baru, Tebet.
1455217864G1D012017Hubungan antara Kecerdasan Spiritual dengan Pencapaian Successful Aging pada Lansia di Desa Pernasidi Kecamatan Cilongok Kabupaten BanyumasHUBUNGAN ANTARA KECERDASAN SPIRITUAL DENGAN PENCAPAIAN SUCCESSFUL AGING PADA LANSIA DI DESA PERNASIDI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS

Ginanjar Aris Anggoro1 Asep Iskandar2 Made Sumarwati2

ABSTRAK

Latar Belakang: seseorang yang berusia 60 tahun ke atas dikategorikan sebagai lansia. Lansia mengalami berbagai permasalahan, salah satunya adalah kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual berpengaruh terhadap kondisi fisik, psikologis dan sosial lansia dalam mencapai successful aging.
Tujuan: mengetahui hubungan antara kecerdasan spiritual dengan pencapaian successful aging pada lansia di Desa Pernasidi Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan observasional cross sectional. Jumlah sampel penelitian yaitu 75 lansia yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Analisis data menggunakan uji Pearson.
Hasil: nilai rata-rata skor kecerdasan spiritual adalah 59,80 dan rata-rata skor successful aging adalah 73,53. Hasil uji korelasi Pearson menunjukan bahwa kecerdasan spiritual dan successful aging mempunyai hubungan yang sangat lemah dengan arah negatif yang secara statistik menunjukkan hubungan yang tidak bermakna (p=0,368; r=-0,105)
Kesimpulan: terdapat hubungan yang sangat lemah dengan arah negatif antara kecerdasan spiritual dengan successful aging lansia di Desa Pernasidi Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.
CORRELATION BETWEEN SPIRITUAL INTELLIGENCE AND ACHIEVEMENT OF SUCCESSFUL AGING OF ELDERLY IN LANGGONGSARI VILLAGE, CILONGOK SUB-DISTRICK, BANYUMAS REGENCY

Ginanjar Aris Anggoro1 Asep Iskandar2 Made Sumarwati2

ABSTRACT
Background: a person who reached the age 60 years old or more called elderly. Elderly has many health problem including spiritual intelligence. Problem of spiritual intelligence has influence in physic, psycology, and social to reach the successful aging in elderly.
Purpose: knowing the correlation between spiritual intelligence and achievement of successful aging of elderly in Langgongsari Village, Cilongok Sub-Districk, Banyumas Regency
Methods: this study is a kuantitatif with observation cross sectional approach. The sample of this study was 75 elderly selected by simple random sampling. Data analyzed used Pearson correlation test.
Results: mean of spiritual intelligence value is 59,80 and mean of successful aging is 73,53. Result of Pearson test showing that spiritual intelligence and successful aging has a weak correlation with negative direction which statisticly has correlation that meaningless (p=0,368; r=0,105)
Conclusion: there is a weak correlation with negative direction between spiritual intelligence and successful aging elderly in Cilongok Sub-Districk, Banyumas Regency
1455317865G1D012072Pengaruh Eksplorasi Pengalaman Menyenangkan dengan Pendekatan Komunikasi Terapeutik Terhadap Tekanan Darah Penderita Hipertensi Primer di Wilayah Puskesmas II Purwokerto UtaraLatar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif dengan prevalensi yang tinggi. Faktor risiko yang berkaitan erat dengan terjadinya hipertensi adalah stres. Salah satu tindakan untuk menurunkan stres adalah dengan mengungkapkan perasaan melalui eksplorasi pengalaman menyenangkan dengan pendekatan komunikasi terapeutik.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh eksplorasi pengalaman menyenangkan terhadap tekanan darah penderita hipertensi primer
Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian quasi eksperimental dengan pretest-posttest with control group design. Dengan pengambilan sample menggunakan sistem simple random sampling. Sampel penelitian terdiri dari 15 responden untuk kelompok intervensi dan 15 responden untuk kelompok kontrol. Analisa data dilakukan dengan uji t berpasangan dan uji t tidak berpasangan.
Hasil: Hasil analisis data pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah menunjukkan nilai p<0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara tekanan darah sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan pada kedua kelompok. Sedangkan hasil analisis penurunan tekanan darah antara dua kelompok menunjukkan nilai p=0,028 untuk sistolik, dan p=0,636 untuk diastolik. Hal tersebut menunjukkan ada perbedaan penurunan tekanan darah yang bermakna antara kedua kelompok.
Kesimpulan: Ada perbedaan yang bermakna pada penurunan tekanan darah antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol, dengan nilai rata-rata kelompok kontrol lebih efektif.
Background: Hypertension is one of degenerative diseases with high prevalence. One of the risk factors which is strongly associated with hypertension is stress. One of the intervention to reduce stress is express feelings through exploration of feelings with therapeutic communication approach.
Objective: This study aimed to determine the effect of exploration of pleasant experience on blood pressure of primary hypertension patients.
Methods: This study was conducted using a quasi-experimental research design with pretest-posttest control group design. The sampling technique was using simple random sampling. The sample consisted of 15 respondents for intervention group and 15 respondents for control group. Data were analyzed using paired t test and unpaired t test.
Results: The data analysis in both groups pre and post showed the value of p <0.05. This shows that there is a significant difference between the blood pressure before and after treatment in both groups. The analysis of differences blood pressure between two groups show the value of p=0.028 for systolic, and p=0.636 for diastolic. It showed that there is significant differences of blood pressure between the two groups.
Conclusion: There is significant difference in blood pressure reduction between the intervention group and the control group, with the average value of the control group is more effective.
1455417866G1D013043PENGARUH PEMBERIAN SEDUHAN KOMBINASI DAUN ALPUKAT (Persea americana Mill) DAN DAUN KELOR (Moringa oleifera Lam) TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL PADA TIKUS MODEL HIPERLIPIDEMIALatar belakang: Hiperkolesterolemia merupakan kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan kadar kolesterol lebih dari 240 mg/dL. Hal ini berpotensi menjadi aterogenesis, yang dapat berlanjut menjadi Penyakit Jantung Koroner (PJK). Pada penelitian sebelumnya, daun alpukat dan kelor mengandung quercetin (termasuk flavonoid) yang terbukti memiliki sifat antioksidan dan hipolipidemik. Namun, belum terdapat dasar penelitian mengenai khasiat kombinasi keduanya. Jika kedua daun ini digabungkan, diharapkan lebih banyak ion H+ yang bekerja, sehingga lebih efektif dalam menghambat reaksi oksidasi. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh pemberian seduhan kombinasi keduanya pada tikus putih model hiperlipidemia.
Metode: Penelitian ini menggunakan true experiment dengan pendekatan pretest-postest with control group design, pada Tikus Galur Wistar jantan yang diinduksi HFD. Sampel sebanyak 36 tikus dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu kelompok A= kontrol positif, B=dosis kombinasi alpukat:kelor (36:0), C=(36:54), D=(18:27), E=(0:54) mg/200gBB, dan F=simvastatin 0,18 mg/200gBB selama 7 hari. Analisis kadar kolesterol total menggunakan metode CHOD-PAP. Data yang diperoleh, diolah menggunakan aplikasi program komputer melalui uji One Way Anova pada derajat kemaknaan 5 %.
Hasil: Perbedaan rerata kadar kolesterol total serum terhadap kelompok kontrol positif, pada dosis kombinasi alpukat:kelor sebanyak (36:0)= 11±8,6 mg/dL, pada dosis (36:54)= 38,2±8,6 mg/dL, pada dosis (18:27)= 12,6±8,6 mg/dL, pada dosis (0:54)= 19,8±8,6 mg/dL, dan pada dosis simvastatin 0,18 mg/200gBB= 16±8,6 mg/dL. Terdapat perbedaan signifikan pada kelompok kontrol positif, terhadap kelompok dosis kombinasi alpukat:kelor (36:54 dan 0:54) mg/200gBB, dalam menurunkan kadar kolesterol total serum (p<0,05) pada uji Pos Hoc LSD.
Kesimpulan: Seduhan kombinasi daun alpukat dan daun kelor, berpengaruh terhadap penurunan kadar kolesterol total serum, pada tikus putih model hiperlipidemia, dengan dosis paling efektif yaitu dosis kombinasi alpukat:kelor (36:54)mg/200gBB.
Kata kunci: Hiperlipidemia, Kolesterol Total, Kombinasi Alpukat dan Kelor
Background: Hypercholesterolemia is an abnormality metabolism of lipid, characterized by cholesterol levels more than 240 mg/dL. This condition could potentially be atherogenesis, which may progress becomes Coronary Heart Disease (CHD). In the previous study, leaves of Percea americana Mill. and Moringa oleifera Lam contains quercetin (including flavonoid) were evaluated for its antoxidants and hypolipidemic effects. However, there have been no evidence base research about the efficacy of combination of both. If the leaves are combined, those content expected more H+ ions that work, so it is more effective in inhibiting the oxidation reaction. Therefore, this study aim to determine the effect of steeping a combination of both in hiperlipidemic rats.
Methods: A true experiment with pretest-postest control group design approach, was carried out to hyperlipidemic male Wistar rats. A total of 36 rats were divided into 6 groups. Group A =positive controlled, B =combination doses of avocado:moringa (36: 0), C =(36:54), D =(18:27), E =(0: 54) mg/200g, and F= simvastatin 0,18 mg/200g for 7 days. Analysis of total cholesterol levels used CHOD-PAP method. Then, data was processed using Computer Program Application through One Way Anova with 5% of significance level.
Results: The difference means of total cholesterol serum levels in positive control group, showed that combination dose of avocado:moringa as much (36: 0)= 11± 8,6 mg/dL, combination dose (36:54)= 38,2 ± 8,6 mg/dL, combination dose (18:27) = 12,6 ± 8,6 mg/dL, combination dose (0:54)= 19,8 ± 8,6 mg/dL, and simvastatin dose as much 0,18 mg/200gBB=16 ± 8,6 mg/dL. There are significant differences in positive control group, with combination dose groups of avocado:moringa (36:54 and 12:54) mg/200gBB, in lowering serum levels of total cholesterol (p <0,05) on Pos Hoc LSD test.
Conclusion: The combination of avocado:moringa leaves stepping administration, influence the reduction of total cholesterol serum levels, in hiperlipidemic rats, the most effective dose is a combination dose of avocado:moringa (36:54) mg/200gBB.
Keywords: Hyperlipidemia, total cholesterol, combination of avocado and moringa

1455517853I1F015049PENGARUH MENGULUM ES LILIN BUAH SIRSAK
TERHADAP PENINGKATAN IDWG PASIEN PGK HD RUTIN
DI RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
ABSTRAK
Latar Belakang: Penyakit Ginjal Kronik dengan laju filtrasi glomelurus kurang dari 15ml/menit sangat dimungkinkan terjadi kelebihan cairan. Tindakan hemodialisis rutin diperlukan karena terapi medik konvensional sudah tidak mampu menanganinya, akan tetapi pasien hemodialisis rutin masih mengalami penambahan Interdialysis Weigh Gain (IDWG) dari batas yang ditentukan. Pembatasan cairan mutlak diperlukan untuk meminimalkan penambahan IDWG, salah satunya dengan teknik mengulum es lilin buah sirsak.
Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tindakan mengulum es lilin buah sirsak terhadap IDWG pada pasien Penyakit Ginjal Kronik yang menjalani hemodialisis rutin di Ruang Hemodialisis RSUD Margono Soekarjo Purwokerto.
Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan Quasi experiment dengan desain non equivalent pre post test control group design. Terdiri dari 30 responden yang diambil mengunakan teknik purposif sampling, mengunakan analisa statistik t test
Hasil: Rerata IDWG sebelum perlakuan adalah 3,36 dan setelah perlakuan 2,68. Hasil uji t test dependent p=0,002. Hal ini menunjukan terdapat perbedaan rerata IDWG yang bermakna sebelum dan sesudah mengulum es lilin buah sirsak.
Kesimpulan: Ada pengaruh yang signifikan mengulum es lilin buah sirsak terhadap IDWG pada pasien penyakit ginjal kronik hemodialisis rutin di RSUD Margono Soekarjo.
ABSTRACT
Background: The chronic kidney disease (CKD) with glomerular filtration rate lass than 15 ml/minute is possible there will be excess fluid. Hemodialysis treatment routinely is needed to do because conventional medical therapy was not able to handle it, however, the Interdialysis Weigh Gain (IDWG) often exceed them limits specified. Fluid restriction absolute needed for minimalizing the IDWG, one of them is by using currying soursop popsicles technique.
Purpose : The past of this research is to know the influence of currying soursop popsicle to the IDWG to the CKD patients who undergo the reguler hemodialysis in Hemodialysis room at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo of Purwokerto.
Method: this research used Quasi experiment plant with non equivalent pre post test control group design. It consists of 30 respondents taken by purposif sampling technique, using t_test statistic analysis.
Hasil: This IDWG rates before treatment is 3,36 and after it became 2,68. The test results of dependent t_test p=0,002. It showed that there is adifference IDWG mean between before and after sucking the soursop popsicles.
Conclusion: there is a significant influence to the sucking soursop popsicles action to the IDWG on the routine hemodialysis CKD patients at RSUD Margono Soekarjo of Purwokerto.
1455617870I1F015070PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF JIGSAW TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG KEHAMILAN USIA DINI PADA SISWI KELAS VII SMP NEGERI DI KECAMATAN PUNGGELANLatar Belakang: Kehamilan usia dini berkontribusi terhadap tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. Faktor yang mempengaruhi angka kehamilan di usia dini yaitu pengetahuan dan sikap remaja terhadap kehamilan usia dini. Pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja tentang kehamilan usia dini. Model pembelajaran kooperatif jigsaw merupakan salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan dalam pemberian pendidikan kesehatan.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif jigsaw terhadap pengetahuan dan sikap tentang kehamilan usia dini pada siswi kelas VII SMP Negeri di Kecamatan Punggelan.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian quasy eksperimental dengan pretest-posttest control group design. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling sejumlah 25 responden untuk kelompok intervensi maupun kelompok kontrol yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner data demografi, pengetahuan dan sikap tentang kehamilan usia dini. Analisa data menggunakan uji statistik Wilcoxon dan Mann Whitney karena data tidak terdistribusi normal.
Hasil: Hasil Wilcoxon test pada kelompok intervensi menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan menggunakan model pembelajaran kooperatif jigsaw efektif meningkatkan pengetahuan (p<0,05) dan sikap (p<0,05). Hasil Mann Whitney test antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol menunjukkan adanya perbedaan signifikan skor post test pengetahuan (p<0,05) dan sikap (p<0,05).
Kesimpulan: Pendidikan kesehatan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif jigsaw dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap tentang kehamilan usia dini. Perawat dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif jigsaw sebagai salah satu sarana dalam pemberian pendidikan kesehatan tentang kehamilan usia dini.
Background: Adolescents pregnancy contributes significantly on the maternal mortality rate in Indonesia. There were significant association between adolescent's knowledge and attitude toward adolescent pregnancy with the adolescent's pregnancy case. Health education may improve the adolescent's knowledge and attitude toward adolescence pregnancy. Jigsaw can be used as a health education strategy for adolescents.
Purpose: This study aimed to evaluate the effect of jigsaw on the adolescent's knowledge and attitude toward the adolescent's pregnancy in Punggelan District.
Methods: This was a quasy experimental with pretest-posttest control group design. This study used a simple random sampling to select the respondents. This study recruited 25 respondents in each group who met the inclusion and exclusion criteria. This study used used three questionnaires, they were the demographic data questionnaire, the adolescent pregnancy knowledge questionnaire, and the adolescent pregnancy attitude questionnaire. The data were analyzed using Wilcoxon and Mann Whitney test.
Results: The Wilcoxon test results showed that there were significant differences of pre and post-score of the knowledge (p < 0.05) and attitude (p < 0.05) toward adolescent pregnancy in intervention group. In addition, the Mann Whitney test results showed that there were significant differences of post test scores of the knowledge (p < 0.05) and attitude (p < 0.05) toward adolescent pregnancy between intervention and control group.
Conclusion: Health education using jigsaw cooperative learning model can improve the adolescent's knowledge and attitude toward the adolescent's pregnancy.
1455717867H1F012017GEOLOGI DAN STUDI GENESA BATUGAMPING DAERAH BANJARHARJO DAN SEKITARNYA, KECAMATAN KALIBAWANG, KABUPATEN KULONPROGO, YOGYAKARTALokasi penelitian berada di daerah Banjarharjo dan sekitarnya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta dengan luas 40 km2 yang berada pada koordinat UTM WGS 84 X: 412000–420000 dan Y: 9147700–9152700. Terdapat batugamping Formasi Jonggrangan dan Formasi Sentolo yang memiliki perbedaan karakteristik lingkungan fasies pengendapan dan lingkungan diagenesis. Produk dari lingkungan diagenesis dapat terlihat melalui pengamatan petrografi. Urutan satuan batuan pada daerah penelitian dari yang tua ke muda adalah satuan breksi andesit piroksen berumur Oligosen Atas yang setara dengan Formasi Kebo Butak dan diendapkan pada lingkungan marine. Satuan batugamping masif dan batugamping berlapis diendapkan secara menjari, tidak selaras di atas satuan breksi andesit piroksen. Satuan batugamping masif yang berumur Miosen Tengah setara dengan Formasi Jonggrangan dengan lingkungan inner shelf. Sedangkan batugamping berlapis berumur Miosen Tengah setara dengan Formasi Sentolo dan diendapkan pada lingkungan lower shelf. Aktivitas Gunung Api Menoreh pada umur Miosen Akhir menyebabkan pengendapan satuan breksi andesit hornblende, diendapkan secara tidak selaras di atas satuan batugamping masif dan batugamping berlapis. Pada kala pleistosen akhir lingkungan berubah menjadi danau, kemudian diendapkan satuan batulempung hitam yang berumur 22.000 tahun yang lalu. Aktivitas Gunung Api Kuarter Merapi Muda pada kala Pleistosen menyebabkan pengendapan satuan breksi laharik. Satuan ini diendapkan secara selaras di atas satuan batulempung hitam. Satuan koluvial diendapkan secara tidak selaras diatas semua satuan yang diendapkan sampai sekarang. Lingkungan fasies satuan batugamping masif dan satuan batugamping berlapis dilihat dari keberadaan fosil pada pengamatan petrografi. Pengamatan petrografi juga menunjukan bahwa proses-proses diagenesis yang terjadi pada kedua satuan batugamping berupa mikritisasi mikrobial, sementasi, pelarutan, neomorfisme, dan kompaksi. Lingkungan diagenesis yang dilihat dari pengamatan petrografi, yaitu lingkungan diagenesis dengan urutan marine phreatic, burial, meteoric phreatic, dan meteoric vandose.Research site is in the Banjarharjo area and surrounding, Kalibawang District, Kulonprogo Regency, Yogyakarta with an area of 40 Km2 located in the coordinates UTM WGS 84 X: 412000–420000 and Y: 9147700–9152700. There are limestone Formations Jonggrangan and Formations Sentolo have different environmental characteristics depositional facies and diagenesis environment. Products from diagenesis environment can be seen through petrographic observations. The arranged lithology in research site from oldest to youngest is are andecite breccia pyroxen unit was deposited in Upper Oligocene which equal with Kebo Butak Formation and deposited in the Marine environment. Limestone massive and Limestone bedding unit were deposited interfinger, unconformity above andecite breccia pyroxen unit. Limestone massive unit which as deposited on Middle Miocene is equal with Jonggrangan Formation in the Inner Neritic – Midddle environment. Whilst, Limetone bedding unit also deposited Middle Miocene which is equal to Sentolo Formation and deposited in the Middle Neritic environment. Menoreh volcanic in the Late Miocene lead to sedimentation of andecite breccia hornblende unit which depoited unconformity above Limetone massive and Limestone bedding unit. Sedimentary environment changed to lakes on the late Pleistocene and Black-Claystone unit which aged 22.000 years ago was deposited. Volcanic younger merapi in the Pleitocene lead to sedimentation Laharic breccia unit. This unit was deposited conformably above Black-Claystone unit. Colluvial unit was deposited unconformity above all unit up to Recent. The different of lithology characteristics indicates different facies environment deposited. Facies environment Limestone massive unit and Limestone bedding unit are viewed from the presence of fosil in petrographic. Petrographic observation also indicates that diagenetic processes which occur on both limestone unit are micritisasi microbial, cementation, disolution, neomorfisme, and compaction. The arranged iagenesis environment which in seen by petrographic are marine phreatic, burial, meteoric phreatic, and meteoric vandose.
1455817871I1F015069HUBUNGAN MOTIVASI DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN TIDAK MENAMBAH ANAK
PADA IBU YANG MEMILIKI ANAK THALASEMIA
DI RSUD BANYUMAS
HUBUNGAN MOTIVASI DAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN TIDAK MENAMBAH ANAK
PADA IBU YANG MEMILIKI ANAK THALASEMIA
DI RSUD BANYUMAS


Septina Chandra Dewi1, Eva Rahayu2, Dian Susmarini3

1 Mahasiswa Jurusan Keperawatan, FIKES Universitas Jenderal Soedirman
2Departemen Keperawatan Keluarga, Jurusan Keperawatan, FIKES Universitas Jenderal Soedirman
3Departemen Keperawatan Anak, Jurusan Keperawatan, FIKES Universitas Jenderal Soedirman


ABSTRAK


Latar belakang: Thalasemia merupakan penyakit genetik yang paling banyak ditemukan di Indonesia dimana 2500 kelahiran dengan thalasemia terjadi tiap tahunnya. Pasangan carrier thalasemia berpeluang memiliki anak thalasemia mayor 25%, anak sehat 25%, dan carrier 50%. Faktor motivasi, dukungan suami, dan dukungan petugas kesehatan dapat berhubungan dengan pengambilan keputusan tidak menambah anak pada ibu yang memiliki anak thalasemia.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi, dukungan suami, dan dukungan petugas kesehatan dengan pengambilan keputusan tidak menambah anak pada ibu yang memiliki anak thalasemia.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dilakukan di RSUD Banyumas. Teknik sampling menggunakan simple random sampling dengan sampel penelitian sebanyak 60 pasien. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner motiasi, dukungan suami, dan dukungan petugas kesehatan. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square.
Hasil: Hasil penelitian didapatkan 66,7% reponden mengambil keputusan tidak menambah anak. Hasil uji Chi-square diperoleh nilai signifikansi (p) terhadap pengambilan keputusan, yaitu motivasi p=0,000, dukungan suami p=0,001, dan dukungan petugas kesehatan p=0,012, p<0,05. Motivasi, dukungan suami, dan dukungan petugas kesehatan memiliki hubungan yang signifikan dengan pengambilan keputusan tidak menambah anak pada ibu yang memiliki anak thalasemia di RSUD Banyumas.
Kesimpulan: Semakin tinggi motivasi ibu, dukungan suami, dan dukungan petugas kesehatan untuk tidak menambah anak pada ibu yang memiliki anak thalasemia, semakin mendukung ibu untuk mengambil keputusan tidak menambah anak.

Kata kunci: Thalasemia, pengambilan keputusan reproduksi, motivasi, dukungan suami, dan dukungan petugas kesehatan.
THE CORRELATE OF MOTIVATION AND SOCIAL SUPPORT WITH REPRODUCTIVE DECISION MAKING NOT TO ADD CHILDREN TO THE MOTHER OF CHILDREN WITH THALASSEMIA
IN BANYUMAS HOSPITAL

Septina Chandra Dewi1, Eva Rahayu2, Dian Susmarini3


1 Student of Nursing Majority, Faculty of Health Sciences Jenderal Soedirman University
2 Department of Family Health Nursing Program, Nursing Department, FIKES, Jenderal Soedirman University
3 Department of Pediatric Program, Nursing Department, FIKES, Jenderal Soedirman University


ABSTRACT


Background: Thalassemia is the most common genetic disease in Indonesia where 2500 affected babbies were born with thalassemia every year. Two parents, each with thalasemia trait, have one in four chance of conceiving a child with thalassemia major, one in four chance be a normal, and a two in four chance the child will have thalassemia trait. Motivation, husband support, and health worker support could be associated with carrier- thalassemia women’s reproductive decision making.
Aim: The study aimed to find out the correlation between motivation, husband’s support, and health care worker support with reproductive decision making not to add children to the mother of children with thalassemia.
Methods: The study used a cross sectional design performed in RSUD Banyumas. The sample were selected by using simple random sampling and obtained of 60 respondents. The data were collected by questionnaire of motivation, husband’s support, and health worker’s support. The data were analyzed by using Chi-square test.
Results: Result indicated 66,7% of responden choose not to add children. The Chi-square test result showed significance value (p) the reproductive decision making, namely motivation (p=0,000), husband’s support (p=0,001), and health worker support (p=0,012). p>0,05. Motivation, husband’s support, and health worker support have a significant correlations with reproductive decision making not to add children of mother with thalassemia children in Banyumas Hospital.
Conclusion: Higher level of mother’s motivation, husband support, and health worker support tend to increase reproductive decision making not to add children to the mother of children with thalassemia.
Keyword: Thalassemia, reproductive decision making, motivation, husband’s support, and health worker’ support.

1455917861I1F015071HUBUNGAN MOTIVASI INTRINSIK DAN EKSTRINSIK DENGAN UPAYA PENCAPAIAN SASARAN KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANYUMAS
HUBUNGAN MOTIVASI INTRINSIK DAN EKSTRINSIK DENGAN UPAYA PENCAPAIAN SASARAN KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANYUMAS

Diah Lusi Trimawati¹, Made Sumarwati², Arif Setyo Upoyo³

Abstrak

Latar Belakang : Perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien didorong melalui upaya pencapaian sasaran keselamatan pasien. Motivasi merupakan penggerak bagi perawat untuk melaksanakan upaya pencapaian sasaran keselamatan pasien.

Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan motivasi intrinsik dan ekstrinsik dengan upaya pencapaian sasaran keselamatan pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas.

Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan analisis korelasional. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling dengan jumlah responden sebanyak 35 orang perawat pelaksana. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik dan upaya pencapaian sasaran keselamatan pasien. Analisa data menggunakan Uji Spearman .

Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik responden berdasarkan usia didominasi oleh perawat pelaksana pada rentang usia 26-35 tahun (80%), jenis kelamin perempuan (82,9%), status pendidikan D3 Keperawatan (88,6%) dengan masa kerja lebih atau sama dengan 5 tahun (77,1%). Tingkat motivasi intrinsik rata-rata berada pada skor 74,6, motivasi ekstrinsik pada skor 65,71 dan upaya pencapaian sasaran keselamatan pasien pada skor 71,17. Hasil analisis hubungan motivasi intrinsik dengan upaya pencapaian sasaran keselamatan pasien yaitu r=0,349, nilai p 0,040 (p<0,05) dan hubungan motivasi ekstrinsik dengan upaya pencapaian sasaran keselamatan pasien r= 0,053, nilai p 0,763 (p>0,05).

Kesimpulan : Motivasi intrinsik berhubungan dengan upaya pencapaian sasaran keselamatan pasien. Semakin tinggi motivasi intrinsik maka semakin tinggi upaya pencapaian sasaran keselamatan pasien.

Kata kunci : Motivasi intrinsik, Motivasi Ekstrinsik, Upaya Pencapaian Sasaran Keselamatan Pasien.

¹Mahasiswa di Jurusan Keperawatan FIKES Unsoed
²Dosen di Jurusan Keperawatan FIKES Unsoed
³Dosen di Jurusan Keperawatan FIKES Unsoed

CORRELATION BETWEEN INTRINSIC AND EXTRINSIC MOTIVATION WITH THE EFFORT OF ACHIEVEMENTS TARGETS FOR PATIENT SAFETY IN BANYUMAS GENERAL HOSPITAL

Diah Lusi Trimawati¹, Made Sumarwati², Arif Setyo Upoyo³

Abstract

Background: specific improvements in patient safety is driven by efforts to achieve the goals of patient safety. Motivation is the driving force for nurses to carry out efforts to achieve the goals of patient safety.

Objective: This study aimed to determine the relationship of intrinsic and extrinsic motivation with achieving patient safety goals in Banyumas Regional General Hospital.

Methods: This study using a cross sectional study design with a correlational analysis. Sampling using total sampling technique with a number of respondents as many as 35 nurses. The research instrument used was a questionnaire intrinsic motivation, extrinsic motivation and efforts to achieve the goals of patient safety. Data were analyzed using the Spearman test.

Results: The results showed that the characteristics of respondents by age dominated by nurses in the age range 26-35 years (80%), female gender (82.9%), educational status D3 Nursing (88.6%) with tenure more or equal to 5 years (77.1%). Intrinsic motivation levels are at an average score of 74.6, on a score of 65.71 extrinsic motivation and efforts to achieve the goals of patient safety on the score 71.17. The results of the analysis of intrinsic motivation relationship with achieving patient safety goals is r = 0.349, p value of 0.040 (p <0.05) and extrinsic motivation relationship with achieving patient safety goals r = 0.053, p value of 0.763 (p> 0.05) ,

Conclusion: Intrinsic motivation is associated with achieving patient safety goals. The higher the intrinsic motivation, the higher the efforts to achieve the goals of patient safety.

Keywords: Intrinsic motivation, Extrinsic Motivation, Effort Patient Safety Goal.

¹Student in Nursing Department, Faculty of Health Sciences, Unsoed
²Lecturer in Nursing Department, Faculty of Health Sciences, Unsoed
³Lecturer in Nursing Department, Faculty of Health Sciences, Unsoed

1456017872H1L013032RANCANG BANGUN SISTEM PAKAR IDENTIFIKASI PENYAKIT AYAM DENGAN METODE NAIVE BAYES CLASSIFIER BERBASIS WEBSITEAyam merupakan hewan unggas yang dipelihara oleh masyarakat baik secara tradisional yang sering disebut dengan ayam kampung sampai peternakan besar yang memelihara ayam petelur maupun ayam pedaging. Minimnya pengetahuan orang mengenai penyakit yang menyerang ayam mulai dari penyakit yang ringan sampai penyakit yang dapat menular tentunya dapat menyebabkan kematian dan bahkan mengancam kesehatan manusia di sekitarnya. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah sistem yang mampu memberikan informasi yang cepat tentang penyakit yang diderita oleh ayam dan cara penanggulangannya.
Sistem Pakar Identifikasi Penyakit Ayam diharapkan mampu memberikan sarana konsultasi untuk mengidentifikasi penyakit pada ayam sebagai langkah awal pencegahan. Prosedur penggunaan sistem pakar ini yaitu pengguna memilih gejala untuk mendeteksi penyakit yang diderita. Hasil diagnosa berupa detail data diri pengguna, dan detail identifikasi (penyakit, gejala, solusi, penularan). Sistem pakar ini dibangun menggunakan metode Naive Bayes Classifier karena metode ini merupakan salah satu metode probabilitas statistic sederhana dan mudah diterapkan.
Chicken is poultry reared by traditional communities, often called a chicken to large farms that maintain laying hens and broilers. The lack of knowledge of people about the disease affecting chickens ranging from mild illness to a highly contagious disease can certainly cause death and even threatening the health of humans around it. Therefore, we need a system that can provide immediate information about the disease affecting chickens and ways to overcome them.
Identification Expert System Chicken Disease expected to provide a means of consultation to identify the disease in chickens as a first step of prevention. The procedure for applying this expert system opted to detect the symptoms of the illness. The diagnosis in the form of detailed personal data of users, and identification details (diseases, symptoms, solutions, transmission). This expert system developed using the Naive Bayes classifier because this method is a statistical probability method is simple and easy to apply.