Artikelilmiahs
Menampilkan 7.261-7.280 dari 48.889 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 7261 | 11242 | B1J010209 | EFEKTIFITAS ANTIMIKROBA Bifidobacterium sp. BBP1l TERHADAP PERTUMBUHAN Escherichia coli SECARA IN VITRO | Bahan pangan hewani merupakan bahan makanan yang mudah mengalami kerusakan sehingga tidak dapat digunakan atau disimpan dalam waktu lama tanpa diberi perlakuan tertentu. Kerusakan bahan pangan hewani umumnya disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme patogen yang terdapat di dalam bahan makanan tersebut salah satunya adalah bakteri Escherichia coli. Mengatasi kerusakan bahan pangan hewani akibat patogen E. coli dilakukan pengawetan menggunakan bahan alami yang biasanya disebut sebagai biopreservasi. Biopreservasi yang dilakukan salah satunya menggunakan ekstrak kasar dari mikroorganisme non patogen contohnya menggunakan ekstrak kasar Bifidobacterium sp. dari bakteri golongan asam laktat (BAL). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak kasar Bifidobacterium sp. BBP1l terhadap pertumbuhan E. coli dan mengetahui konsentrasi ekstrak kasar Bifidobacterium sp. BBP1l yang daya hambatnya paling efektif digunakan terhadap pertumbuhan E.coli. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang digunakan meliputi perbandingan konsentrasi ekstrak kasar Bifidobacterium sp. BBP1l. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan diinkubasi selama 24 jam dan 48 jam. Data hasil penelitian yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (Anova), hasilnya menunjukan bahwa variasi konsentrasi ekstrak kasar Bifidobacterium sp. berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan E. coli. Hasil uji beda nyata jujur (BNJ) menunjukkan bahwa pada inkubasi 24 jam Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) berada pada ekstrak kasar Bifidobacterium sp. BBP1l 100% dengan rata-rata jumlah sel E. coli yang tumbuh sebanyak 7,69 Log CFU/ml dan pada inkubasi 48 jam konsentrasi 50% dengan rata-rata jumlah sel E. coli yang tumbuh sebanyak 7,60 Log CFU/ml | Foods that contain animal protein is a food that is easily damaged so it can’t be used or stored for long periods without any specific treatment. Damage foods containing animal protein is generally caused by activity of pathogenic microorganisms contained in foodstuffs, one of them is Escherichia coli. Overcome the damage of foods that contain animal protein due to pathogenic E. coli carried preservation using natural ingredients that are usually referred to as biopreservation. Biopreservation made one using crude extracts of non-pathogenic microorganisms for example using a crude extract of Bifidobacterium sp. group of lactic acid bacteria (LAB). This study aims to determine the inhibition of crude extracts of Bifidobacterium sp. BBP1l on the growth of E. coli and determine the concentration of the crude extract of Bifidobacterium sp. BBP1l the most effective inhibitory power on the growth of E. coli. This research was carried out experimentally with the completely randomized design (CRD). The treatments used include crude extract concentration ratio of Bifidobacterium sp. BBP1l. Each treatment was repeated three times and incubated for 24 hours and 48 hours. Research data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), the results showed that the variation of the concentration of crude extract of Bifidobacterium sp. BBP1L effect in inhibiting the growth of E. coli. Results honestly significant difference test (HSD) showed that the 24-hour incubation the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) is the crude extract of Bifidobacterium sp. BBP1l 100% with an average number of E. coli cells were grown as much as 7,69 log CFU/ml and at 48-hour incubation concentration of 50% with an average number of E. coli cells were grown as much as 7,60 log CFU/ml | |
| 7262 | 8299 | C1B010108 | Analisis Pengaruh Dorongan Hati dan Kesesuaian terhadap Pembelian Tidak Terencana dengan Usia sebagai Variabel Moderasi (Studi Kasus pada Pengunjung Moro Department Store) | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh dari dorongan hati dan kesesuaian terhadap pembelian tidak terencana dengan usia sebagai variabel moderasi, studi kasus pada pengunjung Moro Purwokerto. Sampel dari penelitian ini berjumlah 110 orang yang merupakan masyarakat Purwokerto yang telah mengunjungi Moro minimal 3 kali dan telah melakukan pembelian tidak terencana. Data dianalisis dengan menggunakan regresi berganda dan regresi moderasi dengan menggunakan metode sub-group. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa dorongan hati berpengaruh positif terhadap pembelian tidak terencana, sedangkan kesesuaian tidak berpengaruh terhadap pembelian tidak terencana. Usia secara positif memoderasi hubungan antara kesesuaian terhadap pembelian tidak terencana, tetapi usia tidak dapat memoderasi hubungan antara dorongan hati terhadap pembelian tidak terencana. | The purpose of this study was to analyze the effect of impulsivity and conformity toward impulse buying with age as moderating variable, study case on consumer of Moro Purwokerto. The samples of this study were 110 samples from society of Purwokerto who has been visited Moro at least three times and has been done impulse buying. The data was analyzed by using Multiple Regression and Moderation with Sub-Group Method. The result of analysis revealed that impulsivity values had positive influence on impulse buying, whereas conformity values had no influence on impulse buying. Age is found to positively moderated the relationship between conformity on impulse buying, but age didn’t moderate the relationship between impulsivity on impulse buying. | |
| 7263 | 8300 | C1B010060 | Analisis Pengaruh Ekuitas Merek Melalui Brand Attachment dan Kesan Kualitas Terhadap Niat Pembelian Ulang Pada Produk Sepeda Motor Honda Di Wilayah Purwokerto | Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh ekuitas merek, brand attachment dan kesan kualitas terhadap niat pembelian ulang. Populasi penelitian ini adalah pengguna sepeda motor Honda di Purwokerto. Sampel yang digunakan pada studi ini yaitu 100 responden. Analisis data menggunakan analisis jalur, Hasil dari penelitian ini menunjukan ekuitas merek memiliki pengaruh positif terhadap brand attachment dan ekuitas merek juga memiliki pengaruh positif terhadap kesan kualitas. Ekuitas merek, brand attachment dan kesan kualitas memiliki pengaruh positif terhadap niat pembelian ulang. Selanjutnya, brand attachment tidak memediasi hubungan antara ekuitas merek dan niat pembelian ulang. Tetapi kesan kualitas dapat memberikan efek mediasi hubungan antara ekuitas merek dengan kesan kualitas. | The purpose of this research was to analyze the influence of brand equity, brand attachment and perception of quality to repurchase intention. The population in this research are Honda motorcycle users in Purwokerto. The sample in this study there were 100 respondents. Data are analyze using path analysis. The result of this research indicated brand equity has positive influance on brand attachment and brand equity also has positive influance on perception of quality. Brand equity, brand attachment and perception of quality has positive influence to repurchase intention. Then, brand attachment didn’t mediation effect the relationship between brand equity with repurchase intention. But the perception of quality is able to provide mediation effect the relationship between brand equity with repurchase intention. | |
| 7264 | 10954 | G1D011040 | PENGARUH WOUND VACUUM MODIFIKASI BREAST PUMP TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA DIABETES | Latar belakang : Komplikasi yang sering terjadi pada penderita DM adalah luka diabetes. Wound vacuum, sebagai salah satu terapi yang efektif dalam penyembuhan luka diabetes masih memiliki kelemahan, seperti biayanya yang mahal. Oleh karena itu dibuatlah wound vacuum modifikasi breast pump. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian wound vacuum modifikasi breast pump bertekanan 85 mmHg 1 jam/hari terhadap penyembuhan luka diabetes pada tikus. Metode : Penelitian ini menggunakan eksperimen murni dengan posttest only with control group. Jumlah sampel adalah 3 ekor tikus wistar jantan. Perkembangan pada luka diamati secara makroskopis dan mikroskopis. Hasil : Secara makroskopis warna luka kedua kelompok pada hari ke-0 adalah merah pucat. Edema pada kedua kelompok terjadi pada hari ke-3 dan di hari ke-5 edema kelompok perlakuan lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Jaringan putih (slough) hari ke-7 pada kelompok perlakuan lebih tipis dibanding kelompok kontrol. Area permukaan luka kelompok perlakuan di hari ke-7 lebih kecil dibandingkan dengan kelompok kontrol. Secara mikroskopis, intensitas inflamasi kelompok kontrol lebih banyak, reepitelisasi kelompok perlakuan lebih panjang, dan jaringan nekrotik lebih banyak pada kelompok kontrol. Kesimpulan : Penggunaan terapi wound vacuum modifikasi breast pump 85 mmHg 1 jam/hari dapat mempercepat penyembuhan luka diabetes pada tikus. | Background: Complications are common occurs in patients with diabetes (DM) is diabetic wounds. Wound vacuum, as one of the effective therapy in diabetic wound healing still has drawbacks, such as higher cost. Therefore made tool modification of breast pump vacuum wound to resolve it. Purpose: This research aimed to determine the effect of giving treatment modification of breast pump vacuum pressured 85 mmHg 1 hour / day on wound healing in diabetic Wistar rats. Methods: This research used pure experiment with posttest only with control group. This research used 3 rats of Wistar. Developments in the wound was observed macroscopically and microscopically. Reults: Microscopically, In both groups the color wounds on day 0 is a pale red. Edema in both groups occurred on day 3 and on day 5 treatment group decrease than control group. Day 7 the white tissue (slough) treatment group becomes less than the control group. Extensive wound treatment groups at day 7 is smaller than the control group. Microscopically, inflammation intensity in the control group more than treated group, reepithelialization in the treatment group wider than control group, and necrotic tissue in the control group more than treatment group. Conclusion: The use modification of breast pump vacuum wound 85 mmHg 1 hour / day can accelerate wound healing in diabetic mice. | |
| 7265 | 8301 | C1A008116 | Analisis Aglomerasi di Kabupaten Banyumas | Perubahan struktur ekonomi memperlihatkan adanya perubahan arah kebijakan terhadap sektor industri manufaktur di Kabupaten Banyumas. Sektor industri yang pada awalnya memberikan kontribusi terbesar kedua pada struktur perekonomian tergeser oleh sektor jasa, akan tetapi sektor industri masih mengalami pertumbuhan yang relatif naik dari tahun ke tahun walau dengan rata-rata pertumbuhan yang relatif kecil. Hal ini menarik minat peneliti untuk melihat faktor aglomerasi yang telah disinggung oleh banyak ahli ekonomi dalam konsep ilmu ekonomi regional sebagai hal yang dapat meningkatkan pertumbuhan di sektor industri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola aglomerasi di Kabupaten Banyumas dengan menggunakan Indeks Balassa, Localization Index (LI), Specialization Index (SI), dan Sistem Informasi Geografi. Populasi sekaligus sampel dalam penelitian ini adalah seluruh industri besar dan sedang di Kabupaten Banyumas sebanyak 68 industri. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai analisis aglomerasi di Kabupaten Banyumas dapat disimpulkan bahwa industri manufaktur besar dan sedang cenderung mengumpul di sekitar wilayah Purwokerto dengan subsektor industri makanan merupakan subsektor spesialisasi di Kabupaten Banyumas. | The change of economic structure shows the change of policy direction to the sector of manufacture industry in the Regency of Banyumas. Industry sector which in the beginning gives the second contribution to the economic structure replaced by service sector, but industry sector still experiencing the growth that is relative increase year to year although with the average growth is relative small. It attracts the researcher interest to see the agglomeration factor that has been discussed by many of economist I the concept of regional economic science as the factor that can increase the growth in industry sector. This research aims to analyze the pattern of the agglomeration in the Regency of Banyumas by using the Balassa Index, Localization Index(LI), Specialization Index(SI), and Geography Information System(GIS). Population and the sample in this research is all the big and medium industry in the Regecy of Banyumas they are 68 industries. Based on the result of research and discussion about the analysis of agglomeration in the Regency of Banyumas it can be concluded that the big and medium manufacture industries are tend to be gathered in the around of Purwokerto area with subsector of food industry which it is the specialization subsector industry in the regency of Banyumas. | |
| 7266 | 8302 | C1A010111 | ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENYULINGAN MINYAK NILAM (STUDI KASUS DI KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS) | Penelitian ini berjudul “Analisis Kelayakan Finansial Usaha Penyulingan Minyak Nilam di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas”.Penelitian telah dilaksanakan pada bulan November sampai Desember 2013. Permasalahan dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah tingkat kelayakan finansial usaha penyulingan minyak nilam di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas?”.Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis kelayakan finansial usaha penyulingan minyak nilam di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas berdasarkan kriteria investasi NPV, IRR, B/C ratio, dan Payback Perioddan Switching Value. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode survei.Pengumpulan data diakukan dengan menggunakan kuesioner (daftar pertanyaan) dan observasi untuk menggali data penerimaan dan pengeluaran yang dianalisis dengan menggunakan perhitungan kriteria investasi pada usaha penyulingan minyak nilam di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Berdasarkan hasil analisis finansial, usaha penyulingan minyak nilam di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas secara umum layak dan menguntungkan semua responden, hal ini dikarenakarenakan nilai NPV positif (lebih besar dari nol), R/C ratio lebih besar dari satu, nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku, yaitu 14 persen, dan waktu pengembalian investasi dari masing – masing responden rata-rata kurang dari satu tahun. Pengusaha penyulingan minyak nilam diharapkan juga memperhatikan mengenai ketersediaan bahan baku, karena bahan baku berupa daun nilam kering tergolong langka untuk saat ini. Diharapkan pengusaha juga ikut mengusahakan usaha tani nilam sehingga pengusaha tidak tergantung kepada petani nilam. | This research entitled “Financial Feasibility Analysis of destilation patchouli oil Business in Sumbang District Banyumas Regency”. Research was done in November untill December 2013. Problems examined in this research is “how is the finansial feasibility of patchouli oil destilation business in sumbang district Banyumas regency?”. The research was purposed to observe finansial feasibility of destilation patchouli oil business based on Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Revenue Cost ratio (R/C Ratio), and Payback period. The Research was conducted using survey method. Data was collected using questionnaires to obtain data of income and production cost. The collected data from Sumbang Sub-district Banyumas Regency was analyzed using investment criteria. Location of research and respondents were selected using purposive sampling. Based on the results of the financial analysis, destilation patchouli oil business in Sumbang District Banyumas Regency generally feasible and beneficial to all groups, this is because Net Present Value (NPV) is positive (NPV > 0), R/C ratio is more than one, IRR value is greater than interest rate applicable, which is 14 percent, and return on investment of each group average is one years. The patchouli oil destilation business owners are expected to look for the raw material availability, because the raw material in term of dry patchouli leaves is scarce by now. The patchouli oil business owner should also run the patchouli oil business owner should also run the patchouli farming business so they will no longer dependen on the patchouli farmer. | |
| 7267 | 10228 | G1A010082 | HUBUNGAN ANTARA LAMA TIDUR DENGAN KEJADIAN SLEEP PARALYSIS PADA REMAJA DI SMA NEGERI 2 PURWOKERTO | Latar Belakang: Sleep paralysis merupakan kelumpuhan yang sifatnya sementara yang dialami sebelum masuk fase tidur yang dalam atau terkait dengan Rapid Eye Movement (REM). Pada seseorang yang berusia 18 tahun atau lebih muda cenderung memiliki waktu tidur yang pendek. waktu tidur yang kurang, sering terbangun ketika tidur, tidur larut malam, dan cepat terbangun ketika tidur mengakibatkan efek yang serius terhadap kapasitas belajar, konsentrasi di sekolah, maupun fungsi kerja otak. Ketika seseorang tidak mendapatkan cukup tidur maka ia tidak mendapatkan tidur REM yang baik sehingga pada saat berbaring atau tidur di waktu berikutnya maka akan lebih banyak dihabiskan pada tidur REM. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara lama tidur dengan kejadian sleep paralysis pada remaja di SMA Negeri 2 Purwokerto Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan bulan Oktober 2014 pada siswa SMA Negeri 2 Purwokerto. Responden yang memenuhi kriteria inklusi adalah berjumlah 65 orang. Data penelitian didapatkan dari pengisian kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah uji spearman. Hasil: Hasil uji spearman didapatkan nilai r -0.055 dengan nilai P = 0.661. karena nilai P > 0.05 maka tidak terdapat hubungan antara lama tidur dengan kejadian sleep paralysis pada remaja di SMA Negeri 2 Purwokerto. Kesimpulan: tidak terdapat hubungan antara lama tidur dengan kejadian sleep paralysis pada remaja di SMA Negeri 2 Purwokerto. | Background: Sleep paralysis is a temporary paralysis occur before entering the deep sleep phase or associated with Rapid Eye Movement (REM). Someone who is 18 years of age or younger tends to have a short sleep. less sleep, frequent awakening during sleep, late sleep, and early wake up while sleeping results in serious effects on learning capacity, concentration in school, as well as the work of brain function. When a person does not have enough sleep, he or she does not get good REM sleep so that when lying down or sleeping in the next time it will be more spent in REM sleep. Purpose: The purpose of this study was to investigate the relationship between sleep duration with sleep paralysis incidence in adolescents of SMA 2 students Purwokerto. Methods: This study used observational analytic design with cross sectional approach. It was conducted in October 2014 at SMA 2 Purwokerto. Respondents who met the inclusion criteria were 65 people. The research data obtained was from questionnaires. The statistical test used wasthe Spearman test. Results: The test results obtained that Spearman r value -0.055 and P = 0.661. As the value of P was > 0.05 so there was no relationship between the incidence of sleep duration with sleep paralysis in adolescents of SMA 2 students Purwokerto. Conclusion: There was no relationship between the incidence of sleep duration with sleep paralysis in adolescents at SMA 2 Purwokerto. | |
| 7268 | 10295 | P2BA12018 | KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN SERANGGA PENYERBUK PADA TANAMAN BUNCIS (Phaseolus vulgaris L.) DI BERBAGAI KETINGGIAN TEMPAT | Serangga penyerbuk berperan dalam meningkatkan hasil produksi pertanian. Penurunan serangga penyerbuk memiliki konsekuensi serius bagi keanekaragaman dan produktivitas tanaman. Ketinggian tempat merupakan salah satu faktor pengendali iklim yang berpengaruh kuat terhadap suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya. Penelitian ini untuk mengetahui kelimpahan dan keanekaragaman serangga penyerbuk pada tanaman buncis di berbagai ketinggian tempat. Penggambilan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling dan Scan Sampling. Analisis yang digunakan untuk mengetahui kelimpahan dan keanekaragaman serangga penyerbuk, serta hubungannya dengan ketinggian tempat digunakan indeks kelimpahan Michael, indeks Shanon Wienner (H), dan analisis Korelasi Pearson. Hasil penelitian menemukan 7 spesies serangga penyerbuk yaitu Apis cerana, Apis dorsata, Xylocopa latipes, Eurema andersonii, Oriens gola, Teractrocera ardonia, dan Chrysolina polita dengan didominasi oleh Apis cerana, dan Xylocopa latipes dengan keanekaragaman sedang dan menurun dengan semakin tingginya tempat. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa semakin tingginya tempat maka Apis cerana, Xylocopa olivacea, dan Eurema andersonii kelimpahannya menurun, sedangkan Apis dorsata, Taractrocera ardonia, Oriens gola, dan Crysolina polita kelimpahannya meningkat. | Insect pollinators play a role in increasing agricultural production. The decline in insect pollinators have serious consequences for biodiversity and productivity of plants. Elevation is one factor that strongly influences the climate control of temperature, humidity, and light intensity. This study was to determine the abundance and diversity of insect pollinators on bean plants at various altitudes. Making sample using purposive sampling technique and scan sampling. The analysis used to determine the abundance and diversity of insect pollinators, as well as its relationship with altitude used Michael abundance index, Wienner Shannon index (H), and pearson correlation analysis. The study found seven species of insect pollinators, namely Apis cerana, Apis dorsata, Xylocopa latipes, Eurema andersonii, Oriens gola, Teractrocera ardonia, and Chrysolina Polita with Apis cerana and Xylocopa latipes is dominated, with moderate diversity and decreased with higher place. The results of correlation analysis showed that the higher place then Apis cerana, Xylocopa olivacea, and Eurema andersonii abundance decreased, whereas Apis dorsata, Taractrocera ardonia, Oriens gola, and Crysolina polita abundance increased. | |
| 7269 | 13563 | G1B008128 | EFEKTIFITAS BERBAGAI DOSIS EFFECTIVE MICROORGANISMS-4 (EM-4) DALAM MENURUNKAN BIOLOGYCAL OXYGEN DEMAND (BOD) DAN TOTAL SUSPENDED SOLIDS (TSS) LIMBAH CAIR INDUSTRI SOUN | Limbah cair industri soun mengandung BOD dan TSS tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan EM-4 dalam menurunkan BOD dan TSS limbah cair industri soun dengan beberapa tingkatan dosis. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experimental design (eksperimen semu) dengan metode pre test-post test with control design. Rancangan yang digunakan adalah dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Sampel diambil dari industri soun yang ada di Dukuhwaluh, Purwokerto. Analisis data secara deskriptif dan analitik (Paired t- test dan Anova). Perhitungan kandungan BOD menggunakan metode titrasi, sedangkan kandungan TSS dengan metode gravimetri. Rata-rata BOD sebelum perlakuan sebesar 170,20 mg/L, sedangkan TSS sebelum perlakuan sebesar 297,25 mg/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektifitas mikroorganisme EM-4 dalam menurunkan kadar BOD tertinggi pada dosis 4 mL/L yaitu sebesar 76 %. Sedangkan efektifitas EM-4 dalam menurunkan kadar TSS tidak berbeda secara signifikan dalam variasi dosis. Berdasarkan Perda Jateng No. 10 Tahun 2004, BOD limbah cair industri soun sesudah perlakuan sudah dibawah standar baku mutu (150 mg/L), sedangkan, TSS limbah cair industri soun sesudah perlakuan masih diatas standar baku mutu (100 mg/L). Pemilik industri soun disarankan untuk terlebih dahulu melakukan pengolahan pendahuluan seperti pengendapan maupun pengapungan sebelum dilakukan pengolahan menggunakan bakteri EM-4 untuk menurunkan kadar BOD agar tidak terjadi pencemaran perairan. | Sohun industry waste water contains high of BOD and TSS. The purpose of this research was found out EM-4 effectiveness to reduce BOD and TSS of sohun industry waste water with dosis level various. This research is quasi experimental design with pre test-post test with control design method. This reseach use Complete random program. The sampel take in a sohun industry from Dukuhwaluh, Purwokerto. Analysis of this research use descriptive and analytic (Paired t-test and Annova) method. BOD measuring use titration method and TSS measuring use gravimetri method. The average of BOD pre-treatment was 170,20 mg/L, whereas the average of TSS pre-treatment was 297,25 mg/L. The result of this research was EM-4 effectiveness to reduce BOD highest on 4 mL/L dosis up to 76%. Whereas, EM-4 effectiveness to reduce TSS was not significant different on dosis variation. According to Perda Jateng No. 10 year 2004, BOD of sohun industry waste water done under standart (150 mg/L). Whereas, TSS of sohun industry waste water above standart (100 mg/L). Sohun industry owner suggestion should advance doing preliminary processing such as sedimentation for lower levels of BOD and TSS to prevent water polution. | |
| 7270 | 10296 | P2BA11002 | STRUKTUR KOMUNITAS HUTAN MANGROVE DAN MOLUSKA SERTA STOK KARBON PADA PERUBAHAN HABITAT DI SEGARA ANAKAN CILACAP | Ekosistem mangrove di Segara Anakan telah mengalami perubahan habitat, hampir separuh dari wilayah mangrove mengalami kerusakan yang terjadi diantara selang waktu tahun 1978 – 2004. Hal ini mengakibatkan mangrove Segara Anakan memiliki variasi kondisi habitat. Kerusakan di ekosistem mangrove yang terjadi secara terus menerus dan semakin meningkat dari tahun ke tahun, terjadinya perubahan habitat, juga berdampak pada struktur vegetasi mangrove itu sendiri termasuk struktur komunitas biota asosiasinya yang berupa bentik invertrebata, termasuk Mollusca.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas mangrove dan juga struktur komunitas Mollusca (Gastropoda dan Bivalvia) serta melihat hubungan yang terjadi diantara keduanya. Selain tujuan tersebut, peneliti juga ingin melihat peran besar mangrove di Segara Anakan dalam proses penyerapan karbon dalam kaitannya dengan isu perubahan iklim yang terjadi saat ini. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survey dengan teknik sampling adalah cluster sampling, dengan menempatkan kuadran 10 m x 10 m untuk menghitung vegetasi pohon, 5 m x 5 m untuk vegetasi sapling dan 1 m x 1 muntuk seedling, sedangkan untuk Mollusca menggunakan plot berukuran 1 m x 1 m. Untuk menghitung karbon mangrove dilakukan pengukuran diameter pohon mangrove. Hasil penelitian yang didapatkan adalah nilai kerapatan mangrove Segara Anakan sebesar 67,92Ind/ha yang tersusun atas 8 spesies yaitu Xylocarpus granatum, Ceriops decandra, Rhizophora apiculata, Sonneratia caseolaris, Sonneratia alba, Avicenia marina, Avicennia alba dan Aegiceras corniculatum. Kepadatan Mollusca yang diperoleh sebanyak 56,56 Ind/m2 yang terdiri atas 35 spesies yaitu 32 spesies dari Classis Gastropoda yang ditemukan terdiri dari 8 famili yaitu Assimineidae, Ellobiidae, Potamididae, Muciridae, Littorinidae, Nassaridae, Neritidae dan Thiaridae. Spesies yang masuk dalam famili-famili tersebut berjumlah 32 spesies antara lain Assimenia breviula, Cassidula aurisfelis, Cerithidea djdjarensis, Chicoreus capucinus dan beberapa spesies lainnya. Classis lain yang ditemukan adalah Bivalva yang terdiri dari 3 famili dan 3 spesies yaitu Arcuatula demissa, Placuna ephippium, Polymesoda erosa. Kerapatan mangrove dan kepadatan Mollusca tidak memperlihatkan hubungan korelasi yang signifikan. Dari perhitungan karbon diperoleh hasil perhitungan karbon pada tingkatan pohon membeikan hasil rata-rata sebesar 2,80 Ton/ha. Pada tingkatan sapling nilai rata-rata karbon yang diperoleh adalah 16,62 Ton/ha. | Mangrove ecosystem in Segara Anakan have experienced habitat changing, nearly half of the mangrove area suffered damage that occurs from 1978 to 2004. This made Segara Anakan mangrove have variations in habitat conditions. The damage that occured in the mangrove ecosystem continuously increased for years, habitat changing, also have an impact on mangrove vegetation structure itself including its associated biota community structure in the form of benthic invertebrate, including Mollusks. This study aims to determine the structure of mangrove communities and community structures of Mollusks (Gastropoda and Bivalvia) as well as the relations between them. In addition to these objectives, the researchers also wanted to see a big role of Segara Anakan mangrove in the process of carbon sequestration in relation to the issue of climate change is happening right now. The study was conducted using a survey method with cluster sampling known as a sampling technique, by placing the quadrant 10 mx 10 m to calculate the vegetation of trees, a 5 mx 5 m for vegetation sapling and 1 mx 1 m for seedlings, whereas for Mollusks using a plot size of 1 mx 1 m . To calculate the carbon mangrove mangrove tree diameter measurements. Research results obtained as the value of the density of mangrove saplings at 67.92 Segara Ind / ha which is composed of 8 species including Xylocarpus granatum, Ceriops decandra, Rhizophora apiculata, Sonneratia caseolaris, Sonneratia alba, Avicenia marina, Avicennia alba and Aegiceras corniculatum. Mollusks density obtained in the amount of 56.56 Ind/m2 consisting of 35 species of which 32 species of gastropods found Classis consists of 8 family is Assimineidae, Ellobiidae, Potamididae, Muciridae, Littorinidae, Nassaridae, Neritidae and Thiaridae. Species included in the families in the mount of 32 species, i.a Assimenia breviula, Cassidula aurisfelis, Cerithidea djadjarensis, Chicoreus capucinus and several other species. Another Bivalves classis found is comprised of 3 families and 3 species i.a Arcuatula demissa, Placuna ephippium, Polymesoda erosa. Mollusks density and mangrove density did not show a significant correlation. From the calculation results of the calculation of the carbon obtained at tree level gives an average yield of 2.80 tons/ha. At the level of the average sapling carbon value obtained was 16.62 tons/h. | |
| 7271 | 10297 | P2BA12001 | KEANEKARAGAMAN Anisoptera Ordo Odonata DI SEKITAR SUNGAI ARU KAWASAN HUTAN LEMOR GUNUNG RINJANI LOMBOK | Sungai Aru berada di kawasan hutan Lemor Gunung Rinjani Lombok Timur. Dari hulu sampai hilirnya telah mengalami perubahan karena aktivitas manusia seperti: pelebaran jalan, galian tambang emas illegal, dan pendangkalan sungai karena longsor. Adanya aktivitas manusia tersebut, secara langsung maupun tidak langsung akan dapat mempengaruhi kualitas ekosistem sungai dan kondisi badan perairan yang pada akhirnya akan mempengaruhi biota yang hidup di sekitar sungai tersebut. Dampak dari perubahan tersebut secara langsung berpengaruh terhadap perubahan komposisi organisme pendukung termasuk kelompok serangga Anisoptera Ordo Odonata yang struktur komunitas dan distribusinya sangat dipengaruhi oleh kerusakan habitat. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui Keanekaragaman Anisoptera Ordo Odonata di Sekitar Sungai Aru Kawasan Hutan Lemor Gunung Rinjani Lombok. Penelitian dilakukan dengan metode survey. Sampel diambil dari tiga stasiun (Stasiun I hilir sungai, Stasiun II Intertesial sungai, dan Stasiun III Hulu sungai) dan diulangi sebanyak tiga kali. Penelitian dilakukan pada bulan November 2013 – Januari 2014. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 16 Spesies Anisoptera Ordo Odonata yang terdiri dari tiga famili yaitu: Lebellulidae, Gomphidae, dan Aeshnidae. Lima belas spesies ditemukan pada stasiun I, 14 spesies ditemukan pada stasiun II, dan 14 spesies ditemukan pada stasiun III. Terdapat 5 Spesies predominan pada ketiga stasiun yaitu: Orthetrum sabina, Ictinagomphus decorator, Paragomphus reinwardatii, Anax guttatus, dan Potamarcha congena. | Aru river located in forest area Lemor East Mount Rinjani Lombok. From upstream to downstream has been changed due to human activities such as road widening, illegal gold mining excavation, and the silting of the river due to landslides. The presence of the human activity, directly or indirectly, can influence the quality of river ecosystems and water body conditions that will ultimately affect the biota that live around the river. The impact of these changes directly affect the change in the composition of organisms supporters including the Ordo Odonata group Anisoptera insect community structure and distribution are strongly influenced by habitat destruction. The purpose of this study to determine the Ordo Odonata Anisoptera Diversity Around Aru River Forest Area Lemor Mount Rinjani Lombok. The study was conducted by survey method. Samples were taken from three stations (Station I downstream rivers, streams Intertesial Station II, and III upstream river station) and repeated three times. The study was conducted in November 2013 - January 2014. The results showed as many 16 species of Anisoptera Ordo Odonata. | |
| 7272 | 13052 | F1A010092 | BERBURU BABI HUTAN ( Studi Tentang Kearifan Lokal Dalam Ritual Berburu Babi Mongkrong Di Desa Legok, Kecamatan, Bantarkawung Kabupaten Brebes) | ABSTRAKSI Masyarakat Desa Legok mempunyai cara tersendiri untuk menyambut datangnya ritual Mongkrong dengan melakukan sebuah ritual bersama. Tradisi ini menarik untuk diteliti karena dalam era globalisasi ini, masih ada masyarakat yang mempertahankan ritual. Tujuan dari penelitian ini adalah Mendeskripsikan latar belakang terjadinya ritual Mongkrong di Desa Legok, Kecamatan Bantarkawung, Kabupatan Brebes, Jawa Tengah. Mendeskripsikan proses pelaksanaan ritual Mongkrong di Desa Legok, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Untuk tujuan tersebut maka penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi, sebagai landasan teoritiknya. Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan cara wawancara dan observasi di Desa Legok sebagai lokasi penelitian. Hasil penelitian ini mendeskripsikan bahwa masyarakat memakai ritual ini bukan karena hanya merupakan salah satu tradisi dari masyarakat terdahulu, tetapi juga adanya kepentingan masyarakat terhadap kelangsungan pertanian. Sebagian besar masyarakat Legok adalah petani akan tetapi area pertanian warga sering mengalami gangguan dari babi hutan, mengingat perkembangbiakan babi hutan yang sangat pesat sehingga masyarakat Desa Legok melaksanakan ritual Mongkrong tanpa memusnahkan populasi babi hutan. Pelaksanaan ritual ini mempunyai pengaruh yang bermacam-macam pada kehidupan sosial masyarakat Legok. Meskipun masyarakat beranggapan bahwa ritual ini adalah suatu yang sudah menjadi tradisi, namun tanpa disadari sebenarnya masyarakat mempunyai kepentingan bersama dalam menjaga pertanian serta terhadap pelaksanan ritual ini. | ABSTRACT People of Legok village have their own way to welcome Mongkrong ritual by doing a ritual together this tradition is interested to be researched because such tradition is hard to find in this globalization era. The purpose of this research is to describe the background of Mongkrong ritual in Legok village, Bantarkawung disctrict, Brebes disctrict, sentral java. For reaching the purpose the researcher used phenomological approach as the theory foundation. Collecting data in this research is by interview and observation in Legok village as a research location. The result of this research describes that the people use this ritual is not only because it is one of the tradition of their ancestrors, but also the interest of the continuation farming. Most of Legok people is a farmer, but this area is often attacked by wild boar regarding to the poliferation of wild boar so the Legok people do a Mongkrong ritual withoup wipping out the wild boar. The implementation of this ritual has in fluence on a variety of social life in Legok. Although the people assume that this is a ritual that has be come a tradition, but without reallzing the fruth is this ritual had to be their own interests. | |
| 7273 | 8303 | B1J009147 | Kajian Etnobotani Tumbuhan Obat Oleh Etnis Sunda Di Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis | RINGKASAN Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat untuk kepentingan kesehatan bukanlah merupakan hal yang baru tetapi sudah berlangsung cukup lama. Tumbuhan obat merupakan tumbuhan yang bagian tumbuhannya (akar, batang, daun, umbi, buah, biji dan getah) mempunyai khasiat sebagai obat dan dimanfaatkan sebagai bahan mentah dalam pembuatan obat modern. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan, manfaat, cara pemanfaatan, bagian tumbuhan, serta cara pengolahan dari tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat oleh Etnis Sunda di Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis. Metode yang digunakan adalah metode survei. Sampel tumbuhan diambil secara acak terpilih di 5 desa dari 9 Desa, setiap Desa dipilih 15 responden. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif meliputi jenis tumbuhan, manfaat, pemanfaatan, bagian tumbuhan serta cara pengolahan. Hasil penelitian diperoleh 49 jenis dari 27 suku tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh etnis Sunda di Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis. Suku Zingiberaceae paling banyak dimanfaatkan dengan 10 jenis yang dimanfaatkan sebagai obat. Tumbuhan dimanfaatkan untuk mengobati berbagai macam penyakit yaitu penyakit pada kulit (bisul, cacar, borok, panu, dll), paru-paru, ginjal, dan gangguan pada perut atau lambung. Bagian yang dimanfaatkan adalah daun, bunga, buah, rimpang, umbi, akar, kulit buah, getah, dan daging batang. Cara pemanfaatannya juga bermacam-macam yaitu ditumbuk, diremas direbus kemudian diminum airnya, diparut, diiris, langsung dimakan sebagai lalap, dioles, dan dibuat jus. | SUMMARY The plants utilizations as medicine for the benefit of human’s health is not a new thing but it has lasted for a long time. Medicinal plants are plants which parts of the plant (roots, stems, leaves, roots, fruit, seeds and sap) have function as a medicine and are use as raw materials in the manufacture of modern drugs. The purposes of this study were to know the types of plants, benefits, way of utilization, plant parts, and how to process the plants that were used as medicine by Sundanese Ethnic in Lakbok Sub-district Ciamis District. The method was survey. Samples of plants were taken randomly from 5 out of 9 villages, each villages were selected 15 respondents. Data were analyzed descriptively cover were types plants, benefits, utilization, the parts of plants and the way of processing. The results of the research showed that 49 species from 27 family of medicinal plants were used by Sundanese ethnic in Lakbok sub-district Ciamis District. Family Zingiberaceae was the most widely used as medicine. Plants were to treat the various diseases such as skin diseases (boils, pox, ulcers, tinea versicolor, etc.), lung, kidney, and disorders of the stomach or gastric. The parts which were used were leaves, flowers, fruits, rhizomes, tubers, roots, fruit leather, latex, and sticks. The way to utilize also varied such as pounding, crushing, boiling and then drinking its water: grating, slicing, then eaten directly as a salad: smearing on the skin as medicine, and made juice. | |
| 7274 | 8304 | C1B010056 | ANALISIS PENGARUH KUALITAS PELAYANAN, CITRA PERUSAHAAN, DAN KEPERCAYAAN TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN (Studi Kasus pada Boersa Kampus Swalayan (BK)) | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kualitas pelayanan, citra perusahaan, dan kepercayaan terhadap kepuasan pelanggan dan pengaruhnya terhadap loyalitas pelanggan pada Boersa Kampus Swalayan (BK). Populasi dalam penelitian ini adalah pelanggan pada Boersa Kampus Swalayan (BK). Peneliti menggunakan sampel sebanyak 150 responden. Tehnik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Structural Equation Modelling (SEM) digunakan untuk menganalisis variabel. Berdasarkan hasil analisis data, menunjukkan bahwa kualitas pelayanan, citra perusahaan, dan kepercayaan berpengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan dimana kepuasan pelanggan juga berpengaruh positif terhadap loyalitas pelanggan. Sedangkan kualitas pelayanan dan citra perusahaan tidak berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan. | The purpose of this research was to analyze the influence of perceived service quality, corporate image, and trust to customer satisfaction and the impact customer loyalty in Boersa Kampus Swalayan (BK). The population of this research was the customer at Boersa Kampus Swalayan (BK). The researcher using a sample size of 150 respondent. The sampling technique was used purposive sampling method. Structural Equation Modelling (SEM) was used to analyze the variables. Based on the results of data analysis, it can be concluded that perceived service quality, corporate image, and trust had positive influence to customer satisfaction where customer satisfaction also had positive influence to consumer loyalty. While perceived service quality, and corporate image had no influence to consumer loyalty. | |
| 7275 | 8305 | C1B010076 | DESAIN ONE-CARD SYSTEM BERORIENTASI OPERASI PROSES PELAYANAN AKADEMIK (STUDI KASUS DI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS, UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO) | Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto adalah tempat pendidikan resmi yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi. Namun kenyataannya, Fakultas tersebut masih menggunakan fasilitas manual terutama dalam sistem operasi pelayanan akademik sehingga dapat disimpulkan bahwa keadaan tersebut masih belum efisien dan efektif untuk mahasiswa dan juga birokrasi perguruan tinggi. Untuk mengatasi masalah tersebut, RFID merupakan teknologi tepat guna. Mahasiswa dan staf hanya akan memiliki satu kartu RFID sebagai kartu identitas dan mereka dapat menggunakan kartu untuk berbagai tujuan seperti peminjaman buku, kendaraan parkir dan daftar hadir mahasiswa. Hal ini memberikan sistem keamanan yang mudah, nyaman, efektif dan efisien. Hasil penelitian ini akan menunjukkan model desain one-card system menggunakan teknologi RFID (Radio Frequency Identification) yang akan diaplikasikan dalam proses pelayanan akademik di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. | Faculty of Economics and Business of Jenderal Soedirman University Purwokerto is a formal education that can’t be separated from technological development. But in fact, the Faculty are still using manual facilities in the academic services of the operating system so it means that situation still not efficient and effective for students and College as well. To solve the problem, RFID is appropriate technology. Students and staff will have only one RFID card as an identity card and they can use the cards for various purposes such as loaning books, parking a vehicle and present students list. It provides system that easy, comfortable, effective and efficient. The results of this research will show the model of design one-card system using RFID technology (Radio Frequency Identification) that will be applied in the process of academic services at the Faculty of Economics and Business of Jenderal Soedirman University Purwokerto. | |
| 7276 | 10298 | P2FB09059 | KEBERHASILAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN LEMBAGA DISTRIBUSI PANGAN MASYARAKAT (LDPM) DI DESA KALIKUDI KECAMATAN ADIPALA KABUPATEN CILACAP | Dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan serta mengimplementasikan kebijakan pemerintah pusat dalam menciptakan kestabilan harga komoditi pangan, Pemerintah Kabupaten Cilacap melaksanakan program Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM). Program Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) yang bekerjasama dengan Gapoktan ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok tani khususnya dan masyarakat pada umumnya sehingga akan memperkuat ketahanan pangan baik daerah maupun nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana Keberhasilan Implementasi kebijakan Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) di Desa Kalikudi Kecamatan Adipala yang dilihat dari aspek komunikasi, sumberdaya, disposisi atau sikap birokrasi sebagai pelaksana dan struktur organisasi dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian diketahui Komunikasi pada implementasi LPDM lebih banyak pada kategori baik. Efektifnya komunikasi memberikan dampak pada keberhasilan program. Sebagian besar mempersepsikan bahwa sumberdaya pada implementasi LPDM sudah baik. Sumberdaya yang tersedia di organisasi membantu organisasi untuk sukses menjalankan kegiatannya. Sikap birokrasi sebagai pelaksana implementasi LDPM dipersepsikan baik. Melihat kenyataan ini maka birokrasi dapat menjadi factor pendukung dalam rangka kesuksesan implementasi LDPM. Sebagian besar responden mempersepsikan bahwa struktur organisasi sudah baik. Adanya pembagian tugas yang jelas dan juga system koordinasi sebagai akibat adanya struktur organisasi pelaksana implementasi LDPM memberikan pengaruh positif bagi keberhasilan pelaksanaan kegiatan LDPM. | In order to accelerate poverty reduction and implement central government policy to create stability in the prices of food commodities, Cilacap regency government implements the program Institute of Food Distribution Society (LDPM). Program Institute of Food Distribution Society (LDPM) in collaboration with Gapoktan is expected to improve the welfare of members of farmer groups in particular and society in general that will strengthen food security both local and national. This study aims to describe how the successful implementation of the policy of the Institute of Food Distribution Society (LDPM) in Kalikudi Village Adipala Subdistrict seen from the aspect of communication, resources, disposition or attitude of the bureaucracy as implementers and organizational structure using a quantitative approach. The result of the study showed that the communication on the implementation of LPDM tend to be in a good category. The effectiveness of communication had an impact on the success of the program. It was perceived that the resources on LPDM implementation was good. Resources available in the organization helped the organization to successfully carry out its activities. The attitude of bureaucracy as implementers of LDPM was perceived good. It could be concluded that the bureaucracy can be a contributing factor in the successful implementation of LDPM. Most respondents perceived that the organizational structure was good. Clear division of tasks and coordination system as a result of organizational structure of LDPM implementers gave positive influence on the successful implementation of LDPM activities. | |
| 7277 | 8306 | C1J010040 | ANALYSIS ON THE EFFICIENCY OF THE USE OF PRODUCTION FACTOR IN MUSTARD (PETSAI) FARMING IN SERANG VILLAGE, KARANGREJA SUBDISTRICT, PURBALINGGA DISTRICT | Penelitian ini berjudul “Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Pada Usahatani Sawi (Petsai) di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat efisiensi teknis, efisiensi harga, efisiensi ekonomis dan pengaruh penggunaan faktor produksi yaitu luas lahan, benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja terhapan jumlah produksi dalam usahatani sawi di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini melalui pendekatan deskriptif kuantitatif dengan melalukan interview atau wawancara menggunakkan kuesioner terhadap para petani sawi yang tergabung dalam kelompok tani Mbuka Raharja dan Berkah Makmur, dengan menggunakkan teknik purposive sampling diperoleh 50 petani sebagai responden atau sampel yang dapat memawakili jumlah populasi nya. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis regresi berganda dan analisis efisiensi yang dibantu juga dengan alat analisis software Banxia Frontier Alalyst 4. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diperoleh: (1) faktor produksi yang berpengaruh positif dan signifikan atau nyata terhadap produksi usahatani sawi adalah lahan, benih, dan pupuk. Pestisida juga berpengaruh positif namun tidak signifikan atau nyata, sedangkan tenaga kerja berpengaruh negatif dan tidak signifikan atau nyata terhadap produksi usahatani sawi tersebut, (2) rata-rata efisiensi teknik usahatani sawi kurang dari 1 yang berarti produksi sawi pada daerah penelitian tidak efisien, (3) dari hasil analisis diketahui bahwa NPMx/Px penggunaan faktor produksi lahan, benih, pupuk, pestisida, dan tenagakerja kurang dari 1 sehingga tidak efisien, (4) usahatani sawi belum mencapai efisiensi baik teknik maupun harga maka usahatani sawi belum mencapai tingkat efisiensi ekonomi. Implikasi dari hasil penelitian adalah : (1) sebaiknya para petani bekerjasama dengan kelompok tani dan petugas penyuluh lapangan untuk melakukan penelitian dan percobaan sederhana yang bersifat teknis kemudian dianalisis secara ekonomis dengan tujuan titik optimum, agar dapat mengetahui berapa tingkat penggunaan suatu faktor produksi optimal, (2) Petugas penyuluh pertanian sebaiknya turut serta membantu petani atau kelompok tani dalam melakukan penerapan kombinasi berbagai faktor produksi tersebut, (3) petani perlu memperhatikan penggunaan pupuk dan pestisida karena terdapat dosis per satuan luas, petugas penyuluh pertanian perlu memberikan rekomendasi pemberian pupuk dan pestisida terutama mengenai dosis, cara pemberian, saat pemberian dan frekuensi pemberian pupuk dan pestisida yang tepat, (4) sebagian besar petani menjual hasil produksinya pada saat panen raya sehingga harga rendah, sebaiknya hasil panen disimpan terlebih dahulu menunggu harga yang lebih menguntungkan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut sebaiknya para petani bekerjasama membentuk kelompok atau koperasi pertanian atau bekerjasama dengan lembaga lain. | The aims of this research were to know the level of technical efficiency, price efficiency, economic efficiency and the effect of the use of production factors i.e. land, seed, fertilizer, pestiside, and labors on the number of production in mustard farming . This research used purposive sampling technique and there were 50 farmers as the respondents or the sample respresented the population. Analysis in this research used multiple regression analysis and the efficiency analysis was carried out with analysis software Banxia Frontier Analyst 4. Based on the result of the research, it can be concluded that: (1) production factors which had significant and positive effect on the mustard production were land, seeds and fertilizer. Pesticide had positive effect but not significant, on the mustard farming production, meanwhile laborhad negative effect but not significant, on the mustard farming production (2) the average technical efficiency of mustard farming was less than 1 which means that mustard production in the research area was not efficient, (3) from the analysis result, it was known that NPMx/Px of the use of production factors; land, seed, fertilizer, pesticide, and labors was less than 1 so that the use of those production factors was not efficient, (4) mustard farming has not been in good efficiency either technically or price, therefore mustard farming in Serang Village, Karangreja Subdistrict, Purbalingga Regency has not reached level of economy efficiency. Implications of the research result were: (1) Farmers should work together with other farmers group and field extension officer to conduct research and technical simple treatment then analyze economically with optimum point as the purpose in order to know how good the production factors run, (2) Field extension officer should take part and help the farmers or farmers group in applying the combination of those production factors, (3) farmers should pay attention to using fertilizer and pesticide since there is dosage per land area, agricultural extension officer needs to give recommendation of giving fertilizer and pesticide especially about the dosage, the procedure, whilst giving fertilizier and the appropriate frequency of gicing fertilizer and pesticide, (4) most of them sold the productions when the harvest came so that the price would be low, should store their harvest and wait for beneficial for them. To solve the problem, the farmers should work together with agricultural group or cooperative or other institutions. | |
| 7278 | 8307 | B1J010018 | PERSEBARAN DAN PREFERENSI RAYAP TANAH TERHADAP JENIS KAYU YANG BERBEDA PADA KOMPLEKS PERUMAHAN DI WILAYAH PURWOKERTO | Kayu merupakan produk alam yang banyak digunakan untuk pembangunan perumahan dan konstruksi bangunan lainnya. Namun, ketahanan kayu terhadap serangan organisme perusak kayu berbeda-beda. Organisme perusak kayu pada bangunan yang menimbulkan kerugian terbesar adalah rayap tanah. Makanan utama rayap tanah adalah bahan yang mengandung selulosa, terutama kayu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan persebaran rayap tanah pada kompleks perumahan di wilayah Purwokerto dan untuk mengetahui preferensi rayap tanah terhadap jenis kayu yang ada pada lokasi penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei secara pola tersarang (nested design) yaitu mengambil 4 lokasi penelitian yaitu yaitu kompleks Perumahan Arcawinangun di Purwokerto Timur, Perumahan Griya Satria II di Purwokerto Barat, Perumahan Griya Satria I Sumampir di Purwokerto Utara dan Perumahan Teluk di Purwokerto Selatan sebagai main plot dan menggunakan tiga jenis kayu yaitu kayu Albasia (Albizia falcataria L. Fosberg), kayu Jati (Tectona grandis Linn.f.) dan kayu Bengkirai (Shorea laevifolia Eudert) sebagai sub plot. Data penelitian berupa rayap tanah yang berada pada area radius 1 m dari balok kayu yang ada di lokasi penelitian, preferensi dan pola persebarannya. Variabel utama yang diamati dalam penelitian ini yaitu jenis rayap tanah yang menyerang kayu dan preferensi rayap tanah terhadap jenis-jenis kayu. Variabel pendukung yang diamati adalah rona lingkungan, kelembaban tanah, pH, temperatur udara dan intensitas cahaya. Parameter yang diukur adalah jenis dan jumlah individu rayap tanah/patok (radius 1 m) dan selisih antara bobot awal patok umpan setelah dioven dengan bobot akhir setelah diserang rayap. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji F, dengan tingkat kesalahan 5% dan 10%. Bila hasil yang diperoleh berpengaruh nyata atau sangat nyata dilanjutkan uji Duncan. Untuk mengidentifikasi rayap tanah yang didapat menggunakan pedoman kunci identifikasi spesies rayap tanah (Ahmad, 1959 dan Nandika et al., 2003). Hasil penelitian menunjukkan persebaran rayap tanah di setiap lokasi penelitian yaitu dari jenis Macrotermes gilvus Hagen, Microtermes insperatus Kemner dan Coptotermes curvignathus Holmgren memiliki persebaran di empat lokasi yaitu pada kompleks Perumahan Arcawinangun di Purwokerto Timur, Perumahan Griya Satria II di Purwokerto Barat, Perumahan Griya Satria I Sumampir di Purwokerto Utara dan Perumahan Teluk di Purwokerto Selatan. Sedangkan, dari jenis Odontotermes javanicus Kemner memiliki persebaran hanya di kompleks Perumahan Arcawinangun di Purwokerto Timur. Tidak ada preferensi rayap tanah terhadap jenis kayu, yaitu kayu Albasia, kayu Jati dan kayu Bengkirai, meskipun memiliki tingkat keawetan yang berbeda. | Wood is a natural product that is widely used for the house construction and the others. However, resistance of wood against wood destroyer organisms is vary. Wood destructive organisms in building that cause the greatest losses are subterranean termites. The main meal of subterranean termites is cellulose-containing materials, especially wood. The purpose of this study was to determine the type and distribution of subterranean termites in residential complexes at Purwokerto region and to determine the preferences of subterranean termites on wood type on the study site. The method used was a survey method with a nested pattern (nested design) which took 4 locations namely Arcawinangun housing complex in East Purwokerto, Residential Griya Satria II in West Purwokerto, housing Griya Satria I Sumampir in North Purwokerto and Housing Teluk in South Purwokerto as the main plot and the use of three types of wood is Albasia wood (Albizia falcataria L. Fosberg), Teak wood (Tectona grandis Linn.f.) and Bengkirai wood (Shorea laevifolia Eudert) as sub-plots. The research data is the species of subterranean termites in the areas within 1 m of the timber beams was in the location of the research, preferences and patterns of spreading. The main variables observed in this study are the type of subterranean termites which attack wood termite and preferences of the types of wood. The supporters variables measured were of the environmental performing, soil moisture, pH, air temperature and light intensity. Parameters measured were the type and number of individuals of subterranean termites/stakes (within 1 m) and the difference between the initial weight of the bait stakes after oven with final weights after being attacked by termites. Data were analyzed using the F test, with an error rate of 5% and 10 %. When the results obtained significant or highly significant test of Duncan continued. To identify subterranean termites are obtained using the guidelines for the identification of key species of subterranean termites (Ahmad, 1959 and Nandika et al., 2003). The results shows the distribution of subterranean termites in each study site is of the type Macrotermes gilvus Hagen, Microtermes insperatus Kemner and Coptotermes curvignathus Holmgren has spread across four locations, namely at Arcawinangun Housing complex in East Purwokerrto, Residential Griya Satria II in West Purwokerto, housing Griya Satria I Sumampir in North Purwokerto and Housing Teluk in South Purwokerto. Meanwhile, of the type Odontotermes javanicus Kemner has spread only in Arcawinangun housing complex in East Purwokerto. No preference subterranean termites on wood species, wood is Albasia, Teak wood and wood Bengkirai, despite having different levels of durability. | |
| 7279 | 8308 | B1J009176 | PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT Sargassum polycystum YANG DIBUDIDAYA MENGGUNAKAN BERAT BIBIT DAN SISTEM PENANAMAN BERBEDA DI PERAIRAN NUSAKAMBANGAN CILACAP | Sargassum polycystum, merupakan rumput laut penghasil alginat, komoditi ekspor yang saat ini perlu dibudidaya oleh masyarakat pesisir karena keberadaannya di alam semakin berkurang. Budidaya rumput laut yang efektif perlu didukung dengan metode budidaya yang sesuai untuk meningkatkan pasokan bahan baku alginat. Penanaman rumput laut menggunakan metode apung karena proses fotosintesis dapat berlangsung dengan baik dan dapat digunakan pada semua jenis perairan. Pemakaian bibit yang efisien diharapkan juga lebih meningkatkan pertumbuhan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh berat awal dan sistem penanaman yang berbeda terhadap pertumbuhan talus rumput laut Sargassum polycystum yang dibudidaya di Perairan Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktorial eksperiment. Sebagai faktor I adalah sistem budidaya yaitu sistem jaring tubuler dan sistem jaring bertingkat. Sebagai faktor II adalah berat basah talus yaitu 25 g, 50 g dan 75 g. Parameter utama yang diukur adalah berat rumput laut Sargassum polycystum, sedangkan parameter pendukung adalah suhu, salinitas, kecerahan air, pH dan nutrisi. Pengamatan pertumbuhan dilakukan pada 7, 14, 21 dan 28 hst. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan uji F dan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sistem budidaya dan bobot awal yang berbeda menghasilkan pertumbuhan Sargassum polycystum yang berbeda pada umur 7 hst, 14 hst, 21 hst dan 28 hst. Perlakuan menggunakan sistem jaring tabung dengan bobot awal 25 g menghasilkan pertumbuhan Sargassum polycystum tertinggi yaitu sebesar 4,857 g hari-1. | Sargassum polycystum, a seaweed alginate producers, commodity exports are currently cultivated by coastal communities need for its existence in nature decreases. Seaweed culture should be supported by effective cultivation methods appropriate to increase the supply of raw materials alginate. Seaweed cultivation use the floating method because the process of photosynthesis can take place properly and can be used on all types of waters. Efficient use of seeds is also expected to further increase growth. The purpose of this study was to determine the effect of initial weight and different planting system on the growth of Sargassum polycystum seaweed talus cultivated in Cilacap seawaters. This research uses experimental methods. The design used was a randomized complete block design (RCBD) with factorial experiments. As the first factor is the culture system is a system of tubular nets and nets multilevel system. As a second factor is the growth of the talus that is 25 g, 50 g and 75 g. The main parameters measured were heavy seaweed Sargassum polycystum, while supporting parameters are temperature, salinity, water clarity, pH and nutrients. Growth observations made at 7, 14, 21 and 28 dap. The data were analysed using the F test and Least Significant Difference Test (LSD). The results showed that the system of cultivation and different initial weights can produce different Sargassum polycystum growth at age 7 dap, 14 dap, 21 dap and 28 dap. Treatment using a tube net system with the initial weight of 25 g resulted in the highest growth of Sargassum polycystum of 4.857 g hari-1. | |
| 7280 | 8290 | H1E010011 | Karakterisasi Struktur dan Sifat Magnetik Manganese Ferrite Sebagai Bahan Magnet Permanen Isotropik | Pembuatan manganese ferrite telah dilakukan menggunakan reaksi padatan pada suhu sintering 800 C dan 1100 C dengan komposisi bahan ferit (100-x)Fe2O3:x MnO2 ( x=0, 10, 20, 30) dalam wt% . Bahan baku yang digunakan adalah Fe2O3 yang diperoleh dari Fe3O4 alam dan komersial MnO2. XRD dan permagraf masing-masing digunakan untuk karakterisasi struktur dan sifat magnetik manganese ferrite yang dihasilkan. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa penambahan MnO2 pada Fe2O3 menghasilkan MnFe2O4 dengan struktur kristal jacobsite. Fasa ini menjadi dominan pada penambahan 30% MnO2. Kurva histerisis menunjukkan bahwa nilai induksi remanen sampel meningkat dan nilai produk energi maksimum menurun dengan meningkatnya penambahan MnO2 karena Mn2+ merupakan logam kation yang memiliki kestabilan kompleks kation organik lebih kecil dibandingkan Fe2+. Manganese ferrite yang dihasilkan termasuk dalam karakteristik magnet lunak. | Manganese Ferrite have been made using solid state reaction at a gradually temperature sintering 800 C and 1100 C with composition (100-x) Fe2O3:x MnO2 (x=0, 10, 20, 30) in wt%. Fe2O3 derived from natural Fe3O4 and commercial MnO2 are used as raw materials. XRD and permagraph are used to characterize the structural and magnetic properties of the resulted manganese ferrites. The characterization results show that incorporation of MnO2 into Fe2O3 generates a phase of MnFe2O4 with Jacobsite crystal structure. This phase becomes dominant with the addition MnO2 of 30%. The hysteresis curves show that values of the remanent induction increase and the maximum energy product decrease with increasing concentration of MnO2, because Mn2+ is a cation metal which has stability of organic cations complex smaller than Fe2+. The resulted manganese ferrites exhibit soft magnetic performance. |