| NIM | F1A011066 |
| Namamhs | DHELINA RETNO WULAN |
| Judul Artikel | Njangan Gandhul ( Fenomena Tradisi Njangan Gandul Pada Masyarakat Desa Melung Dalam Menghadapi Aktivitas Gunung Slamet ) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Terdapat berbagai macam tentang kebudayaan di Kabupaten Banyumas, khususnya Kecamatan Kedungbanteng Desa Melung. Salah satu dari sejarah kebudayaan Indonesia yang masih ada dan dipercaya sebagai suatu hal yang berupa ide, nilai, norma dan kebiasaan turun temurun adalah tradisi njangan gandul yang merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan oleh warga desa di kaki Gunung Slamet untuk menghadapi peningkatan aktivitas gunung. Penelitian ini berjudul “Njangan Gandul (Fenomena Tradisi Njangan Gandul pada Masyarakat Desa melung Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas)”. Sebagian masyarakat Desa Melung menjalankan tradisi tersebut melalui penerimaan dari generasi ke generasi saat kegempaan Gunung Slamet meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memberi penjelasan mengenai persepsi dan pemaknaan masyarakat desa Melung tentang fenomena tradisi njangan gandul yang ada di tengah masyarakat desa Melung kecamatan Kedungbanteng kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif sedangkan teknik pemilihan informan yang digunakan adalah purposive sampling.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian warga masyarakat desa Melung masih melaksanakan tradisi njangan gandul sebagai hal yang dipercaya untuk mengatasi peningkatan aktivitas gunung Slamet. Akan tetapi, ada pula yang melaksanakan tradisi tersebut hanya karena ikut-ikutan dan sekedar untuk melestarikan tradisi yang ada. Mengenai makna njangan gandul itu sendiri juga menurut sebagian sesepuh desa bahwasanya makna njangan gandul adalah harus berpasrah dan bergantung pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Hal tersebut juga dibenarkan oleh Budayawan Banyumas, Ahmad Tohari njangan gandul itu sendiri memiliki filosofi makna bahwa kita sebagai manusia hendaknya selalu bergantung dan pasrah pada Yang Maha Kuasa atas setiap yang terjadi dan harus selalu berpegang teguh pada keyakinan diri sendiri. Implikasi dari penelitian ini adalah warga hendaknya menganggap tradisi tersebut tidak semata-mata sebagai penangkal meletusnya gunung, akan tetapi lebih condong kepada hanya untuk melestarikan tradisi budaya yang ada. Selain itu, aparat desa Melung hendaknya memfasilitasi kegiatan tradisi tersebut, seperti misalnya tradisi diadakan serentak di balai desa atau lapangan desa agar lebih khidmat. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | There are many cultures in Banyumas Regency especially Kedungbanteng District Melung Village. One of the remaining Indonesian’s heritage which is believed to have idea, value, norm, and hereditary habit is Njangan Gandul tradition, a hereditary tradition done by the villagers at the foot of the mountain in order to face the increasing activity of volcano.This research aims to know and explain about the perception and interpretation of the society in Melung village regarding the phenomenon of Njangan Gandul tradition existed within the society of Melung village Kedungbanteng district Banyumas regency. The research method is qualitative-descriptive research method whereas the informant selection technique is purposive sampling. The results show that a half of the society in Melung village still executes Njangan Gandul tradition as something believed to overcome the increasing activity of volcano. On the other hand, there are those who carries it out as to follow the others and only preserve the tradition. According to several village elders, the meaning of Njangan Gandul is to surrender and depend on the Almighty God. It is confirmed by a humanist from Banyumas, Ahmad Tohari, saying that Njangan Gandul itself has the philosophical meaning of the ideal humans who should always depend and surrender to the Almighty for anything that happens and always rely on the belief.The implication is how people should take this tradition not merely as the volcano repellent, but more as the preservation of the existing culture. Apart from that, the apparatus of Melung village should facilitate the tradition activity, such as executing the tradition in the hall or field for a solemn performance.
|
| Kata kunci | |
| Pembimbing 1 | Drs. Nalfaridas Baharudin, M.Hum |
| Pembimbing 2 | Drs. Tri Sugiarto, M.Si |
| Pembimbing 3 | Dr. Rawuh Edy Priyono, M.Si |
| Tahun | 2015 |
| Jumlah Halaman | 12 |
| Tgl. Entri | 2016-01-07 14:20:39.0922 |
|---|