Artikelilmiahs

Menampilkan 36.341-36.360 dari 49.032 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
3634139330G1A019030HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN MEMORI KERJA PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN ANGKATAN 2021Latar belakang : Memori kerja memiliki fungsi yang spesifik untuk menyimpan dan memanipulasi informasi yang diperlukan dalam kegiatan kognitif yang kompleks seperti penalaran, pembelajaran, dan pemahaman dalam waktu yang sementara. Sementara itu, kualitas tidur yang buruk menjadi masalah yang rentan terjadi di kalangan dewasa muda, mahasiswa kedokteran sebagai representatif dari dewasa muda yang rentan memiliki kualitas tidur yang buruk.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan kualitas tidur dengan memori kerja pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman tingkat awal.
Metode : Desain dari penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional dengan data primer. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat dengan uji normalitas shapiro-wilk dan uji korelasi pearson.
Hasil : Hasil analisis univariat didapatkan 76,7% mahasiswa memiliki kualitas tidur buruk dan 46.5% memiliki memori kerja rendah. Hasil analisis bivariat didapatkan uji korelasi pearson sebesar p = -0,001 dengan r = 0,993 yang menunjukan variabel tidak saling berhubungan.
Kesimpulan : Terdapat hubungan yang tidak bermakna antara kualitas tidur dengan memori kerja mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Angkatan 2021
Background : Working memory has a specific function to store and manipulate the information necessary in complex cognitive activities such as reasoning, learning, and comprehension in a temporary time. Meanwhile, poor sleep quality is a vulnerable problem among young adults, medical students as a representative of young adults who are prone to have poor sleep quality.
Purpose : This study aims to find out whether there is a relationship between sleep quality and working memory in first year students of Jenderal Soedirman University Faculty of Medicine.
Method : The design of this study is observational analytics with a cross-sectional approach with primary data. The analysis used is univariate and bivariate analysis with shapiro-wilk normality test and pearson correlation test.
Result : The results of the univariate analysis obtained 76.7% of students had poor sleep quality and 46.5% had low working memory. The results of the bivariate analysis obtained a pearson correlation test of p = -0.001 with r = 0.993 which showed that the variables were not interconnected
Conclusion : There is an insignificant relationship between sleep quality and working memory of students of Jenderal Soedirman University Faculty of Medicine, Class of 2021.
3634239331I1J019023PSYCHOLOGICAL WELL-BEING OF WOMEN WITH POLYCYSTIC OVARY SYNDROME (PCOS) ON THE INSTAGRAM COMMUNITY “PCOS FIGHTER INDONESIA”
Latar Belakang: Sindrom Polikistik Ovarium (SPOK) adalah salah satu gangguan endokrin dan metabolisme yang paling umum pada wanita usia reproduksi. Salah satu implikasi dari SPOK meliputi masalah psikologis, termasuk kesejahteraan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesejahteraan psikologis wanita penderita SPOK di komunitas Instagram “PCOS Fighter Indonesia”. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode cross sectional. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah quota sampling sebanyak 105 wanita penderita PCOS. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner Ryff's Psychological Well-Being dan dianalisis dengan analisis univariat. Hasil Penelitian: Penelitian ini melibatkan 105 wanita penderita SPOK dan menunjukkan bahwa usia wanita penderita SPOK dalam penelitian ini adalah 21-37 tahun. Lama terdiagnosa dari 0,16 tahun atau dua bulan sampai dengan 11 tahun. Sebagian besar responden bekerja (70,5%) dan telah menikah (83,8%). Sebagian besar responden berpendidikan S1 (48,6%), dan pendapatannya melebihi UMR Jawa Tengah, yaitu >Rp. 1.812.935 (68,6%). Mayoritas responden memiliki tingkat kesejahteraan psikologis secara keseluruhan sedang (61,9%), dengan tingkat kemandirian sedang (36,19%), penguasaan lingkungan tingkat sedang (53,33%), tingkat pertumbuhan pribadi tinggi (64,8%), hubungan positif dengan orang lain tingkat sedang (52,38%), tujuan hidup tingkat tinggi (55,23%), dan penerimaan diri tingkat tinggi (49,52%). Kesimpulan: Wanita dengan SPOK dalam komunitas Instagram “PCOS Fighter Indonesia” secara umum memiliki tingkat kesejahteraan psikologis sedang.Background: Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) is one of the most common endocrine and metabolic disorders in women of reproductive age. One of the implication of PCOS includes psychological problems, including psychological well-being. This research aimed to describing the psychological well-being of women with PCOS on the Instagram community “PCOS Fighter Indonesia”. Methods: This research was a descriptive study using a quantitative approach and cross-sectional methods. The sampling method used was quota sampling of 105 women with PCOS. Data were collected using Ryff's Psychological Well-Being questionnaire and analyzed by univariate analysis. Results: This research involved 105 women with PCOS and showed that age of women with PCOS in this study was 21-37 years old. Length of diagnosis from 0.16 years or two months to 11 years. Most respondents are employed (70.5%) and married (83.8%). Most respondents have a bachelor's level of education (48.6%), and their income exceeds the Central Java Minimum Wage, specifically >Rp. 1,812,935 (68.6%). The majority of respondents have a medium level of overall psychological well-being (61.9%), with the medium level of autonomy (36.19%), medium level of environmental mastery (53.33%), high level of personal growth (64.8%), medium level of positive relations with others (52.38%), high level of purpose in life (55.23%), and high level of self-acceptance (49.52%). Conclusion: Women with PCOS in Instagram Community “PCOS Fighter Indonesia” generally have medium level of psychological well-being.
3634339332I1B019030Gambaran Dukungan Keluarga dan Tingkat Kecemasan pada Wanita dengan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)Latar Belakang: Wanita dengan PCOS berisiko tinggi mengalami beberapa gangguan kesehatan psikologi, salah satunya kecemasan. Kecemasan dapat menimbulkan dampak psikologis hingga menyebabkan penurunan produktivitas. Dampak-dampak tersebut menjadikan perlunya dukungan keluarga untuk mengontrol kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dukungan keluarga dan tingkat kecemasan pada wanita dengan PCOS.
Metodologi: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 17 responden. Instrumen yang digunakan untuk mengukur dukungan keluarga yaitu dengan kuesioner dukungan keluarga, sedangkan tingkat kecemasan diukur dengan instrument Stait-Trait Anxiety Inventory.
Hasil Penelitian: Pendidikan terakhir mayoritas responden berpendidikan tinggi (76,5%), mayoritas responden adalah wanita bekerja (70,6%), status perkawinan seluruh responden adalah kawin (100%), jenis keluarga mayoritas responden adalah keluarga inti (76, 5%). Mayoritas responden memiliki siklus menstruasi 21-35 hari (76,5%). Median lama menderita PCOS adalah 9. Rata-rata usia menarche responden adalah 13,06±1,345. Dukungan keluarga yang diterima responden sebagian besar supportif (82,4%). Tingkat kecemasan responden sebagian besar tergolong rendah, baik state anxiety (70,6%) maupun trait anxiety (52,9%).
Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas responden mendapatkan dukungan keluarga yang supportif. Selain itu, mayoritas responden memiliki tingkat kecemasan yang rendah, baik state anxiety maupun trait anxiety.
Background: Women with PCOS are at high risk of experiencing several psychological health problems, one of which is anxiety. Anxiety can have a psychological impact, causing a decrease in productivity. These impacts make it necessary to have family support to control anxiety. This study aims to determine the description of family support and anxiety levels in women with PCOS.
Methods: Quantitative descriptive research with a cross-sectional approach. The sample is 17 respondents. The instrument used to measure family support is the family support questionnaire, while the level of anxiety is measured by the State-Trait Anxiety Inventory instrument.
Result: The last education of the majority of respondents was tertiary education (76.5%), the majority of respondents were working women (70.6%), the marital status of all respondents was married (100%), the type of family the majority of respondents were nuclear family (76, 5%). The majority of respondents have menstrual cycles of 21-35 days (76.5%). The median length of suffering from PCOS is 9. The average age of menarche for respondents is 13.06±1.345. The majority of family support received by respondents was supportive (82.4%). The anxiety level of the majority of respondents was low, both state anxiety (70.6%) and trait anxiety (52.9%).
Conclusion: Based on the results of the study, the majority of respondents received supportive family support. In addition, the majority of respondents had a low level of anxiety, both state and trait anxiety.
Keywords: family support; level of anxiety; PCOS
3634439333C1H019018THE ANTECEDENTS AND CONSEQUENCES OF JOB SATISFACTION (STUDY AT PT PERTAMINA RU IV CILACAP)Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Person-Job Fit dan Core-Self-Evaluation sebagai anteseden terhadap Kepuasan Kerja, dan pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Keterikatan Kerja dan Komitmen Organisasional sebagai konsekuensi di PT Pertamina RU IV Cilacap. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan survey dalam pengumpulan data. Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada responden. Penlitian ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi faktual dan menggambarkan fenomena yang ada di dalam perusahaan. Populasi penelitian ini adalah karyawan PT Pertamina RU IV Cilacap yang berjumlah 115 karyawan sebagai responden. Penelitian ini menggunakan alat analisis SPSS (Statistical Package for Social Sciences). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Person-Job Fit berpengaruh terhadap Kepuasan Kerja, Core Self-Evaluation tidak berpengaruh terhadap Kepuasa Kerja, Kepuasan Kerja berpengaruh terhadap Keterikatan Kerja, dan Kepuasan Kerja berpengaruh terhadap Komitmen Organisasi.This research aims to analyze the effect of person-job fit and core self-evaluation as the antecedents towards job satisfaction, and the effect of job satisfaction towards work engagement and organizational commitment as the qonsequences at PT Pertamina RU IV Cilacap. This type of research is quantitative research using survey in data collection. This research was carried out by distributing questionnaires to the respondents. Aims to collect factual information and describe the existing phenomena within the company. The population of this research were the employees of PT Pertamina RU IV Cilacap, and totalling 115 employees for its respondents. This research used SPSS (Statistical Package for Social Sciences) for its analysis tools. The results of this research conclude that Person-Job Fit has an effect on Job Satisfaction, Core Self-Evaluation does not have an effect on Job Satisfaction, Job Satisfaction has an effect on Work Engagement, and Job Satisfaction has an effect on Organizational Commitment.
3634544677C1I020017THE INFLUENCE OF PERCEIVED EASE OF USE AND INFORMATION SYSTEM
QUALITY ON INTENTION IN USING ACCOUNTING SOFTWARE FOR
ENTREPRENEURIAL STUDENTS IN PURWOKERTO
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh persepsi kemudahan dan kualitas sistem informasi terhadap minat penggunaan aplikasi akuntansi pada mahasiswa wirausaha di Purwokerto. Penelitian ini menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB) sebagai dasar penelitian. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner menggunakan Google Forms. Jumlah sampel yang digunakan dalam peneltian ini sebanyak 100 sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria tertentu. Teknik analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda dan uji hipotesis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Persepsi kemudahan tidak berpengaruh terhadap minat penggunaan aplikasi akuntansi. (2) Kualitas sistem informasi berpengaruh positif terhadap minat penggunaan aplikasi akuntansi.This research aims to determine and analyze the effect of perceived ease of use and information system quality on intention in using accounting software for entrepreneurial students in Purwokerto. This research uses the Theory of Planned Behavior (TPB) as the basis for research. The type of data used in this research is primary data obtained from distributing questionnaires via Google Forms. The number of samples used in this research was 100 research samples. The sampling technique used a purposive sampling method with specific criteria. The data analysis techniques used are descriptive statistics, classical assumption tests, multiple linear regression analysis and hypothesis testing. The results of this research indicate that (1) Perceived ease of use has no effect on intention to use accounting software. (2) Information system quality has a positive effect on intention to use accounting software.
3634639315I1B019058Gambaran Perilaku Phubbing pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto di Masa Endemi COVID-19Latar Belakang: Pengunaan ponsel oleh masyarakat di masa endemi COVID-19 masih tinggi terutama untuk kegiatan berkomunikasi sehingga memungkinkan terjadinya phubbing. Phubbing merupakan perilaku mengabaikan lawan bicara ketika berinteraksi sosial dengan menggunakan ponselnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran phubbing mahasiswa Keperawatan UNSOED di masa endemi COVID-19.
Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional pada mahasiswa Keperawatan UNSOED dengan besar sampel 223 menggunakan teknik proportionate stratified random-sampling. Instrumen yang digunakan adalah The Phubbing Scale terdiri dari 2 aspek, meliputi gangguan komunikasi dan obsesi terhadap ponsel. Analisis data dilakukan secara univariat.
Hasil penelitian: Responden pada penelitian ini usia nilai tengah 20 tahun dengan rentang 17 sampai 23 tahun dan 203 orang (91%) perempuan serta 20 orang (9%) laki-laki. Sebagian besar memiliki perilaku phubbing sedang (87%), sedangkan (13%) nya tergolong tinggi. Didapatkan gangguan komunikasi terbanyak pada tingkat sedang (91%) dan tingkat tinggi (9%), sedangkan obsesi terhadap ponsel terbanyak pada tingkat sedang (65,9%) dan tingkat tinggi (31,8%) serta tingkat rendah (2,2%).
Kesimpulan: Mahasiswa keperawatan UNSOED berpusat pada usia 20 tahun dengan jenis kelamin terbanyak perempuan, serta memiliki perilaku phubbing dengan karakteristiknya pada derajat sedang. Diperlukan perhatian yang lebih terhadap perilaku phubbing pada pengguna ponsel mahasiswa keperawatan agar penerapan konsep caring dapat terjaga dengan baik.
Background: The use of cellphones by public during endemic of COVID-19 was still high, especially for communication activities, thus allowing phubbing to occur. Phubbing is behavior of ignoring other person when interacting socially using their cell phone. This study aims to look at phubbing description of Nursing UNSOED students during endemic of COVID-19.
Methods: This research was a descriptive cross-sectional study on nursing UNSOED students with 223 sample of size using a proportional stratified random-sampling technique. The instrument used The Phubbing Scale consisting 2 aspects, including communication disorders and cellphone obsession. Data analysis was performed univariately.
Results: Respondents in this study had 20 years median age with range 17 to 23 years and 203 people (91%) were women and 20 people (9%) were men. Most of them had moderate phubbing (87%), while (13%) were high. Most communication disorders were found at moderate (91%) and high (9%), while obsession cell phones was mostly at moderate (65.9%), high (31.8%) and low (2.2%).
Conclusion: Nursing UNSOED students are centered on 20 years with most gender being female, and have phubbing with characteristics on moderate degrees. More attention is needed on phubbing among nursing student cellphone users so caring application concept can properly maintained.
3634739334A1D015062PENGARUH LAMA PENYINARAN CAHAYA BUATAN
LIGHT EMITING DIODE DAN VARIETAS TANAMAN
TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BUDIDAYA
BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L)
Kebutuhan benih bawang merah perhektar yaitu 3 hingga 7,5 kilogram sedangkan jika mneggunakan bibit umbi bisa membutuhkan 1,5 ton per hektar, maka penggunaan benih dapat mengurangi modal usaha. Bawang merah merupakan tanaman yang memerlukan cahaya optimum hingga 18 jam serta terjaga dari serangan hama dan penyakit untuk hasil yang maksimal, sehingga perlu lingkungan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan intensitas cahaya lampu LED dan varietas tanaman terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian ini dilakukan pada ruang tertutup dengan kondisi yang sudah diseuaikan. Penelitian ini menggunakan rancangan petak terpisah, uji lanjut Duncan’s Multiple range test (DMRT). Perlakuan yang diujikan adalah lama penyinaran sebagai petak utama yang terdiri atas 3 tingkatan yaitu lama penyinaran 12 jam, lama penyinaran 14 jam, dan lama penyinaran 16 jam. Perlakuan varietas bawang merah sebagai petak sekunder yang terdiri atas 3 tingkatan yaitu varietas tuktuk, varietas Sanen, varietas Lokananta, perlakuan diulang sebanyak 3 kali. penelitian menunjukan variabel lama penyinaran berpengaruh nyata pada variabel pertumbuhan dan hasil bawang merah kecuali jumlah daun. Lama penyinaran 16 jam menunjukan pertumbuhan tanaman lebih baik sedangkan lama penyinaran 14 jam pertumbuhan tanaman lebih sedikit, tetapi semua variabel lama penyinaran tidak berpengaruh nyata pada jumlah daun yang dihasilkan. Variabel varietas bawang merah menunjukan hasil berpengaruh sangat nyata disetiap variabel yang diamati dengan varietas lokananta menunjukan hasil yang lebih baik dibandingkan varietas tuktuk dan sanen. Interaksi antara perlakuan dalam penelitian ini tidak menunjukan pengaruh nyata pada setiap variabel The need for red onion seeds per hectare is 3 to 7.5 kilograms, while using tuber seeds can require 1.5 tons per hectare, so using seeds can reduce business capital. Red onion are plants that require optimum light for up to 18 hours and are protected from pests and diseases for maximum results, so they need an environment that can be adapted to the needs of red onion plants. This study aims to determine the effect of the treatment of LED light intensity and plant varieties on the growth and yield of red onions. This research was conducted in a closed room with adjusted conditions. This study used a split plot design, further testing Duncan's Multiple range test (DMRT). The treatment tested was irradiation duration as the main plot which consisted of 3 levels, namely irradiation duration of 12 hours, irradiation duration of 14 hours, and irradiation duration of 16 hours. The treatment of red onion varieties as secondary plots consisted of 3 levels, namely tuktuk, Sanen, Lokananta, the treatment was repeated 3 times. The study showed that the irradiation duration variable had a significant effect on red onion growth and yield variables except for the number of leaves. The 16-hour irradiation period showed better plant growth while the 14-hour irradiation period showed less plant growth, but all the irradiation duration variables had no significant effect on the number of leaves produced. The red onion variety variable showed very significant results in each variable observed with the lokananta variety showing better results than the tuktuk and sanen varieties. The interaction between the treatments in this study did not show a significant effect on each variable
3634839335F1B018092Implementasi Program Pelatihan Berbasis Kompetensi Di Balai Latihan Kerja Kabupaten BanyumasRINGKASAN
Memiliki jumlah penduduk yang besar dapat memberikan sejumlah
keuntungan bagi sebuah negara. Namun adanya jumlah penduduk yang besar tanpa
didukung oleh kualitas sumber daya manusia yang memadai akan menjadi beban
bagi negara karena dapat memunculkan berbagai macam permasalahan sosial,
misalnya adanya pengangguran yang tinggi. Seperti halnya pada tahun 2021
mencapai angka 12,85% jumlah ini belum sesuai dengan target yang diproyeksikan
presiden pada tahun 2021 mencapai 7,7%-9,1%, oleh karena itu Pemerintah
Indonesia berupaya untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan salah satunya
melalui program Pelatihan Berbasis Kompetensi yang diselenggarakan disetiap
kabupaten dan kota. Melalui penelitian ini dapat dilihat mengenai bagaimana
keberhasilan Implementasi Program Pelatihan Berbasis Kompetensi Di Balai
Latihan Kerja Kabupaten Banyumas.
Implementasi kebijakan merupakan pelaksanaan dari suatu program yang
ditunjukan untuk mencapai tujuan dari kebijakan yang telah ditetapkan. Dalam
penelitian ini merujuk pada teori implementasi menurut Ripley dan Franklin dalam
buku “Policy Implementation and Bureaucracy” terdapat 2 pendepakatan
implementasi kebijakan yaitu Complience (Kepatuhan) dan What’s Happening
(Apa Yang Terjadi). Kemudian metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kualitatif dengan sumber data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan pada aspek complience, program
Pelatihan Berbasis Kompetensi yang diselenggarakan BLK Kabupaten Banyumas
belum sepenuhnya mematuhi peraturan yang berlaku. Hal ini disebabkan karena
BLK Kabupaten Banyumas hanya melaksanakan pelatihan secara Off The Job
Training dan belum melaksanakan pelatihan secara On The Job Training seperti
halnya yang telah tertuang dalam Peraturan yang berlaku secara sepenuhnya telah
dipatuhi oleh BLK Kabupaten Banyumas. Selanjutnya pada aspek What’s
Happening dalam pelaksanannya terdapat faktor pendukung dan faktor
penghambat. Faktor pendukung terhadap proses implementasi program PBK yaitu
adanya hubungan kerjasama BLK Kabupaten Banyumas dengan pihak eksternal
untuk memenuhi kebutuhan instruktur, prasarana pelatihan dan tingkat ketertarikan
masyarakat. Faktor penghambatnya yaitu terdapatnya pengurangan anggaran
sehingga menyebabkan jumlah pelaksanaan pelatihan yang dilakukan berkurang
dari segi jumlah kapasitas, angkatan dan kejuruan yang diselenggarakan, dan
adanya kekurangan dalam biaya perawatan sarana dan prasarana di workshop
pelatihan.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah implementasi program Pelatihan
Berbasis Kompetensi di BLK Kabupaten Banyumas telah mencapai tujuan program
yang telah diatur peraturan. Namun masih diperlukan peningkatan agar pelaksanaan
program Pelatihan Berbasis Kompetensi di BLK Kabupaten Banyumas dapat
menjadi lebih maksimal dalam mengatasi permasalahan penganggguran di
Kabupaten Banyumas pada khususnya.
SUMMARY
Having a large population can provide a number of advantages for a
country. However, the existence of a large population without the support of
adequate quality human resources will become a burden for the state because it
can lead to various kinds of social problems, for example high unemployment. As
in 2021 it reached 12.85%, this number was not in accordance with the target
projected by the president in 2021 to reach 7.7% -9.1%, therefore the Government
of Indonesia is trying to overcome employment problems, one of which is through
the Based Training program. Competence held in every district and city. Through
this research, it can be seen how successful the implementation of the CompetencyBased Training Program is at the Vocational Training Center in Banyumas
Regency.
Policy implementation is the implementation of a program that is intended
to achieve the objectives of the established policy. In this study, referring to
implementation theory according to Ripley and Franklin in the book "Policy
Implementation and Bureaucracy", there are 2 approaches to policy
implementation, namely Complience and What's Happening (What Happens). Then
the method used in this study is qualitative with data sources through interviews,
observation and documentation.
The results of this study indicate on the aspect of compliance that the
Competency-Based Training program held by BLK Banyumas Regency has not
fully complied with the applicable regulations. This is because the Banyumas
Regency BLK only carries out Off The Job Training and has not carried out On The
Job Training as stated in the applicable regulations and has been fully complied
with by the Banyumas Regency BLK. Furthermore, in the What's Happening aspect
in its implementation there are supporting factors and inhibiting factors. The
supporting factor for the process of implementing the PBK program is the
cooperative relationship of the Banyumas Regency BLK with external parties to
meet the needs of instructors, training infrastructure and community interest. The
inhibiting factor is the reduction in the reduction so that the number of training
carried out decreases in terms of the number, amount and training held, and the
lack of maintenance and infrastructure costs in the training workshop.
The conclusion of this research is that the implementation of the
Competency-Based Training program at BLK Banyumas Regency has achieved the
program objectives that have been regulated by regulations. However,
improvements are still needed so that the implementation of the Competency-Based
Training program in Banyumas Regency BLK can be more optimal in overcoming
unemployment problems in Banyumas Regency in particular.
3634939336F2B018015STRATEGI PEMBERDAYAAN DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN Hasil program Pemberdayaan Koperasi Nira Perwira Terhadap Kesejahteraan Petani Gula Desa CandinataABSTRAK
Desa Candinata merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Kutasari, Purbalingga, Jawa Tengah. Letak geografis desa ini berada di sebelah utara Desa Karangjengkol, selatan Desa Karangcegak, sebelah barat Desa Candiwulan dan Sebelah timur Desa Bumisari Kecamatan Bojongsari. Desa Candinata menjadi desa dengan lingkungan yang cukup strategis terkhusus pada bidang pertanian. Desa yang hampir dikelilingi oleh tanaman kelapa ini masih mengalami permasalahan ekonomi dan pendidikan yang rendah. Perkembangan pembangunan yang cukup mengalami perubahan didorong kuat oleh partisipasi dan kesadaran masyarakat Desa Candinata. Dengan hasil bumi yang melimpah, namun kurangnya SDM yang rendah menjadikan desa ini mengalami keterpurukan dalam bidang ekonomi. LPPSLH Kota Purbalingga bersama pemerintah daerah Desa Candinata, Koperasi Nira Perwira dan Masyarakat bersama-sama mencoba membangkitkan perekonomian dengan menciptakan inovasi baru. Inovasi gula semut secara perlahan mulai diterima oleh masyarakat. Sosialisasi terkait inovasi gula semut gencar dilakukan guna mendapatkan respons dari masyarakat khususnya yang berprofesi sebagai penderes. Respons masyarakat yang cukup baik menjadikan program-program yang direncanakan oleh pemerintah daerah, koperasi Nira Perwira dan masyarakat dapat berjalan dengan baik.
Candinata Village is one of the villages in Kutasari District, Purbalingga, Central Java. The geographical location of this village is to the north of Karangjengkol Village, south of Karangcegak Village, west of Candiwulan Village and east of Bumisari Village, Bojongsari District. Candinata Village is a village with a strategic environment, especially in the agricultural sector. This village, which is almost surrounded by coconut plantations, is still experiencing economic problems and low education. Developmental developments that have undergone significant changes are driven strongly by the participation and awareness of the people of Candinata Village. With abundant agricultural products, but the lack of low human resources makes this village experience a downturn in the economic field. LPPSLH Purbalingga City together with the local government of Candinata Village, the Nira Perwira Cooperative and the Community are jointly trying to revive the economy by creating new innovations. The innovation of ant sugar is slowly starting to be accepted by the public. Socialization related to the innovation of ant sugar was intensively carried out in order to get a response from the community, especially those who work as tappers. Responses ma community that is good enough to make the programs planned by the local government, the Nira Perwira cooperative and the community run well.
3635052320H1B022055Analisis Kualitas Air Tanah dan Potensi Intrusi Air Laut di Kabupaten IndramayuIntrusi air laut merupakan permasalahan yang mempengaruhi kualitas air di wilayah pesisir, termasuk Kabupaten Indramayu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren kualitas air tanah, kualitas air permukaan, dan zona rentan intrusi air laut. Metode yang digunakan meliputi analisis spasial dengan interpolasi spline dan analisis temporal menggunakan data tahun 2008, 2018, dan 2025, serta survei lapangan pada 28–29 Juni 2025 dengan parameter TDS, EC, dan salinitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai TDS dan EC meningkat pada periode 2008–2018, namun menurun pada periode 2018–2025. Analisis temporal menunjukkan tren penurunan pada seluruh titik untuk TDS dan pada 4 dari 5 titik untuk EC. Secara spasial, nilai parameter lebih tinggi di wilayah pesisir dan menurun ke arah selatan, sedangkan air irigasi cenderung tetap dalam kondisi tawar karena berasal dari sumber air permukaan. Penurunan nilai parameter pada periode 2018–2025 diduga dipengaruhi oleh pengelolaan sumber daya air yang lebih optimal, seperti pemanfaatan air permukaan, penggunaan layanan PDAM, serta keberadaan mangrove di wilayah pesisir. Zona rentan intrusi didominasi tingkat sedang, yang menunjukkan bahwa intrusi air laut telah terjadi namun masih dalam kondisi terkendali.Seawater intrusion is one of the problems affecting water quality in coastal areas, including Indramayu Regency. This study aims to analyze the trend of groundwater quality changes, identify surface water quality, and determine the vulnerability zones of seawater intrusion. The methods used include spatial analysis using spline interpolation and temporal analysis based on groundwater quality data in 2008, 2018, and 2025. Field surveys were also conducted on June 28–29, 2025, to collect groundwater, river water, and irrigation water samples with parameters of TDS, EC, salinity, pH, and temperature. The vulnerability zones of seawater intrusion were mapped using a raster calculator with TDS and EC parameters. The results show that TDS and EC values increased during the period of 2008–2018, but decreased in the period of 2018–2025. In 2025, TDS values ranged from fresh to brackish water, while EC values ranged from fresh to saline water. Temporal analysis indicates a decreasing trend at all observation points for TDS and at 4 out of 5 points for EC. This decrease is likely influenced by improved water resource management, such as the utilization of surface water through irrigation systems, the use of PDAM services, and the presence of mangroves in coastal areas that help reduce seawater intrusion. Overall, groundwater quality shows that the impact of seawater intrusion is not significant, with vulnerability zones dominated by moderate levels, indicating that seawater intrusion conditions in Indramayu Regency are still relatively controlled.
3635139337F2B018008Konstruksi Sosial Guru Honorer Pada Pakaian Dinas :
Studi Tentang Pemaknaan Pakaian Dinas Oleh Guru Honorer di SMA/SMK/SLB Provinsi Jawa Barat
Penerbitan aturan berpakaian seragam bagi guru tingkat SMA/SMK/SLB di Wilayah Provinsi Jawa Barat berimplikasi terhadap pengajar atau guru nonASN/honorer. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bagaimana konstruksi sosial guru honorer dalam berpakaian seragam. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini dilakukan di tiga sekolah yang terletak di wilayah Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan makna tentang pakaian seragam. Guru ASN dan guru honorer mempunyai ‘versi’ masing-masing tentang makna pakaian dinas. Guru ASN memaknai pakaian dinas sebagai bentuk kedisiplinan dan sekaligus kebanggaan. Sedangkan guru honorer memaknai pakaian dinas sebagai bentuk kesataraan sesama guru. Namun demikian, guru honorer ketika memakai pakaian seragam tidak menggunakan atribut ASN/PNS dan menyesuaikan dengan aturan. Ada beberapa alasan mengapa guru honorer tetap memakai pakaian seragam yaitu, agar merasa setara dengan guru ASN, agar dihormati siswa, dan sebagai pemacu motivasi mengajar.Issuance of uniform dress code for SMA/SMK/SLB level teachers in West Java Province has implications for non-ASN/honorary teachers or teachers. This study aims to describe how the social construction of honorary teachers in wearing uniforms. Using a descriptive qualitative method, this research was conducted in three schools located in Kuningan District, West Java Province. The results of the study show that there are different meanings about uniforms. ASN teachers and honorary teachers have their own 'version' of the meaning of uniforms. ASN teachers interpret uniforms as a form of discipline and at the same time pride. Meanwhile, honorary teachers interpret uniforms as a form of equality among fellow teachers. However, honorary teachers when wearing uniforms do not use ASN/PNS attributes and comply with the rules. There are several reasons why honorary teachers continue to wear uniforms, namely, to feel equal to ASN teachers, to be respected by students, and as a motivator for teaching.
3635239338G1B018034Hubungan Sudut Interinsisal terhadap Profil Jaringan Lunak Wajah pada Pasien Ortodontik Suku Jawa di Kabupaten BanyumasEstetika wajah merupakan keseimbangan dan keharmonisan proporsi wajah yang dibentuk oleh struktur skeletal, dental, dan jaringan lunak. Inklinasi gigi insisivus memiliki peran penting dalam menentukan estetika wajah terutama pada sepertiga bagian bawah. Profil jaringan lunak wajah menurut Holdaway dapat ditentukan melalui pengukuran sudut-H. Tujuan penelitian ini mengetahui apakah terdapat hubungan sudut interinsisal terhadap profil jaringan lunak wajah pada pasien ortodontik suku Jawa di Kabupaten Banyumas. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel berupa sefalogram lateral berjumlah 60 yang terdiri dari 30 sefalogram lateral laki-laki dan 30 sefalogram lateral perempuan. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi. Sefalogram lateral dilakukan tracing menggunakan kertas kalkir selanjutnya dilakukan pengukuran sudut interinsisal dan sudut-H. Pengukuran dilakukan oleh dua penilai dan dilakukan uji Cohen Kappa. Hasil rerata sudut interinsisal pada laki-laki 118,27° dan perempuan 116,10°, artinya inklinasi insisif protrusif. Rerata sudut-H pada laki-laki 16,73° dan perempuan 19,47°, artinya profil jaringan lunak cembung. Uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan sudut interinsisal terhadap profil jaringan lunak wajah pada pasien ortodontik laki-laki dan perempuan suku Jawa di Kabupaten Banyumas (p<0,05). Simpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara sudut interinsisal terhadap profil jaringan lunak wajah pada pasien ortodontik laki-laki dan perempuan suku Jawa di Kabupaten Banyumas.Facial aesthetics is the balance and harmony of facial proportions formed by skeletal, dental, and soft tissue structures. Inclination of incisors has an important role in determining facial aesthetics, especially in the lower third. The profile of facial soft tissue according to Holdaway can be determined through measuring the H-angle. The aim of this study was to determine whether there is a relationship between the interincisal angle and facial soft tissue profile in Javanese orthodontic patients in Banyumas Regency. This type of research is descriptive analytic with cross sectional research design. The samples were 60 lateral cephalograms consisting of 30 male lateral cephalograms and 30 female lateral cephalograms. Samples were taken using purposive sampling technique based on inclusion criteria. The lateral cephalogram was traced using tracing paper and then the measurement of the interincisal angle and H-angle. The measurement was carried out by two assessors and the Cohen Kappa test was carried out. The mean incisal angle in males was 118.27° and in females it was 116.10°, meaning that the inclination of the incisors was protrusive. The mean H-angle in males was 16.73° and 19.47° in females, meaning the soft tissue profile was convex. Correlation test showed that there was a relationship between interincisal angle and facial soft tissue profile in male and female orthodontic patients of Javanese ethnicity in Banyumas Regency (p<0.05). The conclusion of this study is that there is a relationship between interincisal angle and facial soft tissue profile in male and female orthodontic patients of Javanese ethnicity in Banyumas Regency.
3635339339A1A115031ANALISIS KEPUASAN KONSUMEN COKELAT MONGGO
CV. ANUGRAH MULIA KECAMATAN KOTAGEDE KOTA YOGYAKARTA
CV Anugrah Mulia dengan produknya yaitu “Cokelat Monggo” termasuk ke dalam jajaran khas makanan Yogyakarta yang berpotensi untuk dikembangkan. Namun, adanya persaingan antar produsen cokelat membuat CV. Anugrah Mulia harus fokus kepada perubahan kebutuhan pelanggan dan perlu menyusun strategi dan tujuan untuk menciptakan brand image bagi konsumen, melalui analisis tingkat kepuasan konsumen. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Mei-Juni 2022 di CV. Anugrah Mulia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus, dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden. Analisis data yang digunakan yaitu uji validitas, uji reliabilitas, analisis customer satisfaction index (CSI), importance performance analysis (IPA), dan analisis startegi pemasaran.. Hasil perhitungan CSI menunjukkan nilai kepuasan konsumen “Cokelat Monggo” sebesar 73,32 persen yang berarti indeks kepuasan konsumen produk “Cokelat Monggo” berada pada kriteria puas. Hasil segmenting yang dapat menjadi target pasar CV. Anugrah Mulia adalah kelompok konsumen berpendapatan menengah yang berdomisili di Yogyakarta atau wisatawan, dengan kebutuhan membeli produk untuk oleh-oleh. Strategi pemasaran yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepuasan konsumen, yaitu dengan memperbaiki kinerja beberapa atribut seperti penampilan karyawan, informasi tanggal kadaluarsa, kualitas produk, kemampuan karyawan memberikan penjelasan dan respon yang menyenangkan kepada konsumen.CV Anugrah Mulia, with its product "Chocolate Monggo" is included in the line of typical Yogyakarta foods that has the potential to be developed. However, the existence of competition between chocolate producers made CV. Anugrah Mulia focus on changing customer needs and develop strategies and goals to create a brand image for consumers through an analysis of the level of customer satisfaction. This research was conducted in May–June 2022 at CV. Noble Grace. The research method used is the case study method, with a total sample of 100 respondents. The data analysis used is a validity test, reliability test, customer satisfaction index (CSI) analysis, importance-performance analysis (IPA), and marketing strategy analysis. CSI calculation results show the value of consumer satisfaction for "Chocolate Monggo" at 73.32 percent, which means the consumer satisfaction index for the product "Chocolate Monggo" is within the satisfied criteria. Segmenting results that can be the target market for CV. Anugrah Mulia is a group of middle-income consumers living in Yogyakarta or tourists with a need to buy products as souvenirs. Marketing strategies that can be carried out to increase consumer satisfaction include improving the performance of several attributes, such as employee appearance, expiration date information, product quality, and the ability of employees to provide pleasant explanations and responses to consumers.
3635439340E1A017135PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAM PEMBIAYAAN DENGAN JAMINAN FIDUSIA (STUDI TERHADAP PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 1280 K/PDT/2017)
ABSTRAK
PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAM PEMBIAYAAN DENGAN JAMINAN FIDUSIA
(STUDI TERHADAP PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 1280 K/PDT/2017)
Oleh :
WISNUMURTI AJI WIBOWO
E1A017135
Terdapat pengalihan objek jaminan fidusia yang dilakukan Para Tergugat tanpa seizin dari Penggugat dan belum dilakukan pelunasan pada pembiayaannya. Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Perbuatan Melawan Hukum Dalam Pembiayaan Dengan Jaminan Fidusia (Studi Terhadap Mahkamah Agung Nomor 1280 K/PDT/2017).
Tujuan Penelitian dalam penelitian ini adalah untuk menganalisa pertimbangan hukum hakim dalam mengkualifisir kriteria perbuatan melawan hukum dan untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan tuntutan ganti kerugian perbuatan melawan hukum dalam pembiayaan dengan jaminan fidusia dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 1280 K/Pdt/2017. Metode pendekatan yang digunakan adalah Yuridis Normatif. Sumber data yang digunakan penulis merupakan data sekunder. Metode pengumpulan data diperoleh dengan cara metode kepustakaan dan disusun menggunakan metode analisis normatif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pertimbangan hakim tidak secara tegas menyebutkan unsur/kriteria perbuatan melawan hukum mana yang terpenuhi. Menurut penulis unsur/kriteria yang terpenuhi adalah Para Tergugat bertentangan dengan hak subjektif dan bertentangan dengan kewajiban hukum si pembuat. Ganti kerugian sebesar Rp. 184.527.800,00 (seratus delapan puluh empat juta lima ratus dua puluh tujuh ribu delapan ratus rupah) sudah memenuhi syarat menuntut ganti kerugian dalam Pasal 1365 KUH Perdata.
Kata Kunci : Perbuatan Melawan Hukum, Pembiayaan, Jaminan Fidusia.

ABSTRACT
UNLAWFUL ACTS IN FINANCING WITH FIDUCIARY GUARANTEES
(Study of the Supreme Court Number 1280 K/PDT/2017)
By :
WISNUMURTI AJI WIBOWO
E1A017135
There is a transfer of fiduciary guarantee objects carried out by the Defendants without the permission of the Plaintiff and no payment has been made of the financing. Based on this description, the authors are interested in conducting research on unlawful acts in financing with fiduciary guarantees (Study of the Supreme Court Number 1280 K/PDT/2017).
The research objectives in this study were to analyze the legal considerations of judges in qualifying the criteria for unlawful acts and to analyze the legal considerations of judges in granting claims for compensation for unlawful acts in financing with fiduciary guarantees in the Supreme Court Decision Number 1280 K/Pdt/2017. The approach method used is Normative Juridical. The data source used by the author is secondary data. The data collection method was obtained by means of the library method and was compiled using qualitative normative analysis methods.
The results showed that the judge's consideration did not explicitly state which elements/criteria of the unlawful act were fulfilled. According to the authors, the elements/criteria that were met were that the Defendants conflicted with the subjective rights and conflicted with the legal obligations of the maker. Compensation of Rp. 184,527,800.00 (one hundred and eighty-four million five hundred and twenty-seven thousand eight hundred rupiah) has fulfilled the requirements for demanding compensation in Article 1365 of the Civil
Keywords : Unlawful Acts, Financing, Fiduciary Guarantee
3635544087E1A020007ANALISIS YURIDIS PERALIHAN HAK ATAS TANAH DALAM PERJANJIAN JUAL BELI TANAH SECARA LISAN (Studi Kasus Putusan Nomor 34/Pdt.G/2020/PN.BMS)
Setiap Peralihan Hak Atas Tanah yang dilakukan dalam bentuk jual beli harus dibuat dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis keabsahan perjanjian jual beli tanah yang dilakukan secara lisan dan pertimbangan hukum hukum terhadap proses peralihan hak atas tanas berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Banyumas Nomor 34/Pdt.G/2020/PN.BMS. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum yuridis normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan kasus. Metode pengumpulan data sekunder dan tersier berupa hukum primer, sekunder, dan tersier untuk disajikan dalam bentuk teks naratif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh bahwa perjanjian jual beli yang dilakukan oleh Penggugat dan Tergugat adalah sah. Pada Pasal 1320 KUHPerdata tidak mensyaratkan bahwa suatu perjanjian dikatakan sah apabila dibuat dalam bentuk tertentu saja, artinya sekalipun perjanjian tersebut dibuat secara lisan selama memenuhi syarat sahnya perjanjian maka sah dan mengikat bagi para pihak pembuatnya, kecuali undang-undang menentukan lain, selanjutnya berdasarkan pertimbangan hukum hakim pada Putusan Pengadilan Negeri Banyumas Nomor 34/Pdt.G/2020/PN.BMS menyatakan bahwa jual beli yang dilakukan oleh Penggugat dan Tergugat adalah sah, sehingga dapat dijadikan dasar oleh Penggugat untuk mendaftarkan peralihan hak di Kantor Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).
Every transfer of land rights carried out in the form of sale and purchase must be carried out before the Land Deed Official. This research aims to determine and analyze the validity of land sale and purchase agreements made orally and legal considerations regarding the process of transferring land rights based on Banyumas District Court Decision Number 34/Pdt.G/2020/PN.BMS. This research uses normative juridical legal research methods using a statutory approach and a case approach. Secondary and tertiary data collection methods are in the form of primary, secondary and tertiary law to be presented in the form of narrative text. Based on the results of research and discussion, it is known that the sale and purchase agreement made by the Plaintiff and Defendant is valid. Article 1320 of the Civil Code does not require that an agreement be said to be valid if it is made in a certain form, meaning that even if the agreement is made orally, as long as it meets the requirements for the validity of the agreement, it is valid and binding on the parties who make it, unless the law determines otherwise. So, based on the judge's legal considerations in the Banyumas District Court Decision Number 34/Pdt.G/2020/PN.BMS, it was stated that the sale and purchase carried out by the Plaintiff and Defendant was valid, so that it could be used as a basis for the Plaintiff to register the transfer of his rights at the Office of the Ministry of Agrarian Affairs and Administration Space/National Land Agency.
3635652321D1B024009PEMBERIAN KOMBINASI TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza) DAN BRATAWALI (Tinospora crispa) TERHADAP NEMATODIASIS DAN BOBOT BADAN HARIAN DOMBA Penyakit cacing nematoda merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang saluran pencernaan ternak domba. Penggunaan obat kimia yang berlebihan dapat menyebabkan resistensi, sehingga perlu obat alternatif herbal seperti temulawak dan bratawali. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pemberian kombinasi temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dan bratawali (Tinospora crispa) terhadap nematodiasis dan bobot badan harian domba. Sasaran penelitian adalah peternak domba sebanyak 9 orang di Kelompok Tani Ternak Lembu Sari, Desa Purwosari, Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan melakukan pengamatan serta wawancara dengan responden (peternak).
Domba yang digunakan sebanyak 18 ekor, memiliki umur 4-8 bulan dengan bobot 12-43 kg dengan jenis kelamin jantan. Analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis Repetaed Measures ANOVA. Penelitian dilaksanakan selama 30 hari bertempat di Kelompok Tani Ternak Lembu Sari Desa Purwosari, Kecamatan Baturaden, Kabupaten Banyumas. Pemeriksaan sampel akan dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Hewan Tipe B Purwokerto dengan pengukuran jumlah telur dan jenis cacing nematoda menggunakan uji apung dan uji Whitlock.
Karakteristik peternak didominasi usia 44-60 tahun (100%), pendidikan SD (55,56%), pengalaman beternak 1-2 tahun (55,56%), dan skala kepemilikan 5-10 ekor (55,56%). Prevalensi nematodiasis awal 100% (infeksi ringan 83,3%) menurun menjadi 88,89% setelah pemberian herbal, namun muncul infeksi berat 11,1% pada hari ke-30. Teridentifikasi beberapa jenis telur cacing saluran pencernaan yaitu Cooperia, Ostertagia, Haemonchus, Bunostomum, Trichostrongylus, Strongyle, Trichuris, Strongyloides, dan Oesophagostomum.
Uji normalitas tidak berdistribusi normal sehingga dilanjut dengan Uji Friedman.Uji Friedman menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan jumlah telur nematoda antar waktu pengukuran (X²=0,783; p=0,676). Sebaliknya, Uji normalitas berdistribusi normal sehingga dilanjut uji Repeated Measures ANOVA. Uji Repeated Measures ANOVA menunjukkan peningkatan bobot badan sangat signifikan (F=15,911; p<0,001) dengan effect size 48,3%. Rata-rata bobot meningkat dari 28,23 kg (M0) menjadi 29,94 kg (M4). PBBH tertinggi terjadi pada minggu ke-2 (65,17 g/ekor/hari). Uji Bonferroni menunjukkan rerata bobot awal (28,23) lebih rendah dari minggu 3 (29,51; p=0,005) dan 4 (29,94; p<0,001). Minggu 1 (28,43) lebih rendah dari minggu 3 dan 4 (p<0,001). Minggu 2 (29,14) lebih rendah dari minggu 4 (p=0,020).
Kombinasi temulawak dan bratawali efektif meningkatkan pertumbuhan bobot badan domba namun belum terbukti efektif sebagai antihelmintik dalam periode 30 hari. Perbaikan sanitasi kandang dan durasi pemberian yang lebih panjang diperlukan untuk mengoptimalkan efektivitas herbal.


Kata kunci: temulawak, bratawali, nematodiasis, PBBH, domba
Nematode worm infection is one of the diseases that frequently attacks the digestive tract of sheep. Excessive use of chemical drugs can lead to resistance, thus requiring alternative herbal remedies such as temulawak and bratawali. This study aimed to determine the effect of administering a combination of temulawak (Curcuma xanthorrhiza) and bratawali (Tinospora crispa) on nematodiasis and daily body weight gain in sheep. The research targets were 9 sheep farmers in the Lembu Sari Livestock Farmer Group, Purwosari Village, Baturaden District, Banyumas Regency, Central Java Province. This study used a survey method by conducting observations and interviews with respondents (farmers).
A total of 18 sheep aged 4-8 months with body weights ranging from 12-43 kg, all male, were used in this study. The analysis employed descriptive analysis and Repeated Measures ANOVA. The research was conducted for 30 days at the Lembu Sari Livestock Farmer Group, Purwosari Village, Baturaden District, Banyumas Regency. Sample examination was carried out at the Purwokerto Type B Animal Health Laboratory by measuring the number of eggs and types of nematode worms using the flotation test and Whitlock test.
Farmer characteristics were dominated by ages 44-60 years (100%), elementary school education (55.56%), farming experience of 1-2 years (55.56%), and ownership scale of 5-10 sheep (55.56%). Initial nematodiasis prevalence was 100% (mild infection 83.3%) decreasing to 88.89% after herbal administration, however severe infection appeared in 11.1% on day 30. Several types of digestive tract worm eggs were identified, namely Cooperia, Ostertagia, Haemonchus, Bunostomum, Trichostrongylus, Strongyle, Trichuris, Strongyloides, and Oesophagostomum.
The normality test showed that the data were not normally distributed, so the analysis was continued with the Friedman Test. The Friedman Test indicated no significant difference in the number of nematode eggs between measurement times (X²=0.783; p=0.676). Conversely, the normality test for body weight data showed a normal distribution, so the analysis was continued with Repeated Measures ANOVA. The Repeated Measures ANOVA revealed a highly significant increase in body weight (F=15.911; p<0.001) with an effect size of 48.3%. The average body weight increased from 28.23 kg (M0) to 29.94 kg (M4). The highest Average Daily Gain (ADG) occurred in the second week (65.17 g/head/day). The Bonferroni post-hoc test showed that the mean body weight at the start (28.23) was significantly lower than in week 3 (29.51; p=0.005) and week 4 (29.94; p<0.001). Week 1 (28.43) was significantly lower than weeks 3 and 4 (p<0.001). Week 2 (29.14) was significantly lower than week 4 (p=0.020).
The combination of temulawak and bratawali effectively increased sheep body weight growth but has not been proven effective as an anthelmintic within the 30-day period. Improvement of cage sanitation and longer administration duration are needed to optimize the effectiveness of the herbal treatment.

Keywords: temulawak, bratawali, nematodiasis, ADG, sheep
3635739341A1C018063APLIKASI FOGGING SYSTEM PADA SISTEM AEROPONIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BENIH KENTANG DI DATARAN RENDAHPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui aplikasi fogging system terhadap iklim mikro pada bagian atas tanaman dan mendapatkan data pertumbuhan (tinggi tanaman dan jumlah daun) serta jumlah umbi dan bobot umbi di daratan rendah dengan aplikasi fogging system. Greenhouse berukuran panjang 13,1 meter, lebar 10 meter, dan tinggi dinding 2,6 meter, dengan tipe atap semi Arch, ketinggian tempat ±106 meter di atas permukaan laut. Perlakuan fogging system yang diberikan yaitu nyala 10 menit dan mati 15 menit, dan fogging system nyala 5 menit dan mati 15 menit. Varietas yang digunakan terdiri dari 3 varietas, yaitu MZ, Granola K, dan Granola L. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan fogging system menurunkan suhu udara 1,2-1,8oC dan meningkatkan kelembaban udara 2,6-6,6% di dalam greenhouse. Radiasi matahari lebih rendah di dalam greenhouse dibandingkan luar greenhouse. Perlakuan lama waktu fogging system dan varietas berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun, hasil tertinggi pada perlakuan lama waktu fogging system nyala 5 menit dan mati 15 menit varietas Granola K sebesar tinggi tanaman 34,4 cm dan 138,3 jumlah daun. Sedangkan, hasil terendah pada perlakuan lama waktu fogging system nyala 10 menit dan mati 15 menit varietas Granola L dengan tinggi tanaman 20,3 cm dan 72,5 jumlah daun. Varietas berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah dan bobot umbi, hasil tertinggi pada varietas MZ sebesar 16,50 g bobot umbi dan 12,63 jumlah umbi serta hasil terendah pada varietas Granola K sebesar 0,84 g bobot umbi dan 1,50 jumlah umbi.This study aims to determine application fogging system to microclimate at top plant and to obtain growth data (plant height and number of leaves) as well number tubers and tuber weight in lowland using fogging system application. Greenhouse measures 13.1 meters long, 10 meters wide, and 2.6 meters high walls, with a semi-arch roof type, with a height of ±106 meters above sea level. Fogging system treatment is on 10 minutes and off 15 minutes, and fogging system on 5 minutes and off 15 minutes. Varieties used consisted of 3 varieties, namely MZ, Granola K, and Granola L. Results showed that use a fogging system reduced air temperature by 1.2-1.8oC and increased air humidity by 2.6-6.6% in greenhouse. Solar radiation is lower inside greenhouse than outside greenhouse. The long fogging system and variety treatment had a very significant effect on plant height and number leaves, highest yield was in long fogging system treatment on 5 minutes and off 15 minutes for Granola K variety with a plant height of 34.4 cm and 138.3 number leaves. Meanwhile, lowest yield was in long treatment when fogging system was on 10 minutes and off 15 minutes for Granola L variety with a plant height of 20.3 cm and 72.5 leaves. Varieties had a very significant effect on number and weight tubers, highest yield was in MZ variety of 16.50 g tuber weight and 12.63 tubers, and lowest yield was of Granola K variety of 0.84 g tuber weight and 1.50 tubers.
3635839342D1A019076PPK Ormawa- Pelatihan Budidaya Indigofera dan Manajemen Teknologi Pakan di Desa
Sokawera
Program Peningkatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa) merupakan salah satu kegiatan yang difokuskan pada pengabdian dan pengembangan potensi masyarakat di daerah yang dijadikan sebagai mitra pengabdian selama jangka waktu tertentu secara berkelanjutan. Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah dipilih menjadi desa sasaran karena memiliki potensi sumberdaya alam dan manusia yang melimpah. Namun potensi tersebut masih kurang dimanfaatkan karena rendahnya minat kaum muda dalam bidang peternakan serta rendahnya pengetahuan peternak dalam pemanfaatan teknologi pada bidang peternakan. PPK Ormawa membentuk Sanggar Ternak Muda “Berdikari” sebagai salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan yang ada yakni menjadi tempat atau wadah bagi pemuda dan masyarakat desa Sokawera untuk belajar mengenai dunia peternakan sehingga terjadi peningkatan sumber daya manusia di desa Sokawera. Metode yang dilakukan dengan melakukan diskusi, pelatihan dengan sistem ceramah dan praktik, serta melakukan pre-test dan post test sebagai parameter keberhasilan kuantitatif. Sebanyak 20 orang peserta yang mengikuti pelatihan dijadikan sampel dalam data dengan hasil yang berbeda. Pengujian dilakukan dengan melakukan uji banding ganda atau two sample t-test menghasilkan temuan bahwa analisis perbandingan antara rata-rata data pre-test dan post-test yang mewakilkan pemahaman pengurus sanggar terhadap materi pelatihan adalah berbeda secara signifikan. Kemajuan ini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Sokawera.The Student Organization Capacity Building Program (PPK Ormawa) is one of the activities
focused on serving and developing the potential of the community in the area which is used as a service partner for a certain period of time in a sustainable manner. Sokawera Village, Cilongok District, Banyumas Regency, Central Java Province was chosen as the target village because it has abundant natural and human resource potential. However, this potential is still underutilized due to the low interest of young people in the livestock sector and the low knowledge of breeders in the use of technology in the livestock sector. PPK Ormawa formed the "Self-Sufficient" Young Livestock Studio as an effort to overcome existing problems, namely to become a place or forum for youth and the Sokawera village community to learn about the world of animal husbandry so that there is an increase in human resources in Sokawera village. The method is used with conducting discussions, training with lecture and practice systems, as well as conducting pre-tests and post-tests as quantitative success parameters. A total of 20 participants who took part in the training were sampled in the data with different results. The test was carried out by conducting a double comparative test or two sample t-test yielding findings that the comparative analysis between the average pre-test and post-test which represents the understanding of the studio administrators on the training material is significantly different. This progress was able to improve the welfare of the people of Sokawera Village.
3635944088F1F020046Peran Diaspora India melalui Federation Of Indian Associations (FIA) dalam Proses Implementasi Diplomasi Publik India di Amerika Serikat (2020 - 2023)
Diaspora India telah didukung penuh oleh pemerintahnya untuk mempromosikan budaya-budaya India secara global demi memperkuat hubungan India dengan banyak negara. Salah satunya diaspora India di Amerika Serikat yang mana merupakan kelompok yang paling sukses dibanding migran-migran lainnya. Kesuksesan diaspora India di AS dapat memberikan kemudahan bagi India untuk mempromosikan budaya demi memperkuat citra positif dan kepercayaan antara kedua negara. Upaya untuk memperkuat citra tersebut melalui diplomasi publik yang dilakukan diaspora India melalui organisasi diaspora yang terbentuk di AS. Salah satu organisasi diaspora India terbesar dan teraktif di AS adalah Federation of Indian Associations (FIA). Sejak 1970 berdiri, FIA menjadi organisasi diaspora India yang mengimplementasikan diplomasi publik India di AS melalui beragam kegiatan, terutama penyelenggaraan acara-acara kebudayaan untuk menciptakan apresiasi dan dapat diterimanya budaya India di kalangan masyarakat AS.
Berdasarkan penelitian, FIA mampu menciptakan apresiasi dan rekognisi pemerintah AS. Sehingga, memperkuat kepercayaan antar kedua belah pihak dan turut meningkatkan citra positif India. Kepercayaan dan citra positif ini juga memperkuat hubungan AS dan India dengan melakukan kerja sama di berbagai aspek. FIA dalam upayanya mengimplementasikan diplomasi publik India di AS, terbukti mampu secara aktif mempengaruhi citra positif, hubungan baik, hingga kebijakan luar negeri kedua negara. Pengaruh dan tindakan FIA tersebut lebih detil dibahas dalam penelitian ini dengan menggunakan konsep diaspora pada mobilisasinya dalam hubungan internasional. Selain itu, berdasarkan pada implementasinya, FIA berperan sebagai agen komunikasi yang gencar menginovasikan budaya-budaya India agar dapat diterima dan diapresiasi.
The Indian diaspora has been fully supported by its government to promote Indian culture globally in order to strengthen India's relations with many countries. One of them is the Indian diaspora in the United States which is the most successful group compared to other migrants. The success of the Indian diaspora in the US can make it easier for India to promote its culture to strengthen the positive image and trust between the two countries. Efforts to strengthen this image through public diplomacy carried out by the Indian diaspora through diaspora organizations formed in the US. One of the largest and most active Indian diaspora organizations in the US is the Federation of Indian Associations (FIA). Since 1970, FIA has become an Indian diaspora organization that implements Indian public diplomacy in the US through various activities, especially organizing cultural events to create appreciation and acceptance of Indian culture among the US community.
Based on research, FIA is able to create appreciation and recognition of the US government. Thus, strengthening trust between the two parties and helping to improve India's positive image. This trust and positive image also strengthens the relationship between the US and India by cooperating in various aspects. FIA in its efforts to implement Indian public diplomacy in the US, has proven to be able to actively influence the positive image, good relations, and foreign policies of the two countries. The influence and actions of the FIA are discussed in more detail in this research using the concept of diaspora in its mobilization in international relations. In addition, based on its implementation, FIA acts as a communication agent that aggressively innovates Indian cultures to be accepted and appreciated.
3636044089C1A020047Pengaruh Dana Alokasi Khusus Stunting terhadap Angka Prevalensi Stunting di 12 Provinsi Prioritas IndonesiaIndonesia telah menentukan 12 Provinsi Prioritas yang mempunyai presentase prevalensi Stunting tinggi. Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah salah satu instrumen Transfer Ke Daerah (TKD) dalam upaya penanggulangan Stunting di Indonesia. Laporan The World Bank (2016) menyampaikan bahwa realisasi anggaran untuk intervensi Stunting di Indonesia secara konsisten menunjukkan hasil yang buruk dari tahun ke tahun.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari DAK Fisik Kesehatan, DAK Fisik Non Kesehatan, dan DAK Nonfisik Non Kesehatan terhadap Angka Prevalensi Stunting di 12 Provinsi Prioritas dan menghitung rasio efektivitas anggaran DAK Stunting. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder. Metode penelitian yang digunakan adalah Random Effect Model (REM).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAK Fisik Kesehatan, DAK Fisik Non Kesehatan, dan DAK Nonfisik Non Kesehatan tidak berpengaruh secara signfikan terhadap Angka Prevalensi Stunting di 12 Provinsi Prioritas. Sedangkan, DAK Nonfisik Kesehatan berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap Angka Prevalensi Stunting di 12 Provinsi Prioritas. Selain itu, DAK Fisik Kesehatan dan DAK Fisik Non Kesehatan mempunyai kriteria efektivitas anggaran tidak efektif, DAK Nonfisik Kesehatan kurang efektif, dan DAK Nonfisik Non Kesehatan efektif. Implikasi dari penelitian ini adalah pemerintah harus menyesuaikan kembali pengalokasian dana dengan sumber daya, budaya, lingkungan, dan kondisi sosial ekonomi setiap daerah agar dapat mengidentifikasi intervensi dan program yang tepat sasaran dalam penanganan Stunting di 12 Provinsi Prioritas.
Indonesia has determined 12 Priority Provinces that have a high percentage of stunting prevalence. The Special Allocation Fund (DAK) is one of the instruments of Transfer to Regions (TKD) in efforts to tackle stunting in Indonesia. A report by The World Bank (2016) states that the budget realization for stunting intervention in Indonesia consistently shows poor results from year to year.
This study aims to analyze the effect of DAK Physical Health, DAK Physical Non-Health, and DAK Nonphysical Non-Health on the Stunting Prevalence Rate in 12 Priority Provinces and calculate the DAK Stunting budget effectiveness ratio. This research is a quantitative study using secondary data. The research method used is the Random Effect Model (REM).
The results showed that the Health Physical DAK, Non-Health Physical DAK, and Non-Health Nonphysical DAK had no significant effect on the Stunting Prevalence Rate in 12 Priority Provinces. Meanwhile, the non-physical health DAK has a negative and significant effect on the stunting prevalence rate in 12 priority provinces. In addition, DAK Physical Health and DAK Physical Non-Health have ineffective budget effectiveness criteria, DAK Nonphysical Health is less effective, and DAK Nonphysical Non-Health is effective. The implication of this research is that the government must readjust the allocation of funds to the resources, culture, environment, and socio-economic conditions of each region in order to identify targeted interventions and programs in handling stunting in the 12 Priority Provinces.