Home
Login.
Artikelilmiahs
44089
Update
ANETTA DINARTI PUTRI
NIM
Judul Artikel
Pengaruh Dana Alokasi Khusus Stunting terhadap Angka Prevalensi Stunting di 12 Provinsi Prioritas Indonesia
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Indonesia telah menentukan 12 Provinsi Prioritas yang mempunyai presentase prevalensi Stunting tinggi. Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah salah satu instrumen Transfer Ke Daerah (TKD) dalam upaya penanggulangan Stunting di Indonesia. Laporan The World Bank (2016) menyampaikan bahwa realisasi anggaran untuk intervensi Stunting di Indonesia secara konsisten menunjukkan hasil yang buruk dari tahun ke tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari DAK Fisik Kesehatan, DAK Fisik Non Kesehatan, dan DAK Nonfisik Non Kesehatan terhadap Angka Prevalensi Stunting di 12 Provinsi Prioritas dan menghitung rasio efektivitas anggaran DAK Stunting. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder. Metode penelitian yang digunakan adalah Random Effect Model (REM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAK Fisik Kesehatan, DAK Fisik Non Kesehatan, dan DAK Nonfisik Non Kesehatan tidak berpengaruh secara signfikan terhadap Angka Prevalensi Stunting di 12 Provinsi Prioritas. Sedangkan, DAK Nonfisik Kesehatan berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap Angka Prevalensi Stunting di 12 Provinsi Prioritas. Selain itu, DAK Fisik Kesehatan dan DAK Fisik Non Kesehatan mempunyai kriteria efektivitas anggaran tidak efektif, DAK Nonfisik Kesehatan kurang efektif, dan DAK Nonfisik Non Kesehatan efektif. Implikasi dari penelitian ini adalah pemerintah harus menyesuaikan kembali pengalokasian dana dengan sumber daya, budaya, lingkungan, dan kondisi sosial ekonomi setiap daerah agar dapat mengidentifikasi intervensi dan program yang tepat sasaran dalam penanganan Stunting di 12 Provinsi Prioritas.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Indonesia has determined 12 Priority Provinces that have a high percentage of stunting prevalence. The Special Allocation Fund (DAK) is one of the instruments of Transfer to Regions (TKD) in efforts to tackle stunting in Indonesia. A report by The World Bank (2016) states that the budget realization for stunting intervention in Indonesia consistently shows poor results from year to year. This study aims to analyze the effect of DAK Physical Health, DAK Physical Non-Health, and DAK Nonphysical Non-Health on the Stunting Prevalence Rate in 12 Priority Provinces and calculate the DAK Stunting budget effectiveness ratio. This research is a quantitative study using secondary data. The research method used is the Random Effect Model (REM). The results showed that the Health Physical DAK, Non-Health Physical DAK, and Non-Health Nonphysical DAK had no significant effect on the Stunting Prevalence Rate in 12 Priority Provinces. Meanwhile, the non-physical health DAK has a negative and significant effect on the stunting prevalence rate in 12 priority provinces. In addition, DAK Physical Health and DAK Physical Non-Health have ineffective budget effectiveness criteria, DAK Nonphysical Health is less effective, and DAK Nonphysical Non-Health is effective. The implication of this research is that the government must readjust the allocation of funds to the resources, culture, environment, and socio-economic conditions of each region in order to identify targeted interventions and programs in handling stunting in the 12 Priority Provinces.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save