Artikelilmiahs
Menampilkan 36.261-36.280 dari 49.869 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 36261 | 39288 | I1B019031 | Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Self Regulated Learning pada Mahasiswa Tingkat III Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman | Latar Belakang: Self regulated learning (SRL) mampu mendorong mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses belajar mandiri. Karakteristik mahasiswa dalam melakukan SRL dapat terlihat dari strategi dalam mengelola emosi yang merupakan bagian dari komponen kecerdasan emosional. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara kecerdasan emosional dengan SRL pada mahasiswa tingkat III Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 216 responden. Pengambilan sampel menggunakan probability sampling dengan cluster sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Trait Emotional Intelligence Questionnaire Adolescent Short Form (TEIQue-ASF) dan kuesioner Assessing Academic Self regulated. Analisis data menggunakan Spearman Rho. Hasil penelitian: Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (82,4%), berasal dari Jurusan Kesehatan Masyarakat (25,0%), dan selama kuliah bertempat tinggal di kost (71,3%). Kecerdasan emosional responden berada pada tingkat sedang (63%). SRL responden berada pada tingkat sedang (56,5%). Nilai signifikansi antara kecerdasan emosional dan SRL 0,000 dimana nilai tersebut <0,05. Nilai koefisien korelasi 0,381 menunjukan arah positif dan tingkat kekuatan hubungan berada pada kategori positif lemah. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan SRL pada mahasiswa tingkat III Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman. | Background: Self regulated learning (SRL) is able to encourage college students to actively participate in the independent learning process. The characteristics of college students in performing SRL can be seen from the strategy in managing emotions which are part of the emotional intelligence component. The purpose of this research was to view the relationship between emotional intelligence and SRL in third year college students of the Faculty of Health Sciences Jenderal Soedirman University. Methodology: The research using a correlational quantitative method with a cross sectional approach. The number of samples was 216 respondents. Sampling used probability sampling with cluster sampling. The research instrument used the Trait Emotional Intelligence Questionnaire Adolescent Short Form (TEIQue-ASF) questionnaire and the Assessing Academic Self Regulated questionnaire. Data analysis used Spearman Rho. Research results: The majority of the respondents were female (82.4%), coming from the Department of Public Health (25.0%), and during college living in studio apartments (71.3%). The emotional intelligences of the respondents were at a moderate level (63%). SRL respondents were at a moderate level (56.5%). The significance value between emotional intelligence and SRL was 0.000, wherein the value was <0.05. The value of correlation coefficient 0.381 showed positive direction and the level of strength relationship was in the weak positive. Conclusion: There was a significant relationship between emotional intelligence and SRL in third year college students of the Faculty of Health Sciences Jenderal Soedirman University. | |
| 36262 | 39312 | I1B018010 | “Pengaruh Pemberian Informasi Melalui Media Poster dan penyuluhan Terhadap Pengetahuan Remaja Tuna Rungu Tentang Covid-19 Di Sekolah Khusus (Skh) Negeri 1 Kota Serang Kab. Serang Prov. Banten | PENGARUH PEMBERIAN INFORMASI MELALUI MEDIA POSTER DAN PENYULUHAN TERHADAP PENGETAHUAN REMAJA TUNA RUNGU TENTANG COVID-19 DI SEKOLAH KHUSUS (SKH) NEGERI 1 KOTA SERANG KAB. SERANG PROV. BANTEN Alisah1 , Dian Ramawati2 , Meivita Dewi Purnamasari3 Latar Belakang: Keterbatasan akses informasi mengenai Covid-19 sangat dirasakan kelompok disabilitas rungu, terutama pada masa pandemi Covid-19. Poster sering digunakan karena lebih efektif untuk menyampaikan informasi dan pendidikan mengenai Covid-19, dengan mengutamakan pesanpesan visual, dan umumnya terdiri dari gambaran sejumlah kata, gambar atau foto dalam tata warna yang selaras dengan isi pesan yang akan disampaikan. Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian menggunakan pra experimental dengan jenis one group pretestposttest design. Sampel diambil dengan teknik total sampling. Penentuan besar sampel pada penelitian ini menggunakan rumus besar sampel analitik numerik berpasangan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 21 remaja tunarungu di Sekolah Khusus (Skh) Negeri 1 Kota Serang Kab. Serang Prov. Banten. Hasil Penelitian: Mayoritas usia responden adalah 16 sampai 20 tahun yaitu sebanyak 16 orang. Mayoritas tingkat pendidikan adalah SMA/Sederajat dengan jumlah 14 orang. Hasil pretest menunjukkan pengetahuan rendah sebanyak 15 orang, cukup sebanyak 6 orang. Sedangkan hasil postest terdapat 9 orang pengetahuan baik, 12 orang berpengetahuan cukup. Dan hasil tabel uji wilcoxon menunjukan p= 0,000 (p<0,05) menunjukan adanya perbedaan tingkat pengetahuan yang signifikan antara pretest dan posttest pengetahuan responden. Kesimpulan: Terdapat perbedaan pengetahuan tentang pencegahan penularan Covid-19 sebelum dan sesudah pemberian adanya media edukasi poster tentang pencegahan Covid-19. | THE EFFECT OF PROVIDING INFORMATIONTHROUGHPOSTERS AND COUNSELING ON THE KNOWLEDGEOFTHE DEAF ADOLESCENT ABOUT COVID-19 INSPECIALSCHOOL (SKH) NEGERI 1 CITY OF SERANG, BANTENPROVINCE Alisah 1 , Dian Ramawati2 , Meivita Dewi Purnamasari3 Departemen Nursing, Faculty of Health Sciences, Jenderal SoedirmanUniversity, Purwokerto, Indonesia Jl. Dr. Soerparno, Karangwangkal, Purwokerto Utara 53123 Telp (0281) 642838E-mail: alisahemialista@gmail.com Background: The limited access to information regarding Covid-19 is very muchfelt by the hearing-disabled group, especially during the Covid-19 pandemic. Posters are often used because they are more effective in conveying informationand education about Covid-19, by prioritizing visual messages, and generallyconsist of a description of a number of words, pictures or photos in a color schemethat is in harmony with the content of the message to be conveyed. Methods: This research is a quantitative study with a pra-experimental researchdesign with one group pretest-posttest design. Samples were taken by usingtotal sampling technique. Determination of the sample size in this study using a pairednumerical analytical sample size formula. The sample used in this study amountedto 21 deaf teenagers at the State Special School (Skh) 1 Serang City. Banten. Research Results: The majority of respondents are 16 to 20 years old, as manyas16 teenagers. The majority of the education level is SMA/Equivalent with a total of 14 students. The results of the pretest showed that the students has lowknowledge as many as 15 students, and there were only 6 students withgoodknowledge of Covid-19. While, the results of the posttest there are 9 students hadgood knowledge, and 12 people with moderatea knowledge. The results of Wilcoxon test showed p = 0.000 (p <0.05), indicating a significant differenceinthe level of knowledge between the pretest and posttest of respondents' knowledge. Conclusion: There is a difference in knowledge about preventing the transmissionof Covid-19 before and after the using of poster to give health education about preventing Covid-19. | |
| 36263 | 39267 | D1A016177 | PENGARUH KETINGGIAN LINGKUNGAN PEMELIHARAAN YANG BERBEDA TERHADAP INDEKS PERFORMA AYAM PEDAGING DI PT CEMERLANG UNGGAS LESTARI KEBUMEN | Keberhasilan dalam pemeliharaan ayam pedaging dapat dilihat dari beberapa faktor yaitu letak kandang, suhu, kelembapan, kualitas pakan, ketinggian wilayah pemeliharaan, dan manajemen pemeliharaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perbedaan ketinggian lingkungan pemeliharaan terhadap performa produksi ayam pedaging di PT. Cemerlang Unggas Lestari Kebumen. Materi yang digunakan adalah ayam pedaging, kandang closed house, Metode penelitian yang digunakan adalah observasi. Sampel penelitian diambil secara langsung pada saat observasi di dua peternakan ayam broiler kandang closed house dengan ketinggian lingkungan pemeliharaan yang berbeda ,yang tergabung dalam perusahaan kemitraan inti-plasma di PT. Cemerlang Unggas Lestari Kabupaten Kebumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks performa di kandang CV Lestari Maju yang terletak di daerah pesisir , Mirit, Tlogodepok, Kabupaten Kebumen lebih baik dibandingkan kandang Mbah Mo yang terletak di daerah pegunungan , Desa Lancar,Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo. Hasil Indeks Performa (IP) kandang Mbah Mo yaitu 364, sedangkan kandang CV Lestari Maju 397. Kesimpulan yaitu kandang yang berada di daerah pesisir lebih baik dibandingkan daerah pegunungan. | Success in raising broilers can be seen from several factors, namely the location of the cage, temperature, humidity, quality of feed, altitude, and maintenance management. This study aims to examine the effect of differences in rearing environment altitude on broiler production performance at PT. Cemerlang Unggas Lestari Kebumen. The material used is broilers, closed house cages, the research method used is observation. The research sample was taken directly at the time of observation in two closed house broiler farms with different rearing environment altitude, which are members of the nucleus – plasma partnership company at PT. Cemerlang Unggas Lestari Kebumen Regency. Results The showed that the performance index in CV Lestari Maju’s cage located in the coastal area, Mirit, Tlogodepok, Kebumen Regency was better than Mbah Mo’s cage which was located in the mountainous area, Lancar Village, Wadaslintang, Wonosobo Regency. The results of the Performance Index (IP) for Mbah Mo’s cage were 364, while CV Lestari maju’s cage was 397. Is that cages in coastal areas are better than mountainous areas. | |
| 36264 | 39268 | J1C017015 | KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA DALAM KOMUNIKASI NONVERBAL YANG TERDAPAT DALAM ANIME AMAAMA TO INAZUMA | Penelitian ini bermaksud untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk komunikasi nonverbal di Jepang serta menghubungkannya dengan komunikasi lintas budaya melalui anime yang berjudul Amaama to Inazuma pada episode 1 - 6 berdasarkan teori komunikasi nonverbal dan teori komunikasi lintas budaya menurut Sano dkk. (1995). Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode simak dengan teknik simak bebas libat cakap serta teknik catat. Analisis data pada penelitian ini menggunakan 3 alur menurut Miles dkk. (2014) yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/ verifikasi. Dari hasil penelitian ini ditemukan 13 data bentuk-bentuk komunikasi nonverbal pada anime Amaama to Inazuma yang dibagi kedalam 4 kategori unsur utama meliputi tangan sebanyak 7 data, tubuh sebanyak 3 data, kepala sebanyak 2 data, dan hidung/ indra penciuman sebanyak 1 data. Data-data tersebut memperoleh penjelasan yang sesuai dengan unsur-unsur komunikasi nonverbal menurut Sano dkk. (1995). Berlandasan komunikasi lintas budaya, gerakan itadaku di Jepang mempunyai 3 makna, sementara itu memiliki makna berbeda dengan India dan Thailand; gerakan te wo furu di Jepang mempunyai 4 makna, lalu memiliki makna yang sama dengan Eropa, selain itu mempunyai makna berbeda dengan Eropa, Peru, Yunani serta Nigeria; gerakan yatta!/ Gatsu Po-su di Jepang mempunyai 2 makna serta memiliki makna berbeda dengan Jerman dan secara universal; gerakan yubi wo sasu di Jepang bermakna sebagai ketidaksopanan bagi Indonesia khususnya Jawa, Malaysia dan Peru; gerakan hajiru di Jepang mempunyai 2 makna; gerakan warau di Jepang bermakna sama dengan Korea; gerakan ojigi di Jepang mempunyai 7 makna; gerakan iie dan hai di Jepang mempunyai kesamaan makna dengan Indonesia dan Amerika Serikat, namun bertolakbelakang dengan Arab Saudi, India dan Bulgaria; serta gerakan kagu bagi orang Arab Saudi menjadi salah satu alat berkomunikasi dan di Birma dll bermakna sebagai salam sapaan. | This study aims to describe the forms of nonverbal communication in Japan and relate them to cross-cultural communication in the anime titled Amaama to Inazuma in episodes 1 - 6 based on nonverbal communication theory and cross-cultural communication theory according to Sano et al. (1995). This type of research is descriptive qualitative research. Data collection used the simak method with simak bebas libat cakap technique and note-taking technique. Data analysis used three steps according to Miles et al. (2014), namely data reduction, data display, and conclusion drawing/ verification). From the result of this research there were 13 data of nonverbal communication in anime Amaama to Inazuma which were divided into 4 main element categories including hands as much as 7 data, body as much as 3 data, head as much as 2 data, and nose/sense of smell as much as 1 data. The data obtained an explanation in accordance with the elements of nonverbal communication according to Sano et al. (1995). Based on cross-cultural communication, itadaku gesture in Japan has 3 meanings, while it has different meanings with India and Thailand; te wo furu gesture in Japan has 4 meanings, then it has the same meaning with Europe, while it has different meanings with Europe, Peru, Greece and Nigeria; yatta! / Gatsu Po-su in Japan has 2 meanings and has a different meaning from Germany and universally; yubi wo sasu movement in Japan means impoliteness for Indonesian especially in Java, Malaysia and Peru; hajiru movement in Japan has 2 meanings; warau movement in Japan means the same as Korea; The ojigi gesture in Japan has 7 meanings; the iie and hai gestures in Japan have similar meanings with Indonesia and the United States, but the opposite with Saudi Arabia, India and Bulgaria; and the kagu gesture for Saudi Arabians is a means of communication and in Burma etc. it is a greeting. | |
| 36265 | 39269 | F1C018061 | PERBEDAAN TINGKATAN THE TRIANGULAR OF LOVE DALAM RELASI ROMANTIS MAHASISWA DITINJAU DARI JENIS KELAMIN | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji dan membuktikan ada atau tidaknya perbedaan tingkatan The Triangular of Love dalam relasi romantis mahasiswa ditinjau dari jenis kelamin. Stenberg ( 1998. ) mendefinisikan cinta sebagai gabungan dari perasaan, hasrat, serta pikiran yang ada secara bersamaan. Cinta kemudian dibagi menjadi tiga komponen menurut the triangular theory of love Sternberg yang terdiri dari intimacy, passion, dan commitment. Penelitian dilaksanakan di Universitas Jendral Soedirman dengan sasaran penelitian Mahasiswa Universitas Jendral Soedirman yang telah atau sedang mengalami hubungan romantic dengan lawan jenis selama 6 bulan ( 91 orang ), dengan laki laki berjumlah 37 orang dan perempuan berjumlah 54 orang. Pada keseluruhan komponen The Triangular of Love pada mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman ditinjau dari jenis kelamin berdasarkan analisis data mendapatkan nilai Z sebesar -3.196 dengan signifikansi sebesar 0,001 (>0,05) sehingga memiliki perbedaan berdasarkan jenis kelamin untuk keseluruhan komponen The Triangular of Love. Pada komponen intimacy diketahui perempuan memiliki skor total lebih tinggi dengan nilai rata-rata 93,31 dibandingkan laki-laki dengan nilai rata-rata 78,00. Pada komponen passion perempuan memiliki skor total lebih rendah dengan nilai rata-rata 77,41 dibandingkan laki-laki dengan nilai rata-rata 87,73. Sedangkan pada komponen commitment perempuan memiliki skor total lebih tinggi dengan nilai rata-rata 81,56 dibandingkan laki-laki dengan nilai rata-rata 73,35. | he purpose of this study is to test the presence or absence of differences in Triangular of Love in romantic relation between students in terms of gender. Stenbeg ( 1998 ) defines love as a combination of feelings, desires, and thoughts that exist simultaneously. Love is then divided into three components according to Sternberg's triangular theory of love which consists of intimacy, passion, and commitment. The research was conducted at Jendral Soedirman University with the research target of Jendral Soedirman University students who had or were experiencing romantic relationships with the opposite sex for 6 months (91 people), with 37 men and 54 women. In all components of The Triangular of Love for students at the Faculty of Social and Political Sciences, Jenderal Soedirman University in terms of gender based on data analysis, a Z value of -3,196 is obtained with a significance of 0.001 (> 0.05) so that there is a difference based on gender for the whole component of The Triangular of Love. In the intimacy component, it is known that women have a higher total score with an average score of 93.31 compared to men with an average score of 78.00. In the passion component, women have a lower total score with an average score of 77.41 compared to men with an average score of 87.73. Meanwhile, in the commitment component, women have a higher total score with an average score of 81.56 compared to men with an average score of 73.35. | |
| 36266 | 39270 | F1C017041 | Strategi Penyiaran Paduka Dirgantara Fm Dalam Mempertahankan Pendengar Setianya (Studi Kasus Penyiaran Paduka Fm Pada Tahun 2021-2022) | Radio merupakan salah satu media hiburan dengan usia tertua, dibandingkan dengan media hiburan lainnya. Menyikapi hal tersebut stasiun radio tidak akan bertahan. Program radio yang baik dan tepat akan menarik dan mempertahankan pendengar setia radio tersebut. Teori AIDDA dibutuhkan untuk menganalisis faktor-faktor apa saja yang dilakukan oleh Radio Paduka FM untuk Mempertahankan Pendengar Setianya. Melalui teori AIDDA, dapat menggabungkan antara pembuatan program acara yang baik serta bagaimana cara mendistribusikan program tersebut ke khalayak. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif studi kasus dan pengumpulan datanya menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan teknik purposive sampling. Terdapat faktor penghambat dan pendukung untuk terjalinya proses strategi yang dilakukan paduka FM untuk mempertahankan pendengarnya. Faktor pendukung diantaranya: sumber daya manusia & media sosial. Sedangkan faktor penghambatnya adalah cuaca dan kurangnya interaksi dari pendengar. Hasil penelitian menunjukan bahwa upaya-upaya untuk strategi penyiaran paduka fm dalam mempertahankan pendengarnya melalui penerapan teori AIDDA. Tahapan teori AIDDA ini diantaranya Attention (memperhatikan isu menarik di kalangan pendengar), Interest (mencari tahu program yang paling diminati di Paduka FM), Desire (hasil dari penerapan program kuis dan reward dari pemenang kuis), Decision (pengambilan keputusan atas proses penyelenggaraan program) dan yang terakhir adalah Action (pelaksanaan atas proses yang telah disusun dalam program tersebut termasuk Paduclass dan Intimmate Dinner). | Radio is one of the oldest entertainment media, compared to other entertainment media. In response to this the radio station will not survive. A good and appropriate radio program will attract and retain loyal radio listeners. The AIDDA theory is needed to analyze what factors Paduka FM Radio does to maintain its loyal listeners. Through AIDDA theory, you can combine making good programs and how to distribute these programs to the public. The research method used is a qualitative case study and data collection uses observation, interviews, and documentation using purposive sampling techniques. There are inhibiting and supporting factors for the strategic process carried out by Paduka FM to retain listeners. Supporting factors include: human resources & social media. While the inhibiting factors are the weather and the lack of interaction from listeners. The results of the research show that efforts for Paduka FM's broadcasting strategy to retain listeners are through the application of the AIDDA theory. The stages of this AIDDA theory include Attention (paying attention to interesting issues among listeners), Interest (finding out which programs are most in demand on Paduka FM), Desire (results from implementing the quiz program and rewards from quiz winners), Decision (decision making on the process of implementing the program ) and the last is Action (implementation of the processes that have been compiled in the program including Paduclass and Intimate Dinner). | |
| 36267 | 39271 | F1C016012 | Kritik Sosial Jason Ranti Dalam Lirik Lagu “Pulang ke Rahim Ibunya” | Lagu merupakan bagian dari karya seni yang juga merupakan bagian yang cukup efektif sebagai alat komunikasi massa kepada masyarakat. Lirik dalam lagu yang dikemas kerap kali mengandung pesan kritik dari sudut pandang penulis lagu. Penelitian ini membahas mengenai keritik sosial Jason Ranti dlam salah satu lagunya yang berjudul “Pulang ke Rahim Ibunya”. Tujuan dari penelitian ini yaitu unguk mengetahui pesan kritik sosial dalam lirik lagu yang berjudul Pulang ke Rahim Ibunya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan model peneltiian semiotika Roland Barthes. Teknik pengumpulan darta yang digunakan adalah analisis teks, studi kepustakaan, studi dokumentasi. Teknik pemilihan teks yang digunakan adalah lirik lagu Pulang ke Rahim Ibunya karya Jason Ranti. Pengembangan validitas data yang digunakan adalah teknik sembilan formula. Hasil penelitian ini adalah lirik lagu Jason Ranti merupakan media untuk menyampaikan kritik terhadap realitas sosial yang terjadi di masyarakat. Dalam lirik lagu “Pulang ke Rahim Ibunya”, Lisa sebagai tokoh wanita fiktif dalam lagu tersebut adalah gambaran keadaan di sekitar kita yang tidak baik-baik saja bahkan untuk seorang wanita yang memiliki tubuh ideal. Keadaan tidak aman membuat Lisa mulai mempertanyakan eksistensinya di dunia dan mengapa ia mesti dilahirkan. Setelah mimpi dan tujuan hidupnya telah hilang, Lisa buat rencana pulang ke rahim Ibunya. | Song is a part of a work art which is also a medium that is quite effective as a means of mass communication to the public. The lyrics in packaged songs often contain critical messages from the point of vies of the songwriters. This study discusses Jason Ranti’s criticism in one of his songs, entitled “Pulang ke Rahim Ibunya”. The purpose of this study is to find out the message of social criticism in the lyrics pf a song entitled “Pulang ke Rahim Ibunya”. The method used in this study is a qualitative method with Roland Barthes’s semiotic research model. Data collection techniques used are text analysis, literature study, documentary study. The text selection used is the lyrics of the song Pulang ke Rahim Ibunya by Jason Ranti. The development of the validity of the data used is the technique of nine formulas. The result of this study are that Jason Ranti’s song lyrics are a medium for conveying criticism of social reality that occurs in society. In the lyrics of the song “Pulang ke Rahim Ibunya, Lisa as a fictional female character in the song is a description of the circumstances around us that are not okay even for a woman who has an ideal body. This insecurity made Lisa begin to qustion her existence in the world and why she had to be born. After losing her dreams and goals on life, Lisa made plans to return to her mother’s womb. | |
| 36268 | 39273 | A1A015073 | ANALISIS KELAYAKAN USAHA KERIPIK TEMPE STUDI KASUS DI UKM “SAWANGAN NO.1” PURWOKERTO | Indonesia banyak terdapat industri pengolahan hasil petanian, salah satunya adalah industri pengolahan tempe menjadi keripik tempe. Keripik tempe terbuat dari tempe tipis yang digoreng kering seperti kerupuk, teksturnya kering dan renyah. Salah satu industri keripik tempe di Purwokerto adalah UKM “Sawangan No. 1” yang telah berdiri sejak tahun 1991. Analisis usaha pada agroindustri keripik tempe sangat penting bagi produsen keripik tempe dalam melaksanakan usahanya untuk mengetahui kelayakan dari usaha yang dijalankannya guna peningkatan keuntungan serta pengembangan usaha. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui besarnya biaya, penerimaan, dan keuntungan dari usaha keripik tempe “Sawangan No.1” 2) Mengetahui kelayakan usaha dari usaha keripik tempe “Sawangan No.1”. Penelitian ini dilakukan di UKM “Sawangan No.1” Purwokerto pada tanggal 28 Desember 2022 – 10 Januari 2023. Metode penelitian dasar menggunakan deskriptif analisis. Analisis data yang digunakan yaitu analisis biaya, penerimaan, keuntungan, analisis RC Ratio, dan analisis Breek Even Point. Hasil penelitian yang di peroleh yaitu total biaya yang dikeluarkan UKM keripik tempe “Sawangan No.1” selama bulan November 2022 yaitu sebesar Rp45.776.274,00. Sementara penerimaan yang didapatkan UKM “Sawangan No.1” sebesar Rp57.899.000,00. Sehingga keuntungan yang diperoleh UKM “Sawangan No.1” selama bulan November 2022 yaitu Sebesar Rp10.122.726,00. Nilai RC Ratio yang dihasilkan sebesar 1,21 yang berarti lebih dari satu menunjukan usaha tersebut layak untuk dilanjutkan atau diteruskan. Hasil analisis BEP keripik tempe kemasan isi 12 menunjukkan jumlah produksi keripik tempe sebanyak 1.691 kemasan lebih besar dari nilai BEP Produk (kemasan) sebesar 1.589 kemasan, harga jual sebesar Rp18.000,00 lebih besar dari nilai BEP Harga (Rp) sebesar Rp17.192,00, penerimaan yang diperoleh sebesar Rp30.438.000,00 lebih besar dari BEP Penerimaan sebesar Rp28.598.058,00. | Indonesia has many agricultural product processing industries, one of which is the processing of tempeh into tempeh chips. Tempeh chips are made from thin tempeh, which is fried dry like crackers, the texture is dry and crunchy. One of the tempeh chip industries in Purwokerto is UKM "Sawangan No. 1" which has been established since 1991. In the tempeh chip agroindustry, business analysis is critical for tempeh chip producers to determine the feasibility of the business they are running in order to increase profits and business development. This study aims to 1) determine the costs, revenues, and profits of the tempe chip business "Sawangan No.1" and 2) determine the business feasibility of the tempe chip business "Sawangan No.1." This research was conducted at UKM "Sawangan No. 1" Purwokerto on December 28, 2022, until January 10, 2023. The basic research method uses descriptive analysis. The analysis of data used includes cost, revenue, and profit analysis, RC ratio analysis, and break-even point analysis. The research results obtained were the total costs incurred by UKM tempe chips "Sawangan No. 1" during November 2022, which were Rp45.776.274,00. Meanwhile, the income received by UKM "Sawangan No. 1" was Rp57.899.000,00. So that the profit earned by UKM "Sawangan No. 1" during November 2022 was Rp10.122.726,00. The resulting RC Ratio value is 1,21, which means that more than one indicates that the business is feasible to continue. The results of the BEP analysis of tempeh chips in 12 packs showed that the total production of 1.691 packages of tempeh chips was greater than the value of BEP products (packaging) of 1.589 packages, the selling price was Rp17.192,00, and the revenue earned was Rp30.438.000,00, which was greater than the BEP revenue of Rp28.598.058,00. | |
| 36269 | 39274 | A1D115050 | PENGARUH PUPUK MIKORIZA dan Trichoderma sp. TERHADAP FISIOLOGI DAN HASIL TANAMAN KANGKUNG (Ipomoea reptans Poir) DENGAN PENGURANGAN DOSIS PUPUK N-P-K | Tanaman kangkung (Ipomoea reptans Poir) merupakan tanaman yang mempunyai banyak kandungan gizi seperti vitamin A, vitamin C, kalsium, zat besi, dan fosfor. Badan Pusat Statistik/BPS (2017) menyatakan bahwa produksi tanaman kangkung di Indonesia bersifat fluktuatif. Tahun 2002-2007 produksi kangkung produksi kangkung meningkat sampai angka 335,086 ton. Tahun 2009 yaitu mencapai 360,992 ton, tahun 2010 sampai 2016 produksi kangkung mengalami naik dan turun. Penelitian dilaksanakan di lahan Desa Kaliori, Kabupaten Banyumas dan analisis sifat fisik tanah dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2019. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama yaitu pemberian pupuk mikoriza Trichoderma sp. dengan dosis 10 g mikoriza + 10 g Trichoderma sp. (M1), 30 g mikoriza + 30 g Trichoderma sp. (M2), 50 g mikoriza + 50 g Trichoderma sp. (M3). Faktor kedua yaitu pengurangan anjuran dosis pupuk Nitrogen (N), Phospat (P), dan Kalium (K) yang terdiri dari 3 dosis pengurangan yaitu 0% (S1), 25% (S2), 50% (S3). Variabel pengamatan meliputi : tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, panjang daun, panjang akar, kehijauan daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, bobot segar akar, bobot kering akar, jumlah anakan, petak efektif. Data dianalisis dengan ragam (uji F) pada taraf kesalahan 5% dan jika terdapat perbedaan (signifikan) dilanjutkan Uji Faktorial Regesi dengan taraf 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk mikoriza Trichoderma sp. mampu meningkatkan tinggi tanaman. Pengaruh pengurangan dosis anjuran pupuk NPK berpengaruh terhadap berat jenis isi, batas lekat, batas cair, porositas, tinggi tanaman, bobot tanaman segar, bobot petak efektif segar, dan bobot tanaman kering | Ipomoea reptans Poir. is a plant that contains many nutrients such as vitamin A, vitamin C, calcium, iron, and phosphorus. Badan Pusat Statistik (2017) spek that spinach production in Indonesia is volatile. From 1997 to 2000 the national water spinach production continued to increase to 215,303 tons, decreasing in 2001 the production of water spinach to 193,825 tons. The research was carried out in the Kaliori village land, Banyumas Regency and analysis of soil physical properties was carried out at the Soil Science Laboratory, Faculty of Agiculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The study was conducted in May 2019 to June 2019. This study used a Complete Goup Random Design (CGD) with two factors. The first factor is the administration of Trichoderma mycorrhizal fertilizer with a dose of 10 g mycorrhiza + 10 g Trichoderma (M1), 30 g mycorrhiza + 30 g Trichoderma (M2), 50 g mycorrhiza + 50 g Trichoderma (M3). The second factor is the provision of recommended fertilizer, Nitrogen, Phosphate, and Potassium which consists of 3 doses, namely 0% (S1), 25% (S2), 50% (S3). Variable restrictions :plant height,number of leaves, leaf area, leaf length, root length, leaf geens, plant weight, plant weight, root weight, root weight, number of breeds, effective map. Data were analyzed by variance (F test) at 5% error level and if there were (significant) differences followed by Factorial Regession Test with 95% level. The results showed that the application of Trichoderma mycorrhizal fertilizer proved significantly to plant height. Effect of dosage of Nitrogen, phosphate, and potassium fertilizer on fertilizer type weight, boundary limit, liquid limit, porosity, plant height, fresh plant weight, effective fresh plot weight, and plant dry weight. Keyword : Ipomoea reptans Poir, Mkoriza dan Trichoderma sp | |
| 36270 | 39275 | C2D018016 | Perbandingan Kinerja Perusahaan Perbankan di Indonesia Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19 | Penelitian ini berjudul Perbandingan Kinerja Perusahaan Perbankan di Indonesia Sebelum dan Saat Pandemi Covid-19. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan kinerja bank umum konvensional sebelum dan saat pandemi Covid-19 dan membandingkan kinerja bank umum syariah sebelum dan saat pandemi Covid-19. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan konvensional dan syariah yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode tahun 2018 sampai 2021. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling sehingga pada bank umum konvensional diperoleh 87 perusahaan dan pada bank umum syariah 10 perusahaan. Periode penelitian adalah 2 tahun sebelum pandemi dan 2 tahun saat pandemi Covid-19 dengan menggunakan laporan keuangan triwulanan sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 696 pada bank umum konvensional dan 80 pada bank umum syariah. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji beda 2 sampel berpasangan dengan uji Wilcoxon Sign Rank Test. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa Capital bank umum konvensional dan bank umum syariah lebih baik pada saat pandemi dari sebelum pandemi Covid-19. Asset quality bank umum konvensional sebelum pandemi lebih baik dari saat pandemi Covid-19. Asset quality bank umum syariah sebelum pandemi tidak berbeda secara signifikan dengan saat pandemi Covid-19. Management bank umum konvensional dan bank umum syariah sebelum pandemi lebih baik dari saat pandemi Covid-19. Earning bank umum konvensional sebelum pandemi lebih baik dari saat pandemi Covid-19. Earning bank umum syariah sebelum pandemi tidak berbeda secara signifikan dengan saat pandemi Covid-19. Liquidity bank umum konvensional dan umum syariah sebelum pandemi tidak berbeda secara signifikan dengan saat pandemi Covid-19. | The title of this research is Comparison of the Performance of Banking Companies in Indonesia Before and During the Covid-19 Pandemic. The purpose of this study is to compare the performance of conventional commercial banks before and during Covid-19 pandemic and to compare the performance of Islamic commercial banks before and during the Covid-19 pandemic. This research is a quantitative research using secondary data. The population in this study are all conventional and sharia banking companies registered with the Financial Services Authority (OJK) for the period 2018 to 2021. The sampling technique in this study by using purposive sampling so obtained conventional commercial banks 87 companies and 10 companies in Islamic commercial banks. The research period is 2 years before the pandemic and 2 years during the Covid-19 pandemic using quarterly financial reports so that the retrieved sample count as many as 696 at conventional commercial banks and 80 at Islamic commercial banks. The data analysis technique used the 2-sample different test paired with the Wilcoxon Sign Rank Test. The results of this test show that the capital of conventional commercial banks and Islamic commercial banks is better during a pandemic than before the Covid-19 pandemic. The asset quality of conventional commercial banks before the pandemic is better than during the Covid-19 pandemic. The asset quality of Islamic commercial bank before the pandemic was not significantly different from during the Covid-19 pandemic. Management of conventional commercial banks and Islamic commercial banks before the pandemic is better than during the Covid-19 pandemic. Conventional bank earnings before the pandemic are better than during the Covid-19 pandemic. The earnings of sharia commercial banks before the pandemic are not significantly different from during the Covid-19 pandemic. The liquidity of conventional commercial and sharia commercial banks before the pandemic is not significantly different from during the Covid-19 pandemic. | |
| 36271 | 39276 | I1B019034 | Hubungan Dukungan Sosial dengan Perilaku Mencari Kesehatan Lansia yang Memiliki Komorbid pada Masa Transisi Pandemi Covid-19 di Desa Karangklesem Pekuncen | ABSTRAK HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PERILAKU MENCARI KESEHATAN LANSIA YANG MEMILIKI KOMORBID PADA MASA TRANSISI PANDEMI COVID-19 DI DESA KARANGKLESEM PEKUNCEN Lies Apriyanti1 , Sidik Awaludin2 , Wahyu Ekowati3 Latar Belakang: Lansia yang memiliki komorbid merupakan kelompok yang rentan dan berisiko kematian akibat Covid-19. Perilaku mencari kesehatan pada lansia menjadi hal yang penting untuk diketahui mendalam, apalagi jika suatu wilayah memiliki jumlah lansia yang banyak seperti di Desa Karangklesem. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dukungan sosial dengan perilaku mencari kesehatan lansia yang memiliki komorbid pada masa transisi pandemi Covid-19 di Desa Karangklesem Pekuncen. Metode: Jenis penelitian ini yaitu kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah 115 lansia usia ≥ 60 tahun yang sesuai dengan kriteria penelitian di Desa Karangklesem, Pekuncen, Banyumas. Uji analisis menggunakan Uji Korelasi Spearman Rank. Hasil Penelitian: Mayoritas responden mendapatkan dukungan sosial dengan kategori cukup (67,8%) dan melakukan perilaku mencari kesehatan dengan kategori cukup (83,5%). Hasil Uji Spearman Rank antara kedua variabel didapatkan hasil p value = 0,000 (p value <0,05) dan nilai koefisien 0,674. Kesimpulan: Dukungan sosial memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku mencari kesehatan lansia yang memiliki komorbid pada masa transisi pandemi Covid-19 di Desa Karangklesem Pekuncen dan memiliki arah hubungan yang positif serta kekuatan hubungan yang cukup erat. | ABSTRACT THE RELATIONSHIP BETWEEN SOCIAL SUPPORT AND HEALTH-SEEKING BEHAVIOR OF ELDERLY WHO HAVE COMORBIDITIES DURING THE TRANSITION PERIOD OF THE COVID-19 PANDEMIC IN KARANGKLESEM PEKUNCEN VILLAGE Lies Apriyanti1 , Sidik Awaludin2 , Wahyu Ekowati3 Background: Elderly who have comorbidities are a vulnerable group and are at risk of death from Covid-19. Health-seeking behavior in the elderly is important to know in depth, especially if an area has a large number of elderly people, such as in Karangklesem Village. The purpose of this study was to determine the relationship between social support and health-seeking behavior in elderly people who have comorbidities during the transition period of the Covid-19 pandemic in Karangklesem Pekuncen Village. Method: This type of research is quantitative with a cross-sectional research design. Sampling used total sampling with a total of 115 elderly aged ≥ 60 years who fit the research criteria in Karangklesem Village, Pekuncen, Banyumas. Test analysis using the Spearman Rank Correlation Test. Research Results: The majority of respondents received sufficient social support (67.8%) and performed health-seeking behavior in sufficient category (83.5%). The results of the Spearman Rank test between the two variables obtained a p value = 0.000 (p value <0.05) and a coefficient value of 0.674. Conclusion: Social support has a significant relationship with health-seeking behavior of elderly who have comorbidities during the transition period of the Covid-19 pandemic in Karangklesem Pekuncen Village and has a positive relationship direction and a relatively strong relationship. | |
| 36272 | 39277 | A1A015026 | POLA TATANIAGA JAGUNG DI DESA KARANGGINTUNG KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS | Potensi pasar jagung terus mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat dari semakin berkembangnya industri peternakan yang pada akhirnya meningkatkan permintaan jagung sebagai campuran bahan ternak. Jagung merupakan salah satu komoditas pertanian yang nilai ekonominya tinggi. Komoditas pertanian yang nilainya tinggi sering kali diikuti dengan biaya pemasaran yang tinggi pula. Desa Karanggintung merupakan salah satu desa penghasil jagung di Kecamatan Sumbang. Permasalahan yang sering dikeluhkan petani di desa Karanggintung yaitu harga yang tidak menentu dan tidak sebanding dengan kenaikan harga pupuk dan input-input lainnya. Pola tataniaga yang ada di Desa Karanggintung juga menentukan harga dari jagung yang dijual petani. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui pola tataniaga jagung di Desa Karanggintung Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. (2) Mengetahui marjin pemasaran jagung di Desa Karanggintung Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. (3) Mengetahui farmer’s share jagung di Desa Karanggintung Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode survei, dengan mengambil kasus yang ada di Desa Karanggintung Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Periode data yang diambil adalah Musim Tanam Pertama yaitu pada bulan Oktober sampai Maret. Analisis yang digunakan adalah analisis marjin dan farmer’s share. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saluran tata niaga jagung di Desa Karanggintung Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas terdapat tiga saluran yaitu Saluran pertama, petani – pedagang pengumpul – pedagang besar – pedagang pengecer – konsumen. Saluran kedua, petani – pedagang besar – pedagang pengecer – konsumen. Besarnya marjin pada saluran pertama yaitu : pedagang pengumpul ke pedagang besar adalah Rp500,00/kg. Pedagang besar ke pedagang pengecer adalah Rp500,00/kg. Pedagang pengecer ke konsumen adalah Rp1.000,00/kg. Besarnya marjin pada saluran kedua yaitu : pedagang besar ke pedagang pengecer adalah Rp500,00/kg. Pedagang pengecer ke konsumen adalah Rp1.000,00/kg. Farmer’s share pada saluran pertama sebesar 66,67 persen. Farmer’s share pada saluran kedua sebesar 75 persen. | The marketing potential of corn continues to increase; this can be seen from the growing development of the livestock industry, which in turn increases the demand for corn as a mixture of livestock ingredients. Corn is one of the agricultural commodities with high economic value. Weapons that appear to be costly frequently have high marketing costs. The marketing rules in one region are also sometimes different from those in other regions. The same goes for marketing agencies and the effectiveness of the marketing they do. Karanggintung Village is one of the corn-producing villages in Sumbang District. There are three farmer groups in Karanggintung Village that are members of the Ngudi Luhur farmer group. The problem that is often complained about by farmers in Karanggintung village is that prices are uncertain and not comparable to price increases for fertilizer and other inputs. Then the pattern of the trade system in Karanggintung Village also determines the price of shelled corn sold by farmers. The aims of this study were (1) to find out the pattern of corn trade in Karanggintung Village, Sumbang District, Banyumas Regency. (2) Knowing the corn marketing margin in Karanggintung Village, Sumbang District, Banyumas Regency (3) Knowing the corn farmer's share in Karanggintung Village, Sumbang District, Banyumas Regency. This study used the survey method by taking cases in Karanggintung Village, Sumbang District, and Banyumas Regency. The data period taken is the first planting season, which is from October to March. A margin analysis and farmer's share were used. The results showed that there were three channels for the corn trading system in Karanggintung Village, Sumbang District, and Banyumas Regency, namely the first channel: farmers, collectors, wholesalers, retailers, and consumers. Farmers, wholesalers, retailers, and consumers comprise the second channel. The amount of margin on the first channel, namely, collectors to wholesalers, is IDR 500.00/kg. Wholesale to retailers is IDR 500.00/kg. Retailer-to-consumer is IDR 1,000.00/kg. The amount of margin on the second channel, namely, wholesalers to retailers, is IDR 500.00/kg. Retailer-to-consumer is IDR 1,000.00/kg. The farmer's share in the first channel is 66.67 percent. The farmer's share on the second channel is 75 percent. | |
| 36273 | 39279 | A1A115005 | ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN LAPIS TALAS BOGOR SANGKURIANG (STUDI KASUS PADA KONSUMEN LAPIS TALAS BOGOR SANGKURIANG DI KOTA BOGOR) | Lapis talas Bogor merupakan produksi rumahan yang cukup populer di Bogor. Pengusaha berusaha meningkatkan preferensi konsumen melalui inovasi pada atribut produk untuk meningkatkan keputusan pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui atribut preferensi konsumen terhadap produk Lapis Talas Bogor Sangkuriang. Atribut preferensi memengaruhi keputusan pembelian produk Lapis Talas Bogor Sangkuriang, dan atribut preferensi konsumen yang paling dominan dalam memengaruhi keputusan pembelian Lapis Talas Bogor Sangkuriang. Metode yang digunakan adalah survey. Hasil penelitian ini adalah atribut yang dipertimbangkan konsumen dalam pembelian Lapis Talas Bogor Sangkuriang di Kota Bogor yaitu kemasan, rasa, harga, warna, daya tahan, keamanan, dan label halal. Sebaliknya, daya tahan produk merupakan atribut yang paling dominan dalam Lapis Talas Bogor Sangkuriang di Kota Bogor. Preferensi konsumen terhadap atribut Lapis Talas Bogor Sangkuriang di Kota Bogor adalah konsumen menyukai Lapis Talas Bogor yang memiliki daya tahan 1 minggu, kemasan produk yang kuat dan terdapat info nilai gizi, harga produk sebesar Rp. 31.000,- – Rp. 36.000,- , warna produk original (ungu), keamanan produk yang terjamin BPOM, terdapat label halal pada kemasan produk, dan memiliki rasa produk yang orginal. | Lapis taro Bogor is a home product that is quite popular in Bogor. Entrepreneurs try to increase consumer preferences through innovation on product attributes to improve purchasing decisions. This study aimed to determine consumer preferences for Sangkuriang Bogor Taro Layer products. Attribute preferences influence purchasing decisions for Bogor Sangkuriang Taro Layer products, and consumer preference attributes are the most dominant in influencing consumer decisions to purchase Bogor Sangkuriang Taro Layers. The method used is a survey. The results of this study are the attributes consumers consider buying at Bogor Sangkuriang Taro Layer in Bogor City: packaging, taste, price, color, durability, safety, and halal labels. In contrast, product durability is the most dominant attribute in purchasing Bogor Sangkuriang Taro Layer in Bogor City. Consumer preferences for attributes at Bogor Sangkuriang Taro Layer in Bogor City are that consumers like Bogor Taro Layer, which has a shelf life of one week, strong product packaging, and contains information on nutritional value, the product price is Rp. 31.000,- – Rp. 36.000,-, original product color (purple), product safety guaranteed by BPOM, there is a halal label on the product packaging, and has an original product taste. | |
| 36274 | 39280 | J1A017013 | Language Features of Men and Women in Hidden Figures Movie | Penelitian ini menyelidiki fitur bahasa pria dan wanita yang digunakan oleh karakter utama pada film Hidden Figures. Ada dua masalah yang dianalisis dengan mengidentifikasi fitur kebahasaan pria dan wanita yaitu (1) jenis fitur bahasa pria dan wanita yang digunakan dalam film Hidden Figures berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Tannen (1990) dan (2) bagaimana fitur bahasa pria dan wanita menunjukkan diskriminasi gender dalam film Hidden Figures menggunakan teori Walby (1990). Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang mana menjelaskan data dalam bentuk tertulis dan dianalisis secara deskriptif. Data diambil dari percakapan yang diucapkan oleh karakter utama film Hidden Figures dan naskahnya untuk mendapatkan ucapan yang tepat. Kemudian, data diidentifikasi dan dianalisis berdasarkan jenis fitur bahasa pria dan wanita berdasarkan teori Tannen (1990). Selanjutnya, data terpilih dianalisis berdasarkan pengaruh teori diskriminasi gender yang dikemukakan oleh Walby (1990). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua jenis fitur bahasa pria dan wanita digunakan oleh karakter utama film Hidden Figures, yaitu status vs support, independence vs intimacy, advice vs understanding, information vs feeling, order vs proposal, dan conflict vs compromise. Gendet diskriminasi yang ditunjukkan dari fitur bahasa pria dan wanita adalah marginalisasi dan subordinasi. | This research investigated the language features of men and women language used by the main characters of Hidden Figures movie. There were two problems analyzed by identifying language features of men and women. They were (1) the types of men and women language features used in the movie Hidden Figures based on the theory proposed by Tannen (1990) and (2) how men and women language features show gender discrimination in Hidden Figures movie by using Walby’s (1990) theory. The design used in this research was qualitative descriptive, which explained the data in form written that was descriptively analyzed. The data were taken from the conversations uttered by the main characters of Hidden Figures movie and its script in order to get exact utterance. Then, the data were identified and analyzed based on the types of men and women language features based on Tannen's theory (1990). Furthermore, the selected data were analyzed based on effect of gender discrimination theory proposed by Walby (1990). The findings show that all types of men and women language features were used by the main characters of Hidden Figures movie. They are status vs support, independence vs intimacy, advice vs understanding, information vs feeling, order vs proposal, and conflict vs compromise. The gender discriminations showed by men and women language feature were marginalization and subordination. | |
| 36275 | 39281 | I1B019060 | Hubungan Tingkat Pengetahuan Mahasiswa profesi ners Universitas Jenderal Soedirman Dengan Self Efficacy Terhadap Penerapan Bantuan Hidup Dasar Pada Kasus Henti Jantung | Latar Belakang: Henti jantung merupakan fenomena yang dapat terjadi pada siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Salah satu tindakan untuk menangani henti jantung adalah dengan memberikan bantuan hidup dasar (BHD). Mahasiswa profesi ners sebagai salah satu bystander dan calon tenaga kesehatan, perlu memerhatikan hal krusial seperti pengetahuan dan self efficacy sebagai dasar melakukan BHD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan self efficacy terhadap penerapan bantuan hidup dasar pada kasus henti jantung. Metodologi: Jenis penelitian ini yaitu cross sectional, pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah 70 mahasiswa profesi ners usia < 27 tahun. Instrument penelitian menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan dan self efficacy yang dimodifikasi. Uji analisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil Penelitian: Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata usia responden yaitu 22,64 tahun, (92,9%) mayoritas berjenis kelamin perempuan, (81,4%) pernah menjumpai kasus henti jantung, (61,4%) pernah melakukan tindakan BHD. Tingkat pengetahuan responden dalam kategori baik dengan persentase (64,3%) dan self efficacy dalam kategori tinggi dengan median 63,5 (kategori dalam skor >52). Hasil uji korelasi Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan dengan nilai p = 0,026 dan nilai koefisien 0,266). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan mahasiswa profesi ners dengan self efficacy terhadap penerapan bantuan hidup dasar pada kasus henti jantung. | Background: Cardiac arrest is a phenomenon that can happen to anyone, anywhere, and anytime. One of the actions to handle cardiac arrest is to provide basic life support (BHD). Nursing profession students as one of the bystanders and prospective health workers, need to pay attention to crucial things such as knowledge and self efficacy as a basis for performing BHD. This study aims to determine the relationship between knowledge level and self-efficacy towards the application of basic life support in cardiac arrest cases. Methods: This type of research is cross sectional, sampling using total sampling with a total of 70 nursing profession students aged < 27 years. The research instrument used a modified knowledge level and self-efficacy questionnaire. The analysis test used the Spearman Rank correlation test. Result: The results of this study showed that the average age of respondents was 22,64 years, (92,9%) the majority were female, (81,4%) had encountered cardiac arrest cases, (61,4%) had performed BLS actions. The level of knowledge of the respondents was in the good category with a percentage of (64,3%) and self efficacy in the high category with a median of 63,5 (category in score >52). The results of the Spearman Rank correlation test showed a significant relationship with a p value = 0,026 and a coefficient value of 0,266). Conclusion: There is a significant relationship between the level of knowledge of nursing professional students and self-efficacy towards the application of basic life support in cardiac arrest cases. Keywords: BLS, Cardiac arrest, knowledge, nursing profession students, self efficacy | |
| 36276 | 39284 | I1B019013 | Pengaruh Edukasi Kesehatan Menggunakan Media TikTok Terhadap Pengetahuan dan Sikap Pencegahan Anemia Pada Remaja Putri Di SMAN 1 Baturraden | Latar belakang : Anemia merupakan kurangnya jumlah sel darah merah atau hemoglobin dalam tubuh. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan anemia adalah kurangnya pengetahuan, sehingga dapat ditingkatkan dengan edukasi kesehatan yaitu TikTok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan menggunakan media TikTok terhadap pengetahuan dan sikap pencegahan anemia pada remaja putri di SMAN 1 Baturraden. Metodologi : Penelitian ini merupakan kuantitatif dengan desain pre and posttest with control group design. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, didapatkan sampel sebanyak 33 siswa pada kelompok intervensi dan kontrol. Analisis data yang digunakan adalah Uji Wilcoxon, Paired T-test, Mann Whitney dan Independent T-test. Hasil Penelitian : Diperoleh nilai tengah usia responden 16 tahun. Terdapat perbedaan bermakna pada pengetahuan dan sikap pencegahan anemia pada remaja putri antara kelompok intervensi dan kontrol (p=0,000). Terdapat perbedaan bermakna pengetahuan dan sikap pencegahan remaja putri mengenai anemia pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah diberikan intervensi dengan (p=0,000) dan (p=0,000), pada kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan bermakna pengetahuan dan sikap pencegahan anemia pada remaja (p=0,485) dan (p=0,174). Kesimpulan : Terdapat pengaruh edukasi kesehatan menggunakan media TikTok terhadap pengetahuan dan sikap pencegahan anemia pada remaja putri. | Background :Anemia is a lack of red blood cells or hemoglobin in the body. One of the factors that can cause anemia is a lack of knowledge, so that it can be improved by health education, namely TikTok. This study aims to determine the effect of health education using the media TikTok on the knowledge and attitude of prevention of anemia in young women at SMAN 1 Baturraden. Methodology : This research is a quantitative by designpre and posttest with control group design. Sampling using purposive sampling, a sample of 33 students was obtained in the intervention and control groups. Data analysis used is Test Wilcoxon, Paired T-test, Mann Whitney and Independent T-test. Research result :Obtained the median age of the respondent 16 years. There were significant differences in the knowledge and attitude of preventing anemia in female adolescents between the intervention and control groups (p=0.000). There were significant differences in knowledge and attitudes towards prevention of anemia among female adolescents in the intervention group before and after the intervention with (p=0.000) and (p=0.000), in the control group there were no significant differences in knowledge and attitudes towards prevention of anemia in adolescents (p=0.485) and (p=0.174). Conclusion : There is the influence of health education using the media TikTok on knowledge and attitude of prevention of anemia in young women. | |
| 36277 | 39282 | I1B019043 | Hubungan Dukungan Sosial Perawat terhadap Kualitas Hidup Pasien Kanker yang Menjalani Kemoterapi di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo | Latar Belakang: Kanker adalah salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab kematian di dunia. Dukungan sosial menjadi unsur penting untuk diberikan pada pasien kanker karena dapat meningkatkan kesejahteraan hidup bagi pasien yang bersangkutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dukungan sosial perawat terhadap kualitas hidup pasien kanker yang menjalani kemoterapi di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study dengan analitik korelasi, pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling dengan purposive sampling yang berjumlah 61 responden. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner EORTC QLQ C-30 untuk mengukur kualitas hidup dan kuesioner dukungan sosial perawat. Analisis data menggunakan uji Somers’d. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan sosial perawat terhadap kualitas hidup pasien kanker yang menjalani kemoterapi dengan nilai p value 0,311 (p>0,05). Kesimpulan: tidak terdapat hubungan antara dukungan sosial perawat terhadap kualitas hidup pasien kanker yang menjalani kemoterapi di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. | Background: Cancer is one of the non-communicable diseases which is the cause of death in the world. Social support is an important element to be given to cancer patients because it can improve the welfare of the patient concerned. This study aims to analyze the relationship of nurses' social support to the quality of life of cancer patients undergoing chemotherapy in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Methodology: This study was using a cross sectional study design with correlation analysis,subject was selected by using non-probability sampling technique with purposive sampling of 61 respondents. EORTC QLQ C-30 and nurse's social support instrument was used in this study. Data was analyzed with the Somers'd test. Results: The results showed that there was no significant relationship between the social support of nurses and the quality of life of cancer patients undergoing chemotherapy with p value 0,311 (p>0,05). Conclusion: There is no relationship between the social support of nurses on the quality of life of cancer patients undergoing chemotherapy in RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. | |
| 36278 | 39283 | I1B019021 | FAKTOR RISIKO PERSALINAN CESAREAN SECTION DAN ASFIKSIA NEONATORUM TERHADAP KEJADIAN HIPERBILIRUBINEMIA DI RSUD BANYUMAS | ABSTRAK PERBEDAAN FAKTOR RISIKO ANTARA PERSALINAN CESAREAN SECTION DAN ASFIKSIA NEONATORUM TERHADAP KEJADIAN HIPERBILIRUBINEMIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD BANYUMAS Nila Azizatul Mudawammah1, Haryatiningsih Purwandari2, Meivita Dewi Purnamasari3 Latar Belakang : Angka kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir cukup tinggi, namun masih terdapat perbedaan hasil penelitian terkait hubungan persalinan cesarean section dan asfiksia neonatorum terhadap kejadian hiperbilirubinemia. Tujuan penelitian : Untuk menemukan perbedaan peluang faktor persalinan cesarean section dan asfiksia neonatorum dalam mempengaruhi kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir. Metodologi : Penelitian ini menggunakan desain kasus-kontrol bersifat retrospektif dengan convenience sample. Sampel ini menggunakan data rekam medis bulan Juni – Oktober 2022 di RSUD Banyumas. Data rekam medis berjumlah 78 data namun yang dianalinis hanya 37 bayi hiperbilirubinemia dan 39 tidak hiperbilirubinemia kerena terdapat 2 data rekam medis yang tidak memiliki kelengkapan data. Analisis data menggunakan analisis univariat, analisis bivariat dengan uji Chi-Square, dan menentukan besarnya hubungan dengan Odds Ratio. Hasil Penelitian : Secara deskriptif terdapat perbedaan peluang faktor persalinan cesarean section (1,366 kali) dan asfiksia neonatorum (1,077 kali) dalam memengaruhi kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir tetapi tidak signifikan. Kesimpulan : Terdapat perbedaan peluang faktor persalinan cesarean section dan asfiksia neonatorum dalam memengaruhi kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir. Kata Kunci : asfiksia neonatorum, cesarean section, hiperbilirubinemia 1 Mahasiswa Jurusan Keperawatan, FIKes, Universitas Jenderal Soedirman 2, 3 Departemen Keperawatan, FIKes, Universitas Jenderal Soedirman | ABSTRACT RISK FACTOR DIFFERENCES BETWEEN DELIVERY CESAREAN SECTION AND NEONATORUM ASPHIXIA ON HYPERBILIRUBINEMIA IN NEWBORN INFANTS IN BANYUMAS HOSPITAL Nila Azizatul Mudawammah1, Haryatiningsih Purwandari2, Meivita Dewi Purnamasari3 Background : The incidence of hyperbilirubinemia in newborns is quite high, but there are still differences in the results of studies related to child birth cesarean section and neonatal asphyxia to the incidence of hyperbilirubinemia. Research purposes : To find differences in the probabilities of factors of delivery cesarean section and neonatal asphyxia in influencing the incidence of hyperbilirubinemia in newborns. Methodology : This study used a retrospective case-control designconvenience sample. This sample uses medical record data from June to October 2022 at Banyumas Hospital. There were 78 medical record data but only 37 hyperbilirubinemia babies were analyzed and 39 were not hyperbilirubinemia because there were 2 medical record data that did not have complete data. Data analysis used univariate analysis, bivariate analysis with test Chi-Square, and determine the magnitude of the relationship with Odds Ratio. Research result : Descriptively there are differences in the probabilities of factors of deliverycesarean section (1.366 times) and neonatal asphyxia (1.077 times) in influencing the incidence of hyperbilirubinemia in newborns but not significant. Conclusion : There are differences in the probabilities of delivery factorscesarean section and neonatal asphyxia in influencing the incidence of hyperbilirubinemia in newborns. Keywords : asphyxia neonatorum,cesarean section, hyperbilirubinemia 1 Student of Nursing Department, Faculty of Health Science, Jenderal Soedirman University 2,3 Nursing Department, Faculty of Health Science, Jenderal Soedirman University | |
| 36279 | 39285 | I1B019039 | HUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN SMARTPHONE DENGAN KUALITAS TIDUR REMAJA DI MTSN 6 CIAMIS | Latar belakang: Intensitas penggunaan smartphone terdiri dari frekuensi serta durasi dari penggunaan smartphone. Penggunaan smartphone memberikan pancaran cahaya light-emitting diode yang dapat menurunkan produksi hormon melatonin sehingga menunda waktu tidur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas penggunaan smartphone dengan kualitas tidur pada remaja. Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan metode analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan sampel menggunakan teknik total sampling pada 101 siswa. Instrumen penelitian kuesioner PSQI dan kuesioner intensitas penggunaan smartphone. Analisis data univariat dan bivariat menggunakan uji pearson. Hasil: Didapatkan nilai p=0,135 dan r=0,150, artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara intensitas penggunaan smartphone dengan kualitas tidur dengan kekuatan korelasi sangat lemah dan arah hubungan positif. Kesimpulan: Intensitas penggunaan smartphone tidak memiliki hubungan yang bermakna terhadap kualitas tidur pada remaja. | Background: The intensity of smartphone use consists of the frequency and duration of smartphone use. The use of smartphones provides light-emitting diode light that can reduce the production of the hormone melatonin, thus delaying sleep. This study aims to determine the relationship between the intensity of smartphone use and sleep quality in adolescents. Methods: Quantitative research using correlation analytic method with cross sectional approach. Sample collection using total sampling technique on 101 MTsN 6 Ciamis students. Research instruments PSQI questionnaire and smartphone usage intensity questionnaire. Univariate and bivariate data analysis using the pearson test. Results: The p=0.135 and r=0.150 values were obtained, meaning that there was no significant relationship between the intensity of smartphone use and sleep quality with a very weak correlation strength and positive relationship direction. Conclusion: The intensity of smartphone use does not have a meaningful relationship to sleep quality in adolescents. | |
| 36280 | 39286 | I1B019077 | GAMBARAN READMISI PASIEN CHF BERDASARKAN NILAI LACE DI RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO | Latar Belakang: CHF merupakan penyakit kardiovaskular dimana banyak penderitanya harus mengalami readmisi karena kekambuhan yang dialami. Penelitian bertujuan untuk menggambarkan readmisi pasien CHF berdasarkan Nilai LACE di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kohort retrospektif di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode sampling yang digunakan yaitu total sampling dengan populasi sebesar 44 pasien CHF yang mengalami readmisi sejak bulan Januari 2021 hingga bulan Desember 2022. Variabel yang diteliti berupa usia, jenis kelamin, readmisi pasien CHF, nilai length of stay,acuity of admission, co-morbidities dan emergency department visits. Pengumpulan data menggunakan data rekam medis pasien. Analisa data menggunakan analisis univariat. Hasil Penelitian: Rata-rata usia pasien yaitu 55 tahun dan lebih banyak terjadi pada pasien laki-laki sebanyak 31 pasien (70,5%). Dari total pasien 31 pasien mengalami readmisi sebanyak satu kali dalam setahun, rata-rata jumlah length of stay pasien yaitu delapan hari, 100% pasien memiliki gejala akut CHF. Kunjungan IGD terbanyak yaitu dua kali kunjungan. Nilai LACE pasien yaitu 27 pasien (61,4%) memiliki kriteria risiko tinggi readmisi. Kesimpulan: Rata-rata pasien CHF yang mengalami readmisi yaitu berusia 55 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Mayoritas pasien memiliki kriteria risiko tinggi readmisi. | Background: Many CHF patients have to repeatedly treated in hospitals due to severe relapses. This research aims to describe the readmission of CHF patients based on the LACE value in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital Purwokerto. Methodology: This research is a descriptive study with cohort retrospective desain at Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital Purwokerto. The sampling method used was total sampling with a population of 44 CHF patients who had been readmitted from January 2021 until December 2022. The variables of this research include age, gender, readmission of CHF patients, the length of stay, the acuity of admission, co-morbidities, and emergency department visits. The data collection used medical records patients. Data analysis using univariate analysis. Result: The average age of CHF patients who were readmitted was 55 years, and more occurred in male patients, as many as 31 patients (70,5%). From the 44 patients readmitted, 31 had readmission once a year; the average length of stay for CHF patients was 8 days; and 100% of CHF patients had acute CHF symptoms. The average emergency department visit patients are twice. The patients’ LACE values were 27 patients in high-risk criteria (61,4%). Conclusion: The average CHF patient who has been readmitted is 55 years old and male. Most patients have high-risk criteria for readmission. |