Artikelilmiahs

Menampilkan 33.961-33.980 dari 49.956 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
3396137953J1D016036Majas dan Citraan dalam kumpulan puisi Menenun Rinai Hujan” karya Sapardi Djoko Damono Puisi ialah jenis karya sastra dengan relasi yang kuat dengan aturan-aturan spesifik seperti irama, rima serta penyusun bait dan juga baris yang mana bahasanya nampak indah dan juga penuh dengan makna. Majas-majas yang terdapat dalam kaidah puisi akan memberikan arti yang menarik karena memiliki keindahan yang beragam. Selain majas terdapat juga citraan sebagai unsur pembangun puisi. Guna tercapai kesinambungan maksud, pengalaman pembaca juga menjadi bagian dari sebuah proses pemahaman puisi. Masalah dalam penelitian ini adalah (1) Apa saja majas yang terdapat dalam kumpulan puisi “Menenun Rinai Hujan” karya Sapardi Djoko Damono, (2) Apa saja jenis citraan dalam kumpulan puisi “Menenun Rinai Hujan” karya Sapardi Djoko Damono. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Mendeskripsikan majas yang dipakai Sapardi Djoko Damono dalam kumpulan puisi “Menenun Rinai Hujan”.
(2) Mendeskripsikan citraan yang dipakai Sapardi Djoko Damono dalam kumpulan puisi “Menenun Rinai Hujan”.
Bentuk penelitian adalah deskriptif kualitatif, yaitu suatu penelitian yang hanya menggambarkan fakta-fakta yang diteliti dan dimaksudkan untuk pengukuran yang cermat terhadap fenomena tertentu. Dalam mengoleksi data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tekni simak, catat dengan menggunakan purposive sampling.
Hasil dari penelitian ini adalah ditemukan majas dan citraan pada sepuluh puisi yang terpilih dalam buku kumpulan puisi “Menenun Rinai Hujan” karya Sapardi Djoko Damono. Majas yang ditemukan meliputi majas personifikasi, majasidiom, majas sinisme, majas simile, majas metafora, majas ironi dan majas sarkasme. Selain itu terdapat majas lain yang ditemukan yakni majas retoris atau retorika dan majas pleonasme. Majas yang dominan atau sering muncul yakni majas personifikasi. Citraan yang ditemukan pada sepuluh puisi yang terpilih dalam buku kumpulan puisi “Menenun Rinai Hujan” karya Sapardi Djoko Damono meliputi citraan gerak, citraan penglihatan, citraan perasaan, citraan pendengaran, citraan perabaan dan citraan pencecapan. Citraan yang dominan atau sering muncul yakni citraan penglihatan.


Poetry is a form of literary work that is bound by certain rules, such as rhythm, rhyme, and composition of stanzas and lines in which they compose language beautifully and meaningfully. The meaning effect produced by the figure of speech in poetry will make poetry an interesting work of art since it has a different and unique beauty value. In addition to figures of speech, there is also imagery as a building element for poetry. In order to achieve continuity of intent, the reader's experience is also part of the process of understanding poetry. The problems in this research are (1) What are the figures of speeches contained in the collection of poetry “Menenun Rinai Hujan” by Sapardi Djoko Damono, (2) What are the types of imagery in the collection of poetry “Menenun Rinai Hujan” by Sapardi Djoko Damono. The objectives of this study are as follows: (1) To describe the figure of speech used by Sapardi Djoko Damono in the collection of poems “Menenun Rinai Hujan”. (2) To describe the imagery used by Sapardi Djoko Damono in the collection of poems “Menenun Rinai Hujan”.
This research method is a descriptive qualitative, which is a research that only describes the facts under study and is intended for careful measurement of certain phenomena. Data collection techniques used in this study, including listening techniques, note-taking techniques and purposive sampling.
The result of this research is found in the figure of speech and imagery in ten selected poems in the book collection of poems "Menenun Rinai Hujan" by Sapardi Djoko Damono. The figure of speech found included personification, idiom, cynicism, simile, metaphor, irony, and sarcasm. In addition, there are other figures of speech found, a namely rhetorical figure of speech or rhetoric and figure of speech pleonasm. The dominant figure of speech often appears as a personification figure of speech. The imagery found in the ten selected poems in the book collection of poems "Menenun Rinai Hujan" by Sapardi Djoko Damono includes motion images, visual images, feeling images, auditory images, tactile images, and tasting images. The dominant image that often appears is the visual image.



3396236983K1A018055PENGARUH PENAMBAHAN PLASTICIZER SORBITOL TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIK BIOPLASTIK DARI KOMPOSIT PATI KULIT SINGKONG DAN SELULOSA AMPAS TEBU (Baggase)Plastik yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari berupa polyolefin (polietilen dan polipropilen) yang sulit terdegradasi oleh mikroorganisme sehingga menyebabkan dampak negatif bagi lingkungan. Penelitian mengenai bahan dasar pembuatan bioplastik telah dilakukan menggunakan kulit singkong. Kulit singkong memiliki kandungan pati sebesar 15-20% dari 100 g kulit singkong yang dapat digunakan untuk bahan baku pembuatan bioplastik. Selulosa ampas tebu dan plasticizer sorbitol ditambahkan untuk memperbaiki sifat bioplastik yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dan mekanik, serta mengetahui penurunan berat pada bioplastik berbahan dasar pati kulit singkong dan selulosa ampas tebu dengan penambahan variasi konsentrasi plasticizer sorbitol. Variasi konsentrasi plasticizer sorbitol yang digunakan adalah 0, 30, 45, dan 60%. Parameter yang diamati yaitu ketebalan, densitas, kadar air, daya serap air, kuat tarik, elongasi, modulus Young, dan uji biodegradasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi plasticizer sorbitol berpengaruh terhadap ketebalan, densitas, elongasi, modulus Young, dan uji biodegradasi. Hasil penelitian ini diperoleh nilai ketebalan sebesar 0,169-0,232 mm, densitas sebesar 0,82-0,94 g/cm3, kadar air sebesar 12,61-15,43%, daya serap air sebesar 7,9-32,30%, kuat tarik sebesar 5,32-10,51 MPa, elongasi sebesar 2,35-34,75%, dan modulus Young sebesar 0,15-3,69 MPa. Persentase penurunan berat bioplastik rata-rata setelah hari ke-10 yaitu 71,24-100%.
Kata kunci: biodegradasi, bioplastik, kulit singkong, selulosa, sorbitol
Plastics used in everyday life are polyolefins (polyethylene and polypropylene) which are difficult to degrade by microorganisms, causing negative impacts on the environment. Research on the basic ingredients for making bioplastics has been carried out using cassava peels. Cassava peel has a starch content of 15-20% of 100 g of cassava peel which can be used as raw material for making bioplastics. Bagasse cellulose and sorbitol plasticizer were added to improve the bioplastic properties produced. This study aims to determine the physical and mechanical properties, as well as to determine the weight loss of bioplastics made from cassava peel starch and bagasse cellulose with the addition of variations in the concentration of the plasticizer sorbitol. The concentration variations of the sorbitol plasticizer used were 0, 30, 45, and 60%. Parameters observed were thickness, density, moisture content, water absorption, tensile strength, elongation, Young's modulus, and biodegradation test. The results showed that the addition of the concentration of sorbitol plasticizer had an effect on thickness, density, elongation, Young's modulus, and biodegradation tests. The results of this study obtained a thickness value of 0.169-0.232 mm, a density of 0.82-0.94 g/cm3, water content of 12.61-15.43%, water absorption of 7.9-32.30% , tensile strength of 5.32-10.51 MPa, elongation of 2.35-34.75%, and Young's modulus of 0.15-3.69 MPa. The percentage of bioplastic weight loss on average after the 10th day was 71.24-100%.
Keywords: biodegradation, bioplastic, cassava peel, cellulose, sorbitol
3396337954D1A016252Hubungan Antara pendidikan dan lama beternak dengan pengetahuan peternak tentang pakan sapi perah di kabupaten banyumas Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pendidikan dan lama beternak dengan pengetahuan peternak tentang pakan sapi perah di Kabupaten Banyumas. Sasaran penelitian adalah peternak sapi perah di Kabupaten Banyumas. Penelitian menggunakan metode survey. Metode penetapan sampel dilakukan menggunakan purposive random sampling dengan mengambil responden peternak sapi perah di dua wilayah di Kabupaten Banyumas yang memiliki jumlah peternak yang banyak yaitu Desa Tumiyang di Kecamatan Pekuncen dan Desa Karang Tengah di Kecamatan Cilongok. Penetapan responden dilakukan secara acak dan penetapan jumlah responden dilakukan menggunakan rumus slovin dengan margin of error 10% diperoleh responden sebanyak 60 peternak. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukan tingkat pendidikan peternak dalam kategori rendah dengan rata-rata pendidikan 8 tahun, rata-rata lama beternak selama 13 tahun, dan pengetahuan peternak tentang pakan sapi perah termasuk dalam kategori sedang. Nilai korelasi spearman antara pendidikan peternak dan lama beternak dengan pengetahuan peternak tentang pakan sapi perah masing-masing menunjukan nilai sebesar 0,338 dan 0,318 serta memiliki hubungan yang signifikan.The purpose of this study was to determine the relationship between farmer education and length of time farming with the knowledge of farmers about dairy cattle’s feed in Banyumas Regency. The research target was dairy farmers in Banyumas Regency. The sampling method used was purposive random sampling by taking dairy farmers as respondents in two areas in Banyumas Regency which have a lot of farmers, namely Tumiyang Village in Pekuncen District and Karang Tengah Village in Cilongok District. Determination of respondents randomly and amount of respondents using slovin formula with a margin of error 10% obtained as many as 60 farmers. The analytical methods were used descriptive analysis and rank spearman correlation. The results showed that the farmers education level was in a low category with the average is 8 years, the average length of breeding for dairy farmers was 13 years, and the knowledge of farmers about dairy cattle’s feed was in the medium category. The spearman correlation value between farmer education and length of time farming with the knowledge of farmers about dairy cattle’s feed shwos value of 0,338 and 0,318 with the results showed was a significant relationship.
3396436941H1D017030APLIKASI PELAPORAN PENGGUNAAN ANGGARAN PERJALANAN DINAS BERBASIS ANDROID DI PT LAWANG SEWU TEKNOLOGISetiap penugasan perjalanan dinas memiliki keperluan yang berbeda. Selain keperluan, terdapat perbedaan juga dari delegasi dan anggaran yang disediakan. Penugasan perjalanan dinas menggunakan Surat Perintah Tugas sebagai dasar atau landasan dalam pelaksanaan perjalanan dinas yang berisi delegasi, anggaran, dan keperluan perjalanan dinas. Dalam pelaksanaannya, delegasi akan menggunakan uang yang telah dianggarkan sebelumnya dan dicatat penggunaannya saat kegiatan perjalanan dinas sedang berlangsung. Untuk mempermudah proses tersebut diperlukan aplikasi untuk mengelola informasi pengeluaran anggaran perjalanan dinas. Selain hal tersebut juga dapat memberikan tambahan anggaran pada perjalanan dinas dan laporan keuangan perjalanan dinas. Dari yang telah disebutkan dapat dibuatkan aplikasi berbasis android yang nantinya akan mempermudah pengguna untuk mengakses terkait penugasan dan pelaporan keuangan perjalanan dinas.Every business trip assignment has different necessity. There is also difference in delegation and the provided budget. Business trip assignment has assignment letter as the base of the delegation, budget, and needs of the trip itself. Delegation will spend the provided budget and the usage will be noted while the business trip is proceeding. Using an application to manage the expense of the business trip will surely ease the process. Also the application can be made with some extra features like budget addition and business trip expense reporting. Based on the explanation above, making of android based application will make it easier for users to access assignment and expense report of the business trip.
3396536984I1A018064FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KELELAHAN MATA SAAT PEMBELAJARAN DARING PANDEMI COVID-19 PADA GURU SMA DI KECAMATAN MUSTIKA JAYA KOTA BEKASI Latar Belakang: Kelelahan mata merupakan gangguan penglihatan akibat penggunaan komputer dalam waktu yang lama. Pandemi Covid-19 menyebabkan pergantian pembelajaran menjadi dalam jaringan (daring). Guru dapat mengalami kelelahan mata akibat penggunaan komputer saat mengajar daring. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap kelelahan mata saat pembelajaran daring pandemi Covid-19 pada Guru SMA di Kecamatan Mustika Jaya Kota Bekasi.

Metode: Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini sebanyak 179 guru SMA di Kecamatan Mustika Jaya Kota Bekasi, jumlah sampel sebanyak 129 orang (purposive sampling). Pengumpulan data menggunakan wawancara dengan kuesioner dan observasi dengan lembar observasi. Data dianalisis dengan menggunakan Uji Regresi Logistik Ganda.

Hasil Penelitian: Variabel yang berpengaruh adalah kelainan refraksi (0,015), lama paparan (0,039), istirahat mata (0,032), dan intensitas pencahayaan (0,035). Variabel yang tidak berpengaruh adalah umur (0,590), lama tidur (0,160), riwayat penyakit (0,143), jarak pandang (0,295), dan tinggi monitor (0,164).

Simpulan: Variabel yang berpengaruh adalah kelainan refraksi (0,015), lama paparan (0,039), istirahat mata (0,032), dan intensitas pencahayaan (0,035). Variabel yang paling berpengaruh adalah kelainan refraksi (0,015) dan OR 2,95.

Saran: Melakukan pemeriksaan mata rutin, istirahat mata dengan teknik 20/20/20, menambah sumber penerangan.

Kata Kunci: Kelelahan Mata, Guru, Pembelajaran Daring, Covid-19, Kelainan Refraksi
Background: Eye fatigue is a visual impairment caused by using computer for a long time. Pandemic Covid-19 causes a change for education to online based learning. Tearchers can have eye fatigue cause using computer when do an online based learning. The purpose of this study was to determine factors that influence eye fatigue during online based learning pandemic Covid-19 among teachers in Mustika Jaya, Bekasi.

Methods: This research was analytic observation with cross-sectional design. The population of this research were 179 teachers in Mustika Jaya, Bekasi, the sample were 129 teachers (purposive sampling).This data collection method use an a questionnaire and observation sheet. Data was analyzed by Logistic Regression Test.

Research and Results: The infuential variable are refractive error (0,015), exposure time (0,039), break time (0,032), and lighting intensity (0,035). The variable has no effect are age (0,590), duration of sleep (0,160), medical history (0,143), distance between eyes and object (0,295), and monitor height (0,164).

Conclusion: The infuential variable are refractive error (0,015), exposure time (0,039), break time (0,032), and lighting intensity (0,035). The most infuential variable was refractive error (0,015) and OR 2,95.

Suggestion: Routine eye examinations check, break time with 20/20/20 technique, and add lighting sources.

Keyword: Eye Fatigue, Teachers, Online Based Learning, Covid-19, Refractive Error
3396636986I1A018026GAMBARAN KARAKTERISTIK PENYINTAS COVID-19 DI WILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS TANJUNG BINGA KABUPATEN BELITUNGLatar Belakang: COVID-19 merupakan penyakit pernafasan yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARSCoV-2). Jumlah kasus COVID-19 terus meningkat dan menyebar di seluruh daerah Indonesia, termasuk Kabupaten Belitung. Salah satu puskesmas dengan kasus COVID-19 tertinggi di Kabupaten Belitung yaitu Puskesmas Tanjung Binga, dikarenakan wilayah kerjanya merupakan kawasan wisata, sehingga resiko penyebaran virus cukup tinggi. COVID-19 dapat menginfeksi siapa saja, akan tetapi terdapat beberapa karakteristik dari penyintas COVID-19 yang dapat menyebabkan rentan untuk terinfeksi COVID-19 dan mengalami perburukan.

Metodologi: penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan crossectional. Pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling dengan sampel sebanyak 155 orang penyintas COVID-19. Pengambilan
data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisis data dengan menggunakan analisis univariat.

Hasil Penelitian: penyintas COVID-19 rata-rata berusia 47 tahun, perempuan (58,1%), tamat SMU/SMK (38,7%), tidak bekerja (43,2%), bergolongan darah A
(41%), mempunyai komorbid hipertensi (35%), menjalani isolasi mandiri (81%) selama 10-14 hari, gejala yang paling banyak dialami adalah batuk (31%), dan mengonsumsi obat simptomatik (37%). Sebagian besar mengalami post COVID-19 condition (52%) dan merasakan kelelahan (33%) yang berlangsung selama 3-12 minggu. Kepatuhan dalam penerapan protokol kesehatan masih kurang baik (52%). Dukungan keluarga tinggi (64%). Stigma negatif dari masyarakat tinggi (55%). Peran tenaga kesehatan sudah baik (69,0%).

Saran: penyintas COVID-19 harus selalu menjaga pola hidup sehat dan patuh dalam menerapkan protokol kesehatan, serta untuk penyintas COVID-19 dengan komorbid harus selalu menjaga kewaspadaan diri selama pandemi dikarenakan lebih rentan terhadap infeksi virus dan perburukan
Background: COVID-19 is a respiratory disease caused by Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). The number of COVID-19 cases continues to increase and spread all over the Indonesian area, including Belitung Regency. One of the puskesmas with the highest COVID-19 cases in
Belitung Regency is the Puskesmas Tanjung Binga, because the region work is a travel area, so the risk of spreading the virus is quite high. COVID-19 can indeed
infect anyone, but there are several characteristics of COVID-19 survivors who are susceptible to being infected with COVID-19 and experiencing severity.

Methods: this research is a quantitative descriptive study with a cross-sectional approach. Sampling used proportional random sampling so that a sample of 155
COVID-19 survivors was obtained. Data collection will be obtained from a questionnaire. Data analysis was performed using univariate analysis.

Results: the average age of survivors of COVID-19 is 47 years, majority female (58,1%), graduated from high school/vocational high school (38.7%), no work
(43,2%), group blood A (41%), has comorbid hypertension (35%), underwent self-isolation in private homes (80.6%) for 10-14 days, most symptoms experienced is cough (31%), and consuming symptomatic drugs (37%). Most of the COVID-19
survivors had post COVID-19 conditions (51.6%) and feeling fatigued (33%) which lasted for 3-12 weeks. Compliance in the application of health protocols is still not good (52%). The family support is already high (64%). Negative stigma from the community is high (55%). The role of health workers is good (69.0%).

Suggestion: COVID-19 survivors must always maintain a healthy lifestyle and comply in implementing health protocols, and for COVID-19 survivors with
comorbidities must always maintain personal vigilance during the pandemic because they are more susceptible to being infected with COVID-19 and worsening.
3396736913A1D018087Karakteristik Agroklimat di Lahan Pesisir Jetis Antar Musim pada Pematah Angin dan Waktu di Berbagai JarakLahan marjinal pasir pantai merupakan lahan yang dapat dikembangkan dan memiliki potensi dalam usahatani hortikultura. Lahan pasir pantai memiliki iklim yang tidak dapat ditebak dengan pasti. Penelitian dilakukan di lahan pasir pantai Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Penelitian agroklimat menggunakan rancangan lingkungan yakni rancangan pola tersarang. Pengamatan dilakukan terhadap komponen agroklimat spesifik pada lahan yang berbeda jarak dari garis pantai dan adanya pematah angin. Perlakuan pematah angin alami yakni P0: lokasi tanpa pematah angin dan P: lokasi dengan pematah angin vegetasi cemara. Perlakuan jarak dari garis pantai yakni S0: 0 m, S1: 100 m, S2: 200 m dan S3: 300 m. Pengamatan variabel iklim dilakukan tiap 2 minggu sekali pada waktu 06.00, 09.00, 12.00, 15.00, 18.00, 21.00, 24.00, dan 03.00 WIB. Data dianalisis menggunakan uji F dan uji lanjut (Beda Nyata Terkecil) BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur iklim pada bulan Juni-September 2021 (musim kemarau) intensitas cahaya tertinggi yakni 97.165 lux, kecepatan angin tertinggi mencapai 17,4 km/jam, kelembaban udara mengalami fluktuasi dengan puncaknya mencapai 99%, suhu udara tertinggi mencapai 35,54℃, suhu tanah terus mengalami penurunan tiap bulannya dengan suhu tanah tertinggi mencapai 37,71℃. Agroklimat pada bulan Oktober-Desember 2021 (musim hujan) unsur iklim intensitas cahaya mengalami penurunan pada tiap bulannya hingga 56.810 lux, kecepatan angin mengalami fluktuasi dengan kecepatan angin terendah 8 km/jam, kelembaban udara tertinggi mencapai 99%, suhu udara turun pada bulan Desember mencapai suhu 25,75℃ pada jam 07.00, suhu tanah turun mencapai 25,6℃ pada jam 03.00. Pola tanam yang dilakukan petani lahan pasir pantai Jetis bergantung pada perubahan iklim.
Kata kunci: Agroklimat spesifik, musim, pematah angin, lahan pasir pantai
Marginal land of coastal sand is land that can be developed and has potential in horticultural farming. The coastal sand fields have a climate that cannot be predicted with certainty. The research was conducted in the sand land of Jetis beach, Nusawungu District, Cilacap Regency. Agroclimate research uses environmental design, namely the design of nested patterns. Observations were made of specific agroclimate components on lands that differed distances from the coastline and the presence of windbreakers. The natural wind-fertilizing treatment is P0: the location without the windbreaker and P: the location with the wind-raiser of the cypress vegetation. The treatment of distance from the coastline is S0: 0 m, S1: 100 m, S2: 200 m and S3: 300 m. Observations of climate variables are carried out every 2 weeks at the time of 06.00, 09.00, 12.00, 15.00, 18.00, 21.00, 24.00, and 03.00 WIB. The data were analyzed using the F test and the Least Significance Different (LSD) follow-up test at a level of 5%. The results showed that the climatic elements in June-September 2021 (dry season) the highest light intensity was 97,165 lux, the highest wind speed reached 17.4 km / hour, air humidity fluctuated with a peak of 99%, the highest air temperature reached 35.54°C, soil temperature continued to decrease every month with the highest soil temperature reaching 37.71°C. Agroclimate in October-December 2021 (rainy season) climatic elements light intensity decreases every month to 56,810 lux, wind speed fluctuates with the lowest wind speed of 8 km / hour, the highest air humidity reaches 99%, air temperature drops in December reaches a temperature of 25.75°C at 07.00, soil temperature drops to 25.6°C at 03.00. The planting pattern carried out by Jetis beach sand farmers depends on climate change.
Keywords: Agroclimate specific, season, windbreaker, coastal sand field
3396837956A1D018031PENGARUH WAKTU PEMBERIAN PUPUK DAN DOSIS PUPUK NZEO-SRPlus TERHADAP KARAKTERISTIK FISIOLOGIS DAN HASIL PADA TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascolonicum L.)Bawang merah merupakan tanaman unggulan nasional yang perlu dibudidayakan secara intensif. Produktivitas bawang merah tidak stabil selama 5 tahun terakhir. Produktivitas bawang merah dapat ditingkatkan dengan waktu pemberian pupuk dan dosis pupuk yang tepat diantaranya adalah menggunakan pupuk NZEO-SRPlus. Penelitian bertujuan untuk mengkaji karakteristik fisiologis dan hasil bawang merah dengan waktu pemberian dan dosis pupuk NZEO-SRPlus. Penelitian dilaksanakan di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian berupa percobaan lapang dengan rancangan acak kelompok lengkap yang terdiri dari 2 faktor dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah waktu pemberian pupuk NZEO-SRPlus yaitu, awal tanam 100% dan awal tanam 50% + 30 hari setelah tanam (hst) 50%. Faktor kedua adalah dosis pupuk NZEO-SRPlus yaitu, tanpa NZEO-SRPlus, 125 Kg/ha, 250 Kg/ha, 375 Kg/ha, 500 Kg/ha. Variabel yang diamati yaitu kandungan fenol (mg GAE/g), kandungan saponin, jumlah klorofil (mg/g), jumlah daun (helai), kerapatan stomata (μm), kehijauan daun (SPAD unit), luas daun (cm2), dan hasil(g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu pemberian pupuk 50% awal + 50% 30 hari setelah tanam (hst) menghasilkan kandungan fenol (4,09 mg GAE/g) dan kehijauan daun (39,16 SPAD unit) lebih tinggi dibanding pemberian pupuk 100% awal, dan kerapatan stomata (80,74 μm) lebih tinggi pada pemberian pupuk 100% awal dibanding pemberian pupuk 50% awal + 50% 30 hari setelah tanam (hst). Pemberian pupuk NZEO-SRPlus hingga 500 kg/ha dapat meningkatkan jumlah daun (18,96 helai), kehijauan daun (41,76 SPAD unit), dan kerapatan stomata (106,69 μm). Pemberian pupuk 100% awal tanam dan dosis pupuk NZEO-SRPlus hingga 500 kg/ha dapat meningkatkan kerapatan stomata (124,95 μm).Shallots is a national superior plant that needs to be cultivated intensively. Shallot productivity has not been stable for the last 5 years. Shallot productivity can be increased by applying fertilizer at the right time and dosage, including using NZEO-SRPlus fertilizer. The aim of this study was to examine the physiological characteristics and yield of shallots with the application time and dosage of NZEO-SRPlus fertilizer. The research was conducted in Pliken Village, Kembaran District, Banyumas Regency, Central Java. The research was a field trial with a complete randomized block design consisting of 2 factors with 3 replications. The first factor is the time of application of NZEO-SRPlus fertilizer, namely, 100% initial planting and 50% + 30 days after planting (DAP)50% initial planting. The second factor was the dosage of NZEO-SRPlus fertilizer, that is, without NZEO-SRPlus, 125 Kg/ha, 250 Kg/ha, 375 Kg/ha, 500 Kg/ha. The variables observed were phenol content (mg GAE/g), saponin content, total chlorophyll (mg/g), number of leaves (strands), stomata density (μm), greenness of leaves (SPAD units), leaf area (cm2), and result(g). The results showed that the initial application of 50% fertilizer + 50% 30 days after planting (DAP) resulted in a higher phenol content (4.09 mg GAE/g) and green leaves (39.16 SPAD units) than the initial 100% fertilizer application. , and the density of stomata (80.74 μm) was higher at the initial 100% fertilizer application than at the initial 50% + 50% fertilizer application 30 days after planting (dap). Application of NZEO-SRPlus fertilizer up to 500 kg/ha can increase the number of leaves (18.96 leaves), greenness of leaves (41.76 SPAD units), and stomata density (106.69 μm). Applying 100% fertilizer at the start of planting and NZEO-SRPlus fertilizer doses of up to 500 kg/ha can increase stomatal density (124.95 μm).
3396936987B1B017040ANALYSIS OF GENETIC DIVERSITY AND POLYPHENOL CONTENTS OF Solanum melongena L. AT DIFFERENT ALTITUDESSolanum melongena, spesies tanaman yang termasuk dalam genus Solanaceae, didistribusikan dan dibudidayakan secara luas di dunia dengan keuntungan miliaran di beberapa negara karena kandungan nutrisinya yang tinggi seperti polifenol. Kandungan polifenol pada genus Solanaceae dapat ditelusuri dari kekerabatannya, sehingga data dapat digali dengan pendekatan molekuler. Tujuan penelitian saat ini adalah untuk mengetahui profil RAPD S. melongena. L. dan untuk mengetahui kandungan polifenol S. melongena L.
Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik random sampling. PCR-RAPD memberikan 8 primer berbeda OPA-02 OPA-09 OPAM-07 OPC-11 OPF-1 OPF-2 OPF-3 OPF-4. Metode maserasi diterapkan untuk mengekstrak kandungan polifenol dalam sampel, dan dihitung dengan menggunakan spektrofotometri Folin-Ciocalteu. Parameter untuk PCR adalah konsentrasi DNA, kualitas DNA, dan pita polimorfik; lainnya adalah kandungan polifenol. Kedua data tersebut kemudian dibandingkan untuk mengetahui hubungan antara kandungan polifenol dan polimorfisme antar genus Solanaceae.
Hasil penelitian menunjukkan polimorfisme pada profil RAPD S. melongena L. yang dideteksi oleh masing-masing primer. OPA-2 menghasilkan enam pita dengan polimorfisme 33,3%, OPA-9 menghasilkan tujuh pita dengan polimorfisme 57,1%, OPAM-7 menghasilkan satu pita dengan polimorfisme 0%, OPC-11 menghasilkan satu pita dengan polimorfisme 0%, OPF-1 menghasilkan tiga pita pita dengan polimorfisme 33,3%, OPF-2 menghasilkan empat pita dengan polimorfisme 50%, OPF-3 menghasilkan empat pita dengan polimorfisme 25%, dan OPF-4 menghasilkan dua pita dengan polimorfisme 100%, Dengan polimorfisme total, adalah 42,8%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggian tempat mempengaruhi kadar polifenol S. melongena. Ketinggian terbaik untuk memproduksi polifenol adalah 600 mdpl. Semakin tinggi ketinggian, semakin tinggi pula tingkat aktivitas polifenolnya.
Solanum melongena, a plant species belonging to the Solanaceae genus, is distributed and cultivated world widely with billions of profit in some countries for its high nutrient content such as polyphenols. The polyphenol content among the Solanaceae genus might be traced from its kinship, the data, therefore, can be explored by applying a molecular approach. The current research objectives are to determine the RAPD profile of S. melongena. L. and to determine the polyphenols content of S. melongena L.
This research applied survey method with a random sampling technique. The PCR-RAPD administering 8 different primers OPA-02 OPA-09 OPAM-07 OPC-11 OPF-1 OPF-2 OPF-3 OPF-4. A maceration method was applied to extract the polyphenols content in the samples, and calculated by using a Folin-Ciocalteu spectrophotometric. The parameters for PCR are DNA concentrations, DNA quality, and the polymorphic bands; another is the polyphenol content. Both data then compared to explore the relationship between polyphenols content and polymorphisms among the Solanaceae genus.
The results of the study show the RAPD profiles of S. melongena L. reveal the polymorphisms which were detected by each primer. The OPA-2 produced six bands with 33.3% polymorphism, OPA-9 produce seven bands with 57.1% polymorphism, OPAM-7 produced one band with 0% polymorphism, OPC-11 produce one band with 0% polymorphism, OPF-1 produced three bands with 33.3% polymorphism, OPF-2 produce four bands with 50% polymorphism, OPF-3 produce four bands with 25% polymorphism, and OPF-4 produce two bands with 100% polymorphism, With the total polymorphism, is 42.8%.
The results showed that the altitude affected the levels of polyphenol contents of S. melongena. The best altitude for producing polyphenols is 600 masl. The higher altitudes, the higher the levels of polyphenols activity are. There might be related with RAPD profiles and polyphenol content levels.
3397036985I1A018036ANALISIS LAYANAN TUBERKULOSIS DENGAN STRATEGI
DOTS DI BALAI KESEHATAN MASYARAKAT WILAYAH
MAGELANG
Latar Belakang: Balkesmas Wilayah Magelang merupakan salah satu fasilitas kesehatan milik Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah yang lebih berfokus pada layanan tuberkulosis dengan menerapkan strategi DOTS. Penemuan kasus TB di
Balkesmas pada tahun 2021 mengalami penurunan yang sangat signifikan. Hal tersebut dikarena Balkesmas tidak melakukan penjaringan secara menyeluruh terhadap masyarakat. Dengan begitu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan layanan tuberkulosis dengan strategi DOTS di Balai Kesehatan Masyarakat Wilayah Magelang.
Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain fenomenologi. Analisis data yang dalam penelitian ini menggunakan analisis tematik. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Kesehatan Masyarakat Wilayah Magelang dengan jumlah informan sebanyak 7 orang. Informan tersebut terdiri dari
informan utama dan informan pendukung.
Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan kepada seluruh informan, didapatkan permasalahan terkait dengan pelaksanaan layanan tuberkulosis di Balkesmas. Adanya kerusakan alat TCM yang belum ditindaklanjuti oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menggambarkan belum optimalnya
komitmen pemerintah. Sementara itu, Balkesmas lebih mengandalkan passive case finding sehingga kerusakan tersebut dapat menghambat deteksi kasus yang dilakukan. Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat dalam hal pemeriksaan dan
pengobatan TB juga menyebabkan angka penularan TB menjadi tinggi.
Kesimpulan: Pelaksanaan layanan tuberkulosis dengan strategi DOTS di Balai Kesehatan Masyarakat Wilayah Magelang sudah berjalan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Namun, dukungan pemerintah khususnya Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah masih kurang maksimal dan tingginya kasus TB di Wilayah Magelang dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat sehingga perlu adanya inovasi pelayanan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pemeriksaan dan pengobatan TB.
Background: The Magelang Region's Balkesmas was one of the health facilities of the Central Java Provincial Health Office that focused more on tuberculosis services using the DOTS strategy. The discovery of the TB case in Balkesmas in 2021 saw a very significant decline. This was because Balkesmas did not commit total prison of the community. In that way, the research aims to analyze the practice of tuberculosis services using the DOTS strategy in the area of The Magelang
Public Health Center.
Methodology: This study uses a qualitative research method with a phenomenological design. Data analysis in this study used thematic analysis. This research was conducted at the Magelang Regional Public Health Center with 7 informants. The informants consist of primary informants and supporting informants.
Research result: Based on deep interviews conducted with all informants, there are problems related to the implementation of tuberculosis services in Balkesmas. The existence of damage to the TCM tool that has not been followed up by the Central Java Provincial Health Office illustrates that the government's commitment has not been optimal. Meanwhile, Balkesmas relied more on the secondary case finding so that the damage could block the detection of the cases. In addition, people's lack of awareness of TB screening and treatment has also elevated TB rates.
Conclusion: Implementing the tuberculosis service with DOTS in The Magelang's Regional Public Health Centre has been in accordance with the rules set by the government. However, the government's support, especially the Central Java
Provincial Health Office, has been low and high TB cases in The Magelang Region due to the lack of public awareness and the need for services innovations to increase awareness of TB examination and treatment.
3397136988G1B018044PERBEDAAN EKSPRESI mRNA MATRIX METALLOPROTEINASE-9 (MMP-9) PADA PASIEN ORAL SQUAMOUS CELL CARCINOMA (OSCC) PEROKOK DAN NONPEROKOKOral squamous cell carcinoma (OSCC) merupakan kanker epitel rongga mulut dengan etiologi terbesar disebabkan oleh rokok. Rokok diduga dapat menyebabkan peningkatan ekspresi mRNA MMP-9 yang berperan dalam proses invasi dan metastasis sel kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan ekspresi mRNA MMP-9 pada pasien OSCC perokok dan nonperokok. Penelitian dilakukan secara observasional analitik dengan rancangan cross sectional menggunakan 20 sampel jaringan FFPE OSCC yang diambil dengan teknik purposive sampling. Penelitian dilakukan melalui proses isolasi RNA, sintesis cDNA, dan kuantifikasi ekspresi mRNA MMP-9 dengan reference gene GAPDH menggunakan qPCR. Hasil qPCR selanjutnya dianalisis menggunakan metode Livak untuk mengetahui ekspresi relatif MMP-9 dan uji statistik independent t-test untuk mengetahui perbedaan ekspresi OSCC perokok dan nonperokok. Hasil rerata nilai ∆CT mRNA MMP-9 pada kelompok OSCC Perokok adalah 6,27±1,31 sedangkan pada kelompok OSCC nonperokok adalah 7,75±1,16. Nilai Fold change mRNA MMP-9 menunjukan peningkatan ekspresi pada kelompok OSCC perokok sebesar 2,79 kali jika dibandingkan kelompok OSCC nonperokok dan secara statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (p>0,05). Simpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan ekspresi mRNA MMP-9 pada OSCC perokok dan nonperokok.Oral squamous cell carcinoma (OSCC) is an oral epithelial cancer with the largest etiology caused by smoking. Smoking causes an increase in the expression of MMP-9 mRNA which plays a role in the process of invasion and metastasis of cancer cells. The aim of this study was to determine the differences in MMP-9 mRNA expression in OSCC smokers and nonsmokers. The study was an analytical observation with a cross sectional design using a 20 FFPE samples of OSCC by purposive sampling technique. The research used RNA isolation, cDNA synthesis, and quantification of MMP-9 mRNA expression and GAPDH reference gene using qPCR. The qPCR results analyzed using the Livak method to determine the relative expression of MMP-9 and statistical independent t-test to determine differences in OSCC expression of smokers and non-smokers. The mean result of MMP-9 ∆CT mRNA value in the OSCC smokers group was 6.27±1.31 while in the non-smoker OSCC group it was 7.75±1.16. The Fold change mRNA value of MMP-9 showed an increase in expression in the OSCC group of smokers by 2.79 times when compared to the OSCC group of non-smokers and statistically showed a significant difference (p>0.05). The conclusion of this study is that there is difference in MMP-9 mRNA expression in OSCC smokers and non-smokers
3397236989B1A018124ANALISIS MOLEKULER PUTATIVE MUTANT TEBU (Saccharum officinarum L.) cv. PSJT 941.2 HASIL IRADIASI SINAR GAMMA Co60 BERDASARKAN MARKA RAPDTebu (Saccharum officinarum L.) cv. PSJT 941 merupakan kultivar unggul tebu yang tahan cekaman kekeringan, namun kultivar ini masih memiliki beberapa kekurangan. Sehingga masih memungkinkan dilakukan peningkatan kualitas tebu yang dapat dilakukan melalui pemuliaan tanaman dengan menciptakan ideotipe baru. Kultivar unggul baru dapat dihasilkan dari induksi mutasi berupa iradiasi sinar gamma yang dapat dilakukan pada kalus yang sedang dikultur. Mutasi akibat penyinaran sinar gamma bersifat acak dan variasi genetik yang ditimbulkan dapat dianalisis menggunakan marka molekuler. Salah satu marka molekuler yang dapat digunakan untuk mendeteksi variasi genetik tebu yaitu Random Amplified Polymorphism DNA (RAPD). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) mengetahui profil RAPD mutan putatif tebu cv. PSJT 941.2 hasil kultur kalus yang diradiasi sinar gamma Co60 10 Gy dan (2) mengetahui apakah terdapat perbedaan genetik antara mutan putatif tebu cv. PSJT 941.2 hasil kultur kalus yang diradiasi sinar gamma Co60 10 Gy dan wildtype tebu kultivar PSJT 941. Sampel daun tebu diambil dengan teknik random sampling di Greenhouse Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman dan Laboratorium Penelitian Tanah dan Tanaman Tebu (LPT3) Comal, Pemalang. Amplifikasi DNA dengan PCR RAPD dilakukan menggunakan 12 primer. Dari hasil amplifikasi DNA dengan 12 primer, didapatkan tujuh primer yang dapat mendeteksi polimorfisme dan memperoleh persentase polimorfisme sebesar 37,5% dengan total marka polimorfik sebanyak 12 dari 32 total marka. Dari 10 sampel mutan yang digunakan, sampel tebu kultivar PSJT 941.2 TB 2.7 terkonfirmasi memiliki genotipe yang berbeda dibandingkan wildtype.Sugarcane cv. PSJT 941 is a superior sugarcane cultivar that is resistant to drought stress, but this cultivar still has some lack. So that, there is still a chance to improve the quality of sugarcane through plant breeding by creating new ideotype. Superior cultivars can be produced from mutation induction using gamma ray irradiation on callus culture. Mutations due to gamma irradiation are random and the resulting genetic variations can be analyzed using molecular markers. One of the molecular markers that can be used to detect genetic variation of sugarcane is Random Amplified Polymorphism DNA (RAPD). The aims of this study are (1) to determine the RAPD profile of the putative mutant sugarcane cv. PSJT 941.2 results of callus culture irradiated with 10 Gy Co60 gamma rays and (2) to determine whether there are genetic differences between the putative mutant sugarcane cv. PSJT 941.2 results of callus culture irradiated with 10 Gy Co60 gamma rays and wildtype sugarcane cultivar PSJT 941. Sugarcane leaf samples were taken by using random sampling at the Greenhouse, Faculty of Biology, Jenderal Soedirman University and Research Laboratory of Soil and Sugarcane Plants (LPT3) Comal, Pemalang. DNA amplification by PCR was carried out using 12 primers. According to the result of DNA amplification with 12 primers, 7 primers are able to detect polymorphism. Polymorphism percentage is around 37,5% with 12 polymorphic markers from 32 total markers. Out of 10 putative mutant samples, sugarcane cultivar PSJT 941.2 TB 2.7, is confirmed to have genotipic differeces compared to wildtype.
3397336990F1A018086PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI KARANG TARUNA DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN HIDROPONIK DI KELURAHAN PURWOKERTO WETAN Penelitian ini bertujuan mengetahui latar belakang Karang Taruna dalam memberdayakan masyarakat melalui program pengembangan hidroponik di Kelurahan Purwokerto Wetan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sasaran penelitian adalah pengurus karang taruna terutama ketua dan wakil ketua Karang Taruna Dharma Surya. Teknik penentuan dilakukan dengan Purposive Sampling, sumber data yang digunakan menggunakan data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi, kemudian sasaran validasinya adalah pengurus KSM ECO MAYA dan konsumen sayuran sehat hidroponik milik Karang Taruna Dharma Surya. Data yang terkumpul dianalisis dengen menggunakan beberapa taahapan yaitu pengumpulan infotmasi melalui wawancara mendalam kemudian observasi langsung ke lapangan untuk menunjang penelitian yang dilakukan agar mendapatkan sumber data yang diharapkan, reduksi data yaitu pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan di lapangan selama meneliti tujuan diadakan transkrip data (transformasi data) untuk memilih informasi mana yang dianggap sesuai masalah yang menjadi pusat penelitian lapangan. Penarikan kesimpulan, berarti menguji hasil penelitian bila hasil penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan maka penelitian tersebut telah memenuhi standar comfirmability nya. Pengurus Karang Taruna Dharma Surya terutama ketua dan wakil ketua yaitu Said Akmala, M.Kom., CHFI.CEH., dan Indra Septiawan S.Kom., melakukan pemberdayaan masyarakat berskala kecil dengan cara memberikan edukasi dari awal penanaman benih hingga proses memanen sayuran hidroponik dengan sasaran Siwa TK AISIYAH 6 Purwokerto Wetan dan Ibu PKK. This study aims to determine the background of Karang Taruna in empowering the community through a hydroponic development program in Purwokerto Wetan Village. This study uses a qualitative method. The target of the research is the youth youth organization, especially the chairman and vice chairman of the Dharma Surya Youth Organization. The determination technique is done by purposive sampling, the data source used is primary data and secondary data. Data collection techniques were carried out by means of in-depth interviews, observation and documentation, then the validation targets were the management of KSM ECO MAYA and consumers of hydroponic healthy vegetables belonging to Karang Taruna Dharma Surya. The data collected was analyzed using several stages, namely collecting information through in-depth interviews and then direct observation to the field to support the research carried out in order to obtain the expected data sources, data reduction, namely selection, focusing on simplification, transformation of rough data that emerged from notes. in the field during the research the purpose of conducting a data transcript (data transformation) to choose which information is considered appropriate to the problem that is the center of the field research. Drawing conclusions, means testing the results of the research if the research results are a function of the research process carried out, then the research has met its comfirmability standards. The administrators of Karang Taruna Dharma Surya, especially the chairman and vice chairman, namely Said Akmala, M.Kom., CHFI.CEH., and Indra Septiawan S.Kom., empower small-scale communities by providing education from the beginning of planting seeds to the process of harvesting hydroponic vegetables. with the target of Shiva TK AISIYAH 6 Purwokerto Wetan and Mrs. PKK.
3397436991J0B019009Pembuatan Laman Museum Berbahasa Mandarin Dengan Metode Komunikatif Sebagai Media Informasi Di Museum Wayang JakartaLaporan praktik kerja ini berjudul “Pembuatan Laman Museum Berbahasa Mandarin Dengan Metode Komunikatif Sebagai Media Informasi Di Museum Wayang Jakarta”. Kegiatan praktik kerja dilaksanakan selama 6 bulan pada tanggal 6 September 2021 sampai 28 Februari 2022. Tujuan dilaksanakannya praktik kerja ini adalah menghasilkan sebuah laman Museum berbahasa Mandarin untuk memudahkan pengunjung berbahasa Mandarin dalam memperoleh informasi Museum. Metode pengumpulan data yang digunakan penulis adalah metode wawancara, observasi partisipatif, studi kepustakaan, dan jelajah internet. Dalam proses pembuatan laman Museum berbahasa Mandarin penulis menggunakan metode komunikatif. Hal ini dikarenakan metode komunikatif mengikuti kaidah bahasa sasaran sehingga memudahkan pengunjung berbahasa Mandarin dalam memahami isi laman Museum. Dalam penerjemahan, penulis menggunakan teknik penerjemahan yaitu teknik deskripsi. Hasil dari praktik kerja ini adalah laman Museum Wayang Jakarta berbahasa Mandarin.这份实习报告的题目是 “Pembuatan Laman Museum Berbahasa Mandarin Dengan Metode Komunikatif Sebagai Media Informasi Di Museum Wayang Jakarta. ”实习时间为六个月,从2021年9月6日至2022年2月28日。实习的目的是制作一个中文雅加达Wayang博物馆的网站为了让会说中文的游客更容易获得有关雅加达Wayang 博物馆的信息。作者收集文件使用四种方法,它们是访谈方法,参与者观察,文献研究,和 网络浏览。在制作一个博物馆网站过程中,作者使用交际翻译方法。这是因为交际翻译方法按照目的语的语法,所以会说中文的游客可以更容易理解网站里面的内容。在翻译中作者使用翻译技巧是描述技巧。实习结果是作者能制作一个中文雅加达Wayang博物馆网站的。

3397536992G1B018003PENGARUH PEMBERIAN ANTIMICROBIAL PHOTODYNAMIC THERAPY DENGAN PHOTOSENSITIZER ERITROSIN
TERHADAP JUMLAH MAKROFAG PADA TIKUS
MODEL PERIODONTITIS KRONIS
(Penelitian in vivo tikus Sprague dawley)
Periodontitis kronis merupakan penyakit multifaktorial berupa inflamasi destruktif terhadap jaringan periodontal. Etiologi utama adalah plak gigi yang berisi kumpulan bakteri salah satunya Porphyromonas gingivalis. Scaling dan root planing merupakan gold standard perawatan periodontitis kronis, namun perawatan adjuvan antibiotik perlu dilakukan untuk menambahkan keefektifan perawatan. Antibiotik rentan mengalami resistensi sehingga Antimicrobial Photodynamic Therapy (APDT) menjadi terapi yang dapat dikembangkan. Penggunaan APDT diharapkan dapat menurunkan jumlah bakteri sehingga inflamasi pada jaringan periodontal menurun. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh APDTdengan eritrosin terhadap jumlah makrofag tikus Sprague Dawley model periodontitis kronis. Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian post-test only with control group design. Sampel penelitian berupa 45 ekor Sprague Dawley jantan. Sampel dikelompokkan acak dalam 5 kelompok dan diamati pada hari 1, 3, dan 5. Kelompok penelitian terdiri dari kontrol sehat (KS), kontrol negatif (KN), perlakuan lightcure (PL), perlakuan eritrosin (PE), dan perlakuan APDT. Perhitungan jumlah makrofag pada gingiva tikus dilakukan pada preparat histologi dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin. Analisis One-Way ANOVA dan Post-Hoc LSD menunjukkan hasil terdapat penurunan rerata jumlah makrofag pada kelompok perlakuan (PL, PE, dan APDT) dibandingkan kontrol negatif (KN) pada seluruh hari pengamatan (p<0,05). Rerata jumlah makrofag pada kelompok APDT tidak berbeda secara signifikan dengan kelompok kontrol sehat (p<0,05) yang mengindikasikan efektivitas perlakuan APDT sejak hari 1. Simpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh pemberian APDT dengan sinar LED biru dan photosensitizer eritrosin terhadap penurunan jumlah makrofag tikus model periodontitis kronis.Chronic periodontitis is multifactorial disease form of destructive inflammation that damage periodontal tissue. Dental plaque contains microorganisms such as Porphyromonas gingivalis. Porphyromonas gingivalis lipopolysaccharide activated macrophages. Scaling and root planing are gold standard treatment of chronic periodontitis, adjuvant antibiotic treatment is necessary to increase the treatment effectiveness. Antibiotics cause resistance so alternative therapy Antimicrobial Photodynamic Therapy (APDT) can be developed. The use of APDT expected to reduce the number of bacteria so inflammation in the periodontal tissue decreases. This study aims to determine the effect of APDT with erythrosine on macrophages numbers in rats with chronic periodontitis model. This research was laboratory experimental study and post-test only with control group design. Sample was 45 males Sprague dawley rats. Sampls grouped randomly into 5 groups, and observed in day 1, 3, and 5. Research group consisted of healthy group control (KS), negative group control (KN), lightcure group (PL), erythrosine group (PE), and APDT group. Macrophage counted in gingival samples of rats with Hematoxylin Eosin staining. One-Way ANOVA test and Post-Hoc LSD showed lower of macrophage number on every treatment groups (PL, PE, and APDT) compared to KN in every examination day (p<0,05). Mean number of macrophage in APDT showed there was no significant differences with KS (p<0,05) this result indicate the effectiveness of APDT since day 1. Conclusion of this study is APDT with blue LED and erythrosine have effect on lowering macrophage numbers in rats with chronic periodontitis model.
3397636993F1A018088Perilaku Konsumtif Pengguna Media Sosial Instagram di Kalangan Mahasiswa PurwokertoInstagram merupakan media sosial yang sering digunakan oleh mahasiswa Purwokerto untuk berbelanja online. Berbagai macam kemudahan dan fitur Instagram menyebabkan mereka gemar melakukan pembelanjaan online. Namun, mahasiswa Purwokerto melakukan belanja online didasarkan pada keinginan semu. Perilaku belanja ini dilakukannya terus menerus dan berlebihan sehingga menjadi konsumtif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan perilaku konsumtif pengguna media sosial Instagram di kalangan mahasiswa Purwokerto serta Instagram menjadi rujukan belanjanya. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Sasaran penelitiannya yaitu 9 mahasiswa Purwokerto yang berasal dari 3 Perguruan Tinggi yaitu UNSOED, UIN Saizu, dan UMP, dengan teknik penentuan informan menggunakan Purposive Sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku konsumtif mahasiswa Purwokerto sebagai pengguna Instagram melakukan pembelanjaan online secara berlebihan, didasarkan pada keinginan, impulsif, adanya kesenangan ketika melakukan belanja online, adanya selebgram di Instagram, dan untuk mengikuti tren yang ada. Mahasiswa Purwokerto memilih Instagram sebagai rujukan belanjanya karena adanya kemudahan di Instagram, postingan barang yang menarik, adanya barang edisi terbatas yang dijual, dan banyaknya testimoni dan promosi di Instagram yang menyebabkan mahasiswa Purwokerto melakukan pembelanjaan secara berlebihan dan menjadi konsumtif. Instagram is a social media that is often used by Purwokerto students for online shopping. The various conveniences and features of Instagram cause them to like to do online shopping. However, Purwokerto students do online shopping based on pseudo-desires. This shopping behavior is done continuously and excessively so that it becomes consumptive. This study aims to describe and explain the consumptive behavior of Instagram social media users among Purwokerto students and Instagram as a shopping reference. The research was conducted using qualitative research methods. The research targets were 9 Purwokerto students from 3 universities, wich are UNSOED, UIN Saizu, and UMP, with the technique of determining informants using purposive sampling. Data was collected through interviews, observation, and documentation. While the data analysis method used is interactive analysis. The results showed that the consumptive behavior of Purwokerto students as Instagram users did excessive online shopping, based on desire, impulsiveness, pleasure when doing online shopping, the existence of celebgrams on Instagram, and to follow existing trends. Purwokerto students choose Instagram as their shopping reference because of the convenience on Instagram, posting of interesting items, limited edition items being sold, and the many testimonials and promotions on Instagram that cause Purwokerto students to overspend and become consumptive.
3397736995B1A018114PROFIL RAPD MUTAN PUTATIF TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L.) cv. PSJT 941.1 HASIL IRADIASI SINAR GAMMA Co60 Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan anggota familia Graminae yang umumnya dibudidayakan sebagai tanaman penghasil gula. Produksi gula nasional dari tahun ke tahun belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, salah satunya karena belum optimalnya produksi tebu. Salah satu kultivar tebu unggul yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah PSJT 941. Namun, rendemen yang dihasilkan oleh kultivar PSJT 941 ini masih dibawah potensi semestinya, maka masih diperlukan peningkatan kualitas tebu. Upaya untuk meningkatkan produksi dan kualitas tebu dapat dilakukan melalui pemuliaan yang diawali dengan meningkatkan variasi genetik tebu. Peningkatan variasi ini dapat dilakukan diantaranya dengan cara induksi variasi somaklonal dan iradiasi sinar gamma. Iradiasi kalus dalam kultur telah terbukti menghasilkan frekuensi varian yang lebih tinggi dan hal ini dapat dikonfirmasi melalui analisis molekuler. Salah satu teknik molekuler yang dapat digunakan untuk mendeteksi variasi genetik yang timbul dari hasil iradiasi sinar gamma pada tebu adalah RAPD. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan 1.) untuk mengetahui profil RAPD mutan putatif tebu cv. PSJT 941.1 hasil kultur kalus yang diradiasi dengan sinar gamma Co60; dan 2.) untuk mengetahui adanya perbedaan genetik antara mutan putatif tebu cv. PSJT 941.1 yang telah mengalami perlakuan kultur dan radiasi sinar gamma dengan wildtype tebu kultivar PSJT 941. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara acak atau random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesepuluh primer yang digunakan dapat mengamplifikasi template DNA. Dihasilkan total pita sebanyak 41 dan dua primer yang berhasil mendeteksi polimorfisme menghasilkan tiga pita polimorfik. Jumlah pita yang dihasilkan per primer bervariasi antara 3-7 pita, sedangkan ukuran pita berkisar antara 200-1500 bp. Rata-rata persentase polimorfisme dari 10 primer yang diujikan adalah sebesar 7,31%. Diantara sepuluh sampel mutan putatif, terdapat tiga sampel yang terkonfirmasi sebagai mutan dan menunjukkan perbedaan pola pita DNA dibandingkan wild type yaitu TB 1.4., TB 1.6., dan TB 1.9. Diantara ketiga mutan tersebut, TB 1.4. bersifat unik sementara TB 1.6. identik dengan TB 1.9. Sugarcane (Saccharum officinarum L.) is a member of the Graminae family which is generally cultivated as a sugar-producing plant. National sugar production from year to year has not been able to meet the public demand, one of the reasons is sugarcane production is not yet optimal. One of the superior sugarcane cultivars that is widely cultivated in Indonesia is PSJT 941. However, the yield produced by the PSJT 941 cultivar is still below its proper potential, so it is still necessary to improve the quality of sugarcane. Efforts to increase the production and quality of sugarcane can be done through breeding that begins with increasing the genetic variation of sugarcane. This variation can be increased by way of induction of somaclonal variations and gamma ray irradiation. Callus irradiation in culture has been shown to produce higher frequency of variants and this can be confirmed by molecular analysis. One of the molecular techniques that can be used to detect genetic variations arising from gamma ray irradiation in sugarcane is RAPD. This research will be carried out with the aims are 1.) determining the RAPD profile of the putative mutant sugarcane cv. PSJT 941.1 result of callus culture irradiated with Co60 gamma rays; and 2.) determining the genetic differences between the putative mutant of sugarcane cv. PSJT 941.1 results of callus culture irradiated with gamma rays Co60 and wildtype sugarcane cv. PSJT 941. This study uses a survey method with a random sampling technique or random sampling. The results showed that the ten primers used could amplify the DNA template. A total of 41 bands were produced and two primers that successfully detected polymorphism produced three polymorphic bands. The number of bands produced per primer varied between 3-7 bands, while the band size ranged from 200-1500 bp. The average percentage of polymorphism of the 10 primers tested was 7,31%. Among the ten putative mutant samples, there were three samples that were confirmed as mutants and showed different DNA banding patterns compared to the wild type, namely TB 1.4., TB 1.6., and TB 1.9. Among the three mutants, TB 1.4. is unique while TB 1.6. identical to TB 1.9.
3397836996J1C018021Wakamono Kotoba yang Digunakan Kaum Muda di Jepang (Kajian Morfo-Semantik)ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wakamono kotoba yang digunakan
oleh kaum muda di Jepang ditinjau dari tataran morfologis dan semantik. Metode
penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif dengan teknik
pengumpulan data menggunakan metode survei dan observasi dengan instrumen
penelitian berupa kuesioner yang memuat pertanyaan terstruktur. Subjek pada
penelitian ini adalah penutur asli bahasa Jepang sebanyak 15 orang, dengan rentang
usia antara 10 hingga 32 tahun. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 4 buah
pembentukan kata yang baku dalam bahasa Jepang, yaitu haseigo sebanyak 1 kata,
fukugougo sebanyak 2 kata, toujigo sebanyak 5 kata, serta shouryakugo atau
karikomi sebanyak 25 kata. Selain itu, ditemukan pula beberapa kata yang
mengalami proses pembentukan tersendiri, dikarenakan sifat wakamono kotoba
yang tidak terpaku pada bentuk baku dan kaidah bahasa Jepang yang baik dan benar.
Hal ini terkonfirmasi dari hasil analisis data yang menunjukkan adanya perubahan
fonem sebanyak 1 buah kata, perubahan bunyi sebanyak 4 buah kata, dan
penggunaan bahasa asing sebanyak 3 buah kata. Namun demikian, ditemukan pula
wakamono kotoba yang tidak mengalami proses perubahan kata tertentu melainkan
hanya mengalami perluasan makna dari makna aslinya. Berdasarkan hasil
penelitian, dapat disimpulkan bahwa proses pembentukan kata yang paling sering
terjadi yaitu shouryakugo. Oleh karena itu, dapat dikatakan kaum muda di Jepang
cenderung gemar membuat kata menjadi lebih ringkas baik ketika diucapkan
maupun ketika dijadikan sebagai bahasa tulis.
ABSTRACT

The aims of this study is to describe wakamono kotoba that used by young people
in Japan, in terms of morphological and semantic study. The study method used is
descriptive qualitative method and the data collection method is using survey and
observation methods with research instruments in the form of questionnaires that
containing structured questions. The subjects in this study were 15 native speakers
of Japanese, with the age range from 10 to 32 years. Based on the results, there are
four standard word formations (gokeisei) in Japanese, one word of haseigo, two
words of fukugougo, five words of toujigo, and 25 words of shouryakugo or
karikomi. In addition, there are also some words that undergo a separate process of
formation, due to the nature of wakamono kotoba which is not found in the standard
form and correct Japanese language. This is confirmed by the results of the study
which showed that there were 1 word of phoneme change, 4 words of sound change,
and 3 words by using foreign language. However, it was also found the wakamono
kotoba that did not undergo a word change process but only change in its meaning
from its original meaning. Based on the results of the study, it can be concluded
that the most frequent word formation process is shouryakugo. So it can be said that
young people in Japan tend to like to create a word by making the word more
concise both when spoken and when used as a written language.
3397936997J0A018047Translating Rizki Febian's Short Movie "Jejak Bian" (From Indonesian Into English)Tujuan utama dari pelatihan kerja ini adalah untuk menerjemahkan subtitle film pendek dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Film pendek “Jejak Bian” merupakan film pendek bergenre komedi romantis yang menceritakan tentang kehidupan sehari-hari khas remaja. Hal yang menarik dalam film pendek ini adalah bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari yang meliputi tiga bahasa, yaitu bahasa Bali, Sunda dan Betawi. Tujuan dibuatnya film ini sebagai objek terjemahan adalah agar film ini dapat dinikmati tidak hanya oleh masyarakat Indonesia tetapi juga oleh masyarakat di seluruh dunia.
Menerjemahkan film pendek “Jejak Bian” merupakan bagian dari praktek kerja yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi di D3 Bahasa Inggris. Dalam menerjemahkan dialog dari film pendek ini, dilakukan tiga tahapan yaitu mengeksplorasi teks sumber, menuangkan pesan ke dalam bahasa sasaran, dan mengedit. Selama proses penerjemahan film pendek, penerjemahan film pendek, teknik penerjemahan yang digunakan adalah variasi, terjemahan literal, amplifikasi, kompensasi, modulasi, dan generalisasi.
Kendala yang ditemukan dalam proses penerjemahan film pendek adalah keterbatasan kosakata dalam bahasa sasaran. Kemudian, kesulitan dalam memasukkan subtitle ke dalam video karena harus sesuai dengan ketepatan waktu dengan dialog. Maka, untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, ketepatan waktu dalam berbicara dan berdialog ditentukan. Untuk membantu dalam proses penerjemahan digunakan kamus online atau offline juga dibantu oleh supervisor dan korektor untuk menjadi terjemahan yang baik.
The main purpose of the job training is to translate the short movie subtitle from Indonesian to English. The short movie “Jejak Bian” is a short movie with the genre of romance comedy that tells the story of a typical teenager’s daily life. The interesting thing in this short movie is that the language used is everyday language which includes three languages, namely Balinese, Sundanese and Betawi. The goal in making this movie an object of translation is that this movie can be enjoyed not only by the Indonesian people but also by people all of the world.
Translating the short movie “Jejak Bian” is part of the work practice which is one of the requirements for completing studies in English Diploma Program. In translating the dialogue from this short movie, three stages were applied namely exploring the source text, pouring the message into the target language, and editing. During the process of translating the short movie, the translation the short movie, the translation technique used were variation, literal translation, amplification, compensation, modulation, and generalization.
The obstacles found in the process of translating the short movie were limited vocabulary in target language. Then, the difficulty in inserting subtitles into the video because should match the timeliness with the dialogue. So, to solve these obstacles, the accuracy time in spoken and dialogue was figured out. To help in process of translating were used online or offline dictionary also help by supervisor and proofreader to be good translation.
3398036998I1C018051HUBUNGAN ESTIMASI KADAR OBAT GENTAMISIN DALAM DARAH TERHADAP CLINICAL OUTCOME PASIEN
PNEUMONIA ANAK
Latar Belakang: Gentamisin merupakan salah satu antibiotik empiris yang
digunakan sebagai terapi lini pertama pneumonia berat pada anak. Gentamisin
termasuk antibiotik indeks terapi sempit, sehingga jika adanya perubahan
sejumlah kecil kadar obat dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan
atau dapat menimbulkan efek toksik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan kadar gentamisin terhadap clinical outcome pasien pneumonia anak.
Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan
pengambilan data secara retrospektif. Pengambilan data dilakukan pada rekam
medis pasien anak pneumonia rawat inap periode Januari-Desember 2020 di
Rumah Sakit Margono Soekarjo Purwokerto. Data penelitian dianalisis secara
univariat dengan perhitungan pendekatan farmakokinetika dan bivariat dengan uji
fisher untuk mengetahui hubungan antara estimasi kadar gentamisin terkait
rentang terapi dan rasio Cmax/MIC terhadap clinical outcome pasien.
Hasil Penelitian: Sebanyak 33 pasien berada dalam kriteria inklusi. Terdapat 31
pasien dengan hasil estimasi kadar berada dalam rentang terapi dimana 7 pasien
menunjukkan clinical outcome baik dan 24 pasien dengan clinical outcome buruk.
Sedangkan berdasarkan rasio CMax/MIC bakteri E. coli dan K. pneumonia,
terdapat 1 pasien dengan estimasi Rasio Cmax/MIC berada diatas rentang nilai
optimal yaitu ≥ 8 dengan menunjukkan hasil clinical outcome buruk. Berdasarkan
hasil uji fisher menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara
kadar gentamisin dalam darah,baik dari rentang terapi (p=0,380), maupun rasio
Cmax/MIC pada bakteri E. coli (p=0,556) dan K. pneumonia (p=0,556) terhadap
clinical outcome pasien pneumonia anak.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara kadar gentamisin dalam darah,baik dari rentang terapi maupun rasio Cmax/MIC pada bakteri E. coli dan
K. pneumonia terhadap clinical outcome pasien pneumonia anak.
Kata Kunci: Gentamisin, Estimasi kadar, Clinical Outcome
Background: Gentamicin is one of the empirical antibiotics used as first-line
therapy for severe pneumonia in children. Gentamicin is an antibiotic with a
narrow therapeutic index if a small change in drug levels can cause unwanted side
effects or can cause toxic effects. The study aims to determine the relationship
between gentamicin levels and clinical outcomes of pediatric pneumonia patient.
Methods: This study is an observational study with retrospective data collection.
Data collection was carried out on the medical records of inpatient pneumonia
pediatric patients for the January-December 2020 period at the Margono Soekarjo
Hospital, Purwokerto. The research data were analyzed univariately by calculating
the pharmacokinetic approach and bivariate with the fisher test to determine the
relationship between estimated levels of gentamicin related to therapeutic range
and the ratio of CMax/MIC to patient clinical outcomes.
Results: A total of 33 patients were included in the inclusion criteria. There were
31 patients with level estimation results within the therapeutic range where 7
patients showed good clinical outcomes and 24 patients with poor clinical
outcomes. Meanwhile, based on the CMax/MIC ratio of E. coli and K.
pneumoniae bacteria, there is 1 patient with the estimated Cmax/MIC ratio above
the range of value optimal, which is 8 by showing poor clinical outcome. Based
on the results of fisher tests showed that there was no significant relationship
between gentamicin levels in the blood, both from the therapeutic range (p =
0.380) and the Cmax/MIC ratio in E. coli (p = 0.556) and K. pneumoniae (p =
0.556) on the clinical outcome of pediatric pneumonia patients.
Conclusion: There was no significant relationship between gentamicin levels in
the blood, both from the therapeutic range and the Cmax/MIC ratio in E. coli and
K. pneumoniae on the clinical outcome of pediatric pneumonia patients.
Keywords: Gentamicin, Estimation of levels, Clinical Outcome