Home
Login.
Artikelilmiahs
36995
Update
MILLATUNNISA
NIM
Judul Artikel
PROFIL RAPD MUTAN PUTATIF TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L.) cv. PSJT 941.1 HASIL IRADIASI SINAR GAMMA Co60
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan anggota familia Graminae yang umumnya dibudidayakan sebagai tanaman penghasil gula. Produksi gula nasional dari tahun ke tahun belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, salah satunya karena belum optimalnya produksi tebu. Salah satu kultivar tebu unggul yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah PSJT 941. Namun, rendemen yang dihasilkan oleh kultivar PSJT 941 ini masih dibawah potensi semestinya, maka masih diperlukan peningkatan kualitas tebu. Upaya untuk meningkatkan produksi dan kualitas tebu dapat dilakukan melalui pemuliaan yang diawali dengan meningkatkan variasi genetik tebu. Peningkatan variasi ini dapat dilakukan diantaranya dengan cara induksi variasi somaklonal dan iradiasi sinar gamma. Iradiasi kalus dalam kultur telah terbukti menghasilkan frekuensi varian yang lebih tinggi dan hal ini dapat dikonfirmasi melalui analisis molekuler. Salah satu teknik molekuler yang dapat digunakan untuk mendeteksi variasi genetik yang timbul dari hasil iradiasi sinar gamma pada tebu adalah RAPD. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan 1.) untuk mengetahui profil RAPD mutan putatif tebu cv. PSJT 941.1 hasil kultur kalus yang diradiasi dengan sinar gamma Co60; dan 2.) untuk mengetahui adanya perbedaan genetik antara mutan putatif tebu cv. PSJT 941.1 yang telah mengalami perlakuan kultur dan radiasi sinar gamma dengan wildtype tebu kultivar PSJT 941. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara acak atau random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesepuluh primer yang digunakan dapat mengamplifikasi template DNA. Dihasilkan total pita sebanyak 41 dan dua primer yang berhasil mendeteksi polimorfisme menghasilkan tiga pita polimorfik. Jumlah pita yang dihasilkan per primer bervariasi antara 3-7 pita, sedangkan ukuran pita berkisar antara 200-1500 bp. Rata-rata persentase polimorfisme dari 10 primer yang diujikan adalah sebesar 7,31%. Diantara sepuluh sampel mutan putatif, terdapat tiga sampel yang terkonfirmasi sebagai mutan dan menunjukkan perbedaan pola pita DNA dibandingkan wild type yaitu TB 1.4., TB 1.6., dan TB 1.9. Diantara ketiga mutan tersebut, TB 1.4. bersifat unik sementara TB 1.6. identik dengan TB 1.9.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Sugarcane (Saccharum officinarum L.) is a member of the Graminae family which is generally cultivated as a sugar-producing plant. National sugar production from year to year has not been able to meet the public demand, one of the reasons is sugarcane production is not yet optimal. One of the superior sugarcane cultivars that is widely cultivated in Indonesia is PSJT 941. However, the yield produced by the PSJT 941 cultivar is still below its proper potential, so it is still necessary to improve the quality of sugarcane. Efforts to increase the production and quality of sugarcane can be done through breeding that begins with increasing the genetic variation of sugarcane. This variation can be increased by way of induction of somaclonal variations and gamma ray irradiation. Callus irradiation in culture has been shown to produce higher frequency of variants and this can be confirmed by molecular analysis. One of the molecular techniques that can be used to detect genetic variations arising from gamma ray irradiation in sugarcane is RAPD. This research will be carried out with the aims are 1.) determining the RAPD profile of the putative mutant sugarcane cv. PSJT 941.1 result of callus culture irradiated with Co60 gamma rays; and 2.) determining the genetic differences between the putative mutant of sugarcane cv. PSJT 941.1 results of callus culture irradiated with gamma rays Co60 and wildtype sugarcane cv. PSJT 941. This study uses a survey method with a random sampling technique or random sampling. The results showed that the ten primers used could amplify the DNA template. A total of 41 bands were produced and two primers that successfully detected polymorphism produced three polymorphic bands. The number of bands produced per primer varied between 3-7 bands, while the band size ranged from 200-1500 bp. The average percentage of polymorphism of the 10 primers tested was 7,31%. Among the ten putative mutant samples, there were three samples that were confirmed as mutants and showed different DNA banding patterns compared to the wild type, namely TB 1.4., TB 1.6., and TB 1.9. Among the three mutants, TB 1.4. is unique while TB 1.6. identical to TB 1.9.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save