Artikelilmiahs

Menampilkan 26.121-26.140 dari 50.260 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2612129484B1J014052APLIKASI JAMUR PELAPUK PUTIH PADA METODE BIOPULPING BERBAHAN DASAR LIMBAH DAUN KAYU PUTIH (Melaleuca leucadendron)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jamur pelapuk putih (JPP) pada kadar lignin dan selulosa dalam proses biopulping limbah daun kayu putih lama dan limbah daun kayu putih baru dan mengetahui JPP terbaik untuk proses biopulping limbah daun kayu putih. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan berupa menginokulasikan JPP (Phanerochaete chrysosporium, Ganoderma lucidum, dan Pleurotus tuberregium), tiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Variabel penelitian terdiri atas variabel bebas berupa jenis JPP yang berbeda dan umur limbah, variabel terikat berupa kemampuan biodelignifikasi JPP pada limbah daun kayu putih. Parameter utama yang diamati adalah kadar lignin dan kadar selulosa sebelum dan sesudah masa inkubasi daun kayu putih. Parameter pendukung yang diamati adalah berat limbah sebelum dan sesudah inkubasi, pH, dan Berat Media.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar lignin dan selulosa pada seluruh perlakuan. Hasil rata-rata penurunan kadar lignin terbesar yakni pada perlakuan jamur P. tuberregium terhadap limbah daun kayu putih lama sebesar 0,014%. Penurunan kadar selulosa akhir tertinggi pada perlakuan jamur terbesar adalah pada jamur G. lucidum terhadap limbah daun kayu putih lama mengalami rata-rata penurunan selulosa terbesar 3,22%. This study aims to determine the effect of white rot fungus (JPP) on lignin and cellulose levels in the biopulping process of old eucalyptus leaves and new eucalyptus leaf waste and to find out the best JPP for the biopulping process of eucalyptus leaf waste. The research used experimental methods with completely randomized design (CRD). The treatment was inoculating JPP (Phanerochaete chrysosporium, Ganoderma lucidum, and Pleurotus tuberregium), each treatment was repeated 3 times. The research variables consisted of independent variables in the form of different types of JPP and age of waste, the dependent variable was the ability of JPP biodelignification on eucalyptus leaf waste. The main parameters observed were lignin levels and cellulose levels before and after the incubation period of eucalyptus leaves. The supporting parameters observed were the weight of waste before and after incubation, pH, and media weight. The results showed that there was a decrease in lignin and cellulose levels in all treatments. The result of the largest average reduction in lignin levels was the treatment of the fungus P. tuberregium on old eucalyptus leaves by 0.014%. The highest level of final cellulose in the largest fungal treatment was G. lucidum to old eucalyptus leaf waste which experienced the largest decrease in cellulose of 3.22%.
2612229567C1A015028FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEUNTUNGAN PENGEPUL RONGSOK DI KOTA CIREBONABSTRAK

Pengepul rongsok di Kota Cirebon ini mempunyai perbedaan keuntungan yang cukup besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat pendidikan, lama usaha, jenis produk, dan modal usaha terhadap pendapatan pengepul rongsok di Kota Cirebon. Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian ini seluruh pengepul rongsok di Kota Cirebon dan jumlah sempel sebanyak 40 pengepul rongsok. Teknik analisis data menggunakan regresi linier berganda dengan metode Ordinary Least Squares (OLS). Hasil penelitian Menunjukan bahwa secara bersama- sama variabel tingkat pendidikan, lama usaha, dan modal usaha berpengaruh signifikan terhadap keuntungan pengepul rongsok di Kota Cirebon. Secara parsial variabel pendidikan, lama usaha, dan modal usaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap keuntungan pengepul rongsok di Kota Cirebon. Sementara itu, variabel jenis produk berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap keuntungan pengepul rongsok di Kota Cirebon.Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya meningkatkan pendidikan yang tinggi untuk pengepul rongsok dan pemerintah harus membuat kebijakan berupa pendampingan atau penyuluhan agar para pengepul rongsok di Kota Cirebon agar tetap menjalankan usaha walaupun keadaan perekonomian sedang pasang surut. Selain itu, lembaga keuangan bank maupun non bank dapat memberikan pinjaman modal dengan suku bunga yang rendah agar pengepul rongsok dapat menjalankan usahanya dengan baik dan meningkatkan keuntungannya.

Kata Kunci : Pengepul Rongsok, Keuntungan, Pendidikan, Lama Usaha, Modal Usaha

ABSTRACT

The Rongsok's fitting in Cirebon city has a considerable difference in profit. This research aims to analyse the influence of education, length of effort, product type, and business capital to the income of Rongsok in Cirebon City. This method of research is descriptive analytic and its implementation using surveying techniques. The population of this study was all the Rongsok's in Cirebon city and the total number of 40 Rongsok presses. The data analysis technique uses multiple linear regression with the Ordinary Least Squares (OLS) method. The results of the study together the variable level of education, the length of effort, and the business capital positively and significantly affect the profits of the Rongsok in the city of Cirebon. Partial educational variables, length of effort, and business capital are positive and significant towards the profit of the Rongsok in Cirebon city. Meanwhile, the product type Varaibel is positively influential and insignificant in the advantage of the Rongsok presses in the city of Cirebon. The implications of this research are the need to increase high education for

the Rongsok and government should make a policy of mentoring or counseling so that the Rongsok leaders in Cirebon City to keep running business although economic state is retroactive. In addition, both Bank and non-bank financial institutions can provide capital loans with low interest rates so that the Rongsok can carry out their business well and increase their profits.

Keywords: Rongsok, profit, education, old business, business capital
2612329485B1A016148EFEK EKSTRAK PEGAGAN (Centella asiatica) TERHADAP KADAR Fe DAN PERSENTASE EOSINOFIL DARAH PADA TIKUS PUTIH YANG DIINDUKSI KADMIUMKadmium (Cd) adalah logam berat yang bersifat toksik. Kadmium yang masuk tubuh akan berikatan dengan metallotionein (Mt) secara stabil, lalu meningkatkan Reactive Oxygen Species (ROS) melalui reaksi Fenton yang menghasilkan OH- dan OH0, sehingga meningkatkan konsentrasi Fe3+ (feri), menurunkan konsentrasi Fe2+ (fero), dan menimbulkan peroksidasi lipid yang dapat merusak hati, ginjal, serta memicu reaksi inflamasi ditandai dengan peningkatan eosinofil. Pegagan (Centella asiatica Lour.) mengandung flavonoid yang dapat mendonorkan ion H+, sehingga ROS dapat dinetralisir. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efek pemberian ekstrak pegagan terhadap kadar Fe dan persentase eosinofil darah tikus putih yang diinduksi Cd dan mengetahui dosis yang cukup efektif untuk meningkatkan kadar Fe dan menurunkan persentase eosinofil darah tikus putih yang diinduksi kadmium. Penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Tikus putih diinduksi kadmium dosis 25% LD50 dan dibagi ke dalam 5 kelompok dengan masing-masing lima kali ulangan yaitu P0 (Kontrol), P1 (100 mg.kg-1BB), P2 (200 mg.kg-1BB), P3 (300 mg.kg-1BB), dan P4 (400 mg.kg-1BB). Parameter penelitian berupa kadar Fe dan persentase eosinofil darah tikus putih. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA pada tingkat kesalahan 5%, dilanjutkan uji Duncan pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak pegagan dapat meningkatkan 43,76% kadar Fe dan menurunkan 83,33% eosinofil darah tikus putih yang mendekati persentase normal. Kelompok perlakuan yang diberikan ekstrak pegagan menunjukkan kadar Fe darah yang lebih tinggi dan persentase eosinofil yang lebih rendah dibandingkan dengan kontrol. Ekstrak pegagan 200 mg.kg-1BB diketahui merupakan dosis yang cukup berpengaruh dalam meningkatkan kadar Fe dan menurunkan persentase eosinofil menjadi normal.Cadmium (Cd) is a heavy metal toxic. The cadmium that entering the body will bind to the metallothionein (Mt) stabilized, then increased Reactive Oxygen Species (ROS) through the Fenton reaction which produces OH- and OH0, thereby increasing Fe3+ (ferry) concentration, decreasing Fe2+ (ferrous) concentration, and causing lipid peroxidation that can damage the liver, the kidneys, and trigger an inflammatory reaction characterized by increased eosinophils. Gotu kola (Centella asiatica Lour.) contains flavonoid that can donate its hydrogen ion (H+), thus enabling the ROS to be neutralized. Research aims to know the effect of gotu kola extract on Fe levels and the percentage of blood eosinophils of white rats induced by Cd and to find doses that were effective enough to increase Fe levels and reduce the percentage of blood eosinophils of rats induced by cadmium. The study used an experimental method with a Completely Randomized Design (RAL). The white rats induced cadmium at a dose of 25% LD50 and divided into 5 groups with five times the test each namely P0 (control), P1 (100 mg.kg-1 BB), P2 (200 mg.kg-1 BB), P3 (300 mg.kg-1BB), and P4 (400 mg.kg-1BB). The research parameters were Fe levels and eosinophil percentage in white rat blood. The data obtained were analyzed using ANOVA at an error rate of 5%, followed by the Duncan test at a confidence level of 95%. The results showed that gotu kola extract could increase 43,76% Fe levels and decrease 83,33% eosinophil blood of white rats which was close to the normal percentage. The treatment group given gotu kola extract showed higher Fe levels and lower eosinophil blood percentage than control rats. Gotu kola extract at a dose of 200 mg.kg-1BB is known to be a dose that is quite influential in increasing Fe levels and decreasing the percentage of eosinophils to normal.
2612429486C1I016026FACTORS AFFECTING INDEPENDENCE OF SUPERVISORY DIVISION IN FINANCIAL SERVICES AUTHORITY (OJK)Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh profesionalisme, etika profesi, pengalaman kerja, tingkat pendidikan terhadap independensi Divisi Pengawas di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan di divisi pengawasan Otoritas Jasa Keuangan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Dengan demikian, sampel penelitian ini adalah 97 karyawan OJK Jakarta. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji validitas dan reliabilitas, uji asumsi klasik, dan analisis regresi linier berganda.Hasilnya menunjukkan kesimpulan bahwa profesionalisme memiliki pengaruh signifikan terhadap independensi karyawan di divisi pengawasan OJK. Kedua, etika profesi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap independensi karyawan di divisi pengawasan OJK. Ketiga, pengalaman kerja memiliki pengaruh signifikan terhadap independensi karyawan divisi pengawasan OJK. Keempat, pendidikan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap independensi karyawan di divisi pengawasan OJK. Oleh karena itu, hipotesis pertama dan ketiga diterima, di sisi lain, hipotesis kedua dan seterusnya ditolak.
This research aims to determine effect of professionalism, professional ethics, work experience, education level on independence of Supervisory Division in Financial Service Authority (OJK). The population in this study were all employee in supervisory division in Financial Service Authority OJK Indonesia which consisted of the main examiners, intermediate examiners, young examiners, and the first examiner. The sampling technique used is total sampling. Thus, the sample of this study was 97 employees of OJK Jakarta. The data analysis technique used are validity and reliability test, classic assumption test, and multiple linear regression analysis. The result shows several conclusions. First, professionalism has a significant influence on independency of employees in OJK supervisory division. Second, professional ethics does not have significant influence on employee independency in OJK supervisory division. Third, work experience has a significant influence on independency of employees in OJK supervisory division. Forth, education level does not have a significant influence on independency of employee in OJK supervisory division. Therefore, the first and the third hypothesis is accepted, on the other hand, the second and the forth hypothesis is rejected.
2612529488B1A016002ASPEK-ASPEK REPRODUKSI CACING Diopatra neapolitana
DI CILACAP
Diopatra neapolitana merupakan polychaeta yang memiliki tubuh dengan struktur tabung besar. D. neapolitanan dapat dimanfaatkan sebagai pakan udang karena memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Penggunaan D. neapolitana sebagai pakan dilakukan dengan mengambil cacing langsung dari alam sehingga dapat mengganggu keberlangsungan populasi cacing D. neapolitana di alam. Kondisi ini memerlukan adanya usaha domestifikasi dan budidaya D. neapolitana, namun informasi tentang kondisi biologis dan reproduksi yang ada masih terbatas, terutama spesies yang ditemukan di Cilacap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek-aspek reproduksi D. neapolitana yang dapat mendukung domestifikasi dan budidaya cacing D. neapolitana. Hasil penelitian menunjukkan nilai rasio jenis kelamin yang seimbang yaitu 1:1. Ukuran tubuh cacing betina dan jantan tidak berbeda nyata. Hasil pengamatan pada cacing betina menunjukkan rata-rata jumlah segmen 131,96 ± 28,19 buah; rata-rata berat tubuh 2.65 ± 1,15 g dan cacing berada dalam fase mature dan submature dengan diameter telur antara 199-240 µm. Cacing jantan memiliki rata-rata jumlah segmen 136,97 ± 24,51 buah; rata-rata berat tubuh 2.18 ± 1,11 g dan bentuk sperma berupa tetrad spermatid. Hasil analisis hubungan berat tubuh dan tingkat maturasi D. neapolitana menunjukkan hasil korelasi negatif dengan r= 0,009, persamaan regresi linier y= 219.868 – 0,080x; dan nilai t hitung (-0,043) < t tabel (2,07961), dan asil analisis hubungan jumlah segmen dan tingkat maturasi D. neapolitana didapat nilai r = 0,101; r2 = 1%; persamaan regresi linier y = 224.247– 0,035x; dan t hitung (-0,463) < t tabel (2,07961). Hasil analisis regresi linier menunjukkan bahwa %. Berat tubuh tidak berkorelasi positif dengan tingkat maturasi cacing D. neapolitana. Peningkatan berat tubuh tidak selalu dikuti dengan peningkatan tingakat maturasi, dan peningkatan jumlah segmen tidak selalu diikuti dengan peningkatan tingkat maturasi cacing D. neapolitana.Diopatra neapolitana is a polychaeta which has a body with a large tube structure. D. neapolitanan can be used as shrimp feed because it has a high nutritional content. The use of D. neapolitana as food mostly by taking worms directly from nature so that it can interfere population of D. neapolitana in nature. This condition requires domestication and cultivation of D. neapolitana. However, information about the biological conditions and its fulfilled, is still limited, especially the species found in Cilacap. This study was designated to reveal reproduction aspects of D. neapolitana that can support the domestication and cultivation of D. neapolitana. The sex ratio value obtained was 1: 1. The body size of female and male D. neapolitana worms was not significantly different. Observations on female worms showed number of segments mean 131.96 ± 28.19 pieces; body weight mean 2.65 ± 1.15 g and egg diameter mean 219.656 ± 9.75 µm. Male worms had number of segments mean 136.97 ± 24.51; body weight mean 2.18 ± 1.11 g and the form of sperm was tetrad spermatid. While indetermined worms had number of segments mean 115 ± 39.38 and body weight mean 2 ± 0.73 g. The results of the analysis of the relationship between body weight and maturation level of D. neapolitana obtained the value of r = 0.009, linear regression equation y = 219,868 - 0.080x; and the value of t count (-0.043) <t table (2.07961) and the results of the analysis of the relationship between the number of segments and maturation level of D. neapolitana, the value of r = 0.101, linear regression equation y = 224,247– 0.035x; and t count (-0.463) <t table (2.07961). Body weight did not have a positive correlation with the maturation level of D. neapolitana worms. Increasing body weight does not always followed by an increase in maturation, and increasing in number of segments was not always followed by an increase in maturation of D. neapolitana worms.
2612629502A1D016098UJI EFEKTIVITAS METABOLIT SEKUNDER JAMUR ENTOMOPATOGEN ISOLAT CIPETE TERHADAP HAMA ULAT GRAYAK Spodoptera litura Fabricius DI LABORATORIUMPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan metabolit sekunder jamur entomopatogen isolat Cipete terhadap mortalitas, aktivitas makan, pertumbuhan, dan mengetahui konsentrasi efektif untuk mengendalikan larva S. litura. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, mulai bulan November 2019 sampai Februari 2020. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial dengan 5 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah kontrol (P0), metabolit sekunder jamur entomopatogen isolat Cipete dengan konsentrasi 10% (P1), metabolit sekunder jamur entomopatogen isolat Cipete dengan konsentrasi 20% (P2), metabolit sekunder jamur entomopatogen isolat Cipete dengan konsentrasi 30% (P3), dan insektisida berbahan aktif sipermetrin dengan dosis 0,5 ml/L (P4). Variabel yang diamati yaitu mortalitas, aktivitas makan, lama pertumbuhan larva dan pupa, jumlah pupa terbentuk, bobot dan panjang pupa, jumlah imago terbentuk, fekunditas, fertilitas imago, dan efikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) aplikasi metabolit sekunder jamur entomopatogen isolat Cipete dapat menyebabkan mortalitas dan menurunkan aktivitas makan larva S. litura; 2) aplikasi metabolit sekunder jamur entomopatogen isolat Cipete dapat menurunkan lama periode larva instar tiga menjadi pupa, jumlah pupa dan imago terbentuk, serta menurunkan fekunditas dan fertilitas imago S. litura; 3) metabolit sekunder jamur entomopatogen isolat Cipete pada konsentrasi yang diujikan masih belum efektif untuk mengendalikan S. litura.This research aims to determine the effectiveness of secondary metabolites of entomopathogenic fungi Cipete isolates on mortality, feeding activity, growth, and determine the effective concentration to control S. litura larvae. This research was conducted at the Laboratory of Plant Protection Laboratory, Jenderal Soedirman University, from November 2019 to February 2020. This research used a Non Factorial Randomized Block Design with 5 treatments and 5 replications. The treatments used were control (P0), secondary metabolites of entomopathogenic fungi Cipete isolates with a concentration of 10% (P1), secondary metabolites of entomopathogenic fungi Cipete isolates with concentration 20% (P2), secondary metabolites of entomopathogenic fungi Cipete isolates with concentration 30% (P3) , and an insecticide with active ingredient is sipermetrin at a dose of 0.5 ml/ L (P4). Variables observed were mortality, feeding activity, the duration of larval and pupae growth, percentase of pupae formed, weight and length of pupae, percentase of imago formed, fecundity, imago fertility, and efficacy. The results showed that: 1)application of secondary metabolites of the entomopathogenic fungus isolate Cipete could caused mortality and reduced the feeding activity of S. litura larvae; 2) application of secondary metabolites of the entomopathogenic fungus isolate Cipete can reduced the duration of the third instar larvae into pupae, the number of pupae and imago formed, and the fecundity and fertility of S. litura imago; 3) secondary metabolites of the entomopathogenic fungus isolate Cipete at the concentrations tested were still ineffective to control S. litura.
2612729490B1A016147AKTIVITAS PROTEASE ALKALI INTESTIN IKAN UCENG, Nemacheilus fasciatusIkan Uceng (Nemacheilus fasciatus) tergolong kedalam famili Baltoridae dan genus Nemacheilus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas protease alkali ikan uceng (Nemacheilus fasciatus). Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik random sampling. Ikan uceng dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu ikan kecil (<6 cm), ikan sedang (6-7,7 cm), dan ikan besar (>8 cm). Pengukuran aktivitas protease alkali dilakukan dengan metode Walter (1984). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan one way ANNOVA, apabila perlakuan berpengaruh nyata, akan dilanjutkan dengan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil pengukuran aktivitas protease tidak berbeda pada kelompok ikan kecil sebesar 13,287 U.mg-1 Protein, diikuti dengan kelompok ikan sedang dan kelompok ikan besar dengan masing-masing sebesar 11,064 U.mg-1 Protein dan 10,429 U.mg-1 Protein. Aktivitas protease menunjukkan perbedaan pada segmentasi usus depan dan usus belakang pada kelompok ikan kecil sebesar 3.899 U.mg-1 Protein dan 6,531 U.mg-1 Protein, diikuti dengan kelompok ikan sedang dan kelompok ikan besar masing-masing 3,491 U.mg-1 Protein dan 7,573 U.mg-1 Protein, serta 5,012 U.mg-1 Protein dan 8,275 U.mg-1Protein. Penelitian ini menyimpulkan bahwa aktivitas protease alkali ikan uceng tidak berbeda pada ukuran ikan yang berbeda dan aktivitas protease alkali tertinggi ditemukan pada usus bagian belakang disetiap kelompok ukuran.Barred loach (Nemacheilus fasciatus) belong to Baltoridae famili and Nemacheilus genus. The purpose if this study is to determine the alkaline protease activity of barred loach (Nemacheilus fasciatus). This study used a survey method with ramdom sampling technique. Barred loach are grouped into three groups, namely small fish (<6 cm), medium fish (6-7,7 cm), and large fish (>8 cm). The measurement of alkaline protease activity was cariied out using the method of Walter (1984). The data obtained were analized using one way ANNOVA, if the treatment has a significant effect, it will be continued with a further test of the least significant difference (LSD) with an error rate of 5%. The results of measuring protease activity were not different in the s,all fish group of 13,287 U.mg-1 Protein, followed by the medium fish group and the large fish group with 11,064 U.mg-1 Protein and 10,429 U.mg-1 Protein. Protease activity showed differences in the foregut and hindgut segmentation in the small fish group of 3.899 U.mg-1 Protein ; 6,531 U.mg-1 Protein, followed by the medium fish group and large fish group 3,491 U.mg-1 Protein ; 7,573 U.mg-1 Protein, and 5,012 U.mg-1 Protein ; 8,275 U.mg-1Protein. This study concluded that the alkaline protease activity of barred loach was not different at different size of fish and the highest alkaline protease activity was found in the hindgut of each size group.
2612829491B2A018004DAMPAK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP FENOLOGI Vigna unguiculata subsp. Cylindrica (L.) Verdc.Pemanasan global merupakan fenomena terjadinya perbedaan suhu masa kini dengan masa lampau. Suhu masa kini relatif lebih tinggi disbanding masa lampau. Perubahan suhu tersebut mengarah pada terjadinya perubahan iklim. Perubahan iklim sebagai dampak dari adanya pemanasan global mengakibatkan terjadinya perubahan pada berbagai aspek kehidupan termasuk tanaman. Proses fisiologi tanaman yang terdampak salah satunya adalah fenologi pola pembungaan yang meliputi perubahan ukuran bunga, waktu pembungaan, dan waktu bunga mekar harian. Mempelajari dampak perubahan iklim sebagai dampak dari adanya pemanasan global terhadap suatu organisme dapat direpresentasikan melalui gradien ketinggian tempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat terhadap fenologi perkembangan bunga pada tanaman kacang panjang. Penelitian dilakukan menggunakan metode survey. Variabel bebas pada penelitian ini adalah perbedaan gradient ketinggian tempat, sedangkan variabel terikatnya adalah fenologi perkembangan bunga tanaman kacang panjang dan serangga penyerbuk. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi (ANOVA) dan analisis korelasi regresi. Hasil analisis menunjukan adanya pengaruh ketinggian tempat terhadap waktu bunga muncul pertama, jumlah bunga dan ukuran bunga. Kacang panjang tumbuh dan berkembang secara optimal pada ketinggian 50 - 400 m dpl.Global warming is a phenomenon of the occurrence of temperature differences between the present and the past. The present temperature is relatively higher than the past. These temperature changes lead to climate change. Climate change as a result of global warming has resulted in changes in various aspects of life, including plants. One of the affected plant physiological processes is the phenology of the flowering pattern which includes changes in flower size, flowering time, and daily bloom time. Studying the impact of climate change as the impact of global warming on an organism can be represented by an altitude gradient. This study aims to determine the effect of altitude on the phenology of flower development in long bean plants. The research was conducted using a survey method. The independent variable in this study is the difference in the gradient in altitude, while the dependent variable is the phenology of the flower development of long bean plants and pollinating insects. The data obtained were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and regression correlation analysis. The results of the analysis show that the height of the place has an effect on when the flowers first appear, the number of flowers and the size of the flowers. Long beans grow and develop optimally at an altitude of 50 - 400 m asl.
2612929492C1C016063PENGARUH FREE CASH FLOW, LEVERAGE, DAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP MANAJEMEN LABA
(Studi Empiris pada Perusahaan Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2018)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menguji pengaruh variabel free cash flow, leverage, dewan komisaris independen, kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional terhadap praktik manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2016-2018 yang berjumlah sebanyak 45 perusahaan. Jumlah data yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 87 data dari 29 perusahaan dengan menggunakan metode pengambilan sampel purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi data panel dengan bantuan software EViews 10. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) variabel free cash flow berpengaruh positif terhadap manajemen laba, (2) Leverage tidak berpengaruh terhadap manajemen laba, (3) dewan komisaris independen tidak berpengaruh terhadap manajemen laba, (4) kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap manajemen laba (5) kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba This study aims to determine and evaluate the impacts of free cash flow, leverage, independent board of commissioners, managerial ownership, and institutional ownership on earnings management of banking companies publicly listed on the Indonesia Stock Exchange. The study population was all banking companies listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI) in 2016-2018, with a total of 45 companies. A total of 87 data from 29 companies were sampled using the purposive sampling method. The data analysis technique applied is the panel data regression analysis and was analyzed using Eviews 10 software. The study results indicated that: (1) free cash flow variable had a positive effect on earnings management, (2)Leverage had no effect on earnings management (3) independent board of commissioners had no effect on earnings management (4) managerial ownership had a negative effect on earnings management, (3)institutional ownership had a negative effect on earnings management in banking companies listed on the Indonesia Stock Exchange.
2613029493F1A016087‘ANAK INDIE’ DAN FASHION
(Studi Tentang Fashion Penggemar Musik Indie di Purwokerto)
Musik indie diciptakan tanpa bergantung kepada label mayor dan tidak mengutamakan keuntungan material seperti musik populer atau musik industri. Seiring perkembangan teknologi, musik indie semakin mudah diakses dan marak dinikmati masyarakat. Oleh karena itu, muncul penggemar musik indie yang kemudian dijuluki sebagai ‘anak indie’.
Penelitian ini mendeskripsikan pemaknaan fashion menurut penggemar musik indie dan cara penggemar musik indie mengembangkan identitas diri melalui fashion. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan teknik purposive sampling dalam memilih sasaran penelitian. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah dengan melakukan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan penggemar musik indie memaknai fashion sebagai simbol yang menggambarkan identitas orang yang mengenakannya. Pemilihan beberapa fashion item ‘anak indie’ didasarkan oleh pemilihan fashion item suatu kelompok dan seorang idola, baik dalam kalangan musisi atau aktor. ‘Anak indie’ dapat digolongkan sebagai kelompok peniru, kelompok yang dianggap memiliki derajat lebih rendah dibandingkan kelompok elit yang menciptakan tren.
Indie music is created without depending on major labels and does not prioritize material benefits such as popular music or industrial music. Along with the development of technology, indie music has become more accessible and enjoyed by the public. Hence, indie music fans emerged who were later dubbed the ‘anak indie’.
This study describes the meaning of fashion according to indie music fans and how indie music fans develop their own identity through fashion. This research is a qualitative
2
research using purposive sampling technique in selecting research targets. The research data collection method is by conducting in-depth interviews, observations, and documentation. The results of this study show that indie music fans interpret fashion as a symbol that describes the identity of the person wearing it. The selection of some “anak indie” fashion items is based on the fashion item selection of a group and an idol, either among musicians or actors. 'Indie kids' can be classified as a group of copycats, a group that is considered to have a lower degree than the elite group that creates trends.
2613129494A1D016214Uji Efektivitas Metabolit Sekunder Jamur Entomopatogen Isolat Pasir Kulon terhadap Hama
Ulat Grayak Spodoptera litura Fabricius di Laboratorium
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metabolit sekunder jamur entomopatogen isolat Pasir Kulon terhadap mortalitas, aktivitas makan, pertumbuhan dan perkembangan, dan konsentrasi efektif yang dapat membunuh S. litura. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, mulai bulan November 2019 sampai Februari 2020. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial dengan 5 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah kontrol (P0), metabolit sekunder jamur entomopatogen isolat Pasir Kulon konsentrasi 10 persen (P1), metabolit sekunder jamur entomopatogen isolat Pasir Kulon konsentrasi 20 persen (P2), metabolit sekunder jamur entomopatogen isolat Pasir Kulon konsentrasi 30 persen (P3), dan insektisida berbahan aktif sipermetrin 0,5ml/L (P4). Variabel yang diamati adalah mortalitas, aktivitas makan, lama pertumbuhan larva dan pupa, jumlah pupa terbentuk, bobot dan panjang pupa, jumlah imago terbentuk, fekunditas dan fertilitas imago, dan konsentrasi efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Metabolit sekunder jamur entompatogen isolat Pasir Kulon dengan konsentrasi 10 persen dan 30 persen dapat menyebabkan mortalitas larva S. litura 50 persen dan mampu menurunkan aktivitas makan sebesar 30,17 persen; 2) Metabolit sekunder jamur entomopatogen isolat Pasir Kulon dengan konsentrasi 30 persen mempanjang stadium larva dan pupa sebesar 16,57 persen dan 13,44 persen, menghambat pembentukan pupa dan imago sebesar 81,58 persen dan 86,21 persen serta menurunkan fekunditas dan fertilitas sebesar 100 persen; 3) Metabolit sekunder jamur entomopatogen isolat Pasir Kulon belum efektif untuk mengendalikan larva S. litura karena nilai efikasi kurang dari 80 persen.The research aimed to determine effectiveness test of secondary metabolite entomopathogenic fungi Pasir Kulon isolate on mortality, feeding activity, growth and development, and concentration effective that can killed S. litura. This research was conducted in Plant Protection Laboratory of Agriculture Faculty, Jenderal Soedirman University, Purwokerto from November 2019 to February 2020. This research used a Randomized Complete Block Design Non Factorial with 5 treatments and 5 replications. The treatments respectively were control (P0), secondary metabolite entomopathogenic fungi Pasir Kulon isolate with concentration 10 percent (P1), secondary metabolite entomopathogenic fungi Pasir Kulon isolate with concentration 20 percent (P2), secondary metabolite entomopathogenic fungi Pasir Kulon isolate with concentration 30 percent (P3), and insecticide with active ingredient cypermetrin 0,5 ml/L (P4). Variables observed were mortality, feeding activity, duration growth of larvae and pupae, percentase of pupae formed, weight and length of pupae, percentase of adult formed, fecundity and fertility of adult, and concentration effective. Result of the research showed that 1) Secondary metabolite entompathogenic fungi Pasir Kulon isolate with concentration 10 percent and 30 percent can cause mortality 50 percent of larvae S. litura and decreased feeding activity as 30,17 percent; 2) Secondary metabolite entomopathogenic fungi isolate Pasir Kulon with concentration 30 percent the stages of larvae and pupae is longer by 16,57 percent and 13,44 percent, inhibit the formation of pupa and imago by 81,58 percent and 86,21 percent and reduce fecundity and fertility by 100 percent; 3) Secondary metabolite entomopathogenic fungi isolate Pasir Kulon have not been effective for controlling S. litura larvae because the efficacy value is less than 80 percent.
2613229495C1A016040ANALISIS USAHATANI KOPI ARABIKA DI KABUPATEN TEMANGGUNG (Studi Kasus di Kecamatan Kledung Kabupaten Temanggung)Kecamatan Kledung merupakan penghasil kopi arabika terbanyak di Kabupaten Temanggung, akan tetapi selama beberapa tahun terakhir mengalami fluktuasi hasil produksi dengan luas lahan yang cenderung tetap. Penelitian ini bertujuan (1) untuk menganalisis efisiensi usahatani kopi arabika di Kecamatan Kledung. dan (2) untuk menganalisis tingkat keuntungan yang diperoleh petani pada usahatani kopi arabika di Kecamatan Kledung.
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling dengan jumlah populasi sebanyak 1.319 orang dan jumlah sampel 92 orang serta teknik pengambilan data melalui kuisioner. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menggunakan uji efisiensi (R/C ratio) dan Analisis keuntungan usahatani.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Usahatani kopi arabika di Kecamatan Kledung secara umum memiliki nilai efisiensi rata-rata sebesar 2,04 dengan nilai efisiensi 2,78 pada luas lahan ≤1000 m2 dan nilai efisiensi 2,19 dan 1,29 pada luas lahan 1001-1500 m2 dan lahan seluas >1500 m2. (2) Keuntungan usahatani kopi arabika di Kecamatan Kledung secara umum adalah sebesar Rp1.139.540.500 dan keuntungan usahatani dengan luas lahan ≤1000 m2 adalah Rp374.610.405, keuntungan usahatani kopi arabika dengan luas lahan 1001-1500 m2 dan >1500 m2 adalah sebesar Rp168.403.283 dan Rp54.458.735. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa usahatani kopi arabika di Kecamatan Kledung mencapai efisiensi tertinggi pada luas lahan ≤1000m2 serta dengan perolehan tingkat keuntungan tertinggi pada lahan seluas 1001-1500 m2.
Implikasi berkaitan dengan efisiensi dan keuntungan usahatani di Kecamatan Kledung sebaiknya petani melakukan pemeliharaan tanaman secara optimal seperti pemupukan teratur yaitu sebanyak dua kali dalam satu tahun, pemotongan cabang yang tidak diperlukan dan peremajaan tanaman yang sudah tidak produktif atau berumur lebih dari 15 tahun agar memperoleh hasil produksi yang maksimal sehingga akan meningkatkan keuntungan usahatani. Bagi pemerintah daerah atau Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Temanggung sangat diharapkan mampu memberikan pelatihan dan bantuan kepada petani kopi guna meningkatkan efisiensi dan keuntungan usahatani kopi arabika.
Kata kunci : Usahatani, Kopi Arabika, Efisiensi, Keuntungan
Kledung's Coffee plantation is the largest Arabica coffee producer in Temanggung Regency, but over the last few years, it has experienced fluctuations in production yields with land areas that tend to remain stable. This study aims (1) to analyze the efficiency of Arabica coffee farming in the Kledung District. (2) to analyze the level of profit obtained by farmers in Arabica coffee farming in Kledung.
Research method that is used in this research is quantitative research. Furthermore, sampling method that is used in this research is simple random sampling with total population is 1,319 people and number of samples is 92 people and questionnaire data collection.
Based on the data analysis using efficiency tests (R / C ratio) and farm profit analysis, the results showed that: (1) Arabica coffee farming in Kledung has an average efficiency value of 2.04 with an efficiency value of 2.78 on an area of ≤1000 m2 and an efficiency value of 2.19 and 1.29 in an area land of 1001-1500 m2 and a land area of >1500m2. (2) The profit of Arabica coffee plantation in Kledung, is Rp1,139,540,500 and the profit of <1000m2 coffee plantation area is Rp374,610,405, the profit of 1001-1500 m2 coffee plantation area and the >1500 m2 is amounting to Rp. 168,403,283 and Rp. 54,458,735. It can be concluded that the Arabica coffee business in Kledung has achieved the highest efficiency in 1,000 m2 plantation area and with the highest level of profit in 1001-1500 m2 plantation area.
The implications related to the efficiency and profitability of farming in Kledung shows that, farmers should make optimal crop maintenance such as regular fertilization twice a year, unnecessary branch cutting, and rejuvenating plants that are not productive or more than 15 years old in order to obtain the best result. Furthermore, it will increase the profitability of farming. It is expected that the regional government or department of agriculture can provide training and assistance to coffee farmers in order to increase the efficiency and the profit of Arabica coffee plantation.
Keywords: Farming, Arabica Coffee, Efficiency, Profit
2613329496A1H014023PENILAIAN KESIAPAN MODERNISASI IRIGASI ANTARA DAERAH IRIGASI KEWENANGAN PUSAT DAN KABUPATEN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)Modernisasi irigasi merupakan proses adaptasi sistem irigasi terhadap perubahan dengan tujuan meningkatkan kinerja sistem irigasi dari aspek manajemen, metodologi, dan komponen sistem. Modernisasi irigasi di Indonesia dilakukan dengan pendekatan lima pilar irigasi yaitu ketersediaan air, sarana prasarana irigasi, institusi/kelembagaan, sistem pengelola, dan sumber daya manusia. Modernisasi dapat diimplementasikan apabila nilai Indeks Kinerja Modernisasi Irigasi (IKMI) pada suatu Daerah irigasi (DI) minimal 80. Nilai IKMI merupakan nilai kesiapan suatu Daerah Irigasi (DI) berdasarkan pada lima pilar modernisasi irigasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kesiapan modernisasi irigasi pada dua kewenangan DI yang berbeda dengan menggunakan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP). Penelitian dilaksanakan di dua DI, yaitu DI Serayu (luas 20.795 ha; kewenangan pemerintah pusat) dan DI Karangnangka (390,8 ha; kewenangan pemerintah Kabupaten Banyumas). Pengambilan data dilakukan selama 4 bulan (April-Juli 2019). Berdasarkan nilai IKMI dari dua kewenangan DI, didapatkan bahwa DI Serayu memiliki kesiapan implementasi modernisasi irigasi lebih baik (rerata ~ 79.2) daripada DI Karangnangka (rerata ~49.2). Perhatian pada aspek sistem pengelolaan (0,221) perlu diperhatikan sebelum implementasi modernisasi di DI Serayu sedangkan aspek peningkatan sarana prasarana menjadi faktor penting di DI Karangnangka (0,261). Perbedaan tingkat kesiapan tersebut dimungkinkan karena aspek faktor sumberdaya manusia, luas areal dan kekuatan institusi. Tantangan modernisasi irigasi pada perbedaan sistem pengelolaan adalah fleksibilitas dan adaptasi terhadap keragaman suatu DI.Irrigation modernization is a process of adaptation of irrigation systems with the aim to improving the performance of irrigation systems of management, methodology, and system components. Irrigation modernization in Indonesia using the five-pillar irrigation approach, namely the availability of water, infrastructure, institutions, management systems, and human resources. Modernization can be implemented if the value of the Irrigation Modernization Performance Index (IKMI) in an Irrigation Area (DI) is at least 80. IKMI is the value of readiness of an Irrigation Area (DI) based on the five pillars of irrigation modernization. The purpose of this research is to determine the readiness of irrigation modernization in two different irrigation area authorities by using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. The research was held in two irrigation area, namely DI Serayu (area of 20,795 ha; authority of the central government) and DI Karangnangka (390.8 ha; authority of the Banyumas Regency government). Data collection is carried out for 4 months (April-July 2019). Based on the IKMI values from the two DI authorities, it was found that DI Serayu had better readiness to implement irrigation modernization (average ~ 79.2) than DI Karangnangka (average ~ 51). Aspects of the management system (0.221) needs to be considered before the implementation of modernization in DI Serayu while the aspect of improving infrastructure is an important factor in DI Karangnangka (0.261). The different levels of readiness are possible due to aspects of human resources, area and institutional strength. The challenge of irrigation modernization on different management systems is flexibility and adaptation of the diversity of an irrigation area.
2613429497G1A016059UJI AKTIVITAS BAKTERI ASAM LAKTAT (Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus) PADA YOGHURT DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus epidermidis ATCC 12228Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri yang termasuk dalam genus Staphylococcus. Bakteri ini merupakan flora normal pada kulit dan membran mukosa yang dapat menyebabkan infeksi oportunistik. Bakteri ini dapat ditemukan pada kasus infeksi kronis akibat penggunaan alat medis dan infeksi kulit seperti akne vulgaris. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh bakteri asam laktat Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus pada yoghurt dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis ATCC 12228. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan metode Posttest-only with Control Group Design. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sampel terbagi dalam 10 kelompok konsentrasi 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30%, 35%, 40%, dan 45%. Sampel diuji menggunakan metode dilusi dan diinokulasikan secara spread plate. Pertumbuhan Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 dibandingkan antara konsentrasi 0% (kelompok kontrol) dan kelompok perlakuan. Analisis data dilakukan menggunakan Uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkan Uji Post-Hoc Mann-Whitney untuk menguji perbedaan antar kelompok. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan adanya perbedaan signifikan dengan nilai p=0,001 (p<0,005). Hasil pengujian lanjutan dengan Post-hoc Mann-Whitney menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan nilai p<0,05. Persentase penghambatan mencapai 99,9% pada semua kelompok konsentrasi. Kesimpulan penelitian ini adalah bakteri asam laktat Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus pada yoghurt dengan konsentrasi 5% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis ATCC 12228.Staphylococcus epidermidis is a bacterium that belonged to the genus Staphylococcus. This bacterium is a normal flora of the skin and the mucous membrane that could cause opportunistic infections. This bacterium can be found in cases of chronic infections due to the use of medical devices and skin infections such as acne vulgaris. This research aimed at testing the effectiveness of yogurt that contained Lactobacillus bulgaricus and Streptococcus thermophilus to inhibit the growth of bacterium Staphylococcus epidermidis ATCC 12228. The research applied Posttest-only with Control Group Design method in an experimental research. The experimental design in this study used a completely randomized design (CRD). Samples were divided into 10 concentration groups of 0%, 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, 30%, 35%, 40%, and 45%. They were tested using the dilution method and spread plate inoculated. The growth of Staphylococcus epidermidis ATCC 12228 was compared between 0% concentration (control group) and treatment group. The data were analyzed with Kruskal-Wallis test and Mann-Whitney Post-Hoc Test to test differences between groups. The Kruskal-Wallis test results show a significant difference in which p values = 0.001 (p<0.005) were obtained. The results of further testing with Post-hoc Mann-Whitney show significant differences with p values <0.05. The percentage of inhibition reaches 99.9% in all concentration groups. Therefore, the research concludes that yogurt contained Lactobacillus bulgaricus and Streptococcus thermophilus with at least 5% concentration is able to prevent the growth of Staphylococcus epidermidis ATCC 12228.
2613529498B2A018006DAMPAK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP FENOLOGI TANAMAN KECIPIR (Psopocarpus tetragonolobus) DAN HUBUNGANNYA DENGAN SERANGGA POLLINATORPemanasan global atau sering disebut dengan global warming adalah suatu bentuk ketidak seimbangan ekosistem di bumi akibat terjadinya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan di bumi. Dampak pemanasan global dapat membuat tanaman pertanian berbunga lebih cepat, sementara serangga penyerbuk belum siap sehingga siklus reproduksinya terganggu. Mempelajari perubahan suhu sebagai dampak dari adanya pemanasan global terhadap suatu organisme dapat direpresentasikan melalui gradien ketinggian tempat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan suhu terhadap fenologi tanaman kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) yang digambarkan dengan gradien ketinggian tempat dan untuk mengetahui keragaman serangga pollinator. Variabel bebas pada penelitian ini adalah perbedaan gradient ketinggian tempat, sedangkan variabel terikatnya adalah fenologi perkembangan bunga tanaman kecipir dan serangga pollinator. Hasil penelitian faktor abiotik menunjukan bahwa suhu udara dan intensitas cahaya matahari mengalami penurunan sejalan dengan meningkatnya ketinggian tempat dari permukaan air laut, sedangkan kelembababan udara terjadi peningkatan. Analisis fenologi tanaman kecipir menunjukan adanya pengaruh ketinggian tempat terhadap waktu kuncup bunga muncul pertama, jumlah bunga dan ukuran bunga serta terhadap keragaman serangga pollinator.Global warming or often referred to as global warming is a form of imbalance of ecosystems on earth due to the process of increasing the average temperature of the atmosphere, sea, and land on earth. The impact of global warming can make agricultural plants flower faster, while pollinating insects are not ready so that the reproductive cycle is disrupted. Studying temperature changes as a result of global warming on an organism can be represented by an altitude gradient. The study aims to determine the effect of temperature changes on the phenology of winged bean plants (Psophocarpus tetragonolobus) which is described by the gradient of altitude and to determine the diversity of pollinator insects. The independent variable in this study is the difference in the gradient in elevation of the place, while the dependent variable is the phenology of the development of winged bean flowers and pollinator insects. The results of the study of abiotic factors showed that air temperature and sunlight intensity decreased in line with the increase in altitude from the surface of the sea water, while the humidity increased. The phenological analysis of winged bean plants showed the influence of altitude on plant height, number of leaves and branches, time of first appearance, number of flowers and flower size as well as the diversity of pollinator insects
2613629499F1I013015ANALISIS KEBIJAKAN PENANAMAN MODAL ASING TERHADAP MENINGKATNYA TENAGA KERJA ASAL TIONGKOK DI INDONESIA PERIODE 2014-2018Skripsi ini membahas tentang pengaruh dari penanaman modal asing dari Tiongkok ke Indonesia terhadap masuknya tenaga kerja asal Tiongkok ke Indonesia pada tahun 2014 – 2018. Dengan adanya program pengembangan infrastruktur Indonesia membutuhkan sumber dana asing sebagai pemodal, hal ini dikarenakan anggaran Negara dirasa tidak cukup untuk membiayai program ini.Hal ini bertepatan dengan kebijakan Negara Tiongkok pada masa itu yang sedang mengembangkan rancangan One Road One Belt Initiative. Disisi lain Tiongkok menamkan modalnya di Indonesia dengan sekama Turnkey dimana segala sesuatunya diatur oleh pihak pemborong. Turnkey Project ini juga mengatur tentang tenaga kerja yang digunkan. Penulis ini meneliti apakah peningkatan investasi Tiongkok di Indonesia mempengaruhi jumlah tenaga kerja asal Tiongkok yang masuk ke Indonesia.This thesis discusses the effect of foreign investment from China into Indonesia on the entry of Chinese workers to Indonesia in 2014 - 2018.With the existence of Indonesia's infrastructure development program, it requires foreign sources of funds as investors, this is because the State budget is deemed insufficient to finance this project. This program coincided with the Chinese State policy at that time which was developing the One Road One Belt Initiative design. On the other hand, China invests its capital in Indonesia together with Turnkey scheme, where everything is regulated by the contractor. This Turnkey Project also regulates the workforce used. Author examines whether an increase in Chinese investment in Indonesia affects the number of Chinese workers who enter Indonesia.
2613729473B1A016074Kemampuan Bakteriosin Bifidobacterium sp. Bb2E sebagai Antimikroba dan Antioksidan dengan Penambahan Inulin pada Medium ProduksiBifidobacterium merupakan golongan bakteri asam laktat yang memiliki karakteristik Gram positif, berbentuk batang atau membentuk agregat seperti huruf V atau palisade, anaerob, sebagian katalase negatif, serta menghasilkan senyawa bakteriosin yang bersifat antibakteri. Bakteriosin merupakan hasil produksi senyawa pada fase logaritmik yang disintesis secara ribosomal oleh bakteri asam laktat. Senyawa tersebut secara aktif mampu menghambat dan membunuh bakteri lain dalam satu genus (narrow spectrum) maupun antar genera (broad spectrum). Ekstrak protein dari golongan Bifidobacterium sp. memiliki aktivitas enzim antioksidan seperti SOD, katalase, dan GPX. Bifidobacterium termasuk bakteri probiotik yang memanfatkan karbohidrat dari prebiotik contohnya inulin sebagai substrat energi melalui proses fermentasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan bakteriosin Bifidobacterium sp. Bb2E yang dihasilkan dari medium produksi dengan penambahan inulin dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Shigella flexneri, mengetahui kemampuan bakteriosin Bifidobacterium sp. Bb2E yang dihasilkan dari medium produksi dengan penambahan inulin sebagai senyawa antioksidan, dan mengetahui karakteristik bakteriosin Bifidobacterium sp. Bb2E berdasarkan nilai retention factor (Rf) yang menghambat pertumbuhan S. aureus dan S. flexneri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteriosin Bifidobacterium sp. Bb2E mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Shigella flexneri dengan diameter zona hambat 8.5 mm dan 9.67 mm. Bakteriosin Bifidobacterium sp. Bb2E mengandung senyawa antioksidan sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 6,79 mg/mL dan aktivitas enzim antioksidan superoksida dismutase sebesar 43,48 U/mL dan katalase sebesar 94,11 U/mL. Nilai retention factor (Rf) senyawa antibakteri dari bakteriosin Bifidobacterium sp. Bb2E yang mampu menghambat pertumbuhan S. aureus dan S. flexneri adalah 0,45-0,58.
Bifidobacterium is lactic acid bacteria that has characterictics Gram-positive, rod shape or form of aggregate like V or palisade, anaerobic, several group has negative catalase, and produce bacteriocin as antibacterial compound. Lactic acid bacteria produce bacteriocin during logaritmic phase by using ribosomal synthesis. This compound can inhibit or kill other bacteria on certain genus (narrow spectrum) or some genera (broad spectrum). The protein extract from Bifidobacterium sp. has an activity as an antioxidant enzyme such as SOD, catalase, and GPX. Bifidobacterium as probiotic takes advantages from prebiotics such as inulin as an substrate through fermentation.
The purposes of this research were to know the ability of Bifidobacterium sp. Bb2E bacteriocin which produced from medium with inulin added to inhibit growth of Staphylococcus aureus and Shigella flexneri, to know the ability of Bifidobacterium sp. Bb2E bacteriocin which produced from medium with inulin added that has antioxidant compound, and to know the characteristics of Bifidobacterium sp. Bb2E bacteriocin based on retention factor (Rf) value to inhibit growth of S. aureus and S. flexneri.
The results of this research were Bifidobacterium sp. Bb2E bacteriocin has an ability to inhibit the growth of Staphylococcus aureus and Shigella flexneri with inhibitory zone diameter was 8.5 mm and 9.75 mm. Bifidobacterium sp. Bb2E bacteriocin contained high antioxidant activity with IC50 value was 6,79 mg/mL and antioxidant enzyme activity of superoksida dismutase was 43,48 U/mL and catalase was 94,11 U/mL. Retention factor (Rf) value of antibacterial compound Bifidobacterium sp. Bb2E bacteriocin to inhibit growth of S. aureus and S. flexneri was 0,45-0,58.
2613829500C1A016100Analisis Efisiensi Perbankan Konvensional dan Syariah di Indonesia Tahun 2015 - 2018 (Studi Empiris Metode Stochastic Frontier)Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efisiensi perbankan konvensional dan syariah di Indonesia pada tahun 2015 – 2018. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Stochastic Frontier Approach (SFA) dengan estimasi fungsi biaya, dimana variabel yang digunakan terdiri dari variabel input (simpanan dan tenaga kerja) dan variabel output (kredit dan surat berharga) serta variabel independen total biaya. Penelitian ini menggunakan sampel 15 Bank Umum Konvensional (BUK) dan 10 Bank Umum Syariah (BUS). Hasil analisis efisiensi perbankan konvensional dan syariah masing-masing sudah menuju efisiensi dengan hasil rata-rata keseluruhan perbankan syariah lebih besar daripada perbankan konvensional, yaitu 85,7% untuk perbankan syariah dan 84,3% untuk perbankan konvensional. Rata-rata efisiensi perbankan konvensional memiliki nilai menurun setiap tahunnya, sedangkan rata-rata efisiensi perbankan syariah memiliki nilai yang meningkat setiap tahunnya dari tahun 2015 – 2018. Variabel simpanan dan tenaga kerja memiliki pengaruh positif dan variabel kredit dan surat berharga memiliki pengaruh negatif terhadap total biaya bank. Hasil uji beda independent sample t-test menghasilkan bahwa terdapat perbedan yang signifikan antara nilai rata-rata perbankan konvensional dan perbankan syariah. This study aims to analyze the level of efficiency of conventional and Islamic banking in Indonesia in 2015 - 2018. This research was conducted with a quantitative approach. The analytical method used in this research is the Stochastic Frontier Approach (SFA) method with an estimate of the cost function, where the variables used consist of input variables (savings and labor) and output variables (credit and securities) as well as independent variables of total costs. This study used a sample of 15 Conventional Commercial Banks (BUK) and 10 Islamic Commercial Banks (BUS). The results of the analysis of the efficiency of conventional and Islamic banking have each led to efficiency with the overall average result of Islamic banking being greater than conventional banking, namely 85.7% for Islamic banking and 84.3% for conventional banking. The average efficiency of conventional banking has a decreasing value every year, while the average efficiency of Islamic banking has a value that has increased every year from 2015 - 2018. Savings and labor variables have a positive influence and credit and securities variables have a negative effect on the total. bank charges. The results of the independent sample t-test different results indicate that there is a significant difference between the average value of conventional banking and Islamic banking.
2613929503B1A016103AKTIVITAS LIPASE DAN AMILASE INTESTIN IKAN UCENG (Nemacheilus fasciatus)Ikan uceng (Nemacheilus fasciatus) memiliki potensi tinggi di masyarakat, namun pemanfaatannya hanya mengandalkan tangkapan dari alam yang menyebabkan kelestarian ikan uceng terancam, salah satu cara menanggulangi masalah tersebut adalah melakukan proses domestikasi. Domestikasi dapat didukung dengan informasi mengenai aktivitas enzim pencernaan ikan yang berbanding lurus dengan kemampuan ikan dalam mencerna pakan yang kemudian nutrisi tersebut dapat digunakan ikan untuk tumbuh dan berkembang dengan optimal, namun informasi tentang hal tersebut masih sedikit. Oleh karena itu, suatu studi tentang aktivitas enzim pencernaan pada ikan diantaranya adalah lipase dan amilase, perlu untuk dilakukan. Tujuan penelitian adalah mengetahui aktivitas lipase dan amilase pada ikan uceng. Metode yang digunakan adalah survei dengan teknik random sampling. Objek penelitian adalah ikan uceng yang dikelompokkan berdasarkan panjang tubuh, yaitu kelompok ikan besar (>8 cm), ikan sedang (6 – 7,7 cm), dan ikan kecil (<6 cm). Variabel yang diamati adalah aktivitas lipase dan amilase. Serta parameter penelitian adalah konsentrasi maltosa dan konsentrasi p-nitrophenol. Data yang didapatkan dianalisis dengan one way anova, dilanjutkan dengan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) dengan tingkat kesalahan 5%. Hasil menunjukkan bahwa aktivitas lipase ikan uceng terjadi di sepanjang usus ikan, namun aktivitas lipase ikan uceng tidak memiliki perbedaan yang signifikan (P>0,05) diantara kelompok ukuran tubuh ikan. Aktivitas lipase dalam penelitian ini juga tidak memiliki perbedaan yang signifikan (P>0,05) diantara usus anterior dan usus posterior. Aktivitas amilase ikan uceng terjadi di sepanjang usus ikan, dan tidak memiliki perbedaan yang signifikan diantara ukuran ikan (P>0,05), namun pada aktivitas amilase ikan uceng memiliki perbedaan yang signifikan (P<0,05) diantara usus anterior dan posterior, usus posterior memiliki nilai rata-rata aktivitas amilase yang lebih tinggi. Hasil menunjukan bahwa ikan uceng tidak memiliki perbedaan pola aktivitas lipase berdasarkan ukuran ikan karena kapasitas ikan dalam mencerna lemak dan pola makan ikan uceng tidak berubah. Pola aktivitas amilase pada ikan uceng juga tidak berbeda diantara ukuran ikan, namun rata-rata aktivitas amilase ikan uceng lebih tinggi pada usus posterior.

Barred loach (Nemacheilus fasciatus) has high potential in the community because it has high potential in the community because it has good tastes, high protein and has high economic value, but its utilization only relies on catches from nature. This can threaten the sustainability of the barred loach, therefore one way to overcome this problem is to carry out the domestication process. Domestication can be supported by information regarding the activity of fish digestive enzymes which is directly proportional to the ability of the fish to digest feed which then can be used by fish to grow and develop optimally. Therefore, a study on the activity of digestive enzymes in fish, including lipase and amylase need to be conducted. This study aims to determine the activity of lipase and amylase in barred loach. The method used in this research is a survey with a random sampling technique. This study used barred loach which were grouped based on body length, large fish (> 8 cm), medium fish (6 - 7.7 cm), and small fish (<6 cm). The variables observed were lipase and amylase activity. The parameters are the concentration of maltose and concentration of p-nitrophenol. The data obtained were analyzed by one way ANOVA, then continued with further testing the least significant difference (LSD) with an error rate of 5%. The results showed that barred loach lipase activity occurred along the fish gut, but the barred loach lipase activity did not have a significant difference (P> 0.05) among the fish body size groups. Lipase activity in this study also did not have a significant difference (P> 0.05) between the anterior and posterior intestines. The amylase activity of barred loach occurred along the fish gut, and did not have a significant difference among fish size (P> 0.05), but the amylase activity of barred loach had a significant difference (P <0.05) between the anterior and posterior intestines, with the posterior gut has a higher mean value of amylase activity. The results showed that barred loach did not have differences patterns in lipase activity based on fish size because the capacity of the fish to digest fat and the diet of barred loach did not change. The amylase activity pattern in barred loach also did not differ between fish sizes, but the mean of amylase activity in posterior intestine was higher than anterior intestine.
2614029504A1D016010PENGARUH PESTISIDA NABATI BUAH MAJA-UMBI GADUNG
DAN PUPUK ORGANIK ECOFARMING TERHADAP HAMA UTAMA TANAMAN TERUNG
Serangan hama pada tanaman terung merupakan faktor pembatas utama dalam kegiatan budidaya. Oleh karena itu, perlu upaya untuk mengendalikan serangan hama pada tanaman terung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi tunggal pestisida nabati maja-gadung, aplikasi tunggal pupuk organik Ecofarming, aplikasi gabungan petisida nabati maja-gadung dan pupuk organik Ecofarming terhadap populasi hama, intensitas serangan hama serta pertumbuhan dan hasil produksi tanaman terung. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bantarwuni, Kec. Kembaran, Kab. Banyumas dari bulan September hingga November 2019. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) pola faktorial dengan 3 ulangan, sehingga terdapat 9 kombinasi perlakuan (Kontrol, Ecofarming 50 ml, Ecofarming 100 ml, Pesnab maja-gadung 5%, Pesnab maja-gadung 10%, Ecofarming 50 ml + Pesnab maja-gadung 5%, Ecofarming 50 ml + Pesnab maja-gadung 10%, Ecofarming 100 ml + Pesnab maja-gadung 5%, Ecofarming 100 ml + Pesnab maja-gadung 10%). Variabel yang diamati yaitu populasi dan intensitas serangan hama utama, tinggi tanaman dan bobot buah per tanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa Hama utama yang dijumpai dilapangan yaitu, Bemisia tabaci, Amrasca devastans, dan Epilachna sp. Perlakuan pupuk organik Ecofarming 50 ml dan pestisida nabati maja-gadung 10% mampu menekan populasi Amrasca devastans sebesar 22,8% dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap populasi hama Epilachna sp., populasi hama Bemisia tabaci, intensitas serangan Epilachna sp., intensitas serangan hama penghisap daun (Bemisia tabaci + Amrasca devastans), tinggi tanaman, dan bobot buah. Pest attack on eggplant is a major limiting factor in cultivation activities. Therefore, efforts are needed to control pest attacks on eggplant plants. This research aims to determine the effect of a single application of maja-yam botanical pesticides, a single application of organic fertilizer Ecofarming, a combined application of maja-yam botanical pesticides and Ecofarming organic fertilizers on pest populations, intensity of pest attacks and growth and yield of eggplant plants. The research was conducted in Bantarwuni Village, Kembaran District, Banyumas Regency from September to November 2019. This research used a factorial complete randomized block design (RAKL) with 3 replications, so that there were 9 treatment combinations (Control, Ecofarming 50 ml, Ecofarming 100 ml, maja-yam botanical pesticides 5%, maja-yam botanical pesticides 10%, Ecofarming 50 ml + maja-yam botanical pesticides 5%, Ecofarming 50 ml + maja-yam botanical pesticides 10%, Ecofarming 100 ml + maja-yam botanical pesticides 5%, Ecofarming 100 ml + maja-yam botanical pesticides 10%). The variables observed were population and intensity of major pest attacks, plant height and fruit weight per plant. The results showed that the main pests found in the field were, Bemisia tabaci, Amrasca devastans, and Epilachna sp. The treatment of organic fertilizer Ecofarming 50 ml and maja-yam botanical pesticides 10% were able to reduce the population of Amrasca devastans by 22.8% compared to the control. The treatment did not have a significant effect on the population of Epilachna sp., the population of Bemisia tabaci, the intensity of Epilachna sp. attacks, the intensity of attack by leaf-sucking pests (Bemisia tabaci + Amrasca devastans), plant height, and fruit weight.