Artikelilmiahs

Menampilkan 16.441-16.460 dari 49.958 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1644119757A1M013020AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SERTA SIFAT KIMIA DAN SIFAT FISIKOKIMIA EDIBLE COATING BERBASIS CMC DAN GLISERIN DENGAN PENAMBAHAN BAHAN AKTIF BUAH DAN BUNGA KECOMBRANGEdible coating adalah lapisan tipis yang bertujuan untuk memberikan perlindungan yang selektif terhadap perpindahan massa juga untuk meningkatkan penanganan produk pangan. Penambahan antioksidan perlu dilakukan untuk melindungi produk yang dilapisi coating agar terhindar dari oksidasi, degradasi, dan penurunan mutu warna. Kecombrang (Nicolaia spesiosa Horan) merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai antioksidan alami, karena mengandung komponen bioaktif diantaranya alkaloid, flavonoid, polifenol, terpenoid, steroid, saponin, dan minyak atsiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bagian tanaman, bentuk awetan, dan konsentrasi awetan kecombrang, serta interaksinya terhadap aktivitas antioksidan dan sifat kimia serta sifat fisikokimia edible coating. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang diteliti adalah bentuk awetan (A): A1= bubuk, A2 = konsentrat; bagian tanaman (B1) = bunga, (B2) = buah; konsentrasi (K1) = 2%, (K2) = 3%, (K3) = 4%. Dengan demikian diperoleh 12 unit percobaan yang diulang 3 kali, sehingga diperoleh 36 unit percobaan dengan 1 unit faktor luar sebagai kontrol (A0B0K0) setiap ulangannya sehingga diperoleh total unit percobaan 39 unit. Variabel yang diuji pada penelitian ini meliputi total senyawa fenolik, aktivitas antioksidan, pH, viskositas, kecerahan, dan intensitas warna edible coating. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan terbaik pada penelitian ini adalah A2B2K3 (konsentrat, buah kecombrang, 4%). Edible coating A2B2K3 memiliki aktivitas antioksidan 88%, total senyawa fenolik 2 mg/g sampel, pH 3,59, viskositas 120,7 mPa.s, kecerahan 29,97, dan memiliki warna merah muda.Edible coating is a thin layer of coating designed to provide selective protection against mass transfer as well as improving the handling of the food product. Antioxidant is added in order to protect the products coated with edible coating from oxidation, degradation, and the degradation of color. Kecombrang (Nicolaia spesiosa Horan) is one of the plants that has a potency to be a natural antioxidant because it contains bioactive components such as alkaloid, flavonoid, polifenol, terpenoid, steroid, saponin, and essential oil. This research aims to know the effects of the plant parts of kecombrang, its form as a preservative, to know the preserved kecombrang concentration,and the effect of their interaction on the antioxidant activity, chemical and physicochemical properties of the edible coating as well. This research used a Completely Random Design (RAL). The factors studied were in a form of preserved kecombrang (A):A1= powder, A2= Concentrate ; parts of the kecombrang plant (B1) = flower, (B2) = Fruit ; Concentration (K1) = 2%, (K2) = 3%, (K3) = 4%. Therefore, these were obtained 12 experiments with 3 repititions, with one control unit (A0B0K0) for each repetition resulted of 39 experiments. Variables tested in this research covers total phenolic content, activities of antioxidant, pH, viscosity, brightness, and color intensity of the edible coating. The result showed that the best combination from this research was A2B2K3 (concentrate, kecombrang fruit, 4%). A2B2K3 edible coating had 88% antioxidant activity, 2 mg/g phenolic content, pH of 3.59, viscosity of 120.7 mPa.s, brightness of 29.97 and it’s color is pink.
1644219758C1L010054EFEK DARI KEGESITAN ORGANISASI DAN KESELARASAN STRATEGI TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP KINERJA BANK DI PURWOKERTOTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kelincahan organisasi dan teknologi informasi terhadap kinerja bank di Kota Purwokerto. Praktis, tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi yang relevan dengan manajemen bank mengenai perumusan dan implementasi kebijakan. Terus meningkatkan kinerja bank secara optimal. Secara teoritis, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model referensi akuntansi, terutama berkenaan dengan hubungan kausal antara ketangkasan organisasi dan penyelarasan strategi teknologi informasi terhadap kinerja organisasi bank. Berdasarkan teori dan hasil penelitian terdahulu, dapat diasumsikan kelincahan organisasi dan penyelarasan strategi teknologi informasi terhadap kinerja organisasi. Untuk menguji hipotesis ini, jenis penelitian ini menggunakan survei terhadap manajer bank yang beroperasi di kota Purwokerto. Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah jumlah layanan nasabah dan teller cabang bank yang beroperasi di Kota Purwokerto sebanyak 53 bank dengan asumsi ada 53 manajer. Dengan menggunakan rumus Slovin, diketahui bahwa ukuran sampel minimum adalah 47 responden. Selanjutnya teknik analisis data ini menggunakan analisis regresi linier.The purpose of this study is to determine the effect of agility of organization and information technology on bank performance in the city of Purwokerto. Practically, the purpose of this study is to provide information relevant to bank management on the formulation and implementation of policies. Continue to improve bank performance optimally. Theoretically, the purpose of this study is to develop an accounting reference model, especially with regard to causal relationships between organizational agility and alignment of information technology strategies to the performance of bank organizations. Based on the theory and the results of previous research, it can be assumed that organizational agility and alignment of information technology strategy to organizational performance. To test this hypothesis, this type of study used a survey of bank managers operating in the city of Purwokerto. The target population of this study is the number of customer service and bank branch teller operating in the city of Purwokerto as many as 53 banks assuming there are 53 managers. By using the Slovin formula, it is known that the minimum sample size is 47 respondents. Furthermore, this data analysis technique using linear regression analysis.
1644319759H1G012031IDENTIFIKASI GEN VITELOGENIN PADA IKAN NILEM
(Osteochilus hasselti) DALAM UPAYA KONSERVASI
Proses sintesis vitelogenin terjadi di hati karena adanya rangsangan hormonal untuk meningkatkan produksi estrogen (estradiol-17β dan estron) yang akan merangsang vitelogenesis. Keberhasilan pembentukan vitelogenin akan menentukan kelangsungan hidup embrio dan larva ikan yang siap dipijahkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gen vitelogenin pada ikan nilem (Osteochilus hasselti) dalam upaya konservasi. Sampel DNA diisolasi dari hati ikan nilem dan digunakan dalam amplifikasi PCR lalu hasil amplifikasi dilakukan elektroforesis, setelah itu hasil amplifikasi disekuensing dan analisis sekuen. Hasil dari penelitian ini adalah gen vitelogenin berhasil di identifikasi dari ikan nilem dan memiliki kesamaan dengan ikan komet (Carassius auratus, KF373230.1), 94% dengan milik ikan kap (Cirrhinus molitorella, GU324313.1), 95% dengan milik ikan mas (Ctenopharyngodon idella, KT984760.1), 86 % dengan milik ikan karper (Cyprinus carpio, LN595377.1), 94% dengan milik ikan Petroleuciscus esfahani, KF766534.1 dan 89% dengan milik ikan zebra (Danio rerio, NM_001044913.1) dengan panjang sekuen nukleotida yaitu 1875 bp.Vitellogenesis occurs in the liver as a result of hormonal stimulation i.e estrogen production (estradiol-17β and estron). The successful of process determines viability of fish embryos and larvae. This study aimed to identify vitelogenin genes (vtg) in hard-lipped barb (Osteochilus hasselti) as a conservation effort. DNA sample was isolated from liver and used in PCR and the amplification product was then electrophoryzed. The product of amplification was sequenced and the sequence was analyzed. The results of this study was vitelogenin gene identified from hard-lipped bard was 93% identical to goldfish (Carassius auratus, KF373230.1), 94% to mud carp (Cirrhinus molitorella, GU324313.1), 95% to carp ( Ctenopharyngodon idella, KT984760.1), 86% to carp (Cyprinus carpio, LN595377.1), 94% to Petroleuciscus esfahani, KF766534.1 and 89% to zebrafish (Danio rerio, NM_001044913.1). The length of nucleotide sequence is 1875 bp.

1644419760D1E010202BOBOT DAN PERSENTASE TULANG DAN DAGING DALAM KARKAS PADA BERBAGAI AYAM SENTUL JANTAN UMUR 18 MINGGU Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh berbagai jenis ayam Sentul jantan terhadap bobot dan persentase tulang dan daging karkas pada umur 18 minggu. Materi penelitian menggunakan 175 ekor ayam Sentul umur 8 minggu. Penelitian menggunakan metode eksperimen dan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan terdiri atas 5 jenis ayam Sentul diantaranya Sentul Abu (Sa), Sentul Batu (Sb), Sentul Debu (Sd), Sentul Emas (Se) dan Sentul Geni (Sg). Peubah yang diamati adalah bobot tulang karkas, persentase tulang karkas, bobot daging karkas, dan persentase daging karkas. Hasil penelitian diperoleh rataan bobot tulang karkas, persentase tulang karkas, bobot daging karkas, dan persentase daging karkas yaitu 244,57 g ± 46,54; 35,79 % ± 4,72; 371,14 g ± 57,35; dan 54,42 % ± 4,94. Hasil analisis variansi diperoleh berbagai jenis ayam Sentul jantan berpengaruh tidak nyata (P > 0,05) terhadap rataan bobot karkas, persentase tulang karkas, bobot daging karkas, dan persentase daging karkas pada umur 18 minggu. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan berbagai jenis ayam Sentun jantan menghasilkan bobot tulang karkas, persentase tulang karkas, bobot daging karkas, dan persentase daging karkas relatif sama pada umur 18 minggu.The aims of this research to know the effect of male Sentul chicken on body weight and percentage of bone and meat of carcass at 18 week old. The research used 175 at 8 week of Sentul chicken. The research used experiment method and Completely Randomized Design (CRD). The treatments were variety of 5 Sentul chicken : Sentul Abu (Sa), Sentul Batu (Sb), Sentul Debu (Sd), Sentul Emas (Se) and Sentul Geni (Sg). The parameters measured were carcass bone weight, carcass bone percentage, carcass meat weight, and carcass meat percentage. The result showed that the average of carcass bone weight, carcass bone percentage, carcass meat weight, and carcass meat percentage were 244,57 g ± 46,54; 35,79 % ± 4,72; 371,14 g ± 57,35; 54,42 % ± 4,94. The Analyse of Variant showed that the treatments had no significant effect (P> 0,05) on carcass bone weight, carcass bone percentage, carcass meat weight, and carcass meat percentage at 18 week old. It could be conclused that male Sentul chicken the same relatively at 18 week old.
1644521139E1A013122PENJATUHAN PIDANA PELAKU PEMBUNUHAN TERHADAP BAYI (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Pengadilan Negeri Purbalingga No.129/Pid.Sus/2014/PN.Pbg)Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana perumusan tindak pidana pembunuhan menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana pada Pasal 341 dan bagaimana penerapan sanksi hukum terhadap Ibu sebagai pelaku tindak pidana pembunuhan menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana pada Pasal 341.
Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif, spesifikasi penelitian adalah deskriptif, sumber data yang digunakan adalah data sekunder, metode penyajian data yang disajikan dalam bentuk uraian yang disusun secara sistematis, metode pengumpulan data adalah studi kepustakaan dan metode analisis data menggunakan normatif kualitatif.
Dari hasil penelitian terhadap putusan Pengadilan Negeri Purbalingga Nomor 129/Pid.Sus/2014/PN.Pbg bahwa unsur-unsur Pasal 341 KUHP telah terpenuhi, sehingga terdakwa secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan anak. Hakim dalam menjatuhkan putusan telah mendasar pada fakta-fakta yuridis serta alat bukti yang terdapat dalam persidangan yang diatur dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP, yaitu berupa: Keterangan Saksi, Keterangan Ahli, Surat, Petunjuk (barang bukti), dan Keterangan Terdakwa. Selain itu juga hakim mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan terdakwa sesuai ketentuan Pasal 197 ayat (1) huruf f KUHAP.
This research was conducted with the purpose to find out about how the formulation of criminal act of murder according to the Indonesian Criminal Code in Article 341 and how the application of legal sanctions to the mother as a perpetrators of murder crime according to Indonesian Criminal Code (KUHP) in Article 341.
The research method used is normative juridical, the research specification is descriptive, the data source used is secondary data, the data presentation method would be presented in systematic description form, the data collection method is literature study and the data analysis method used normative qualitative.
From the result of the research on the Decision of Purbalingga District Court No. 129/Pid.Sus/2014/PN.Pbg that the elements of Article 341 of the Indonesian Criminal Code (KUHP) have been fulfilled, so the defendant is legally and convincingly guilty of comitting a crime of infanticide. The judges in dropping the verdict has based on juridical facts and evidence that contained in the hearing as regulated in Article 184 paragraph (1) Indonesian Criminal Procedure Code (KUHAP), i.e. in the form of: Witness Testimony, Expert’s Explanations, Letter/Documents, Clue (from the evidence), and Statement of Defendant. In addition, the judges considers the things that incriminate and relieve the defendant in accordance with Article 197 paragraph (1) subparagraph f of Indonesian Criminal Procedure Code (KUHAP).
1644619761A1C111037EFISIENSI PEMASARAN KENTANG (Solanum tuberosum L) ASAL DESA PANDANSARI KECAMATAN PAGUYANGAN KABUPATEN BREBESDesa Pandansari merupakan daerah penghasil kentang terbesar di Kabupaten Brebes. Kentang bagi petani mempunyai peran cukup strategis terutama dalam meningkatkan pendapatan petani karena merupakan produk unggulan dan dari segi ekonomi menguntungkan serta layak untuk dikembangkan. Pemasaran kentang di Desa Pandansari melibatkan beberapa lembaga pemasaran sehingga memudahkan para petani untuk memasarkan kentang. Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi saluran pemasaran kentang di Desa Pandansari Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes, (2) Menghitung besarnya marjin pemasaran kentang pada setiap saluran pemasaran, (3) Menghitung bagian harga yang diterima petani (farmer’s share), persentase biaya dan keuntungan tiap-tiap saluran pemasaran, (4) Mengetahui saluran pemasaran kentang yang paling efisien.
Penelitian dilakukan dengan metode survey dengan rancangan pengambilan sampel Simple Random Sampling untuk petani, snowball sampling untuk pedagang, diperoleh 25 responden petani dan 10 responden pedagang perantara. Metode analisis yang digunakan meliputi : analisis deskriptif, analisis marjin, farmer’s share, biaya pemasaran, keuntungan, dan analisis efisiensi teknis dan ekonomis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Terdapat 3 saluran pemasaran kentang di Desa Pandansari, dengan rincian: Saluran I yaitu petani – pengumpul – pedagang besar – konsumen akhir, saluran II yaitu petani–pengumpul–pengecer–konsumen akhir, saluran III yaitu petani–pengecer–konsumen akhir. (2) Marjin pemasaran kentang di Desa Pandansari pada setiap saluran pemasaran yaitu : Saluran I sebesar Rp5.000,00/kg, saluran pemasaran II sebesar Rp4.909,00/kg, dan saluran pemasaran III sebesar Rp4.029,00/kg. (3) Farmer’s share terbesar ada pada saluran pemasaran III sebesar 66,50%. Persentase biaya terkecil ada pada saluran III sebesar 29,43%. Persentase keuntungan terbesar pada saluran pemasaran III sebesar 70,57%. (4) Berdasarkan nilai indeks efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis, saluran pemasaran kentang yang paling efisien adalah saluran III karena memiliki nilai indeks efisiensi teknis terkecil dan indeks efisiensi ekonomis terbesar.
Pandansari is the biggest producer of potato in Brebes Regency, Central Java. To local farmers, potato is playing strategic role to enhance their income considering that potato is one of reliable product, economically feasible and profitable for further development. Marketing of potatoes in the village Pandansari involves several marketing agencies making it easier for farmers to sell potatoes. The purpose of this research are : (1) Identify Marketing value chain of potato in Pandansari, Paguyangan district, Brebes, (2) Evaluate Marketing margin for each value chain, (3) Evaluate farmer’s share, percentage of cost and profit in each value chain, (4) Decide the efficient marketing value.
The Research was developed by conducting survey methods : Simple Random Sampling for farmers (25 respondents), Snowball Sampling for intermediary sellers (10 respondents). The Analysis method is conductedby using descriptive analysis, margin analysis, farmer’s share, efficiency analysis in term of technical and economical.
The result show that (1) there are 3 (three) distribution channel of marketing potato : First channel (farmer-collector-main seller-end customer), Second channel (farmer-collector-retailer-end customer) and Third channel (farmer-retailer-end customer). (2) Marketing margin for each distribution channel : First channel produces margin of Rp5.000,00/kg, Second channel produces margin of Rp4.909,00/kg, and Third channel has margin of Rp4.029,00/kg. (3) The highest farmer’s share is for third channel (66,50%), the lowest cost percentage is in the third channel (29,43%), and also for highest profit percentage is third channel (70,57%).(4) According to Technical Efficiency Index and Economical Efficiency Index, the most efficient distribution channel shall be third channel considering that the channel will have lowest Technical Efficiency Index and highest Economical Efficiency Index.
1644719764D1E010243STUDI KUALITAS LAYANAN PENYULUHAN SAPI PERANAKAN ONGOLE KEBUMENPenelitian ini bertujuan mengetahui tingkat kualitas pelayanan penyuluhan dan aspek yang terkait terhadap kualitas pelayanan penyuluhan yang meliputi bukti langsung, jaminan, daya tanggap, empati dan kehandalan. Responden yang digunakan adalah 100 peternak sapi Peranakan Ongole Kebumen dengan minimal 1 tahun pengalaman budi daya dan minimal telah mengikuti 1 kali penyuluhan peternakan. Penelitian menggunakan metode pengambilan sampel bertahap. Kuesioner digunakan untuk mengetahu skor kualitas pelayanan penyuluhan. Data dianalisis dengan menggunakan analisis statistic deskriptif yang meliputi rataan dan modus untuk menggambarkan tingkat kualitas layanan penyuluhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peternak (92 persen) menyatakan tingkat kualitas pelayanan penyuluhan sapi peranakan ongole di Kebumen cukup tinggi. Sebagian besar peternak ( > 90 persen) menyatakan bahwa dimensi bukti langsung, , daya tanggap, empati dan kehandalan tergolong tinggi. Namun demikian pada dimensi jaminan, peternak yang menyatakan tinggi dibawah 90 persen . Kesimpulan kualitas pelayanan penyuluhan sapi peranakan Ongole di Kebumen tergolong tinggi yang meliputi dimensi bukti langsung, jaminan, daya tanggap, empati dan kehandalan.This study aims to determine the level of quality of extension services and related aspects of the quality of extension services which includes tangibility, assurance, responsiveness, empathy and reliability. The respondents were 100 farmers of Kebumen Ongole Crossed cattle with at least 1 year of farming experience. The study used a multistage sampling method. Questionnaires are used to find out the quality of extension services. Data were analyzed by using descriptive statistic analysis including mean and mode to describe level of quality of extension service. The results showed that most farmers (92 percent) stated that the level of extension service quality is quite high. Most farmers (> 90 percent) state that the dimensions of tangibility, responsiveness, empathy and reliability are high. However, on the assurance dimension, the farmers stated high were below 90 percent. The conclusion was quality of extension service is high, including tangibility, assurance, responsiveness, empathy and reliability.
1644819765C1G014061Analisis Pelaksanaan Reviu RKA K/L pada Inspektorat JenderalRINGKASAN

Penelitian ini merupakan observasi dan analisis atas pelaksanaan reviu Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA K/L) pada Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan dan keterkaitannya dengan kegiatan audit rutin Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan serta penerapan Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia pada Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran auditor internal dalam reviu RKA K/L, peran kegiatan Reviu RKA K/L terhadap kualitas penyusunan APBN, serta potensi adanya kontribusi dari kegiatan reviu RKA K/L terhadap kualitas compliance audit yang dilaksanakan Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan.
Lokasi penelitian adalah pada Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan, dengan fokus pada Inspektorat VI selaku penanggung jawab pelaksanaan reviu RKA K/L. Metode penelitian adalah kualitatif dengan menggunakan observasi dan analisis data peraturan yang terkait.
Observasi dan analisis data menunjukkan bahwa pelaksanaan reviu yang diterapkan pada Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan memberikan konstribusi positif bagi kualitas penyusunan rencana anggaran. Hasil dari kegiatan Reviu RKA K/L berupa Catatan Hasil Reviu dan Laporan Hasil Reviu dapat dimanfaatkan sebagai data awal dalam tahapan survey pendahuluan pada kegiatan audit.
Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu Inspektorat Jenderal perlu menetapkan suatu kebijakan untuk mengoptimalkan pemanfaatan hasil reviu. Upaya yang dapat dilakukan di antaranya dengan menerbitkan peraturan mengenai mekanisme integrasi kegiatan reviu dalam sistem manajemen audit yang telah diterapkan di Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan. Sistem Manajemen Audit yang memiliki integrasi data berkualitas antara kegiatan audit dan berbagai kegiatan reviu diharapkan dapat meningkatkan kualitas kinerja Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan secara keseluruhan.
SUMMARY

This research is an observation anda analysis on the implementation of reviu Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA K/L) in Ministry of Finance Inspectorate General and its relations with routine audit activity in Ministry of Finance Inspectorate General and the enforcement of Standar Audit Intern Pemerintah Indonesia in Ministry of Finance Inspectorate General.
This research aims to understand the role of internal auditors in RKA K/L review, the role of RKA K/L review activity in improving the process quality of APBN preparation, and looking for potencies of positive contribution from RKA K/L review activity in improving the quality of compliance audit activity of Ministry of Finance Inspectorate General.
Research location is in Ministry of Finance Inspectorate General, focusing in Inspektorat VI as the party responsible in implementing RKA K/L review. This research is done using qualitative method by observing the activity and analysing data of regulations applicable on related activities.
Observation and data analysis show that RKA K/L review contributes positively towards improving APBN preparation process quality. Results from RKA K/L review in the form of Catatan Hasil Reviu and Laporan Hasil Reviu can be utilized as early data in preliminary survey of compliance audit process.
Conclusions implied that Ministry of Finance Inspectorate General should establish policies to optimize utilizing benefits from results of review activities. Efforts that can be taken in example by publishing regulations on mechanism in integrating review activities into Audit Management System currently implemented in Ministry of Finance Inspectorate General. Succesful integration of review activities into Audit Management System should increase overall performance quality of Ministry of Finance Inspectorate General.

1644919766C1G014070Studi Pengadaan Barang dan Jasa Menurut OECD dan Transparancy InternationalSistem pengadaan publik Indonesia secara luas diyakini merupakan sumber utama bagi kebocoran anggaran, yang memungkinkan korupsi dan kolusi yang memberikan sumbangan besar terhadap kemerosotan pelayanan jasa bagi rakyat miskin Indonesia. Kegagalan tersebut memberikan indikasi bahwa terdapat kegagalan dalam sistem akuntansi dan adanya konflik kepentingan dalam badan organisasi pemerintah. Oleh sebab itu, diperlukan adanya penelitian mendalam mengenai kejadian tersebut dengan cara mencari faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya, sehingga fraud atau kecurangan yang biasa terjadi pada sektor pengadaan barang/jasa pemerintah dapat ditekan.Indonesian procurement system is believed to be the main sourc for the bdget leaks which donate the majority of corruption and collution case and contribute greatly to the decline of public service. Those failures indicates that there is flaw within the system. This writing meant to seek the factors which influence so that commonly occuring fraud could be surpressed.
1645019767D1E010191PRODUK VFA DAN N-NH3 SECARA IN VITRO PADA SILASE JERAMI JAGUNG MANIS YANG DITAMBAH BEKATULPenelitian yang berjudul Produk VFA Dan N-NH3 Secara In Vitro Pada Silase Jerami Jagung Manis Yang Ditambah Bekatul dan bertujuan untuk mengkaji proses ensilase terhadap kadar VFA dan N-NH3 silase jerami jagung manis secara in vitro. Materi yang digunakan jerami jagung manis dan bekatul. Bekatul yag digunakan 0%, 10%, 20%, 30% dari bobot jerami jagung manis segar. Penelitian menggunakan metode eksperimental secara in vitro dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu R0 (2kg jerami jagung manis + 0% bekatul), R1 (2kg jerami jagung manis + 10% bekatul), R2 (2kg jerami jagung manis + 20% bekatul), dan R3 (2kg jerami jagung manis + 30% bekatul). Peubah yang diamati yaitu kadar VFA dan N-NH3. Data dihitung dengan menggunakan persamaan aljabar kemudian dianalisis menggunakan analisis variansi dan diuji lanjut dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap VFA dan N-NH3. Rataan kadar VFA pada perlakuan R0, R1, R2, dan R3 berkisar antara 104,7 mM – 138,0 mM. Berdasarkan uji beda nyata jujur (BNJ), kadar VFA perlakuan R0, R1 dan R3 berbeda tidak nyata sedangkan perlakuan R2 nyata lebih besar dibandingkan perlakuan R0, R1, dan R3. Rataan kadar N-NH3 pada perlakuan R0, R1, R2, dan R3 berkisar antara 9,7– 14,8 mM. Berdasarkan uji beda nyata jujur (BNJ), kadar N-NH3 perlakuan R1, R2, dan R3 berbeda tidak nyata sedangkan perlakuan R0 berbeda nyata dengan R2 dan R3. Kadar VFA dan N-NH3 yang diperoleh berada dalam kisaran normal.The study, entitled VFA and N-NH3 In Vitro Products On Banana Sweet Corn Curd Silage Plus and aims to examine the process of ensilase on the levels of VFA and N-NH3 silage of sweet corn straw in vitro. The material used sweet corn straw and bran. Bekatul yag used 0%, 10%, 20%, 30% of fresh sweet corn straw weight. Research using experimental method in vitro was conducted at Nutrition and Feed Science Laboratory. The design of the research was a complete randomized design with 4 treatments and 5 replications. The tested treatments were R0 (2kg sweet corn straw + 0% bran), R1 (2kg sweet corn straw + 10% rice bran), R2 (2kg sweet corn straw + 20% bran), and R3 (2kg sweet corn straw + 30% bran). The observed variables were VFA and N-NH3 levels. Data were calculated using algebraic equations and then analyzed using variance analysis and tested further with honest real difference test (BNJ). The results showed that the treatment had significant effect (P <0.01) on VFA and N-NH3. The mean VFA levels in the treatment of R0, R1, R2, and R3 ranged from 104.7 mM to 138.0 mM. Based on the real honest difference test (BNJ), the VFA levels of treatment R0, R1 and R3 were not significantly different while the R2 treatment was significantly greater than the treatment of R0, R1, and R3. The mean N-NH3 levels in the treatment of R0, R1, R2, and R3 ranged from 9.7 to 14.8 mM. Based on the real honest difference test (BNJ), the N-NH3 treatment levels of R1, R2, and R3 were not significantly different while the R0 treatment was significantly different from R2 and R3. The levels of VFA and N-NH3 obtained are within the normal range.
1645119762G1G012047PENGARUH MINUMAN BERALKOHOL CIU BANYUMAS TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN, KEKUATAN TRANSVERSA, DAN KARAKTERISTIK MIKROSTRUKTUR BASIS GIGI TIRUAN NILON TERMOPLASTIK DERAJAT KRISTALIN TINGGINilon termoplastik derajat kristalin tinggi merupakan salah satu bahan basis gigi tiruan yang banyak digunakan saat ini. Nilon termoplastik derajat kristalin tinggi memiliki kekurangan berupa manipulasi yang sulit, sifat penyerapan air, dan kekasaran permukaan yang tinggi sehingga berpengaruh terhadap kekuatan transversa yang lebih rendah. Kekuatan transversa dan kekasaran permukaan dipengaruhi oleh pajanan dari minuman beralkohol. Salah satu jenis minuman beralkohol tradisional dan banyak dijumpai di daerah Jawa Tengah khususnya Banyumas, adalah ciu. Ciu Banyumas merupakan minuman beralkohol hasil fermentasi tape ketan, tape singkong, gula merah, dan air yang terdiri dari 2 tipe, yaitu tipe I dengan kadar etanol sekitar 50%-55% dan tipe II dengan kadar etanol sekitar 25%-30%. Tujuan dari penelitian ini mengetahui pengaruh minuman beralkohol ciu Banyumas terhadap kekasaran permukaan, kekuatan transversa, dan karakteristik mikrostruktur bahan basis gigi tiruan nilon termoplastik derajat kristalin tinggi. Jenis penelitian ini berupa experimental laboratory dengan rancangan penelitian post test only control group design. Total 24 sampel nilon termoplastik derajat kristalin tinggi dibagi menjadi 3 kelompok yang secara berurutan dilakukan pengaliran dengan saliva, ciu Banyumas tipe I dan saliva, serta ciu Banyumas tipe II dan saliva. Sampel diuji menggunakan surface roughness measuring instrument, universal testing machine, dan scanning electron microscope. Analisis data dilakukakan dengan menggunakan SPSS. Hasil analisis data didapatkan data terdistribusi normal dan homogen. Nilai p pada uji one way ANOVA kekasaran permukaan dan kekuatan transversa secara berurutan didapatkan sebesar 0,964 dan 0,858 (p<0,05). Simpulan dari penelitian ini tidak ada perbedaan bermakna minuman beralkohol ciu Banyumas tipe I dan tipe II terhadap kekasaran permukaan, kekuatan transversa, dan mikrostruktur bahan basis gigi tiruan nilon termoplastik derajat kristalin tinggi.High grade crystalline thermoplastic nylon is one of the most widely used denture base materials nowdays. The high crystalline thermoplastic nylon has weaknesses such as difficult manipulation, high water absorption properties and high surface roughness that result in lower transverse strength. Transverse strength and surface roughness are affected by exposure of alcoholic beverages. One of the traditional alcoholic beverages which is found in Central Java, especially Banyumas, is ciu. Ciu Banyumas is an alcoholic beverage fermented from ketan tapai, cassava tapai, brown sugar, and water divided into 2 types, type I with 50% -55% ethanol content and type II with 25% -30% ethanol content. The objectives of this study were to know the effects of ciu Banyumas alcoholic beverages on surface roughness, transverse strength, and microstructure characteristics of high crystalline nylon thermoplastic denture base materials. This type of research was experimental laboratory with post test only control group design. Total 24 samples of high crystalline thermoplastic nylon were divided into 3 groups sequentially conducted with saliva, ciu banyumas type I and saliva, and ciu banyumas type II and saliva. Samples were tested using surface roughness measuring instrument, universal testing machine, and scanning electron microscope. Data analysis was performed using SPSS. The data analysis results were normally and homogenously distributed. The p values in the one-way ANOVA test of surface roughness and transverse strength were 0.964 and 0.858 (p <0.05) respectively, conclusion of this study was no significant differences between te effect of type I and type II ciu Banyumas alcoholic beverages to the surface roughness, transverse strength, and microstructure of high crystalline thermoplastic nylon denture base materials.
1645219769B2A015003AKTINOMISETES LINGKUNGAN PAYAU PENGHASIL SENYAWA ANTIBAKTERI YANG ANTAGONIS TERHADAP
Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA)
Aktinomisetes dapat diisolasi dari lingkungan payau seperti pada ekosistem mangrove. Beberapa spesies dari anggota aktinomisetes mampu menghambat pertumbuhan Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Perubahan epidemiologi MRSA telah menjadi perhatian bagi kesehatan masyarakat dan merupakan landasan penting bagi para peneliti untuk mencari senyawa antibakteri baru yang berasal dari sumber alami. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui antagonisme, konsentrasi hambar minimum senyawa antibakteri, dan identitas isolat aktinomisetes lingkungan payau yang antagonis terhadap MRSA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Isolat aktinomisetes dari lingkungan payau bersifat antagonis terhadap MRSA dengan kemampuan penghambatan lemah. Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) senyawa antibakteri isolat aktinomisetes terpilih (W-5A, W-5B, P-7D) yang mampu menghambat pertumbuhan MRSA masing-masing sebesar 4 mg/mL, 2 mg/mL, dan 8 mg/mL. Identitas isolat aktinomisetes yang antagonis terhadap MRSA termasuk ke dalam genus Streptomyces.Actinomycetes can be isolated from brackish environments such as mangrove ecosystems. Several species of Actinomycetes are able to inhibit the growth of Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). The epidemiological changes of MRSA have become a public concern and important for researchers to look for new antibacterial compounds derived from natural sources.The purposes of this research are to examine antagonism, the minimum inhibition concentration of antibacterial compounds, and identify the Actinomycetes isolate from the brackish environment against MRSA. Actinomycetes from Brackish Environment shows antibacterial activity against MRSA with weak inhibition capability. MIC of antibacterial compound from three isolates W-5A, W-5B, and P-7D are 4 mg/mL, 2 mg/mL, and 8 mg/mL. The identity of brackish environment Actinomycetes W-5A, W-5B, and P-7D which shows antagonism against MRSA is Streptomyces.
1645319770G1H013030EFEKTIFITAS MEDIA BOOKLET TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TENTANG BBLR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II SUMBANGLatar Belakang : Pengetahuan dan sikap ibu hamil merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). Booklet adalah salah satu media yang dapat digunakan untuk memberikan informasi.
Tujuan Penelitian : Mengetahui efektifitas media booklet terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang BBLR di wilayah kerja Puskesmas II Sumbang.
Metodologi Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan rancangan randomized control group pretest posttest design. Penelitian dilakukan di Puskesmas II Sumbang. Sampel penelitian adalah 60 ibu hamil yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Uji statistik menggunakan uji Wilcoxon dan uji Mann Whitney karena data tidak berdistribusi normal.
Hasil : Hasil uji statistik pada kelompok perlakuan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan sikap secara signifikan (pengetahuan p=0,000;α=0,05 dan sikap p=0,000;α=0,05), sedangkan pada kelompok pembanding menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan tidak adanya peningkatan sikap (pengetahuan p=0,013;α=0,05 dan sikap p=0,685;α=0,05). Hasil uji statistik menunjukkan tidak adanya perbedaan pengetahuan dan sikap pada kelompok perlakuan dan kelompok pembanding setelah diberikan pretest (pengetahuan p=0,308;α=0,05 dan sikap p=0,186;α=0,05). Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan pengetahuan dan sikap pada kelompok perlakuan dan kelompok pembanding setelah diberikan posttest (pengetahuan p=0,000;α=0,05 dan sikap p=0,000;α=0,05).
Kesimpulan : Booklet efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).
Background : Pregnant Woman’s knowledge and attitude is one of the factors that can affect occurrence of low birth weight (LBW). Booklet can be used to provide information.
Objective : The purpose of this research was to determinethe effectiveness of booklet media to increase knowledge and attitude of pregnant woman about low birth weight (LBW) at Puskemas Sumbang II.
Methods : This research used quasi experimental with randomized control group pretest posttest design. This research was conducted at Puskesmas Sumbang II. 60 samples of pregnant woman were selected using simple random sampling method.
Result : Statistic test result in treatment group showed a significant increase in knowledge and attitude (knowledge p=0,000;α=0,05 and attitude p=0,000;α=0,05), in control group showed a significant increase in knowledge and decrease in attitude (knowledge p=0,013;α=0,05 and attitude p=0,685;α=0,05). Independent t test result showed no significant difference in knowledge and attitude between treatment group and control group after pretest (knowledge p=0,308;α=0,05 and attitude p=0,186;α=0,05). Independent t test result showed a significant difference in knowledge and attitude between treatment group and control group after posttest (knowledge p=0,000;α=0,05 and attitude p=0,000;α=0,05).
Conclusion : This research recommend to use booklet to increase pregnant women’s knowledge and attitude about low birth weight (LBW).
1645421659A1M013047PENERAPAN LARU CAIR BERBAHAN DASAR KAPUR, KULIT BUAH MANGGIS, DAN KAYU NANGKA TERHADAP KARAKTERISTIK SENSORI MUTU GULA KELAPAGula kelapa merupakan salah satu bahan pemanis pangan yang dihasilkan dari pengolahan nira kelapa. Nira mengandung nutrisi yang tinggi sehingga mudah mengalami kerusakan oleh mikroba. Pencegahan yang dilakukan untuk menghambat kerusakan nira yaitu dengan penambahan pengawet (laru) pada nira. Laru serbuk masih memiliki kelemahan karena bahan yang digunakan digiling seutuhnya sehingga masih menimbulkan residu pada nira. Perlu dilakukan penelitian laru cair dengan bahan kayu nangka dan kulit buah manggis yang di ekstrak supaya tidak meninggalkan residu pada nira. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi perlakuan antara jenis dan jumlah penambahan laru berbentuk cair yang menghasilkan gula kelapa dengan karakteristik mutu terbaik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial dengan empat kali ulangan. Faktor yang dicoba yaitu jenis laru (J) dan jumlah penambahan laru (K). Variabel yang diamati meliputi variabel sensori (warna, aroma, tekstur, tingkat kemanisan, dan kesukaan). Kombinasi perlakuan jenis laru larutan kapur : ekstrak kulit buah manggis (1000 ml : 10 ml) dengan jumlah penambahan laru cair per pongkor 15 ml (J3K1) menghasilkan gula kelapa cetak dengan sifat sensori yang lebih baik yaitu warna cokelat tua (2,60); aroma khas (2,73); tekstur keras (3,53), rasa manis (3,23), dan kesukaan secara keseluruhan (overall) agak suka (2,60). Coconut sugar is one of the food sweeteners produced from the processing of coconut sap. Contains coconut sap are high nutrients so easily damaged by microbes. Prevention is done to inhibit the damage of sap is with the addition of preservatives (laru) in sap. Laru powder still has weakness because the material used is milled completely so it still raises residue in sap. It is necessary to do a liquid new research with jackfruit wood and mangosteen peel in extract so as not to leave residue in sap. This research aims to: Determine the combination of the treatment between the type and amount of the new liquid form which produce the coconut sugar the best sensory quality characteristics. This study used Factorial Random Block Design with four replications. The experimental factor is the type of laru (J) and the number of new additions (K). The variables observed included is sensory variables (color, smell, texture, sweetness level, and likes). The results showed that the new species did not give a significant effect on the chemical variables but the number of new additions gave a very significant effect on the varieties of kima, the combination of the treatment of lime solution type: mangosteen bark extract (1000 ml: 10 ml) with the amount of liquid peroxy 15 ml powder (J3K1) produces a palm sugar mold with better sensory properties than the other treatment combinations of dark brown (2.60); typical aroma (2.73); hard texture (3.53), sweet taste (3.23), and overall fondness (overall) rather like (2,60).
1645519686G1F013078ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA FENOLIK FUNGI ENDOFIT Peniophora lycii DAUN BAKAU HITAM (Rhizophora mucronata)ABSTRAK

Latar Belakang: Bakau Rhizopora mucronata telah dilaporkan menghasilkan senyawa fenolik. Beberapa fungi endofit yang hidup pada R. mucronata juga menghasilkan senyawa fenolik. Daun R. mucronata asal Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah dilaporkan mengandung fungi endofit Peniophora lycii. Temuan senyawa fenolik dari P. lycii belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi senyawa fenolik yang dihasilkan oleh fungi P. lycii dari daun bakau R. mucronata yang berasal dari Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah.
Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan dua tahap. Pertama, isolasi dan pemurnian senyawa fenolik dari ekstrak metanol miselium P. lycii dengan maserasi dan kromatografi kolom. Kedua, identifikasi senyawa fenolik menggunakan spektroskopi 1H NMR 500 MHz yang dibandingkan dengan literatur.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa spektrum 1H NMR isolat menunjukkan sinyal-sinyal pada geseran kimia 0,9 ppm (2H; qi; 6,45 Hz), 1,3 ppm (5H; bs), 3,5 ppm (1H; q; 5,05 Hz), 3,6 ppm (1H; d; 6,4 Hz), 3,65 ppm (1H; dd; 14,45 dan 9 Hz), 4,6 ppm (1H; s), dan 5 ppm (sinyal tumpang tindih) yang merupakan ciri senyawa polisakarida tersulfatasi. Sinyal pada 7,8 ppm (1H; s) menandakan gugus benzen pentasubstitusi.
Kesimpulan: Fungi endofit P. lycii dari daun bakau R. mucronata menghasilkan senyawa fenolik yang kemungkinan terglikosilasi oleh polisakarida tersulfatasi.
ABSTRACT

Background: Mangrove Rhizopora mucronata has been reported to produce phenolic compounds. Some endophytic fungi that live on R. mucronata also produced phenolic compounds. R. mucronata leave from Segara Anakan, Cilacap, Central Java has been reported to contain endophytic fungus Peniophora lycii. The findings of phenolic compounds from P. lycii has not been reported. This study aims to isolate and identify phenolic compounds that produced by P. lycii from R. mucronata mangrove leave from Segara Anakan, Cilacap, Central Java.
Methods: This study was an experimental study with two step. First, isolation and purification of phenolic compounds from the methanol extract of mycelium P. lycii by maceration and column chromatography. Second, identification of phenolic compounds using 1H NMR 500 MHz spectroscopy which compared with literature.
Results: The results showed that 1H NMR spectrum of isolate show signals at chemical shift 0,9 ppm (2H; qi; 6,45 Hz), 1,3 ppm (5H; bs), 3,5 ppm (1H; q; 5,05 Hz), 3,6 ppm (1H; d; 6,4 Hz), 3,65 ppm (1H; dd; 14,45 dan 9 Hz), 4,6 ppm (1H; s), and 5 ppm (overlapping signal) which are characteristic of sulphated polysaccharides compound. Signal at 7.8 ppm (1H; s) indicated pentasubstitution benzene group.
Conclusion: Endophytic fungus P. lycii from R. mucronata mangrove leave produced phenolic compound which is likely to be glycosylated by sulfated polysaccharides.


1645619780A1C012065FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIVITAS FUNGSI LUMBUNG PANGAN DALAM RANGKA KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA
(Studi Kasus di Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas)
Lumbung pangan dikenal sebagai lembaga cadangan pangan lokal yang keberadaannya sudah menjadi bagian sejarah Indonesia. Salah satu lumbung pangan yang masih berfungsi berada di wilayah Rukun Warga (RW) 009 Desa Kalisalak. Lumbung pangan tersebut merupakan lumbung swadaya. Keberadaanya yang masih berjalan tanpa DAK (Dana Anggaran Khusus) dari Pemerintah dan sistem pengelolaan yang sederhana berupa simpan pinjam gabah sejak tahun 1980, menarik peneliti untuk mengetahui efektivitas fungsi lumbung pangan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini bertujuan untuk : 1) menganalisis efektivitas fungsi lumbung pangan sebagai lembaga cadangan pangan masyarakat, 2) menganalisis pengaruh jarak lokasi, besar simpanan, tingkat kepercayaan, kedisiplinan terhadap norma, dan kekuatan jaringan terhadap efektivitas fungsi lumbung pangan. Pengambilan data dilaksanakan di RW 009 Desa Kalisalak, Kecamatan Kebasen pada bulan Desember 2016 sampai dengan Januari 2017. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling, dengan jumlah responden sebanyak 46 orang. Metode analisis data yang digunakan adalah : 1) analisis deskriptif untuk mengukur tingkat efektivitas fungsi lumbung pangan, dan 2) analisis jalur untuk mengukur pengaruh jarak lokasi, besar simpanan, tingkat kepercayaan, kedisiplinan terhadap norma, dan kekuatan jaringan terhadap efektivitas fungsi lumbung pangan Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) efektivitas fungsi lumbung pangan berada pada kategori efektif. 2) hanya terdapat dua faktor yang memiliki kontribusi terhadap efektivitas fungsi lumbung pangan yaitu tingkat kepercayaan dan kedisiplinan pada norma. Besarnya pengaruh langsung tingkat kepercayaan terhadap efektivitas fungsi lumbung pangan adalah 9,7% dan pengaruh tidak langsung dari tingkat kepercayaan terhadap efektivitas lumbung pangan melalui kedisiplinan terhadap norma sebesar 5,9%. Besarnya pengaruh langsung kedisiplinan terhadap norma terhadap efektivitas fungsi lumbung pangan adalah 13,9% dan pengaruh tidak langsung kedisiplinan terhadap norma terhadap efektivitas lumbung pangan melalui tingkat kepercayaan sebesar 5,9%.The granary is known as local food system that being a part of Indonesian history. One of them that still work is located at the community unit (RW) of 009 Kalisalak Village. This granary type is self-help basis. The existence of this granary who managed without specific grant (DAK) from government and the simple management since 1980 with saving-loan system of grain, make researcher interested to know about the effectiveness of granary function and the affected factors on it. The research aims are: 1) to analyze the effectiveness of the granary function, 2) to analyze the effect of distance, savings, trust level, norm discipline, and networking power towards the effectiveness of granary function. The research was conducted at the community unit 009, Kalisalak Village from December 2016 until January 2017. The sampling technique used is simple random sampling with 46 villagers as the respondents.The method analyzing data used are : 1)descriptive analysis percentage to measure the effectiveness of granary function, and 2) path analysis to measure the effect of distance, saving amount, trust level, norm discipline and networking power towards the effectiveness of granary function. The results of this research are : 1) the level of the effectiveness of the granary functions is effective, 2) there are only two factors that significantly contribute to the effectiveness of the granary functions, they are the level of trust and the level of norm. The direct effect from level of trust torward to the effectiveness of the granary function is 9,7% and the indirect effect from level of trust forward to the effectiveness of the granary function that through the level of norm is 5,9%. The direct effect from level of norm toward to the effectiveness of the granary function is 13,6% and the indirect effect from level of norm toward to the effectiveness of the granary function that through the level of trust is 5,9%.
1645719772F1I012003EFEKTIVITAS TECHNICAL BARRIERS TO TRADE-WORLD TRADE ORGANIZATION (TBT-WTO) MELALUI STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) WAJIB SEBAGAI BENTUK PERLINDUNGAN DAGANG INDONESIA TERHADAP ARUS KOMODITAS ELEKTRONIKA CHINAPenelitian ini berjudul “Efektivitas Technical Barriers to Trade-World Trade Organization (TBT-WTO) Melalui Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib Sebagai Bentuk Perlindungan Dagang Indonesia Terhadap Arus Komoditas Elektronika China”. Di penelitian ini, penulis menganalisa efektivitas TBT-WTO melalui SNI Wajib sebagai bentuk perlindungan dagang bagi pengusaha lokal terhadap komoditas impor dari China, terutama komoditas elektronika. Pembatasan periode permasalahan dalam penelitian ini adalah dari tahun 2009-2014.
Dalam kasus ini, bahwa ternyata Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib mampu menjadi bentuk perlindungan dagang Indonesia terhadap arus komoditas elektronika China yang masuk ke Indonesia secara masif. Teknologi China yang begitu mumpuni membuat China mampu mengikuti segala regulasi yang berada di Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib dan mengimplementasikannya pada barang-barang yang mereka produksi. Tapi Pemerintah Indonesia masih tegas terhadap komoditas-komoditas impor yang tak memenuhi SNI Wajib maka tak bisa beredar di pasar Indonesia.
This research is under titled “The Effectiveness of Technical Barriers to Trade-World Trade Organization (TBT-WTO) through Obligatory Standar Nasional Indonesia (SNI) as a Form of Indonesia’s Trade Protection against China’s Electronic Commodities Stream”. In this research, the writer analyzes the effectiveness of TBT-WTO through Obligatory SNI as a form of Indonesia’s trade protection against China’s import commodities, especially electronic, and in this case, the commodities are lamps. The limitation period for this matter is from 2009 to 2014.
In this case, turned out that Obligatory SNI is able to be a form of Indonesia’s trade protection against China’s import commodities that coming in to Indonesia massively. China’s technology that capable enough to makes China able to follow all the regulation of Obligatory SNI and implement it to the goods that they produce. But Indonesia’s government is still being strict to the import commodities that not SNI-fulfilled, it can’t be marketed in Indonesia’s market, and will be pulled or mass-vanished.
1645819773A1L112014PENGARUH PEMBERIAN PUPUK HAYATI DAN PENGURANGAN PUPUK ANORGANIK TERHADAP KETERSEDIAAN DAN SERAPAN UNSUR HARA P PADA UMBI BAWANG MERAH (Allium cepa L.)Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui pengaruh dosis pupuk hayati dan pengurangan pupuk anorganik terhadap ketersediaan dan serapan unsur hara P pada umbi bawang merah (Aliium cepa L). Penelitian dilaksanakan di screen house dan laboratorium ilmu tanah Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Agustus sampai Oktober 2016. Percobaan yang dilakukan menggunakan rancangan Central Compposite Second Order Design (CCSOD), yang terdiri dari 2 faktor percobaan. Faktor pertama adalah pupuk hayati yang terdiri dari 5 taraf, yaitu H1 = 6 gram/tanaman ; H2 = 12 gram/tanaman ; H3 = 18 gram/tanaman ; H4 = 24 gram/tanaman; dan H5 = 30 gram/tanaman. Faktor kedua adalah dosis pupuk anorganik, terdiri dari 5 taraf yaitu K1 = 1,1 gram/tanaman; K2 = 2 gram/tanaman; K3 = 2,9 gram/tanaman ; K4 = 4,7 gram/tanaman; dan K5 = 4,7 gram/tanaman. Penentuan kombinasi perlakuan yang digunakan berdasarkan koordinat sudut segidelapan dan untuk titik pusat diulang 5x, sehingga diperoleh 13 kombinasi perlakuan. Variabel yang diamati meliputi bobot umbi segar, bobot umbi kering, serapan P dan ketersediaan P. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian pupuk hayati dan pengurangan pupuk anorganik tidak berpengaruh terhadap ketersediaan dan serapan unsur hara P. Perlakuan terbaik ditunjukan pada variabel bobot umbi segar dan bobot umbi kering yaitu H3K3 (1) dengan hasil yaitu 17,32 gram/tanaman dan 15,93 gram/tanaman.This research aimed to know the effect of biofertilizer dose and inorganic fertilizers reduction on soil - P availability and P - uptake in red onion bulbs (Allium cepa L.). The research was conducted in screenhouse and Laboratory of soil sciense Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman from august until october 2016. This research using Central Compposite Second Order Design (CCSOD), which consists of 2 factor treatment. The first factor is Mychorrhiza Biofertilizer that consists of 5 levels: H1= 6 gram biofertilizer per pot; H2= 12 gram biofertilizer per pot 8 gram; H3= 18 gram biofertilizer per pot; H4= 24 gram biofertilizer per pot; and H5= 30 gram biofertilizer per pot. The second factor is inorganic fertilizer dose that consisting of 5 levels: K1= 1.1 gram per pot; K2= 2 gram per pot; K3= 2.9 gram per pot; K4= 3.8 gram per pot; and K5= 4.7 gram per pot. The treatment combination was deteremined using angular coordinates of octagonal and for the center point was repeated 5 times, so it was obtained 13 combination treatment. Observed variabels were fresh weight beets, dried weight beets, phosphor nutrient uptakeand availability of phosphor. The result showed that effect of combination biofertilizer and reduction of inorganic fertilizer treatment could not affect towards soil – P avai;ability and P – uptake by bulbs. Best treatment showed by H3K3 (1) in beets fresh weight and dried weight with each variable 17.32 g/plant and 15.93 g/plant.
1645919774H1G013012DISTRIBUSI ALTITUDINAL IKAN DI SUNGAI LOGAWASungai Logawa merupakan perairan mengalir (lotic) dengan beragam spesies ikan yang tersebar dari hulu sungai yang berada di dataran tinggi hingga ke muara sungai yang merupakan dataran rendah. Beberapa hipotesis telah diusulkan untuk menjelaskan perubahan keragaman, salah satunya yaitu peningkatan ketinggian tempat. Penelitian berjudul “Distribusi Altitudinal Ikan di Sungai Logawa” bertujuan untuk mengetahui kelimpahan relatif spesies ikan dan spesies ikan apa saja yang terdapat di Sungai Logawa, mengetahui sebaran ukuran panjang spesies ikan berdasarkan ketinggian (altitude), indeks keragaman ikan berdasarkan ketinggian (altitude), distribusi spesies ikan berdasarkan ketinggian (altitude), dan pola distribusi spesies ikan. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 20 Mei 2017 sampai dengan 20 Juni 2017 di Sungai Logawa. Metode penelitian yang digunakan untuk menentukan lokasi sampling yaitu purposive random sampling. Analisis data yang digunakan yaitu analisis secara deskriptif dan korelasi. Hasil penelitian ikan di Sungai Logawa menunjukkan adanya pengaruh ketinggian terhadap indeks keragaman, distribusi, dan ukuran ikan. Korelasi antara ketinggian tempat (altitude) dengan indeks keragaman, nilai r yang diperoleh yaitu 0,75 korelasi tersebut memiliki arti bahwa nilai keeratannya kuat yang artinya semakin ketinggian tempat (altitude) menurun maka indeks keragaman ikan cenderung meningkat.Logawa River is a lotic with a variety of fish species spread from the upstream of the river in the highlands to the estuary of the river which is a lowland. Several hypotheses have been proposed to explain changes in diversity, one of which is elevation of the site. The title study "Distribution of Altitudinal Fish in Logawa River" aims to determine the relative abundance of fish species and fish species found in the Logawa River, to know the extent of fish species by altitude, fish diversity index based on altitude, fish species based on altitude, and distribution patterns of fish species. The study was conducted on May 20th, 2017 until June 20th, 2017 at Logawa River. The research method used to determine the location of sampling is purposive random sampling. Data analysis used to descriptive analysis and correlation. The results of fish studies in the Logawa River indicate the influence of altitude on diversity index, distribution, and size of fish. Correlation between altitude with diversity index, the value of r obtained is 0.75 correlation means that the value of strongness which means that the altitude decreases the fish diversity index tends to increase.
1646021361E1A012268SISTEM ROTASI JABATAN PERANGKAT DESA DI WILAYAH KABUPATEN BANYUMAS (Studi di Desa Kediri Kecamatan Karanglewas KabupatenBanyumas)

Latar belakang penelitian ini adalah karena kondisi pemerintahan desa di Kabupaten Banyumas saat ini masih sangat lemah, hal ini disebabkan sistem pembangunan pemerintah sebelumnya yang bersifat top-down, hampir semua pembangunan direncanakan oleh pusat dan desa tinggal menerima perintah apa yang harus dilakukan. Kondisi tersebut sungguh sangat memperihatinkan, mengingat perkembangan masyarakat yang semakin modern dan dinamis, yang sangat membutuhkan pelayanan dari Perangkat Desa yang professional dan berkualitas. Rotasi jabatan hadir sebagai cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Akan tetapi dalam perjalananya menghadapi banyak kendala. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sistem rotasi jabatan perangkat desa di wilayah Kabupaten Banyumas dan untuk mengetahui kendala-kendala dalam pelaksanaan sistem rotasi jabatan perangkat desa di wilayah Kabupaten Banyumas yaitu di Desa Kediri, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas. Untuk mencapai tujuan tersebut penulis menggunakan metode pendekatan secara yuridis Sosiologis. Spesifikasi penelitian yang digunakan adalah penelitian terhadap sinkronisasi hukum. Metode penyajian data dalam bentuk uraian yang dibentuk secara sistematis.

Kesimpulan dari hasil penelitian dan pembahasan adalah bagaimana rotasi jabatan Perangkat Desa yang dilaksanakan di Desa Kediri, Kecamatan Karanglewas Kabupaten Banyumas. Rotasi jabatan Perangkat Desa adalah pemindahan antar jabatan perangkat desa selain jabatan Sekretaris Desa dan jabatan staf, dalam satu Pemerintah Desa, dan untuk menaikkan jabatan perangkat desa dari jabatan Kepala Seksi, Kepala Dusun dan Kepala Urusan untuk menjadi Sekretaris Desa dan/atau staf untuk menjadi Kepala Seksi, Kepala Dusun dan Kepala Urusan dalam satu Pemerintah Desa. rotasi jabatan memberikan kewenangan yang luas kepada Kepala Desa dimana Kepala Desa berhak melakukan rotasi untuk meningkatkan semangat dan etos kerja Perangkat Desa. Rotasi jabatan memberikan Kepala Desa kewenangan yang sangat luas untuk bertindak bukan hanya sebagai pemimpin, tapi juga sebagai manajer (the right man in the right place).

Secara normatif, rotasi jabatan perangkat desa diatur dalam Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati Banyumas. Pelaksanaan rotasi jabatan membentuk panitia seleksi rotasi jabatan dan terdapat indikator penilaian yang digunakan untuk menseleksi Perangkat Desa. Penilaian tertinggi yang layak untuk mengisi jabatan tertentu Rotasi jabatan ada dua jenis yakni rotasi promosi dan rotasi reguler/setingkat. Rotasi promosi adalah pemindahan tugas/jabatan yang bersifat vertikal atau lebih tinggi dari sebelumnya bisa juga dikatakan sebagai kenaikan pangkat sedangkan rotasi reguler yaitu rotasi yang bersifat horizontal artinya bidang tersebut masih setingkat dan tidak lebih tinggi.

The background of this research is because the condition of village administration in Banyumas Regency is still very weak, it is caused by the previous government system development that is top-down, almost all the development is planned by the center and village stay accept what command to do. The condition is really very worrisome, considering the development of an increasingly modern and dynamic society, which is in desperate need of services from the Village Devices are professional and quality. Position rotation is present as a way to solve the problem. However, in his journey faced many obstacles. The purpose of this research is to know how system of rotation of position of village apparatus in region of Banyumas Regency and to know the obstacles in execution of rotation system of position of village apparatus in region of Banyumas Regency that is in Kediri Village, Karanglewas Subdistrict, Banyumas Regency. To achieve this objective, the writer uses Sociological juridical approach method. The research specification used is research on legal synchronization. The method of presenting the data in the form of a description that is formed systematically.

The conclusion of the results of research and discussion is how the rotation of Position Village Council held in Kediri Village, Subdistrict Karanglewas Banyumas. The rotation of office of the Village Council is the transfer of village office positions other than the position of Village Secretary and staff positions, in one Village Government, and to raise the position of village apparatus from the position of Section Head, Head of Dusun and Head of Affairs to become Village Secretary and / or staff to become Head Section, Head of Dusun and Head of Affairs in one Village Government. rotation of office gives wide authority to the Village Head where the Village Head is entitled to rotate to improve the spirit and work ethic of Village Devices. The rotation of office gives the Village Chief a vast authority to act not only as a leader, but also as a manager (the right man in the right place).

Normatively, the rotation of the position of village apparatus is regulated in the Banyumas Regent and Regent. Implementation of rotation of positions form the rotation selection committee and there are indicators of assessment used to select the Village Tool. The highest appraisal that is eligible to fill a certain position Rotation of office there are two types of promotion rotation and regular rotation / level. Promotional rotation is the removal of tasks / positions that are vertical or higher than before can also be said as a promotion whereas the regular rotation of the horizontal rotation means that the field is still level and not higher.