Artikelilmiahs
Menampilkan 10.581-10.600 dari 50.321 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 10581 | 3491 | G1A008084 | PENGARUH HELLP SYNDROME TERHADAP KEMATIAN KASUS PREEKLAMPSIA DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO PERIODE 1 JANUARI – 31 DESEMBER 2011 | Hemolytic Elevated Liver enzymes and Low Platelet Syndrome (HELLP Syndrome) merupakan komplikasi dari preeklampsia yang ditandai dengan adanya kelainan laboratorium berupa hemolisis, peningkatan enzim-enzim hati dan penurunan jumlah trombosit. HELLP Syndrome merupakan suatu keadaan yang dapat menyebabkan kematian. Kematian akibat HELLP Syndrome sebesar 3,5 % sampai 25 %, sehingga sangat penting untuk diketahui dan segera diatasi. Penanganan HELLP Syndrome masih belum diterapkan secara maksimal terkait dengan keterbatasan sumberdaya di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh HELLP Syndrome terhadap kematian kasus preeklampsia di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Periode 1 Januari - 31 Desember 2011. Desain penelitian adalah Cross Sectional, dengan 88 pasien dengan preeklampsia di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Periode 1 Januari - 31 Desember 2011. Semua sampel diambil dengan melihat data rekam medik pasien. Data dideskripsikan dalam bentuk tabel, dianalisis dengan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan kejadian HELLP Syndromesebesar 17%. Kasus yang mengalami kematian dengan HELLP Syndrome sebesar 66,6%. Terdapat pengaruh HELLP Syndrome terhadap kematian kasus preeklampsia di RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Periode 1 Januari - 31 Desember 2011 (x2 = 34,822, p = 0,000). Risiko kematian akibat HELLP Syndrome pada kasus preeklampsia adalah 12,17 kali lipat dibandingkan dengan kasus preeklampsia tanpa HELLP Syndrome. Kata kunci:HELLP Syndrome, preeklampsia | Hemolytic Elevated Liver enzymes and Low Platelet Syndrome (HELLP Syndrome) is complication of preeclampsia which characterized by the presence of laboratory abnormalities such as hemolysis, high level of liver enzymes, and low platelet count. HELLP Syndrome is the condition that causes of death. Deaths cause of HELLP Syndrome is 3.5% to 25%, so it is important to know and to be overcome. HELLP Syndrome treatment is still less because of the resources lackness in Prof. Dr. Margono Soekarjo hospital. This study, aims to discover the impact of HELLP Syndrome on the mortality of preeclampsia cases in Prof. Dr. Margono Soekarjo hospital from 1 January - 31 December 2011. The study was cross sectional with 88 patients with preeclampsia in Prof. Dr. Margono Soekarjo hospitals. The data sources are the patients’s medical records. Data were described in tabular form, and were analyzed with Chi-square test. The results showed that the incidence of HELLP Syndrome was 17%. The case fatality rate of HELLP Syndrome was 66,6%. There is a significant influence of HELLP Syndrome on the mortality of preeclampsia cases in Prof. Dr. Margono Soekarjo hospital during 1 January - 31 December 2011 (x2 = 34,822, p = 0,000). The risk of death of preeclampsia with HELLP Syndrome cases is 12.17 times compared to the case of preeclampsia without HELLP Syndrome. Keywords: HELLP Syndrome, preeclampsia | |
| 10582 | 3492 | E1A008019 | PENGATURAN MENGENAI KEJAHATAN PEREDARAN GELAP NARKOTIKA MENURUT HUKUM INTERNASIONAL (Studi Terhadap Yurisdiksi Negara Dalam Kasus Pablo Escobar) | ABSTRAKSI Kejahatan transnasional adalah kejahatan yang memiliki dampak aktual atau potensial lintas batas negara yang menyinggung nilai-nilai fundamental dari masyarakat internasional, kejahatan transnasional tersebut biasanya dilakukan oleh organisasi kejahatan terorganisir yang dikenal sebagai Kejahatan Transnasional Terorganisasi dengan kejahatan yang paling sering terjadi adalah peredaran gelap narkotika. Salah satu kasus kejahatan yang terkenal adalah Pablo Escobar. Dia adalah seorang gembong narkotika Kolombia dan pemimpin salah satu organisasi kriminal paling kuat yang pernah didirikan yang dikenal sebagai Kartel Medellin. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui aturan-aturan menurut hukum internasional yang mengatur mengenai kejahatan peredaran gelap narkotika dan penerapan prinsip yurisdiksi negara yang dapat diterapkan dalam kasus Pablo Escobar. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif, dengan pendekatan kasus dan pendekatan perundang-undangan yang mengkaji atau menganalisis data sekunder. Pengaturan mengenai kejahatan narkotika menurut hukum internasional, dalam konvensi yang diadakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa yaitu dengan dibentuknya Konvensi Tunggal Narkotika 1961, Konvensi tentang Bahan Psikotropika 1971 dan Konvensi tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika 1988. Konvensi ini merupakan perwujudan dalam perang terhadap narkoba dan kejahatan terorganisir. Prinsip Yurisdiksi yang dapat diterapkan dalam kasus Pablo Escobar adalah prinsip yurisdiksi territorial. Kata Kunci : Kejahatan Transnasional, Kejahatan Transnasional Terorganisasi, Yurisdiksi Negara, Narkotika dan Psikotropika. | ABSTRACT Transnational crimes are crimes that have actual or potential effect across national borders which offend fundamental values of the international community, that transnational crimes usually carried out by organized crime organizations known as Transnational Organized Crimes (TOC), with the most commonly happen transnational organized crimes is illicit drugs trafficking. One of the famous criminal case is Pablo Escobar. He was a Colombian drug lord and leader of one of the most powerful criminal organizations ever established known as Cartel Medellin. Purpose of this study was to determine the regulation of international law which regulate illicit drugs trafficking and the application of state jurisdiction that can be applied in the case of Pablo Escobar. This study applied a normative jurisdiction method with case approach and regulatory approach, in which secondary data were subject to analysis. Regulation of international law which regulate of drugs crime was establishment by The Single Convention on Narcotics Drugs 1961, Convention on Psychotropic Substances 1971, and Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances 1988. This Conventions represents an entity in the war on drugs and organized crimes. Jurisdiction principle that can be applied in the case of Pablo Escobar is the territorial jurisdiction principle. Keywords : Transnational Crimes, Transnational Organized Crimes, State Jurisdiction, Narcotics and Psychotropics. | |
| 10583 | 3495 | G1A008135 | PENGARUH PEMBERIAN GLIBENKLAMID, METFORMIN, MADU, dan KOMBINASINYA terhadap KADAR HDL dan LDL PADA TIKUS JANTAN SPRAGUE DAWLEY yang DIINDUKSI dengan STREPTOZOTOCIN | Latar Belakang : Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit metabolik yang mempunyai ciri khas adanya keadaan hiperglikemia akibat defek insulin, kerja insulin atau keduanya. Keadaan resistensi insulin pada penderita DM tipe 2 beresiko terhadap peningkatan konsentrasi Low Density Lipoprotein (LDL) dan penurunan konsentrasi Hight Density Lipoprotein (HDL). Upaya mengontrol glukosa darah dengan meningkatkan produksi insulin dan sensitifitas insulin pada penderita DM tipe 2 dapat diberikan glibenklamid dan metformin. Produksi dan sensitifitas insulin yang meningkat dapat mengontrol glukosa darah dan memperkecil peningkatan konsentrasi LDL serta penurunan konsetrasi HDL. Upaya lain sebagai terapi terapeutik dengan memberikan madu sebagai terapi adjuvan. Tujuan : Mengetahui pengaruh pemberian glibenklamid, metformin, madu, dan kombinasinya pada tikus Sprague dawley yang diinduksi dengan Streptozotocin terhadap kadar HDL dan LDL Metode : Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimental murni laboratorium dengan desain pre and post test with control group. Hewan coba adalah tikus jantan albino strain Sprague Dawley di peroleh dari Laboratorium Penelitian Terpadu (LPPT) Univesitas Gajah Mada Yogyakarta. Jumlah total hewan coba adalah 42 ekor yang terbagi dalam 7 kelompok masing-masing berjumlah 5 ekor dengan cadangan 1 ekor dan sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Parameter yang diamati adalah kadar HDL dan kadar LDL. Pemeriksaan dilakukan pada hari ke-3 setelah induksi streptozotocin sebelum perlakuan (pretest) dan hari terakhir penelitian (posttest) dan tikus sudah dipuasakan selama 8 jam. Uji Kruskal Wallis digunakan untuk menganalisis kadar HDL sedangkan uji Oneway ANOVA digunakan untuk menganalisis kadar LDL. Analisis statistik pada penelitian ini menggunakan software SPSS 15.00  Hasil : Hasil penelitian menunjukkan tikus diabetes yang diberi perlakuan madu, glibenklamid, metformin selama 4 minggu pada kadar HDL (p=0,59) dan selisih kadar LDL (p=0,07). Hasil kedua uji statistik tersebut menunjukkan tidak memiliki perbedaan yang bermakna p > 0,05 Kesimpulan : Tidak terdapat pengaruh terhadap pemberian glibenklamid, metformin, madu, dan kombinasinya pada tikus Sprague dawley yang diinduksi dengan Streptozotocin terhadap kadar HDL dan LDL. | Background : Diabetes Mellitus (DM) is a metabolic disease which is characterized by hyperglycemia due to the presence of specific defects of insulin, insulin works or both. State of insulin resistance in patients with type 2 DM are at risk of increasing the concentration of Low Density Lipoproteins (LDL) and decreasing the concentration High Density Lipoproteins (HDL). The efforts to control blood glucose by increasing insulin production and insulin sensitivity in patients with type 2 DM can be glibenklamid and metformin administration. Produced insulin and increased insulin sensitivity can control the blood glucose concentration and reduce LDL and increase HDL concentration. Other disabilities as therapeutic by giving honey therapy as adjuvant therapy. Purpose : To learn about the influence of administrating glibenklamid, metformin, honey, and a combination of Sprague Dawley rats with streptozotocin induced on HDL and LDL Methods: Design studies used are pure experimental laboratory with pre and post test design with control group. The animal was albino male rats in the Sprague Dawley strain obtained from Integrated Research Laboratory (LPPT) Univesity Gajah Mada Yogyakarta. The total number 42 rats were divided into 7 groups of 5 rats each group and 1 rat as a backup each group, and matched to the inclusion and exclusion criteria. Parameter observed were HDL and LDL. Examination performed on day 3 after induction streptozotocin before treatment (pretest) and last day of the study (posttest) and the rat was being fasted for 8 hours. Kruskal Wallis test was used to analyze HDL while Oneway ANOVA test was used to analyze the rate of LDL. Statistical analysis in this study used SPSS software 15.00Ó Results: The results showed that diabetic rats treated with honey, glibenklamid, metformin for 4 weeks for differences of HDL (p = 0.59) and the differences of LDL (p = 0.07). The results of the statistical tests showed no significant difference p > 0.05 Conclusion: There is no influence on the administration of glibenklamid, metformin, honey, and combination of Sprague Dawley rats with streptozotocin induced effect on HDL and LDL. | |
| 10584 | 3496 | G1A008117 | PERBANDINGAN EFEKTIVITAS TEMU HITAM(Curcuma Aeruginosa Roxb.)DENGAN MEBENDAZOL TERHADAP INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTHS PADA MURID-MURID SDN CIBEREM,SUMBANG,BANYUMAS | Infeksi soil transmitted helminths (STH) banyak ditemukan di negara tropis dan subtropis. Prevalensi infeksi STH di sekolah dasar di beberapa provinsi di Indonesia cukup tinggi yaitu 60-80%. Program pemerintah yang didukung WHO“Back to Nature 2010” menganjurkan untuk penggunaan bahan alami sebagai tanaman obat. Salah satu tanaman yang digunakan untuk pengobatan infeksi STH adalah temu hitam (Curcuma Aeruginosa Roxb.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas antara temu hitam dan mebendazole dalam pengobatan infeksi STH. Subjek penelitian adalah murid-murid SD Negeri Ciberem, Sumbang, Banyumas. Materi yang diamati adalah tinja sebanyak 116 sampel. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental murni dengan consecutive sampling. Analisis univariat berupa tabel frekuensi, sedangkan analisis bivariat menggunakan chi-square dengan uji alternatifnya fisher. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi STH sebesar 32,76%. Jenis telur STH yang ditemukan pada subjek penelitian terdiri dari 36,36% Ascaris lumbricoides, 60,61% Trichuris trichiura, dan 3,03% cacing tambang. Murid-murid yang terinfeksi STH dibagi menjadi dua kelompok secara acak. Kelompok pertama sebanyak 12 orang mendapatkan mebendazole 500 mg dosis tunggal. Kelompok kedua sebanyak 12 orang mendapatkan temu hitam 30 ml/hari dosis tunggal. Angka penyembuhan STH pada kelompok pertama adalah 75%, sedangkan kelompok kedua sebesar 66,67%. Berdasarkan hasil analisis didapatkan tidak terdapat perbedaan efektivitas antara mebendazole dan temu hitam terhadap infeksi STH (p=0,5). | THE COMPARISON OF EFFECTIVENESS BETWEEN TEMU HITAM (Curcuma Aeruginosa Roxb.) AND MEBENDAZOLE ON SOIL TRANSMITTED HELMINTHS INFECTION AT STUDENTS OF CIBEREM ELEMENTARY SCHOOL,SUMBANG, BANYUMAS ABSTRACT Soil transmitted helminths (STH) infections are community found in tropical and subtropical countries. STH infection at elementery school in some provinces Indonesia is quite high with prevalence 60-80%. WHO supported government programs “back to nature 2010” encouraged the use of natural materials as a medicinal plant. Temu hitam (Curcuma Aeruginosa Roxb.) was used as traditional medicine to heal STH infection. This study was aimed to know the effectiveness of temu hitam and mebendazole on STH infection. The materials were 116 fecal sampels of Ciberem Elementary School, Sumbang, Banyumas. The method of this study was true experimental with consequtive sampling. Univariate analysis was using table of frequency and bivariate analysis was using chi square with alternative test fisher . STH prevalence was 32,76%. STH eggs were found in research subject consist of 36,36% Ascaris lumbricoides, 60,61% Trichuris trichiura, dan 3,03% hookworm. Children who be infected STH divided into 2 groups, each consisting of 12 children. Group I was treated with mebendazole 500 mg single dose and group II was treated with temu hitam 30 ml for day single dose. STH cure rate in group I was 75% and 66,67% in group II. No significance difference between the effect of temu hitam and mebendazole to heal STH infection (p=0,5). | |
| 10585 | 3501 | I1B006056 | ANALISIS STABILITAS LERENG TERHADAP VARIASI CURAH HUJAN DAN KEMIRINGAN LERENG DENGAN METODE ELEMEN HINGGA | Indonesia adalah salah satu negara yang sering mengalami musibah tanah longsor. Adapun faktor penyebab terjadinya kelongsoran antara lain adalah curah hujan, sudut kemiringan lereng dan struktur tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu kritis dan angka aman (safety factor) pada suatu lereng yang berpotensi mengalami keruntuhan, serta mengetahui tingkat kesalahan terhadap hasil analisis menggunakan permodelan fisik. Variasi sudut kemirngan lereng yang digunakan adalah 30, 35 dan 40 derajat. Variasi curah hujan yang digunakan adalah 60, 70 dan 80 mm/jam. Data tanah, curah hujan, sudut kemirngan lereng dan model geometri yang digunakan berasal dari hasil penelitian Desi Andriani dan Iman Kurniawan Syah mengenai analisis stabilitas lereng menggunakan permodelan fisik yang dilakukan di laboratorium Universitas Jenderal Soedirman.Analisis dilakukan dengan cara membuat simulasi model menggunakan program PLAXIS v.8 yang merupakan perangkat lunak berbasis elemen hingga. Langkah-langkah yang dilakukan adalah penentuan geometri model, penentuan model material, penentuan parameter model, dan tahapan kalkulasi. Analisis yang dilakukan yaitu analisis penambahan tinggi muka air tanah hingga didapatkan kondisi angka aman (SF) dibawah 1.Hasil dari analisis menunjukan bahwa waktu kritis terkecil adalah 9,76 menit dan terbesar 46 menit. Dari perbandingan dengan model fisik didapatkan error SF sebesar 0,141 untuk sudut 30° dan 0,001 untuk sudut 35°. Untuk sudut 40° mengalami keruntuhan pada kondisi awal (initial condition). | Indonesia is a country which that is often have some landslide disaster. The factors that causes landslide are rainfall, slope angle and soil structure. The purpose of this study was to determine the critical time and safety number (safety factor) on a slope that potentially collapsed, and to know the error rate to the analysis results by using physical modeling. Variations of slope angle that used are 30, 35 and 40 degrees. Variations in rainfall that used are 60, 70 and 80 mm / h. Soil’s data, precipitation, slope angle and geometry model are derived from research results by Desi Andriani and Iman Kurniawan Syah about slope stability analysis by using physical modeling which performed in the laboratory of the Jend. Soedirman State University. The analysis was done by created a simulation model using v.8 PLAXIS program which is based on finite element software. The steps taken are the determination of the geometry model, the determination of material models, the determination of model parameters, and phase calculations. The analysis which one is additional analysis of ground water level to obtain safe numbers (SF) condition under 1(one). The results of the analysis showed that the shortest of critical time is 9.76 minutes and longest one is 46 minutes. Out of a comparison by the physical model it obtained the SF error of 0,141 for 30 ° angle and 0,001 for 35 ° angle. For the 40 ° angle it is collapsed in the initial conditions. | |
| 10586 | 3499 | A1H008025 | LIFE CYCLE ASSESSMENT (LCA) INDUSTRI TAHU DESA KALISARI, KECAMATAN CILONGOK, KABUPATEN BANYUMAS | Proses produksi tahu tidak hanya menghasilkan keluaran berupa tahu tapi juga limbah tahu, yang terdiri dari limbah padat dan cair. LCA merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengevaluasi dampak suatu produk terhadap lingkungan. Tujuan dalam penelitian ini adalah: 1) Mengetahui jumlah konsumsi energi selama proses produksi tahu. 2) Mengetahui dampak output penggunaan energi terhadap lingkungan dilihat dari jumlah emisi terhadap udara (CO¬2) dan emisi terhadap air (pH, BOD, dan COD). LCA di industri tahu desa Kalisari dilakukan sesuai standar ISO 14040 (1997). Hasil menunjukan bahwa energi bahan bakar adalah sumber energi yang paling signifikan digunakan, dengan presentase sebesar 77,90% dari energi yang digunakan diikuti energi tenaga manusia dan energi listrik sebesar 21,74% dan 0,37%. Selain itu, ditemukan bahwa nilai BOD dan COD di titikT2 dan T3 tidak memenuhi standar baku mutu. Secara keseluruhan, dampak dari penggunaan energi dan bahan baku pada proses produksi tahu yaitu gangguan terhadap kesehatan manusia, terhadap ekosistem perairan, dan terhadap estetika. Kata kunci: LCA, tahu, energi, emisi, dampak lingkungan. | Tofu production process generates not only tofu-the final product, but also waste-products, which include solid waste and wastewater. LCA is one of the methods used to evaluate the environmental impacts of a product. The purposes of this research are: 1) Study the amount of energy consumption during tofu production process. 2) Study the impactsof the energy usages on the environment, as seen from the amount of emissions to air (CO2) as well as to water (pH, BOD and COD). LCA for tofu industry in Kalisari village is performed according to ISO 14040 standards (1997). The results show that fuel energy is the most significance energy source used, which account for 77,90% of energy usage, followed by human power energy and electrical energy, which have share of 21.74% and 0.37% respectively. Additionally, it is found that the values of BOD and COD in points T2 and T3 don’t meet the quality standard Overall, the impacts of the raw material and energy usage in tofu production process include health problems, problems in aquatic ecosystems and the problems to the environmental aesthetic. Keywords: LCA, tofu, energy, emissions, environmental impact. | |
| 10587 | 3500 | A1L008115 | PENGENDALIAN HAYATI NEMATODA SISTA KUNING (Globodera rostochiensis Woll.) PADA TANAMAN KENTANG | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mikroba antagonis yang efektif terhadap G. rostochiensis, pengaruhnya terhadap ketahanan terimbas serta komponen pertumbuhan dan hasil tanaman kentang. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 11 perlakuan dan 3 kali ulangan, yang meliputi: kontrol, karbofuran, Bacillus sp. isolat 2 dan 4, P. fluorescens isolat 19, 20, dan 21, Penicillium sp. isolat 1 dan 2, serta Gliocladium sp. isolat 1 dan 3. Variabel yang diamati meliputi: jumlah sista G. rostochiensis dalam tanah, populasi akhir mikroba antagonis, tinggi tanaman, jumlah daun, berat basah tajuk tanaman, berat basah akar, berat hasil, dan analisis senyawa fenol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan mikroba antagonis belum mampu menekan jumlah sista G. rostochiensis dalam tanah dan komponen pertumbuhan dan hasil tanaman kentang. Namun, Bacillus sp. isolat 2 mampu meningkatkan jumlah daun sebesar 7,76%. Semua perlakuan mikroba antagonis mampu mengimbas ketahanan tanaman dan Bacillus sp. isolat 2 memiliki kemampuan mengimbas ketahanan tanaman kentang paling baik. Kata kunci: Mikroba antagonis, G. rostochiensis, kentang | This research aimed at knowing the effective antagonistic against G. rostochiensis, it’s effect on induced resistance and on growth and yield of components. Randomized Block Design (RDB) used with 11 treatments i.e.: control, carbofuran, Bacillus sp. isolate 2 and 4, P. fluorescens isolate 19, 20, and 21, Penicillium sp. isolate 1 and 2, Gliocladium sp. isolate 1 and 3 and repeated three times. Variables observed were number of cyst G. rostochiensis in the soil, final population of antagonistic microorganisms, number of leaves, crop height, fresh weight of crop, fresh weight of roots, yield, and phenolic analysis. Result of the research indicated the antagonistic couldn’t able to suppress the number of cyst G. rostochiensis in the soil, increase the growth and yield component of potato. However, Bacillus sp. isolate 2 could increase the average of potato crop numbers as high as 7.76%. All antagonistic application could induce resistance by increasing phenolic compound on potato crop. The best antagonist increasing for induced resistance was Bacillus sp. isolate 2. Key words: antagonistic microorganisms, G. rostochiensis, potato | |
| 10588 | 3507 | G1A008005 | PERSEPSI PASIEN DAN KELUARGA PASIEN DALAM PROSES INFORMED CONSENT PADA INSTALASI RAWAT INAP BEDAH RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO | Tuntutan kasus malpraktek kepada penyedia tenaga kesehatan semakin banyak hal ini disebabkan kurang baiknya komunikasi dokter dan pasien. Tuntunan hukum tersebut dapat dicegah melalui komunikasi efektif yang baik antara dokter dan pasien. Komunikasi efektif dokter dan pasien merupakan salah satu bagian dalam proses pemberian informed consent.Informed consent merupakan pernyataan setuju dari pasien dan keluarga pasien mengenai tindakan medik setelah mendapatkan penjelasan informasi sebelumnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui persepsi pasien dan keluarga pasien dalam proses informed consent pada instalasi rawat inap bedah RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo Purwokerto. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara semi terstruktur. Responden pada penelitian ini adalah pasien dan keluarga pasien pada instalasi rawat inap bedah RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo dengan jumlah tujuh orang. Teknik sampling yang digunakan adalah ”purposive sampling”. Fenomena yang dijumpai pada penelitian ini bahwa persepsi pasien dan keluarganya mengenai proses informed consent adalah sebuah tandatangan persetujuan yang merupakan persyaratan dari rumah sakit yang harus dipenuhi. Berdasarkan pengalaman dan harapan pasien dan keluarganya bahwa orang yang memberikan informasi mengenai penyakit pasien adalah dokter spesialis serta orang yang menerima informasi dan memberikan persetujuan penandatanganan adalah pasien bersama dengan keluarga. | Charge of medical malpractice cases to the healthcare providers has been increased lately. That legal action could be prevented trough effective communication between doctor and patient, that is one part of informed consent process providing. Informed consent is shorthand for informed, voluntary, and decisionally-capacitated consent from patient and their family after getting medical information. The purpose of this research is to determine patient and its family perception in the process of informed consent on surgical unit at RSUD Prof. DR. Margono Soekarjo Purwokerto. The qualitative method was used in this research with semi-structured interview techniques. Then the respondents in this research were seven patients and their families on surgical unit at RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Sampling technique that was used was purposive sampling technique with data analysis using reduction data, presenting data and make conclusion. The phenomenon that was often seen in this research was patient and their family perceptions about informed consent process just only the approval sign (signature) of a hospital requirement that must be filled. Based on patient and their family’s experience and expectation that who must give the information about the disease or illness is specialist doctor, and who received information and filled approval sign were patient and its family. | |
| 10589 | 3503 | G1B008123 | FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (MASKER) PADA PEKERJA BAGIAN WAREHOUSE PT. JAPFA COMFEED INDONESIA, Tbk-UNIT CIREBON | Debu merupakan salah satu beban tambahan dari lingkungan kerja kimia. Berdasarkan data WHO (World Health Organization) tahun 2007, diantara semua penyakit akibat kerja 30% sampai 50% adalah penyakit silikosis dan penyakit pneumokoniosis lainnya. Masker merupakan salah satu upaya untuk mencegah timbulnya penyakit pernapasan akibat kerja, namun masih terdapat pekerja yang tidak menggunakan masker saat bekerja. Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku pekerja sehingga tidak menggunakan masker. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan APD masker pada pekerja bagian warehouse PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk-Unit Cirebon. Jenis dan metode penelitian ini adalah observasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 50 responden. Data didapatkan melalui wawancara responden dengan menggunakan kuesioner dan observasi langsung. Variabel-variabel yang diteliti adalah tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, sikap, masa kerja, kenyamanan APD dan pengawasan petugas. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat (uji Chi-Square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan signifikan dengan perilaku penggunaan APD masker adalah tingkat pendidikan (p=0,011) dan tingkat pengetahuan (p=0,021), sedangkan variabel yang tidak berhubungan signifikan yaitu sikap (p=0,073), masa kerja (p=0,069), kenyamanan APD (p=0,077) dan pengawasan petugas (p=0,612) Disarankan perlu adanya kegiatan pemberian informasi dan pelatihan terkait APD serta dampaknya terhadap kesehatan dan pemberian sanksi yang tegas terhadap pekerja yang tidak menggunakan APD masker. | Dust is one of the additional workloads from the chemical work environment. Based on data from WHO (World Health Organization) in 2007, among all occupational diseases, 30% to 50% of diseases are silicosis and other pneumoconiosis disease. Mask is an effort to prevent occupational respiratory diseases. However, there are still workers who do not wear a mask at work. Many factors influence the behavior of workers, so that they do not wear masks. The purpose of this study was to determine the factors related to the behavior of the use of PPE mask on the warehouse workers of PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk-Unit Cirebon. The type and method of the study were observational study with cross sectional approach. Total sample amounted to 50 respondents. Data were obtained through interviews with respondents using questionnaires and direct observation. The variables studied were the level of education, level of knowledge, attitude, length of service, PPE comfort and supervision officers. Data analyses were performed using univariate and bivariate (Chi-Square test). The results showed that the variables significantly related to the use of PPE mask behavior were the level of education (p = 0,002) and the level of knowledge (p = 0,021), whereas variables that were not related significantly were attitudes (p = 0.073), length of service (p = 0,134), APD comfort (p = 0,077) and supervision officers (p = 0,612). It is suggested that the provision of information and training activities related to APD and its impact on health and giving strict sanctions against workers who do not use PPE mask are necessary. | |
| 10590 | 3504 | A1L008119 | HASIL EMPAT VARIETAS BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) PADA BERBAGAI DOSIS PUPUK P DI LAHAN PASIR PANTAI | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil empat varietas bawang merah pada berbagai dosis pupuk P di lahan pasir pantai. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAKL (Rancangan Acak Kelompok Lengkap) dengan 2 faktor yaitu varietas (V) dan pupuk fosfat (P) dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat varietas bawang merah yang dicoba di lahan pasir pantai berbeda pada variabel yaitu jumlah umbi per rumpun, hasil umbi segar per hektar, dan hasil umbi kering simpan per hektar terkecuali pada bobot umbi kering simpan per rumpun, dan bobot umbi segar per rumpun. Varietas Biru menghasilkan umbi kering simpan per hektar tertinggi yaitu 9,080 ton/ha. Peningkatan dosis pupuk SP-36 tidak berpengaruh pada pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Bobot umbi segar per rumpun dan bobot umbi kering simpan per rumpun dipengaruhi oleh interaksi antara varietas dan dosis pupuk P. | The aims of this research is to know the growth and yield of red onion varieties at various P fertilizer doses in coastal sandy land. The design of this research was Randomized Complete Block Design (RCBD) with 2 factors varieties (V) and fertilizer phosphat (P) and 3 replications. The result showed that the four varieties tried were different on variables namely the number of tuber per clump, the yield of a fresh tuber per hectare, and the yield dry tuber per hectare except the weight storage dry tuber per clump, and the weight of fresh tuber per clump. Biru variety yield the highest dry tuber per hectare namely 9,080 ton/ha. The increase of SP-36 fertilizer dose did not influence on the growth and yield of red onion plant. The weight of fresh tuber per clump and weight storage dry tuber per clump were influence of onion and doses of P fertilizer. | |
| 10591 | 3505 | G1A008078 | HUBUNGAN OBESITAS DENGAN KEJADIAN ABORTUS SPONTAN DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO PERIODE JANUARI 2010 –DESEMBER 2011 | Latar Belakang: Obesitas merupakan peningkatan berat badan yang melebihi batas kebutuhan skeletal dan fisik sebagai akibat dari akumulasi lemak berlebihan dalam tubuh. Prevalensi obesitas meningkat di setiap negara. Salah satu dampak obesitas pada sistem reproduksi wanita adalah terjadinya abortus spontan yaitu kegagalan kehamilan yang terjadi tanpa ada intervensi dari luar sebelum usia kehamilan 20 minggu. Penelitian terdahulu menunjukkan adanya hubungan signifikan antara obesitas dengan kejadian abortus spontan. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara obesitas dengan kejadian abortus spontan di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Metode: Rancangan penelitian yang digunakan adalah case control. Teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling.Sampel dalam penelitian ini berjumlah 92 orang dengan kelompok kasus sebanyak 46 sampel dan kelompok kontrol sebanyak 46 sampel. Analisis data yang digunakan adalah uji Chi-Square Mantel-Haenszel dengan tingkat kemaknaan p<0,05, dilanjutkan dengan uji CC (koefisien kontingensi). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan wanita obesitas yang mengalami abortus spontan sebanyak 19 sampel, sedangkan 4 wanita yang obesitas tidak mengalami abortus spontan. Wanita tidak obesitas dan mengalami abortus spontan yaitu sebanyak 27 sampel, sedangkan wanita tidak obesitas dan tidak mengalami abortus spontan yaitu sebanyak 42 sampel. Perhitungan dengan Chi-Square Mantel-Haenszel didapatkan p= 0,001 yang berarti terdapat hubungan antara obesitas dengan abortus spontan dan CC (koefisien kontingensi)=0,352 yang berarti kekuatan hubungan tersebut bersifat lemah. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara obesitas dengan kejadian abortus spontan. Wanita yang mengalami obesitas cenderung meningkatkan kejadian abortus spontan. | Background: Obesity is a weight gain that exceeds the skeletal and physical requirements as a result of excessive accumulation of fat in the body. The prevalence of obesity increased in every state. One of the effects of obesity on female reproductive system is the occurrence of spontaneous abortion of pregnancy failure that occurs without outside intervention before 20 weeks gestation. Past research has shown a significant relationship between obesity and the incidence of spontaneous abortion. Purpose: The purpose of this study was to determine the association between obesity and the incidence of spontaneous abortion in Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital Purwokerto. Methods: The purposed research design wascase control analytic research. The sampling technique was simple random sampling. The sample in this study were 92 people with 46 samples for cases and 46 samples for control. The result was analyzed by using Chi-SquareMantel-Haenszeltest with a significance level of p<0.05, followed by CC test (contingency coefficient). Results: Results showed that obese women who had a spontaneous abortion were 19 samples, while 4 obese women had no experience of spontaneous abortion. Women who were not obese and had a spontaneous abortion was 27 samples, while the women who were not obese and had no experience of spontaneous abortion was 42 samples. Chi-SquareMantel-Haenszelanalysis showed p value = 0.001 means there was a significant association between obesity and the incidence of spontaneous abortion and CC (contingency coefficient) = 0.352 means the strength of that association was weak. Conclusion: There was a significant association between obesity and the incidence of spontaneous abortion. Obese woman increased the risk of spontaneous abortion. | |
| 10592 | 3506 | A1L008070 | PENGARUH PUPUK HAYATI MIKORIZA BERAGENSI Bacillus subtilis B-46 DAN PENGURANGAN DOSIS PUPUK N-P-K TERHADAP KETERSEDIAAN DAN SERAPAN HARA P OLEH TANAMAN CABAI (Capsicum annum) PADA INCEPTISOL DESA LINGGASARI | Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian pupuk hayati mikoriza beragensi Bacillus subtilis B-46 dan pengurangan dosis pupuk N-P-K terhadap ketersediaan dan serapan hara P oleh tanaman cabai merah pada Inceptisol, serta menentukan dosis pupuk hayati mikoriza beragensi Bacillus subtilis B-46 dan pupuk N-P-K yang tepat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai November 2011 di lahan sawah petani Desa Linggasari, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas yang dirancang menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial tidak lengkap yang terdiri dari dua faktor percobaan. Faktor pertama adalah dosis pemberian pupuk hayati dan faktor ke dua adalah pengurangan dosis anjuran pupuk N-P-K. Hasil penelitian menunjukan pupuk hayati mikoriza beragensi Bacillus subtilis B-46 mampu mensubstitusi kebutuhan pupuk kimia sampai 50 % dari dosis anjuran tanpa menyebabkan kondisi kekurangan hara P dan penurunan kemampuan tanaman dalam menyerap P. Kombinasi perlakuan terbaik pada perlakuan H1K3 yaitu pupuk hayati mikoriza dan Bacillus subtilis B-46 dengan dosis 4 g/tanaman dengan pengurangan dosis anjuran pupuk N-P-K sebesar 50 %. | The reseach aims to determine in the effektiveness of mycorrhizal biofertilizer with Bacillus subtilis B-46 agens and N-P-K fertilizer dose on P availability and nutrien P uptake by red paper plant at Inceptisols, and to determine true dose mycorrhizal biofertilizer with Bacillus subtilis B-46 agens and N-P-K dose. The experiment was conducted from July to November 2011 in the fields of farmer Linggasari Village, District Sumbang, Banyumas. The research was designed in Group Randomized Design at incomplete factorial which are two experimental factors. The first factor is the bilogy fertilezer dose and the second factors is reduction in N-P-K fertilizer recomended dosage. The results showed mycorrhizal biofertilizer with Bacillus subtilis B-46 agens could substitute 50 % the need chemical fertilizer of the dose recomended without caused a deficiency of P and decreased ability absorbsing P of plants. The best combination treatment is the treatment H1K3 obtained which is the treatment with mycorrhizal biofertilizer with Bacillus subtilis B-46 agens in of 4 g/plant with a reduction in N-P-K fertilizer 50% recomended dosage. | |
| 10593 | 3516 | A1L008136 | UJI KESESUAIAN JAMUR Cordyceps DENGAN BEBERAPA AGEN PENGENDALI HAYATI | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan Cordyceps yang tumbuh bersama beberapa agen pengendali hayati, dan juga sebagai informasi dasar untuk penelitian lebih lanjut tentang pembuatan biopestisida berbahan aktif beberapa agen pengendali hayati. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto pada bulan November 2011 sampai Maret 2012. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh dianalisis ragam dengan menggunakan uji F pada tingkat kesalahan 5% untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang dicoba. Apabila berbeda nyata, akan dilanjutkan dengan DMRT dengan tingkat kesalahan 5%. Banyaknya perlakuan yaitu ada sembilan dengan enam kali ulangan yaitu Cordyceps tanpa perlakuan antagonis dan parasit, Cordyceps dengan Trichoderma sp, Cordyceps dengan Metarhizium sp, Cordyceps dengan Verticilium sp, Cordyceps dengan Beauveria sp, Cordyceps dengan Gliocladium sp, Cordyceps dengan Corynebacterium sp, Cordyceps dengan Bacillus sp, dan Cordyceps dengan P. fluorescens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasar diameter koloni, mikroba yang sesuai untuk dibuat formula dengan Cordyceps yaitu Metarhizium, Verticillium, Beauveria, Gliocladium, Corynebacterium, dan P.fluorescens. Berdasarkan variabel diameter koloni, kepadatan spora, viabilitas atau perkecambahan, dan berat kering, menunjukkan bahwa Cordyceps sesuai jika ditumbuhkan dengan Gliocladium dan Corynebacterium. Hal ini menunjukkan bahwa mikroba tersebut dapat ditumbuhkan bersama dengan Cordyceps untuk dibuat dalam satu formula yang memiliki lebih dari satu agen pengendali hayati. | The purpose of this study is to determine the growth of Cordyceps combine with some biocontrol agent, and also as basic information for further research on the producing of biopesticide containing some biocontrol agent. The research was 2 conducted at the Laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto in November 2011 until March 2012. This research used Completely Randomized Design (CRD). Data were analyzed using the F test range on the error rate of 5% to determine the effect of treatment is attempted. If they are real, will be followed by DMRT with an error rate of 5%. The number of treatments are nine with six replications that are Cordyceps without treatment antagonists and parasites, Cordyceps and Trichoderma sp, Cordyceps and Metarhizium sp, Cordyceps and Verticilium sp, Cordyceps and Beauveria sp, Cordyceps and Gliocladium sp, Cordyceps and Corynebacterium sp, Cordyceps and Bacillus sp, and Cordyceps and P. fluorescens. The result based on the variable of colony diameter showed, some microbes that compatible and Cordyceps are Metarhizium, Verticillium, Beauveria, Gliocladium, Corynebacterium, and P.fluorescens. The result based on variable of colony diameter, spore density, viability, and dry weight showed cordyceps was compatible with Gliocladium and Corynebacterium. It is mean that these microbes can be grown with Cordyceps to be made in a single formula that has more than one biological control agent. | |
| 10594 | 3509 | H1K008006 | PETA SEBARAN KARBON SEDIMEN DI EKOSISTEM MANGROVE SEGARA ANAKAN CILACAP | Ekosistem mangrove memiliki potensi untuk menyimpan karbon. Segara Anakan Cilacap salah satu wilayah yang memiliki kawasan mangrove terluas di Jawa Tengah, namun tingkat kerusakannya sangat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah menentukan potensi karbon di sedimen dan mengetahui areal karbon tanah pada ekosistem mangrove di Segara Anakan Cilacap. Metode yang digunakan adalah pengambilan sampel sedimen secara langsung di tiga bagian Segara Anakan, kemudian untuk mengetahui kandungan karbonnya dilakukan uji karbon sedimen. Output yang dihasilkan berupa peta tematik yang diolah menggunakan software surfer dan arc view. Hasil yang diperoleh adalah potensi kandungan karbon sedimen di Segara Anakan dengan bagian timur memiliki kandungan karbon tertinggi yaitu 4,851%, bagian barat memiliki rata – rata 1,879%, hal ini karena tingginya sedimentasi yang terjadi dibagian barat. Untuk potensi karbon di bagian tengah memiliki rata-rata yang cukup baik 3,039% karena posisinya yang tidak begitu dekat dengan adanya pengaruh sedimentasi akibat arus sungai. Data yang diperoleh dibuat dalam bentuk peta tematik, yang dapat dimanfaatkan sebagai informasi kawasan sumber kesuburan tanah di Segara Anakan. | An ecosystem mangrove has the potential for storing carbon. Coming saplings cilacap one of the areas which have the widest in central java, the mangrove but the level of the damage is very high. The aim of this research is to determine the potential of carbon in the sediment and knowing the carbon the land on the ecosystem of tillers of cilacap mangrove in coming. The method is applicable in the sample sediment directly in three parts, since tillers then to know the womb karbonnya test the carbon sediment. Output produced in the form of a map thematic processed using software surfer and arctostaphylu view. The result obtained was that the potential any carbon content sediment in coming saplings with the eastern have any carbon content that is 4,851 %, the highest western having average 1,879 %, it is because of high sedimentation happened to the west. For the potential of carbon in the middle part of having an average is a good enough 3,039 % because its position is not so close to the presence of the influence of sedimentation to induced currents of the river. The data collected made in the form of a map thematic, information that can be used as a source of soil fertility area in coming tillering. | |
| 10595 | 3512 | E1A008184 | KEKUATAN ALAT BUKTI SAKSI KELUARGA DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Studi Terhadap Putusan Nomor : 07/Pid.B/2009/PN.Purbalingga) | Keterangan saksi merupakan salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar dan ia alami sendiri dengan menyebutkan alasan dari pengetahuannya, sesuai dengan ketentuan Pasal 1 angka 27 KUHAP. Pada umumnya alat bukti saksi adalah yang paling menentukan dalam menilai apakah tindak pidana pembunuhan itu benar-benar terjadi dan dilakukan oleh terdakwa. Namun dalam kasus tindak pidana pembunuhan sebagaimana diputuskan dalam Putusan Pengadilan Negeri Purbalingga Nomor : 07/Pid.B/2009/PN.Purbalingga, hakim menghadirkan saksi yang memiliki hubungan keluarga dengan terdakwa yakni istri terdakwa sendiri. Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul : KEKUATAN ALAT BUKTI SAKSI KELUARGA DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN (Studi Terhadap Putusan Nomor : 07/Pid.B/2009/ PN.Purbalingga). Didalam meneliti skripsinya, ditemukan permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut, 1. Mengapa saksi keluarga dihadirkan dalam persidangan pada Putusan Nomor : 07/Pid.B/2009/ PN.Purbalingga? 2. Bagaimana kekuatan pembuktian keterangan saksi keluarga dalam tindak pidana pembunuhan terhadap Putusan Nomor : 07/Pid.B/2009/ PN.Purbalingga tersebut? Berdasarkan hasil penelitian terhadap Putusan Pengadilan Negeri Purbalingga Nomor : 07/Pid.B/2009/PN.Purbalingga, alasan hakim menghadirkan saksi keluarga dalam persidangan karena Keterangan istri terdakwa atas kehendaknya sendiri sebagai saksi yang merupakan alat bukti utama pada ketentuan Pasal 184 ayat (1) KUHAP dapat membuat terang duduk persoalan yang timbul dalam persidangan setelah disetujui secara tegas oleh Jaksa Penuntut Umum sesuai dengan ketentuan Pasal 169 KUHAP, mengenai terjadinya tindak pidana pembunuhan tersebut. Sedangkan keterangan dari saksi keluarga tersebut setelah mendapat persetujuan secara tegas dari Jaksa Penuntut Umun maka dapat berlaku sebagai alat bukti yang sah yang diserahkan kepada kebijakan hakim untuk menambah keyakinannya sepanjang keterangannya bersesuaian dengan keterangan saksi yang lain berdasarkan pada Pasal 185 ayat (7) KUHAP, dan tidak termasuk dalam Testimonium de auditu. | Eyewitness description is one of the evidence appliance in criminal which in the form of description of eyewitness regarding a crime which he hears and he experienced of by himself with mentioned the reason from the knowledge he has, pursuant to Section 1 number 27 Criminal Procedure Code for the legal basis (KUHAP). Generally eyewitness evidence appliance is most determining in assessing do that is murdering of an criminal act really do and conducted by defendant. But in murdering of an criminal act case as decided in Decision District Court Of Purbalingga Number : 07/Pid.B/2009/PN.Purbalingga, judge attended the eyewitness who she has owning blood relationship with defendant that is the defendant wife himself. Based on above description, writter interest to compile the thesis with title is : STRENGTH OF APPLIANCE EVIDENCE EYEWITNESS FAMILY IN THE MURDERING OF AN CRIMINAL ACT ( Study To Decision Number : 07/Pid.B/2009/ PN.PURBALINGGA). In the research, found any problems which can formulated as follows 1. Why does family eyewitness attended in conference at Decision Number : 07/Pid.B/2009/ PN.PURBALINGGA 2. How does the strength of verification of family eyewitness description in murdering of an criminal act at Decision Number : 07/Pid.B/2009/ PN.Purbalingga? Pursuant to research result at Decision District Court Of Purbalingga Number : 07/Pid.B/2009/PN.Purbalingga, the judge reason attended family eyewitness in conference because Description from defendants wife of his own will desire as eyewitness was the first evidence appliance at the rule of Section 184 sentence ( 1) Criminal Procedure Code for the legal basis (KUHAP) can make boldly of arising out case position in conference after agreed expressly by The Publik Procecutor pursuant to Section 169 Criminal Procedure Code for the legal basis (KUHAP), about the happening of murdering of an criminal act. Awhile description of the family eyewitness after getting the expressly permission from Publik Procecutor so can apply as a means of valid evidence which delivered to policy of the judge to added the confidence of as long as their description chiming in with other eyewitness description pursuant to Section 185 sentence ( 7) Criminal Procedure Code for the legal basis (KUHAP), and was not the included in the Testimonium auditu de. | |
| 10596 | 3513 | A1M008023 | AKTIVITAS ANTIMIKROBA FORMULA BUAH KECOMBRANG BERBENTUK SUSPENSI DENGAN BAHAN PENGISI GELATIN-MALTODEKSTRIN DAN PROTEIN KEDELAI-MALTODEKSTRIN SERTA PENSTABIL AGAR DAN GUM ARAB | Penelitian ini menggunakan konsentrat buah kecombrang, bahan pengisi dan bahan penstabil pada pembuatan formula buah kecombrang. Tujuan penelitian ini adalah: 1) mengetahui pengaruh jenis bahan pengisi (gelatin : maltodekstrin dan protein kedelai : maltodekstrin) terhadap aktivitas antimikroba formula buah kecombrang; 2) menetapkan konsentrasi bahan pengisi yang tepat pada pembuatan formula buah kecombrang; 3) menetapkan jenis hidrokoloid (agar dan gum arab) yang lebih tepat pada formula buah kecombrang; 4) mengetahui pengaruh interaksi antar bahan yang digunakan dalam pembuatan formula. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 12 kombinasi perlakuan dan tiap perlakuan diulang sebanyak 2 kali. Faktor yang dicoba terdiri atas jenis bahan pengisi gelatin-maltodekstrin (E1) dan protein kedelai-maltodekstrin (E2); konsentrasi bahan pengisi (K1: 2% ; K2: 4% dan K3: 6%); jenis penstabil (T1: agar dan T2: gum arab). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen bubuk buah kecombrang dan rendemen konsentrat buah kecombrang terhadap buah kecombrang segar yang dihasilkan berturut-turut sebesar 16,54% dan 2,47%. Formula buah kecombrang yang dihasilkan lebih berpotensi sebagai antibakteri dibandingkan dengan antikapang dan antikhamir. Aktivitas antibakteri yang diberikan adalah sebesar 20,815-34,910 mm, sedangkan aktivitas antikapang dan antikhamir yang diberikan oleh formula buah kecombrang sebesar 5,715-7,220 mm dan 9,800-19,720 mm. | The research used concentrates of kecombrang fruit, filler materials and stabilizers. The aim of this research were : 1) knowing the influence of the filler materials (gelatin:maltodextrin and soy protein:maltodextrin) in the formula on its activity as an antimicrobial; 2) determine the optimum concentration of filler materials in the formula; 3) set the right type of stabilizer (agar and gum arabic) in the formula; 4) knowing the interaction between the used materials in the formula. The research used experimental design with Randomized Block Design (RBD) consisted of 12 treatment combination and repeated twice. The factors tested consists of a types of filler material gelatin-maltodextrin (E1) and soy protein-maltodextrin (E2); concentration of filler material (K1: 2%; K2: 4% and K3: 6%); the types of stabilizer (T1: agar and T2: gum Arabic). Result of the research showed that yield of powder of kecombrang fruit and kecombrang fruit concentrate were 16.54% and 2.47% respectively againts fresh fruit. The kecombrang fruit formula was more potent as an antibacterial agent compared to antimold and antiyeast. Antibacterial activity was shown by 20.815-34.910 mm, while antimold and antiyeast activity that shown by kecombrang fruit formula were 5.715-7.220 mm and 9.800-19.720 mm. | |
| 10597 | 3514 | A1H008057 | PENGARUH JUMLAH PEREKAT DAN UKURAN SERBUK TERHADAP KUALITAS BRIKET ARANG DARI KULIT KACANG TANAH | Bahan bakar berupa minyak bumi dan gas merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia yang keberadaannya semakin menipis. Energi alternatif berpeluang untuk dikembangkan, salah satunya pemanfaatan kulit kacang tanah untuk pembuatan briket arang. Briket arang merupakan arang yang diubah bentuk, ukuran dan kerapatan dengan mengepres campuran serbuk arang dan bahan perekat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitas briket bioarang dari bahan kulit kacang tanah dan pengaruh antara jumlah perekat dan ukuran serbuk terhadap kualitas briket arang kulit kacang tanah. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Kelompok. Penelitian ini menggunakan dua faktor perlakuan yaitu faktor jumlah perekat (5%, 7%, 9%) dan faktor ukuran serbuk (mesh 12, 16, 18 dan 30). Data yang diperoleh diuji dengan analisi keragaman dan DMRT taraf 5%. Variabel yang diamati pada penelitian ini meliputi kadar air, kadar zat mudah menguap, karbon terikat dan nilai kalor. Rata-rata hasil pengujian kualitas briket arang dari kulit kacang tanah adalah kadar air 2,34-5,04%, kadar abu 17,05-27,53%, kadar zat mudah menguap 2,64-5,78%, kadar karbon terikat 65,61-74,77% dan nilai kalor 3.833,32-5.216,62 kal/g. Hasil analisis keragaman menunjukkan faktor jumlah perekat, ukuran serbuk dan interaksinya antara jumlah perekat dan ukuran serbuk berpengaruh nyata terhadap kadar air dan nilai kalor. | Fuels such as oil and gas are important factors in human life whose existence are dwindling. Alternative energy has opportunity to be developed, one of which is the use of groundnut shell for charcoal briquettes production. Charcoal briquettes is charcoal which shape, size and density has changed by pressing a mixture of charcoal powder and adhesive materials. The research purposes are to sudy to know the quality of charcoal briquettes from groundnut shell and study the effect of total glue and powder size on the quality of charcoal briquettes from groundnut shells. The research method that used was experiment block randomized design with two factors, the amount of glue and powder size. Glue’s factor has three levels: they where 5%, 7% and 9%, while powder size pass through mesh number 12, 16, 18 and 30. The ANOVA and Duncan’s Multiple Range Test (DMRT)are perfom with level 5%. The variables observed in this research moisture content, ash content, volatile matter, fixed carbon and caloric value. Mean result of the the examination quality charcoal briquettes from groundnut shells follows moisture content 2.34-5.04%, ash content 17.05-27.53%, volatile matter 2.64-5.78%, fixed carbon 65.61-74.77% and caloric value 3,833.32-5,216.62 cal/g. The result of variance analysis showed the amount glues factor, powder measure and its interaction had significant effects to moisture content and caloric value. | |
| 10598 | 3515 | A1L008143 | POLA RAPD BACILLUS SP B.209 DAN PERANNYA SEBAGAI AGENSIA PENGENDALI RALSTONIA SOLANACEARUM PADA TANAMAN KENTANG | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui primer yang dapat mengamplifikasi DNA Bacillus sp. B209, pola pita DNA hasil RAPD Bacillus sp. B209, kemampuan Bacillus sp. B209 dalam mengendalikan penyakit layu bakteri, dan kemampuan Bacillus sp. B209 sebagai plant growth promoting rhizobacter (PGPR). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Riset Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) (Agustus-Oktober 2011), Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Unsoed, dan Stasiun Percobaan Fakultas Pertanian Unsoed, Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga (April-Juni 2012). Penelitian tahap pertama yaitu identifikasi pola pita DNA Bacillus sp. B209 menggunakan Random Amplified Polimorphyc DNA (RAPD) dan tahap kedua menggunakan rancangan split plot design dengan empat kali ulangan. Banyaknya kombinasi perlakuan yaitu ada enam dengan empat kali ulangan yaitu R0B0 (tanpa inokulasi R. solanacearum dan perendaman benih menggunakan H2O), R0BI (tanpa inokulasi R. solanacearum dan penggunaan pestisida), R0B2 (tanpa inokulasi R. solanacearum dan aplikasi Bacillus sp. B209), R1B0 (diinokulasi R. solanacearum dan perendaman benih menggunakan H2O), R1B1 (diinokulasi R. solanacearum dan penggunaan bakterisida), dan R1B2 (diinokulasi R. solanacearum dan aplikasi Bacillus sp.). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pita Bacillus sp. B209 hasil RAPD berbeda ukurannya pada tiap primer yang digunakan, aplikasi Bacillus sp. B209 dengan cara perendaman benih selama 1 jam dilanjutkan dengan penyiraman tiap dua minggu sekali belum mampu menekan penyakit layu bakteri yang disebabkan R. solanacearum di lahan, dan aplikasi Bacillus sp. B209 dengan cara perendaman benih selama 1 jam dilanjutkan dengan penyiraman tiap dua minggu sekali belum mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman kentang di lahan. | The aim of this study are to determine the DNA primer can amplified Bacillus sp. B209, knowing RAPD DNA banding pattern of Bacillus sp. B209, determine the ability of Bacillus sp. B209 in the control of bacterial wilt disease, and determine the ability of Bacillus sp. B209 as plant growth promoting rhizobacteria (PGPR). The research was conducted at the Research Laboratory of the University of Jenderal Soedirman (August-October 2011), Laboratory of Plant Protection Faculty of Agriculture, University of Jenderal Sudirman and Experiment Station Faculty of Agriculture, University General Sudirman, in the Pratin Village, District Karangreja, Purbalingga ( April-June 2012). The first stage of the study is the identification of DNA banding pattern of Bacillus sp. B209 used Random Amplified Polimorphyc DNA (RAPD) and the second stage used a split plot design with four replications. There are six combinations of treatments with four replication, there are R0B0 (without inoculation of R. solanacearum, soaking seeds using H2O), R0BI (without inoculation of R. solanacearum, bactericidal applicated), R0B2 (without R. solanacearum inoculation and Bacillus sp. B209 applicated), R1B0 (inoculated R. solanacearum and soaking seeds using H2O), R1B1 (inoculated R. solanacearum and bactericide applicated), and R1B2 (inoculated R. solanacearum and Bacillus sp. applicated). The results showed that the band pattern of Bacillus sp. B209 by RAPD has different sizes for each primer used, the application of Bacillus sp. B209 by soaking the seeds for an hour followed by watering every two weeks has not been able to suppress bacterial wilt disease caused by R. solanacearum in field and application of Bacillus sp. B209 by soaking the seeds for an hour followed by watering every two weeks has not been able to increase the growth of potato plants in the field. | |
| 10599 | 3517 | E1A008236 | KEKUATAN PEMBUKTIAN SAKSI KORBAN DALAM KASUS KECELAKAAN LALU LINTAS ( TINJAUAN YURIDIS PUTUSAN NOMOR 20/PID.SUS/2011/PN.PURWOKERTO ) | ABSTRAK Judul dari penelitian ini adalah kekuatan pembuktian saksi korban dalam kasus kecelakaan lalu lintas tinjauan yuridis pada Putusan No:20/Pid.Sus/2011/PN.Pwt . Adanya kecelakaan lalu lintas yang dilakukan oleh pengemudi sering mengakibatkan kerugian bagi pengguna jalan lain bahkan bagi pengemudinya sendiri, kerugian itu dapat mengakibatkan luka berat bahkan sampai meninggal dunia, berkaitan dengan permasalahan tindak pidana lalu lintas yang dilakukan oleh Warsono dalam perbuatanya yang lalai dalam berkendara sehingga menimbulkan orang lain luka berat. Dalam pertimbangan Putusan No:20/Pid.Sus/2011/PN.Pwt menghadirkan saksi korban yang dapat dijadikan pertimbangan Hakim dalam memutus perkara. Adapun tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dihadirkanya saksi korban dalam kecelakaan lalu lintas pada Putusan No:20/Pid.Sus/2011/PN.Pwt. dan untuk mengetahui sistem pembuktian yang digunakan dalam kasus kecelakaan lalu lintas pada Putusan No:20/Pid.Sus/2011/PN.Pwt. Penulisan ini menggunakan Metode Perspektif dengan pendekatan Yuridis Normatif yaitu dengan memfokuskan pemecahan masalah berdasarkan data yang diperoleh, yang kemudian dianalisa berdasarkan hukm pidana dan hukum acara pidana di Indonesia khususnya mengenai tindak pidana lalu lintas karena kealpaanya mengakibatkan orang lain luka berat. Penggunaan data sekunder merupakan titik berat penelitian ini, sedangkan data primer hanya sebagai pelengkap atau pendukung. Berdasarkan hasil penelitian pada Putusan No : 20/Pid.Sus/2011/PN.Pwt mengenai alat bukti saksi korban yang dihadirkan di persidangan Majelis Hakim sudah tepat dalam melakukan pemeriksaan alat bukti dimana Hakim tidak hanya melihat pada satu alat bukti saja, tapi disesuaikan dengan alat bukti lainya sehingga dapat dijadikan pertimbangan Hakim dalam memutus perkara. Majelis Hakim dalam pembuktian menggunakan teori pembuktian secara Negatif (negatief wettelijk) sesuai dengan Pasal 183 KUHAP sehingga Hakim mendapat keyakinan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 301 ayat (3) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Kata kunci : Pembuktian, Saksi Korban, Kecelakaan Lalu Lintas | ABSTRACT The title of this the strenght of evidence in the case victims of traffic accidents judicial review on the decisian No:20/Pid.Sus/2011/PN.Pwt. Traffic accidents by drivers often cause harm to other road users even for the driver himself, losses that could result in serious injury and even death, problems relating to traffic offenses committed by Warsono in perbuatanya were negligent in driving, causing other people were seriously injured. In consideration of the Decision No: 20/Pid.Sus/2011/PN.Pwt bring witnesses who can be taken into consideration in deciding the case Judge. And The purpose of the study was to determine dihadirkanya witnesses in a traffic accident in Decision No: 20/Pid.Sus/2011/PN.Pwt. The Writing is used the Normative Perspective juridical approach is to focus on solving problems based on data obtained, were then analyzed based hukm criminal and criminal procedural law in Indonesia, particularly on traffic offenses because kealpaanya lead others injured. The use of secondary data is the focus of this study, while the primary data only as a supplement or support. Based on the results of research on the Decision No: 20/Pid.Sus/2011/PN.Pwt the evidence presented by the witnesses in the trial judge was correct in doing the examination of evidence where the judge does not just look at the evidence only, but adapted to other evidence that can be taken into consideration in deciding the case Judge. The judges in the proof using the theory of evidence is negative (negatief wettelijk) in accordance with Section 183 Criminal Procedure Code so the judge got the belief that the defendant legally and convincingly proven violating Article 301 paragraph (3) of Law No. 22 Year 2009 on Traffic and Road Transportation. Key Words : Verification, Survivors, Traffic Accidents | |
| 10600 | 3524 | C1C008072 | ANALISIS PEMBERLAKUAN ANGGARAN BERBASIS KINERJA TERHADAP KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN BANYUMAS | Salah satu bentuk reformasi dalam pengelolaan keuangan pemerintah di Indonesia yang baru-baru ini dilakukan adalah penerapan anggaran berbasis kinerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan anggaran berbasis kinerja dalam praktek manajerial pegawai pemerintah daerah berupa kejelasan tujuan, kecukupan anggaran, partisipasi anggaran, fleksibilitas anggaran, formalisasi prosedur, dan dukungan dari atasan terhadap kinerja program pemerintah daerah. Responden dalam penelitian ini adalah para personel di Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Banyumas yang berpartisipasi dalam penyusunan anggaran dan program di SKPD. Data dalam penelitian ini merupakan data primer yang berasal dari kuesioner. Ada 94 responden dalam penelitian ini. Data kemudian diolah dan dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan program SPSS 17 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktek manajerial pegawai pemerintah daerah berupa kejelasan tujuan, kecukupan anggaran, partisipasi anggaran, fleksibilitas anggaran, formalisasi prosedur, dan dukungan dari atasan secara keseluruhan memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kinerja program pemerintah daerah. Kemudian, secara parsial kejelasan tujuan, kecukupan anggaran, dan dukungan dari atasan memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kinerja program, sedangkan partisipasi anggaran, fleksibilitas anggaran, dan formalisasi prosedur secara parsial memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kinerja program pemerintah daerah. | This research purposes to obtain empirical evidence about the impact of performance-based budgeting on managerial practices of local government such as goal clarity, budget adequacy, budget flexibility, budget participation, procedure formalization, and support from higher management towards programme performance of local government. Respondents of this research are officials in Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Banyumas Regency who participated on forming budgets and programs in SKPD. This research uses primary data derived from questionnaires. There were 94 respondents participated in this research. Then, data was processed and analyzed using multiple linear regression analysis. The results show that managerial practice of local government such as goal clarity, budget adequacy, budget flexibility, budget participation, procedure formalization, and support from higher management overall has a significant positive effect toward programme performance of local government. Then, goal clarity, budget adequacy, and support from higher management partially has a significant positive effect towards programme performance, and budget participation, budget flexibility, and procedure formalization partially has negative and not significant impact on programme performance of local government. |