Artikelilmiahs
Menampilkan 37.461-37.480 dari 48.977 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 37461 | 40259 | H1B018081 | ANALISIS DAYA DUKUNG TIANG PANCANG DIVERIFIKASI DENGAN HASIL UJI PILE DRIVING ANALYZER (PDA) (Studi khusus proyek pembangunan gedung IAIN Surakarta) | Dalam perencanaan pondasi diperlukan hasil analisis yang berasal dari penyelidikantanah berupa daya dukung pondasi. Hasil daya dukung tersebut kemudian harus divalidasi, salah satunya adalah dengan uji PDA. Tetapi pada prakteknya, terjadi penyimpangan nilai antara hasil perhitungan teoritis daya dukung pondasi dan hasil uji PDA. Untuk itu, diperlukan sebuah metode teoritis yang mendekati akurat untuk perhitungan daya dukung pondasi yang mampu memikul beban diatasnya dengan baik. Untuk mendapatkan nilaidaya dukung tersebut, data N-SPT diinput pada beberapa metode seperti metode Meyerhof (1976), metode Briaud & Tucker (1985), metode Aoki & de Alencar (1975), dan metode Luciano Decourt (1995). | In foundation planning it is required the results of analysis derived from soil investigationof foundation bearing capacity. The results of the bearing capacity should then be validated, which is by PDA testing. But in practice, there is a deviation value between theoretical calculations of bearing capacity and PDA results. Because of that, we need a theoretical method that is close to accurate for the calculation of the bearing capacity which is able to carry the load above it well. To obtain the bearing capacity value, the N- SPT data were inputted in several methods such as Meyerhof method (1976), Briaud & Tucker method (1985), Aoki & de Alencar method (1975), and Luciano decourt method (1995). | |
| 37462 | 44216 | H1C020015 | GEOLOGI DAN ANALISIS KESTABILAN LERENG DESAIN YEARLY 2024 PIT X, BANKO BARAT PT. BUKIT ASAM TBK, TANJUNG ENIM, SUMATERA SELATAN | Daerah penelitian ini berada pada Kecamatan Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia, yang merupakan salah satu Unit Pertambangan PT. Bukit Asam Tbk. Stratigrafi daerah penelitian termasuk kedalam Formasi Muaraenim yang terdiri dari litologi batulempung (claystone), batupasir (sandstone), batulanau tuffan (tuffaceous siltstone) dengan sisipan batubara. Struktur yang berkembang berupa lipatan dengan orientasi SE-NW. Lapisan batubara yang ditemukan pada daerah penelitian terdiri dari 5 seam yaitu seam A1, seam A2, seam B1, seam B2, seam C, seam D dan seam E. Lingkungan pengendapan nya berupa lingkungan transisi yaitu upper delta plain, dan ditemukan juga satuan batuan tuff dengan yang diendapkan secara tidak selaras yang diendapkan pada lingkungan darat dengan fasies gunung api medial. Desain lereng lowwall dengan geometri lereng tinggi 99,6m, lebar 310,1m, sudut lereng keseluruhan 17,84˚, sudut lereng tunggal 45˚, lebar ramp antara 30-40m dan lebar bench 8m didapatkan nilai Faktor Keamanan secara deterministik sebesar 1,25 dan Faktor Keamanan secara probabilistik sebesar 1,34 dengan Probabilitas Kelongsoran sebesar 4,3%. Lereng highwall dengan geometri lereng tinggi 90,4m, lebar 241,3m, sudut lereng keseluruhan 20,42˚, sudut lereng tunggal 45˚, lebar ramp 30-34m, lebar bench 8m, didapatkan nilai FK secara deterministik sebesar 1,32 dan secara probabilistik sebesar 1,27 dengan nilai PK sebesar 10,5%. Redesain geometri lereng lowwall adalah dengan tinggi 100,48m, lebar 295,56m, sudut lereng keseluruhan 18,73˚, sudut lereng tunggal 45˚, lebar ramp 34-45m, lebat bench 8m, didapatkan nilai Faktor Keamanan sebesar 1,26 dan nilai Probabilitas Kelongsoran sebesar 10,2%. Redesain geometri lereng highwall adalah dengan tinggi 90,47m, lebar 222,56m, sudut lereng keseluruhan 21,98˚, sudut lereng tunggal 45˚, lebar ramp 30m, lebar bench 8m, didapatkan nilai FK sebesar 1,21 dan nilai PK sebesar 11,7%. Berdasarkan hasil tersebut lereng desain dan redesain baik pada sisi highwall dan sisi lowwall sudah aman atau stabil. | This research area is in Tanjung Enim District, Muara Enim Regency, South Sumatra Province, Indonesia, which is one of the Mining Units of PT. Bukit Asam Tbk. The stratigraphy of the research area belongs to the Muaraenim Formation which consists of claystone, sandstone, tuffaceous siltstone lithology with coal inserts. The structure that develops is a fold with a SE-NW orientation. The coal layers found in the research area consist of 5 seams, namely seam A1, seam A2, seam B1, seam B2, seam C, seam D and seam E. The depositional environment is a transitional environment, namely the upper delta plain, and tuff rock units are also found. with those deposited unconformably which were deposited in terrestrial environments with medial volcanic facies. The lowwall slope design with a high slope geometry of 99.6m, a width of 310.1m, an overall slope angle of 17.84˚, a single slope angle of 45˚, a ramp width of between 30-40m and a bench width of 8m obtained a deterministic Safety Factor value of 1.25 and the probabilistic Safety Factor is 1.34 with a Landslide Probability of 4.3%. Highwall slope with a high slope geometry of 90.4m, width of 241.3m, overall slope angle of 20.42˚, single slope angle of 45˚, ramp width of 30-34m, bench width of 8m, obtained a deterministic FK value of 1.32 and automatically probabilistic is 1.27 with a PK value of 10.5%. The lowwall slope geometry redesign is 100.48m high, 295.56m wide, overall slope angle 18.73˚, single slope angle 45˚, ramp width 34-45m, bench depth 8m, obtained a Safety Factor value of 1.26 and a value of The probability of landslides is 10.2%. The redesign of the highwall slope geometry is with a height of 90.47m, a width of 222.56m, an overall slope angle of 21.98˚, a single slope angle of 45˚, a ramp width of 30m, a bench width of 8m, obtained an FK value of 1.21 and a PK value of 11 .7%. Based on these results, the design and redesign slopes on both the highwall and lowwall sides are safe or stable. | |
| 37463 | 40308 | L1A019032 | Implementasi Pelabuhan Perikanan Berbasis Eco-Fishing Port di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap Guna Mendukung Sustainable Development Goals | Pelabuhan Perikanan merupakan tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang digunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh, dan atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan. EcoFishing Port (EFP) merupakan kerangka pengelolaan pelabuhan untuk mencapai keseimbangan antara lingkungan dan manfaat ekonomi sehingga ada keseimbangan antara aspek komersial dan lingkungan dalam menunjang pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. PPS Cilacap merupakan pelabuhan yang sedang dalam tahap persiapan penerapan konsep tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai persiapan penerapan EFP di PPS Cilacap meliputi sistem penanganan limbah dan kondisi fasilitas pendukung lainnya, fasilitas sarana dan prasarana, dan pengelolaan lingkungan. Selain itu persepsi masyarakat juga dibutuhkan di sini untuk mendukung jalannya konsep eco-fishing port secara matang. Penelitian ini menggunakan metode kuesioner, wawancara, serta observasi kepada pengelola pelabuhan terkait sejauh mana persiapan penerapan eco-fishing port di PPS Cilacap dan kepada nelayan terkait persepsi mereka terhadap sistem pelabuhan ini. Hasil dari penelitian ini adalah PPS Cilacap masih dalam persiapan untuk menerapkan konsep EFP. Beberapa sudah memenuhi syarat namun juga masih ada yang belum dan perlu dikaji lebih lanjut dan diperbaiki serta perlu adanya dukungan dari stakeholder terkait. | Fishing Port is a place of government activities and activities of the fisheries business system which is used as a place for fishing vessels to dock, anchor, and or load and unload fish equipped with shipping safety facilities and fisheries supporting activities. Eco-Fishing Port (EFP) is a port management framework to achieve a balance between environmental and economic benefits so that there is a balance between commercial and environmental aspects in supporting sustainable fisheries management. PPS Cilacap is a port that is in the preparation stage of implementing the concept. This study aims to assess the preparation of EFP implementation at PPS Cilacap, including the waste handling system and other supporting facilities conditions, facilities and infrastructure, and environmental management. In addition, public perception is also needed here to support the running of the eco-fishing port concept in a mature manner. This research uses questionnaires, interviews, and observations to port managers regarding the extent of preparation for the implementation of an ecofishing port at PPS Cilacap and to fishermen regarding their perceptions of this port system. This research results show that PPS Cilacap is still in preparation to implement the EFP concept. Some have met the requirements but also some have not and need to be further studied and improved and need support from relevant stakeholders. | |
| 37464 | 40324 | D1A019137 | PENGARUH PENGGUNAAN AMPAS TEMPE SEBAGAI PENGGANTI KONSENTRAT DAN SUPLEMENTASI COMPLETE RUMEN MODIFIER TERHADAP KONSUMSI DAN KECERNAAN SERAT KASAR PAKAN DOMBA | Penelitian bertujuan mengkaji pengaruh penggunaan ampas tempe sebagai pengganti konsentrat dan suplementasi Complete Rumen Modifier (CRM) terhadap konsumsi dan kecernaan serat kasar pakan domba. Dilaksanakan di Jl. Suprapto No. 22, Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Analisis konsumsi dan kecernaan serat kasar (SK) dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian dilaksanakan secara eksperimental menggunakan metode in vivo dengan delapan belas ekor domba jantan lokal umur 6 – 8 bulan, dibagi menjadi 6 kelompok berdasarkan bobot badan (19,25 ± 2,29). Masingmasing kelompok tersebut diacak untuk mendapatkan satu dari tiga perlakuan sehingga penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Perlakuan yang diuji yaitu P1: Jerami padi amoniasi ad libitum Konsentrat 2,5% dari bobot badan (berdasarkan BK) P2: Jerami padi amoniasi ad libitum + Ampas tempe 2,5% dari bobot badan (berdasarkan BK) P3: Jerami padi amoniasi ad libitum + Ampas tempe 2,5 % dari bobot badan (berdasarkan BK) + 1% CRM dari BK konsentrat. Peubah yang diamati yaitu konsumsi dan kecernaan serat kasar pakan domba. Data dianalisis menggunakan analisis variansi dilanjutkan dengan uji orthogonal contrass. Berdasarkan uji tersebut dapat disimpulkan bahwa Ampas tempe mampu menggantikan konsentrat bahkan dapat meningkatkan konsumsi dan kecernaan serat kasar berturut-turut 20,53% dan 22,90% dan suplementasi Complete Rumen Modifier (CRM) menurunkan konsumsi serat kasar sebesar 7,38% namun meningkatkan kecernaan serat kasar 7,72%. | The aim of this study was to examine the effect of using tempe dregs as a substitute for concentrate and supplementation with complete rumen modifier (CRM) on the consumption and digestibility of crude fiber in sheep feed. Held on Jl. Suprapto No. 22, Kutasari Village, Baturraden District, Banyumas Regency. Analysis of consumption and digestibility of crude fiber (SK) was carried out at the Animal Feed and Nutrition Science Laboratory, Faculty of Animal Husbandry, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. The study was carried out experimentally using the in vivo method with eighteen local rams aged 6 – 8 months, divided into 6 groups based on body weight (19.25 ± 2.29). Each group was randomized to get one of three treatments, so the study used a randomized block design (RBD). The treatments tested were P1: Concentrate 2.5% of body weight (based on BK) P2: Ammoniated rice straw ad libitum + Tempe dregs 2.5% of body weight (based on BK) P3: Ammoniated rice straw ad libitum + Tempe dregs 2 .5 % of body weight (based on BK) + 1% CRM from BK concentrate. The variables observed were consumption and digestibility of crude fiber in sheep feed. Data were analyzed using analysis of variance followed by orthogonal contrast test. Based on these tests, it can be concluded that tempe dregs are able to replace concentrate and can even increase consumption and digestibility of crude fiber by 20.53% and 22.90%, respectively, and supplementation with Complete Rumen Modifier (CRM) reduces crude fiber consumption by 7.38% but increases digestibility of crude fiber 7.72%. | |
| 37465 | 40260 | E1A019268 | PENJATUHAN SANKSI TERHADAP TINDAK PIDANA NARKOTIKA DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK (Tinjauan Yuridis Putusan Nomor : 2/Pid.Sus-Anak/2022/PN Curup) | Tindak pidana narkotika adalah suatu perbuatan melanggar hukum yang semakin marak terjadi dan telah menjangkit semua kalangan mulai dari anak hingga dewasa. Narkotika diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Penelitian ini bertujuan mengetahui penjatuhan sanksi pidana narkotika dalam Sistem Peradilan Pidana Anak serta mengetahui pertimbangan hukum Hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana pada Putusan Pengadilan Negeri Curup dengan Nomor : 2/Pid.Sus-Anak/2022/PN Curup. Sanksi pidana yang dijatuhkan terhadap Anak yang Berkonflik dengan Hukum berbeda dengan sanksi yang dijatuhkan terhadap orang dewasa, pemidanaan anak diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Pada penelitian ini terdapat permasalahan mengenai tidak dicantumkannya pasal dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak mengenai syarat penjatuhan pidana bagi Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang syarat pengenaan sanksinya lebih rendah dari sanksi pidana orang dewasa. Jenis penelitian yang digunakan yuridis normatif, dengan spesifikasi penelitian preskriptif analitis. Sumber data yang digunakan data sekunder dengan bahan hukum primer dan sekunder. Data yang diperoleh disajikan secara sistematis. Analisis dilakukan dengan deksriptif kualitatif. Hakim dalam menjatuhkan putusan mempertimbangkan aspek yuridis, sosiologis, dan filosofis. Aspek yuridis seluruh unsur dakwaan telah terbukti sehingga pada diri Anak yang Berkonflik dengan Hukum tidak ditemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana, baik di dalam alasan pembenar dan atau alasan pemaaf. Aspek sosiologis yang dipertimbangkan oleh Hakim yaitu Anak yang Berkonflik dengan Hukum belum pernah dipidana, sopan di persidangan, dan masih muda, serta aspek filosofis bahwa putusan sudah memberikan keadilan. Hasil dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pasal dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang digunakan dalam penjatuhan sanksi terhadap tindak pidana narkotika dalam sistem peradilan pidana anak. | Narcotics crime is an unlawful act that is increasingly widespread and has infected all groups ranging from children to adults. Narcotics is regulated in Law of the Republic of Indonesia Number 35 of 2009 concerning Narcotics. This study aims to determine the imposition of criminal sanctions for narcotics in the Juvenile Criminal Justice System and to determine the legal considerations of Judges in imposing criminal sanctions in the Curup District Court Decision Number: 2/Pid.Sus-Anak/2022/PN Curup. Criminal sanctions imposed on Children in Conflict with the Law are different from sanctions imposed on adults, child punishment is regulated in Law of the Republic of Indonesia Number 11 of 2012 concerning the Child Criminal Justice System. In this research, there is a problem regarding the absence of articles in Law Number 11 of 2012 concerning the Juvenile Criminal Justice System regarding the conditions for imposing punishment for Children in Conflict with the Law whose sanctions are lower than adult criminal sanctions. The type of research used is normative juridical, with prescriptive analytical research specifications. The data source used is secondary data with primary and secondary legal materials. The data obtained is presented systematically. Analysis is done with qualitative descriptive. The judge in handing down the verdict considered juridical, sociological and philosophical aspects. The juridical aspect of all elements of the indictment has been proven so that there are no things that can eliminate criminal liability, either in justification or excuse. The sociological aspects considered by the Judge are that the Child in Conflict with the Law has never been convicted, is polite in court, and is young, and the philosophical aspect that the decision has provided justice. The result of this research is to find out the article in Law Number 11 of 2012 concerning the Juvenile Criminal Justice System which is used in imposing sanctions on narcotics offenses in the juvenile criminal justice system. | |
| 37466 | 40261 | F1B019024 | Penerapan Technology Readiness Index (TRI) Untuk Mengukur Tingkat Kesiapan Pemilu Secara E-Voting Di Indonesia (Studi Pada Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman) | Penyelenggaraan pemilu secara demokratis perlu beradaptasi dengan teknologi untuk mengatasi berbagai permasalahan pemilu yaitu banyaknya korban jiwa dan tingginya beban kerja KPPS, kesulitan pemilih pada saat pemungutan suara, peningkatan surat suara tidak sah, permasalahan data pemilih, serta lambatnya penghitungan suara. Adanya e-voting diharapkan menjadi solusi permasalahan pemilu dengan transformasi teknologi yang disamping memiliki keuntungan juga masih banyak tantangan dari segi sumber daya manusia, infrastruktur, biaya, dan regulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah pengaruh optimisme, inovatif, ketidaknyamanan, dan ketidakamanan terhadap kesiapan e-voting serta mengukur tingkat kesiapan mahasiswa dalam mengadopsi e-voting. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik pemilihan informan menggunakan Accidental Sampling dan teknik analisis data yaitu SEM (Structural Equation Modelling), MGA (Multi Group Analysis),serta TRI (Technology Readiness Index). Hasil penelitian ini menujukkan bahwa : variabel optimisme (X1) dan inovatif (X2) dalam mengadopsi teknologi informasi berpengaruh positif siginifikan terhadap kesiapan pemilu e-voting (Y). Kemudian, variabel ketidaknyamanan (X3) dan ketidakamanan (X4) dalam mengadopsi teknologi informasi berpengaruh negatif siginifikan terhadap kesiapan pemilu e-voting (Y). Selanjutnya, dari analisis MGA diperoleh hasil penelitian bahwa (1) Laki laki memiliki optimisme lebih tinggi daripada perempuan dalam kesiapan pemilu e-voting, (2) Tidak terdapat perbedaan pengaruh pada optimisme, inovatif, ketidaknyamanan, dan ketidakamanan terhadap kesiapan pemilu e-voting dari daerah asal Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Sumatera, (3) Mahasiswa angkatan 2022 memiliki ketidaknyaman lebih tinggi daripada angkatan 2019 dalam kesiapan pemilu e-voting (4) Mahasiswa saintek lebih inovatif daripada mahasiswa soshum terhadap kesiapan e-voting. (5) Mahasiswa yang tidak ikut UKM lebih optimis terhadap kesiapan e-voting. Terakhir, dari hasil analisis penghitungan nilai TRI dapat ditarik kesimpulan bahwa menurut persepsi individu mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman dalam menerima atau menggunakan teknologi baru yaitu pemilu secara e-voting memiliki tingkat kesiapan rendah atau Low Technology Readiness dengan nilai TRI 2.37 (kurang dari 2,89). | The implementation of democratic elections needs to adapt to technology to overcome various election problems, namely the large number of fatalities and the high workload of KPPS, difficulties for voters at the time of voting, increase in invalid ballots, problems with voter data, and slow vote counting. There ise-voting is expected to be a solution to election problems with technological transformation which besides having advantages there are still many challenges in terms of human resources, infrastructure, costs, and regulations. This study aims to determine whether there is an effect of optimism, innovation, discomfort, and insecurity on readinesse-voting as well as measuring the level of readiness of students in adoptinge-voting. This study uses quantitative research methods with informant selection techniques usingAccidental Sampling and data analysis techniques namely SEM (Structural Equation Modelling), MGA(Multi Group Analysis),as well as TRI (Technology Readiness Index). The results of this study indicate that: the variables of optimism (X1) and innovation (X2) in adopting information technology have a significant positive effect on election readinesse-voting (Y). Then, the variables of discomfort (X3) and insecurity (X4) in adopting information technology have a significant negative effect on election readiness.e-voting (Y). Furthermore, from the MGA analysis, it was found that (1) Men have higher optimism than women in election readinesse-voting, (2) There is no difference in the effect of optimism, innovation, discomfort, and insecurity on election readinesse-voting from areas of origin in Java, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, and Sumatra, (3) Students of class 2022 have higher discomfort than class 2019 in election readinesse-voting (4) Science and technology students are more innovative than soshum students in terms of readinesse-voting. (5) Students who do not take part in UKM are more optimistic about readinesse-voting. Finally, from the results of the analysis of calculating the TRI value, it can be concluded that according to the individual perceptions of General Soedirman University students in accepting or using new technology, namely general electionse-voting have a low level of readiness orLow Technology Readiness with a TRI value of 2.37 (less than 2.89). | |
| 37467 | 40262 | H1B019067 | PENGARUH PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN TERHADAP BANJIR DAN GENANGAN DI DAS GANGSA | Banjir didefinisikan sebagai naiknya permukaan air ke daratan yang mengakibatkan genangan. Banjir hampir terjadi diseluruh daerah yang ada di indonesia termasuk di Kabupaten Tegal. Banjir di Kabupaten Tegal terjadi akibat adanya pasang surut air laut, intensitas hujan yang tinggi dan tata kelola ruang/lahan yang kurang baik. Tata kelola lahan yang kurang baik menyebabkan tidak adanya ruang untuk proses infiltrasi. Adanya perubahan tata guna lahan mengakibatkan kurangnya daerah resapan air, yang berakibat pada meningkatnya limpasan (run off), sehingga akan menambah jumlah debit air yang mengakibatkan banjir. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk Mengetahui pengaruh perubahan tata guna lahan terhadap limpasan di Kabupaten Tegal, mengetahui pengaruh perubahan tata guna lahan terhadap debit banjir di Kabupaten Tegal, mengetahui langkah pengendalian banjir yang dapat dilakukan secara efektif di Kabupaten Tegal. Hal ini perlu kajian khusus mengenai pengaruh perubahan tata guna lahan terhadap debit banjir DAS Gangsa yang nantinya dapat digunakan sebagai alternatif perencanaan sistem pengendalian banjir di desa sekitar yang terkena banjir rob. Analisis hidrologi ini menggunakan kala ulang 25 tahun. Hasil dari penelitian ini adalah nilai debit limpasan didapatkan sebesar 3103,395 mm3/s pada tahun 2011 dan 3222,421 m3/s pada tahun 2021, debit banjir diperoleh sebesar 541,61 m3/s pada tahun 2011 dan 559,48 m3/s pada tahun 2021. Upaya alternatif penanganan banjir dilakukan dengan membagi dua wilayah antara daerah hulu dan hilir. Terdapat perbedaan kedalaman genangan antara tahun 2011 dan 2021 dengan mengambil 10 titik sampel lokasi banjir. | Flooding is defined as a rise in the water level on land that causes inundation. Floods occur in almost all regions of Indonesia, including in Tegal Regency. Floods in Tegal Regency occur due to tides, high rain intensity and poor spatial and land management. Poor land management leaves no space for infiltration processes. Changes in land use have resulted in a lack of water catchment areas, which has increased runoff, thereby increasing the amount of air discharge, which has resulted in flooding. The purpose of this study was to determine the effect of changes in land use on runoff in Tegal Regency, the effect of changes in land use on flood discharge in Tegal Regency, and identify flood control measures that can be carried out effectively in Tegal Regency. This requires a special study regarding the effect of changes in land use on the flood discharge of the Gangsa Watershed, which can later be used as an alternative to planning a flood control system in the surrounding villages affected by tidal floods. This hydrological analysis uses a 25 year return period. The results of this study show that the runoff discharge value obtained is 3103.395 mm3/s in 2011 and 3222.421 m3/s in 2021, the flood discharge obtained is 541.61 m3/s in 2011 and 559.48 m3/s in 2021. Alternative efforts to deal with flooding were carried out by dividing two areas between upstream and downstream areas. There is a difference in the depth of inundation between 2011 and 2021 when taking 10 sample points from the flood locations. | |
| 37468 | 40051 | I1D018021 | Korelasi Keragaman Pangan Dan Asupan Gizi Makro Dengan Status Gizi Wanita Usia Subur Di Pondok Pesantren Al-Quran Al-Amin Purwokerto | Latar Belakang: Indonesia mengalami triple burden of disease dengan tingginya prevalensi gizi kurang dan defisiensi zat gizi mikro, serta meningkatnya prevalensi gizi lebih terutama pada wanita usia subur, yang dapat dipengaruhi oleh rendahnya keragaman pangan yang dikonsumsi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi keragaman pangan dan asupan gizi makro dengan status gizi pada wanita usia subur. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan 63 responden WUS yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian terdiri dari kuesioner DDS dan pemantauan berat badan normal. Uji normalitas dilakukan dengan Kolmogorov-Smirnov. Uji bivariat menggunakan Pearson Product Moment untuk konsumsi energi, lemak, dan protein serta Rank Spearman untuk keragaman pangan dan konsumsi karbohidrat. Hasil Penelitian: Karakteristik responden sebagian besar berusia 19 tahun (31,7%) serta memiliki uang saku Rp1.300.000 (27%). Median keragaman pangan pada kategori sedang dengan skor 5 dari 9 kelompok pangan. Status gizi normal (52,4%). Rata-rata konsumsi energi, karbohidrat, lemak, dan protein per hari adalah 1234,22 kkal, 174,48 kkal, 47,42 kkal, dan 38,9 kkal. Tidak terdapat korelasi bermakna antara keragaman pangan (p =0,230) dan asupan gizi makro, yaitu konsumsi energi (p=0,653), karbohidrat (p=0,795), lemak (p=0,306) dan protein (p=0,466) dengan status gizi (p > 0,05) pada WUS Pondok Pesantren Al-Quran Al-Amin Purwokerto. Kesimpulan: Tidak terdapat korelasi antara keragaman pangan dan asupan gizi makro dengan status gizi wanita usia subur. | Background: Indonesia is facing a triple burden of disease with a high prevalence of malnutrition and micronutrient deficiencies, as well as an increasing prevalence of overweight and obesity especially among women of reproductive age, which can be influenced by low dietary diversity. The aim of this study was to determine the correlation between dietary diversity and macronutrient intake with nutritional status among women of reproductive age. Methods: This study used a cross-sectional design with 63 female respondents selected using purposive sampling technique. The research instruments consisted of the DDS questionnaire and normal weight monitoring. Normality tests were conducted using the Kolmogorov-Smirnov test. Bivariate tests used Pearson Product Moment for energy, fat, and protein intake, and Spearman Rank for food diversity and carbohydrate intake. Results: The majority of respondents have an age of 19 years (31.7%) and a pocket money of Rp1,300,000 (27%). The median food diversity is categorized as moderate with a score of 5 out of 9 food groups. The nutritional status is normal (52.4%). The average energy intake, carbohydrates, fat, and protein are 1234.22 kcal, 174.48 kcal, 47.43 kcal, and 38.9 kcal. There is no correlation found between dietary diversity (p=0.230) and macro-nutrient intake, including energy intake (p=0.653), carbohydrates (p=0.795), fat (p=0.306), and protein (p=0.466), with nutritional status (p > 0.05) among WUS at Pondok Pesantren Al-Quran Al-Amin Purwokerto. Conclusion: There is no correlation between food diversity and macro-nutrient intake with the nutritional status of reproductive-aged women. | |
| 37469 | 40263 | D1A019040 | Mortalitas, Berat Panen, dan Feed Conversion Ratio pada Usaha Ayam Broiler PT. Cemerlang Unggas Lestari | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat mortalitas, berat badan, dan nilai Feeding Conversion Ratio (FCR) pada usaha peternakan ayam broiler di dua kandang mitra PT. Cemerlang Unggas Lestari (PT. CUL). Metode yang digunakan yaitu percobaan, dengan membandingkan tingkat mortalitas, berat panen, dan FCR ayam broiler yang dipelihara pada dua kandang berbeda yang dipanen umur 35 hari. Analisis data dengan uji t bebas antara lokasi pengamatan di dua kandang yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat mortalitas pada dua kandang berbeda memberikan pengaruh yang tidak nyata (p-value > 0,05). Berat panen pada dua kandang berbeda memberikan pengaruh yang nyata (p-value < 0,05). Nilai FCR pada dua kandang berbeda memberikan pengaruh yang tidak nyata (p-value > 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah ayam broiler yang dipelihara rutin dengan pemberian pakan, obat, vitamin, dan vaksinasi yang sesuai, serta perkandangan yang baik akan menghasilkan hasil panen ayam broiler yang lebih produktif. Beberapa faktor yang memungkinkan terjadinya berbedaan nilai berat panen pada dua kandang berbeda seperti manajemen pemeliharaan rutin, manajemen perkandangan, jumlah ayam dipanen saat panen penjarangan atau panen ayam kecil. Produksi panen ayam broiler di mitra PT. CUL termasuk dalam kategori baik dan cukup produktif, sehingga mampu memberikan suplai produksi ayam broiler yang berkelanjutan. | This study aims to determine the mortality rate, weight, and FCR value in broiler farming businesses in two partner cages of PT. Cemerlang Unggas Lestari (PT. CUL). The method used was an experiment comparing the mortality rate, harvest weight, and FCR of broiler chickens raised in two different cages harvested at 35 days old—data analysis with a free t-test between observation sites in two enclosures. The results showed that mortality rates in two different cages had an intangible effect (p-value > 0.05). The harvest weight in two cages had a noticeable effect (p-value < 0.05). FCR values in two cages had an intangible effect (p-value > 0.05). This study concludes that keeping broiler chickens regularly with appropriate feed, drugs, vitamins, vaccinations, and good housing would produce more productive yields. Several factors allow different harvest weight values in two different cages, such as routine maintenance management, housing management, the number of chickens harvested during thinning harvest, or small chicken harvest—production of broiler chicken harvest at PT. CUL is included in the excellent category and is quite productive in providing a sustainable supply of broiler chicken production. | |
| 37470 | 40264 | A1F018050 | APLIKASI PEMANFAATAN EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma zanthorrhiza) SEBAGAI INDIKATOR ALAMI UNTUK MENGIDENTIFIKASI BORAKS PADA BAKSO | Bakso adalah makanan yang terbuat dari campuran antara daging giling, tepung tapioka, bumbu, dan bahan tambahan lainnya yang dibentuk bola-bola kecil. Karakteristik bakso yang kenyal dan memiliki umur simpan rendah menjadikan bakso rawan untuk ditambahkan boraks sebagai bahan pengenyal dan pengawet. Padahal, penggunaan boraks dalam pangan sangat berbahaya karena dapat membahayakan kesehatan. Metode yang umum digunakan untuk mendeteksi boraks pada makanan diantaranya melalui reaksi pengendapan atau uji nyala api. Namun, metode tersebut kurang praktis sehingga dikembangkan metode yang lebih praktis dan sederhana, yaitu memanfaatkan temulawak sebagai indikator alami boraks. Kandungan kurkumin dari temulawak berpotensi sebagai indikator alami yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi boraks baik untuk pengujian kualitatif maupun kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui apakah ekstrak temulawak dapat digunakan dalam analisis kualitatif sebagai indikator keberadaan boraks, 2) mengetahui apakah ekstrak temulawak dapat digunakan sebagai pereaksi alternatif dalam analisis kuantitatif untuk menghitung kadar boraks menggunakan metode spektrofotometri, dan 3) mengetahui aplikasi penggunaan ekstrak temulawak untuk menguji kandungan boraks pada bakso. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan melalui 3 tahap, tahap pertama yaitu analisis kualitatif boraks dengan media uji kertas kurkumin yang terbuat dari ekstrak temulawak, tahap kedua yaitu uji validasi metode meliputi uji linieritas, LOD, LOQ, akurasi, dan presisi menggunakan spektrofotometer UV-Vis untuk menguji performa dari pereaksi yang digunakan, yaitu larutan kurkumin 0,125% sebagai pereaksi pembanding dan ekstrak temulawak 1%, 2%, 3% sebagai pereaksi uji, diakhiri dengan tahap ketiga yaitu analisis kuantitatif pada sampel bakso menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Didapatkan hasil bahwa kertas kurkumin sebagai media uji dapat digunakan dalam analisis kualitatif boraks ditandai dengan perubahan warna kertas kurkumin menjadi merah kecoklatan. Ekstrak temulawak 3% dapat digunakan sebagai pereaksi alternatif pada analisis kuantitatif boraks karena telah memenuhi syarat validasi metode dengan nilai koefisien korelasi 0,995; nilai LOD 1,82 ppm; nilai LOQ 6,08 ppm; nilai akurasi 89,96%; dan nilai presisi 0,42%. Rata-rata hasil penetapan kadar boraks pada bakso menggunakan pereaksi larutan kurkumin 0,125% sebesar 14,49 ppm dan pereaksi ekstrak temulawak 3% sebesar 14,18 ppm melalui uji t tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata pada kedua pereaksi sehingga ekstrak temulawak 3% dapat digunakan sebagai pereaksi alternatif pada analisis kuantitatif boraks pada bakso. | Meatballs are food made from ground beef, tapioca flour, spices, and other additives formed into small balls. The characteristics of the meatballs which are chewy and have a low shelf life, make meatballs prone to adding borax as a thickening agent and preservative. Using borax in food is very dangerous because it can harm health. Standard methods to detect borax in food include precipitation reactions or flame tests. However, this method was less practical. So a simpler and more practical method was developed, using temulawak as a biological indicator of borax. The curcumin content of temulawak has the potential as a biological indicator that can be used to identify borax for both qualitative and quantitative testing. This study aims 1) to find out whether temulawak extract can be used in qualitative analysis as an indicator of borax, 2) to find out whether temulawak extract can be used as an alternative reagent in quantitative analysis to calculate borax content using the spectrophotometric method, and 3) to find out the application of temulawak extract to test borax content on meatballs. This research is experimental research conducted through 3 stages, the first stage is the qualitative analysis stage of borax with curcumin paper made from temulawak extract, the second stage is the validation method which includes linearity tests, LOD, LOQ, accuracy and precision with spectrophotometer UV-Vis to test the performance of the reagent used, namely 0.125% curcumin solution as a comparison reagent and 1%, 2%, 3% temulawak extract as a test reagent, and the last stage is quantitative analysis with spectrophotometer UV-Vis on meatball samples. Curcumin paper was found can be used in the qualitative analysis of borax, indicated by the color change of curcumin paper to brownish red. The 3% temulawak extract can be used as an alternative reagent in the quantitative analysis of borax because it meets the validation method requirements with a correlation coefficient of 0.995; LOD value of 1.82 ppm; LOQ value of 6.08 ppm; accuracy value of 89.96%; and a precision value of 0.42%. The average results of determining borax content in meatballs using 0.125% curcumin solution of 14.49 ppm and 3% temulawak extract reagent of 14.18 ppm through the T-test showed no significant difference between the averages of the two reagents, so that 3% temulawak extract can be used as an alternative reagent in the quantitative analysis of borax in meatballs. | |
| 37471 | 40220 | E1A019055 | TINJAUAN YURIDIS TENTANG PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAM PERJANJIAN PEMBIAYAAN MULTIGUNA DENGAN JAMINAN FIDUSIA (Studi Perkara Nomor 9/Pdt.G.S/2022/PN. Mnd.) | TINJAUAN YURIDIS TENTANG PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAM PERJANJIAN PEMBIAYAAN MULTIGUNA DENGAN JAMINAN FIDUSIA (Studi Perkara Nomor 9/Pdt.G.S/2022/PN. Mnd.) Oleh : ADYA MERIANA ANANDANA E1A019055 ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan Tergugat yang melakukan penarikan terhadap objek yang dijadikan jaminan fidusia karena Penggugat dinyatakan wanprestasi dalam perjanjian pembiayaan multiguna dengan jaminan fidusia sehingga Penggugat mengajukan gugatan atas dasar perbuatan melawan hukum. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis tindakan penarikan objek jaminan fidusia dapat dikategorikan perbuatan melawan hukum dalam Perkara Nomor 9/Pdt.G.S/2022/PN. Mnd. Dan menganalisis akibat hukum dari adanya putusan perbuatan melawan hukum terhadap perjanjian pembiayaan multiguna dalam Perkara Nomor 9/Pdt.G.S/2022/PN. Mnd. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Data bersumber dari data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan, dan metode analisis menggunakan metode yuridis kualitatif. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa pertama, telah terjadi perbuatan melawan hukum dalam Perkara Nomor 9/Pdt.G.S/2022/PN. Mnd. yang dilakukan oleh Tergugat dalam kategori melanggar kewajibannya sendiri karena tidak melakukan somasi kepada Penggugat. Kedua, bahwa akibat hukum adanya putusan perbuatan melawan hukum terhadap perjanjian pembiayaan multiguna objek yang dijadikan jaminan fidusia haruslah dikembalikan kepada Penggugat karena pelaksanaan eksekusinya yang tidak sah dengan cara Tergugat menerima angsuran dari Penggugat untuk pembayaran tunggakannya selama 2 (dua) bulan selanjutnya Penggugat melanjutkan angsuran kredit seperti yang sudah dituangkan dalam perjanjian. Kata Kunci: Perjanjian Pembiayaan Multiguna, Jaminan Fidusia, Perbuatan Melawan Hukum | JURIDICAL REVIEW OF TORTS IN MULTIPURPOSE FINANCING AGREEMENTS WITH FIDUCIARY GUARANTEES (Case Study Number 9/Pdt.G.S/2022/PN. Mnd.) Written By: ADYA MERIANA ANANDANA E1A019055 ABSTRACT This research was motivated by the problem of the Defendant withdrawing the object used as fiduciary guarantee because the Plaintiff had defaulted in a multipurpose financing agreement with fiduciary guarantees so that the Plaintiff filed a lawsuit on the basis of an unlawful act. The purpose of this study is to determine the act of withdrawing the object of fiduciary guarantee can be categorized as unlawful acts in Case Number 9/Pdt.G.S/2022/PN. Mnd. Dan knows the legal consequences of the unlawful action decision against the multipurpose financing agreement in Case Number 9/Pdt.G.S/2022/PN. Mnd.The method used in this study is normative juridical with analytical descriptive research specifications. Data is sourced from secondary data consisting of primary, secondary, and tertiary legal materials. The data collection method is carried out by literature study, and the analysis method uses qualitative juridical methods. Based on the results of the analysis, it can be concluded that first, there has been an illegal act in Case Number 9/Pdt.G.S/2022/PN. Mnd. What is done by the defendant in the category of violating its own obligations because it does not make a subpoena to the plaintiff and secondly the legal consequences of the unlawful action judgment against the multipurpose financing agreement, the object used as fiduciary guarantee must be returned to the Plaintiff by means of the Defendant receiving installments from the Plaintiff for the payment of arrears for the next 2 (two) months, the Plaintiff continues the credit installments as stated in covenant. Keywords: Multipurpose Financing Agreement, Fiduciary Guarantee, Unlawful Conduct | |
| 37472 | 40265 | C1B018024 | PENGARUH PERAN LOKASI USAHA, KUALITAS LAYANAN, DAN PENGALAMAN KONSUMEN TERHADAP NIAT MEMBELI ULANG DENGAN KEPUASAN PELANGGAN SEBAGAI VARIABEL MEDIASI (Studi pada Konsumen Takoyaki Secret di Purwokerto) | Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh lokasi usaha, kualitas layanan, dan pengalaman konsumen terhadap niat membeli ulang dengan kepuasan pelanggan sebagai variabel mediasi pada konsumen Takoyaki Secret Purwokerto. Jenis data yang digunakan adalah data primer dengan menggunakan kuesioner. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 170 sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu. Hasil penelitian menggunakan AMOS versi 24 menunjukkan bahwa: (1) Lokasi usaha berpengaruh positif terhadap niat membeli ulang, (2) Kualitas layanan berpengaruh positif terhadap niat membeli ulang, (3) Pengalaman Konsumen berpengaruh positif terhadap niat membeli ulang, (4) Lokasi usaha tidak berpengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan, (5) Kualitas layanan berpengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan, (6) Pengalaman konsumen berpengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan, (7) Kepuasan pelanggan berpengaruh positif terhadap niat membeli ulang, (8) Kepuasan pelanggan tidak memediasi pengaruh positif lokasi usaha terhadap niat membeli ulang, (9) Kepuasan pelanggan memediasi pengaruh positif kualitas layanan terhadap niat membeli ulang, (10) Kepuasan pelanggan memediasi pengaruh positif pengalaman konsumen terhadap niat membeli ulang. | This study aims to examine and analyze the effect of business location, service quality, and consumer experience on repurchase intentions with customer satisfaction as a mediating variable for Takoyaki Secret Purwokerto consumers. The type of data used is primary data using a questionnaire. The number of samples used in this study amounted to 170 research samples. The sampling technique uses the methodpurposive sampling based on certain criteria. The results of the study using AMOS version 24 show that: (1) Business location has a positive effect on repurchase intention, (2) Service quality has a positive effect on repurchase intention, (3) Consumer experience has a positive effect on repurchase intention, (4) Business location does not have a positive effect on customer satisfaction, (5) Service quality has a positive effect on customer satisfaction, (6) Consumer experience has a positive effect on customer satisfaction, (7) Customer satisfaction has a positive effect on repurchase intentions, (8) Customer satisfaction does not mediate a positive effect business location on repurchase intention, (9) Customer satisfaction mediates the positive effect of service quality on repurchase intention, (10) Customer satisfaction mediates the positive influence of consumer experience on repurchase intention. | |
| 37473 | 40266 | F1F019026 | Strategi Implementasi Paris Agreement di Indonesia melalui Desentralisasi Program Kampung Iklim Tahun 2017-2022 | Paris Agreement adalah perjanjian internasional yang mengatur mitigasi, adaptasi, dan pembiayaan perubahan iklim. Ada 192 negara dan Uni Eropa yang telah menandatangani dan berkomitmen untuk menjalankan program-program terkait. Indonesia meratifikasi perjanjian tersebut dan meluncurkan Program Kampung Iklim (ProKlim) sebagai langkah konkret. ProKlim adalah program lingkungan di tingkat desa yang melibatkan mitigasi, adaptasi, dan pemberdayaan masyarakat. Sampai tahun 2017, lebih dari 1.300 lokasi telah mendaftar dalam program ini. ProKlim menjadi instrumen penting dalam pengendalian perubahan iklim dan melibatkan berbagai pihak, dari masyarakat lokal sampai kementerian. Indonesia memiliki kewajiban untuk melaporkan rencana dalam NDC dan menyediakan informasi yang transparan serta melaporkan kepada UNFCCC. Penelitian ini berfokus pada strategi implementasi Paris Agreement melalui Desentralisasi Program Kampung Iklim di Indonesia, dengan contoh pelaksanaan di Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Banyumas. ProKlim memberikan kontribusi penting dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca di tingkat desa setelah ratifikasi Paris Agreement. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dengan menggunakan sumber data primer berupa wawancara dengan penanggung jawab pelaksana Proklim di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan data sekunder berupa publikasi dan data dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, buku, jurnal, artikel, serta situs resmi. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori environmentalisme dan konsep desentralisasi. | The Paris Agreement is an international agreement that regulates climate change mitigation, adaptation, and financing. It has been signed by 192 countries and the European Union, who have committed to implementing related programs. Indonesia has ratified the agreement and launched the Climate Village Program (ProKlim) as a concrete measure. ProKlim is an environmental program at the village level that involves mitigation, adaptation, and community empowerment. By 2017, over 1,300 locations had registered for this program. ProKlim has become an important instrument in climate change control, engaging various stakeholders from local communities to ministries. Indonesia has an obligation to report its plans in the Nationally Determined Contributions (NDC) and provide transparent information to the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). This research focuses on the implementation strategies of the Paris Agreement through the decentralization of the Climate Village Program in Indonesia, with examples of implementation in the Central Java Province and Banyumas Regency. ProKlim contributes significantly to the reduction of greenhouse gas emissions at the village level following the ratification of the Paris Agreement. The research methodology employed in this study is qualitative, utilizing primary data sources such as interviews with responsible ProKlim implementers from the Department of Environment and Forestry, as well as secondary data sources including publications, data from the Indonesian Department of Environment and Forestry, books, journals, articles, and official websites. The analysis employed in this research utilizes environmentalism theory and the concept of decentralization. | |
| 37474 | 44218 | G1B020033 | PERBEDAAN DERAJAT KRISTALINITAS DAN DERAJAT KEASAMAN (pH) HYDROGEL SCAFFOLD HIDROKSIAPATIT CANGKANG TELUR PUYUH-PATI JAGUNG DENGAN BERAGAM KONSENTRASI DAN DURASI PERLAKUAN (Pemanfaatan Hidroksiapatit Cangkang Telur Puyuh-Pati Jagung Sebagai Bahan Alternatif Perawatan Regenerasi Pulpa) | Material yang digunakan dalam perawatan regenerasi pulpa dapat dikembangkan dari bahan alam seperti hidroksiapatit (HA) dari cangkang telur puyuh. Sifatnya yang biokompatibel, dapat merangsang proliferasi sel, dan memiliki karakteristik yang mirip dengan tulang manusia menjadikan HA dapat digunakan sebagai salah satu bahan alternatif perawatan pulpa. Kekurangan yang dimiliki HA adalah sifatnya yang getas atau brittle sehingga diperlukan bahan lain untuk memodifikasi sifat tersebut. Salah satu bahan yang dapat digunakan adalah polimer dari pati jagung dan dibuat dalam sediaan hydrogel scaffold. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui derajat kristalinitas dan pH hydrogel scaffold HA cangkang telur puyuh-pati jagung. Penelitian ini diawali dengan mensintesis HA cangkang telur puyuh melalui metode presipitasi dan dilakukan karakterisasi dengan instrumentasi SEM, XRD, dan FTIR. Serbuk HA kemudian dilakukan pembuatan hydrogel scaffold dengan pati jagung dan bahan gelasi, yaitu HPMC 0,2%. Hydrogel scaffold tersebut dibuat dengan 3 konsentrasi yang berbeda kemudian dilakukan uji derajat kristalinitas dan pH (sesaat setelah pencampuran, 20, 40, dan 60 menit setelah pencampuran). Hasil yang didapat adalah tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada derajat kristalinitas hydrogel scaffold HA cangkang telur puyuh-pati jagung pada ketiga konsentrasi. Nilai pH pada masing-masing konsentrasi hydrogel scaffold didapatkan nilai yang cenderung meningkat pada konsentrasi pertama (12,1—12,6), menurun pada konsentrasi kedua (12,2—12,1), dan stabil pada konsentrasi ketiga, yaitu 12,1. Simpulan pada penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan derajat kristalinitas dan terdapat perbedaan pH pada ketiga konsentrasi hydrogel scaffold HA cangkang telur puyuh-pati jagung. Saran dari penelitian ini adalah diperlukannya asam lemah sebagai bahan pengatur pH. | The utilization of natural materials such as hydroxyapatite (HA) derived from quail eggshells presents an alternative avenue for pulp regeneration treatment. HA's biocompatibility, ability to stimulate cell proliferation, and similarity to human bone characteristics render it suitable for such applications. However, HA's inherent brittleness necessitates modification of its properties. One potential modifier is a polymer derived from corn starch, formulated into a hydrogel scaffold. This study aimed to investigate the crystallinity degree and pH of hydrogel scaffold HA derived from quail eggshell-corn starch. The research commenced with the synthesis of HA from quail eggshells using the precipitation method, followed by characterization through SEM, XRD, and FTIR analysis. The HA powder was then used to fabricate hydrogel scaffold alongside corn starch and a gelling agent, HPMC 0,2%, at three different concentrations. The results revealed no significant difference in the crystallinity degree among the hydrogel scaffold HA concentrations. However, pH values exhibited variation; the first concentration showed an increasing trend (12,1—12,6), followed by a decrease in the second concentration (12,2—12,1), stabilizing at 12,1 in the third concentration. In conclusion, while there were no disparities in crystallinity degree, pH levels varied across the concentrations of hydrogel scaffold HA from quail eggshell-corn starch. The research suggests the potential use of weak acids as pH regulators in further studies to enhance the scaffold's properties for pulp regeneration treatment. | |
| 37475 | 39658 | K1B018056 | PEMODELAN JUMLAH KASUS TUBERKULOSIS PADA KASUS OVERDISPERSI DAN PENDEKATAN SPASIAL DI KABUPATEN BANYUMAS | Untuk mengantisipasi kasus TBC di Kabupaten Banyumas maka perlu dilakukan analisis terhadap faktor-faktor yang berpengaruh signifikan pada data jumlah kasus TBC. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan jumlah kasus TBC signifikan di Kabupaten Banyumas berdasarkan faktor-faktor yang berpengaruh menggunakan pedekatan spasial. Untuk menganalisis model jumlah kasus TBC dengan faktor-faktor yang berpengaruh signifikan pada kasus overdispersi menggunakan metode generalized Poisson regression (GPR) dan pendekatan spasial menggunakan metode geographically weighted generalized Poisson regression (GWGPR). Hasil penelitian menghasilkan model GWGPR memiliki nilai AIC yang lebih kecil daripada model GPR, sehingga metode GWGPR paling sesuai untuk memodelkan jumlah kasus TBC di Kabupaten Banyumas dibandingkan model GPR. | To anticipate TB cases in Banyumas Regency, it's necessary to analyze the factors that influence the data on the number of TB cases. This study aims to model the number of significant TB cases in Banyumas Regency based on the influencing factors using a spatial approach. To analyze the model of the number of tuberculosis cases with factors that significantly influence overdispersion cases using the generalized Poisson regression (GPR) method and a spatial approach using the geographically weighted generalized Poisson regression (GWGPR) method. The research result showed that the GWGPR model has a smaller AIC value than the GPR model, so the GWGPR method is most suitable for modeling the number of TB cases in the Banyumas Regency compared to the GPR model. | |
| 37476 | 40267 | H1E018021 | PEMILIHAN LOKASI BARU BENGKEL LAS DENGAN METODE BEST WORST METHOD (BWM) DAN ADDITIVE RATIO ASSESSMENT (ARAS) (STUDI KASUS : UD. BENGKEL LAS FAMILY PURWOKERTO) | UD. Bengkel Las Family Purwokerto merupakan usaha yang bergerak dibidang produksi olahan besi seperti kanopi, tralis, dan sebagainya yang menginginkan perkembangan dalam bisnisnya dengan memilih lokasi baru bengkel las tersebut. Pemilihan lokasi baru bengkel menjadi salah satu usaha yang dapat menunjang kesuksesan bagi UD. Bengkel Las Family Purwokerto. Penelitian pemilihan lokasi baru ini menggunakan dua metode yang digabungkan, metode BWM digunakan untuk menentukan bobot kriteria serta penilaian alternatif lokasi baru terhadap kriteria pemilihan lokasi, sedangkan metode ARAS digunakan untuk melakukan perangkingan alternatif lokasi baru bengkel las. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data kriteria pemilihan lokasi bengkel las dan alternatif lokasi baru untuk bengkel las. Maka diperoleh 3 kriteria utama yaitu profit (harga dan pasar), kenyamanan (akses bengkel, luas tanah, dan lingkungan), dan pendukung (lokasi supplier dan tenaga kerja). Setelah itu dilakukan pengisian kuisioner BWM untuk pembobotan untuk masing-masing kriteria dan penilaian alternatif lokasi baru bengkel las dengan kriteria pemilihan lokasi baru. Alternatif lokasi baru bengkel las yaitu berada di Mersi, Kaliori, dan Karanganyar. Selanjutnya melakukan perangkingan alternatif lokasi menggunakan metode ARAS. Hasil perangkingan alternatif menunjukkan bahwa lokasi Kaliori terpilih menjadi lokasi baru UD. Bengkel Las Family Purwokerto karena memiliki nilai tertinggi dalam perangkingan alternatif yaitu 0,9713. lokasi Karanganyar menjadi urutan kedua dengan nilai sebesar 0,7404, dan lokasi Mersi menjadi urutan terakhir dalam perangkingan alternatif lokasi baru bengkel las dengan nilai terendah yaitu 0,6635. Kata Kunci : Pemilihan Lokasi, BWM, ARAS | Family Welding Workshop Purwokerto sp. is a business engaged in the production of processed iron such as canopies, trellises, and so on who want development in their business by choosing a new location for the welding workshop. The selection of a new workshop location is one of the businesses that can support the success of Family Welding Workshop Purwokerto sp. this new location selection study used two combined methods, the BWM method was used to determine the weight of the criteria and to evaluate alternative new locations against the site selection criteria, while the ARAS method was used to rank alternative locations for new welding workshops. The research was conducted by collecting data on criteria for choosing a welding shop location and alternative new locations for a welding shop. Then 3 main criteria are obtained, namely profit (price and market), convenience (workshop access, land area, and environment), and support (location of suppliers and workforce). After that, filling out the BWM questionnaire for weighting for each criterion and evaluating alternative locations for the new welding shop with the criteria for selecting a new location. Alternative locations for the new welding workshops are in Mersi, Kaliori and Karanganyar. Next, rank alternative locations using the ARAS method. The alternative ranking results show that the Kaliori location was chosen as the new location for Family Welding Workshop Purwokerto sp. because it has the highest score in the alternative ranking, namely 0.9713. the Karanganyar location ranks second with a value of 0.7404, and the Mersi location ranks last in the ranking of alternative locations for new welding workshops with the lowest score, namely 0.6635. Keywords : Location Selection, BWM, ARAS | |
| 37477 | 40268 | E1B019006 | IMPLEMENTATION OF RESTORATIVE JUSTICE IN SOLVING DRUG ABUSE CASES (Study at Banyumas Police Resort) | Restorative Justice merupakan proses penyelesaian hukum dengan prinsip mengantikan hukum pemidanaan dengan mempertemukan antara pelaku dan korban agar menciptakan penyelesaian konflik melalui upaya penggantian rugi agar korban mendapatkan keadilan serta haknya. Pelaksanaan Restorative Justice dapat dilakukan untuk kasus anak atau perempuan yang sedang berhadapan dengan hukum, tindak pidana ringan hingga tindak pidana narkoba bagi pecandu atau penyalahguna narkotika. Restorative Justice terhadap penyalahguna atau pecandu narkotika yang dapat diselesaikan dalam tahap penyelidikan atau penyidikan merupakan perwujudan dari Peraturan Kapolri No 8 Tahun 2021 atas Surat Edaran No 8 Tahun 2018 yang diterbitkan oleh Kepolisian Republik Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur penyelesaian perkara tindak pidana narkotika melalui Restorative Justice di Polresta Banyumas serta kendala yang dihadapi dalam penyelesaian Restorative Justice. Metode penelitian yang digunakan merupakan pendekatan yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Jenis dan sumber hukum dalam penelitian ini berasal dari data primer dan data sekunder. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan metode analisis kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa implementasi Restorative Justice dalam Tindak Pidana Narkotika terdapat perbedaan dalam mekansimenya dengan yang diatur dalam Surat Edaran No 8 tahun 2018 terdapat syarat khusus dan tahapan khusus yang hanya terdapat dalam kasus Tindak Pidana Narkoba dan yang menjadi faktor kendala dalam penyelesaian melalui Restorative Justice yakni berasal dari faktor hukum itu sendiri dan masyarakat. | Restorative Justice is a legal settlement process with the principle of replacing the penal law by bringing together perpetrators and victims to create conflict resolution through compensation efforts so that victims get justice and rights. The implementation of Restorative Justice can be carried out for cases of children or women who are facing the law, minor crimes to drug crimes for addicts or drug abusers. Restorative Justice against drug abusers or addicts that can be resolved in the investigation or investigation stage is a manifestation of the Chief of Police Regulation Number 8 of 2021 on the Circular Letter Number 8 of 2018 issued by the Indonesian National Police . This study aims to determine the procedure for solving drug crime cases through Restorative Justice at Banyumas Police Station and the obstacles faced in solving Restorative Justice. The research method used is a sociological juridical approach with analytical descriptive research specifications. The types and sources of law in this study come from primary data and secondary data. The data obtained are then analyzed by qualitative analysis methods. Based on the results of the study, it was found that the implementation of Restorative Justice in Narcotics Crime has differences in the mechanism with that regulated in Circular Number 8 In 2018 there are certain conditions that are only found in cases of Drug Crimes and which are factors in solving through Restorative Justice comes from the factors of the law itself and society. | |
| 37478 | 40269 | F1C019022 | Representasi Tindak Pelecehan Seksual Pada Laki-Laki dalam Drama Korea D.P. (Deserter Pursuit) (Analisis Semiotika Roland Barthes) | Kekerasan seksual di Indonesia kini menjadi perhatian di masyarakat. Menurut Vartia & Heol (2018) tindakan pelecehan seksual meliputi beberapa perilaku di antaranya nonverbal, verbal, fisik dan cyber. Tindakan pelecehan seksual dapat terjadi di mana saja dan kepada siapa saja tanpa memandang gender. Hal ini menandakan bahwasanya laki-laki juga dapat menjadi korban tindakan pelecehan seksual. Namun, hanya ada sebagian kecil pengakuan masyarakat atas pelecehan seksual yang terjadi pada laki-laki. Media massa seperti drama Korea yang lahir dari fenomena Korean Wave (Hallyu) dan menjadi bagian dari masyarakat saat ini mencoba memberikan perhatian khusus terhadap realitas tersebut. Seperti Drama Korea D.P. (Deserter Pursuit) yang menampilkan dan mengangkat isu mengenai tindakan pelecehan seksual terhadap laki-laki. Melalui drama tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji, menganalisis dan mengetahui terkait representasi dan pesan tindakan pelecehan seksual yang terjadi pada laki-laki. Metode penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan pendekatan Analisis Semiotika Roland Barthes yang mencakup analisis makna tanda denotasi, konotasi dan mitos. Data penelitian diambil melalui adegan pada tiap episode yang sudah dipilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi tindakan pelecehan seksual pada laki-laki dalam Drama Korea D.P. (Deserter Pursuit) berbentuk verbal (ucapan, pertanyaan dan pemaksaan seksual) dan fisik (menyentuh tubuh hingga menyakiti organ seksual). Adanya penggunaan eufemisme dan relasi kuasa turut direpresentasikan dalam tindakan pelecehan seksual pada laki-laki pada drama ini. Lalu, pesan yang disampaikan yaitu terkait sisi kelam dalam dunia kemiliteran Korea Selatan berupa adanya tindakan pelecehan seksual yang terjadi pada laki-laki. Hal ini mematahkan anggapan dan mitos di masyarakat jika tindakan pelecehan seksual hanya identik dengan persoalan antara laki-laki dengan perempuan saja. Tindakan tersebut menjadi suatu “budaya” turun-temurun karena tidak terlepas dari sejarah dan kultur dalam kemiliteran Korea Selatan itu sendiri. | Sexual violence in Indonesia is now a concern in society. According to Vartia & Heol (2018) sexual harassment includes several behaviors including nonverbal, verbal, physical and cyber. Acts of sexual harassment can occur anywhere and to anyone regardless of gender. This indicates that men can also be victims of sexual harassment. However, there is only a small portion of society's recognition of sexual harassment that occurs to men. Mass media such as Korean dramas that were born from the Korean Wave (Hallyu) phenomenon and are part of today's society try to pay special attention to this reality. Such as the Korean drama D.P. (Deserter Pursuit) which features and raises the issue of sexual harassment against men. Through the drama, this research aims to examine, analyze and find out about the representation and messages of sexual harassment that occur in men. The research method used is qualitative with the Roland Barthes Semiotic Analysis approach which includes analyzing the meaning of denotation, connotation and myth. The research data was taken through the scenes in each episode that had been selected. The results showed that the representation of sexual harassment on men in Korean Drama D.P. (Deserter Pursuit) is verbal (speech, questions and sexual coercion) and physical (touching the body to hurt the sexual organs). The use of euphemisms and power relations are also represented in the act of sexual harassment of men in this drama. Then, the message conveyed is related to the dark side in the South Korean military world in the form of sexual harassment that occurs in men. This breaks the assumptions and myths in society if acts of sexual harassment are only synonymous with problems between men and women. The act has become a hereditary "culture" because it is inseparable from the history and culture of the South Korean military itself. | |
| 37479 | 40276 | B1A018116 | Pengaruh Suhu dan pH Terhadap Produksi Bakteriosin Isolat LG-135 Asal Sedimen Mangrove Pantai Logending | Bakteri Asam Laktat (BAL) merupakan bakteri yang termasuk ke dalam golongan bakteri Gram positif. Bakteri ini diketahui mampu menghasilkan bakteriosin dan dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor lingkungan yaitu suhu dan pH. Isolasi bakteri berasal dari sedimen mangrove Pantai Logending menghasilkan koleksi isolat LG-135 yang mampu memproduksi bakteriosin namun belum diketahui identitasnya sampai tingkat genus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan pH serta interaksinya pada pertumbuhan isolat LG-135 terhadap produksi bakteriosin dan identifikasi isolat LG-135 asal sedimen mangrove Pantai Logending. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu suhu dan pH yang berbeda dalam produksi bakteriosin serta variabel terikat berupa kemampuan isolat LG-135 dalam memproduksi bakteriosin. Parameter utama yang diamati dalam penelitian ini adalah berat basah bakteriosin dan parameter pendukung yaitu diameter zona hambat, jumlah sel bakteri, sifat makromorfologi, mikromorfologi, fisiologi, dan biokimiawi isolat LG-135. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan pengujian Sidik Ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan taraf uji 95% dan karakterisasi isolat bakteri berdasarkan buku Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. Isolat BAL LG-135 dari sedimen mangrove Pantai Logending Kebumen teridentifikasi sebagai bakteri Gram positif yang termasuk ke dalam genus Enterococcus. Suhu dan pH mampu mempengaruhi isolat LG-135 dalam menghasilkan bakteriosin. Isolat LG-135 menghasilkan bakteriosin optimum pada suhu 37℃ dan pH 6 yaitu sebanyak 2,15 g dengan jumlah sel 1,065 x 10^7 CFU/mL. Aktivitas penghambatan bakteriosin yang dihasilkan dalam menghambat S.aureus dapat dikategorikan kuat yaitu memiliki diameter zona hambat sebesar 12 mm. | Lactic Acid Bacteria (LAB) are bacteria that belong to the class of Gram-positive bacteria. These bacteria are known to be able to produce bacteriocins and can be influenced by various environmental factors, namely temperature and pH. Isolation of bacteria from mangrove sediments of Logending Beach resulted in the collection of isolate LG-135 which is capable of producing bacteriocins but its identity is not yet known to the genus level. This study aims to determine the effect of temperature and pH and their interactions on the growth of LG-135 isolates on bacteriocin production and identification of LG-135 isolates from mangrove sediments of Logending Beach. This research was conducted experimentally with the method of Completely Randomized Design (CRD) factorial pattern. The independent variables in this study are different temperature and pH in the production of bacteriocin and the dependent variable is the ability of isolate LG-135 in producing bacteriocin. The main parameter observed in this study was the wet weight of bacteriocin and supporting parameters were the diameter of the inhibition zone, the number of bacterial cells, macromorphological, micromorphological, physiological, and biochemical of isolate LG-135. The data obtained were analyzed using analysis of variance and continued with the Honest Real Difference (HRD) test with a test level of 95% and characterization of bacterial isolates based on Bergey's Manual of Determinative Bacteriology. LAB isolate LG-135 from mangrove sediments of Logending Beach Kebumen was identified as Gram-positive bacteria belonging to the genus Enterococcus. Temperature and pH can affect LG-135 isolates in producing bacteriocins. Isolate LG-135 produces optimum bacteriocin at 37℃ and pH 6 which is as much as 2,15 g with a cell number of 1,065 x 10^7 CFU/mL. The inhibitory activity of bacteriocin produced in inhibiting S.aureus can be categorized as strong, which has an inhibition zone diameter of 12 mm. | |
| 37480 | 40273 | K1C019024 | Pengaruh Energi Iradiasi Gelombang Mikro pada Sintesis Graphene-like Berbahan Dasar Biomassa Tempurung Kelapa | Graphene-like merupakan material tipis dengan struktur hexagonal dua dimensional (2D) yang sangat menarik untuk dikembangkan. Saat ini penggunakan graphene-like berpotensi besar dalam berbagai bidang aplikasi. Dalam penelitian ini telah dilakukan sintesis graphene-like dari biomassa tempurung kelapa menggunakan aktivasi kimia KOH dan iradiasi gelombang mikro. Energi iradiasi gelombang mikro dalam penelitian ini adalah 4800 joule. Metode aktivasi dan iradiasi gelombang mikro dipilih karena sederhana, efisien dan dapat menghasilkan graphene-like dengan kualitas yang baik. Karakterisasi yang dilakukan adalah X-Ray Difraction (XRD) dan Field Emission Scanning Electron Microscopy (FESEM). Hal ini menunjukkan pengaruh energi iradiasi gelombang mikro terlihat bahwa morfologi permukaan graphene-like menunjukkan adanya pengelupasan menjadi lembaran atau helaian tipis graphene. | Graphene-like is a thin material with a two-dimensional (2D) hexagonal structure that is very interesting to develop. Currently, the use of graphene-like has great potential in various fields of application. In this research, graphene-like synthesis has been carried out from coconut shell biomass using the chemical activation KOH and microwave irradiation. The microwave irradiation energy in this study is 4800 joule. The method of activation and microwave irradiation was chosen because it is simple, efficient and can produce graphene-like with good quality.The characterization carried out was X-Ray Difraction (XRD) and Field Emission Scanning Electron Microscopy (FESEM). This shows the influence of microwave irradiation energy, it can be seen that the graphene-like surface morphology exfoliates into sheets or thin strands of graphene. |