Artikelilmiahs

Menampilkan 36.201-36.220 dari 49.833 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
3620139216H1C018019SUMBER DAYA GAMBUT DAERAH NUSAPATI DAN SEKITARNYA KECAMATAN SUNGAI PINYUH, KABUPATEN MEMPAWAH, KALIMANTAN BARATTanah gambut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif dan bahan baku untuk mendapatkan senyawa organik, serta di bidang pertanian gambut banyak dimanfaatkan sebagai pupuk dan zat aditif untuk tanah. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemetaan kondisi lahan gambut tersebut seperti kualitas tanah gambut serta sumber daya gambut yang ada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi geologi dan sumber daya gambut daerah penelitian. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi analisis kondisi geologi dengan pengamatan aspek – aspek geologi serta analisis sampel hasil pengeboran gambut. Berdasarkan sampel pengeboran gambut, secara umum gambut yang ada di daerah penelitian secara megaskopis karakteristik gambut masih dapat diidentifikasi karakteristiknya. Hasil analisis petrografi organik didapatkan bahwa reflektansi vitrinit gambut di daerah penelitian memiliki nilai reflektansi vitrinit (Ro) 0,18% dimana persentase tersebut menunjukkan tingkat kematangan dari gambut. Berdasarkan analisis komposisi maseral dan hasil plot silang antara nilai TPI dan GI mengindikasikan bahwa gambut di daerah penelitian diendapkan pada lingkungan rawa hutan basah dengan kondisi gambut yang dipengaruhi oleh pasang surut air. Hasil dari perhitungan sumber daya gambut berdasarkan perkalian dari volume berdasarkan peta isopach dengan bobot kering dari data Bulk Density (BD) menghasilkan nilai total sumber daya gambut hipotetik pada daerah penelitian sebesar 26.435.158,89 ton.Peat soil can be used as an alternative energy source and raw material to obtain organic compounds, and in agriculture, peat is widely used as fertilizer and additive for soil. Therefore, it is necessary to map the condition of the peat land, such as the quality of the peat soil and the existing peat resources. The purpose of this study was to determine the geological conditions and peat resources of the study area. The method used in this research includes analysis of geological conditions by observing geological aspects and analyzing samples of peat drilling results. Based on the peat drilling samples, in general, the peat in the study area, megascopically, the characteristics of the peat can still be identified with its characteristics. The results of the organic petrographic analysis showed that the vitrinite reflectance of the peat in the study area had a vitrinite reflectance value (Ro) of 0.18% where this percentage indicated the maturity level of the peat. Based on the analysis of maceral composition and the results of the cross plot between the TPI and GI values, it indicates that the peat in the study area was deposited in a wet forest swamp environment with peat conditions influenced by tides. The results of the calculation of peat resources based on the multiplication of the volume based on the isopach map with the dry weight of the Bulk Density (BD) data resulted in the total value of peat resources in the research area of 26.435.158,89 tons.
3620239217A1A115044ANALISIS BIAYA DAN PENDAPATAN USAHA TAHU
PADA KELOMPOK SARI DELAI DI DESA KALISARI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS
ABSTRAK
Desa Kalisari merupakan salah satu daerah penghasil tahu dengan jumlah perajin tahu terbesar di Kecamatan Cilongok. Usaha tahu dilakukan secara berkelanjutan untuk memberikan sumber penerimaan bagi rumah tangga perajin, namun perajin belum mengetahui apakah usahanya tersebut layak untuk diteruskan atau memperoleh keuntungan atau tidak. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan (1) mengetahui besarnya biaya produksi usaha tahu pada Kelompok Sari Delai Desa Kalisari. (2) mengetahui besarnya penerimaan dan pendapatan yang diperoleh oleh perajin tahu pada Kelompok Sari Delai Desa Kalisari.
Penelitian menggunakan metode studi kasus, dengan mengambil kasus pada Kelompok Sari Delai di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Pemilihan tempat penelitian dilakukan secara sengaja (purposive). Periode data produksi yang digunakan adalah bulan Agustus-September 2022. Analisis yang digunakan adalah analisis biaya, penerimaan dan pendapatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya yang dikeluarka pada bulan Agustus-September 2022 adalah sebesar Rp12.156.897 dengan penerimaan total sebesar Rp16.537.622 sehingga pendapatan atau keuntungan yang diperoleh adalah Rp4.380.725.
ABSTRACT
Kalisari Village is one of the tofu-producing areas with the largest number of tofu craftsmen in Cilongok District. The tofu business is carried out on an ongoing basis to provide a source of income for the craftsmen’s households, but the craftsmen do not yet know whether the business is feasible to continue or generate profits or not. Based on these problems, this research is (1) to determine the cost of tofu production at the Sari Delai Group in Kalisari Village. (2) to find out the amount of revenue and income earned by tofu craftsmen at the Sari Delai Group in Kalisari Village.
Sampling was carried out using the case study method and obtained 37 artisan respondents. Data collection was carried out in August-September 2022.
The results showed that the average production cost of tofu business was Rp12.156.897 with an avarage revenue of Rp16.537622 and an average income of Rp4.380.725. The net income received is positive, which means that the tofu business at the Sari Delai Group in Kalisari Village is profitable.
3620339218I1A018066FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU PENCEGAHAN MALARIA PADA TOKOH MASYARAKAT DI KECAMATAN TAMBAK DAN SUMPUHLatar Belakang: Malaria masih perlu diwaspadai di Kecamatan Tambak dan Sumpiuh karena memiliki distribusi penderita malaria import terbanyak di Kabupaten Banyumas. Pencegahan malaria merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat termasuk tokoh masyarakat yang berperan melaksanakan perilaku pencegahan individu dan mendeteksi kewaspadaan dini kasus malaria di desa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan malaria pada tokoh masyarakat di Kecamatan Tambak dan Sumpiuh.
Metode: Studi ini menggunakan pendekatan Cross-sectional terhadap 115 tokoh masyarakat di Kecamatan Tambak dan Sumpiuh dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Variabel yang diteliti meliputi umur, pengetahuan, sikap, pendidikan, pendapatan, akses pelayanan kesehatan, paparan informasi, dan perilaku. Pengumpulan data dengan wawancara menggunakan instrumen kuesioner. Data dianalisis ke dalam univariat, bivariat, dan multivariat.
Hasil Penelitian: Hasil menunjukkan pengetahuan (p=0,000), sikap (p=0,000), pendidikan (p=0,002), akses pelayanan kesehatan (p=0,033), dan paparan informasi (p=0,000) berhubungan dengan perilaku pencegahan malaria. Faktor paling berpengaruh terhadap perilaku pencegahan adalah pengetahuan (p= 0,000 ; POR= 4.298; CI= 1.701-10.860) artinya pengetahuan kurang baik memiliki risiko 4,298 kali lebih besar memiliki perilaku pencegahan yang kurang baik.
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap, pendidikan, akses pelayanan kesehatan, dan paparan informasi terhadap perilaku pencegahan malaria pada tokoh masyarakat di Kecamatan Tambak dan Sumpiuh. Pengetahuan merupakan faktor paling berpengaruh.
Background: Malaria still needs to be watched out for in Tambak and Sumpiuh Districts because it has the largest distribution of imported malaria sufferers in Banyumas Regency. Prevention of malaria is a shared responsibility of all elements of society, including community leaders whose role is to carry out individual preventive behavior and detect early warning of malaria cases in the village. The purpose of this study was to determine the factors that influence malaria prevention behavior among community leaders in Tambak and Sumpiuh Districts.
Methods: This study used a cross-sectional approach to 115 community leaders in Tambak and Sumpiuh Districts with a sampling technique using total sampling. The variables studied included age, knowledge, attitudes, education, income, access to health services, exposure to information, and behavior. Data collection using a questionnaire. Data were analyzed into univariate, bivariate and multivariate.
Results: The results showed that knowledge (p=0.000), attitude (p=0.000), education (p=0.002), access to health services (p=0.033), and exposure to information (p=0.000) were related to malaria prevention behavior. The most influential factor on prevention behavior is knowledge (p= 0.000; POR= 4.298; CI= 1.701-10.860) meaning that poor knowledge has a 4.298 times greater risk of having poor prevention behavior.
Conclusion: There is a relationship between knowledge, attitudes, education, access to health services, and exposure to information on malaria prevention behavior among community leaders in Tambak and Sumpiuh Districts. Knowledge is the most influential factor
3620444080H1A020030ANALISIS KINERJA LAYANAN VIDEO CONFERENCE VOOV
MEETING DENGAN PARAMETER QOS MENGGUNAKAN
JARINGAN SELULER DAN WI-FI
Video conference merupakan sebuah aktivitas interaksi dan komunikasi yang memanfaatkan teknologi
telekomunikasi yang digunakan sejumlah pengguna di lokasi yang berbeda secara realtime. Perkembangan video
conference terus berkembang seiring dengan kebutuhan dalam berkomunikasi jarak jauh. Salah satu aplikasi video
conference adalah VooV Meeting.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan terhadap
parameter Quality of Service dari layanan aplikasi VooV Meeting menggunakan jaringan seluler dan Wi-Fi.
Parameter Quality of Service yang diamati adalah delay, jitter, throughput, packet loss dan frame rate menggunakan
software Wireshark. Hasil pengujian dianalisis berdasarkan penggunaan jaringan, melihat pengaruh perbedaan
kelas berdasarkan pengguna dan penggunaan fitur on camera pada peneliti. Hasil pengujian dinilai berdasarkan
standar TIPHON.Hasil penelitian yang didapatkan dari segi nilai rata-rata delay, jitter dan packet loss jaringan Wi-
Fi memiliki nilai yang rendah dengan nilai rata-rata delay 0,002858 ms, rata-rata jitter 0,00298 ms dan rata-rata
packet loss 0,71%. Nilai rata-rata throughput tertinggi didapatkan oleh jaringan seluler Indosat dengan nilai 80,34%
dan nilai rata-rata frame rate tertinggi didapatkan oleh jaringan Wi-Fi dengan nilai 193 fps. Selain itu, fitur on
camera memengaruhi hasil penelitian pada salah satu parameter Quality of Service yaitu frame rate.
Video conferencing is an interaction and communication activity that utilizes telecommunications
technology which is used by a number of users in different locations in real time. The development of video
conferencing continues to grow along with the need for long distance communication. One video conferencing
application is VooV Meeting.The method used in this research is observing the Quality of Service parameters of the
VooV Meeting application service using cellular and Wi-Fi networks. The Quality of Service parameters observed are
delay, jitter, throughput, packet loss and frame rate using Wireshark software. The test results were analyzed based
on network usage, looking at the influence of class differences based on users and the use of on camera features on
researchers. Test results are assessed based on TIPHON standards.The research results obtained in terms of average
delay, jitter and packet loss values for Wi-Fi networks have low values with an average delay value of 0.002858 ms,
average jitter 0.00298 ms and average packet loss 0. .71%. The highest average throughput value was obtained by
the Indosat cellular network with a value of 80.34% and the highest average frame rate value was obtained by the
Wi-Fi network with a value of 193 fps. Apart from that, the on camera feature influences research results on one of
the Quality of Service parameters, namely frame rate.
3620539220L1B016008PEMANFAATAN HASIL FERMENTASI MANURE AYAM PEDAGING MENGGUNAKAN RAGI TEMPE UNTUK PAKAN LELE (Clarias gariepinus)Pakan yang baik akan mempercepat pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Salah satu cara meningkatkan nutrisi dalam bahan pakan adalah dengan fermentasi. Fermentasi adalah proses pemecahan senyawa organik menjadi senyawa sederhana dengan menggunakan bantuan mikroorganisme. Fermentasi dapat menggunakan jamur Rhizopus sp. Rhizopus oligosporus adalah jamur dominan dalam ragi tempe. Tujuan penelitian adalah mengetahui pemanfaatan hasil fermentasi manure ayam untuk pertumbuhan, FCR dan kelangsungan hidup ikan lele. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan yaitu pemberian pakan pelet komersial 100% (P1), pelet komersial 75% dan fermentasi manure 25% (P2), dan pelet komersial 50% dan fermentasi manure 50% (P3). Penelitian dilaksanakan selama 45 hari. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil proksimat manure ayam pedaging sebelum dan sesudah fermentasi didapatkan protein 21,9 dan 19,23 serta serat kasar 10,09 dan 9,40. Laju pertumbuhan mutlak berkisar 0,56 gr-5,11 gr, laju pertumbuhan spesifik berkisar 0,002 gr/hari-0,014 gr/hari, rasio konversi pakan berkisar 4,79-0,92, tingkat kelangsungan hidup berkisar 18%-51%. Berdasarkan hasil penelitian hasil fermentasi manure ayam tidak memberikan hasil yang baik. Hal ini disebabkan adanya white spot, dan gyrodactylus. Kualitas air masih dalam kisaran normal yaitu suhu berkisar 25-29 oC, pH berkisar 7 dan kandungan oksigen berkisar 3,7-3,73 mg/L.Good feed will accelerate the growth and survival of fish. One way to increase nutrition in feed ingredients is by fermentation. Fermentation is a process of breaking down organic compounds into simple compounds using microorganisms. Fermentation can use Rhizopus sp. mushrooms. Rhizopus oligosporus is the dominant fungus in tempe yeast. The objective of the research was to determine the utilization of fermented chicken manure for growth, FCR and survival of catfish. This study used an experimental method with 3 treatments and 3 replications, namely feeding 100% commercial pellets (P1), 75% commercial pellets and 25% manure fermentation (P2), and 50% commercial pellets and 50% manure fermentation (P3). This study used an experimental method with 3 treatments and 3 replications, namely feeding 100% commercial pellets (P1), 75% commercial pellets and 25% manure fermentation (P2), and 50% commercial pellets and 50% manure fermentation (P3). The research was conducted for 45 days. Data analysis was carried out descriptively. Proximate results of broiler manure before and after fermentation showed protein 21.9 and 19.23 and crude fiber 10.09 and 9.40. Absolute growth rate ranged from 0,56 gr-5,11 gr, specific growth rate ranged from 0,002 gr/day-0,014 gr/day, feed conversion ratio ranged from 4,79-0,92, survival rate ranged from 18%-51%. Based on the research results, the results of fermented chicken manure did not give good results. This is due to the presence white spot, and gyrodactylus. Water quality is still within the normal range, namely the temperature ranges from 25-29 oC, the pH ranges from 7 and the oxygen content ranges from 3.7-3.73 mg/L.
3620639221I1A017025Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Ketajaman Penglihatan Pada Pekerja Wig Bagian Produksi di CV Bintang Rema Utama PurwokertoLatar Belakang: Salah satu bidang pekerjaan yang para pekerjanya berisiko mengalami penurunan ketajaman penglihatan yaitu pembuat rambut palsu. Proses produksi rambut palsu (wig) beresiko menyebabkan gangguan ketajaman penglihatan karena mata selalu berakomodasi kuat dan fokus terhadap objek. Tujuan penelitian adalah untuk meneliti faktor-faktor yang berpengaruh terhadap ketajaman penglihatan pada pekerja wig bagian produksi di CV. Bintang Rema Utama Purwokerto. Metode: Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu karyawan bagian produksi wig di CV. Bintang Rema Utama sebanyak 150 orang. Jumlah sampel sebanyak 105 orang menggunakan random sampling. Variabel yang digunakan yaitu usia, faktor genetik, screen time, masa kerja, jarak mata ke objek dan intensitas pencahayaan. Pengumpulan data menggunakan wawancara dengan kuesioner dan pengukuran ketajaman penglihatan menggunakan snellen chart, pengukuran jarak mata ke objek menggunakan meteran dan pengukuran intensitas pencahayaan dengan luxmeter. Analisis data menggunakan chi square dan uji regresi logistik. Hasil Penelitian: Ketajaman penglihatan normal sebanyak 28 orang (26,7%). Ketajaman penglihatan tidak normal sebanyak 77 orang dengan kategori gangguan ketajaman ringan 28 orang (26,7%), gangguan ketajaman sedang 31 orang (29,5%) dan gangguan ketajaman berat 18 orang (17,1%). Variabel yang berpengaruh adalah screen time (POR = 50,171). Simpulan: Variabel yang berpengaruh terhadap ketajaman penglihatan adalah screen time dengan POR = 50,171. Saran: Mengurangi aktivitas screen time dan memperbaiki pencahayaan yang tidak sesuai standar pencahayaan. Bekerja dengan jarak mata ke objek > 30 cm. Kata Kunci: Ketajaman penglihatan, screen time, rambut palsu.Backgrounds: One line of work where workers are at risk of experiencing a decrease in visual acuity is making wigs. The process of producing wigs has the risk of causing impaired visual acuity because the eyes always accommodate strongly and focus on objects. The purpose of this study was to determine the factors that influence visual acuity in wig production workers at CV. Star Rema Utama Purwokerto. Methods: This research was observational analytic using cross sectional approach. The population in this study are employees of the wig production section at CV. Bintang Rema Utama as many as 150 people The total sample is 105 people using random sampling. The variables used are age, genetic factors, screen time, length of work, eye distance to the object and lighting intensity. Collecting data using interviews with questionnaires. Collecting data using interviews with questionnaires and measuring visual acuity using a snellen chart, measuring the distance of the eye to an object using a meter and measuring the intensity of light with a luxmeter. Data analysis using chi square and logistic regression test. Result: Normal visual acuity was 28 people (26.7%). Abnormal visual acuity was 77 people with mild visual acuity category 28 people (26.7%), moderate visual acuity disorder 31 people (29.5%) and severe visual acuity disorder 18 people (17.1%). Variable that influence is screen time (OR = 50,171). Conclusion: The variable that affects visual acuity is screen time with POR = 50.171. Suggestion: Reduce screen time activity and correcting lighting that does not match lighting standards. Working with eye to object distance > 30 cm. Keywords: Visual acuity, screen time, wig.
3620744672A1C020054Pengaruh Jumlah Perlintasan Traktor Roda Empat terhadap Sifat Fisik Tanah pada Berbagai KedalamanPenggunaan traktor roda empat sebagai alat pengolahan tanah kini semakin
meningkat karena dinilai lebih efektif dan efisien, meskipun perlintasan traktor
roda empat berpotensi menyebabkan terjadinya pemadatan tanah yang memiliki
dampak negatif terhadap sifat fisik tanah dan pertumbuhan tanaman. Kebanyakan
penelitian mengenai dampak pemadatan tanah lebih terfokus pada kedalaman
0 – 30 cm meskipun terdapat beberapa jenis tanaman yang perakarannya tumbuh
hingga lebih dari 30 cm. Oleh karena itu, penelitian ini ditujukan untuk
(1) mengkaji pengaruh jumlah perlintasan traktor roda empat terhadap sifat fisik
tanah pada kedalaman tanah 0 – 50 cm dan (2) mengkaji hubungan antara
beberapa variabel sifat fisik tanah terkait dengan tingkat pemadatan tanah pada
kedalaman tanah 0 – 50 cm akibat perlintasan traktor roda empat.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2023 – Februari 2024 di
lahan UPTD Balai Benih Padi dan Palawija Purwanegara dan Laboratorium
Terpadu 1 Integrated Academic Building (IAB). Perlakuan yang diberikan adalah
0 perlintasan (L0), 1 perlintasan (L1), 4 perlintasan (L4), dan 7 perlintasan (L7)
traktor roda empat. Pengambilan sampel tanah tidak terganggu menggunakan soil
ring sampler pada 4 petakan lahan berukuran 2 m x 6 m dengan masing-masing 4
kali ulangan di setiap level kedalaman tanah (0 – 10, 10 – 20, 20 – 30, 30 – 40,
dan 40 – 50 cm) sehingga total sampel yang diambil sebanyak 80 sampel.
Peralatan yang digunakan terdiri dari satu unit traktor roda empat dengan
implemen bajak rotari, head core ring sampler, soil ring sampler 100 cm3
(diameter 5 cm dan tinggi 5 cm), oven, jangka sorong, timbangan digital, cawan
alumunium, falling head meter, cangkul, sekop, linggis, pisau, patok, tali,
meteran, kantong plastik, kain, papan kayu, palu, baki, stopwatch, dan isolasi.
Terhadap sampel tanah tidak terganggu yang telah diambil, dilakukan pengukuran
variabel sifat fisik tanah: kadar air tanah, dry bulk density, porositas tanah, dan
konduktivitas hidrolik jenuh. Analisis data pada penelitian ini menggunakan
metode Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan Uji Duncan’s
Multiple Range Test (DMRT) 5%.
Peningkatan jumlah perlintasan traktor roda empat cenderung meningkatkan
dry bulk density, mengurangi porositas, dan menurunkan konduktivitas hidrolik
jenuh pada seluruh kedalaman tanah yang diamati (0 – 50 cm) dengan perubahan
signifikan terutama pada kedalaman 0 – 10 cm. Semakin bertambah kedalaman
tanah, nilai dry bulk density cenderung naik, sedangkan nilai porositas dan
konduktivitas hidrolik jenuh cenderung turun meskipun secara statistik dominan
tidak berbeda nyata. Hasil regresi menunjukkan adanya hubungan antar beberapa
variabel sifat fisik tanah, dimana peningkatan dry bulk density seiring dengan
penurunan porositas dan konduktivitas hidrolik jenuh, sementara peningkatan
porositas sejalan dengan peningkatan konduktivitas hidrolik jenuh.
The use of four-wheel tractors as a tillage tool is increasing because it is
considered more effective and efficient, although four-wheel tractor crossings
have the potential to cause soil compaction which has a negative impact on soil
physical properties and plant growth. Most research on the impact of soil
compaction has focused on depths of 0 – 30 cm although there are plant species
whose roots grow to more than 30 cm. Therefore, this study aimed to (1) assess
the effect of the number of four-wheel tractor crossings on soil physical properties
at a soil depth of 0 – 50 cm and (2) assess the relationship between several soil
physical property variables related to the level of soil compaction at a soil depth
of 0 – 50 cm due to four-wheel tractor crossings.
This research was conducted from November 2023 – February 2024 on the
land owned by UPTD Balai Benih Padi and Palawija Purwanegara and
Integrated Laboratory 1 Integrated Academic Building (IAB). The treatments
given were 0 crossings (L0), 1 crossing (L1), 4 crossings (L4), and 7 crossings (L7)
of four-wheel tractor. Sampling of undisturbed soil using a soil ring sampler on 4
plots measuring 2 m x 6 m with 4 replications each at each soil depth level
(0 – 10, 10 – 20, 20 – 30, 30 – 40, and 40 – 50 cm) so that a total of 80 samples
were taken. The equipment used consisted of one unit of four-wheel tractor with
rotary plough implements, head core ring sampler, 100 cm3
soil ring sampler (5
cm diameter and 5 cm height), oven, vernier caliper, digital balance, aluminium
cup, falling head meter, hoe, shovel, crowbar, knife, stakes, rope, meter, plastic
bag, cloth, wooden board, hammer, tray, stopwatch, and insulation. Undisturbed
soil samples were taken to measure soil physical properties variables: soil
moisture content, dry bulk density, soil porosity, and saturated hydraulic
conductivity. Data analysis in this study used the Analysis of Variance (ANOVA)
method then continued with Duncan's Multiple Range Test (DMRT) 5%.
Increasing the number of four-wheel tractor crossings tends to increase dry
bulk density, decrease porosity, and decrease saturated hydraulic conductivity at
all observed soil depths (0 – 50 cm) with significant changes especially at
0 – 10 cm depth. As the soil depth increases, the dry bulk density value tends to
increase, while the porosity and saturated hydraulic conductivity values tend to
decrease although statistically dominant are not significantly different. The
regression results show a relationship between several variables of soil physical
properties, where an increase in dry bulk density goes along with a decrease in
porosity and saturated hydraulic conductivity, while an increase in porosity goes
along with an increase in saturated hydraulic conductivity.
3620839219I1A018031Karakteristik Pasien Rawat Inap COVID-19 Di Rumah Sakit Umum Daerah Waled Kabupaten Cirebon Tahun 2020 - 2021Latar Belakang : Corona Virus Disease (COVID-19) merupakan penyakit baru yang ditimbulkan oleh Coronavirus dan menarik untuk diteliti dari berbagai aspek. Salah satu aspek yang menarik untuk ditelaah yakni karakteristik
COVID-19. Banyaknya kasus COVID-19 yang terjadi mengakibatkan beragamnya karakteristik klinis yang dimiliki pasien COVID-19. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik pasien rawat inap COVID-19 di RSUD Waled Kabupaten Cirebon Tahun 2020-2021.

Metodologi : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif di RSUD Waled Kabupaten Cirebon. Populasi penelitian ini sebanyak 1270 pasien COVID-19 dan sampel sebanyak 304 orang yang didapatkan menggunakan teknik simple random sampling.
Pengambilan data dikumpulkan dari rekam medis pasien. Variabel yang diamati
berupa usia, jenis kelamin, tempat tinggal, komorbid, gejala klinis, derajat keparahan, saturasi oksigen, riwayat kontak, lama perawatan, outcome perawatan. Analisis data menggunakan univariat dan ditampilkan dalam tabel,
grafik orang, tempat dan waktu

Hasil penelitian : Responden berusia 10-90 tahun dengan rata-rata 44 tahun, sebagian besar responden adalah laki-laki (51,0%). Karakteristik faktor komorbid pasien rawat inap COVID-19 RSUD Waled Kabupaten Cirebon sebagian besar adalah hipertensi (10,2%) dan Diabetes Mellitus (DM) (3,6%).
Karakteristik gejala sebagian besar adalah batuk (77,6%). Saturasi oksigen sebagian besar adalah normal (88,8%). Riwayat kontak sebagian besar tidak ada riwayat kontak (60,9%). Lama perawatan sebagian besar adalah 7-14 hari (47,0%). Hasil outcome pasien sebagian besar adalah sembuh (88,8%).

Kesimpulan : Responden berusia 10-90 tahun dengan rata-rata 43 tahun, sebagian besar berjenis kelamin laki-laki dan bertempat tinggal di Kabupaten Cirebon. Gejala klinis yang paling banyak dijumpai adalah batuk, demam, faktor komorbid yang paling banyak dijumpai adalah hipertensi dan diabetes melitus. Derajat keparahan pasien sebagian besar berstatus ringan, serta tingkat
saturasi oksigen normal. Sebagian besar pasien tidak memiliki riwayat kontak dan rata-rata lama perawatan selama 7 hari. Outcome pasien sebagian besar pasien berstatus sembuh
Background: Corona Virus Disease (COVID-19) is an infectious disease caused
by the Coronavirus. COVID-19 is a viral infectious disease that is still being researched from all aspects. One of the interesting aspects to study is the characteristics of COVID-19. The purpose of this study was to determine the characteristics of COVID-19 hospitalization at Waled Hospital, Cirebon Regency in 2020-2021.

Methodology: This research is a descriptive study using a quantitative approach at Waled Hospital, Cirebon Regency. The population of this study was 1270 COVID-19 patients and a sample of 304 people were obtained using a simple
random sampling technique. Data collection was carried out using patient medical record data. Variables observed were age, sex, place of residence, comorbidities, clinical symptoms, degree of severity, oxygen saturation, contact history, length of stay, treatment outcome. Data analysis uses univariate and displayed in tables, graphs of people, places and time.

Findings: The results showed that the respondents were aged 10-90 years with an
average of 44 years, most of the respondents were male (51.0%). The characteristics of the comorbid factors of COVID-19 inpatients, were mostly hypertension (10.2). Most of the characteristic symptoms were cough (77.6%), fever (76.3%). Oxygen saturation was mostly normal (88.8%). Contact history is mostly no contact (60,9%). Most of the treatment duration was 7-14 days (47.0%). The majority of the patient outcomes were cured (88.8%).

Conclusions: Respondents were aged 10-90 years with an average of 43 years, mostly male and residing in Cirebon Regency. The most common clinical symptoms were cough, fever, the most common comorbid factors were hypertension and diabetes mellitus. The degree of severity of the patients is mostly mild status, as well as normal oxygen saturation levels. Most of the patients had no contact history and the average length of stay was 7 days.
Outcome of patients, most of the patients were cured
3620939210I1J019016Description of Stress, Anxiety, and Depression Among Preterm Infants Mothers at Banyumas RegencyLatar Belakang: Bayi yang lahir prematur, merupakan bayi dengan berbagai komplikasi kesehatan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi psikologis (stress, kecemasan, dan depresi) yang ibu alami. Terdapat beberapa faktor yang memicu psikologis ibu seperti, usia, pendidikan, status pekerjaan, dan riwayat melahirkan. Dengan tujuan untuk meneliti gambaran stres, kecemasan, dan depresi yang dialami oleh ibu yang memiliki bayi prematur yang dirawat di RSUD milik Provinsi Jawa Tengah yang berlokasi di Kabupaten Banyumas. Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Total sampel dalam penelitian ini sebanyak 26 ibu melahirkan bayi prematur, menggunakan teknik deskriptif kategorik dengan alat ukur kuesioner. Hasil: Gambaran stres yang dialami ibu dengan bayi prematur termasuk dalam kategori normal (61.5%), dengan sebagian besar ibu tidak mengalami cemas (76.9%), dan tidak mengalami depresi (92.3%). Kesimpulan: Sebagian besar ibu tidak mengalami stres, kecemasan, dan depresi dan hal ini disebabkan usia ibu termasuk usia matang dan ideal untuk melahirkan bayi, pendidikan ibu dominan SMA/SMK, tidak bekerja, dan ibu sudah pernah memiliki riwayat melahirkan.Background: Prematurely born infants are susceptible to numerous health issues. Several factors can affect mothers' psychological symptoms (stress, anxiety, and depression). Numerous factors, including a mother's age, education level, occupation status, and childbirth experience, can affect the psychology. This study aims to examine the stress, anxiety, and depression experienced by mothers with preterm infants treated in hospitals in Banyumas Regency, Central Java Province. Methodology: This research is descriptive research. This study's sample consisted of 26 mothers who gave birth to preterm infants, use categorical descriptive technique with a questionnaire measuring instrument. Results: The description of stress experienced by mothers with preterm infants is included in the normal category (61.5%), with most mothers not experiencing anxiety (76.9%) and not experiencing depression (92.3%). Conclusion: Most mothers do not experience stress, anxiety, and depression, and this is due to the age of the mother including maturity, and ideal for giving birth to a baby, the dominant mother's education is SMA/SMK, not working, and the mother has had a history of giving birth.
3621039222I1B018089ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELAHIRAN BAYI PREMATUR PADA IBU KATEGORI USIA TIDAK BERISIKO DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO Latar Belakang: Identifikasi faktor risiko kelahiran bayi prematur jarang dilakukan pada kelompok ibu kategori yang tidak berisiko yaitu usa 20-35 tahun. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang terkait kelahiran bayi prematur untuk kategori usia tidak berisiko.
Metodologi: Penelitian menggunakan desain kasus-kontrol dengan melibatkan convenience sample data rekam medis dari 114 bayi prematur dan 149 bayi cukup bulan yang dilahirkan dari Januari-Juni 2022 di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto (RSMS). Instrumen mengunakan alat pengumpul data yang dikembangkan peneliti dan diuji konten oleh dua pakar dengan nilai CVI 1. Analisis data menggunakan uji Chi-Square.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan usia ibu, paritas, dan pendidikan ibu terhadap kelahiran bayi prematur. Sebaliknya, lokasi geografis tempat tinggal ibu berhubungan signifikan dengan kelahiran bayi prematur.
Kesimpulan: Lokasi geografis tempat tinggal ibu berpengaruh terhadap kelahiran bayi prematur. Untuk itu, perawat perlu mengidentifikasi lokasi geografi untuk mengantisipasi terjadinya risiko kelahiran prematur.
Kata kunci: prematur, ibu, usia tidak berisiko
Background: Identifying risk factors for premature birth is rarely investigated in groups of mothers who are not at risk aged 20-35. Therefore, this study aims to analyze the factors associated with premature birth for the no-risk age category.
Methodology: The study used a case-control design involving a convenience sample of medical record data from 114 premature infants and 149 full-term infants born from January to June 2022 at Prof. Dr. Margono Soekarjo Hospital, Purwokerto. The instrument used a data collection tool developed by the researcher, and content tested by two experts with a CVI was 1. Data analysis used the Chi-Square test.
Research Results: The results showed no relationship between the mother's age, parity, and mother's education on premature birth. Otherwise, the geographical location of the mother's residence is significantly related to premature birth.
Conclusion: The location of the mothers' residence was related to preterm delivery. Further, the nurses should assess the mothers' residence location to anticipate the risk of preterm delivery.
Key Words: Premature, Mother, No-risk aged
3621139223H1C018058Geologi dan Karakteristik Gambut Daerah Peniraman dan Sekitarnya, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan BaratGambut merupakan salah satu pilihan sumber energi baru yang memiliki potensi besar. Salah satu daerah yang memiliki potensi gambut yaitu di Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat. Tujuan penelitian untuk mengetahui kondisi geologi dan karakteristik endapan gambut, Daerah Peniraman, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pemetaan geologi dan pengeboran gambut. Analisis karakteristik fisik meliputi analisis karakteristik fisik megaskopis dan analisis karakteristik fisik mikroskopis. Analisis karakteristik kimia meliputi analisis proksimat, analisis ultimat, analisis nilai kalori, dan analisis fuel ratio. Stratigrafi daerah penelitian dari umur yang paling tua ke muda yaitu Satuan Granodiorit A (Kapur Awal), Satuan Granodiorit B (Oligosen Akhir-Miosen Awal), Satuan Endapan Aluvial (Kuarter), dan Satuan Endapan Gambut (Kuarter).
Didominasi oleh tipe gambut fibrik dengan derajat pembusukan H1-H3 dan tipe gambut hemik dengan derajat pembusukan H3-H5. Nilai reflektansi vitrinit gambut yaitu 0,17%, diklasifikasikan sebagai gambut (peat). Komposisi maseral didominasi oleh humotelinite, humodetrinite, dan teloinertinite. Rata-rata fuel ratio menunjukkan gambut daerah penelitian termasuk kategori pangapian cukup baik. Rata-rata nilai kalori gambut 5.209 kal/gr (daf). Tingginya kadar abu dan total sulfur mengindikasikan adanya anomali, anomali tersebut mengindikasikan pengaruh air laut pada saat akumulasi gambut. Berdasarkan analisis TPI-GI lingkungan pengendapan gambut pada wet forest swamp.
Peat is a choice of new energy sources that have great potential. One area that has potential for peat is in Mempawah Regency, West Kalimantan Province. The research objective was to determine the geological conditions and characteristics of peat deposits, Peniraman Area, Sungai Pinyuh District, Mempawah Regency, West Kalimantan. The method used in this research is geological mapping and peat drilling. Analysis of physical characteristics includes analysis of megascopic physical characteristics and analysis of microscopic physical characteristics. Chemical characteristic analysis includes proximate analysis, ultimate analysis, calorific value analysis, and fuel ratio analysis. The stratigraphy of the study area from oldest to youngest is Granodiorite Unit A (Early Cretaceous), Granodiorite B Unit (Late Oligocene-Early Miocene), Alluvial Sediment Unit (Quaternary), and Peat Sediment Unit (Quaternary).
Dominated by fibric peat types with H1-H3 decomposition degrees and hemic peat types with H3-H5 decomposition degrees. The reflectance value of peat vitrinite is 0.17%, classified as peat. The maceral composition is dominated by humotelinite, humodetrinite, and teloinertinite. The average fuel ratio shows that the peat in the study area is in the category of fairly good ignition. The average caloric value of peat is 5,209 cal/gr (daf). High levels of ash and total sulfur indicate an anomaly, this anomaly indicates the influence of sea water during the accumulation of peat. Based on TPI-GI analysis of peat depositional environment in wet forest swamp.
3621239224A1C018004IDENTIFIKASI KEMURNIAN MINYAK NILAM TERCAMPUR MINYAK
KEDELAI MENGGUNAKAN DERET SENSOR GAS
(MQ-SERIES MODULE) DENGAN METODE ARTIFICIAL NEURAL NETWORK
Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui respons masing-masing sensor gas MOS
dalam mengidentifikasi minyak nilam murni, minyak kedelai, dan minyak nilam yang telah
dicampur dengan minyak kedelai dengan campuran tertentu. 2) Mengetahui arsitektur dan
akurasi sensor terbaik menggunakan Artificial Neural Network (ANN) dalam
mengidentifikasi minyak nilam murni dan minyak kedelai. 3) Mengetahui arsitektur dan
akurasi sensor terbaik menggunakan ANN dalam mengidentifikasi minyak nilam murni dan
minyak nilam tidak murni (tercampur minyak kedelai). 4) Mengetahui arsitektur dan akurasi
sensor terbaik menggunakan menggunakan ANN dalam mengidentifikasi minyak nilam
tercampur minyak kedelai 0%, 1%, 5%, 10%, 15%, dan 20%. Alat yang digunakan dalam
penelitian ini berupa rangkaian alat pengukur volatil dan aroma berbasis sensor gas.
Adapun sensor yang digunakan dalam penelitian ini adalah MQ-2-1, MQ-2-2, MQ-3 MQ4 MQ-5 MQ-6 MQ-7 MQ-8 MQ-9 MQ-135. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah minyak kedelai dan minyak nilam murni.
Berdasarkan analisis boxplot, secara individu respons sensor gas MOS MQ-2-1,
MQ-2-2, MQ-4, MQ-7, MQ-8, MQ-9 dan MQ-135 mampu menangkap aroma volatil dan
mengidentifikasi minyak nilam murni dan kedelai, namun belum dapat membedakan
secara tegas antara minyak nilam murni dan tidak murni (tercampur minyak kedelai).
Identifikasi minyak nilam murni dan minyak kedelai menghasilkan akurasi 100% pada
hampir seluruh arsitektur dengan input resistansi atsiri (Rg), hal ini mengindikasikan
bahwa karakteristik aroma kedua minyak sangat berbeda. Pada identifikasi minyak nilam
murni dan minyak nilam tidak murni menghasilkan akurasi sebesar 97,7% (arsitektur 10-
19-29-2) dengan perlakuan pemanasan dan input Rg. Pada identifikasi minyak nilam
tercampur minyak kedelai 0%, 1%, 5%, 10%, 15%, dan 20% menghasilkan akurasi
terbaik 92,34% (arsitektur 10-21-32-6) pada perlakuan pemanasan dan input Rg
The objectives of this study are: 1) Knowing the response of each MOS gas sensor in
identifying pure patchouli oil, pure soybean oil, and patchouli oil that have been mixed with
soybean oil with a specific mixture. 2) Knowing the best sensor architecture and accuracy using Artificial Neural Network (ANN) in identifying pure patchouli oil and soybean oil. 3) Know the best sensor architecture and accuracy using ANN in identifying pure patchouli oil and impure patchouli oil (mixed soybean oil). 4) Knowing the best sensor architecture and accuracy using ANN in identifying 0%, 1%, 5%, 10%, 15%, and 20% soybean oil mixed with soybean oil. The tools used in this study are a series of gas sensor-based volatile and aroma measuring devices. The sensors used in this study were MQ-2-1, MQ-2-2, MQ-3, MQ-4, MQ-5, MQ6, MQ-7, MQ-8, MQ-9, and MQ-135. The ingredients used in this study were soybean oil and pure patchouli oil.
Based on boxplot analysis, individually the gas sensor responses of MOS MQ-2-1, MQ2-2, MQ-4, MQ-7, MQ-8, MQ-9 and MQ-135 are able to capture volatile aromas and identify
pure patchouli and pure soybean oils, but have not been able to distinguish unequivocally
between pure and impure patchouli oil (mixed soybean oil). The identification of pure patchouli oil and pure soybean oil results in 100% accuracy on almost all architectures with essential resistance input (Rg), indicating that the aroma characteristics of the two oils are very different. The identification of pure patchouli oil and impure patchouli oil produced an accuracy of 97.7% (architecture 10-19-29-2) with heating treatment and Rg input. On the identification of patchouli oil mixed with soybean oil 0%, 1%, 5%, 10%, 15%, and 20% resulted in the best accuracy of 92.34% (architecture 10-21-32-6) on the heating treatment and Rg input.
3621339226I1B019080Hubungan Komunikasi dan Peran Ibu dengan Perilaku Perineal Hygiene pada Remaja Putri Awal ABSTRAK
HUBUNGAN KOMUNIKASI DAN PERAN IBU DENGAN PERILAKU PERINEAL HYGIENE PADA REMAJA PUTRI AWAL
Hanin Nisa Rosiani1, Aprilia Kartikasari2, Eni Rahmawati3
Latar Belakang : Masalah kesehatan reproduksi remaja disebabkan perilaku perineal hygiene yang buruk. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan dan perawatan remaja akan pentingnya menjaga kebersihan perineal. Ibu diharapkan dapat memberikan informasi pada putrinya. Peran dan komunikasi ibu di masyarakat masih belum terlaksana dengan baik. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui hubungan komunikasi dan peran ibu dengan perilaku perineal hygiene pada remaja putri awal.
Metode : Penelitian menggunakan pendekatan cross sectional menggunakan total sampling, Jumlah responden memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi sebanyak 82 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner komunikasi ibu dengan remaja, peran ibu tentang perilaku perineal hygiene, dan perilaku perineal hygiene remaja. Analisis data menggunakan uji korelasi Chi Square.
Hasil : Hasil penelitian, data demografi rentang usia ibu adalah 30-54 tahun, pendidikan ibu mayoritas peruguruan tinggi sebanyak 42 (51,2%), dan pekerjaan ibu mayoritas bekerja sebesar 59 (72,0). Hasil analisis komunikasi menunjukan komunikasi kurang 55 (67,1%) dan peran ibu kurang 32 (39%), ananlisis perilaku perineal hygiene remaja buruk 53 (64,9%). Uji korelasi menunjukan adanya hubungan signifikan antara komunikasi ibu dengan perilaku perineal hygiene remaja putri dengan nilai p=0,003, dan peran ibu dengan perilaku perineal hygiene remaja putri dengan nilai p=0,004.
Kesimpulan : Terdapat hubungan signifikan antara komunikasi dan peran ibu dengan perilaku perineal hygiene pada remaja putri awal.
Kata Kunci : Komunikasi; peran; perineal hygiene

1,2,3 Jurusan Keperawatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman
ABSTRACT
HUBUNGAN KOMUNIKASI DAN PERAN IBU DENGAN PERILAKU PERINEAL HYGIENE PADA REMAJA PUTRI AWAL
Hanin Nisa Rosiani1, Aprilia Kartikasari2, Eni Rahmawati3
Background: Adolescent reproductive health problems are caused by poor perineal hygiene behavior. Due to lack of knowledge and care of adolescents about the importance of maintaining perineal hygiene. Mothers are expected to provide information to their daughters. The role and communication of mothers in the community is still not well implemented. The purpose of the study was to determine the relationship between communication and the role of mothers with perineal hygiene behavior in early adolescent girls.
Methods: The study used a cross sectional approach using total sampling, the number of respondents met the inclusion criteria and exclusion criteria as many as 82 respondents. The research instrument used a questionnaire. Data analysis using Chi Square correlation test.
Results: The results of the study, the demographic data of the minimum mother's age was 30 and the maximum mother's age was 54, the majority of the mother's education was higher education, and the majority of the mother's work was working. The results of the communication analysis showed that communication was lacking 55 (67.1%) and the mother's role was lacking 32 (39%), the analysis of adolescent perineal hygiene behavior was poor 53 (64.9%). Correlation test showed a significant relationship between maternal communication and perineal hygiene behavior of adolescent girls with a value of p=0.003. There is a significant relationship between the role of the mother and the perineal hygiene behavior of adolescent girls with a value of p = 0.004.
Conclusion: There is a significant relationship between communication and mother's role with perineal hygiene behavior in early adolescent girls.
Keywords: Communication, perineal hygiene, role

1,2,3 Jurusan Keperawatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman
3621439227I1B019069Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Responsive Feeding dengan Status Gizi Balita Usia 12-36 Bulan di Pujotirto Kabupaten Kebumen ABSTRAK

Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Responsive Feeding dengan Status Gizi Balita
Usia 12-36 Bulan di Pujotirto Kabupaten Kebumen
Devita Febrianti1, Dian Ramawati2, Meivita Dewi Purnamasari3

Latar Belakang: Masalah gizi ganda usia balita meliputi gizi kurang dan gizi lebih. Melalui pemberian makan yang tepat dapat mendukung terpenuhinya nutrisi pada anak balita. Peran ibu dalam pemberian makan melalui responsive feeding mampu memberikan dampak pada statusgizi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang responsive feeding dengan status gizi balita usia 12-36 bulan.
Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan rancangan penelitian cross- sectional. Sampel penelitian adalah 68 responden. Variabel independen penelitian yaitu pengetahuan dan variabel dependen yaitu status gizi. Instrumen menggunakan kuisioner. Metode analisis data pada menggunakan analisis univariat pada pendidikan, pekerjaan, usia, tingkat pengetahuan ibu tentang responsive feeding, dan status perkembangan balita serta analisis bivariat untuk menganalisis hubungan pengetahuan ibu tentang responsive feeding dengan status gizi balita usia 12-36 bulan.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan pengetahuan ibu dengan kategori baik 52,9%, cukup 23,8% dan kurang 13,2%. Gambaran status gizi balita kategori berat badan baik 70,6%, resiko berat badan lebih 19,1%, dan berat badan kurang 10,3%. Hasil analisis somers’d menunjukan adanya hubungan antara pengetahuan ibu tentang responsive feeding dengan status gizi balita usia 12-36 bulan yang ditandai dengan nilai p value <0,05.
Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang responsive feeding dengan status gizi balita usia 12-36 bulan.
ABSTRACT

Relationship between Mother's Knowledge about Responsive Feeding
with the Nutritional Status of Toddlers Age 12-36 Months in Pujotirto, Kebumen
Devita Febrianti1, Dian Ramawati2, Meivita Dewi Purnamasari3

Background: Multiple nutritional problems at the age of five include undernutrition and over nutrition. Through proper feeding can support the fulfillment of nutrition in children under five. The role of the mother in feeding through responsive feeding can have an impact on the nutritional status of children. The purpose of this research was to determine the relationship between mother's knowledge about responsive feeding and the nutritional status of toddlers aged 12-36 months.
Method: The research was a quantitative study using a cross-sectional research design. The research sample is 68 respondents. The independent variable of the research is knowledge and the dependent variable is nutritional status. The instrument used a questionnaire. Methods of data analysis used univariate analysis on education, occupation, age, level of mother's knowledge about responsive feeding, and developmental status of toddlers as well as bivariate analysis to analyze the relationship between mother's knowledge about responsive feeding and nutritional status of toddlers aged 12-36 months.
Result: The results of the research that has been done show that mother's knowledge is in the good category of 52.9%, sufficient 23.8% and less 13.2%. An overview of the nutritional status of toddlers in the good weight category is 70.6%, the risk of being over weight is 19.1%, and the underweight is 10.3%. The results of the somers’ d analysis showed that there was a relationship between mother's knowledge about responsive feeding and the nutritional status of toddlers aged 12-36 months which was indicated by a p value <0.05.
Conclution: There is a significant relationship between mother's knowledge about responsive feeding and the nutritional status of toddlers aged 12-36 months.
Keyword: Responsive Feeding, Toddlers, Nutritional Status
3621544068F1A019097HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN PENGGUNAAN MAKEUP TERHADAP TINGKAT KEPERCAYAAN DIRI MAHASISWI FISIP UNSOEDPenggunaan makeup di kalangan mahasiswi sudah menjadi hal yang lumrah dan dianggap penting oleh mahasiswi. Makeup mampu membuat pemakainya merasa terlihat lebih cantik dan menarik mampu menutupi kekurangan yang ada pada wajahnya, dan mampu membuatnya lebih percaya diri. Oleh karena itu, konsep diri dan penggunaan makeup pada mahasiswi diduga memiliki hubungan dengan tingkat kepercayaan diri. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan survei. Sasaran penelitian adalah mahasiswi angkatan 2020, 2021, 2022, dan 2023 FISIP UNSOED. Teknik sampling yang digunakan adalah proportionate random sampling. Metode pengumpulan menggunakan kuesioner melalui google form pada mahasiswi angkatan 2020, 2021, 2022, dan 2023 FISIP UNSOED. Alat uji statistik menggunakan Product Moment Pearson dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat hubungan positif antara konsep diri dengan tingkat kepercayaan diri dengan nilai korelasi sebesar 0,556, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, (2) terdapat hubungan positif antara penggunaan makeup dengan tingkat kepercayaan diri dengan nilai korelasi sebesar 0,384, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, (3) terdapat hubungan positif dan signifikan antara konsep diri dan penggunaan makeup terhadap tingkat kepercayaan diri dengan nilai korelasi sebesar 0,335, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima.The use of makeup among female college students has become commonplace and is considered important by them. Makeup can make the wearer feel more beautiful and attractive, cover up facial imperfections, and boost confidence. Therefore, self-concept and makeup usage among female college students are believed to be related to their level of self-confidence. This research is a quantitative study with a survey approach. The target of the research is female students from the 2020, 2021, 2022, and 2023 cohorts of the Faculty of Social and Political Sciences (FISIP) at UNSOED. The sampling technique used is proportionate random sampling. Data collection method involves distributing questionnaires via Google Forms to female students from the aforementioned cohorts. Statistical analysis tools used include Pearson's Product Moment correlation and multiple linear regression analysis. The research findings indicate that (1) there is a positive correlation between self-concept and self-confidence with a correlation value of 0.556, thus rejecting H0 and accepting H1, (2) there is a positive correlation between makeup usage and self-confidence with a correlation value of 0.384, thus rejecting H0 and accepting H1, (3) there is a positive and significant correlation between self-concept, makeup usage, and self-confidence with a correlation value of 0.335, thus rejecting H0 and accepting H1.
3621639229I1C016084Evaluasi Penggunaan Antibiotik Pada Pasien Anak Penderita Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPa) Dengan Metode Gyssens Di Instalasi Rawat Inap RS X PemalangInfeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPa) merupakan infeksi saluran pernafasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang berlangsung kurang lebih 14 hari. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat meningkatkan terjadinya resistensi antibiotik. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik secara kualitatif pada pasien ISPa anak. Penelitian ini bersifat deskriptif observasional secara retrospektif dengan data rekam medis pasien ISPa rawat inap di RS X Pemalang periode Januari-Desember 2021. Pengambilan data dilakukan dengan metode total sampling. Analisis data pada penelitian ini dilakukan secara kualitatif menggunakan metode Gyssens untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien ISPa anak sesuai kriteria inklusi. Hasil evaluasi penggunaan antibiotik secara kualitatif menunjukkan bahwa yang termasuk dalam kategori VI (5,68%), kategori IV A (94,32%) dan lanjutan analisis mendapat hasil dalam kategori VI (5,68%), kategori IV A (100%), kategori IIIB (97,73%), kategori IIB (43,18%) dan kategori II C (2,27%).Upper Respiratory Infection (URI) is an acute respiratory infection that attacks the throat, nose and lungs which lasts approximately 14 days. Irrational use of antibiotics can increase the occurrence of antibiotic resistance. Therefore, this research needs to be carried out with the aim of knowing the appropriateness of using antibiotics qualitatively in pediatric ISPa patients. This research is a retrospective descriptive observational study using medical records of inpatient ISPa patients at X Pemalang Hospital for the period January-December 2021. Data was collected using the total sampling method. Data analysis in this study was carried out qualitatively using the Gyssens method to evaluate the use of antibiotics in pediatric ISPa patients according to the inclusion criteria. The results of the evaluation of the use of antibiotics qualitatively showed that those included in category VI (5.68%), category IV A (94.32%) and continued analysis got results in category VI (5.68%), category IV A (100% ), category IIIB (97.73%), category IIB (43.18%) and category II C (2.27%).
3621739230I1J019005THE RELATIONSHIP BETWEEN THE INTENSITY OF SOCIAL MEDIA USE WITH DEPRESSION LEVEL IN YOUNG ADULT IN GRENDENG VILLAGEBackground: Depresi adalah gangguan mental yang paling umum di dunia. Salah satu kelompok usia yang rentan terhadap depresi adalah dewasa muda. Depresi adalah gangguan mood yang ditandai dengan gejala utama depresi, kehilangan minat dan anhedonia. Salah satu pemicu depresi lainnya adalah kebiasaan membanding-bandingkan hidup seseorang dengan orang lain yang di era digital sering terjadi akibat penggunaan media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas penggunaan media sosial dengan depresi pada dewasa muda
Method: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling untuk memenuhi kriteria responden. Besar sampel penelitian ini adalah 106 responden. Penelitian ini menggunakan Social Networking Time Usage Scale dan Beck Depression Inventory-II untuk mengukur intensitas penggunaan media sosial dan tingkat depresi. Analisis yang digunakan terdiri dari analisis univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden dan analisis bivariat menggunakan Somers'd untuk menguji hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dengan tingkat depresi.
Results of Reseach: Sebagian besar responden berada pada level tidak depresi 77 responden (72,6%) sedangkan intensitas penggunaan media sosial berada pada level sedang 88 responden (83,0%). Hasil uji Somers’d antara intensitas penggunaan media sosial dengan tingkat depresi adalah p= 0,014 (p value < 0,05) dengan koefisien korelasi 0,255.
Conclusion: Terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dengan tingkat depresi pada dewasa muda dengan hasil korelasi yang lemah antara kedua variabel.
Keyword: Dewasa Awal; Intensitas; Level Depresi; Penggunaan Sosial Media
Background: Depression is the most common mental disorder in the world. One of which is age group that prone to depression is young adults. Depression is a mood disorder characterized by the main symptoms of depression loss of interest and anhedonia. One of the other triggers of depression is the habit of comparing one's life with others which in the digital era often occurs due to the use of social media. This study aims to determine the relationship between the intensity of social media use with depression in young adults
Method: The type of research used in this study is quantitative research with a cross sectional design. The sampling technique used consecutive sampling to meet the respondent criteria. The sample size of this research was 106 respondent. This study using Social Networking Time Usage Scale and Beck Depression Inventory-II to measuring the intensity of social media use and level of depression. The analysis that was used consisted of univariate analysis to describe the characteristic of respondent and bivariate analysis using somers’d to examine the relationship between the intensity of social media use and the level of depression.
Results of Reseach: Most of respondents are at the level of not depressed 77 respondents (72.6%) as the intensity of social media use is at a moderate level 88 respondents (83.0%). The results of Somers’d test between the intensity of social media use and level depression were p= 0,014 (p value <0,05) with correlation coefficient was 0,255.
Conclusion: There is a significant relationship between the intensity of social media use with depression level in young adults with the result of a weak correlation between the two variables.
3621839231I1J019008RELATIONSHIP BETWEEN SPIRITUAL NEEDS LEVEL AND CHRONIC PAIN IN BREAST CANCER PATIENTS AT RSUD MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO ABSTRAK
HUBUNGAN TINGKAT KEBUTUHAN SPIRITUAL DENGAN NYERI
KRONIS PADA PASIEN KANKER PAYUDARA DI RSUD MARGONO
SOEKARJO PURWOKERTO
Siti Juwayriyah
1
, Iwan Purnawan2
, Reza Fajar Amalia
3
Background: Kanker payudara menjadi salah satu jenis kanker yang menduduki
peringkat terbanyak di Indonesia. Kanker payudara merupakan penyakit kanker
tertinggi yang umumnya terjadi pada wanita hingga dapat menyebabkan kematian.
Gejala umum yang ditemukan pada pasien kanker payudara adalah nyeri kronis.
Nyeri kronis merupakan salah satu diagnosis yang paling umum terjadi pada
penyakit kanker payudara. Nyeri dapat disebabkan oleh tekanan tumor yang meluas
terhadap saraf dan pembuluh darah sekitarnya. Nyeri memiliki dua indeks yaitu
tingkat keparahan nyeri dan gangguan fungsi. Kebutuhan spiritual menjadi salah
satu faktor yang dibutuhkan oleh pasien kanker payudara. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan tingkat kebutuhan spiritual dengan nyeri kronis pada
pasien kanker payudara.
Method: Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel
menggunakan consecutive sampling untuk memenuhi kriteria pasien kanker
payudara dengan nyeri kronis. Uji analisis pada penelitian ini menggunakan
Spearman Test.
Results of Reseach: Sebagian besar responden memiliki tingkat kebutuhan
spiritual tinggi 184 (58,4%) dan sebagian besar tingkat keparahan nyeri kronis
pasien kanker payudara dalam kategori ringan 238 (75,6%) serta gangguan fungsi
pada pasien kanker payudara dalam kategori ringan 198 (62,5%). Hasil uji
Spearman antara variabel tingkat kebutuhan spiritual dengan tingkat keparahan
nyeri p= .012 dan gangguan fungsi didapatkan p=.002 (P value<0,05)
Conclusion: Sebagian besar pasien kanker payudara memiliki kebutuhan spiritual
yang tinggi. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat kebutuhan spiritual
dengan tingkat keparahan nyeri dan gangguan fungsi nyeri kronis pada pasien
kanker payudara
Kata Kunci: Nyeri kronis, kanker payudara, tingkat kebutuhan spiritual
ABSTRACT
RELATIONSHIP BETWEEN SPIRITUAL NEEDS LEVEL AND CHRONIC PAIN IN BREAST CANCER PATIENTS AT RSUD MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO
Siti Juwayriyah , Iwan Purnawan , Reza Fajar Amalia

Background: Breast cancer is one of the most common types of cancer in Indonesia. Breast cancer is the most common type of cancer that commonly occurs in women and can cause death. A common symptom found in breast cancer patients is chronic pain. One of the most common diagnoses in breast cancer is chronic pain. Pain can be caused by tumor pressure that extends to the surrounding nerves and blood vessels. Pain has two indices, namely pain severity and functional impairment. Spiritual needs are one of the factors needed by breast cancer patients. This study aims to determine the relationship between the level of spiritual needs and chronic pain in breast cancer patients.
Method: The type of research used in this study is quantitative research with a cross sectional design. The sampling technique used consecutive sampling to meet the criteria for breast cancer patients with chronic pain. The analysis test in this study used the Spearman test.
Results of Research: Most respondents had high spiritual needs (184, 58.4%), and the majority of the severity of chronic pain in breast cancer patients was in the mild category 238 (75.6%), as was functional impairment in breast cancer patients 198 (62.5%). The results of the Spearman test between the variable level of spiritual needs and pain severity were p = .012 and functional impairment were p = .002 so the result is (P value <0.05).
Conclusion: Most breast cancer patients have high spiritual needs. There is a significant relationship between the level of spiritual needs and the severity of pain and impaired function associated with chronic pain in breast cancer patients.
Keywords: Breast Cancer, Chronic Pain, Spiritual
3621939232I1E018017Korelasi Kekuatan Otot Lengan, Kelentukan Pergelangan Tangan, dan Keseimbangan Terhadap Ketepatan Shooting Pada Permainan PetanqueLatar belakang: Olahraga petanque mempunyai teknik dasar khususnya nomor shooting yang membutuhkan beberapa komponen kondisi fisik sebagai faktor pendukung keberhasilan melakukan lemparan shooting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kekuatan otot lengan, kelentukan pergelangan tangan, dan keseimbangan terhadap ketepatan shooting pada permainan petanque.

Metologi: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional bertujuan untuk mengetahui korelasi variabel bebas dan terikat. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan total sampling dengan jumlah 18 atlet Rajawali Petanque Club pada bulan januari 2023. Analisis data menggukana uji korelasi product moment, korelasi ganda, dan juga sumbangan efektif dan sumbangan relatif.

Hasil penelitian: Pengambilan data uji korelasi diperoleh jika nilai signifikansi lebih kecil <0,05 (sig.<0,05) menunjukan terdapat korelasi. Berdasarkan hasil analisis Product moment, diperoleh nilai signifikansi korelasi Kekuatan Otot Lengan (X1) sebesar 0,022, Kelentukan Pergelangan Tangan (X2) 0,019, dan Keseimbangan (X3) 0,000. Sumbangan efektif (X1) 9,9%, (X2)13,2% (X3) 43,1%. Sumbangan relatif (X1) 15%, (X2) 20% (X3) 65%.

Kesimpulan: Hasil analisis data menunjukan bahwa kekuatan otot lengan, kelentukan pergelangan tangan, dan keseimbangan memiliki korelasi yang signifikansi terhadap ketepatan shooting.

Background: The sport of petanque has a basic technique, especially shooting numbers, which requires several components of physical condition as a supporting factor for successful shooting. This study aims to determine the correlation between arm muscle strength, wrist flexibility, and balance to shooting accuracy in petanque games.

Metology: This research is a quantitative research with a correlational approach aimed at determining the correlation of free and bound variables. The sampling technique in this study used a total sampling of 18 Rajawali Petanque Club athletes in January 2023. Data analysis used product moment correlation tests, double correlations, as well as effective contribution and relative donation.
.

Research results: Correlation test data collection is obtained if a significance value smaller <0.05 (sig.<0.05) indicates that there is a correlation. Based on the results of the Product moment analysis, the correlation significance value of Arm Muscle Strength (X1) of 0.022, Wrist Flexibility (X2) 0.019, and Balance (X3) 0.000 was obtained. Effective donations (X1) 9.9%, (X2)13.2% (X3) 43.1%. Relative contribution (X1) 15%, (X2) 20% (X3) 65%.

Conclusion: From the results of data analysis, it shows that arm muscle strength, wrist flexibility, and balance have a significant correlation with shooting accuracy.
3622039233I1B019038Perbedaan Abdominal Stretching Exercise dengan Pemberian Kompres Hangat dalam Mengurangi Nyeri Dismenorea Primer Remaja PutriLatar Belakang: Nyeri dismenora primer yang diakibatkan oleh meningkatnya hormon prostaglandin dapat mengganggu setiap aktivitas remaja, jadi perlu untuk dilakukan intervensi yang tepat dan nyaman untuk dilakukan di rumah. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbandingan antara intervensi Abdominal Stretching Exercise dengan intervensi pemberian kompres hangat dalam mengurangi nyeri dismenorea primer pada remaja putri.
Metodologi: Penelitian eksperimental dengan pendekatan Two grup pre-test post-test design. Jumlah sampel keseluruhan 23 orang setiap kelompok dengan accidental sampling. Pengukuran skala nyeri menggunakan NRS. Analisis univariat dilakukan dengan analisis deskriptif. Analisis bivariat dilakukan uji Shapiro-Wilk, uji Levene’s test, uji Paired Simple T-test dan uji Independent T-test.
Hasil Penelitian: Nilai rata-rata skala nyeri awal 5,61 pada kelompok kompres hangat dan 6,00 pada kelompok abdominal stretching exercise. Nilai rata-rata skala nyeri pada Post-test kelompok kompres hangat 3,52 dan kelompok abdominal stretching exercise 2,30. Pada kedua kelompok, uji normalitas data didapat p<0,05 dan uji homogenitas p=0,05. Hasil uji Paired Simple T-test dalam setiap kelompok didapat p<0,05 dan uji Independent T-test antar kelompok didapat nilai p<0,05.
Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna dalam penurunan nyeri dismenorea primer pada remaja putri antara kelompok kompres hangat dengan kelompok abdominal stretching exercise.
Kata Kunci: Dismenorea, Abdominal Stretching exercise, Kompres Hangat
Background: Primary dysmenorrhea pain caused by increased prostaglandin hormones can interfere with any youth activity, so proper and comfortable intervention is needed at home. Research aims to determine the comparison between abdominal stretching exercise intervention versus warm compress intervention in reducing primary dysmenorrhea pain in young women.
Methodology: Experimental research with approach to two pre-test post-test design. The total number of samples was 23 people each group with accidental sampling. The scale of pain measures using the NRS. Univariates analysis is done with a descriptive analysis. Bivariate analysis does with Shapiro-wilk normality test, Levene's homogeneity test, Paired Simple T-test and Independent T-test.
Research results: An average value of initial pain levels is 5,61 for warm compress group and 6,00 for abdominal stretching exercise group. The average amount of paint at Post-test in the warm compress group is 3,52 and in the abdominal stretching exercise group is 2,30. In both groups, the normality data test are obtained p<0,05 and the homogenity test p= 0,05. Simple T-test results individual groups are obtained p<0,05 and Independent T-test beetwen groups obtained p<0.05.
Conclusion: There is a significant difference in the decline in the young women's primary dysmenorrhea pain between the hot comping group and the soccer soccer soccer soccer.
Keywords: Dysmenorrhea, Abdominal Stretching exercise, Warm compress