Artikelilmiahs

Menampilkan 35.541-35.560 dari 49.863 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
3554138680C1I018031Factors Influencing Dividend Policy in Property and Real Estate Sector Companies Listed on IDXPenelitian ini menguji pengaruh profitabilitas, likuiditas, rasio aktivitas,
solvabilitas, dan investment opportunity set terhadap kebijakan dividen pada
perusahaan sector property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
dengan menggunakan teori agensi dan teori sinyal. Data pada penelitian ini
menggunakan data kuantitatif yang diperoleh melalui website idx dan perusahaan
terkait. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan sector property dan real
estate sebanyak 15 perusahaan dengan jumlah sampel data 60. Pengambilan sampel
pada penelitian ini menggunakan purpossive sampling sehingga jumlah sampel data
yang diperoleh ialah 46. Adanya data outlier pada saat dilakukan pengujian
membuat jumlah sampel data berkurang sehingga pada penelitian ini sampel data
yang digunakan berjumlah 38 observasi.
Analisis data menggunakan SPSS V 26. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa (1) profitabilitas berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen, (2)
likuiditas tidak berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen, (3) rasio aktivitas
tidak berpengaruh terhadap poistif terhadap kebijakan dividen, (4)solvabilitas tidak
berpengaruh negative terhadap kebijakan dividen, (5) Investment opportunity set
tidak berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen. Implikasi dari penelitian ini
adalah agar para investor lebih memperhatikan kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba di setiap tahunnya karena hal tersebut akan berpengaruh pada
kebijakan dividen. Selain itu diharapkan supaya perusahaan dapat mempertahankan
dan juga meningkatkan hasil keuntungan yang diperoleh dari setiap aktivitas bisnis,
mampu menjaga porsi hutang , dam meningkatkan kualitas perusahaan karena hal
tersebut akan mempenagruhi kebijakan – kebijakan dividen.
This study uses agency theory and signal theory to examine the effect of
profitability, liquidity, activity ratios, solvency, and investment opportunity set on
dividend policy in property and real estate sector companies listed on the Indonesia
Stock Exchange. This study used quantitative data obtained through the IDX
website and related companies. This study employed quantitative data received
through the IDX website and affiliated companies. The population in this study was
15 companies in the property and real estate sector, with a sample size of 60.
Sampling in this study used purposive sampling so that the number of data samples
obtained was 46. The number of data samples used in this study was limited to 38
observations due to the presence of outlier data during testing.
Data analysis used SPSS V 26 for Windows. The results showed that (1)
profitability has a positive effect on dividend policy, (2) liquidity has no positive
effect on dividend policy, (3) activity ratio has no positive effect on dividend policy,
(4) solvency has not has a negative effect on dividend policy, (5) Investment
opportunity set has no positive effect on dividend policy. The implication of this
research is that investors pay more attention to the company's ability to generate
profits every year because this will affect dividend policy. In addition, it is hoped
that the company can maintain and also increase the profits obtained from each
business activity, be able to maintain the portion of debt, and improve the quality
of the company because this will affect dividend policies.
3554238681D1A018156IDENTIFIKASI NEMATODA DAN PREVALENSI NEMATODIASIS PADA KAMBING DENGAN KATEGORI UMUR YANG BERBEDA DI KECAMATAN SOMAGEDE, KABUPATEN BANYUMAS
Latar Belakang. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi jenis nematoda pada feses ternak kambing dan mengetahui prevalensi (tingkat infeksi) nematodiasis pada ternak kambing dengan kategori umur yang berbeda di Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas. Uji sampel dilakukan di Laboratorium Kesehatan Ternak Tipe-B Purwokerto. Sasaran penelitian ini adalah peternak dan ternak kambing dengan berbagai umur di Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yaitu menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Penelitian menggunakan 99 sampel, setiap sampel, setiap sampel sebanyak 5 gram feses kambing. Metode untuk menentukan jenis cacing yang terdapat pada feses yaitu uji apung. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis Chi-Square. Hasil pemeriksaan sampel menunjukkan sebanyak 81 sampel positif terinfeksi nematodiasis dan 18 sampel negatif. Prevalensi nematodiasis pada kambing di Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas termasuk tinggi yaitu sebesar 81,82%, hasil menunjukkan bahwa ternak yang berumur lebih dari 12 bulan memiliki kejadian nematodiasis tertinggi dengan jumlah 30 atau 30,3%, umur 6-12 bulan dengan jumlah 29 atau 29,3%, dan umur 3-5 bulan dengan jumlah 22 atau 22,22% dari total sampel. Identifikasi jenis nematoda didapatkan 8 jenis nematoda yang menginfeksi kambing antara lain Capillaria sp, Strongyle sp, Strongyloides sp, Trichostrongylus sp, Trichuris sp, Bunostomum sp, Haemonchus sp, dan Cooperia sp. Hasil analisis data menggunakan chi-square menunjukkan P > 0,05 berarti tidak ada hubungan antara umur dengan tingkat prevalensi nematodiasis pada kambing berbagai umur di Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas. Kesimpulan yang didapatkan yaitu umur tidak hubungan terhadap kejadian nematodiasis di Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas, namun umur ternak kambing lebih dari 12 bulan lebih banyak yang terkena penyakit cacing nematodiasis dibandingkan umur ternak kambing kurang dari 12 bulan.Background. This study was conducted to identify the type of nematodes in goat faeces and to determine the prevalence (infection rate) of nematodiasis in goats of different age categories in Somagede District, Banyumas Regency. The sample test was carried out at the Type-B Livestock Health Laboratory in Purwokerto. The target of this research were goat breeders and livestock of various ages in Somagede District, Banyumas Regency. The research method is using a survey method with a purposive sampling technique. The study used 99 samples, each sample, each sample as much as 5 grams of goat feces. The method for determining the type of worms found in feces is the buoyancy test. Data analysis used is descriptive analysis and Chi-Square analysis. The results of the sample examination showed that 81 samples were positively infected with nematodiasis and 18 samples were negative. The prevalence of nematodiasis in goats in Somagede District, Banyumas Regency is high, namely 81.82%, the results show that livestock aged more than 12 months have the highest incidence of nematodiasis with a total of 30 or 30.3%, aged 6-12 months with a total of 29 or 29.3%, and aged 3-5 months with a total of 22 or 22.22% of the total sample. Identification of nematode types found 8 types of nematodes that infect goats including Capillaria sp, Strongyle sp, Strongyloides sp, Trichostrongylus sp, Trichuris sp, Bunostomum sp, Haemonchus sp, and Cooperia sp. The results of data analysis using chi-square showed P > 0.05 meaning there was no relationship between age and the prevalence rate of nematodiasis in goats of various ages in Somagede District, Banyumas Regency. The conclusion obtained is that age has no relationship to the incidence of nematodiasis in Somagede District, Banyumas Regency, but more goats aged more than 12 months are affected by nematodiasis worm disease compared to goats aged less than 12 months.
3554338684A1D019018MEKANISME ANTAGONIS BAKTERI FUNGSIONAL AGENS BIOUREA TERHADAP
PERTUMBUHAN Fusarium oxysporum f.sp lycopersici in vitro
Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici (FOL) merupakan patogen tular tanah penyebab penyakit layu fusarium dan menyebabkan kerugian 20-30% pada tanaman tomat. Alaternatif pengendalian ramah lingkungan yang dapat diterapkan yaitu pengembangan Biourea berbasis bakteri antagonis, sehingga dapat menerapkan pengendalian hayati dan Urea dalam waktu bersamaan, serta dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan antagonis bakteri fungsional dan mekanismenya terhadap pertumbuhan FOL, serta memilih isolat potensial sebagai agens pengembangan Biourea. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bakteriologi dan Mikologi, Badan Riset Inovasi Nasional dan Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Variabel penelitian berupa kemampuan bakteri memfiksasi nitrogen, produksi enzim protease, siderofor, dan HCN dianalisis secara deskriptif. Uji antagonis dan bobot miseium FOL dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan antagonisme 6 isolat bakteri fungsional yaitu A8, C1TR7, TSB2, R11, R18, dan R20, serta K sebagai kontrol dengan ulangan sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukan bahwa 6 isolat bakteri fungsional positif memiliki kemampuan memfiksasi nitrogen, menghasilkan enzim protease, siderofor, dan HCN. Selain itu, semua perlakuan bakteri fungsional efektif mengendalikan FOL dan menurunkan bobot miselium FOL. Perlakuan R18 menghasilkan zona hambat terbesar, yaitu sebesar 55,55% dan bobot miselium sebesar 0,0417 g. Mekanisme antagonis yang dimiliki keenam isolat bakteri fungsional tersebut adalah antibiosis.Fusarium oxysporum f.sp. lycopersici (FOL) is a soil-borne pathogen that causes fusarium wilt and causes 20-30% loss in tomato plants. Environmentally friendly control alternatives that can be applied are the development of antagonistic bacteria-based Biourea, so that biological and Urea control can be applied at the same time, and can increase fertilization efficiency. The aims of this study were to determine the ability of functional bacterial antagonists and their mechanisms for FOL growth, as well as to select potential isolates as biourea development agents. The research was carried out at the Bacteriology and Mycology Laboratory, the National Innovation Research Agency and the Plant Protection Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The research variables in the form of the ability of bacteria to fix nitrogen, the production of protease enzymes, siderophores, and HCN were analyzed descriptively. Antagonistic test and FOL mycelium weight were carried out using a completely randomized design (CRD) with antagonism treatment of 6 functional bacterial isolates namely A8, C1TR7, TSB2, R11, R18, and R20, and K as a control with 4 replications. The results showed that 6 positive functional bacterial isolates had the ability to fix nitrogen, produce protease enzymes, siderophores, and HCN. In addition, all functional bacterial treatments were effective in controlling FOL and reducing FOL mycelium weight. The R18 treatment produced the largest inhibition zone, which was 55.55% and a mycelium weight of 0.0417 g. The antagonistic mechanism of the six functional bacterial isolates is antibiosis.
3554438606K1A018016SINTESIS NANOPARTIKEL PERAK MENGGUNAKAN BIOREDUKTOR EKSTRAK DAUN MANGGA ARUM MANIS (Mangifera indica L. var. arum manis) DAN APLIKASINYA SEBAGAI SALEP ANTIJAMUR ABSTRAK
Sediaan salep dari tanaman mangga arum manis (Mangifera indica L. var. arum manis) dapat dikembangkan potensinya menggunakan nanopartikel perak. Nanopartikel perak disintesis menggunakan metode reduksi dengan penambahan PVA 5% sebagai stabilisator. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui aktivitas antijamur ekstrak dan fraksi daun mangga arum manis, NPAg tanpa dan dengan penambahan PVA 5%, dan sediaan salep terhadap jamur M. furfur, serta mengetahui karakterisasi dari NPAg 0,2 M, NPAg 0,2 M + PVA 5%, dan sediaan salep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi metanol memiliki zona hambat lebih besar dari ekstrak metanol, fraksi etil asetat, dan fraksi n-heksana yaitu 3,65 nm. Berdasarkan hasil analisis spektrofotometer UV-Vis sampel NPAg dengan dan tanpa PVA 5% memiliki serapan panjang gelombang maksimum pada rentang 457 – 489 nm. NPAg 0,2 M memiliki zona hambat terbesar untuk variasi NPAg tanpa penambahan PVA 5% yaitu 8,50 mm. NPAg 0,2 M + PVA 5% memiliki zona hambat terbesar untuk variasi NPAg dengan penambahan PVA 5% yaitu 7,15 mm. Hasil analisis FTIR menunjukkan terdapat pergeseran bilangan gelombang setelah terbentuk NPAg pada gugus fungsi O-H, C=O, dan ikatan C=C aromatik. Identifikasi ukuran menggunakan PSA menunjukkan NPAg 0,2 M berukuran 76 nm dengan volume 20,2%, dan NPAg 0,2 M + PVA 5% berukuran 84,8 nm dengan volume 60,7%. Volume (%) menunjukkan keseragaman ukuran partikel dari NPAg, hal ini menunjukkan NPAg yang terbentuk belum memiliki ukuran yang seragam. Hasil analisis kualitatif SEM-EDX menunjukkan NPAg yang terbentuk memiliki ukuran partikel tidak seragam dan distribusi partikel tidak merata. Hasil kuantitatif SEM-EDX menunjukkan nanopartikel perak yang terbentuk mengandung unsur C, N, O, dan Ag. Sediaan salep memiliki warna putih, berbentuk semi padat, tidak berbau tengik, bersifat homogen, memberikan proteksi yang baik, daya sebar 5,10 – 5,77 cm, daya lekat 1,48 – 27,29 menit, dan pH 4,50 – 5,83. Sediaan salep F1 memiliki zona hambat terbesar dibandingkan formulasi lainnya yaitu 6,67 mm.
ABSTRACT
Ointment preparations from arum manis mango (Mangifera indica L. var. arum manis) can be developed using silver nanoparticles. Silver nanoparticles were synthesized using the reduction method with the addition of 5% PVA as a stabilizer. The purpose of this study was to determine the antifungal activity of mango arummanis leaf extract and fraction, NPAg without and with the addition of 5% PVA, and ointment preparations against M. furfur fungus, and to determine the characterization of NPAg 0.2 M, NPAg 0.2 M + PVA 5%, and ointment preparations. The results showed that the methanol fraction had a larger inhibition zone than the methanol extract, ethyl acetate fraction, and n-hexane fraction, namely 3.65 nm. Based on the results of UV-Vis spectrophotometer analysis, NPAg samples with and without 5% PVA had maximum wavelength absorption in the range of 457 – 489 nm. 0.2 M NPAg had the largest inhibition zone for the NPAg variation without 5% PVA addition, namely 8.50 mm. 0.2 M NPAg + 5% PVA had the largest inhibition zone for the variation of NPAg with the addition of 5% PVA which was 7.15 mm. The results of the FTIR analysis showed that there was a shift in wave number after the formation of NPAg in the functional groups O-H, C=O, and aromatic C=C bonds. Size identification using PSA showed 0.2 M NPAg measuring 76 nm with a volume of 20.2%, and 0.2 M NPAg + 5% PVA measuring 84.8 nm with a volume of 60.7%. Volume (%) indicates the uniformity of the particle size of NPAg, this indicates that the NPAg formed does not have a uniform size. The results of the SEM-EDX qualitative analysis showed that the NPAg formed had non-uniform particle sizes and uneven particle distribution. Quantitative results of SEM-EDX showed that the silver nanoparticles formed contained C, N, O, and Ag elements. The ointment preparation has a white color, semi-solid form, does not smell rancid, is homogeneous, provides good protection, spreads 5.10 – 5.77 cm, sticks 1.48 – 27.29 minutes, and pH 4.50 – 5.83. F1 ointment has the largest inhibition zone compared to other formulations, namely 6.67 mm.
3554538685G1B015041Perbedaan Kebocoran Mikro Komposit Nanohybri Pasca Aplikasi Etsa Asam Tartarat Antara Konsentrasi 10%, 35%, dan 40% Pada Kavitas Kelas I
Resin komposit merupakan bahan yang paling sering digunakan sebagai bahan restorasi. Pemberian etsa asam merupakan salah satu prosedur untuk membantu menyediakan tempat untuk penetrasi bahan bonding dan resin komposit. Bahan etsa yang sering digunakan yaitu asam fosfat 37%, namun penggunaan asam fosfat 37% menyebabkan infiltrasi sel inflamasi. Asam tartarat yang merupakan asam lemah memiliki potensi sebagai alternatif etsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kebocoran mikro komposit nanohybrid pasca aplikasi etsa asam tartarat antara konsentrasi 10%, 35%, dan 40% dalam pencegahan kebocoran mikro. Penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimental laboratoris yang dilakukan secara in-vitro dengan rancangan penelitian berupa posttest-only group design. Penelitian ini menggunakan sampel 24 gigi premolar satu rahang atas yang dibagi menjadi 4 kelompok secara acak. Kelompok I menggunakan asam tartarat 10%, kelompok II menggunakan asam tartarat 35%, kelompok III menggunakan asam tartarat 40% dan kelompok IV menggunakan etsa asam fosfat 37%. Skoring kebocoran mikro dilakukan menggunakan mikroskop stereo. Hasil Uji LSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kebocoran mikro komposit nanohybrid pasca aplikasi etsa asam tartarat konsentasi 10%, 35%, 40%, dan fosfat 37% pada kavitas kelas I. Asam tartarat konsentrasi 40% dapat digunakan sebagai alternatif etsa asam fosfat 37% dalam pencegahan kebocoran mikro.Composite resin is the material most often used as a restorative material. Acid etching is one of the procedures to help provide a place for penetration of bonding materials and composite resins. The acidic etching material that is often used is 37% phosphoric acid, but 37% phosphoric acid can cause inflammatory cell infiltration. Tartaric acid composed of weak acids that has potential to be an alternative acid etching The aim of this study is to determine whether there are differences in microleakage of nanohybrid composites after application of tartaric acid etching between concentrations of 10%, 35%, and 40% in prevention of microleakage. This research is a laboratory experimental research with a posttest-only group design. Research samples are 24 maxillary first premolar were divided in 4 groups. Group I with 10% tartaric acid, group II with 35% tartaric acid, group III with 40% tartaric acid and group IV with 37% phosphoric acid etching. Based on the results of the LSD test it shows that There is microleakage of nanohybrid composites after etching application of tartaric acid concentrations of 10%, 35%, 40%, and 37% phosphate in class I cavities. Tartaric acid concentration of 40% can be used as an alternative to etching 37% phosphoric acid in preventing microleakage.
3554638686F1D015031KRITIK ATAS RASISME DI AMERIKA SERIKAT DALAM VIDEO MUSIK “THIS IS AMERICA” OLEH CHILDISH GAMBINOArtikel hasil penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan kritik dan protes atas rasisme dalam Musik Video “This Is America”. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan semiotika dalam bingkai perspektif pascastrukturalisme dan paradigma non-positivisme. hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa kritik atas rasisme dalam musik video “This Is America” dapat ditelusuri melalui film, seperti yang terdapat dalam musik video “This Is America”. Selain itu, hasil penelitian tersebut juga membuktikan bahwa rasisme dalam musik video “This Is America” merepresentasikan kritik atas rasisme di Amerika Serikat. Melalui adegan pilihan yang menjadi sasaran penelitian dalam penelitian tersebut, maka rasisme di Amerika Serikat masih serint terjadi sampai hari ini dengan bentuk-bentuk baru. Rasisme adalah hasil dari kolonialisme yang terus hidup dan berkembang hingga era pascakolonial. Dalam musik video “This Is America” rasisme ditampilkan dalam bingkai media yang selalu menutup-nutupi realitas yang ada dengan konsumerisme dan hal-hal entertain lainnya.This research article aims to understand and describe the criticism and protests against racism in the music video "This Is America". By using qualitative methods and semiotic approaches within the perspective of post-structuralism and non-positivism paradigms. the results of the study revealed that criticism of racism in the music video for "This Is America" can be traced through films, as contained in the music video for "This Is America". In addition, the results of this study also prove that racism in the music video for "This Is America" represents criticism of racism in the United States. Through the selected scenes which are the research targets in this study, racism in the United States still occurs frequently to this day with new forms. Racism is the result of colonialism which continues to live and develop into the postcolonial era. In the music video "This Is America" racism is displayed in a media frame that always covers up the existing reality with consumerism and other entertainment matters.
3554738687E1A019203PERWALIAN ANAK YATIM PIATU DI BAWAH UMUR (Tinjauan Yuridis Putusan Pengadilan Agama Jember Nomor 2421/Pdt.P/2021/PA.Jr )Perwalian terhadap Anak di bawah umur yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tua berada di bawah kekuasaan seorang wali diatur dalam Pasal 50 dan 51 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Perwalian diatur lebih khusus dalam Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2019 Tentang Syarat dan Tata Cara Penunjukan Wali dimana disebutkan bahwa seseorang harus memenuhi persyaratan untuk bertindak sebagai wali salah satunya memiliki kemampuan ekonomi.
Rumusan masalah penelitian ini adalah untuk mengetahui pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan permohonan perwalian anak yatim piatu yang masih di bawah umur dan untuk mengetahui akibat hukum dikabulkannya permohonan perwalian dalam Putusan Pengadilan Agama Jember Nomor : 2421/Pdt.P/2021/PA.Jr. Tipe Penelitian yuridis normatif, Metode Pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus, Spesifikasi penelitian perskriptif analitis. Data yang digunakan adalah data sekunder. Data yang telah diperoleh kemudian diolah dan dianalisis dengan metode normatif kualitatif dan disajikan dalam bentuk teks naratif yang sistematis, logis, dan rasional.
Hasil penelitian dan pembahasan menunjukan bahwa hakim dalam mengabulkan permohonan perwalian hanya mendasarkan pada Pasal 47 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Penguasaan orang tua terhadap anak yang masih di bawah umur tanpa mempertimbangkan perkara aquo yang seharusnya menggunakan Pasal 50 dan Pasal 51 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perwalian terhadap anak yang masih di bawah umur dan sudah tidak berada di bawah kekuasaan orang tua. Selain itu, Menurut peneliti hakim hendaknya juga menambahkan Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2019 Tentang Syarat Dan Tata Cara Penunjukan Wali, dimana salah satu syarat yang harus dipenuhi pemohon perwalian adalah mampu secara ekonomi. pemohon dalam dalilnya menyatakan tidak bekerja sehingga hakim seharusnya memastikan kondisi ekonomi pemohon terlebih dahulu sebelum memutuskan permohonan perwalian ini. Akibat hukum dikabulkannya permohonan ini adalah timbulnya hak dan kewajiban seorang wali yang diatur dalam Pasal 50 dan Pasal 51 ayat (3) sampai (5) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Pengaturan mengenai kewajiban wali juga diatur dalam Pasal 2 dan Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2019 Tentang Syarat dan Tata Cara Penunjukan Wali.
Guardianship of minors who are not under parental authority is under the authority of a guardian regulated in Articles 50 and 51 of Law Number 1 Year 1974 concerning Marriage. Guardianship is regulated more specifically in Government Regulation Number 29 of 2019 concerning Terms and Procedures for Appointment of Guardians where it is stated that a person must fulfil the requirements to act as a guardian, one of which has economic ability.
The formulation of this research problem is to find out the judge's legal considerations in granting the guardianship applications for orphans who are still minors and to find out the legal consequences of granting guardianship applications in the Jember Religious Court Decision Number: 2421/Pdt.P/2021/PA.Jr. Normative juridical research type, Methods Statutory and case approach, analytical descriptive research specification. The data used is secondary data. The data that has been obtained is then processed and analysed by qualitative normative methods and presented in the form of narrative text that is systematic, logical and rational.
The results of the research and discussion showed that the judge in granting the guardianship application was only based on Article 47 of Law Number 1 Year 1974 concerning Parental Control of Minors without considering the aquo case which should use Article 50 and Article 51 of Law Number 1 Year 1974 concerning Guardianship of Minors and is no longer under parental authority. In addition, according to the researcher, the judges should also add Article 5 of Government Regulation Number 29 of 2019 concerning the Terms and Procedures for Appointment of Guardians, where one of the conditions that must be met by the petitioner for guardianship is economic capability. The petitioner in her argument stated that she did not work so the judge should have ascertained the petitioner's economic condition first before deciding on this guardianship application. The legal consequences of the granting of this application is the emergence of the rights and obligations of a guardian which are regulated in Article 50 and Article 51 paragraphs (3) to (5) of Law Number 1 of 1974 concerning Marriage. Regulations regarding the obligations of guardians are also regulated in Article 2 and Article 14 of Government Regulation Number 29 of 2019 concerning Terms and Procedures for the Appointment of Guardians.
3554844008C1A020034ANALISIS SEKTOR BASIS DAN NON BASIS PEREKONOMIAN DI KABUPATEN PUNCAK PROVINSI PAPUA TAHUN 2018-2022 Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis sektor basis dan non basis, sektor basis di masa yang akan datang, sektor unggulan, prospektif, andalan, dan tertinggal, serta pertumbuhan suatu sektor dan daya saingnya. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Static Location Quotient (SLQ), Dynamic Location Quotient (DLQ), Overlay, dan Shift Share.
Berdasarkan hasil analisis SLQ yang menunjukkan sektor basis dan analisis DLQ yang menunjukkan sektor dapat diharapkan menjadi sektor basis di masa yang akan datang dilakukan analisis overlay antara dua analisis tersebut yang menunjukkan terdapat empat sektor yang termasuk sektor unggulan yaitu (1) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; (2) Konstruksi; (3) Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor; (4) Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib dan 13 sektor lainnya merupakan sektor andalan. Kemudian berdasarkan analisis shift share terdapat empat sektor yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian dengan pertumbuhan serta daya saing yang tinggi yaitu (1) Pengadaan Listrik dan Gas; (2) Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor; (3) Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial; (4) Jasa Lainnya.
Implikasi dari penelitian ini yaitu pemerintah dapat meningkatkan pengembangan sektor basis, sektor yang dapat diharapkan menjadi basis di masa yang akan datang, sektor unggulan serta andalan dalam analisis overlay, dan sektor dengan pertumbuhan tinggi dan berdaya saing melalui penyediaan akses yang lebih mudah terkait perizinan usaha maupun penanaman modal dalam aspek kegiatan ekonomi. Pemerintah Kabupaten Puncak dapat mendorong pembangunan infrastruktur pendukung dan membuat kebijakan untuk mempermudah pertumbuhan sektor yang memiliki pertumbuhan rendah dan daya saing yang masih rendah, melakukan peninjauan hubungan kerja sama dengan masyarakat dan pihak swasta sehingga dapat memperbaiki ataupun meningkatkan hubungan kerja sama.
The purpose of this research is to analyze the basic and non-basic sectors, the basic sector in the future, the leading, prospective, mainstay, and lagging sectors, as well as the growth of a sector and its competitiveness.
Based on the results of SLQ analysis which shows the base sector and DLQ analysis which shows the sector can be expected to become a base sector in the future, an overlay analysis between the two analyses is carried out which shows that there are four sectors that are included as leading sectors, namely (1) Agriculture, Forestry and Fisheries; (2) Construction; (3) Wholesale and Retail Trade, Car and Motorcycle Repair; (4) Government Administration, Defense and Compulsory Social Security and 13 other sectors are mainstay sectors. Then based on shift share analysis, there are four sectors that have a large contribution to the economy with high growth and competitiveness, namely (1) Electricity and Gas Procurement; (2) Wholesale and Retail Trade; Car and Motorcycle Repair; (3) Health Services and Social Activities; (4) Other Services.
The implication of this research is that the government can improve the development of the base sector, sectors that can be expected to become the base in the future, leading and mainstay sectors in overlay analysis, and sectors with high growth and competitiveness through providing easier access related to business licensing and investment in aspects of economic activity. The Puncak Regency Government can encourage the development of supporting infrastructure and make policies to facilitate the growth of sectors that have low growth and low competitiveness, review cooperative relationships with the community and the private sector so that they can improve or increase cooperative relationships.
3554938688G1A019052PERBEDAAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN COVID-19 YANG DIRAWAT DI RUANG ISOLASI INTENSIF DIBANDINGKAN NON INTENSIF DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTOPERBEDAAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN COVID-19 YANG DIRAWAT DI RUANG ISOLASI INTENSIF DIBANDINGKAN NON INTENSIF DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

Faiq Muhammad Ammar¹, Rachmad Aji Saksana², Wahyu Siswandari³
Fakultas Kedokteran, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Indonesia
Email: faiq152001@gmail.com
ABSTRAK

Latar Belakang – Covid-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 dan dapat mengenai berbagai organ dengan berbagai tingkat keparahan. Peningkatan kadar gula darah berkaitan dengan derajat keparahan penyakit.
Tujuan – Mengetahui perbedaan kadar gula darah pada pasien Covid-19 yang dirawat di ruang isolasi intensif dibandingkan non intensif di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto.
Metode – Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain cross sectional. Data yang digunakan adalah data sekunder kadar gula darah sewaktu pasien rawat inap sesuai dengan rekam medis RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo dalam rentang waktu 1 Januari - 31 Desember 2021. Data dianalisis menggunakan uji non parametrik Mann-Whitney dan uji Chi-Square menggunakan software IBM SPSS 22.0.
Hasil – Jumlah data yang terkumpul sesuai kriteria inklusi dan eksklusi adalah 2.715 data dengan 48 data pasien di rawat di ruang intensif dan 2.667 data pasien di ruang non intensif. Rerata kadar gula darah pasien di ruang intensif (155,02 mg/dL) lebih tinggi dibandingkan pasien di ruang non intensif (127,82 mg/dL). Hasil uji Mann-Whitney dan Chi-Square mendapatkan hasil p value yang tidak signifikan yaitu 0,058 dan 0,398.
Kesimpulan – Rata-rata kadar gula darah lebih tinggi pada pasien Covid-19 yang dirawat di ruang intensif dibanding dengan non intensif, namun secara statistik tidak ditemukan perbedaan yang bermakna pada kadar gula darah.
DIFFERENCES IN BLOOD SUGAR LEVELS IN COVID-19 PATIENTS TREATED IN INTENSIVE ISOLATION WARDS COMPARED TO NON-INTENSIVE WARDS AT RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

Faiq Muhammad Ammar¹, Rachmad Aji Saksana², Wahyu Siswandari³
Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Indonesia
Email: faiq152001@gmail.com

ABSTRACT

Background - Covid-19 is an infectious disease caused by the SARS-CoV-2 virus and can affect various organs with varying degrees of severity. Increased blood sugar levels are related to the degree of disease severity.
Objective – To find out the differences in blood sugar levels in Covid-19 patients treated in intensive isolation wards compared to non-intensive wards at Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto.
Method - This research method is analytic observational with cross sectional design. The data used is secondary data on blood sugar levels during inpatient care according to the medical records of Prof. Hospital. Dr. Margono Soekarjo in the period 1 January - 31 December 2021. Data were analyzed using the non-parametric Mann-Whitney test and the Chi-Square test using IBM SPSS 22.0 software.
Results - The total number of data collected according to the inclusion and exclusion criteria was 2,715 with 48 patient treated in intensive wards and 2,667 patient in non-intensive wards. The mean blood sugar level of patients in the intensive care unit (155.02 mg/dL) is higher than patients in the non-intensive care unit (127.82 mg/dL). The results of the Mann-Whitney and Chi-Square tests obtained insignificant p values of 0.058 and 0.398.
Conclusion - The average blood sugar level is higher in Covid-19 patients treated in intensive care than non-intensive care, but statistically no significant differences are found in blood sugar levels.
3555038689B1A018141KEANEKARAGAMAN KARAKTER ANATOMI DAUN SRIKAYA (Annona squamosa L.) DI PURWOKERTO DAN SEKITARNYASrikaya (Annona squamosa L.) merupakan tanaman buah yang termasuk dalam familia Annonaceae, berasal dari daerah tropis yang tersebar luas terutama wilayah Indonesia. Srikaya termasuk tanaman yang dikenal dengan kaya akan manfaat dan kandungan gizi yang cukup tinggi. Tanaman srikaya memiliki potensi menarik untuk dikaji hubungan kekerabatan berdasarkan anatominya. Karakter anatomi dapat digunakan sebagai metode fenetik untuk mengetahui fungsi struktur tanaman, penentuan batasan antar takson dan hubungan fenetik suatu jenis tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk 1) mengetahui variasi karakter anatomi daun srikaya dan 2) mengetahui hubungan fenetik srikaya berdasarkan karakter anatomi daun. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Lokasi penelitian sampling berada di empat kecamatan yaitu Kecamatan Purwokerto Utara, Kecamatan Purwokerto Timur, Kecamatan Kembaran, dan Kecamatan Sumbang. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Struktur dan Perkembangan Tumbuhan Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Februari-April 2022. Variabel yang diamati adalah karakter anatomi daun dengan parameter yang meliputi tebal epidermis, tebal kutikula, tebal mesofil, indeks stomata, panjang dan lebar stomata, letak stomata, tipe stomata, jumlah stomata dan trikoma per mm2 luas daun, tipe trikoma, panjang trikoma, tebal spons, tebal palisade, dan rasio palisade. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui variasi karakter anatomi dan untuk mengetahui hubungan fenetik dianalisis menggunakan metode Unweighted Pair Group Method Arithmatic Average (UPGMA) dengan software MEGA 6.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter tipe stomata, letak stomata, dan tipe trikoma memiliki hasil yang sama di setiap masing-masing lokasi. Karakter panjang stomata, lebar stomata, jumlah stomata, indeks stomata, panjang trikoma, jumlah trikoma, tebal kutikula atas, tebal kutikula bawah, tebal epidermis atas, tebal epidermis bawah, tebal palisade, tebal spons, tebal mesofil, dan rasio palisade memiliki perbedaan secara kuantitatif di setiap masing-masing lokasi. Berdasarkan analisis ragam karakter tebal epidermis atas dan epidermis bawah berbeda nyata pada setiap lokasi tempat tumbuh. Hubungan fenetik paling dekat antara srikaya Bancarkembar dan srikaya Tambaksari kidul dengan nilai indeks dissimilaritasnya 0,0605, sedangkan hubungan terjauh srikaya Bancarkembar dan srikaya Grendeng dengan nilai indeks dissimilaritas 0,7867.Srikaya (Annona squamosa L.) is a fruit plant that belongs to the family Annonaceae, originate from the tropics which are widespread, especially in Indonesia. Srikaya is a plant that is known for its rich benefits and high nutritional content. Srikaya plants have interesting potential to be studied for relationships based on their anatomy. Anatomical characters were used as a phenetic method to determine the function of plant structures, determine the boundaries between taxons and phenetic relationships of a plant species. The objectives of this study were to 1). determine the variation of the anatomical characters of the srikaya leaves and 2). determine phenetic the relationship similarity of srikaya based on leaf anatomical characters. This research method was survey method with purposive sampling technique. The sampling research locations were in Kecamatan Purwokerto Utara, Kecamatan Purwokerto Timur, Kecamatan Sumbang, Kecamatan Kembaran. The research was conducted at the Laboratorium Struktur dan Perkembangan Tumbuhan, Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman in February-April 2022. The variables observed were leaf anatomy characters with parameters including epidermis thickness, cuticle thickness, mesophyll thickness, stomatal index, stomatal length and width, stomatal location, stomatal type, number of stomata and trichomes per mm2 of leaf area, trichome type, trichome length, sponge thickness, palisade thickness, and palisade ratio. The data obtained were analyzed descriptively to determine the variation of anatomical characters and to determine the relationship of kinship analyzed using the Unweighted Pair Group Method Arithmatic Average (UPGMA) method with MEGA 6.0 software. The results showed that the variation of stomatal type, stomatal location, and trichome type characters had the same results in each location. The characters of stomatal length, stomatal width, stomatal number, stomatal index, trichome length, trichome number, upper cuticle thickness, lower cuticle thickness, upper epidermis thickness, lower epidermis thickness, palisade thickness, sponge thickness, mesophyll thickness, and palisade ratio have different results in each location. The character of the thickness of the upper epidermis and lower epidermis is significantly different in each location where it grows. The results obtained in the thickness of the upper epidermis with a significant value of 0.013 and in the thickness of the lower epidermis with a significant value of 0.030. The closest relationship of srikaya was found in Bancarkembar and Tambaksari kidul locations with a dissimilarity index value of 0.0605, while the farthest relationship was in Bancarkembar and Grendeng locations with a dissimilarity index value of 0.7867.
3555138690K1C018031STRUKTUR MORFOLOGI DAN GUGUS FUNGSI MEMBRAN POLIMER KITOSAN/LICF3SO3 TERDISPERSI SILIKA ABU SEKAM PADI SEBAGAI ELEKTROLIT PADAT BATERAI SEKUNDER
Baterai sekunder merupakan salah satu jenis baterai yang dapat diisi ulang setelah digunakan. Salah satu penyusunnya adalah elektrolit sebagai media transfer ion. Bahan yang digunakan untuk membuat modifikasi elektrolit yang sebelumnya cairan menjadi padatan adalah Kitosan/LiCF3SO3/Silika dengan metode solution casting. Variasi penambahan silika abu sekam padi dilakukan sebanyak 0% dan 6% (b/b) diuji menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM) dan Fourier Transform Infrared (FTIR). Hasil SEM menunjukkan bahwa unsur C (karbon) merupakan unsur paling banyak. Adapun pada membran Kitosan/LiCF3SO3/Silika 6% unsur Si (silikon) terdispersi merata pada permukaan membran. Penambahan silika juga menyebabkan adanya pergeseran puncak pada pengujian FTIR. Puncak gugus fungsi NH2 bergeser dari 3433 cm-1 dan 1573 cm-1 menjadi 3441 cm-1 dan 1566 cm-1, puncak gugus fungsi CH2 asimetris bergeser dari 1404 cm-1 menjadi 1419 cm-1, dan puncak gugus fungsi C=O bergeser dari 1627 cm-1 menjadi 1635 cm-1. Puncak gugus fungsi Si-O-Si (siloksan) muncul pada bilangan gelombang 1095 cm-1 dan 648 cm-1. Nilai tetapan gaya k dari vibrasi unsur Si-O adalah 432 N/m. Nilai tersebut lebih kecil dibandingkan nilai k ikatan Si-O pada silika murni. Nilai k yang lebih kecil menandakan ikatan antar unsur yang lebih lemah. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa silika abu sekam padi dapat digunakan sebagai bahan membran elektrolit padat baterai sekunder.Secondary battery is a type of battery that can be recharged after use. One of the constituents is an electrolyte as an ion transfer medium. The material used to modify the electrolyte which was previously a liquid into a solid is Chitosan/LiCF3SO3/Silica with the solution casting method. Variations in the addition of rice husk ash silica were carried out as much as 0% and 6% (w/w) were tested using Scanning Electron Microscopy (SEM) and Fourier Transform Infrared (FTIR). SEM results show that element C (carbon) is the most abundant element. As for the Chitosan/LiCF3SO3/Silica 6% membrane, Si (silicon) is evenly dispersed on the membrane surface. The addition of silica also causes a shift in the peak in the FTIR test. The peak of the NH2 functional group shifted from 3433
cm-1 and 1573 cm-1 to 3441 cm-1 and 1566 cm-1, the peak of the asymmetric CH2 functional group shifted from 1404 cm-1 to 1419 cm-1, and the peak of the C=O functional group shifted from 1627 cm-1 becomes 1635 cm-1. After the addition of silica, the peak of the Si-O-Si (siloxane) functional group appeared at wave numbers of 1095 cm-1 and 648 cm-1. The value of the force constant k from the vibration of the Si-O element is 4.32 x 105 dyne/cm. This value is smaller than the k value of Si-O of pure silica. A smaller value of k indicates weaker bonds between elements. The results of the study concluded that rice husk ash silica can be used as a solid electrolyte membrane material for secondary batteries.
3555238691H1A019045ANALISIS PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA HIBRIDA (PLTH) UNTUK BEBAN LISTRIK PADA BASE TRANSCEIVER STATION (BTS) DI DESA SERAYULARANGANTower Base Transceiver Station (BTS) merupakan piranti telekomunikasi yang sangat penting terkait pendistribusian sinyal radio ke perangkat komunikasi. Untuk saat ini daya listrik BTS dipasok menggunakan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan baterai untuk back up ketika listik dari PLN padam.
Penelitian ini diawali dengan mengumpulkan beberapa data, diantaranya seperti data debit air, head, beban listrik. Selain itu beberapa data mengenai spesifikasi dan harga komponen juga dikumpulkan untuk bahan acuan pemilihan komponen. Selanjutnya memasukkan data yang sudah didapatkan untuk dimasukkan ke dalam software HOMER (the hybrid optimization model for electric renewables) dan dilakukan simulasi untuk 3 konfigurasi awal yaitu PLTS, PLTH (PLTS-PLTMH) dan PLTMH. Dengan terbatasnya lokasi perancangan PLTS yaitu 9 m x 9 m (18 panel surya) simulasi konfigurasi PLTS tidak bisa dilakukan karena energi listrik yang dihasilkan PLTS (14.259 kWh/yr) masih kurang untuk mencukupi kebutuhan energi listrik BTS (19.345 kWh/yr).
Konfigurasi PLTH (PLTS-PLTMH) dan konfigurasi PLTMH merupakan kombinasi yang layak jika digunakan untuk mencatu beban listrik BTS, dimana pada konfigurasi masing-masing sudah memiliki kelebihan energi listrik yang cukup tinggi.
Tower Base Transceiver Station (BTS) is a very important telecommunications equipment related to the distribution of radio signals to communication equipment. For now, BTS electricity is supplied using electricity from the State Electricity Company (PLN) and batteries for backup when the electricity from PLN goes out.
This research begins by collecting some data, including data on water discharge, head, electrical load. In addition, some data regarding component specifications and prices are also collected for reference in component selection. Then enter the data that has been obtained to be entered into the HOMER software (hybrid optimization model for renewable electricity) and perform simulations for 3 initial configurations, namely PLTS, PLTH (PLTS-PLTMH) and PLTMH. With the limitations of the PLTS design location, which is 9 m x 9 m (18 solar panels), PV mini-grid configuration simulations cannot be carried out because the electrical energy produced by PLTS (14,259 kWh/yr) is still not sufficient to meet electricity needs. BTS energy needs (19,345 kWh/yr).
The configuration of PLTH (PLTS-PLTMH) and configuration of PLTMH is a suitable combination if used to supply the BTS electrical load, where each configuration already has a high excess of electrical energy.
3555338693B1A018019Studi Populasi Ikan Brek (Barbonymus balleroides) di Waduk PB. SoedirmanIkan brek (Barbonymus balleroides Val. 1842) merupakan ikan spesies asli di Waduk PB. Soedirman yang banyak dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi. Ikan ini cenderung mengalami penurunan akibat penangkapan. Penurunan ikan brek terjadi di Waduk Cirata, tahun 2014 ditemukan sebanyak empat belas individu dan tahun 2015 sebanyak sembilan individu. Penurunan populasi ikan brek dikhawatirkan terjadi pula di Waduk PB. Soedirman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek populasi dari ikan brek berupa kelimpahan, rasio kelamin, sebaran ukuran panjang dan berat ikan brek antar zona di Waduk PB. Soedirman. Perubahan kondisi lingkungan waduk juga berpengaruh terhadap populasi ikan brek, maka dari itu perlu mengkaji hubungan kualitas air dengan kelimpahan ikan brek di Waduk PB. Soedirman.
Penelitian dilakukan di Waduk PB. Soedirman dengan menggunakan metode survei. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan September, November 2021, dan Januari 2022 menggunakan teknik purposive random sampling. Kelimpahan ikan brek dianalisis dengan uji ANOVA, rasio kelamin dianalisis dengan uji Chi Square, sebaran ukuran dikelompokkan dengan distribusi frekuensi, dan hubungan kualitas air dengan kelimpahan dianalisis dengan uji Korelasi Pearson. Hasil penelitian diperoleh kelimpahan ikan brek antarzona paling banyak ditemukan di zona inlet sebanyak 67 individu. Rasio kelamin ikan brek jantan dan betina 3,7 : 1, namun belum dapat merepresentasikan rasio kelamin ikan brek yang sebenarnya. Sebaran ukuran didominansi oleh ikan brek muda di zona inlet dengan kisaran ukuran panjang 6,2 – 8,32 cm dan berat 2,0 – 21,0 gram. Parameter O2 paling berkorelasi dengan kelimpahan ikan brek, namun hasil ini tidak representatif sehingga tidak dapat digunakan.
Brek fish (Barbonymus balleroides Val. 1842) is a native fish species in the PB Reservoir. Soedirman which is widely used as consumption fish. This fish tends to experience a decrease due to fishing. The decline in brek fish occurred in the Cirata Reservoir, in 2014 fourteen individuals were found and in 2015 nine individuals were found. It is feared that the decline in brek fish population will also occur in the PB Reservoir. Sudirman. This study aims to examine population aspects of brek fish in the form of abundance, sex ratio, distribution of size length and weight of brek between zones in the PB Reservoir. Sudirman. Changes in the environmental conditions of the reservoir also affect the brek population, therefore it is necessary to examine the relationship between water quality and the abundance of brek fish in the PB Reservoir. Sudirman.
The research was conducted in the PB Reservoir. Soedirman by using the survey method. Sampling was carried out in September, November 2021 and January 2022 using a purposive random sampling technique. Brek abundance was analyzed by ANOVA test, sex ratio was analyzed by Chi Square test, the distribution of frugal size by frequency distribution, and the relationship between air quality and lure was analyzed by Pearson's Correlation test. The research results obtained limited the most interzone brek fish to be found in the entry zone as many as 67 individuals. The sex ratio of male and female brek fish is 3.7 : 1, but it cannot yet represent the actual sex ratio of brek fish. Size distribution is dominated by young brek in the inlet zone with a size range of 6.2 – 8.32 cm in length and 2.0 – 21.0 gram in weight. The O2 parameter is most correlated with limiting brek fish, but this result is not representative so it cannot be used.
3555438694H1A018062RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL PERPINDAHAN GEAR PADA SEPEDA BERDASARKAN PERUBAHAN CADENCE DAN KEMIRINGAN LINTASAN SECARA ELEKTRONIK BERBASIS ARDUINOSistem perpindahan gear pada sepeda biasanya dilakukan dengan menekan shifter yang terdapat pada stang sepeda yang akan menarik ataupun mengulur kawat yang terhubung ke deraileur. Namun, perpindahan gear secara mekanik ini memiliki beberapa kelemahan seperti membutuhkan tenaga lebih untuk menekan tuas shifter dan konsentrasi terbagi saat mengayuh dan memindahkan gear, hal tersebut pastinya menyulitkan bagi pesepeda pemula. Untuk mengatasinya, didapat solusi dengan membuat sistem kontrol perpindahan gear sepeda berdasarkan perubahan cadence dan kemiringan lintasan secara elektronik berbasis arduino.
Metode yang digunakan yaitu rancang bangun dan pendekatan penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kuantitatif terkait nilai cadence dan kemiringan, perubahan cadence pada sepeda diukur dengan menggunakan hall effect sensor jenis A3144 yang diletakkan pada frame sepeda dan magnet yang berada di crank sepeda yang berputar, sedangkan untuk kemiringan lintasan diukur menggunakan sensor giroskop jenis MPU6050 namun hanya parameter pada sumbu x saja yang dipakai untuk deteksi sudut kemiringan. Selain dapat berpindah secara otomatis, pada alat ini terdapat juga mode manual yaitu dengan menekan dua buah button yang berfungsi untuk menaikan atau menurunkan gear sepeda.
Pada prototype ini dibagi 3 mode yaitu mode cadence, kemiringan, dan manual. Rear derailleur yang telah dimodifikasi dengan meletakan servo pada bagian dinamis rear derailleur sehingga lengan servo dapat menggerakan rear derailleur secara horizontal untuk memindahkan posisi rantai pada gear yang sesuai berdasarkan input nilai cadence, kemiringan, maupun tombol upshift dan downshift. pada mode cadence didapatkan nilai standar error sebesar 7.29 sedangkan pada mode kemiringan didapatkan nilai standar error sebesar 1.08.
The gear shift system on bicycles is usually done by pressing the shiftier on the bicycle handlebar which will pull or stretch the wire connected to the derailleur. However, this mechanical gear shift has several weaknesses, such as requiring more energy to press the shifter lever and divided concentration when pedaling and shifting gears, this is certainly difficult for novice cyclists. To overcome this, a solution is found by making a bicycle gear shift control system based on changes in cadence and track slope electronically based on Arduino.
The method used is design and the research approach used is a quantitative approach related to cadence and slope values, changes in cadence on bicycles are measured using a hall effect sensor type A3144 which is placed on a bicycle frame and a magnet on a rotating bicycle crank, while for slope The track is measured using a gyroscope sensor type MPU6050 but only the parameters on the x axis are used for tilt angle detection. Besides being able to switch automatically, this tool also has a manual mode, by pressing two buttons which function to raise or lower the bicycle gear.
This prototype is divided into 3 modes, namely cadence, slope, and manual modes. Modified rear derailleur by placing the servo on the rear derailleur dynamic section so that the servo arm can move the rear derailleur horizontally to move the chain position to the appropriate gear based on input cadence values, tilt, as well as upshift and downshift buttons. in Cadence mode, the standard error value is 7.29, while in the slope mode, the standard error value is 1.08.
3555538695H1A018060RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL PERPINDAHAN GIR SEPEDA OTOMATIS BERDASARKAN KECEPATAN BERBASIS ARDUINO NANODengan adanya rasio gir yang berbeda pada sepeda, diperlukan pemahaman lebih tentang teknik perpindahan gir agar dapat mengayuh sepeda dengan nyaman. Namun, tidak semua orang mengerti tentang teknik perpindahan gir, seperti kapan harus menaikkan atau menurunkan tingkat gir pada kecepatan tertentu. Pada penelitian ini, peneliti melakukan rancang bangun sistem kendali otomatis pada perpindahan gigi (gir) sepeda berdasarkan kecepatan secara otomatis, melakukan pengujian dan analisis sistem kendali otomatis pada saat terjadi perpindahan gir secara otomatis, dan membandingkan waktu yang dibutuhkan antara tidak berganti gir dengan perpindahan gir otomatis. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam mengambil data berupa pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berisi waktu yang dicapai pada setiap mode, sedangkan data kualitatif berisi seberapa berat kayuhan yang dirasakan pada saat tiap mode digunakan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, waktu paling cepat yang dihasilkan tanpa berganti gir adalah 3 menit 3,2 detik, sedangkan waktu yang dihasilkan oleh mode otomatis adalah 2 menit 19,4 detik, yang berarti mode otomatis masih lebih cepat sebanyak 43,8 detik meskipun dibandingkan dengan waktu paling cepat pada mode tanpa berganti gir. Sehingga dapat disimpulkan bahwa peneliti berhasil melakukan rancang bangun sistem kendali otomatis pada perpindahan gigi (gir) sepeda berdasarkan kecepatan, secara otomatis, juga melakukan pengujian dan analisis sistem kendali otomatis pada saat terjadi perpindahan gir secara otomatis.
With different gear ratios on bicycles, more understanding of gearshift techniques is needed in order to pedal comfortably. However, not everyone understands gearshift techniques, such as when to increase or decrease the gear level at a certain speed. In this study, researchers designed an automatic control system for automatic speed-based bicycle gear shifts, tested and analyzed automatic control systems when automatic gear shifts occurred, and compared the time required between not changing gears and shifting gears. automatic. The research approach used in collecting data is in the form of quantitative and qualitative approaches. Quantitative data contains the time achieved in each mode, while qualitative data contains how hard the stroke is felt when each mode is used.
Based on the results of research conducted, the fastest time generated without changing gears is 3 minutes 3.2 seconds, while the time generated by automatic mode is 2 minutes 19.4 seconds, which means that automatic mode is still 43.8 seconds faster even though compared to the fastest time in mode without changing gears. So it can be concluded that the researchers succeeded in designing an automatic control system for bicycle gearshifts based on speed, automatically, also testing and analyzing automatic control systems when automatic gear shifts occur.
3555638627J0A018022THE IMPLEMENTATION OF ENGLISH AT DEPARTMENT OF YOUTH, SPORTS, CULTURE, AND TOURISM OF BANYUMAS REGENCY TO PROMOTE TOURIST DESTINATIONSPenulis telah melaksanakan praktik kerja di Dinporabudpar Banyumas pada tanggal 15 Februari – 15 Maret 2021. Dinporabudpar Banyumas adalah sebuah instansi pemerintah yang menangani berbagai bidang yaitu kepemudaan, olahraga, kebudayaan, dan pariwisata. Penulis mengimplementasikan bahasa Inggris untuk mempromosikan tempat wisata di Dinporabudpar Banyumas.
Penulis menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi dalam pelaksanaan praktik kerja ini. Dari hasil observasi dan wawancara, penulis mendapatkan beberapa informasi mengenai masing-masing tempat wisata sejarah dan religi yang ada di Banyumas, dan penulis juga mendapatkan beberapa gambar dari masing-masing tempat wisata sejarah dan religi untuk dicantumkan ke dalam leaflet.
Dalam melaksanakan praktik kerja, penulis mengetahui tugas dari tim seksi promosi wisata Dinporabudpar Banyumas, salah satunya yaitu melakukan kegiatan promosi tempat wisata yang ada di Banyumas. Penulis mengetahui bahwa sebagian besar kegiatan promosi yang dilakukan oleh Dinporabudpar Banyumas adalah menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Oleh karena itu, penulis membuat leaflet promosi mengenai tempat wisata yang ada di Banyumas menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan tujuan agar turis asing dan turis lokal pun dapat memahami informasi dalam sebuah leaflet.
Penulis menghadapi beberapa kendala yaitu, penulis tidak terlalu mahir dalam membuat design leaflet, kurangnya koordinasi dengan tim seksi promosi pariwisata di awal pengerjaan projek, kurangnya penggunaan bahasa Inggris pada kegiatan promosi pariwisata di Dinporabudpar Banyumas. Solusi penulis untuk menghadapi kendala tersebut adalah belajar untuk mendesain leaflet dengan cara melihat tutorial di internet, penulis langsung melakukan revisi setelah dikoreksi oleh tim seksi promosi wisata melalui aplikasi editor, serta penulis berinisiatif membuat produk baru yaitu leaflet yang menggunakan dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
The writer did the job training at Department of Youth, Sports, Culture, and Tourism of Banyumas Regency (Dinporabudpar Banyumas) on 15 February – 15 March 2021. Dinporabudpar Banyumas is a government agency that handles various fields; they are youth, sports, culture, and tourism. The writer implemented English to promote tourist destinations at Dinporabudpar Banyumas.
The writer used methods of observation, interview, and documentation. From the results of observations and interviews, the writer got some information about each historical and religious tourist destinations in Banyumas, and the writer also got some pictures of each historical and religious tourist destinations to be included in the leaflet.
In carrying out the job training, the writer has known the duties of the tourism promotion section team of Dinporabudpar Banyumas, one of them is to carry out promotional activities for tourist destinations in Banyumas. The writer also knew the promotions that have been carried out by Dinporabudpar Banyumas, most of information is presented in Indonesian and Javanesse language. Therefore, the writer decided to created a promotional leaflet about tourist destinations in Banyumas using two languages they are English and Indonesian to make it easy the foreign tourists and also local tourist to understand the information in the leaflet.
The writer faces several obstacles, the writer is not proficient in creating leaflet designs, lack of coordination with the tourism promotion section department at the beginning of project, lack of use of English in tourism promotion activities at Dinporabudpar Banyumas. The writer's solution to dealing with these obstacles is to learn to design leaflets by looking at tutorials on the internet, the writers immediately make revisions after being corrected by the tourism promotion section department through the editor application, and the writers take the initiative to create new products, leaflets that use two languages, Indonesian and English.
3555738697G1A019060HUBUNGAN AKTIVITAS ENZIM KOLINESTERASE DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA PETANI TERPAPAR PESTISIDA DI DESA LINGGASARI KECAMATAN KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS
Latar Belakang – Kejadian keracunan pestisida dan anemia yang masih tergolong tinggi di Indonesia menjadi salah satu kekhawatiran di bidang kesehatan. Enzim kolinesterase dalam darah merupakan salah satu biomarker yang dapat digunakan untuk menilai kejadian keracunan pestisida. Sifat menghambat kolinesterase yang dimiliki pestisida mampu menyebabkan timbulnya stres oksidatif yang berpotensi mengakibatkan terjadinya hemolisis yang berujung pada penurunan nilai hemoglobin.
Tujuan – Mengetahui hubungan aktivitas enzim kolinesterase dengan kejadian anemia pada petani terpapar pestisida di Desa Linggasari Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas
Metode – Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Data penelitian terdiri dari data primer berupa karakteristik responden yang diperoleh melalui wawancara dan data sekunder meliputi enzim kolinesterase dan hemoglobin. Responden pada penelitian ini diambil dengan metode consecutive sampling sebanyak 30 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian ini. Data penelitian dianalisis menggunakan uji alternatif Fisher’s exact test.
Hasil – Dari 30 responden, terdapat 2 responden dengan aktivitas enzim kolinesterase diatas nilai rujukan dan terdapat 4 responden mengalami anemia. Responden yang mengalami anemia memiliki nilai aktivitas enzim kolinesterase dalam rentang normal. Hasil Fisher’s exact test diperoleh p-value=1.000 yang berarti tidak terdapat hubungan signifikan antara aktivitas enzim kolinesterase dengan kejadian anemia
Kesimpulan – Tidak terdapat hubungan antara aktivitas enzim kolinesterase dengan kejadian anemia pada petani terpapar pestisida di Desa Linggasari Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas.
Background – Pesticide poisoning and anemia incidents are still classified as one of the health concerns in Indonesia. Cholinesterase enzyme can be used as a biomarker to grade pesticide poisoning. Cholinesterase-inhibiting nature of pesticide cause oxidative stress that might potentially lead to hemolysis which culminates in to decrease in hemoglobin levels.
Purpose – this study was done to learn about the relation of cholinesterase enzyme activity with anemia incidence in pesticide-exposed farmers in Linggasari Village, Kembaran Districts, Banyumas Regency.
Methods – This study was an analytical study using cross-sectional approach. The data that were used in the analysis consist of primary data including respondent’s characteristics which were collected using a questionnaire and secondary data including cholinesterase enzyme and hemoglobin. The thirty respondents who fulfilled the inclusion and exclusion criteria in this study were collected using consecutive sampling method. The data were analyzed using the alternative Fisher’s Exact Test.
Result – Out of 30 respondents, there were found 2 respondents with cholinesterase enzyme activity above the normal range and 4 respondents experiencing anemia. The respondents with anemia have normal cholinesterase enzyme activity, The Fisher’s Exact Test result show a p-value equals 1.000 meaning there were no association between cholinesterase enzyme activity with anemia incidents.
Conclusion – There was no association between cholinesterase enzyme activity and anemia incidents in pesticide-exposed farmers in Linggasari Village, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas.
3555852352I1D022060PROTEIN TOTAL, PROTEIN TERLARUT, DAN MUTU HEDONIK TEMPE BIJI KELOR (Moringa oleifera) DENGAN VARIASI LAMA FERMENTASI SEBAGAI ALTERNATIF PANGAN PENCEGAH STUNTING
Latar Belakang: Stunting didefinisikan sebagai keadaan gagal tumbuh pada balita yang ditandai dengan tinggi badan lebih pendek dibandingkan usianya. Biji kelor dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan tempe yang berpotensi menjadi alternatif pangan nabati tinggi protein untuk pencegahan stunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi lama fermentasi untuk menghasilkan tempe biji kelor terbaik berdasarkan kadar protein terlarut, protein total dan mutu hedonik.

Metode: Rancangan Acak Kelompok (RAK) Eksperimental Non-Faktorial dengan satu faktor lama fermentasi (0-96 jam). Analisis statistik kadar protein total dan protein terlarut dilakukan menggunakan uji ANOVA One Way, sedangkan mutu hedonik menggunakan uji Friedman. Apabila terdapat pengaruh nyata (p<0,05), maka analisis data dilanjutkan dengan DMRT. Perlakuan terbaik dianalisis dengan uji indeks efektivitas De Garmo

Hasil: Tempe biji kelor dengan variasi lama fermentasi berpengaruh nyata terhadap kadar protein terlarut (p=<,001), mutu hedonik warna, aroma, tingkat kesukaan keseluruhan (p=<,001) dan penampilan (p=0,036), akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar protein total (p= 0,414) dan mutu hedonik rasa (p=0,126). Tempe biji kelor terbaik yaitu tempe dengan lama fermentasi 72 jam.

Kesimpulan : Tempe biji kelor fermentasi 72 jam memiliki kadar protein terlarut sebesar 3,81% bk, protein total 38,15% bk; kadar lemak total 49,37% bk; kadar abu 3,02% bk; kadar air 58,61% dan karbohidrat by difference 9,46% bk serta karakteristik sensori berupa mutu keseluruhan 3,78 (suka); rasa 3,64 (khas tempe); aroma 2,88 (cukup langu); warna 3,44 (putih) dan penampilan (kekompakan mieselia) 4,02 (kompak). Tempe biji kelor memiliki asam amino essensial yang lengkap.

Kata kunci : Tempe Biji Kelor; Lama Fermentasi; Stunting
TOTAL PROTEIN, SOLUBLE PROTEIN, AND HEDONIC QUALITY OF MORINGA SEED TEMPEH (Moringa oleifera) WITH VARIATIONS IN FERMENTATION TIME AS AN ALTERNATIVE FOOD TO PREVENT STUNTING


Hidayah Nur Safitri, Friska Citra Agustia, Kifayati Rosiyanti Dewi

Background: Stunting is defined as a condition of growth failure in toddlers characterized by shorter height than their age. Moringa seeds can be used as a basic ingredient for making tempeh, which has the potential to be a high-protein plant-based food alternative for the prevention of stunting. This study aimed to determine the effect of fermentation time variation on producing the best moringa seed tempe based on soluble protein content, total protein and hedonic quality.
Method: Non-factorial experimental randomized block design with one factor of fermentation time (0-96 hours). Statistical analysis of total protein and soluble protein content was performed using a one-way ANOVA test, while hedonic quality was analyzed using the Friedman test. If there was a significant effect (p<0.05), data analysis was continued with DMRT. The best treatment was analyzed using the De Garmo effectiveness index test.
Results: Tempeh made from moringa seeds with varying fermentation times had a significant effect on soluble protein content (p=<.001), hedonic quality of color, aroma, overall liking (p=<.001) and appearance (p=0.036), but had no significant effect on total protein content (p=0.414) and hedonic quality of taste (p=0.126). The best moringa seed tempeh was produced with a fermentation period of 72 hours.
Conclusion: Fermented moringa seed tempeh for 72 hours has a soluble protein content of 3.81% db, total protein 38.15% db; total fat content 49.37% db; ash content 3.02% db; moisture content 58.61% and carbohydrates by difference 9.46% db and sensory characteristics including overall quality 3.78 (liked); taste 3.64 (typical tempeh); aroma 2.88 (slightly pungent); color 3.44 (white); and appearance (mycelium compactness) 4.02 (compact). Tempeh made from moringa seeds contains a complete set of essential amino acids.

Keywords: Tempeh from Moringa Seeds; Fermentation Time; Stunting
3555938698E1A019323PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN PEMBELIAN BENIH UNGGUL KELAPA SAWIT STUDI TERHADAP PUTUSAN NOMOR 5/PID.SUS/2022/PN.BGLPenelitian ini mengkaji tentang perlindungan hukum terhadap konsumen pembelian benih unggul kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlindungan hukum dan tanggung jawab pelaku usaha terhadap konsumen pembelian benih unggul kelapa sawit dalam Putusan Nomor 5/Pid.sus/2022/Pn.Bgl ditinjau dari Undang-Undang Perlindungan Konsumen.
Pada penelitian ini menggunakan tipe penelitian yuridis normatif, metode pendekatan undang-undang, spesifikasi penelitian deskriptif analitis. Data yang digunakan adalah data sekunder dengan pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan yang disajikan melalui uraian secara sistematis dan logis dengan bentuk teks naratif, kemudian dianalisis secara normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, konsumen telah mendapatkan perlindungan hukum berdasarkan Pasal 115 Jo Pasal 30 ayat (4) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan. Putusan tersebut menjadi bukti upaya perlindungan hukum terhadap konsumen benih unggul kelapa sawit terutama perlindungan hukum atas hak konsumen yang terdapat dalam Pasal 4 huruf a dan c UUPK, terhadap tanggungjawab pelaku usaha telah terpenuhi dengan dijatuhkannya pidana pada putusan tersebut.
This research examines the legal protection of consumers purchasing of oil palm seeds. This research aims to determine the legal protection and responsibilities of business actors towards consumers purchasing of oil palm seeds in Decision number 5/Pid.sus/2022/Pn.Bgl in term of Consumer Rights Regulated.
The approach method used is a normative juridical approach with statutory approach method, analytical descriptive research specifications. The data used is secondary data by collecting data using library research which is presented through systematic and logical descriptions in the form of narrative text, then analyzed qualitatively normatively.
Based on the results of research and data analysis, consumers have received legal protection under Article 115 in conjunction with Article 30 paragraph (4) of Law Number 22 of 2019 concerning Sustainable Agricultural Cultivation Systems. This decision is evidence of efforts to protect the law against consumers of superior oil palm seeds, especially the legal protection of consumer rights contained in Article 4 letters a and c of the UUPK, for the responsibilities of business actors have been fulfilled by imposing a criminal sentence on the decision.
3556038700A1D018073Pengaruh Jarak Tanam dan Dosis Pupuk NZEO-SRPlus Terhadap Karakter Fisiologi dan Hasil Bawang Merah di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Kabupaten BanyumasBawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki banyak manfaat, dan bernilai ekonomis tinggi. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi bawang merah melalui pengaturan jarak tanam dan pemupukan. Pupuk yang dapat digunakan salah satunya dengan NZEO-SRPlus. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengkaji pengaruh perbedaan jarak tanam dan dosis pupuk NZEO-SRPlus terhadap karakter fisiologi dan hasil bawang merah. Penelitian berupa percobaan lapang yang dilaksanakan di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah dan Laboratorium Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman pada Desember 2021 sampai Maret 2022. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap yang terdiri atas dua faktor yang diulang tiga kali. Faktor pertama yaitu jarak tanam 15 cm x15 cm dan 15 cm x 20 cm. Faktor kedua yaitu dosis pupuk NZEO-SRPlus yaitu: 0 kg/ha, 50 kg/ha, 500 kg/ha, 750 kg/ha, 1000 kg/ha. Data pengamatan dianalisis dengan uji F dan dilanjut dengan Duncan’s Multiple Range Test pada taraf kepercayaan 95 % apabila terdapat keragaman. Variabel pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini, yaitu jumlah daun, kehijauan daun, kerapatan stomata, kadar klorofil total, kadar prolin, kadar fenol total, kandungan saponin, dan bobot umbi segar per petak, dan bobot umbi kering per petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam 15x15 cm menghasilkan jumlah daun, bobot umbi segar per petak, dan bobot umbi kering per petak lebih tinggi dibandingkan jarak tanam 15x20 cm, tetapi menghasilkan kehijauan daun dan kadar fenol total lebih rendah. Pemberian dosis pupuk NZEO-SRPlus meningkatkan kehijauan daun, jumlah daun, kadar klorofil total dan kadar fenol total. Terdapat pengaruh interaksi jarak tanam dan dosis pupuk NZEO-SRPlus terhadap kehijauan daun, kadar fenol total dan kadar prolin.Shallots (Allium ascalonicum L.) is one of the horticultural commodities that has many benefits, and has high economic value. One of the efforts to increase shallot production is through spacing and fertilization. One that can be used is NZEO-SRPlus fertilizer. The purpose of this study was to examine the effect of differences in spacing and doses of NZEO-SRPlus fertilizer on the physiological characters and yield of shallots, as well as the interaction between these two factors. The research was in the form of a field experiment was carried out in Pliken Village, Kembaran District, Banyumas Regency, Central Java Province and the Agronomy and Horticulture Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Sudirman University in December 2021 to March 2022. The experimental design used was a Completely Randomized Block Design consisting of two factors repeated three times. The first factor was the spacing of 15 cm x 15 cm and 15 cm x 20 cm. The second factor was the dose of NZEO-SRPlus fertilizer: 0 kg/ha, 50 kg/ha, 500 kg/ha, 750 kg/ha, 1000 kg/ha. Research data obtained were analyzed by anova (F test) and if there was variation between treatments, the analysis then continued with the Duncan Multiple Range Test (DMRT) at the 95 % level. Variables observed in this study were number of leaves, leaf greenness, stomata density, total chlorophyll content, proline content, total phenol content, saponin content, weight of fresh tubers per plot, and weight of dry tubers per plot. The results showed that a spacing of 15x15 cm resulted in higher number of leaves, fresh tuber weight per plot, and dry tuber weight per plot compared to 15x20 cm spacing, but produced greenery leaves and lower total phenol content. Dosage of NZEO-SRPlus fertilizer increased leaf greenness, number of leaves, total chlorophyll content and total phenol content. Interaction effect of plant spacing and dose of NZEO-SRPlus fertilizer on leaf greenness, total phenol content and proline content.