Artikelilmiahs

Menampilkan 26.861-26.880 dari 50.201 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2686130049D1A016238TOTAL SOLID, BERAT JENIS DAN POTENTIAL HYDROGEN (pH) SUSU SAPI
YANG DITAMBAHKAN AIR DENGAN PERSENTASE BERBEDA
Penelitian dengan judul Total Solid, Berat Jenis dan Potential Hydrogen (pH) Susu Sapi yang ditambahkan Air dengan Persentase Berbeda telah dilaksanakan pada tanggal 19 Februari 2020 sampai dengan 25 Februari 2020 bertempat di Laboratorium Produksi Ternak Perah, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji perubahan Total Solid (TS), Berat Jenis (BJ) dan pH pada pemalsuan susu sehinga dapat memberikan informasi ilmiah serta memperluas ilmu pengetahuan di bidang peternakan. Dampak dari penelitian ini yaitu melindungi konsumen dari pemalsuan susu yang ditambahkan dengan air. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah susu yang berasal dari experimental farm, air, lactoscan, pH meter, pipet, filler, alat pengaduk dan tabung reaksi. Penelitian ini dilakukan dengan metode experimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diberikan yaitu penambahan air 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%. Analisis yang digunakan yaitu analisis variansi dengan uji lanjut yaitu uji Dunnet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa susu kontrol mempunyai nilai TS sebesar 11,88% sedangkan susu dengan penambahan air 5%, 10%, 15% dan 20% masing-masing yaitu 11.40%; 9.94%; 9.74%; 8.86%. Nilai BJ pada susu kontrol yaitu sebesar 1.028 g/ml sedangkan susu dengan penambahan air 5%, 10%, 15% dan 20% masing-masing yaitu 1.026 g/ml; 1.025 g/ml; 1.025 g/ml; 1.023 g/ml. Hasil penelitian pH susu dengan penambahan air 0%, 5%, 10%, 15% dan 20% masing-masing nilai pHnya yaitu 6.64; 6.71; 6.71; 6.73; 6.78. Hasil analisis variansi TS, BJ dan pH menunjukkan bahwa hasil tersebut berpengaruh sangat nyata terhadap variabel yang digunakan (P > 0,05 dan 0.01). Hasil uji Dunnet pada TS dan BJ menunjukkan susu sapi yang diberi perlakuan dengan penambahan air 5% menghasilkan nilai yang lebih rendah dibandingkan kontrol dan penambahan air 20% pada pH susu menghasilkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan kontrol.The research titled Total Solid, Density, and Potential Hydrogen (pH) of Dairy Milk with Different Percentages of Water was carried out on February 19, 2020, to February 25, 2020, at the Dairy Livestock Production Laboratory, Faculty of Animal Husbandry, Jenderal Soedirman University. The purpose of this research was to examine changes in Total Solid (TS), density and pH in dairy milk adulteration so that it can provide scientific information and expand knowledge in the field of animal husbandry. The impact of this research is to protect consumers from adulterated dairy milk by water addition. The materials used in this research were dairy milk from the experimental farm, water, Lactoscan, pH meter, pipettes, filler, stirrer, and test tubes. This research was conducted by an experimental method using a completely randomized design (CRD). The treatment used was the addition of 0%, 5%, 10%, 15%, and 20% water. The analysis used an analysis of variance with further tests, the Dunnet test. The results show that control milk has a TS value of 11.88% and milks with the addition of water 5%, 10%, 15%, and 20% respectively 11.40%; 9.94%; 9.74%; 8.86%. The density in the control milk was 1.028 g/ml and the milk with the addition of water 5%, 10%, 15% and 20% respectively were 1.026 g/ml; 1.025 g/ml; 1.025 g/ml; 1.023 g/ml. The research results on the pH of milk with the addition of water 0%, 5%, 10%, 15%, and 20% respectively, the pH value were 6.64; 6.71; 6.71; 6.73; 6.78. The TS, density and pH variance analysis results show that these results significantly affected the observed variables (P> 0.05 and 0.01). The dunnet test on TS and density parameter results addition of 5% water resulting in lower values than the control and addition of 20% water to the pH of milk resulting in higher values than the control.
2686229789D1A016157Dugaan Pemalsuan Susu Sapi Perah dengan Penambahan Santan Ditinjau dari Protein dan Kasein"Dugaan Pemalsuan Susu Sapi Perah dengan Penambahan Santan Ditinjau dari Protein dan Kasein” dilaksanakan di Laboratorium Produksi Ternak Perah Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan santan dengan persentase berbeda pada protein dan kasein susu sapi perah dan memberikan informasi ilmiah tentang penambahan susu sapi perah yang ditambah dengan santan. Sampel susu yang digunakan berasal dari Experimental Farm Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. Pengambilan sampel dilakukan pada pemerahan pagi hari sebanyak 500 ml per perlakuan. Penelitian tersebut menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan metode experimental dan terdapat 6 perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu penambahan susu segar dengan santan pada persentase 2%, 4%, 6%, 8% dan 10%. Analisis yang digunakan yaitu analisis variansi dengan uji lanjut yaitu uji Dunnet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, susu kontrol mengandung 3.61% protein dan kandungan protein dengan penambahan santan 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10% secara berturut-turut adalah 3.04%, 2.56%, 2.33%, 2.31%, dan 2.26%. Kandungan kasein pada susu kontrol adalah 3.22% dan penambahan santan dengan persentase 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10% secara berturut-turut adalah 2.71%, 2.28%, 2.08%, 2.06%, dan 2.02%. Hasil perhitungan F hitung lebih besar dari F tabel 0,05 dan 0,01 kemudian dilanjutkan dengan uji lanjut Dunnet. Diketahui bahwa protein dan kasein dengan penambahan 2% santan telah berpengaruh nyata terhadap kontrol. Hal tersebut menandakan bahwa penambahan santan sebanyak 2% ke dalam susu dapat mengurangi kandungan protein dan kasein susu."Alleged Alteration of Dairy Cow Milk with Addition of Coconut Milk in Terms of Protein and Casein" held at the Laboratory of Dairy Production at the Faculty of Animal Husbandry, General Soedirman University, aims to examine the effect of adding coconut milk with different percentages in the protein and casein of dairy cow's milk and provide scientific information about the addition of dairy cow's milk added with coconut milk. The milk samples used were from the Experimental Farm of the Faculty of Animal Husbandry, Jenderal Soedirman University. Sampling was done on morning milking as much as 500 ml per treatment. The study used a completely randomized design (CRD) with experimental methods and there were 6 treatments with 4 replications. The treatment used is the addition of fresh milk with coconut milk at a percentage of 2%, 4%, 6%, 8% and 10%. The analysis used is the analysis of variance with further tests, namely the Dunnet test. The results showed that, control milk containing 3.61% protein and protein content with the addition of coconut milk 2%, 4%, 6%, 8%, and 10% respectively were 3.04%, 2.56%, 2.33%, 2.31%, and 2.26%. The casein content in control milk was 3.22% and the addition of coconut milk with a percentage of 2%, 4%, 6%, 8%, and 10% respectively were 2.71%, 2.28%, 2.08%, 2.06%, and 2.02%. The results of the F calculation are greater than the F tables 0.05 and 0.01 then proceed with Dunnet further tests. It is known that protein and casein with the addition of 2% coconut milk have a significant effect on control. This indicates that the addition of 2% coconut milk into milk can reduce the protein content and casein of milk.
2686329788D1A016150VISKOSITAS DAN TITIK DIDIH SUSU SAPI PERAH YANG DISUBTITUSI SANTAN DENGAN PERSENTASE BERBEDA
“Viskositas Dan Titik Didih Susu Sapi Perah Yang Disubstitusi Santan Dengan Persentase Berbeda” dilaksanakan di Laboratorium Produksi Ternak Perah Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman bertujuan untuk mengetahui pengaruh subtitusi santan dengan persentase berbeda terhadap viskositas dan titik didih pada susu segar. Sampel susu yang digunakan berasal dari Experimental Farm Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. Pengambilan sampel dilakukan pada pemerahan pagi hari sebanyak 500 ml per perlakuan. Penelitian tersebut menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan metode eksperimen dan terdapat 6 perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu penambahan susu segar dengan santan pada persentase 2%, 4%, 6%, 8% dan 10%. Analisis yang digunakan yaitu analisis variansi dengan uji lanjut yaitu uji beda nyata Dunnett’s. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, susu kontrol mempunyai viskositas 0,91 Cp dan susu segar yang mendapat perlakuan dengan disubtitusi santan pada persentase 2%, 4%, 6%, 8% dan 10% mendapat hasil berturut-turut yaitu, 0,95 Cp, 0,97 Cp, 0,95 Cp, 0,93 Cp dan 0,79 Cp. Titik didih pada susu kontrol yaitu 27,67 detik dan susu segar yang mendapat perlakuan dengan penambahan air yang berasal dari kran pada persentase 2%, 4%, 6%, 8% dan 10% mendapat hasil berturut-turut yaitu 27,44 detik, 24,77 detik, 23,11 detik, 24,27 detik, 23,46 detik. Hasil penelitian tersebut tidak berpengaruh terhadap variabel yang digunakan (P > 0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa, masyarakat atau konsumen dapat lebih berhati-hati dalam membeli susu karena, penambahan susu dengan santan akan mengurangi kandungan gizi yang terdapat di dalam susu dan berdampak pada kesehatan masyarakat."Viscosity and Boiling Point of Dairy Milk Substituted by Coconut Milk with Different Percentages" conducted at the Laboratory of Dairy Production at the Faculty of Animal Husbandry, General Soedirman University, aims to determine the effect of coconut milk substitution with different percentages on the viscosity and boiling point of fresh milk. The milk samples used were from the Experimental Farm of the Faculty of Animal Husbandry, Jenderal Soedirman University. Sampling was done on morning milking as much as 500 ml per treatment. The study used a Completely Randomized Design (CRD) with experimental methods and there were 6 treatments with 4 replications. The treatment used in this study was addition of fresh milk with coconut milk at a percentage of 2%, 4%, 6%, 8% and 10%. The analysis in this study was analysis of variance with further test is Dunnett's test. The results showed that, control milk had a viscosity of 0.91 Cp and fresh milk treated with coconut milk substituted at a percentage of 2%, 4%, 6%, 8% and 10% received consecutive results, 0.95 Cp, 0.97 Cp, 0.95 Cp, 0.93 Cp and 0.79 Cp. The boiling point in control milk is 27.67 seconds and fresh milk which is treated with the addition of water from the faucet at a percentage of 2%, 4%, 6%, 8%, and 10% gets results respectively 27.44 seconds, 24, 77 seconds, 23.11 seconds, 24.27 seconds, 23.46 seconds. The results of the study did not affect the variables used (P> 0.05). This shows that, the public or consumers can be more careful in buying milk because, the addition of milk with coconut milk will reduce the nutritional content contained in milk and have an impact on public health.
2686430214C1A016101ANALISIS PERBANDINGAN PENDAPATAN USAHATANI BAWANG MERAH BERDASARKAN JENIS PENGELOLAAN LAHAN
(Studi Kasus di Desa Wanasari Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes)
Penelitian ini merupakan penelitian tentang perbandingan pendapatan usahatani bawang merah berdasarkan jenis pengelolaan lahan yang berbeda yaitu lahan milik sendiri, lahan sakap atau bagi hasil, dan lahan sewa. Penelitian ini mengambil judul: “Analisis Perbandingan Pendapatan Usahatani Bawang Merah berdasarkan Jenis Pengelolaan Lahan di Desa Wanasari Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes”.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan pendapatan dan efisiensi antara usahatani bawang merah lahan milik sendiri, usahatani bawang merah dengan lahan sakap atau bagi hasil, dan usahatani bawang merah dengan lahan sewa. Metode yang digunakan dalam menentukan sampel dalam penelitian yaitu purposive random sampling.Populasi dalam peneitian ini adalah semua petani bawang merah yang ada di Desa Wanasari yang berjumlah 120 petani. Jumlah responden yang diambil dalam peneliti adalah 54 responden, yang terdiri dari 27 responden merupakan petani bawang merah dengan lahan milik sendiri, 5 responden merupakan petani bawang merah dengan lahan sakap atau bagi hasil, dan 22 responden merupakan petani bawang merah dengan lahan sewa.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menggunakan analisis keuntungan usahatani, uji anova satu arah dan R/C rasio, hasil yang didapatkan bahwa usahatani bawang merah dengan lahan sewa memperoleh pendapatan tertinggi yaitu sebesar Rp90.028.572/ha. Sedangkan usahatani bawang merah dengan lahan milik sendiri sebesar Rp87.829.6018/ha dan usahatani bawang merah dengan lahan sakap atau bagi hasil sebesar Rp88.671.622/ha. Selanjutya berdasarkan uji anova satu arah diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan pendapatan yang diakibatkan oleh perbedaan pengelolaan lahan dengan niai signifikansi 0,363 > 0,05. Sementara usahatani bawang merah dengan jenis lahan milik sendiri, lahan sakap atau bagi hasil, dan lahan semua sudah efisien secara ekonomi (R/C > 1), dengan nilai R/C usahatani lahan milik yaitu 3,987, R/C usahatani lahan sakap yaitu 3,946, dan R/C usahatani lahan sewa yaitu 3,947.
Implikasi dari penelitian ini yaitu usahatani bawang merah dengan jenis lahan milik, lahan sakap, dan lahan sewa terus melakukan efisiensi terutama pada biaya penggunaan pestisida yang tergolong tinggi yang dapat diminimumkan dengan menggunakan pestisida yang berasal dari alam seperti pestisida hayati dan pestisida nabati. Dengan adanya edukasi budidaya bawang merah dari pemerintah daerah, petani bawang merah juga sudah mulai mengusahakan lahan agar menghasilkan produksi yang tinggi seperti yang dilakukan oleh petani dengan lahan sewa.
This research is a study on the comparison of red onion farming income based on different types of land ownership, namely self-owned land, retirement land or production sharing, and leasehold land. This research takes the title: "Analysis of Red Onion Farming Income Comparison by Type of Land Ownership in Wanasari Village, Wanasari District, Brebes Regency".
The purpose of this study was to determine the ratio of income and efficiency between red onion farming on land owned by themselves, red onion farming with storage or production sharing, and red onion farming with leased land.
The method used in determining the respondents is purposive random sampling. The population in this research is all red onion farmers in Wanasari Village, totaling 120 farmers. The number of respondents taken in the researcher was 54 respondents, consisting of 27 respondents who were red onion farmers with their own land, 5 respondents were red onion farmers with sack land or production sharing, and 22 respondents were red onion farmers with leased land.
Based on the results of research and data analysis using farm profit analysis, one-way ANOVA test and R / C ratio, the results showed that red onion farming with leased land received the highest income, which was IDR 90,028,572 / ha. Meanwhile, red onion farming using self-owned land is IDR 87,829,6018 / ha and red onion farming using profit sharing is IDR 88,671,622 / ha. Furthermore, based on the one-way ANOVA test, it is known that there is no difference in income caused by differences in land ownership with a significance value of 0.363> 0.05. Meanwhile, red onion farming with its own land type, storage area or production sharing, and all land is economically efficient (R / C> 1), with the R / C value for owned land farming is 3.987, R / C for farming based on production sharing is 3,946, and R/C for leased land farming is 3,947.
The implication of this research is that red onion farming with the types of land belonging to the land, profit sharing land, and leased land continues to make efficiency, especially in the relatively high cost of using pesticides which can be minimized by using pesticides derived from nature such as biological pesticides and vegetable pesticides. With the education on red onion cultivation from the local government, red onion farmers have also started cultivating the land to produce high production as is done by farmers with leased land.
2686530087D1A016014Kajian Total Solid, Solid Non Fat Dan Potential Hydrogen (pH) Susu Sapi Yang Ditambahkan Tepung Terigu Dengan Konsentrasi Yang BerbedaPenelitian dengan judul “Kajian Total Solid, Solid Non Fat Dan Potential Hydrogen (pH) Susu Sapi Yang Ditambahkan Tepung Terigu Dengan Konsentrasi Yang Berbeda”. Tujuan dilaksankannya penelitian ini adalah mengkaji Total Solid, Solid Non Fat dan Potential Hydrogen (pH) susu sapi perah yang ditambahkan tepung terigu dengan konsentrasi yang berbeda. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 12.000 ml susu sapi segar, 540 gram tepung terigu, 480 ml H2SO4 pekat, dan 48 ml amyl alkohol. Uji total solid dilakukan dengan mengeringkan sampel menggunakan oven dengan suhu 105oC, uji solid non fat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah total solid dengan kadar lemak (pengujian kadar lemak dilkukan dengan metode gerber) dan pengujian pH dilakukan dengan menggunakan pH meter. Metode penelitian menggunakan metode eksperimen dan menggunakan analisis RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan terdiri atas R0 : Susu 500 ml tanpa penambahan tepung terigu (kontrol); R1 : Susu 500 ml dengan penambahan tepung terigu 15 gr (3%); R2 : Susu 500 ml dengan penambahan tepung terigu 30 gr (6%); R3 : Susu 500 ml dengan penambahan tepung terigu 45 gr (9%). Hasil analisis variansi menunjukan susu sapi yang ditambahkan tepung terigu berpengaruh sangat nyata terhadap total solid dan solid non fat (R˃0,01) dan tidak berpengaruh terhadap nilai pH (R˂0,05). The research titled "Study of Total Solid, Solid Non Fat and Potential Hydrogen (pH) of Cow Milk Added with Wheat Flour with Different Concentrations". The purpose of this research is to study the Total Solid, Solid Non Fat and Potential Hydrogen (pH) of dairy cow milk added with wheat flour with different concentrations. The materials used in this research were 12,000 ml of fresh cow's milk, 540 grams of wheat flour, 480 ml of H2SO4 92%, and 48 ml of amyl alcohol. The test was total solid carried out by drying the sample using an oven with a temperature of 105oC, the test was solid non fat carried out by reducing theamount total solid by the fat content (fat content testing was done using the method Gerber) and pH testing was carried out using a pH meter. The research method used experimental methods and used CRD analysis (completely randomized design) with 4 treatments and 6 replications. The treatments consisted of R0 : 500 ml milk without the addition of flour (control); R1 : 500 ml milk with the addition of 15 gr (3%) flour; R2: milk 500 ml with the addition of 30 grams of wheat flour (6%); R3 : 500 ml milk with the addition of flour 45 g (9%). The results of the analysis of variance showed that cow's milk added with wheat flour had a very significant effect on the total solid and solid non-fat (R˃0,01) and had no effect on the pH value (R˂0,05).
2686630215L1C016041ANALISIS KERAPATAN MANGROVE DAN TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DI KAWASAN SEGARA ANAKAN TIMUR CILACAP MENGGUNAKAN CITRA SATELIT SENTINEL 2-APenelitian ini berjudul Analisis Kerapatan Mangrove dan Total Suspended Solid (TSS) Di Kawasan Segara Anakan Timur, Cilacap Menggunakan Citra Satelit Sentinel 2-A. Segara Anakan, Cilacap merupakan kawasan hutan mangrove terluas di pulau Jawa khususnya terletak di bagian Timur. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi luasan dan kerapatan mangrove di kawasan Segara Anakan berdasarkan data citra Sentinel 2A, mengetahui konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) di Segara Anakan yang diperoleh dari citra Sentinel 2A serta analisis overlay peta antara kerapatan mangrove dan Total Suspended Solid (TSS) di kawasan Segara Anakan Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode observasi dengan pengolahan data sekunder berupa citra satelit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2020 Segara Anakan, Cilacap memiliki hutan mangrove seluas 2465,11 ha dengan kerapatan jarang sebesar 110,97 ha, kerapatan sedang sebesar 653,92 Ha, kerapatan lebat sebesar 597,69 Ha. Pemetaan kerapatan mangrove menggunakan Indeks NDVI dengan menghasilkan akurasi sebesar 80,10%. Adapun hasil dari sebaran konsentrasi Total Suspended Solid (TSS) berkisar antara 100-500 mg/L. Hasil pendugaan analisis overlay atau analisis tumpang tindih peta antara kerapatan mangrove dan sebaran TSS yaitu bahwa kerapatan mangrove mempengaruhi nilai konsentrasi TSS pada kondisi tertentu.


This study is entitled Analysis of Mangrove Density and Total Suspended Solid (TSS) in the Segara Anakan Timur Area, Cilacap Using Sentinel 2-A Satellite Imagery. Segara Anakan, Cilacap is the largest mangrove forest area on the island of Java, especially in the East. The purpose of this study was to determined the area and density conditions of mangroves in the Segara Anakan area based on Sentinel 2A image data, to determined the concentration of Total Suspended Solid (TSS) in Segara Anakan obtained from Sentinel 2A imagery and overlay analysis of maps between mangrove density and Total Suspended Solids ( TSS) in the Segara Anakan Timur area. The method used in this study is an observation method with secondary data processing in the form of satellite images. The results showed that the extended area of mangrove forest in 2020 Segara Anakan, Cilacap is 2465,11 ha with a sparse density of 110,97 ha, a moderate density of 653,92 ha, and a dense density of 597,69 ha. Mapping of mangrove density using the NDVI index produces an accuracy of 80,10%. The results of the distribution of Total Suspended Solid (TSS) concentrations ranged from 100-500 mg / L. The result of overlay analysis prediction or map overlap analysis between mangrove density and TSS distribution is that mangrove density affects the TSS concentration value under certain conditions.


2686730216D1A015121PENGARUH PENAMBAHAN PROBIOTIK RABAL DAN RABAL PLUS
DALAM PAKAN TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN
DAN ERITROSIT ITIK PERIODE PRODUKSI

ABSTRAK

BHAYYU D. MUCHLISYIN. “Pengaruh Penambahan Probiotik Rabal dan Rabal Plus dalam Pakan Terhadap Kadar Hemoglobin dan Eritrosit Itik Periode Produksi” bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan probiotik rabal dan rabal plus dalam pakan terhadap kadar hemoglobin dan eritrosit itik Tegal periode produksi. Materi yang digunakan yaitu itik Tegal umur 48 minggu. Bahan yang digunakan sampel darah itik 36 buah, probiotik rabal dan rabal plus. Peralatan yang digunakan meliputi spuit, kotak termos, es batu, tabung Ethylene Diamine Tetra Acid (EDTA). Penelitian dilakukan secara experimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan, setiap perlakuan terdiri dari 2 sampel darah yang diambil dari 25 ekor itik secara acak, dengan perlakuan R1: Ransum ditambah 3 ml/ Liter air probiotik rabal, R2: Ransum ditambah 5 ml/ Liter air probiotik rabal, R3: Ransum ditambah 7 ml/ Liter air probiotik rabal, R4: Ransum ditambah 3 ml/ Liter air probiotik rabal plus, R5: Ransum ditambah 5 ml/ Liter air probiotik rabal plus, R6: Ransum ditambah 7 ml/ Liter air probiotik rabal plus. Analisis dilakukan menggunakan analisis variansi. Rataan kadar hemoglobin R1 11,03±0,63 g/dl; R2 12,00±0,80 g/dl; R3 11,38±0,67 g/dl; R4 12,15±0,49 g/dl; R5 10,83±1.16 g/dl; dan R6 11,23±0,65 g/dl, dan eritrosit dengan kadar rataan R1 3,50±0,09 106/mm3; R2 3,19 ±0,07 106/mm3; R3 3,16±0,18 106/mm3; R4 3,35 ±0,30 106/mm3; R5 3,68±0,18 106/mm3; dan R6 3,25 ±0,22 106/mm3. Kesimpulan penelitian yaitu pemberian probiotik rabal dan rabal plus tidak dapat meningkatkan kadar hemoglobin itik Tegal periode produksi, akan tetapi dapat meningkatkan kadar eritrosit terutama pada perlakuan probiotik rabal plus taraf 5ml/liter.

Kata kunci:Probiotik rabal, probiotik rabal plus, hemoglobin, eritrosit, itik

ABSTRACT

BHAYYU D. MUCHLISYIN. “"The Effect of Addition of Rabal and Rabal Plus Probiotics in Feed on Hemoglobin and Erythrocyte Ducks Production Periods" helps to study the effect of rabal and rabal plus probiotics in feed on hemoglobin levels and Tegal duck erythrocytes in the production period. The material used was Tegal duck, 48 weeks old. The materials used were 36 duck blood samples, rabal and rabal plus probiotics. The equipment used includes syringes, flasks, ice cube, tubes Ethylene Diamine Tetra Acid (EDTA). The study was conducted experimentally using a completely randomized design (CRD) with 6 treatments and 3 replications, each treatment consisted of 2 blood samples taken from 25 ducks randomly, with treatment R1: Ration plus 3 ml / Liter rabal probiotic water, R2: Ration plus 5 ml / Liter rabal probiotic water, R3: Ration plus 7 ml / Liter rabal probiotic water, R4: Ration plus 3 ml / Liter rabal plus probiotic water, R5 : Ration plus 5 ml / Liter rabal plus probiotic water, R6: Ration plus 7 ml / Liter rabal plus probiotic water. The analysis was performed using analysis of variance. The average hemoglobin R1 level was 11.03 ± 0.63 g / dl; R2 12.00 ± 0.80 g / dl; R3 11.38 ± 0.67 g / dl; R4 12.15 ± 0.49 g / dl; R5 10.83 ± 1.16 g / dl; and R6 11.23 ± 0.65 g / dl, and erythrocytes with an average level of R1 3.50 ± 0.09 106 / mm3; R2 3.19 ± 0.07 106 / mm3; R3 3.16 ± 0.18 106 / mm3; R4 3.35 ± 0.30 106 / mm3; R5 3.68 ± 0.18 106 / mm3; and R6 3.25 ± 0.22 106 / mm3. The conclusion of the research is that the administration of rabal and rabal probiotics cannot increase the levels of hemoglobin in Tegal ducks in the production period, but can increase the levels of erythrocytes especially in the treatment of rabal probiotics plus a level of 5ml / liter.

Keywords: rabbinical probiotics, rabal plus probiotics, hemoglobin, erythrocytes, ducks
2686830230A1D116036ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI ENDOFIT DAUN PADI LAHAN MARGINAL SEBAGAI KANDIDAT ANTAGONIS TERHADAP Rhizoctonia solani
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bakteri endofit yang berpotensi menghambat pertumbuhan jamur R. solani penyebab penyakit hawar pelepah pada tanaman padi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman dan screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman dari Desember 2019 hingga September 2020. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap untuk uji in vitro yang terdiri atas 14 perlakuan dan 2 ulangan serta Rancangan Acak Kelompok untuk uji in planta yang terdiri atas 4 perlakuan dan 6 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan tiga isolat bakteri endofit yang mampu menghambat pertumbuhan jamur Rhizoctonia solani, yaitu BE1, BE6, dan BE16. Bakteri endofit mampu menghambat pertumbuhan jamur R. solani dilihat dari hasil uji antagonis BE1 sebesar 34,9%, BE6 sebesar 32,275%, dan BE16 sebesar 9,11%. Bakteri endofit menekan pertumbuhan jamur R. solani dengan cara menghambat pertumbuhan hifa jamur yang menyebabkan pertumbuhannya menjadi abnormal seperti lisis, membengkok, dan mengkerut. Selanjutnya, ketiga isolat bakteri endofit ini mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman padi dan mampu menghambat perkembangan penyakit hawar pelepah padi, yang ditunjukkan dengan instensitas penyakit pada perlakuan bakteri endofit yang lebih rendah dibandingkan dengan kontrol yaitu BE1 sebesar 25,9%, BE6 sebesar 21,6%, BE16 sebesar 25,9%, dan kontrol sebesar 38,3%.The purpose of this study was to select the endophytic bacteria that have the potential to inhibit the growth of Rhizoctonia solani, a fungal pathogen that causes sheath blight disease on rice. This research was conducted at the Plant Protection Laboratory and the Screen House of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, from December 2019 to September 2020. The Experimental design used was a Completely Randomized Design for the in vitro test with 14 treatments and 2 replicates and a Randomized Completely Block Design for in planta test with 4 treatments and 6 replicates. It was found that three isolates of endophytic bacteria, i.e. BE1, BE6, and BE16 could inhibit the growth of Rhizoctonia solani fungal pathogen. Based on the results of the antagonist test, BE1, BE6, and BE16 isolates suppressed the growth of R. solani at the rate of 34.855%, 32.275%, and 9.11% respectively. These endophytic bacteria suppressed the growth of R. solani by inhibiting the growth of fungal hyphae, causing the abnormal growth of R. solani hyphae such as lysis, bending, and shrinking. Moreover, these three isolates of endophytic bacteria could increase the growth of rice and they were able to inhibit the sheath blight disease as indicated by the lower disease intensity compared to control, which were BE1 by 25.9%, BE6 by 21.6%, BE16 by 25.9%, and control by 38.3%.
2686930218L1A016031PERSEPSI STAKEHOLDER TERHADAP EKOWISATA MANGROVE DI KAWASAN PANTAI LOGENDING KEBUMEN MELALUI ANALISIS HIRARKIPenelitian ini berjudul Persepsi Stakeholder Terhadap Ekowisata Mangrove Di Kawasan Pantai Logending Kebumen Melalui Analisis Hirarki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pengelolaan berdasarkan persepsi stakeholder, pengelolaan wisata pantai berdasarkan presepsi stakeholder terhadap pengelolaan ekowisata mangrove Pantai Logending Kebumen, dan strategi pengelolaan berdasarkan persepsi stakeholder. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis deskriptif dan analisis hirarki (Analitycal Hierarchy Process). Responden terdiri dari 50 pengunjung dan 1 pengelola dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, kuisioner online dan studi literatur. Faktor yang mempengaruhi pengelolaan wisata mangrove Kebumen berdasarkan persepsi stakeholder yaitu tingginya minat pengunjung dan potensi yang terdapat pada wisata mangrove Kebumen. Persepsi stakeholder pengunjung terhadap pengelolaan wisata mangrove Kebumen rata-rata sudah cukup baik. Strategi alternatif pengelolaan yang diberikan pengelola terhadap wisata mangrove Kebumen yaitu dengan memperluas lahan dan memperbaiki akses wisata.
This study entitled The Stakeholder Perception of Mangrove Ecotourism on the Logending Coastal Areas Kebumen through analysis hierarchy process. The study aimed to identify influenced factors of ecotourism management base on stakeholder perception and to develop management strategies base on the stakeholder perceptions. The method used descriptive analysis and hierarchical process analysis. Respondents consisted of 50 visitors and one ecotourism manager using observation, interviews, online questionnaires and literature studies. Influencing factors of mangrove tourism management in Kebumen were the high interest of visitors and the potential of mangrove ecosystem in Kebumen. Stakeholders' have quite good perceptions of the management of mangrove tourism in Kebumen. The alternative strategy to develop mangrove ecoturism in Logending Kebumen was land expanding and improving of tourism access.
2687030220A1D016014Potensi Bio B10 (Beauveria bassiana) sebagai Pengendali Nematoda Puru Akar (Meloidogyne spp.) pada Tanaman Tomat.Nematoda merupakan hama utama pada tanaman tomat. Salah satu alternatif pengendalian yang banyak diteliti dan dikembangkan adalah pengendalian hayati dengan memanfaatkan metabolit sekunder. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk (1) mengetahui konsentrasi Bio B10 yang efektif terhadap mortalitas nematoda puru akar Meloidogyne spp., (2) mengetahui frekuensi pemberian Bio B10 terbaik untuk mengendalikan nematoda puru akar Meloidogyne spp., dan (3) mengetahui pengaruh aplikasi Bio B10 terhadap pertumbuhan tanaman tomat. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman dan Screen House Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman dari bulan Oktober 2019 hingga Maret 2020. Penelitian terdiri dari 2 tahap, yaitu uji konsentrasi Bio B10 terhadap mortalitas nematoda (in vitro) dan uji frekuensi perlakuan Bio B10 untuk mengendalikan nematoda puru akar pada tanaman tomat (in planta). Uji konsentrasi Bio B10 dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 taraf konsentrasi, yaitu kontrol, 1%, 2%, 3%, dan 4% yang diulang sebanyak 5 kali. Variabel yang diamati yaitu mortalitas nematoda yang diamati selama 3 hari. Selanjutnya, pada uji frekuensi perlakuan Bio B10 dilakukan menggunakan Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) dengan 4 perlakuan beda frekuensi, yaitu 0 kali (kontrol), 2 kali, 4 kali, 6 kali, dan menggunakan nematisida kimia sintetik (furadan). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, bobot basah tajuk, bobot basah akar, tingkat kerusakan akar, dan populasi nematoda dalam tanah.
Hasil penelitian menunjukkan mortalitas tertinggi nematoda terdapat pada perlakuan Bio B10 konsentrasi tertinggi (4%) yaitu 22,70%. Konsentrasi Bio B10 yang efektif terhadap mortalitas nematoda puru akar Meloidogyne spp. berdasarkan nilai LC90 Bio B10 adalah 93,32 ml/l. Perlakuan terbaik untuk mengendalikan nematoda puru akar adalah pemberian Bio B10 sebanyak 4-6 kali. Namun, aplikasi Bio B10 tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.
Nematodes are main pest on tomato plants. One of alternative has been researched and developed is biological control with secondary metabolites. This study aims to determine the effective concentration of Bio B10 on mortality of root-knot nematodes Meloidogyne spp., knowing the best frequency giving Bio B to control root-knot nematodes Meloidogyne spp., and knowing the effect of Bio B10 application on tomato plant growth. This research was conducted in Plant Protection Laboratory and Green House of Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University from October 2019 to March 2020. This research consist 2 stages are concentration test of Bio B10 on nematode mortality (in vitro) and frequency test of Bio B10 application to control root-knot nematodes in tomato plant (in planta). Concentration test of Bio B10 used Completely Randomized Design with 5 levels of concentration, namely control, 1%, 2%, 3%, and 4%. Each concentration was repeated 5 times. The observed variable was mortality of nematodes for 3 days. Furthermore, frequency test of Bio B10 application used Latin Square Design with 4 differentially frequency application, namely 0 times (control), 2 times, 4 times, 6 times, and using synthetic chemical nematicides (furadan). Each treatment was repeated 5 times. The variables observed were plant height, shoot fresh weight, root fresh weight, root damage level, and nematodes population in the soil.
The results showed that the highest mortality of nematodeswas found in highest Bio B10 concentration(4&) is 22,70%. The effective concentration of Bio B10 to against the mortality of root-knot nematodes Meloidogyne spp. based on the value of LC90 Bio B10 is 93.32 ml/l. The best treatment to control root-knot nematodes is giving Bio B10 4-6 times. However, the application of Bio B10 has no effect to plant growth.
2687130219A1A116046INTENSI MAHASISWA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN MENJADI WIRAUSAHA PERTANIANSektor pertanian tidak diragukan lagi memiliki potensi yang luar biasa namun saat ini sektor pertanian bukanlah merupakan sektor yang digemari para anak muda di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan dayatarik tersendiri bagi generasi muda kepada pertanian melalui motivasi dan inovasi baru di bidang pertanian, yaitu melalui pendekatan wirausaha. Lulusan Fakultas Pertanian diharapkan bekerja dibidang pertanian menjadi wirausaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) sikap terhadap perilaku; 2) norma subjektif; 3) kontrol perilaku mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman untuk menjadi wirausaha pertanian dan mengetahui pengaruh komponen 1) sikap terhadap perilaku; 2) norma subjektif; 3) kontrol perilaku mahasiswa terhadap intensi mahasiswa Fakultas pertanian Universitas Jenderal Soedirman untuk menjadi wirausaha pertanian.
Penelitian dilaksanakan pada 5 juni 2020 hingga 22 Juli 2020 kepada 300 mahasiswa Fakultas Pertanian UNSOED dari berbagai program studi yang dipilih berdasarkan random sampling dan diambil secara daring menggunakan google form. Metode analisis menggunakan structural equation modelling dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga komponen theory of planned behavior yaitu sikap, kontrol perilaku dan norma subjektif berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap intensi menjadi wirausaha pertanian. Nilai koefisien jalur variabel sikap tertinggi yaitu 0,504 yang menunjukkan bahwa sikap memiliki pengaruh paling besar, diikuti oleh pengendalian perilaku dengan nilai koefisien jalur sebesar 0,265 dan terakhir adalah norma subjektif dengan nilai koefisien jalur 0,174. Mahasiswa Fakultas Pertanian UNSOED memiliki sikap yang tinggi menjadi wirausaha pertanian dan juga memiliki kontrol perilaku yang baik. Norma subjektif mahasiswa meyakini bahwa dosen menjadi elemen yang paling banyak mendorong mereka menjadi wirausaha pertanian.
The agricultural sector undoubtedly has tremendous potential, but currently the agricultural sector is not a popular sector for young people in Indonesia. Therefore, it requires a special attraction for the younger generation to agriculture through new motivation and innovation in agriculture, namely through entrepreneurial approaches. Graduates of the Faculty of Agriculture are expected to work in agriculture to become entrepreneurs. This study aims to determine 1) attitudes towards behavior; 2) subjective norms; 3) behavioral control of students of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, to become agricultural entrepreneurs and to find out the influence of 1) attitudes towards behavior; 2) subjective norms; 3) behavioral control on the intention of students of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, to become agricultural entrepreneurs.
The research was conducted on June 5 , 2020 to July 22, 2020, to 300 students of the Faculty of Agriculture UNSOED from various study programs selected based on random sampling and taken online using google form. The analysis method uses structural equation modeling and descriptive analysis. The results showed that the three components of the theory of planned behavior, namely attitude, behavior control and subjective norms had a positive and significant effect on the intention to become an agricultural entrepreneur. The highest path coefficient value for the attitude variable is 0.504, which indicates that attitude has the greatest influence, followed by behavioral control with a path coefficient value of 0.265 and finally the subjective norm with a path coefficient value of 0.174. UNSOED Faculty of Agriculture students have a high attitude to be agricultural entrepreneurs and also have good behavior control. Students' subjective norms believe that lecturers are the element that most drives them to become agricultural entrepreneurs.
2687230224D1A016088PENGARUH PERBEDAAN FISIK AZOLLA ( Azolla microphylla) DALAM RANSUM TERHADAP KONSUMSI DAN KECERNAAN SERAT KASAR PUYUH JANTAN (Coturnix-coturnix japonica)Penelitian dengan judul “Pengaruh Perbedaan Fisik Azolla (Azolla microphylla) Dalam Ransum Terhadap Konsumsi dan Kecernaan Serat Kasar Puyuh Jantan (Coturnix – coturnix japonica)”. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh suplementasi Azolla microphylla dalam perbedaan perlakuan fisik terhadap konsumsi dan kecernaan serat kasar pada puyuh jantan. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 04 januari – 08 februari 2020 di Desa Kebumen, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas dan Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, UNSOED, Purwokerto. Materi yang digunakan pada penelitian ini yaitu puyuh jantan pada umur 30 hari yang berjumlah 120 ekor yang dipelihara selama 4 minggu. Pakan yang diberikan yaitu pakan komersial B-11 KM dan Azolla microphylla dengan perbedaan perlakuan fisik. Percobaan dilakukan secara eksperimen dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Rancangan terdiri dari 4 perlakuan dan setiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan, setiap ulangen terdiri dari 6 ekor puyuh jantan. Perlakuan terdiri dari RO (pakan dengan penambahan Azolla microphylla 0%), R1 (pakan dengan penambahan Azolla microphylla segar sebanyak 3%), R2 (pakan dengan penambahan Azolla microphylla dengan perebusan sebanyak 3%), dan R3 (pakan dengan penambahan tepung Azolla microphylla sebanyak 3%). Hasil analisis variansi menunjukan bahwa suplementasi Azolla microphylla dengan perbedaan perlakuan fisik dalam pakan berpengaruh tidak nyata (P > 0,05) terhadap konsumsi dan kecernaan serat kasar pada puyuh jantan. Dapat disimpulkan bahwa suplementasi Azolla microphylla dengan perbedaan fisik sebanyak 3% dalam pakan belum mampu meningkatkan konsumsi dan kecernaan serat kasar pada puyuh jantan. This study is entitled "The Effect of Physical Differences of Azolla (Azollamicrophylla) in Feed on Feed Consumption and Digestibility Crude Fiber of Male Quail Bodies (Coturnix-coturnix japonica)". This study aims to examine the effect of Azolla microphylla supplementation on differences in physical treatment of Consumption and Digestibility Crude Fiber in male quails .The study was conducted on January 4 - February 8, 2020 in Kebumen Village, Baturraden District, Banyumas Regency and the Laboratory of Animal Food Science, Faculty of Animal Science, UNSOED, Purwokerto.The material used was male quail at the age of 30 days, amounting to 120 animals that are kept for 4 weeks.The feed given was commercial feed B-11 KM and Azolla microphylla with different physical treatments.The experiments were carried out experimentally and used a completely randomized design (CRD). The design consisted of 4 treatments and each treatment consisted of 5 replications, each repeat consisted of 6 male quails.The treatments consisted of RO (feed with the addition of Azolla microphylla 0%), R1 (feed with the addition of fresh Azolla microphylla by 3%), R2 (feed with addition of Azolla microphylla with boiling as much as 3%), and R3 (feed with addition of Azolla microphylla flour) as much as 3%).The results of the analysis of variance showed that supplementation of Azollamicrophylla with differences in physical treatment in feed had no significant effect (P> 0.05) on feed consumption and male quail weight gain. it can be concluded that supplementation of Azollamicrophylla with a physical difference of 3% in feed has not been able to increase Consumption and Digestibility Crude Fiber in male quails.
2687330221A1D016170UJI METABOLIT SEKUNDER DUA ISOLAT Beauveria bassiana SECARA TUNGGAL DAN GABUNGAN TERHADAP MORTALITAS
Spodoptera frugiperda J.E Smith DAN PERTUMBUHAN
TANAMAN JAGUNG
Penelitian bertujuan untuk 1) mengetahui mortalitas S. frugiperda, 2) aktivitas makan S. frugiperda, 3) isolat B. bassiana terbaik yang memiliki keefektifan tertinggi, 4) penggabungan B. bassiana isolat Jember dan Papua terhadap S. frugiperda, dan 5) pertumbuhan tanaman jagung akibat perelakuan metabolit sekunder B. bassiana. Penelitian dilaksanakan di Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman pada Juni-Oktober 2020. Penelitian terdapat dua tahap yaitu in vitro dan in planta. Pengujian in vitro terdiri atas 6 perlakuan dengan 4 ulangan yaitu kontrol, metabolit sekunder B. bassiana isolat Jember, isolat Papua, isolat Jember dan Papua perbandingan 1 : 1, 2 : 1, dan, 1 : 2 pada konsentrasi 20%. Pengujian in planta terdiri atas 3 perlakuan dan 8 ulangan yaitu kontrol, insektisida kimia berbahan aktif emamektin benzoat 1,5 mL/L dan metabolit sekunder isolat Jember konsentrasi 20%. Variabel pengamatan dalam penelitian ini yaitu mortalitas S. frugiperda, aktivitas makan S. frugiperda, intensitas serangan, tinggi tanaman, dan jumlah daun. Hasil penelitian menunjukkan metabolit sekunder B. bassiana isolat Jember dan Papua menyebabkan 23,33-56,46% mortalitas pada S. frugiperda. B. bassiana isolat Jember cara tunggal merupakan isolat dengan toksisitas tertinggi yang dapat menghambat 9,93% aktivitas makan S. frugiperda. Penggabungan B. bassiana isolat Jember dan Papua menunjukkan hasil melemahkan keefektifan metabolit sekunder B. bassiana isolat Jember (antagonis), sedangkan terhadap metabolit sekunder B. bassiana isolat Papua tidak ada pengaruh (netral). Penggunaan metabolit sekunder B. bassiana isolat Jember dapat menekan intensitas serangan sebanyak 26,92%, dan meningkatkan nilai tinggi tanaman sebesar 6,4%, dan rerata jumlah daun sebanyak 20,4%. This study aims to 1) determine the mortality of S. frugiperda, 2) eating activity of S. frugiperda, 3) the best B. bassiana isolate which has the highest effectiveness, 4) the combination of B. bassiana isolates from Jember and Papua to S. frugiperda, and 5) growth corn plants due to treatment of secondary metabolites B. bassiana. The research was carried out by the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University in June-October 2020. The research consisted of two stages, namely in vitro and in planta. In vitro testing consisted of 6 treatments with 4 replications, namely control, secondary metabolites of B. bassiana Jember isolates, Papuan isolates, Jember isolates and Papua ratios of 1: 1, 2: 1, and, 1: 2 at a concentration of 20%. In planta testing consisted of 3 treatments and 8 replications, namely control, chemical insecticide with active ingredient emamectin benzoate 1.5 mL / L and secondary metabolite of Jember isolate with a concentration of 20%. The observation variables in this study were S. frugiperda mortality, S. frugiperda feeding activity, attack intensity, plant height, and number of leaves. The results showed that the secondary metabolites of B. bassiana isolates from Jember and Papua caused 23.33-56.46% mortality in S. frugiperda. B. bassiana Jember isolate single method is the isolate with the highest toxicity which can inhibit 9.93% of S. frugiperda feeding activity. The combination of B. bassiana isolates from Jember and Papua showed the results weakened the effectiveness of the secondary metabolites of B. bassiana isolate Jember (antagonist), while the secondary metabolites of B. bassiana isolates from Papua had no effect (neutral). The use of secondary metabolites of B. bassiana isolate from Jember can reduce the intensity of attack by 26.92%, and increase the plant height by 6.4%, and the average number of leaves by 20.4%.
2687430228L1B016085PENAPISAN BAKTERI AMILOLITIK PADA SALURAN PENCERNAAN IKAN KERAPU CANTANG YANG DIBUDIDAYAKAN DI KABUPATEN PANGANDARANSalah satu komoditas perikanan yang mempunyai potensi besar dengan harga jual dan permintaan yang cukup tinggi adalah ikan kerapu cantang. Bakteri amilolitik merupakan bakteri yang memproduksi enzim amilase. Bakteri amilolitik perlu diketahui aktivitasnya pada pencernaan ikan Kerapu Cantang untuk memaksimalkan daya cerna pakan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui keberadaan dan berapa besar aktivitas bakteri amilolitik pada saluran pencernaan ikan kerapu cantang. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode observasi dengan teknik pengambilan sampel secara purposive random sampling. Sampel yang diambil yaitu saluran pencernaan pada bagian anterior, middle, dan posterior. Variabel utama yang diamati adalah mengamati keberadaan dan berapa besar aktivitas bakteri amilolitik dari saluran pencernaan ikan kerapu cantang. Sedangkan variabel pendukung pada penelitian ini yaitu kelimpahan bakteri, uji gram KOH, uji Bacillus serta pewarnaan gram. Hasil kelimpahan bakteri dari saluran pencernaan ikan kerapu cantang diperoleh dengan rata-rata pada bagian anterior 4,52 × 〖10〗^8 CFU/gr, pada bagian middle 5,142 × 〖10〗^8 CFU/gr, dan Posterior 7,781 × 〖10〗^8 CFU/gr. Hasil penelitian menunjukan keberadaan bakteri amilolitik ditandai dengan terbentuknya zona bening disekitar isolat yang ditumbuhkan pada media pati. Rata-rata proporsi aktivitas bakteri amilolitik tertinggi sebesar 68% dibagian middle, anterior 56% dan posterior 46%. Besar aktivitas bakteri amilolitik dengan pengukuran indeks hidrolisis amilolitik pada saluran pencernaan ikan kerapu cantang sebesar 0,11-1,6 pada bagian anterior, middle 0,1-3, dan posterior 0,1-2.One fishery commodity that has great potential with a high enough selling price and demand is Cantang grouper. Amylolytic bacteria are bacteria that produce amylase enzymes. Amylolytic bacteria need to know their activity in Cantang Grouper digestion to maximize feed digestibility. The purpose of this study was to determine the presence and activity of amylolytic bacteria in the digestive tract of Cantang grouper. The method used in this study is the method of observation with the sampling technique by purposive random sampling. Samples taken are the digestive tract in the anterior, middle, and posterior. The main variable that was observed was observing the presence and how much the activity of amylolytic bacteria from the digestive tract of grouper fish. While the supporting variables in this study were the abundance of bacteria, the gram KOH test, the test Bacillus and the gram staining. The results of the abundance of bacteria from the digestive tract of Cantang grouper were obtained with an average of 4.52 × CFU / g in the anterior, 5.142 × CFU / g in the middle, and 7.781 × CFU / g in the posterior part. The results showed that the presence of amylolytic bacteria was indicated by the formation of a clear zone around the isolates grown on starch media. The highest average proportion of amylolytic bacteria activity was 68% in the middle, 56% anterior and 46% posterior. The amount of amylolytic bacteria activity by measuring the amylolytic hydrolysis index in the digestive tract of Cantang grouper was 0.11-1.6 in the anterior, middle 0.1-3, and 0.1-2 posterior parts
2687530078L1B016021Performa Pertumbuhan dan Kaitannya dengan Karakteristik DNA Larva Kakap Putih (Lates calcarifer) Selama Pemeliharaan pada Fotoperiode BerbedaKetersediaan benih yang kontinu, baik dalam jenis, jumlah maupun mutu menjadi faktor utama untuk mendukung keberhasilan budidaya ikan kakap putih. Kendala utama dalam pembenihan kakap putih adalah kualitas yang meliputi pertumbuhan, rentan terhadap penyakit dan perubahan kondisi lingkungan, serta abnormalitas yang tinggi. Fotoperiode dan karakter genetik memiliki pengaruh penting terhadap performa pertumbuhan larva. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh fotoperiode yang optimal terhadap performa pertumbuhan larva kakap putih dan karakteristik DNA larva kakap putih dengan performa pertumbuhan berbeda menggunakan metode RAPD. Larva kakap putih berumur D0 dalam wadah 20 L air untuk mengetahui performa pertumbuhan larva. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan (manipulasi fotoperiode 6T:18G, 12T:12G, 18T:6G, dan 24T:0G) dan 3 ulangan. Uji polimorfisme DNA dilakukan menggunakan metode eksplorasi yang dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu pertumbuhan cepat, sedang dan lambat. Hasil dari penelitian ini adalah 24 periode terang optimal untuk pertambahan panjang (Lm), pertambahan berat (Wm), laju pertumbuhan spesifik (SGR) dan sintasan (SR). Tidak diperoleh marker spesifik yang membedakan antara larva kakap putih yang tumbuh cepat, sedang dan lambat dengan PCR-RAPD yang menggunakan primer OPA 18 dan OPD 5.Continuous availability of seeds, both in type, quantity and quality is the main factor to support the success of Barramundi cultivation. The main obstacle in Barramundi hatchery is quality which includes growth, susceptibility to disease and changes in environmental conditions, as well as high abnormalities. Photoperiod and genetic characteristics have an important influence on larval growth performance. The purpose of this study was to determine the effect of optimal photoperiod on growth performance of larvae and DNA characteristics of larvae with different growth performance using the RAPD method. Lates calcarifer larvae aged D0 in a 20 L container of water to determine larval growth performance. This study used a completely randomized design with 4 treatments (manipulation of 6T: 18G, 12T: 12G, 18T: 6G, and 24T: 0G photoperiod) and 3 replications. DNA polymorphism test was carried out using an exploration method which was grouped into 3 groups (fast, medium and slow growth). The results of this study were 24 hours of light optimal for increasing length (Lm), weight gain (Wm), specific growth rate (SGR) and survival (SR). There were no specific markers that distinguished fast, medium and slow growth of Lates calcarifer larvae and PCR-RAPD using OPA 18 and OPD 5 primers.
2687630234B1B016015Molecular Detection of DENV-1 and DENV-3 by Real-Time RT-PCR Technique from Dengue Patient in Banyumas Regency
Demam dengue adalah penyakit berbahaya yang disebabkan oleh virus dengue dan ditransmisikan oleh Aedes aegypti dan Ae. albopictus. Virus dengue (DENV) termasuk dalam famili Flaviviridae dan genus Flavivirus, dengan empat serotipe utama (DENV-1,-2,-3, dan -4). Demam dengue merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan di negara tropis dan sub tropis, termasuk Indonesia. Banyumas merupakan bagian dari Indonesia yang merupakan daerah endemis virus dengue dan menimbulkan wabah dalam beberapa kasus. Penelitian sebelumnya dengan metode simplexa dilaporkan bahwa di Banyumas beredar empat serotipe dengue dengan DENV-3 sebagai serotipe utama, diikuti oleh DENV-1, DENV-2, dan DENV-4. Sejauh ini tidak ada informasi apakah serotipe yang beredar stabil atau dapat berubah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase DENV-1 dan DENV-3 dari serum penderita dengue di Kabupaten Banyumas dengan menggunakan Multiplex CDC DENV-1-4 real-time RT-PCR. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. Sampel adalah serum yang diambil dari pasien dengue di dua rumah sakit di Kabupaten Banyumas, yaitu RS Elizabeth dan RS Sinar Kasih Purwokerto. Serum diambil oleh analis ahli dari setiap rumah sakit, kemudian dibawa ke Laboratorium Dengue, Eijkman, Jakarta untuk dilanjutkan dengan proses ekstraksi RNA dan amplifikasi. Sebanyak 32 sampel diekstraksi menggunakan Kit Qiagen. Dilanjutkan dengan mendeteksi serotipe DENV-1 dan DENV-3 menggunakan Multiplex CDC DENV-1-4 Real-Time RT-PCR. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Multiplex CDC DENV-1-4 real-time RT-PCR berhasil mendeteksi DENV-3 dari pasien positif dengue di Banyumas pada tahun 2019 dengan persentase 18,75% (6 dari 32 sampel). Sedangkan DENV-1 tidak ditemukan pada serum penderita dengue.Dengue fever is a dangerous disease caused by the dengue virus transmitted by Aedes aegypti and also Ae. albopictus. Dengue virus (DENV) belongs to Flaviviridae's family and the genus of Flavivirus, with four major serotypes (DENV-1,-2,-3, and -4). Dengue fever is a major public health problem in tropical and sub-tropical countries, including Indonesia. Banyumas is a part of Indonesia that an endemic area of the Dengue virus and causing an outbreak in some cases. Previous research using the simplexa method was reported that in Banyumas are circulate four serotypes with DENV-3 as the predominant serotype, followed by DENV-1, DENV-2, and DENV-4. There is no information so far whether the circulating serotype is stable or could be changed. The aim of this research is to know the percentage of DENV-1 and DENV-3 from dengue patients serum in the Banyumas Regency using Multiplex CDC DENV-1-4 real-time RT-PCR. The research was conducted by a survey method. The samples are serum taken from the dengue patients in two hospitals in the Banyumas Regency, such as Elizabeth and Sinar Kasih Hospital Purwokerto. The hospital's expert analyst took the Serum, then carried to Dengue Laboratory, Eijkman, Jakarta, to proceed with RNA extraction and amplification. A total of 32 samples are extracted using the Qiagen Kit. Followed by detecting serotype DENV-1 and DENV-3 using Multiplex CDC DENV-1-4 Real-Time RT-PCR. The data analysis uses descriptive. Multiplex CDC DENV-1-4 real-time RT-PCR assay successfully detected DENV-3 from the dengue-positive patient in Banyumas in 2019 with a percentage of 18.75% (6 of 32 samples). Meanwhile, DENV-1 was not found in the serum of dengue patients.
2687730229A1D116003UJI KEEFEKTIFAN TIGA ISOLAT Trichoderma harzianum TERHADAP PENYAKIT MOLER BAWANG MERAH IN PLANTAPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan tiga isolat T. harzianum dalam mengendalikan penyakit moler dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2019-September 2020. Rancangan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Kelompok (non-faktorial). Perlakuan yang diujikan antara lain kontrol, ekstrak T. harzianum T002, T161, dan T205. Perlakuan diulang enam kali dan diujikan pada tiga tanaman. Variabel yang diamati antara lain variabel pengamatan penyakit, pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak T. harzianum T002 merupakan isolat yang paling efektif dalam mengendalikan penyakit moler atau mampu menurunkan intensitas penyakit, masa inkubasi, kepadatan akhir patogen dan nilai AUDPC masing-masing sebesar 61,747, 43,162, 46,153, dan 70,885%. Pemberian ekstrak T. harzianum tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Namun ekstrak T. harzianum T002 adalah isolat terbaik dalam meningkatkan jumlah anakan, jumlah umbi dan bobot segar tanaman masing-masing mencapai 3,34, 7,956, dan 9,991%.This study aimed to determine the effectiveness of three T. harzianum isolates in controlling Fusarium wilt and their effect on growth and yield of shallot. The study was conducted from November 2019-September 2020. The design in this study was a randomized block design (non-factorial). The treatments tested included control, T. harzianum T002, T161, and T205 extracts. The treatment was repeated six times and tested on three plants. The variables observed were the observation variables for the disease, growth and yield of shallots. Results of the research showed that T. harzianum T002 extract was the most effective isolate in controlling the disease or was able to reduce disease intensity, incubation period, final density of pathogens, and AUDPC values were 61.747, 43.162, 46.153, and 70.885%, respectively. T. harzianum extract had no effect on the growth and yield of shallot. However, T. harzianum T002 extract was the best isolate in increasing the number of tillers, number of tubers, and plant fresh weight, reaching 3.34, 7.956, and 9.991%, respectively
2687830231B1B016002THE WATER QUALITY RELATED TO ORGANIC MATTER POLLUTION AT LOGAWA RIVER IN BANYUMASDAS Sungai Logawa merupakan salah satu sungai yang ada di Kabupaten Banyumas. Masalah utama yang harus dihadapi dalam air adalah pencemaran air. Tingkat pencemaran air yang tinggi berasal dari daerah pemukiman, percabangan sungai, dan areal persawahan, tingginya kontaminasi mikroorganisme terutama bakteri coliform. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kelimpahan fecal coliform dan total bakteri coliform di Sungai Logawa Banyumas, mendeskripsikan variabel fisika-kimia di Sungai Logawa Banyumas, dan menganalisis hubungan antara kelimpahan fecal coliform, total bakteri coliform dan variabel fisika-kimiawi di Sungai Logawa Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode survei pada enam stasiun di Sungai Logawa Banyumas dengan pengambilan sampel secara acak berstrata. Data kelimpahan bakteri fecal coliform, bakteri total coliform dan variabel fisika-kimia dibandingkan dengan menggunakan baku mutu air dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82/2001 untuk kelas III. Hubungan antara kelimpahan bakteri fecal coliform, kelimpahan total bakteri coliform, dan faktor variabel fisika-kimia dilakukan dengan analisis Korelasi Spearman menggunakan Statistical Package for the Social Sciences software ver 25.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan bakteri fecal coliform dan total coliform di Stasiun VI cukup tinggi dibandingkan dengan stasiun lain. Konsentrasi variabel fisika-kimia tergolong baik tetapi telah tercemar kecuali konsentrasi BOD5 di Stasiun VI dibandingkan stasiun lain. Secara umum peningkatan konsentrasi BOD5 berkaitan dengan peningkatan kelimpahan bakteri fecal coliform di Stasiun VI.Logawa River watershed is one of the rivers in the Banyumas Regency. The main problem that must be faced in water is water pollution. The higher level of water pollution has come from settlement area, river branching, and rice field area, the high contamination of microorganisms, especially coliform bacteria. The aim of this research was to describing the abundance of fecal coliform and total coliform bacteria at Logawa River in Banyumas, describing the physico-chemical variables of Logawa River in Banyumas, and analyzing the relationship between the abundance of fecal coliform, total coliform bacteria and physico-chemical variables at Logawa River in Banyumas. The research was survey methods at six stations of Logawa River in Banyumas with stratified random sampling. The abundance of fecal coliform bacteria, total coliform bacteria, and physico-chemical variables data were compared using water quality standards from Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Number 82/2001 for class III. The relationship between the abundance of fecal coliform bacteria, the abundance of total coliform bacteria, and physico-chemical variables factors were performed by Spearman’s Rank Correlation analyses using the Statistical Package for the Social Sciences software ver 25.0. The result showed that the abundance of fecal coliform and total coliform bacteria was high at Station VI comparing to other stations. The physico-chemical variables concentration was classified as good but has been polluted, except concentration of BOD5 at Station VI comparing to other stations. In general, the increasing concentration of BOD5 levels tends to the increasing of the abundance of fecal coliform bacteria at Station VI.
2687930296E1A015232EFEKTIVITAS PENEGAKAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA SIBER OLEH UNIT CYBERCRIME DI POLRESTA BANYUMASCybercrime ialah segala macam penggunaan jaringan komputer untuk tujuan criminal dan/atau kriminal berteknologi tinggi dengan menyalahgunakan kemudahan teknologi digital. Kasus cybercrime kini tidak hanya terjadi di kota besar saja, di Kabupaten Banyumas marak terjadi seperti kasus penipuan online, pencemaran nama baik, penyebaran video asusila melalui sosial media sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat. Pada penelitian ini memunculkan permasalahan efektivitas penegakan hukum oleh Polresta Banyumas dan kendala yang dihadapi dalam penegakan hukum cybercrime. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penegakan hukum terhadap cybercrime oleh Polresta Banyumas dan meneliti hambatan atau kendala yang dihadapi Polresta Banyumas dalam penegakan hukum terhadap cybercrime. Penelitian ini menggunakan metode yuridis sosiologis, dengan spesifikasi penelitian deskriptif analitis, lokasi penelitian di Kepolisian Polresta Banyumas, dengan sumber data yang digunakan data primer dan data sekunder.
Hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa praktik penegakan hukum terhadap cybercrime secara umum telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang berlaku, namun belum efektif dalam penegakannya. Kendala dalam penegakan hukum terhadap cybercrime antara lain karena kurangnya fasilitas dan sarana, minimnya kemampuan penegak hukum, dan tidak ada unit khusus yang menangani kasus cybercrime.
Kata Kunci : Efektivitas, Penegakan hukum, cybercrime
Cybercrime is all types of high-tech use of computer networks for criminal and / or criminal purposes by misusing the convenience of digital technology. Nowadays, the cybercrime cases not only happen in big cities, in Banyumas Regency are lots of online frauds, defamations, disseminations of immoral videos through social media that all cause public unrest. This research takes an issue of the effectiveness of law enforcement by Banyumas police officers and the obstacles faced in law enforcement against cybercrime. The aims of this research are to find out the effectiveness of law enforcement against cybercrime by Banyumas police officers and to find out the obstacles faced by Banyumas police officers in law enforcement against cybercrime. This research was conducted in Banyumas Regional Police Office. This research uses a juridical sociological method with descriptive analytical research specifications. The data sources used in this research are primary and secondary data.
The result of the research and the discussion conclude that the practice of law enforcement against cybercrime in general has been carried out in accordance with the applicable regulations, but the enforcement has not been effective. The obstacles of law enforcement against cybercrime are the lack of facilities, capabilities, and units that handle cybercrime cases.

Keywords: effectiveness, law enforcement, cybercrime.
2688030232B1A016124Penyakit jamur dan tingkat kerusakan pada tanaman seledri (Apium graveolens L.) di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga Tanaman seledri (Apium graveolens L.) adalah salah satu sayuran daun yang memiliki banyak manfaat, antara lain dapat digunakan sebagai pelengkap masakan dan memiliki khasiat obat. Seledri adalah tanaman sayur dari familia Apiaceae yang merupakan tanaman herba yang memiliki akar tunggang, tepi daun bergerigi dan batangnya pendek. Daun seledri memiliki aroma yang khas, daun seledri juga mengandung protein, belerang, kalsium, besi, fosfor, vitamin A, B1 dan C, serta psoralen yang merupakan zat kimia yang dapat menghancurkan radikal bebas penyebab penyakit kanker.
Kebutuhan seledri semakin meningkat dalam upaya peningkatan terhambat oleh adanya serangan hama dan penyakit. Salah satu hambatan petani di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga yaitu adanya penyakit yang disebabkan oleh jamur, sehingga pengendalian perlu dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan produktivitas tanaman seledri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis penyakit dan jamur penyebab penyakit, serta besar persentase penyakit yang disebabkan oleh jamur pada tanaman seledri di Desa Serang.
Penelitian ini mendapatkan hasil yaitu terdapat bercak daun Septoria sp. dan bercak daun Cercospora sp pada tanaman seledri. Bercak daun yang paling banyak muncul yaitu Cercospora sp. dengan hasil frekuensi 195 kali dan persentase penyakit sebesar 52,98%.

Kata kunci: jamur patogen, penyakit, seledri (Apium graveolens L.)
SUMMARY
Celery (Apium graveolens L.) is a vegetable that contains many benefits on it's leaf, it can be used as a food supplement and has a medical properties. Celery is a plant from Apiaceae family which is an herbal plant that has tree root, jagged leaf, short stems and unique aroma. Celery leaves also contain protein, sulfur, calcium, iron, phosporus, vitamins A, B1, C, and psoralen where these chemicals can destroy free radicals that cause cancer.
The need for celery is increasing in an effort to increase it hampered by the presence of pests and diseases. One of the obstacles for farmers in Serang Village Subdistrict, Purbalingga Regency is the presence of diseases caused by fungi, so that control needs to be done in order to increase the productivity of celery plants. This study aims to determine the types of diseases and fungi that cause disease, as well as the large percentage of diseases caused by fungi in celery in Serang Village.
This research shows that there areSeptoria sp. and leaf spot of Cercospora sp. The most common leaf spots were Cercospora sp. with a frequency of 195 times and a percentage of disease of 52.98%.

Keywords: pathogenic fungus, disease, celery (Apium graveolens L.)