Artikel Ilmiah : C1A016101 a.n. NOVI FARADINA
| NIM | C1A016101 |
|---|---|
| Namamhs | NOVI FARADINA |
| Judul Artikel | ANALISIS PERBANDINGAN PENDAPATAN USAHATANI BAWANG MERAH BERDASARKAN JENIS PENGELOLAAN LAHAN (Studi Kasus di Desa Wanasari Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes) |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Penelitian ini merupakan penelitian tentang perbandingan pendapatan usahatani bawang merah berdasarkan jenis pengelolaan lahan yang berbeda yaitu lahan milik sendiri, lahan sakap atau bagi hasil, dan lahan sewa. Penelitian ini mengambil judul: “Analisis Perbandingan Pendapatan Usahatani Bawang Merah berdasarkan Jenis Pengelolaan Lahan di Desa Wanasari Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan pendapatan dan efisiensi antara usahatani bawang merah lahan milik sendiri, usahatani bawang merah dengan lahan sakap atau bagi hasil, dan usahatani bawang merah dengan lahan sewa. Metode yang digunakan dalam menentukan sampel dalam penelitian yaitu purposive random sampling.Populasi dalam peneitian ini adalah semua petani bawang merah yang ada di Desa Wanasari yang berjumlah 120 petani. Jumlah responden yang diambil dalam peneliti adalah 54 responden, yang terdiri dari 27 responden merupakan petani bawang merah dengan lahan milik sendiri, 5 responden merupakan petani bawang merah dengan lahan sakap atau bagi hasil, dan 22 responden merupakan petani bawang merah dengan lahan sewa. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menggunakan analisis keuntungan usahatani, uji anova satu arah dan R/C rasio, hasil yang didapatkan bahwa usahatani bawang merah dengan lahan sewa memperoleh pendapatan tertinggi yaitu sebesar Rp90.028.572/ha. Sedangkan usahatani bawang merah dengan lahan milik sendiri sebesar Rp87.829.6018/ha dan usahatani bawang merah dengan lahan sakap atau bagi hasil sebesar Rp88.671.622/ha. Selanjutya berdasarkan uji anova satu arah diketahui bahwa tidak terdapat perbedaan pendapatan yang diakibatkan oleh perbedaan pengelolaan lahan dengan niai signifikansi 0,363 > 0,05. Sementara usahatani bawang merah dengan jenis lahan milik sendiri, lahan sakap atau bagi hasil, dan lahan semua sudah efisien secara ekonomi (R/C > 1), dengan nilai R/C usahatani lahan milik yaitu 3,987, R/C usahatani lahan sakap yaitu 3,946, dan R/C usahatani lahan sewa yaitu 3,947. Implikasi dari penelitian ini yaitu usahatani bawang merah dengan jenis lahan milik, lahan sakap, dan lahan sewa terus melakukan efisiensi terutama pada biaya penggunaan pestisida yang tergolong tinggi yang dapat diminimumkan dengan menggunakan pestisida yang berasal dari alam seperti pestisida hayati dan pestisida nabati. Dengan adanya edukasi budidaya bawang merah dari pemerintah daerah, petani bawang merah juga sudah mulai mengusahakan lahan agar menghasilkan produksi yang tinggi seperti yang dilakukan oleh petani dengan lahan sewa. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | This research is a study on the comparison of red onion farming income based on different types of land ownership, namely self-owned land, retirement land or production sharing, and leasehold land. This research takes the title: "Analysis of Red Onion Farming Income Comparison by Type of Land Ownership in Wanasari Village, Wanasari District, Brebes Regency". The purpose of this study was to determine the ratio of income and efficiency between red onion farming on land owned by themselves, red onion farming with storage or production sharing, and red onion farming with leased land. The method used in determining the respondents is purposive random sampling. The population in this research is all red onion farmers in Wanasari Village, totaling 120 farmers. The number of respondents taken in the researcher was 54 respondents, consisting of 27 respondents who were red onion farmers with their own land, 5 respondents were red onion farmers with sack land or production sharing, and 22 respondents were red onion farmers with leased land. Based on the results of research and data analysis using farm profit analysis, one-way ANOVA test and R / C ratio, the results showed that red onion farming with leased land received the highest income, which was IDR 90,028,572 / ha. Meanwhile, red onion farming using self-owned land is IDR 87,829,6018 / ha and red onion farming using profit sharing is IDR 88,671,622 / ha. Furthermore, based on the one-way ANOVA test, it is known that there is no difference in income caused by differences in land ownership with a significance value of 0.363> 0.05. Meanwhile, red onion farming with its own land type, storage area or production sharing, and all land is economically efficient (R / C> 1), with the R / C value for owned land farming is 3.987, R / C for farming based on production sharing is 3,946, and R/C for leased land farming is 3,947. The implication of this research is that red onion farming with the types of land belonging to the land, profit sharing land, and leased land continues to make efficiency, especially in the relatively high cost of using pesticides which can be minimized by using pesticides derived from nature such as biological pesticides and vegetable pesticides. With the education on red onion cultivation from the local government, red onion farmers have also started cultivating the land to produce high production as is done by farmers with leased land. |
| Kata kunci | Usahatani Bawang Merah, Pendapatan, Efisiensi (Red Onion Farming, Income, Efficiency) |
| Pembimbing 1 | Drs. H. Herman Sambodo, MP |
| Pembimbing 2 | Drs. Supadi, M.Si |
| Pembimbing 3 | Sukiman, MP |
| Tahun | 2020 |
| Jumlah Halaman | 10 |
| Tgl. Entri | 2020-11-13 12:03:25.735903 |