Artikelilmiahs
Menampilkan 21.221-21.240 dari 50.150 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 21221 | 24071 | H1H014033 | PERTUMBUHAN UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) DENGAN PADAT PENEBARAN BERBEDA DALAM SISTEM POLIKULTUR DENGAN IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy) | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan padat penebaran udang galah dalam sistem polikultur dengan ikan gurami terhadap pertumbuhan, sintasan dan panen udang galah. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, yaitu P1 (40 ekor udang galah dan 0 ikan gurami), P2 (30 ekor udang galah dan 10 ekor ikan gurami), P3 (20 ekor udang galah dan 20 ekor ikan gurami), dan P4 (10 ekor udang galah dan 30 ekor ikan gurami). Pemeliharaan udang galah dilakukan selama 60 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan padat penebaran udang galah berpengaruh terhadap pertumbuhan berat, sintasan dan panen udang galah (P<0.05), namun tidak berpengaruh terhadap laju pertumbuhan spesifik (P>0.05). Perbedaan padat penebaran pada P2, P3, dan P4 menghasilkan nilai paling baik untuk pertumbuhan berat sebesar 1.34±0.07 gram, 1.21±0.05 gram, dan 1.25±0.13 gram. Perbedaan padat penebaran pada P2 dan P3 menghasilkan nilai paling baik untuk sintasan udang galah sebesar 80.00±8.61% dan 70.00±4.08%. Perbedaan padat penebaran pada P2 menghasilkan nilai paling baik untuk panen sebesar 96.20±6.31 g/m2 selama 60 hari pemeliharaan. | This study was aimed to know different stocking densities of giant freshwater prawn to growth performances, survival rate and yield of giant freshwater prawn. The complete randomized design was applied using four different stocking densities trials P1 (40 giant freshwater prawn and 0 gouramy fish), P2 (30 giant freshwater prawn and 10 gouramy fish), P3 (20 giant freshwater prawn and 20 gouramy fish), and P4 (10 giant freshwater prawn and 30 gouramy fish) with four replications. Maintenance of the giant freshwater prawn performed for 60 days. The research results showed that different stocking densities of giant freshwater prawn had an affection weight gain, survival rate, and yield of giant freshwater prawn (P<0.05), but don’t had an affection specific growth rate (P>0.05). Different stocking densities of P2, P3 and P4 showed the highest result for weight gain on 1.34±0.07 gram, 1.21±0.05 gram, and 1.25±0.13 gram. Different stocking densities of P2 and P3 showed the highest result for survival rate on 80.00±8.61% and 70.00±4.08%. Different stocking densities of P2 showed the highest result for the yield on 96.20±6.31 g/m2 in 60 days maintenance. | |
| 21222 | 24073 | G1A015096 | Perbandingan Rerata Nilai Ujian Identifikasi Anatomi Mahasiswa FK Unsoed Berdasarkan Kesesuaian antara Gaya Belajar dengan Kebiasaan Belajar Model VARK | Latar Belakang: Kegiatan belajar dan mengajar dipengaruhi banyak faktor, salah satunya kesesuaian antara gaya belajar dengan kebiasaan belajar yang diteliti berpengaruh signifikan terhadap performa akademik. Kesesuaian tersebut diamati dengan model VARK sedangkan performa akademik yang dibandingkan adalah rerata nilai ujian identifikasi Anatomi. Anatomi adalah ilmu esensial pendidikan kedokteran dan ujian identifikasi merupakan komponen penyusun nilai akhir blok. Tujuan: Untuk menganalisis perbedaan rerata nilai ujian identifikasi Anatomi berdasarkan kesesuaian antara gaya belajar dengan kebiasaan belajar model VARK pada mahasiswa Jurusan Kedokteran FK Unsoed Angkatan 2017. Metode: Rancangan cross sectional dilakukan pada 34 mahasiswa Jurusan Kedokteran FK Unsoed Angkatan 2017 yang terpilih melalui random sampling. Pengambilan data menggunakan Kuesioner VARK versi 7.1 Neil D. Fleming (2011) dan kuesioner kebiasaan belajar hasil konstruksi peneliti yang valid dan reliabel. Data nilai ujian identifikasi Anatomi diambil dari database departemen Anatomi. Uji hipotesis menggunakan Mann Whitney. Hasil: Gaya belajar yang paling banyak dimiliki adalah VARK (44,12%), kebiasaan belajar yang paling banyak digunakan adalah V, VK, dan AR (masing-masing 14,71%), dan rerata nilai ujian identifikasi Anatomi paling banyak pada rentang nilai C (38,24%), dengan rerata nilai pada kelompok gaya belajar sesuai kebiasaan belajar (91,18%; 60,18±13,73) lebih rendah daripada kelompok tidak sesuai (8,82%; 61,94±14,38). Penelitian ini tidak signifikan (p=0,927). Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan rerata nilai ujian identifikasi Anatomi antara dua kelompok yang diamati dalam penelitian ini. | Background: Teaching and learning activities were influenced by various factors, included learning styles and learning habits conformity, which had significant impact to academic performance. This conformity was conducted using VARK and Anatomy Objective Structured Practical Examination (OSPE) mean score as compared academic achievement. Anatomy was an essential knowledge in medical education and OSPE was a determinant for final scores. Objectives: to investigate significant differences in Anatomy OSPE mean score based on learning styles and learning habits conformity using VARK on first year Unsoed medical students (2017). Methods: A cross-sectional study was conducted among 34 first year Unsoed medical students (2017) and selected with random sampling. Data were collected using valid and reliable VARK questionnaire 7.1 by Fleming (2011) and learning habits inventories constructed by the researcher. Anatomy OSPE score were taken from Anatomy department database. Hypothesis was analysed using Mann Whitney. Results: The most preferred learning style is VARK (44,12%), most used learning habits are V, VK, and AR strategies (all were 17,71%), and majority of students scored at the range of C in Anatomy OSPE mean score (38,24%), with the mean score of conformed group (91,18%; 60,18±13,73) is lower than nonconformed ones (8,82%; 61,94±14,38). There is no significant result in this research (p=0,927). Conclusion: There is no differences in Anatomy OSPE mean score between the two groups studied. | |
| 21223 | 26165 | E1A015266 | PENERAPAN PASAL 2 AYAT (1) UNDANG-UNDANG NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG DALAM KASUS KEPAILITAN PT. NJONJA MENEER (Putusan Pengadilan Niaga Semarang Nomor 11/Pdt.Sus-Pailit/2017/Pn Niaga Smg) | Kepailitan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa keadaan berhenti membayar utang-utang debitur yang telah jatuh tempo. Syarat untuk mengajukan permohonan pailit tercantum dalam Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang diantaranya, adanya dua kreditur atau lebih, adanya utang, dan utang telah jatuh waktu dan dapat ditagih. Penelitian ini membahas mengenai penerapan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dalam kasus kepailitan PT. Njonja Meneer (Putusan Pengadilan Niaga Semarang Nomor 11/Pdt.Sus-Pailit/2017/Pn Niaga Smg). Metode pendekatan yang digunakan adalah metode pendekatan yuridis normatif, spesifikasi penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan data sekunder berupa putusan pengadilan. Teknik pengumpulan data menggunakan studi pustaka berupa peraturan perundang-undangan, literature dan jurnal hukum yang relevan yang kemudian dianalisis secara normatif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dasar pertimbangan hakim dalam putusan pailit nomor: 11/Pdt.Sus-Pailit/2017/PN.Niaga.Smg terhadap PT. Njonja Meneer tidak sepenuhnya sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Hal ini karena syarat debitur tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih belum terpenuhi. Jika syarat permohonan pailit menurut Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak terpenuhi, maka debitur tidak bisa dinyatakan pailit. | Bancrupty was everything related to curcumtanse in which debitor stopped paying debitor that has matured. The condition to apply a bancrupty litted in Article 2 Paragraph 1 of Law of The Republic Indonesia Number 27 of 2004 on bancrupty and Suspension At Obligation For Payment Of Debt. Which is a debtor having two or more creditors and failing to pay at least one debt which has matured and became payable, shall be declared bankrupt through a Court decision, either at his own petition or at the request of one or more of his creditors. This research discussed about implementation on Article 2 Paragraph 1 of Law of The Republic Indonesia Number 27 of 2004 on bancrupty case of PT. Njonja Meneer (Distric-Commercial Court of Semarang Nomor 11/Pdt.Sus-Pailit/2017/Pn Niaga Smg). This research used juridist-normative as approachment method, the specification was descipritve which used court decision as secondary data. Library research such as law, literature and legal journal relevant to the research was used as data collection method in which then analysed by kualitative normative method. This research showed that the judge’s legal considerant in Distric-Commercial Court of Semarang Nomor 11/Pdt.Sus-Pailit/2017/Pn Niaga Smg was not completely with in anccordance with Article 2 Paragraph 1 of Law of The Republic Indonesia Number 27 of 2004 on bancrupty and Suspension At Obligation For Payment Of Debt because the condition in debitor did not pay one debt that has matured and could be collected was not fulfilled. If the condition for bankcrupty according with Article 2 Paragraph 1 of Law of The Republic Indonesia Number 27 of 2004 on bancrupty and Suspension At Obligation For Payment Of Debt was not fullfilled, then debitor could not be declarated bankcrupty | |
| 21224 | 24074 | F1F013027 | THE CONSTRUCTION OF ALLISON’S IDENTITY AS A LESBIAN IN ALLISON’S BASTARD OUT OF CAROLINA | Setyadi, Wisnu Fajar. 2018. The Construction of Allison’s Identity as a Lesbian in Allison’s Bastard out of Carolina. Program Studi Sastra Inggris. Jurusan Sastra Inggris. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. Pembimbing: Aidatul Chusna, S.S., M.A. dan Eni Nur Aeni, S.S., M.A., Penguji Eksternal: Rosyid Dodiyanto, S.S., M.Hum. Penelitian yang berjudul “The Construction of Allison’s Identity as a Lesbian in Allison’s Bastard out of Carolina” ini bertujuan untuk mencari tahu faktor apa saja yang membentuk Allison menjadi seorang lesbian dan proses pembentukan identitas Allison sebagai seorang lesbian yang tergambarkan di dalam novel. Peneliti menggunakan metode kualitatif dalam menganalisis data dan data utamanya adalah novel Bastard out of Carolina karya Dorothy Allison. Selain itu, teori pembentukan identitas milik Erik Erikson digunakan untuk mengetahui proses terbentuknya Allison menjadi seorang lesbian. Kemudian, feminisme lesbian juga digunakan sebagai pendekatan untuk mencari tahu faktor-faktor yang membentuk Allison menjadi seorang lesbian. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ada tiga faktor yang membentuk Allison menjadi seorang lesbian, yaitu faktor pengaruh budaya, pengaruh keluarga, dan pengalaman perlakuan tidak menyenangkan. Lalu, identitas Allison sebagai seorang lesbian juga terbentuk melalui dua tahapan utama, yaitu masa kanak-kanak dan masa remaja. Dalam masa kanak-kanak, terdapat empat tahapan, yaitu masa bayi, anak usia dini, pra-sekolah, dan awal sekolah. Sedangkan dalam masa remaja, terdapat dua tahapan, yaitu kebingungan identitas dan pembentukan identitas. | Setyadi, Wisnu Fajar. 2018. The Construction of Allison’s Identity as a Lesbian in Allison’s Bastard out of Carolina. English Literature Study Program. English Department. Faculty of Humanities. Jenderal Soedirman University. Purwokerto. Supervisors: Aidatul Chusna, S.S., M.A. and Eni Nur Aeni, S.S., M.A., External Examiner: Rosyid Dodiyanto, S.S., M.Hum. This research entitled “The Construction of Allison’s Identity as a Lesbian in Allison’s Bastard out of Carolina” is aimed at figuring out the factors that cause Allison to become a lesbian and Allison’s identity construction as a lesbian portrayed in the novel. The researcher used qualitative method in analyzing the data, while the primary data is Dorothy Allison’s Bastard out of Carolina novel. Besides, Erik Erikson’s identity construction theory is used to figure out the process of Allison identity as a lesbian. Then, lesbian feminism is also used as an approach to figure out the factors that construct Allison to become a lesbian. The result shows that there are three factors that construct Allison’s lesbianism, those are; cultural influences, parental influences, and abusive experience. Then, Allison’s identity as a lesbian was formed through two main stages; childhood and adolescence. In childhood, there are four stages; infancy age, early childhood, pre-school, and early school. In adolescence, there are two stages; identity confusion, and identity construction. | |
| 21225 | 24077 | C1J014027 | THE FACTORS AFFECTING DEMAND OF ELECTRICAL POWER FOR HOUSEHOLD IN BANJARNEGARA REGENCY | Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor apa saja yang berpengaruh terhadap permintaan daya listrik pada rumah tangga di Kabupaten Banjarnegara dan faktor manakah yang paling berpengaruh terhadap permintaan. Data diambil dari 100 orang responden di Kabupaten Banjarnegara dan dianalisis dengan menggunakan regresi linear berganda. Hasil dari regresi menunjukkan bahwa faktor tarif listrik, pendapatan rumah tangga, jumlah alat listrik, luas bangunan dan subsidi listrik berpengaruh signifikan terhadap permintaan listrik pada rumah tangga di Kabupaten Banjarnegara, sementara faktor lain seperti jumlah anggota rumah tangga tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tarif listrik merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap permintaan listrik Kabupaten Banjarnegara. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tingkat harga berapapun, pelanggan akan tetap membeli listrik karena listrik tidak memiliki barang substitusi. Hal ini juga berkaitan dengan pendapatan masyarakat dan pemberian subsidi listrik yang menyebabkan tarif masih terjangkau oleh pelanggan. Maka dari itu dalam hal ini PT. PLN bersama dengan pemerintah harus lebih memperhatikan serta menyeleksi pelanggan yang memiliki kemampuan bayar lebih, sehingga dapat terjadi pemerataan dalam pendistribusian listrik. | The aims of this research is to analyze the factors affecting the demand for electric power in households in Banjarnegara Regency and which factors have the most influence on demand. The data taken from 100 respondents in Banjarnegara Regency and analyzed using multiple linear regressions. The results of the regression indicate that the electricity tariff factor, household income, the number of electric appliances, building area and electricity subsidies have a significant effect on electricity demand in households in Banjarnegara Regency, while other factors such as the number of household members have no significant effect on demand. This study also shows that electricity rates are the most influential factor in the electrical demand of Banjarnegara Regency. The results of research that have been found show that at any price level, customers will continue to buy electricity because of electricity does not have substitute goods. This also relates to people's income and the provision of electricity subsidies which causes tariff to be still affordable by customers. Therefore, in this case PT. PLN together with the government must pay more attention and select customers who have the ability to pay more, so that there can be even distribution in electricity distribution. | |
| 21226 | 25975 | H1F012001 | Geologi dan Kelayakan Tata Guna Lahan Berdasarkan Kondisi Geologi Daerah Sindangwangi dan Sekitarnya Kecamatan Bantarkawung Kabupaten Brebes Jawa Tengah | Kondisi geologi yang ada pada suatu daerah memiliki peranan yang sangat penting untuk mendukung pemanfaatan ruang, khususnya untuk pemanfaatan lahan di daerah Sindangwangi dan sekitarnya Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Kajian faktor-faktor geologi dapat membantu dalam penaatan ruang agar sesuai dengan kemampuan lahannya. Dalam Penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian yang terdiri dari pemetaan lapangan, pembobotan peta-peta tematik dan analisis komprehensif untuk mendapatkan karakteristik geologi dan kemampuan lahan daerah penelitian. Berdasarkan hasil kajian, daerah penelitian memiliki 3 kemampuan lahan yaitu kawasan budidaya (pemukiman, perdagangan dan perkantoran), kawasan budidaya terbatas ( perkebunan, hutan produksi dan daerah wisata) dan kawasan lindung ( hutan lindung dan potensi wisata alam). Hasil kajian menunjuknan bahwa di daerah penelitian saat ini tidak sesuai dengan kemampuan lahannya. | The spatial condition in every area has important for accomodate the land capability such as in Sindangwangi area, Brebes district, Central Java. Geology analisis could assist the land planning based on it’s capability.the method used consisted of geological mapping, weighting of thematic maps and comprehensive analisys to obtain geological characteristics and capabilities of lands.This analysis resulted in three criteria of land capability. Cultivated area (residence, commerce and office complex). limited cultivated area ( plantation, productive forest and natural tourism) and protected arrea ( reserved forest and natural tourism) Anlysis showed that some residential area in study area are not in accordance to its land capability. | |
| 21227 | 24078 | G1A015055 | PERBANDINGAN RERATA NILAI UJIAN IDENTIFIKASI ANATOMI MAHASISWA FK UNSOED ANTAR GAYA BELAJAR PADA TIAP DIMENSI GAYA BELAJAR MENURUT FELDER-SILVERMAN | Latar Belakang : Kurikulum pendidikan dokter disusun berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Pencapaian kompetensi terkait Anatomi sebagai salah satu ilmu dasar dilakukan dengan berbagai metode belajar. Nilai ujian identifikasi sebagai salah satu faktor produk dari kegiatan belajar Anatomi dipengaruhi banyak faktor, di antaranya oleh gaya belajar. Tujuan : Untuk menganalisis perbandingan rerata nilai ujian identifikasi Anatomi mahasiswa FK Unsoed antar gaya belajar pada keempat dimensi gaya belajar menurut model Felder-Silverman Metode : Merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan cross sectional pada populasi terjangkau mahasiswa Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Angkatan 2017. Sebanyak 90 responden terpilih sebagai sampel dengan metode simple random sampling. Hasil : Hasil uji Mann-Whitney mendapatkan nilai p = 0,021 pada dimensi persepsi ; p = 0,195 pada dimensi input; p = 0,407 pada dimensi pemrosesan dan p = 0,441 pada dimensi pemahaman. Pada dimensi persepsi, rerata nilai pada gaya belajar intuitif lebih tinggi 12.01 poin dibandingkan gaya belajar sensing. Kesimpulan : Perbedaan bermakna rerata nilai ujian identifikasi Anatomi hanya ditemukan pada dimensi persepsi. | Background : Medical education curriculum is compiled based on Standar Kompetensi Dokter Indonesia. The achievement of competencies related to Anatomy as one of the basic sciences is carried out with various learning methods. Identification test’s score is one of the product factors of Anatomy learning activities that influenced by many factors, including learning styles. Aim : To analyze the comparison of the Anatomical identification test’s average scores for medical faculty students of Unsoed between learning styles in four dimension of Felder-Silverman learnig style. Methods : This study was conducted in observational-analytic with cross sectional approach . The affordable populations were Medical Faculty students college of Jenderal Soedirman University, class of 2017. 90 respondents were selected as samples using simple random sampling methods. Results : Mann-Whitney test results obtained p = 0.021 in the perception dimension; p = 0,195 in the input dimension; p = 0,407 in the processing dimension, and p = 0,441 in the understanding dimension. In the perception dimension, the average score of intuitive learning style is 12.01 point higher than sensing learning style. Conclusions : A significant difference of the Anatomical identification test’s average score only found in the perception dimension. | |
| 21228 | 20633 | G1B013034 | Tingkat Sanitasi Dan Higiene Makanan Dan Minuman Di Rumah Sakit Chasbullah Abdul Madjid Kota Bekasi | Latar Belakang : Makanan merupakan kebutuhan sehari-hari manusia yang harus dipenuhi. Untuk menghindari terjadinya keracunan makanan serta penularan penyakit melalui makanan. Penjamah makanan memegang peranan penting dalam melindungi kesehatan penderita atau pasien di rumah sakit dari penyakit akibat kontaminasi makanan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat sanitasi dan higiene makanan dan minuman di Instalasi Gizi Rumah Sakit. Metodologi : Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan observasi. Informan utama penelitian adalah 14 orang yang memiliki berusia 18 – 42 tahun sedangkan informan pendukung 1 orang yang berusia 43 tahun Kepala Instalansi Gizi yang diambil secara purposive sampling. Keabsahan data dengan triangulasi sumber. Analisis data dengan Data Reduction, Data Display dan Conclusion Drawing and Verification. Hasil Penelitian : Tingkat pengetahuan yang baik ini kemungkinan karena hampir semua penjamah makanan dan pramusaji mengikuti penyuluhan tentang sanitasi makanan dan higiene, serta dilihat dari tingkat pendidikan hampir semua penjamah makanan dan pramusaji lulusan SMA dan SMK Jurusan Tata Boga yang diasumsikan pada tingkat pendidikan ini sedikit banyaknya sudah mengetahui tentang sanitasi makanan dan higiene. Karena tingkat pengetahuannya kurang maka dari itu penjamah makanan dan pramusaji 73,3% baik dan 26,7% kurang baik. Kesimpulan : Perilaku juru masak dan pramusaji di Instalansi Gizi dipengaruhi beberapa faktor yaitu pengetahuan, dukungan keluarga, umur, rekan-rekan kerja, pemimpin, penyediaan layanan kesehatan. Setiap juru masak dan pramusaji memiliki penghambat yang sesuai yaitu kurangnya APD saat bekerja dan alat masak atau alat untuk disajikan kepasien. Kata Kunci : Sanitasi, Higiene, Makanan, Dan Minuman | Background: Food is a daily human need that must be considered. In attempt aTo avoid food poisoning and disease transmission through food. Food handlers play an important role in protecting the health of asick people or patients in hospital from diseases caused by food contamination. The purpose of this study was to determine the level of sanitation and hygiene of food and beverages at the Hospital Nutrition Installation. Methodology: This qualitative research uses a descriptive approach wich is observation method. The main informants of the study were 14 people who were aged 18-42 years while the supporting informants were 1 person who was 43 years old Head of Nutrition Installation who was taken by purposive sampling. Data validity with source triangulation. Data analysis with Data Reduction, Data Display and Conclusion Drawing and Verification. Research Results: This level of good knowledge is likely because almost all food handlers and waitresses attended counseling on food sanitation and hygiene, and from the level of education of almost all food handlers and waitresses are graduate from culinary arts school which is knew about food sanitation and hygiene. Because of the lack of knowledge, food handlers and waitresses were 73.3% good and 26.7% less good. Conclusion: The behavior of cooks and waitresses in Nutrition Installation is influenced by several factors, namely knowledge, family support, age, colleagues, leaders, health service provision. Every cook and waitress has the same inhibitor, which is lack of APD when working and cooking utensils or tools to be presented to the patient. Keywords: Sanitation, Hygiene, Food and Beverage | |
| 21229 | 24079 | F1B014069 | IMPLEMENTASI PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 17 TAHUN 2017 TENTANG PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU PADA SMA NEGERI DI KABUPATEN BANYUMAS. | ABSTRAK Fokus utama meningkatkan pendidikan salah satunya dengan pemerataan pendidikan, diwujudkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2017 Tentang Penerimaan Peserta Didik Baru. Tujuan penelitian mendeskripsikan dan menganalisis implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Budaya Nomor 17 Tahun 2017 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru pada SMA di Banyumas dengan sampel SMA 1 Purwokerto dan SMA 1 Sokaraja. Penelitian menggunakan indikator keberhasilan implementasi peraturan tersebut yaitu objektivitas, akuntabilitas, transparansi, tanpa diskriminasi. Kemudian dilihat dari indikator What’s Happening and Why dari Ripley dan Franklin yaitu banyaknya aktor yang terlibat, kejelasan tujuan, kerumitan program, partisipasi pasa semua unit, faktor yang tidak terkendali. Metode penelitian yaitu kuantitatif deskriptif dengan teknik pengambilan sampel yaitu sampling jenuh. Sumber data penelitian adalah kuisioner, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan Penerimaan Peserta Didik berjalan secara objektif, akuntabel, transparansi, dan tanpa dikriminasi. Distribusi frekuensi indikator banyaknya aktor yang terlibat termasuk pada kategori banyak 59,2% artinya aktor yang terlibat dalam implementasi sudah cukup banyak sesuai ketentuan. Indikator kejelasan tujuan termasuk pada kategori jelas 100% artinya memiliki kejelasan tujuan, indikator kerumitan program termasuk pada kategori cukup rumit 93,4% masih tergolong rumit, indikator pertisipasi pada semua unit masuk pada kategori tinggi 100% partisipasi aktif dan merata, indikator faktor yang tidak terkendali masuk pada kategori ada 85,5% jadi terdapat faktor lain yang mempengaruhi implementasi. Diperoleh kesimpulan implementasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2017 pada SMA 1 Purwokerto dan SMA 1 Sokaraja berjalan lumayan baik, belum maksimal dikarenakan peraturan tersebut masih baru, mekanisme belum terlalu siap. Kata Kunci : Implementasi, Pendidikan, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2017. | ABSTRACK One of the main focuses in improving education by equity of education, manifested in the Minister of Education and Culture Regulation Number 17 of 2017 concerning New Student Admission. The purpose of this study is to describe and analyze the implementation of Minister of Education and Culture Regulation Number 17 of 2017 concerning New Student Admissions to High Schools in Banyumas with a sample of SMA 1 Purwokerto and SMA 1 Sokaraja. This Research uses indicators of successful implementation of these regulations namely objectivity, accountability, transparency, and without discrimination.Then seen from the indicators of What 's Happening and Why from Ripley and Franklin, namely the profusion of actors, the multiplicity and vagueness of goals, the complexity of government programs, the participation of governmental units at all territorial levels, and the uncontrollable factors that all affect implementation. The research method is quantitative descriptive with a sampling technique that is saturated sampling. Data sources in this study were questionnaires, interviews, and documentation. The results of the study indicate that the implementation of Student Acceptance has been carried out objectively, accountably, transparently, and without discrimination. Frequency distribution shows that the the profusion of actors indicator involved is in the 59,2% many category, which means that the actors involved in the implementation are quite in accordance with the provisions. The multiplicity and vagueness of goals indicator is included in the 100% clear category, which means having goal clarity, the complexity of government programs indicator of the program is in the 93,4% as quite complicated category which means it is still complicated, the indicator of participation of governmental units at all territorial levels is in the 100% clear category which means active and equitable participation, and the uncontrollable factors that all affect implementation indicators are included in the category of 85.5%, which means there are other factors that influence implementation. It was concluded that the implementation of the Minister of Education and Culture Regulation Number 17 of 2017 at SMA 1 Purwokerto and SMA 1 Sokaraja was running quite well, not maximally because the regulation was still new, the mechanism was not too ready. Keywords: Education, Implementation, Minister of Education and Culture Regulation Number 17 of 2017th. | |
| 21230 | 24081 | E2A016048 | PENGATURAN ANTI-DUMPING TERHADAP PERDAGANGAN INTERNASIONAL (STUDI TENTANG KESEPAKATAN ACFTA DENGAN REGULASI ANTI-DUMPING DI INDONESIA) | Perdagangan bebas ASEAN-China yang dimulai pada awal tahun 2010 menunjukkan bahwa perdagangan di Asia Tenggara dan China mengadopsi sistem baru, yaitu sistem yang bebas hambatan. Namun, dengan adanya perdagangan bebas ini, justru masyarakat ASEAN sedikit khawatir, terutama Indonesia. Dengan adanya sistem dumping, tenaga kerja murah, dan rendahnya jaminan kualitas menyebabkan produk China menjadi amat kompetitif di pasar Indonesia yang cenderung lebih berorientasi pada harga murah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis substansi pengaturan dan implikasi terkait dumping dari adanya ACFTA dan regulasi anti-dumping di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif dengan metode pendekatan undang-undang, metode pendekatan perbandingan serta metode pendekatan kasus. Data-data sekunder yang terkumpul diolah, disajikan, dan dianalisis secara kualitatif dengan penyajian data teks naratif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa substansi pengaturan dari kesepakatan ACFTA dan anti-dumping agreement adalah dua perjanjian yang sama-sama mengatur mengenai ketentuan bea dan pengenaan tarif dalam perdagangan internasional, tetapi punya perbedaan yang signifikan yaitu kesepakatan ACFTA berfokus kepada penghilangan hambatan bea masuk disertai penghapusan tarif untuk menciptakan era perdagangan bebas dimana hal ini berpotensi menimbulkan praktik dumping, sementara anti-dumping agreement adalah untuk mencegah terjadinya dumping dengan cara pembebanan atau pengenaan bea masuk atau tarif. Implikasi ACFTA secara normatif merupakan peluang bagus bagi Indonesia untuk memperluas pasar perdagangan, namun juga dapat berimplikasi negatif jika Indonesia tidak mampu bersaing dan mengakibatkan praktik dumping yang merupakan persaingan tidak sehat sehingga dapat menyebabkan kerugian untuk Indonesia. Implikasi dari anti-dumping agreement pada satu sisi membantu Indonesia sebagai pengimpor dari kemungkinan kehilangan posisi tawar yang menarik di bidang perdagangan Internasional termasuk untuk melindungi produsen dalam negerinya. Sebagai pengekspor, perjanjian ini menjadi satu-satunya landasan agar negara importir tidak semena-mena menetapkan pajak atau bea masuk untuk barang-barang ekspor. Anti-dumping agreement harus dijadikan acuan dalam pertimbangan memutus perkara dumping dan masalah BMAD di kancah internasional maupun nasional, karena dalam kasus tuduhan dumping biodiesel Indonesia oleh Uni Eropa, prosedur yang dilakukan Uni Eropa bertentangan dengan anti-dumping agreement. | ASEAN-China free trade which began in early 2010 showed that trade activities on Southeast Asia and China adopted a new system, namely a barrier-free system. However, with this free trade perk, the ASEAN community is a little bit worried, especially Indonesia. With the dumping system, cheap labor, and low quality assurance have caused Chinese products to be very competitive in the Indonesian market which tends to be more oriented towards low prices. This study aims to analyze the substance of the regulation and implications related to dumping from the ACFTA and anti-dumping regulations in Indonesia. The method of research used in this study is normative juridical research using the law approach method, the comparative approach method and the case approach method. The secondary data collected is processed, presented, and analyzed qualitatively by presenting narrative text data. Based on the results of the study, it is known that the regulatory substance of the ACFTA agreement and anti-dumping agreement are two agreements which together regulate the provisions of tariffs and imposition of tariffs in international trade, but have significant differences. ACFTA is to create an era of free trade by deleting import duties or tariffs where this has the potential to lead to dumping practices, while anti-dumping agreements are to prevent dumping by imposing import duties or tariffs. The implications of ACFTA are normatively a good opportunity for Indonesia to expand the trade market, but it can also have negative implications if Indonesia is unable to compete and results in dumping practices which constitute unfair competition so that it can cause losses to Indonesia. The implications of the anti-dumping agreement on the one hand help Indonesia as an importer from the possibility of losing an attractive bargaining position in the field of international trade, including to protect domestic producers. As an exporter, this agreement is the only basis for importing countries to not arbitrarily set taxes or import duties on exported goods. The anti-dumping agreement must be used as a reference in the consideration of deciding dumping and anti-dumping import duty issues in the international and national arena, because in the case of the European Union's biodiesel dumping allegations, procedures carried out by the European Union are in conflict with the anti-dumping agreement. | |
| 21231 | 24083 | H1K014015 | ANALISIS SUHU PERMUKAAN LAUT SAAT TERJADI FENOMENA MADDEN-JULLIAN OSCILLATION (MJO) DI PERAIRAN SELATAN PULAU JAWA | Madden-Jullian Oscillation (MJO) merupakan fenomena yang terjadi di wilayah ekuator secara intra musiman selama 40-60 hari, penelitian ini berada di perairan Selatan Pulau Jawa. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis variasi Suhu Permukaan Laut yang terjadi ketika MJO aktif dan non aktif, menentukan periode terjadinya MJO pada fase 2, 3, 4 dan 5 serta mengetahui pola angin saat terjadinya MJO. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif menggunakan citra satelit suhu permukaan laut dari AVHRR NOAA. Pengumpulan data Outgoing Longwave Radiation (OLR) berasal dari NCEI NOAA, RMM 1 dan RMM 2 berasal dari Bureau of Meteorolgy, data angin ESRL NOAA. Hasil penelitian menunjukan adanya penurunan Suhu Permukaan Laut saat terjadi MJO dan kenaikan Suhu Permukaan Laut yang diakibatkan adanya masukan massa air dari Selat Sunda dan Selat Bali serta posisi fase MJO memberikan pengaruh terhadap variasi SPL. | Madden-Jullian Oscillation (MJO) is a phenomenon that occurs in the equatorial region intra-seasonally for 40-60 days, this study is in the waters of the South of Java. The purpose of this study was to analyze the variability of Sea Surface Temperature that occurs when MJO is active and non-active, determining the period of occurrence of MJO in phases 2, 3, 4 and 5 and knowing the wind patterns when MJO occurs. The method used in this research is descriptive analysis using satellite imagery of the sea surface temperature of NOAA AVHRR. Outgoing Longwave Radiation (OLR) data collection came from NCEI NOAA, RMM 1 and RMM 2 came from the Bureau of Meteorology, NOAA ESRL wind data. The results showed a decrease in Sea Surface Temperature during the MJO and an increase in Sea Surface Temperature due to input of water masses from the Sunda Strait and Bali Strait and the MJO phase position had an influence on the SPL variability. | |
| 21232 | 24917 | A1C014048 | PERSEPSI PETANI TERHADAP PERAN PENYULUH DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DI KECAMATAN KEBASEN KABUPATEN BANYUMAS | Penyuluh pertanian memiliki peran penting dalam membantu usahatani yang dimiliki petani. Persepsi terhadap penyuluh merupakan kunci dalam terwujudnya kesinambunan petani dengan penyuluh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) persepsi petani terhadap peran penyuluh di Kecamatan Kebasen; dan (2) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi petani terhadap peran penyuluh di Kecamatan Kebasen. Penelitian dilakukan secara survai di wilayah Kecamatan Kebasen dan ditentukan secara purposive di tiga desa yaitu di Desa Kebasen, Desa Gambarsari dan Desa Kalisalak. Pengambilan data dilaksanakan bulan Oktober sampai November 2018. Penentuan responden dalam penelitian ini menggunakan Simple Random Sampling dengan unit populasi adalah petani. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan bantuan alat ukur Likert’s Summated Ratings yang dilanjutkan dengan metode Succesive Interval, dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) persepsi petani terhadap peran penyuluh secara keseluruhan berada dalam kategori sedang yang digambarkan oleh komponen penasehat (sedang), motivator (sedang) dan organisator (sedang); (2) faktor-faktor personal dan situasional terhadap persepsi petani terhadap peran penyuluh. Secara parsial faktor personal pendidikan memiliki pengaruh negatif, pengalaman usahatani memiliki pengaruh negatif dan faktor situasional metode yang digunakan penyuluh memiliki pengaruh negatif, dayatarik penyuluh memiliki pengaruh negatif dan kredibilitas memiliki pengaruh positif. | Agricultural extension agents have an important role in helping farmers who have farmer’s business. Perception of extension agents is the key to the realization of continuity between the farmers and extension workers. This research aims to analyze: (1) farmer’s perceptions with the role of extension agents in Kebasen District; and (2) factors that influence farmer’s perceptions with the role of extension agents in Kebasen District. The research was carried out in villages in Kebasen District and determined intentionally in three villages, the name are Kebasen Village, Gambarsari Village and Kalisalak Village. Data collection was carried out from October to November 2018. Determination of respondents in this research using Simple Random Sampling with the participation unit is farmers. Analysis of the data used is descriptive analysis with the help of measuring instrument Likert's Summated Ratings and then continue with Successive Interval method, and multiple linear regression analysis. The results of the research showed that (1) farmers' perceptions with the role of the instructor in the medium category were facilitated by the advisory component (medium), motivator (medium) and organizer (medium); (2) personal and situational factors on farmers' perceptions with the role of extension agents. Partially, the personal education factor has a negative influence, farming experience has a negative influence and situational factors, the method used by the instructor has a negative influence, the attraction of the instructor has a negative influence and credibility has a positive influence. | |
| 21233 | 24387 | A1L014114 | PENGURANGAN DOSIS PUPUK N DENGAN APLIKASI TIGA JENIS RHIZOBIUM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI HITAM PADA TANAH ULTISOL | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis pupuk N yang efisien, jenis rhizobium yang paling optimal, dan interaksi kedua perlakuan terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai hitam. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Oktober 2018 di Experimental Farm dan Laboratorium Agroekologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah jenis Rhizobium (R. radiobacter, R. pusense, R. nepotum). Faktor kedua adalah dosis pupuk N, terdiri dari 5 taraf, yaitu: tanpa pemupukan, dosis N 25%, 50%, 75% dan 100% dari dosis rekomendasi (75kg/ha). Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam, dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis pupuk N 50% memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan tanaman kedelai hitam dan mampu meningkatkan tinggi tanaman sebesar 17,75%, jumlah daun sebesar 35,71%, dan luas daun sebesar 35,54% dibandingkan dengan perlakuan tanpa pemupukan, R. nepotum merupakan Rhizobium terbaik yang mampu meningkatkan bobot biji sebesar 31,83% dan jumlah biji sebesar 30,71% dibandingkan dengan perlakuan R. pusense, kombinasi perlakuan antara R. nepotum dengan dosis pupuk N 50% menunjukkan hasil tertinggi dan mampu meningkatkan bobot biji sebesar 43,45% dari R. pusense dan 35,35% dari R. radiobacter dengan dosis pemupukan N yang sama. | Research aimed to determine the efficient doses of N fertilizer, the best of rhizobium species, interaction of both the treatment on growth and yield of black soybean. The research was conducted from May to October 2018 in the experimental farm and the Laboratory of Agroecology, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. The research design used Randomized Completely Block Design with 2 factors. The first factor is the types of Rhizobium consisted of 3 levels (R radiobacter, R pusense, R nepotum). The second factor was N fertilizer dose which consisted of 5 levels (without N fertilizer, 25%, 50%, 75%, and 100% of N fertilizer dose). Data was analyzed by f test, then tested with Duncan’s Multiple Range Test at p>0,05. The results showed that the application of 50% N fertilizer gave the best effect on the growth of black soybean and increasing plant height by 17.75%, leaf number by 35.71%, and leaf area by 35.54% against without N fertilization. R. nepotum is the best type of Rhizobium that can increased seed weight by 31.83% and the number of seeds by 30.71% agains of R. pusense. The interaction of R. nepotum and 50% nitorgen dose showed the best result that was able to increase the seed weight 43.45% against R. pusense and 35.35% against R. radiobacter with the same N fertilizer dose. | |
| 21234 | 25466 | C1A013128 | ANALISIS EFISIENSI EKONOMI USAHATANI SALAK DI DESA GUNUNGGIANA KECAMATAN MADUKARA KABUPATEN BANJARNEGARA | Penelitian ini berjudul “Analisis Efisiensi Ekonomi Usahatani Salak Di Desa Gununggiana Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara”. Tujuan penelitian ini adaah untuk menganalisis Break Event Point (titik impas) pada usahatani salak di Desa Gununggiana, menganalisis pendapatan usahatani salak di Desa Gununggiana, serta untuk menganalisis tingkat efisiensi usahatani salak di Desa Gununggiana. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu stratified random sampling. Dengan jumlah sampel 33 orang terbagi menjadi tiga strata. Secara kesuluruhan jumlah populasi petani salak di Desa Gununggiana mencapai 380 orang. Pengujian hipotesis menggunakan 1) metode analisis BEP (break even point) 2) metode analisis penerimaan dan pendapatan 3) metode analisis R/C (return cost ratio). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, usahatani salak di Desa Gununggiana secara keseluruhan tingkat BEP ketiga strata sudah berada diatas titik BEP sehingga dalam kegiatan usahatani salak tidak mengalami kerugian. Usahatani salak di Desa Gununggiana menguntungkan yaitu dimana total revenue lebih besar dari toal cost. Untuk strata 1 pendapatan sebesar Rp 6.036.800 strata 2 Rp 14.196.105,26 strata 3 Rp 26.909.000. Usahatani salak di Desa Gununggiana sudah mencapai efisien dengan tingkat R/C untuk strata 1 yaitu sebesar 1,35 dan untuk strata 2 mencapai 1,44 kemudian strata 3 sejumlah 1,95. Nilai R/C tersebut lebih dari 1 sehingga kegiatan usahatani tersebut layak dikembangkan. | This research is entitled "Economic Efficiency Analysis of Salak Farming in Gununggiana Village, Madukara District, Banjarnegara Regency". The purpose of this study was to analyze Break Event Point (break-even point) on salak farming in Gununggiana Village, analyze salak farming income in Gununggiana Village, and to analyze the level of efficiency of salak farming in Gununggiana Village. The sampling method used is stratified random sampling. With a sample of 33 people divided into three strata. Overall, the population of farmers in the Salak village in Gununggiana reaches 380 people. Hypothesis testing uses 1) BEP analysis method (break even point) 2) acceptance and income analysis method 3) R / C analysis method (return cost ratio). The results showed that the salak farming in Gununggiana Village as a whole, the BEP level of the three strata was above the BEP point so that the salak farming activities did not suffer losses. Salak farming in Gununggiana Village is profitable, where total revenue is greater than toal cost. For strata 1 income is Rp 6,036,800 stratum 2 Rp 14,196,105.26 strata 3 Rp 26,909,000. Salak farming in Gununggiana Village has reached an efficient level with an R / C level of 1 stratum that is equal to 1.35 and for strata 2 it reaches 1.44 and then strata 3 is 1.95. The R / C value is more than 1 so that farming activities are feasible to develop. | |
| 21235 | 25819 | H1E015008 | PERBAIKAN DESAIN STASIUN KERJA PADA IKM SAPU SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KINERJA POSTUR OPERATOR (Studi Kasus: IKM Sapu Go Work Handy Craft Purbalingga) | Pekerjaan dalam pembuatan sapu dilakukan secara berulang dalam waktu yang lama, dapat berpotensi menimbulkan gangguan musculoskeletal. Gangguan musculoskeletal dapat diatasi dengan perbaikan stasiun kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menilai postur kerja operator berdasarkan metode REBA, mendapatkan posisi stasiun kerja terbaik serta mengetahui pengaruh parameter desain seperti ketinggian stasiun kerja, perpindahan jarak ke belakang, kemiringan sandaran kursi berdasarkan metode Taguchi. Sebuah prototype stasiun kerja dibuat dan dapat disesuaikan dengan parameter desain. Responden dalam penelitian ini adalah sepuluh operator IKM sapu dan akan melakukan aktivitas produksi di sembilan posisi stasiun kerja. Sembilan posisi stasiun kerja didapatkan dari matriks orthogonal standar. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan penurunan skor REBA sebelum perbaikan dengan posisi terbaik stasiun kerja sebesar 9 menjadi 7, untuk metode Taguchi pada posisi stasiun kerja terbaik dihasilkan dengan kondisi ketinggian 30 cm, perpindahan jarak ke belakang 4 cm, kemiringan sandaran kursi 95° dan pengaruh parameter desain terhadap postur kerja dinyatakan bahwa ketinggian stasiun kerja berpengaruh signifikan (F = 8,14), perpindahan jarak ke belakang berpengaruh signifikan (F = 4,82) sedangkan kemiringan sandaran kursi tidak berpengaruh signifikan (F = 0,13). | Work in broom making is done repeatedly in a long time, can potentially cause musculoskeletal disorders. Musculoskeletal disorders can be overcome by repairing work stations. This study aims to assess the operator's work posture based on the REBA method, get the best work station position and determine the effect of design parameters such as the height of the work station, displacement distance to the back, the slope of the seat back based on the Taguchi method. A prototype work station is created and can be adjusted to design parameters. Respondents in this study are ten IKM broom operators and will conduct production activities in nine work station positions. Nine work station positions are obtained from a standard orthogonal matrix. Based on the results of the study found a decrease in REBA score before repairing with the best position of the work station by 9 to 7, for the Taguchi method the best work station position was produced with a height of 30 cm, a displacement distance to the back of 4 cm, slope of the seat back 95 ° and the influence of design parameters on work posture it is stated that the height of the work station has a significant effect (F = 8.14), the displacement of the backward distance has a significant effect (F = 4.82) while the slope of the back of the chair has no significant effect (F = 0.13). | |
| 21236 | 24084 | F1C012059 | PEMASARAN POLITIK DALAM FILM (Studi Analisis Semiotika John Fiske dalam Film Game Change) | Seiring dengan berkembangnya peradaban manusia, perkembangan teknologi mengalami kemajuan yang sangat pesat. Peranan teknologi juga berdampak pada aspek sosial masyarakat, diantaranya sebagai saluran komunikasi. Film merupakan media komunikasi sosial yang terbentuk dari penggabungan dua indra, penglihatan dan pendengaran, yang mempunyai inti atau tema sebuah cerita yang banyak mengungkapkan realita sosial yang terjadi di sekitar lingkungan tempat dimana film itu sendiri tumbuh. Pada tahun 2012 rumah produksi film Playtone bekerjasama dengan HBOFilm memproduksi sebuah film yang berjudul “Game Change”. Film ini diataptasi dari buku dengan judul yang sama karya jurnalis politik Mark Halperin dan John Heilemann, menceritakan pertarungan politik pemilihan presiden di Amerika tahun 2008 antara Barack Obama dan John McCain Penelitian ini membahas tentang analisis semiotika john Fiske dalam Game Change. Fokus kajian dalam penelitian ini memfokuskan pada empat aspek bauran strategi pemasaran politik. Penelitian ini memakai teori kode – kode telivisi John Fiske untuk menganalisis setiap scene yang muncul menunjukan representasi dari pemasaran politik. Unit analisis yang akan dikaji meliputi Product, Promotion, Price, dan Place. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa Strategi pemasran politik dengan pendekatan 4 bauran strategi pemasaran politik dengan baik ditampilkan dalam film Game Change. Pessan – pesan politik dalam film dibungkus sedemikian rupa melalui kararkter John McCain, Sarah Pallin, dan Steve Scmidt. Film ini menunjukan bagaimana proses pencalonan dimulai dengan tahap verifikasi hingga pembentukan citra nasional masing – masing melekat pada karakter tokoh. John McCain menjadi actor pertama dijelaskan sebagai bagian dari Productpolitik partai republic, menyusl kemudian Sarah Pallin. Steve Scmidt sebagai Tim Sukses pemenangan John McCain, mengambil peran sebagai karakter yang mengatur jalannya proses pencalonan sampai pemilihan | Along with the development of human civilization, technological development has progressed very rapidly. The role of technology also has an impact on the social aspects of society, including as a communication channel. Film is a social communication media formed from the merging of two senses, vision and hearing, which has the core or theme of a story that reveals many social realities that occur around the environment where the film itself grows. In 2012 Playtone film production house in collaboration with HBOFilm produced a film called "Game Change". The film was adapted from a book of the same name by political journalist Mark Halperin and John Heilemann, recounting the political struggle for the 2008 US presidential election between Barack Obama and John McCain This study discusses the analysis of semiotics of John Fiske in Game Change. The focus of the study in this study focuses on four aspects of the mix of political marketing strategies. This study uses John Fiske's code theory - a research code to analyze every emerging scene showing a representation of political marketing. The unit of analysis that will be reviewed includes Product, Promotion,Price,and Place. The results of this study revealed that the political marketing strategy with four mix approach to political marketing strategies was well displayed in the film Game Change. Political messages in the film were wrapped in such a way through the carcasses of John McCain, Sarah Pallin, and Steve Scmidt.This film shows how the nomination process starts with the verification stage until the formation of each national image is attached to the character of the character. John McCain became the first actor explained as part of the political product of the republic party, then Sarah Pallin. Steve Scmidt as the Success Team for John McCain's victory, took on the role of a character who regulated the running of the nomination process until the election | |
| 21237 | 24085 | G1B014096 | Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Scabies di Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Wadda'wah Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya | Latar Belakang: Penyakit scabies merupakan penyakit kulit yang umum ditemukan di lingkungan pondok pesantren. Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya merupakan salah satu pondok pesantren dengan prevalensi scabies yang tinggi (377 orang). Keluhan santri yang menderita scabies adalah rasa gatal sehingga menimbulkan efek ketidaknyamanan dan mengganggu konsentrasi belajar santri. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian scabies di Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya. Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode pendekatan Cross sectional. Populasi dalam penelitian yaitu seluruh santri di Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah dengan total sampel sebanyak 2.329 responden, sampel yang diambil menggunakan metode Multistages Sampling sebanyak 192 responden kemudian data dianalisis menggunakan uji Chi Square. Hasil Penelitian: Hasil yang didapat dari penelitian ini menyatakan bahwa tidak ada hubungan pengetahuan dengan kejadian scabies (p-value=0,412), ada hubungan sikap dengan kejadian scabies (p-value=0,000), ada hubungan personal hygiene dengan kejadian scabies (p-value=0,000), tidak ada hubungan kelembaban dengan kejadian scabies (p-value=0,082), ada hubungan pencahayaan alami dengan kejadian scabies (p-value=0,00). Kesimpulan: Variabel yang tidak berhubungan yaitu variabel pengetahuan dan variabel kelembaban sedangkan variabel yang berhubungan terdapat pada variabel sikap, personal hygiene, dan pencahayaan alami. | Factors Related with The Incidence of Scabies at the Riyadlul Ulum Wadda'wah Islamic Boarding School Tasikmalaya | |
| 21238 | 25976 | A1C012013 | EFISIENSI SALURAN PEMASARAN CABAI MERAH PADA PETANI MITRA DAN NON MITRA DENGAN SUB TERMINAL AGRIBISNIS KECAMATAN PANUMBANGAN KABUPATEN CIAMIS | Sub Terminal Agribisnis (STA) yang terletak di Kecamatan Panumbangan merupakan institusi pelayanan pemasaran yang dibentuk oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat untuk membantu petani khususnya petani hortikultura dalam memasarkan hasil panennya. Minimnya pengetahuan dan informasi mengakibatkan masih banyak petani yang menjual hasil panennya kepada pedagang pengumpul dan tidak bermitra dengan STA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Pola kemitraan pemasaran yang dilakukan antara STA dengan petani mitra, (2) Marjin pemasaran pada setiap saluran pemasaran baik petani mitra maupun non mitra, (3) Bagian yang diterima petani (farmer’s share), persentase biaya dan keuntungan serta efisiensi teknis dan ekonomis pada pemasaran cabai petani mitra maupun non mitra, dan (4) Saluran pemasaran yang paling efisien pada pemasaran cabai antara petani mitra dan non mitra. Penelitian dilakukan pada tanggal 2 Februari sampai 16 Maret 2019. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode sensus untuk petani dan snowball sampling untuk pedagang. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, marjin pemasaran, farmer’s share, persentase biaya dan keuntungan pemasaran, serta efisiensi teknis dan ekonomis. Hasil penelitian menunjukkan : (1) Pola kemitraan yang terbentuk antara petani mitra dengan STA adalah pola kemitraan kerjasama operasiona agribisnis (KOA). (2) Terdapat empat saluran pemasaran cabai di Kecamatan Panumbangan yaitu (I) petani – STA – pedagang besar – pedagang pengecer – konsumen, dengan marjin Rp8.600 per kg; (II) petani – STA – pedagang pengecer – konsumen, dengan marjin Rp7.300 per kg; (III) petani – pedagang pengumpul – pedagang besar – pedagang pengecer – konsumen, dengan marjin Rp12.000 per kg; dan (IV) petani – pedagang pengumpul – pedagang pengecer – konsumen, dengan marjin Rp10.000 per kg. (3) saluran pemasaran I memiliki farmer’s share 75,64%, persentase biaya 4,76% dan keuntungan 95,24% dengan efisiensi teknis 13,07 dan efisiensi ekonomis 20,00, saluran pemasaran II memiliki farmer’s share 78,53%, persentase biaya 4,67% dan keuntungan 95,33% dengan efisiensi teknis 10,88 dan efisiensi ekonomis 20,43, saluran pemasaran III memiliki farmer’s share 65,71% persentase biaya 6,61% dan keuntungan 93,39% dengan efisiensi teknis 27,53 dan efisiensi ekonomis 14,13, saluran pemasaran IV memiliki farmer’s share 68,75% persentase biaya 5,67% dan keuntungan 94,33%, dengan efisiensi teknis 22,56 dan efisiensi ekonomis 16,62. (4) Saluran pemasaran cabai petani mitra lebih efisien dibandingkan saluran pemasaran cabai petani non mitra di Kecamatan Panumbangan. | Sub Terminal Agribusiness (STA) located in Panumbangan Subdistrict is a marketing service institution established by the Office of Food Crops in West Java Province to help farmers especially horticulture farmers in marketing their crops. The lack of knowledge and information resulted in many farmers selling their crops to collecting traders and not partnering with the STA. This study aims to determine: (1) the pattern of marketing partnerships between STA and partner farmers, (2) marketing margins for each marketing channel both partner and non-partner farmers, (3)farmer's share, cost percentage and profits and technical and economic efficiency in the marketing of partner and non-partner chili farmers, and (4) The most efficient marketing channel for chili marketing between partner and non-partner farmers. The study was conducted on February 2 to March 16 2019. The sampling method in this study used a census method for farmers and snowball sampling for traders. The analytical methods used are descriptive analysis, marketing margin, farmer's share, percentage of costs and marketing benefits, and technical and economic efficiency. The results of the study show: (1) The pattern of partnerships formed between partner farmers and STA is a pattern of agribusiness cooperation cooperation partnerships (KOA). (2) There are four chili marketing channels in Panumbangan District, namely (I) - STA farmers - wholesalers - retailers - consumers, with a margin of Rp.8,600 per kg; (II) farmers - STA - retailers - consumers, with a margin of Rp7,300 per kg; (III) farmers - collectors - wholesalers - retailers - consumers, with a margin of IDR 12,000 per kg; and (IV) farmers - collectors - retailers - consumers, with a margin of IDR 10,000 per kg. (3) marketing channel I has a farmer's share of 75.64%, cost percentage of 4.76% and profit of 95.24% with technical efficiency of 13.07 and economic efficiency of 20.00, marketing channel II has a farmer's share of 78.53%, cost percentage 4.67% and profit 95.33% with technical efficiency 10.88 and economic efficiency 20.43, marketing channel III has farmer's share 65.71% cost percentage 6.61% and profit 93.39% with technical efficiency 27.53 and economic efficiency 14.13, marketing channel IV has a farmer's share 68.75%, cost percentage 5.67% and profit 94.33%, with technical efficiency 22.56 and economic efficiency 16.62. (4) Channels of partner farmers' chili marketing are more efficient than the chili marketing channels of non-partner farmers in Panumbangan District. | |
| 21239 | 24087 | F1B014053 | IMPLEMENTASI PROGRAM PELAYANAN KELILING DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KABUPATEN PURBALINGGA | Implementasi Program Pelayanan Keliling (Yanling) menjadi sebuah langkah inovatif bagi pemerintah Kabupaten Purbalingga. Keterpenuhan kepemilikan dokumen penduduk termasuk akta kelahiran masih rendah. Akta kelahiran adalah salah satu dokumen penduduk yang memiliki kekuatan hukum, namun hingga saat ini kepemilikannya masih belum memenuhi target. Hal ini disebabkan oleh proses pembuatan akta kelahiran yang dirasa oleh masyarakat masih berbelit-belit¸ selain itu perlu biaya akomodasi yang cukup banyak untuk menuju ke Disdukcapil sehingga masyarakat enggan untuk membuatnya. Oleh sebab itu pemerintah Kabupaten Purbalingga menerapkan program Yanling untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kepemilikan dokumen penduduk¸ termasuk akta kelahiran. Program Yanling merupakan pelayanan pembuatan dokumen penduduk dimana petugas dari Disdukcapil mendatangi setiap kecamatan atau desa yang berada di dalam kabupaten masing-masing. Kemudian sistem input datanya dilakukan secara online di tempat. Program Yanling ini sudah berjalan sejak tahun 2015. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi program dan menganalisis faktor-faktor penghambat program tersebut. Metode penelitian ini yaitu kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sasarannya yaitu pejabat dan petugas program Yanling di Disdukcapil¸ petugas di tingkat kecamatan dan di tingkat desa¸ serta masyarakat pengguna program Yanling. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara¸ observasi¸ dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan analisis interaktif dan veliditas data menggunakan triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi program ini masih belum optimal. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang menghambat seperti : hambatan komunikasi dengan pihak desa yang disebabkan oleh kepasifan mereka untuk ikut mengsosialisasikan program di tingkat desa. Hambatan sumberdaya berupa fasilitas oprasional yang belum lengkap dan harus diperbaharui. Hambatan struktur birokrasi berupa belum adanya SOP secara khusus untuk aturan berjalannya program Yanling sehingga bergantung pada perintah dari pimpinan dan proses fragmentasi atau kerjasama dengan badan lain seperti rumah sakit yang baru sampai pada taraf koordinasi. | The implementation of the Mobile Services Program (Yanling) is an innovative step for the Purbalingga Regency government. The fulfillment of ownership of population documents including birth certificates is still low. Birth certificates are one of the residents' documents that have legal power, but until now their ownership still does not meet the target. This is due to the fact that the process of making birth certificates that are perceived by the community is still complicated. Besides that, it requires considerable accommodation costs to get to Disdukcapil so that people are reluctant to make it. Therefore, the Purbalingga Regency government implements the Yanling program to assist the community in fulfilling ownership of residents' documents including birth certificates. The Yanling program is a service for making resident documents where officers from Disdukcapil come to each sub-district or village within their respective districts. Then the data input system is done online on the spot. This Yanling program has been running since 2015. For this reason, this study aims to find out how the program is implemented and analyze the inhibiting factors of the program. This research method is qualitative with a case study approach. The targets were officials and officers of the Yanling program at Disdukcapil¸ officers at the sub-district level and at the village level¸ as well as the community using the Yanling program. The selection of informants used purposive sampling technique. The method of data collection uses interview observation and documentation. Data analysis method uses interactive analysis and data velocity using triangulation. The results of the study show that the implementation of this program is still not optimal. This is caused by several inhibiting factors such as: barriers to communication with the village caused by their passivity to participate in socializing programs at the village level. Resource barriers are operational facilities that are not yet complete and must be updated. Obstacles to the bureaucratic structure include the absence of SOPs specifically for the rules for the running of the Yanling program so that it depends on orders from the leadership and the process of fragmentation or cooperation with other bodies such as new hospitals that reach the level of coordination. | |
| 21240 | 24088 | H1F013052 | STUDI GEOLOGI KUARTER TERHADAP PALEOPRODUKTIVITAS FORAMINIFERA KALA HOLOSEN DI PERAIRAN SELATAN SELAT SUNDA | Selat Sunda yang merupakan bagian perairan selatan Pulau Jawa termasuk kawasan yang terlewati oleh South Java Current (SJC) dan juga dilalui oleh arus Laut Jawa sehingga dipengaruhi oleh run-off air tawar dari Sumatera dan Jawa, sehingga menyebabkan turunnya salinitas yang mempengaruhi produktivitas foraminifera. Penelitian bertujuan untuk mengetahui produktivitas foraminifera yang dipengaruhi oleh kondisi massa air yang terjadi pada kala Holosen. Metode penelitian ini adalah analisis menggunakan sifat fisik berupa data pengukuran spektrofotometri dan magnetic susceptibility, dan pengamatan kelimpahan beberapa foraminifera penciri kondisi ekologi. Kondisi paleoproduktivitas pada daerah penelitian mencerminkan tiga fasies lingkungan yang berbeda mencakup kondisi salinitas, suhu permukaan, dan kedalaman termoklin, dalam hal ini masing-masing kondisi tersebut dipengaruhi oleh upwelling, run-off, southeast monsoon dan northwest monsoon. Pada fasies I paleoproduktivitas dipengaruhi oleh upwelling yang ditandai oleh adanya kehadiran Globigerina bulloides, dengan iklim purba bersifat kering yang dikontrol oleh southeast monsoon. Pada fasies II terjadi pendangkalan kedalaman termoklin ditandai dengan punahnya Globorotalia crassaformis dan menurunnya kelimpahan Globorotalia hirsuta, pada unit ini paleoproduktivitas lebih dipengaruhi oleh adanya run-off dari daratan yang membawa material organik terestrial, dan suplai air tawar, hal ini dikontrol oleh northwest monsoon. Pada fasies III, genus Globigerinoides yang merupakan penghuni perairan oligotrofik menurun kelimpahannya, yang mengartikan perairan bersifat eutrofik yang berasal dari run-off akibat meningkatnya curah hujan. Tingginya run-off pada fasies ini dipengaruhi oleh northwest monsoon. | Sunda Strait is the part of southern Java marine system that is a part of South Java Current (SJC) and it also influenced by fresh water run-off from Sumatera and Java which lessen the salinity that determined the foraminiferal productivity. The aim of this study is to acknowledge the foraminiferal productivity as the result of ecological factors during Holocen. The methods of study are analysist based on spectrophotometry, magnetic susceptibility and the abundance of some important species of foraminifera that reflect ecological environment. The condition of paleoproductivity reflects three different ecological environments including salinity, surface temperature, and the depth of thermocline that influenced by upwelling, run-off, southeast monsoon and northwest monsoon. In facies I, paleoproductivity was influenced by upwelling that reflected by the abundance of Globigerina bulloides, with arid paleoclimate that controlled by the southeast monsoon. In facies II, the depth of thermocline became shallow which was reflected by the extinction of Globorotalia crassaformis and the reduction of the abundance of Globorotalia hirsuta. In this facies, paleoproductivity was influenced more likely by terrestrial run-off that carried organic materials and fresh water supply that controlled by the northwest monsoon which has humid characteristic. In facies III, the genus of Globigerinoides which dwelled the oligotrophic environment was decreased in abundance, concludes that the environment was in eutrophic state. The run-off in this facies was controlled by the northwest monsoon. |