Artikel Ilmiah : A1A022049 a.n. IKHLAS ABDUL QOHHAR

Kembali Update Delete

NIMA1A022049
NamamhsIKHLAS ABDUL QOHHAR
Judul ArtikelFluktuasi Harga Dan Integrasi Pasar Horizontal Bawang Merah Di Kabupaten Purbalingga
Abstrak (Bhs. Indonesia)Bawang merah atau dalam bahasa ilmiah disebut dengan Allium cepa L. var. Aggregatum merupakan salah satu komoditas tanaman hortikultura dan komoditas strategis di Indonesia. Produksi dan harga bawang merah di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Purbalingga, cenderung bergerak fluktuatif. Fluktuasi harga bawang merah menyebabkan ketidakpastian dan resiko harga pasar dan menjadi salah satu penyumbang inflasi daerah. Pada Kabupaten Purbalingga, pasar tradisional memiliki konsentrasi yang tinggi dibandingkan kabupaten di wilayah Barlingmascakeb karena pasar utama di Kabupaten Purbalingga memiliki jumlah yang lebih sedikit sehingga memiliki pengaruh dominan terhadap pasar di bawahnya. Pasar Segamas, Pasar Rakyat Bobotsari, dan Pasar Bukateja merupakan pasar kelas 1 di Kabupaten Purbalingga yang menjadi pusat pemantauan harga dan stok kebutuhan pokok serta menjadi pasar kulakan bagi pasar lain di bawahnya. Integrasi pasar diperlukan untuk mendukung efektivitas dan efisiensi kebijakan stabilisasi harga oleh pemerintah karena informasi perubahan harga dapat tersalurkan antar pasar. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui fluktuasi harga komoditas bawang merah di Pasar Segamas, Pasar Rakyat Bobotsari, dan Pasar Bukateja serta menganalisis integrasi pasar secara horizontal pada komoditas bawang merah antara Pasar Segamas, Pasar Rakyat Bobotsari, dan Pasar Bukateja Kabupaten Purbalingga.
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus yang dilaksanakan di Pasar Segamas, Pasar Rakyat Bobotsari, dan Pasar Bukateja Kabupaten Purbalingga pada bulan Februari sampai April 2026. Penelitian menggunakan data sekunder berupa harga eceran/konsumen bawang merah mingguan periode Januari 2019 sampai November 2024 yang diperoleh dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Purbalingga. Variabel yang dianalisis meliputi harga eceran mingguan bawang merah di Pasar Segamas, Pasar Bobotsari, dan Pasar Bukateja. Analisis data yang digunakan yaitu koefisien variasi (KV), uji stasioneritas Augmented Dickey Fuller (ADF), penentuan lag optimal, uji stabilitas VAR, uji kausalitas Granger, Vector Autoregression (VAR) in level, Impulse Response Function (IRF), dan Variance Decomposition.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga bawang merah di Pasar Segamas, Pasar Bobotsari, dan Pasar Bukateja selama periode 2019–2024 mengalami fluktuasi yang tinggi dan tidak stabil karena nilai koefisien variasinya melebihi batas toleransi yang ditetapkan Kemendag RI sebesar 23 persen. Ketidakstabilan tersebut terjadi karena tidak ada kepastian waktu dan jumlah pasokan bawang merah yang diperoleh dari pemasok sehingga terjadi ketidakseimbangan antara stok bawang merah dan permintaan konsumen. Hasil analisis VAR in level, impulse response function (IRF), dan forecast error variance decomposition (FEVD) menunjukkan bahwa terjadi integrasi pasar horizontal dalam jangka pendek antar ketiga pasar yang ditunjukkan melalui adanya informasi harga yang tersalurkan antar pasar sehingga membentuk respon dan kontribusi dalam pembentukan harga bawang merah di masing-masing pasar. Pasar Segamas menjadi pasar yang memiliki peran terbesar dalam pembentukan harga bawang merah di Pasar Segamas, Pasar Bobotsari, dan Pasar Bukateja berdasarkan hasil yang konsisten pada analisis kausalitas Granger, VAR in level, IRF, dan FEVD. Hal tersebut terjadi karena Pasar Segamas berperan sebagai pasar kulakan dan price leader bawang merah bagi Pasar Bobotsari dan Pasar Bukateja.
Abtrak (Bhs. Inggris)Shallots or scientifically known as Allium cepa L. var. Aggregatum are one of the horticultural and strategic commodities in Indonesia. The production and prices of shallots in Indonesia, particularly in Central Java Province and Purbalingga Regency, tend to fluctuate. Shallot price fluctuations cause market price uncertainty and contribute to regional inflation. In Purbalingga Regency, traditional markets have a high concentration compared to other regencies in the Barlingmascakeb area because the number of main markets in Purbalingga is relatively limited, resulting in a dominant influence on subordinate markets. Segamas Market, Bobotsari People’s Market, and Bukateja Market are Class I markets in Purbalingga Regency that serve as centers for monitoring prices and staple food stocks, as well as wholesale markets for smaller markets under them. Market integration is necessary to support the effectiveness and efficiency of government price stabilization policies because price information can be transmitted among markets. This study aimed to identify shallot price fluctuations and analyze horizontal market integration of shallots among Segamas Market, Bobotsari People’s Market, and Bukateja Market in Purbalingga Regency.
This research employed a case study method conducted at Segamas Market, Bobotsari People’s Market, and Bukateja Market in Purbalingga Regency from February to April 2026. The study used secondary data in the form of weekly retail/consumer shallot prices from January 2019 to November 2024 obtained from the Department of Industry and Trade of Purbalingga Regency. The variables analyzed included weekly retail shallot prices in Segamas Market, Bobotsari Market, and Bukateja Market. The analytical methods used were coefficient of variation (CV), Augmented Dickey-Fuller (ADF) stationarity test, optimal lag determination, VAR stability test, Granger causality test, Vector Autoregression (VAR) in level, Impulse Response Function (IRF), and Variance Decomposition.
The results showed that shallot prices in Segamas Market, Bobotsari Market, and Bukateja Market during the 2019–2024 period experienced high and unstable fluctuations because the coefficient of variation values exceeded the tolerance limit established by the Indonesian Ministry of Trade at 23 percent. This instability occurred due to uncertainty in the timing and quantity of shallot supplies obtained from suppliers, resulting in an imbalance between shallot stocks and consumer demand. The results of the VAR in level, Impulse Response Function (IRF), and Forecast Error Variance Decomposition (FEVD) analyses indicated the existence of short-term horizontal market integration among the three markets, as reflected by the transmission of price information among markets, which generated responses and contributions in the formation of shallot prices in each market. Segamas Market had the greatest role in determining shallot prices in Segamas Market itself, Bobotsari Market, and Bukateja Market based on consistent results from the Granger causality, VAR in level, IRF, and FEVD analyses. This occurred because Segamas Market functions as a wholesale market and a price leader for shallots for Bobotsari Market and Bukateja Market.
Kata kunciFluktuasi Harga,Integrasi pasar horizontal, Bawang Merah
Pembimbing 1Alpha Nadeira Mandamdari, S.P., M.P.
Pembimbing 2Sarno, S.P., M.Sc.
Pembimbing 3
Tahun2026
Jumlah Halaman99
Tgl. Entri2026-06-22 12:00:45.957575
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.