Artikelilmiahs

Menampilkan 49.421-49.440 dari 49.518 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4942152196C1C022009PENGARUH AUDIT FEE DAN UKURAN KAP TERHADAP AUDITOR SWITCHING DENGAN FINANCIAL DISTRESS SEBAGAI VARIABEL MODERASIPenelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh audit fee dan ukuran KAP terhadap auditor switching dengan financial distress sebagai variabel moderasi pada perusahaan sektor kesehatan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020 hingga 2024. Hasil penelitian terdahulu masih menunjukkan ketidakseragaman terkait faktor yang mempengaruhi auditor switching. Timbulnya fenomena auditor switching yang terjadi pada perusahaan sektor kesehatan menjadi alasan penelitian ini dilakukan. Teori yang mendasari penelitian ini yaitu agency theory yang diperkenalkan oleh Jensen dan Meckling pada tahun 1976. Menurut teori ini, hubungan keagenan merupakan hubungan kontraktual antara prinsipal sebagai pemilik perusahaan dengan agen sebagai pihak yang diberi wewenang untuk mengelola perusahaan. Dalam hubungan ini, prinsipal mendelegasikan sebagian kewenangan pengambilan keputusan kepada agen untuk menjalankan kegiatan operasional perusahaan.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan sumber data menggunakan data sekunder. Populasi pada penelitian ini yaitu perusahaan sektor kesehatan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020-2024. Penentuan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dengan beberapa kriteria pengambilan sampel. Regresi logistik dipilih menjadi metode penelitian karena variabel dependen pada penelitian ini, yaitu auditor switching diukur menggunakan variabel dummy. Sementara itu, variabel independen, yaitu audit fee diukur menggunakan nominal proffesional fee yang dilogaritma naturalkan. Nominal tersebut tercantum pada laporan keuangan di akun beban administrasi dan umum. Ukuran KAP diukur menggunakan jumlah partner dari masing-masing KAP dan variabel moderasi yaitu financial distress diukur menggunakan model grover. Pengujian yang dilakukan pada penelitian ini meliputi uji statistik deskriptif, uji kelayakan model regresi, uji overall model fit, uji koefisien determinasi, uji multikolinearitas, uji matriks klasifikasi, analisis regresi logistik, dan pengujian hipotesis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Audit fee tidak berpengaruh terhadap auditor switching. (2) Ukuran KAP tidak berpengaruh terhadap auditor switching. (3) Financial distress tidak mampu memperkuat hubungan antara audit fee dengan auditor switching. (4) Financial distress memperlemah hubungan antara audit fee dengan auditor switching. Sebagai analisis tambahan, penelitian ini menggunakan uji sensitivitas dengan memisahkan periode pandemi COVID-19 yaitu tahun 2020-2022 dengan periode pasca pandemi COVID-19 tahun 2023-2024. Hasil uji sensitivitas menunjukkan perbedaan, pada periode COVID-19 audit fee dan ukuran KAP tidak berpengaruh terhadap auditor switching. Sedangkan, pada periode pasca pandemi COVID-19 audit fee berpengaruh positif signifikan terhadap auditor switching.

Hasil penelitian ini memberikan implikasi bahwa keputusan auditor switching pada perusahaan tidak semata-mata dipengaruhi oleh besaran audit fee dan ukuran KAP, melainkan juga mempertimbangkan kualitas audit, pemahaman auditor terhadap kondisi perusahaan, serta stabilitas hubungan kerja sama antara auditor dan klien. Temuan ini menunjukkan pentingnya bagi KAP untuk menjaga kualitas audit dan profesionalisme dalam mempertahankan kepercayaan klien. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pembuat kebijakan dalam pengawasan serta penyusunan kebijakan yang berkaitan dengan praktik audit dan auditor switching guna mendukung transparansi dan kredibilitas laporan keuangan.
This study aims to examine and analyze the effect of audit fees and audit firm size on auditor switching, with financial distress as a moderating variable in healthcare sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange during the 2020-2024 period. Previous studies have shown inconsistent results regarding the factors influencing auditor switching. The occurrence of auditor switching in healthcare sector companies has become the basis for conducting this research. The underlying theory used in this study is agency theory introduced by Jensen and Meckling in 1976. According to this theory, an agency relationship is a contractual relationship between the principal as the owner of the company and the agent as the party authorized to manage the company. In this relationship, the principal delegates part of the decision-making authority to the agent to carry out the company’s operational activities.

This research employs a quantitative approach using secondary data sources. The population in this study consists of healthcare sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the period 2020-2024. The sample was determined using a purposive sampling method based on several predetermined criteria. Logistic regression was chosen as the analytical method because the dependent variable in this study, auditor switching, is measured using a dummy variable. Meanwhile, the independent variable, audit fee, is measured using the nominal professional fee that is transformed into the natural logarithm. This amount is reported in the financial statements under general and administrative expenses. Audit firm size is measured by the number of partners in each audit firm, and the moderating variable, financial distress, is measured using the Grover model. The tests conducted in this study include descriptive statistical analysis, model feasibility test, overall model fit test, coefficient of determination test, multicollinearity test, classification matrix test, logistic regression analysis, and hypothesis testing.

The results of this study indicate that (1) audit fees do not affect auditor switching, (2) audit firm size does not affect auditor switching, (3) financial distress is not able to strengthen the relationship between audit fees and auditor switching, and (4) financial distress weakens the relationship between audit fees and auditor switching. As an additional analysis, this study conducts a sensitivity test by separating the COVID-19 pandemic period (2020-2022) from the post-pandemic period (2023-2024). The results of the sensitivity test show different findings. During the COVID-19 period, audit fees and audit firm size do not affect auditor switching. However, in the post-COVID-19 period, audit fees have a significant positive effect on auditor switching.

The findings of this study imply that the decision to conduct auditor switching in companies is not solely influenced by the magnitude of audit fees and the size of the audit firm. Companies also consider audit quality, the auditor’s understanding of the company’s condition, and the stability of the working relationship between auditors and clients. These findings highlight the importance for audit firms to maintain audit quality and professionalism in order to sustain client trust. Furthermore, the results of this study may serve as a reference for policymakers in supervising and formulating policies related to auditing practices and auditor switching in order to support the transparency and credibility of financial statements.
4942252191I1C022012ANALISIS KUALITATIF PERSEPSI PASIEN TERHADAP PERAN DAN DUKUNGAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) DALAM PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU DI KECAMATAN KEMBARANTuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Durasi pengobatan TB yang panjang dan efek samping yang kerap memicu ketidakpatuhan dan risiko TB-MDR. Peran Pengawas Menelan Obat (PMO) untuk mengatasinya terletak pada dukungan psikososial yang diberikan, bukan sekedar pengawasan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi persepsi pasien TB Paru di Kecamatan Kembaran dan faktor yang mempengaruhinya terhadap dukungan multi-dimensi dari PMO guna menyusun strategi pendampingan yang lebih efektif dan mendukung eliminasi TB. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan cara wawancara mendalam (indepth interview). Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dan snowball sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah informan sebanyak 10 orang. Hasil penelitian menunjukkan peran dan dukungan PMO dipersepsikan penting oleh pasien, namun kurang optimal dalam memastikan kepatuhan minum obat dan memberikan dukungan emosional. Persepsi pasien sangat bervariasi, ada yang merasakan dampak positif seperti termotivasi begitupun sebaliknya yang dipengaruhi oleh kualitas peran dan pengetahuan PMO serta kondisi internal pasien. Persepsi pasien mengenai peran dan dukungan yang diberikan oleh PMO dipengaruhi oleh beberepa faktor seperti motivasi intrinsic & kemandirian pasien, karakteristik hubungan PMO dengan pasien, serta kapasitas dan kondisi PMO yang dilihat dari ketersediaan waktu dan tingkat pengetahuan PMO. Tuberculosis remains a major public health problem in Indonesia. The long duration of TB treatment and frequent side effects often lead to non-compliance and the risk of MDR-TB. The role of the Drug Intake Supervisor (PMO) in overcoming this problem lies in the psychosocial support provided, not just supervision. This study aims to explore the perceptions of pulmonary TB patients in Kembaran District and the factors that influence their perceptions of the multidimensional support provided by PMO’s in order to develop more effective support strategies and support the elimination of TB. The research was conducted using a phenomenological qualitative approach through in-depth interviews. The sampling techniques used were purposive sampling and snowball sampling, in accordance with the inclusion and exclusion criteria, with a total of 10 informants. The study findings indicate that patients perceive the role and support of the PMO is perceived as important by patients, but is less than optimal in ensuring medication adherence and providing emotional support. Patient perceptions vary greatly, with some feeling positive effects such us motivation and others feeling the opposite, depending on the quality of the PMO’s role and knowledge, as well as the patient’s internal condition. Patient perceptions of the role and support provided by the PMO are influenced by several factors such us the patient’s intrinsic motivation and independence, the characteristics of the PMO’s relationship with the patient, and the capacity and condition of the PMO in terms of time availability and level of knowledge.
4942352192I1C022011ANALISIS KUALITATIF MENGENAI IMPLEMENTASI PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT (PMO) TERHADAP KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI KECAMATAN KEMBARANKepatuhan merupakan faktor penting dalam kebrhasilan pengobatan tuberkulosis. Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) merupakan pendekatan yang ditetapkan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan tuberkulosis. Strategi ini menjamin kepatuhan pasien melalui peran Pengawas Menelan Obat (PMO) dalam mengawasi konsumsi obat secara langsung dan teratur. Optimalisasi peran PMO menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan terapi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi peran PMO dalam mendukung kepatuhan pengobatan pasien. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis melalui wawancara mendalam secara langsung. Informan diambil hingga data jenuh dan diperoleh 12 informan. Keabsahan data melalui uji kredibilitas dengan member checking, uji dependabilitas, dan uji konfirmabilitas melalui audit dosen pembimbing. Hasil wawancara dianalisis secara deskriptif dengan pola berpikir induktif sehingga diperoleh tema penelitian. Peran PMO dalam mendukung kepatuhan pengobatan pasien tuberkulosis adalah pengawasan menelan obat, pemantauan efek samping obat, pemberian dukungan emosional, pendampingan dalam pengambilan obat, dan pemberian edukasi. Implementasi peran tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berhubungan dengan status, pengetahuan, demografi, teknologi digital, sikap, kesediaan waktu, finansial insentif, transportasi, dan stigma sosial. PMO telah melaksanakan berbagai peran dalam mendukung kepatuhan pasien. Implementasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor dan hambatan. Adherence is an important factor in the success of tuberculosis treatment. Medication The Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) strategy is an established approach to improve the success of tuberculosis treatment. This strategy ensures patient compliance through the role of the Medication Supervisors (PMO) in directly and regularly supervising medication intake. Optimizing the role of the PMO is an important factor in supporting the success of this therapy.This study aims to explore the implementation of the PMO role in supporting patient treatment adherence. This study used a qualitative approach with a phenomenological perspective through direct in-depth interviews. Informants were selected until data saturation was achieved, resulting in 12 informants. Data validity was ensured through credibility testing with member checking, dependability testing, and confirmability testing through an audit by the supervising lecturer. The interview results were analyzed descriptively using inductive reasoning to obtain the research theme. The role of the PMO in supporting tuberculosis patient medication adherence includes monitoring medication intake, monitoring medication side effects, providing emotional support, assisting with medication collection, and providing education. The implementation of these roles is influenced by various factors related to status, knowledge, demographics, digital technology, attitudes, time availability, financial incentives, transportation, and social stigma. PMOs have performed various roles in supporting patient compliance. Their implementation has been influenced by several factors and obstacles.
4942452193I1C022013STUDI BIOINFORMATIKA SENYAWA AKTIF RIMPANG BANGLE HANTU (Zingiber ottensii) TERHADAP PROTEIN PROINFLAMASI SEBAGAI KANDIDAT AGEN ANTIINFLAMASI ALAMIInflamasi merupakan respon imun terhadap rangsangan berbahaya seperti patogen dan toksin yang dapat memicu penyakit degeneratif. Terapi inflamasi umumnya melibatkan obat antiinflamasi steroid dan nonsteroid. Penggunaan bahan alam dengan aktivitas antiinflamasi kini berkembang sebagai terapi komplementer yang berpotensi mendukung efektivitas pengobatan konvensional. Rimpang Zingiber. ottensii mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, terpenoid, dan fenolik yang diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi senyawa aktif rimpang Z. ottensii terhadap protein proinflamasi secara in silico melalui analisis ADMET, prediksi target, dan molecular docking. Delapan senyawa memenuhi parameter ADMET, yaitu α-terpineol, trans sabinene hydrate, elemol, β-eudesmol, 1-terpineol, terpinen-4-ol, γ eudesmol, dan 7-epi-α-eudesmol. Senyawa tersebut berinteraksi dengan protein target proinflamasi meliputi EGFR, HIF1A, ESR1, MAPK1, PTGS2, PGR, RELA, PPARG, MAPK3, dan MAPK8. Hasil menunjukkan β-eudesmol, γ-eudesmol, dan elemol memiliki afinitas pengikatan terbaik, dengan nilai energi ikatan masing-masing sebesar -8,4 kkal/mol (MAPK1), -
7,7 kkal/mol (MAPK8), dan -7,1 kkal/mol (HIF1A), yang lebih rendah dibandingkan kontrol positif. Interaksi yang terbentuk berupa ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik yang meningkatkan stabilitas kompleks. Senyawa tersebut berpotensi sebagai agen antiinflamasi dengan β-eudesmol,
γ-eudesmol, dan elemol sebagai kandidat utama.
Inflammation is an immune response to harmful stimuli such as pathogens and toxins that can trigger degenerative diseases. Anti-inflammatory therapy generally involves steroidal and nonsteroidal drugs. The use of natural products with anti-inflammatory activity has increasingly developed as a complementary therapy with the potential to enhance the effectiveness of conventional treatments. The rhizome of Zingiber ottensii contains bioactive compounds such as flavonoids, terpenoids, and phenolics, which are known to exhibit anti-inflammatory activity.This study aimed to evaluate the potential of active compounds from Z. ottensii rhizome against proinflammatory target proteins using an in silico approach, including ADMET analysis, target prediction, and molecular docking. Eight compounds met the ADMET criteria, namely α-terpineol, trans sabinene hydrate, elemol, β-eudesmol, 1-terpineol, terpinen-4-ol, γ-eudesmol, and 7-epi-α-eudesmol. These compounds interacted with pro-inflammatory target proteins, including EGFR, HIF1A, ESR1, MAPK1, PTGS2, PGR, RELA, PPARG, MAPK3, and MAPK8. The results showed that β-eudesmol, γ-eudesmol, and elemol exhibited the best binding affinities, with binding energies of -8.4 kcal/mol (MAPK1), -7.7 kcal/mol (MAPK8), and -7.1 kcal/mol (HIF1A), respectively, which were lower than those of the positive controls. The interactions involved hydrogen bonds and hydrophobic interactions, contributing to the stability of the ligand–protein complexes. These findings suggest that the active compounds of Z. ottensii rhizome have potential as
anti-inflammatory agents, with β-eudesmol, γ-eudesmol, and elemol identified as the most promising candidates.
4942552194K1A022052KINERJA ADSORPSI DAN KARAKTERISTIK KARBON AKTIF DARI RANTING TEH YANG DIAKTIVASI OLEH KOH DAN ARC PLASMA TERHADAP METHYLENE BLUEPembuangan limbah methylene blue ke lingkungan perairan menimbulkan persoalan serius karena sifatnya yang toksik, karsinogenik, serta dapat mengganggu proses fotosintesis organisme akuatik dengan menghalangi cahaya matahari. Metode yang unggul karena efisien, mudah, dan ekonomis untuk menurunkan konsentrasi methylene blue adalah adsorpsi menggunakan material karbon aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik karbon aktif dari ranting teh yang diaktivasi oleh KOH dan Arc Plasma serta kinerja adsorpsinya terhadap methylene blue. Karakterisasi dilakukan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive X-Ray (SEM-EDX) Brunauer-Emmet-Teller (BET), dan Fourier Transform Infrared (FTIR). Luas permukaan sampel C1, C2, dan C3 berturut-turut sebesar 642,921; 741,488; dan 369,544 m2/g. Kapasitas adsorpsi MB dari uji adsorpsi pada sampel C3 sebesar 96,440 mg/g.The disposal of methylene blue wastewater into aquatic environments poses a serious problem due to its toxic and carcinogenic properties, as well as its ability to disrupt the photosynthesis process of aquatic organisms by blocking sunlight. An effective, simple, and economical method for reducing methylene blue concentration is adsorption using activated carbon materials. This study aims to investigate the characteristics of activated carbon derived from tea twigs activated using KOH and Arc Plasma, as well as its adsorption performance toward methylene blue. Material characterization was carried out using X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive X-Ray (SEM-EDX) Brunauer-Emmet-Teller (BET), and Fourier Transform Infrared (FTIR) analyses. The surface areas of samples C1, C2, and C3 were 642.921, 741.488, and 369.544 m²/g, respectively. The adsorption capacity of methylene blue obtained from adsorption tests for sample C3 reached 96.440 mg/g.
4942652195C0A023046OPTIMALISASI PENERIMAAN PAJAK REKLAME PADA BADAN PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS Pajak reklame merupakan salah satu komponen Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang memiliki peranan penting
dalam mendukung pembangunan daerah di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
dan mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pajak reklame di Kabupaten Banyumas serta
mengidentifikasi upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan penerimaan pajak reklame. Untuk
mendapatkan data, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data
melalui wawancara dengan pegawai atau staff yang menangani tentang pajak reklame, dan analisis data realisasi
pajak reklame yang dimiliki oleh Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Banyumas tahun 2023-2024. Hasil
penelitian menunjukkan beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya penerimaan pajak reklame, seperti
penerapan Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2020 yang melarang pemasangan reklame di bahu jalan,
banyaknya reklame yang tidak memiliki izin, keterbatasan sumber daya manusia untuk jumlah petugas, serta
rendahnya kesadaran dan kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajibannya. Untuk mengoptimalkan
penerimaan pajak reklame, diperlukan peningkatan kerja sama dengan Tim Optimalisasi Pemungutan Pajak
Reklame dalam melakukan pengawasan dan pengendalian, penertiban terhadap reklame ilegal, sosialisasi yang
berkelanjutan terkait pentingnya membayar pajak reklame, dan penegakan aturan terhadap reklame yang
beroperasi tanpa izin. Oleh karena itu, disarankan supaya terdapat penertiban terhadap pelanggar peraturan,
menerapkan strategi optimalisasi secara menyeluruh melalui peningkatan pengawasan, penegakan peraturan
yang konsisten, serta peningkatan kapasitas tenaga kerja untuk meningkatkan efektivitas pemungutan pajak dan
mencapai target penerimaan yang optimal.
Reclame tax is one of the components of Regional Original Revenue that plays an important role in supporting
regional development in Banyumas Regency. This study aims to analyze and evaluate the factors that influence
reclame tax revenue in Banyumas Regency and identify efforts that need to be made to optimize reclame tax
revenue. To obtain data, this study used a qualitative descriptive method with data collection techniques through
interviews with employees or staff who handle reclame taxes, and analysis of reclame tax realization data owned
by the Banyumas Regency Regional Revenue Agency for 2023-2024. The results of the study show several
factors that influence the low reclame tax revenue, such as the implementation of Regional Regulation Number
16 of 2020 which prohibits the installation of reclame on the side of the road, the large number of reclame that
do not have permits, limited human resources for the number of officers, and low awareness and compliance of
taxpayers in fulfilling their obligations. To optimize reclame tax revenue, it is necessary to improve cooperation
with the Reclame Tax Collection Optimization Team in conducting supervision and control, cracking down on
illegal reclame, conducting ongoing outreach on the importance of paying reclame taxes, and enforcing
regulations against reclame operating without permits. Therefore, it is recommended that violators of regulations
be disciplined, a comprehensive optimization strategy be implemented through increased supervision, consistent
enforcement of regulations, and increased workforce capacity to improve the effectiveness of tax collection and
achieve optimal revenue targets.
4942752198C1C022044Pengaruh Pengalaman Audit, Kompetensi Auditor, dan Skeptisisme Profesional terhadap Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi FraudPenelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode survei terhadap auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik wilayah Jakarta Selatan. Penelitian ini memiliki variabel independen yang terdiri dari pengalaman audit, kompetensi auditor, dan skeptisisme profesional. Variabel dependen yaitu kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud, sehingga penelitian ini berjudul: “Pengaruh Pengalaman Audit, Kompetensi Auditor, dan Skeptisisme Profesional Terhadap Kemampuan Auditor dalam Mendeteksi Fraud”. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis secara empiris mengenai pengaruh pengalaman audit, kompetensi auditor, dan skeptisisme profesional terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik wilayah Jakarta Selatan. Sampel ditentukan menggunakan rumus Lemeshow dengan jumlah minimal 96 responden. Penentuan responden menggunakan teknik Convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner melalui google form yang disebarkan secara online. Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan analisis regresi linier berganda.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data menggunakan alat statistik IBM SPSS Statistics version 27, seluruh data yang digunakan dalam penelitian dikatakan valid, reliabel, normal, bebas dari multikolinearitas, dan bebas dari heteroskedastisitas. Nilai Ajusted R Square yang diperoleh sebesar 0,537. Hasil pengujian hipotesis menyatakan bahwa: (1) Pengalaman audit berpengaruh positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud, (2) Kompetensi auditor berpengaruh positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud, (3) Skeptisisme profesional berpengaruh positif terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi fraud.
Implikasi dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Bagi akademisi, penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran dan diskusi ilmiah, serta menyediakan referensi bagi penelitian selanjutnya dengan topik serupa; (2) Bagi auditor, diharapkan dapat terus meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya melalui pendidikan formal, program pelatihan, maupun kegiatan pengembangan karir lainnya; (3) Bagi Kantor Akuntansi Publik, diharapkan dapat mendorong peningkatan pengalaman dan kompetensi auditor melalui penugasan audit yang beragam, program pelatihan dan pengembangan karir lainnya, serta membangun budaya kerja yang mendukung penerapan skeptisisme profesional; (4) Bagi manajemen perusahaan, diharapkan dapat mendukung pelaksanaan audit dengan menyediakan akses informasi yang memadai dan meningkatkan transparansi laporan keuangan.
This study is a quantitativ research using a survey method targeting auditors working at public accounting firms in South Jakarta. This study has independent variables consisting of audit experience, auditor competence, and professional skepticism. The dependent variable is the auditor's ability to detect fraud, hence the title of this study: “The Effect of Audit Experience, Auditor Competence, and Professional Skepticism on the Auditor's Ability to Detect Fraud”. The purpose of this study is to empirically test and analyze the effect of audit experience, auditor competence, and professional skepticism on the auditor's ability to detect fraud.
The population in this study is all auditors working at public accounting firms in South Jakarta. The sample was determined using the Lemeshow formula with a minimum of 96 respondents. Respondents were determined using convenience sampling. Data collection was conducted using a questionnaire via Google Forms distributed online. Hypothesis testing was performed using multiple linear regression analysis.
Based on the results of research and data analysis using IBM SPSS Statistics version 27, all data used in the study were found to be valid, reliable, normal, free from multicollinearity, and free from heteroscedasticity. The adjusted R-square value obtained was 0.537. The hypothesis testing results stated that: (1) Audit experience has a positive effect on auditors' ability to detect fraud, (2) Auditor competence has a positive effect on auditors' ability to detect fraud, (3) Professional skepticism has a positive effect on auditors' ability to detect fraud.
The implications of this research are as follows: (1) For academics, this research can be used as material for learning and scientific discussion, as well as providing references for further research on similar topics; (2) For auditors, it is hoped that they can continue to improve their competence and professionalism through formal education, training programs, and other career development activities; (3) For Public Accounting Firms, it is hoped that they can encourage the improvement of auditors' experience and competence through diverse audit assignments, training programs and other career development activities, as well as building a work culture that supports the application of professional skepticism; (4) For company management, it is hoped that they can support the implementation of audits by providing adequate access to information and increasing the transparency of financial reports.
4942852199I1A022034IMPLIKASI STRES KERJA PADA PELAKU USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH DI PASAR MULYOSARI BATURRADEN

IMPLIKASI STRES KERJA PADA PELAKU USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH
DI PASAR MULYOSARI BATURRADEN
Sefia Nur Laeli1, Siti Harwanti2, Nur Ulfah3


Latar Belakang: Pasar Mulyosari sebagai bagian dari sektor informal yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian masyarakat. Meski begitu pelaku UMKM di Pasar Mulyosari rentan mengalami stres kerja dengan presentase sebesar 21,4% stres kerja tingkat berat, 31% tingkat sedang, dan 28,6% tingkat rendah. Kondisi stres kerja apabila dibiarkan dapat berdampak terhadap kondisi kesehatan maupun psikologis individu, efektivitas kerja, dan keberlanjutan ekonomi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk megungkap secara medalam pengalaman subjektif stres kerja pada pelaku UMKM di Pasar Mulyosari, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas.
Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan penelitian terdiri dari 5 informan utama dan 2 informan pendukung. Data penelitian didapat dari hasil wawancara mendalam dan observasi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis isi.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses terjadinya stres kerja pada pelaku UMKM berlangsung melalui tiga tahap, yaitu tahap alarm, resistensi, dan kelelahan. Stres kerja yang dialami menimbulkan implikasi iso strain dan low strain yang dapat memberikan dampak positif maupun negatif terhadap kinerja pelaku UMKM. Implikasi iso strain yang ditandai dengan tingginya tekanan kerja dan kontrol diri rendah dan implikasi low strain ditandai dengan rendahnya tuntutan kerja dan kontrol diri tinggi. Pelaku UMKM juga melakukan upaya pengendalian stres kerja melalui strategi pendekatan individu seperti kontrol diri dan pendekatan organisasi melalui peran dukungan keluarga maupun pengelola pasar dalam perbaikan sistem lingkungan kerja.
Kesimpulan: Fenomena implikasi stres kerja pada pelaku UMKM di Pasar Mulyosari menimbulkan implikasi iso strain dan low strain yang dapat dikendalikan melalui pendekatan individu dan organisasi. Oleh karena itu, diperlukan penguatan strategi pengelolaan stres melalui peningkatan kemampuan coping individu serta dukungan sosial guna meminimalkan dampak negatif stres kerja.
Kata Kunci: Stres Kerja, Pekerja Sektor Informal.


1Mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat, FIKes, Universitas Jenderal Soedirman
2,3Dosen Jurusan Kesehatan Masyarakat, FIKes, Universitas Jenderal Soedirman


THE IMPLICATION OF WORK STRESS ON MICRO, SMALL, AND MEDIUM ENTERPRISES (MSME) IN THE MULYOSARI BATURRADEN MARKET
Sefia Nur Laeli1, Siti Harwanti2, Nur Ulfah3



Background: Mulyosari Market, as part of the informal sector, makes a significant contribution to the local economy. However, MSME operators in this Mulyosari Market are vulnerable to work related stress, with 21.4% experiencing severe stress, 31% moderate stress, and 28.6% mild stress. If left unaddressed, work related stress can impact individuals physical and mental health, work effectiveness, and family economic sustainability.This study aims to deeply explore the subjective experiences of work related stress among MSME operators at Mulyosari Market, Baturraden Subdistrict, Banyumas Regency.

Methods: The research design employed was qualitative with a phenomenological approach. The research informants consisted of 5 main informants and 2 supporting informants. Research data were obtained from in-depth interviews and observations. The analysis technique used was content analysis.

Results: The results indicate that the process of work related stress among MSME operators unfolds through three stages: the alarm stage, the resistance stage, and the exhaustion stage. The work related stress experienced leads to iso-strain and low-strain implications, which caan have both positive and negative effects on the performance of MSME operators. Iso-strain implications are characterized by high work pressure and low self-control, while low-strain implications are characterized by low work demands and high self-control. MSME operators also make efforts to manage work-related stress through individual strategies such as self-control and organizational approaches, including support form family members and market managers in improving the work environment.
Conclusion: The implications of work-related stress among MSME operators at Mulyosari Market result in iso-strain and low-strain conditions that can be managed through individual and organizational approaches. Therefore, it is necessary to strengthen stress management strategies by enhancing individual coping abilities and providing social support to minimize the negative impacts of work related stress.
Keywords: Work Related Stress, Informal Sector Workers.


1Student of Public Health Department, Faculty of Health Science, Jenderal Soedirman University
2,3Lecturers of Public Health Department, Faculty of Health Science, Jenderal Soedirman University

4942952197K1B022056Homomorfisma pada Grup RoughHimpunan rough merupakan perluasan dari himpunan klasik yang dikembangkan untuk menangani ketidakpastian informasi menggunakan aproksimasi himpunan. Tujuan penelitian ini membahas konsep dan sifat homomorfisma pada grup rough. Hasil yang diperoleh adalah homomorfisma pada grup rough merupakan pemetaan yang mengawetkan operasi biner pada aproksimasi atas suatu himpunan bagian dari grup klasik, dengan aproksimasi atas tersebut merupakan subgrup klasik. Selanjutnya, juga diperoleh sifat-sifat homomorfisma pada grup rough yang berkaitan dengan pengawetan elemen identitas, pengawetan elemen invers, pemetaan injektif, dan pemetaan surjektif. Konsep kernel dan image dibentuk dengan memetakan elemen-elemen pada aproksimasi tersebut. Lebih lanjut, homomorfisma grup klasik dapat ditinjau sebagai kejadian khusus homomorfisma pada grup rough.Rough sets are an extension of classical sets to handle uncertain information by using set approximations. This thesis discusses the concept and properties of homomorphism on rough group. The results show that a homomorphism on rough group is a mapping that preserves the binary operation on the upper approximations of subsets of classical group, where those approximations are classical subgroup. Furthermore, the properties of homomorphism on rough group related to preservation identity element and inverse element, as well as injective and surjective functions, are obtained. The concepts of kernel and image of homomorphism on rough group are defined by mapping elements within these approximations. Classical group homomorphism is a special case of homomorphism on rough group.
4943052201C1A022019Determinan Kemiskinan di Wilayah 3T Provinsi Papua Tahun 2014-2023Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kemiskinan di 22 kabupaten/kota wilayah 3T Provinsi Papua periode 2014-2023. Menggunakan metode regresi data panel (Random Effects Model) yang mencakup 22 kabupaten/kota yang ditetapkan sebagai wilayah 3T di Provinsi Papua. Penelitian ini menguji pengaruh infrastruktur jalan, Gini Ratio, IPM, dan belanja bantuan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan seluruh variabel berpengaruh signifikan, namun secara parsial hanya IPM yang terbukti berpengaruh negatif signifikan menurunkan tingkat kemiskinan. Sementara itu, infrastruktur panjang jalan, Gini Ratio, dan belanja bantuan sosial tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan kualitas sumber daya manusia dan sinkronisasi kebijakan bantuan sosial guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif di wilayah 3T Papua.
This study aims to analyze the factors influencing poverty levels in 22 districts/cities in the 3T region of Papua Province for the period 2014-2023. Using a panel data regression method (Random Effects Model) covering 22 districts/cities designated as 3T regions in Papua Province. This study examines the influence of road infrastructure, the Gini Ratio, the Human Development Index (HDI), and social assistance spending. The results show that simultaneously all variables have a significant effect, but partially only the HDI is proven to have a significant negative effect on reducing poverty levels. Meanwhile, road length infrastructure, the Gini Ratio, and social assistance spending do not show a significant effect. These findings emphasize the need to strengthen the quality of human resources and synchronize social assistance policies to encourage more inclusive economic growth in the 3T region of Papua.

4943152202H1D021067ANALISIS KOMPARASI FRAMEWORK FLUTTER DAN IONIC ANGULAR DALAM PENGEMBANGAN APLIKASI MOBILELELANG AGROInefisiensi rantai distribusi komoditas cabai menuntut transformasi digital melalui aplikasi seluler yang responsif. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis komparasi teknis antara framework Flutter (native-compiled) dan Ionic Angular (hybrid web-view) pada pengembangan aplikasi "Lelang Agro". Metode penelitian menggabungkan pendekatan eksperimental untuk pengujian performa dan analisis komparatif untuk aspek kustomisasi serta dukungan pengembang. Hasil pengujian performa menunjukkan Flutter unggul signifikan pada aspek runtime, dengan Time to Interactive (TTI) 29,9% lebih cepat, penggunaan CPU 37,2% lebih hemat, dan manajemen memori 15,4% lebih efisien. Sebaliknya, Ionic Angular menunjukkan keunggulan pada efisiensi penyimpanan dengan ukuran aplikasi 65,5% lebih kecil. Pada aspek kustomisasi dan dukungan pengembang, Ionic Angular terbukti lebih unggul dalam tingkat kustomisasi struktur proyek dan kemudahan konfigurasi
(setup) yang berstatus Mature, sedangkan Flutter menuntut konfigurasi manual pada level native. Namun, Flutter memimpin dalam aspek dukungan pengembang dengan dokumentasi terpusat dan tren pertumbuhan komunitas yang positif. Kesimpulannya, Flutter direkomendasikan untuk sistem yang memprioritaskan performa tinggi, sementara Ionic Angular tetap relevan untuk pengembangan cepat dengan arsitektur web standar.
Inefficiencies in the chili commodity distribution chain necessitate digital transformation through responsive mobile applications. This study aims to conduct a technical comparative analysis between Flutter (native-compiled) and Ionic Angular (hybrid web-view) frameworks in the development of the "Agro Auction" application. The research method combines an experimental approach for
performance testing and comparative analysis for customization and developer support aspects. Performance test results indicate that Flutter significantly outperforms in runtime aspects, with Time to Interactive (TTI) 29.9% faster, CPU usage 37.2% more efficient, and memory management 15.4% more efficient. Conversely, Ionic Angular demonstrates superiority in storage efficiency with an
application size 65.5% smaller. In customization and developer support aspects, Ionic Angular proves superior in project structure customization and configuration ease (setup) with a Mature status, whereas Flutter requires manual configuration at the native level. However, Flutter leads in developer support aspects with centralized documentation and positive community growth trends. In conclusion, Flutter is recommended for systems prioritizing high performance, while Ionic Angular remains relevant for rapid development with standard web architecture.
4943252203C1C022018Pengaruh Managerial Ability terhadap Tax Avoidance dengan Financial Distress sebagai Pemoderasi (Studi pada Sektor Transportasi dan Logistik yang Terdaftar di BEI 2021-2024)Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis mendalam mengenai pengaruh kemampuan manajerial (managerial ability) terhadap praktik penghindaran pajak (tax avoidance) dengan menempatkan tekanan keuangan (financial distress) sebagai variabel moderasi. Fokus penelitian diarahkan secara spesifik pada perusahaan yang bergerak di sektor transportasi dan logistik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama rentang periode pengamatan 2021 hingga 2024. Pemilihan sektor ini didasari oleh fenomena kontradiktif di mana pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor logistik nasional menunjukkan tren peningkatan yang sangat pesat, namun kontribusi pajaknya yang tercermin melalui rasio Effective Tax Rate (ETR) cenderung rendah atau berada di bawah tarif pajak badan normal. Populasi awal dalam studi ini mencakup seluruh emiten di sektor terkait sebanyak 38 perusahaan. Penerapan teknik purposive sampling dengan kriteria ketat menghasilkan 20 perusahaan sampel yang memenuhi spesifikasi kelengkapan pelaporan keuangan dan tidak mencatatkan kerugian selama masa observasi. Total pengamatan yang diolah berjumlah 80 data penelitian yang dikumpulkan melalui metode dokumentasi data sekunder dari situs resmi BEI. Analisis data diimplementasikan menggunakan teknik regresi data panel dengan dukungan perangkat lunak ekonometrika EViews 12. Penentuan model estimasi dilakukan secara sistematis melalui Uji Chow, Uji Hausman, dan Uji Lagrange Multiplier. Hasil serangkaian prosedur statistik tersebut menetapkan Random Effect Model (REM) sebagai model yang paling akurat karena mampu mengakomodasi variasi karakteristik antar unit perusahaan melalui komponen gangguan acak secara optimal.This study aims to conduct an in-depth analysis of the influence of managerial ability on tax avoidance practices, with financial distress serving as a moderating variable. The research specifically focuses on companies operating in the transportation and logistics sector listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the 2021–2024 observation period. The selection of this sector is based on a contradictory phenomenon: while the Gross Domestic Product (GDP) growth of the national logistics sector has shown a rapid upward trend, its tax contribution, as reflected by the Effective Tax Rate (ETR), tends to be low or below the normal corporate tax rate. The initial population in this study includes all 38 companies listed in the relevant sector. By applying a purposive sampling technique with strict criteria, 20 sample companies were identified that met the specifications for complete financial reporting and did not record losses during the observation period. A total of 80 research observations were processed, collected through secondary data documentation from the official IDX website. Data analysis was implemented using panel data regression techniques supported by EViews 12 econometrics software. The estimation model was determined systematically through the Chow Test, Hausman Test, and Lagrange Multiplier Test. The results of these statistical procedures established the Random Effect Model (REM) as the most accurate model, as it is optimally capable of accommodating variations in characteristics across corporate units through random disturbance components.
4943352204K1A022057Formulasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Nanoemulsi Ekstrak Etanol Biji Ketumbar (Coriandrum Sativum L.) Terinkorporasi Dalam Face TonerPaparan radikal bebas dapat menyebabkan permasalahan pada kulit, sehingga memerlukan produk perawatan berupa face toner yang mengandung senyawa antioksidan. Biji ketumbar diketahui mengandung senyawa seperti flavonoid dan fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian bertujuan untuk mengisolasi senyawa antioksidan, menentukan variasi pelarut etanol yang memberikan aktivitas antioksidan terbaik dalam ekstrak biji ketumbar menggunakan metode DPPH, menentukan nilai IC50 pada formulasi nanoemulsi ekstrak biji ketumbar dan menentukan face toner dengan karakteristik fisik terbaik. Ekstraksi biji ketumbar dilakukan ekstraksi dengan teknik maserasi menggunakan pelarut etanol, kemudian diformulasikan ke dalam sediaan nanoemulsi dengan variasi massa ekstrak biji ketumbar sebanyak 0,3; 0,5 dan 0,7 gram dan nanoemulsi diinkorporasi ke dalam sediaan face toner dengan variasi volume 6; 12 dan 18 mL serta penambahan niacinamide dengan variasi massa 1; 3 dan 5 gram. Aktivitas antioksidan ekstrak biji ketumbar dengan pelarut etanol 70% (E1) menunjukkan hasil terbaik dengan IC50 sebesar 35,7 µg/mL. Nanoemulsi F3 dengan ekstrak biji ketumbar 0,7 g memiliki kualitas terbaik dengan ukuran partikel 11,38 nm (81,9%) dan nilai IC50 sebesar 434,56 µg/mL. Face toner dengan karakteristik fisik terbaik didapatkan pada F118 dengan nanoemulsi ekstrak biji ketumbar sebanyak 18 mL dan niacinamide sebanyak 1 gram dan nilai IC50 sebesar 202,95 µg/mL.Exposure to free radicals can cause various skin problems; therefore, skincare products such as face toners containing antioxidant compounds are needed. Coriander seeds (Coriandrum sativum L.) are known to contain flavonoids and phenolic compounds that exhibit antioxidant activity. This study aimed to isolate antioxidant compounds, determine the ethanol solvent variation that provided the best antioxidant activity in coriander seed extract using the DPPH method, determine the IC₅₀ value of the nanoemulsion formulation of coriander seed extract, and identify the face toner formulation with the best physical characteristics. Coriander seeds were extracted by maceration using different concentrations of ethanol as solvents. The extract was then formulated into a nanoemulsion with variations in extract mass of 0.3, 0.5, and 0.7 g. The nanoemulsion was incorporated into a face toner formulation at volumes of 6, 12, and 18 mL, with the addition of niacinamide at masses of 1, 3, and 5 g. Antioxidant activity was evaluated using the DPPH method based on IC₅₀ values. The results showed that the 70% ethanol extract (E1) exhibited the highest antioxidant activity, with an IC₅₀ value of 35.7 µg/mL. The nanoemulsion formulation F3 containing 0.7 g of extract demonstrated the best characteristics, with an average particle size of 11.38 nm (81.9%) and an IC₅₀ value of 434.56 µg/mL. The best face toner formulation was F118, containing 18 mL of nanoemulsion and 1 g of niacinamide, which showed an IC₅₀ value of 202.95 µg/mL.
4943452183C0A023035EFEKTIVITAS ADMINISTRASI OPERASIONAL DALAM MENDUKUNG PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN PERIKANANEfektivitas administrasi operasional sangat penting dalam mendukung pelaporan keuangan yang akurat dan tepat waktu, terutama di fasilitas penyimpanan dingin perusahaan perikanan yang mengelola transaksi persediaan bervolume tinggi. Penelitian ini menganalisis efektivitas administrasi operasional pada Unit Cold Storage PT Balakosa menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumen selama 17 minggu magang. Penelitian menemukan bahwa sistem pencatatan manual menimbulkan inefisiensi berupa alur data bertahap yang panjang serta penumpukan kerja di bagian Accounting. Dampaknya, pencatatan transaksi mengalami keterlambatan hingga 2-3 hari dan proses closing bulanan tertunda selama 3-5 hari. Inefisiensi ini berdampak langsung pada akurasi akun Persediaan di Neraca dan perhitungan Harga Pokok Penjualan di Laporan Laba Rugi, menghambat kemampuan manajemen mengevaluasi kinerja dan membuat keputusan tepat waktu. Penelitian mengusulkan strategi optimalisasi melalui implementasi sistem akuntansi terintegrasi (software Accurate), redesain alur kerja operasional, program pelatihan karyawan, perbaikan infrastruktur teknologi, dan penyusunan Standard Operating Procedures. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis tentang pentingnya administrasi operasional sebagai fondasi penyusunan laporan keuangan berkualitas pada industri perikanan dan bisnis intensive persediaan serupa.Operational administration effectiveness is crucial in supporting accurate and timely financial reporting, especially in cold storage facilities of fisheries companies managing high-volume inventory transactions. This research analyzes operational administration effectiveness at PT Balakosa's Cold Storage Unit using a qualitative approach through participatory observation, in-depth interviews, and document analysis during 17-week internship. The research found that the current manual recording system creates significant inefficiencies, including a lengthy multi-stage data flow, work accumulation in the accounting department, and time lags between transactions and system recording. As a result, the monthly closing is delayed by up to 3–5 days. These inefficiencies directly impact Inventory account accuracy in Balance Sheet and Cost of Goods Sold calculation in Income Statement, hindering management's ability to evaluate performance and make timely decisions. The study proposes optimization strategy through integrated accounting system implementation (Accurate software), operational workflow redesign, employee training programs, technological infrastructure improvement, and Standard Operating Procedures development. This research contributes practical insights on operational administration importance as foundation for quality financial reporting in fisheries industry and similar inventory-intensive businesses.
4943552207J1B022049PENDEKATAN PRODUKSI UJARAN LEVELT PADA GANGGUAN BERBAHASA KILIR LIDAH AKTOR ANWAR SANJAYA
(KAJIAN PSIKOLINGUISTIK)
Penelitian kilir lidah ini bertujuan untuk menganalisis jenis-jenis tuturan kilir lidah yang diproduksi dan mengidentifikasi faktor penyebab kilir lidah pada aktor Anwar Sanjaya dalam konten YouTube Trans7 Bikin Seneng. Penelitian ini menggunakan kajian psikolinguistik, yakni bahasa kaitannya dengan proses-proses mental yang dilalui manusia dalam merencanakan suatu ujaran. Metode pengumpulan data menggunakan metode observasi nonpartisipatif dengan teknik simak bebas libat cakap dan metode wawancara. Metode analisis data dilakukan dengan cara metode padan dengan teknis analisis data model Miles and Huberman, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penyajian hasil analisis data menggunakan metode informal dengan bentuk tabel dan narasi deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 117 data yang teridentifikasi memiliki kekeliruan kilir lidah seleksi, assembling, dan unit-unit kilir lidah. Hasil penelitian juga menunjukkan faktor penyebab kilir lidah pada Anwar Sanjaya disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, yakni situasi komunikasi spontan, kecepatan produksi ujaran, interferensi, bahasa sehari-hari, kecemasan atau tekanan sosial, beban kognitif intrinsik, beban kognitif ekstrinsik, dan beban kognitif germane.This research slips of the tongue aims to analyze the types of tongue slips produced and identify the factors causing tongue twisters in actor Anwar Sanjaya in Trans7's YouTube content Bikin Seneng. This study uses psycholinguistic analysis, namely language in relation to the mental processes that humans go through in planning speech. The data collection method used nonparticipatory observation with free listening and interview method. Data analysis was conducted using the Miles and Huberman data analysis model, namely data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The presentation of the data analysis results used an informal method in the form of tables and descriptive narratives. The results of this research show that there are 117 data identified as having slips of the tongue. The results of the study also show that the factors causing slips of the tongue in Anwar Sanjaya were internal and external factors, namely spontaneous communication situations, speed of speech production, interference, everyday language, anxiety or social pressure, intrinsic cognitive load, extrinsic cognitive load, and germane cognitive load.
4943652208I1A022046GAMBARAN KARAKTERISTIK LINGKUNGAN FISIK PONDOK PESANTREN MODERN DAN TRADISIONAL TERKAIT POTENSI PENULARAN TUBERKULOSIS Latar Belakang: Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang besar di Indonesia, khususnya pada populasi yang rentan seperti pondok pesantren. Kondisi bangunan yang kurang memadai, termasuk ventilasi yang tidak cukup, pencahayaan yang kurang, serta kepadatan hunian yang tinggi, dapat meningkatkan risiko penularan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik lingkungan fisik pondok pesantren modern dan tradisional yang berkaitan dengan potensi penularan tuberkulosis.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional deskriptif pada 20 titik pengamatan lingkungan di pondok pesantren, yang terdiri dari 10 titik di Pondok Pesantren Modern Zam-Zam Cilongok dan 10 titik di Pondok Pesantren Tradisional Miftahul Falah Tambak, mewakili asrama santri putra dan putri. Variabel yang diamati meliputi kepadatan hunian, ventilasi, pencahayaan alami, kelembapan, suhu, jenis lantai, jenis dinding, dan kebersihan. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juli hingga Agustus 2025 menggunakan lembar observasi dan alat ukur terkalibrasi, yaitu meteran untuk mengukur dimensi ruangan, luxmeter untuk mengukur intensitas pencahayaan, serta thermo-hygrometer untuk mengukur suhu dan kelembapan.
Hasil: Seluruh titik pengamatan pada pondok pesantren modern maupun tradisional (100%) tidak memenuhi standar kepadatan hunian. Pencahayaan yang memenuhi standar lebih banyak ditemukan pada pondok pesantren modern (60%) dibandingkan pondok pesantren tradisional (40%). Kelembapan yang memenuhi standar ditemukan pada pondok pesantren modern (80%) dan tradisional (60%). Suhu memenuhi standar pada seluruh titik pengamatan (100%). Ventilasi yang memenuhi standar lebih banyak ditemukan pada pondok pesantren modern (70%) dibandingkan pondok pesantren tradisional (20%). Semua jenis lantai memenuhi standar, sedangkan jenis dinding pada pondok pesantren modern memenuhi standar, namun pada pondok pesantren tradisional terdapat 20% yang tidak memenuhi standar.
Kesimpulan: Pondok pesantren tradisional memiliki potensi risiko lingkungan yang lebih tinggi terhadap penularan tuberkulosis dibandingkan pondok pesantren modern, terutama ditinjau dari kepadatan hunian, ventilasi, dan pencahayaan.
Kata kunci: Deskriptif, Tuberkulosis, Lingkungan fisik, Pondok pesantren
Background: Tuberculosis remains a major public health problem in Indonesia, specially neglect population like Islamic boarding schools. Poor building conditions, including inadequate ventilation, insufficient lighting, high occupancy density, may increase risk of transmission. This study describing physical environmental characteristics of modern and traditional Islamic boarding schools related to potential transmission tuberculosis.
Method: This study employed a descriptive observational design at 20 environmental observation points in islamic boarding school, consist in 10 points in Pondok Pesantren Modern Zam-Zam Cilongok and 10 points in Pondok Pesantren Tradisional Miftahul Falah Tambak, representing male and female student dormitories. The variables observed included occupancy density, ventilation, natural lighting, humidity, temperature, floor type, wall type, and cleanliness. Data collection was carried out from July to August 2025 using observation sheets and calibrated measuring instruments, measuring tape assess room dimensions, luxmeter measure lighting intensity, thermo-hygrometer measure temperature & humidity.
Results: All observation points both modern and traditional boarding schools (100%) did not meet occupancy density standard. Adequate lighting was more common in modern boarding school (60%) than in traditional one (40%). Adequate humidity was observed in modern (80%) and traditional (60%) boarding school. Temperature met standard for all observation points (100%). Adequate ventilation was more frequent in modern boarding school (70%) than in traditional one (20%). All floor types met the standard, while wall types met standard modern boarding school but 20% in traditional boarding school did not.
Conclusion: Traditional Islamic boarding schools higher potential environmental risk for tuberculosis transmission compared to modern Islamic boarding schools, particularly in terms of occupancy density, ventilation, and lighting.
Keywords: Descriptive, Tuberculosis, Physical environment, Islamic boarding school
4943752034G1A022062Hubungan Kadar LDL dengan Nilai Ankle Brachial Index Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUI BanyubeningLatar belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan faktor risiko utama terjadinya penyakit arteri perifer akibat proses aterosklerosis. Dislipidemia, khususnya peningkatan kadar low density lipoprotein (LDL), berperan dalam proses aterosklerosis. Akan tetapi, hubungan kadar LDL dengan ankle brachial index (ABI) sebagai indikator penyakit arteri perifer pada pasien diabetes melitus tipe 2 masih menunjukkan hasil yang bervariasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar LDL dengan nilai ABI pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUI Banyubening. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross sectional. Subjek penelitian merupakan pasien diabetes melitus tipe 2 berusia 40–70 tahun. Data kadar LDL diperoleh dari pemeriksaan laboratorium metode enzimatik generasi 3, sedangkan nilai ABI diukur menggunakan perbandingan tekanan darah sistol ekstremitas bawah (arteri tibialis posterior) dan atas (arteri brachialis). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi nonparametik Spearman. Hasil: Subjek penelitian berjumlah 84. Rerata kadar LDL responden sebesar 160,71 mg/dL dan rerata nilai ABI sebesar 1,04 ± 0,17. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat korelasi bermakna antara kadar LDL dan nilai ABI (p = 0,621). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar LDL dengan nilai ABI pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUI Banyubening.

Kata kunci: ankle brachial index, diabetes melitus tipe 2, low density lipoprotein, penyakit arteri perifer
Background: Type 2 diabetes mellitus is a major risk factor for peripheral arterial disease related to atherosclerotic processes. Dyslipidemia, particularly elevated low-density lipoprotein (LDL) levels, plays an important role in atherosclerosis; however, the association between LDL levels and ankle brachial index (ABI) as an indicator of peripheral arterial disease in patients with type 2 diabetes mellitus remains inconsistent. Objective: This study aimed to determine the relationship between LDL levels and ABI values in patients with type 2 diabetes mellitus at RSUI Banyubening .Methods: This study used an analytic observational method with a cross-sectional design. The study subjects were patients with type 2 diabetes mellitus aged 40–70 years. LDL levels were obtained from laboratory examinations using a third-generation enzymatic method, while ABI values were measured by comparing systolic blood pressure of the lower extremities (posterior tibial artery) and the upper extremities (brachial artery). Data were analyzed using the nonparametric Spearman correlation test. Results: The mean LDL level is 160.71 mg/dL and the mean ABI value is 1.04. The analysis results showed that there was no significant correlation between LDL levels and ABI values (p = 0.621).Conclusion: There is no statistically significant relationship between LDL levels and ABI values in patients with type 2 diabetes mellitus at RSUI Banyubening.

Keywords: ankle brachial index, low density lipoprotein, peripheral arterial disease, type 2 diabetes mellitus
4943852209H1D021096IMPLEMENTASI METODE EKSTRAKTIF UNTUK SISTEM RINGKASAN OTOMATIS ARTIKEL BERITA BERBAHASA INDONESIA MENGGUNAKAN TERM FREQUENCY-INVERS DOCUMENT FREQUENCY (TF-IDF)Pesatnya penyebaran informasi melalui portal berita daring mendorong kebutuhan akan sistem peringkasan teks otomatis untuk membantu pembaca memahami inti berita dengan lebih cepat dan efisien. Penelitian ini mengembangkan sistem peringkasan otomatis berbasis ekstraktif menggunakan algoritma Term Frequency-Inverse Document Frequency (TF-IDF) untuk artikel berita berbahasa Indonesia dari portal Kompas.com. Proses pengumpulan data dilakukan melalui teknik web scraping menggunakan pustaka BeautifulSoup, diikuti dengan tahapan prapemrosesan data yang meliputi pembersihan noise, pemotongan kalimat (sentence splitting), tokenisasi, penghapusan stopword, serta stemming menggunakan Sastrawi. Sistem ini diimplementasikan dalam bentuk aplikasi web menggunakan framework Streamlit. Evaluasi performa sistem dilakukan terhadap 50 artikel berita dengan membandingkan hasil ringkasan sistem terhadap ringkasan manual menggunakan metrik ROUGE Score (ROUGE-1, ROUGE-2, dan ROUGE-L). Hasil pengujian menunjukkan nilai rata-rata akurasi ROUGE-1 sebesar 57,47%, ROUGE-2 sebesar 44,16%, dan ROUGE-L sebesar 46,23%. Temuan ini membuktikan bahwa algoritma TF-IDF efektif dalam mengidentifikasi unit informasi utama yang relevan dari teks asli meskipun dipengaruhi oleh subjektivitas manusia dan batasan teknis pada proses akuisisi data. Sistem ini diharapkan dapat mempermudah akses informasi bagi pembaca berita serta menjadi landasan pengembangan teknologi pemrosesan bahasa alami di masa mendatang.The rapid dissemination of information through online news portals has driven the need for automatic text summarization systems to help readers understand the core of news more quickly and efficiently. This study develops an extractive-based automatic summarization system using the Term Frequency-Inverse Document Frequency (TF-IDF) algorithm for Indonesian news articles from the Kompas.com portal. The data collection process was carried out through web scraping techniques using the BeautifulSoup library, followed by data preprocessing stages including noise removal, sentence splitting, tokenization, stopword removal, and stemming using Sastrawi. The system is implemented as a web application using the Streamlit framework. System performance evaluation was conducted on 50 news articles by comparing the system's summary results to manual summaries using ROUGE Score metrics (ROUGE-1, ROUGE-2, and ROUGE-L). The test results showed average accuracy values of 57.47% for ROUGE-1, 44.16% for ROUGE-2, and 46.23% for ROUGE-L. These findings demonstrate that the TF-IDF algorithm is effective in identifying the main relevant information units from the original text, despite being influenced by human subjectivity and technical limitations in the data acquisition process. This system is expected to facilitate information access for news readers and serve as a foundation for future natural language processing technology development.
4943952210F2B023005Membangun Sekolah Responsif Gender Dalam Konteks Pelaksanaan Kurikulum Merdeka (Studi di SMA Negeri 7 Purworejo)Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya kepala sekolah dalam membangun sekolah responsif gende, indikator sekolah responsif gender serta tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan kurikulum merdeka. Latar belakang dari pelaksanaan penelitian ini yaitu pentingnya pendidikan responsif gender untuk mewujudkan kebutuhan setiap gender secara adil dan setara dalam bidang pendidikan. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Informan dalam penelitian ini adalah kepala sekolah; wakil kepala sekolah dibidang kurikulum, sarpras, kesiswaan, humas; guru; dan siswa. Informan tersebut dipilih dengan menggunakan Teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik validitas data yang digunakan yaitu triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model interaktif Miles, Huberman dan Saldana. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat beberapa upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam membangun sekolah responsif gender dalam konteks pelaksanaan kurikulum merdeka, yaitu melaksanakan pembelajaran berdifferensiasi; penguatan kapasitas guru dan tendik; penyusunan program P5 sensitif gender; integrasi perspektif gender dalam modul ajar; dan pembentukan TPPKS. Indikator sekolah responsif dalam konteks pelaksanaan kurikulum merdeka dapat ditinjau melalui standar kelulusan, isi, proses, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, pembiayaan, penilaian, peserta didik, dan partisipasi masyarakat. Tantangan dalam melaksanakan kurikulum merdeka, yaitu keterbatasan waktu dan beragam format penilaian, serta kurangnya kegiatan pelatihan offline.This study aims to analyze the efforts of school principals in developing gender-responsive schools, the indicators of gender-responsive schools, and the challenges encountered in implementing the Independent Curriculum. The background of this study lies in the urgency of gender-responsive education to fulfill the needs of each gender fairly and equally in the field of education. The study employed a descriptive qualitative research method. The informants included school principals; vice principals for curriculum, facilities and infrastructure, student affairs, and public relations; teachers; and students, who were selected using purposive sampling. Data were collected through interviews, observation, and documentation. The validity of the data was ensured through triangulation of sources, techniques, and time. Data analysis was carried out using the interactive model proposed by Miles, Huberman, and Saldana. The findings show that several efforts made by school principals to build gender-responsive schools within the framework of the Independent Curriculum. These include implementing differentiated learning, strengthening the capacity of teachers and staff, developing gender-sensitive P5 programs, integrating gender perspectives into teaching modules, and establishing TPPKS. Indicators of gender-responsive schools in the context of the Independent Curriculum can be observed through the standards of graduation, content, teaching and learning processes, teachers and educational staff, facilities and infrastructure, school management, financing, assessment, students, and community participation. The challenges in implementing the Independent Curriculum include limited time, diverse assessment formats, and the lack of offline training programs.
4944052211G1A022005EVALUASI KUANTITATIF PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI PARU DI BANGSAL PENYAKIT DALAM RSUD BANYUMAS DENGAN METODE DEFINED DAILY DOSE (DDD)Latar belakang: Infeksi paru merupakan salah satu penyebab utama tingginya morbiditas dan mortalitas pada pasien rawat inap di rumah sakit. Tingginya angka kejadian infeksi paru yang disertai morbiditas dan mortalitas yang tinggi menyebabkan penggunaan antibiotik menjadi bagian penting dalam penatalaksanaan pasien. Penggunaan antibiotik tanpa disertai evaluasi dan pemantauan yang tepat berpotensi menyebabkan penggunaan antibiotik yang tidak rasional dan dapat berkontribusi terhadap meningkatnya kejadian resistensi antibiotik. Selain itu, adanya variasi pola kuman serta belum tersedianya pedoman penggunaan antibiotik berbasis data lokal di RSUD Banyumas menunjukkan urgensi dilakukannya evaluasi penggunaan antibiotik secara kuantitatif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien infeksi paru di Bangsal Penyakit Dalam RSUD Banyumas periode Juli–Desember 2024 menggunakan metode Defined Daily Dose (DDD). Metodologi: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif retrospektif dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien infeksi paru yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis penggunaan antibiotik dilakukan secara kuantitatif menggunakan metode DDD per 100 hari rawat inap serta analisis Drug Utilization (DU) 90%. Hasil: Terdapat 11 jenis antibiotik yang digunakan dengan total konsumsi sebesar 97,756 DDD/100 hari rawat inap. Seftriakson injeksi merupakan antibiotik yang paling banyak digunakan dengan nilai 44,44 DDD/100 hari rawat inap dan menempati persentase tertinggi dalam segmen DU 90%. Kesimpulan: Penggunaan antibiotik pada pasien infeksi paru di Bangsal Penyakit Dalam RSUD Banyumas didominasi oleh antibiotik kelompok watch dan reserve, dengan ceftriaxone sebagai antibiotik yang paling banyak digunakan, sehingga diperlukan evaluasi dan pemantauan penggunaan antibiotik secara berkelanjutan untuk meningkatkan rasionalitas penggunaan antibiotik dan menekan risiko resistensi.Background: Pulmonary infection is one of the leading causes of morbidity and mortality among hospitalized patients. The high incidence of pulmonary infections accompanied by significant morbidity and mortality makes antibiotic use an essential part of patient management. Antibiotic use without appropriate evaluation and monitoring may lead to irrational antibiotic use, which can contribute to the development of antimicrobial resistance. In addition, variations in local bacterial patterns and the absence of locally based antibiotic use guidelines at RSUD Banyumas indicate the urgency of conducting a quantitative evaluation of antibiotic use. Objective: This study aimed to evaluate antibiotic use among patients with pulmonary infections in the Internal Medicine Ward of RSUD Banyumas during July–December 2024 using the Defined Daily Dose (DDD) method. Methodology: This study was an observational descriptive retrospective study using secondary data obtained from medical records of pulmonary infection patients who met the inclusion criteria. Quantitative analysis of antibiotic use was performed using the DDD per 100 patient-days method and Drug Utilization (DU) 90% analysis. Results: A total of 11 types of antibiotics were used with a total consumption of 97.756 DDD/100 patient-days. Parenteral ceftriaxone was the most frequently used antibiotic, with a value of 44.44 DDD/100 patient-days and the highest percentage in the DU 90% segment. Conclusion: Antibiotic use among pulmonary infection patients in the Internal Medicine Ward of RSUD Banyumas was dominated by watch and reserve group antibiotics, with ceftriaxone being the most frequently used antibiotic; therefore, continuous evaluation and monitoring of antibiotic use are required to improve rational antibiotic use and reduce the risk of antimicrobial resistance.