Artikelilmiahs
Menampilkan 27.421-27.440 dari 50.190 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 27421 | 30774 | K1C016004 | RANCANG BANGUN PENDETEKSI TANAH LONGSOR BERBASIS SENSOR KEMIRINGAN DAN PERGESERAN | Bencana tanah longsor adalah bencana berupa perpindahan material pembentuk lereng yang bergerak menuju keluar lereng. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk membuat sistem pendeteksi tanah longsor berbasis sensor kemiringan dan pergeseran. Metode penelitian dilakukan menggunakan wadah yang dianalogikan sebagai sistem kemiringan dan pergeseran pada tanah longsor. Sistem kemiringan digunakan sensor tipe MPU6050 berbasis prinsip perubahan kapasitif. Sistem pergeseran digunakan dua sensor tipe HY-SRF05 berbasis prinsip gelombang ultrasonik. Sensor kemiringan telah dikarakterisasi dengan variasi kemiringan akurasi rata-rata 98,33% untuk pitch, dan 98,02% untuk roll. Karakterisasi sensor pergeseran menunjukkan hasil akurasi rata-rata 97,98% untuk sensor 1, dan 98,12% untuk sensor 2. Data hasil karakterisasi diolah menjadi fungsi kalibrasi untuk dimasukkan ke dalam program mikrokontroler. Program dibuat agar memiliki sistem pendeteksi, peringatan berupa LED, dan buzzer, serta pemantau melalui LCD. Hasil pengujian akhir menunjukkan seluruh sistem bekerja dengan benar sesuai skenario, sehingga sistem layak digunakan sebagai pendeteksi tanah longsor. | A landslide disaster is a disaster in the form of a displacement of slope-forming material that moves out of the slope. Based on these problems, The purpose of this research to create a landslide detection system based on tilt and shift sensors. The research method is carried out using a container which is analogous to a system of slope and shift in landslides. The tilt system uses the MPU6050 type sensor based on the principle of capacitive change. The shift system uses two HY-SRF05 type sensors based on the principle of ultrasonic waves. The tilt sensor has been characterized with variations in the slope accuracy of an average of 98,33% for pitch and 98,02% for roll. The characterization of the shift sensor shows an average accuracy of 97,98% for sensor 1, and 98,12% for sensor 2. The characterization result data is processed into a calibration function to be entered into the microcontroller program. The program is designed to have a detection system, a warning in the form of an LED, and a buzzer, as well as monitoring via LCD. The final test results show that the entire system is working properly according to the scenario, so the system is suitable for use as a landslide detector. | |
| 27422 | 30777 | G1A017075 | Hubungan Jumlah Leukosit pada Cairan Semen dengan Hasil Analisis Sperma pada Pasien Infertilitas di Purwokerto | Leukosit dalam jumlah sedikit selalu ditemukan dalam setiap ejakulat. Peningkatan jumlah leukosit dalam cairan semen lebih dari 1 juta leukosit permililiter disebut leukositospermia. Pengaruh jumlah leukosit pada cairan semen dengan infertilitas pria terkait dengan kualitas sperma masih menjadi kontroversi, meskipun insidensinya tinggi pada kasus-kasus infertilitas. Penelitian hubungan jumlah leukosit dengan hasil analisis sperma pada pasien infertilitas di Purwokerto belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jumlah leukosit pada cairan semen dengan hasil analisis sperma pada pasien infertilitas di Purwokerto. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan di RSIA Bunda Arif Purwokerto. Subjek penelitian merupakan data sekunder yang berjumlah 84 orang dengan teknik total sampling. Data dieroleh dari periode bulan Januari 2020 – Agustus 2020. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukan terdapat hubungan signifikan dengan korelasi positif antara hubungan jumlah leukosit pada cairan semen dengan hasil analisis sperma, yaitu konsentrasi, motilitas, dan morfologi spermatozoa (p<0,05). Analisis kekuatan korelasi menghasilkan korelasi kuat untuk konsentrasi spermatozoa (r=0,628) dan morfologi spermatozoa (r=0,580) serta korelasi cukup kuat untuk motilitas spermatozoa (r=0,401). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan signifikan antara jumlah leukosit pada cairan semen dengan hasil analisis sperma pada pasien infertilitas di Purwokerto. | Small number of leukocytes is always found in every ejaculate. An increase of leukocyte count in semen over 1 million cells are called leukocytospermia. The influence of leukocyte count in semen on male infertility related to sperm quality is still a matter of controversy, although the incidence is high in infertility cases. Research on the association between leukocyte count and sperm analysis in infertility patients in Purwokerto has never been conducted before. The aim of this study is to determine the association between leukocytes count in semen and sperm analysis in infertility patients in Purwokerto. Analytical observational study with cross-sectional design was conducted at RSIA Bunda Arif Purwokerto. The semen analysis records of 84 male partners of infertile couples period from January 2020 to Agustus 2020 were obtained by total sampling method. Data were analyzed using the Spearman correlation test. There is a significant association with a positive correlation between leukocyte count in semen and sperm analysis, namely the concentration, motility, and morphology of spermatozoa (p <0.05). Analysis of the strength of correlation results in a strong correlation for the concentration of spermatozoa (r=0.628), morphology of spermatozoa (r=0.580), and sufficient strong correlation for sperm motility (r=0.401). It is cloncluded that leukocyte count in semen has significant association with sperm quality on infertility patients in Purwokerto. | |
| 27423 | 30781 | J1B016032 | ANALISIS SATUAN ISI CERITA NOVEL ANAK RANTAU KARYA AHMAD FUADI | Penelitian ini berjudul “Analisis Satuan Isi Cerita Novel Anak Rantau Karya Ahmad Fuadi”. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) mendeskripsikan urutan alur dalam sekuen pada novel Anak Rantau karya A. Fuadi. 2) Mendeskripsikan makna dari hubungan logis antara alur satu dengan alur lainnya dalam satuan cerita pada novel Anak Rantau karya A. Fuadi. 3) mendeskripsikan klasifikasi dari kriteria sekuen dalam novel Anak Rantau karya A. Fuadi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian: Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan kronologis dalam novel Anak Rantau karya A. Fuadi yang terdiri dari 180 sekuen. Adapun hubungan logis atas novel Anak Rantau karya A. Fuadi mempunyai 31 fungsi utama. Klasifikasi dari kriteria sekuen dalam novel Anak Rantau karya A. Fuadi terbagi ke dalam 2 bagian yaitu: 1) Sekuen berdasarkan pokok pembicaraan yang sama (peristiwa, tindakan, tokoh, ide atau pemikiran tokoh) yaitu: a) Hepi bertekad untuk kembali ke Jakarta dan membeli tiket sendiri, b) Bekerja kepada Bang Lenon, c) Diterima bekerja oleh Bang Lenon, d) Bekerja di Lapau Kopi Mak Tuo Ros, e) Memperoleh uang dari Datuk Mudo, f) Amplop Khataman, g) Tabungan Hepi yang tak pernah banyak, h) Menjadi kurir Bang Lenon, i) Mesin Pencetak Uang, j) Celengan yang di curi, k) Musim Durian dan celengan bambu baru, dan l) Celengan yang penuh. 2) Sekuen berdasarkan ruang dan waktu yang terjadi secara bersamaan yaitu ketika Hepi melakukan pengintaian terhadap “biduk hantu” yang dicurigainya sebagai pengedar narkoba yang telah merusak pemuda di Kampung Tanjung Durian. | This research is entitled "Analysis of the Unit of Contents of the Novel Anak Rantau by Ahmad Fuadi". The objectives of this research are: 1) to describe the sequence of the plot in the sequence in the novel Anak Rantau by A. Fuadi. 2) Describe the meaning of the logical relationship between one plot and another in a story unit in the novel Anak Rantau by A. Fuadi. 3) describe the classification of the sequence criteria in A. Fuadi's novel Anak Rantau. The research method used is descriptive qualitative. Results: It can be concluded that there is a chronological relationship in A. Fuadi's novel Anak Rantau, which consists of 180 sequences. The logical relationship between the novel Anak Rantau by A. Fuadi has 31 main functions. The classification of the sequence criteria in the novel Anak Rantau by A. Fuadi is divided into 2 parts, namely: 1) The sequence is based on the same subject (events, actions, figures, ideas or thoughts of characters), namely: a) Hepi is determined to return to Jakarta and buy tickets yourself, b) Work for Bang Lenon, c) Get accepted to work by Bang Lenon, d) Work at Lapau Kopi Mak Tuo Ros, e) Get money from Datuk Mudo, f) Khataman envelopes, g) Hepi savings that never much , h) Becoming a Bang Lenon courier, i) Money Printing Machine, j) Stolen piggy bank, k) Durian season and new bamboo piggy bank, and l) A full piggy bank. 2) The sequence based on space and time occurred simultaneously, namely when Hepi carried out a surveillance of the “ghost dipper” he suspected of being a drug dealer who had damaged youth in Tanjung Durian Village. | |
| 27424 | 30782 | H1A016037 | ANALISIS KINERJA LAYANAN VOICE CALL APLIKASI “IMO” MENGGUNAKAN PARAMETER QUALITY OF SERVICE PADA JARINGAN WI-FI DAN OPERATOR SELULER | Perkembangan Teknologi di era digital ini sangat cepat. Teknologi yang berkembang muncul dari berbagai bidang, termasuk telekomunikasi. Dalam bidang telekomunikasi, meningkatnya kebutuhan manusia akan pertukaran data dan informasi menuntut pula perkembangan internet semakin pesat, khususnya pada penggunaan internet. Berawal dari kebutuhan telepon genggam untuk sekedar dapat berkomunikasi jarak jauh, berubah menjadi kebutuhan akan teknologi komunikasi multimedia yang memiliki kehandalan, kecepatan, serta performansi akses data yang baik. Penelitian bertujuan untuk menginformasikan hasil dari pengujian kinerja aplikasi Imo dengan parameter Quality of Service diantaranya adalah jitter, packet loss, delay, dan throughput. Pengambilan data dengan menggunakan aplikasi Wireshark akan dianalisis kualitas layanannya dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh TIPHON sebagai standar telekomunikasi. Dari pengujian yang telah dilakukan, didapatkan hasil dengan kategori memuaskan berdasarkan standar dari TIPHON. Jaringan Wi-Fi mendapatkan nilai indeks rata-rata 3.485 dari skala 4, sedangkan jaringan seluler mendapatkan nilai indeks rata-rata 3.49 dari skala 4. Terdapat perbedaan hasil parameter QoS pada jaringan yang sama dari layanan voice call aplikasi Imo. Perbedaan ini disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. | The development of technology in the digital age is very fast. Developing technology emerged from various fields, including telecommunications. In the field of telecommunications, the increasing human need for exchange of data and information also demands the rapid development of the internet, especially in the use of the internet. Starting from the need for mobile phones to simply be able to communicate long distance, turned into the need for multimedia communication technology that has reliability, speed, and good data access performance. The research aims to the results of the Imo application performance testing with Quality of Service parameters including jitter, packet loss, delay, and throughput. Data retrieval using the Wireshark application will be analyzed the quality of its services with the provisions set by TIPHON as telecommunications standards. Keywords : Imo, Voice Over IP, Quality of Service, Wi-Fi, Cellular Operators. From the tests that have been done, the results obtained are categorized as satisfactory based on the standards from TIPHON. Wi-Fi networks get an average index value of 3.485 from a scale of 4, while cellular networks get an average index value of 3.49 from a scale of 4. There are differences in the results of QoS parameters on the same network from the voice call service of the Imo application. This difference is caused by internal factors and external factors. | |
| 27425 | 30783 | A1D016027 | KAJIAN EPIDEMI PENYAKIT KARAT JAGUNG (Puccinia polysora) DI DUA KETINGGIAN TEMPAT YANG BERBEDA | Kajian epidemi penyakit karat jagung (Puccinia polysora) dilakukan di dua ketinggian yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Menilai intensitas penyakit karat pada tanaman jagung di dataran rendah dan dataran medium, 2. Menghitung kepadatan spora P. polysora siang dan malam yang tertangkap di pertanaman jagung dataran rendah dan dataran medium, dan 3. Mempelajari faktor lingkungan yang dapat memengaruhi perkembangan penyakit karat yang disebabkan oleh P. polysora di pertanaman jagung dataran rendah dan dataran medium. Penelitian ini dilaksanakan di dataran rendah yaitu Desa Karangwangkal, Purwokerto Utara dengan ketinggian tempat 110 m di atas permukaan laut (dpl) dan di dataran medium yaitu Desa Karangsalam, Baturraden dengan ketinggian tempat 575 m dpl serta Laboratorium Perlindungan Tanaman, Fakultas Pertanian, Unsoed. Penelitian ini menggunakan analisis regresi dan korelasi serta sidik lintas. Hasil penelitian yaitu intensitas penyakit karat dataran rendah mempunyai nilai lebih tinggi sebesar 71,86% sementara pada dataran medium sebesar 9,65%. Rata-rata laju infeksi dataran rendah sebesar 0,174 unit/hari dan dataran medium sebesar 0,125 unit/hari. Kepadatan spora tertinggi yaitu kepadatan spora siang, untuk dataran rendah yang tertinggi sebesar 108,83 cm-2 dan untuk dataran medium sebesar 1,17 cm-2. Mikro-iklim yang dominan pada lahan dataran rendah yaitu kepadatan spora siang dan kelembapan sedangkan untuk dataran medium adalah kepadatan spora malam dan kelembapan. | Epidemic study of corn rust (Puccinia polysora) were carried out at two different altitudes. This study aimed to: 1. Assess the rust disease intensity on corn at lowland and mediumland, 2. Calculate spores density of P. polysora at day and night caught at lowland and mediumland in corn crops, and 3. Study environmental factors involved can affected development of the rust on corn by P. polysora at lowland and mediumland. This research was conducted at lowland namely Karangwangkal Village, North Purwokerto with an altitude of 110 m above sea level (asl) and mediumland at Karangsalam Village, Baturraden with an altitude of 575 m asl, and also the Plant Protection Laboratory, Faculty of Agriculture, Unsoed. Regression and correlation analysis and path analysis were used. Results showed that the disease intensity at lowland had a higher value of 71,86% while at the mediumland was 9,65%. The average infection rate at lowland was 0,174 unit/day and mediumland was 0,125 unit/day. Spore density was higher at lowland as 108,83 cm-2 and mediumland was 1,17 cm-2. The dominantly micro-climate at lowland was day spore density and humidity while mediumland was night spore density and humidity. | |
| 27426 | 30784 | A1A015010 | KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHATANI NANAS MADU TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI NANAS MADU DI DESA BELUK KECAMATAN BELIK KABUPATEN PEMALANG | Nanas madu merupakan salah satu tanaman hortikultura yang telah lama di budidayakan dan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Wilayah yang menjadi penghasil nanas madu atau sentra nanas madu adalah Desa Beluk Kecamatan Belik yang berkontribusi sebesar 99,40% dari total produksi nanas di Kabupaten pemalang pada periode tahun 2013-2015. Usahatani nanas madu menjadi salah satu mata pencaharian utama masyarakat Desa Beluk akan tetapi total pendapatan masyarakatnya diperoleh dari beberapa sumber lain, maka dari itu perlu diteliti seberapa besar kontribusi usahatani nanas madu untuk pendapatan keluarga serta seberapa layak untuk di usahakan dimasa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui : (1) Pendapatan usahatani nanas madu, (2) kelayakan finansial usahatani nanas madu ; (3) menghitung besarnya kontribusi pendapatan usahatani nanas madu terhadap pendapatan total rumah tangga petani. Data penelitian diperoleh dengan cara wawancara secara langsung kepada 45 responden, yang telah dipilih dengan metode pengambilan sampel simple random sampling dari total populasi petani nanas madu yang tinggal di Desa Beluk. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) Pendapatan rata-rata usahatani nanas madu di Desa Beluk Kecamatan Belik sebesar Rp. 27.627.208 pertahun. (2) Usahatani Nanas Madu di Desa Beluk layak untuk diusahakan (3) kontribusi pendapatan usahatani nanas madu terhadap pendapatan rumah tangga petani sebesar 37% dan termasuk dalam kontribusi sedang. | Honey pineapple is a horticultural plant that has been long cultivated and has a high economic value. The area that is the producer of honey pineapple or honey pineapple center is Beluk Village, Belik District, which contributed 99.40% of the total pineapple production in Pemalang Regency in the 2013-2015 period. Honey pineapple farming is one of the main livelihoods for the people of Beluk village, therefore it is necessary to examine how much contribution of honey pineapple farming to family income and how much it is worth working on in the future. This study aims to determine: (1) income of honey pineapple farming, (2) financial feasibility of honey pineapple farming; (3) calculating the amount of contribution of honey pineapple farming income to total household income of farmers. The research data were obtained by direct interviews with 45 respondents, who had been selected by simple random sampling method from the total population of honey pineapple farmers living in Beluk Village. From the research results, it can be concluded that: (1) (1) The average income of honey pineapple farming in Beluk Village, Belik District is Rp. 27,627,208 per year. (2) Honey pineapple farming in Beluk Village is feasible to be cultivated. (3) The contribution of honey pineapple farming income to farmer household income is 37% and is included in a moderate contribution. | |
| 27427 | 30786 | E1A015168 | PENGELOLAAN PERALATAN MEDIS SEBAGAI BARANG MILIK PUBLIK PADA RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN TANGERANG | Lahirnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menguatkan peran pemerintah daerah dalam menjalankan pemerintahannya sendiri. Pemerintah daerah dalam menjalankan pemerintahannya menggunakan asas desentralisasi, yaitu pelimpahan kewenangan dari pusat kepada daerah untuk mengatur daerahnya. Salah satu pelimpahan kewenangan yakni kewenangan dalam mengelola barang milik publik di daerah. Barang milik publik terdiri dari barang milik negara dan barang milik daerah. Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang merupakan salah satu instansi pemerintah yang memiliki barang milik publik, dengan bentuk peralatan medis. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis sistem pengelolaan peralatan medis serta proses inventarisasi penilaian dan pelaporan dalam pengelolaan peralatan medis sebagai barang milik publik di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan konseptual (conceptual approach). Spesifikasi yang digunakan adalah deskriptif. Sumber bahan hukum yang digunakan yaitu data sekunder dilengkapi dengan wawancara. Metode analisis menggunakan normatif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, menunjukkan bahwa: (1) Sistem pengelolaan peralatan medis di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang dilaksanakan melalui sistem informasi manajemen barang daerah (SIMBADA) yang pengelolaannya mengacu pada Permendagri Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah. (2) Proses inventarisasi penilaian dan pelaporan dalam pengelolaan peralatan medis sebagai barang milik publik di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang dilakukan oleh appraisal (jasa penilai) yang dibantu oleh pengurus barang, serta pembuatan laporan dilakukan sesuai struktur yakni satuan unit kerja kepada pengurus barang yang nantinya diteruskan kepada kuasa pengguna barang untuk dilaporkan kepada pengguna barang. | The birth of Law Number 23 of 2014 regarding Regional Government Decentralization has strengthened the role of local government in regulating its own region. The local government, thus, employ decentralization that can be defined as the transfer of authority from the central government to the local government to regulate their regions. One of forms in the transfer of authority is the authority in managing public goods in the regions. Public goods consists of state-owned assets and regional-owned assets. Tangerang Regional Hospital is one of the government agencies that owns public goods in the form of medical equipment. This study aims at analyzing the management system of the medical equipment, the process of inventory assessment, and the reporting in the management of medical equipment as public goods at Tangerang Regional Hospital. This research employed a normative juridical method with a statute approach and a conceptual approach. The specification used in the research is descriptive. The source of legal material used was secondary data equipped with interviews. Furthermore, a qualitative normative was used as the analytical method. Based on the results of the research, it shows that: (1) The medical equipment management system at the Tangerang Regional Hospital is implemented through the regional goods management information system (SIMBADA), in which the management refers to the Minister of Home Affairs Regulation Number 19 of 2016 concerning Guidelines for the Management of Regional Property; (2) The process of inventory assessment and the reporting in the management of medical equipment as public goods at the Tangerang Regional Hospital is carried out by appraisal (appraisal services) assisted by the goods manager, and the reporting is carried out in accordance with the structure, namely the unit of work to the goods manager who will later be forwarded to the proxy of goods user to be reported to the users. | |
| 27428 | 30787 | I1G018001 | Literature Review PENGARUH LARUTAN DETERGEN PADA PROSES PENCUCIAN TERHADAP ANGKA KUMAN ALAT MAKAN DI RUMAH MAKAN | Latar Belakang : Peranan peralatan makan dalam penyajian makanan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari prinsip-prinsip penyehatan makanan (food hygiene).Kebersihan peralatan makan merupakan salah satu hal pokok dalam sanitasi makanan. Pemutusan penularan penyakit dapat dilakukan dengan mengendalikan faktor risiko pencemaran terhadap alat makan salah satunya dengan cara mencuci peralatan makan yang baik dan benar. Penggunaan detergen tidak berperan sendirian dalam menurunkan angka kuman alat makan. Oleh karena itu literature review ini dibuat untuk mendapat landasan teori yang kuat dalam memecahkan permasalahan angka kuman pada alat makan Metode : Jenis penelitian ini adalah kajian literatur Naratif review. Penelitian menggunakan database artikel yaitu google Scholar , Pubmed, ,MEDLINE, EBSCO,EMBASE, Cochrane Library, Web of Science, dan Portal Garuda, ejournal2.litbang.kemkes.go.id. Kata kunci pencarian yang digunakan untuk mencari literatur adalah detergen OR sabun, AND Angka Kuman OR Bacteria OR Total Plate Number OR Number of Germ AND Alat makan OR Cutlery OR Tableware AND Rumah Makan OR Restaurant. Kriteria artikel yang digunakan memiliki objek Detergen, angka kuman, Alat makan, original artike Full text, dengan tema pencucian alat makan terhadap angka kuman. Hasil : Enam artikel membahas detergen yang mengandung disinfektan kimia dan empat artikel membahas detergen ditambah dengan disinfektan alami. Detergen an disinfektan kimia paling rendah penurunannya kombinasi detergen dan klorin mampu menurunkan angka kuman sebesar 90,85% dan paling besar kombinasi detergen yang mengandung etil cetab dikombinasi dengan detol dan pembilasan yang baik menurunkan angka kuman 100%. Sebagai disinfektan alami bonggol nanas dan daun sirih paling sedikit menurunkan angka kuman yaitu sebesar 71%, sedangkan VCO sebagai disinfektan memiliki hasil paling tinggi yaitu angka kuman turun sampai 99,66% Simpulan : Detergen yang mengandung bahan anti bakteri dan disertai cara pencucian yang baik sangat efektif dalam menurunkan angka kuman alat makan | Background: The role of tableware in the presentation of food is an integral part of the principles of food hygiene. The cleanliness of cutlery is one of the main things in food sanitation.Termination of disease transmission can be done by controlling the risk factors of pollution against cutlery one of them by washing good and proper cutlery.The use of detergent does not play a role alone in lowering the number of germs of cutlery.Therefore, this literature review was made to gain a strong theory in solving the problem of germ numbers in cutlery. Method: This type of research is a literature review (Narrative review). The research used a database of articles google Scholar, Pubmed, ,MEDLINE, EBSCO, EMBASE, Cochrane Library, Web of Science, and Portal Garuda, ejournal2.litbang.kemkes.go.id. The search keywords used to search for literature are detergent OR sabun, AND Germ Number OR Bacteria OR Total Plate Number OR Number of Germ AND Cutlery OR Tableware AND Restaurant OR Restoran. The criteria of the article used have objects Detergent, germ numbers, cutlery, original artike Full text, with the theme of washing cutlery against the number of germs. Result : Six articles discussing detergents containing chemical disinfectants and four articles discussing detergents coupled with natural disinfectants.Detergent and chemical disinfectant the lowest decrease in the combination of detergent and chlorine is able to decrease the germ rate by 90.85% and at most the combination of detergents containing ethyl cetab combined with detol and good sedation lowers the germ rate by 100%.As a natural disinfectant of pineapple weevils and betel leaves at least lowered the germ rate by 71%, while VCO as a disinfectant had the best result that the germ rate dropped to 99.66%. Conclusion: Detergents containing anti-bacterial ingredients and accompanied by a good washing method are very effective in lowering the number of germs of cutlery. | |
| 27429 | 30788 | E1A116029 | IMPLEMENTASI FUNGSI PENGAWASAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH BERDASARKAN UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 | ABSTRAK IMPLEMENTASI FUNGSI PENGAWASAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH BERDASARKAN UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 Oleh: SAMYO E1A116029 Dewan Perwakilan Daerah lahir dari perubahan ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945). Gagasan pembentukan DPD adalah dalam rangka menghadirkan sistem checks and balances baik antar cabang kekuasaan maupun dalam internal lembaga legislatif yang disebut sistem parlemen dua kamar (bicameralism).Namun, dalam pengaturan kewenangan fungsi pengawasan DPD tidak diatur sama kuat dengan DPR sehingga menjadikan pelaksanaan fungsi pengawasan DPD tidak maksimal, hal tersebut juga menjadikan sistem checks and balances di internal parlemen tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi fungsi pengawasan DPD berdasarkan UUD NRI 1945. Jenis penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti data sekunder. Sumber data yang digunakan data sekunder yang bersumber dari bahan hukum primer dan sekunder. Metode pengumpulan bahan hukum menggunakan studi kepustakaan. Analisis bahan hukum secara normatif kualitatif. Hasil penelitian diperoleh bahwa eksistensi fungsi pengawasan DPD terdapat dalam UUD NRI 1945, UU No. 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3) dan Peraturan DPD No. 2 Tahun 2019 tentang Tata Tertib. Pelaksanaan fungsi pengawasan DPD terdiri dari pengawasan kelembagaan dan pengawasan perseorangan, dimana pengawasan kelembagaan meliputi pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan pengawasan terhadap keuangan negara serta pengawasan perseorangan mengawasi terkait pelaksanaan undang-undang oleh pemerintah daerah. Hasil dari pengawasan DPD nantinya diserahkan kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti. Untuk mempertanggunjawabkan hasil pengawasanya kepada masyarakat DPD mempublikasi hasil pengawasan tersebut melalui media cetak dan elektronik. Kata kunci: Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Fungsi Pengawasan. | ABSTRACT IMPLEMENTATION OF THE SUPERVISION FUNCTION OF THE REGIONAL COUNCIL OF REPRESENTATIVES BASED ON UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 By: SAMYO E1A116029 The Regional Representative Council (DPD) was born from the third amendment Undnag-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945). The idea of forming the DPD is in the context of presenting a system of checks and balances both between branches of power and within the legislative body which is called the bicameralism system not optimal, this also makes the system of checks and balances in the internal parliament not running as expected. This study aims to determine the implementation of the DPD supervisory function based on the UUD NRI 1945. The type of research used is normative juridical, namely research conducted by examining secondary data. The data source used was secondary data, which came from primary and secondary legal materials. The method of collecting legal materials uses literature study. Qualitative normative analysis of legal materials. The results showed that the existence of the DPD supervisory function is contained in the UUD NRI 1945, UU No. 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD and DPRD (MD3) and Peraturan DPD No. 2 Tahun 2019 tentang Tata Tertib. The implementation of the DPD's supervisory function consists of institutional supervision and individual supervision, wherein institutional supervision includes supervision over the implementation of laws and supervision of state finances as well as individual supervision regarding the implementation of laws by regional governments. The results of the DPD's supervision will later be submitted to the DPR as a material for consideration to be followed up. To be accountable for the results of its supervisors to the people of the DPD, the results of the supervision are published through print and electronic media. Keywords: Regional Representative Council (DPD), Function of surversation | |
| 27430 | 30776 | A1A016007 | Analisis Pendapatan Usaha Gula Semut Anggota Kelompok Tani di Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas | Gula semut merupakan gula merah yang diolah dalam bentuk bubuk. Kecamatan somagede merupakan salah satu kecamatan penghasil gula semut terbesar di kabupaten banyumas. Pengrajin gula semut di kecamatan somagede bekerja sama dengan Kelompok Tani Manggar Sari Barokah, Kelompok Tani Ardi Luhur, dan Kelompok Tani Ngundi Makmur. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui penerimaan yang diperoleh anggota kelompok tani dari kegiatan usaha gula semut, (2) mengetahui besarnya biaya yang dikeluarkan anggota kelompok tani dari kegiatan usaha gula semut, dan (3) mengetahui pendapatan yang diperoleh anggota kelompok tani dari kegiatan usaha gula semut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dan kualitatif. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling dengan jumlah responden sebanyak 52 orang. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah penerimaan, biaya dan penerimaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerimaan Total anggota kelompok tani di Kecamatan Somagede sebesar Rp 4.933.340,00, besarnya biaya produksi yang dikeluarkan anggota kelompok tani sebesar Rp 4.312.884,85, dan total pendapatan anggota Kelompok Tani di Kecamatan Somagede yaitu sebesar Rp 620.455,15. | Gula semut is brown sugar that is processed in powder form. Somagede District is one of the biggest ant sugar producing districts in Banyumas Regency. Brown sugar craftsmen in somagede sub-district collaborate with the Manggar Sari Barokah Farmer Group, Ardi Luhur Farmer Group, and Ngundi Makmur Farmer Group. The objectives of this study were (1) to determine the income that the members of the farmer group received from the sugar ant sugar business activities, (2) to find out the amount of costs incurred by the members of the sugar ant sugar business activities, and (3) to find out the income that the members of the farmer group received from the activity. ant sugar business. The research method used is quantitative and qualitative methods. The sampling method used was simple random sampling with 52 respondents. The analysis used in this research is acceptance, cost and acceptance. The results showed that total income of farmer group members in Somagede District was Rp 4,933,340.00, the amount of production costs incurred by farmer group members was Rp 4,312,884.85, and the total income of Farmer Group members in Somagede District was Rp 620,455. 15. | |
| 27431 | 30790 | G1A017010 | Hubungan Obesitas dengan Hasil Analisis Sperma pada Pasien Infertilitas di Purwokerto | Infertilitas merupakan salah satu gangguan kesehatan reproduksi yang umum terjadi. Infertilitas disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah faktor gizi yang sering dikaitkan adalah masalah obesitas. Obesitas dapat menyebabkan gangguan spermatogenesis karena peningkatan adiposit dapat merangsang adipositokin yang mengakibatkan penurunan hormon gonadotropik (FSH dan LH) dan hormon testosteron. Salah satu pemeriksaan bagi pasangan suami istri dengan masalah infertilitas adalah pemeriksaan analisis sperma. Masalah infertilitas sering dikaitkan dengan abnormalitas pada pemeriksaan parameter sperma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan obesitas dengan hasil analisis sperma (konsentrasi spermatozoa, morfologi spermatozoa dan motilitas spermatozoa) pada pasien infertilitas di Purwokerto. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian sejumlah 62 sampel didapatkan dari data sekunder berupa rekam medis dan hasil laboratorium di RSIA Bunda Arif Purwokerto periode Januari 2019 – Agustus 2020. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian tidak terdapat hubungan signifikan antara analisis sperma pada kelompok pria obesitas dan pria tidak obesitas yang ditunjukkan pada hasil uji parameter konsentrasi spermatozoa (p=0,574), morfologi spermatozoa (p=0,748) dan motilitas spermatozoa (p=0,661). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan obesitas dengan hasil analisis sperma pada pasien infertilitas di Purwokerto. | Infertility is a common reproductive health disorder. Infertility is caused by many factors, one of which is nutritional factors associated with obesity. Obesity can cause spermatogenesis disorders because an increase in adipocytes can stimulate adipocytokines which result in a decrease in gonadotropic hormones (FSH and LH) and testosterone. One of the tests for married couples with infertility problems is the sperm analysis. Infertility problems are often associated with abnormalities in sperm count parameters. The aim of this study is to determine the association between obesity and sperm analysis results (spermatozoa concentration, spermatozoa morphology, and spermatozoa motility) in infertility patients in Purwokerto. This study is analytical observasional research with cross sectional design. The research of 62 was obtained from secondary data in the form of medical records at RSIA Bunda Arif Purwokerto for the period January 2019 - August 2020. The technique used a total sampling method that met the inclusion and exclusion criteria. Analysis od 62 samples show no significant association between sperm analysis in the group of obese and non-obese men as indicated by the test results for the spermatozoa concentration (p = 0.574), spermatozoa morphology (p = 0.748) and spermatozoa motility (p = 0.661). It is concluded that no association between obesity and the results of sperm analysis in infertility patients in Purwokerto. | |
| 27432 | 30791 | E1A016148 | PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI (STUDI KASUS PADA PT. MERPATI NUSANTARA AIRLINES) | Penegakan hukum masih jarang menyentuh kejahatan yang dilakukan oleh korporasi terlebih untuk meminta pertanggungjawaban kepada korporasi tersebut. Adapun permasalahan yang diajukan dalam skripsi ini adalah: 1) Bagaimana pertanggungjawaban pidana korporasi sebagai pelaku tindak pidana korupsi dalam kasus PT. MNA. 2) Bagaimana pertimbangan hukum Hakim dalam penjatuhan pidana kepada Hotasi D.P Nababan selaku Direktur Utama PT. MNA. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif yang bersifat kualitatif dengan sumber data sekunder. Berdasarkan penelitian, diperoleh hasil: 1) Pertanggungjawaban pidana korporasi sebagai pelaku tindak pidana korupsi dalam kasus PT. MNA adalah pembebanan pertanggungjawaban pidana terhadap pengurus yakni Hotasi D.P Nababan selaku pengurus yang diidentifikasikan sebagai directing mind dari PT. MNA. 2) Dasar pertimbangan hukum Hakim dalam menjatuhkan pidana kepada Hotasi D.P Nababan adalah terpenuhinya unsur-unsur Tindak Pidana Korupsi, pertimbangan yuridis, serta hal-hal yang memberatkan maupun meringankan. Namun berdasarkan analisis terhadap kasus dengan memperhatikan UU Tipikor serta teori-teori pertanggungjawaban pidana korporasi, PT. MNA semestinya dapat juga dibebani pertanggungjawaban pidana korporasi. Penulis beranggapan bahwa model pertanggungjawaban pidana yang tepat adalah pembebanan pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi dan pengurus korporasi, sehingga ada efek jera bagi korporasi. | Law enforcement still rarely solves about corporate crime cases and asked for the criminal liability. The problems in this research are: 1) how is the corporate criminal liability as the perpetrator of corruption in the case of PT. MNA. 2) How the judge's legal considerations in giving penalty to Hotasi as President Director of PT. MNA. This research uses juridical normative approach, and it’s analyzed qualitatively with secondary data sources. Based on research, the result show that: 1) the corporate criminal liability as the perpetrator of corruption in the case of PT. MNA is a criminal liability for corporate management, Hotasi D.P Nababan which is identified as directing mind of PT. MNA. 2) The judge's legal considerations in giving criminal to Hotasi as President Director of PT. MNA are elements of the Corruption that are fulfilled, juridical considerations, and some things that burden or relieve. Meanwhile, based on the analysis of the case by considering the corruption Law and theories of corporate criminal liability, PT. MNA should be asked for corporate criminal liability too. The author belives that the corporate criminal liability to corporation and corporate management is the right model, so that there is a deterrent effect for the corporation. | |
| 27433 | 30792 | A1A116005 | PENENTUAN HARGA POKOK PENJUALAN DAN PERENCANAAN LABA JANGKA PENDEK OLAHAN SALAK DI UD. CRISTAL, SLEMAN, YOGYAKARTA | UD. Cristal merupakan perusahaan yang memproduksi produk bersama dari bahan baku utama yaitu salak. Produk yang dihasilkan antara lain keripik salak dan dodol salak sebagai produk utama, serta kopi biji salak sebagai produk sampingannya. Oleh karena itu, diperlukan pengalokasian biaya secara tepat agar dapat memaksimalkan laba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) biaya produksi, penerimaan, dan keuntungan, 2) harga pokok penjualan, dan 3) perencanaan laba jangka pendek untuk produk keripik salak, dodol salak, dan kopi biji salak di UD. Cristal. Metode penelitian ini adalah studi kasus. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis biaya, analisis biaya produk bersama, dan perencanaan laba jangka pendek. Hasil penelitian menunjukkan 1) biaya produksi terbesar pada produksi dodol salak, penerimaan terbesar berasal dari keripik salak kemasan 80 gram, keuntungan terbesar yaitu pada kopi biji salak. Namun untuk produksi dodol salak mengalami kerugian. 2) Harga jual per unit seluruh produk olahan salak sudah melebihi harga pokok penjualan per unit sehingga perusahaan sudah mendapatkan keuntungan. 3) Perencanaan laba jangka pendek produk olahan salak menunjukkan keripik salak 80 gram memberikan laba kontribusi terbesar dalam pemilihan produk sehingga mampu menghasilkan laba per unit tertinggi dibandingkan produk lainnya. Penerimaan seluruh produk sudah berada di atas titik impas. Dodol salak mempunyai nilai MOS paling kecil sehingga kesempatan memperoleh laba lebih kecil dibandingkan produk lainnya. Nilai SDP keripik salak 250 gram mempunyai tingkat volume paling besar sehingga lebih rentan mengalami risiko penutupan usaha. Keripik salak 250 gram memiliki nilai DOL paling tinggi artinya produk tersebut memberikan pengaruh paling besar terhadap laba bersihnya jika terjadi perubahan pada penerimaannya. | UD. Cristal is a company that produces a joint product from the main raw material, zalacca. The products produced include zalacca chips and zalacca dodol as the main product, and zalacca bean coffee as a by-product. Therefore, proper allocation of costs is needed in order to maximize profits. This study aims to determine 1) the cost of production, revenue, and profits 2) the cost of goods sold, and 3) the short-term profit planning for zalacca chips, zalacca dodol, and zalacca bean coffee in UD. Cristal. The method of research is a case study. The analytical method used are descriptive analysis, cost analysis, joint product cost analysis, and short-term profit planning. The result showed that 1) the biggest production cost is in the production of zalacca dodol, the biggest revenue comes from the 80 grams of zalacca chips, and the biggest profit is the zalacca bean coffee. However, the production of zalacca dodol has suffered losses. 2) The selling price of all processed zalacca product has exceede the cost of goods sold per unit so that the company has made a profit. 3) Short-term profit planning of processed zalacca product shows that 80 grams of zalacca chips make the largest contribution margin in selecting product that are capable to producing the highest profit per unit. Revenue of all products is above the break-even point. The zalacca dodol has the smallest MOS value so that the opportunity to earn a profit is smaller than other products. The SDP value of the 250 gram of zalacca chips has the biggest volume level so that it is more vulnerable to the risk of business. The 250 grams of zalacca chips has the highest DOL value this means that the product has the greatest influence on net income if there is a change in revenue. | |
| 27434 | 30775 | F1A015065 | “Homeschooling” Analisis Fenomena Pendidikan Era Modern (Film Captain Fantastic Karya Matt Ross 2016) | Penelitian in mengkaji tentang fenomena homeschooling dalam film “Captain Fantastic (2016)” yang disutradarai oleh Matt Ross merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode semiotika Charles Sanders Pierce yang memusatkan pada teknik analisis segitiga makna yakni representamen, objek, dan intrepretan. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang bagaimana film meproyeksikan praktik homeschooling serta bagaimana bentuk perilaku anak homeschooliing dalam film “Captain Fantastic” berdasarkan pada interaksi dan dialog melalui simbol-simbol bahasa yang digambarkan dalam adegan film. Berdasarkan hasil penelitian dalam praktik Homeschooling yang digambarkan dalam film, diketahui bahwa keluarga memiliki peran penting dalam proses pendidikan Homeshooling Captain Fantastic yang menekankan pada bentuk praktik partisipatif dari siswa dan pemecahan masalah bersama melalui ruang-ruang dialog. Hubungan antara guru dalam hal ini orangtua dan murid dalam hal ini anak dimaknai sebagai hubungan subjek-subjek, tidak ada dominan ataupun dorman. Kemudian dari praktik pendidikan (proses sosialisasi dan transformasi nilai) tersebut membentuk anak menjadi berkesadaran, hal ini dapat dilihat ketika anak didik mempertanyakan dan menolak pengaruh dari dunia “luar” yang merugikan. Dalam teori interaksionisme simbolik, masyarakat diyakini terbentuk melalui proses interaksi sosial secara terus menerus menggunakan simbol yang dapat dipahami secara bersama. Berbeda dengan binatang, manusia diletakan dalam posisi berpikir dan berkesadaran dalam membentuk dan dibentuk oleh masyarakat. Kajian homeschooling menjadi contoh konkrit mengenai permasalahan pendidikan yang ada serta sebagai rujukan dalam memahami fenomena pendidikan alternatif di masyarakat. | This research examines the phenomenon of homeschooling in the film "Captain Fantastic (2016)" directed by Matt Ross, this research is a descriptive qualitative research using Charles Sanders Pierce's semiotic method which focuses on triangular analysis techniques of meaning, namely representation, object, and interpreter. This study aims to describe how the film projects homeschooling's practice and how the behavior of homeschooling children in the film "Captain Fantastic" is based on interaction and dialogue through language symbols depicted in the film scene. Based on the results of research in Homeschooling practices depicted in the film, it is known that the family has an important role in homeshooling. Captain Fantastic educational process which emphasizes the form of participatory practice from students and solving common problems through dialogue spaces. The relationship between teachers, in this case parents and students, in this case the child is interpreted as a subject-subject relationship, there is neither dominant nor dormant. Then from the educational practice (the process of socialization and value transformation) forms the child into awareness, this can be seen when students question and reject the influence of the "outside" that is harmful. In symbolic interaction theory, society is believed to be formed through a continuous process of social interaction using symbols that can be understood together. Unlike animals, humans are put in a position of thinking and awareness in shaping and being shaped by society. The homeschool study is a concrete example of existing educational problems as well as a reference in understanding the phenomenon of alternative education in society. | |
| 27435 | 30801 | E1A014053 | PENERAPAN AMICUS CURIAE DALAM PEMERIKSAAN PERKARA DI PENGADILAN NEGERI TANGGERANG | Amicus Curiae merupakan konsep hukum yang memungkinkan pihak ketiga, yaitu mereka yang merasa berkepentingan terhadap suatu perkara, memberikan pendapat hukumnya kepada pengadilan dimana hanya sebatas memberikan opini, bukan melakukan perlawanan. Konsep ini dalam penerapannya di Indonesia pernah dilakukan dalam 2 bentuk yaitu secara lisan dan tertulis. Mahkamah Agung memang tidak memiliki aturan tentang Amicus Curiae, namun konsep Amicus Curiae ini dapat diterima sebagaimana ketentuan Pasal 5 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. kedudukan hukum Amicus curiae dalam peradilan di Indonesia dan penerapan Amicus curiae dalam pemeriksaan perkara di Pengadilan Negeri Tanggerang. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan informan, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi kepustakaan. Data yang telah diperoleh kemudian diolah dan dianalisis dengan metode kualitatif dan disajikan dalam bentuk uraian yang tersistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedudukan hukum Amicus Curiae dalam peradilan di Indonesia tidak memiliki aturan perundang-undangan khusus yang mengaturnya namun konsep Amicus Curiae ini dapat diterima sebagaimana ketentuan Pasal 5 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Sedangkan dalam penerapan Amicus Curiae dalam pemeriksaan perkara di Pengadilan Negeri Tanggerang pernah dilakukan pada tahun 2009 dalam (Putusan Nomor1269/PID.B/2009/PN.TNG) sebanyak 5 LSM mengajukan Amicus Curiae guna membela hak terdakwa, dalam kasus Prita Mulyasari Vs. Negara Republik Indonesia. | Amicus Curiae is a legal concept that allows third parties, namely those who feel an interest in a case, to give their legal opinion to the court which is limited to providing an opinion, not taking a fight. This concept in its application in Indonesia has been carried out in 2 forms, namely orally and in writing. The Supreme Court does not have any rules regarding the Amicus Curiae, but the Amicus Curiae concept can be accepted as stipulated in Article 5 paragraph (1) of Law no. 48 of 2009 concerning Judicial Power which states judges and constitutional judges are obliged to explore, follow, and understand the values of law and the sense of justice that live in society. the legal standing of Amicus curiae in the judiciary in Indonesia and the application of Amicus curiae in the examination of cases at the Tanggerang District Court. The research method used is normative juridical with descriptive research specifications. The data used in this study are primary and secondary. Primary data were obtained through interviews with informants, while secondary data were obtained from literature studies. The data that has been obtained is then processed and analyzed using qualitative methods and presented in the form of a systematic description. The results show that the legal position of Amicus Curiae in the judiciary in Indonesia does not have specific laws governing it but the Amicus Curiae concept is acceptable as stipulated in Article 5 paragraph (1) of Law No. 48 of 2009 concerning Judicial Power. Whereas in the application of Amicus Curiae in case examination at the Tanggerang District Court, it was carried out in 2009 in (Decision Number 1269 / PID.B / 2009 / PN.TNG) as many as 5 NGOs filed Amicus Curiae to defend the rights of the defendant, in the case of Prita Mulyasari Vs. The Republic of Indonesia. | |
| 27436 | 30793 | C1A016056 | FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEUNTUNGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH MASYARAKAT DI DESA SOKARAJA KULON KABUPATEN BANYUMAS ( STUDI KASUS UMKM YANG MENDAPATKAN DANA DESA ) | Penelitian ini bertujuan Untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan keuntungan UMKM di desa Sokaraja Kulon sebelum dan sesudah adanya dana desa. Dan untuk mengetahui pengaruh modal kerja, lokasi usaha, lama usaha, dan tingkat pendidikan terhadap keuntungan UMKM di Desa Sokaraja Kulon. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Metode penelitian ini menggunakan survei dengan melakukan wawancara secara langsung kepada responden dengan menggunakan kuesioner. Alat analisis yang digunakan adalah uji beda rata-rata dan analisis regresi linear berganda. Uji beda rata-rata digunakan untuk mengetahui pengaruh dana desa terhadap keuntungan UMKM di desa Sokaraja Kulon Kabupaten Banyumas, sedangkan analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan UMKM di desa Sokaraja Kulon Kabupaten Banyumas. Hasil dari penelitian ini yaitu, (1) terdapat peningkatan keuntungan UMKM di desa Sokaraja Kulon Kabupaten Banyumas setelah adanya dana desa, (2) variabel lama usaha dan tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap UMKM di desa Sokaraja Kulon Kabupaten Banyumas. (3) variabel modal kerja berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap UMKM di desa Sokaraja Kulon Kabupaten Banyumas. (4) Variabel lokasi usaha berpengaruh negatif dan signifikan terhadap peningkatan keuntungan UMKM di desa Sokaraja Kulon Kabupaten Banyumas. Implikasi dari penelitian ini yaitu, (1) karena dana desa di desa Sokaraja Kulon Kabupaten Banyumas yang memiliki pengaruh secara positif terhadap peningkatan keuntungan UMKM tersebut, penelitian ini diharapkan dapat membantu sebagai tambahan informasi, wawasan, dan pengetahuan, serta sebagai bahan pembanding untuk permasalahan dana desa di masa yang akan datang, sebaiknya pemerintah memperhatikan pemanfaatan dana desa dan memberikan tempat pusat usaha agar lebih strategis di wilayah lain di Kabupaten Banyumas agar dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. (2) Berkaitan dengan modal usaha yang memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keuntungan UMKM di desa Sokaraja Kulon, sebaiknya pemerintah mulai menambah modal kerja para pelaku usaha yang masih mempunyai modal sedikit, karena dengan tambahan modal kerja yang tersedia yang besar mereka miliki berbagai pilihan untuk mengembangkan usahanya. Kata kunci: Dana Desa, Usaha Mikro Kecil Dan Menengah, Keuntungan | This study aims to analyze whether there are differences in the benefits of MSMEs in the village of Sokaraja Kulon before and after the existence of village funds. And to determine the effect of working capital, business location, length of business, and education level on the benefits of MSMEs in Sokaraja Kulon Village. This type of research is a quantitative descriptive study. This research method uses a survey by conducting interviews directly to respondents using a questionnaire. The analytical tool used is the average difference test and multiple linear regression analysis. The average difference test is used to determine the effect of village funds on the benefits of MSMEs in the village of Sokaraja Kulon, Banyumas Regency, while multiple linear regression analysis is used to determine the factors that affect the level of MSME profits in the village of Sokaraja Kulon, Banyumas Regency. The results of this study are (1) there is an increase in the profits of MSMEs in the village of Sokaraja Kulon, Banyumas Regency after the existence of village funds, (2) the variables of length of business and education level have no effect on MSMEs in the village of Sokaraja Kulon, Banyumas Regency. (3) working capital variables have a positive and significant effect on MSMEs in the village of Sokaraja Kulon, Banyumas Regency. (4) The business location variable has a negative and significant effect on the increase in MSME profits in the village of Sokaraja Kulon, Banyumas Regency. The implications of this research are (1) because village funds in the village of Sokaraja Kulon, Banyumas Regency have a positive influence on increasing the profits of MSMEs, this research is expected to help as additional information, insight, and knowledge, as well as a comparison for the problem of village funds. In the future, the government should pay attention to the utilization of village funds and provide a business center to be more strategic in other areas in Banyumas Regency so that it can help improve the economy of the surrounding community. (2) With regard to business capital which has a positive and significant impact on the profits of MSMEs in the village of Sokaraja Kulon, the government should start increasing the working capital of business actors who still have little capital, because with the large additional available working capital they have various choices for develop his business. Key words: Village Fund, Micro, Small and Medium Enterprises, Profits | |
| 27437 | 30802 | G1B016030 | PENGARUH GEL EKSTRAK DELIMA (Punica granatum L.) SEBAGAI ANTIOKSIDAN TERHADAP KEKUATAN PELEKATAN GESER RESIN KOMPOSIT PASCA APLIKASI BLEACHING HIDROGEN PEROKSIDA 40% | Latar Belakang. Diskolorasi gigi dapat dirawat dengan bleaching gigi. In-office bleaching menggunakan hidrogen peroksida 40% dapat menurunkan kekuatan pelekatan geser resin komposit karena terdapat radikal bebas yang tertinggal pada permukaan gigi sehingga diperlukan penundaan restorasi. Radikal bebas dapat menganggu infiltrasi resin dan menghambat polimerisasi sempurna. Aplikasi antioksidan dapat mengeliminasi radikal bebas peroksida pasca prosedur bleaching dan meningkatkan kekuatan ikatan pelekatan resin komposit. Bahan antioksidan biasa yang digunakan adalah asam askorbat dan bahan alam seperti delima (Punica granatum L.). Tujuan. Mengetahui pengaruh gel ekstrak buah delima sebagai antioksidan terhadap kekuatan pelekatan resin komposit pasca aplikasi bleaching hidrogen peroksida 40%. Metode. Jenis penelitian eksperimental laboratoris dengan sampel sebanyak 32 gigi premolar pertama rahang atas dibagi menjadi 4 kelompok. Sampel dilakukan prosedur bleaching, preparasi labial dan diaplikasikan gel antioksidan, kelompok P1 gel ekstrak delima 5%, kelompok P2 gel ekstrak delima 10%, kelompok K1 kontrol positif gel asam askorbat 10% dan kelompok K2 sebagai kontrol negatif. Sampel dilakukan restorasi dengan resin komposit nanohibrida. Kekuatan pelekatan geser diuji dengan Universal Testing Machine. Data diuji dengan One Way Anova dilanjutkan uji Post Hoc LSD. Hasil. Pemberian gel ekstrak delima meningkatkan kekuatan pelekatan geser resin komposit pasca prosedur bleaching dengan hidrogen peroksida 40% jika dibandingkan dengan kelompok gel asam askorbat dan kontrol negatif. Uji One Way Anova menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05). Uji Post Hoc LSD menunjukkkan perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan dan kontrol negatif (p<0,05). Simpulan. Terdapat pengaruh pemberian gel ekstrak delima sebagai antioksidan terhadap kekuatan pelekatan geser resin komposit pasca aplikasi bleaching hidrogen peroksida 40%. | Background. Tooth discoloration can be treated with tooth bleaching. In-office bleaching using 40% hydrogen peroxide can reduce the enamel shear bond strength of resin composite because there are free radical left on the tooth surface so it can delayed the restoration. Free radicals can interfere the resin infiltration and inhibit polymerization. The application of antioxidants can eliminate free radicals after the bleaching procedure and increase the shear bond strength of the composite resin. The common antioxidants are ascorbic acid and natural ingredients such as pomegranate (Punica granatum L.). Purpose. To determine the effect of pomegranate extract gel as an antioxidant on the adhesion strength of composite resin after 40% hydrogen peroxide bleaching application. Method. This research was experimental laboratory with 32 maxillary first premolars and divided into 4 groups. Samples was bleached then got labial preparation and antioxidant gel was applied, group P1 pomegranate gel extract of 5%, group P2 pomegranate gel extract of 10%, group K1 positive control ascorbic acid gel of 10% and group K2 as negative control. Samples were restorated with nanohybrid composite resin. Shear bond strength was tested by Universal Testing Machine. Data were tested by One Way Anova followed by Post Hoc LSD test. Result. Pomegranate gel extract increased the shear bond strength of composite resin after bleaching procedure with 40% hydrogen peroxide compared with ascorbic acid gel group and negative control. One Way Anova test showed a significant difference (p <0.05). Post Hoc LSD test showed significant differences between the treatment and negative control groups (p <0.05). Conclusion. There is an effect of pomegranate gel extract as an antioxidant on the shear bond strength of the composite resin after 40% hydrogen peroxide bleaching application. | |
| 27438 | 30803 | G1A017055 | Korelasi Panjang Lengan Atas Dengan Tinggi Badan Pada Mahasiswa Suku Jawa Jurusan Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman | Latar Belakang: Tinggi badan merupakan salah satu aspek terpenting dalam proses identifikasi penyelidikan forensik. Pada beberapa kasus, tinggi badan tidak dapat ditentukan secara langsung sehingga diperlukan pengukuran pada bagian tubuh tertentu untuk memperkirakan tinggi badan. Panjang tulang Panjang sering digunakan untuk memperkirakan tinggi badan. Penelitian korelasi panjang lengan atas dengan tinggi badan belum pernah dilakukan pada mahasiswa suku Jawa di Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. Tujuan: Untuk mengetahui korelasi panjang lengan atas dengan tinggi badan pada mahasiswa suku Jawa jurusan Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. Subjek penelitian berjumlah 83 orang. Pengukuran dilakukan secara langsung dengan pita ukur dan microtoise. Data dianalisis menggunakan metode korelasi Pearson. Hasil: Terdapat korelasi antara panjang lengan atas kanan dan kiri dengan tinggi badan, baik pada jenis kelamin laki-laki maupun perempuan (p < 0,05). Analisis regresi menghasilkan persamaan sebagai berikut: Tinggi badan laki-laki (cm) = [95,625 + (2,220 x panjang lengan atas kanan)] atau [109,231 + (1,815 x panjang lengan atas kiri)]; Tinggi badan perempuan (cm) = [103,154 + (1,799 x panjang lengan atas kanan)] atau [93,513 + (2,116 x panjang lengan atas kiri)]. Kesimpulan: Terdapat korelasi yang bermakna antara panjang lengan atas kanan dan kiri dengan tinggi badan pada laki-laki maupun perempuan pada Mahasiswa Suku Jawa jurusan Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. Panjang lengan atas dapat digunakan untuk memprediksi tinggi badan pada Mahasiswa Suku Jawa jurusan Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. | Background: Body height is one of the most important aspects in the identification process of a forensic investigation. In some cases, height cannot be determined accurately, so measurements are needed in certain body parts to estimate height. The length of the long bones is often used to estimate height. Research on the correlation of upper arm length and height has never been conducted among Javanese students at the Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University. Objective: To determine the correlation between the upper arm length and the height of the Javanese students in Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University. Methods: Analytical observational study with cross sectional design conducted at the Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University. The number of samples used was 83 people. Measurements were made directly with a measuring tape and microtoise. Data were analyzed using Pearson correlation method. Results: There is a correlation between the length of the right and left upper arm and height, both male and female (p <0.05). The regression analysis produces the following equation: Male height (cm) = [95.625 + (2,220 x length of right upper arm)] or [109,231 + (1,815 x length of left upper arm)]; Female height (cm) = [103,154 + (1,799 x length of right upper arm)] or [93.513 + (2.116 x length of left upper arm)]. Conclusion: There is a significant correlation between the length of the right and left upper arm with height in Javanese students in Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University, both men and women. The length of the upper arm can be used to predict the height of Javanese students in Faculty of Medicine at Jenderal Soedirman University. | |
| 27439 | 30822 | G1A017030 | Korelasi Panjang Lengan Atas Dengan Tinggi Badan Pada Mahasiswa Suku Sunda Jurusan Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman | Latar Belakang: Tinggi badan merupakan parameter yang penting dalam proses identifikasi penyelidikan forensik. Panjang tulang dari berbagai macam tulang panjang memiliki arah dan kekuatan hubungan yang positif dan kuat dengan tinggi badan, sehingga pengukuran panjang tulang akan bermanfaat untuk mengestimasi tinggi badan dari jenazah yang tidak utuh. Penelitian korelasi panjang lengan atas dengan tinggi badan pada mahasiswa suku Sunda belum pernah dilakukan sebelumnya di Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. Tujuan: Untuk mengetahui korelasi panjang lengan atas dan tinggi badan pada mahasiswa suku Sunda jurusan Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. Metode: Penelitian observasional dengan desain cross sectional yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. Besar sampel penelitian adalah 45 orang dengan usia 18-22 tahun. Pengukuran dilakukan secara langsung dengan pita ukur dan microtoise. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dan uji regresi linier sederhana. Hasil: Terdapat korelasi antara panjang lengan atas kanan dan kiri dengan tinggi badan, baik pada jenis kelamin laki-laki maupun perempuan (p < 0,05). Analisis regresi menghasilkan persamaan sebagai berikut: Tinggi badan laki-laki (cm) = [97,544 + (2,154 x panjang lengan atas kanan)] atau [92,531 + (2,292 x panjang lengan atas kiri)]; Tinggi badan perempuan (cm) = [75,190 + (2,662 x panjang lengan atas kanan)] atau [59,626 + (3,158 x panjang lengan atasa kiri)]. Kesimpulan: Terdapat korelasi antara panjang lengan atas dengan tinggi badan Mahasiswa Suku Sunda Jurusan Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. Panjang lengan atas kiri maupun kanan dapat digunakan untuk memprediksikan tinggi badan laki-laki dan perempuan. | Background: Body height is an important parameter for the identification process of a forensic investigation. The length of bone in various types of long bones, are known to have a positive and linear direction and strength with height, so that analysis of the bones will be useful in estimating the height of an incomplete corpse. Research on the correlation of upper arm length and height has never been conducted among Sundanese students at the Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University. Objective: To determine the correlation between the upper arm length and height of Sundanese students in Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University. Methods: Analytical observational study with cross sectional design conducted at the Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University. The number of samples used was 45 people with aged 18-22 years old. Measurements were made directly with a measuring tape and microtoise. Data were analyzed using Pearson correlation method. Results: There was a correlation between the length of the right and left upper arm and height, both male and female (p <0.05). The Regression analysis produces the following equation: Male height (cm) = [97.544 + (2.154 x length of right upper arm)] or [92.531 + (2.292 x length of left upper arm)]; Female height (cm) = [75,190 + (2,662 x length of right upper arm)] or [59,626 + (3,158 x length of left upper arm)]. Conclusion: There is a correlation between the length of the right and the left upper arm with height in Sundanese Students in Faculty of Medicine, Jenderal Soedirman University. both of men and women. The length of the right and the left upper arm can be used to predict the height of Sundanese students in Faculty of Medicine at Jenderal Soedirman University. | |
| 27440 | 30795 | A1D116019 | EVALUASI KETAHANAN SEPULUH VARIETAS PADI (Oryza sativa L) TERHADAP CEKAMAN KEKERINGAN BERDASARKAN KARAKTER MORFOLOGIS | Salah satu upaya untuk mengantisipasi dampak kekeringan dapat dilakukan melalui pengembangan varietas padi yang toleran terhadap cekaman kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman karakter morfologis sepuluh varietas padi pada kondisi cekaman kekeringan, mempelajari ketahanan sepuluh varietas padi pada kondisi cekaman kekeringan, dan mempelajari hubungan kekerabatan sepuluh varietas padi berdasarkan karakter morfologis. Penelitian ini dilaksanakan di screen house Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Maret 2020 sampai dengan bulan September 2020. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktor yang diulang 3 kali dengan faktor pertama adalah 2 taraf perlakuan cekaman kekeringan yaitu pemberian air optimum dan pemberian air tercekam kekeringan, sedangkan faktor kedua adalah sepuluh varietas padi. Hasil penelitian menunjukkan terjadi perubahan karakter morfologis pada kondisi cekaman kekeringan pada semua varietas yang diuji. Sepuluh varietas memiliki tingkat ketahanan pada kondisi cekaman kekeringan yang berbeda. Varietas Inpari 31 dan Salumpikit memiliki kemampuan untuk beradaptasi lebih baik pada kondisi cekaman kekeringan. Cekaman kekeringan memberikan dampak terhadap perubahan karakter morfologis sepuluh varietas padi. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan kelompok klaster pada kondisi cekaman kekeringan. | One of the efforts to anticipate the impact of drought can be done through the development of rice varieties that are tolerant of drought stress. The purpose of this study was to study the diversity of morphological characters of ten rice varieties under drought stress, to study the resistance of ten rice varieties under drought stress, and to study the relationship between ten rice varieties based on morphological characters. This research was conducted at the screen house of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University from March 2020 to September 2020. The design of the experiment was arranged in factorial randomized block design (RBD) with three replications. The first factor (drought stress treatment) has 2 levels (water supply in optimal conditions and water supply in drought stress conditions), and the second factor (varieties) had 10 levels. The results showed changes in morphological characters in drought stress conditions in all tested varieties. Ten varieties have different levels of resistance to drought stress conditions. Inpari 31 and Salumpikit varieties have the ability to better adapt to drought stress conditions. Drought stress has an impact on changes in the morphological characters of ten rice varieties. This results in changes in cluster groups under drought conditions. |