Artikelilmiahs

Menampilkan 15.241-15.260 dari 49.719 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1524118538F1G013017TELAAH RINDU DALAM KUMPULAN PUISI ANGIN APA INI DINGINNYA MELEBIHI RINDU KARYA RAMAYDA AKMAL, ASEF SAEFUL ANWAR, FITRIAWAN NUR INDRIANTO : KAJIAN SEMIOTIKA RIFFATERREPenelitian ini berjudul “ Telaah Rindu dalam Kumpulan Puisi Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu Karya Ramayda Akmal, Asef Saeful Anwar, Fitriawan Nur Indrianto : Kajian Semiotika Riffaterre”, berlatar belakang banyak sekali makna yang tersirat di dalam kumpulan puisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan “rindu” yang terdapat pada kumpulan puisi Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu karya Ramayda Akmal, Asef Saeful Anwar, Fitriawan Nur Indrianto dengan menggunakan pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik yang akan dilanjutkan matriks, model, varian menjurut kajian semiotika Riffaterre. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang memfokuskan “rindu” dalam kumpulan puisi Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu karya Ramayda Akmal, Asef Saeful Anwar, Fitriawan Nur Indrianto. Data dalam penelitian ini adalah buku kumpulan puisi Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu karya Ramayda Akmal, Asef Saeful Anwar, Fitriawan Nur Indrianto yang diterbitkan oleh penerbit Interlude di Yogyakarta tahun 2015.
Berdasarkan pembacaan heuristik terhadap struktur kebahasaan terhadap kumpulan puisi Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu karya Ramayda Akmal, Asef Saeful Anwar, Fitriawan Nur Indrianto ditemukan adanya berbagai makna yang belum sesuai dengan tata bahasa, sehingga pembaca mengalam kesulitan untuk memaknainya. Selanjutnya, dilanjutkan dengan pembacaan hermeneutik yang memberikan konvensi sastranya. Setelah mendapatkan dari pembacaan heuristik dan hermeneutik dilanjutkan dengan pencarian matriks, model, varian, sehingga dapat ditemukan makna rindu yang berbeda-beda di dalam sepuluh puisi. “Pucuk Kenangan”, “Bunga Rindu”, “Catatan Sewaktu Bulan Purnama” karya Fitriawan Nur Indrianto. “Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu” karya Asef Saeful Anwar. “Mencintai Masa Lalu”, “Pantai dan Kerang”, “Pelukan yang Tidak Sampai”, “Malam di Bawah Kipas Angin”, “Sajak Rindu”, “Pulang” karya Ramayda Akmal.
This study entitled “Telaah Rindu dalam Kumpulan Puisi Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu Karya Ramayda Akmal, Asef Saeful Anwar, Fitriawan Nur Indrianto : Kajian Semiotika Riffaterre”is due to the numerous implicit meanings contained in that poem colletion. The purpose of this research is to describe “rindu” (longing) contained in a poem collection entitled Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu written by Ramayda Akmal, Asef Saeful Anwar, Fitriawan Nur Indrianto using heuristic and hermeneutic reading then continued with matrix, models, and variants based on Riffaterre Semiotic Study. This research uses a descriptive-qualitative method focusing on “rindu” contained in a poem collection entitled Angin Apa Ini Dingiinnya Melebihi Rindu written by Ramayda Akmal, Asef Saeful Anwar, Fitriawan Nur Indrianto. The research data are those contained in a poem collection book entitled Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu written by Ramayda Akmal, Asef Saeful Anwar, and Fitriawan Nur Indrianto published in 2015 by Interlude Publisher, Yogyakarta.
Based on the heuristic reading, there are various meanings which do not meet the linguistic structures of the poom collection entitled Angin Apa Ini Dinginnya Melebi Rindu written by Ramayda Akmal, Asef Saeful Anwar, and Fitriawan Nur Indrianto that readers find it difficult to understand the meanings. A hermeneutic reading is then performed to provide a literary convention. After the heuristic and hermeneutic reading, matrix, models, and variants are also performed “Pucuk Kenangan”, “Bunga Rindu”, and “Catatan Sewaktu Bulan Purnama” written by Fitriawan Nur Indrianto; “Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu” written by Asef Saeful Anwar; “Mencintai Masa Lalu”, “Pantai dan Kerang”, “Pelukan yang Tidak Sampai”, “Malam di Bawah Kipas Angin”, “Sajak Rindu”, and “Pulang” written by Ramayda Akmal.
1524218541A1C013010EFISIENSI SALURAN PEMASARAN SALAK PONDOH DI KECAMATAN BANJARMANGU KABUPATEN BANJARNEGARAKecamatan Banjarmangu merupakan salah satu sentra produksi salak pondoh di Kabupaten Banjarnegara. Aspek pemasaran yang perlu diperhatikan dalam upaya peningkatan pemasaran salak pondoh di Kecamatan Banjarmangu adalah meningkatkan efisiensi saluran pemasaran. Tujuan penelitian: 1) Mengetahui pola saluran pemasaran salak pondoh di Kecamatan Banjarmangu dari produsen sampai ke konsumen akhir, 2) Mengetahui besarnya marjin pemasaran pada setiap lembaga pemasaran dalam saluran pemasaran salak pondoh di Kecamatan Banjarmangu, 3) Mengetahui besarnya bagian yang diterima oleh petani (farmer’s share) pada setiap saluran pemsaran salak pondoh di Kecamatan Banjarmangu, 4) Mengetahui efisiensi saluran pemasaran salak pondoh di Kecamatan Banjarmangu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2017 di Kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara. Rancangan pengambilan sampel menggunakan Two Stag Sampling. Metode analisis data: analisis marjin pemasaran, analisis farmer’s share, analisis biaya dan keuntungan, analisis transmisi harga, analisis efisiensi teknis dan ekonomis. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) Terdapat 4 Saluran pemasaran salak pondoh di Kecamatan Banjarmangu. 2) Marjin pemasaran terkecil terdapat pada saluran IV sebesar Rp 2.862,50. 3) Farmer’s share paling tinggi pada saluran IV yaitu sebesar 57,59 persen. 4) Nilai elastisitas transmisi harga kurang dari satu, maka secara umum efisiensi pemsaran salak pondoh di Kecamatan Banjarmangu kurang efisien. 5) Saluran pemasaran I merupakan saluran yang efisien secara teknis dan ekonomis.Banjarmangu Subdistrict is one of the production center of pondoh sallaca in Banjarnegara Regency. One of the aspect marketing that should be noticed for enhancing marketing pondoh sallaca in Banjarmangu is to improve efficiency the marketing channel. The objectives of this research are: 1) To know the pattern of marketing channel of pondoh sallaca in Banjarmangu Subdistrict from producer to end consumer, 2) To know the marketing margin at each marketing institution of pondoh sallaca marketing channel in Banjarmangu Subdistrict, 3) Received by farmers (farmer's share) at each pondoh sallaca marketing channel in Banjarmangu Subdistrict, 4) To know the efficiency of pondoh sallaca marketing channel in Banjarmangu Subdistrict. This research conducted on March 2017 in Banjarmangu Subdistrict Banjarnegara Regency. The method used is the Multistage Sampling. The first step is selection of the village and the second step is used Two Stage Sampling for farmers and Snowball Sampling for merchants. Analysis methods: marketing margin analysis, farmer’s share analysis, analysis of benefits and costs, price transmission analysis, analysis of technical and economical efficiency. The results: 1)There is four marketing channel pondoh sallaca in Banjarmangu Subdistrict. 2) The smallest marketing margin is Rp 2.862,50 at marketing channel IV. 3) The largest farmer’s share at marketing channel IV is 57,59 percent. 4) Value of price transmission elasticity is less than one, so in general marketing efficiency in Banjarmangu Subdistrict are less efficient. 5) Marketing channel I is a technically and economically efficient marketing channel.
1524318542A1L012128KAJIAN PEMBERIAN PUPUK N-ZEOLIT PADA BERBAGAI KADAR C-ORGANIK TERHADAP KANDUNGAN N TANAH DAN PERTUMBUHAN PADI SAWAHPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) pengaruh pemberian zeolit terhadap kandungan N tanah dan pertumbuhan padi sawah pada berbagai kadar C-organik tanah dan ketebalan genangan air, 2) interaksi antara zeolit, kadar C-organik tanah dan ketebalan genangan air terhadap kandungan N tanah dan pertumbuhan padi sawah dan 3) menentukan kadar C-organik tanah terbaik untuk pertumbuhan padi sawah pada berbagai pemberian zeolit dan ketebalan genangan air. Penelitian ini dilaksanakan di Screen House dan Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto pada Agustus 2016 sampai Februari 2017. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri atas 3 faktor. Faktor pertama adalah jenis zeolit yang terdiri atas 2 taraf, yaitu zeolit tanpa aktivasi (Z) dan zeolit aktivasi (ZM). Faktor kedua adalah kadar C-organik tanah yang terdiri atas 6 taraf, yaitu kadar 1% (C0), 2% (C1), 3% (C2), 4% (C3), 5% (C4) dan 6% (C5). Faktor ketiga adalah ketebalan genangan air yang terdiri atas 2 taraf, yaitu 0,3 cm (K0) dan 3 cm (K1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian zeolit tidak berpengaruh terhadap semua variabel pengamatan kimia tanah dan pertumbuhan padi sawah. Aplikasi zeolit teraktivasi dengan kadar C-organik tanah 4% dan ketebalan genangan air 3 cm paling berpengaruh terhadap pH KCl tanah dan bagan warna daun. Kadar C-organik 4% memberikan hasil terbaik pada variabel luas daun; kadar C-organik 5% memberikan hasil terbaik pada variabel tinggi tanaman, kadar kehijauan daun, daya hantar listrik (DHL) dan N-total tanah, serta kadar C-organik 6% memberikan hasil terbaik pada variabel jumlah anakan total, jumlah daun dan pH H2O tanah.This research aims to: 1) determine the effect of natural zeolite to N content of the soil and the growth of paddy at various contents of C-organic and the thickness of water logging, 2) the interaction between natural zeolites, contents of C-organic and thickness of water logging on the N content of soil and the growth of paddy and 3) determine the best C-organic contents for the growth of paddy in various thickness of water logging and natural zeolite. The research was conducted in Screen House and Laboratory of Soil Science, Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto in August 2016 to February 2017. The study was conducted with Randomized Completely Block Design (RCBD) consisted of three factors. The first factor is the type of zeolite which consists of two levels, zeolite without activation (Z) and zeolite activation (ZM). The second factor is the concentration of C-organic of soil consists of 6 levels: level 1% (C0), 2% (C1), 3% (C2), 4% (C3), 5% (C4) and 6% (C5). The third factor is the thickness of water logging consisted of two levels, 0.3 cm (K0) and 3 cm (K1). The results showed that the zeolite does not affect the chemistry of soil all observation variables and the growth of paddy. Activated zeolite application with 4% C-organic soil content and 3 cm thickness of water logging most affect the pH KCl of soil and leaf colour chart. The 4% C-organic content gives the best result on leaf width variable; 5% C-Organic content gives the best results on the plant height variables, the greenishness of the leaf, the Electrical Conductivity (EC) and the N-total soil, and the 6% C-organic content gives the best results on the total number of tiller variables, the number of leaves and the pH H2O of soil.
1524418543E1A112087KEKUATAN PEMBUKTIAN KETERANGAN SAKSI DALAM PERMOHONAN PERUBAHAN JENIS KELAMIN (Tinjauan Yuridis Penetapan Nomor 39/Pdt.P/2015/PN.Kln)
Konvesional Transeksualitas atau transgender menurut diagnosis dokter adalah suatu bentuk Gender Dhysporia (kebingungan gender). Gender Dhysporia adalah sebuah term general bagi mereka yang mengalami kebingungan atau ketidaknyamanan tentang gender kelahiran mereka maupun pada saat pertumbuhan dan perkembangannya. Untuk penyelesaian masalah tersebut hukum memberikan kemungkinan untuk menyesuaikan dengan kondisi sesungguhnya dengan cara mengajukan permohonan ke pengadilan untuk ditetapkan perubahan status hukumnya. Seperti halnya Sally Novi Marcelina memiliki dua jenis kelamin, saat dilahirkan memiliki alat kelamin perempuan, tetapi dalam pertumbuhannya muncul dan tumbuh alat kelamin laki-laki serta memiliki ciri-ciri fisik dan psikologis sifat kecenderungannya lebih ke laki-lakian.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terhadap kekuatan pembuktian keterangan saksi dalam permohonan perubahan jenis kelamin dan Bagaimana akibat hukum dari dikabulkannya perubahan jenis kelamin yang dilakukan oleh Sally Novi Marcelina pada Penetapan Nomor 39/Pdt.P/2015/PN.Kln. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah Yuridis Normatif yang bersifat Deskriptif, bahan hukum yang digunakan adalah sekunderyang diperoleh dari bahan pustaka dan dalam analisa data menggunakan metode normatif kualitatif.
Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa keterangan saksi-saksi oleh hakim dinilai mempunyai kekuatan pembuktian karna bersesuaian satu dengan yang lain dan dijadikan dasar untuk mengabulkan permohonan, Akibatnya pemohon mengganti nama dan statusnya pada biodata kependudukan di Lembaga Pencatatan sipil.
Kata Kunci : Kekuatan Alat Bukti Saksi, Akibat Hukum
Conventional Transsexuality or transgender by doctor's diagnosis
is a form of Gender Dhysporia (gender confusion). Gender Dysphoria is a
general term for those who experience confusion or discomfort about their birth
gender and at the time of its growth and development. To solve the problem the
law provides for the possibility of adjusting to the actual conditions by applying to
the court for a change of legal status. Just as Sally Novi Marcelina has two sexes,
when born has female genitalia, but in its growth emerges and grows male
genitalia and has physical and psychological traits the tendency is more to male.
This study aims to determine the strength of proof of testimony of
witnesses in the request of change of sex and How the legal effect of the granting
of gender changes made by Sally Novi Marcelina on Determination Number 39 /
Pdt.P / 2015 / PN.Kln. The research method used in this research is Juridical
Normatif which is Descriptive, The legal material used is secondary obtained
from library materials and in data analysis using qualitative normative method.
The results of the research have shown that the testimony of witnesses by
judges is judged to have the strength of proof of karna corresponding to each
other and Be the basis for granting the petition, As a result the applicant changed
his name and status to the residence data in the Civil Registry Agency.
Keywords : Strength of Witness Proof Tool, Consequences of Law
1524518544A1C014095PERSEPSI PEMUDA PERDESAAN TERHADAP PROFESI PETANI DI DESA BANTERAN KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS Petani merupakan pemeran utama dalam dunia pertanian, tanpa adanya petani, maka tak ada pertanian. Namun, berdasarkan beberapa kajian, ditemukan bahwa jumlah petani di Indonesia semakin lama semakin menurun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013, menyebutkan bahwa dalam 10 tahun jumlah rumah tangga petani mengalami penurunan tajam. Semula rumah tangga petani berjumlah 31 juta pada tahun 2003 menjadi 26 juta rumah tangga saja di 2013. Begitu juga dengan Kabupaten Banyumas, yang mengalami pemurunan rumah tangga petani sebesar 2,42 persen dari tahun 2003 sampai tahun 2013. Kecamatan Sumbang juga mengalami penurunan rumah tangga petani sebesar 2,54 % selama 10 tahun dari tahun 2003 sampai 2013. Hal tersebut diduga karena ada persepsi yang berperan didalamnya, persepsi merupakan proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu. Tujuan dilakukannya penelitian ini meliputi (1) Menganalisis persepsi pemuda pedesaan terhadap profesi petani dan (2) Menganalisis hubungan faktor usia, tingkat pendidikan, pengalaman kerja, status pernikahan dan sumber informasi dengan persepsi pemuda pedesaan terhadap profesi petani.
Penelitian dilakukan dengan metode pengambilan sampel Simple Random Sampling dengan jumlah responden sebanyak 100 pemuda. Data dianalisis dengan metode Skala Likert yang sudah di MSI (Method Successive Interval) untuk mengetahui persepsi pemuda terhadap profesi petani dan analisis korelasi Rank Spearman untuk mengetahui hubungan faktor persepsi dengan persepsi pemuda terhadap profesi petani.
Hasil penelitian disimpulkan bahwa (1) persepsi pemuda pedesaan terhadap profesi petani cenderung tidak baik, namun jika dilihat dari masing-masing aspek disimpulkan bahwa persepsi pemuda pedesaan terhadap profesi petani dari aspek nilai ekonomi dan prestise cenderung baik, sedangkan dari aspek beban kerja fisik, waktu kerja, nilai finansial dan risiko cenderung tidak baik. (2) Hubungan variabel persepsi pemuda pedesaan dengan usia, sumber informasi dan pengalaman bekerja dengan persepsi pemuda pedesaan terhadap profesi petani yaitu tidak signifikan, sedangkan hubungan yang signifikan yaitu status pernikahan dan pendidikan.
The farmer is the main actor in agriculture, without the farmer there is no agriculture. Based on some observations, we found that there is a decrease amount of farmer in Indonesia. Based on data from badan pusat statistik in 2013, that in 10 years the number of farm housholds has decrease sharply. initially farm households amounted to 31 million in 2003 to 26 million houshold in 2013. like wise with banyumas district,which experienced a 2,42 percent decline in farm household from 2003 to 2013. sumbang sub- district also experienced decrease in farm household by 2,54 for 10 years from 2003 to 2013. It is because there is one perception in society. Perception is the process of giving a meaning about the environment by individual. The aim of this researches are (1) to analyze the perception of rural youth about farmer profession, (2) to analyze the relations of age factor, education level, job experience, marital status and the source of information with the perception of rural youth about farmer profession.
This research is using Simple Random Sampling method and there are 100 young respondents. The data is analyzed using Skala Likert method which is already MSI (Method Succesive Interval) to analyze the relationship perception factor and the perception of rural youth about farmer profession.
The results of the research are (1) the perception of rural youth about farmer profession are more tend not to be good, but if we look at each aspect, we can conclude that the perception of rural youth about farmer profession from economic aspect and prestige are more tend to be good, while from the aspect of physical workload, job time, financial value and the risk are more tend to be not good. (2) The relation variable of the perception of rural youth with age, the source of information and job experience about farmer profession is not significant, while the ssignificant relations are marital status and education level.
1524618545G1A013132Hubungan Riwayat Hiperbilirubinemia pada Neonatus dengan Gangguan Perkembangan Motorik Kasar pada Anak Usia 12-15 Bulan di BanyumasHiperbilirubinemia merupakan kondisi yang sering terjadi pada neonatus. Hiperbilirubinemia dianggap bermasalah karena efek toksisitasnya yang dapat mempengaruhi perkembangan motorik kasar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan riwayat hiperbilirubinemia pada neonatus dengan gangguan perkembangan motorik kasar pada anak usia 12-15 bulan di Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasiaonal dengan desain penelitian matched case control. Sampel dipilih menggunakan metode consecutive sampling. Subjek penelitian terdiri dari 26 anak usia 12 – 15 bulan yang pernah terdiagnosis hiperbilirubinemia neonatorum di RSUD.Prof.Dr. Margono Soekarjo Purwokerto sebagai kelompok kasus. Subjek kelompok kontrol berjumlah 26 anak yang disamakan karakteristiknya dengan kelompok kasus, namun subjek tidak pernah didiagnosis hiperbilirubinemia neonatorum. Pengambilan subjek kelompok kontrol dilakukan di Posyandu Kabupaten Banyumas. Penelitian ini diawali dengan mencari anak yang memenuhi kriteria masing–masing kelompok dilanjutkan dengan pemeriksaan perkembangan motorik kasar menggunakan uji Denver II. Data dianalisis menggunakan uji statistik Mc Nemar. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna anatara riwayat hiperbilirubinemia dengan gangguan perkembangan motorik kasar (p=0,453). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan bermakna antara riwayat hiperbilirubinemia pada neonatus dengan gangguan perkembangan motorik kasar pada anak usia 12 -15 bulan di Banyumas, kejadian hiperbilirubinemia tahun 2015 mencapai 330 kasus, sebanyak 7 dari 52 anak mengalami gangguan perkembangan motorik kasar.Hyperbilirubinemia was common problem in neonates. Hyperbilirubinemia were considered problematic because of its toxicity effects that can affect gross motor development. The aim of this study was to determine the history of hyperbilirubinemia in neonates with gross motor development disorder in children aged 12-15 months in Banyumas. This study used analytical methods observasiaonal with a matched case-control design. Sample were selected using consecutive sampling. Subjects consisted of 26 children aged 12-15 months were diagnosed of neonatal hyperbilirubinemia in RSUD.Prof.Dr. Margono Soekarjo Purwokerto as the case group. The control group subjects were 26 children who likened its characteristics with the case group, but the subject was never diagnosed neonatal hyperbilirubinemia. Control group subjects taken at IHC Banyumas. The study began by looking for children who fulfilled the inclusion and exclusion criterias each group continued with the examination of gross motor development using the Denver II test. Data were analyzed using statistical tests Mc Nemar. The results of the bivariate analysis showed that there was no significant relationship beween history of hyperbilirubinemia with gross motor developmental disorders (p = 0.453). The conclusion of this study was there was not significant correlation between hyperbilirubinemia in neonates with gross motor development disorder in children aged 12 -15 months in Banyumas, in 2015 there were 330 case of hyperbilirubinemia,7 out of 52 child got gross motor development disorder.
1524718576A1M009057PREFERENSI MASYARAKAT TERHADAP ROTI JAGUNG DI KELURAHAN GRENDENG Di Indonesia, jagung berpotensi sebagai bahan pangan pokok mempunyai komposisi kimia yang cukup lengkap. Salah satu produk olahan jagung yang belum dikenal oleh masyarakat luas yaitu roti manis dari tepung jagung. Roti adalah produk pangan yang dibuat dari tepung yang diragikan dengan ragi roti kemudian dipanggang. Produk roti manis dari tepung jagung merupakan suatu produk baru yang belum dikenal dan masih jarang diminati oleh masyarakat pada umumnya. Untuk itu perlu adanya suatu pengujian preferensi (daya terima) untuk mengetahui tingkat penerimaan masyarakat terhadap produk ini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi masyarakat terhadap kesukaan roti manis dari tepung jagung dan mengetahui karakteristik sensori produk roti manis yang menggunakan tepung jagung. Pengambilan sampel dan data responden dilakukan dilingkungan Kelurahan Grendeng. Pengambilan data responden dilakukan dengan cara memberikan kusioner, yang kemudian hasil kuisioner dianalisis untuk menghasilkan data tingkat kesukaan responden terhadap roti jagung.
Hasil penelitian menunjukan tingkat kesukaan responden terhadap roti jagung lebih tinggi dari pada roti biasa walaupun sama-sama disukai. Hal ini dikarenakan roti dari tepung jagung mempunyai skor yang lebih tinggi daripada roti biasa untuk beberapa variabel sensoris yang diamati. Roti jagung dapat diterima baik oleh responden. Roti jagung yang sama-sama disukai seperti roti biasa oleh responden. Karakteristik sensori pada roti manis yang menggunakan tepung jagung mempunyai aroma yang sangat khas, jika dicium roti manis yang menggunakan tepung jagung akan mempunyai aroma yang sangat khas dari bau yang langu.
In Indonesia, corn has the potential as a staple food has a fairly complete chemical composition. One of the corn processed products that is not yet known by the wider community is sweet bread from corn starch. Bread is a food product made from flour which is dispersed with baked yeast and then baked. Sweet bread from corn flour is a new product that has not been known and still rarely in demand by the public at large. For that we need a test of preference (receipt) to know the level of public acceptance to this product.
This research aims to determine the public's preference for the sweet bread favorite of corn starch and to know sensory characteristics of sweet bread products using corn starch. Sampling and respondent data were done in Grendeng Urban Village. The data collecting of respondents is done by giving kusioner, which then the result of questioner is analyzed to yield the respondent's favorite level data on corn bread.
The result showed that the respondent’s preferred level of corn bread is higher than that of ordinary bread though equally favorable. This is because bread from corn starch has a higher score than regular bread for some observed sensory variables. Corn bread is acceptable by both respondents. Corn bread that is equally preferred as regular bread by the respondents. Sensory characteristics of sweetbreads that use corn starch have a very distinctive aroma, if kissed sweet bread using corn starch will have a very distinctive aroma of a bad smell.
1524818686G1B013083EFEKTIVITAS SARINGAN PASIR LAMBAT DAN SARINGAN PASIR CEPAT DALAM MENURUNKAN KEKERUHAN AIR SUNGAI SERAYULatar Belakang : Air merupakan kebutuhan pokok untuk kelangsungan hidup manusia, terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan dalam tubuh. Sungai merupakan salah satu sumber air yang banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Menurut Permenkes RI Nomor 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air terdapat beberapa syarat agar air memenuhi syarat kualitas sebagai air bersih. Salah satunya adalah syarat fisik yang difokuskan pada kekeruhan.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Experiment dengan desain penelitian Nonequivalent Control Group Design menggunakan empat jenis perlakuan yaitu Saringan Pasir Lambat Down Flow, Saringan Pasir Lambat Up Flow, Saringan Pasir Cepat Down Flow dan Saringan Pasir Cepat Up Flow dengan enam kali pengulangan pada setiap perlakuannya. Penelitian dilakukan di Instalasi Pengolahan Air Kesugihan dengan menggunakan sampel air Sungai Serayu.
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunujukkan penurunan tingkat kekeruhan air paling tinggi terdapat pada saringan pasir lambat Up Flow yaitu sebesar 84,24% sedangkan saringan pasir lambat Down Flow, saringan pasir cepat Down Flow, dan saringan pasir cepat Up Flow sebesar 74,30%, 62,50%, dan 51%.
Kesimpulan : jenis perlakuan yang paling efektif dalam menurunkan tingkat kekeruhan air Sungai Serayu adalah saringan pasir lambat dengan aliran Up Flow dengan efektivitas mencapai 83,24%.
Kata Kunci : Saringan Pasir Cepat, Saringan Pasir Lambat, Down Flow, Up Flow, Air Sungai, Sungai Serayu.
background : Water is the basic needs for the survival of human beings, especially to meet household needs and the needs of the body. The river is one of the many water sources used to meet the needs of human life and other living creatures. According to Permenkes; others were RI No. 416/Minister/PER/IX/1990 about conditions of Water Quality Surveillance and there are some conditions in order to qualify for water quality as clean water. One of these is the physical conditions that focused on turbidity.
Methodology : This research is Quasi Experiment research with Nonequivalent Control Group Design research design using four type of treatments are slow sand filters Down Flow, Slow sand filters Up Flow, rapid sand filters Down Flow and rapid sand filters Up Flow with six times the repetition on every inhumanity. The research done in the water processing installation Kesugihan using water samples Serayu River.
Results : Research Results show lower levels of turbidity water most high there on the Slow Sand Filters Up Flow of 84,24% while the slow sand filters Down Flow, rapid sand filters Down Flow and rapid sand filters Up Flow of 74,30%, 62,50%, and 51%.
Conclusion : the type of treatment that is most effective in lowering the level of turbidity of the Serayu river water is slow sand filters with the Up Flow with the effectiveness reach 83,24%.
ley word : Rapid Sand Filter, Slow Sand Filter, Down Flow, Up Flow, River Water, Serayu River.
1524918943A1C012078KAJIAN FINANSIAL DAN NILAI TAMBAH NATA DE COCO
DI KECAMATAN KEDUNGREJA KABUPATEN CILACAP
(Study Kasus di UKM “Family Coco”)
UKM Family Coco merupakan salah satu perusahaan yang memproduksi olahan air kelapa, salah satunya yaitu nata de coco sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Penelitian bertujuan untuk: 1) Menghitung besarnya biaya, penerimaan, dan pendapatan dari usaha pengolahan nata de coco pada agroindustri “ Family Coco” di Kecamatan Kedungreja Kabupaten Cilacap 2) Menganalisis kelayakan finansial pada UKM Family Coco, 3) Menghitung nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan air kelapa menjadi nata de coco di Kecamatan Kedungreja Kabupaten Cilacap.
. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 31 Januari 2017 sampai dengan 28 Februari 2017. Sasaran penelitian adalah UKM Family Coco produsen nata de coco. Metode analisis yang digunakan adalah analisis biaya, penerimaan dan pendapatan, Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), dan analisis nilai tambah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam hari proses produksi, besarnya biaya rata- rata yang dikeluarkan Rp414.013.102,15 dan pendapatan rata-rata sebesar Rp227.363.652,40. Secara finansial usaha industri nata de coco di UKM Family Coco yang dijalankan berada dalam kondisi layak berdasarkan hasil perhitungan kriteria investasinya, dimana nilai NPV sebesar Rp3.882.300.160, IRR sebesar 13,55%, dan Net B/C sebesar 1,59. Nilai tambah usaha pengolahan air kelapa menjadi nata de coco pada UKM Family Coco sebesar Rp1.737,16/kg atau 58,26 persen dari nilai produk.
SME Family Coco is one of the companies that produce coconut water processing, one of them is nata de coco so it has higher selling value. The research aims to: 1) Calculate the cost, revenue and income from nata de coco processing business on agroindustry "Family Coco" in Kedungreja Subdistrict Cilacap District 2) Analyze the financial feasibility of Family Coco SME, 3) Calculate the added value obtained from coconut water treatment to nata de coco at Kedungreja Subdistrict Cilacap District. The study was conducted by study case method
This research was begun from 31 January 2017 until 28 February 2017. The research target is SME Family Coco producer of nata de coco. The analytical methods used are cost, revenue and revenue analysis, Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), and added value analysis.
The results show that during the process, the average cost is Rp414.023.102,15 and the average income is Rp227.363.652,40. Financially, the business of nata de coco industry in Family Coco SME is run in reasonable condition based on the calculation of investment criteria, where the value of NPV is Rp3.882.300.160,04, IRR of 13,55%, and Net B / C of 1.59. The value added of coconut water processing business to be nata de coco in Family Coco SME is Rp1.737,16 or 58,26% percent from product value.
1525018554A1G012006NILAI TAMBAH PENGGILINGAN PADI YANG DITERIMA PEMILIK DAN ORANG YANG MENGGILINGKAN PADI DI DESA GENTASARI, KECAMATAN KROYA, KABUPATEN CILACAPABSTRAK
Agroindustri merupakan industri yang mengolah bahan baku hasil pertanian menjadi barang yang mempunyai nilai tambah yang dapat dikonsumsi atau digunakan oleh masyarakat. Penggilingan padi merupakan rangkaian mesin yang berfungsi untuk melakukan proses giling gabah, yaitu dari bentuk gabah kering giling sampai menjadi beras siap konsumsi. Tujuan penelitian ini adalah : (1). Mengetahui besarnya biaya, penerimaan, dan pendapatan bersih di penggilingan padi Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap. (2). Mengetahui besarnya nilai tambah yang diterima orang yang menggilingkan padi di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap. (3). Mengetahui besarnya nilai tambah yang diterima pemilik penggilingan padi di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap.Penelitian ini dilaksanakan di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap pada bulan Oktober sampai November 2014. penelitian ini menggunakan metode survei dengan tempat penelitian yang dipilih secara sengaja. Penentuan responden menggunakan metode sensus sebanyak lima responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis biaya dan pendapatan dan analisis nilai tambah.Hasil penelitian menunjukan rata-rata produksi beras yang dihasilkan oleh pemilik penggilingan padi sebesar 13.780,80 kg dan rata-rata beras yang dihasilkan orang menggilingkan padi sebesar 23.925,40 kg. Rata-rata total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp106.394.332,00, penerimaan yang diterima sebesar Rp119.370.941,00 dan pendapatan bersih yang diterima sebesar Rp12.976.609,00 Nilai tambah bersih yang diterima orang yang menggilingkan padi dari pengolahan satu kilogram gabah sebesar Rp165,00. Nilai tambah yang diterima pemilik penggilingan padi dari pengolahan satu kilogram gabah sebesar Rp440,00. Nilai tambah tersebut didistribusikan kepada pendapatan tenaga kerja langsung sebesar Rp80,00 dan keuntungan perusahaan sebesar Rp360,00
ABSTRACT

Agroindustry is an industry that process raw materials of agricultural products into goods that can be consumed or used by the people. Rice mill is a series of machines that serve to process the grind of rice,the process start from dry mill rice u ntil the rice is ready for consumption. The aim of this research are :1. knowing the cost, revenue and net income in rice mill of gentasari 2. Knowing the value added knowing people who grind rice (3). Knowing the value added from rice millers and rice mill. This research was conducted in Gentasari Village, Kroya Sub-district, Cilacap District from October to November 2014. This research used survey method with purposely chosen research place. Determination of respondents using census method as many as five people. Data analysis used is cost and income analysis and value-added analysis.The results showed The average rice production produced by rice mill owners are 13.780,80 kg and the average rice produced by people grind rice are 23.925,40 kg. The average total cost of Rp106.394.332,00, received receipts of Rp119.370.941,00 and net income received Rp12.976.609,00. Net added value received by people who grind rice from processing one kilogram of grain are Rp165,00. The value added received by rice mill owners from processing one kilogram of grain amounted to Rp440,00. The added value is distributed to direct labor income are Rp80,00 and corporate profits are Rp360,00.
1525118546H1C013005ANALISIS ALIRAN DAYA PADA KASUS PEMINDAHAN BEBAN DI GARDU INDUK KARET LAMA PT PLN (PERSERO) APP PULOGADUNGAnalisis aliran daya diperlukan ketika adanya perubahan beban, unit pembangkit, dan saluran transmisi baru. Pada penelitian ini dilakukan analisis aliran daya di Gardu Induk Karet Lama, dimana pada lokasi tersebut terdapat penambahan trafo daya baru. Dengan adanya trafo baru maka akan ada pemindahan beban listrik dari trafo yang lama ke trafo baru. Penelitian ini mensimulasikan pemindahan beban dari yang sebelumnya disuplai oleh 2 trafo, menjadi 3 trafo dengan menggunakan metode Newton Rapshon pada software ETAP 12.6. Pada hasil penelitian diketahui bahwa sebelum pemindahan beban, trafo 1 dan 2 sudah mengalami overload dengan beban terpasang sebesar 100.45 %. Nilai tegangan operasi tertinggi sebelum pemindahan beban terdapat pada bus income dengan 100 %, sementara nilai tegangan operasi terrendah terdapat pada penyulang GRAND 1 dengan hanya 96 %. Sedangkan setelah pemindahan beban, nilai tegangan operasional tertinggi terdapat pada penyulang GRAND 3 dan SPARE dengan 102.88 %. Dan nilai tegangan operasi terrendah terdapat pada penyulang SANCA sebesar 98.1 %.
Load flow analysis is required when load changes, addition of generating units, and new transmission lines. This research applies load flow analysis in Karet Lama Substation, Which at that location add a new power transformer. With the new transformer there will be a transfer of electrical load from the old transformer to the new transformer. This research simulates load transfer from previously supplied by 2 transformers, into 3 transformers using Newton Rapshon method with software ETAP 12.6. In this research results it is known that before the load transfer, transformers 1 and 2 have overloaded with the installed load of 100.45%. The highest operating voltage value before load transfer is found on the bus income by 100 %, and than the lowest operating voltage value is found in feeder GRAND 1 with only 96 %. Whereas after load transfer, the highest operational voltage value is found in feeders GRAND 3 and SPARE with 102.88%. And the lowest operating voltage value is found in feeder SANCA with only 98.1%.
1525218547D1E013115PENGARUH METODE THAWING DAN LAMA POST THAWING TERHADAP MOTILITAS DAN VIABILITAS SEMEN SAPI SIMMENTALPenelitian bertujuan untuk meneliti pengaruh interaksi metode thawing dan lama post thawing terhadap motilitas dan viabilitas semen sapi Simmental. Prosedur penelitian menggunakan 24 straw sapi Simmental yang di thawing dengan metode SOP pada suhu 370C selama 30 detik atau air PAM pada suhu 300C selama 30 detik dengan lama post thawing 30, 60 dan 90 menit. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x3, sehingga terdapat 6 perlakuan dengan ulangan 4 kali. Peubah yang diukur adalah persentase motilitas dan viabilitas spermatozoa. Perlakuan yang diteliti adalah m1l1 (metode thawing SOP (370C) selama 30 detik + Lama post thawing 30 menit), m1l2 (metode thawing SOP (370C) selama 30 detik + Lama post thawing 60 menit), m1l3 (metode thawing SOP (370C) selama 30 detik + Lama post thawing 90 menit), m2l1 (metode thawing air PAM (300C) selama 30 detik + Lama post thawing 30 menit), m2l2 (metode thawing air PAM (300C) selama 30 detik + Lama post thawing 60 menit.), m2l3 (metode thawing air PAM (300C) selama 30 detik + Lama post thawing 90 menit). Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara metode thawing dan lama post thawing tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap motilitas dan viabilitas spermatozoa. Namun lama post thawing berpengaruh nyata (P<0,05) menurunkan persentase motilitas dan viabilitas spermatozoa. Rataan persentase motilitas spermatozoa perlakuan m1l1, m1l2, m1l3 dan m2l1, m2l2, m2l3 masing-masing 42,50 ± 2,9%, 32,50 ± 2,9%, 27,50 ± 2,9% dan 36,30 ± 2,5%, 26,30 ± 2,5%, 21,30 ± 2,5%, sedangkan rataan persentase viabilitas spermatozoa perlakuan m1l1, m1l2, m1l3 and m2l1, m2l2, m2l3 masing-masing 53,80 ± 2,5%, 42,50 ± 2,5%, 37,50 ± 2,5% and 47,50 ± 2,5%, 32,50 ± 2,9%, 47,50 ± 2,9%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa motilitas dan viabilitas spermatozoa terbaik diperoleh dengan metode thawing secara SOP pada suhu 370C selama 30 detik dan post thawing 30 menit dengan metode thawing SOP pada suhu 370C menunjukkan kualitas semen yang masih layak untuk di inseminasikan.The aim of this research was to investigate interaction between thawing methods and post thawing duration on motility and viability of Simmental cattle straw. The research procedure used 24 straws of Simmental cattle thawed using procedure operational standard (SNI) at temperature 370C for 30 seconds or tap water at temperature 300C for 30 seconds with post thawing duration 30, 60 and 90 minutes. The research method used completely randomized design (CRD) with 2 x 3 factorial pattern, there were 6 treatments, each treatment was replicated 4 times. The parameters measured were percentage of motility and viability of sperm. The treatments studied were m1l1 (thawed using Procedure Operational Standard (SNI) (370C) for 30 seconds + post thawing for 30 minute). m1l2 (thawed using Procedure Operational Standard (SNI) (370C) for 30 seconds + post thawing for 60 minute). m1l3 (thawed using Procedure Operational Standard (SNI) (370C) for 30 seconds + post thawing for 90 minute). m2l1 (thawed using tap water (300C) for 30 seconds + post thawing for 30 minute). m2l2 (thawed using tap water (300C) for 30 seconds + post thawing 60 minute). m2l3 (thawed using tap water (300C) for 30 seconds + post thawing for 90 minute). The results showed that interaction between thawing method and post thawing duration did not significantly affect (P>0.05) on motility and viability of spermatozoa. However, post thawing duration was significantly (P<0.05) decrease motility and viability of spermatozoa. Means ± sd of motility of spermatozoa for m1l1, m1l2, m1l3 and m2l1, m2l2, m2l3 were 42.50 ± 2.9%, 32.50 ± 2.9%, 27.50 ± 2.9% and 36.30 ± 2.5%, 26.30 ± 2.5%, 21.30 ± 2.5% respectively. Means ± sd of viability of spermatozoa for m1l1, m1l2, m1l3 and m2l1, m2l2, m2l3 were 53.80 ± 2.5%, 42.50 ± 2.5%, 37.50 ± 2.5% and 47.50 ± 2.5%, 32.50 ± 2.9%, 47.50 ± 2.9% respectively. It could be concluded that the best spermatozoa motility and viability is obtained by thawing method using procedure operational standar (SNI) at temperature 370C for 30 seconds and post thawing duration of 30 minutes with thawing method using procedure operational standard (SNI) at temperature 370C for 30 seconds indicates the quality of sperm still feasible for insemination.
1525318548F1D013028ANALISIS PERBANDINGAN POLA PENGELOLAAN ASET DESA:
STUDI KASUS PENGEMBANGAN OBJEK WISATA CURUG JEGLONG
ANTARA DESA BENDOSARI DAN DESA MARGOSONO

Penelitian ini bertujuan untuk; 1) Mendeskripsikan perbedaan pola pengelolaan Objek Wisata Curug Jeglong antara Desa Bendosari, Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal dengan Desa Margosono, Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang terkait pengembanganya 2) Menganalisa serta menjelaskan mengenai alasan-alasan perbedaan pengelolaan yang dilakukan antara kedua desa tersebut, terutama dalam segi kepemimpinan, partisipasi, begitu juga mengenai perbedaan potensi kelembagaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) khususnya dalam sektor wisata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk mendukung analisis dan interpretasi data. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling dengan memilih informan. Penelitian ini menggunakan model analisis interaktif. Keabsahan data penelitian ini menggunakan triangulasi data sumber. Di dalam landasan teori penelitian menggunakan teori pemerintahan desa, kepemimpinan, partisipasi, BUMDES serta pariwisata.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa terjadi pola pengelolaan yang berbeda antara Desa Bendosari dengan Desa Margosono dalam pengembangan Objek Wisata Curug Jeglong. Di mana seperti yang diketahui bahwa objek wisata tersebut berada di perbatasan antara dua desa. Dalam hal ini, barometer untuk melihat perbedaan pengelolaan yang dilakukan antar dua desa yaitu dilihat dari variabel kepemimpinan kepala desa, partisispasi masyarakat, serta kelembagaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Masing-masing desa pastinya mempunyai potensi dan strategi yang berbeda dalam pengembangan aset wisata tersebut. Hal ini terbukti dari cara kepemimpinan dan partisipasi yang berbeda antara pemerintah desa masing-masing. Pemerintah Desa Margosono cenderung lebih proaktif dalam mengembangkan wisata tersebut yang dibuktikan akan dimasukannya sektor wisata ke BUMDES, sedangkan untuk Desa Bendosari masih pada tahap negosiasi antara Perum Perhutani dengan Kepala Desa atas kepemilikan lahannya.

The purpose of this research are 1) To describe the pattern of distinction in Curug Jeglong Tourism place between Bendosari Village and Margosono Village. 2) To analyze and describe the main reasons of the management distinction between those two villages, particularly in terms of leadership and participation, also to the distinction factor of the Badan Usaha Milik Desa (Village-owned Enterprises) institutional potency, particularly in tourism sector. This research used the qualitative methods and the constructivism paradigm, especially non-positivism as the main research methods. This research also used structuralist perspective and case study approach. To choose the informant, purposive sampling and snowball sampling will be used as the main technique. The technique that used to collect the data were: observation technique, deep interview, and proper documentations. Meanwhile, to analyze the data, qualitative-descriptive analysis will be used. To ensure the data validity in this research, triangulation of source data will be used. In the theoretical basis, researcher used the village governance theory, leadership theory, participation theory, BUMDES, and also tourism theory.
The result of this research reveals there are difference between Bendosari Village and Margosono Village in Curug Jeglong tourism place management pattern. In which we know, that Curug Jeglong tourism place were located between the border of those two villages. To measuring the management difference between two village, the Village leadership variable data, people participation, and also BUMDES institutional potency will be calculated. Every of those village must be having different potency and strategies to manage Curug Jeglong as the tourism place. This point was later proven when Margosono Village has more proactive policy towards Curug Jeglong as a tourism place and had a plan to include Tourism Sector in their BUMDES, meanwhile Bendosari Village was still in negotiation stage with Perhutani and Village Chief for the land ownership.
1525418591H1C013049Rancang Bangun Sistem Kendali Berbasis Internet of Things untuk Air Conditioners StandarAir Conditioner (AC) merupakan sebuah mesin yang digunakan untuk menjaga suhu udara pada suatu ruangan. AC yang sering digunakan oleh kebanyakan orang adalah jenis AC standar. Kebanyakan AC standar masih menerapkan kendali lokal. Pemilik rumah akan lebih nyaman masuk ke rumahnya setelah berpergian, jika suhu ruangan yang dimasukinya telah sesuai. Penelitian yang akan penulis lakukan yaitu merancang sistem kendali berbasis IoT (Internet of Things) untuk AC standar. Mikrokontroller yang digunakan dalam perancangan alat adalah NodeMCU. Sistem konverter AC ini bertujuan untuk mengubah AC standar menjadi AC berbasis IoT dengan biaya yang rendah, dan mudah dalam pengoperasiannya. Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini diantaranya tahap pemodelan, pembuatan, dan pengujian sistem. Hasil yang diperoleh pada pengujian, perangkat konverter IoT AC dapat mengendalikan semua jenis AC yang diuji dengan tingkat keberhasilan 100%. Nilai rata-rata error kuadrat atau RMSE(Root Mean Square Error) bacaan suhu LM35 terhadap Thermometer ruangan hanya 0,047. Antarmuka pengguna baik web server lokal maupun web aplikasi dapat berjalan dengan baik tanpa terdapat kendala.Air Conditioner (AC) is a machine used to control temperature in a room. AC which often used by people is standard AC. Most standards AC still apply local control. Homeowners will be more comfortable entering his home after traveling, if the temperature of the room has been appropriate. The research that the writer will do is to design an Internet of Things (IoT) based control system for standard AC. The microcontroller used in making the tool is NodeMCU. This AC converter system aims to convert a standard AC into an IoT-based air conditioner with low cost, and easy to operate. Stages performed in this research include stage modeling, manufacturing, and testing the system. Results obtained on the test, the AC converter IoT device can control all types of air conditioners tested with 100% success rate. The Root Mean Square Error (RMSE) temperature value of LM35 compared to the room thermometer is only 0,047. User interface both local web server and web application can run well without any constraints.
1525518772A1M013050APLIKASI EDIBLE COATING DENGAN PENGEMASAN DAN PENGGUNAAN NITROGEN TERHADAP KUALITAS KERIPIK DARI UMBI KENTANG VARIETAS GRANOLA SELAMA PENYIMPANANKeripik kentang adalah potongan tipis kentang yang digoreng dengan metode deep frying atau dipanggang sampai kering. Untuk menghasilkan kualitas keripik kentang yang baik, dapat menggunakan umbi kentang yang memiliki kadar air yang rendah. Namun, varietas kentang yang mendominasi produktivitas kentang di Indonesia ada varietas Granola yang memiliki kadar air tinggi. Kentang yang memiliki kadar air tinggi akan menghasilkan keripik kentang dengan kualitas rendah. Upaya peningkatan kualitas keripik kentang varietas Granola dapat dilakukan dengan pengaplikasian edible coating, penggunaan jenis kemasan dan penambahan nitrogen. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh pengemasan terhadap sifat sensoris keripik kentang dari umbi kentang varietas Granola selama penyimpanan, (2) mengetahui pengaruh penggunaan nitrogen terhadap sensoris keripik kentang dari umbi kentang varietas Granola selama penyimpanan, (3) mengetahui pengaruh kombinasi pengemasan dan penggunaan nitrogen dalam pengemas terhadap sensoris keripik kentang dari umbi kentang varietas Granola selama penyimpanan. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang diteliti adalah aplikasi nitrogen pada kemasan, terdiri atas N1 = penggunaan nitrogen dalam kemasan, N2 = tanpa nitrogen dalam kemasan serta jenis pengemasan (P), terdiri atas : P1 = aluminium foil, P2 = nilon, P3 = polipropilena (PP), P4 = polietilena (PE). Perlakuan disusun secara faktorial dengan 8 kombinasi perlakuan dan 3 kali ulangan sehingga diperoleh 24 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kemasan aluminium foil mampu menjaga karakteristik kimia dan sensoris keripik kentang dari umbi kentang varietas Granola selama penyimpanan, aplikasi nitrogen dalam kemasan pada berbagai jenis kemasan dapat mempertahankan kualitas keripik kentang dari umbi kentang varietas Granola selama penyimpanan karena mampu menghambat proses oksidasi dan perlakuan kombinasi penggunaan nitrogen dan pengemas aluminium foil dapat mempertahankan kualitas keripik kentang dari umbi kentang varietas Granola lebih baik dibandingkan perlakuan yang lainnya selama penyimpanan.Potato chips are thin pieces of potatoes fried with deep frying method or baked until dry. To produce good quality potato chips, it can used potatoes that have low moisture content. However, potato variety that dominate potato production in Indonesia is variety of Granola that have high water content. Potatoes that have high water content will produce low quality potato chips. Efforts to improve the quality of Granola potato chips can be done with the application of edible coating, use of appropriate packaging material and used nitrogen. This study aims to: (1) know the effect of packaging on the sensory properties of potato chips from varieties of Granola during storage, (2) to know the effect of nitrogen used in packaging on the sensory properties of potato chips from varieties of Granola during storage, (3) to know the effect of interaction of the packaging and nitrogen on sensory properties of potato chips from varieties of Granola during storage.This research used a completely randomized design (CRD). Factors examined were use of nitrogen on the packaging consists of the nitrogen added in the packaging (N1) and without nitrogen in the packaging (N2) and the packaging type consist of aluminum foil (P1), nylon (P2), polypropylene (P3), and polyethylene (P4) 3 replications for each other. The result showed that the type of aluminum foil packaging able to maintain the quality of potato chips from varieties of Granola during storage, nitrogen application in packaging on various packaging types can maintain the quality of potato chips from varieties of Granola during storage and use of aluminum foil packaging with nitrogen can maintain the quality of potato chips from varieties of Granola better than other treatments during storage.
1525618549C1A012098Analisis Kinerja dan Daya Saing Ekspor Subsektor Perikanan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN
Periode 2003 - 2014
Masuknya sektor perikanan dalam 12 sektor prioritas yang akan dilaksanakan dalam cetak biru Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia, hal ini dikarenakan salah satu kebijakannya adalah dengan tidak menerapkan bea masuk (Free Trade Area) sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja ekspor, keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif ekspor subsektor perikanan Indonesia pada periode 2003-2014 dalam kawasan Masyarakat Ekonomi ASEAN.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan menggunakan data sekunder. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis Laju Ekspor, Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) dan Dynamic Comparative Advantage (DCA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa laju ekspor subsektor perikanan Indonesia ke Malaysia, Thailand, Singapura, Vietnam dan Filipina selama periode 2002-2014 berfluktuasi, namun memiliki rata-rata laju ekspor yang positif berkisar antara 9,42 persen hingga 48,12 persen. Hasil perhitungan ISP menunjukkan rata-rata nilai ISP positif atau diantara 0 dan 1 dengan rata-rata nilai ISP berkisar 0,89 hingga 0,67. Hal ini menunjukkan bahwa subsektor perikanan Indonesia ke Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam dan Filipina sebagai eksportir dan memiliki daya saing kuat meskipun berada pada tahap kembali mengimpor. Sedangkan perhitungan dengan menggunakan DCA menunjukkan bahwa Indonesia tidak terspesialisasi pada beberapa kelompok kode HS perikanan tertentu disetiap negara ASEAN yang berbeda namun adanya steady-state dalam kesamaan pola keunggulan komparatif antara Indonesia dan Singapura maupun antara Indonesia dan Thailand menegaskan bahwa keunggulan komparatif harus dipertimbangkan dengan angka statistik satu sedangkan tidak adanya steady-state atau tingkat stasioner antara Indonesia dan Malaysia, Indonesia dan Vietnam serta Indonesia dan Filipina. Hal ini menegaskan bahwa keunggulan komparatif harus dipertimbangkan dalam arti dinamis, bukan statis angka satu.
Implikasi untuk penelitian ini yaitu perlu adanya segmentasi pasar berdasarkan keunggulan produk yang memiliki penawaran tinggi di negara tujuan guna meningkatkan ekspor perikanan serta mengefisiensikan biaya produksi dan memperkuat kerjasama baik dari segi ekonomi, politik maupun hukum dengan negara-negara khususnya di ASEAN.
The entry of the fisheries sector in the 12 priority sectors to be implemented in the blueprint of the ASEAN Economic Community (MEA) will be a challenge for Indonesia, this is because of its policies is by not applying the Free Trade Area so that the purpose of this research is to analyze growth performance, competitive advantage and comparative advantage of export of fishery sub sector of Indonesia for period of 2003-2014 in ASEAN Economic Community regions.
The type of this research is descriptive quantitative research. This research had done in the territory of Republic of Indonesia. This research use secondary data with data analysis period of 2003-2014. With the analysis tool are Growth Rate Analysis, Trade Specialization Index (ISP) and Dynamic Comparative Advantage (DCA). The results of this research indicate that the export growth rate of Indonesian fishery sub-sector to Malaysia, Thailand, Singapore, Vietnam and Philippines during the period 2002-2014 fluctuated, but has a positive export growth rate ranging between 9.42 percent to 48.12 percent. The ISP calculation results show the average ISP value is positive or between 0 and 1 with an average ISP value ranging from 0.89 to 0.67. This suggests that the Indonesian fisheries subsector to Malaysia, Singapore, Thailand, Vietnam and the Philippines as exporters and has a strong competitiveness despite being in the stage of re-importing. While calculations using DCA show that Indonesia does not specialize in certain groups of HS codes of fisheries in each of the different ASEAN countries but steady-state in the same pattern of comparative advantage between Indonesia and Singapore as well as between Indonesia and Thailand affirms that comparative advantage should be considered with statistics One where there is no steady-state or stationary level between Indonesia and Malaysia, Indonesia and Vietnam and Indonesia and the Philippines. This confirms that comparative advantage must be considered in a dynamic sense, not a static number one.
The implications for this research are the need for market segmentation based on the advantages of high-yielding products in destination countries to increase fishery exports and to streamline production costs and strengthen economic, political and legal cooperation with countries particularly in ASEAN.
1525718550A1C012052Analisis Pola Kemitraan PT. Sang Hyang Seri Dengan
Petani Mitra, Kabupaten Kulonprogo
Daerah Istimewa Yogyakarta
PT Sang Hyang Seri merupakan pelopor usaha pembenihan di Indonesia serta satu-satunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mempunyai core business pembenihan pertanian. PT. Sang Hyang Seri cabang Kulon Progo dalam menghasilkan benih bermutu bekerjasama dengan petani mitra yang tersebar disekitar Daerah Istimewa Yogyakarta diantaranya Kulon Progo, Sleman, Bantul dan Gunung Kidul. Tujuan penelitian ini adalah : 1) mengetahui keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan dan petani mitra pada waktu benih padi yang dihasilkan oleh petani mitra diterima dan ditolak oleh PT Sang Hyang Seri, 2) mengetahui manfaat kemitraan bagi petani, dan 3) mengetahui manfaat kemitraan bagi PT Sang Hyang Seri. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2017 sampai bulan Maret 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Pemilihan tempat di PT. Sang Hyang Seri cabang Kulon Progo dilakukan secara sengaja (purposive). Pengambilan data kinerja usahatani benih padi petani mitra dilakukan dengan observasi dan wawancara menggunakan kuisioner terhadap 46 responden dan PT Sang Hyang Seri. Jumlah responden diperoleh dari perhitungan simple random sampling dengan metode Cochran. Meode analisis yang digunakan adalah analisis usahatani dan analisis deskriptif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola kemitraan yang dilakukan oleh PT Sang Hyang Seri (Persero) cabang Kulon Progo dengan petani mitra adalah kemitraan produksi dan dagang. Keuntungan yang diterima oleh PT Sang Hyang Seri (Persero) pada periode Februari 2017 dari hasil penjualan produk benih padi sebesar Rp 141.679.333. Keuntungan yang didapatkan oleh petani mitra benih padi pada periode Februari 2017 adalah sebesar Rp 7.295.042/ha. Manfaat kemitraan bagi petani adalah tersedianya jaminan pasar, bantuan pinjaman benih, dan harga jual yang lebih tinggi. Manfaat kemitraan bagi PT. Sang Hyang Seri adalah ketersediaan gabah bermutu bagi perusahaan terjamin.
Sang Hyang Seri company is the pioneer of seed business in Indonesia, and is the only state-owned Enterprise that has a core business in seed farming. Sang Hyang Seri company Kulon Progo branch together with partner farmers in Kulon Progo, Sleman, Bantul, and Gunung Kidul work to produce good quality seeds. This research aims to: 1) Elicit the profit earned by the company and the partner farmers when the seeds produced are accepted and rejected by Sang Hyang Seri company, 2) elicit the benefit of partnership program for the farmers, and 3) elicit the benefit of partnership program for Sang Hyang Seri company. This research was conducted from February 2017 to March 2017 with case study as the research method. Sang Hyang Seri company Kulon Progo branch was chosen in purpose. The data were collected through observation and interview using questioners given to 46 farmers and Sang Hyang Seri company as respondents. The number of respondents was gained from simple random sampling with Cochran method. Then, the methods of analysis used were Usaha Tani Analysis and Descriptive analysis.
The result of the research shows that the partnership patterns done by Sang Hyang Seri company Kulon Progo Branch and partner farmers are production and commerce partnership. In February 2017, Sang Hyang Seri company earned Rp 141.679.333, while the farmers got Rp 7.295.042 per hectare as the profit of seeds sale. The benefit of this partnership program for the farmers is that they get the market, seeds loan aid, and higher sale price, while the benefit for Sang Hyang Seri company is that they can get good quality seeds.
1525818551C1B013043DETERMINAN STRUKTUR MODAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP RETURN SAHAM PADA INDUSTRI BARANG DAN KONSUMSI YANG TERDAFTAR DI BEIPenelitian ini berjudul determinan struktur modal dan pengaruhnya terhadap return saham pada industri barang dan konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji apakah terdapat pengaruh antara profitabilitas yang diukur menggunakan Return On Asset (ROA), likuiditas yang diukur menggunakan Current Ratio (CR), cash holding, non-debt tax shield dan asset growth terhadap struktur modal yang diukur menggunakan Debt to Equity Ratio (DER) dan pengaruhnya terhadap return saham. Penelitian ini dilakukan pada periode 2011-2015. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang berbentuk asosiatif yang digunakan untuk mengetahui hubungan atau pengaruh antara dua variabel atau lebih.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh industri barang dan konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian. Metode pengumpulan data menggunakan metode purposive sampling, sehingga diperoleh 21 perusahaan. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dan regresi linier sederhana. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan koefisien determinasi, uji F-statistik dan uji t-statistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas (ROA) berpengaruh positif terhadap struktur modal, likuiditas (current ratio) dan cash holding berpengaruh negatif terhadap struktur modal, non-debt-tax shield dan asset growth tidak berpengaruh terhadap struktur modal, serta struktur modal tidak berpengaruh terhadap return saham.
This research entitled determinant of capital structure and the impact of stock return on consumer goods industry that listed in Indonesia Stock Exchanged. The purpose of this research was to examine influence between profitability is measured by return on asset (ROA), liquidity is measured by current ratio (CR), cash holding, non-debt tax shield and asset growth on capital structure is measured by debt to equity ratio (DER) and influence on stock return. This research was conducted during the period 2011-2015. This research is quantitative research that used associative studies to determine the relationship or influence between two or more variables.
Population in this research is all of consumer goods industry that listed in Indonesia Stock Exchange during the period of research. Data collective method used purposive sampling method, with result 21 companies. Data analysis technique of this research used multiple regression analysis and simple regression analysi. Testing the hypothesis by using the coefficient of determination, F-test statistics and t-test statistics.
These conclution of this research indicate that profitability (ROA) positive influencing toward capital structure, liquidity (current ratio) and cash holding negative influencing toward capital structure, non-debt tax shield and asset growth not influencing toward capital structur, and capital structure not influencing toward stock return.
1525918552A1C012043HUBUNGAN KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI PETANI
DENGAN MOTIVASI PETANI MENANAM KAPULAGA
DI DESA KEDUNGURANG KECAMATAN GUMELAR
KABUPATEN BANYUMAS
Kapulaga merupakan salah satu jenis tanaman biofarmaka yang menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Banyumas. Adanya peningkatan dan konsistensi luas lahan kapulaga mulai tahun 2011 sampai 2015 di Kedungurang, dibandingkan dengan daerah lain di Kabupaten Banyumas menarik peneliti untuk mengetahui karakteristik sosial ekonomi dan motivasi petani kapulaga. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengetahui karakteristik sosial ekonomi petani kapulaga, 2) Menganalisis tingkat motivasi petani kapulaga, 3) Menganalisis hubungan karakteristik sosial ekonomi petani dengan motivasi petani menanam kapulaga. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kedungurang pada 1 Mei sampai 1 Juni 2016. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode penelitian survei. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kedungurang pada 1 Mei 2016 sampai 1 Juni 2016. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode penelitian survei. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu snowball sampling dan diperoleh 34 orang petani kapulaga dibawah hutan rakyat musim tanam 2012-2015. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis statistik deskriptif, analisis likert’s summated ratings dan analisis korelasi Kendall Tau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Karakteristik sosial ekonomi petani kapulaga yaitu a) rata-rata umur 53 tahun, b) rata-rata tingkat pendidikan tamatan SD, c) rata-rata jumlah tanggungan keluarga 3 orang, d) rata-rata pengalaman usahatani 7 tahun, e) rata-rata mata pencaharian utama adalah petani sawah dan kayu, f) rata-rata luas lahan 0,45 ha, h) rata-rata biaya, produksi dan pendapatan usahatani kapulaga per tahun per 4.133 rumpun yaitu Rp5.156.103/ha, 344 kg/ha, Rp7.535.174/ha; 2) Motivasi petani menanam kapulaga berada dalam kategori tinggi yang digambarkan oleh motivasi aspek kebutuhan keberadaan rendah, motivasi aspek kebutuhan hubungan tinggi, dan motivasi aspek kebutuhan pertumbuhan tinggi. Namun, salah satu komponen dalam motivasi aspek kebutuhan hubungan diperoleh skor yang sangat rendah yaitu terkait jalinan kerjasama dengan pihak penyuluh pertanian/pemerintah; 3) Karakteristik sosial ekonomi yang memiliki hubungan signifikan dengan motivasi petani menanam kapulaga yaitu luas lahan dan pendapatan usahatani kapulaga, sedangkan umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, dan pengalaman usahatani kapulaga tidak memiliki hubungan yang signifikan.


Cardamom is one of the species of biopharmaceutical plants that becomes the leading commodity in Banyumas Regency. There is an increasing and consistency area of cardamom field from 2011 to 2015 in Kedungurang compared with other regions in Banyumas that attracts researcher to find out the socio economic characteristics and motivation of cardamom farmers. This study aims to 1) Know the socio economic characteristics of cardamom farmers, 2) Analyze the level of motivation of cardamom farmers, and 3) Analyze the correlation between the farmers’ socio economic characteristics and the farmers’ motivations to plant cardamom. This research was conducted in Kedungurang village on May 1, 2016 to June 1, 2016. This research is descriptive research with survey research method. The sampling method used is snowball sampling and it obtains 34 cardamom farmers who farms in people’s forest on planting season of 2012-2015. The analytical methods used are descriptive statistics analysis, likert's summated ratings analysis and Kendall Tau correlation analysis. The results showed that: 1) The socio economic characteristics of cardamom farmers were a) average age of 53 years old, b) average education level of elementary school graduates, c) average number of family dependents of 3 people, d) average farming experience of 7 years, e) on the average, the main livelihood is paddy and wood farmer, f) average field area of 0,45 ha, and g) the average of costs, productions, and income from cardamom farming every year every 4.133 clumps are Rp5.156.103/ha, 344 kg/ha, Rp7.535.174/ha; 2) Farmers’ motivations to plant cardamom is in high category which is described by low motivation in the aspects of existence needs, high motivation in the aspects of relation needs, and high motivation in the aspects of growth needs. However, one of the components in the motivations in aspects of relation needs has very low score that it is related to making cooperation with agriculture/government counseling agents.; 3) The socio economic characteristics that have significant correlation with farmers’ motivation to plant cardamom are field area and income of cardamom farming, while age, education level, number of family dependent, and cardamom farming experience have no significant correlation.
1526018553H1K012007ANALISIS KARAKTERISTIK GELOMBANG LAUT DI SELAT WETAR KABUPATEN MALUKU BARAT DAYAGelombang laut merupakan parameter penting di perairan, terutama di Selat wetar sebagai alur pelayaran. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui hubungan antara data pengukuran dan data prediksi. Selain itu juga mengetahui penjalaran gelombang dan karakteristik gelombang per musim dari tahun 2015-2016. Metode SMB digunakan untuk meramalkan gelombang laut di Selat Wetar. Penelitian diselenggarakan pada bulan April 2016, data penelitian diperoleh dari ADCP. Parameter statistik digunakan untuk menganalisis data dan simulasi transformasi gelombang dengan software SMS 8.1. Hasil penelitian menunjukkan nilai tinggi maksimum gelombang data pengukuran 0,46 meter sedangkan prediksi 0,61 meter. Nilai RMSE dari kedua data adalah 0,23. Karakteristik gelombang peramalan dari data ECMWF dengan nilai maksimum tinggi gelombang 1,13 meter. Hubungan data gelombang pengukuran dan data peramalan ECMWF menunjukkan nilai RMSE adalah 0,33. Menunjukkan bahwa data peramalan dengan data pengukuran memilki akurasi yang tinggi. Simulasi gelombang per musim menunjukkan musim barat dan musim timur memiliki nilai peramalan gelombang lebih tinggi dibandingkan dari musim lainnya.Sea waves are an important parameter in the sea, especially in the Wetar Strait a the shipping lane. The aim of the research was knew the relationship between observation data and prediction, the wave characteristic per season from 2006-2015. SMB method was used to forecast of ocean wave at Wetar Strait. The research conducted on April 2016. The data research by ADCP. Parameter statistics was used to analyzed of data and the wave transformation simulated by SMS 8.1. The results showed that maximum wave high of observation is 0,46 m, wave predictions is 0,61 m. The RMSE value of both is 0,23. The characteristic of wave forecasting based on ECMWF data is 1,13 m as maximum value. The relationship of wave observation and wave forecasting from ECMWF wind data showed the RMSE value is 0,33. It has showed that the forecasting data on the observation data a have high accuracy. The waves simulated per season showed West Season and East Season has higher forecasting values than other season.