Artikelilmiahs

Menampilkan 15.101-15.120 dari 49.719 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
1510118396F1A013049Perempuan Single Parent (Studi tentang Upaya Perempuan Single Parent dalam Mengelola Keluarga di Kabupaten Banyumas)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya perempuan single parent dalam menjalankan peran sebagai orangtua tunggal dan mengetahui upaya perempuan single parent dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Sasaran utama penelitian ini adalah perempuan single parent yang ditinggal mati suami, bercerai, ditelantarkan dan ditinggal suami tanpa terjadi perceraian, dan hamil di luar nikah namun memutuskan tidak menikah. Upaya yang dilakukan perempuan single parent dalam menjalankan peran sebagai orangtua tunggal antara lain yaitu memberikan kasih sayang, mendidik, mengasuh anak, dan membagi waktu. Pada umumnya perempuan single parent mendapatkan bantuan dari orang-orang terdekat dalam proses pengasuhan anak. Pola asuh anak yang dilakukan oleh kedelapan informan lebih kepada pola asuh anak demokratis. Dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, para informan pada umumnya bekerja untuk mencari nafkah. Para informan memiliki pekerjaan yang berbeda-beda namun terdapat beberapa informan yang memiliki pekerjaan yang sama. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, para informan pada umumnya mendapat bantuan dari keluarga atau orang terdekat. Permasalahan yang dihadapi para informan antara lain permasalahan individu, seperti terjadinya pergolakan batin atau adanya tekanan di dalam diri akibat permasalahan yang terjadi. Permasalahan dengan mantan suami, seperti mantan suami yang tidak bertanggung jawab menafkahi anak pasca berpisah. Permasalahan ekonomi yang terjadi pada informan dikarenakan faktor penghasilan yang rendah. Permasalahan sosial yaitu terdapat stigma negatif masyarakat terhadap perempuan single parent, seperti menjadi bahan gunjingan masyarakat. Di balik permasalahan yang dihadapi oleh perempuan single parent, terdapat dukungan yang diberikan oleh keluarga, tetangga, maupun orang-orang terdekat. Dukungan yang diberikan baik berupa dukungan moral maupun dukungan materi.The purposes of this research are to find out the efforts of single parent women in carrying out their role as parent and their efforts in fulfilling the family life necessity. The main target of this research is single parent women caused by deceased husband, divorced, abandoned, left by husband without any divorce settlement, and unwed pregnant who decided to not marry. Single parent women who become the target of this research are single parent women with unmarried children. The efforts of single parent women in single parenting are to give the affection, educate, taking care, and time sparing for their children. Usually, single parent women got assistance from the closest relative in the process of nurturing. Child parenting did by all eight informant is more like democratic parenting method. In the attempt of fulfilling the family life necessity, commonly the informant will works for living. The informants have a variance kind of job, yet a couple of them have a similar job. The job did by the informant such as a cook, trading, factory workers, employee, and owner of a boarding house. In attempt to fulfill their life necessity, usually informant got assistance from closest family members. The problems faced by the informant are individual problem such as mental pressure caused by daily problem occurrence, problems with ex-husband who unwilling to give their children a living, economics problem faced by informant caused by low incomes, and social problem which is negative stigma upon single parent women and become a gossip issues among community members. Behind all problems faced by single parent women, there are many supports given by closest family such as family, neighbors and another relative. The supports given are moral support and material support.
1510218402F1F013009GENDER ROLES IN KOREAN FAMILY IN SHIN KYUNG-SOOK’S PLEASE LOOK AFTER MOMPenelitian yang berjudul “Gender Roles in Korean Family in Shin Kyung-sook’s Please Look After Mom” bertujuan untuk menemukan peran gender dalam keluarga di Korea yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga seperti ayah, ibu dan anak yang ada di dalam novel. Untuk mendukung analisis, teori gender, peran gender dalam keluarga dan kondisi keluarga Korea diaplikasikan. Teori gender diaplikasikan untuk menganalisa bagaimana gender digambarkan dalam konteks sastra. Teori peran gender di dalam keluarga diaplikasikan untuk menganalisa konsep dari peran gender di dalam keluarga. Selain itu, kondisi keluarga di Korea ditambahkan sebagai latar belakang budaya untuk mendukung analisis data. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisa data yang berupa narasi dan dialog dari novel. Hasil dari penelitian ini dibagi menjadi dua bagian yaitu peran gender di keluarga tradisional Korea dan peran gender di keluarga modern Korea. Di keluarga tradisional Korea, peran gender dilaksanakan berdasarkan perbedaan gender dimana ayah berperan sebagai kepala keluarga yang memegang kekuasaan penuh. Ibu berperan sebagai ibu rumah tangga dan pengelola ritual, dan anak yang harus mematuhi keduanya. Sedangkan, di dalam keluarga modern Korea, peran gender di dalam keluarga berubah dimana dominasi ayah berkurang. Ibu berperan sebagai ibu rumah tangga dan pekerja, dan anak yang mendapatkan perlakukan sama dari orang tuanya.The research entitled “Gender Roles in Korean Family in Shin Kyung-sook’s Please Look After Mom” is aimed to figure out the gender roles in Korean family performed by all family members such as father, mother and children in the novel. To support the analysis, theory of gender, gender roles in family and condition of Korean family are applied. Theory of gender was applied to analyze how gender is performed in the literary context. Theory of gender roles in family was applied in order to analyze the concept of gender roles in family. Moreover, the condition of Korean family was added as the cultural background to support the data analysis. This research used descriptive qualitative method to analyze the data which are the narrations and dialogues from the novel. The results of this research are divided into two parts, which are gender roles in Korean traditional family and gender roles in Korean modern family. In Korean traditional family, gender roles performed in the family stressed out the gender differences in which father acts as a leader who has full authority. Mother’s roles are as a housewife and ancestral rite’s organizer, and children should obey both of them. Meanwhile, in Korean modern family, gender roles performed in the family change in which father’s dominance is declined. Mother acts as housewife and worker, and children get equal treatment from their parents.
1510318403F1B012034
PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN TINGKAT DI KECAMATAN PATIKRAJA KABUPATEN BANYUMAS (STUDI KOMPARATIF SMP NEGERI 1 DAN SMP NEGERI 2 PATIKRAJA)
Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia., untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan pendidikan sangat diperlukan dalam hal ini komite sekolah. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan membandingkan peran Komite Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di SMP Negeri 1 Patikraja dan SMP Negeri 2 Patikraja. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Patikraja dan SMP Negeri 2 Patikraja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, dengan teknik pemilihan informan purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukan Peran Komite sekolah di SMP Negeri 1 Patikraja dan SMP Negeri 2 Patikraja dalam meningkatkan mutu pendidikan telah menjalankan perannya sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. komite telah menjalankan perannya dilihat dari beberapa aspek yakni Pemberi Pertimbangan, Pemberi dukungan dan Pengawas.The education sector play an important role in improving of human resources. Therefore, the improving quality of education is a process that is integrated with the process of improving the quality of human resources. In order to get a quality education, the involvement of the society in managing the education is needed. The purpose of this study was to describe and compare the role of the School Committee to improve the quality of education in 1 State Junior High School Patikraja and 2 Junior High School Patikraja. The research was conducted in 1 State Junior High School Patikraja and 2 Junior High School Patikraja. The method used in this research is descriptive qualitative method with purposive sampling technique informant election. The results indicate the Role of School Committee in 1 State Junior High School Patikraja and 2 Junior High School Patikraja in improving the quality of education has done its role according to the Government Regulation No. 17 Year 2010 on the Management and Operation of Education. the committee conducted its role are seen from some aspects such as Consideration, Support and Supervisor.
1510418455F1A012018Kejahatan Jalanan di Metropolitan (Studi Kasus Mengenai Fenomena Perampasan Sadis “Begal” di Kecamatan Duren Sawit, Kota Jakarta Timur)Wilayah Kecamatan Duren Sawit merupakan daerah yang sangat strategis bagi tindak aksi kejahatan terutama kasus pembegalan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih dalam mengenai proses yang dilakukan pelaku dalam memilih korban dan reaksi masyarakat Duren Sawit terhadap kasus “begal” serta tindakan dari kepolisian dalam meminimalisir kasus begal. Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin kesimpulan. Pertama, dalam proses pemilihan korban, pelaku pembegalan mempertimbangkan empat dimensi, antara lain dimensi penampilan, dimensi waktu, dimensi tempat, dan dimensi cara pembegalan. Kedua, masyarakat Kecamatan Duren Sawit cenderung melihat fenomena “begal” sebagai wujud lemahnya peran pihak kepolisian dalam menjaga keamanan lingkungan dan kurangnya perhatian pemerintah dalam memberikan penerangan terhadap area jalan yang rawan pembegalan. Kedua hal tersebut memunculkan reaksi dari masyarakat untuk menghakimi secara sepihak pelaku pembegalan. Ketiga, sebagai wujud tindakan untuk mencegah dan meminimalisir kejahatan pembegalan, kepolisian Duren Sawit melakukan upaya preventif berupa mengadakan patroli rutin di beberapa titik rawan pembegalan dan mengadakan penyuluhan kepada masyarakat terkait keamanan lingkungan melalui Binmas. Sementara itu, upaya represif yang dilakukan kepolisian Duren Sawit selanjutnya adalah dengan memasukan para pelaku pembegalan ke dalam rumah tahanan dan mengukum para pelaku sesuai dengan putusan peradilan. Setelah itu, para pelaku pembegalan dibina oleh Lembaga Pemasyarakatan agar setelah bebas dapat diterima oleh masyarakat, dan tidak mengulangi perbuatannya.Duren Sawit District is a very strategic area for criminal acts, especially cases of hijacking. This is what drew the attention of researchers to reveal and explore more about the process by the perpetrators in selecting victims and public reaction Duren Sawit against cases of "begal" as well as action from the police in minimizing cases begal. The results show some points of conclusion. First, in the process of selecting victims, perpetrators consider four dimensions, such as appearance dimension, time dimension, place dimension, and dimension of the way of hijacking. Secondly, the people of Kecamatan Duren Sawit tend to see the phenomenon of "begal" as a form of weakness of the role of the police in maintaining environmental security and the lack of government attention in providing illumination to hazard-prone road areas. Both of these lead to a reaction from the public to judge unilaterally the perpetrator of the law. Third, as a form of action to prevent and minimize the crime of hijacking, the police of Duren Sawit make preventive efforts in the form of routine patrols at some point prone to the hijacking and providing counseling to the community related to environmental security through Binmas. Meanwhile, repressive efforts by the police of Duren Sawit next is to include the perpetrators of prison into the prison and punish the perpetrators in accordance with the judicial decision. After that, the perpetrators of the prisoners are fostered by the Penitentiary so that once freely acceptable to the community, and not repeat his actions.
1510518405H1K011005KELIMPAHAN KERANG BULU (Anadara antiquata) DI PERAIRAN PANTAI UTARA BREBES, JAWA TENGAH Kerang bulu (Anadara antiquata) merupakan salah satu jenis kerang yang bernilai ekonomis penting dan digemari masyarakat. Penangkapan kerang ini berlangsung terus menerus dan ada indikasi lebih tangkap, selain itu keberadaan kerang juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan kerang bulu (Anadara antiquata) di Perairan Pantai Utara Brebes Jawa Tengah. Penelitian dilakukan pada bulan Desember dengan metode survey. Pembagian Stasiun penelitian ditentukan secara purposif sampling berdasarkan pada intensitas penangkapan. Parameter yang diukur meliputi kelimpahan dan faktor fisika kimia perairan yaitu DO, pH, salinitas, suhu, dan substrat. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan A.antiquata berkisar antara 0 – 14 individu/ 100 m2. Faktor fisika kimia yang paling berpengaruh terhadap kelimpahan adalah substrat dan salinitas.

Cockle Anadara antiquata is the one of the shellfish that has high economic value and many people like it. Cockle catching has been going countinously and over fishing is indicated. Furthermore, the cookle life is influenced by environmental factors. The aim of this study was to know Anadara antiquata abundance in northern coastal of Brebes. This study used survey method, the stations were determined by purposive sampling based on catching intensity. Environmental factor were measured like are Dissolved oxygen (DO), pH, salinity, temperature, and substrate. Multiple regression analysed by analyze data. The result of this study showed that A.antiquata abundance about 0 – 14 individual/100 m2. The most influential environmental factor to Anadara antiquata abundance were substrate and salinity.
1510618406B1J012068STRUKTUR MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS SISTEM URINARIA PADA ULAR WELANG (Bungarus fasciatus) DAN ULAR PELANGI (Xenopeltis unicolor)Ular dapat digolongkan ke dalam beberapa kelompok berdasarkan habitatnya, antara lain ular terrestrial yang hidup di tanah atau daratan, ular akuatik yang hidup di daerah perairan, ular fossorial yang hidup di dalam tanah, dan ular arboreal yang hidup di pohon. Setiap habitat memiliki karakteristik lingkungan yang berbeda, sehingga ular perlu beradaptasi terhadap habitat tersebut, baik secara anatomi, fisiologi, maupun perilaku. Perbedaan habitat pada ular menimbulkan perbedaan pada sistem urinarianya. Perbedaan habitat juga menyebabkan perbedaan pemrosesan material yang akan dieskresikan. Organisme terrestrial perlu mempertahankan air dalam tubuh secara efisien sedangkan organisme akuatik perlu mengatur masuknya air. Pada penelitian ini dikaji struktur makroskopis dan mikroskopis ular Welang (Bungarus fasciatus), yang mewakili ular terrestrial, dan ular Pelangi (Xenopeltis unicolor), yang mewakili ular semiakuatik.
Penelitian ini menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara purposive random sampling. Sampel diambil di area persawahan di sebelah timur Kampus Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Organ urinaria B. fasciatus dan -X. unicolor dievaluasi dengan pembuatan preparat mikroskopis menggunakan metode parafin dan pewarnaan Haematoxylin-Eosin. Data penelitian berupa gambaran makroskopis dan mikroskopis sistem urinaria, meliputi ginjal dan ureter, dianalisis secara deskriptif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ginjal B. fasciatus dan X. unicolor terletak di rongga coelom bagian posterior. Struktur makroskopis ginjal pada kedua ular tersebut serupa yakni berbentuk memanjang, berlobus, berwarna merah kecoklatan, dan memiliki permukaan halus. Struktur mikroskopis ginjal terdiri atas Kapsula Bowman, glomerulus, Bowman’s Space, tubulus proksimal, tubulus distalis dan Sex Segment Kidney (SSK). Ureter B.fasciatus dan X. unicolor menyatu dengan ginjal bagian posterior dan memanjang ke arah kaudal. Ureter B. fasciatus dan X. unicolor berbentuk memanjang dan berwarna putih kemerahan. Struktur mikroskopis ureter terdiri atas komponen lapisan epitel yang membatasi lumen, lamina propria, lamina muskularis dan lumen.
Snakes can be classified into several groups based on their habitats. There are terrestrial snakes that live on the soil or land, aquatic snakes that live in waters, fossorial snakes that live underground, and arboreal snakes that live in trees. Each habitat has different environment characteristics, so that snakes need to adapt to these habitats anatomically, physiologically and behaviorally. The difference of snake habitats may lead to the difference of the material excretion process and the urinary system, which includes ren, ureter, and cloaca. Terrestrial organisms need to retain water inside the body efficiently, while aquatic organism need to regulate the entry of water. This study evaluated the macroscopic and microscopic structre and of Banded Kraits snake (Bungarus fasciatus) that represents terrestrial snake, and Sunbeam Snake (Xenopeltis unicolor), that represents semiaquatic snake.
This study used survey method with purposive random sampling technique. The snakes were widly captured from the rice fields on the eastern part of the Biology Faculty campus, Jenderal Soedirman University. Urinary organs of B. fasciatus and X. unicolor were prepared histologically with paraffin method and stained with Hematoxylin-Eosin (HE). Data of the macroscopic and microscopic structures of urinary system were analyzed descriptively, included the photo micrograph.
The results of this study indicated that the rens of B. fasciatus and X. unicolor were located in the caudal coelomic cavity, with the right ren situated more cranial than the left ren. Ren morphology of these snakes were similar, which were elongated, lobulated, with red-brown color and smooth texture. The microscopic structure of ren was consisted of Bowman’s Capsule, glomerulus, Bowman’s Space, proximal tubules, distal tubules and Sex Segment Kidney. The ureters of these snakes fused with the posterior part of the rens and caudally elongated. The ureters of B. fasciatus and X. unicolor were elongated with reddish-white color. The microscopic structure of ureters were consisted of epithelia that lined on the edge of lumen, lamina propria, lamina muscularis and lumen.
1510718407G1H012037HUBUNGAN PENGGUNAAN KONTRASEPSI TERHADAP PENINGKATAN BERAT BADAN PADA PENGGUNA KONTRASEPSI SUNTIK (ANALISIS DATA SEKUNDER DI PUSKESMAS 1 PURWOKERTO UTARA)Latar Belakang : Keluarga Berencana Nasional merupakan program pemeritah yang mempunyai andil dalam mengatur pertumbuhan penduduk. Salah satu yang memberikan andil yang cukup besar pada Keberhasilan Keluarga Berencana Nasional adalah kontrasepsi suntik. Efek samping kontrasepsi suntik yang paling tinggi frekuensinya adalah peningkatan berat badan . Faktor- faktor yang mempengaruhi peningkatan berat badan dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan ekternal.
Tujuan penelitian : Untuk mengetahui hubungan penggunaan kontrasepsi terhadap peningkatan berat badan pada pengguna kontrasepsi suntik.
Metodologi Penelitian : Desain penelitian cross sectional. Responden pada penelitian ini merupakan total populasi yang memenuhi kriteria insklusi, yaitu 31 akseptor di Puskesmas 1 Purwokerto Utara. Sumber data yaitu data sekunder. Data dianalisis menggunakan uji chi square
Hasil : Dalam tabulasi silang terdapat peningkatan berat badan 1-5kg dan >5 kg. Pada lama penggunaan <1 tahun terdapat 4 orang akseptor yang mengalami peningkatan berat badan 1-5kg, dan pada lama penggunaan ≥ 1 tahun terdapat 15 akseptor yang mengalami peningkatan berat badan >5 kg. Seorang akseptor dengan umur menggunakan < 20 tahun mengalami peningkatan berat badan >5 kg. Akseptor dengan umur 20-35 tahun sebanyak 17 orang mengalami peningkatan berat badan >5 kg. Akan tetapi, setelah diuji dengan uji Chi-Square, didapatkan nilai Fisher Exact p = 0.413 lebih kecil dari nilai α (5%) yang berarti tidak ada hubungan antara lama penggunaan kontrasepsi suntik dengan kejadian peningkatan berat badan pada pengguna kontrasepsi suntik. Hasil uji Chi-Square didapatkan nilai Fisher Exact p = 1.000 lebih kecil dari nilai α (5%) yang berarti tidak ada hubungan antara umur saat menggunakan kontrasepsi suntik dengan kejadian peningkatan berat badan pada pengguna kontrasepsi suntik.
Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan penggunaan kontrasepsi terhadap peningkatan berat badan pada pengguna kontrasepsi suntik.
Kata Kunci : kontrasepsi suntik, peningkatan berat badan , lama penggunaan, umur penggunaan
Background : National Family Planning is a government program that has a stake in regulating population growth.One big influence on the success of the National Family Planning is contraceptive injection. The side effects of contraceptive injection highest frequency is increased weight. The factors that influence weight gain is divided into two, namely internal and external factors.
Objective : To determine the relationship of contraceptive use against weight gain on the contraceptive injection.
Methods : research design is Cross Sectional. The respondent are total population who are fulfill inclusion criteria, consist of 31 (thirty-one) contraceptive injection users in Puskesmas 1 Purwokerto Utara. Source documents are secondary documents. Data has been analyzed by Chi Square test.
Result : In cross tabulation there is weight gain 1-5kg and> 5 kg. In the long use <1 year there are 4 acceptor people who gain 1-5 kg weight, and on the long use of ≥ 1 year there are 15 acceptors who have weight gain> 5 kg. An acceptor with age <20 years of age has weight gain> 5 kg. Acceptor with age 20-35 years as many as 17 people have weight gain> 5 kg. However, after being tested with Chi-Square test results obtained Fisher Exact value p = 0.413 is smaller than the value of α (5%) which means there is no relationship between the use of injectable contraception with the incidence of weight gain in injecting contraceptive users. Chi-Square test results obtained Fisher Exact value p = 1,000 smaller than the value of α (5%) which means there is no relationship between age when using injecting contraception with the incidence of weight gain in injecting contraceptive users.
Conclusion : There was no relationship contraceptive use against weight gain on the contraceptive injection.
Keywords : contraceptive injection, weight gain, duration use, age of use
1510818404F1D012030PERJUANGAN KOMISI NASIONAL ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN (KOMNAS PEREMPUAN) DALAM PENGAJUAN USUL RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGHAPUSAN KEKERASAN SEKSUAL TAHUN 2014-2015Penelitian ini bertujuan antara lain sebagai berikut: 1) memahami dan menjelaskan perjuangan Komnas Perempuan dalam pengajuan usul Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual tahun 2014-2015; 2) Mengetahui dan menjelaskan faktor-faktor apa saja yang mendorong dan menghambat perjuangan Komnas Perempuan dalam pengajuan usul Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual tahun 2014-2015. Penelitian ini dilandasi oleh perspektif institusionalisme baru dan paradigma nonpositivisme khususnya konstruktivisme. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan pendekatan fenomenologi, serta studi lapangan sebagai jenis penelitiannya.
Sampai pada tahun 2015, perjuangan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dalam mengajukan usul Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU KS) belum berhasil. Perjuangan tersebut dibatasi pada beberapa bentuk perjuangan yang menunjang agar RUU tersebut berhasil masuk pada pembahasan Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat (Baleg DPR). Adapun bentuk perjuangan tersebut, antara lain: 1) melakukan kampanye bersama masyarakat; 2) menggali konstruksi hukum; 3) melakukan advokasi kepada legislatif terpilih periode 2014-2019; 4) membuat draft Naskah Akademik dan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Dalam menjalankan strateginya, faktor pendorong perjuangan tersebut adalah dukungan dari masyarakat. Sedangkan faktor penghambatnya adalah Pergantian Kepemimpinan Nasional dan antrian panjang di Dewan Perwakilan Rakyat.
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa perjuangan Komnas Perempuan dalam pengajuan usul RUU KS tidaklah mudah. Karena, hingga akhir tahun 2015 BALEG belum melihat urgensi hadirnya RUU tersebut yang dibuktikan dengan diletakannya RUU KS sebagai longlist untuk Prolegnas 2015-2019 pada urutan 167 atau berada di urutan ketiga dari terakhir. Dengan demikian, perjuangan Komnas Perempuan dalam pengajuan usul Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual tahun 2014-2015 tidak selalu berjalan mulus.
The main purpose of this research is to comprehend and defining Komnas Perempuan (National Women Commission) struggle to propound an abolishment of the sexual violence law draft in 2014–2015. And also, to comprehend and defining the both sides of factors, the factors that hindering and the factors that encouraging the struggle to propound an abolishment of the sexual violence law draft in 2014–2015. This research will be based on new institutionalism perspective and a non-positivism paradigm. In particular, this research will be based on constructivist paradigm. The methods used in this research are qualitative method with a phenomenology approach. This research also using field study as the type of the research.
Until 2015, the Komnas Perempuan struggle to propound a abolishment of the sexual violence law draft is not success yet. Those struggle were implemented thus the sexual abolishment law draft could pass the Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives Legislation Council). Therefore, those strategies were divided into four main strategy, those strategies are: 1) Making a communal campaign; 2) Discovering the law construction; 3) Advocating the 2014–2019 elected legislature; 4) Making an academic paper draft and an abolishment of the sexual violence law draft. To execute those strategies, the main encouraging factor is based on the support from the people whereas the main hindering factor of the strategies is the transformation of the national leadership as well as the long queues at the House of Representatives.
The conclusion from this research is attesting that the struggle from the Komnas Perempuan in propounding an abolishment of the sexual violence law draft was not easy. The struggle wasn’t easy because until the end of 2015, the House of Representatives Legislation Council didn’t saw the law draft’s urgency. This was proven when the law draft was treated as a longlist in the 2015–2019 Program Legislasi Nasional (National Legislation Program) and ranked in rank 167, or in a third sequence from the bottom of the list. Therefore, this research could conclude that the struggle of the Komnas Perempuan to propound an abolishment of the sexual violence law draft in 2014–2015 was not having a straight and easy way.
1510918408G1D013011Pengaruh Poster Terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu dalam Penanganan Balita Diare di Wilayah Kerja Puskesmas I Ajibarang PENGARUH POSTER TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DALAM PENANGANAN BALITA DAIRE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS I AJIBARANG KECAMATAN AJIBARANG
KABUPATEN BANYUMAS
Siti Khikbayani1Dian Susmarini2 Mekar Dwi Anggraini3


Abstrak

Latar Belakang: Diare merupakan penyebab utama kematian pada balita di Indonesia. Faktor yang paling dominan terhadap kejadian diare pada balita adalah tingkat pengetahuan dan sikap ibu. Pendidikan kesehatan menggunakan media poster adalah salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu terhadap penanganan diare.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh poster terhadap pengetahuan dan sikap ibu dalam penanganan balita diare di wilayah kerja Puskesmas I Ajibarang.

Metodologi: Penelitian ini menggunakan quasy experiment dengan racangan pre test and post test with control group design. Teknik pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling sebanyak 37 responden pada setiap kelompok. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan dan sikap penanganan balita diare. Data pengetahuan dianalisis dengan uji wilcoxon, mann-whitney dan data sikap dianalisis menggunakan uji t berpasangan dan uji t tidak berpasangan.

Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan (p=0,000) dan sikap (p=0,000) setelah diberikan poster pada kelompok intervensi. Sedangkan pada kelompok kontrol menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pengetahuan (p=0,216), tetapi terdapat perbedaan sikap yang signifikan (p=0,000) setelah diberikan intervensi.

Kesimpulan : Pemberian poster dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap dalam penanganan balita diare di Wilayah Kerja Puskesmas I Ajibarang.
THE EFFECT OF HEALTH PROMOTION USING POSTER ON THE MOTHER’S KNOWLEDGE AND ATTITUDE TOWARD CHILDREN’S DIARRHEA MANAGEMENT AT PRIMARY HEALTH CENTER 1 AJIBARANG
Siti Khikbayani 1 Dian Susmarini 2 Mekar Dwi Anggraeni3


Abstract

Background: Diarrhea is the major cause of death in children under five in Indonesia. The most dominant factor on the incidence of diarrhea in children is mother's level of knowledge and attitude. Health education using poster may enhance mother’s knowledge and attitude toward diarrhea management.
Purpose: The purpose of this study was to identify the effect of poster on the mother’s knowledge and attitude toward children’s diarrhea management at primary health center 1 Ajibarang.
Methods: This study used a quasy-experiment pre and post test with control group design. The study used consecutive sampling method. This study recruited 37 respondents in each group. The instrument used to measure the knowledge and attitude toward diarrhea management. The data was analized using the wilcoxon, mann-whitney and dependent t test, independent t test.
Results: The result showed that there were a difference in knowledge (p=0.000) and attitude (p=0.000) after being provided a poster in the intervention group. While the control group showed that there was no difference in knowledge (p=0.216), but there are significant difference in attitude (p=0.000) after the intervention.
Conclusion: Health education using poster can improve mother’s knowledge and attitude toward diarrhea management in children under five at primary health center 1 Ajibarang.
1511018410F1B012048Efektivitas Program Keluarga Harapan di Kecamatan Sumbang Kabupaten BanyumasProgram Keluarga Harapan merupakan program bantuan tunai bersyarat yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam rangka penanggulangan kemiskinan berbasis keluarga. Program Keluarga Harapan dilaksanakan di Kabupaten Banyumas pada tahun 2003. Tujuan jangka panjang dari program ini antara lain adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tergolong miskin. Namun, hingga saat ini di Kabupaten Banyumas masih terdapat kecamatan dengan angka kemiskinan yang tinggi yaitu Kecamatan Sumbang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis efektivitas Program Keluarga Harapan di Kecamatan Sumbang. Peneitian ini dilakukan di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif, dengan teknik pengambilan sampel Cluster Proportionate Sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, seluruh dimensi yaitu dimensi Pencapaian Tujuan, Integrasi, dan Adaptasi berada pada kategori sangat efektif. Dimensi yang memberikan kontribusi persentase tertinggi adalah Pencapaian Tujuan sebesar 84,4% sedangkan dimensi Integrasi 83,4% dan Adaptasi 82,9%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, kesimpulan pelayanan di Kecamatan Sumbang termasuk pada kategori sangat efektif, dimana indikator yang perlu diperbaiki dengan perolehan nilai rata-rata terendah ialah indikator ketepatan sasaran bantuan , pengembangan konsensus dan komunikasi dan pengisian tenaga kerja.Program Keluarga Harapan is a conditional cash transfer program undertaken by the Indonesian government in the context of family-based poverty reduction. Program Keluarga Harapan was implemented in Banyumas District in 2003. The long-term goal of the program is to improve the welfare of the poor. However, up to now in Banyumas Regency there are still sub-districts with high poverty rate that is Sumbang. The purpose of this research is to describe and analyze the effectiveness of Program Keluarga Harapan in Sumbang. This research was conducted in Sumbang Sub-district of Banyumas Regency. The method used in this research is descriptive quantitative method, with Cluster Proportionate Sampling sampling technique. The results showed that, all dimensions of the Goal Achievement, Integration, and Adaptation dimensions are in very effective category. Dimensions that contribute the highest percentage are Goal Achievement of 84.4% while the Integration dimension is 83.4% and Adaptation 82.9%. Based on the results of the research, the conclusion of service in Sumbang is included in very effective category, where the indicators that need to be improved with the lowest average value is the indicator of the accuracy of aid targets, the development of consensus and communication and the filling of the workforce.
1511118409B1J013090Deteksi Virus Penyebab Infeksi Saluran Pernafasan dari Kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut di Rumah Sakit tahun 2016Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang saluran nafas yang ditandai dengan gejala klinis dan berlangsung hingga 14 hari. Penyebab utama ISPA adalah virus. Infeksi virus di saluran pernafasan dapat mengakibatkan komplikasi mencapai derajat ISPA berat atau Severe Acute Respiratory Infection (SARI). Pasien SARI memiliki kriteria inklusi yaitu demam ≥ 38oC, batuk dengan onset demam tidak lebih dari 10 hari dan dirawat di rumah sakit. Angka kasus rawat inap pasien SARI di Indonesia masih tergolong tinggi karena beberapa alasan, pertama sulitnya menentukan manifestasi klinis yang spesifik dari pasien dan kedua, banyak virus penyebab infeksi saluran nafas yang dapat menimbulkan gejala yang hampir mirip. Surveilans SARI Indonesia terus melakukan pemantauan untuk melihat pola etiologi dari kasus SARI di berbagai daerah, namun sampai sekarang belum ada karakteristik yang dapat mewakili seluruh kasus di Indonesia. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui jenis dan positivitas masing-masing virus saluran pernafasan dari kasus SARI di Rumah Sakit tahun 2016. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif berbentuk cross sectional. Sampel yang digunakan adalah swab hidung dan tenggorok dari 30 pasien SARI di tiga Rumah Sakit Sentinel di tiga kota yaitu Medan, Yogyakarta, dan Balikpapan periode Agustus-September 2016, yang dikirim ke Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sri Oemijati, Pusat BTDK, Jakarta. Deteksi virus saluran nafas ini dilakukan dengan teknik multiplex Real-time RT-PCR. Panel pemeriksaan diujikan untuk 21 macam virus. Dari 30 sampel yang diujikan, hasil penelitian menunjukkan bahwa 17 (56,67%) sampel positif mengandung setidaknya satu virus, termasuk tiga sampel diantaranya merupakan kasus koinfeksi. Jenis virus yang terdeteksi meliputi Influenza B, Human Rhinovirus, Human Coronavirus-OC43 dan NL63, Human Parainfluenza Virus 1 dan 2, Human Metapneumovirus dan Human Adenovirus. Human Metapneumovirus (21,2%) adalah virus yang paling banyak terdeteksi. Hasil pemeriksaan ini sangat dipengaruhi oleh waktu pengoleksian sampel. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat menginvestigasi asosiasi antara virus dan manifestasi klinis yang ditimbulkan serta data penunjang lainnya seperti umur, riwayat penyakit, dll.Acute Respiratory Infection (ARI) is an acute infection disease that attacks respiratory tract with some clinical symptoms and it occurs for 14 days. The major cause of ARI are viruses. Virus infections in respiratory tract can lead to a complication which cause Severe Acute Respiratory Infection (SARI). SARI patients have some inclusion criteria including fever with temperature ≥ 38oC, cough with fever onset is not more than 10 days, and hospitalized. The hospitalization cases of SARI patients in Indonesia is still high because of some reasons, first it is difficult to determine specific clinical manifestation among patients and second, there are many viruses that can cause respiratory infection with overlap symptomps. SARI Surveillance of Indonesia has been doing a monitoring to evaluate etiological pattern of SARI cases in many regions, but there has been no characteristic that can represent all cases in Indonesia. Therefore, the aims of this study were to know the kind and positivity of each respiratory virus from SARI cases in hospital 2016. This research designed by a descriptive research with cross sectional study. The samples were nose and throat swabs from 30 SARI patients in three sentinel hospital in three cities, Medan, Yogyakarta, and Balikpapan in August-September 2016 which sent to the Laboratory of Research on Infectious Diseases Prof. Dr. Sri Oemijati, Center of Biomedics and Basic Technology of Health, Jakarta. The detection of respiratory virus was determined by multiplex Real-time RT-PCR technique. The panel of multiplex assay targeted 21 viruses. A set of 30 samples were tested, and the results showed that 17 (56,67%) samples were positive contained at least for one virus, including three samples were coinfention cases. The kind of viruses that detected in this study were Influenza B, Human Rhinovirus, Human Coronavirus-OC43 and NL63, Human Parainfluenza Virus 1 and 2, Human Metapneumovirus and Human Adenovirus. Human Metapneumovirus (21,2%) was the most commonly detected virus. These results are strongly affected by the time of sample collection. Further studies should investigate causal associations between viruses and clinical features and also other data such as age, the history of disease, and etc.
1511218411F1D011002KEKERASAN ETNIS TIONGHOA DI INDONESIA : Identitas dan Stigma
Penelitian ini membahas bagaimana kekerasan etnis Tionghoa di Indonesia tidak berdiri sendiri, namun ada faktor-faktor historis yang menjadikan etnis Tionghoa di Indonesia menjadi sasaran kekerasan masyarakat Pribumi. Kekerasan pada etnis Tionghoa di Indonesia seolah telah menjadi budaya, karena adanya pemberian identitas dan stigma negatif dari Pribumi. Stigma dan identitas tersebut secara turun temurun terus berkembang dan menjadikan etnis Tionghoa di Indonesia menjadi kaum subaltern. Peran stigma dan identitas etnis Tionghoa sebagai pemicu utama kekerasn terhadapnya yang berjalan terus menerus, dalam konsep teori kekerasan Galtung, kasus ini masuk ke dalam kategori kekerasan kultural, karena menjadikan stigma tentang identitas mulai dari budaya, agama dan pengetahuan etnis Tionghoa di Indonesia sebagai alat melegitimasi dalam melakukan kekerasan.This research discusses how ethnic Chinese violence in Indonesia did not stand alone, but there are historical factors that make ethnic Chinese in Indonesia a target of Pribumi violenced. Violence on ethnic Chinese in Indonesia seems to have become a culture, because of the provision of identity and negative stigma from the Indigenous. Stigma and identity is hereditary continues to grow and make Chinese ethnic in Indonesia into subaltern. The role of stigma and ethnic identity of the Chinese as the main trigger of violence against it that goes on and on, in the concept of Galtung violence theory, this case fall into the category of cultural violence, because it makes the stigma about identity from Chinese culture, religion and ethnic knowledge in Indonesia as a means of legitimizing In violence.
1511318412B1J012200DIVERSITAS FORAMINIFERA BERDASARKAN JENIS SEDIMEN PADA KEDALAMAN LAPISAN SEDIMEN CORE STASIUN 10 DI LAUT SULAWESILaut Sulawesi terletak di bagian utara Pulau yang mempunyai karakter geologis dan oseanografi fisik dan kimia yang unik karena adanya Arus Perlintasan Indonesia (Arlindo). Arlindo menyebabkan Laut Sulawesi menyimpan biodiversitas makrobentos yang tinggi. Namun masih banyak keragaman jenis yang belum diketahui. Spesies yang menarik untuk dipelajari adalah foraminifera. Foraminifera merupakan salah satu ordo dari Protozoa yang bersel tunggal dan hidup pada lingkungan perairan. Jenis sedimen dapat mempengaruhi banyaknya foraminifera yang hidup pada sedimen tersebut.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis sedimen, diversitas foraminifera, dan pengaruh jenis sedimen terhadap diversitas foraminifera pada core Stasiun 10 di Laut Sulawesi. Sampel Stasiun 10 diperoleh dari sediaan sampel EWIN 2014 yang diperoleh pada Garis Bujur 119o 28.723’ dan Garis Lintang 01o 41.346’ di Laut Sulawesi pada kedalaman perairan 3.025 m. Pengambilan sampel diketahui dilakukan dengan teknik coring menggunakan gravity corer pada Stasiun 10 di Laut Sulawesi. Sampel yang diperoleh pada core Stasiun 10 sepanjang 2,83 m. Metode yang digunakan adalah metode observasi naturalistik, yaitu mengamati objek dalam kondisi alami dan dipadukan dengan metode deskripsi kuantitatif. Tahap awal penelitian yaitu preparasi sedimen core Stasiun 10 kemudian analisis foraminifera dalam sedimen core Stasiun 10. Analisis jenis sedimen dengan analisis granulometri menunjukkan jenis sedimen pasir halus dan lempung pasiran yang mendominasi pada tiap urutan kedalaman sedimen di Stasiun 10. Nilai indeks diversitas atau keanekaragaman foraminifera planktonik pada core Stasiun 10 di Laut Sulawesi ini berkisar antara 1,800 sampai 2,690 dan indeks diversitas atau keanekaragaman foraminifera bentonik pada core Stasiun 10 di Laut Sulawesi ini berkisar antara 0,091 sampai 2,298. Analisis pengaruh hubungan jenis sedimen terhadap diversitas ini menggunakan Korelasi Regresi Berganda dengan software SPSS 16 yang menunjukkan hasil bahwa tidak terdapat pengaruh antara jenis sedimen terhadap diversitas foraminifera planktonik dan terdapat pengaruh jenis sedimen lempung terhadap diversitas foraminifera bentonik pada core Stasiun 10 di Laut Sulawesi.
Celebes Sea is located on the northern side of Celebes Island. Geological characteristics and physicochemical oceanographic of Celebes Sea is unique due to Indonesian Throughflow (ITF). ITF contributes to high macrobenthos biodiversity in Celebes Sea. However, diversity has not been studied. One of the most interesting organisms to study is foraminifera. Foraminifera are unicellular aquatic organisms which belong to the order Protozoa. Sedimen type is known to affect foraminiferal abundance in the sediment.
This study aims to determine sediment type, foraminiferal diversity and sediment type influence on the diversity of foraminifera of core Station 10 in Celebes Sea. Latitude and longitude of Station 10 is 01o 41.346’ N and 119o 28.723’ E. Samples were collected in Station 10 of Celebes Sea at 3,025 m depth using a gravity corer. The collected sample of Station 10 is 1.8 m in length. Naturalistic observation, which is done by observing an object in its natural state combined with quantitative descriptive method, is adopted. This study is proceeded by sediment preparation which then followed by foraminiferal analysis.
Granulometric analysis determined fine sand and sandy loam as the dominant sediment types of core Station 10 depths. Diversity index of planktonic foraminifera range from 1.800-2.690, whereas diversity of benthic foraminifera range from 0.091-2.298. Spearman Bivariate Correlation Analysis using SPSS 16 revealed association between sediment type and benthic foraminiferal diversity of core Station 10. On the other hand, the results revealed no association between sediment type and planktonic foraminiferal diversity of core Station 10 in Celebes Sea.
1511418413F1I013050Peran Uni Eropa dalam Penyelesaian Krisis Yunani 2010-2011Krisis finansial merupakan masalah krusial dalam sektor ekonomi, Hal tersebut tidak hanya berdampak secara domestik, tetapi juga secara internasional. Krisis yang sedang terjadi di Yuniani merupakan satu dari banyak krisis yang dapat mencederai ekonomi Internasional, khususnya di Eurozone. Uni Eropa sebagai sebuah bentuk integrasi wilayah dan organisasi supranasional di Eropa harus mengambil tindakan untuk menghentikan krisis di Yunani dan mencegah hal tersebut untuk menyebar ke negara Uni Eropa yang lain.Financial crisis is a crucial problem in economy sector. It does not only bring negative impact in domestic but also international sector. The ongoing crisis in Greece is one of the many examples of crisis that can harm international economy, especially in Eurozone. European Union as a form of regions integration and supranational organization in Europe region has to take actions to stop the crisis in Greece and prevent it to spreading among European Union member states
1511518414H1K012044POTENSI TERIPANG Holothuria leucospilota DAN Holothuria atra SEBAGAI SUMBER KONDROITIN SULFAT Teripang merupakan salah satu sumber penghasil kondroitin sulfat. Kondroitin sulfat dari teripang dapat menyembuhkan berbagai penyakit, terutama kemampuannya dalam regenerasi sel pada pembentukan sendi. Kondroitin sulfat yang bersumber dari organisme telah dianjurkan untuk pengobatan penderita osteoarthritis karena merupakan pilihan yang aman dan efektif serta tidak menimbulkan efek samping pada tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi teripang Holothuria leucospilota dan Holothuria atra sebagai sumber kondroitin sulfat. Tahapan dalam penelitian ini meliputi persiapan penelitian, ekstraksi, dialisa, deproteinasi dan analisis kadar kondroitin sulfat. Analisis kondroitin sulfat dilakukan dengan menggunakan Ultra Fast Liquid Chromatography (UFLC). Persentase kadar kondroitin sulfat pada teripang H. leucospilota lebih tinggi (44,62 %) dibandingkan dengan H. atra (41,59 %). Berdasarkan hasil tersebut bahwa H. leucospilota dan H. atra berpotensi sebagai sumber kondroitin sulfat untuk kepentingan medis karena memiliki kadar lebih dari 40 %. Sea cucumbers are well known as the one of chondroitin sulphate sources. Chondroitin sulphate from sea cucumbers can heal some diseases, especially its ability in cell regeneration for hinge formation. Chondroitin sulphate which is originated from organism is recommended for osteoarthritis healing because of save and effective and doesn’t caused side effects in the body. The research was aimed to study the potential of sea cucumbers Holothuria leucospilota and Holothuria atra as chondroitin sulphate source. The methods in this research were preparation, extraction, dialysis, deproteination and analysis of chondroitin sulphate. Analysis of chondroitin sulphate was done using Ultra Fast Liquid Chromatography (UFLC. Percentage of chondroitin sulphate for levels H. leucospilota higher (43,19 %) than H. atra (41,59 %). According to those data that H. leucospilota and H. atra have been potentially as chondroitin sulphate’s sources for medical treatment because they had more than 40 % chondroitin sulphate.
1511618415I1F015048Penggunaan Complementary Alternative Medicine pada passem dengan Chronic Kidney DiseaseFAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN CAM PADA PASIEN CKD DENGAN HD DI RSUD Prof. Dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

Didik Ujianto, Saryono, Sidik Awaludin
ABSTRAK
Latar Belakang: Pasien dengan Chronic Kidney Disease harus menjalani Hemodialisis rutin untuk mempertahankan hidupnya. Meskipun sudah menjalaninya pasien masih merasakan keluhan dan gejala seperti lemah, sukar tidur, kelelahan dan depresi. Oleh karena itu pasien biasanya mencari pemecahan masalah, salah satunya menggunakan Complementary Alternative Medicine (CAM).
Tujuan : Untuk mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan penggunaan CAM pada pasien CKD yang menjalani HD rutin di Instalasi Dialisis RSUD Margono Soekarjo Purwokerto.
Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif korelasional mengadopsi National Health Interview Survey dengan pendekatan cross sectional. Teknik Sampling menggunakan simple randomized sampling technique dengan Taro Yamane. Formula untuk merekrut 65 responden dengan nilai alfa 0,1. Analisis hasil dilakukan dengan analisis univariat dan bivariat dengan Chi Square, Fisher Exact test.
Hasil: Dari 65 responden pada studi ini 55,4% adalah laki laki, 92,3% berstatus menikah, 70,6% tinggal di desa, 38,5% berpendidikan sekolah dasar, 61,5% berstatus bekerja, 50,8% berpenghasilan dibawah UMR, rerata umur 49, 14 tahun dan rerata lama dialisis 29,06 bulan. Proporsi penggunaan CAM pada studi ini adalah 53 orang (81,5%) dan herbal (72,6%) merupakan jenis CAM yang paling sering digunakan. Analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara riwayat penggunaan CAM sebelumnya (p value 0,000) dan status pekerjaan (p value 0,046) dengan penggunaan CAM. Namun, tidak ada hubungan yang signifikan antara umur, jenis kelamin, tempat tinggal, status pernikahan, pendidikan, dan lama dialisis dengan penggunaan CAM.
Kesimpulan: Penggunaan CAM pada pasien HD cukup tinggi dan herbal merupakan CAM yang paling sering digunakan serta ada pengaruh signifikan antara riwayat penggunaan CAM sebelumnya dan status pekerjaan dengan penggunaan CAM.

Kata kunci: CKD, Hemodialisis, penggunaan CAM, hubungan.
THE USE OF COMPLEMENTARY ALTERNATIVE MEDICINE AMONG PATIENTS WITH CHRONIC KIDNEY DISEASE

ABSTRACT

Didik Ujianto, Saryono, Sidik Awaludin

Background: Patients with Chronic Kidney Disease still experience various complaints & symptoms like fatigue, insomnia, malaise and depression though already on Maintenance Hemodialysis. Therefore, patients may look for alternative solutions like Complementary Alternative Medicine (CAM).

Objectives: This study aimed to obtain information on factors related to the use of CAM in patients with CKD who were on MHD.

Method: This study was a descriptive correlational cross sectional survey adopting National Health Interview Survey conducted in a public hospital in Central Java. A simple randomized sampling technique and Taro Yamane formula were used to recruit 65 respondents with p value 0.1. Descriptive analysis was performed using Chi Square & Fisher Exact Test.

Results: Out of 65 respondents, 55.4% were male, 92.3% married, 70.6% lived in countryside, 38.5% elementary school educated, 61.5% still working, 50.8% salaried under regional minimum wage. Age mean was 49.14 years old and lenght of dialysis mean 29.06 months. The proportion of CAM use was 81.5%) & herbal 72.6% was the most frequently used CAM in this study. Bivariat analysis showed that there were significant relationships between history of CAM use (p value 0.000) and working status (p value 0.046) with CAM use. On contrary, factors like age, sex, marital status, level of education, place of living, salary, lenght of dialysis were not significantly related with the use of CAM.

Conclusion: The use of CAM among patients CKD was relatively high and herbal was used at most. In addition, there were significant relationships between the history of CAM use and the status of working with the use of CAM.

Keywords: CKD, Hemodialysis, Use, CAM, Relationships.
1511718416A1H009061Kajian motivasi petani untuk menerapkan System of Rice Intensification (SRI) melalui metode Means End Chain (MEC) di Kelompok Tani Ngudi Mratani, Desa Piasakulon, Kecamatan Somagede, BanyumasKeberhasilan penerapan SRI sebagai inovasi baru dalam kegiatan budidaya padi memerlukan pengetahuan mengenai atribut, konsekuensi, dan nilai yang dimiliki dan ingin dicapai petani menggunakan analisis Means End Chain sebagai dasar untuk mengetahui motivasi petani dan respon terhadap penerapan sebuah inovasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang memotivasi petani untuk menerapkan SRI dan mengetahui kondisi sosial-demografi petani di Kelompok Tani Ngudi Mratani, Desa Piasakulon, Kecamatan Somagede. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Piasakulon, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas selama Oktober hingga November 2016. Penelitian ini merupakan penelitian survei terhadap 20 orang petani. Data diperoleh melalui wawancara laddering, selanjutnya dianalisis menggunakan analisis Means End Chain dengan tahapan coding, membuat implikasi matriks, membuat Hierarchical Value Map (HVM), dan interpretasi data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa topik-topik paling dominan yang menjadi alasan petani untuk menerapkan SRI dalam budidaya padi sawah meliputi hasil meningkat dan mencukupi kebutuhan keluarga. Nilai yang ingin dicapai dari penerapan SRI dalam budidaya padi sawah Kelompok Tani Ngudi Mratani yaitu ingin mencapai masa depan yang lebih baik. Responden penelitian memiliki rentang umur 29 – 73 tahun, yaitu 14 orang laki-laki dan 6 orang perempuan. Seluruh responden telah menikah dan mayoritas (75%) tinggal dalam keluarga inti dengan 4 orang tanggungan keluarga.


Kata kunci: SRI, padi, motivasi, petani, Means-end chain.
The successful implementation of SRI as new innovations in rice cultivation activities requires knowledge of farmer’s attributes, consequences and values to be achieved and owned, using Means End Chain analysis can be used as a basis to determine the farmers motivation and responses on implementing an innovation.
This research aimed to determine farmers’ motivation using System of Rice Intensification and determine farmers’ social-demographic factors in Ngudi Mratani farmers group.Research had been conducted in Piasakulon village of Somagede sub distric, Banyumas distric from October to November, 2016. The study was a survey research towards 20 farmers. The data were acquired from a laddering survey, and were analyzed by means-end chain analysis, included 4 steps, i.e. coding, implication matrix arrangement, designing Hierarchical Value Map (HVM), and data interpretation.
The result showed that dominants topic as the consequences from implementing SRI on lowland rice cultivation to increase production and to fulfill family needs. The value that they wanted to be achieved by SRI application was to achieve better life in the future. Respondent were ranged at 29 – 73 years old, included 14 males and 6 females. All respondents were married and (75%) of them lived with main family with 4 people responsibled.


Key-words: SRI, rice, motivation, farmers, Means-end chain
1511818418H1C013077PERANCANGAN SISTEM BERBASIS ADAPTIVE NEURO-FUZZY INFERENCE SYSTEM (ANFIS) UNTUK ESTIMASI MUTU BETON RINGAN Semakin berkembangnya jaman, pembangunan infrastruktur semakin berkembang. Salah satu komponen yang paling dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur adalah beton, khususnya beton ringan. Pentingnya peranan beton dalam pembangunan infrastruktur membuat kita harus memperhatikan mutu beton yang kita gunakan. Jika mutu beton tidak baik, maka dapat terjadi retak/patahan sehingga membahayakan keselamatan. Metode yang ada saat ini membutuhkan waktu sangat lama untuk mendapatkan hasil uji kekuatan beton, yaitu selama 28 hari. Jika dalam pengujian manual terjadi kesalahan, maka pengujian perlu dilakukan dari awal. Adaptive Neuro-Fuzzy Inference System (ANFIS) banyak digunakan untuk peramalan/prediksi dalam berbagai bidang ilmu di seluruh dunia karena terbukti pada banyak penelitian mampu menghasilkan estimasi yang cepat dan akurat, serta monitoring dalam quality control di industri. Maka, ANFIS diharapkan lebih efektif dan efisien mengestimasi mutu beton ringan, dengan input data nilai faktor air semen (FAS) beton ringan, serta data series beban saat n dan n+1, tegangan akibat beban n dan n+1, regangan akibat beban n dan n+1. Akan dibuat dua sistem dengan output data berupa nilai regangan akibat beban n+1 dan kuat tekan beton dalam satuan Mega Pascal [MPa] akibat beban n+1, sehingga diketahui mutu berdasarkan kekuatannya dalam menahan beban. Dengan variasi jumlah input membership function 2 dan 3, tipe membership function segitiga, trapesium, generalized bell, gauss, gauss2, phi, D-sigmoid, P-sigmoid, epoch 50 dan 75 untuk tiap sistem, maka dilakukan 64 percobaan. Sistem ANFIS paling akurat untuk mengestimasi mutu beton ringan dipilih berdasarkan nilai error pelatihan dan pengujian, serta Root Mean Square Error terkecil. Graphical User Interface pada MATLAB digunakan sebagai antarmuka sistem I dan II agar sistem dapat digunakan pengguna.As the time goes by, the infrastructure develops. One of the most common and important components needed for infrastructure development is concrete, especially lightweight concrete. Therefore, the quality of lightweight concrete we use must be considered. If the lightweight concrete quality is not good, then it can cause cracks / fractures that jeopardize safety. The current methods require a very long time to get the results of concrete strength test, which is 28 days. If any error occurs in these manual methods, the test needs to be done all over again. Adaptive Neuro-Fuzzy Inference System (ANFIS) is widely used for forecasting / predictions in various fields of science throughout the world and has been proven in many studies to estimates quickly and accurately. Thus, by two systems that will be designed in this study, ANFIS is expected to estimate the value of Strain and Compressive Strength as the quality parameters of lightweight concrete more effectively and efficiently, with input data that consists of values of water cement ratio (W/C Ratio), the Load given to lightweight concrete at time n, Strain and Stress experienced by lightweight concrete as the result of the Load given at time n, Load n + 1, also the Strain or Stress at n + 1. By varying the amount of input membership function 2 and 3, type of membership function which are triangle, trapezium, generalized bell, gauss, gauss2, phi, D-sigmoid, P-sigmoid, also epoch 50 and 75 for each system, there are 64 experiments to do. The most accurate ANFIS system for estimating the quality of lightweight concrete is selected based on the smallest error value of training and testing, also Root Mean Square Error. MATLAB Graphical User Interface is used as the interface of system I and II so that they can be used for users.
1511918419F1F012041INDIAN EDUCATION AS SEEN IN CHETAN BHAGAT’S FIVE POINT SOMEONE AND ITS ADAPTATION FILM 3 IDIOTSPenelitian ini berjudul “Indian Education as Seen in Chetan Bhagat’s Five Point Someone and Its Adaptation Film 3 Idiots” bertujuan untuk menemukan persamaan dan perbedaan pendidikan di India seperti yang terlihat dalam Five Point Someone dan film adaptasinya 3 Idiots. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam menganalisis data utama. Data utama penelitian ini diambil dari Five Point Someone dan 3 Idiots. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan teori Film Adaptasi Linda Hutcheon dengan membandingkan aspek edukasi pada Five Point Someone dan 3 Idiots serta karakter dan karakterisasi sebagai perangkat sastra. Ada dua tahap dalam menjawab rumusan masalah. Langkah pertama adalah mengumpulkan data dari novel, film dan sumber lainnya yang berhubungan dengan pendidikan India. Langkah kedua adalah meneliti persamaan dan perbedaan kedua karya, film dan novel, dengan cara mengkategorikannya menjadi penambahan dan pengurangan. Berdasarkan analisa, peneliti menemukan bahwa persamaan dan perbedaan pendidikan India dapat dilihat dari dua kategori, penambahan dan pengurangan. Pengurangan terdiri dari aspek psikologi siswa, pendidik dan metode pembelajaran, sedangkan pada penambahan terdiri dari aspek psikologi siswa, pendidik, metode pembelajaran, kurikulum dan sosio-ekonomi. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa motif Hirani dalam menambah dan mengurangi bagian cerita didasari oleh pandangan pribadi dan politiknya. This research entitled “Indian Education as Seen in Chetan Bhagat’s Five Point Someone and Its Adaptation Film 3 Idiots” aims to figure out the similarities and the differences of Indian education as seen in Five Point Someone and its adaptation film 3 Idiots. This research uses qualitative method in analysing the main data of the research. The main data of this research are taken from Five Point Someone and 3 Idiot. In analysing the data, the researcher uses Film Adaptation theory by Linda Hutcheon by comparing the education aspects of Five Point Someone and 3 Idiots and character and characterization as the literary devices. There are 2 steps in answering the research question. The first step is collecting data from the novel, film and other sources which relate to Indian education. The second step is examining the similarities and the differences of both works, the novel and the film by dividing them into addition and deletion. Based on the analysis, the researcher figures out that the similarities and the differences of Indian education can be seen from two categories, addition and deletion. Furthermore, deletion consists of students’ psychological aspect, educator and teaching method, while addition are students’ psychological aspect, educator teaching method, curriculum and socio-economy.
1512018420F1B011073Program Desa Tangguh Bencana (Studi Kasus di Kelurahan Tegalkamulyan Kecamatan Cilacap Selatan Kabupaten Cilacap)Desa atau Kelurahan Tangguh Bencana adalah sebuah desa atau kelurahan yang memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman di wilayahnya dan mampu mengorganisir sumber daya masyarakat untuk mengurangi kerentanan dan sekaligus meningkatkan kapasitas demi mengurangi resiko bencana. Kemampuan ini diwujudkan dalam perencanaan pembangunan yang mengandung upaya-upaya pencegahan, kesiapsiagaan, pengurangan resiko bencana dan peningkatan kapasitas untuk pemulihan pasca bencana. Di desa tangguh bencana, masyarakat lebih aktif dalam mengkaji, menganalisis, menangani, memantau, mengevaluasi dan mengurangi resiko-resiko bencana yang ada di wilayah mereka, terutama dengan memanfaatkan sumber daya lokal demi menjamin keberlanjutan. Penelitian ini bermaksud untuk menggambarkan pelaksanaan Program Desa Tangguh Bencana di Kelurahan Tegalkamulyan Kecamatan Cilacap Selatan Kabupaten Cilacap Data dan informasi dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara secara langsung, studi pustaka dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan berupa daftar pertanyaan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan Program Desa Tangguh Bencana di Kelurahan Tegalkamulyan Kecamatan Cilacap Selatan Kabupaten Cilacap yang dilaksanakan oleh Forum Pengurangan Resiko Bencana Kelurahan Tegalkamulyan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cilacap. Data selanjutnya dianalisis dengan tahapan kondensasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan fungsi manajemen planning, organizing, actuating dan controlling pelaksanaan Program Desa Tangguh Bencana di Kelurahan Tegalkamulyan dapat dikatakan baik. Dari pendekatan manajerial yang digunakan setiap fungsi manajemen telah diterapkan dengan baik. Sehingga, Program Desa Tangguh Bencana berkembang dengan baik di Kelurahan Tegalkamulyan. Forum Pengurangan Resiko Bencana telah melaksanakan kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana dengan baik.Disaster Resilient village or village is a village or village that has the ability to recognize threats in the region and is able to organize community resources to reduce vulnerability and to increase capacity in order to reduce the risk of disaster. This ability is manifested in the development plan containing measures of prevention, preparedness, disaster risk reduction and capacity-building for post-disaster recovery. In the village of disaster resilient, people are more active in reviewing, analyzing, handle, monitor, evaluate and reduce risks of disaster in the area, mainly by utilizing local resources in order to ensure sustainability. This study aims to describe the implementation of the Program for Disaster Resilient Village in the Village Tegalkamulyan South Cilacap Regency Cilacap District of data and information in this study were collected through observation, direct interview, literature and documentation. Instruments used in the form of a list of questions to find out how the implementation of the Program for Disaster Resilient Village in the Village Tegalkamulyan South Cilacap Subdistrict, Cilacap Regency implemented by the Village Disaster Risk Reduction Forum Tegalkamulyan and Disaster Management Agency of Cilacap. Data were then analyzed by condensation stage, presentation, and drawing conclusions. Based on the management functions of planning, organizing, actuating and controlling the implementation of the Program for Disaster Resilient Village in the Village Tegalkamulyan can be said to be good. From a managerial approach that is used every management function has been well implemented. Thus, Disaster Resilient Village Program is well developed in the Village Tegalkamulyan. Forum for Disaster Risk Reduction has been carrying out activities in disaster risk reduction is good.