Artikelilmiahs

Menampilkan 49.161-49.180 dari 49.495 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
4916151972I1C022107Pengaruh Nanostructured Lipid Carriers (NLC) Ekstrak Etanol Sambiloto (Andrographis panicula) terhadap Ekspresi mRNA IL-1β pada Hati Mencit yang Diinduksi CCl4Kerusakan hati merupakan kondisi serius yang sering dipicu oleh paparan senyawa hepatotoksik, salah satunya karbon tetraklorida (CCl4) yang memicu stres oksidatif dan respon inflamasi hati dengan ditandai adanya peningkatan ekspresi sitokin proinflamasi, terutama interleukin-1β (IL-1β). Sambiloto (Andrographis paniculata) diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi. Namun, rendahnya kelarutan Andrografolida sebagai senyawa marker sambiloto, mendorong pengembangan sistem penghantaran berbasis nanoteknologi, salah satunya Nanostructured Lipid Carriers (NLC) yang berpotensi meningkatkan kelarutan zat aktifnya. Namun, pengaruh NLC esktrak etanol sabiloto (EES) terhadap modulasi respon inflamasi hati, khususnya ekspresi mRNA IL-1β belum pernah diteliti. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh NLC-EES terhadap ekspresi mRNA IL-1β pada hati mencit yang diinduksi CCl4. Penelitian eksperimental in vivo dilakukan pada 30 ekor mencit jantan galur BALB/c yang dibagi menjadi lima kelompok (n=6) menggunakan random sampling. Kelompok terdiri atas kontrol sehat, kontrol sakit (CCl4), NLC-EES dosis 70 mg/kgBB, ekstrak etanol sambiloto (EES) dosis 70 mg/kgBB, dan empty NLC. Induksi CCl4 diberikan pada hari pertama secara intraperitoneal pada dosis 1 mL/kgBB. Perlakuan dilakukan pada hari ketiga dan kelima secara sonde oral. Ekspresi relatif mRNA IL-1β dianalisis menggunakan qRT-PCR dengan metode Livaq (2−ΔΔCt). Seluruh kelompok perlakuan menunjukkan penurunan ekspresi relatif mRNA IL-1β dibandingkan dengan kelompok CCl4. Uji post hoc duun menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antarkelompok (p>0,05). Pemberian Nanostructured Lipid Carriers (NLC) ekstrak etanol sambiloto (Andrographis paniculata) mampu menurunkan ekspresi mRNA IL-1β pada inflamasi hati akut akibat induksi CCl4.Liver damage is a serious condition often triggered by exposure to hepatotoxic compounds, one of which is carbon tetrachloride (CCl4), which causes oxidative stress and an inflammatory response in the liver, characterized by increased expression of proinflammatory cytokines, particulary interleukin-1β (IL-1β). Sambiloto (Andrographis paniculata) is known to have anti-inflammatory activity. However, the low solubility of Andrographolide as a marker compound of sambiloto has encouraged the development of nanotechnology-based delivery systems, one of which is Nanostructured Lipid Carriers (NLC), which has the potential to increase the solubility of its active ingredients. However, the effect of NLC ethanol extract of sambiloto (EES) on the modulation of the liver infalmmatory response, particularly IL-1β mRNA expression, has not been studied. Therefore, this study was conducted to examine the effect of NLC-EES on IL-1β mRNA expression in the liver of CCl4-induced mice. An in vivo experimental study was conducted on 30 male BALB/c mice divided into five groups (n=6) using random sampling. The groups consisted of healthy controls, sick controls (CCl4), NLC-EES at a dose of 70 mg/kgBW, ethanol extract of sambiloto (EES) at a dose of 70 mg/kgBW, and empty NLC. CCl4 induction was administered on the first day intraperitoneally at a dose of 1 mL/kgBW. Treatment was adminstered on the third and fifth days via oral sonde. Relative expression of IL-1β mRNA was analyzed using the qRT-PCR with the Livaq method (2−ΔΔCt). All treatment groups showed a decrease in relative IL-1β mRNA expression compared to the CCl4 group. Post hoc dunn tests showed no significant differences between groups (p>0,05). Administration of Nanostructured Lipid Carriers (NLC) of ethanol extract of Andrographis paniculata was able to reduced IL-1β mRNA expression in acute liver inflammation induced by CCl4.
4916251973I1C022014PENGARUH NANOSTRUCTURED LIPID CARRIERS (NLC) EKSTRAK ETANOL SAMBILOTO (Andrographis paniculata) TERHADAP EKSPRESI mRNA IL-4 PADA HATI MENCIT YANG DIINDUKSI CCl₄Abstrak
Latar Belakang: Inflamasi berperan penting dalam perkembangan berbagai penyakit hati, seperti hepatitis, fibrosis, sirosis, dan karsinoma hepatoseluler. Interleukin-4 (IL-4) merupakan sitokin antiinflamasi yang berfungsi dalam regulasi respons imun dan perbaikan jaringan hati, namun ekspresinya dapat menurun pada kondisi inflamasi. Sambiloto (Andrographis paniculata) diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi dan hepatoprotektif, tetapi pemanfaatannya masih terbatas karena rendahnya kelarutan dan bioavailabilitas andrografolida. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh formulasi Nanostructured Lipid Carriers ekstrak etanol sambiloto (NLC-EES) terhadap ekspresi mRNA IL-4 pada hati mencit BALB/c yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl₄). Metode: NLC-EES dikarakterisasi berdasarkan ukuran partikel, polydispersity index (PDI), zeta potensial, dan stabilitas fisik real-time. Sebanyak 35 mencit jantan dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kontrol sehat, kontrol sakit (1 mL/kgBB CCl₄), perlakuan 1 (70 mg/kgBB NLC-EES), perlakuan 2 (70 mg/kgBB EES only), dan perlakuan 3 ( 0,14 mL empty NLC). Ekspresi mRNA IL-4 dianalisis menggunakan metode qRT-PCR. Hasil: NLC-EES memiliki ukuran partikel 11,38 ± 0,08 nm, PDI 0,1287 ± 0,0039, zeta potensial -8,159 ± 0,109 mV, dan sediaan kurang stabil pada penyimpanan suhu ruang. NLC-EES meningkatkan ekspresi mRNA IL-4 dibandingkan kelompok kontrol sakit dan EES only. Kesimpulan: NLC-EES memenuhi kriteria ukuran partikel dan PDI nanopartikel. Formulasi ini meningkatkan ekspresi mRNA IL-4 dan berpotensi dikembangkan sebagai sistem penghantaran obat antiinflamasi berbasis bahan alam yang lebih efektif.
Abstract
Background: Inflammation plays a crucial role in the progression of various liver diseases, including hepatitis, fibrosis, cirrhosis, and hepatocellular carcinoma. Interleukin-4 (IL-4) is an anti-inflammatory cytokine involved in immune regulation and hepatic tissue repair; however, its expression may decrease under inflammatory conditions. Sambiloto (Andrographis paniculata) is known for antiinflammatory and hepatoprotective activities, but its therapeutic application remains limited due to the poor solubility and low bioavailability of andrographolide. This study aimed to evaluate the effect of Nanostructured Lipid Carriers loaded with ethanolic extract of A. paniculata (NLC-EES) on hepatic IL-4 mRNA expression in BALB/c mice induced with carbon tetrachloride (CCl₄). Methods: NLC-EES was characterized based on particle size, polydispersity index (PDI), zeta potential, and real-time physical stability. Thirty-five male mice were divided into 5 groups: healthy control, disease control (1 mL/kgBW CCl₄), treatment 1 (70 mg/kgBW NLC-EES), treatment 2 (70 mg/kgBW EES only), and treatment 3 (0.14 mL empty NLC). Hepatic IL-4 mRNA expression was analyzed using qRT-PCR. Results: NLC-EES exhibited a particle size of 11.38 ± 0.08 nm, PDI of 0.1287 ± 0.0039, and zeta potential of −8.159 ± 0.109 mV, and the formulation showed limited physical stability during room temperature storage. NLC-EES increased IL-4 mRNA expression compared with the disease control and EES-only groups. Conclusion: NLC-EES met the nanoparticle criteria for particle size and PDI. The formulation enhanced IL-4 mRNA expression and shows potential as a more effective natural-based antiinflammatory drug delivery system.
4916351974F1F021002Pengaruh Idiosinkratik Hamad Al-Thani terhadap Independensi Kebijakan Luar Negeri Qatar Kontemporer dalam Konflik PalestinaPenelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana faktor idiosinkratik Syeikh Hamad bin Khalifa Al-Thani memengaruhi independensi kebijakan luar negeri Qatar, khususnya dalam kebijakan dukungan terhadap Hamas sebagai aktor non-negara Palestina. Di tengah tekanan struktur regional Teluk yang didominasi oleh hegemoni Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, Qatar di bawah kepemimpinan Syeikh Hamad menunjukkan pola kebijakan yang menyimpang dari konsensus negara-negara Teluk. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data sekunder melalui studi literatur. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan idiosinkratik yang menitikberatkan pada tiga dimensi utama kepemimpinan: profil kepribadian politik, gaya pengambilan keputusan, dan gaya kepemimpinan. Pendekatan ini memungkinkan penelitian menelusuri bagaimana karakter personal pemimpin memengaruhi arah kebijakan luar negeri dalam sistem monarki dengan sentralisasi kekuasaan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepribadian narsistik yang berorientasi pada pencapaian status dan pengakuan internasional, gaya pengambilan keputusan yang situasional dan kalkulatif, serta gaya kepemimpinan direktif Syeikh Hamad mendorong Qatar untuk memanfaatkan hubungan dengan Hamas sebagai instrumen diplomasi dan bargaining power di kawasan. Dukungan terhadap Hamas tidak semata-mata merupakan pilihan ideologis, tetapi merupakan strategi untuk memperkuat posisi Qatar sebagai aktor independen di tengah struktur hegemoni regional. Kesimpulannya, dalam konteks monarki absolut seperti Qatar, faktor individu pimpinan mampu melampaui batasan sistemik internasional. Kepemimpinan Syeikh Hamad memainkan peran kunci dalam membentuk orientasi kebijakan luar negeri Qatar yang lebih berani, mandiri, dan proaktif melalui pemanfaatan aktor non-negara dalam konflik Palestina.This research aims to explain how the idiosyncratic factors of Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani influenced the independence of Qatar’s foreign policy, particularly in its support for Hamas as a Palestinian non-state actor. Amid the regional structure of the Gulf dominated by the hegemony of Saudi Arabia and the United Arab Emirates, Qatar under Sheikh Hamad’s leadership exhibited a pattern of foreign policy behavior that deviated from the prevailing regional consensus. This research employs a qualitative descriptive method using secondary data collected through literature review. The analysis is conducted through an idiosyncratic approach that focuses on three core dimensions of leadership: political personality profile, decision-making style, and leadership style. This framework allows the study to examine how a leader’s personal characteristics shape foreign policy behavior in a political system characterized by a high degree of power centralization. The findings indicate that Sheikh Hamad’s narcissistic personality oriented toward status and international recognition, his situational and calculative decision-making style, and his directive leadership style encouraged Qatar to utilize its relationship with Hamas as a diplomatic instrument and a source of bargaining power in the region. Qatar’s support for Hamas was not merely ideological in nature, but constituted a strategic effort to enhance its position as an independent actor within a hegemonic regional order. In conclusion, in an absolute monarchical system such as Qatar, individual leadership variables are capable of transcending systemic international constraints. Sheikh Hamad’s leadership played a crucial role in shaping a more assertive, autonomous, and proactive Qatari foreign policy through the strategic engagement with non-state actors in the Palestinian conflict.
4916451976J0A022069CREATING BILINGUAL VIDEO ON THE INSTAGRAM OF YOGYAKARTA TOURISM OFFICE TO PROMOTE LOCAL EVENTSLaporan praktik kerja ini berjudul “Membuat Video Dua Bahasa di Instagram Dinas Pariwisata Yogyakarta untuk Mempromosikan Acara-acara Lokal”. Kegiatan praktik kerja ini dilaksanakan pada 2 September 2024 – 13 Desember 2024 di Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta. Tujuan dilaksanakan praktik kerja ini adalah untuk menjelaskan proses pelaksanaan kerja praktik di Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, menghasilkan satu video promosi bilingual untuk mempromosikan acara-acara lokal melalui akun Instagram resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, serta mengidentifikasi permasalahan dan solusi dalam proses pembuatan video promosi tersebut.
Selama praktik, penulis menerapkan beberapa metode pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode observasi dilakukan dengan mengamati secara langsung kegiatan promosi, serta proses produksi konten media sosial di lingkungan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta. Metode wawancara dilakukan dengan staf bagian pemasaran untuk memperoleh informasi terkait strategi promosi, kendala dalam pembuatan konten bilingual, serta kebutuhan audiens, khususnya wisatawan mancanegara. Sementara itu, metode dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan data berupa foto, video kegiatan, serta dokumen pendukung lainnya yang relevan dengan kegiatan promosi pariwisata.
Sebagai solusi, penulis memproduksi satu video promosi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan visual yang menarik dan terjemahan yang jelas. Video tersebut dibuat melalui tahap perencanaan, pengambilan materi, dan penyuntingan untuk meningkatkan efektivitas promosi serta memperluas jangkauan kepada wisatawan domestik dan mancanegara.
This final report is entitled “Creating Bilingual Video on Instagram of Yogyakarta Tourism Office to Promote Local Events”. The job training was conducted on 2 September 2024 – 13 December 2024 at Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta. The objectives of the internship were to explain the implementation of the job training at the Yogyakarta City Tourism Office, to produce one bilingual promotional video for promoting local events through the official Instagram account of the office, and to identify the problems and solutions encountered during the video creation process.
During the internship, several data collection methods were applied, including observation, interview, and documentation. Observation was conducted by directly monitoring promotional activities, workflow processes, and social media content production at the Yogyakarta City Tourism Office. Interviews were carried out with marketing staff to obtain information regarding promotional strategies, challenges in producing bilingual content, and the needs of target audiences, particularly international tourists. Documentation was conducted by collecting supporting data such as photographs, event videos, social media content archives, and other relevant administrative documents related to tourism promotion activities.
As a solution, the writer produced one bilingual promotional video in Indonesian and English, supported by engaging visuals and clear translations. The video was created through planning, material collection, and editing to improve promotional effectiveness and expand its reach to both domestic and international tourists.
4916551977F1F020017Propaganda Politik Rusia Menggunakan Media RT dalam Konflik Rusia-Ukraina Pada Tahun 2014-2024Penelitian ini membahas penggunaan media RT sebagai alat propaganda
politik Rusia dalam konflik Rusia-Ukraina pada periode 2014 hingga 2024.
Konflik yang dimulai dengan krisis politik di Ukraina dan aneksasi Krimea oleh
Rusia, serta eskalasi menjadi perang terbuka pada tahun 2022, memberikan
konteks penting dalam memahami peran media dalam diplomasi dan perang
informasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa bagaimana Rusia
menggunakan media RT sebagai alat propaganda untuk kepentingan kebijakan
luar negeri Rusia. Melalui metode kalitatif deskriptif, penelitian ini menyoroti
kebijakan Rusia dalam menghadapi ancaman ekspansi NATO dan negara-negara
Barat melalui propaganda politik media. Penggunaan teori propaganda politik
menunjukkan bahwa propaganda yang dilakukan Rusia menggunakan RT
merupakan langkah untuk melegitimasi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh
pemerintah Rusia.
This study examines the use of RT media as a tool of Russian political
propaganda in the Russia-Ukraine conflict during the period 2014 to 2024. The
conflict, which began with the political crisis in Ukraine and Russia’s annexation
of Crimea, followed by escalation into an open war in 2022, provides an
important context for understanding the role of media in diplomacy and
information warfare. The objective of this research is to analyze how Russia
utilizes RT as a propaganda instrument to advance its foreign policy interests.
Using a qualitative descriptive method, this study highlights Russia’s policy
response to the perceived threat of NATO expansion and Western countries
through media political propaganda. Applying political propaganda theory shows
that Russia’s propaganda via RT serves as a means to legitimize actions taken by
the Russian government.
4916651240C1A022033PENGARUH HARGA KEDELAI DOMESTIK DAN HARGA DAGING AYAM DOMESTIK TERHADAP IMPOR KEDELAI DENGAN KONSUMSI KEDELAI SEBAGAI VARIABEL INTERVENING 2002-2023Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kuantitatif dengan judul: “Pengaruh Harga Kedelai dan Harga Daging Ayam Terhadap Impor Kedelai Dengan Konsumsi Kedelai Sebagai Variabel Intervening Tahun 2022 sampai 2023”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh harga kedelai harga daging ayam konsumsi kedelai terhadap impor kedelai baik secara langsung maupun tidak langsung. Objek penelitian meliputi harga kedelai domestik, harga daging ayam domestik, konsumsi kedelai, impor kedelai. Subjek penelitian ini adalah negara Indonesia dengan rentang waktu penelitian dari tahun 2002 sampai 2023. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dengan menggunakan analisis R menunjukkan bahwa (1) variabel harga kedelai domestik berpengaruh positif dan signifikan terhadap konsumsi kedelai (2) variabel harga daging ayam domestik berpengaruh positif dan signifikan terhadap konsumsi kedelai (3) harga kedelai domestik berpengaruh positif terhadap impor kedelai
(4) harga daging ayam domestik berpengaruh positif terhadap impor kedelai (5 )konsumsi kedelai berpengaruh positif terhadap impor kedelai (6) harga kedelai domestik berpengaruh positif secara tidak
langsung terhadap impor kedelai (7) harga daging ayam domestik berpengaruh positif secara tidak langsung terhadap impor kedelai. Berdasarkan uji goodness of fit bahwa model yang digunakan dalam
penelitian ini telah memenuhi kriteria statistik sehingga dapat digunakan untuk menganalisis dan menginterpretasikan hubungan antar variable, baik yang lemah maupun yang kuat secara valid. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemerintah harus menjaga harga kedelai dan harga daging ayam agar tetap stabil, karena kenaikan harga keduanya memiliki dampak terhadap stabilitas harga kedelai. Diversifikasi protein, seperti pengembangan tanaman kedelai lokal, merupakan langkah strategis yang penting untuk mengurangi ketergantungan impor.
This research is a quantitative study with the title: “The Effect of Soybean Prices and Chicken Meat Prices on Soybean Imports with Soybean Consumption as an Intervening Variable from 2022 to 2023”. The purpose of this study is to determine the effect of soybean prices, chicken meat prices, soybean consumption on soybean imports both directly and indirectly. The objects of research include domestic soybean prices, domestic chicken meat prices, soybean consumption, soybean imports. The subject of this research is the country of Indonesia with a research time span from 2002 to 2023. Based on the results of research and data analysis using R analysis, it shows that (1) the domestic soybean price variable has a positive and significant effect on soybean consumption (2) the domestic chicken meat price variable has a positive and significant effect on soybean consumption (3) domestic soybean prices have a positive effect on soybean imports (4) domestic chicken meat prices have a positive effect on soybean imports (5) soybean consumption has a positive effect on soybean imports (6) domestic soybean prices have an indirect positive effect on soybean imports (7) domestic chicken meat prices have
an indirect positive effect on soybean imports. Based on the goodness of fit test, the model used in this study has met the statistical criteria so that it can be used to analyze and interpret the relationship between variables, both weak and strong validly. The results of this study indicate that the government should keep soybean prices and chicken meat prices stable, as price increases of both have an impact on soybean price stability. Protein diversification, such as the development of local soybean crops, is an important strategic step to reduce import dependence.
4916751979I2A024013ANALISIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM IMPLEMENTASI PROGRAM POSYANDU INTEGRASI LAYANAN PRIMER DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JERUKLEGI II KABUPATEN CILACAP TAHUN 2025ABSTRAK

ANALISIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM IMPLEMENTASI PROGRAM POSYANDU INTEGRASI LAYANAN PRIMER DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS JERUKLEGI II KABUPATEN CILACAP TAHUN 2025

Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman

Transformasi pelayanan kesehatan primer melalui penerapan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) menuntut peran aktif dan pemberdayaan masyarakat sebagai kunci keberhasilan implementasi program. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemberdayaan masyarakat dalam mendukung implementasi Posyandu ILP di wilayah kerja Puskesmas Jeruklegi II Kabupaten Cilacap tahun 2025. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengann desain studi kasus. Informan penelitian meliputi unsur pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, perangkat desa, organisasi masyarakat, serta masyarakat pengguna layanan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengann desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengann berbagai pemangku kepentingan, observasi langsung kegiatan Posyandu, serta telaah dokumen pendukung. Analisis dilakukan secara tematik untuk menggali aspek kapasitas organisasi, partisipasi masyarakat, dan kemandirian Posyandu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Posyandu ILP di wilayah kerja Puskesmas Jeruklegi II telah berjalan dan mencakup pelayanan seluruh siklus hidup, mulai dari bayi hingga lansia. Pemberdayaan masyarakat tercermin melalui peningkatan kapasitas organisasi, peran aktif kader, dan keterlibatan lintas sektor. Namun demikian, masih ditemukan beberapa kendala, antara lain keterbatasan pemahaman sebagian kader terhadap konsep ILP, variasi tingkat partisipasi masyarakat, keterbatasan sarana prasarana, serta dukungan anggaran yang belum optimal. Kemandirian Posyandu juga masih memerlukan penguatan, terutama dalam aspek pengelolaan kegiatan dan keberlanjutan program. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan Posyandu ILP. Diperlukan upaya penguatan kapasitas kader secara berkelanjutan, peningkatan partisipasi masyarakat, serta sinergi lintas sektor agar implementasi Posyandu ILP dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.



The transformation of primary healthcare services through the implementation of Integrated Primary Healthcare Posyandu (ILP) requires active community involvement and empowerment as key determinants of successful program implementation. This study aims to analyze community empowerment in supporting the implementation of the ILP Posyandu program in the service area of Jeruklegi II Public Health Center, Cilacap Regency, in 2025. This research employed a qualitative approach with a case study design. The informants included local government officials, healthcare workers, Posyandu cadres, village authorities, community organizations, and community members as service users. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, and document review, and subsequently analyzed using thematic analysis.
The qualitative case study design enabled an in-depth exploration of organizational capacity, community participation, and Posyandu self-reliance. The findings indicate that the implementation of ILP Posyandu in the service area of Jeruklegi II Public Health Center has been carried out and encompasses health services across the entire life cycle, from infants to the elderly. Community empowerment is reflected in improved organizational capacity, the active role of Posyandu cadres, and cross-sectoral involvement. However, several challenges remain, including limited understanding of the ILP concept among some cadres, varying levels of community participation, inadequate facilities and infrastructure, and suboptimal budgetary support. Posyandu self-reliance also requires further strengthening, particularly in terms of program management and sustainability.
This study concludes that community empowerment plays a strategic role in supporting the success of the ILP Posyandu program. Continuous capacity building for cadres, increased community participation, and strengthened cross-sectoral collaboration are necessary to ensure more optimal and sustainable implementation of the ILP Posyandu program.
4916851989F1D021062GERAKAN POLITIK PEMUDA KOMUNITAS JUANG PURBALINGGA DALAM PILKADA
PURBALINGGA TAHUN 2024
Penelitian ini menganalisis gerakan politik pemuda dan mobilisasi sumber daya yang dilakukan oleh
Komunitas Juang Purbalingga dalam kontestasi Pilkada Kabupaten Purbalingga tahun 2024. Sebagai
organisasi sayap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Komunitas Juang berfungsi
sebagai bagian dari mesin partai dalam memperluas jaringan politik dan mengonsolidasikan gerakan
politik dengan kader muda sebagai sumber daya utama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif
dengan pendekatan studi kasus. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi
partisipatif, serta data sekunder melalui studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Komunitas Juang berperan dalam memperkuat kapasitas kelembagaan partai melalui mobilisasi
kader muda, konsolidasi organisasi, dan pemanfaatan sumber daya non-material, khususnya
kemampuan digital dan jaringan. Gerakan politik terwujud dalam aktivitas pra-kampanye dan
pengelolaan media sosial oleh kader muda. Namun, kontribusi tersebut belum mampu dikonversi
menjadi kemenangan elektoral akibat ketimpangan sumber daya material dan profesionalisasi
kampanye digital kubu lawan.
This study analyzes the political movements of young people and the mobilization of resources carried
out by the Purbalingga Juang Community in the 2024 Purbalingga Regency election contest. As an
affiliate organization of the Indonesian Democratic Party of Struggle (PDIP), the Juang Community
functions as part of the party machine in expanding its political network and consolidating political
movements with young cadres as its main resource. This study uses a qualitative method with a case
study approach. Primary data was collected through in-depth interviews, participatory observation,
and secondary data through documentation studies. The results of the study show that the Juang
Community plays a role in strengthening the party's institutional capacity through the mobilization of
young cadres, organizational consolidation, and the utilization of non-material resources, particularly
digital capabilities and networks. The political movement is manifested in pre-campaign activities and
social media management by young cadres. However, these contributions have not been able to be
converted into electoral victory due to the imbalance of material resources and the professionalization
of the opponent's digital campaign.
4916951978F2B022001STRATEGI LEMBAGA PENDIDIKAN DALAM MENCEGAH TINDAK KEKERASAN MELALUI IMPLEMENTASI PROGRAM SEKOLAH RAMAH ANAK (STUDI DI SMP NEGERI 1 NGIMBANG, LAMONGAN, JAWA TIMUR)Sekolah Ramah Anak (SRA) merupakan program yang berupaya untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, bersih, sehat, inklusif, dan bebas dari kekerasan. Salah satu lembaga pendidikan yang menerapkan kebijakan SRA adalah SMP Negeri 1 Ngimbang, Lamongan. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No. 8 Tahun 2014 Tentang Kebijakan Sekolah Ramah Anak. Selain itu, Program SRA juga menjadi jalan bagi berkembangnya kebijakan-kebijakan lain yang mendukung keamanan dan kenyamanan anak selama di sekolah. Seperti penilaian tentang iklim keamanan sekolah melalui Survei Lingkungan Belajar (SULINGJAR). Serta diterapkannya PERMENDIKBUDRISTEK No. 46 Tahun 2023 Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan (PPKSP). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis strategi lembaga pendidikan dalam mencegah tindak kekerasan melalui implementasi Program SRA. Menganalisis faktor pendorong dan penghambatnya, serta dampak dari implementasi Program SRA tersebut. Menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus (case studies). Dilaksanakan di lembaga pendidikan SMP Negeri 1 Ngimbang, Lamongan. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sasaran penelitian ditentukan secara purposive sampling, yaitu kepala sekolah, guru wali kelas, guru bimbingan dan konseling, ketua tim pelaksana Program SRA, siswa, orang tua siswa, komite sekolah, serta pengawas sekolah. Validasi datanya menggunakan teknik triangulasi sumber. Meskipun Program SRA di lembaga pendidikan ini belum dapat dilaksanakan secara optimal sesuai dengan yang diharapkan, karena disebabkan oleh berbagai keterbatasan kondisi di lapangan. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga pendidikan telah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan. Strategi tersebut meliputi: 1) Strategi dalam pelaksanaan Program SRA. 2) Tindakan untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan di lingkungan sekolah. 3) Tindakan yang dilakukan jika terjadi kasus kekerasan di lingkungan sekolah. 4) Mekanisme penanganan korban dan pelaku jika terjadi kasus kekerasan di lingkungan sekolah. Faktor pendorong program yaitu menciptakan sekolah yang ramah anak, mengedepankan kepentingan terbaik siswa, serta patuh terhadap ketentuan hukum yang berlaku. Faktor penghambat program yaitu masih ditemukan orang tua siswa yang kurang berperan dalam mengawasi anak serta mendukung kebijakan sekolah. Masih adanya tenaga pendidik yang memegang pola pikir lama, kondisi peserta didik yang berada pada masa transisi usia, serta anggaran yang terbatas menghambat pemenuhan sarana dan prasarana SRA. Selain itu, implementasi Program SRA juga menunjukkan dampak yang positif. Karakter siswa berubah menjadi lebih baik dan tertib. Angka kekerasan dan perundungan menurun, guru cenderung lebih sabar, motivasi belajar siswa meningkat, serta siswa semakin betah berada di lingkungan sekolah.Child-Friendly Schools (SRA) is a program that strives to create a safe, comfortable, clean, healthy, inclusive, and violence-free educational environment. One educational institution that implements the SRA policy is SMP Negeri 1 Ngimbang, Lamongan. This policy is a follow-up to the Regulation of the Minister of Women's Empowerment and Child Protection No. 8 of 2014 concerning the Child-Friendly School Policy. In addition, the SRA Program also paves the way for the development of other policies that support children's safety and comfort while at school. Such as the assessment of the school safety climate through the Learning Environment Survey (SULINGJAR). As well as the implementation of PERMENDIKBUDRISTEK No. 46 of 2023 concerning the Prevention and Handling of Violence in Educational Unit Environments (PPKSP). The purpose of this study is to analyze the strategies of educational institutions in preventing acts of violence through the implementation of the SRA Program. Analyze the driving and inhibiting factors, as well as the impact of implementing the SRA Program. Using qualitative methods in case study research. Conducted at SMP Negeri 1 Ngimbang, Lamongan. Research data were collected through observation, interviews, and documentation. The research targets were determined through purposive sampling: the principal, homeroom teachers, guidance and counseling teachers, the head of the SRA Program implementation team, students, parents, school committees, and school supervisors. Data validation used source triangulation techniques. Although the SRA Program at this educational institution has not been implemented optimally as expected due to various limitations in the field, the research results show that the institution has prepared strategic steps to prevent violence. These strategies include: 1) Strategies for implementing the SRA Program. 2) Actions to prevent cases of violence in the school environment. 3) Actions taken if a case of violence occurs in the school environment. 4) Mechanisms for handling victims and perpetrators if a case of violence occurs in the school environment. The program's driving factors include creating child-friendly schools that prioritize students' best interests and comply with applicable legal provisions. The program's inhibiting factors include parents who are still less involved in supervising their children and supporting school policies. The persistence of outdated mindsets among educators, the transitional age of students, and limited budgets hinder the provision of SRA facilities and infrastructure. Furthermore, the implementation of the SRA program has shown positive impacts. Students' character has changed for the better and become more disciplined. Rates of violence and bullying have decreased, teachers have become more patient, students' motivation to learn has increased, and students have become more comfortable in the school environment.
4917051981I1B019076Gambaran Gaya Belajar Mahasiswa Papua Di Unviversitas Jenderal SoedirmanABSTRAK
GAMBARAN GAYA BELAJAR MAHASISWA ASAL PAPUA
DI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO
Meri Sapari, Lita Heni Kusumawardani, Made Sumarwati.
Latar Belakang: Gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari bagaimana peserta didik menyerap, dan kemudian mengatur serta mengolah informasi. Pada perguruan tinggi, mahasiswa melakukan kegiatan belajarnya dengan gaya belajar yang berbeda. Diantara jenis gaya belajar adalah gaya belajar visual, auditori dan kenestetik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran gaya belajar pada mahasiswa asal Papua di Universitas Jenderal Seodirman Purwokerto.
Metodologi: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Sumber data terdiri dari sumber data primer (jawaban kuesioner) dan sumber data sekunder (dokumentasi dan obsaervasi). Sampel penelitian ini adalah 84 mahasiswa asal Papua yang kuliah di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif berupa rumus rata-rata (median) dan standar deviasi terhadap hasil jawaban responden pada kuesioner tentang kecenderungan gaya belajar visual, auditori, dan kenestetik.
Hasil Penelitian: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya belajar pada mahasiswa asal Papua di Universitas Jenderal Seodirman Purwokerto cenderung dominan adalah menggambarkan kecenderungan pada gaya belajar visual. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa asal Papua, jumlah sampel sebanyak 84 mahasiwa, dengan 31 kuesioner atau pernyataan. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata skor total tertinggi dari frekuensi jawaban responden dan persentase gaya belajar yang menunjukkan bahwa nilai rata-rata gaya belajar visual sebesar 45,02 sampai dengan 49,79%, nilai rata-rata gaya belajar auditori sebesar 44,54% sampai dengan 38,14%, dan nilai rata-rata gaya belajar kenestetik adalah antara 43,16% sampai dengan 48-71%. Gaya belajar visual tertinggi urutan pertama pada mahasiswa fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan sebesar 43,3%-51,7%, peringkat kedua adalah fakultas Ilmu Sosial dan Imu Politik sebesar 43,3%-50%, dan peringkat ketiga adalah fakultas Ekonomi dan Bisnis sebesar 40,6%-52,5%.
Kesimpulan: Gaya belajar pada mahasiswa asal Papua di Universitas Jenderal Seodirman Purwokerto cenderung dominan adalah menggambarkan kecenderungan pada gaya belajar visual.
Kata Kunci: Gaya Belajar Visual, Auditori, Kenestetik, Mahasiswa Asal Papua.
ABSTRACT
DESCRIPTION OF THE LEARNING STYLES OF STUDENTS FROM PAPUA AT SOEDIRMAN UNIVERSITY IN PURWOKERTO
Meri Sapari, Lita Heni Kusumawardani, Made Sumarwati.
Background: Learning styles are a combination of how learners absorb, organize, and process information. In higher education, students learn using different learning styles. Among the types of learning styles are visual, auditory, and kinesthetic learning styles. The purpose of this study is to describe the learning styles of Papuan students at Jenderal Seodirman University in Purwokerto.
Methodology: The method used in this study is a quantitative descriptive method. The data sources consist of primary data (questionnaire answers) and secondary data (documentation and observation). The research sample is students from Papua who study at Jenderal Soedirman University in Purwokerto. Data analysis in this study used quantitative analysis in the form of the average (median) and standard deviation formulas for the respondents' answers on the questionnaire about visual, auditory, and kinesthetic learning style tendencies.
Research Results: The results of this study indicate that the learning style of Papuan students at Jenderal Seodirman University in Purwokerto tends to be predominantly visual. The population in this study was Papuan students, with a sample size of 84 students and 31 questionnaires or statements. This is evidenced by the highest average total score from the frequency of respondents' answers and the percentage of learning styles, which shows that the average visual learning style score is 45.02 to 49.79%, the average score for the auditory learning style was 44.54% to 38.14%, and the average score for the kinesthetic learning style was between 43.16% and 48-71%.
Conclusion: The learning style of Papuan students at Jenderal Seodirman University in Purwokerto tends to be predominantly visual.
Keywords: Visual, Auditory, Kinesthetic Learning Styles, Papuan Students.
4917151998I1E021042Pengaruh Latihan Sasaran Terhadap Kemampuan Servis Atas Siswa Putra Ekstrakurikuler Bola Voli SD Negeri 3 CibangkongLatar Belakang: Pada olahraga bola voli pemain harus menguasai teknik dasar yang ada agar permainan dapat berjalan. Salah satu teknik dasar yang perlu dikuasai adalah servis atas. Servis atas memiliki tingkat kesulitan serta peluang dalam memperoleh poin lebih tinggi, sehingga dibutuhkan latihan yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan servis atas. Salah satu metode latihan yang dapat diterapkan yaitu latihan menggunakan sasaran. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh latihan sasaran terhadap kemampuan servis atas siswa putra esktrakurikuler bola voli di SD Negeri 3 Cibangkong.

Metodologi: Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan one group pre-test post-test design. Sampel diperoleh dengan teknik purposive sampling, sehingga diperoleh sampel sebanyak 10 siswa laki-laki. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan servis atas yaitu American Association for Health, Physical Education Recreation and Dance (AAHPERD). Data kemudian diolah menggunakan SPSS dengan teknik analisis Uji Normalitas, Uji Homogenitas, dan Uji Hipotesis.

Hasil Penelitian: Penelitian ini menghasilkan uji paired sample t test dengan signifikansi sebesar 0,000, yang berarti terjadi peningkatan kemampuan servis atas yang signifikan setelah diberikan latihan sasaran. Peningkatan nilai rata-rata kemampuan servis atas sebesar 9,8 dari nilai 14 pada saat pre-test menjadi 23,8 saat post-test.

Kesimpulan: Terdapat pengaruh latihan sasaran terhadap kemampuan servis atas siswa putra esktrakurikuler bola voli di SD Negeri 3 Cibangkong dengan nilai signifikansi yaitu 0,000.
Background: In volleyball, players must master basic techniques in order to play the game. One of the basic techniques that must be mastered is the overhead serve. The overhead serve is more difficult and offers a higher chance of scoring points. Hence, proper training is needed to improve overhead serving skills. One training method that can be applied is target training. The purpose of this study was to determine the effect of target training on the overhead serve skills of male students in the volleyball extracurricular program at SD Negeri 3 Cibangkong.

Research Methodology: This study used an experimental method with a one-group pretest-posttest design. The sample was obtained through purposive sampling, providing 10 male students. The instrument used to measure overhead serve ability was the American Association for Health, Physical Education, Recreation, and Dance (AAHPERD). The data were then processed using SPSS, including Normality test, Homogeneity test, and Hypothesis Test analyses.

Research result: This study produced a paired-samples t-test with a significance level of 0,000, indicating a significant increase in overhead serve ability after practicing target training. The average overhead serve ability score increased by 9,8 from 14 on the pre-test to 23,8 on the post-test.

Conclusion: The target training affects the overhead serve ability of male students participating in extracurricular volleyball at SD Negeri 3 Cibangkong, with a significance value of 0.000.
4917251414I2B024040PENGARUH ATS (AUSTRALIAN TRIAGE SCALE) BERBASIS WEB TERHADAP KECEPATAN PENILAIAN TRIASE DAN PENENTUAN KLAIM PASIEN BPJS DI RSUD CILACAP PENGARUH ATS (AUSTRALIAN TRIAGE SCALE) BERBASIS WEB TERHADAP KECEPATAN PENILAIAN TRIASE DAN PENENTUAN KLAIM PASIEN BPJS DI RSUD CILACAP

Adhy At Ramliana1, Endang Triyanto2, Saryono3

Latar Belakang: Triase merupakan langkah awal penentuan prioritas pelayanan berdasarkan tingkat kegawatan pasien. Ketidaktepatan triase dapat memperlambat kecepatan Triase dan menyebabkan ketidaktepatan klaim BPJS. Untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi triase, dikembangkan ATS berbasis web sebagai inovasi digital di IGD RSUD Cilacap. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ATS berbasis web terhadap percepatan Triase dan penentuan klaim BPJS.
Metode: Penelitian dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama merupakan penelitian dan pengembangan (R&D) menggunakan model Waterfall untuk merancang ATS berbasis web, dilanjutkan dengan uji validitas oleh enam pakar (I-CVI 0,83–1,00) serta uji reliabilitas menggunakan Intraclass Correlation Coefficient (ICC = 0,96). Tahap kedua merupakan true experiment dengan desain post-test only control group. Sampel terdiri dari 100 pasien yang dibagi secara acak menjadi kelompok intervensi (ATS berbasis web) dan kontrol (triase manual). Analisis kecepatan penilaian Triase menggunakan Independent Samples t-test, sedangkan penentuan klaim BPJS dianalisis menggunakan Fisher’s Exact Test.
Hasil: Kelompok intervensi menunjukkan rata-rata kecepatan triase time 2,10 menit, lebih cepat dibandingkan kontrol 4,77 menit (p < 0,001). Akurasi penentuan klaim BPJS pada kelompok intervensi sebesar 96%, lebih tinggi dibandingkan kontrol 82%. Uji Fisher’s Exact Test menunjukkan nilai p = 0,025 dengan Odds Ratio 5,26.
Kesimpulan: ATS berbasis web terbukti efektif dalam mempercepatan penilaian Triase dan meningkatkan akurasi penentuan klaim BPJS, sehingga layak diterapkan sebagai alat bantu keputusan klinis dalam pelayanan triase gawat darurat.
Kata Kunci: ATS (Australian Triage Scale) berbasis Web, kecepatan penilaian Triase, Klaim BPJS




1Mahasiswa Program Studi Magister Keperawatan Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman
2Departemen Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman
ABSTRACT
THE EFFECT OF WEB-BASED ATS(AUSTRALIAN TRIAGE SCALE) ON THE SPEED OF TRIAGE ASSESSMENT AND DETERMINATION OF BPJS PATIENT CLAIMS AT CILACAP REGIONAL HOSPITAL

Adhy At Ramliana1, Endang Triyanto2, Saryono3


Background: Triage is the initial step in determining patient care priorities based on the level of clinical urgency. Inaccurate triage may delay kecepatan penilaian triaseand lead to inappropriate BPJS claim categorization. To enhance accuracy and efficiency, a web-based Australian Triage Scale (ATS) system was developed as a digital innovation in the Emergency Department of Cilacap Regional Hospital. This study aims to examine the effect of the web-based ATSon kecepatan penilaian triaseand BPJS claim priority.
Methods: The study was conducted in two stages. The first stage was Research and Development (R&D) using the Waterfall model to design the web-based ATS, followed by expert validation by six reviewers (I-CVI 0.83–1.00) and reliability testing using the Intraclass Correlation Coefficient (ICC = 0.96). The second stage employed a true experimental design with a post-test only control group. A total of 100 patients were randomly assigned to the intervention group (web-based ATS) and the control group (manual triage). Speed of triage assessment was analyzed using the Independent Samples t-test, while determination BPJS claim was assessed using Fisher’s Exact Test.
Results: The intervention group demonstrated a mean kecepatan penilaian triase of 2.10 minutes, faster than the control group at 4.77 minutes (p < 0.001). The accuracy of BPJS claim priority in the intervention group reached 96%, higher than the control group at 82%. Fisher’s Exact Test yielded p = 0.025 with an Odds Ratio of 5.26.
Conclusion: The web-based ATS is proven effective in reducing kecepatan penilaian triaseand improving the accuracy of BPJS claim priority, making it a feasible clinical decision-support tool for emergency triage services.
Keywords: Web-based ATS(Australian Triage Scale), Speed of triage assessment, BPJS Claim




1Graduate Student of the Master's Program in Nursing, Department of Nursing, Faculty of Health Sciences, University of Jenderal Soedirman
2Department of Nursing, Faculty of Health Sciences, University of Jenderal Soedirman
4917351993I1E021004Pendayagunaan Objek Wisata Alam De Gomblang Kedungbanteng Banyumas Sebagai Prasarana Kegiatan CampingPENDAHULUAN
Pendidikan jasmani pada umumnya adalah komponen integral dari pendidikan. Pendidikan jasmani memberikan anak peluang untuk belajar tentang beragam aktivitas secara fisik, mental, sosial, emosional dan moral memelihara dan mengembangkan potensi mereka (Mustafa, 2022). Pendidikan jasmani memiliki ruang lingkup diantaranya: permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, aktivitas senam, aktivitas ritmik, aktivitas air, kesehatan, dan pendidikan luar kelas (Tifal, 2023). Pendidikan luar kelas merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas belajar anak melalui pembelajaran diluar sekolah. Pendidikan luar kelas adalah aktivitas luar sekolah yang berisi kegiatan di luar kelas atau sekolah dan di alam bebas. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan diluar kelas memiliki manfaat yang jauh lebih besar dari pada kegiatan yang hanya dilakukan di dalam ruangan (Anggraini, 2021).
Pendayagunaan objek wisata alam De Gomblang merupakan upaya pemanfaatan potensi sumber daya yang dimiliki secara optimal agar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Menurut (Aliim & Darwis, 2023), Salah satu bentuk pendayagunaan tersebut dapat dilakukan melalui pengalokasian berbagai sumber daya kepada kelompok maupun individu dalam masyarakat. Pengalokasian ini memungkinkan pemanfaatan sumber daya secara lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan. Prasarana dan sarana dapat menjadi salah satu penunjang yang sangat penting agar daya tarik wisata banyak diminati wisatawan (Humagi et al., 2021).
Objek wisata sebagai prasarana pembelajaran aktivitas luar kelas saat ini telah banyak dijumpai pada setiap kabupaten atau kota yang ada di Indonesia salah satunya di Desa Kalisalak, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Wisata Alam De Gomblang memiliki pemandangan alam yang dapat digunakan sebagai spot foto yang indah. Aktivitas De Gomblang tidak sekedar melihat keindahan air terjun saja, pengunjung juga dapat trekking, hiking, dan camping.
Camping atau berkemah merupakan aktivitas yang biasa dilaksanakan dengan tidur di tenda dan di ruangan terbuka (Nurkhaliza et al., 2025). Kegiatan camping bertujuan untuk membina dan mengembangkan berbagai aspek peserta didik, meliputi ketahanan mental, kemandirian, moral, emosional, intelektual, serta kemampuan sosial lainnya. Hal tersebut sejalan dengan teori perkembangan kemandirian yang dikemukakan oleh Hurlock yang menjelaskan bahwa kemandirian anak mencakup kemampuan dalam mengelola diri sendiri, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan (Zahrok, 2025).
Objek Wisata De Gomblang bisa dijadikan sebagai prasarana pendidikan luar kelas khususnya kegiatan camping. Hal ini dibuktikan dengan adanya area camping dan beberapa kalangan dari pelajar, umum, dan komunitas pecinta alam yang sudah melaksanakan kegiatan camping di Objek Wisata Alam De Gomblang. Namun, dalam kegiatan camping di wisata tersebut belum optimal hal ini dikarenakan pengunjung belum dapat mendayagunakan untuk pendidikan luar kelas khususnya kegiatan camping. Di samping itu, belum banyak di angkat tema terkait hal tersebut, sehingga, penulis tertarik untuk mengkaji dengan judul ‘‘Pendayagunaan Objek Wisata Alam De Gomblang Kedungbanteng Banyumas Sebagai Prasarana Kegiatan Camping.’’

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang dilaksanakan di Wisata Alam De Gomblang serta di sekolah-sekolah yang telah melaksanakan kegiatan aktivitas luar kelas di objek wisata tersebut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juni 2025. Subjek penelitian terdiri atas dua guru PJOK dari SMK Tujuh Lima 2 Purwokerto dan dua guru PJOK dari SMA Negeri 1 Banyumas. Selain itu, responden juga melibatkan siswa tingkat SMA sederajat, yaitu 11 siswa dari SMA Negeri 1 Banyumas dan 28 siswa dari SMK Tujuh Lima 2 Purwokerto. Pemilihan informan dilakukan berdasarkan kriteria bahwa mereka telah mengikuti kegiatan aktivitas luar kelas di Objek Wisata Alam De Gomblang. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi empat tahap, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Objek Wisata Alam De Gomblang Kedungbanteng Banyumas dapat didayagunakan sebagai prasarana kegiatan camping yang bersifat edukatif dan rekreatif. Pendayagunaan objek wisata ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana rekreasi, tetapi juga sebagai media pembelajaran luar kelas yang mendukung pengembangan karakter peserta didik melalui pengalaman belajar langsung di alam terbuka. Pemanfaatan lingkungan alam sebagai ruang belajar memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kerja sama, tanggung jawab, kemandirian, serta kepedulian terhadap lingkungan (Hidayat, 2022).
Kegiatan camping sebagai bagian dari pembelajaran luar kelas selaras dengan konsep experiential learning yang menekankan pengalaman nyata sebagai sumber pembelajaran. Melalui aktivitas di alam terbuka, peserta didik memperoleh pengalaman sosial dan emosional yang tidak sepenuhnya dapat diperoleh melalui pembelajaran di dalam kelas. Hal ini sejalan dengan pendapat bahwa pembelajaran luar kelas mampu meningkatkan keterampilan sosial, komunikasi, dan kolaborasi peserta didik karena adanya interaksi langsung dengan lingkungan dan kelompok (Kurniawan et al., 2025).
Pendayagunaan objek wisata sebagai sarana pendidikan juga menunjukkan adanya integrasi antara sektor pariwisata dan pendidikan. Lingkungan wisata yang memiliki potensi alam, ruang terbuka, serta fasilitas dasar memungkinkan kegiatan pembelajaran berlangsung secara kontekstual dan bermakna. Menurut Priatna (2022), fasilitas dan prasarana wisata merupakan unsur penting dalam mendukung aktivitas pengunjung, termasuk kegiatan edukatif, karena berperan dalam menciptakan kenyamanan, keamanan, dan kelancaran aktivitas yang dilakukan di kawasan wisata.
Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa Wisata Alam De Gomblang telah dimanfaatkan oleh sekolah sebagai lokasi kegiatan aktivitas luar kelas, khususnya camping pendidikan. Pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa objek wisata memiliki nilai edukatif yang relevan dengan tujuan pembelajaran pendidikan jasmani dan penguatan karakter peserta didik. Dengan demikian, pendayagunaan kawasan wisata sebagai prasarana pendidikan dapat menjadi alternatif inovatif dalam mendukung pembelajaran berbasis pengalaman di luar ruang kelas.

Faktor Pendukung Pendayagunaan Objek Wisata Alam De Gomblang sebagai Prasarana Kegiatan Camping
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa faktor pendukung utama dalam pendayagunaan Objek Wisata Alam De Gomblang sebagai prasarana kegiatan camping. Faktor pertama adalah kondisi alam dan lokasi yang masih asri serta strategis. Lingkungan alam yang alami memberikan suasana belajar yang kondusif sehingga peserta didik dapat berinteraksi langsung dengan alam sekaligus meningkatkan pengalaman belajar yang autentik. Lingkungan alami diketahui memiliki kontribusi positif terhadap pembentukan karakter, kepedulian lingkungan, serta kesehatan mental peserta didik dalam kegiatan pendidikan luar kelas (Kurniawan et al., 2025).
Faktor pendukung berikutnya adalah ketersediaan fasilitas dan prasarana dasar yang cukup memadai. Fasilitas seperti area camping ground, sumber air bersih, toilet, tempat ibadah, dan area terbuka menjadi unsur penting dalam menunjang keberlangsungan kegiatan camping. Menurut Priatna (2022), keberadaan fasilitas dasar merupakan indikator penting kelayakan suatu destinasi wisata karena fasilitas tersebut menentukan tingkat kenyamanan dan keamanan pengguna.
Selain itu, aksesibilitas menuju lokasi yang relatif mudah dan biaya yang terjangkau juga menjadi faktor pendukung utama. Kemudahan akses memungkinkan sekolah untuk melaksanakan kegiatan luar kelas tanpa menghadapi kendala transportasi yang signifikan. Biaya yang terjangkau turut meningkatkan peluang pemanfaatan objek wisata sebagai lokasi kegiatan pendidikan secara berkelanjutan.
Faktor pendukung lainnya adalah tingginya nilai edukatif yang terkandung dalam kegiatan camping. Aktivitas camping mampu menumbuhkan kerja sama kelompok, komunikasi interpersonal, kepemimpinan, serta tanggung jawab individu. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian tujuan pendidikan jasmani yang menekankan perkembangan peserta didik secara menyeluruh, baik aspek fisik, sosial, maupun emosional (Hidayat, 2022).

Faktor Penghambat Pendayagunaan Objek Wisata Alam De Gomblang sebagai Prasarana Kegiatan Camping
Meskipun memiliki potensi yang besar, pendayagunaan Objek Wisata Alam De Gomblang sebagai prasarana kegiatan camping masih menghadapi beberapa faktor penghambat. Faktor utama yang ditemukan dalam penelitian ini adalah keterbatasan fasilitas pendukung, khususnya pada aspek keselamatan dan kesehatan. Belum tersedianya fasilitas keselamatan yang lengkap, seperti perlengkapan P3K yang memadai, menjadi perhatian penting karena kegiatan camping termasuk aktivitas luar ruang yang memiliki risiko tertentu.
Faktor penghambat berikutnya adalah kondisi akses jalan menuju lokasi yang belum sepenuhnya optimal. Beberapa bagian jalan masih memerlukan perbaikan sehingga dapat memengaruhi kenyamanan perjalanan peserta kegiatan. Aksesibilitas merupakan komponen penting dalam pengembangan destinasi wisata edukatif karena berkaitan langsung dengan kemudahan mobilitas pengunjung (Priatna, 2022).
Selain itu, aspek keamanan dan sistem pengelolaan masih memerlukan peningkatan. Meskipun kegiatan camping tetap dapat berlangsung dengan pengawasan guru dan aturan kegiatan yang jelas, penguatan sistem mitigasi risiko dan manajemen keamanan tetap diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan pengguna. Pengelolaan destinasi wisata yang optimal menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pemanfaatan kawasan wisata sebagai sarana pendidikan (Kurniawan et al., 2025).
Secara keseluruhan, faktor penghambat yang ditemukan tidak menghilangkan potensi Wisata Alam De Gomblang sebagai lokasi camping edukatif, namun menunjukkan perlunya peningkatan fasilitas, aksesibilitas, serta sistem pengelolaan agar pemanfaatannya dapat berjalan lebih optimal, aman, dan berkelanjutan.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pendayagunaan Objek Wisata Alam De Gomblang Kedungbanteng Banyumas sebagai prasarana kegiatan camping, dapat disimpulkan bahwa pendayagunaan objek wisata merupakan upaya optimalisasi pemanfaatan potensi sumber daya agar memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Melalui pembagian peran serta pemanfaatan sumber daya yang sesuai dengan kebutuhan dan keahlian masing-masing pihak, Wisata Alam De Gomblang mampu meningkatkan nilai guna wisata, mendukung kegiatan edukatif dan rekreatif, serta memberikan kontribusi terhadap pemberdayaan masyarakat lokal. Pendayagunaan tersebut didukung oleh kondisi alam yang asri dan strategis, ketersediaan fasilitas dasar yang cukup memadai, aksesibilitas yang relatif mudah dan terjangkau, serta nilai edukatif kegiatan camping yang mendukung pembelajaran luar kelas dan penguatan karakter peserta didik. Namun demikian, pemanfaatannya masih menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan fasilitas pendukung terutama pada aspek keselamatan dan kesehatan, kondisi akses jalan yang belum optimal, serta sistem keamanan dan pengelolaan yang masih perlu ditingkatkan agar pelaksanaan kegiatan camping dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian, sekolah diharapkan terus memanfaatkan Wisata Alam De Gomblang sebagai sarana pembelajaran luar kelas melalui kegiatan camping dengan perencanaan yang matang, terutama terkait keselamatan dan keterkaitan dengan tujuan pembelajaran. Pengelola wisata diharapkan meningkatkan fasilitas pendukung, khususnya aspek keamanan, kebersihan, dan kenyamanan, serta menyusun pedoman kegiatan camping edukatif dan memperkuat kerja sama dengan pihak sekolah. Selain itu, peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian dengan cakupan yang lebih luas dan sudut pandang berbeda agar hasil kajian menjadi lebih mendalam dan komprehensif.
UTILIZATION OF THE DE GOMBLANG KEDUNGBANTENG
BANYUMAS NATURAL TOURISM OBJECT AS
CAMPING ACTIVITY INFRASTRUCTURE

PENDAYAGUNAAN OBJEK WISATA ALAM DE GOMBLANG KEDUNGBANTENG BANYUMAS SEBAGAI
PRASARANA KEGIATAN CAMPING

1Ayu Sri Lestari, 2Indra Jati Kusuma, 3Bayu Suko Wahono

1Student of Physical Education Department, Faculty of Health Sciences,
Jenderal Soedirman University, 2,3Lecturer of Department of Physical Education,
Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University

Department of Physical Education, Faculty of Health Science
Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Indonesia
Jl.Dr.Soeparno, Karangwangkal, Purwokerto Utara 53123 Telp (0281) 642838
Email: ayusrilestari7878@gmail.com

ABSTRACT

Background: Physical education plays an important role in developing students’ overall potential, one of which is through outdoor education. Outdoor learning utilizes nature as a meaningful learning medium, particularly through camping activities that foster cooperation, independence, responsibility, and environmental awareness. De Gomblang Nature Tourism Village in Banyumas Regency has natural potential and supporting facilities for such activities; however, its utilization as an outdoor education facility has not been fully optimized. Therefore, this study aims to examine the utilization of De Gomblang Nature Tourism as a facility for camping activities.

Methodology: This study employed a descriptive qualitative method. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis in this qualitative research used the Miles and Huberman model. The informants consisted of physical education teachers or accompanying teachers, managers of De Gomblang Nature Tourism Village, and students.

Research Results: The results show that De Gomblang Nature Tourism, Kedungbanteng, Banyumas, has been utilized as an educational camping facility through experiential-based outdoor learning. This utilization is supported by its natural and strategic location, the availability of adequate basic facilities, relatively good accessibility with affordable costs, and the educational value of camping activities. However, several obstacles remain, including limited supporting infrastructure, suboptimal road access conditions, security aspects that need improvement, and management readiness that has not yet been fully optimized.

Conclusion: The De Gomblang Natural Tourism Site in Kedungbanteng, Banyumas, can be utilized as a facility for educational and recreational camping activities. The supporting factors include its natural and strategic environment, adequate basic facilities, relatively easy and affordable access, and educational value that supports outdoor learning. Meanwhile, the inhibiting factors include limitations in supporting facilities, particularly related to safety and health, suboptimal road access, as well as security and management systems that still require improvement.

Keywords: Facility Utilization, Camping, De Gomblang Nature Tourism Village

4917452063C1I019007THE EFFECT OF QRIS USE, ACCOUNTING INFORMATION SYSTEM, AND ORGANIZATIONAL CULTURE ON SMEs PERFORMANCE IN BANYUMAS REGENCY
Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kabupaten Banyumas berperan penting dalam ekonomi daerah, namun masih menghadapi hambatan seperti rendahnya adopsi teknologi digital, pencatatan keuangan yang belum optimal, dan tata kelola organisasi yang lemah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penggunaan QRIS, Sistem Informasi Akuntansi, dan budaya organisasi terhadap kinerja UKM. Pendekatan kuantitatif digunakan melalui survei terhadap 74 UKM sektor makanan dan minuman yang tersebar di Kabupaten Banyumas dengan metode purposive sampling, dan data dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan QRIS berpengaruh terhadap kinerja UKM karena mempercepat transaksi, meningkatkan efisiensi, serta mendorong pertumbuhan penjualan dan pendapatan. QRIS mencerminkan pemanfaatan sumber daya teknologi strategis yang memperkuat perspektif Resource Based View (RBV) Theory. Sebaliknya, Sistem Informasi Akuntansi dan budaya organisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja UKM karena penerapannya masih terbatas dan informal. Secara praktis, hasil penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan adopsi QRIS melalui literasi digital, pelatihan, dan pendampingan untuk meningkatkan daya saing UKM secara berkelanjutan.
Kata Kunci: QRIS, Sistem Informasi Akuntansi, Budaya Organisasi, Kinerja UKM
Small and Medium Enterprises (SMEs) in Banyumas Regency play an important role in the regional economy, but still face obstacles such as low adoption of digital technology, suboptimal financial recording, and weak organizational governance. This study aims to analyze the effect of QRIS usage, Accounting Information Systems, and organizational culture on SMEs performance. A quantitative approach was used through a survey of 74 food and beverage SMEs spread across Banyumas Regency using purposive sampling, and the data was analyzed using multiple linear regression. The results show that QRIS affects SMEs performance by speeding up transactions, increasing efficiency, and encouraging sales and revenue growth. QRIS reflects the utilization of strategic technological resources that strengthen the Resource Based View (RBV) Theory perspective. Conversely, Accounting Information Systems and organizational culture do not affect SMEs performance because their implementation is still limited and informal. Practically, the results of this study emphasize the importance of increasing QRIS adoption through digital literacy, training, and mentoring to improve the competitiveness of SMEs in a sustainable manner.
Keywords : QRIS, Accounting Information System, Organizational Culture, SMEs Performance
4917552094F1A022056Poverty Porn dalam Filantropi Digital (Studi Literatur pada Konten YouTube Willie Salim)Perkembangan platform digital mendorong munculnya praktik filantropi yang diproduksi dan disebarkan melalui media sosial, terutama YouTube. Dalam praktiknya, sebagian konten filantropi menampilkan kondisi kemiskinan secara emosional untuk menarik perhatian audiens. Fenomena ini dikenal sebagai poverty porn, yaitu representasi kemiskinan secara dramatis untuk menarik simpati dan rasa iba. Penelitian ini membahas tentang bagaimana keterkaitan konsep Poverty Porn dan komodifikasi serta monetisasi dalam filantropi digital dan relevansinya dengan konten YouTube Willie Salim. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deskriptif dengan metode studi literatur. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis konseptual dengan pendekatan studi pustaka. Adapun validasi dalam penelitian ini dilakukan dengan mengutamakan sumber-sumber ilmiah dari jurnal terindeks, buku akademik, dan portal berita terkredibel. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada keterkaitan antara konsep poverty porn dan komodifikasi serta monetisasi dalam filantropi digital. Di mana konten filantropi memanfaatkan poverty porn untuk dikomodifikasi dengan berbagai narasi penderitaan yang dramatis sehingga menarik perhatian publik, kemudian meningkatkan engagement dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan melalui monetisasi YouTube. Komodifikasi tidak hanya terjadi pada objek representasi kemiskinan, tetapi juga emosi audiens serta nilai sosial seperti empati dan solidaritas. Fenomena ini dapat terlihat dalam konten filantropi yang diproduksi Willie Salim di Platform YouTube.The development of digital platforms has encouraged the emergence of philanthropic practices that are produced and disseminated through social media, especially YouTube. In practice, some philanthropic content depicts poverty in an emotional manner to attract the audience's attention. This phenomenon is known as poverty porn, which is the dramatic representation of poverty to attract sympathy and pity. This study discusses the relationship between the concept of poverty porn and commodification and monetization in digital philanthropy and its relevance to Willie Salim's YouTube content. This study is a qualitative- descriptive study using a literature review method. The data analysis used in this study is conceptual analysis with a literature study approach. The validation in this study was carried out by prioritizing scientific sources from indexed journals, academic books, and credible news portals. The results of the study show that there is a connection between the concepts of poverty porn and commodification and monetization in digital philanthropy. Philanthropy content utilizes poverty porn to be commodified with various dramatic narratives of suffering in order to attract public attention, thereby increasing engagement and ultimately increasing revenue through YouTube monetization. Commodification occurs not only in the representation of poverty, but also in the emotions of the audience and social values such as empathy and solidarity. This phenomenon can be seen in the philanthropic content produced by Willie Salim on YouTube.
4917651985J1E021057EXPLORING STUDENTS’ PERCEPTIONS OF THE ROLES OF ENGLISH DRAMA PERFORMANCE IN SPEAKING PROFICIENCY (A Narrative Inquiry on English Language Education Study Program Students of Jenderal Soedirman University in the Academic Year 2021)
Fadiyah, Fathin Nur. 2026. Exploring Students’ Perceptions of the Roles of English Drama Performance in Speaking Proficiency (A Narrative Inquiry on English Language Education Students in the Academic Year 2021 at Jenderal Soedirman University). Pembimbing 1: Dian Adiarti, S.Pd., M.Hum., Pembimbing 2: Laxmi Mustika Cakrawati, M.Pd., Ketua Penguji Eksternal: Novita Pri Andini, S.Pd., M.Pd., Penguji Eksternal: Nisa Roiyasa, S.Pd., M.TESOL., Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Universitas Jenderal Soedirman, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Pendidikan Bahasa, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Purwokerto.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi mahasiswa terhadap peran pementasan drama berbahasa Inggris dalam mendukung kemampuan berbicara mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Jenderal Soedirman. Kemampuan berbicara sering dianggap sebagai keterampilan yang paling menantang bagi pembelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL) karena keterbatasan kosakata, kesulitan pelafalan, rendahnya kepercayaan diri, dan kecemasan berbicara. Sebagai upaya mengatasi permasalahan tersebut, pementasan drama berbahasa Inggris diterapkan sebagai teknik pembelajaran, khususnya pada mata kuliah Literature Appreciation dan Literature Teaching. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan narrative inquiry. Data dikumpulkan melalui kuesioner pendahuluan yang diberikan kepada 52 mahasiswa, kemudian dilanjutkan dengan wawancara mendalam terhadap tiga partisipan yang dipilih secara purposif untuk mewakili persepsi positif, netral, dan negatif. Data wawancara dianalisis menggunakan analisis tematik berdasarkan enam tahap Braun dan Clarke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pementasan drama berbahasa Inggris berperan dalam meningkatkan kefasihan, kesadaran pelafalan, penggunaan kosakata, dan kepercayaan diri mahasiswa dalam berbicara. Selain itu, drama mendorong penggunaan bahasa secara autentik, latihan berbicara berulang, serta membantu mengurangi kecemasan berbicara melalui peran dan pementasan. Namun, penelitian ini juga menemukan beberapa tantangan, seperti kesulitan menghafal naskah, kecemasan tampil, serta tuntutan menyeimbangkan aspek kebahasaan dan akting. Secara keseluruhan, pementasan drama berbahasa Inggris dipersepsikan sebagai pengalaman belajar yang bermakna dan mendukung perkembangan linguistik serta afektif mahasiswa. Penelitian ini merekomendasikan integrasi drama sebagai pendekatan inovatif dalam pembelajaran berbicara bahasa Inggris.
Fadiyah, Fathin Nur. 2026. Exploring Students’ Perceptions of the Roles of English Drama Performance in Speaking Proficiency (A Narrative Inquiry on English Language Education Students in the Academic Year 2021 at Jenderal Soedirman University). Supervisor 1: Dian Adiarti, S.Pd., M.Hum., Supervisor 2: Laxmi Mustika Cakrawati, M.Pd., Chief External Examiner: Novita Pri Andini, S.Pd., M.Pd., External Examiner: Nisa Roiyasa, S.Pd., M.TESOL., Ministry of Higher Education, Science, and Technology, Jenderal Soedirman University, Faculty of Humanities, Department of Language Education, English Education Study Program, Purwokerto.
This study explores students’ perceptions of the roles of English drama performance in supporting speaking proficiency among English Language Education students at Jenderal Soedirman University. Speaking proficiency is often considered one of the most challenging skills for EFL learners due to factors such as limited vocabulary, pronunciation difficulties, low confidence, and speaking anxiety. To address these challenges, English drama performance has been implemented as a learning technique, particularly in the English Literature Appreciation and Literature Teaching courses. This research employed a qualitative narrative inquiry design. Data were collected through a preliminary questionnaire distributed to 52 students, followed by in-depth interviews with three purposively selected participants representing positive, neutral, and negative perceptions. The interview data were analyzed using thematic analysis based on Braun and Clarke’s six-phase framework. The findings indicate that English drama performance supports students’ speaking proficiency by enhancing fluency, pronunciation awareness, vocabulary use, and speaking confidence. Drama activities also promote authentic language use, repeated oral practice, and reduced speaking anxiety through role enactment. However, challenges were identified, including script memorization, performance anxiety, and the need to balance linguistic accuracy with acting demands. Despite these challenges, students generally perceived drama performance as a meaningful and engaging learning experience that contributes to both linguistic and affective development. In conclusion, English drama performance plays a positive role in supporting speaking proficiency by providing experiential learning opportunities and a supportive environment for oral communication. The study suggests that integrating drama-based activities into English language instruction can enhance students’ communicative competence and confidence.
4917751987I2B024011PENGARUH APLIKASI SIMION (SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
INOTROPIK ONLINE) TERHADAP PENINGKATAN KETEPATAN
DAN DURASI PERAWAT DALAM PERHITUNGAN
RUMUS INOTROPIK DI RSUD AJIBARANG
ABSTRAK
PENGARUH APLIKASI SIMION (SISTEM INFORMASI MANAJEMEN INOTROPIK ONLINE) TERHADAP PENINGKATAN KETEPATAN DAN DURASI PERAWAT DALAM PERHITUNGAN RUMUS INOTROPIK DI RSUD AJIBARANG
Umarmono1, Iwan Purnawan2, Ridlwan Kamaluddin3
1Mahasiswa Magister Keperawatan, Universitas Jenderal Soedirman
2Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal

Latar Belakang: Manajemen syok merupakan kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan respons cepat dan tepat pada periode golden time untuk mencegah disfungsi organ dan peningkatan mortalitas. Pemberian obat inotropik menjadi terapi utama dalam stabilisasi hemodinamik pasien kritis. Namun, perhitungan dosis yang masih dilakukan secara manual berisiko menimbulkan kesalahan dan keterlambatan terapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aplikasi SIMION (Sistem Informasi Manajemen Inotropik Online) terhadap peningkatan ketepatan dan durasi perawat dalam perhitungan dosis obat inotropik di RSUD Ajibarang.
Metode: Penelitian ini menggunakan dua tahap. Tahap I menggunakan metode Research and Development (R&D) untuk pengembangan dan uji validitas aplikasi. Tahap II menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan posttest-only control group design. Sampel penelitian adalah perawat di RSUD Ajibarang. Ketepatan perhitungan dinilai berdasarkan kesesuaian hasil dengan standar yang benar, sedangkan durasi diukur menggunakan stopwatch dalam satuan menit. Analisis data menggunakan uji statistik Mann withney dan Uji Fisher Exact.
Hasil: Uji validitas isi melalui expert judgment menunjukkan nilai Content Validity Index (CVI) sebesar 1 pada seluruh item. Uji kelayakan penggunaan (usability) menunjukkan tingkat penerimaan sebesar 95,6%, yang mengindikasikan aplikasi sangat mudah digunakan. Pada tahap uji efektivitas, terdapat perbedaan yang signifikan pada durasi perhitungan dosis antara kelompok aplikasi dan manual dengan nilai p=0,000 (p<0,05). Selain itu, ketepatan perhitungan juga menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan nilai p=0,002 (p<0,05).
Kesimpulan: Aplikasi SIMION menunjukkan validitas tinggi (ICC = 0,875) dengan tingkat kelayakan 95,6%. Aplikasi ini efektif meningkatkan durasi dan ketepatan perhitungan dosis inotropik.
Kata kunci: Durasi perhitungan, golden time, inotropik, ketepatan dosis, keselamatan pasien
ABSTRACT
THE EFFECT OF THE SIMION (ONLINE INOTROPIC MANAGEMENT INFORMATION SYSTEM) APPLICATION ON INCREASING NURSES' ACCURACY AND DURATION IN CALCULATING INOTROPIC FORMULAS AT AJIBARANG REGIONAL HOSPITAL
Umarmono1, Iwan Purnawan2, Ridlwan Kamaluddin3
1Master's Degree Student in Nursing, Universitas Jenderal Soedirman
2Department of Nursing, Faculty of Health Sciences, Universitas Jenderal Soedirman

Background: Shock management is an emergency that requires a rapid and precise response during the golden time to prevent organ dysfunction and increased mortality. Inotropic drug administration is the primary therapy for hemodynamic stabilization in critically ill patients. However, manual dose calculations carry the risk of errors and delays in therapy. This study aims to analyze the effect of the SIMION (Online Inotropic Management Information System) application on improving the accuracy and duration of nurses calculating inotropic drug doses at Ajibarang Regional General Hospital.
Methods: This study involved two stages. Phase I utilized Research and Development (R&D) methods to develop and test the validity of the application. Phase II employed a quasi-experimental design with a posttest-only control group design. The study sample consisted of nurses at Ajibarang Regional General Hospital. Calculation accuracy was measured based on the balance of results with the correct standard, while duration was measured using a stopwatch in minutes. Data analysis used the Mann-Whitney statistical test and the Fisher Exact Test.
Results: Content validity testing using expert judgment showed a Content Validity Index (CVI) value of 1 for all items. The usability test showed an acceptance rate of 95.6%, indicating the application is very easy to use. In the effectiveness test, there was a significant difference in dose calculation duration between the application and manual groups with a p-value of 0.000 (p<0.05). Furthermore, calculation accuracy also showed a significant difference with a p-value of 0.002 (p<0.05).
Conclusion: The SIMION app demonstrated high validity (ICC = 0.875) with a 95.6% feasibility rate. It effectively improved the duration and quantified inotropic dose calculations.
Keywords: Duration calculation, golden time, inotropic, dose accuracy, patient safety
4917851983I2B024010PENGARUH SMART STIMULATION MAT (SSM) TERHADAP PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR, MOTORIK HALUS,
SOSIAL DAN EMOSIONAL PADA ANAK PRASEKOLAH DI TK INKLUSIF
Latar Belakang: Perkembangan motorik kasar, motorik halus, sosial, dan emosional anak usia dini perlu distimulasi secara optimal melalui media pembelajaran yang tepat. Namun, keterbatasan kegiatan pembelajaran yang mampu menstimulasi keempat aspek tersebut secara terpadu mendorong perlunya media stimulasi alternatif. Penelitian ini bertujuan mengembangkan desain Smart Stimulation Mat (SSM) sebagai media stimulasi untuk meningkatkan perkembangan motorik kasar, motorik halus, sosial dan emosional anak prasekolah di TK inklusif. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan dua tahap. Tahap pertama adalah pengembangan media belajar Smart Stimulation Mat (SSM) dengan model ADDIE, dengan melakukan uji CVI dan ICC. Tahap kedua menggunakan desain quasi-experimental pre-post control group. Sampel sebanyak 62 anak prasekolah dipilih menggunakan consecutive sampling yang terbagi atas 2 kelompok intervensi (n=31) dan kontrol (n=31). Penelitian dilakukan selama 4 minggu. Data dianalisis menggunakan, Wilcoxon-test dan Mann-Whitney U.Hasil: Uji validity Smart Stimulation Mat (SSM) dengan nilai S-CVI/UA=1 menunjukan validitas sangattinggi, dengan nilai kesepakatan antar rater sebesar 0.860 yang berarti baik, hasil kuesioner SUS sebesar 92,5 artinya layak digunakan. Hasil terdapat perbedaan bermakna terhadap perkembangan motorik kasar, motorik halus, sosial dan emosional sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok intervensi yang diberikan Smart Stimulation Mat (SSM) dengan nilai (p <0.05). sedangkan pada kelompok kontrol tidak ada perbedaan bermakna terhadap peningkatan motorik kasar, motorik halus, sosial dan emosional (p >0.05). Hasil uji Mann-Whitney U menyatakan terdapat perbedaan bermakna terhadap peningkatan perkembangan motorik kasar, motorik halus, sosial dan emosional antar kelompok intervensi dan kontrol dengan nilai p value <0.001. Kesimpulan: ada perbedaan bermakna terhadap perkembangan motorik kasar, motorik halus, sosial dan emosional antar kelompok intervensi dan kontrol.Background: The development of gross motor skills, fine motor skills, social skills, and emotional skills in early childhood needs to be optimally stimulated through appropriate learning media. However, the limitations of learning activities that are able to stimulate all four aspects in an integrated manner necessitate the use of alternative stimulation media. This study aims to develop a Smart Stimulation Mat (SSM) design as a stimulation medium to improve the gross motor, fine motor, social, and emotional development of preschool children in inclusive kindergartens. Method: This study used a two-stage Research and Development (R&D) method. The first stage was the development of a Smart Stimulation Mat (SSM) learning medium using the ADDIE model, with CVI and ICC tests. The second stage used a quasi-experimental pre-post control group design. A sample of 62 preschool children was selected using consecutive sampling, divided into two groups: intervention (n=31) and control (n=31). The study was conducted over a period of four weeks. Data were analyzed using the Wilcoxon test and Mann-Whitney U test. Results: The validity test of the Smart Stimulation Mat (SSM) with an S-CVI/UA value of 1 showed very high validity, with an inter-rater agreement value of 0.860, which is good, and a SUS questionnaire score of 92.5, which means it is suitable for use. The results show a significant difference in gross motor, fine motor, social, and emotional development before and after intervention in the intervention group given the Smart Stimulation Mat (SSM) with a value of (p <0.05). Meanwhile, in the control group, there was no significant difference in the improvement of gross motor, fine motor, social, and emotional development (p >0.05). The Mann-Whitney U test results showed a significant difference in the improvement of gross motor, fine motor, social, and emotional development between the intervention and control groups with a p value <0.001. Conclusion: There were significant differences in gross motor, fine motor, social, and emotional development between the intervention and control groups.
4917951986I1J022035The Relationship Between Income, Education, and Access to Health Services with Treatment Adherence among Tuberculosis Patient in Kembaran Public Health Centers 1 and 2Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan dan memerlukan pengobatan jangka panjang dengan tingkat kepatuhan yang tinggi. Kepatuhan pengobatan yang rendah dapat menyebabkan kegagalan terapi, kekambuhan, serta munculnya resistensi obat. Berbagai faktor sosial ekonomi dan lingkungan, seperti tingkat pendidikan, pendapatan, serta akses terhadap pelayanan kesehatan, sering dianggap berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan pasien TB. Pemahaman mengenai hubungan faktor-faktor tersebut dengan kepatuhan pengobatan sangat penting untuk mendukung upaya pengendalian TB yang efektif.

Metodologi: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif korelasional dan potong lintang (cross-sectional). Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Kembaran 1 dan 2, Kabupaten Banyumas. Populasi penelitian mencakup seluruh pasien TB yang terdaftar di kedua puskesmas tersebut, yaitu sebanyak 228 orang yang tersebar di 16 desa. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified proportional sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rho.

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori usia dewasa (64,2%), berjenis kelamin laki-laki (54,9%), tidak bekerja (53,7%), dan berpendidikan terakhir sekolah dasar (32,7%). Mayoritas responden memiliki pendapatan rendah (74,7%) dan akses terhadap pelayanan kesehatan dalam kategori sedang (46,9%). Tingkat kepatuhan pengobatan tergolong tinggi, dengan 72,2% responden menunjukkan kepatuhan yang baik. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendapatan, tingkat pendidikan, maupun akses pelayanan kesehatan dengan kepatuhan pengobatan (p > 0,05).

Kesimpulan: Pendapatan, pendidikan, dan akses pelayanan kesehatan bukan merupakan faktor yang memengaruhi kepatuhan pengobatan pasien TB dalam penelitian ini. Faktor lain, seperti dukungan keluarga, peran Pengawas Menelan Obat (PMO), serta dukungan kader kesehatan masyarakat, memiliki peran yang lebih dominan dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien TB.
Background: Tuberculosis (TB) remains a major public health concern requiring prolonged treatment and strict medication adherence. Poor adherence can result in treatment failure, relapse, and the emergence of drug-resistant TB. Various socio-economic and environmental factors—such as education level, income, and access to health services—are often assumed to influence patients’ adherence to TB treatment. Understanding whether these factors are associated with adherence is crucial for strengthening TB control programs and improving treatment outcomes.

Methodology: This study used a quantitative design with a descriptive correlational and cross-sectional approach. The research was conducted at Kembaran Public Health Centers 1 and 2 in Banyumas Regency. The study population included all registered TB patients at both health centers, totaling 228 individuals across 16 villages. Samples were selected using stratified proportional sampling to ensure representation. Data analysis was performed using the Spearman Rho correlation test to examine the relationship between socio-economic factors, access to health services, and treatment adherence.

Results: The findings showed that most respondents were adults (64.2%), male (54.9%), unemployed (53.7%), and had an elementary school education (32.7%). The majority were categorized as having low income (74.7%) and moderate access to health services (46.9%). Despite these conditions, treatment adherence was predominantly high, with 72.2% of patients demonstrating good adherence. Statistical analysis revealed no significant relationship between income, education level, or access to health services and treatment adherence (p > 0.05).

Conclusion: Income, education, and access to health services were not determining factors in TB treatment adherence in this study. Instead, adherence was more strongly influenced by other factors, such as family support, the role of treatment supervisors (PMO), and assistance from community health cadres, highlighting the importance of social and community-based support systems in TB management.
4918051990I2B024016PENGARUH IMMERSIVE AUDIO THERAPY AND SPIRITUALITY HYPNOSIS SUGGESTION (IMATHESIS) PADA NYERI DAN RESPON FISIOLOGIS PASIEN KANKER PAYUDARA
Latar Belakang: Nyeri merupakan keluhan dominan pada pasien kanker payudara pascamastektomi yang berdampak negatif terhadap kualitas hidup serta memicu respon stres fisiologis berupa ketidakstabilan tanda-tanda vital. Intervensi nonfarmakologis berbasis audio imersif dan hipnosis spiritual berpotensi menjadi pendekatan komplementer yang aman, namun bukti klinisnya masih terbatas. Tujuan: Menganalisis pengaruh Immersive Audio Therapy and Spirituality Hypnosis Suggestion (IMATHESIS) terhadap intensitas nyeri dan respon fisiologis pasien kanker payudara. Metode: Penelitian ini menggunakan desain dua tahap. Tahap I merupakan Research and Development (R&D) model ADDIE untuk mengembangkan produk yang divalidasi pakar. Tahap II menggunakan desain quasi-experimental pretest–posttest control group pada 30 intervensi, 30 kontrol dengan teknik consecutive sampling. Instrumen penelitian menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dan monitor digital. Kelompok intervensi menerima satu sesi IMATHESIS berdurasi 22 menit (termasuk 17 menit paparan audio inti). Analisis data menggunakan uji parametrik (Paired t-test dan Independent t-test) dan non-parametrik (Wilcoxon dan Mann–Whitney). Hasil: Validasi pakar menunjukkan produk sangat layak dengan nilai I-CVI Pakar Teknologi Informasi 0.95 dan I-CVI Pakar Hipnoterapi 0.93. Hasil uji klinis menunjukkan penurunan signifikan pada intensitas nyeri (p<0.001), tekanan darah sistolik (p=0.012), frekuensi nadi (p=0.028), dan respirasi (p<0.001) pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol. Analisis Effect Size mengonfirmasi dampak klinis yang besar (r=0.82) dalam menurunkan nyeri. Kesimpulan: IMATHESIS terbukti efektif menurunkan intensitas nyeri dan menstabilkan respon fisiologis, sehingga direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan komplementer mandiri bagi pasien kanker payudara. Kata kunci: audio-imersif, hipnosis-spiritual, kanker-payudara, keperawatan komplomenter, nyeri
Background: Pain is a major complaint among patients who have had breast cancer post mastectomy and can contribute to poor quality of life and physiological stress through disrupted vital signs. Immersive audio and spiritual hypnosis appear to have potential as safe complementary therapies, but limited empirical evidence exists. Objective: The aim was to determine the effects of Immersive Audio Therapy and Spirituality Hypnosis Suggestion (IMATHESIS) on the severity of pain and the physiological reactions in breast cancer patients. Methods: A two-phase study developed using the ADDIE R&D model for expert-validated product development, and a quasi‐experimental pretest-posttest control group design was conducted. Sixty subjects (30 intervention, 30 control) were assessed by both the Numeric Rating Scale and digital monitors. The intervention group received a 22-minute IMATHESIS session (inclusive of 17 minutes of core audio exposure). Data were examined with parametric testing (Paired t-test, Independent t-test), and nonparametric tests (Wilcoxon Signed-Rank Test and Mann-Whitney U Test). Results: The method had strong feasibility as proved by expert validation (IT I-CVI=0.95; Hypnotherapy I-CVI=0.93). Statistical analysis in clinical studies observed a significant reduction in pain (p<0.001), systolic blood pressure (p=0.012), heart rate (p=0.028) and respiratory rate (p<0.001) between intervention group and controls. The effect size analysis reveals an overall high clinical impact (r=0.82) for pain management. Conclusion: IMATHESIS promotes reduction of pain and physiological response, which may justify its recommendation as an independent complementary nursing intervention for breast cancer patients.