Artikelilmiahs
Menampilkan 36.701-36.720 dari 49.002 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 36701 | 39617 | C1C019026 | Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketepatan Waktu Pelaporan Keuangan dengan Ukuran Perusahaan Sebagai Variabel Pemoderasi | Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan menguji faktor-faktor yang diproksikan melalui profitabilitas, kompleksitas operasi, opini audit dan persentase kepemilikan yang mempengaruhi ketepatan waktu pelaporan keuangan dengan ukuran perusahaan sebagai variabel pemoderasi pada perusahaan sub sektor jasa konsumen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2018-2021. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan sub sektor jasa konsumen yang terdaftar di BEI tahun 2018-2021. Total sampel yang diperoleh yaitu 75 sampel penelitian. Pengambilan sampel yang dilakukan menggunakan metode purposive sampling berdasarkan kriteria yang ditentukan peneliti. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi logistik dan Moderated Regression Analysis (MRA) dengan menggunakan aplikasi SPSS IBM 26. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel profitablitas berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan, variabel kompleksitas operasi, opini audit dan persentase kepemilikan tidak berpengaruh terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan, ukuran perusahaan memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan, ukuran perusahaan tidak mampu memoderasi pengaruh kompleksitas operasi, opini audit dan persentase kepemilikan terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan. | The purpose of this study was to analyze and examine the of factors proxied through profitability, operating complexity, audit opinion, and ownership percentage on the timeliness of financial reporting with company size as a moderating variable in consumer service sub-sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2018–2021. The population in this study are consumer service sub-sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2018–2021. The total number of samples obtained is 75. Sampling was carried out using a purposive sampling method based on the criteria determined by the researcher. The data analysis technique uses logistic regression analysis and moderated regression analysis (MRA) using the SPSS IBM 26 application. The results of this study indicate that the profitability variable has an effect on the timeliness of financial reporting, the operation complexity variable, audit opinion, and ownership percentage have no effect on the timeliness of financial reporting, company size moderates the effect of profitability on the timeliness of financial reporting, and company size is not able to moderate the effect of the complexity of operations, audit opinion, and the percentage of ownership on the timeliness of financial reporting. | |
| 36702 | 39618 | C1C019100 | Determinan Financial Distress pada Perusahaan Sektor Energi yang Terdaftar di BEI Tahun 2018-2021 | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh likuiditas, leverage, profitabilitas, ukuran perusahaan, dewan komisaris dan dewan direksi terhadap financial distress. Analisis pada penelitian ini dilakukan terhadap 80 data perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang terpilih sebagai sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling. Dengan menggunakan analisis regresi logistik, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1). Likuiditas berpengaruh negatif terhadap financial distress. 2). Leverage berpengaruh positif terhadap financial distress. 3). Profitabilitas berpengaruh negatif terhadap financial distress. 4). Ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap financial distress. 5). Dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap financial distress. 6). Dewan direksi tidak berpengaruh terhadap financial distress. Implikasi teoretis dari penelitian ini adalah menambah pengetahuan terkait determinan financial distress khususnya bagi perusahaan sektor energi. Adapun implikasi manajerial dari penelitian ini adalah lebih meningkatkan pengelolaan kinerja keuangan dan membenahi sistem tata kelola perusahaan sehingga kegiatan operasional perusahaan dapat berjalan lebih maksimal dan dapat terhindar dari adanya ancaman risiko financial distress | This study aims to determine the effect of liquidity, leverage, profitability, company size, board of commissioners and board of directors on financial distress. The analysis in this study was conducted on 80 data of energy sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange which were selected as samples using purposive sampling technique. By using logistic regression analysis, the results of this study indicate that: 1). Liquidity has a negative effect on financial distress. 2). Leverage has a positive effect on financial distress. 3). Profitability has a negative effect on financial distress. 4). Company size has a negative effect on financial distress. 5). The board of commissioners has no effect on financial distress. 6). The board of directors has no effect on financial distress. The theoretical implication of this research is to increase knowledge related to the determinants of financial distress, especially for energy sector companies. The managerial implication of this research is to further improve financial performance management and improve the corporate governance system so that the company's operational activities can run more optimally and can avoid the threat of financial distress risk. | |
| 36703 | 39619 | E1A019315 | PIDANA BERSYARAT TERHADAP TINDAK PIDANA KECELAKAAN LALU LINTAS YANG DIPIDANA LEBIH DARI SATU TAHUN (Studi Putusan Nomor 62/Pid.Sus/2017/PN. Amp) | Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) telah mengatur tentang alternatif dari sanksi pidana penjara dalam praktek peradilan pidana yaitu pemidanaan bersyarat sebagaimana diatur dalam Pasal 14a sampai dengan Pasal 14f KUHP. Salah satu putusan yang berkaitan dengan penjatuhan pidana bersyarat adalah Putusan Nomor 62/Pid.Sus/2017/PN. Amp tentang tindak pidana kecelakaan lalu lintas karena kelalaian menyebabkan kematian. Berdasarkan Pasal 14a KUHP, pidana bersyarat dapat dijatuhkan apabila hakim memutus pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun, sedangkan dalam kasus tersebut hakim memutus lebih dari 1 (satu) tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan pidana bersyarat dan pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan pidana bersyarat terhadap tindak pidana kecelakaan lalu lintas. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian hukum secara yuridis normatif, dengan metode pendekatan undang-undang (statute approach) dan pendekatan kasus (case approach). Spesifikasi penelitian ini adalah preskriptif, dengan jenis dan sumber data sekunder, dan analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, menunjukan bahwa penerapan pidana bersyarat terhadap tindak pidana kecelakaan lalu lintas yang karena kelalaian menyebabkan kematian diputus oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Amplapura dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan. Hal tersebut dinilai kurang tepat, karena dasar hukum mengenai pidana bersyarat dalam KUHP adalah hakim memutus selama-lamanya 1 (satu) tahun. Adapun jika berpedoman pada KUHP maka seharusnya pidana bersyarat tidaklah dapat diterapkan dalam putusan tersebut. Putusan Pengadilan Negeri Amplapura Nomor 62/Pid.Sus/2017/PN. Amp tidak memberikan kepastian hukum. Hal tersebut dikarenakan hakim tidak mengikuti ketentuan mengenai penjatuhan pidana bersyarat dalam KUHP. Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Amplapura menimbulkan benturan antara kepastian hukum dan keadilan dengan kemanfaatan hukum. Hakim dalam perkara tersebut lebih mengedepankan nilai kemanfaatan hukum bagi Terpidana, namun mengesampingkan nilai kepastian hukum dan keadilan. | The Criminal Code (KUHP) has regulated an alternative to imprisonment criminal sanctions in the practice of criminal justice, namely conditional punishment as stipulated in Article 14a to Article 14f of the Criminal Code. One of the decisions related to conditional criminal conviction is Decision Number 62/Pid.Sus/2017/PN. Amp about the criminal act of a traffic accident due to negligence causing death. Based on Article 14a of the Criminal Code, conditional penalties can be imposed if the judge decides a maximum imprisonment of 1 (one) year, while in that case the judge decides more than 1 (one) year. This research aims to determine the application of conditional crimes and the judge's legal considerations in imposing conditional crimes against traffic accident crimes. This research uses a normative juridical type of legal research, with a statute approach and a case approach. The specification of this research is prescriptive, with secondary data types and sources, and data analysis is carried out qualitatively descriptively. Based on the results of research and discussion, it shows that the application of conditional crimes against traffic accident crimes due to negligence causes death to be decided by the Panel of Judges of the Amplapura District Court with imprisonment for 1 (one) year and 6 (six) months. This is considered inappropriate, because the legal basis regarding conditional crime in the Criminal Code is that the judge decides forever 1 (one) year. As for if it is guided by the Criminal Code, conditional crimes should not be applicable in the decision. Decision of Amplapura District Court forever 1 (one) year. As for if it is guided by the Criminal Code, conditional crimes should not be applicable in the decision. Decision of Amplapura District Court Number 62/Pid.Sus/2017/PN. Amp does not provide legal certainty. This is because the judge does not follow the provisions regarding the conditional criminal conviction in the Criminal Code. The decision of the Panel of Judges of the Amplapura District Court caused a clash between legal certainty and justice with legal benefits. The judge in the case prioritizes the value of legal benefit for the Convict, but overrides the value of legal certainty and justice. | |
| 36704 | 44129 | A1D019041 | Keragaman Genetik Padi Berdasarkan Marka Molekuler Terpaut Kandungan Zink Tinggi | Zink merupakan mikronutrien esensial bagi kehidupan manusia. Rata-rata kebutuhan untuk laki-laki dewasa (19–50 tahun) adalah 9,4 mg/hari, sedangkan untuk perempuan dewasa (19–50 tahun) adalah 6,8 mg/hari. Kandungan zink pada beras hasil penggilingan mengandung sebanyak 12 mg/kg. Adapun rata-rata konsumsi beras perorang di Indonesia pada tahun 2018 adalah 265,9 g/hari maka, kebutuhan zink dari beras masih belum tercukupi. Oleh sebab itu, perlu dilakukan biofortifikasi tanaman padi untuk meningkatkan kandungan zink dalam upaya memenuhi kebutuhan tersebut. Target minimal dari kandungan beras biofortifiksi adalah 2,2 mg/100 g. Sebelum menentukan kegiatan pemuliaan tanaman, perlu diketahui terlebih dahulu keragaman genetik padi, salah satunya melalui marka molekuler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik padi berdasarkan profil marka molekuler terpaut kandungan zink tinggi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pemuliaan Tanaman dan Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman serta Laboratorium Riset Universitas Jenderal Soedirman pada bulan Desember 2023–Maret 2024. Primer SSR yang digunakan RRM 3331, RM 17, RM 247, RM 12276, RM 234, RM 248, RM 1132, RM 223, dan RM 152 berhasil mengamplifikasi 88 genotipe padi dan menghasilkan polimorfisme. Dari 88 genotip padi namun hanya 72 genotip padi yang terkelompok menjadi 16 klaster dengan nilai koefesien kemiripan 0,62. Berdasarkan nilai koefesien kemiripan 0,62 tersebut keragaman genetik padi pada penelitian ini sempit. | Zinc is an essential micronutrient for human life. The average requirement for adult men (19–50 years) is 9.4 mg/day, while for adult women (19–50 years) it is 6.8 mg/day. The zinc content in milled rice is 12 mg/kg. The average consumption of rice per person in Indonesia in 2018 was 265.9 g/day, so the need for zinc from rice is still not sufficient. Therefore, it is necessary to biofortify rice plants to increase the zinc content in an effort to meet these needs. The minimum target for biofortified rice content is 2.2 mg/100 g. Before determining plant breeding activities, it is necessary to first know the genetic diversity of rice, one of which is through molecular markers. This research aims to determine the genetic diversity of rice based on molecular marker profiles related to high zinc content. The research was conducted at the Plant Breeding and Biotechnology Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University and the Research Laboratory of Jenderal Soedirman University in December 2023–March 2024. The SSR primers used were RRM 3331, RM 17, RM 247, RM 12276, RM 234, RM 248, RM 1132, RM 223, and RM 152 succeeded in amplifying 88 rice genotypes and producing polymorphisms. Among 88 rice genotypes, only 72 rice genotypes were grouped into 16 clusters with a similarity coefficient value of 0.62. Based on the similarity coefficient value of 0.62, the rice genetic diversity in this research is narrow. | |
| 36705 | 45189 | C1I020003 | THE INFLUENCE OF ORGANIZATIONAL CULTURE, PROFESSIONAL COMMITMENT, AND RELIGIOSITY ON WHISTLEBLOWING INTENTION WITH ANONYMOUS REPORTING CHANNEL AS MODERATING VARIABLE | Tujuan penelitian ini adalah menguji dan menganalisis pengaruh budaya organisasi, profesional komitmen dan religiusitas terhadap intensi whistleblowing dengan jalur pelaporan anonim sebagai variabel moderasi. Penelitian ini menggunakan landasan theory of planned behavior. Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai yang bekerja di Inspektorat Daerah Istimewa Yogyakarta, Inspektorat Daerah Kota Yogyakarta dan Inspektorat Daerah Kabupaten Bantul sejumlah 220 pegawai. Teknik pengumpulan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 170 pegawai. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis dengan menggunakan aplikasi SPSS versi 25 menunjukkan bahwa: (1) Budaya organisasi tidak berpengaruh terhadap intensi whistleblowing, (2) Profesional komitmen berpengaruh positif terhadap intensi whistleblowing, (3) Religiusitas berpengaruh positif terhadap intensi whistleblowing, (4) Jalur Pelaporan Anonim tidak secara signifikan memoderasi budaya organisasi, profesional komitmen dan religiusitas. Hasil dari penelitian ini diharapkan Inspektorat dalam fungsinya sebagai aparat pengawasan dapat mengoptimalkan penggunaan whistleblowing system yang telah disediadakan baik dalam lingkup nasional ataupun daerah dan meningkatkan kesadaran pegawai terhadap pentingnya malakukan pelaporan apabila mengetahui adanya kecurangan. Selain itu, dapat melakukan kegiatan sosialisasi mengenai whistleblowing intention secara berkala untuk meminimalisir tindakan kecurangan dan memperkuat pengawasan internal. | The purpose of this study is to test and analysis the influence of organizational culture, professional commitment and religiosity on whistleblowing intentions with anonymous reporting channel as moderating variables. This study uses the theory of planned behavior foundation. The population in this study were employees who worked at the Inspectorate oof Yogyakarta Special Region, Inspectorate of Yogyakarta City Regional and Inspectorate of Bantul District Regional with the total 220 employees. The sample collection technique in this study used purposive sampling method with 170 employees. Based on the results of research and analysis using the SPSS version 25 application, it shows that: (1) Organizational culture does not have a significant influence on whistleblowing intentions, (2) Professional commitment has a positive influence on whistleblowing intentions, (3) Religiosity has a positive influence on whistleblowing intentions, (4) Anonymous Reporting Channel does not significantly moderate organizational culture, professional commitment and religiosity. The results of this study are expected that Inspectorate in the function as a supervisory apparatus can optimize the use of the whistleblowing system that has been provided both within the national and regional scope and increase employee awareness of the importance of reporting if they know of fraud. In addition, it can carry out socialization activities regarding whistleblowing intentions periodically to minimize acts of fraud and strengthen internal control. | |
| 36706 | 39621 | C1I018025 | The Effect of Corporate Social Responsibility Disclosure on Financial Performance and Firm Value (Comparative Study on Indonesian and Japanese Companies) | Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap kinerja keuangan dan nilai perusahaan serta membandingkannya antara perusahaan Indonesia dan perusahaan Jepang. Variabel yang mewakili adalah Corporate Social Responsibility (CSR), kinerja keuangan diukur dengan Return on Assets (ROA), dan nilai perusahaan diukur dengan Tobin's Q. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan Indonesia dan perusahaan Jepang. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling untuk menentukan pilihan sehingga diperoleh 17 sampel perusahaan Indonesia dan 18 sampel perusahaan Jepang. Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan analisis regresi linier sederhana dengan mengoperasikan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan pada perusahaan Indonesia dan berpengaruh positif pada perusahaan Jepang. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Corporate Social Responsibility berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan pada perusahaan Indonesia dan berpengaruh negatif pada perusahaan Jepang. Uji perbedaan dilakukan dengan menggunakan uji Mann Whitney, dan hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada perusahaan Indonesia dan Jepang. | The purpose of this study was to analyze the effect of Corporate Social Responsibility (CSR) disclosure on financial performance and firm value as well as comparing it between Indonesian companies and Japanese companies. The representative variables were Corporate Social Responsibility (CSR), financial performance was measured by Return on Assets (ROA), and firm value was measured by Tobin's Q. The population used in this study is Indonesian companies and Japanese companies. The research used purposive sampling method to determine the selection in order to obtain 17 samples of Indonesian companies and 18 samples of Japanese companies. The hypothesis in this study was tested using simple linear regression analysis by operating SPSS. The results showed that Corporate Social Responsibility (CSR) disclosure has a negative effect on financial performance in Indonesian companies and positive effect in Japanese companies. The results also showed that Corporate Social Responsibility has a positive effect on firm value in Indonesian companies and negative effect in Japanese companies. A difference test was carried out by using the Mann Whitney test, and the results showed that there is significant difference between Corporate Social Responsibility (CSR) disclosure in Indonesian and Japanese companies. | |
| 36707 | 39622 | C1A019009 | PENGARUH ANGKATAN KERJA TAMATAN SMA, ANGKATAN KERJA TAMATAN PERGURUAN TINGGI, UPAH MINIMUM PROVINSI DAN LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA (TPT) DI LIMA PROVINSI INDONESIA | Pengangguran terbuka menurut BPS, terdiri dari angkatan kerja yang tidak punya pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan, angkatan kerja yang tidak punya pekerjaan dan sedang mempersiapkan usaha, angkatan kerja yang tidak punya pekerjaan dan tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, angkatan kerja yang sudah punya pekerjaan, tetapi belum mulai bekerja dan pengangguran terbuka diukur melalui Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). TPT Indonesia yang berfluktuasi dan cenderung memiliki tren menurun ini dapat mempengaruhi masalah sosial yaitu kemiskinan, kejahatan dan masalah sosial lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah variabel angkatan kerja tamatan SMA, angkatan kerja tamatan perguruan tinggi, upah minimum provinsi dan laju pertumbuhan penduduk berpengaruh terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka dalam jangka panjang dan jangka pendek. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode Autoregressive Distributed Lag (ARDL) dengan menggunakan data variabel angkatan kerja tamatan SMA, angkatan kerja tamatan perguruan tinggi, upah minimum provinsi dan laju pertumbuhan penduduk, Tingkat Pengangguran Terbuka secara tahunan dari 2005-2021. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan menggunakan aplikasi Eviews diperoleh hasil bahwa dalam jangka pendek TPT (-1) dan (-2) memiliki hubungan negatif terhadap TPT namun tidak signifikan. Angkatan kerja tamatan SMA memiliki hubungan negatif terhadap TPT namun tidak signifikan. Angkatan kerja tamatan perguruan tinggi memiliki hubungan negatif namun tidak signifikan, Angkatan kerja tamatan perguruan tinggi (-1) hubungan negatif dan signifikan, Angkatan kerja tamatan perguruan tinggi (-2) memiliki hubungan positif namun tidak signifikan, Angkatan kerja tamatan perguruan tinggi (-3) memiliki hubungan negatif dan signifikan. Upah Minumum Provinsi dan Upah Minumum Provinsi (-1) memiliki hubungan negatif dan signifikan. Laju pertumbuhan penduduk memiliki hubungan positif namun tidak signifikan. Sedangkan dalam jangka panjang, seluruh variabel tidak signifikan, untuk variabel angkatan kerja tamatan SMA memiliki hubungan negatif dan untuk angkatan kerja tamatan perguruan tinggi, upah minimum provinsi, laju pertumbuhan penduduk memiliki hubungan yang positif. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah meningkatkan angkatan kerja tamatan SMA dapat menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) namun tidak signifikan, meningkatakan angkatan kerja tamatan Perguruan Tinggi dapat menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dalam jangka pendek, meningkatakan Upah Minimum Provinsi (UMP) dapat menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dalam jangka pendek, meningkatkan laju pertumbuhan penduduk dapat meningkatkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga tetapi tidak signifikan. | Open unemployment, according to BPS, consists of a workforce that does not have a job and is looking for work, a workforce that does not have a job and is preparing for a business, a workforce that does not have a job and is not looking for work because they feel it is impossible to get a job, a workforce that has had a job, but has not started working and open unemployment is measured through the Open Unemployment Rate (TPT). Indonesia's TPT, which fluctuates and tends to have a downward trend, can affect social problems, namely poverty, crime, and other social problems. This research aims to see whether the variables of the labour force who graduated from high school, the workforce who graduated from university, the provincial minimum wage, and the population growth rate affect the Open Unemployment Rate in the long and short term. This quantitative study uses the Autoregressive Distributed Lag (ARDL) method using variable data on the workforce who graduated from high school, the workforce who graduated from university, the provincial minimum wage and population growth rate, and the annual Open Unemployment Rate from 2005-2021. Based on the analysis that has been carried out using the Eviews application, the results show that in the short term TPT (-1) and (-2) have a negative relationship with TPT but are not significant. The labour force with high school graduates has a negative relationship with TPT but is not significant. The college graduates workforce has a negative but not significant relationship, the university graduates workforce (-1) has a negative and significant relationship, the university graduates workforce (-2) has a positive but not significant relationship, the university graduates workforce (-3) has a negative and significant relationship. Provincial Minimum Wage and Provincial Minimum Wage (-1) have a negative and significant relationship. The population growth rate has a positive but not significant relationship. Whereas in the long run, all variables are not significant for the labour force graduating from high school has a negative relationship, and for the labour force graduating from university, the provincial minimum wage and the population growth rate have a positive relationship. The results of this study imply that increasing the workforce with high school graduates can reduce the Open Unemployment Rate (TPT) but not significantly, increasing the workforce graduating from Higher Education can reduce the Open Unemployment Rate (TPT) in the short term, increasing the Provincial Minimum Wage (UMP) can reduce The Open Unemployment Rate (TPT) in the short term, increasing the population growth rate can also increase the Open Unemployment Rate (TPT) but not significantly. | |
| 36708 | 39623 | B1B018016 | Applying Macroinvertebrates in Biotic Indices for Water Quality Assessment of Banjaran River | Sungai Banjaran merupakan anak Sungai Logawa, mengalir dari Utara ke Selatan, bermuara pada Sungai Serayu dengan luas daerah tangkapan air 47,16 km2. Warga sekitar sungai banyak memanfaatkan Sungai Banjaran untuk kegiatan pertanian dan kegiatan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan pembuangan limbah domestik. Hal ini menyebabkan Sungai Banjaran tercemar. Dengan adanya kegiatan mikrohidro, maka diperlukan pemantauan dan pengelolaan kondisi lingkungan perairan sungai. Metode penelitian menggunakan metode survey dan purposive random sampling di lima titik stasiun berdasarkan wilayah sekitar dan aktivitas manusia. Komposisi makroinvertebrata dideskripsikan dalam bentuk deskriptif berdasarkan persentase tiap famili dalam komunitas. Indeks biotik seperti LQI, FBI, EPT, dan SIGNAL 2 dianalisis dengan membandingkan interpretasi kelima stasiun tersebut. Kualitas air dievaluasi berdasarkan parameter fisika-kimia dan dibandingkan dengan PP No.22/2021. Indeks biotik yang paling sesuai ditentukan berdasarkan sensitivitas terhadap penambahan bahan organik dan konstan dengan parameter kimia. Makroinvertebrata yang diperoleh di Sungai Banjaran terdiri dari 35 famili dengan kesamaan spesies Perlodidae, Hydropsychidae, dan Oligochaeta. Indeks biotik yang diterapkan di Sungai Banjaran dapat mendeteksi bahan organik berdasarkan skor famili. Kualitas air Sungai Banjaran masih cukup baik sesuai baku mutu PP No. 22 Tahun 2021 namun mendapat bahan organik di Stasiun IV dan V. Indeks LQI paling aplikatif dan dapat menunjukkan bahan organik Sungai Banjaran. | The Banjaran River is a tributary of the Logawa River, flows from North to South, and approaches the Serayu River with a water catchment area of 47.16 km2. Residents around the river widely use the Banjaran River for activities in agriculture and daily activities such as bathing, washing, and domestic waste disposal. This causes the Banjaran River to be polluted. With the existence of micro hydro activities, it is necessary to monitor and manage the environmental conditions of river waters. The research method uses a survey method and purposive random sampling at five station points based on the surrounding area and human activities. The composition of macroinvertebrates is described in descriptive form based on the percentage of each family in the community. The biotic indices such as LQI, FBI, EPT, and SIGNAL 2 were analyzed by comparing the interpretations of the five stations. Water quality is evaluated based on physical-chemical parameters and compared to PP No.22/2021. The most applicable biotic index is determined based on sensitivity to organic matter addition and constant with chemical parameters. Macroinvertebrates obtained in the Banjaran River consisted of 35 families with the common species Perlodidae, Hydropsychidae, and Oligochaeta families. The biotic indices applied in Banjaran River can detect organic matters based on family scores. The water quality of Banjaran River is still quite good in accordance with the PP No. 22/2021 quality standard but received the organic matters at Stations IV and V. The LQI index was the most applicable and can indicate the organic matters of Banjaran River. | |
| 36709 | 39624 | F1C019060 | Implementasi Komunikasi Kesehatan pada Aksi Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Banyumas (Studi pada Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas) | Tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana implementasi yang meliputi proses, adaptasi, dan hambatan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas dalam pelaksanaan Aksi Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilakukan di Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. Adapun subjek penelitian terdiri dari elemen Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas yang terlibat pada Aksi Percepatan Penurunan Stunting. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara mendalam dengan metode studi kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi komunikasi kesehatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas telah memenuhi komponen komunikasi kesehatan yang ada. Metode perencanaan, implementasi, hingga monitoring juga menerapkan model precede-proceed guna langkah strategis dalam pemenuhan promosi kesehatan. Adapun adaptasi baik dari komunikator maupun sasaran komunikasi yang dilakukan. Hambatan internal dan eksternal juga ditemui oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas pada implementasi komunikasi kesehatan yang dilakukan. | The purpose of this study was to determine how the implementation of which includes the process, adaptation, and barriers Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas in the implementation of action to accelerate the decline in Stunting in Banyumas. This research was conducted at the Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas. The subject of the study consisted of elements of Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas involved in the action of accelerating the decline of Stunting. Data collection is done by observation and in-depth interviews with case study methods. The results of this study indicate that the implementation of Health Communication conducted by the Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas has met the existing health communication components. Planning, implementation, and monitoring methods also apply the precede-proceed model for strategic steps in fulfilling health promotion. The adaptation of both the communicator and the target of communication. Internal and external obstacles were also encountered by Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas in the implementation of Health Communication. | |
| 36710 | 52388 | F1C022073 | ANALISIS ISI KAMPANYE “MERDEKA DARI STIGMA” MOTHERCARE INDONESIA DI INSTAGRAM @GOODENOUGHPARENTS.ID MELALUI PERSPEKTIF RETORIKA VISUAL | Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen-elemen visual, menganalisis isi kampanye melalui perspektif retorika visual, serta menafsirkan makna simbolis yang terkandung dalam video kampanye bertema “Merdeka dari Stigma” yang merupakan hasil kolaborasi Mothercare Indonesia dan Good Enough Parents pada momentum Hari Kemerdekaan Indonesia tahun 2025. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis isi retorika visual Sonja K. Foss yang mengacu pada tiga skema teoritis sebagai kerangka dalam mengkaji isi pesan kampanye. Hasil penelitian menunjukkan bahwa video kampanye tersebut memuat berbagai elemen visual seperti komposisi warna, gestur, ekspresi, pengaturan latar, dan aspek lainnya yang terstruktur dan saling mendukung dalam membangun makna dan pesan. Selain itu, ditemukan pula makna-makna simbolik yang merepresentasikan inklusivitas, kebebasan dari stigma, serta penerimaan terhadap anak penyandang down syndrome. Melalui analisis retorika visual, isi pesan dalam video kampanye ini terbukti mampu menyampaikan gagasan secara persuasif dan emosional, sehingga berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkhususnya audiens dalam mengubah cara pandang yang lebih positif dan inklusif terhadap anak-anak penyandang down syndrome. | Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen-elemen visual, menganalisis isi kampanye melalui perspektif retorika visual, serta menafsirkan makna simbolis yang terkandung dalam video kampanye bertema “Merdeka dari Stigma” yang merupakan hasil kolaborasi Mothercare Indonesia dan Good Enough Parents pada momentum Hari Kemerdekaan Indonesia tahun 2025. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis isi retorika visual Sonja K. Foss yang mengacu pada tiga skema teoritis sebagai kerangka dalam mengkaji isi pesan kampanye. Hasil penelitian menunjukkan bahwa video kampanye tersebut memuat berbagai elemen visual seperti komposisi warna, gestur, ekspresi, pengaturan latar, dan aspek lainnya yang terstruktur dan saling mendukung dalam membangun makna dan pesan. Selain itu, ditemukan pula makna-makna simbolik yang merepresentasikan inklusivitas, kebebasan dari stigma, serta penerimaan terhadap anak penyandang down syndrome. Melalui analisis retorika visual, isi pesan dalam video kampanye ini terbukti mampu menyampaikan gagasan secara persuasif dan emosional, sehingga berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkhususnya audiens dalam mengubah cara pandang yang lebih positif dan inklusif terhadap anak-anak penyandang down syndrome. Abstract This study aims to identify visual elements, analyze campaign content through the lens of visual rhetoric, and interpret the symbolic meanings contained in the campaign video titled “Merdeka dari Stigma,” which is a collaboration between Mothercare Indonesia and Good Enough Parents to mark Indonesia’s Independence Day in 2025. The analytical method used is Sonja K. Foss’s visual rhetoric content analysis method, referencing three theoretical frameworks as a structure for comprehensively examining the campaign’s message content. The research findings indicate that the campaign video incorporates various visual elements such as color composition, gestures, expressions, background settings, and other aspects that are structured and mutually reinforcing in constructing meaning and messages. Additionally, symbolic meanings were identified that represent inclusivity, freedom from stigma, and acceptance of children with Down syndrome. Through visual rhetoric analysis, the message content in this campaign video was proven capable of conveying ideas persuasively and emotionally, thereby contributing to heightened social awareness, particularly among parenting audience to more positive and inclusive perspectives towards children with down syndrome. | |
| 36711 | 39630 | C1C019049 | Pengaruh Sosialisasi Antisipatif, Reward, dan Intensitas Moral terhadap Intensi whistleblowing | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh: (1) Sosialiasi Antisipatif terhadap intensi whistleblowing, (2) Reward terhadap intensi whistleblowing, (3) Intensitas Moral terhadap intensi whistleblowing. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah pegawai inspektorat daerah Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, dan Kebumen. Teknik sampling yang digunakan ialah cluster random sampling. Sebanyak 145 pegawai inspektorat menjadi responden dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil pengujian dan analisis data menggunakan analisis regresi linier berganda dengan bantuan software SPSS versi 26 menunjukkan bahwa: (1) Sosialisasi Antisipatif secara signifikan berpengaruh positif terhadap intensi whistleblowing pada pegawai inspektorat daerah, (2) Reward secara signifikan berpengaruh positif terhadap intensi whistleblowing pada pegawai inspektorat daerah, (3) Intensitas Moral secara signifikan berpengaruh positif terhadap intensi whistleblowing pada pegawai inspektorat daerah. | This study aims to determine the effect of: (1) anticipatory socialization on whistleblowing Intentions, (2) Reward on whistleblowing intentions, (3) Moral intensity on whistleblowing intentions. This study is quantitative research. The population in this study were employees of the regional Inspectorate of Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, and Kebumen. The sampling technique used is cluster random sampling. A total of 145 employees of the inspectorate became respondents in this study. Based on the results of testing and analysis of data using multiple linear regression analysis with the help of SPSS version 26 software shows that: (1) anticipatory socialization significantly positive effect on whistleblowing intentions on employees of the regional Inspectorate, (2) Reward significantly positive effect on whistleblowing intentions on employees of the regional Inspectorate, (3) Moral intensity significantly positive effect on whistleblowing intentions on employees of the regional Inspectorate. | |
| 36712 | 39631 | J1B018010 | Makna Leksikal dan Makna Kultural Tradisi Gusaran di Desa Boja Kecamatan Majenang Kabupaten Cilacap | Tradisi merupakan suatu adat yang diturunkan secara turun-temurun dan dianut oleh suatu masyarakat tertentu. Hal tersebut sebagaimana tradisi gusaran yang dilakukan oleh masyarakat Desa Boja Kecamatan Majenang Kabupaten Cilacap sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa juga sebagai tanda bahwa anak perempuan telah memasuki usia akil balig. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna leksikal dan makna kultural dalam tradisi gusaran. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak. Metode simak memiliki teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sadap. Teknik lanjutannya adalah teknik simak libat cakap, teknik rekam, dan catat. Metode analisis data dalam penelitian ini adalah metode padan diwujudkan dengan teknik hubung banding membedakan (HBB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga proses dalam pelaksanaan tradisi gusaran di Desa Boja Kecamatan Majenang Kabupaten Cilacap. Proses pertama yaitu tahap persiapan, tahap kedua yaitu pelaksanaan, dan yang terakhir yaitu tahap penyelesaian. | Tradition is a custom that has been passed down for generations and embraced by a certain society. This is in line with the gusaran tradition carried out by the people of Boja Village, Majenang District, Cilacap Regency as an expression of gratitude to God Almighty as well as a sign that girls have entered the age of balig. This study aims to describe the lexical meaning and cultural meaning in the gusaran tradition. The method used is descriptive qualitative. The data collection method used in this study is the observation method. The observation method has basic techniques and advanced techniques. The basic technique used in this study is the tapping technique. The advanced techniques are the interview technique, the recording technique, and the note. The data analysis method in this study is the identity method realized by the differentiating banding circuit (HBB) technique. The results showed that there are three processes in implementing the gusaran tradition in Boja Village, Majenang District, Cilacap Regency. The first process is the preparation stage, the second stage is implementation, and the last is the completion stage. | |
| 36713 | 39632 | D1A018047 | PENGARUH PENAMBAHAN WHEY PROTEIN ISOLATE DENGAN PERSENTASE BERBEDA TERHADAP TOTAL ASAM TERTITRASI, SINERESIS, DAN WATER HOLDING CAPACITY YOGHURT SUSU SAPI | Pengaruh Penambahan Whey Protein Isolate dengan Persentase Berbeda terhadap Total Asam Tertitrasi, Sineresis, dan Water Holding Capacity Yoghurt Susu Sapi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penambahan WPI terhadap TAT, sineresis, dan Water Holding Capacity (WHC) yoghurt susu sapi. Materi yang digunakan antara lain susu sapi 4000 gr, WPI 40 gr dan starter yoghurt 4 gr. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari kontrol (P0), penambahan WPI sebanyak 2% (P1), 1,0% (P2), 1,5%(P3), dan 2,0% (P4) dari total susu. Variabel yang diukur adalah TAT, sineresis, dan Water Holding Capacity (WHC). Data penelitian yang diperoleh dianalisis variansi dan uji lanjut menggunakan uji orthogonal polynomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan WPI berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap TAT, dan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap sineresis dan WHC. Nilai TAT antara 1,19±0,13 hingga 1,56±0,24, sineresis antara 47,43±6,54 hingga 38,59±5,41, WHC antara 33,09±6,81 hingga 32,91±8,39. Kesimpulan, penambahan WPI pada yoghurt susu sapi dapat meningkatkan TAT, tanpa mengubah nilai sineresis dan WHC. | Effect of Addition Whey Protein Isolate with Different Percentages of Total Titratable Acidity, Syneresis, and Water Holding Capacity of Cow's Milk Yoghurt. The aim of this research is to find out the addition WPI to Total Titratable Acidity (TTA), syneresis, and Water Holding Capacity (WHC) cow's milk yohgurt. The materials used include 4000 gr cow's milk, 40 gr WPI and 4 gr yoghurt starter. The study used a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 4 replications. The treatment consisted of control (P0), the addition of WPI as much as 0,5% (P1), 1,0% (P2), 1,5% (P3), and 2,0% (P4) of the total milk. The variables measured were TAT, syneresis, and Water Holding Capacity (WHC). The research data obtained were analyzed for variance and further testing using the orthogonal polynomial test. The results showed that the addition of WPI had a significant (P<0,05) effect on TAT, and no significant (P>0,05) effect on syneresis and WHC. TAT values between 1.19±0.13 to 1.56±0.24, syneresis between 47.43± 6.54 to 38.59±5.41, WHC between 33.09±6.81 to 32.91±8.39. In conclusion, the addition of WPI to cow's milk yogurt can increase TAT, without changing the syneresis and WHC values. | |
| 36714 | 41345 | K1A019072 | APLIKASI DAN KARAKTERISASI PEWARNAAN BATIK MENGGUNAKAN KULIT KAYU LOKAL MER, MENGKUDU DAN MAHONI | Batik adalah salah satu bentuk seni kuno. Pewarnaan batik dapat dilakukan dengan menggunakan pewarna yang berasal dari bahan alami seperti mer, mengkudu, dan mahoni. Batik dengan zat warna alami memiliki tahan luntur warna yang baik dengan ditambahnya fiksator. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh jenis fiksator terhadap karakteristik warna kulit kayu mer, kayu mengkudu, dan kayu mahoni pada batik pewarna alami, mengetahui pengaruh gosokan basah, gosokan kering, pencucian dan sinar matahari langsung terhadap intensitas warna batik pewarna alami dan mengetahui kestabilan zat warna alami ekstrak kulit kayu mer, kayu mengkudu, dan kayu mahoni terhadap uji panas, pH dan cahaya. Uji klasifikasi kain batik dilakukan dengan menguji nilai L*a*b* dan menguji tahan luntur warna. Fiksasi tawas memberikan warna lebih cerah. Kapur yang alkalis memberikan nuansa kemerahan. Tunjung memberikan arah warna tua. Uji sinar matahari yang paling tinggi adalah zat warna alami mer dan mengkudu dengan fiksator tunjung bernilai 5 (baik sekali). Uji pencucian sabun yang paling tinggi adalah zat warna mahoni dengan fiksator tawas, kapur, dan tunjung sebesar 4 (baik). Uji gosokan kering yang paling tinggi adalah mer dengan fiksator tunjung, mengkudu dengan fiksator kapur, dan mahoni dengan fiksator tawas serta kapur sebesar 4 (baik). Uji gosokan basah yang paling tinggi adalah zat warna alami mer dengan fiksator tawas serta kapur sebesar 4 (baik). Zat warna alami mengkudu dan mahoni terdegradasi pada suhu 50 °C dan 80 °C. Zat warna mer, mengkudu, dan mahoni terdegradasi dengan berubahnya pH. Zat warna mer, mengkudu, dan mahoni terdegradasi dalam kondisi gelap serta dengan penyinaran lampu UV | Batik is one of the ancient art forms. Batik coloring can be done using dyes derived from natural materials such as mer, noni and mahogany. Batik with natural dyes has good color fastness with the addition of a fixator. The aims of this study were to determine the effect of the type of fixator on the color characteristics of mercat bark, noni wood, and mahogany wood in natural dyed batik, to determine the effect of wet rubbing, dry rubbing, washing and direct sunlight on the color intensity of natural dyed batik and to determine the stability of the natural dyes of mer bark extract, noni wood, and mahogany wood against heat, pH and light tests. The classification test for batik cloth was carried out by testing the L*a*b* value and testing the color fastness. Alum fixation gives a brighter color. Alkaline lime gives a reddish hue. Tunjung gives the old color direction. The highest sunlight test was the natural dyes of mer and noni with a high score of 5 (very good). The highest soap leaching test was mahogany dye with alum, lime and tunjung fixators of 4 (good). The highest dry rub tests were mers with tunjung fixator, noni with lime fixators, and mahogany with alum and lime fixators at 4 (good). The highest wet rub test was natural meringue dye with alum and lime fixators of 4 (good). Natural dyes of noni and mahogany degrade at 50 °C and 80 °C. Mer, noni, and mahogany dyes degrade with changes in pH. Mer, noni, and mahogany dyes degrade in the dark and with UV lamp irradiation. | |
| 36715 | 41347 | C1H019016 | THE EFFECT OF RELEVANCY AND REPUTATION ON CAUSE RELATED MARKETING PROGRAM ON THE PURCHASE INTENTION OF PEPSODENT PRODUCTS MODERATED BY SKEPTICISM | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh: (1) Relevansi Program CRM terhadap Niat Membeli, (2) Reputasi Program CRM terhadap Niat Membeli, (3) Relevansi Program CRM terhadap Skeptisisme, (4) Reputasi Program CRM terhadap Skeptisisme, (5) Skeptisisme terhadap Niat Membeli, (6) Skeptisisme Memoderasi Relevansi Program CRM terhadap Niat Membeli, (7) Skeptisisme Memoderasi Reputasi Program CRM terhadap Niat Membeli. Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen Pepsodent. Sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan kriteria berusia di atas 17 tahun, mengetahui program Cause-Related Marketing Pepsodent, dan membeli produk Pepsodent minimal 2 kali dalam sebulan. Responden dalam penelitian ini adalah 325 konsumen Pepsodent yang memenuhi kriteria. Penelitian ini menggunakan sem amos untuk menganalisis data, dan menggunakan model interaksi untuk menganalisis hipotesis pemoderasi. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang dilakukan dengan menggunakan bantuan SEM menunjukkan bahwa: (1) Relevansi pada program CRM berpengaruh positif terhadap Niat Membeli, (2) Reputasi pada Program CRM berpengaruh positif terhadap Niat Membeli, ( 3) Relevansi pada program CRM tidak berpengaruh negatif terhadap skeptisisme, (4) Reputasi berpengaruh negatif terhadap skeptisisme, (5) Skeptisisme berpengaruh negatif terhadap Niat Membeli, (6) Skeptisisme tidak memoderasi pengaruh relevansi dalam CRM program terhadap niat beli, (7) Skeptisisme tidak memoderasi pengaruh reputasi dalam program CRM terhadap niat beli | This study aims to determine the effect of: (1) Relevance of CRM Programs to Purchase Intentions, (2) Reputation of CRM Programs to Purchase Intentions, (3) Relevance of CRM Programs to Skepticism, (4) Reputation of CRM Programs to Skepticism, (5) Skepticism to Purchase Intentions, (6) Skepticism Moderates Relevance of CRM Programs to Purchase Intentions, (7) Skepticism Moderates Reputation in CRM Programs to Purchase Intentions. This research includes quantitative research. The population in this study are Pepsodent consumers. The sample used was purposive sampling with the criteria of being over 17 years old, knowing the Cause-Related Marketing program of Pepsodent, and buying Pepsodent products at least 2 times a month. Respondents in this study were 325 Pepsodent consumers who met the criteria. This study using sem amos to analysis the data, and using interaction model for analysis the moderating hypothesis. Based on the results of research and analysis conducted using SEM assistance, it shows that: (1) Relevance in the CRM program has a positive effect on Purchase Intention, (2) Reputation in the CRM Program has a positive effect on Purchase Intention, (3) Relevance in the CRM program has no negative effect on skepticism, (4) Reputation has a negative effect on skepticism, (5) Skepticism has a negative effect on Purchase Intention, (6) Skepticism does not moderate the influence of relevance in CRM programs on purchase intentions, (7) Skepticism does not moderate the effect reputation in CRM programs on purchase intention | |
| 36716 | 39633 | D1A018016 | PENGARUH PENAMBAHAN WHEY PROTEIN CONCENTRATE (WPC) DENGAN PERSENTASE BERBEDA TERHADAP DERAJAT KEASAMAN, WHEY BEBAS DAN TEKSTUR PADA YOGHURT SUSU SAPI | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Whey Protein Concentrate (WPC) dengan persentase berbeda terhadap derajat keasaman, whey bebas dan tekstur yoghurt susu sapi. Materi penelitian yang digunakan di antaranya 4.000 g susu sapi, 40 g WPC dan 4 g starter. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan meliputi (P0) kontrol, penambahan WPC (P1) 0,5%, (P2) 1%, (P3) 1,5% dan (P4) 2% dari total susu. Variabel yang diukur adalah pH, whey bebas dan tekstur. Data penelitian yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi. Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan WPC dengan persentase berbeda tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pH, whey bebas dan tekstur yoghurt susu sapi. Rataan pH yoghurt sebesar 4,15, rataan whey bebas sebesar 47,32% dan rataan tekstur sebesar 11,34 mm/s. Kesimpulan, penambahan WPC dapat ditambahkan hingga 2% tanpa mengubah nilai pH, whey bebas dan tekstur yoghurt susu sapi. | This study aims to determine the effect of adding Whey Protein Concentrate (WPC) with different percentages on the degree of acidity, free whey and texture of cow's milk yogurt. The research materials used included 4,000 g of cow's milk, 40 g of WPC and 4 g of starter. The study was conducted using a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 4 replications. The treatments given included control (P0), the addition of WPC (P1) 0,5%, (P2) 1%, (P3) 1,5% and (P4) 2% of the total milk. The variables measured were pH, free whey and texture. The research data obtained were analyzed using analysis of variance. The results of the analysis showed that the addition of WPC with different percentages had no significant effect on pH, free whey and texture of cow's milk yogurt. The average yogurt pH was 4.15, the free whey average was 47.32% and the texture average was 11.34 mm/s. In conclusion, the addition of WPC can be added up to 2% without changing the pH value, free whey and texture of cow's milk yogurt. | |
| 36717 | 44130 | D1A020163 | PERBEDAAN LAMA RUMINASI DAN LAMA WAKTU MAKAN DOMBA GARUT DAN DOMBA DORPER DI AYODHYA FARM GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan lama ruminasi dan lama waktu makan domba Dorper dan domba Garut yang memiliki karakteristik dan ukuran tubuh yang khas. Penelitian dilaksanakan di PT. Ayodhya Agro Abadi (Ayodhya Farm) selama 4 bulan yang dimulai pada bulan Maret-Juni 2023. Materi yang diteliti berjumlah 60 ekor, masing-masing 30 ekor domba Garut dan Dorper Blackhead. Variabel yang diamati yaitu lama ruminasi dan lama waktu makan. Data dianalisis menggunakan two-sample t-test menggunakan software SPSS. Hasil penelitian menujukkan lama ruminasi selama 24 jam, lama ruminasi siang, lama ruminasi malam dan lama makan antara domba Dorper lebih lama (P<0,05) daripada domba Garut. Frekuensi ruminasi antara domba Dorper dan domba Garut relatif sama (P>0,05). Disimpulkan bahwa perbedaan lama ruminasi dan makan pada kondisi lingkungan yang sama antara domba Garut dan Doper betina pada kuantitas dan kualitas ransum yang sama dikontrol secara fisiologis dan domba Doper lebih baik dibanding domba Garut | This study aimed to compare the rumination and feeding times of Dorper and Garut sheep, which have different characteristics and body proportions. The study took place at PT. Ayodhya Farm Agro Abadi (Ayodhya Farm) for four months beginning in March-June 2023. The material used is 60 sheep, divided into two breeds: Garut and Blackhead Dorper, each with 30 sheep. The variables evaluated were the length of rumination and eating time. The data was analysed using a two-sample t-test with SPSS software. The result of study showed that the ruminating time for 24 hours, daytime, nighttime, and eating time for Dorpee sheep were longer (P<0.05) than for Garut sheep. The frequency of rumination between Dorper and Garut sheep was relative same (P>0.05). In conclusion, the difference in rumination and eating time between Garut and Doper sheep on the same quantity and quality of food was physiologically controlled, with Doper sheep outperforming Garut sheep. | |
| 36718 | 39366 | E1A019292 | PELAKSANAAN MEDIASI DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERDATA DI PENGADILAN NEGERI BANYUMAS KELAS II (Studi Penerapan Pasal 3 Ayat (1) Perma No. 1 Tahun 2016 Tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan) | Mediasi merupakan proses alternatif penyelesaian sengketa yang sifatnya non litigasi dengan cara berunding antara kedua belah pihak dengan menghadirkan mediator sebagai pihak ketiga. Kewajiban pelaksanaan mediasi diranah pengadilan sebagai perwujudan dari Pasal 130 HIR dan Pasal 154 Rbg yang dikuatkan di Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa dan dikhususkan lagi ke dalam Perma No. 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan mediasi di Pengadilan Negeri Banyumas Kelas II dari indeks data perkara gugatan tahun 2020 s/d 2022 serta hambatan dalam pelaksanaan mediasi. Metode penelitian yang digunakan yuridis sosiologis, dengan spesifikasi penelitian deskriptif. Sumber data yang digunakan data primer dan sekunder. Data yang diperoleh disajikan secara sistematis dengan teks uraian, dan analisis dilakukan secara analisis kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan mediasi di Pengadilan Negeri Banyumas Kelas II sudah sesuai dengan prosedur Perma No. 1 Tahun 2016 dengan hasil indeks perkara gugatan tahun 2020 s/d 2022 belum efektif karena terdapat beberapa hambatan yang mempengaruhi pelaksanaan mediasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan mediasi yakni berasal dari faktor masyarakat dan faktor kebudayaan. | Mediation is an alternative process of resolving non-litigation disputes by negotiating between the two parties by presenting a mediator as a third party. The obligation to carry out mediation in the realm of court as a manifestation of Article 130 HIR and Article 154 RBg which is strengthened in Law Number 30 of 1999 concerning Arbitration and Alternative Dispute Resolution and specifically stated in Perma No. 1 of 2016 concerning Mediation Procedures in Courts. This study aims to determine the implementation of mediation at the Class II Banyumas District Court from the lawsuit case data index from 2020 to 2022 and the obstacles in carrying out mediation. The research method used is sociological juridical, with descriptive research specifications. Source of data used primary and secondary data. The data obtained is presented systematically with descriptive text, and the analysis is carried out using qualitative analysis. Based on the results of the study it can be concluded that the implementation of mediation in the Banyumas Class II District Court is in accordance with the Perma No. procedure. 1 of 2016 with the results of the lawsuit case index from 2020 to 2022 has not been effective because there are several obstacles that affect the implementation of mediation. The factors that influence the implementation of mediation are derived from community factors and cultural factors. | |
| 36719 | 44131 | B1A020114 | Perbedaan Genetik Dua Kultivar Anggrek Rhynchostylis gigantea (Lindl.) Ridl. Berdasarkan Daerah Intergenik trnL(UAA)-trnF(GAA) | Rhynchostylis gigantea (Lindl.) Ridl., atau biasa disebut anggrek ekor tupai, merupakan anggrek epifit yang banyak ditemukan di Kawasan Asia Tenggara. Spesies anggrek ini memiliki beberapa warna dan corak bunga, di antaranya putih, oranye, hingga putih dengan corak ungu kemerahan. Sistem reproduksinya yang rumit serta adanya pengaruh faktor lingkungan yang kurang menguntungkan mengakibatkan spesies ini berada pada kondisi terancam kepunahan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya konservasi, yang secara umum menyertakan beberapa kegiatan, antara lain karakterisasi baik secara morfologi maupun molekuler. Karakterisasi molekuler memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan karakterisasi morfologi karena tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan dapat dilakukan pada tiap fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Salah satu marka molekuler yang biasa digunakan dalam analisis genetik tanaman pada tingkatan taksa yang rendah adalah intergenic spacer (IGS) trnL(UAA)-trnF(GAA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) sekuen IGS trnL(UAA)-trnF(GAA) pada kultivar R. gigantea dengan bunga putih dan kultivar dengan bunga peach, (2) ada tidaknya perbedaan genetik di antara dua kultivar R. gigantea tersebut berdasarkan sekuen IGS trnL(UAA)-trnF(GAA). Penelitian dilakukan secara eksploratif dengan tahapan kerja yang terdiri atas pengambilan sampel tanaman R. gigantea, ekstraksi DNA genomik dengan metode CTAB, amplifikasi marka IGS trnL(UAA)-trnF(GAA) dengan teknik PCR menggunakan sepasang primer universal, dan sekuensing hasil amplifikasi dengan metode dideoksi yang diotomatisasi dengan pelabelan terminator. Hasil sekuensing disunting menggunakan software BioEdit versi 7.0.4.1 dan ditelaah secara manual. Verifikasi sekuen dilakukan melalui blasting ke pangkalan data NCBI. Penjajaran sekuen dilakukan menggunakan aplikasi Clustal W. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang sekuen IGS trnL(UAA)-trnF(GAA) yang diamati pada keenam sampel R. gigantea berkisar antara 300 bp dan 400 bp. Tidak terdapat perbedaan sekuen IGS trnL(UAA)-trnF(GAA) yang diamati di antara keenam sampel R. gigantea. | Rhynchostylis gigantea (Lindl.) Ridl., or commonly referred to as the squirrel tail orchid, is an epiphytic orchid that is widely found in Southeast Asia. This species of orchid has several colours and flowering patterns, ranging from white, orange, to white with a red purple pattern. The complicated reproductive system and the influence of unfavourable environmental factors put the species at risk of extinction. Therefore, it is necessary to make conservation efforts, which generally involve a number activities, including both morphological and molecular characterization. The latter has an advantage in comparison to the first as it is not affected by the environmental factors and can be performed at any stage of plant growth and development. One of the molecular markers commonly used in plant genetic analysis at low levels of taxa is the intergenic spacer (IGS) trnL(UAA)-trnF(GAA). This study aims to find out (1) the sequence of trnL(UAA)-trnF(GAA) IGS in R. gigantea cultivars of white flowers and those of peach flowers, (2) whether there is any genetic difference between the two R. gigantea cultivars based on the trnL(UAA)-trnF(GAA) IGS. An explorative study was conducted employing the steps of work, i.e. R. gigantea plant sampling, genomic DNA extraction following CTAB method, amplification of trnL(UAA)-trnF(GAA) IGS with PCR technique using a pair of universal primers, and sequencing of the PCR products under the automated dideoxy method with terminator labeling. The data of sequences were edited using the BioEdit software version 7.0.4.1 and were checked manually. Sequence verification was carried out through blasting to the NCBI database. The sequence alignment was made using the Clustal W application. The results showed that the size of the trnL(UAA)-trnF(GAA) IGS in the six R. gigantea samples ranged between 300-400 bp. No difference in the trnL(UAA)-trnF(GAA) IGS sequences among the six R. gigantea samples was observed. | |
| 36720 | 45223 | I1D020070 | Mutu Sensori, Serat, dan Protein Terlarut Yogurt Kecambah Kacang Tanah Plus Alang-Alang untuk Dislipidemia | Latar Belakang: Yogurt kacang-kacangan diketahui kaya protein dan serat yang dapat mencegah perkembangan dislipidemia. Penambahan akar alang-alang dan BAL berpotensi meningkatkan protein dan serat yogurt kecambah kacang tanah. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh proporsi sucamta-skim, akar alang-alang, BAL, dan interaksinya terhadap protein terlarut, serat, mutu sensori; formula terbaik; serving size. Metodologi: Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial, dengan proporsi sucamta:skim (90:10, 80:20, 70:30), akar alang-alang (5%, 10%), dan BAL (0,3%, 0,5%). Yocamtala ditentukan kadar (Gravimetri), protein terlarut (Lowry), formula terbaik (Indeks Efektivitas). Hasil Penelitian: Proporsi sucamta:skim menurunkan protein terlarut, serat; meningkatkan aroma, rasa, kekentalan (p<0,05). Akar alang-alang menurunkan protein terlarut, meningkatkan serat; BAL meningkatkan protein terlarut, serat; interaksinya memengaruhi protein terlarut, mutu sensori (p<0,05). Formula terbaik Yocamtala yaitu proporsi sucamta:skim 80:20, akar alang-alang 5%, BAL 0,3%; mengandung protein terlarut 36,01%, serat 1,02%; total BAL 7,5 x 108 CFU/mL; asam, berwarna putih, aroma agak khas yogurt, dan agak kental. Serving size Yocamtala 250 mL. Kesimpulan: Semakin meningkatnya proporsi susu skim menurunkan protein terlarut (24,3%); serat (47,1%). Akar alang-alang menurunkan protein terlarut (22,6%); meningkatkan serat (57,1%). BAL meningkatkan protein terlarut (19,1%); serat (117,6%). Interaksinya memengaruhi protein terlarut; mutu sensori. Yocamtala layak untuk dislipidemia. | Background: Nut yogurt is known to be rich in protein and fiber that can prevent the development of dyslipidemia. The addition of cogongrass roots and LAB has the potential to increase protein and fiber in peanut sprout yogurt. This study aims to determine the effect of the proportion of sucamta-skim, cogongrass roots, LAB, and their interactions on soluble protein, fiber, sensory quality; best formula; serving size. Methodology: This study used a factorial Randomized Block Design, with the proportion of sucamta: skim (90:10, 80:20, 70:30), cogongrass roots (5%, 10%), and LAB (0.3%, 0.5%). Yocamtala was determined by content (Gravimetry), soluble protein (Lowry), best formula (Effectiveness Index). Research Results: The proportion of sucamta: skim decreased soluble protein, fiber; increased aroma, taste, viscosity (p<0.05). Cogongrass roots reduce soluble protein, increase fiber; LAB increases soluble protein, fiber; their interaction affects soluble protein, sensory quality (p<0.05). The best formula for Yocamtala is the proportion of sucamta: skim 80:20, 5% cogongrass roots, 0.3% LAB; contains 36.01% soluble protein, 1.02% fiber; total LAB 7.5 x 108 CFU/mL; sour, white, slightly yogurt-like aroma, and slightly thick. Serving size Yocamtala 250 mL. Conclusion: Increasing the proportion of skim milk reduces soluble protein (24.3%); fiber (47.1%). Cogongrass roots reduce soluble protein (22.6%); increase fiber (57.1%). LAB increases soluble protein (19.1%); fiber (117.6%). Their interaction affects soluble protein; sensory quality. Yocamtala is suitable for dyslipidemia. |