Artikelilmiahs

Menampilkan 25.061-25.080 dari 50.307 item.
#IdartikelilmiahNIMJudul ArtikelAbstrak (Bhs. Indonesia)Abtrak (Bhs. Inggris) 
  
2506128012F1C013089EFEKTIVITAS SOSIALISASI TERHADAP KESADARAN CALON MUZAKKI DALAM MENYALURKAN ZAKAT PADA BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL CABANG BANYUMAS DI KECAMATAN KEBASENPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara efektivitas sosialisasi terhadap kesadaran calon muzakki dalam menyalurkan zakat pada Badan Amil Zakat Nasional Cabang Banyumas Jawa Tengah. Sampel pada penelitian ini sebanyak 40 orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah sampling jenuh. Data yang digunakan dalam penelitian berasal dari hasil penyebaran kuisioner. Penelitian ini menggunakan Teori Difusi Inovasi oleh Roger dan Floyd. Pada hasil uji t, diketahui t hitung > t tabel pada tingkat signifikansi 0,05 dengan perbandingan (2,364 > 1,686) yang artinya, terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara sosialisasi zakat BAZNAS Cabang Banyumas terhadap kesadaran masyarakat (calon muzakki) di Kecamatan Kebasen, atau dengan kata lain ada hubungan nilai yang signifikan antara sosialisasi dengan kesadaran calon muzakki. Sosialisasi yang dilakukan oleh BAZNAZ merupakan strategi komunikasi pembangunan yang bertujuan untuk memberikan informasi, pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang zakat. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya.This study aims to identify whether there is a positive and significant effect between the effectiveness of socialization on the Muzakki’s Consciousness in distributing zakat at Badan Amil Zakat Nasional, Banyumas, Central Java. The sample in this study were 40 people. The sampling technique in this study is total sampling. The data used in the study came from the results of questionnaires. This study uses the Theory of Diffusion Innovations by Roger and Floyd. In the t-test results, it is known t count> t table at a significance level of 0.05 with a comparison (2,364> 1,686) which means that there is a positive and significant influence between the socialization of Zakat BAZNAS Banyumas on awareness (candidates of muzakki) in Kebasen District, or in other words there is a significant value between socialization with muzakki’s awareness. The socialization carried out by BAZNAS is a strategy of development communication that aims to provide information, understanding and public awareness about zakat. With this research, it is expected to be a reference for further research.
2506228740A1F016007KARAKTERISTIK SIFAT KIMIA BERAS HITAM, MERAH DAN BERAS PUTIH Beras putih merupakan sumber kalori dan makanan pokok bagi penduduk Indonesia. Peningkatan konsumsi beras putih berkaitan dengan penyakit diabetes mellitus. Selain beras putih, Indonesia mempunyai jenis beras lain diantaranya beras merah dan beras hitam. Beras merah dan beras hitam mempunyai keunggulan diantaranya tinggi antosianin, serat pangan dan minyak alami. Perbedaan varieras beras kemungkinan dapat mempengaruhi karakteritik beras secara kimia. Tujuan penelitian ini adalah mengatahui karakteristik kimia (kadar air, kadar abu, kadar protein total, kadar lemak, kadar karbohidrat) beras hitam Sirampog, beras merah organik Baturraden dan beras putih Baturraden. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimen dimana ketiga sampel yang diperoleh di analisis secara kimia.
Hasil pengujian karakteristik kimia menunjukan bahwa beras putih Baturraden, beras merah organik Baturraden dan beras hitam Sirampog mempunyai kadar air (14,19%, 12,90% dan 12,59%), kadar abu (0,88%, 0,98% dan 0,58%), kadar lemak (1,05%%, 1,97% dan 2,59%), kadar protein total (8,56%, 6,71% dan 9,46%), kadar karbohidrat (75,76%, 77,61% dan 73,15%).
White rice is a source of calories and staple food for the Indonesian population. Increased consumption of white rice is associated with diabetes mellitus. In addition to white rice, Indonesia has other types of rice including red rice and black rice. Brown rice and black rice have advantages including high anthocyanin, food fiber and natural oils. Differences in rice variability are likely to affect the chemical characteristics of rice. The objectives of this study is knowing the chemical characteristics (water content, ash content, total protein content, fat content, carbohydrate content black rice Sirampog, Baturraden organic brown rice and Baturraden white rice. The method used in this study is an experimental method where the three samples obtained were analyzed chemically. The results of chemical characteristics test showed that Baturraden white rice, Baturraden organic red rice and Sirampog black rice had water content (14.19%, 12.90% and 12.59%), ash content (0.88%, 0.98 % and 0.58%), fat content (1.05 %%, 1.97% and 2.59%), total protein content (8.56%, 6.71% and 9.46%), carbohydrate content (75.34%,77.44% and 74.78%).
2506328847H1C015001GEOLOGI DAN STUDI BIOSTRATIGRAFI FORMASI KARANGSAMBUNG DAERAH KARANGSAMBUNG DAN SEKITARNYA KECAMATAN KARANGSAMBUNG KABUPATEN KEBUMEN JAWA TENGAH Daerah penelitian berada pada Desa Tlepok dan sekitarnya Kecamatan Karangsambung Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah. DI daerah ini terdapat beberapa formasi batuan, yaitu Formasi Karangsambung (Teok), Formasi Totogan ( Tomt), Formasi Waturanda (Tmw), Formasi Penosogan (Tmp), dan Aluvium ( Qa). Peneliti melakukan beberapa analisis biostratigrafi, yaitu analisis foraminifera, analisis nannoplankton, dan analisis polen. Sehingga nantinya akan didapatkan biostratigrafi pada daerah penelitian, Metode penelitian menggunakan analisis foraminifera dan nannoplankton untuk menghasilkan zonasi umur dan paleobatimetri dan analisis palinologi untuk menghasilkan zonasi umur dan paleoekologi. Satuan geomorfologi terdiri dari : Satuan Lembah Antiklin Berlereng Agak Curam (S10), Satuan Hogback Berlereng Curam (S7), Satuan Perbukitan Berlereng Agak Curam (S4), Satuan Dataran Fluvial (F1). Satuan litologi terdiri dari : Satuan Batulempung, Satuan Batulempung Berfragmen, Satuan Breksi, Satuan Batupasir, dan Satuan Endapan Aluvial. Struktur geologi terdiri dari Lipatan Antiklin Karangsambung,, Sesar Mendatar Kiri Kali Soka dan Sesar Mendatar Kiri Kaligending, Satuan Batulempung memiliki umur Eosen Tengah – Oligosen Awal (NP15 – NP22) , Satuan Batulempung Berfragmen memiliki umur Oligosen Awal – Miosen Awal (P18 – N5) , Satuan Breksi memiliik umur Miosen Awal – Miosen Tengah, Satuan Batupasir dan Satuan Basalt memiliki umur Miosen Tengah. Paleobatimetri Satuan Batulempung, Satuan Batulempung Berfragmen, Satuan Breksi, Satuan Batupasir, dan Satuan Basalt berada di Batial Bawah (Slope). Selama terendapkan kelima satuan batuan ini, terjadi proses tektonik yang mengakibatkan perlipatan, sesar dan pengangkatan. Hasil dari proses tektonik ini adalah terbentuknya Lipatan Antiklin Karangsambung,, Sesar Mendatar Kiri Kali Soka dan Sesar Mendatar Kiri Kaligending. Setelah itu terendapkan satuan endapan aluvium sebagai akibat proses eksogen dari pelapukan, erosi, transportasi, sedimentasi yang berumur Holosen.The research are is in Tlepok Village and surrounding areas, Karangsambung District, Kebumen Regency, Central Java. In this area there are several rock formations, namely Karangsambung Formation (Teok), Totogan Formation ( Tomt), Waturanda Formation (Tmw), Penosogan Formation (Tmp), Diabas (Tmd), Aluvium (Qa). The researcher conducted several analyzes, namely foraminifera analysis, nannoplankton analysis to produce age zones and paleobatimetri and polen analysis to produce age zones and paleoecology. Geomorphological unit consists of : Anticlinal Valley with Rather Steep Sloped Unit (S10), Hogback with Steep Sloped Unit (S7), Mountain with Rather Steep Sloped Unit (S4), and Fluvial Plain Unit (F1). The lithology unit consists of : Claystone Unit, Fragmented Claystone Unit, Breccia Unit, Sandstone Unit, and Alluvial Unit. The geological structure consists of the Karangsambung Anticline Fold, the Left Strike Slip Fault Kali Soka, and the Left Strike Slip Fault Kaligending. Claystone Unit has Middle Eocen – Early Oligocene age (NP15 – NP22), Fragmented Claystone Unit has Early Oligocene – Early Miocene age (P18 – N5), Breccia Unit has Early Miocene – Middle Miocene, Sandstone Unit and Basalt Unit has Middle Miocene age. Paleobathymetri for Claystone Unit , Fragmented Claystone Unit, Breccia Unit, and Sandstone Unit was in Lower Bathyal. As long as deposited these five rock units, tectonic process occurred which resulted in folding, faulting, and lifting. After that, deposited Aluvium Unit has Holocene age as a resulted from weathering, erosion, transportation, and sedimentation.
2506428014I4B018111Implementasi Pengaruh Posisi Condong ke Depan (CKD) dengan Pursed Lips Breathing (PLB) terhadap Peningkatan Kondisi Pernapasan Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di IGD RSUD. dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga: Case StudyABSTRACT
Background: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit paru progresif yang mengancam jiwa, menyebabkan sesak napas (awalnya dengan aktivitas) dan merupakan predisposisi eksaserbasi penyakit serius. Penatalaksanaan dari penyakit PPOK ini diantaranya adalah posisi condong ke depan dan posisi pursed lips breathing.
Method: Penelitian ini menggunakan metode case study dengan cross sectional design. Jumlah responden adalah 7 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. The implementation was conducted in RSUD. dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
Result: Karakteristik responden didominasi berjenis kelamin laki-laki dan mayoritas berusia lebih dari 60 tahun. Teknik condong ke depan dan pursed lips breathing terbukti dapat membantu menurunkan RR dengan p=0,017 (p<0,05) dan meningkatkan SpO2 dengan nilai p=0,031 (p<0,05)
Conclusion: Teknik condong ke depan dan pursed lips breathing terbukti efektif menurunkan RR dan meningkatkan SpO2 yang dapat diaplikasikan pasien PPOK.

Keywords: PPOK, Condong Ke Depan, Pursed Lips Breathing
ABSTRACT

Background: Chronic Obstructed Pulmonary Disease (COPD is a life-threatening progressive lung disease and predisposes to exacerbation of serious illness. It causes shortness of breath (initially with activity). The management of the COPD disease includes leaning forward and pursed lips breathing.
Method: This study uses a case study method with cross sectional design. The number of the respondents were 7 patients matched the inclusion criteria. The implementation was conducted in dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Regional Public Hospital.
Result: : Respondent characteristics were dominated by men and the majority were over 60 years old. Forward leaning and pursed lips breathing techniques are proven to help reducing RR with p = 0.017 (p <0.05) and increasing SpO2 with p = 0.031 (p <0.05)
Conclusion: Evidently, forward-leaning and pursed lips breathing techniques are effective in reducing RR and increasing SpO2 so that it can be applied on the COPD patients.

Keywords: COPD, Forward Leaning, Pursed Lips Breathing
2506529045E1A116033TALAK RAJ’I KARENA PERSELISIHAN DAN PERTENGKARAN
(TINJAUAN YURIDIS PUTUSAN NOMOR 0017/PDT.G/2019/PA.BLG)
ABSTRAK

TALAK RAJ’I KARENA PERSELISIHAN DAN PERTENGKARAN
(TINJAUAN YURIDIS PUTUSAN NOMOR 0017/PDT.G/2019/PA.BLG)

Oleh:
NIKI NUR AVIANI
E1A116033

Sebuah perkawinan mempunyai tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Keluarga itu sendiri merupakan kesatuan masyarakat yang terkecil, yang terdiri dari ayah, ibu, dan umumnya ada anak. Oleh karena itu, sebuah rumah tangga akan kurang sempurna tanpa adanya anak-anak. Hal ini dapat menimbulkan perselisihan dan pertengkaran antara suami dan isteri yang mengakibatkan perceraian jika tidak terselesaikan dengan baik.
Permasalahan dalam penelitian ini yaitu bagaimana pertimbangan hukum Hakim dalam mengabulkan perceraian dengan alasan perselisihan dan pertengkaran dalam Putusan Nomor 0017/Pdt.G/2019/PA.Blg. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif, spesifikasi penelitian prespektif analitis, pengumpulan data studi kepustakaan dengan inventarisasi data, analisis data normatif kualitatif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan dasar pertimbangan Hakim Pengadilan Balige dalam memutus perkara nomor 0017/Pdt.G/2019/PA.Blg berdasarkan Pasal 19 huruf f Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975 jo Pasal 116 huruf (f) Kompilasi Hukum Islam, menurut peneliti kurang lengkap sehingga sebaiknya dilengkapi dengan menambahkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 34 ayat 2 dan ayat 3 serta Pasal 19 huruf b Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975 jo Pasal 116 huruf (b) Kompilasi Hukum Islam.

Kata kunci: Talak Raj’i, Perselisihan dan Pertengkaran
ABSTRACT

TALAK RAJ'I BECAUSE OF DIFFERENCES AND ARGUMENTS
(Juridical Review Of Verdict Number 0017 / Pdt.G / 2019 / PA.Blg)

By:
NIKI NUR AVIANI
E1A116033

A marriage has the purpose of forming a happy and everlasting family (household) based on the Godhead. The family itself consists of a restricted society, consisting of father, mother, and generally there are children. Therefore, a household will be less than perfect without children. This can lead to disputes and quarrels between husband and wife who demand divorce if it is not resolved properly.
The problem in this study is the matter of Judge's consideration in granting divorce on the grounds of disputes and quarrels in Decision Number 0017 / Pdt.G / 2019 / PA.Blg. The research method used is to discuss normative juridical, analytical perspective research specifications, collection of literature study data with data inventory, qualitative normative data analysis.
Based on the results of research and discussion, it can conclude the foundation of Balige Court's judgment in deciding case number 0017 / Pdt.G / 2019 / PA.Blg based on Article 19 letter f Government Regulation No.9 of 1975 jo Article 116 letter (f) Compilation of Islamic Laws Law Law Number 1 of 1974 Article 34 paragraph 2 and paragraph 3 and Article 19 letter b Government Regulation No. 9 of 1975 jo Article 116 letter (b) Compilation of Islamic Law.

Key words: Divorce Raj'i, Disputes and Disputes
2506628015I4B018048Implementasi Relaksasi Autogenik Terhadap Tingkat Nyeri Akut Pada Pasien Abdominal Pain di IGD RSUD. dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga: Case StudyLatar Belakang: Abdominal pain merupakan gejala nyeri yang datang tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 24 jam. Abdominal pain menjadi salah satu kasus yang banyak ditemukan di IGD karena banyak pasien yang mengeluh nyeri. Nyeri merupakan salah satu masalah serius yang harus segera ditangani dengan memberikan intervensi yang dapat memberikan rasa nyaman, aman dan menghilangkan nyeri. Intervensi yang dapat diberikan untuk menangani nyeri dapat berupa terapi teknik relaksasi autogenik.
Metode: Implementasi ini menggunakan metode case studi. Responden pada penelitian hanya menggunakan kelompok intervensi yang berjumlah 5 orang. Implementasi ini dilakukan di Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
Hasil: Terdapat perubahan skala nyeri sebelum dan sesudah diberikan relaksasi autogenik pada pasien yang mengalami nyeri abdomen. Hal tersebut dibuktikan dengan analisis SPSS menggunakan uji Wilcoxon yang menunjukkan nilai p = 0,041 (<0,05) yang artinya ada perbedaan skala nyeri sebelum dan sesudah intervensi.
Kesimpulan: Terapi relaksasi autogenik yang diberikan kepada pasien yang mengalami abdominal pain terbukti dapat menurunkan tingkat nyeri.
Kata Kunci: Nyeri abdomen, relaksasi autogenik
Background: Abdominal pain is a symptom of pain that comes suddenly and lasts less than 24 hours. Abdominal pain is one of the many cases found in the emergency room because many patients complain of pain. Pain is one of the serious problems that must be addressed immediately by providing interventions that can provide a sense of comfort, security and relief of pain. Interventions that can be given to manage pain can be in the form of autogenic relaxation techniques.
Method: This implementation uses the case study method. Respondents in the study only used an intervention group of 5 people. This implementation was carried out in the Emergency Instalation of RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
Results: There was a change in pain scale before and after autogenic relaxation was given to patients who had abdominal pain. This is evidenced by the SPSS analysis using the Wilcoxon test which shows a value of p = 0.041 (<0.05) which means there is a difference in the pain scale before and after the intervention.
Conslusion: Autogenic relaxation therapy given to patients who experience abdominal pain has been shown to reduce pain levels.
Keywords: Abdominal pain, autogenic relaxation
2506728016A1L014239APLIKASI LIMA FORMULA PUPUK N SLOW RELEASE TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SAWI HIJAU
(Brassica juncea L.)
Penelitian bertujuan untuk : (1) Mengetahui formula pupuk N slow release yang tepat untuk memperoleh pertumbuhan dan hasil tanaman sawi hijau yang maksimal; (2) Mengetahui besarnya serapan N sawi hijau pada setiap formula pupuk N slow release. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 1 faktor, yaitu pupuk N slow release sebanyak 5 taraf dan 1 kontrol, yaitu F0 ( formula pupuk N sesuai anjuran) ; F1 (formula pupuk N dengan dosis 1,05 g/tan) ; F2 (formula pupuk N dengan dosis 0,74 g/tan) ; F3 (formula pupuk N dengan dosis 0,87 g/tan) ; F4 (formula pupuk N dengan dosis 0,72 g/tan) ; F5 (formula pupuk N dengan dosis 0,76 g/tan). Hasil penelitian menunjukkan formula pupuk N slow release menyebabkan perbedaan pada tinggi tanaman, luas daun, dan serapan N tanaman dengan serapan tertinggi pada formula F5 (pupuk N slow release dengan komposisi 7 urea : 2 Azolla microphylla : 1 montmorillonite) sebesar 1,35%. Pertumbuhan dan hasil sawi hijau tertinggi yaitu pada F1 (pupuk N slow release dengan komposisi 6 urea : 1 Azolla microphylla : 1 montmorillonite : 1 gondorukem : 1 asam humat) sebesar 361,08 g/tanamanThe research aims to: (1) Determine the correct slow release N fertilizer formula to obtain maximum growth and yield of mustard greens; (2) Determine the amount of green mustard fertilizer in each formula of N slow release fertilizer. The design used in this study was a Complete Randomized Block Design (RCBD) with 1 factor, namely 5 levels of N slow release fertilizer and 1 control, namely F0 (N fertilizer formula as recommended); F1 (formula N fertilizer with a dose of 1.05 g / tan); F2 (formula fertilizer N at a dose of 0.74 g / tan); F3 (formula N fertilizer with a dose of 0.87 g / tan); F4 (formula fertilizer N at a dose of 0.72 g / tan); F5 (N fertilizer formula with a dose of 0.76 g / tan). The results showed the formula of slow release N fertilizer caused differences in plant height, leaf area, and N uptake of plants with the highest absorption in formula F5 (slow release N fertilizer with a composition of 7 urea: 2 Azolla microphylla: 1 montmorillonite) of 1.35%. Related and highest green mustard yield in F1 (slow release N fertilizer with composition of 6 urea: 1 Azolla microphylla: 1 montmorillonite: 1 gum rosses: 1 humic acid) of 361.08 g / plant.
2506828017B1B015029TOTAL PROTEIN SERUM LEVEL OF NILEM FISH (Osteochillus vittatus) FED BY Chlorella vulgaris SUPPLEMENTATIONIkan Nilem (Osteochillus vittatus) adalah ikan air tawar yang banyak dibudidayakan tetapi sebagian besar belum dilakukan secara intensif, sehingga hasilnya belum optimal. Keberhasilan budidaya ikan Nilem (O. vittatus) sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pakan yang cukup sehingga diperlukan manajemen pakan yang efektif dan efisien. Pakan konvensional terkadang tidak mengandung nutrisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan, sehingga diperlukan suplementasi. Suplementasi dibutuhkan dalam budidaya ikan untuk memacu kesehatan ikan. Salah satu suplemen yang dapat digunakan dalam budidaya ikan adalah C. vulgaris. Chlorella vulgaris adalah salah satu mikroalga yang berpotensi sebagai imunostimulan karena mengandung protein tinggi, vitamin, mineral, lemak, polisakarida, dan zat gizi lainnya. Permasalahan yang sering dihadapi dalam budidaya ikan adalah penyakit yang dapat menyebabkan penurunan tingkat produksi ikan, sehingga perlu adanya deteksi status imunitas pada ikan. Salah satu cara untuk mendeteksi status imunitas adalah dengan mengukur kadar total protein. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui pengaruh perbedaan dosis suplementasi C. vulgaris dalam pakan terhadap kadar total protein serum ikan Nilem (O. vittatus); (2) mendapatkan dosis suplementasi C. vulgaris dalam pakan yang terbaik untuk meningkatkan kadar total protein serum ikan Nilem (O. vittatus). Metode penelitian menggunakan metode penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat kali ulangan. Perlakuan nya yaitu (P0) ikan Nilem (O. vittatus) diberi pakan komersial tanpa suplementasi C. vulgaris; (P1-P4) ikan Nilem (O. vittatus) diberi suplementasi C. vulgaris 2, 3, 4, dan 6 g.kg-1 pakan komersial.
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah berbagai dosis C. vulgaris yang diberikan pada ikan Nilem (O. vittatus), sedangkan variabel terikat adalah perubahan kadar total protein serum ikan Nilem (O. vittatus). Parameternya adalah kadar total protein serum ikan Nilem (O. vittatus). Pengukuran kadar total protein serum menggunakan metode biuret dengan kit dyasis dan spektrofotometer. Pengukuran kadar total protein serum dilakukan dua kali, sebelum perlakuan (hari ke-0) dan setelah perlakuan (hari ke-57). Hasil data penelitian dianalisis secara statistik menggunakan analysis of variance (ANOVA) dengan tingkat kesalahan 5%, kemudian dilanjutkan dengan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan dosis suplementasi C. vulgaris dalam pakan meningkatkan kadar total protein serum ikan Nilem (O. vittatus) (p<0,05). Dosis suplementasi C. vulgaris 6 g.kg-1 pakan komersial adalah dosis yang terbaik untuk meningkatkan kadar total protein serum ikan Nilem (O. vittatus). Pada dosis tersebut menunjukkan hasil rata-rata kadar total protein yaitu 5.51 g.dL-1, yang mana telah sesuai dengan batas normal-nya yaitu berkisar antara 5-8 g.dL-1.
Nilem fish (Osteochillus vittatus) was freshwater fish that was widely cultivated, but most of them have not been done intensively, so the results were not optimal. The success of Nilem fish (O. vittatus) cultivation was strongly influenced by the availability of sufficient feed, so effective and efficient feed management was needed. Conventional feed sometimes does not contain enough nutrients to meet fish feed needs, so supplementation was needed. Supplementation was needed in fish cultivation to spur fish health. One supplement that can be used in fish cultivation was C. vulgaris. Chlorella vulgaris was one of the potential microalgae as an immunostimulant because it contained high protein, vitamins, minerals, fats, polysaccharides, and other nutrients. The problem that was often faced in fish cultivation was a disease that can cause a decrease in the level of fish production, so it was necessary to detect immunity status in fish. One way to detect immune status was to measure total protein levels. The objectives of this research were (1) knowing the effect of different dosages of C. vulgaris supplementation in feed on total protein levels of Nilem fish (O. vittatus) serum; (2) getting the best dosage of C. vulgaris supplementation in feed to increase the total protein level of Nilem fish (O. vittatus) serum. The research method used was an experimental research method with a completely randomized design (CRD) with five treatments and four replications. The treatments were (P0) Nilem fish (O. vittatus) were given commercial feed without C. vulgaris supplementation; (P1-P4) Nilem fish (O. vittatus) were given supplementation of C. vulgaris 2, 3, 4, and 6 g.kg-1 of commercial feed.
The variables in this research consisted of independent and dependent variables. The independent variable in this research was the various doses of C. vulgaris given to Nilem fish (O. vittatus), while the dependent variable was the change in the total protein level of Nilem fish (O. vittatus) serum. The parameter was the total protein level of Nilem fish (O. vittatus) serum. Measurement of total protein levels serum used was the biuret method with a dyasis kit and spectrophotometer. Measurement of total protein levels serum was carried out twice, before treatment (day 0) and after treatment (57th day). The results of the research data were statistically analyzed using analysis of variance (ANOVA) with an error rate of 5%, then continued with the least significant difference (LSD) test. The results showed that the different dosages of C. vulgaris supplementation in feed increased the total protein levels of Nilem fish (O. vittatus) serum (p<0.05). Supplementation dose of C. vulgaris 6 g.kg-1 commercial feed was the best dose to increase the total protein level of Nilem fish (O. vittatus) serum. At this dose showed an average result of total protein levels of 5.51 g.dL-1, which was in accordance with its normal limit, which ranged from 5-8 g.dL-1.
2506928848D1A016229PENGARUH PERBEDAAN FISIK AZOLLA (Azolla microphylla) DALAM PAKAN TERHADAP KONSUMSI PAKAN DAN PERTAMBAHAN BOBOT BADAN PUYUH JANTAN ( Coturnix-coturnix japonica )ABSTRAK
Penelitian ini berjudul “Pengaruh Perbedaan Fisik Azolla (Azolla microphylla) Dalam Pakan Terhadap Konsumsi Pakan dan Pertambahan Bobot Badan Puyuh Jantan (Coturnix – coturnix japonica)”. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 04 januari – 08 februari 2020 di Desa Kebumen, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas dan Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh suplementasi Azolla microphylla dalam perbedaan perlakuan fisik terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan pada puyuh jantan. Materi yang digunakan pada penelitian ini yaitu puyuh jantan pada umur 30 hari yang berjumlah 120 ekor yang dipelihara selama 4 minggu. Pakan yang diberikan yaitu pakan komersial B-11 KM dan Azolla microphylla dengan perbedaan perlakuan fisik. Percobaan dilakukan secara eksperimen dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Rancangan terdiri dari 4 perlakuan dan setiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan, setiap ulangen terdiri dari 6 ekor puyuh jantan. Perlakuan terdiri dari RO (pakan dengan penambahan Azolla microphylla 0%), R1 (pakan dengan penambahan Azolla microphylla segar sebanyak 3%), R2 (pakan dengan penambahan Azolla microphylla dengan perebusan sebanyak 3%), dan R3 (pakan dengan penambahan tepung Azolla microphylla sebanyak 3%). Hasil analisis variansi menunjukan bahwa suplementasi Azolla microphylla dengan perbedaan perlakuan fisik dalam pakan berpengaruh tidak nyata (P > 0,05) terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan puyuh jantan. Rataan hasil penelitian yang didapat pada konsumsi pakan puyuh jantan yaitu R0: 16,16 ± 0,25 gram/ ekor/ hari, R1: 16,23 ± 0,35 gram/ ekor/hari , R2: 16,31 ± 0,22 gram/ekor/hari, dan R3: 15,96 ± 0,41 gram/ekor/ hari . Sementara untuk rataan pertambahan bobot badan selama pemeliharaan yaitu R0: 31,37 ± 5,53 gram/ ekor, R1: 34,42 ± 12,84 gram/ ekor %, R2: 36,15 ± 8,12 gram/ekor %, dan R3: 29,96 ± 3,28 gram/ekor. Dapat disimpulkan bahwa suplementasi Azolla microphylla dengan perbedaan fisik sebanyak 3% dalam pakan belum mampu meningkatkan konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan pada puyuh jantan.

Kata Kunci: Azolla microphylla, Puyuh, Konsumsi pakan, Pertambahan bobot badan, suplementasi
ABSTRACT
This research entitled “The Effects of Azolla (Azolla microphylla) Physical Difference in Feed on Feed Intake and Male Quail (Coturnix – coturnix japonica) Weight Gain.” The research was conducted on January 4th – February 8th, 2020, in Kebumen Village, Baturraden sub-district, Banyumas district, and Laboratory of Animal Feed Science, Faculty of Animal Husbandry, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. This research aims to examine the effects of Azolla microphylla supplementation in physical treatment differences on feed intake and male quail weight gain. This research used 120 30-days old quail males which were taken care of for four weeks. The feed was commercial feeds B-11 KM and Azolla microphylla with physical treatment difference. Thetrial was done through an experiment by applying Fully Randomized Design. The design consists of four treatments, which each had five replicates, and each replicate consisted of six male quail. The treatment consisted of RO(feed with Azolla microphylla addition of 0%), R1 (feed with fresh Azolla microphylla addition of 3%), R2 (feed with boiled Azolla microphylla addition of 3%), and R3 (feed with Azolla microphylla flour addition of 3%). The analysis of variance showed that Azolla microphylla supplementation with physical treatment differencehad an insignificant effect (P > 0.05) on feed intake and male quail weight gain. The average of research results obtained on male quail feed intake was R0: 16.16 ± 0.25 gram/bird/day, R1: 16.23 ± 0.35 gram/bird/day, R2: 16.31 ± 0.22 gram/bird/day, and R3: 15.96 ± 0.41 gram/bird/day. While the average of weight gain throughout the maintenance was R0: 31.37 ± 5.53 gram/bird, R1: 34.42 ± 12.84 gram/bird%, R2: 36.15 ± 8.12 gram/bird%, and R3: 29.96 ± 3.28 gram/bird. It can be concluded that Azolla microphyllas upplementation withphysical difference of 3% in feed has not been able to improve the feed intake and male quail weight gain.

Key words: Azolla microphylla, quail, feed intake, weight gain, supplementation
2507028018A1D015052KARAKTER FISIOLOGIS DAN HASIL TANAMAN KOPI ARABIKA(Coffea arabica) BERDASARKAN PERBEDAAN KETINGGIAN DI DESA SARWODADI KECAMATAN PEJAWARAN KABUPATEN BANJARNEGARA
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui keragaan dan manajemen teknik budidaya kopi arabika di desa sarwodadi 2) mengetahui pengaruh perbedaan ketinggian terhadap hasil dan karakter fisiologis kopi di Desa Sarwodadi 3) mengetahui pengaruh kondisi lingkungan terhadap hasil dan karakter fisiologis kopi di Desa Sarwodadi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai bulan September 2019 di Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Sampel tanaman kopi diambil dari perkebunan rakyat diwilayah Pejawaran, Banjarnegara. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan dengan Teknik survei dengan rancangan pengambilan sampel dilakukan menurut pola stratified random sampling merupakan proses pengambilan sampel melalui proses pembagian populasi kedalam strata. Strata yang dimaksudkan dalam penelitian ini yaitu berdasarkan ketinggian tempat. Pelaksaan penelitian di bagi dalam 4 strata ketinggian dimana dari masing-masing ketinggian diambil 8 tanaman sampel yang di amati. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah biji perdompol, hasil pertanaman, bobot perbiji, stomata dan kandungan klorofil.
Data pengamatan dianalisis dengan menggunakan uji F pada taraf kesalahan 5%, jika berbeda nyata dilanjutkan dengan uji DMRT. Analisis korelasi sederhana digunakan untuk mempelajari derajat dan bentuk hubungan perbedaan ketinggian terhadap hasil dan karakter fisiologis tanaman kopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Keragaan budidaya di Desa Sarwodadi sangat beragam dan belum sesuai dengan budidaya kopi yang baik, para petani hanya mengambil hasil tanpa melakukan perawatan optimal seperti yang di anjurkan. Ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut memiliki hasil yang paling baik terhadap karakter fisiologis dan hasil dengan rata-rata hasil 6,04kg/tanaman, bobot 8,42g/biji, kerapatan stomata 191,68 µm dan bukaan stomata 3,28 µm
This study aimed to : 1) determine the performance and management of Arabica coffee cultivation techniques in Sarwodadi Village 2) Determine the effect of altitude differences on the yield and physiological characteristics of coffee in Sarwodadi Village 3) Determine the effect environmental conditions on yield and physiological character of coffee in Sarwodadi Village. This research was carried out in July to September 2019 in the Laboratory of Agronomy, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University. Coffee plant samples were taken from plantations of the people in Pejawaran area, Banjarnegara. The selection of research sites was carried out by survey technique with the design of sampling carried out according to the stratified random sampling pattern, which was the process of taking samples through the process of dividing the population into strata. Strata that are intended in this study are based on altitude. The research was divided into 4 strata where from each height 8 sample plants were taken. The observed variables included plant height, number of seeds per wet, crop yields, seed weight, stomata and chlorophyll content.
Observation data were analyzed using the F test at an error level of 5%, if significantly different continued with the DMRT test. Simple correlation analysis is used to study the degree and shape of the relationship of height differences to the yield and physiological characteristics of coffee plants. The results showed that the performance of cultivation in Sarwodadi Village was very diverse and not yet in accordance with good coffee cultivation, farmers only took the results without carrying out the optimal maintenance as suggested. An altitude of 1200 meters above sea level has the best results on physiological characters and yields with an average yield of 6.04kg / plant, a weight of 8.42g / seed, a stomata density of 191.68 µm and a stomata opening of 3.28 µm.
2507128043H1E015010Penentuan Rute dan Jadwal Pengangkutan Sampah Menggunakan Algoritma Genetika (Studi Kasus di Kabupaten Purbalingga)Proses pengangkutan sampah merupakan hal penting dalam proses pengolahan sampah. Pengoptimalan proses pengangkutan sampah diperlukan untuk meningkatkan efisiensi dan juga meminimasi biaya transportasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rute yang lebih baik dalam proses pengangkutan sampah di Kabupaten purbalingga. Metode penelitian yang digunakan adalah formulasi penentuan rute yang menggunakan batasan kapasitas kendaraan yaitu capacitated vehicle routing problem (CVRP) yang diselesaikan dengan metode pendekatan berupa algoritma genetika. Pengangkutan sampah di Kabupaten purbalingga dengan batasannya yaitu diangkut oleh 4unit dump truk untuk 42 daerah di Kabupaten purbalingga dengan rata-rata muatan per truk sebanyak 278,75 tong sampah dan tingkat utilisasi sebesar 79,64% serta jarak tempuh total sejauh 842.02 km per minggu. Berdasarkan hasil observasi dan perhitungan menunjukkan jumlah truk optimal yang harus digunakan yaitu sebanyak 3,177 truk yang berarti nilai truk optimal berada diantara 3 dan 4 truk. Hasil penentuan rute rengan algoritma genetika untuk 4 truk menunjukkan rata-rata muatan per truk sebanyak 282,38 tong sampah dan tingkat utilisasi sebesar 80,68% dengan jarak tempuh total perminggu sejauh 881,79 km yang mana menunjukkan peningkatan tingkat utilisasi sebesar 1,04% sedangkan penentuan rute untuk 3 truk menunjukkan rata-rata muatan per truk sebanyak 322,55 tong sampah dan tingkat utilisasi sebesar 92,16% dengan jarak tempuh total per minggu sejauh 736,86 km dan tingkat utilisasi yang meningkat sebesar 12,52% dari jadwal yang digunakan saat ini.The process of transporting garbage is important in the process of processing garbage. Optimizing the garbage transportation process is needed to improve efficiency and also minimize transportation costs. This study aims to determine the better route in the process of transporting garbage in Purbalingga Regency. The research method used is the formulation of determining the route that uses a vehicle capacity limit that is capacitated vehicle routing problem (CVRP) which is solved by an approach in the form of a genetic algorithm. Garbage transportation in Purbalingga Regency with the limitation that is transported by 4 units of dump trucks to 42 areas in Purbalingga Regency with the average load per truck is 278,75 garbage bins and the utilization rate is 79,64% with a total distance per week 842.02 km. Based on observations the calculation results show the optimal number of trucks that must be used, is 3,177 trucks, which means the optimal truck value is between 3 and 4 trucks. The results of determining route using genetic algorithm for 4 trucks show the average load per truck is 282,68 garbage bins and utilization rate is 80,68% with a total distance per week 881.79 km which shows an increase in the utilization rate of 1.04% while the determination of the route for 3 trucks shows the average load per truck is 322,55 garbage bins and utilization rate is 92,16% with a total distance traveled as far as 736.86 km and the utilization rate increased by 12.52% from the current schedule.
2507228078D1A015180PERTAMBAHAN BOBOT BADAN DAN BCS (BODY CONDITION SCORE) SAPI MADURA YANG DISUPLEMENTASI TEPUNG BAWANG PUTIH, Cr Organik, DAN Zn-Lisinat DALAM PAKANSuatu penelitian yang bertujuan untuk mengkaji pengaruh suplementasi tepung bawang putih, Cr Organik, dan Zn-Lisinat terhadap pertambahan bobot badan dan BCS pada sapi Madura dalam pakannya. Penelitian dilaksanakan pada 28 April 2019 sampai dengan 22 September 2019 di Kandang Dawuhan Multifarm, Kedungbanteng, Banyumas dan Laboratorium Ilmu Bahan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen secara in vivo dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 3 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan terdiri atas R0 : kontrol (pakan basal) ; R1 : pakan basal + 250 ppm tepung bawang putih ; R2 : pakan basal + 250 ppm tepung bawang putih + 40 ppm Zn-Lisinat + 0,75 ppm Cr Organik. Peubah yang diukur pertambahan bobot badan harian dan Body Condition Score (BCS). Rataan pertambahan bobot badan sapi Madura dengan perlakuan R0, R1 dan R2 masing-masing diperoleh sebesar 0,67 ± 0,22 kg/ekor/hari ; 1,07 ± 0,17 kg/ekor/hari dan 0,70 ± 0,09 kg/ekor/hari. Rataan Body Condition Score (BCS) perlakuan R0, R1 dan R2 masing-masing 4,67 ± 1,03 ; 5,17 ± 0,41 dan 4,75 ± 0,76 kg/ekor/hari. Suplementasi tepung bawang putih dalam pakan sapi Madura mampu meningkatkan pertambahan bobot badan sebesar 59,75%, namun suplementasi tepung bawang putih, Cr organik dan Zn-lisinat dalam pakan tidak efektif dalam pertambahan bobot badan dan (Body Condition Score) BSC sapi Madura.A study aimed to examine the effect of garlic flour, Organic Cr, and Zn-Lysinate supplementation on body weight gain and BCS in Madura cattle in feed. The study was conducted on April 28, 2019 until September 22, 2019 in the Dawuhan Multifarm Cage, Kedungbanteng, Banyumas and Animal Food Science Laboratory, Faculty of Animal Husbandry, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Central Java. The research method used was an in vivo experiment with a Completely Randomized Design (CRD) using 3 treatments and 6 replicaties. The treatment consisted of R0: control (basal feed); R1: basal feed + 250 ppm garlic flour; R2: basal feed + 250 ppm garlic flour + 40 ppm Zn-lysinate + 0.75 ppm Cr Organic. Variables measured were daily body weight gain and Body Condition Score (BCS). The average body weight gain of Madura cattle with treatments R0, R1 and R2 each was obtained at 0.67 ± 0.22 kg / head / day; 1.07 ± 0.17 kg / head / day and 0.70 ± 0.09 kg / head / day. The average Body Condition Score (BCS) for treatments R0, R1 and R2 were 4.67 ± 1.03; 5.17 ± 0.41 and 4.75 ± 0.76 kg / head / day. Garlic flour supplementation in Madura cattle feed can increase body weight by 59.75%, but supplementation of garlic flour, organic Cr and Zn-lysinate in feed is not effective in body weight gain and (Body Condition Score) of Madura cattle BCS.
2507328105G1A016034PERBEDAAN KADAR ALBUMIN CREATININE RATIO (ACR) PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 (DMT 2)
DENGAN HIPERTENSI DAN NON HIPERTENSI
Latar belakang : Diabetes melitus (DM) merupakan kelainan metabolik yang ditandai dengan kenaikan gula darah (hiperglikemia) akibat gangguan fungsi insulin. Pasien dengan diabetes melitus tipe 2 (DMT 2) biasanya mempunyai kemungkinan hipertensi dua kali lipat dibandingkan dengan pasien yang bukan DM dan beresiko tinggi terjadinya komplikasi, yaitu nefropati diabetik. Albumin Creatinine Ratio (ACR) merupakan suatu pengukuran permeabilitas glomerulus ginjal terhadap albumin sebagai penanda hipertensi, diabetes melitus maupun gagal ginjal.
Metode : Rancangan penelitian menggunakan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien DMT 2 dengan hipertensi dan tanpa hipertensi dengan jumlah sampel sebesar 50 orang yang terbagi menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok 25 orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah consecutive sampling. Albumin Creatinine Ratio (ACR) merupakan metode pengukuran pada penelitian ini dengan mengunakan sampel urin sewaktu.
Hasil : Hasil penelitian dengan uji alternatif Mann Whitney menunjukkan nilai p sebesar 0,655 dengan rerata kadar ACR pada pasien DMT 2 dengan hipertensi sebesar 5,20 mg/mmol dan pada kelompok pasien DMT 2 non hipertensi sebesar 4,20 mg/mmol.
Kesimpulan : Terdapat perbedaan yang tidak signifikan antara kadar ACR pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi dan non hipertensi.
Background : Diabetes Melitus (DM) is a metabolic disorder characterized by increasing blood sugar (hyperglycemia) due to insulin function impairement. Type 2 diabetes melitus (T2DM) patients usually have risk of hypertension two times compared to non diabetic patients and have a high risk of diabetic nephropathy as a complication. Albumin Creatinine Ratio (ACR) is a measurement of renal glomerular permeability to albumin that can be used as a marker of hypertension, diabetes mellitus, and kidney failure..
Methods : The study design was a cross sectional approach. The population in this study were T2DM with hypertension and non hypertension. The number of samples was 50 people, divided into two groups, each group of 25 people. The sampling technique in this study was consecutive sampling. Albumin Creatinine Ratio (ACR) was a measurement method in this study with urine sample at a time.
Results : The results of this study with Mann Whitney alternative test showed a p value of 0.655 with an average ACR levels in T2DM patients with hypertension of 5.20 mg / mmol and in the non hypertensive T2DM group of 4.20 mg /mmol.
Conclusion : There was no significant difference between ACR levels in patients type 2 diabetes mellitus with hypertension and non hypertension.
2507428116D1A016039Hubungan Motivasi dan Etos Kerja dengan Pendapatan Usaha Ternak Itik Petelur di Kecamatan Margadana Kota Tegal

(The Relationship between Motivation and Work Ethos with Laying Duck Business Income at Margadana Sub-District Tegal City)
Motivasi dan etos kerja penting dimiliki oleh peternak itik petelur karena diduga dapat mempengaruhi pendapatan usaha ternak itik petelur. Penelitian ini dilaksanakan pada 7 Desember – 31 Desember 2019. Tujuan penelitian ini yaitu (1) mengetahui motivasi peternak itik petelur di Kecamatan Margadana, (2) mengetahui etos kerja peternak itik petelur di Kecamatan Margadana, (3) mengetahui pendapatan usaha ternak itik petelur di Kecamatan Margadana, dan (4) menganalisis hubungan motivasi dan etos kerja dengan pendapatan usaha ternak itik petelur di Kecamatan Margadana. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey. Metode penetapan sampel wilayah menggunakan teknik purposive sampling, terpilih 3 kelurahan di Kecamatan Margadana yaitu Pesurungan Lor, Margadana, serta Sumurpanggang. Pengambilan responden secara random sampling sebanyak 50 peternak itik petelur. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternak itik petelur di Kecamatan Margadana memiliki motivasi usaha beternak itik petelur pada kategori sedang. Etos kerja peternak itik petelur di Kecamatan Margadana masih rendah. Mayoritas peternak itik petelur di Kecamatan Margadana memiliki pendapatan berkategori sedang antara Rp 1.828.692,00 – Rp 7.718.018,00, serta rata-rata pendapatan peternak itik petelur yaitu sebesar Rp 4.773.355,00/bulan. Berdasarkan hasil analisis rank spearman, motivasi mempunyai hubungan yang cukup kuat dengan pendapatan peternak itik petelur, sedangkan etos kerja mempunyai hubungan yang lemah dengan pendapatan usaha ternak itik petelur.Motivation and work ethos are important for laying duck farmers because they are thought to affect the income of laying duck bussiness. This research be held on 7 December – 31 December 2019. This research aims are (1) to investigate the motivation of laying duck farmers in Margadana sub-district, (2) to investigate the work ethos of laying duck farmers in Margadana sub-district, (3) to investigate the bussiness income of laying duck farmers in Margadana sub-district, and (4) to analyze the relationship of motivation and work ethos with laying duck bussiness income in Margadana sub-district. The research method used was survey method. The method of sample area determine by using purposive sampling technic, 3 village were selected in Margadana sub-district, thats are Pesurungan Lor, Margadana, and Sumurpanggang. Respondent are taken by using random sampling technic many as 50 laying duck farmers. The analytical method used is descriptive analysis and spearman rank correlation analysis. The results showed that laying duck farmers in Margadana sub-district had the motivation of laying duck farming in the medium category.
The work ethos of laying duck farmers in Margadana sub district is still low. The Majority of laying duck farmers in Margadana sub-district have moderate income between Rp 1.828.692,00 – Rp 7.718.018,00 and the average income of laying duck farmers is Rp 4.773.355,00/month. Based on the result of the spearman rank analysis, motivation has a medium relationship category with the income of laying duck farmers, while the work ethos has a low relationship with the income of laying duck bussiness.
2507528066H1A016032ANALISIS KONTINGENSI SISTEM KELISTRIKAN DI JARINGAN 150 KV MILIK UP2B JAWA TENGAH & D.I. YOGYAKARTATujuan penelitian tugas akhir ini adalah untuk meningkatkan keandalan sistem dengan : (1) Melakukan studi pengaruh kontingensi (N-1) untuk meneliti keandalan sistem saat terjadi pelepasan saluran transmisi; (2) Melakukan simulasi aliran daya pada software ETAP untuk mendapatkan parameter yang dibutuhkan saat analisis kontingensi dengan metode 1P1Q; (3) Melakukan pengurutan ranking Indeks Performa saluran dan tegangan untuk mendapatkan urutan pengaruh kontingensi yang paling berdampak buruk pada sistem. Obyek pembahasan pada kerja praktik ini adalah jaringan subsistem tenaga listrik Tanjung Jati yang merupakan bagian dari sistem kelistrikan Jawa Tengah & D.I. Yogyakarta. Berlangsung di PT. PLN Unit Pelayanan Pengatur Beban (UP2B) Jawa Tengah & D.I. Yogyakarta. Data yang digunakan berupa Single Line Diagram subsistem Tanjung Jati, data konfigurasi bus, rating trafo, pembebanan tertinggi serta parameter saluran transmisi. Kontingensi (N-1) akan dilakukan dengan melepaskan tiap satu saluran transmisi secara bergantian. Kemudian, mendeteksi pengaruhnya terhadap tegangan bus dan daya aktif pada saluran lainnya. Setelah dilakukan simulasi tersebut pada ETAP, dilakukan perhitungan Indeks Performa (IP) tegangan dan saluran dengan metode 1P1Q menggunakan rumus yang nantinya akan dibahas di bab khusus yang kemudian akan dilakukan pengurutan ranking IP dari yang terbesar ke yang terkecil untuk melihat pengaruh kontingensi terbesar berdasarkan ranking.The purpose of this thesis research is to improve the reliability of the system by: (1) Conducting a contingency influence study (N-1) to examine the reliability of the system when the transmission line is released; (2) Perform a power flow simulation on ETAP software to get the parameters needed when contingency analysis using the 1P1Q method; (3) Sorting the Performance Index of the channel and voltage performance to get the sequence of contingency effects that most adversely affects the system. The object of discussion in this practical work is the Tanjung Jati electric power subsystem network which is part of the electricity system in Central Java & D.I. Yogyakarta. Taking place at PT. PLN Load Control Service Unit (UP2B) Jawa Tengah & D.I. Yogyakarta. The data used are Single Line Diagram Tanjung Jati subsystem, bus configuration data, transformer rating, highest loading and transmission line parameters. Contingency (N-1) will be carried out by releasing each transmission line in turn. Then, detect its effect on the bus voltage and active power on other channels. After the simulation is performed on ETAP, voltage and channel Performance Index (IP) calculations are calculated using the 1P1Q method using a formula which will be discussed later in a special chapter which will then be ranked IP from the largest to the smallest to see the biggest contingency effect based on ranking.
2507628019H1D016059RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI KEPEGAWAIAN
SUB SISTEM CUTI PEGAWAI STUDI KASUS PT. XYZ
Sistem informasi kepegawaian (sub sistem cuti pegawai) atau SIKCP merupakan sistem yang memfasilitasi pengelolaan cuti dan penggajian. Ide pembuatan sistem ini diawali karena suatu permasalahan yang terjadi pada perusahaan yang tidak menerapkan SIKCP seperti pegawai tidak mengetahui detail gaji yang akan didapatkannya terkait dengan cuti yang dilakukannya. Tujuan dibangunnya SIKCP adalah untuk mempermudah proses pengajuan cuti dan penggajian pegawai yang melakukan cuti. Sistem ini dibangun dengan bahasa pemrograman PHP dan metode waterfall. Terdapat beberapa pengguna dalam sistem ini yaitu pegawai, administrator, operator, manajer dan kepala perusahaan. Fitur yang ada dalam sistem ini seperti kelola data cuti, gaji, kehadiran, tunjangan, persetujuan-penolakan serta pembatalan cuti dan penggajian. Sistem ini dapat melakukan perhitungan pendapatan yaitu gaji dan tunjangan yang didapat pegawai berdasarkan kehadiran masing-masing. Dengan adanya SIKCP diharapkan tersedianya sistem yang terintegrasi antara cuti dan gaji sehingga mempermudah perusahaan dalam memantau cuti yang dilakukan pegawai serta gaji yang berhak diterima.Human resource management information system (leave information sub system) or SIKCP is a system that facilitates the management of leave and payroll. The idea of making this system was started because of a problem that occurred in companies that did not implement SIKCP, such as employees not knowing the salary details they would get related to their leave. The purpose of establishing SIKCP is to simplify the process of filing leave and payroll employees who make leave. This system was built with the PHP programming language and the waterfall method. There are several users in this system, namely employees, administrators, operators, managers and company heads. Features in this system such as managing leave data, salary, attendance, benefits, approval-rejection and cancellation of leave and payroll. This system can calculate the income, namely salaries and benefits obtained by employees based on their respective attendance. With the existence of SIKCP, it is expected that an integrated system of leave and salary will be made making it easier for companies to monitor employee leave and salary that is entitled to be received.
2507728741E1A014046PENERAPAN ASAS ASAS UMUM PEMERINTAHAN YANG BAIK DALAM PENETAPAN KAWASAN BENTANG ALAM KARST (KBAK) GOMBONGSuatu kebijakan pemerintah berupa Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gombong yang dikeluarkan tidak sesuai dengan asas umum pemerintahan yang baik akan berakibat hukum yang merugikan khalayak umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Penerapan Asas Asas Umum Pemerintahan yang Baik dalam Kebijakan Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst Gombong di Kebumen. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Yuridis Normatif dengan metode pendekatan perundang-undangan (Statue Approach), pendekatan analitis (Analytical Approach), pendekatan konseptual (Conceptual Approach). Sementara itu, bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan hukum sekunder dengan pengumpulan bahan hukum melalui studi kepustakaan yang selanjutnya dianalisis dengan metode analisis kualitatif. Adapaun penyajian bahan hukum ini adalah Teks naratif deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Penerapan Asas Asas Umum Pemerintahan yang Baik dalam Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst Gombong di Kebumen mempengaruhi ekosistem dan kebutuhan air di kawasan karst serta mengancam kesejahteraan masyarakat akibat perubahan KBAK yang semula 48,94 Ha menjadi 40,89 Ha, berkurang 8,05 Ha. Nantiya luasan itu yang akan dijadikan pertambangan batu gamping untuk memenuhi bahan baku PT Semen Gombong. Ajuan yang penetapan itu dilakukan lewat surat Bupati Nomor 545/503 R sebagai permohonan penetapan KBAK sebagai faktor penyebabnya. Penerapan Asas Penyelanggaraan Kepentingan Umum, asas kepastian hukum dan Asas Keadilan dalam penetapan Kawasan Bentang Alam Kars (KBAK) Gombong tidak sesuai dengan AUPB denga tidak melihat kepentingan masyarakat secara luas dan tidak melibatkan dan menghilangkan keterlibatan organisasi/profesi dalam keikutsertaan penetapan kawasan bentang alam kars menurut peraturan yang adaA government policy in the form of Determination of Karst Landscape Area (KBAK) Gombong issued not in accordance with the general principles of good governance will have legal consequences that are detrimental to the general publicThis study aims to determine the Implementation of General Principles of Good Governance in the Establishment Policy of the Gombong Karst Landscape Area in Kebumen. The research method used in this study is the Normative Juridical method with the statutory approach method (Statue Approach), analytical approach (Analytical Approach), conceptual approach (Conceptual Approach). Meanwhile, the legal materials used in this study are secondary legal materials by gathering legal materials through literature studies which are then analyzed by qualitative analysis methods. The presentation of this legal material is descriptive narrative text. Based on the results of the study, it can be concluded that the Implementation of General Principles of Good Governance in the Establishment of the Gombong Karst Landscape Area in Kebumen affects the ecosystems and water needs in the karst area and threatens the welfare of the community due to the change in the KBAK which was originally from 48.94 Ha to 40.89 Ha, reduced by 8.05 Ha. Later the area will be used as limestone mining to meet the raw materials of PT Semen Gombong. The proposal for the stipulation was made through the Regent's letter Number 545/503 R as a request for the establishment of KBAK as the cause. The application of the Public Administration Principles, The Principles of legal certainly and the Principles of Justice in the establishment of the Gombong Karst Landscape Area (KBAK) is maladjusted with the AUPB by not looking at the interests of the public at large and does not involve and eliminate the involvement of organizations / professions in the participation in the establishment of the karst landscape in accordance with existing regulations.
2507828020K1C015017VARIASI GABUNGAN FILTER WEDGE TERHADAP POLA DISTRIBUSI DOSIS SERAP KANKER PAYUDARA PADA RADIOTERAPI Co-60 DENGAN TEKNIK PENYINARAN TANGENSIALPada kanker payudara stadium dini jaringan permukaan payudara dianggap sebagai Organ At Risk atau OAR sehingga diperlukan filter wedge untuk memfokuskan dosis pada sel kanker. Penelitian ini mensimulasikan teknik penyinaran tangensial dua arah sudut penyinaran 300˚ dan 120˚ dengan menambahkan filter wedge pada sudut kemiringan virtual isodosis 15˚, 30˚ dan 45˚. Distribusi dosis serap setiap organ didapatkan dari imteraksi radiasi gamma dengan material organ berdasarkan metode Monte Carlo menggunakan MCNPX code dengan menggunakan tally f6 sedangkan untuk mengetahui sebaran dosis serap yang diterima phantom menggunakan tally f5 yang dipresentasikan dalam bentuk pola distribusi dosis serap. Berdasarkan hasil yang didapat pola distribusi dosis yang paling besar diterima sel kanker pada tiap arah penyinaran menggunakan sudut filter wedge 15˚ dibandingkan sudut filter wedge 30˚ dan 45˚, sedangkan untuk gabungan dari kedua arah penyinaran pola distribusi dosis serap yang cukup besar diterima sel kanker pada sudut 15˚ dan 15˚. Nilai dosis serap gabungan paling tinggi yang diterima sel kanker sebesar 0,74 Gy yaitu pada gabungan arah penyinaran dengan sudut filter wedge 15˚ dan 15˚, sedangkan dosis serap paling rendah diterima sel kanker sebesar 0.53 Gy yaitu pada gabungan arah penyinaran dengan sudut filter wedge 45˚ dan 45˚. Artinya semakin besar sudut filter wedge maka dosis yang diterima sel kanker semakin kecil karena kurva isodosis yang semakin dalam. Teknik penyinaran untuk kanker payudara stadium dini ini lebih efektif menggunakan sudut filter wedge 15˚ dengan penyebaran minimal terhadap pola pada kedalaman 0,5 cm, sedangkan sudut filter wedge 30˚ dan 45 ˚lebih efektif digunakan untuk sel kanker yang letaknya lebih dalam dari permukaan.


In early stage breast cancer, breast surface tissue is considered as Organ At Risk or OAR so that in conventional irradiation techniques without the use of a wedge filter there can be an accumulation of absorbent doses on the breast surface. Therefore we need a filter wedge to form a profile file with a certain slope so that it can focus the dose on cancer cells. This study simulates a two-way tangential irradiation technique of 300˚ and 120˚ irradiation by adding a wedge filter to the virtual isodosis angle of 15˚, 30˚ and 45˚. The absorption dose distribution of each organ was obtained from gamma radiation imteraction with organ material based on the Monte Carlo method using MCNPX code using tally f6 while to determine the distribution of absorbed doses received by phantom using tally f5 which was presented in the form of absorbed dose distribution patterns. Based on the results obtained by the pattern of dose distribution in each direction of radiation and the combination shows the maximum dose distribution is not right on the target cancer cells but below the cancer cells. However, the distribution of dose doses is higher regarding cancer cells at the wedge filter angle 15˚ compared to the wedge filter angle 30˚ and 45˚, while for organs around the cancer the dose distribution is low at the wedge filter angle 45˚ compared to the wedge filter angle 15˚ and 30˚. The highest combined absorbent dose received by cancer cells is 0.74 Gy, which is in the combined direction of irradiation with wedge filter angles 15˚ and 15˚, while the lowest absorbed dose received by cancer cells is 0.53 Gy, ie in combined exposure direction with wedge filter angle 45˚ and 45˚. The absorbed dose around the cancer cell is still far from the threshold of less than 1.6 Gy, it can be said to be safe from the effects of radiotherapy, but this study is still imperfect because of the incorrect dosage distribution pattern of cancer cells.
2507928021C1M017006Financial Performance Analysis Before and After Merger
(Case Study at Woori Saudara Bank)
Skripsi ini berjudul “Analisis Kinerja Keuangan Sebelum dan Sesudah Merger (Studi Kasus di Bank Woori Saudara)”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja keuangan bank (CAR, LDR, ROE, EPS dan NPL) sebelum dan sesudah merger pada Woori Saudara Bank. Penelitian ini menggunakan pendekatan dan desain kuantitatif sebagai metode penelitian untuk menjawab rumusan masalah penelitian. Penelitian ini menggunakan data sekunder melalui laporan tahunan Bank Woori Saudara dari tahun 2010 hingga tahun 2018. Terdapat lima hipotesis yang diuji dari studi ini, yang mengasumsikan bahwa terdapat perbedaan pada CAR, LDR, ROE, EPS dan NPL dari Bank Woori Saudara sebelum dan sesudah merger.
Hasil pengujian hipotesis pada penelitian ini menunjukkan bahwa H1 ditolak (tidak ada perbedaan yang signifikan dalam CAR pada Bank Woori Saudara sebelum dan sesudah merger) setelah merger bank memiliki kesenjangan modal yang tinggi. H2 ditolak (tidak ada perbedaan yang signifikan dalam LDR pada Bank Woori Saudara sebelum dan sesudah merger) pertumbuhan pinjaman tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan dana pihak ketiga setelah merger. H3 diterima (ada perbedaan yang signifikan dalam ROE pada Bank Woori Saudara sebelum dan sesudah merger) kemampuan bank untuk mendapatkan laba bersih menjadi semakin menurun setelah aktivitas merger. H4 diterima (ada perbedaan yang signifikan dalam EPS pada Bank Woori Saudara sebelum dan sesudah merger) merger memberikan dampak yang baik dalam segi profitabiltas, terutama dalam EPS. Dengan demikian, nilai EPS bank meningkat setelah melakukan aktivitas merger. H5 ditolak (tidak ada perbedaan yang signifikan dalam NPL pada Bank Woori Saudara sebelum dan sesudah merger) manajemen kredit bank setelah aktivitas merger tidak ada perbedaan yang signifikan.
Implikasi dari kesimpulan di atas adalah bank harus mengambil beberapa strategi seperti menerbitkan right issue dan mengurangi pinjaman untuk menyeimbangkan nilai CAR. Bank harus menyeimbangkan dana pihak ketiga yang dikumpulkan oleh bank sehingga berbanding lurus dengan dana pinjaman untuk menekan nilai LDR. Untuk meningkatkan nilai ROE, strategi bank harus fokus pada kredit perumahan, pendapatan berbasis biaya, dan juga mengurangi biaya overhead. Nilai EPS Bank setelah merger meningkat secara signifikan. Untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan di tahun berikutnya, bank harus lebih agresif dalam kegiatan promosi. Nilai NPL Bank tidak meningkat secara signifikan, sehingga Bank Woori Saudara harus lebih berhati-hati dalam memilih debitur, terutama dalam menganalisis kualitas debitur di masa depan sebagai strategi bank.
The thesis is titled “Financial Performance Analysis Before and After Merger (Case Study at Woori Saudara Bank)”. This study aimed to analyze the financial performance (CAR, LDR, ROE, EPS, and NPL) of a bank before and after the merger at Woori Saudara bank as a case study. The study used the quantitative approach and design as a research method to answer the formulation of the research problem. This study used secondary data from the annual report of Woori Saudara Bank from 2010 to 2018. There are five hypotheses tested from this study, which assumes that there are differences in CAR, LDR, ROE, EPS, and NPL from Woori Saudara bank before and after the merger.
The results of hypothesis testing on this study show that, H1 is rejected (there is no significant difference in CAR of Woori Saudara Bank before and after the merger), after the merger the bank has a high capital gap. H2 is rejected (there is no significant difference in LDR of Woori Saudara Bank before and after the merger), the growth of loans is not directly proportional to the growth of third-party funds on post-merger. H3 is accepted (there is significant difference in ROE of Woori Saudara Bank before and after the merger) the bank’s ability to obtain net profit becomes increasingly decline after the merger activity. H4 is accepted (there is significant difference in EPS of Woori Saudara Bank before and after the merger) the merger brings a good impact in terms of profitability, especially in EPS. Thus, the bank’s EPS value increases after carried out the merger activity. H5 is rejected (there is no significant difference in NPL of Woori Saudara Bank before and after the merger) credit management after the merger activity with no significant changes.
The implication from conclusion above are the bank must take some strategy such as issuing right issues and reducing lending in order to balance CAR value. The bank must balance the third-party funds collected by the bank so that it is directly proportional to the lending fund in order to press LDR value. To increasing ROE value, bank’s strategy must focus on housing loans, fee-based income, and also reducing overhead. Bank’s EPS value after the merger significant increase. To maintain or even improve in the next year, bank should more aggressive in promotional activities. Bank’s NPL value did not improve significantly, so the Woori Saudara Bank must be more careful in choosing debtors, especially in analyzing the quality of debtors’ in the future as their strategy.
2508028027A1L014177Pengaruh Dosis Pemberian POC Limbah Kulit Pisang Kepok dan Azolla Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Caisim (Brassica juncea L.)Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui pengaruh dosis POC limbah kulit pisang kepok dan azolla terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman caisim; (2) Mengetahui pengaruh konsentrasi POC limbah kulit pisang kepok dan azolla terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman caisim; (3) Mengetahui interaksi dosis dan konsentrasi POC limbah kulit pisang kepok dan azolla terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman caisim. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial dengan 2 faktor perlakuan dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah dosis POC limbah kulit pisang kepok dan POC azolla, yaitu P0 (tanpa pupuk), P1 (dosis POC limbah kulit pisang kepok 75 ml/tanaman dengan POC azolla 75 ml/tanaman), P2 (dosis POC limbah kulit pisang kepok 100 ml/tanaman dengan POC azolla 50 ml/tanaman), P3 (dosis POC limbah kulit pisang kepok 150 ml/tanaman), Faktor kedua adalah konsentrasi POC limbah kulit pisang kepok dan POC azolla yaitu konsentrasi 10%, 20%, dan 30%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada faktor pertama yaitu dosis POC limbah kulit pisang kepok dan POC azolla yang berpengaruh terhadap variabel jumlah daun, luas daun, bobot tanaman segar, bobot tajuk segar, bobot akar segar dan hasil tanaman. Faktor kedua yaitu konsentrasi POC limbah kulit pisang kepok dan POC azolla yang berpengaruh terhadap variabel luas daun dan bobot tanaman kering. Interaksi dosis dan konsentrasi POC limbah kulit pisang kepok dan POC azolla tidak berpengaruh terhadap semua variabel pengamatan. This research aims to: (1) Determine the effect of POC dose of Kepok banana and azolla peel waste on caisim plant growth and yield; (2) Knowing the effect of POC concentrations of Kepok banana and azolla peel waste on the growth and yield of caisim plants; (3) Determine the interaction of dose and concentration on the growth and yield of caisim plants. The experimental design used was a factorial Complete Randomized Block Design (RCBD) with 2 treatment factors with 3 replications. The first factor is the POC dose of Kepok banana peel waste and azolla POC, namely P0 (without fertilizer), P1 (POC dose of 75 ml Kepok banana peel waste / plant with 75 ml azolla POC / plant), P2 (POC dose of Kepok banana peel waste 100 ml / plant with POC azolla 50 ml / plant), P3 (POC dose of 150 ml kepok banana peel waste / plant), the second factor is the concentration of POC of kepok banana peel waste and azolla POC ie 10%, 20%, and 30% concentration. The results showed that the first factor was the dose of POC Kepok banana peel waste and azolla POC which affected the variable number of leaves, leaf area, fresh plant weight, fresh crown weight, fresh root weight and plant yield. The second factor is the concentration of POC Kepok banana peel waste and azolla POC which affect the leaf area and dry plant weight variables. The interaction of dose and POC concentration of Kepok banana peel waste and azolla POC did not affect all observed variables.