Artikelilmiahs
Menampilkan 12.421-12.440 dari 49.535 item.
| # | Idartikelilmiah | NIM | Judul Artikel | Abstrak (Bhs. Indonesia) | Abtrak (Bhs. Inggris) | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 12421 | 5394 | C1C007110 | PENGARUH MOTIVASI INTRINSIK DAN EKSTRINSIK TERHADAP MINAT MAHASISWA AKUNTANSI MENJADI AKUNTAN PUBLIK | Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh motivasi intrinsik (nilai intrinsik pekerjaan, kebanggaan dan personalitas) dan motivasi ekstrinsik (penghargaan finansial, pelatihan profesional, pengakuan profesional, lingkungan kerja, nilai-nilai sosial dan pertimbangan pasar kerja) terhadap minat mahasiswa akuntansi menjadi akuntan publik. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey. Objek penelitian ini adalah minat mahasiswa Akuntansi Universitas Jenderal Soedirman yang memiliki ketertarikan menjadi akuntan publik. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Akuntansi Universitas Jenderal Soedirman, sedangkan penentuan jumlah sampelnya sebanyak 80 mahasiswa diambil secara purposive sampling menggunakan rumus Slovin dan teknik pengambilan sampel menggunakan proportionate stratified random sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner dan teknik analisis data menggunakan analsis deskriptif dan regresi linier berganda dengan menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam motivasi intrinsik terhadap minat mahasiswa akuntansi menjadi akuntan publik, nilai intrinsik pekerjaan dan personalitas berpengaruh signifikan terhadap minat mahasiswa akuntansi menjadi akuntan publik sedangkan kebanggaan tidak berpengaruh signifikan. Dalam motivasi ekstrinsik terhadap minat mahasiswa akuntansi menjadi akuntan publik, pelatihan profesional, pengakuan profesional dan nilai-nilai sosial berpengaruh signifikan terhadap minat mahasiswa akuntansi menjadi akuntan publik sedangkan penghargaan finansial, lingkungan kerja dan pertimbangan pasar kerja tidak berpengaruh signifikan. Dalam motivasi intrinsik dan ekstrinsik terhadap minat mahasiswa akuntansi menjadi akuntan publik, personalitas, pengakuan profesional dan nilai-nilai sosial berpengaruh signifikan terhadap minat mahasiswa akuntansi menjadi akuntan publik sedangkan nilai intrinsik pekerjaan, kebanggaan, pelatihan profesional, penghargaan finansial, lingkungan kerja dan pertimbangan pasar kerja tidak berpengaruh signifikan. | The objective of this research is to find out the influence of intrinsic motivation (work intrinsic value, pride and personality) and extrinsic motivation (financial reward, professional training, professional recognition, work environment, social values, and job market consideration) towards the interest of accounting student to become public accountant. The method used in this research is survey. The object of this research is the accounting student of Jenderal Sudirman University interested in becoming public accountant. The population of this research is the accounting students of Jenderal Sudirman University. 80 people as sample is determined by purposive sampling using Slovin formula and the sampling technique is proportionate stratified random sampling. Data was collected through quesionare and the analazing technique is descriptive analysis and multiple linear regression assisted by SPSS program. The result of this research showed that the intrinsic motivation of work intrinsic value and personality significantly influenced the interest of the accounting students to become public accountant while pride did not. The extrinsic motivations significantly influencing the accounting student interest to become public accountant are professional training, professional recognition and social values while financial reward, work environment and work market consideration did not. Intrinsic and extrinsic motivation which have significant influence to the interest of accounting student to become public accountant are personality, professional recognition, and social values, while work intrinsic value, pride, professional training, financial reward, work environment, and work market consideration did not. | |
| 12422 | 5132 | E1A009134 | Permohonan Penetapan Ayah Biologis dari Anak yang Dilahirkan di Luar Perkawinan yang Sah (Suatu studi Penetapan Nomor 47/Pdt.P/2012/PA.Tgrs) | Permohonan penetapan ayah biologis dari anak yang dilahirkan di luar perkawinan yang sah pada prinsipnya sudah memiliki pengaturan dalam hukum positif di Indonesia. Adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010, hubungan antara anak luar kawin dengan bapaknya adalah hubungan darah dalam arti biologis yang dikukuhkan berdasarkan proses hukum. Putusan Mahkamah Konstitusi membuka kemungkinan hukum bagi ditemukannya subyek hukum yang harus bertanggung jawab terhadap anak luar kawin untuk bertindak sebagai bapaknya melalui mekanisme hukum dengan menggunakan pembuktian berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir dan/atau hukum. Penetapan Pengadilan Agama Tigaraksa Nomor 47/Pdt.P/2012/PA.Tgrs, pemohon mengajukan permohonan penetapan ayah biologis dari anak yang dilahirkan di luar perkawinan yang sah, namun pada permohonan tersebut tidak dapat diterima oleh majelis hakim, sehingga penulis tertarik mengambil judul skripsi “Permohonan Penetapan Ayah Biologis dari Anak yang Dilahirkan di Luar Perkawinan yang Sah (Suatu studi Penetapan Nomor 47/Pdt.P/2012/PA.Tgrs)”. Tipe penelitian ini adalah yuridis normatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertimbangan hukum hakim yang menyatakan bahwa permohonan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaar) beserta akibat hukumnya. Pertimbangan hukum hakim yang menyatakan permohonan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaar) karena cacat formil dapat disimpulkan bahwa pertimbangan hukum hakim tidak tepat karena majelis hakim tidak menggali dan mempertimbangkan sumber hukum khususnya putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010. Akibat hukum permohonan tidak dapat diterima : a) Pemohon dapat mengajukan upaya hukum kasasi ke mahkamah Agung ; b) Status anak tetap merupakan anak luar kawin ; b) Hak mewaris dari ayah biologisnya tidak ada dengan tidak diakuinya anak tersebut. | The request of designation of biological father of a child born outside of a legal marriage in principle has been known in the positive law of Indonesia. Dealing with existence of the Constitutional Court’s decision No. 46/PUU-VIII/2010, the relationship between a child born outside a legal marriage with his father is a filiation relationship in the biological sense that strengthen based on legal process. Constitutional Court’s decision opens up the possibility for the discovery law of legal subject who should be responsible for a child born outside a legal marriage to act as his (biological) father through legal mechanism by using evidence based on knowledge and cutting-edge technology and/or by law. In Tigaraksa Religious Court’s decision No: 47/Pdt. P/2012/PA. Tgrs, the applicant submitted the request of designation of biological father of a child born outside of a legal marriage, however, the request can not be accepted by the panel of judges. Based on that description, the author is interested in doing research by taking a thesis tittle, “The Request of Designation of Biological Father of a Child Born Outside of a Legal Marriage (Judicial Review to Decision of Tigaraksa Religious Court No: 47/Pdt. P/2012/PA.Tgrs) The type of this legal research is normative. It aims to determine the legal reasoning of judges that stated that the request can not be accepted (niet onvankelijk verklaar) and its legal consequences. Legal considerations of judges who declared the request can’t be accepted is becaused of formal defect can be concluded that the consideration was incorrect due to judges did not dig and consider the law sources dealing with the Constitutional Court’s decision No. 46/PUU-VIII/2010. The legal consequences of the request that can’t be accepted are: a) the applicant may file an appeal, b) the status of the child is a child born outside of a legal marriage, c) there is no rights of heir of his father property due to non-recognition of the illegitimate child. | |
| 12423 | 5395 | B1J008187 | PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI Eucheuma cottonii YANG DIBUDIDAYA MENGGUNAKAN MODIFIKASI SISTEM JARING DENGAN BOBOT AWAL BERBEDA DI PERAIRAN KALIWLINGI BREBES | Eucheuma cottonii Doty merupakan rumput laut yang mempunyai nilai ekonomi tinggi karena mengandung karaginan. Peningkatan pertumbuhan dan produksi rumput laut dapat dilakukan dengan budidaya yang lebih efektif dan efisien disesuaikan dengan lahan budidaya. Modifikasi bobot awal dan sistem penanaman menggunakan jaring yang tepat akan menghasilkan produksi rumput laut yang maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan rumput laut yang ditanam dengan sistem budidaya dan bobot awal berbeda sehingga menghasilkan produksi rumput laut Eucheuma cottonii tertinggi di Perairan Kaliwlingi, Brebes. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah RAK dengan pola Split Plot, sebagai main plot adalah sistem penanaman, yaitu jaring rakit (A1), jaring tabung (A2), dan jaring tubuler (A3), sebagai sub plot adalah bobot awal, yaitu bobot awal 75 g (B1), 100 g (B2), 125 g (B3), dengan 3 kali ulangan. Parameter utama yaitu pertumbuhan dan produksi rumput laut Eucheuma cottonii. Parameter pendukungnya berupa temperatur, salinitas, dan pH. Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji F untuk mengetahui pengaruh faktor yang dicobakan dan dilanjutkan dengan uji BNT atau BNJ untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot awal 75 g menghasilkan pertumbuhan yang tertinggi dari semua modifikasi sistem jaring. Modifikasi sistem jaring tabung dengan bobot awal 75 g menghasilkan pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 12,200 g/hari dan produksi tertinggi yaitu sebesar 1650,38 g/m2. Kata kunci : Eucheuma cottonii, Bobot awal, Sistem Tanam, Perairan Kaliwlingi Brebes | Eucheuma Cottonii Doty is a seaweed that has a high economic value because it contains of carragenan. The growth and production of seaweed can be ddone by cultivating effectively and efficiently in accordance with the cultivation field. The modification of initial weight and the use of proper dragnet planting system are able to obtain seaweed production maximally. The purpose of this research were to find out the difference of the seaweed growth that was planted by using planting system and different initial weight in order to produce the maximum product of Eucheuma cottonii seaweed in Kaliwlingi waters, Brebes. This research used experimental method with Completely Block Design (CBD) by using Split Plot design. The main plot was planting system. They were tubular dragnet (A1), tubs dragnet (A2) and connected dragnet (A3). The sub plot were the initial weight of 75 g (B1), 100 g (B2), 125 g (B3) with three replicatime. The main parameters were the growth and the production of Eucheuma cottonii seaweed. The supporting parameters were temperature, salinity and ph. Datas were analyzed by using F-test to find out the effect of the factor that was tried out and were continued by using Least Significant Difference (LSD)-test and Honestly Significant Difference (HSD)-test to find out the difference of each treatment. The results showed that the initial weight of 75 g produced the highest growth in all dragnet system modifications. The modification of tube dragnet system of 75 g initial weight produced the highest growth of about 12,200 g/day and the highest production of about 1650,38 g/m2 . Key Words: Eucheuma cottonii, initial weight, planting system, Kaliwlingi Brebes waters. | |
| 12424 | 5396 | C1L008019 | The Influence of Competence on Auditor's Performance with IQ, EQ, and SQ as Moderating Variables (The Empirical Study on Regency/Municipal Inspectorate in East Priangan) | Penelitian ini berjudul “Pengaruh Kompetensi Terhadap Kinerja Auditor dengan IQ, EQ, dan SQ sebagai Variabel Moderasi (Studi Empiris pada Inspektorat Daerah/Kota se-Priangan Timur)”. Penelitian ini berdasarkan pada kasus auditor pemerintah yang berhubungan dengan kelemahan sistem pengendalian internal dan kepatuhan. Karena itu sangat penting untuk merivitalisasi peran dari auditor pemerintah. Salah satu faktor kunci sukses organisasi adalah kualitas sumber daya manusia atau auditor pemerintah yang diukur dari kinerjanya. Kinerja dipengaruhi oleh tiga faktor; faktor individu, faktor psikologi yang berkaitan dengan IQ, EQ, and SQ, dan faktor keorganisasian. Pada konteks auditor, faktor organisasi dapat dihubungkan dengan kompetensi auditor yang dapat mendukung kinerjanya. Sehingga, tujuan penelitian ini adalah untuk memeriksa pengaruh kompetensi terhadap kinerja auditor dengan IQ, EQ, and SQ sebagai variabel moderasi. Penelitian ini menilai semua variabel dengan menggunakan skala likert. Penelitian ini menggunakan auditor pemerintah yang terdaftar pada Inspektorat Daerah/Kota se-Priangan Timur diantaranya; Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Tasikmalaya. Dengan menggunakan total sampling, dari 57 auditor pemerintah, 56 digunakan sebagai sampel. Berdasarkan hasil analisis penelitian, kompetensi berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja auditor. Dari hasil analisis juga ditemukan bahwa IQ, EQ, dan SQ dapat memperkuat hubungan antara kompetensi dan kinerja auditor. Kata Kunci: kompetensi, kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual, kinerja auditor | The research entitled "The Influence of Competence on Auditor’s Performance with IQ, EQ, and SQ as Moderating Variables (The Empirical Study on Regency/Municipal Inspectorate in East Priangan)". This research is based on the case of government auditors related to the weaknesses of internal control systems and compliance. It is very important to revitalize the role of government auditors. One of the key success factors of the organization is quality of human resources or government auditors that is measured from its performance. The performance is affected by three factors; there are individual factors, psychological factors related to IQ, EQ, and SQ, and organizational factors. In auditor’s context, an organizational factor is able to relate with auditor’s competence that is able to support performance. Thus, the objective of this research is to examine the influence of competence on auditor’s performance with IQ, EQ, and SQ as moderating variables. This research measured all variables by using Likert Scale. This research uses government auditors that are listed on Regency/Municipal Inspectorate in East Priangan includes; Banjar Municipal, Ciamis Regency, Tasikmalaya Municipal, and Tasikmalaya Regency. Using total sampling criteria, from 57 government auditors, 56 are used as samples. Based on the research result analysis, competence has significant influence on auditor’s performance. It also found that IQ, EQ, and SQ are able to strengthen the relation between competence and auditor’s performance. Keyword: competence, intellectual quotient (IQ), emotional quotient (EQ, spiritual quotient (SQ), auditor’s performance | |
| 12425 | 5397 | G1F008056 | AKTIVITAS IMUNOMODULATOR FRAKSI N-HEKSAN DAUN LIDAH BUAYA (Aloe vera) MENGGUNAKAN METODE FAGOSITOSIS MAKROFAG | Jus Aloe vera segar telah terbukti memiliki aktivitas imunomodulator. Daun Aloe vera mengandung berbagai senyawa organik yang perlu diteliti aktivitas imunomodulatornya, salah satunya fraksi n-heksan daun Aloe vera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas imunomodulator fraksi n-heksan daun Aloe vera. Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorium. Serbuk simplisia daun Aloe vera dimaserasi menggunakan metanol 99%. Ekstrak cair yang diperoleh diekstraksi 3 kali menggunakan n-heksan. Fraksi n-heksan diuapkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 65o C dengan kecepatan 30 rpm hingga diperoleh ekstrak kental. Fraksi n-heksan 125, 250 dan 500 ppm diuji aktivitas dan kapasitas fagositosis makrofag secara in vitro dengan pembanding suspensi Phyllantus niruri 125 ppm dan blanko RPMI 1640. Data aktivitas dan kapasitas fagositosis makrofag dianalisa menggunakan Anova satu arah pada interval kepercayaan 90%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian fraksi n-heksan 125 dan 250 ppm mampu meningkatkan aktivitas dan kapasitas fagositosis meskipun tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik, sehingga belum dapat dikatakan memiliki aktivitas imunomodulator. | Abstract Aloe vera fresh juice had been proven to have immunomodulator activity. Aloe vera leaves contents various organics compound, so the study of immunomodulator activity include the of n-hexane fraction of Aloe vera leaves need to be done. The objective of this study is to know the presence of immunomodulator activity of n-hexane fraction of Aloe vera leaves. This study was a laboratory experimental research. Aloe vera leaves simplicia were macerated using methanol 99%. The liquid extract were extracted three times using n-hexane. N-hexane fraction was steamed up using rotary evaporator at 65o C/30 rpm, up to become thick extract. N-hexane fraction 125, 250 and 500 ppm’s macrophage phagocytosis activity and capacity were tested by in vitro assay with Phyllantus niruri suspension 125 ppm as positive control and RPMI 1640 as blanko. The result of macrophag phagocytosis activity and capacity were analyzed with Anova one-way with 90% confidence level. The result show that n-hexane fraction 125 ppm and 250 ppm addition increase macrophage phagocytosis activity and capacity eventough it doesn’t statistictly different, so can’t be said it has immunomodulator activity. | |
| 12426 | 5398 | C1C009059 | IMPLEMENTASI SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH (SPIP) PADA INSPEKTORAT KABUPATEN SE-EKS KARISIDENAN BANYUMAS | Penelitian ini merupakan studi kasus pada Inspektorat Kabupaten se- Eks Karisidenan Banyumas mengambil judul “Implementasi Sistem Pengendalian intern Pemerintah (SPIP) pada Inspektorat Kabupaten se Eks Karisidenan Banyumas” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh sumber daya, due professional care, koordinasi, dan situasi kondusif terhadap implementasi sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP). Pengambilan data dalam penelitian ini melalui kuisoner yang dibagikan kepada 61 auditor atau pengawas intern pemerintah pada Inspektorat Kabupaten se- Eks karisidenan banyumas yang selama dua tahun tidak mengalami perpindahan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sumber daya, due professional care, koordinasi, dan situasi kondusif berpengaruh terhadap implementasi sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP) Berdasarkan hasil tersebut, hendaknya Inspektorat meningkatkan efektivitas implementasi sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP) dengan cara memberikan pelatihan SPIP sehingga dapat memberikan pemahaman yang baik tentang peraturan-peraturan yang mengatur proses pelaksanaan SPIP termasuk prosedur-prosedur agar SPIP dapat dilakukan dengan optimal. Bagi pihak-pihak terkait, seperti pengawas intern atau pengendali intern SPIP, harus memiliki keahlian (kompeten) dan harus memiliki Sertifikat Keahlian yang diperlukan dalam implementasi SPIP, sebagaimana tercantum dalam PP Nomor 60 Tahun 2008. Selain itu, ketersediaan sumber dana yang memadai dan juga kecukupan sarana dan prasana juga sangat mempengaruhi pelaksanaan implementasi SPIP. Ketaatan terhadap peraturan, kesadaran, dan rasa tanggung jawab selama proses pelaksanaan sangat mempengaruhi implementasi SPIP. Selain itu juga adanya dukungan dan perhatian dari atasan serta pengawasan yang berkelanjutan akan mendukung keberhasilan implementasi SPIP. | This research is a case study on District Inspectorate over Banyumas Residency with the title "The Implementation of Government Internal Control System (SPIP) on District Inspectorate over Banyumas Residency". The purpose of this study is to determine the effect of resources, due professional care, coordination, and conducive situations to the implementation of the internal control system of government (SPIP). Data Collecting method in this study is using questionnaire that was distributed to 61 auditors or government internal supervisor at District Inspectorate over Banyumas Regency which is never been transferred to another place for two years. The results of this study indicate that the resources, due professional care, coordination, and conducive situations affects the government's implementation of the internal control system (SPIP) Based on these results, the Inspectorate shall improve the effectiveness of the government's implementation of the internal control system (SPIP) by providing SPIP training so that it can give a good understanding about the the rules that regulates SPIP implementation process including procedures SPIP so can be be done optimally. For related parties, such as internal supervisor or internal control SPIP, should be skilled (competent) and should have a Certificate of Expertise which is required in the implementation of SPIP, as stated in Government Regulation No. 60, 2008. In addition, the availability of adequate financial resources as well as the adequacy of facilities and infrastructures also greatly affect the implementation of the implementation of SPIP. Regulatory compliance, awareness, and a sense of responsibility during the implementation process greatly affect the implementation of SPIP. Moreover the support and attention from the superiors as well as sustainable monitoring will support the successful implementation of SPIP. | |
| 12427 | 5399 | P2BA11049 | EFEKTIVITAS INDUKSI REPRODUKSI Macrobrachium rosenbergii BETINA DENGAN KOMBINASI ABLASI UNILATERAL DAN SUPLEMENTASI VITAMIN E | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi optimum suplementasi vitamin E pada jumlah matang gonad, IKG, fekunditas telur dan kelangsungan hidup larva udang galah betina dan atau tanpa ablasi unilateral, serta menganalisis efektivitas induksi reproduksi udang galah betina ablasi unilateral dan diberi suplementasi vitamin E. Penelitian eksperimental ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial, dua faktor yaitu ablasi dan konsentrasi vitamin E. Kombinasi yang diteliti adalah sebanyak 8 perlakuan, yaitu kombinasi antara udang galah dan atau tanpa ablasi unilateral dengan suplementasi vitamin E empat konsentrasi 0, 200, 400, dan 600 IU. Variabel penelitian meliputi jumlah udang matang gonad, IKG, fekunditas telur, kelangsungan hidup larva umur 10 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsentrasi optimum vitamin E hanya diperoleh untuk variabel fekunditas telur dengan perlakuan ablasi unilateral dan konsentrasi vitamin E 200 IU sebesar 45.228 ± 3.867 butir. Konsentrasi optimum vitamin E untuk variabel selain fekunditas telur tidak diperoleh. Efek konsentrasi vitamin E yang diujicobakan masih linier hingga konsentrasi maksimum 600 IU. | This study aims to determine the optimum concentration of tocopherol supplement based on the number of mature gonads, GSI, eggs fecundity, and survival rate larvae; with or without the unilateral ablation of female M.rosenbergii. The other purpose is to analyze the effectiveness of the reproduction induction of the female prawns by the unilateral ablation which is supplemented with tocopherol. This experimental study employs a complete randomized design with factorial model; and the two factors are the ablation and the concentration of tocopherol. The combinations result in 8 treatments i.e. the combination of prawns with or without the unilateral ablation and the tocopherol supplement that produces four concentrations of 0, 200, 400, and 600 IU. The research variables include the number of mature gonads, GSI, eggs fecundity, 10st day larval survival rate. The results show that the optimum concentration is for the variable of eggs fecundity with the unilateral ablation treatment and the concentration of tocopherol 200 IU of 45,228 ± 3,867 grains. The optimum concentration of tocopherol for other variables than the eggs fecundity were not found. The effect of the tested tocopherol concentration is linear up to a maximum concentration of 600 IU. | |
| 12428 | 5411 | G1D009047 | PENGARUH TERAPI MUROTTAL TERHADAP BASAL METABOLIC RATE (BMR) PADA BAYI PREMATUR SEDANG DI RSUD BANYUMAS | Latar Belakang: Basal Metabolic Rate (BMR) adalah kebutuhan energi minimal yang diperlukan tubuh untuk menjalankan fungsi vitalnya. BMR merupakan parameter yang penting dalam metabolisme energi untuk mengetahui peningkatan atau penurunan asupan nutrisi yang diperlukan. Sehingga dengan diketahuinya nilai BMR diharapkan dapat membantu dalam menjaga stabilitas metabolisme bayi prematur sedang. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi murottal terhadap BMR bayi prematur sedang di RSUD Banyumas Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi experiment dengan rancangan non randomized pretest-posttest with control group design dan teknik pengambilan sampel consecutive sampling pada 16 responden. Terapi murottal menggunakan surat Yusuf ayat 1-56 dengan durasi 1x20 menit/hari dan volume 50 dB dengan jarak sebesar 30 cm dari telinga bayi dilakukan selama 6 hari dan BMR diukur sebelum perlakuan serta setelah 6 hari perlakuan, yaitu pada hari ke-7. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan peningkatan rerata BMR pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Berdasarkan hasil uji statistik independent t test diketahui BMR sebelum dan setelah perlakuan tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok, dengan nilai p=0,310 pada kelompok kontrol dan p=0,332 pada kelompok intervensi. Hasil uji statistik paired t test menunjukkan tidak adanya pengaruh terapi murottal pada kelompok kontrol karena nilai p=0,093. Pada kelompok intervensi ditemukan pengaruh terapi murottal dengan nilai p=0,005. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan BMR yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol, tidak terdapat pengaruh terapi murottal terhadap BMR pada kelompok kontrol, dan terdapat pengaruh yang signifikan terkait terapi murottal pada BMR kelompok intervensi. | Introduction: Basal Metabolic Rate (BMR) is the minimum energy requirement which is needed to perform body vital function. BMR is an important parameter in energy metabolism for knowing the increase or decrease intake of the necessary nutrients required to maintain body weight stability of moderate premature infant. Purpose: This research was aimed to know the effectiveness of murottal therapy on BMR of moderate premature infant in RSUD Banyumas. Method: Quasi experiment method with a non randomized pretest-posttest with control group design was used in this research. The data was taken by consecutive sampling method towards 16 moderately premature infants. The duration of murottal therapy was 20 minutes a day, used Yusuf Sura verse 1-56 and 50 dB in volum, 30 cm distance from infant’s ear. BMR was measured before and after 6 days treatment. Result: The increase of infant’s BMR mean in control group and intervention group was found. The result of independent t test showed BMR before and after treatment between two groups had no significant difference with value of p before treatment was p=0.310 and p=0.332 after treatment. Paired t test result showed that there's no difference in BMR control group with value of p=0.093. In group of intervention, the value of p=0.005, meaning there was a significant difference in respondence’s BMR obtained by murottal therapy. Conclusion: There was no significant difference in BMR between the two groups. Significant effects of murottal therapy on BMR of intervention group was found. | |
| 12429 | 5402 | G1F007085 | Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Hipoklorit Sebagai Zat Pemutih pada Pembalut Wanita yang Beredar di Pasar Wage Purwokerto dengan Metode Kolorimetri | Hipoklorit merupakan bahan pemutih yang biasa digunakan pada kertas. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan derajat keputihan, menghasilkan produk yang stabil, tidak mengalami perubahan warna, dan kehilangan kekuatan selama proses penyimpanan. Penggunaan hipoklorit yang merupakan turunan klorin dapat menghasilkan reaksi samping seperti dioksin. Dioksin merupakan zat yang dapat memicu kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar kandungan hipolorit pada pembalut wanita yang beredar di Pasar Wage Purwokerto. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimental laboratorium. Analilis kualitatif Hipoklorit menggunakan pereaksi KI 2% dalam suasana asam yang menghasilkan warna kuning. Analisis kuantitatif hipoklorit menggunakan kolorimetri dengan bantuan reagent rhodamin B. Kadar hipoklorit akan sebanding dengan pemudaran warna rodhamin B. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar hipoklorit dari masing masing sampel A, B, C, D, dan E adalah 1,895 ± 0,430 µg/g, 2,493 ± 0,581 µg/g, 1,099 ± 0,107 µg/g, 1,985 ± 1,015 µg/g, dan 1,351 ± 0,894 µg/g. | Hypochlorite is bleaching agent commonly used as a bleach in the paper. It has functions to increase the degree of whiteness, to produce stable product, unchanged color and loss strength during storage procces. hypochlorite can produce toxic compound such as dioxin. Dioxin is a substane can cause cancer. The purpose of this research to determine hypochlorite content on sanitary napkin distributed in the pasar wage purwokerto. This research was conducted by laboratory experimental methods. The quatitative analysis of hypochlorite used KI 2% produced of yellow color in acid condition. The Quantitative analysis of hypochlorite was done by colorimetric methods with rhodamin B as reagent. Hypochlorite content will be equals with discoloritation of rhodamin B. The samples results showed that hypochlorite concent of A, B, C, D and E are 1,895 µg/g ± 0,430 µg/g, 2,493 µg/g ± 0,581 µg/g, 1,009 µg/g ± 0,107 µg/g, 1,985 µg/g ± 1,015 µg/g, and 1,366 µg/g ± 0,786 µg/g. | |
| 12430 | 5419 | G1A009064 | PERBANDINGAN EFEKTIVITAS DAUN KEMANGI (Ocimum sanctum) DENGAN PIRANTEL PAMOAT TERHADAP INFEKSI SOIL TRANSMITTED HELMINTHS PADA MURID SDN 1 PLIKEN, BANYUMAS | Latar Belakang : Infeksi soil transmitted helminths (STH) masih banyak ditemukan di Indonesia. Prevalensi infeksi STH di Indonesia berkisar antara 10-85,9 %. Adanya penelitian tentang obat tradisional diharapkan dapat mendekati standar ideal suatu obat standar. Salah satu tanaman yang digunakan untuk obat tradisional adalah daun kemangi (Ocimum sanctum). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas antara daun kemangi dan pirantel pamoat dalam pengobatan infeksi STH. Metode : Subjek penelitian adalah murid-murid SDN 1 Pliken, Banyumas. Materi yang diamati adalah tinja sebanyak 137 sampel. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuasi eksperimental dengan consecutive sampling. Analisis univariat berupa tabel frekuensi, sedangkan analisis bivariat menggunakan chi-square dengan uji alternatifnya fisher. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan prevalensi STH sebesar 20,44 %. Jenis telur STH yang ditemukan pada subjek penelitian terdiri dari 90,48 % Ascaris lumbricoides dan 9,52 % Trichuris trichiura. Murid-murid yang terinfeksi STH dibagi menjadi dua kelompok secara acak. Kelompok pertama sebanyak 9 orang mendapatkan daun kemangi 2 mg/kgBB. Kelompok kedua sebanyak 10 orang mendapatkan pirantel pamoat 250 mg dosis tunggal. Angka penyembuhan STH pada kelompok pertama adalah 22,22 %, sedangkan kelompok kedua sebesar 90,00 %. Kesimpulan : Berdasarkan hasil analisis, terdapat perbedaan efektivitas antara daun kemangi dan pirantel pamoat terhadap infeksi STH (p=0,005). | Background : Soil transmitted helminths (STH) infections are commonly found in Indonesia. STH infection in Indonesia is quite high with 10-85,9 % as prevalence. Research of medicinal plants is expected to reach the ideal of standard drug. Leaves of Kemangi (Ocimum sanctum) was used as one of the medicinal plants. This study was aimed to know the effectiveness of Ocimum sanctum and pyrantel pamoate against STH infection. Methods : The materials were 137 fecal sampels of Pliken 1 Elementary School, Banyumas. The method of this study was quasi experimental with consequtive sampling. Univariate analysis was using table of frequency and bivariate analysis was using chi square with fisher test as alternative. Results : Prevalence of STH infection was 20,44 %. STH eggs were found in research subject consist of 90,48 % Ascaris lumbricoides and 9,52 % Trichuris trichiura. Children who be infected STH divided into 2 groups. Group I (n=9) was treated with Ocimum sanctum 2 mg/kgbw and group II (n=10) was treated with 250 mg pyrantel pamoate for day single dose. STH cure rate in group I was 22,22 % and 90 % in group II. Conclusion : There is difference in effectiveness between Ocimum sanctum and pyrantel pamoate against STH infection (p=0,005). | |
| 12431 | 5420 | E1E008027 | PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN MENGAKIBATKAN LUKA BERAT (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Nomor : 13/Pid.B/2011/PN.Pwt) | ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Pembuktian Tindak Pidana Penganiayaan Mengakibatkan Luka Berat (Tinjauan Yuridis Terhadap Putusan Nomor : 13/Pid.B/2011/PN.Pwt). Dan untuk mengetahui implikasi hukum Visum et Repertum sebagai alat pembuktian dalam tindak pidana penganiayaan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara melakukan studi pustaka dan studi dokumentasi serta menggunakan metode pendekatan yuridis normatif. Lokasi penelitian adalah di Kantor Pengadilan Negeri Purwokerto. Hasil penelitian yang dilakukan memberikan gambaran bahwa fungsi alat bukti surat dalam bentuk visum et repertum dalam perkara Nomor 13/Pid.B/2011/PN.Pwt. adalah untuk memenuhi batas minimum pembuktian, memenuhi keyakinan hakim, dan pada akhirnya berfungsi untuk menemukan suatu kebenaran materiil dala perkara tersebut. Di samping itu penulis juga melakukan penelaahan tentang implikiasi hukum visum et repertum dalam pembuktian tindak pidana penganiayaan dalam perkara Nomor 13/Pid.B/2011/PN.Pwt. adalah menjadikan atau menyebabkan hakim mejadi yakin bahwa luka yang diderita oleh korban adalah akibat kekerasan yang dilakukan oleh terdakwa, bahwa sebab-sebab luka dan sakit yang dederita korban adalah karena perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa kepada korban. | ABSTRACT The purpose of this study was to find proof Reaction Cuts Result in Criminal Victimization Weight (Juridical Review Verdict against ID: 13/Pid.B/2011/PN.Pwt). And to know the legal implications vise et Repertum as a proof of the criminal acts of persecution. Research methods used in this study is a way to study library and documentation studies and normative juridical approach using the method. Research location is in the Office of the District Court Purwokerto. The results of research done give evidence that function in the form of a letter in the vise et repertum 13/Pid.B/2011/PN.Pwt numbers. is to meet the minimum threshold of proof, meet the judges confidence, and ultimately work to find the truth in the proper material matter. In addition the author also undertook a review of the law implikiasi vise et repertum of proof in the criminal act of persecution 13/Pid.B/2011/PN.Pwt numbers. is make or cause to judge Otis confident that the injuries sustained by the victim is a result of violence committed by the defendant, that causes sores and pain dederita sacrifice is for the acts committed by the defendant to the victim. | |
| 12432 | 5403 | G1D009030 | Gambaran Lima Tugas Keluarga Dalam Merawat Anggota Keluarga Yang Mengalami Stroke Tahap Rehabilitasi Di Kabupaten Brebes Bagian Utara | GAMBARAN LIMA TUGAS KELUARGA DALAM MERAWAT ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI STROKE TAHAP REHABILITASI DI KABUPATEN BREBES BAGIAN UTARA Puti Kireina Satiti1, Arif Setyo Upoyo2, Arikh Ratna Purwadi3 ABSTRAK Latar Belakang: Stroke tahap rehabilitasi adalah kondisi stroke dalam tahap pemulihan dimana penderita stroke harus mentaati program rehabilitasi yang telah ditentukan. Program pemulihan tersebut bertujuan untuk mengoptimalkan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional pasien stroke. Ada hubungan yang kuat antara keluarga dengan status kesehatan anggotanya. Oleh karena itu, peranan anggota keluarga dalam melaksanakan lima tugas keluarga sangat peting dalam pemulihan kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran lima tugas keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mengalami stroke tahap rehabilitasi di Kabupaten Brebes bagian utara. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan dianalisis dengan menggunakan model analisis interaktif Milles dan Hubberman. Hasil Penelitian : Hasil penelitian didapatkan bahwa keluarga mengenali masalah stroke, melakukan musyawarah dalam mengambil keputusan, merawat pasien stroke dengan cara melatih kemampuan motorik, melakukan terapi non farmakologis, mengatur menu makanan, dan membantu dalam keterbatasan eliminasi, memodifikasi lingkungan dengan membuatkan tongkat, membuat tempat eliminasi, dan memodifikasi ember bekas untuk melatih kemampuan motorik serta memanfaatkan rumah sakit, dokter umum, dan pengobatan alternatif untuk mencari kesembuhan. Keputusan yang diambil keluarga dipengaruhi oleh pengalaman penderita stroke sebelumnya, kebiasaan orang setempat dan keinginan cepat sembuh. Keluarga dalam memberikan perawatan menemukan hambatan seperti keterbatasan tenaga, kejenuhan, dan ketidakpatuhan pasien itu sendiri. Dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan pun keluarga mempunyai hambatan yaitu jarak ke rumah sakit jauh dan keterbatasan ekonomi. Keluarga memiliki harapan terhadap pelayanan fasilitas kesehatan seperti pemberian informasi yang jelas oleh pihak rumah sakit dan tenaga kesehatan agar lebih peduli kepada pasien dan keluarga. Kesimpulan : Simpulan yang didapatkan adalah keluarga sudah menjalankan dan menerapkan lima tugas keluarga dalam pemeliharaan kesehatan keluarga namun masih terdapat hambatan dalam merawat dan memanfaatkan fasilitas kesehatan. Kata kunci : stroke tahap rehabilitasi, lima tugas keluarga | OVERVIEW OF A FIVE FAMILY TASKS IN CARRYING THEIR FAMILY MEMBERS WITH REHABILITATIVE STROKE IN NORTH OF BREBES REGENCY Puti Kireina Satiti1, Arif Setyo Upoyo2, Arikh Ratna Purwadi3 ABSTRACT Background : Rehabilitative stroke is a condition of recovery phase which a stroke patient must be obey the rehabilitation program was decided. The rehabilitation programs have a purpose to optimize the physical capacities and functional abilities of stroke patient. There is strong correlation between the family and the health status of its member. Therefore, the role of family members in carrying out the family of five tasks is very important in health recovery. Objective : The purpose of this study was to describe a five family tasks in carrying their family members with rehabilitative stroke in north of Brebes regency. Methods : This study used a qualitative method with a phenomenological interactive model Milles and Hubberman. The Result : The result showed that families recognize the problem of stroke; discuss in making decision, care a stroke patient with exercise motoric skills, consume a traditional medicine, doing a traditional therapy, set the nutrition of food and assist in the elimination limitation; modify their environment such as make a stick, make the elimination container, and modify a second pail for exercise motoric skills; and utilize a hospital, a doctor, and an alternative medicine to find a cure. Decision influenced by previous experiences of stroke patients, habits of the local people and motivation to recover. Families have obstacles in caring such as limited power, satisfied, and patient not disciplinary itself. In the use of health facilities, families have obstacles such as distance to hospital is too far and economic limitation. Families have expectations for health care facilities such as give information clearly by hospitals and health professional to better caring for patients and families. Summary : The conclusion are families have done and implemented a five family tasks in family health care but there are still obstacles to care and use health facilities. Keywords: Rehabilitative stroke, a five family tasks. | |
| 12433 | 5404 | C1A006050 | FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN PETANI KENTANG DI DESA DIENG, KECAMATAN KEJAJAR, KABUPATEN WONOSOBO | Penelitian ini mengambil judul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Kentang di Desa Dieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor luas lahan, benih atau bibit, pupuk kandang dan tenaga kerja secara simultan dan parsial terhadap pendapatan petani kentang di Desa Dieng dan bagaimana pengaruh B/C terhadap usaha tani kentang di Desa Dieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Dalam metode penelitian, menggunakan metode survei dengan jumlah sample 90 petani. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner atau angket yang sudah disiapkan. Model yang digunakan dalam penelitian ini, model Cobb-Douglas. Model ini digunakan untuk menghubungkan antara input dengan output dalam proses produksi dan untuk mengetahui tingkat elastisitas suatu faktor produksi. Pengolahan data menggunakan program Eviews. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa koefisien regresi variabel luas lahan (X1) sebesar 0,307, biaya bibit (X2) sebesar 0,163, biaya pupuk kandang (X3) sebesar 0,122, dan biaya tenaga kerja (X4) sebesar 0,021. Secara uji simultan (uji F) sebesar 159.488 sedangkan secara uji parsial (uji t) X1 = 5.256, X2 = 2.696, X3 = 2.344, X4 = 0.629. Semakin luas lahan, biaya bibit, pupuk kandang dan tenaga kerja, maka akan sangat mempengaruhi naik turunnya jumlah pendapatan yang akan diperoleh oleh petani pada tiap musim panen. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pendapatan petani kentang adalah faktor luas lahan, faktor biaya bibit dan faktor biaya pupuk kandang. Dari ketiga variabel yang berpengaruh, luas lahan merupakan variabel yang paling signifikan. Sedangkan faktor tenaga kerja dalam proses tanam sampai panen, kurang berpengaruh terhadap pendapatan sebab penggunaan tenaga kerja sudah berlebihan. Rata-rata produksi kentang 16,46 ton per hektar. Sedangkan rata-rata penggunaan bibit per sekali tanam sebanyak 426,266 kg. Pendapatan rata-rata petani kentang per tanam per musim adalah Rp.74.513.607 dengan total biaya per Ha Rp. 56.586.033, sehingga keuntungan diperoleh Rp. 17.927.574 per Ha, sedangkan untuk rata–rata nilai B/C adalah 1,416 per Ha. Saran dari penelitian ini pemerintah daerah Kabupaten Wonosobo terutama Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan agar lebih aktif dalam memberikan penyuluhan kepada para petani kentang dalam rangka meningkatkan produksi. Petani kentang perlu meningkatkan kemampuan, produktivitas dan daya saing. Oleh karena itu bila para petani ini dapat meningkatkan hasil produksinya, maka akan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bagi keluarga. Sebagaimana koefisien determinasi sebesar 0,882 yang berarti ada sekitar 11,8 persen produksi kentang di Kabupaten Wonosobo dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini. | This study took the title "Factors Affecting Farmers' Income Potatoes in Dieng Village, District Kejajar, Wonosobo regency". The purpose of this study to determine the influence of the factors of land, seeds or seedlings, manure and labor simultaneously and partially on income Dieng potato farmers in the village and how the influence of B / C on potato farming in the village of Dieng, Kejajar District, the District Wonosobo. In research methods, using survey methods with a sample number of 90 farmers. Data were collected by questionnaire interviews or questionnaires that had been prepared. The model used in this study, Cobb-Douglas models. This model is used to connect the input to the output in the production process and to determine the level of elasticity of a factor of production. Processing data using Eviews program. These results indicate that the regression coefficient of land area (X1) of 0.307, the seedlings (X2) of 0.163, manure costs (X3) of 0.122, and the cost of labor (X4) of 0.021. In simultaneous test (F test) was 159 488, while the partial test (t test) X1 = 5256, X2 = 2.696, X3 = 2,344, X4 = 0.629. The more area of land, cost of seeds, manure and labor, it will greatly affect the rise and fall of the amount of revenue to be earned by farmers at each harvest season. The factors that influence farmers' income is a factor potato land, seed cost factors and cost factors manure. Of the three variables that influence, the land area is the most significant variable. While the labor factor in the process of planting to harvest, less effect on earnings because of excessive use of labor. The average production of 16.46 tons of potatoes per hectare. While the average use of seeds per plant as many as 426.266 kg once. Average income per farmer planting potatoes per season is Rp.74.513.607 the total cost per Ha Rp. 56,586,033, so that the profits earned Rp. 17,927,574 per ha, while the average value of B / C was 1,416 per Ha. Suggestions from this study Wonosobo regency government especially the Department of Agriculture and Foodstuffs to be more active in providing extension services to farmers in order to increase the production of potatoes. Potato farmers need to increase the capacity, productivity and competitiveness. Therefore, if these farmers can improve their products, it will be able to increase the income and welfare of the family. As the coefficient of determination of 0.882, which means there are about 11.8 percent of the production of potatoes in Wonosobo regency influenced by other variables not included in the research model. | |
| 12434 | 5405 | B1J008113 | UJI ANTAGONISTIK JAMUR ENDOFIT TANAMAN MANGGIS (Garcinia mangostana L.) TERHADAP Helminthosporium sp. PENYEBAB PENYAKIT BERCAK DAUN | Kendala dalam budidaya manggis yaitu serangan organisme pengganggu tanaman, salah satunya patogen Helminthosporium sp. penyebab penyakit bercak daun. Jamur endofit banyak menghasilkan senyawa bioaktif yang digunakan untuk meningkatkan ketahanan inang dari serangan patogen karena mampu menghasilkan mikotoksin, enzim serta antibiotik. Penelitian dilakukan untuk mengetahui jamur endofit yang terdapat dalam jaringan tanaman manggis (Garcinia mangostana L.) serta uji antagonistiknya terhadap patogen Helminthosporium sp. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap, pengujian dilakukan untuk mengetahui aktivitas senyawa volatil dan uji kultur ganda antara isolat jamur endofit terhadap Helminthosporium sp. Variabel yang digunakan yaitu variabel bebas dan variabel tergantung. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jamur endofit yang ada pada jaringan tanaman manggis, sedangkan variabel tergantungnya kemampuan antagonistik jamur endofit pada jaringan tanaman manggis terhadap Helminthosporium sp. Parameter yang diamati pada uji aktivitas antibiosis senyawa volatil: diameter koloni Helminthosporium sp. yang ditangkupkan dengan jamur endofit, pada uji kultur ganda: jari-jari koloni Helminthosporium sp. yang menjauhi dan mendekati koloni jamur endofit, sedangkan parameter pendukungnya berupa kecepatan pertumbuhan miselium jamur endofit, pola sporulasi jamur endofit dan pigmentasi koloni jamur endofit. Data dianalisis menggunakan uji F pada tingkat kesalahan 5% dan 1%, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada tingkat kesalahan 5% dan 1%. Isolasi jamur endofit dari jaringan tanaman manggis mendapatkan 13 isolat meliputi 11 isolat yang sudah teridentifikasi, yaitu Phoma sp., Acremonium sp., 2 isolat Penicillium sp., Geotrichum sp., Pestalotiopsis sp., Botrysphaeria sp., Colletotrichum sp., Chrysosporium sp., Aspergillus sp. dan Blastomyces sp. serta 2 isolat yang belum diketahui. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat jamur endofit yang diisolasi dari jaringan tanaman manggis memiliki kemampuan antagonistik terhadap Helminthosporium sp. Isolat kedua dari jaringan akar (Aspergillus sp.) mempunyai kemampuan antagonistik tertinggi. Kata kunci: Garcinia mangostana, Helminthosporium sp., jamur endofit, penyakit bercak daun. | Helminthosporium sp. is one of the pathogens in plants which cause a leaf spot desease in mangosteen. Endophyte fungi some bioactive component i.e., micotoxin, enzyme, and antibiotics which increase the resistence of host cell from the pathogen. The research was carried out to investigate the endophyte fungi in mangosteen plant tissue (Garcinia mangostana L.) and antagonistic test against Helminthosporium sp. pathogen. This study used Completelly Randomize Design (CRD) with dependent variable and independent variable to determine volatil components and double culture test between endophyte fungi isolate with Helminthosporium sp. The independent variable of this research was the endophyte fungi in mangosteen plant tissue, while the dependent variable was the potential antagonistic of the endophyte fungi in mangosteen plant tissue against Helminthosporium sp. The main parameters observed by volatile compounds antibiosis activity assay: colony diameter Helminthosporium sp. paired with endophytic fungi, dual culture test: colony radius Helminthosporium sp. away from and close to the colony of endophyte fungi, while the supporting parameters were speed of endophytic fungi mycelium growth, sporulation patterns of endophytic fungi and endophytic colony pigmentation. Data obtained from the observations were analyzed by F test at of 5% and 1% level, and then continued with Honestly Significant Difference test (HSD) with 5% and 1% level. Endophyte fungal isolation from mangosteen plant tissue resultsed 11 isolates which have identified Phoma sp., Acremonium sp., 2 isolates of Penicillium sp., Geotrichum sp., Pestalotiopsis sp., Botryosphaeria sp., Colletotrichum sp., Chrysosporium sp., Aspergillus sp. and Blastomyces sp., and 2 isolates have not been identified. The results indicated that the endophyte fungal isolate of mangosteen tissue had antagonistic potency against Helmintosporium sp. The highest antagonist belonged to 2nd isolate of root tissue (Aspergillus sp.). Key words: Garcinia mangostana, Helminthosporium sp., endophytic fungi, leaf spot desease. | |
| 12435 | 5406 | D1D006007 | ANALISIS POTENSI PETERNAK DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI USAHA KAMBING LOKAL DI KABUPATEN BANYUMAS | Penelitian dilaksanakan mulai Maret 2012 sampai dengan Desember 2012 di Kecamatan Banyumas, Kalibagor, Patikraja dan Pekuncen Kabupaten Banyumas. Tujuan penelitian adalah (1) Mengetahui potensi peternak untuk pengembangan pendapatan usaha kambing lokal, (2) Mengetahui hubungan potensi peternak dengan pendapatan usaha kambing lokal, (3) Mengetahui perbedaan potensi peternak antar kecamatan di Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah survey. Responden sebanyak 422 orang diambil secara acak (stratified random sampling) dari total populasi peternak yang ada di 4 kecamatan. Variabel yang diamati adalah potensi peternak sebagai variabel bebas meliputi potensi dasar peternak, penyediaan input produksi, tenaga kerja dan penguasaan teknologi. Sebagai variabel terikat yaitu pendapatan peternak di Kabupaten Banyumas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi peternak di Kabupaten Banyumas tergolong sedang, hal tersebut ditunjukkan dengan kemampuan peternak yang cukup tinggi untuk bekerja dalam mewujudkan tujuan usaha. Pendapatan peternak kambing lokal di Kabupaten Banyumas rata-rata Rp 3.337.607,25 per tahun. Hasil analisis korelasi rank spearman menunjukkan adanya hubungan yang nyata (keeratan hubungan 0,367) antara variabel potensi peternak dengan pendapatan peternak kambing lokal di Kabupaten Banyumas. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa terdapat perbedaan variabel potensi peternak antar kecamatan di Kabupaten Banyumas. | The research was conducted on March until December 2012 in Banyumas, Kalibagor, Patikraja and Pekuncen sub districts. The objectives of this research were: (1) to know farmers potency for develop income of local goat business, (2) to know relationship of farmers potency with income of local goat business, (3) to know difference of farmers potency among sub districts in Banyumas Regency. A survey method was used in this research. Respondents with total of 422 were taken using stratified random sampling from total farmers in 4 sub districts. Observed variables were farmers potency as independent variable that consist of farmers basic potency, production input potency, labour potency and technology potency. Furthermore, income were taken as dependent variable. The results showed that farmers potency in Banyumas Regency was categorized as moderate. It was shown by high capability of farmers to work in reliazing the goal of business. The average income of local goat farmers in Banyumas Regency was Rp 3,337,607.25 / year. Rank spearman correlation analysis showed that there was significant correlation (correlation coefficient was 0.367) between farmers potency and income of local goat farming in Banyumas regency. Variance analysis showed that there was difference farmers potency among sub districts in Banyumas Regency. | |
| 12436 | 5407 | J1B005014 | ANALISIS BIOMASA KLEKAP PASCA PEMELIHARAAN SELAMA 30 HARI DENGAN PUPUK BERBEDA PADA SKALA LABORATORIUM | Penelitian ini berjudul “Analisis biomasa klekap pasca pemeliharaan selama 30 hari dengan pupuk berbeda pada skala laboratorium”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk terhadap biomasa klekap dan mengetahui jenis pupuk yang baik untuk biomasa terbaik. Metode penelitian digunakan adalah eksperimental berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari A1 (tanpa pemberian pupuk), A2 (pemberian pupuk kotoran ayam), A3 (pemberian pupuk kotoran kambing), dan A4 (serasah mangrove). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak empat kali dilakukan selama 4 minggu. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata terhadap biomasa klekap. Biomasa pada masing-masing perlakuan kontrol, pupuk kompos ayam, kambing dan serasah mangrove berturut-turut adalah 2,06±0,46 g, 4,92±0,22 g, 4,96±0,37 g, dan A4: 4,92±0,37 g. Biomasa klekap terbaik terdapat pada pemberian pupuk kompos kotoran kambing sebesar 4,96±0,37 g. | A study entitled "Analysis of klekap biomass after 30 days culture with different fertilizers in the laboratory scale", was aimed to determine the effect of fertilizers on the klekap biomass and to know type of the best fertilizer for klekap growth. Experimental method was used with completely randomized design (CRD) to examine 4 treatments, i.e. A1 (without fertilizer), A2 (chicken compost fertilizer), A3 (cgoat compost fertilizer), and A4 (mangrove litter) in quadruplicate. The culture was conducted for 4 weeks. The results showed that there was no different to klekap biomass. Klekap biomass in each of the control treatment, chicken compost fertilizer, goat compost fertilizer, and mangrove litter was 2.06±0,46 g; 4.92±0.22 g, 0.37±4.96 g, and A4: 00.37±4.92 g, respectively. The best klekap biomass was found in goat compost fertilizer treatment (00.37±4.96 g). | |
| 12437 | 5408 | P2BA11021 | Analisis Stok Karbon Hutan Mangrove Pada Berbagai Tingkat Kerusakan di Segara Anakan Cilacap | Hutan mangrove merupakan tipe vegetasi khas, terdapat di daerah pantai tropis dan subtropis yang tumbuh subur di daerah pantai yang landai di dekat muara sungai dan pantai yang terlindung dari hempasan gelombang. Segara Anakan adalah salah satu kawasan hutan mangrove yang terletak pada koordinat 07º34’ - 07º47’ LS dan 108º46’- 109º03’ BT. Serangkaian aktivitas manusia di kawasan hutan mangrove Segara Anakan menyebabkan kawasan ini mengalami kerusakan, hal tersebut berpengaruh terhadap fungsi ekologis dan biologis serta fungsi hutan mangrove sebagai penyimpan karbon. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui tingkat kerusakan hutan mangrove di Segara Anakan Cilacap; mengetahui distribusi spasial potensi stok karbon hutan mangrove di Segara Anakan Cilacap dan mengetahui korelasi jumlah stok karbon dengan tingkat kerusakan di Segara Anakan Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menggunakan teknik purposive random sampling yaitu menentukan lokasi sampling berdasarkan pada tingkat kerusakan. Analisis kerusakan menggunakan metode penilaian teristis (survey lapangan) yang selanjutnya didistribusi spasial menggunakan surfer 9.0 dan Arcview GIS 3.2. Analisis biomassa dan jumlah stok karbon menggunakan metode deskriptif, korelasi tingkat kerusakan, dan jumlah stok karbon menggunakan analisis korelasi Pearson (Software SPSS vs. 19). Hasil yang diperoleh adalah hutan mangrove Segara Anakan Cilacap saat ini terbagi menjadi area dengan kategori tidak rusak (7 stasiun), rusak (3 stasiun) dan rusak berat (5 stasiun). Jumlah biomassa dan stok karbon di area yang tidak mengalami kerusakan (57,67 ton/ha dan 26,50 ton/ha), area yang rusak (23,40 ton/ha dan 10,74 ton/ha, dan area yang rusak berat (9,49 ton/ha dan 4,37 ton/ha). Kerusakan hutan mangrove berpengaruh terhadap jumlah biomassa dan stok karbon di Segara Anakan. | grove is a typical vegetation type, found in tropical and subtropical beach area which thrives at a sloping beach area near the mouth of the river and the beach protected from the waves. Segara anakan is one of mangroves region which located at 108 º 46'-109 º 03 'E and 07 º 34' - 07 º 47 'South Latitude. Human activities series in Segara anakan mangrove lead the damage of this region, it effects of the ecological and biological also mangrove function as carbon storage. The aimed of this research are to analyze the damage level of mangrove in Segara anakan, Cilacap; know the spatial distribution of mangrove damage level in Segara anakan; know the spatial distribution of carbon stocks in Segara anakan, and know the number corelation of carbon stocks with damage level in Segara anakan Cilacap. This research used survey method with purposive random sampling that determine the sampling location based on the damage level. Damage analysis used assessment teristis method (field survey) subsequently spasial distributed used surfer 9.0 and ArcView GIS 3.2. Biomass and the amount of carbon stock analysis used descriptive methods, damage level correlation and the amount of carbon stock used Pearson correlation analysis (SPSS software vs. 19). The result is Segara anakan mangrove, currently Cilacap is divided into not damage, damaged and heavily damaged categories. The amount of biomass and carbon stocks in not damaged area (57,67 tons/ha and 26,50 tons/ha); damaged area (23,40 tons/ha and 10,74 tons/ha, and the heavily damaged area (9,49 tons/ha and 4,37 tons/ha). The destruction of mangrove is affect the amount of biomass and carbon stocks in Segara anakan Cilacap. | |
| 12438 | 5409 | P2BA11030 | HUBUNGAN EDGE EFFECTS DENGAN KERAGAMAN KUPU-KUPU PEMAKAN BUAH BUSUK DI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI SPTN WILAYAH 1 KUNINGAN | Kasus fragmentasi banyak terjadi pada daerah penyangga hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang disebabkan oleh aktivitas antropogenik. Hal ini menimbulkan efek negatif, karena dapat meningkatkan resiko kepunahan lokal suatu populasi dan edge effects. Edge effects merupakan dampak yang ditimbulkan karena adanya perbedaan kondisi lingkungan diantara dua habitat yang terfragmentasi dan berpengaruh terhadap satwa yang berada di dalamnya. Serangga seperti kupu-kupu dapat dijadikan bioindikator karena menghasilkan respon yang spesifik terhadap tingkat kerusakan hutan. Kupu-kupu dapat dibedakan berdasarkan sumber pakannya menjadi kupu-kupu pemakan sari bunga dan kupu-kupu pemakan buah busuk. Kupu-kupu yang akan dijadikan sebagai objek dalam penelitian ini adalah kupu-kupu pemakan buah busuk, karena kupu-kupu ini sangat peka terhadap perubahan lingkungan, mudah diamati, dan mudah untuk disampling. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai pengaruh edge effects terhadap keragaman kupu-kupu pemakan buah busuk, mengetahui pola hubungan serta korelasi keterkaitan antara edge effects dengan keragaman kupu-kupu pemakan buah busuk di kawasan TNGC SPTN Wilayah 1 Kuningan, Jawa Barat. Pengambilan kupu-kupu dilakukan menggunakan bait trap dengan umpan pisang busuk. Selain itu, dilakukan pengukuran terhadap beberapa parameter lingkungan, antara lain intensitas cahaya, temperatur udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin. Analisis untuk mengetahui keanekaragaman jenis digunakan rumus Indeks Shannon-Wiener, sedangkan untuk mengetahui similaritas jenis digunakan rumus Indeks Morisita-Horn. Analisis regresi korelasi untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (intensitas cahaya, temperatur udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin) terhadap nilai variabel terikat (jumlah individu spesies dan banyak spesies kupu-kupu pemakan buah busuk) dan untuk mengetahui bentuk hubungan antara variabel yang diamati dengan faktor yang dicoba. Penelitian dilakukan bulan Desember 2012 sampai Januari 2013. Lokasi penelitian berada di perbatasan kawasan rehabilitasi, Lempong Bitung, Dusun Mulya Asih, Desa Puncak, Kec. Cigugur, Kab. Kuningan, Jawa Barat, sepanjang 200 m tegak lurus dengan garis perbatasan hutan, yaitu pada jarak 0-50 m, 50-100 m, 100-150 m, dan 150-200 m. Hasil menunjukkan bahwa jenis kupu-kupu pemakan buah busuk yang ditemukan (11 jenis) termasuk ke dalam familia Nymphalidae. Keragaman kupu-kupu pemakan buah busuk pada plot 4 (lokasi 150-200 m) merupakan keragaman tertinggi. Namun hasil penelitian menginterpretasikan bahwa distribusi spesies hampir merata di setiap plot yang diamati, dengan nilai indeks di atas 80%. Hasil analisis regresi korelasi antara beberapa parameter lingkungan terhadap jumlah individu spesies kupu-kupu pemakan buah busuk menunjukkan nilai yang signifikan (p < 0,20). Berdasarkan keeratan hubungan (R2) antara intensitas cahaya, temperatur udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin dengan jumlah individu kupu-kupu pemakan buah busuk, maka diketahui kontribusi faktor lingkungan tersebut berturut-turut sebesar 0,9%, 2,3%, 1,3%, dan 1,3%. Adapun hasil analisis regresi korelasi antara parameter lingkungan terhadap banyak spesies dari kupu-kupu pemakan buah busuk menunjukkan nilai yang tidak signifikan. Pola hubungan antara pengaruh intensitas cahaya, temperatur udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin terhadap jumlah individu kupu-kupu pemakan buah busuk berturut-turut adalah y = (1,962 x 10-8)x2 + x + 0,908, y = 0,183x2 – 8,446x + 98,368, y = x2 + 0,091x – 0,230, dan y = 12,507x3 –17,485x2 + 6,908x + 1,080. Edge effects berpengaruh nyata terhadap keragaman kupu-kupu pemakan buah busuk di kawasan TNGC SPTN Wilayah 1 Kuningan, Jawa Barat. Pola hubungan pengaruh intensitas cahaya, temperatur udara, kelembaban udara terhadap jumlah individu kupu-kupu pemakan buah busuk memberikan dinamika jumlah spesies dengan pola kuadratik, sedangkan kecepatan angin terhadap jumlah individu kupu-kupu pemakan buah busuk memberikan dinamika jumlah spesies dengan pola kubik. Parameter lingkungan yang diukur memiliki korelasi keterkaitan yang rendah terhadap keragaman kupu-kupu pemakan buah busuk di kawasan TNGC SPTN Wilayah 1 Kuningan, Jawa Barat. | The forest buffer zone of the Ciremai Mountain National Park (TNGC) had been fragmented due to anthropogenic disturbance. Fragmentation causes negative effect for environment, because it can increase local extinction and edge effects. Edge effects are impacts due to differences of environmental conditions between two fragmented habitats and affected animals are in. Insects such as frugiforus butterfly produces a specific response to deforestation, therefore it can be used as bioindicator to detect environmental changes. This research was conducted from December 2012 - January 2013 in the first Region of TNGC. Research locations were in the frontier of rehabilitation area, Lempong Bitung, Cigugur, Kuningan, West Java, perpendicular to the forest frontier along 200 m, which is at a distance of 0-50 m, 50-100 m, 100-150 m, and 150-200 m. The result showed that there were 11 species, which belong to family Nymphalidae. Edge effects significantly affect the diversity of frugiforus butterfly in the TNGC. Environmental measurement parameters have a low correlation to diversity frugiforus butterfly in the TNGC. | |
| 12439 | 5410 | G1F009046 | PENGARUH EDUKASI PENGGUNAAN OBAT YANG MENGINDUKSI PERDARAHAN DAN HIPERTENSI PADA MASA KEHAMILAN TERHADAP PENGETAHUAN DAN PERILAKU APOTEKER DI KABUPATEN BANYUMAS | Intisari Faktor penyebab kematian ibu hamil yang tertinggi yaitu perdarahan dan hipertensi. Penggunaan obat yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko perdarahan dan hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh edukasi penggunaan obat yang menginduksi perdarahan dan hipertensi pada masa kehamilan terhadap pengetahuan dan perilaku apoteker di Kabupaten Banyumas. Desain penelitian ini yaitu quasi experimental dengan pretest dan posttest group menggunakan instrumen penelitian berupa angket. Populasi penelitian adalah Apoteker yang berpraktik di apotek yang ada di Kabupaten Banyumas dengan sampel kelompok perlakuan dan kelompok pembanding masing-masing berjumlah 30 orang. Variabel yang diamati yaitu pengetahuan dan perilaku apoteker. Hasil uji pengaruh edukasi menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna terhadap pengetahuan (uji t berpasangan perlakuan p=0,06, pembanding p=0,09) dan perilaku (uji Wilcoxon sign rank test perlakuan p=0,26, pembanding p=0,65) pada kedua kelompok. Hasil pre test dan post test antara kelompok perlakuan dan pembanding menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna pada variabel pengetahuan (uji t tidak berpasangan pre test p=0,68, post test p=0,21) dan variabel perilaku (uji Mann-Whitneys pre test p=0,46, post test p=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna pada pengetahuan dan perilaku apoteker antara sebelum dan setelah diberi edukasi penggunan obat yang menginduksi perdarahan dan hipertensi pada masa kehamilan. Perlu diadakan penelitian dengan metode yang terpisah dan dengan perspektif yang berbeda. Kata kunci : perdarahan dan hipertensi, pengetahuan, perilaku, edukasi, apoteker. | Abstract The factors caused the death of a maternal highest are bleeding and hypertension. The use of an improper medicine can increase the risk of bleeding and hypertension. The aim of this research is to find out the presence of the influence of education on the use of drugs that induce bleeding and hypertension during pregnancy on the knowledge and behavior of pharmacists in the Banyumas Regency. This research are quai experimental designs with pre test and post test group use of the instruments is question form. The population of the research is pharmacists existing in the Banyumas Regency with sample are treatment group and comparison group each accounts for 30 people. A variable that observed are knowledge and behavior of pharmacist. Educational influence test results showed no meaningful difference to knowledge (paired t test treatment group p=0,06, comparison group p=0,09) and behavior (Wilcoxon signed rank test in treatment group p=0,26, comparison group p=0,65) in both groups. The results of pre test and post test between the treatment and comparison group showed no meaningful difference to knowledge (independent t test pre test p=0,68, post test p=0,21) and behavior (Mann-Whitneys test pre test p=0,46, post test p=0,05). The result showed that there were no meaningful differences in knowledge and behavior of the pharmacist after being given education use of drug that induce bleeding and hypertension during pregnancy. Needing to held a research by separate method and difference perspective. | |
| 12440 | 5414 | G1A009028 | Hubungan Profil Lipid Dengan Jumlah Sperma Pada Pasien Infertilitas Klinik Restu Ibu Purwokerto Tahun 2012 | Pola makan di kota besar telah mengikuti pola makan ke barat-baratan, dengan komposisi makanan yang terlalu banyak mengandung protein, lemak, gula, garam. Komposisi makanan seperti ini terutama terdapat pada makanan siap saji yang akhir – akhir ini sangat digemari. Hal ini akan berakibat munculnya kondisi dislipidemia pada usia muda yang notabene adalah usia produktif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan profil lipid terhadap jumlah sperma. Jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 40 sampel. Analisis data menggunakan analisis univariat, bivariat (uji Chi-Square/Fisher). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan kolesterol total (nilai p≥0,005) dengan jumlah sperma (p=0,197; OR=2,333; 95%CI=0,638-8,538). Tidak terdapat hubungan antara Trigliserida (nilai p≥0,005) dengan jumlah sperma (p=0,695; OR=1,889; 95%CI=0,385-9,271), kadar LDL dengan jumlah sperma (p=0,197; OR=2,333; dan 95%CI=0,638-8,538), dan kadar HDL dengan jumlah sperma (p=0,723; OR=1,286; 95%CI=0,319-5,175). Hasil penelitian juga menunjukkan tidak adanya hubungan dislipidemia dengan jumlah sperma (p=0,661; OR=2,250; 95%CI=0,362-13,971). | It is usual for those, live in big cities consume fast-food in which contains much more protein, fat, sugar and salt. In fact it causes such as dyslipidemia in productive ages. The purpose of this study was to correlations between lipid profile and sperm count. This study included in the observational study with cross sectional approach. The number of samples in this study were 40 samples. Analysis of the data using SPSS 20 included univariate, bivariate (Chi-square/Fisher test). The results was no association between total cholesterol (p ≥ 0.005) with sperm count (p=0,197; OR=2,333; 95%CI=0,638-8,538), Trygliserida with sperm count (p=0,695; OR=1,889; 95%CI=0,385-9,271), LDL with sperm count (p=0,197; OR=2,333; dan 95%CI=0,638-8,538),and HDL with sperm count (p=0,723; OR=1,286; 95%CI=0,319-5,175). The results also showed an no association between dyslipidemia and sperm count (p=0,661; OR=2,250; 95%CI=0,362-13,971). |