Artikel Ilmiah : A1H010031 a.n. DANIA RAFITA SARI

Kembali Update Delete

NIMA1H010031
NamamhsDANIA RAFITA SARI
Judul ArtikelAUDIT ENERGI PADA PRODUKSI BENIH KENTANG
(Solanum tuberosum L.) SECARA AEROPONIK DI DATARAN RENDAH
DENGAN PENDINGINAN DAERAH PERAKARAN
Abstrak (Bhs. Indonesia)Penanaman kentang (Solanum tuberosum L.) di dataran rendah
menggunakan sistem aeroponik merupakan salah satu alternatif untuk menghadapi
permasalahan tingginya suhu udara. Kendala suhu tinggi di dataran rendah diatasi
dengan pendinginan larutan nutrisi. Konsep pendinginan larutan nutrisiadalah
mendinginkan terbatas daerah perakaran tanaman karena suhu perakaran sangat
mempengaruhi proses fisiologi pada akar, seperti penyerapan air, nutrisi dan
mineral. Pendinginan larutan nutrisi bertujuan untuk menjaga suhu daerah
perakaran sesuai dengan syarat tumbuh tanaman kentang. Oleh karena itu perlu
diketahui beban energi dari aplikasi pendinginan daerah perakaran. Tujuan
penelitian ini untuk 1) menganalisa beban perpindahan panas dalam box
aeroponik dengan pendinginan daerah perakaran, dan 2) mengetahui pengaruh
pendinginan nutrisi terhadap pertumbuhan dan hasil umbi di dataran rendah.
Penelitian ini dilakukan di GreenhouseFakultas Pertanian Universitas
Jendral Soedirman Purwokerto. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober hingga
Desember 2013. Penelitian ini terdiri dari tiga perlakuan: suhu pendinginan
larutan 20oC; pH pendinginan larutan 6,5 (perlakuan 1), suhu pendinginan larutan
15oC; pH pendinginan larutan 6,5 (perlakuan 2) dan tanpa pendinginan; pH
larutan 6,5 (kontrol). Penyemprotan larutan nutrisi pada siang hari menggunakan
pola penyiraman 16 menit menyala dan 4 menit mati, sedangkan pada malam hari
dengan interval penyemprotan 7 menit menyala dan 7 menit mati.Variabel
pengamatan dalam penelitian ini adalah sebaran suhu pada box aeroponik, tinggi
tanaman setiap satu minggu dan jumlah umbi.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pendinginan daerah perakaran suhu
20oC memiliki beban perpindahan panas sebesar 17,76 W, pada suhu 15oC
sebesar 23,71 Wdan pada suhu kontrol sebesar 8,48 W. Pendinginan daerah
perakaran memberikan rata-rata tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah umbi
yang lebih tinggi dibandingkan tanpa pendinginan. Suhu pendinginan daerah
perakaran 20oC memiliki rata-rata tinggi tanaman tertinggi (62,61 cm)dan ratarata
jumlah dauntertinggi (92,76 helai). Jumlah umbi terbanyak dicapai oleh suhu
pendinginan 15oC sebanyak 57 umbi yang dihasilkan oleh 14 tanaman dengan
rata-rata 4,07 umbi/tanaman.
Abtrak (Bhs. Inggris)Cultivation of potatoes (Solanum tuberosum .L) in lowland area is one
alternative to face the problem of high temperature. High temperature problem
can be solved by nutrient solution cooling. The concept of nutrient solution
cooling is to reduce temperature in the limited area around root zone. Rooting
zone temperature greatly influences the physiological process in root area, such
as the absorption of water, nutrients and minerals. The porpose of nutrient
solution cooling is to keep the temperature of root zone in accordance with
growth requirements of potato plants. It is important to know energy load of
rooting zone cooling applications. The purpose of this research are 1) to analyze
energy load of heat transfer in the cooling area in aeroponic box with root zone
cooling application in the lowlands, and 2) to know the influence of the nutrient
solution cooling towards growth and tuber yield.
This research conducted in a Greenhouse in Faculty of Agriculture,
University of Jenderal Soedirman, Purwokerto. This research conducted in
October through December 2013. This research consists of three treatments:
cooling solution temperature of 20oC; pH of 6.5 (first treatment), cooling solution
temperature of 15oC; pH of 6.5 (second treatment), and without cooling; pH of
6.5 (control). Nutrient solution sprayed during the day using the rules of 16
minutes on and 4 minutes off, whereas in the evening with a 7 minutes on and 7
minutes off. This study uses two types of potato varieties namely Atlantic and
Granola resulting from tissue culture. A variable of observations in this research
is temperature distribution in the aeroponik box, height plant every one week and
the amount of tuber.
The highest value of energy load is appear in the second treatment which
is 23.72 W, while the first treatment is 17.76 W and then the control is 8.48 W.
Cooling load resulting highest average number of leaves, plant height and
number of tubers compared to without cooling. Zone cooling temperature of 20oC
resulting highest crop yield (62.61 cm) and highest number of leaf consecutive
(92.76 strands). Zone cooling temperature of 15oC resulting highest number of
tubers which is 57 tubers resulting from 14 plans with average number of tubers
4,07 tubers/plant.
Kata kuncikentang, aeroponik, dataran rendah, pendinginan daerah perakaran, perpindahan panas, beban energi, chiller (mesin pendingin).
Pembimbing 1Dr. Ardiansyah, S.TP., M.Si.
Pembimbing 2Dr. Eni Sumarni, S.TP., M.Si.
Pembimbing 3
Tahun2014
Jumlah Halaman53
Tgl. Entri2014-11-11 16:58:21.293535
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.