Home
Login.
Artikelilmiahs
9735
Update
DANIA RAFITA SARI
NIM
Judul Artikel
AUDIT ENERGI PADA PRODUKSI BENIH KENTANG (Solanum tuberosum L.) SECARA AEROPONIK DI DATARAN RENDAH DENGAN PENDINGINAN DAERAH PERAKARAN
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penanaman kentang (Solanum tuberosum L.) di dataran rendah menggunakan sistem aeroponik merupakan salah satu alternatif untuk menghadapi permasalahan tingginya suhu udara. Kendala suhu tinggi di dataran rendah diatasi dengan pendinginan larutan nutrisi. Konsep pendinginan larutan nutrisiadalah mendinginkan terbatas daerah perakaran tanaman karena suhu perakaran sangat mempengaruhi proses fisiologi pada akar, seperti penyerapan air, nutrisi dan mineral. Pendinginan larutan nutrisi bertujuan untuk menjaga suhu daerah perakaran sesuai dengan syarat tumbuh tanaman kentang. Oleh karena itu perlu diketahui beban energi dari aplikasi pendinginan daerah perakaran. Tujuan penelitian ini untuk 1) menganalisa beban perpindahan panas dalam box aeroponik dengan pendinginan daerah perakaran, dan 2) mengetahui pengaruh pendinginan nutrisi terhadap pertumbuhan dan hasil umbi di dataran rendah. Penelitian ini dilakukan di GreenhouseFakultas Pertanian Universitas Jendral Soedirman Purwokerto. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober hingga Desember 2013. Penelitian ini terdiri dari tiga perlakuan: suhu pendinginan larutan 20oC; pH pendinginan larutan 6,5 (perlakuan 1), suhu pendinginan larutan 15oC; pH pendinginan larutan 6,5 (perlakuan 2) dan tanpa pendinginan; pH larutan 6,5 (kontrol). Penyemprotan larutan nutrisi pada siang hari menggunakan pola penyiraman 16 menit menyala dan 4 menit mati, sedangkan pada malam hari dengan interval penyemprotan 7 menit menyala dan 7 menit mati.Variabel pengamatan dalam penelitian ini adalah sebaran suhu pada box aeroponik, tinggi tanaman setiap satu minggu dan jumlah umbi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendinginan daerah perakaran suhu 20oC memiliki beban perpindahan panas sebesar 17,76 W, pada suhu 15oC sebesar 23,71 Wdan pada suhu kontrol sebesar 8,48 W. Pendinginan daerah perakaran memberikan rata-rata tinggi tanaman, jumlah daun dan jumlah umbi yang lebih tinggi dibandingkan tanpa pendinginan. Suhu pendinginan daerah perakaran 20oC memiliki rata-rata tinggi tanaman tertinggi (62,61 cm)dan ratarata jumlah dauntertinggi (92,76 helai). Jumlah umbi terbanyak dicapai oleh suhu pendinginan 15oC sebanyak 57 umbi yang dihasilkan oleh 14 tanaman dengan rata-rata 4,07 umbi/tanaman.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Cultivation of potatoes (Solanum tuberosum .L) in lowland area is one alternative to face the problem of high temperature. High temperature problem can be solved by nutrient solution cooling. The concept of nutrient solution cooling is to reduce temperature in the limited area around root zone. Rooting zone temperature greatly influences the physiological process in root area, such as the absorption of water, nutrients and minerals. The porpose of nutrient solution cooling is to keep the temperature of root zone in accordance with growth requirements of potato plants. It is important to know energy load of rooting zone cooling applications. The purpose of this research are 1) to analyze energy load of heat transfer in the cooling area in aeroponic box with root zone cooling application in the lowlands, and 2) to know the influence of the nutrient solution cooling towards growth and tuber yield. This research conducted in a Greenhouse in Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto. This research conducted in October through December 2013. This research consists of three treatments: cooling solution temperature of 20oC; pH of 6.5 (first treatment), cooling solution temperature of 15oC; pH of 6.5 (second treatment), and without cooling; pH of 6.5 (control). Nutrient solution sprayed during the day using the rules of 16 minutes on and 4 minutes off, whereas in the evening with a 7 minutes on and 7 minutes off. This study uses two types of potato varieties namely Atlantic and Granola resulting from tissue culture. A variable of observations in this research is temperature distribution in the aeroponik box, height plant every one week and the amount of tuber. The highest value of energy load is appear in the second treatment which is 23.72 W, while the first treatment is 17.76 W and then the control is 8.48 W. Cooling load resulting highest average number of leaves, plant height and number of tubers compared to without cooling. Zone cooling temperature of 20oC resulting highest crop yield (62.61 cm) and highest number of leaf consecutive (92.76 strands). Zone cooling temperature of 15oC resulting highest number of tubers which is 57 tubers resulting from 14 plans with average number of tubers 4,07 tubers/plant.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save