Artikel Ilmiah : F2A022012 a.n. NURUL BADRIA ULFA

Kembali Update Delete

NIMF2A022012
NamamhsNURUL BADRIA ULFA
Judul ArtikelSTRATEGI PRO-POOR DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI
KREATIF MELALUI PENDEKATAN
PENTAHELIX DI DESA KUBU KABUPATEN ACEH BARAT
(Studi Kasus Kerajinan Eceng Gondok)
Abstrak (Bhs. Indonesia)ABSTRAK
Konsep pro-poor bertujuan memastikan kebijakan pemerintah berpihak pada masyarakat
miskin untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dan mengurangi ketidaksetaraan.
Pendekatan ini dalam pengembangan ekonomi kreatif ditujukan untuk memberdayakan
golongan miskin atau rentan melalui pemanfaatan potensi bidang kreatif, dengan menyediakan
keterampilan, akses, dukungan, dan peluang yang diperlukan guna mengurangi kemiskinan dan
meningkatkan kesejahteraan. Namun, pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok
di Desa Kubu masih menghadapi kendala seperti pemanfaatan potensi desa yang belum
optimal, keterbatasan kualitas SDM, kurangnya prasarana pendukung, serta terbatasnya modal
untuk pemasaran skala besar. Oleh karena itu dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah,
akademisi, pelaku bisnis, masyarakat, dan komunitas kreatif untuk saling mendukung dalam
mempercepat pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok yang inklusif dan
berkelanjutan berbasis kepada masyarakat miskin. Tujuan penelitian ini untuk menemukan
strategi pro-poor dalam pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok berbasis
pentahelix di Desa Kubu Aceh Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan studi kasus dengan informan yang terdiri dari pengrajin eceng gondok dan
stakeholder yang mengetahui terlibat dan mengetahui tentang ekonomi kreatif kerajinan eceng
gondok di Desa Kubu yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan snowball
sampling. Data dikumpulkan melalui melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data
dianalisis menggunakan teknik analisa Miles & Huberman (2014). Temuan hasil dari penelitian
ini adalah strategi pro-poor dalam pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok
melalui pendekatan pentahelix di Desa Kubu memungkinkan untuk dapat diterapkan, hanya
saja belum ada komunitas kreatif sebagai motor penggerak utama. Saat ini yang berperan dalam
pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok adalah pemerintah, swasta, akademisi,
dan masyarakat. Dengan model pendekatan pentahelix dapat mendorong pertumbuhan
ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan, yang berdampak pada peningkatan
pendapatan, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kata Kunci: Pro-poor, Ekonomi Kreatif, Pentahelix, Kerajinan Eceng Gondok.
Abtrak (Bhs. Inggris)STRATEGI PRO-POOR DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI
KREATIF MELALUI PENDEKATAN
PENTAHELIX DI DESA KUBU KABUPATEN ACEH BARAT
(Studi Kasus Kerajinan Eceng Gondok)
Nurul Badria Ulfa
Magister Administrasi Publik, Universitas Jenderal Soedirman
nurul.ulfa@mhs.unsoed.ac.id
ABSTRAK
Konsep pro-poor bertujuan memastikan kebijakan pemerintah berpihak pada masyarakat
miskin untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dan mengurangi ketidaksetaraan.
Pendekatan ini dalam pengembangan ekonomi kreatif ditujukan untuk memberdayakan
golongan miskin atau rentan melalui pemanfaatan potensi bidang kreatif, dengan menyediakan
keterampilan, akses, dukungan, dan peluang yang diperlukan guna mengurangi kemiskinan dan
meningkatkan kesejahteraan. Namun, pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok
di Desa Kubu masih menghadapi kendala seperti pemanfaatan potensi desa yang belum
optimal, keterbatasan kualitas SDM, kurangnya prasarana pendukung, serta terbatasnya modal
untuk pemasaran skala besar. Oleh karena itu dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah,
akademisi, pelaku bisnis, masyarakat, dan komunitas kreatif untuk saling mendukung dalam
mempercepat pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok yang inklusif dan
berkelanjutan berbasis kepada masyarakat miskin. Tujuan penelitian ini untuk menemukan
strategi pro-poor dalam pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok berbasis
pentahelix di Desa Kubu Aceh Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan studi kasus dengan informan yang terdiri dari pengrajin eceng gondok dan
stakeholder yang mengetahui terlibat dan mengetahui tentang ekonomi kreatif kerajinan eceng
gondok di Desa Kubu yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan snowball
sampling. Data dikumpulkan melalui melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data
dianalisis menggunakan teknik analisa Miles & Huberman (2014). Temuan hasil dari penelitian
ini adalah strategi pro-poor dalam pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok
melalui pendekatan pentahelix di Desa Kubu memungkinkan untuk dapat diterapkan, hanya
saja belum ada komunitas kreatif sebagai motor penggerak utama. Saat ini yang berperan dalam
pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok adalah pemerintah, swasta, akademisi,
dan masyarakat. Dengan model pendekatan pentahelix dapat mendorong pertumbuhan
ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan, yang berdampak pada peningkatan
pendapatan, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kata Kunci: Pro-poor, Ekonomi Kreatif, Pentahelix, Kerajinan Eceng Gondok.
ABSTRACT
The pro-poor concept ensures that government policies favour low-income people to improve
their welfare and reduce inequality. This approach to developing the creative economy aims to
empower poor or vulnerable groups by utilizing the potential of the creative sector by providing
the skills, access, support, and opportunities needed to reduce poverty and improve welfare.
However, developing the creative economy of water hyacinth crafts in Kubu Village still faces
obstacles such as the suboptimal utilization of village potential, limited quality of human
resources, lack of supporting infrastructure, and limited capital for large-scale marketing.
Therefore, collaboration is needed between the government, historians, business actors, the
community, and creative communities to support each other in accelerating the development
of an inclusive and sustainable creative economy of water hyacinth crafts based on people
experiencing poverty. This study aims to find a strategy that favours people experiencing
poverty in developing a creative economy of Penta helix-based water hyacinth crafts in Kubu
Village, West Aceh. This study uses a qualitative method with a case study approach with
informants consisting of water hyacinth artisans and stakeholders who are involved and know
about the creative economy of water hyacinth crafts in Kubu Village selected using purposive
sampling and snowball sampling techniques. Data were collected through observation,
interviews, and documentation. Data were analyzed using Miles & Huberman's (2014) analysis
techniques. The findings of this study are that the strategy of favouring people experiencing
poverty in developing the creative economy of water hyacinth crafts through the Penta helix
approach in Kubu Village is possible to implement. Still, there is no creative community as the
main driving force. Currently, those who play a role in developing the creative economy of
water hyacinth crafts are the government, private sector, academics, and the community. The
Penta helix approach model can encourage inclusive and sustainable creative economic
growth, which impacts increasing income, opening up employment opportunities, and
improving community welfare.
Keywords: Pro-poor, Creative Economy, Pentahelix, Water Hyacinth Crafts.
Kata kunciKata Kunci: Pro-poor, Ekonomi Kreatif, Pentahelix, Kerajinan Eceng Gondok.
Pembimbing 1Prof. Dr. Slamet Rosyadi, M.Si.
Pembimbing 2Prof. Dr. Dwiyanto Indiahono, M.Si.
Pembimbing 3-
Tahun2025
Jumlah Halaman13
Tgl. Entri2025-02-10 11:38:35.477756
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.