Home
Login.
Artikelilmiahs
47654
Update
NURUL BADRIA ULFA
NIM
Judul Artikel
STRATEGI PRO-POOR DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF MELALUI PENDEKATAN PENTAHELIX DI DESA KUBU KABUPATEN ACEH BARAT (Studi Kasus Kerajinan Eceng Gondok)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
ABSTRAK Konsep pro-poor bertujuan memastikan kebijakan pemerintah berpihak pada masyarakat miskin untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dan mengurangi ketidaksetaraan. Pendekatan ini dalam pengembangan ekonomi kreatif ditujukan untuk memberdayakan golongan miskin atau rentan melalui pemanfaatan potensi bidang kreatif, dengan menyediakan keterampilan, akses, dukungan, dan peluang yang diperlukan guna mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan. Namun, pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok di Desa Kubu masih menghadapi kendala seperti pemanfaatan potensi desa yang belum optimal, keterbatasan kualitas SDM, kurangnya prasarana pendukung, serta terbatasnya modal untuk pemasaran skala besar. Oleh karena itu dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, masyarakat, dan komunitas kreatif untuk saling mendukung dalam mempercepat pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok yang inklusif dan berkelanjutan berbasis kepada masyarakat miskin. Tujuan penelitian ini untuk menemukan strategi pro-poor dalam pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok berbasis pentahelix di Desa Kubu Aceh Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan informan yang terdiri dari pengrajin eceng gondok dan stakeholder yang mengetahui terlibat dan mengetahui tentang ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok di Desa Kubu yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Data dikumpulkan melalui melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik analisa Miles & Huberman (2014). Temuan hasil dari penelitian ini adalah strategi pro-poor dalam pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok melalui pendekatan pentahelix di Desa Kubu memungkinkan untuk dapat diterapkan, hanya saja belum ada komunitas kreatif sebagai motor penggerak utama. Saat ini yang berperan dalam pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok adalah pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat. Dengan model pendekatan pentahelix dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan, yang berdampak pada peningkatan pendapatan, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kata Kunci: Pro-poor, Ekonomi Kreatif, Pentahelix, Kerajinan Eceng Gondok.
Abtrak (Bhs. Inggris)
STRATEGI PRO-POOR DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF MELALUI PENDEKATAN PENTAHELIX DI DESA KUBU KABUPATEN ACEH BARAT (Studi Kasus Kerajinan Eceng Gondok) Nurul Badria Ulfa Magister Administrasi Publik, Universitas Jenderal Soedirman nurul.ulfa@mhs.unsoed.ac.id ABSTRAK Konsep pro-poor bertujuan memastikan kebijakan pemerintah berpihak pada masyarakat miskin untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dan mengurangi ketidaksetaraan. Pendekatan ini dalam pengembangan ekonomi kreatif ditujukan untuk memberdayakan golongan miskin atau rentan melalui pemanfaatan potensi bidang kreatif, dengan menyediakan keterampilan, akses, dukungan, dan peluang yang diperlukan guna mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan. Namun, pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok di Desa Kubu masih menghadapi kendala seperti pemanfaatan potensi desa yang belum optimal, keterbatasan kualitas SDM, kurangnya prasarana pendukung, serta terbatasnya modal untuk pemasaran skala besar. Oleh karena itu dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, masyarakat, dan komunitas kreatif untuk saling mendukung dalam mempercepat pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok yang inklusif dan berkelanjutan berbasis kepada masyarakat miskin. Tujuan penelitian ini untuk menemukan strategi pro-poor dalam pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok berbasis pentahelix di Desa Kubu Aceh Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dengan informan yang terdiri dari pengrajin eceng gondok dan stakeholder yang mengetahui terlibat dan mengetahui tentang ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok di Desa Kubu yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Data dikumpulkan melalui melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik analisa Miles & Huberman (2014). Temuan hasil dari penelitian ini adalah strategi pro-poor dalam pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok melalui pendekatan pentahelix di Desa Kubu memungkinkan untuk dapat diterapkan, hanya saja belum ada komunitas kreatif sebagai motor penggerak utama. Saat ini yang berperan dalam pengembangan ekonomi kreatif kerajinan eceng gondok adalah pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat. Dengan model pendekatan pentahelix dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan, yang berdampak pada peningkatan pendapatan, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kata Kunci: Pro-poor, Ekonomi Kreatif, Pentahelix, Kerajinan Eceng Gondok. ABSTRACT The pro-poor concept ensures that government policies favour low-income people to improve their welfare and reduce inequality. This approach to developing the creative economy aims to empower poor or vulnerable groups by utilizing the potential of the creative sector by providing the skills, access, support, and opportunities needed to reduce poverty and improve welfare. However, developing the creative economy of water hyacinth crafts in Kubu Village still faces obstacles such as the suboptimal utilization of village potential, limited quality of human resources, lack of supporting infrastructure, and limited capital for large-scale marketing. Therefore, collaboration is needed between the government, historians, business actors, the community, and creative communities to support each other in accelerating the development of an inclusive and sustainable creative economy of water hyacinth crafts based on people experiencing poverty. This study aims to find a strategy that favours people experiencing poverty in developing a creative economy of Penta helix-based water hyacinth crafts in Kubu Village, West Aceh. This study uses a qualitative method with a case study approach with informants consisting of water hyacinth artisans and stakeholders who are involved and know about the creative economy of water hyacinth crafts in Kubu Village selected using purposive sampling and snowball sampling techniques. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data were analyzed using Miles & Huberman's (2014) analysis techniques. The findings of this study are that the strategy of favouring people experiencing poverty in developing the creative economy of water hyacinth crafts through the Penta helix approach in Kubu Village is possible to implement. Still, there is no creative community as the main driving force. Currently, those who play a role in developing the creative economy of water hyacinth crafts are the government, private sector, academics, and the community. The Penta helix approach model can encourage inclusive and sustainable creative economic growth, which impacts increasing income, opening up employment opportunities, and improving community welfare. Keywords: Pro-poor, Creative Economy, Pentahelix, Water Hyacinth Crafts.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save