Artikel Ilmiah : F1A016100 a.n. FAKHRI PRASETYA

Kembali Update Delete

NIMF1A016100
NamamhsFAKHRI PRASETYA
Judul ArtikelFENOMENA KEJAHATAN JALANAN DI KOTA BEKASI
(Studi Kasus Perampasan Dengan Kekerasan Pembegalan di Kota Bekasi)
Abstrak (Bhs. Indonesia)Wilayah Kecamatan Bekasi merupakan daerah yang sangat strategis
bagi tindak aksi kejahatan terutama kasus pembegalan. Hal itu tidak lepas dari
banyaknya lokasi yang minim penerangan, sehingga membuat para tindak aksi
kejahatan dapat leluasa melancarkan aksinya. Sepanjang tahun 2021, kasus
pembegalan di Bekasi terbilang cukup besar. Hal tersebut tentunya meresahkan
keamanan lingkungan masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui proses yang dilakukan pelaku dalam memilih korban
dan reaksi masyarakat Bekasi terhadap kasus “begal”. Selain itu, peneliti juga
ingin mengetahui tindakan dari kepolisian dalam mencegah dan meminimalisir
kasus “begal” yang terjadi di Bekasi.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan
sasaran penelitiannya adalah pelaku aksi “begal”, masyarakat yang mengetahui
kasus “begal” di sekitar Bekasi dan kepolisian bagian reserse di wilayah kejadian
aksi “begal” dalam penanganan kasus yang terjadi di wilayah hukum Kepolisian
Bekasi. Teknik penentuan informan yang digunakan adalah purposive sampling.
Metode pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan
dokumentasi. Metode analisis data menggunakan analisis interaktif dan validasi
data menggunakan teknik triangulasi sumber.
Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin kesimpulan. Pertama,
dalam proses pemilihan korban, pelaku pembegalan mempertimbangkan empat
dimensi, antara lain dimensi penampilan, dimensi waktu, dimensi tempat, dan
dimensi cara pembegalan. Kedua, masyarakat Kecamatan Bekasi cenderung
melihat fenomena “begal” sebagai wujud lemahnya peran pihak kepolisian dalam
menjaga keamanan lingkungan dan kurangnya perhatian pemerintah dalam
memberikan penerangan terhadap area jalan yang rawan pembegalan. Kedua hal
tersebut memunculkan reaksi dari masyarakat untuk menghakimi secara sepihak
pelaku pembegalan. Ketiga, sebagai wujud tindakan untuk mencegah dan
meminimalisir kejahatan pembegalan, kepolisian Bekasi melakukan upaya
preventif berupa mengadakan patroli rutin di beberapa titik rawan pembegalan
dan mengadakan penyuluhan kepada masyarakat terkait keamanan lingkungan
melalui Binmas. Sementara itu, upaya represif yang dilakukan kepolisian Bekasi
selanjutnya adalah dengan memasukan para pelaku pembegalan ke dalam rumah
tahanan dan mengukum para pelaku sesuai dengan putusan peradilan. Setelah itu,
para pelaku pembegalan dibina oleh Lembaga Pemasyarakatan agar setelah bebas
dapat diterima oleh masyarakat, dan tidak mengulangi perbuatannya.
Abtrak (Bhs. Inggris)Bekasi subdistrict is a very strategic area for the acts of crime, especially
cases of spoliation. It did not escape from the locations are minimal lighting,
making the act of the crime can freely launch the action. From 2014 to 2016,
cases of robbery in the District of Bekasi is quite large. It is certainly disturbing
public security environment. It is certainly disturbing public security environment.
Accordingly, this study aims to determine the perpetrators of the process
undertaken in selecting victims and Bekasi public reaction to the case of "robber".
In addition, researchers also want to know the action of police in preventing and
minimizing cases of "spice" that occurred in Bekasi .
The method used is descriptive qualitative with the target of research is
the perpetrator of the act of "robber", people who know the case of "robber"
around Bekasi and police section of detectives in the incident action "robber" in
the handling of cases that occurred in the jurisdiction of Police Bekasi Informant
determining technique used is purposive sampling. Methods of data collection
using in-depth interviews, observation and documentation. Methods of data
analysis using interactive analysis and validation of source data using
triangulation techniques.
The results showed several points of conclutions. First in the chosing
process, traffickers spoliation consider four dimensions: appearance dimension,
the dimension of time, the dimensions of the place, and the dimensions of how
spoliation. Second, Bekasi subdistrict society tends to view the phenomenon of
"robber" as a form of weak role of the police in maintaining security environment
and the lack of government attention in providing illumination to the area of road
prone spoliation. Both of these led to reactions from the public to judge
unilaterally perpetrators of spoliation. Third, as a form of action to prevent and
minimize the crime robbery, police Bekasi undertake preventive efforts such
conduct routine patrols at some point clouds spoliation and related conduct
outreach to the community through Binmas environmental security. Meanwhile,
efforts by police repressive next Bekasi is to include actors spoliation into custody
and mengukum the perpetrators in accordance with the judicial decision. After
that, the perpetrators of spoliation fostered by Corrections that after smoking can
be accepted by society, and not repeat his actions
Kata kunci: Pembegalan, Bekasi, spoliation, Bekasi
Pembimbing 1Joko santoso
Pembimbing 2Rilli windiasih
Pembimbing 3Masrukin
Tahun2023
Jumlah Halaman14
Tgl. Entri2023-02-22 18:36:18.905592
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.