Home
Login.
Artikelilmiahs
39215
Update
FAKHRI PRASETYA
NIM
Judul Artikel
FENOMENA KEJAHATAN JALANAN DI KOTA BEKASI (Studi Kasus Perampasan Dengan Kekerasan Pembegalan di Kota Bekasi)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Wilayah Kecamatan Bekasi merupakan daerah yang sangat strategis bagi tindak aksi kejahatan terutama kasus pembegalan. Hal itu tidak lepas dari banyaknya lokasi yang minim penerangan, sehingga membuat para tindak aksi kejahatan dapat leluasa melancarkan aksinya. Sepanjang tahun 2021, kasus pembegalan di Bekasi terbilang cukup besar. Hal tersebut tentunya meresahkan keamanan lingkungan masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses yang dilakukan pelaku dalam memilih korban dan reaksi masyarakat Bekasi terhadap kasus “begal”. Selain itu, peneliti juga ingin mengetahui tindakan dari kepolisian dalam mencegah dan meminimalisir kasus “begal” yang terjadi di Bekasi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan sasaran penelitiannya adalah pelaku aksi “begal”, masyarakat yang mengetahui kasus “begal” di sekitar Bekasi dan kepolisian bagian reserse di wilayah kejadian aksi “begal” dalam penanganan kasus yang terjadi di wilayah hukum Kepolisian Bekasi. Teknik penentuan informan yang digunakan adalah purposive sampling. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan analisis interaktif dan validasi data menggunakan teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan beberapa poin kesimpulan. Pertama, dalam proses pemilihan korban, pelaku pembegalan mempertimbangkan empat dimensi, antara lain dimensi penampilan, dimensi waktu, dimensi tempat, dan dimensi cara pembegalan. Kedua, masyarakat Kecamatan Bekasi cenderung melihat fenomena “begal” sebagai wujud lemahnya peran pihak kepolisian dalam menjaga keamanan lingkungan dan kurangnya perhatian pemerintah dalam memberikan penerangan terhadap area jalan yang rawan pembegalan. Kedua hal tersebut memunculkan reaksi dari masyarakat untuk menghakimi secara sepihak pelaku pembegalan. Ketiga, sebagai wujud tindakan untuk mencegah dan meminimalisir kejahatan pembegalan, kepolisian Bekasi melakukan upaya preventif berupa mengadakan patroli rutin di beberapa titik rawan pembegalan dan mengadakan penyuluhan kepada masyarakat terkait keamanan lingkungan melalui Binmas. Sementara itu, upaya represif yang dilakukan kepolisian Bekasi selanjutnya adalah dengan memasukan para pelaku pembegalan ke dalam rumah tahanan dan mengukum para pelaku sesuai dengan putusan peradilan. Setelah itu, para pelaku pembegalan dibina oleh Lembaga Pemasyarakatan agar setelah bebas dapat diterima oleh masyarakat, dan tidak mengulangi perbuatannya.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Bekasi subdistrict is a very strategic area for the acts of crime, especially cases of spoliation. It did not escape from the locations are minimal lighting, making the act of the crime can freely launch the action. From 2014 to 2016, cases of robbery in the District of Bekasi is quite large. It is certainly disturbing public security environment. It is certainly disturbing public security environment. Accordingly, this study aims to determine the perpetrators of the process undertaken in selecting victims and Bekasi public reaction to the case of "robber". In addition, researchers also want to know the action of police in preventing and minimizing cases of "spice" that occurred in Bekasi . The method used is descriptive qualitative with the target of research is the perpetrator of the act of "robber", people who know the case of "robber" around Bekasi and police section of detectives in the incident action "robber" in the handling of cases that occurred in the jurisdiction of Police Bekasi Informant determining technique used is purposive sampling. Methods of data collection using in-depth interviews, observation and documentation. Methods of data analysis using interactive analysis and validation of source data using triangulation techniques. The results showed several points of conclutions. First in the chosing process, traffickers spoliation consider four dimensions: appearance dimension, the dimension of time, the dimensions of the place, and the dimensions of how spoliation. Second, Bekasi subdistrict society tends to view the phenomenon of "robber" as a form of weak role of the police in maintaining security environment and the lack of government attention in providing illumination to the area of road prone spoliation. Both of these led to reactions from the public to judge unilaterally perpetrators of spoliation. Third, as a form of action to prevent and minimize the crime robbery, police Bekasi undertake preventive efforts such conduct routine patrols at some point clouds spoliation and related conduct outreach to the community through Binmas environmental security. Meanwhile, efforts by police repressive next Bekasi is to include actors spoliation into custody and mengukum the perpetrators in accordance with the judicial decision. After that, the perpetrators of spoliation fostered by Corrections that after smoking can be accepted by society, and not repeat his actions
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save