Artikel Ilmiah : A1C017019 a.n. MUHAMMAD ILHAM NURFIQRY

Kembali Update Delete

NIMA1C017019
NamamhsMUHAMMAD ILHAM NURFIQRY
Judul ArtikelLAJU PERUBAHAN LAHAN DI DESA PALUMBUNGAN KECAMATAN
BOBOTSARI PURBALINGGA (SUB DAS KLAWING) DENGAN METODE
MAXIMUM LIKELIHOOD (MLC)
Abstrak (Bhs. Indonesia)Sungai Serayu atau DAS Serayu merupakan salah satu sungai terbesar di Kabupaten
Banyumas. Sungai Serayu melintasi beberapa kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang
melalui Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap. Desa
Palumbungan adalah salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Bobotsari, Desa
Palumbungan merupakan desa yang teraliri oleh Sub DAS Klawing sehingga menjadi
salah satu sumber air di Desa Palumbungan.
Penelitian ini dilaksanakan pada DAS Serayu Sub DAS Klawing bertepatan di Desa
Palumbungan dengan jangkauan waktu 10 tahun terakhir menggunakan foto citra satelit
landsat 7 dan 8. Variable yang diamati yaitu perubahan lahan pemukiman pekarangan,
pertanian dan hutan dengan menggunakan algoritma klasifikasi maximum likelihood.
Digitasi manual terkait dengan klasifikasi lahan dilakukan secara manual sebagai
pengganti ground check terhadap lokasi kajian.
Hasil penelitian menunjukan tiga kelas dalam proses klasifikasi Algoritma
terbimbing maximum likelihood dengan luas total setelah proses klasifikasi sebesar
275.04 ha yang terbagi menjadi 3 tahun yaitu tahun 2009, 2014 dan 2019 dengan jumlah
3 kelas disetiap tahunnya. Hasil perubahan lahan menggunakan metode maximum
likelihood kelas pertanian menghasilkan nilai 47,07 ha (2009), 44,91 ha (2014) dan 8.28
ha (2019). Pemukiman dan pekarangan menghasilkan nilai 31.14 ha (2009), 37.98 ha
(2014) dan 53.64 ha (2019). Hutan menghasilkan nilai 196.83 ha (2009), 192.15 ha
(2014), 213.12 ha (2019). Hasil perubahan lahan menggunakan metode manual kelas
pertanian menghasilkan nilai 7.17 ha (2009), 4.14 Ha (2014) dan 2.47 Ha (2019).
Pemukiman dan pekarangan menghasilkan nilai 11.7 ha (2009), 18.14 ha (2014) dan
20.22 ha (2019). Hutan menghasilkan nilai 256.13 ha (2009), 252.724 ha (2014), 252.31
ha (2019). Klasifikasi perubahan lahan di Desa Palumbungan dengan menggunakan
metode terbimbing maximum likelihood dan metode digitasi manual menghasilkan nilai
RMSE yang berbeda di tiap kelasnya, semakin kecil nilai RMSE maka semakin akurat
metode yang digunakan. Hasil yang didapat pada penelitian ini nilai RMSE terkecil yaitu
pemukiman dan pekarangan dengan nilai 25.09 lalu pertanian dengan nilai 33.11 dan nilai
RMSE terbesar yaitu hutan dengan nilai 55.89.
Abtrak (Bhs. Inggris)Serayu River or Serayu Watershed is one of the largest rivers in Banyumas Regency.
The Serayu River crosses several regencies in Central Java Province through Wonosobo,
Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas and Cilacap regencies. Palumbungan Village is
one of the villages in the Bobotsari District, Palumbungan Village is a village that is fed
by the Klawing Sub-watershed so that it becomes one of the air sources in Palumbungan
Village.
This research was carried out in the Serayu watershed, Klawing sub-watershed, in
Palubungan Village over a span of the last 10 years using Landsat 7 and 8 satellite
images. Manual digitization related to land classification was carried out manually as a
substitute for a ground check on the study location.
The results show that there are three classes in the maximum likelihood guided
algorithm classification process with a total area after the classification process of
275.04 Ha which is divided into 3 years 2009, 2014, and 2019 with a total of 3 classes
each year. The results of land changes using the agricultural class maximum likelihood
method yielded values of 47.07 ha (2009), 44.91 ha (2014), and 8.28 ha (2019).
Settlements and yards yielded values of 31.14 ha (2009), 37.98 ha (2014), and 53.64 ha
(2019). Forest yields values of 196.83 ha (2009), 192.15 ha (2014), 213.12 ha (2019).
The results of land changes using the agricultural grade manual method yielded values
of 7.17 ha (2009), 4.14 ha (2014), and 2.47 ha (2019). Settlements and yards produce
values of 11.7 ha (2009), 18.14 ha (2014), and 20.22 ha (2019). Forest yields values of
256.13 ha (2009), 252.724 ha (2014), 252.31 ha (2019). Classification of land change in
Palumbungan village using the Maximum likelihood guided method and manual
digitization method produces a different RMSE value in each class, the smaller the RMSE
value, the more accurate the method used, the results obtained in this study the smallest
RMSE value, namely settlements and yards with the value of 25.09 then agriculture with
a value of 33.11 and the largest RMSE value, namely forest with a value of 55.89.
Kata kunciDAS, Maximum Likelihood, Serayu.
Pembimbing 1Afik Hardanto, S.TP., M.Sc., Ph.D.
Pembimbing 2Ardiansyah, S.TP., M.Si., Ph.D.
Pembimbing 3
Tahun2021
Jumlah Halaman18
Tgl. Entri2022-01-18 10:11:40.004408
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.