Home
Login.
Artikelilmiahs
50653
Update
LAROYBAFIH AL ABIYYU
NIM
Judul Artikel
Studi Parametrik Perkuatan Daerah Momen Negatif Balok T-Beton Bertulang dengan Steel Wire Rope (SWR) dan Tulangan Tekan
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Kegagalan struktur disebabkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya ialah perubahan fungsi bangunan tersebut dan peningkatan beban. Kegagalan struktur dapat menyebabkan keruntuhan suatu bangunan. Salah satu upaya pencegahan kerusakan adalah dengan melakukan perkuatan struktur untuk memperkuat elemen struktur lama yang sudah tidak memenuhi persyaratan, salah satunya yaitu dengan memperkuat pada daerah momen negatif menggunakan steel wire rope. Perkuatan struktur dengan steel wire rope diharapkan dapat meningkatkan kinerja struktural dari balok beton bertulang tampang T. Penelitian ini bertujuan untuk mengembakan penelitian eksperimental yang telah dilakukan dengan studi paramterik untuk mengetahui pengaruh variasi perlakuan pada benda uji diantaranya diameter steel wire rope, mutu layer mortar, dan kuat tekan beton dengan pendekatan elemen hingga menggunakan software ATENA. Hasil yang dibandingkan adalah perilaku lentur balok yaitu kapasitas beban lentur, daktilitas, kekakuan, penyerapan energi, dan pola keretakan pada balok. Penelitian ini menggunakan 17 benda uji yaitu CB (balok tanpa perkuatan), SB1 (balok dengan perkuatan SWR), SB2 (balok dengan perkuatan SWR dan tulangan tekan) SB1-4D8 (Balok dengan perkuatan SWR diameter 8 mm), SB2-4D8 (Balok dengan perkuatan SWR diameter 8 mm dan tulangan tekan), SB1-4D12 (Balok dengan perkuatan SWR diameter 12 mm), SB2-4D12 (Balok dengan perkuatan SWR diameter 12 mm dan tulangan tekan), SB1-35 (Balok perkuatan satu dengan mutu layer mortar 35 MPa), SB2-35 (Balok perkuatan dua dengan mutu layer mortar 35 MPa), SB1-65 (Balok perkuatan satu dengan mutu layer mortar 65 MPa), SB2-65 (Balok perkuatan dua dengan mutu layer mortar 65 MPa), CB-17,5 (Balok tanpa perkuatan dengan kuat tekan beton 17,5 MPa), CB-60 (Balok tanpa perkuatan dengan kuat tekan 60 MPa), SB1-17,5 (Balok perkuatan satu dengan kuat tekan 17,5 MPa), SB2-17,5 (Balok perkuatan dua dengan kuat tekan 17,5 Mpa), SB1-60 (Balok perkuatan satu dengan kuat tekan 60 MPa) dan SB2- 60 (Balok perkuatan dua dengan kuat tekan 60 MPa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi perlakuan pada benda uji dapat meningkatkan kapasitas beban lentur, daktilitas ultimit, kekakuan awal, dan penyerapan energi tetapi mengalami penurunan daktilitas ultimit dan failure. Pola keretakan yang terjadi secara umum adalah kombinasi retak lentur geser. Pada variasi diameter SWR, penggunaan material SWR berdampak paling signifikan pada peningkatan kapasitas beban lenturnya hingga 217% pada benda uji SB2-4D12.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Structural failure is caused by various factors, one of which is changes in the function of the building and increased loads. Structural failure can cause a building to collapse. One way to prevent damage is to reinforce the structure to strengthen old structural elements that no longer meet requirements, one of which is by reinforcing the negative moment area using steel wire rope and compression reinforcement. Structural reinforcement with steel wire rope is expected to improve the structural performance of T-shaped reinforced concrete beams. This study aims to develop experimental research that has been conducted with parametric studies to determine the effect of treatment variations on test objects, including steel wire rope diameter, mortar layer quality, and concrete compressive strength using a finite element approach using ATENA software. The results compared were the flexural behavior of the beams, namely flexural load capacity, ductility, stiffness, energy absorption, and crack patterns in the beams. This study used seventeen test specimens, namely CB (unstrengthened beam), SB1 (strengthened beam with SWR reinforcement), SB2 (strengthened beam with SWR reinforcement and compression reinforcement) SB1-4D8 (strengthened beam one with 8 mm diameter SWR reinforcement), SB2-4D8 (strengthened beam two with 8 mm diameter SWR reinforcement and compression reinforcement), SB1-4D12 (strengthened beam one with 12 mm diameter SWR reinforcement), SB2-4D12 (strengthened beam two with 12 mm diameter SWR reinforcement and compression reinforcement), SB1-35 (strengthened beam one with mortar layer strength of 35 MPa), SB2-35 (strengthened beam two with mortar layer strength of 35 MPa), SB1-65 (strengthened beam one with mortar layer strength of 65 MPa), SB2-65 (strengthened beam two with mortar layer strength of 65 MPa), CB-17.5 (unstrengthened beam with concrete compressive strength of 17.5 MPa), CB-60 (unstrengthened beam with compressive strength of 60 MPa), SB1-17.5 (strengthened beam one with compressive strength of 17.5 MPa), SB2-17.5 (strengthened beam two with compressive strength of 17.5 MPa), SB1-60 (strengthened beam one with compressive strength of 60 MPa) and SB2-60 (strengthened beam two with compressive strength of 60 MPa). The results showed that variations in the treatment of the test specimens could increase the flexural load capacity, ultimate ductility, initial stiffness, and energy absorption but resulted in a decrease in ultimate ductility and failure. The fracture pattern that occurred in general was a combination of shear flexural cracks. In the SWR diameter variation, the use of SWR material had the most significant impact on increasing the flexural load capacity by up to 217% in the SB2-4D12 test specimen.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save