Home
Login.
Artikelilmiahs
49234
Update
FARHAN MARCELENO
NIM
Judul Artikel
BENTUK DAN PERUBAHAN MAKNA SHOURYAKUGO PADA LINGKUNGAN KERJA DI SHIGA PALACE HOTEL PREFEKTUR NAGANO, JEPANG: KAJIAN MORFOSEMANTIK
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini mengkaji struktur morfologis dan perubahan makna shouryakugo (kata singkatan dalam bahasa Jepang) yang digunakan dalam komunikasi kerja di Shiga Palace Hotel, Prefektur Nagano, Jepang. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara, lalu dianalisis berdasarkan klasifikasi morfologis dari Nakayama dan teori semantik dari Shibatani. Dari 61 data leksikal yang ditemukan, terdapat enam tipe struktur shouryakugo: Zenbu Shouryaku Kei (5 data), Gobu Shouryaku Kei (16), Chuu Shouryaku Kei (14), Zengo Shouryaku Kei (6), Kousei Youso Tanbun Ketsugou Kei (17), dan Rōmaji Shouryaku (4). Secara semantik, 35 kosakata mengalami perubahan makna, meliputi perluasan (1), penyempitan (2), perubahan total (2), dan peyorasi (30); sedangkan 23 lainnya tidak mengalami perubahan. Temuan ini menunjukkan bahwa shouryakugo dalam konteks profesional tidak hanya mencerminkan efisiensi berbahasa, tetapi juga mengalami evolusi makna yang dinamis seiring dengan konteks penggunaannya di lingkungan kerja.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This study investigates the morphological structures and semantic changes of shouryakugo (Japanese clipped words) used in workplace communication at Shiga Palace Hotel, Nagano, Japan. Employing a qualitative descriptive method, data were collected through participant observation and interviews, and analyzed using Nakayama’s morphological classification and Shibatani’s semantic theory. From 61 lexical items identified, 6 structural types of shouryakugo were found: Zenbu Shouryaku Kei (5), Gobu Shouryaku Kei (16), Chuu Shouryaku Kei (14), Zengo Shouryaku Kei (6), Kousei Youso Tanbun Ketsugou Kei (17), and Rōmaji Shouryaku (4). Semantically, 35 words underwent meaning shifts comprising broadening (1), narrowing (2), total shift (2), and pejoration (30) while 23 retained their original meanings. These findings highlight not only the linguistic efficiency of shouryakugo in professional settings but also reveal its dynamic semantic evolution shaped by contextual usage in workplace interactions.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save