Home
Login.
Artikelilmiahs
34247
Update
NAUFAL FIKRI REVORA
NIM
Judul Artikel
UJI PERFORMANSI IMPLEMEN PENCABUT BATANG JAGUNG
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penanaman jagung di lahan meninggalkan limbah yang salah satunya adalah limbah batang jagung. Pada saat ini proses pencabutan batang jagung masih bersifat konvensional yang mana pada prosesnya dilapangan masih membutuhkan waktu yang lama, membutuhkan tenaga yang besar, dan biaya yang dikeluarkan untuk upah tenaga kerja sangat mahal. Teknologi pencabut batang jagung sekarang masih menggunakan alat Tradisional seperti sabit dan parang, dengan cara memotong satu persatu batang jagung tersebut dan masih meninggalkan limbah karena tanaman jagung tidak tercabut dari akarya sehingga masih harus dilanjutkan menggunakan cangkul untuk mencabut sampai ke akarnya. Karenanya diperlukan suatu alat mekanis yang dapat mencabut batang jagung dengan aman, mudah, cepat, dan mudah untuk dioperasikan oleh para petani. Penelitian ini dilakukan dengan maksud dan tujuan menguji performansi implement pencabut batang jagung. Implemen pencabut yang digunakan pada penelitian ini adalah tipe pencabut alur ganda yang merupakan hasil desain Bimantara et al (2020). Penelitian dilaksanakan pada lahan jagung yang berada di karangwangkal, Purwokerto Utara. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan survey terlebih dahulu pada lahan jagung dengan mengamati karkteristik tanaman jagung dan juga kondisi yang ada pada lahan, setelah itu dilakukan perancangan dan pembuatan prototipe implemen pencabut batang jagung tipe alur ganda dibuat di bengkel Karya Mulya yang bertempat di Karanglewas, Purwokerto barat. Proses uji performansi implemen pencabut batang jagung dilakukan dengan mengukukur kapasitas lapang efektif, kapasitas lapang teoritis, efisiensi kerja, slip roda, kinerja implemen dan mengambil data sifat fisik tanah yang ada di lahan jagung. Proses pencabutan batang jagung menggunakan implemen pada luas lahan satu hektar memperoleh waktu kerja yang lebih efisien dibandingkan pencabutan menggunakan teknologi konvensional yang memakan waktu 25 hari kerja atau setara 200 jam, dimana pada kedalaman pencabutan 5 cm sebesar 47,16 jam, kedalaman 10 cm sebesar 64,93 jam, dan kedalaman 15 cm sebesar 90 jam. x Kinerja implemen pencabut batang jagung dilahan menghasilkan persentase jumlah batang jagung tidak tercabut terbesar pada kedalaman pencabutan 15 cm sebesar 60,6 % dari 145 buah batang jagung pada luas lahan 0,00367 ha. Persentase jumlah batang jagung yang rusak akibat pencabutan terbesar pada kedalaman 10 cm sebesar 43% dari 139 buah batang jagung pada luas lahan 0,00375 ha, dan persentase batang jagung yang tercabut terbesar didapatkan pada kedalaman pencabutan 5 cm yaitu sebesar 20,6 % dari 145 buah batang jagung pada luas lahan 0,00366 ha.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Planting corn on land leaves waste, one of which is corn stalk waste. At this time the corn stalk removal process is still conventional which in the field process still takes a long time, requires a lot of energy, and the costs incurred for labor are very expensive. The technology of removing corn stalks is still using traditional tools such as sickles and machetes, by cutting the corn stalks one by one and still leaving waste because the corn plant is not pulled out of the root so you still have to continue using a hoe to pull out the roots. Therefore we need a mechanical device that can remove corn stalks safely, easily, quickly, and easily to be operated by farmers. This research was conducted with the intent and purpose of testing the performance of the corn stalk remover implement. The pulling implement used in this study is a double groove puller type which is the result of the design of Bimantara et al (2020). The research was carried out on a corn field located in Karangwangkal, North Purwokerto. This research was carried out by conducting a survey first on the corn field by observing the characteristics of the corn plant and also the conditions that existed on the land, after that the design and manufacture of a prototype of the double groove type corn stalk puller was made at the Karya Mulya workshop located in Karanglewas, West Purwokerto. . The process of testing the performance of the implementation of the corn stalk remover was carried out by measuring the effective field capacity, theoretical field capacity, work efficiency, wheel slip, implementation performance and taking data on the physical properties of the soil in the corn field. The process of removing corn stalks using an implement on an area of one hectare obtains a more efficient working time than the extraction using conventional technology which takes 25 working days or the equivalent of 200 hours, where at a depth of 5 cm retraction is 47.16 hours, a depth of 10 cm is 64. .93 hours, and a depth of 15 cm is 90 hours. xii The performance of the implementation of corn stalk removal in the field resulted in the largest percentage of unpulled corn stalks at a extraction depth of 15 cm by 60.6% from 145 corn stalks on a land area of 0.00367 ha. The highest percentage of maize stalks damaged by retraction was at a depth of 10 cm by 43% of 139 maize stalks on a land area of 0.00375 ha, and the largest percentage of maize stalks that were uprooted was found at a depth of 5 cm retraction, which was 20.6% from 145 corn stalks on a land area of 0.00366 ha.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save