Artikel Ilmiah : F1A006076 a.n. KUKUH SUKMANA HASAN SURYA

Kembali Update Delete

NIMF1A006076
NamamhsKUKUH SUKMANA HASAN SURYA
Judul ArtikelSTUDI TENTANG EKSISTENSI EBEG DI TENGAH MENINGKATNYA RELEGIUSITAS MASYARAKAT DI PURWOKERTO TIMUR
Abstrak (Bhs. Indonesia)Kesenian ebeg merupakan bentuk seni tari tradisional berbentuk kelompok yang dimiliki oleh Budaya Banyumas. Kesenian ebeg berkembang pesat di Banyumas khususnya Purwokerto. Kesenian ini memiliki unsur-unsur dasar pada nilai-nilai filosofis kehidupan yang membangun sehingga dapat dikatakan sebagai Budaya Banyumasan yang patut dilestarikan. Seiring perkembangan zaman dan makin meningkatnya tingkat religiusitas masyarakat, kelompok kesenian ebeg di Purwokerto mengalami penurunan baik secara kualitas maupun kuantitas kelompok kesenian ini. Keadaan tersebeut menjadikan eksistensi kelompok kesenian ebeg di wilayahnya sendiri terancam, oleh karena itu upaya regenerasi dari setiap kelompok diperlukan agar dapat mempertahankan keberadaan kelompok ebeg di Purwokerto.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Lokasi penelitiannya adalah di Purwokerto Timur Kabupaten Banyumas. Sasaran utama penelitian ini adalah Ketua Kelompok Kesenian Ebeg Janur, Ketua Kelompok Kesenian Ebeg Turonggo Aji Sembaran, Tokoh Organisasi Massa Muhammadiyah dan Tokoh Organisasi Massa Nahdlatul Ulama yang berada di Purwokerto Timur serta pemerhati dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Banyumas. Jenis data yang dipakai adalah data dari lapangan melalui observasi dan wawancara langsung yang didukung dengan pedoman wawancara, pengamatan, maupun dokumentasi gambar dari informan. Teknik analisis data yang dipakai adalah model analisis interaktif.
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa eksistensi kelompok kesenian ebeg dan terkait pementasannya menurun secara signifikan bukanlah dikarenakan adanya benturan dari ajaran agama Islam namun dikarenakan faktor eksternal yaitu melalui penonton, pembuat acara, pemerintah daerah dan juga sulitnya mendapatkan perizinan dari pihak Kepolisian. Upaya regenerasi setiap kelompok ebeg melalui keturunan, memodifikasi bentuk kelompok ebeg menjadi sanggar seni dan mengajak warga sekitar lingkungan kelompok ebeg yang berminat menjadi anggota kelompok dengan cara mengikuti latihan dan menjalani tirakat kejawen yang berhubungan dengan ritual-ritual yang ada relevansinya dengan pementasan ebeg.
Kesimpulan dari penelitian ini, yaitu eksistensi kesenian ebeg di tengah meningkatnya relegiusitas ke-Islaman masyarakat di Purwokerto Timur pada hakikatnya masih tetap ada dan Terkait dengan ritual-ritual dalam fase persiapan dan dalam fase pementasannya, para penggiat ebeg masih menggunakannya ritual-ritual kejawen, sehingga dalam hal ini unsur-unsur budaya banyumasan yang terkandung di dalamnya masih tetap dijunjung tinggi oleh para penggiat kesenian ebeg. Untuk upaya regenerasinya proses enkulturasi masih menjadi andalan dalam proses regenerasi, meskipun terdapat cara lain yaitu dengan cara memodifikasi kelompok kesenian ebeg menjadi sanggar seni yang mencakup tidak hanya tarian ebeg saja.
Abtrak (Bhs. Inggris)Culture is a form of art ebeg a traditional dance group owned by cultural Banyumas. Artistry ebeg thrived on Banyumas particularly navan. This culture has basic elements on values of the building and be considered as a cultural banyumasan should be preserved. Over the development and the increasing level of society, religiousness the artistic ebeg in Purwokerto decline both in quality and quantity of arts. The art of making existence tersebeut ebeg on his own will, hence the regeneration of all the necessary in order to maintain the group ebeg in Purwokerto.
This research in a qualitative studies descriptive. The research is in the eastern counties Banyumas navan. Main target of this research is chairman of the artistic ebegJanur, chairman of the artistic ebeg Turonggo Aji Sembaran, the leaders of Muhammadiyah and Nahdlatul ulama mass organization figures in purwokerto east as well as experts from the dept. of cultural district banyumas. A kind of data that they are based on field through direct observation and interviews that is supported with guidelines interview observation, as well as the images from the informant. Engineering analysis of data used is the model interactive.
The result of this research showed that existence art group ebeg and related pementasannya declined significantly is not due to the impact of islamic religious doctrine but because external factors, namely through the audience the event local governments and also difficulty to obtain a license from the police.
Morein regeneration ebeg with heredity, every group modify the group ebeg into art houses and ask citizens about environmental groups ebeg interested to become members of the group by means of following training and undergo tirakat kejawen relating to the rituals its relevance by staging ebeg.
Conclusions from these studies, the existence of ebeg amid growing public Islamic relegiusity in Purwokerto east on virtually still exists and related to the rituals in the preparation phase in phases, and staging investors still use ebeg kejawen rituals, so, in this case the cultural banyumasan contained therein still firmly held by perpetrators of ebeg. To attempt his own regeneration enculturation process remains a mainstay for regeneration, though there ' s another way is by means of ebeg to modify the art houses which includes not only dance ebeg.
Kata kunciEksistensi Ebeg di Purwokerto Timur
Pembimbing 1Dra. Tri Rini Widyastuti M.Si
Pembimbing 2Dra. Mintarti M.Si
Pembimbing 3Sulyana Dadan M.A
Tahun2013
Jumlah Halaman90
Tgl. Entri(belum diset)
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.