Artikel Ilmiah : F1D006055 a.n. MUNAWAR

Kembali Update Delete

NIMF1D006055
NamamhsMUNAWAR
Judul ArtikelINTERAKSI AKTOR DALAM IMPLEMENTASI PERDA NOMOR 2
TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN WONOSOBO TAHUN 2011-2031
(Studi Kasus Di Desa Sikunang Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo)
Abstrak (Bhs. Indonesia)Penelitian ini berjudul Interaksi Aktor Dalam Implementasi PERDA Kabupaten Wonosobo No 2 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Wonosobo 2011-2031 (Studi Kasus Di Desa Sikunang Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo). Implementasi perda tersebut lintas sektoral sehingga peneliti begitu tertarik.
Tujuan dari penelitin ini untuk memahami Interaksi yang dilakukan oleh para aktor di lingkup instansi pemerintahan Kabupaten Wonosobo Khusunya Desa Sikunang yang termasuk dalam Perda No 2 tahun 2011 sebagai kawasan lindung Kabupaten Wonosobo. Metode penelitian yang digunakan adalah Metode penelitian kualitatif merupakan sebuah prosedur penelitian yang mengambil data berupa kata – kata tertulis ataupun lisan dari orang – orang dan perilaku yang dapat diamati. Sedangkan pendekatan yang digunakan untuk mendukung penelitian ini adalah pendekatan fenomenologi, sebagai sebuah pendekatan fenomenologi adalah Studi yang ditujukan untuk mengungkap proses interpretasi yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari atau Tindakan manusia, ucapan dan segala sesuatu yang dilakukan atau dikerjakan merupakan hasil dari bagaimana ia mendefinisikan dunia di sekitarnya. Metode dan pendekatan ini digunakan untuk mengungkap fenomena sosial yang terjadi di tengah masyarakat tersebut dan mendeskripsikannya kedalam hasil penelitian.
Penelitian dilakukan di Desa Sikunang Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa Kebijakan Perencanaan Tata Ruang Wilayah, dalam proses perencanaannya belum sepenuhnya melibatkan stakeholders termasuk masyarakat dan belum memprioritaskan pengelolaan kawasan lindung, implementasinya menunjukkan bahwa kebijakan tersebut belum efektif, karena hasil yang diharapkan belum tercapai dan belum mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi di lapangan. Penelitian ini juga menguak faktor-faktor yang mendukung keberhasilan Perda No 2 tahun 2011 yang antusias dalam menyambut kebijakan ini, warga desa juga menginginkan solusi dari pemerintah yang mampu meng akomodir aspirasi warga. Beberapa Faktor penghambat seperti belum optimalnya imlementasi kebijakan, kurangnya kesepahaman antar setakeholdes dalam roses implementasi kurangnya kerjasama antar instansi. Terhadap pentingnya penataan ruang yang sangat memerlukan penyelenggaraan penataan ruang yang transparan, efektif, dan partisipatif, agar terwujud ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Disamping perlu pula untuk diketahui lebih lanjut interaksi aktor tersebut mempunyai posisi penting dibagian implementasi kebijakan, interaksi aktor ini mempengaruhi koordinasi antar instansi dan stakeholders. Koordinasi adalah proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan dari satuan yang terpisah (unit-unit atau bagian-bagian) suatu instansi untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien. Tanpa koordinasi individu-individu dan bagian-bagian akan kehilangan pandangan tentang peran mereka dalam organisasi, mereka akan mengejar kepentingannya masing-masing yang khas.
Abtrak (Bhs. Inggris)The study is titled Implementation PERDA interaction Actor In Wonosobo District No 2 of 2011 On Spatial Planning Wonosobo regency 2011-2031 (Case Study in Rural Sub Sikunang Kejajar Wonosobo regency). Implementation of the regulations across sectors so that researchers are so interested. The purpose of this research is to understand the interactions performed by the actors in the scope of Wonosobo regency government agencies Sikunang Especially Villages included in Regulation No 2 of 2011 as a protected area Wonosobo regency. The research method used was a qualitative research method is a research procedure that takes data form words - written or spoken words of people - men and observable behavior.
The study was conducted in the Village Sikunang District Kejajar Wonosobo Based on the results, the obtained results that the Spatial Planning Policy, the planning process has not been fully involve stakeholders including the public and has not prioritized the management of protected areas, implementation shows that the policy has not been effective, because the expected results have not been achieved and have not been able to solve the problems that occur in the field. This study also reveals the factors that support the success of Bylaw No 2 of 2011 is enthusiastic in welcoming this policy, the villagers also wanted a solution that is capable of clicking the government accommodated the aspirations of citizens. Some factors inhibiting such implementation not optimal policies, the lack of understanding between the roses implementation stakeholders lack of interagency cooperation. The importance of spatial organization that is in need of a transparent spatial planning, effective, and participatory, in order to realize a safe, comfortable, productive, and sustainable. Besides, it is also necessary to know more about the actor interactions have important positions section of policy implementation, the actor interactions affect coordination among agencies and stakeholders. Coordination is the process of integrating the objectives and activities of separate units (the units or parts) of an agency to achieve organizational goals efficiently. Without the coordination of individuals and the parts will lose sight of their role in the organization, they will pursue their own interests are typical.
Kata kunciRencana Tata Ruang Wilayah, Alih Fungsi Lahan, dan Aktor Kebijakan
Pembimbing 1Okatafiani Catur P, S.IP.,MA.
Pembimbing 2Drs. M. Soebiantoro, M.Si
Pembimbing 3Drs. Bambang Suswanto, M.Si
Tahun2013
Jumlah Halaman23
Tgl. Entri(belum diset)
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.