Artikel Ilmiah : A1D022126 a.n. MUHAMAD RIDHO HARITS

Kembali Update Delete

NIMA1D022126
NamamhsMUHAMAD RIDHO HARITS
Judul ArtikelEFEKTIVITAS REFUGIA BERBUNGA DAN FREKUENSI APLIKASI JAMUR ENTOMOPATOGEN Lecanicillium saksenae DALAM MENGENDALIKAN HAMA Diaphania sp. PADA TANAMAN MELON (Cucumis melo L.)
Abstrak (Bhs. Indonesia)Melon (Cucumis melo L.) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi
yang produksinya dapat terganggu oleh serangan hama Diaphania sp. Penelitian dilaksanakan
pada Desember 2025 sampai Juni 2026 di Desa Pasir Kulon, Kecamatan Karanglewas,
Kabupaten Banyumas menggunakan pola petak tersarang dengan dua faktor dan tiga ulangan.
Faktor sarang berupa tanaman kenikir (Cosmos sulphureus), kertas merah (Zinnia sp.), pukul
delapan (Turnera subulata), dan kencana ungu (Ruellia tuberosa L.), sedangkan faktor
tersarang berupa frekuensi aplikasi Lecanicillium saksenae, yaitu setiap 3 hari, 6 hari, dan
aplikasi insektisida. Data dianalisis menggunakan ANOVA taraf 5% dan dilanjutkan DMRT
apabila terdapat perbedaan nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa refugia berbunga,
terutama kencana ungu, mampu menekan populasi Diaphania sp. dengan populasi terendah
sebesar 1,00; 0,67; dan 0,83 individu pada 5, 6, dan 7 MST serta intensitas serangan terendah
6,02% pada 6 MST. Refugia juga mendukung keberadaan musuh alami, yaitu Thomisus sp.,
Coccinella sp., dan Dolichoderus sp., serta memberikan bobot buah tertinggi pada perlakuan
pukul delapan sebesar 1.351,00 gram. Aplikasi L. saksenae belum menunjukkan hasil yang
konsisten dalam menekan populasi dan intensitas serangan Diaphania sp. maupun musuh alami,
sedangkan insektisida menghasilkan intensitas serangan terendah pada 5 dan 6 MST, masing-
masing sebesar 5,56% dan 27,78%.
Abtrak (Bhs. Inggris)Melon (Cucumis melo L.) is a high-value horticultural commodity whose production can
be affected by attacks of Diaphania sp. This study was conducted from December 2025 to June
2026 in Pasir Kulon Village, Karanglewas District, Banyumas Regency, using a nested plot
design with two factors and three replications. The nesting factor consisted of flowering refugia,
namely kenikir (Cosmos sulphureus), kertas merah (Zinnia sp.), pukul delapan (Turnera
subulata), and kencana ungu (Ruellia tuberosa L.), while the nested factor consisted of
Lecanicillium saksenae application frequencies, namely every 3 days, every 6 days, and
insecticide application. Data were analyzed using ANOVA at the 5% significance level and
followed by DMRT when significant differences were detected. The results showed that
flowering refugia, particularly purple kencana, suppressed the population of Diaphania sp.,
with the lowest populations of 1.00, 0.67, and 0.83 individuals at 5, 6, and 7 weeks after
planting (WAP), respectively, and the lowest attack intensity of 6.02% at 6 WAP. Flowering
refugia also supported the presence of natural enemies, including Thomisus sp., Coccinella sp.,
and Dolichoderus sp., and resulted in the highest melon fruit weight in the pukul delapan
treatment at 1,351.00 g. The application of L. saksenae did not consistently suppress the
population and attack intensity of Diaphania sp. or natural enemies, whereas insecticide
application resulted in the lowest attack intensity at 5 and 6 WAP, at 5.56% and 27.78%,
respectively.
Kata kunci Melon, Diaphania sp., refugia berbunga, Lecanicillium saksenae, musuh alami
Pembimbing 1Dr. Ir. Endang Warih Minarni, M.P.
Pembimbing 2Dr. Ir. Rostaman, M.Si.
Pembimbing 3-
Tahun2026
Jumlah Halaman20
Tgl. Entri2026-10-20 10:06:58.11219
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.