Artikel Ilmiah : I4D025031 a.n. SAMIA SAHAL BAWAZIR
| NIM | I4D025031 |
|---|---|
| Namamhs | SAMIA SAHAL BAWAZIR |
| Judul Artikel | Asuhan Gizi Pasien Vomitus Frekuen, Dehidrasi Sedang Ec Low Intake, Obs Dyspnea dengan Tuberculosis dan HIV |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Komplikasi infeksi Tuberkulosis dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan kondisi yang saling memperberat dan berkontribusi terhadap terjadinya malnutrisi melalui mekanisme inflamasi kronis, peningkatan kebutuhan metabolic, gangguan absorpsi zat gizi, serta penurunan asupan makan. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan proses asuhan gizi pada pasien TB dan HIV dengan malnutrisi berat serta mengevaluasi efektivitas intervensi gizi terhadap perbaikan asupan dan kondisi klinis pasien. Subjek merupakan pasien laki – laki berusia 62 tahun dengan diagnosis medis Vomitus Frekuen, dehidrasi sedang ec Low Intake, Obs Dyspnea dengan Tuberkulosis dan HIV disertai oral candidiasis yang menyebabkan pasien mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Asuhan gizi dilakukan menggunakan pendekatan Nutrition Care Process (NCP) yang meliputi asesmen, diagnosis, intervensi, dan monitoring dan evaluasi selama empat hari. Kebutuhan gizi mengacu pada ESPEN Guideline on Clinical Nutrition in HIV patient (2025) dan pedoman PERSAGI & AsDI (2019). Skrining gizi menggunakan Mini Nutritional Asessment – Short Form (MNA – SF) menghasilkan skor 4, dilanjutkan menggunakan MNA – LF sebagai Asessment Tools (AT) dan didapatkan skor sebesar 10,5 yang mengindikasikan malnutrisi. Status gizi pasien tergolong dalam kategori gizi buruk berdasarkan %LLA dan lingkar betis. Intervensi gizi yang diberikan meliputi diet Tinggi Energi Tinggi Protein (TETP), modifikasi tekstur makanan sesuai kemampuan pasien, pemberian formula enteral tinggi protein, dan edukasi gizi kepada keluarga. Setelah empat hari intervesi, tingkat kecukupan energi meningkat dari 44,1% menjadi 83%, sedangkan kecukupan karbohidrat meningkat hinga 99,5%. Asupan protein dan lemak juga mengalami peningkatan meskipun belum mencapai 60% dari kebutuhan. Selain itu, terjadi perbaikan bertahap pada keluhan yang dirasakan pasien. Penerapan asuhan gizi terstandar pada pasien TB dan HIV dengan malnutrisi mampu meningkatkan asupan energi dan zat gizi serta memperbaiki kondisi klinis pasien. Namun, diperlukan intervensi dan pemantauan gizi lebih lanjut untuk mendukung proses pemulihan pasien. |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Tuberculosis (TB) and Human Immunodeficiency Virus (HIV) creates a mutually exacerbating condition that contributes to malnutrition through mechanisms such as chronic inflammation, increased metabolic demands, impaired nutrient absorption, and reduced food intake. This article aims to describe the nutrition care process for a patient with TB, HIV, and severe malnutrition, and to evaluate the effectiveness of nutritional interventions in improving the patient's intake and clinical condition. The subject was a 62-year-old male diagnosed with frequent vomiting, moderate dehydration due to low intake, and dyspnea associated with TB and HIV, also presented with oral candidiasis, which caused difficulties in chewing and swallowing. Nutrition care was administered using the Nutrition Care Process (NCP) approach comprising assessment, diagnosis, intervention, and monitoring and evaluation over a four day period. Nutritional requirements were determined based on the ESPEN Guideline on Clinical Nutrition in HIV Patients (2025) and guidelines from PERSAGI & AsDI (2019). Nutritional screening using the Mini Nutritional Assessment – Short Form (MNA-SF) yielded a score of 4, a subsequent assessment using the MNA – Long Form (MNA-LF) resulted in a score of 10.5, indicating malnutrition. The patient's nutritional status was classified as severe malnutrition based on Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) and calf circumference measurements. Nutritional interventions included a High Energy High Protein diet, food texture modification tailored to the patient's capabilities, administration of a high-protein enteral formula, and nutritional education for the family. After four days of intervention, energy intake adequacy rose from 44.1% to 83%, while carbohydrate intake adequacy increased to 99.5%. Protein and fat intake also improved, although they remained below 60% of the required levels. Additionally, there was a gradual improvement in the patient's reported symptoms. Implementing standardized nutrition care for patients with TB, HIV, and malnutrition can effectively increase energy and nutrient intake and improve clinical outcomes. However, further nutritional intervention and monitoring are required to support the patient's recovery process. |
| Kata kunci | Asuhan Gizi; Malnutrisi; Tuberkulosis; HIV; Diet TETP |
| Pembimbing 1 | Hiya Alfi Rahmah, S.Gz., M.P.H., RD |
| Pembimbing 2 | Izzati Nur Khoiriani, S.Gz., M.P.H., Dietisien |
| Pembimbing 3 | - |
| Tahun | 2026 |
| Jumlah Halaman | 11 |
| Tgl. Entri | 2026-10-12 19:43:18.101442 |