Artikel Ilmiah : P2PA10007 a.n. NINA HERLINA

Kembali Update Delete

NIMP2PA10007
NamamhsNINA HERLINA
Judul ArtikelPOTENSI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN TUMBUHAN OBAT PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG TILU DI DESA JABRANTI KECAMATAN KARANGKANCANA KABUPATEN KUNINGAN
Abstrak (Bhs. Indonesia)NINA HERLINA, Program Studi Ilmu Lingkungan-Program Pascasarjana, Universitas Jenderal Soedirman, Potensi dan Strategi Pengembangan Tumbuhan Obat pada Kawasan Hutan Lindung Gunung Tilu di Desa Jabranti Kecamatan Karangkancana Kabupaten Kuningan, Komisi Pembimbing, Pembimbing I Prof. Dr. Hj. Triani Hardiyati, S.U., Pembimbing II Dr.rer.nat. Moh. Husein Sastranegara, M.Si.
Masyarakat Desa Jabranti Kecamatan Karangkancana Kabupaten Kuningan sudah terbiasa mengambil dan menjual bahan baku tumbuhan obat. Apabila kondisi ini terus berlangsung tanpa upaya konservasi, maka jumlah spesies dan individu tumbuhan obat akan menurun.
Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi potensi tumbuhan obat di kawasan hutan Gunung Tilu dan merumuskan strategi yang tepat dalam upaya pengembangan tumbuhan obat di Desa Jabranti. Data pengambilan potensi abiotik adalah ketinggian tempat, sedangkan potensi biotik adalah spesies yang dilindungi (Red List IUCN). Metode analisis vegetasi adalah metode petak ganda dengan bentuk petak sampel bujur sangkar, sedangkan metode pengumpulan data sosial budaya berupa persepsi masyarakat dengan wawancara mendalam. Analisis strategi pengembangan tumbuhan obat menggunakan analisis SWOT.
Hasil penelitian potensi Hutan Lindung Gunung Tilu menunjukkan bahwa 59 spesies tumbuhan obat dari 108 spesies ditemukan. Pada ketinggian 500-700 mdpl dan 700-900 mdpl, Alstonia scholaris yang dikategorikan ke dalam status Lower Risk/Least Concern versi 2.3. (tingkat kelangkaan IUCN Red List) ditemukan dan berpotensi untuk penangkaran secara ex situ. Pada semua ketinggian tempat antara 500-700 mdpl, 700-900 mdpl, dan 900-1.150 mdpl, Cinnamomum sintoc (INP sebesar 17,5%, 24,14%, dan 31,51%) ditemukan dan berpotensi untuk pembuatan jamu tradisional. Oleh karena itu, Gunung Tilu merupakan sumber tumbuhan obat yang tersedia banyak dan berprospek tinggi untuk dikembangkan dengan cara penangkaran secara ex situ dan pembuatan jamu tradisional. Pembuatan jamu tradisional dapat meningkatkan perekonomian dan dikelola secara berkelompok. Eksploitasinya diharapkan tidak berlebihan karena akan mengakibatkan kerusakan habitat. Persepsi lain dari masyarakat bahwa tumbuhan obat berguna untuk kayu bakar.
Strategi yang diusulkan untuk pengembangan tumbuhan obat di Desa Jabranti Kecamatan Karangkancana Kabupaten Kuningan adalah pengadaan pelatihan dan pembuatan penangkaran tumbuhan obat secara ex situ dengan berkoordinasi antara pihak Perhutani dan pihak Dinas Kehutanan dan Perkebunan. Strategi selanjutnya adalah pengadaan kerjasama pembuatan jamu tradisional dengan berkoordinasi antara pihak perguruan tinggi dan pihak perbankan.
Abtrak (Bhs. Inggris)NINA HERLINA, The Environmental Sciences Study Program, Post-Graduate Program, Jenderal Soedirman University. Developmental Strategy and Potency Herb at Gunung Tilu Preservation Forest in Jabranti Village Karangkancana District Kuningan Regency. The Supervisor Prof. Dr. Hj. Triani Hardiyati, S.U., Co-supervisor Dr.rer.nat. Moh. Husein Sastranegara, M.Si.
People in Jabranti Village Karangkancana District Kuningan Regency used to pick and sell herb. If this condition keeps on going without any conservation, so the number of species and herb will decrease.
The research aims to identify the potential herb in Gunung Tilu preservation forest and formulate an appropriate strategy to develop herb in Jabranti Village. The abiotic data was height of the place, whereas the potential biotic were protected species (Red List IUCN). The vegetation analysis method was double square method with the shape of a square, whereas the social and cultural data sampling method was people’s perception and in-depth interview. The analysis of herb of herb developing strategy used SWOT analysis.
The research of potential herb in Gunung Tilu preservation forest showed that there were 59 herb species out of 108 species found. In the height of 500-700 mdpl (metre above sea level) and 700-900 mdpl, Alstonia scholaris which was categorized as Lower Risk/Least Concern version 2,3 (The rarity IUCN Red List) was found and it could be potentially bred in ex situ way. In all heights 500-700 mdpl, 700-900 mdpl, and 900-1,150 mdpl, Cinnamomum sintoc (INP was 17.5%, 24.14%, and 31.51%) was found and it could be potentially used in traditional herb medicine (jamu). Thus, Gunung Tilu is a source of abundant herb and it has high prospect to be developed by using ex situ way and the production of traditional herb medicine. The production can increase villager’s income and it can be managed in group. Its over-exloitation was not meant to be because it can destruct the habitat. Other perception which comes from its surrounding is that herb could be used as firewood.
The proposed strategy to develop the herb in Jabranti Village Karangkancana District Kuningan Regency is by giving training and making ex situ plant breeding through coordination between the Kuningan State Forest Corporation and the Plantation and Forest Service. The next strategy is making cooperation with traditional herb medicine producers by coordinating between academic institution and banking.
Kata kuncitumbuhan obat
Pembimbing 1Prof. dr. Hj. Triani Hardiyati, S.U
Pembimbing 2Dr.rer.nat. Moh. Husein Sastranegara, M.Si
Pembimbing 3
Tahun2013
Jumlah Halaman12
Tgl. Entri(belum diset)
Cetak Bukti Unggah
© Universitas Jenderal Soedirman 2026 All rights reserved.