Artikel Ilmiah : J1A022021 a.n. BUNGA DWINURRAHMA
| NIM | J1A022021 |
|---|---|
| Namamhs | BUNGA DWINURRAHMA |
| Judul Artikel | SUBTITLING STRATEGIES AND THE ACCEPTABILITY OF POLITENESS IN THE QUEEN CHARLOTTE: A BRIDGERTON STORY SERIES |
| Abstrak (Bhs. Indonesia) | Subtitle merupakan salah satu bentuk penerjemahan audiovisual yang memungkinkan penonton memahami dialog dalam bahasa asing dengan tetap mempertahankan audio asli dan penampilan para aktor. Namun, penerjemah harus menghadapi berbagai kendala teknis, tekstual, dan linguistik, sekaligus memastikan bahwa dialog yang diterjemahkan tetap akurat, mudah dipahami, dan berterima secara budaya. Permasalahan ini menjadi semakin penting ketika menerjemahkan kesantunan karena ungkapan penghormatan, jarak sosial, dan hierarki sangat dipengaruhi oleh norma masyarakat serta konteks penggunaannya. Queen Charlotte: A Bridgerton Story menyediakan konteks yang khas untuk mengkaji kesantunan karena latar kerajaan dalam serial tersebut mencerminkan hubungan sosial yang formal, struktur hierarkis, serta nilai-nilai historis dan budaya. Oleh karena itu, penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan deskriptif untuk mengkaji strategi subtitle yang digunakan dalam menerjemahkan dialog yang mengandung strategi kesantunan serta menganalisis pengaruhnya terhadap keberterimaan terjemahan. Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) digunakan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan strategi kesantunan yang terdapat dalam dialog, sedangkan teori strategi subtitle Gottlieb (1992) diterapkan untuk menganalisis strategi penyubtitelan yang digunakan dalam subtitle bahasa Indonesia. Keberterimaan terjemahan dinilai berdasarkan kerangka penilaian kualitas terjemahan Nababan (2012) melalui kuesioner keberterimaan yang diisi oleh tiga penilai. Hasil penelitian menunjukkan adanya 102 ungkapan kesantunan yang dituturkan oleh ratu Charlotte. Strategi kesantunan bald on record merupakan strategi yang paling banyak digunakan, yaitu sebanyak 54 data (52,94%), diikuti oleh strategi off record sebanyak 22 data (21,57%), serta strategi positive politeness dan negative politeness, masing-masing sebanyak 13 data (12,75%). Dalam penerapan strategi penyubtitelan, penerjemah menggunakan lima dari sepuluh strategi yang dikemukakan oleh Gottlieb. Strategi transfer menjadi strategi yang paling dominan, dengan 67 data (65,69%), diikuti oleh condensation sebanyak 17 data (16,67%), paraphrase sebanyak 13 data (12,75%), deletion sebanyak 4 data (3,92%), dan expansion sebanyak 1 data (0,98%). Hasil penilaian keberterimaan menunjukkan bahwa 88 terjemahan (86,27%) tergolong berterima, 12 terjemahan (11,76%) tergolong kurang berterima, dan 2 terjemahan (1,96%) tergolong tidak berterima. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penerjemah secara umum berhasil mempertahankan kealamian dan kesesuaian budaya ungkapan kesantunan dalam subtitle bahasa Indonesia. Kata Kunci: strategi subtitle, keberterimaan, strategi kesopanan, Queen Charlotte, penerjemahan audiovisual |
| Abtrak (Bhs. Inggris) | Subtitling is an audiovisual translation form that enables the audience to comprehend dialogue in foreign languages while keeping the original audio and actors’ performances. However, the translator has to cope with technical, textual, and linguistic constraints while ensuring that the translated dialogue is correct, accessible, and culturally acceptable. This problem is especially relevant when translating politeness, since the expression of respect, social distance and hierarchy is highly societal and context-dependent. Queen Charlotte: A Bridgerton Story provides a distinctive context for examining politeness because its royal-court setting reflects formal social relationships, hierarchical structures, and historical-cultural values. Therefore, this qualitative study employs a descriptive approach to examine the subtitling strategies used to translate dialogues containing politeness strategies and to assess their impact on translation acceptability. Brown and Levinson’s politeness theory (1987) is used to identify and classify the politeness strategies found in the dialogues, while Gottlieb’s subtitling theory (1992) is applied to analyze the subtitling strategies used in the Indonesian subtitles. The acceptability of the translations is assessed using Nababan’s translation-quality framework (2012), based on evaluations provided by three raters through acceptability questionnaires. The findings revealed 102 politeness expressions produced by Queen Charlotte. Bald on record politeness was the most frequently used strategy, with 54 occurrences (52.94%), followed by off-record politeness with 22 occurrences (21.57%), and both positive and negative politeness, with 13 occurrences each (12.75%). Regarding subtitling strategies, the translator employed five of Gottlieb’s ten strategies. Transfer was the most frequently used strategy, occurring 67 times (65.69%), followed by condensation with 17 occurrences (16.67%), paraphrase with 13 occurrences (12.75%), deletion with 4 occurrences (3.92%), and expansion with 1 occurrence (0.98%). The acceptability assessment showed that 88 translations (86.27%) were acceptable, 12 translations (11.76%) were less acceptable, and 2 translations (1.96%) were unacceptable. These results indicate that the translator generally succeeded in maintaining the naturalness and cultural appropriateness of the politeness expressions in the Indonesian subtitles. |
| Kata kunci | Keywords: subtitling strategies, acceptability, politeness strategies, Queen Charlotte, audiovisual translation |
| Pembimbing 1 | Hanifa Pascarina, S.S., M.Hum. |
| Pembimbing 2 | Ambhita Dhyaningrum, S.S., M.Hum. |
| Pembimbing 3 | |
| Tahun | 2026 |
| Jumlah Halaman | 103 |
| Tgl. Entri | 2026-08-21 13:40:06.542725 |